Anda di halaman 1dari 4

40 Media Bina Ilmiah ISSN No.

1978-3787

ANALISIS POWER SPEKTRUM DATA GAYA BERAT DAERAH BANTEN UNTUK


MENGESTIMASI KEDALAMAN RATA-RATA BIDANG BATAS ANOMALI REGIONAL DAN
RESIDUAL

Oleh:

Gusti Ayu Esty Windhari


Program Studi Pertambangan Fakultas Teknik Universitas Nusa Tenggara Barat

Abstrak Kajian data gaya berat untuk penelitian permukaan bawah tanah menggunakan analisis power
spectrum telah dilakukan untuk mengetahui estimasi kedalaman rata-rata anomali regional dan anomali
residual daerah Banten. Deret Fourier digunakan untuk mentransformasikan data anomali gravitasi
kedalam bentuk frekuensi yang berupa panjang gelombang pendek dari sumber dangkal dan panjang
gelombang yang lebih panjang berasal dari sumber yang lebih dalam. Analisis spectrum pada delapan
lintasan melintang penampang anomaly Bouger menunjukkan kontinuitas kedalaman rata-rata 403.07
meter dan 4077.21 meter.
Kata kunci : Power Spektrum, Transformasi Fourier, Anomali gravitasi

PENDAHULUAN
Metode gaya berat merupakan penyelidikan Analisis power spektum merupakan salah satu
geofisika yang didasarkan karena adanya variasi analisis harmonik yang digunakan untuk
percepatan gravitasi di permukaan bumi. Massa menganalisis fenomena osilator harmonik di alam
jenis yang berbeda serta posisi titik amat pada untuk mendapatkan distribusi spektrum dari
permukaan bumi menyebabkan bervariasinya fenomena osilator harmonik yang nantinya dapat
percepatan gravitasi bumi. Metode ini sering menunjukkan karakteristik statistiknya.
digunakan sebagai metode awal penyelidikan Data anomali medan gravitasi satu dimensi
struktur bawah permukaan bumi karena sangat yang didapat dari hasil slicing penampang lintang
efisien untuk pemetaan keseluruhan dalam suatu dapat ditransformasikan ke dalam deret Fourier
area luas yang menjangkau struktur bagian dalam (Blakely, 1995) yaitu :
dan dangkal bawah permukaan bumi. Biasanya
metode ini dilanjutkan dengan penyelidikan
metode geofisika lainnya yang tentunya saling dengan :
mendukung dalam menginterpretasikan suatu n = 0, 1, 2, 3, ....
anomali. L = setengah panjang interval cuplik
Interpretasi data mengenai bidang batas N = jumlah data maksimum data pada arah x
kedalaman anomali regional dan residual pada xi = interval cuplik dalam arah x
daerah penelitian merupakan masalah yang sangat n = untuk n > 0
penting untuk mengetahui posisi anomali hasil n = 1 untuk n > 1
pengukuran. Salah satu metode yang dapat An = koefisien suku cosinus, yang dirumuskan
digunakan adalah dengan Deret Fourier yang sebagai :
mentranformasikan data anomali menjadi frekuensi
tertentu yang selanjutnya dapat dianalisis
menggunakan analisis power spectrum.
Ketidak-unikan suatu data merupakan
masalah utama yang dihadapi dalam proses Bn = koefisien suku sinus, yang dirumuskan
pemodelan gravitasi. Untuk meminimalkan sebagai :
kesalahan maka perlu dilakukan analisis awal
tentang estimasi kedalaman bidang batas anomali
regional dengan anomali residual menggunakan dengan
analisis power spectrum.
____________________________________________

Volume 9, No.6, Oktober 2015 http://www.lpsdimataram.com


ISSN No. 1978-3787 Media Bina Ilmiah 41

K = Error! Reference source not found. = METODE PENELITIAN


harga indek maksimum dari titik sampling
Pada peta anomali medan gravitasi Bouger
daerah Banten dibuat delapan slice lintasan
k = indek sampling point penampang lintang. Ini dilakukan untuk
mendapatkan profil anomali setiap slice. Data hasil
Logaritma power spektrum En merupaka jumlah digitasi dari tiap slice selanjutnya
dari koefisien cosinus dan sinus dari persamaan ditransformasikan ke kawasan frekuensi dengan
(3.2) dan (3.3) yang dirumuskan sebagai berikut : menggunakan Matlab dengan fungsi DFFT 1-D
(Direct Fast Fourier Transform). Nilai power
spektrum dan bilangan gelombang juga akan
Sedangkan hubungan antara anomali medan dihitung dalam program Matlab yang kemudian
gravitasi Bouger dengan distribusi densitas di diinterpretasikan dalam bentuk grafik hubungan
sepanjang bidang batas dimana terdapat kontras antara bilangan gelombang dengan power
densitas dalam kawasan frekuensi adalah sebagai spectrum. Dari grafik akan diperoleh dua gradien
berikut : (kemiringan) yang menggambarkan kedalaman
anomali regional dan anomali residual berdasarkan
dengan : hasil transformasi data gaya berat ke frekuensi.
Error! Reference source not found. = Pengoperasian program power spektrum
frekuensi respon dari anomali medan diawali dengan memasukkan data input berupa
gravitasi posisi lintasan 1-D dan anomali medan gravitasi ke
Error! Reference source not found. = dalam listing program. Kemudian program
frekuensi respon dari kontras dijalankan (Run) lalu memasukkan nilai spasi antar
densitas titik-titik lintasan. Program akan menghitung nilai
d = kedalaman bidang batas dari sperioda power spektrum dan bilangan gelombang serta
frekuensi memplotkan ke dalam grafik hubungan antara
Error! Reference source not found. = bilangan gelombang dengan power spektrum.
frekuensi sudut dalam kawasan jarak Selanjutnya menentukan batas kurva pemisah
anomali regional dan residual dengan
Jika distribusi densitas acak dan tidak ada mencocokkan dua garis yang menggambarkan dua
hubungan dengan tiap harga gravitasi Bouger, kemiringan. Program akan menghitung nilai dua
maka frekuensi responnya dapat bernilai Error! kedalam diskontinuitas berdasarkan kemiringan
Reference source not found. = 1, sehingga dua garis tersebut.
didapatkan: Adapun source code yang digunakan untuk
power spectrum adalah sebagai berikut :
clf
dengan C adalah konstanta. clc;
clear all;
banten = xlsread('data2.xlsx',1);
Dengan mendapatkan dua harga logaritma dari x= banten(:,1); %jarak lintasan
spektrum pada persamaan (3.6), diperoleh : y= banten(:,2); %nilai anomali bouger
sp = 416; %spasi dari tiap titik
xi = min(x):sp:max(x);
yi = spline(x,y,xi);
plot(xi, yi, 'ro');
data = yi;
n = length(y);
dengan : D=fft(data);
D(1)=0;
Error! Reference source not found. Error! pwr=abs(D(1:round(n/2))).^2
Reference source not found. = power spektrum freq=(1:length(pwr))/(n/2)*1/(2*sp)
n1, n2 = bilangan gelombang semilogy(freq,(pwr),'.');
hold
= kemiringan garis ylabel('power spectrum');
Persamaan di atas menunjukkan bahwa kedalaman xlabel('cycle/meter.)');
title('Analisis power spectrum lintasan 6 Banten');
rata-rata dari bidang diskontinuitas adalah %batas atas & bawah diskontinuitas dalam
sebanding dengan kemiringan atau gradien power b=[0.0001 0.00095];
spektrum. k=[8000 0];
%batas atas & bawah diskontinuitas dangkal
c=[0.0002 0.00137];
l=[60 2];
_____________________________________

http://www.lpsdimataram.com Volume 9, No. 6, Oktober 2015


42 Media Bina Ilmiah ISSN No. 1978-3787

[d,f]=polyfit(b,log(k.^2),1);
[e,g]=polyfit(c,log(l.^2),1);
depthdeep=(d(1)/(4*pi));
depthshallow=(e(1)/(4*pi));
semilogy(b,k,'r');
semilogy(c,l,'r');
ylabel('power spektrum')
xlabel('cycle/meter')
dis1=['estimasi kedalaman regional:',num2str(depthdeep), '
meter.'];
dis2=['estimasi kedalaman residual : ',num2str(depthshallow), '
meter.'];
disp(dis1)
disp(dis2) Gambar 3 Profil Anomali Bouger dan Power
Spektrum lintasan 2 daerah Banten
Proses yang sama akan dilakukan sebanyak
jumlah slice lintasan yang dibuat pada peta data
medan gravitasi Bouger daerah Banten yang
selanjutnya dicari nilai rata-rata kedalaman
diskontinuitas.
Gambar 4 Profil Anomali Bouger dan Power
HASIL PENELITIAN
Spektrum lintasan 3 daerah Banten
Estimasi kedalaman dilakukan dengan
membuat slicing pada pelampang melintang peta
anomali Bouger lengkap daerah Banten. Slice
dilakukan sebanyak 8 lintasan dengan jarak sekitar
5000 meter untuk tiap lintasan seperti yang
ditampilkan Gambar 1
Gambar 5. Profil Anomali Bouger dan Power
Anomali Bouger Lengkap Bidang Datar
327
Spektrum lintasan 4 daerah Banten
325
1 2 3 4 5 6 7 8 323

9345000 321
319
317
315
9340000 313
311
309
307
9335000 305
303
301
299
605000 610000 615000 620000 625000 630000 635000 640000
Gambar 6. Profil Anomali Bouger dan Power
Gambar 1. Kontur Anomali Bouger pada Bidang Spektrum lintasan 5 daerah Banten
Datar dengan 8 lintasan

Profil penampang anomali Bouger dan power


spektrum dari tiap lintasan yang dibuat
menggunakan program Matlab ditampilkan dalam
grafik berikut :
Gambar 7. Profil Anomali Bouger dan Power
Spektrum lintasan 6 daerah Banten

Gambar 2. Profil Anomali Bouger dan Power Gambar 8. Profil Anomali Bouger dan Power
Spektrum lintasan 1 daerah Banten Spektrum lintasan 7 daerah Banten

____________________________________________

Volume 9, No.6, Oktober 2015 http://www.lpsdimataram.com


ISSN No. 1978-3787 Media Bina Ilmiah 43

DAFTAR PUSTAKA

Alimuddin. 2008. Analisis Power Spektrum Data


Gaya Berat untuk Memperkirakan
bidang batas anomali lokal-regional.
Prosiding. Mipa Fisika UNILA.
Gambar 9. Profil Anomali Bouger dan Power
Spektrum lintasan 8 daerah Banten Blakely, R. J,. 1995. Potential Theory in Gravity
and Magnetic Aplications, 1st edition.
Dari hasil kemiringan grafik tiap lintasan New York, USA. Cambridge
pada power spektrum didapat asumsi nilai batas University States.
kedalaman anomali regional dan residual yang Bracewell, R., 1965. The Fourier transform and its
ditampilkan dalam Tabel 1 berikut : applications. McGraw-Hill, New
York.
Tabel 1. Estimasi kedalaman tiap lintasan untuk
daerah anomali regional dan residual Handayani, G., Srigutomo, W., 2012. Laporan
Anomali Gaya Berat Banten. Fisika
Kedalaman ITB.
Kedalaman Kontinuitas
No. Lintasan Kontinuitas Dalam
Dangkal (meter) Indriana, R.D., 2008. Estimasi ketebalan sedimen
(meter)
Lintasan 1 369,7881 3002,5723 dan kedalaman diskontinuitas
Lintasan 2 454,0815 4953,9188 Mohorovicic daerah Jawa Timur
Lintasan 3 566,0162 3450,2442 dengan analisis power spectrum data
Lintasan 4 433,4415 3450,2442 anomali gravitasi. Fisika Berkala Vol.
Lintasan 5 427,7867 6516,4801
11, No.2, hal 67-74.
Lintasan 6 574,2603 6645,5615
Lintasan 7 184,0522 2146,0562 Parker, R.L., 1972. The rapid calculation of
Lintasan 8 369,7881 2452,6357 potential anomalies. Geophysical
Journal of the Royal Astronomical
Rata-rata 403,0757125 4077,2141
Society 31, 447-455.
Parker, R.L., 1977. Understanding Inverse Theory.
Dari hasil analisis power spektrum yang
Annual Reviews Earth Planet. Sci
dilakukan, didapat estimasi nilai kedalaman bidang
5:35-64.
anomali regional dan residual daerah Banten
terletak pada kedalaman sekitar 403,07 meter dan Riyanto, S., Purwanto, A., Supardi. 2009.
4077,21 meter. Bidang batas anomali regional dan Algoritma Fast Fourier Transform
anomali residual pada tiap slice mengindikasikan (FFT) Decimation in Time (DIT)
topografi geologi daerah penelitian yang sedang dengan resolusi 1/10 Hertz.
mengalami interusi magma, terlihat dari kontur
Telford, W.M,. Geldart, L.P., Sheriff, R.E., Keys
yang berundulasi tepat didaerah interusi magma.
D.A., 1979. Applied Geophysic 1st
edition. Cambridge University Press.
PENUTUP
Hasil analisis power spectrum data gaya berat
daerah Banten menunjukkan bidang batas rata-rata
anomali regional dan residual berada pada
kedalaman 4077,21 meter. Penentuan bidang batas
anomali regional dan residual ini sangat layak
digunakan dalam interpretasi awal metode gaya
berat.

_____________________________________

http://www.lpsdimataram.com Volume 9, No. 6, Oktober 2015