Anda di halaman 1dari 49

TUGAS BESAR ELEMEN MESIN II

PERENCANAAN RODA GIGI MIRING

TUGAS BESAR ELEMEN MESIN II PERENCANAAN RODA GIGI MIRING Dibuat untuk memenuhi syarat kurikulum pada Jurusan

Dibuat untuk memenuhi syarat kurikulum pada Jurusan Teknik Mesin Fakultas Teknik Universitas Bengkulu

Oleh

Biguri Junnata

G1C013010

JURUSAN TEKNIK MESIN FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS BENGKULU

2017

KATA PENGANTAR

Puji dan syukur ke Hadirat Tuhan Yang Maha Esa, karena berkat dan rahmat dan karunia-Nya jugalah penulis dapat menyelesaikan Tugas Elemen Mesin II dengan judul “Perencanaan Roda Gigi Miring”. Sehubungan dengan penyelesaian tugas ini, penulis mengucapkan terima kasih kepada Bapak Ahmad Fauzan Suryono, ST, MT, selaku dosen pengasuh mata kuliah Tugas Elemen Mesin II ini. Penulis menyadari bahwa masih banyak terdapat kekurangan-kekurangan dalam tugas perencanaan ini, oleh karena itu penulis mengharapkan saran maupun kritik yang membangun dari para pembaca. Akhirnya penulis berharap kiranya tugas perencanaan ini dapat bermanfaat bagi penulis sendiri dan rekan-rekan mahasiswa terutama di lingkungan Jurusan Teknik mesin Universitas Sriwijaya

Bengkulu, Mei 2017

Penulis

  • A. Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN

Suatu mesin terdiri dari elemen-elemen yang jumlahnya relatif besar

mencapai lebih dari ribuan. Kesemuanya itu saling mendukung untuk menghasilkan

suatu gerak yang terpadu. Untuk terjadinya kesinambungan antar komponen mesin

tersebut haruslah direncanakan terlebih dahulu. Hal yang perlu untuk diperhatikan

dalam perencanaan adalah kesesuaian antar komponen, faktor keamanan, umur,

efisiensi, dan biaya serta ketahanan komponen tersebut dapat menjalankan fungsinya

dengan baik.

Pada tugas perencanaan elemen mesin ini, kami mengambil judul

“Perencanaan Roda Gigi Miring ”.

Roda gigi adalah suatu komponen mesin yang berfungsi untuk meneruskan

daya yang besar dari roda gigi ke roda gigi yang lain untuk digerakkan dengan

melalui motor.

Dalam ilmu elemen mesin dikenal beberapa cara pembuatan roda gigi atau

penggabungan dua atau lebih komponen mesin yang terpisah. Pada dasarnya roda

gigi terbagi atas beberapa terminologi utama, yaitu :

  • a. Adendum yaitu jarak radial antara bidang atas (top land) dengan lingkaran puncak.

  • b. Dedendum yaitu jarak radial dari bidang bawah (bottom land) dengan lingkaran puncak.

  • c. Circular Pitch (Jarak Lengkung Puncak) adalah jarak yang diukur pada lingkaran puncak, dari satu titik pada sebuah gigi ke satu titik yang berkaitan pada gigi sebelahnya.

Jadi, roda gigi termasuk juga pada jenis sambungan tidak tetap, karena roda

gigi merupakan pemindah daya dari putaran poros roda gigi yang dihasilkan oleh

motor penggerak ke motor yang digerakkan dan juga sebagai alat yang berfungsinya

menghentikan roda gigi yang digerakkan meskipun motor penggerak tetap bekerja.

  • B. Tujuan dan Manfaat

    • 1. Tujuan Penulisan

      • a. Untuk memenuhi kurikulum mata kuliah Elemen Mesin II.

      • b. Untuk menerapkan kajian teoritis yang diperoleh dari kuliah ke dalam bentuk rancangan elemen mesin.

      • c. Untuk menghitung bagian-bagian roda gigi dan mengetahui cara kerjanya.

  • 2. Manfaat Penulisan

    • a. Melatih kami mendalami dan memahami fungsi dan karakteristik dari suatu elemen mesin.

    • b. Mampu merencanakan elemen mesin (roda gigi) yang berdasarkan atas perhitungan-perhitungan yang bersumber dari literatur.

    • C. Pembatasan Masalah

    Dalam tugas perencanaan elemen mesin II ini kami hanya akan membahas

    mengenai roda gigi miring.

    • D. Metode Penulisan

    Pada tugas perencanaan ini pembahasan dilakukan dengan menggunakan

    literatur dan buku-buku yang memuat data serta rumus-rumus yang berkaitan

    dengan masalah yang kami bahas.

    BAB II TINJAUAN PUSTAKA

    2.1. Roda Gigi

    Pada dasarnya sistem transmisi roda gigi merupakan pemindahan gerakan

    putaran dari satu poros ke poros yang lain hampir terjadi disemua mesin. Roda gigi merupakan salah satu yang terbaik antara sarana yang ada untuk memindahkan suatu gerakan. Roda gigi dikelompokkan menurut letak poros putaran atau berbentuk dari jalur gigi yang ada. Keuntungan dari penggunaan sistem transmisi diantaranya :

    • 1. dapat dipakai untuk putaran tinggi maupun rendah

    • 2. kemungkinan terjadinya slip kecil

    • 3. tidak menimbulkan kebisingan

    Adapun klasifikasi dari roda gigi antara lain :

    Menurut letak poros, arah putaran dan bentuk jalur gigi, roda gigi diklasifikasikan menjadi tiga yaitu :

    • 1. Roda Gigi Dengan Poros Sejajar. Adalah roda gigi di mana giginya berjajar pada dua bidang silinder (jarak bagi lingkaran), kedua bidang tersebut bersinggungan dan yang satu menggelinding pada yang lain dengan sumbu yang tetap sejajar.

      • a. Roda Gigi Lurus. Merupakan roda gigi paling dasar dengan jalur gigi yang sejajar poros. Pembuatannya paling mudah, tetapi menghasilkan gaya aksial sehingga cocok di pilih untuk gaya keliling besar. Namun memiliki sifak bising pada putaran tinggi. Dapat di lihat pada gambar 2.3.

    Gambar 2.3 : Roda gigi lurus. b. Roda Gigi Miring. Mempunyai jalur gigi yang membentuk ulir

    Gambar 2.3 : Roda gigi lurus.

    • b. Roda Gigi Miring.

    Mempunyai jalur gigi yang membentuk ulir pada jarak bagi lingkar. Pada roda gigi miring, jumlah pasangan gigi saling membuat perbandingan kontak yang lebih

    besar dari pada roda gigi lurus, sehingga pemindahan putaran dapat berlangsung dengan halus, sangat cocok untuk mentransmisikan putaran tinggi dan beban besar.

    Roda gigi miring memerlukan kotak roda gigi yang lebih kokoh, karena jalur gigi yang berbentuk ulir tersebut menimbulkan gaya reaksi yang sejajar dengan poros, seperti yang terlihat pada gambar 2.4.

    Gambar 2.3 : Roda gigi lurus. b. Roda Gigi Miring. Mempunyai jalur gigi yang membentuk ulir

    Gambar 2.4 : Roda gigi miring.

    • c. Roda Gigi Miring Ganda. Mempunyai jalur gigi yang membentuk ulir pada jarak bagi lingkar yang lebih luas dari pada gigi lurus. Roda gigi ini dapat memindahkan perbandingan reduksi, kecepatan keliling dan daya yang besar, tetapi pembuatannya agak sukar, seperti terlihat pada gambar 2.5.

    c. Roda Gigi Miring Ganda. Mempunyai jalur gigi yang membentuk ulir pada jarak bagi lingkar yang

    Gambar 2.5 : Roda gigi miring ganda.

    • d. Roda Gigi Dalam.

    Dipakai jika diinginkan alat transmisi dengan ukuran kecil, dengan perbandingan reduksi besar karena pinyon terletak di dalam roda gigi. Baik untuk mentransmisikan putaran dengan ruduksi yang besar, seperti pada gambar 2.6.

    Gambar 2.6 : Roda gigi dalam. e. Pinyon dan Batang Bergigi. Pasangan antara batang bergigi dan

    Gambar 2.6 : Roda gigi dalam.

    • e. Pinyon dan Batang Bergigi.

    Pasangan antara batang bergigi dan pinyon di gunakan untuk merubah gerakan putaran menjadi gerak lurus atau sebaliknya gerak lurus menjadi gerak putar, seperti pada gambar 2.7.

    Gambar 2.6 : Roda gigi dalam. e. Pinyon dan Batang Bergigi. Pasangan antara batang bergigi dan

    Gambar 2.7 : Pinyon dan batang bergigi.

    2

    Roda Gigi Dengan Sumbu Berpotongan.

    Bentuk dasarnya adalah dua buah kerucut dengan puncak gabungan yang saling menyinggung menuru sebuah garis lurus.

    • a. Roda Gigi Kerucut Lurus. Roda gigi kerucut lurus dengan gigi lurus adalah yang paling banyak di buat dan paling sering digunakan tetapi sangat berisik karena perbandingan kontaknya yang kecil. Konstruksi tidak memungkinkan pemasangan bantalan pada kedua ujung poros porosnya, seperti pada gambar 2.8.

    2 Roda Gigi Dengan Sumbu Berpotongan. Bentuk dasarnya adalah dua buah kerucut dengan puncak gabungan yang

    Gambar 2.8 : Roda gigi kerucut lurus.

    • b. Roda Gigi Kerucut Spiral.

    Mempunyai perbandingan kontak yang lebih besar dari pada roda gigi kerucut lurus, sehingga dapat meneruskan putaran tinggi dan beban besar. Sudut poros roda gigi kerucut spiral biasanya di buat 90 Derajat, seperti pada gambar 2.9.

    2 Roda Gigi Dengan Sumbu Berpotongan. Bentuk dasarnya adalah dua buah kerucut dengan puncak gabungan yang

    Gambar 2.9 : Roda gigi kerucut spiral.

    • c. Roda Gigi Permukaan. Cocok untuk memindahkan daya besar, namun berisik pada putaran tinggi karena perbandingan kontaknya yang kecil, lihat gambar 2.10.

    c. Roda Gigi Permukaan. Cocok untuk memindahkan daya besar, namun berisik pada putaran tinggi karena perbandingan

    Gambar 2.10 : Roda gigi permukaan.

    • 3 Roda Gigi Poros Bersilang.

    Bentuk dasarnya ialah dua buah silinder atau kerucut yang letak porosnya saling bersilangan satu sama lain.

    • a. Roda Gigi Miring Silang.

    Roda gigi miring silang mempunyai perbandingan bidang kontak yang besar sehingga cocok mentransmisikan putaran tinggi, lihat pada gambar 2.11

    c. Roda Gigi Permukaan. Cocok untuk memindahkan daya besar, namun berisik pada putaran tinggi karena perbandingan

    Gambar 2.11 : Roda gigi miring bersilang.

    • b. Roda Gigi Cacing Silindris. Dapat meneruskan putaran dengan perbandingan reduksi yang besar namun

    berisik pada putaran tinggi, lihat pada gambar 2.12.

    b. Roda Gigi Cacing Silindris. Dapat meneruskan putaran dengan perbandingan reduksi yang besar namun berisik pada

    Gambar 2.12 : Roda gigi cacing silindris.

    • c. Roda Gigi Cacing Globoid. Dapat meneruskan putaran dengan perbandingan reduksi yang besar dan mampu mentransmisikan daya yang lebih besar bila di bandingkan dengan roda gigi cacing silindris karena roda gigi cacing globoid mempunyai perbandingan kontak yang lebih besar, seperti pada gambar 2.13.

    b. Roda Gigi Cacing Silindris. Dapat meneruskan putaran dengan perbandingan reduksi yang besar namun berisik pada

    Gamabar 2.13 : Roda gigi cacing globoid.

    • d. Roda Gigi Hipoid.

    Mempunyai jalur gigi yang berbentuk spiral pada bidang kerucut yang sumbunya bersilang dan pemindahan daya pada permukaan gigi berlangsung secara meluncur dan menggelinding, lihat pada gambar 2.14.

    d. Roda Gigi Hipoid. Mempunyai jalur gigi yang berbentuk spiral pada bidang kerucut yang sumbunya bersilang

    Gambar 2.14 : Roda gigi hipoid.

    • 2.3 Nama Nama Bagian Roda Gigi.

    Nama nama bagian roda gigi dapat dilihat pada gambar 2.6 di bawah ini, sedangkan ukuran gigi dinyatakan dengan “ Jarak Bagi Lingkar “, jarak sepanjang lingkaran jarak bagi antara profil dua gigi yang berdekatan.

    Jika jarak lingkaran bagi dinyatakan dengan d (mm), dan jumlah gigi z, maka jarak bagi lingkar t (mm) dapat ditulis sebagai berikut :

    t = Π x d

    z

    ………………………………………………

    ..

    (

    2

    .

    1

    )

    Jadi, jarak bagi lingkar adalah keliling lingkaran jarak bagi dibagi dengan jumlah gigi.

    Dengan demikian ukuran gigi dapat ditentukan dari besarnya jarak bagi

    lingkar tersebut. Namun, karena jarak bagi lingkar selalu mengandung faktor Π,

    pemakaianya sebagai ukuran gigi kurang praktis. Untuk mengatasi hal ini, diambil ukuran yang di sebut “modul“ dengan lambang m, di mana :

    d m = z ……………………………………………… .. ( 2 . 2 )
    d
    m
    =
    z
    ………………………………………………
    ..
    ( 2 . 2 )

    Gambar 2.6 : Bagian bagian roda gigi.

    Dengan cara ini, maka dapat ditentukan sebagai bilangan bulat atau bilangan pecahan yang lebih praktis. Maka modul dapat menjadi ukuran gigi.

    Keterangan gambar :

    • 1. Lingkaran jarak bagi (Pitch circle) yaitu lingkaran imajiner yang dapat memberikan gerakan yang sama seperti roda gigi sebenarnya.

    • 2. Tinggi Kepala (Addendum) yaitu jarak radial gigi dari lingkaran jarak bagi ke puncak kepala.

    • 3. Tinggi kaki (Dedendum) yaitu jarak radial gigi dari lingkaran jarak bagi ke dasar kaki.

    • 4. Lingkaran kepala (Addendum circle) yaitu gambaran lingkaran yang melalui puncak kepala dan sepusat dengan lingkaran jarak bagi.

    • 5. Lingkaran kaki (Dedendum circle) yaitu gambaran lingkaran yang melalui dasar kaki dan sepusat dengan lingkaran jarak bagi.

    6.

    Lebar gigi (Tooth space) yaitu sela antara dua gigi yang saling berdekatan.

    • 7. Tebal gigi (Tooth thickness) yaitu lebar gigi antara dua sisi gigi yang berdekatan.

    • 8. Sisi kepala (Face of the tooth) yaitu permukaan gigi di atas lingkaran jarak bagi.

    • 9. Sisi kaki (Flank of the tooth) yaitu permukaan gigi di bawah lingkaran jarak bagi. Lebar gigi (Face width) yaitu lebar gigi pada roda gigi secara paralel pada sumbunya.

    10.

    • 2.4 Cara Kerja Roda Gigi.

    Cara kerja dari suatu unit transmisi roda gigi akan di jelaskan dengan berpedoman pada gambar. Pada gambar akan terlihat berbagai posisi dari roda gigi yang menghasilkan kombinasi yang berlainan sesuai dengan yang di inginkan. Perlu juga di perhatikan pada gambar bahwa roda gigi pembanding utama dan poros gigi counter tidak pernah di lepaskan hubungannya.

    Cara pergantian kombinasi roda gigi adalah dengan cara menggerakkan roda gigi yang diinginkan secara aksial terhadap spline pada poros output hingga terjadi hubungan antara roda gigi. Mekanisme kerja masing masing roda gigi di jabarkan sebagai berikut:

    • 1. Gigi pertama.

    Pada gigi pertama ini, Jika tuas ditarik ke belakang maka gear selection fork akan menghubungkan unit sincromesh untuk berkaitan dengan gigi tingkat 1. Posisi 1 akan menghasilkan putaran yang lambat tetapi momen pada poros out put besar

    Gambar 2.16 : Cara kerja transmisi roda gigi pada gigi pertama. Posisi 1 : Aliran tenaga

    Gambar 2.16 : Cara kerja transmisi roda gigi pada gigi pertama.

    Posisi 1 :

    Aliran tenaga :

    Poros input
    Poros input
    Gambar 2.16 : Cara kerja transmisi roda gigi pada gigi pertama. Posisi 1 : Aliran tenaga

    roda gigi pembanding utama

    Gambar 2.16 : Cara kerja transmisi roda gigi pada gigi pertama. Posisi 1 : Aliran tenaga

    poros gigi counter

    Gambar 2.16 : Cara kerja transmisi roda gigi pada gigi pertama. Posisi 1 : Aliran tenaga

    roda gigi pembanding 1

    Gambar 2.16 : Cara kerja transmisi roda gigi pada gigi pertama. Posisi 1 : Aliran tenaga

    Roda gigi tingkat 1

    Gambar 2.16 : Cara kerja transmisi roda gigi pada gigi pertama. Posisi 1 : Aliran tenaga

    unit sincromesh

    Gambar 2.16 : Cara kerja transmisi roda gigi pada gigi pertama. Posisi 1 : Aliran tenaga
    Poros uutput
    Poros uutput
    • 2. Gigi kedua.

    Pada gigi kedua, Tuas didorong ke depan menggerakkan gear selector fork sehingga unit sincromesh berhubungan dengan roda gigi tingkat no 2. Posisi 2 putaran poros out put lebih cepat dibanding pada posisi 1 ,seperti terlihat pada gambar 2.17.

    Gambar 2.17 : Cara kerja transmisi roda gigi pada gigi ke dua. Posisi 2 : Aliran
    Gambar 2.17 : Cara kerja transmisi roda gigi pada gigi ke dua.
    Posisi 2 :
    Aliran tenaga :
    Poros input
    roda gigi pembanding utama
    poros gigi counter
    roda gigi pembanding 2
    Roda gigi tingkat 2
    unit sincromesh
    Poros uutput
    • 3. Gigi ketiga.

    Pada gigi ketiga, Jika tuas ditarik ke belakang maka gear selection fork akan menghubungkan unit sincromesh untuk berkaitan dengan gigi tingkat 3. Posisi 3 akan menghasilkan putaran yang cepat dibanding posisi 2, seperti terlihat pada gambar 2.18.

    Gambar 2.17 : Cara kerja transmisi roda gigi pada gigi ke dua. Posisi 2 : Aliran

    Gambar 2.18 : Cara kerja transmisi roda gigi pada gigi ketiga.

    Posisi 3 :

    Aliran tenaga :

    Poros input
    Poros input
    Posisi 3 : Aliran tenaga : Poros input roda gigi pembanding utama poros gigi counter roda

    roda gigi pembanding utama

    Posisi 3 : Aliran tenaga : Poros input roda gigi pembanding utama poros gigi counter roda

    poros gigi counter

    Posisi 3 : Aliran tenaga : Poros input roda gigi pembanding utama poros gigi counter roda

    roda gigi pembanding 3

    Posisi 3 : Aliran tenaga : Poros input roda gigi pembanding utama poros gigi counter roda

    Roda gigi tingkat 3

    Posisi 3 : Aliran tenaga : Poros input roda gigi pembanding utama poros gigi counter roda

    unit sincromesh

    Posisi 3 : Aliran tenaga : Poros input roda gigi pembanding utama poros gigi counter roda
    Poros uutput
    Poros uutput
    • 4. Gigi keempat.

    Pada gigi ini, roda gigi tingkat 4 disejajarkan dengan roda gigi pembanding 4 sehingga terjadi kontak gigi tingkat 4 dengan roda gigi pembanding 4.

    Dengan aliran putaran dayanya adalah :

    Tuas didorong ke depan menggerakkan gear selector fork sehingga unit sincromesh berhubungan dengan roda gigi tingkat no 4. Posisi 4 putaran poros out put lebih cepat dibanding pada posisi 3 pada gambar 2.19.

    Gambar 2.19 : Cara kerja transmisi roda gigi pada gigi keempat.
    Gambar 2.19 : Cara kerja transmisi roda gigi pada gigi keempat.

    Posisi 4 :

    Aliran tenaga :

    Poros input
    Poros input
    Posisi 4 : Aliran tenaga : Poros input roda gigi pembanding utama poros gigi counter roda

    roda gigi pembanding utama

    Posisi 4 : Aliran tenaga : Poros input roda gigi pembanding utama poros gigi counter roda

    poros gigi counter

    Posisi 4 : Aliran tenaga : Poros input roda gigi pembanding utama poros gigi counter roda

    roda gigi pembanding 4

    Posisi 4 : Aliran tenaga : Poros input roda gigi pembanding utama poros gigi counter roda

    Roda gigi tingkat 4

    Posisi 4 : Aliran tenaga : Poros input roda gigi pembanding utama poros gigi counter roda

    unit sincromesh

    Posisi 4 : Aliran tenaga : Poros input roda gigi pembanding utama poros gigi counter roda
    Poros uutput
    Poros uutput

    5.Gigi kelima

    Pada gigi ini, roda gigi tingkat 5 disejajarkan dengan roda gigi pembanding 5 sehingga terjadi kontak gigi tingkat 5 dengan roda gigi pembanding 5.

    Dengan aliran putaran dayanya adalah :

    Tuas ditarik ke belakang menggerakkan gear selection fork sehingga unit sincromesh berhubungan dengan roda no 5. Transmisi pada posisi gigi lima kecepatanya paling tinggi tetapi momen yang dihasilkan pada poros out put paling kecil Seperti terlihat pada gambar 2.19.

    Gambar 2.20 : Cara kerja transmisi roda gigi pada gigi kelima.
    Gambar 2.20 : Cara kerja transmisi roda gigi pada gigi kelima.

    Posisi 5 :

    Aliran tenaga :

    Poros input
    Poros input
    Posisi 5 : Aliran tenaga : Poros input roda gigi pembanding utama poros gigi counter roda

    roda gigi pembanding utama

    Posisi 5 : Aliran tenaga : Poros input roda gigi pembanding utama poros gigi counter roda

    poros gigi counter

    Posisi 5 : Aliran tenaga : Poros input roda gigi pembanding utama poros gigi counter roda

    roda gigi pembanding 5

    Posisi 5 : Aliran tenaga : Poros input roda gigi pembanding utama poros gigi counter roda

    Roda gigi tingkat 5

    Posisi 5 : Aliran tenaga : Poros input roda gigi pembanding utama poros gigi counter roda

    unit sincromesh

    Posisi 5 : Aliran tenaga : Poros input roda gigi pembanding utama poros gigi counter roda
    Poros uutput
    Poros uutput
    • 6. Gigi mundur.

    Pada gigi ini, roda gigi tingkat R disejajarkan dengan roda gigi pembanding R sehingga terjadi kontak gigi tingkat R dengan roda gigi pembanding R.

    Maka aliran putaran dayanya :

    Tuas didorong ke depan menggerakkan gear selection fork sehingga unit sincromesh berhubungan dengan roda gigi R. Antara roda gigi R dan roda gigi pembanding dipasangkan roda gigi idel (idler gear) yang menyebabkan putaran poros input berlawanan arah dengan poros out put, seperti pada gambar 2.20.

    Posisi 5 : Aliran tenaga : Poros input roda gigi pembanding utama poros gigi counter roda

    Gambar 2.20 : Cara kerja transmisi roda gigi pada gigi mundur.

    Posisi R :

    Aliran tenaga :

    Poros input
    Poros input
    Posisi R : Aliran tenaga : Poros input roda gigi pembanding utama poros gigi counter roda

    roda gigi pembanding utama

    Posisi R : Aliran tenaga : Poros input roda gigi pembanding utama poros gigi counter roda

    poros gigi counter

    Posisi R : Aliran tenaga : Poros input roda gigi pembanding utama poros gigi counter roda

    roda gigi pembanding R

    Posisi R : Aliran tenaga : Poros input roda gigi pembanding utama poros gigi counter roda

    Roda gigi tingkat R

    Posisi R : Aliran tenaga : Poros input roda gigi pembanding utama poros gigi counter roda

    unit sincromesh

    Posisi R : Aliran tenaga : Poros input roda gigi pembanding utama poros gigi counter roda
    Poros uutput
    Poros uutput
    • 2.5. Pengertian Poros

    Poros adalah bagian terpenting dari sebuah mesin yang berfungsi untuk meneruskan tenaga bersama-sama dengan putaran. Poros memegang peran paling utama dalam transmisi karena itu kita harus terlebih dahulu mengetahui bentuk- bentuknya.

    Macam-macam poros :

    Poros yang dipakai untuk meneruskan daya diklasifikasikan menurut pembebanannya sebagai berikut :

    • 1. Poros transmisi

    Poros macam ini mendapat beban puntir murni atau puntir lentur. Daya yang ditransmisikan kepada poros ini melalui kopling, roda gigi, sabuk atau sproket, rantai dan lain-lain.

    • 2. Spindel

    Poros transmisi yang relatif pendek, seperti poros utama mesin perkakas, dimana beban utamanya berupa puntiran, disebut spindle. Syarat yang harus dipenuhi poros ini adalah deformasinya harus kecil dan bentuk serta ukurannya harus teliti.

    • 3. Gandar.

    Jenis poros ini merupakan poros yang dipasang antara roda-roda kereta barang dimana tidak mendapat beban puntir, bahan kadang-kadang tidak boleh berputar,

    disebut gandar. Gandar ini hanya mendapat beban lentur, kecuali jika digerakkan oleh penggerak mula dimana akan mengalami beban puntir.

    Menurut bentuknya, poros dapat digolongkan atas poros lurus umum, poros engkol sebagai poros utama penggerak mesin torak, dan lain-lain.

    Hal-hal penting dalam perencanaan poros.

    Untuk merencanakan sebuah poros, perlu diperhatikan hal-hal sebagai berikut:

    • 1. Kekuatan poros

    Suatu poros transmisi dapat mengalami beban puntir atau beban lentur atau gabungan antara puntir dan lentur. Juga ada poros yang mendapat beban tarik atau tekan seperti poros baling-baling kapal atau turbin. Pengaruh kosentrasi tegangan kalau poros diperkecil (poros bertangga) atau bila mempunyai alur pasak, harus diperhatikan. Sebuah poros harus direncanakan untuk dapat menahan beban-beban yang tersebut diatas.

    • 2. Putaran kritis

    Bila putaran suatu mesin dinaikkan maka pada harga putaran tertentu dapat terjadi getaran. Putaran ini disebut putaran kritis. Hal ini dapat terjadi pada turbin, motor torak, motor listrik dan dapat mengakibatkan kerusakan pada poros bagian- bagian lainnya. Jika mungkin poros harus direncanakan sedemikian rupa hingga putaran kerjanya lebih rendah dari putaran kritisnya.

    • 3. Korosi.

    Bahan-bahan tahan korosi harus dipilih untuk poros propeler dan pompa bila terjadi kontak dengan fluida yang korotif. Demikian pula untuk poros-poros yang terancam kavitasi, dan poros-poros mesin yang sering terhenti lama. Sampai batas- batas tertentu dapat pula dilakukan perlingdungan terhadap korosi.

    4.

    Bahan poros.

    Poros untuk mesin biasanya menggunakan bahan dari baja batang yang

    ditarik, baja karbon kontruksi mesin (bahan S-C) yang dihasilkan dari inggot yang di

    “kill” (baja yang dioksidasi dengan ferro silicon dan dicor, kadar karbon terjamin)

    4. Bahan poros. Poros untuk mesin biasanya menggunakan bahan dari baja batang yang ditarik, baja karbon

    Gambar 2.1 Poros dengan berbagai ukuran

    Pada perhitungan nantinya poros yang digunakan adalah dari bahan JIS G 4501 S 55 C dengan Kekuatan tarik 66 Kg/mm 2

    • 2.5 Rumus Rumus yang di Gunakan Pada Perencanaan Roda Gigi.

      • 1. Perencanaan poros

    Dalam perencanaan poros pada transmisi roda gigi di ketahui daya dan putaran mesin, jika daya yang akan ditransmisikan adalah daya normal maka harga faktor koreksi (Fc) adalah 1,0 1,5 (Menurut buku Sularso, 1983, hal 7). Maka daya rencana dihitung menurut persamaan berikut :

     

    p

    d

    Di mana :

     

    P

    =

    fcp

    ….………………………………… ( 2 . 3 )

    = Daya yang ditransmisikan (kW).

    fc

    = Faktor koreksi.

    p

    • d = Daya rencana (kW).

    Sedangkan momen puntir/ torsi yang terjadi dihitung menurut persamaan berikut:

    T =

    9,74

    10

    • 5

    Pd

    …………

    ……………………(

    2 . 4 )

     

    n

    Di mana :

     
     

    T

    = Momen puntir/ torsi (kg.mm).

     

    n

    = Putaran poros (rpm).

     

    Bahan poros untuk mesin biasanya dibuat dari baja batang yang ditarik dingin dan difinis, bahan karbon konstruksi mesin (di sebut bahan S C) yang dihasilkan dari ingot yang di kill (Baja yang di deoksidasikan dengan ferrosilikon dan di cor; kadar karbon terjamin), meskipun demikian bahan ini kelurusannya kurang tetap dan dapat mengalami deformasi karena tegangan yang kurang seimbang misalnya bila diberi alur pasak karena ada tegangan sisa di dalam terasnya. Tetapi penarikan dingin membuat permukaan poros menjadi keras dan kekuatannya bertambah besar.Standar dan macam bahan poros dapat dilihat pada ( Tabel 2.1 ) .

    Tabel 2.1 : Baja karbon untuk konstruksi mesin dan baja batang yang difinis dingin untuk poros.

    Standar

     

    Perlakuan

    Kekuatan

     

    dan macam

    Lambang

    panas

    tarik (kg/ mm 2 )

    Keterangan

    Baja

    S30C

    Penormalan

    48

     

    karbon

    S35C

    Penormalan

    52

    kontruksi

    mesin

    S40C

    Penormalan

    55

    (JIS

    G

    S45C

    Penormalan

    58

    4501)

    S50C

    Penormalan

    62

     

    S55C

    Penormalan

    66

     

    Batang

    S35C-D

    -

    53

    Ditarik dingin,

    baja

    yang

    S45C-D

    -

    60

    digerinda,

    di

    finis

    dibubut,

    atau

    dingin

    S55C-D

    -

    72

    gabungan

    antara

    hal-hal

    tersebut

    Sumber : Sularso dan Kiyatkatshu Saga, Dasar-dasar perencanaan dan pemeliharaan elemen mesin (Lit 1 hal. 3)

    Sedangkan faktor keamanan terbagi atas 2 macam yaitu :

    Faktor keamanan 1 (Sf 1 ) untuk baja karbon (SC) adalah : 6,0.

    Faktor keamanan 2 (Sf 2 ) untuk pembuatan spline pada poros adalah : 1,3 3,0. Maka tegangan geser yang terjadi dihitung menurut persamaan berikut :

     

    b

     
     

    T

    a

     

    =

    ………………………………….( 2 . 5 )

     

    Sf

    1

    Sf

    2

    • Di mana :

     

    T

    a

    = Tegangan geser (kg/ mm 2 ).

    b

    = Tegangan tarik bahan (kg/ mm 2 ).

    Dengan diperolehnya tegangan geser, maka diameter poros dapat dihitung sebagai berikut :

    Ds

    =

    • Di mana :

    5,1 xKtxCbxT Ta 3
    5,1 xKtxCbxT Ta
    3

    …………………………… ( 2 . 6 )

    D

    s

    = Diameter poros (mm).

    Kt

    = Faktor koreksi momen puntir (1,0 1,5).

    Cb

    = Faktor koreksi akibat beban lentur (1,2 2,3).

    • 2. Perhitungan putaran output dan perbandingan roda gigi

    Dalam perhitungan ini, direncanakan batas batas kendaraan angkutan untuk tiap kecepatan yaitu V 1 , V 2 , V 3 , V 4 dan V R . Untuk perencanaan di ambil suatu harga standar ukuran ban di mana :

    • Dv = Ukuran velg racing adalah 16 inchi.

     

    Tb

    = Ukuran tebal ban adalah 7 inchi.

    Maka :

     

    Db

    =

    Dv 2Tb

    ……………………… ( 2 . 7 )

    • Di mana :

     

    Db

    = Diameter ban standar (m).

     

    Perhitungan putaran ban untuk masing masing tingkat kecepatan adalah :

     

    Nb

    • Di mana :

     

    Nb

    60 V

    =

      Db

    ………………………………… ( 2 . 8 )

    = Putaran ban (rpm).

    • V = kecepatan kendaraan (m/s).

    Untuk putaran output transmisi untuk tiap tingkat kecepatan dapat dihitung dengan persamaan sebagai berikut :

    N

    o

    • Di mana :

    N

    o

    ig

    =

    Nbig

    ………………………………… ( 2 . 9 )

    = Putaran output transmisi (rpm).

    = Perbandingan reduksi differensial pada bagian gardan.

    Dari hasil perhitungan di atas dapat ditentukan perbandingan roda gigi reduksi, dengan rumus sebagai berikut :

    ir

    =

    n

    ……………………….………. ( 2 . 10 )

     

    N

    o

    Di mana :

    ir

    = Perbandingan reduksi roda gigi.

    • 3. Perhitungan pada roda gigi untuk tiap tingakat kecepatan

    Sebelum melakukan perhitungan, terlebih dahulu di rencanakan jarak sumbu poros antara roda gigi, setelah itu dapat ditentukan diameter jarak bagi dengan persamaan berikut :

    D

    1

    =

    2 a

    1 ir

     

    2 air

    D

    =

    • 2 …………………………

    1 ir

    ….

    ( 2 . 11 )

    Di mana :

    D

    • 1 = Diameter jarak bagi roda gigi 1 (mm).

    D

    • 2 = Diameter jarak bagi roda gigi 2 (mm).

    Untuk perhitungan jumlah roda gigi pada roda gigi maka dirumuskan sebagai berikut:

    Z

    =

    D

    ……………………………………

    ...

    ( 2 . 12 )

     

    m

    Di

    mana :

    Z

    = Jumlah gigi pada roda gigi (buah).

    D

    = Diameter jarak bagi (mm).

    m

    = Modul gigi (mm).

    Harga modul diambil dari tabel harga modul standar JIS B 1701 1973 (Buku Sularso, 1983, hal 216).

    Perhitungan diameter lingkaran kepala dapat menggunakan rumus berikut :

     

    Dk

    =

    Z

    2m

    ( 2 . 13 )

    • Di mana :

     

    Dk

    = Diameter lingkaran kepala (mm).

     

    Untuk perhitungan diameter lingkaran kaki dapat dihitung dengan menggunakan rumus sebagai berikut :

     

    Dg

    =

    Z mcos

    ……………………… ( 2 . 14 )

    • Di mana :

     

    Dg

    = Diameter lingkaran kaki (mm).

    α

    = Sudut tekan (Derajat).

    Kecepatan keliling dapat di hitung dengan persamaan sebagai berikut :

     

    V

      D n

    =

    ……………………… ( 2 . 15 )

     

    601000

    • Di mana :

     

    V

    = Kecapatan keliling untuk tiap roda gigi (m/s).

    D

    = Diameter jarak bagi untuk tiap roda gigi (mm).

    n

    = Putaran poros (rpm).

    Gaya tangensial dapat dihitung dengan rumus sebagai berikut :

     

    Ft

    =

    102Pd

    ……………………………… ( 2 . 16 )

     

    V

    Di mana :

     

    Ft

    = Gaya tangensial (kg).

    Pd

    = daya rencana (kW).

    Setelah itu kita dapat melakukan perhitungan beban lentur, dalam perhitungan beban lentur ini perlu diketahui faktor bentuk gigi (Y) yang diperoleh dari tabel faktor bentuk gigi (Buku Sularso, 1983, hal 240) yang merupakan harga untuk profil gigi standar dengan sudut 20 0 .

    Bahan untuk kontruksi roda gigi dapat di lihat pada ( Tabel 2.2 ).

    Tabel 2.2 : Jenis jenis bahan roda gigi.

           

    Tegangan

    Kekuatan

    Kekerasan

    lentur

    yang

    Bahan

    Lambang

    tarik

    (Brinell)

    di izinkan

    σ B (kg/ mm 2 )

    HB

    σ A

    (kg/

    mm

    2 )

    Besi cor

    FC 15

    15

    • 140 160

    7

    FC 20

    20

    • 160 180

    9

    FC 25

    25

    • 180 240

    11

    FC 30

    30

    • 190 240

    13

    Baja cor

    SC 42

    42

    • 140 12

     

    SC 46

    46

    • 160 19

    SC 49

    49

    • 190 20

    Baja

    S 25 C

    45

    • 123 183

    21

    karbon

    S 35 C

    52

    • 149 207

    26

    utk

    S 45 C

    58

    • 167 229

    30

    konstruksi

    mesin

           
     

    S 15 K

    50

    400

    30

    Baja

    (di celup dingin dlm

    paduan

    minyak)

    dgn

    pengerasan

    SNC 21

    80

    600

     

    34

    kulit

    SNC 22

    100

    (di celup dingin

    minyak)

    40

    dlm

    55

    40

    -

    Sumber : Sularso dan Kiyatkatshu Saga, Dasar-dasar perencanaan dan pemeliharaan elemen mesin (Lit 1 hal. 241)

    Untuk harga beban lentur ditentukan dengan rumus berikut :

    Fb

    =

    a

    m

    Y

    Fv

    Di mana :

    …………….………. ( 2 . 17 )

    Fb

    a

    Y

    Fv

    = Beban lentur (kg/mm).

    = Tegangan lentur yang diizinkan (kg/mm 2 ).

    = Faktor bentuk gigi.

    = Faktor dinamis.

    Sedangkan harga faktor dinamis diambil dari tabel faktor dinamis (Buku Sularso, 1983, hal 240), di mana harganya ditentukan berdasarkan tingkat kecepatan pada tiap roda gigi, di mana untuk kecepatan rendah dapat menggunakan rumus

    ( Pers. 2 . 18 ) di bawah ini :

    Tabel 2.1 Faktor dinamis (fv) yang digunakan yang digunakan :

    Kecepatan V (m/s) f v
    Kecepatan
    V (m/s)
    f v

    Kecepatan rendah

    0,5 10

    3

    3 v

    Kecepatan sedang

    5 20

    Kecepatan tinggi

    20 50

    6

    6 v

    5,5

    5,5  v
    5,5 
    v

    Sumber : Sularso dan Kiyatkatshu Saga, Dasar-dasar perencanaan dan pemeliharaan elemen mesin (Lit 1 hal. 240)

    Dengan diperolehnya harga beban lentur, maka lebar gigi dapat dihitung dengan rumus sebagai berikut :

     

    b

    =

    Ft

    ……………………………. ( 2 . 19 )

     

    Fb

    Fb

    Di

    mana :

    b

    = Lebar gigi (mm).

    Ft

    = Gaya tangensial (kg).

    Fb

    = Beban lentur (kg/mm).

    Dan untuk mencari diameter lingkaran jarak bagi yang sebenarnya adalah :

    D

    =

    Z m

    …………………….……… ( 2 . 20 )

    • 4. Perhitungan Spline

    Dalam analisa perhitungan spline, ditentukan jumlah spline yang direncanakan, ukuran spline dihitung berdasarkan ukuran diameter poros yang terdiri dari pasak penggerak/poros input trasmisi, poros perantara transmisi roda gigi mundur dan poros output transmisi/poros yang digerakkan.

    Gaya tangensial total yang terjadi pada poros dirumuskan sebagai berikut :

    F

    2 T

    =

    ds

    ……………………………… ( 2 . 21 )

    F

    = Gaya tangensial total pada poros (kg)

    T

    =

    Torsi/momen puntir (kg . mm)

    ds

    = Diameter poros (mm)

    Sedangkan besarnya gaya tangensial yang bekerja pada tiap spline dirumuskan sebagai berikut:

     

    Fn

    =

    F

    ……………………………………… ( 2 . 22 )

     

    n

    • Di mana :

    Fn

    =

    Gaya tangensial yang bekerja pada tiap spline (kg)

    n

    =

    Jumlah Spline yamg direncanakan (buah)

    Berdasarkan tabel ukuran pasak dan alur pasak (Sularso, kiyokatsu suga ,Elemen mesin) tentang ukuran standar pasak yang dapat dijadikan acuan dalam menentukan ukuran spline karena adanya persamaan prinsip kerja pada keduanya sehingga ukuran utama spline berdasarkan ukuran diameter poros yang diketahui dapat ditentukan yaitu lebar spline, tinggi spline, kedalaman alur spline dan kedalaman alur spline pada roda gigi.

    Maka ukuran panjang spline dari hasil perhitungan dapat dirumuskan sebagai berikut :

    L

    • Di mana :

     

    L

    =

    pA

    =

    Fn

    pA t

    ……………………

    ....………

    ( 2 . 23 )

    Panjang alur spline (MM)

    Tekanan permukaan yang diizinkan (kg/mm 2 )

    T

    =

    Kedalaman alur spline (mm)

    Harga

    pA

    untuk poros berdiameter besar adalah 10 kg/mm 2 . Perlu

    diperhatikan bahwa lebar pasak sebaiknya antara 0,25 0,35 dari diameter poros dan panjang spline sebaiknya antara 0,75 1,5 dari diameter poros

    • 5. Perhitungan temperatur

    Untuk menentukan temperatur nyala yang diizinkan untuk pelumas pada sistem transmisi roda gigi dapat dirumuskan sebagai berikut :

    T

    BP

    • Di mana :

    =

    140CnC

    R

    ……………………… ( 2 . 24 )

    Cn

    T

    BP

    = Temperatur nyala yang di izinkan untuk pelumas pada roda

    gigi , 0 c

    = Koefisien viskositas pelumas.

    • C R

    = Faktor kekerasan permukaan roda gigi.

    Sedangkan untuk menentukan harga koefisien viskositas pelumas dapat dirumuskan sebagai berikut :

    Cn

    • Di mana :

    E

    1,5 E

    =

    2 E

    ………………………….…

    ..

    ( 2 . 25 )

    = derajat engler apda pelumas pada temperatur 50 0 C.

    Untuk mengetahui harga E untuk setiap jenis pelumas dapat di cari pada tabel 16.1 tentang jenis jenis minyak pelumas (Buku Sularso, 1983, hal 305) dan tabel 16.5 tentang konversi harga E menurut DIN 51560 (Buku Sularso,1983, hal 310).

    Dalam perencanaan transmisi roda gigi ini digunakan minyak pelumas yang mempunyai harga viskositas temperatur 50 0 C yaitu harga E yaitu 12,02.

    Untuk menentukan harga faktor kekerasan roda gigi di rumuskan sebagai berikut :

     

    C

    R

    Di mana :

     

    C

    R

    Sm

    =

    1,9  Sm
    1,9  Sm

    4 Sm

    ……………………………..

    ( 2 . 26 )

    = Harga faktor kekerasan roda gigi.

    = Harga kekerasan roda gigi.

    Sedangkan harga kekerasan roda gigi di rumuskan sebagai berikut :

    Sm

    =

    2 S

    S   S

    1

    1

    S

    2

    2

    ……………………………

    ..

    ( 2 . 27 )

    Dimana :

    S

    • 1 = Harga kekerasan roda gigi 1 (µ).

    S

    • 2 = Harga kekesan roda gigi 2 (µ).

    Berdasarkan standar yang telah ditentukan bahwa roda gigi yang digerinda dan dihaluskan dengan baik mempunyai harga S = 0,25 0,5 (µ). Sedangkan roda gigi yang bermutu baik dalam perdagangan mempunyai harga S = 0,6 0,9 (µ). Dalam perencanaan ini digunakan roda gigi yang bermutu baik dalam perdagangan dengan harga S1= S2 = 0,8 (µ).

    • 2.6 Pelumasan Pada Transmisi Roda Gigi

    Pada kendaraan banyak terdapat bagian bagian yang bergerak relatif terhadap yang lain termasuk transmisi roda gigi. Oleh karena itu antara kedua permukaan roda gigi yang bersinggungan harus terdapat lapisan pelumas sehingga mempermudah proses kerja dari transmisi roda gigi tersebut.

    Apabila jumlah pelumas tidak mencukupi atau pemakaiannya sudah lama sehingga kehilangan sifat sifat pelumasannya maka pelumas harus di ganti dengan yang baru. Hal ini untuk mencegah terjadinya gesekan antara permukaan kontak roda gigi yang bekerja sehingga laju keausannya dapat dikurangi dan umur elemen mesin lebih lama yang berdampak terhindarnya hal hal yang tidak diinginkan sewaktu kendaraan di gunakan.

    Jadi pelumas merupakan salah satu faktor yang penting untuk diperhatikan karena dapat melindungi dan menjamin kelangsungan proses kerja setiap komponen permesinan termasuk transmisi roda gigi yang sangat vital.

    Fungsi minyak pelumas secara umum antara lain :

    Mengurangi gesekan yang terjadi ketika terjadi kontak permukaan elemen mesin

    yang bekerja. Membuang panas yang dihasilkan ketika elemen mesin bekerja.

    Mencegah terjadinya karat dengan membentuk lapisan pelindung terhadap proses

    oksidasi. Mengeluarkan kotoran dan serpihan keausan yang timbul sewaktu mesin bekerja.

    Melindungi permukaan bahan logam dan membentuk lapisan yang tipis.

    Hal hal yang perlu diperhatikan dalam memilih pelumas yang baik adalah :

    Viskositas/ tingkat kekentalan harus sesuai dengan jenis operasi mesin yang digunakan. Mempunyai daya lekat yang baik dengan komponen mesin sehingga dapat mengurangi gesekan yang terjadi. Memiliki titik nyala yang tinggi dan tidak mudah menguap Dapat membuang panas yang di hasilkan oleh mesin.

    Jenis pelumas dapat di bedakan atas 2 jenis yaitu :

    • 1. Berdasarkan viskositasnya ( Standar SAE ). Standar SAE ( Society of Amirican Engineers ) menunjukkan tingkat viskositas/ kekentalan minyak pelumas pada suhu tertentu. Makin tinggi angkanya maka makin kental minyak pelumas dan makin berat bobotnya.

    Standar SAE terbagi atas 2 jenis yaitu :

    Angka yang di sertai huruf W maka batas kekentalannya di ukur pada batas 0 0 F. Angka yang tidak di sertai huruf W maka batas kekentalannya di ukur pada batas

    • 210 0 F.

    Minyak pelumas yang digunakan akan menjadi encer bila dipanaskan tetapi minyak pelumas yang berkualitas baik maka proses pengencerannya dapat dihambat dengan penambahan zat aditif, terutama minyak pelumas yang menggunakan huruf W. Oleh karena itu, contohnya minyak pelumas SAE 10 W

    memiliki kekentalan yang hampir sama dengan minyak pelumas SAE 30, 40, bahkan 50.

    • 2. Berdasarkan penggunaannya ( Standar API ). Standar API ( American Petroleum Institute ) umumnya jarang diketahui oleh kalangan umum di bandingkan dengan standar SAE. Klasifikasi minyak pelumas bedasarkan standar API terbagi atas 2 macam yaitu :

      • a. Untuk mesin bensin yaitu : SA, SB, SC, SD dan SE. Kode SA adalah kode minyak pelumas yang berkualitas terendah dan tidak memenuhi mutu standar, sehingga tidak ada kendaraan yang cocok menggunakan minyak pelumas jenis ini. Kode SB adalah kode minyak pelumas mutu rendah yang mengandung zat aditif yang dapat menghambat timbulnya karat, oksidasi oli dan keausan

    benda yang di lumasi. Tipe ini hanya cocok untuk mobil buatan tahun

    1950-an.

    Kode SC adalah kode minyak pelumas yang bermutu tinggi yang pertama kali di produksi. Minyak pelumas ini mengandung zat aditif yang dapat mencegah karat dan mencegah besi menjadi keropos. Minyak pelumas ini khusus di buat untuk mesin buatan 1960-an. Kode SD adalah minyak pelumas yang bermutu lebih baik lagi yang di buat untuk mobil buatan 1970-an. Kode SE adalah minyak pelumas yang bermutu terbaik untuk mobil penumpang yang cocok digunakan untuk semua mobil buatan 1970-an ke atas. Minyak pelumas ini mempunyai daya pelindung yang lebih besar terhadap oksidasi, korosi dan kotoran yang timbul akibat suhu tinggi.

    • b. Untuk mesin diesel yaitu : CA, CB, CC dan CD. Kode CA adalah kode minyak pelumas yang cocok digunakan untuk mobil penumpang dan mobil mobil pick up yang membawa beban kecil. Kode CB adalah kode minyak pelumas yang cocok digunakan untuk mobil pick up dan truk kecil yang membawa beban sedang. Kode CC adalah kode minyak pelumas yang serba guna yang cocok digunakan untuk mobil penumpang dan truk yang membawa beban yang kecil sampai beban yang berat. Kode CD adalah kode minyak pelumas yang bermutu terbaik yang cocok digunakan untuk mobil penumpang dan truk besar yang di lengkapi dengan turbo charger samapi mesin mesin diesel yang besar.

    BAB III PERHITUNGAN

    • A. Perencanaan Roda Gigi

    Pada perencanaan roda gigi ini dipakai dua buah roda gigi miring ,

    dimana satu roda gigi berfungsi sebagai roda gigi penggerak (gear) dan yang

    lainnya sebagai roda gigi yang digerakkan (pinyon). Adapun bahan dari roda gigi

    dan pinyon adalah besi cor FC 18 dengan kekuatan lentur 4,0 kg/mm 2 .

    Data perencanaan adalah :

    • 1. Putaran motor (n c )

    =

    1500 rpm

    • 2. Daya motor (P)

    =

    0,25 kW

    • 3. Reduksi transmisi

    =

    5

    • 4. Reduksi roda gigi kerucut

    =

    1,5

    • 5. Faktor koreksi (f c )

    =

    1 (untuk daya nominal)

    • 6. Jumlah roda gigi kerucut (Ng)

    =

    27

    • 7. Jumlah roda gigi pinion (Np)

    =

    18

    • 8. Puncak diametral (P)

    =

    3 gigi/in

    • 9. Sudut tekan (α)

    =

    20 o

    Maka daya penggeraknya (Pd) adalah :

    Pd

    = P x f c

    = 0,25 x 1

    = 0,25 kW

    Dari harga reduksi puli dan sabuk yang telah diketahui, maka putaran roda

    gigi kerucut dapat diketahui pula, yaitu :

     

    I

    n

    c

     

    n

    i

    dimana :

    n c = putaran motor listrik = 1500 rpm

    n i = putaran roda gigi kerucut

    I

    = reduksi puli = 5

    Sehingga :

    5

    1500

     

    n

    i

    n

    i

    300rpm

    Reduksi pada roda gigi kerucut :

    Dimana :

    Z Z

    1

    2

    1,5

    Z

    1

    Z

    2

    n

    1

    n

    2

    n 1 = putaran roda gigi kerucut

    n 2 = putaran pinion

    Maka :

    1,5 = n 1 /n 2

    n 2 = 300 x 1,5

    n2 = 450 rpm

    Torsi pada roda gigi kerucut :

    T = 9,74 x 10 5 x Pd/n 1

    = 811,6 kg mm

    • 1. Sudut puncak pinion tan -1 δ 1 = Np/Ng

    ...............................................

    (Shigley hal. 239)

    = 18/27

    δ 1 = 33,6

    • 2. Sudut Puncak roda gigi tan -1 δ 2 = Ng/Np

    ..............................................

    (Shigley hal. 239)

    = 27/18

    δ 2 = 56,3

    • 3. Diameter puncak pinion (dp) .......................

    (Shigley hal. 175)

    dp = Np/P

    = 18/3 = 6 in = 152,4 mm

    • 4. Diameter puncak roda gigi (dg) dg = Ng/P

    = 27/3 = 9 in = 228,6 mm

    • 5. Lebar muka gigi (F) F = 10/P

    = 10/3 = 3,33 in = 84,67 mm

    • 6. Faktor perubahan kepala (X1 dan X2) X 1 = 0,46 [1-(18/27) 2 ]

    = 0,46 [1-0,4]

    = 0,276

    7.

    Untuk pinion

    Tinggi kepala (Adendum)

    hk 1 = (1 + X 1 ) m

    Dimana : m = modul

    = dp/Np

    = 152,2 /18 = 8,46 mm

    hk 1 = (1 + 0,276) 8,46 = 10,8 mm

    Tinggi kaki (dedendum)

    hf 1 = (1 0,276) m + Ck

    Dimana : Ck = kelonggaran puncak

    C k =

    0,188 P0,0508mm

    7. Untuk pinion Tinggi kepala (Adendum) hk = (1 + X ) m Dimana : m

    =

    0,188 30,0508mm

    7. Untuk pinion Tinggi kepala (Adendum) hk = (1 + X ) m Dimana : m

    = 0,11 mm

    hf 1 = (1 0,276) x 8,46 + 0,11

    = 6,23 mm

    • 8. Untuk roda gigi Tinggi kepala (adendum) hk 2 = (1 X 1 ) m

    = (1 0,276) 8,46

    = 6,12 mm

    Tinggi kaki (dedendum)

    hf 2 = (1 + X 1 ) m + C k

    = (1 + 0,276) 8,46 + 0,11 = 10,9 mm

    • 9. Diameter lingkaran kepala pinion dp 1 = dp + 2hk 1 cos δ 1

    = 152,4 + 2 .10,8 cos 33,6

    = 170,3 mm

    • 10. Diameter lingkaran roda gigi dg 2 = dg + 2hk 2 cos δ 2

    = 228,6 + 2 . 6,12 cos 56,3

    = 235,33 mm

    • 11. Jarak dari puncak kerucut sampai puncak luar gigi untuk pinion X 1 = (dp/2) hk 1 sin δ 1

    = (152,4/2) 10,8 sin 33,6

    = 70,26 mm

    • 12. Jarak kerucut (R) R = d p /2 sin δ 1

    = 152,4/2 sin 33,6

    = 138,5 mm

    • 13. Pemeriksaan keamanan terhadap tegangan dan kekuatan lentur W t = 60 . 10 3 . H/π dn

    H

    = P . f c

    = 0,25 kW

    W t = 60 . 10 3 . 0,25/3,14 . 12 . 1500

    = 0,26 kN

    • 14. Diameter puncak rata-rata dari roda gigi besar

      • d av = dg – F sin δ 2

    .............................................

    (Shigley hal 244)

    = 228,6 84,67 sin 56,3

    = 158,16 mm = 6,23 in

    • 15. Kecepatan garis puncak pada puncak rata-rata

      • V = dav . π . n/12 ..............................................

    (Shigley hal 175)

    = 6,23 . 3,14 . 300/12

    = 489,06 ft/menit

    • 16. Faktor kecepatan

    Kv =

    50 / 50

    V
    V

    ............................................

    (Shigley hal 181)

    =

    50/ 50

    489,56
    489,56

    = 0,693

    • 17. Tegangan lentur pada roda gigi σ = Wt . P/kv . F . J

    .........................................

    (Sularso hal 242)

    J = 0,22 ; untuk faktor geometri

    σ =

    0,22.3 gigi /

    in

    .1/ 25,4.10

    3

    0,693.84,67.0,22.10

    3

    = 0,698 kPa

    • 18. Tegangan yang diizinkan : σ a = 4 kg/mm 2

    =

    4 x 9,81

    kg

    1.10

    6

    2

    m

    = 3,924 . 10 4 kPa

    Karena σ < σ a maka roda gigi dalam keadaan sangat aman.

    • B. Perencanaan Poros dan Pasak

    Puli

    D = 100 mm

    • I = 5

    Dimana : D = diameter puli

    I = reduksi puli

    Maka : d = D/I

    ..............................................

    (Sularso hal. 166)

    = 100/5 = 20

    Sehingga : V = π . d . n/(60x1000) .................

    (Sularso hal. 166)

    Po =

    3,14x20x1500

     

    =

     

    60000

     

    = 1,57 m/s

    F1F2 V

     

    ..........................................

    102

    (Sularso hal. 171)

    Dimana : Po = Daya yang direncanakan

    Po = 0,25 kW

    • V = kecepatan

    Maka : 0,25 =

    F1F2 1,57

    102

    F1-F2 = 16,24

    • Sabuk

    Panjang sabuk (L) dipilih panjang 1016 mm

    Jarak sumbu C dapat diketahui dengan menggunkan persamaan sebagai

    berikut :

     

    C

    =

    b

    b

    2

    8 D d

    2

     

    8

    Dimana :

     

    b = 2L – π(100 + 20)

     

    b = 2L – π(100 + 20)

    = 2(1016) 3,14(120)

    = 2032 376,8

     

    = 1655,2

     

    Maka :

     

    C

    2

    b b

    8

    D d

    2

    =

    8

    =

    1655,2

    

    1655,2

    2

     

    8

    = 411,85

     

    ...............................

    .......................................

    8 100

    20

    2

    (Sularso hal. 170)

    (Sularso hal. 170)

    Besarnya sudut kontak adalah :

    θ 180

    o

    θ 180

    o

    θ 168,93

    θ

    ≈ 169 o

     

    57(D

    d)

    C

    57(100

    20)

    411,85

    o

    Maka :

    F 1 /F 2 = e μ.θ

    Dimana : μ = koefisien gesek = 0,2

    F 1 /F 2 = e μ.θ

    F 1 /F 2 = e 0,2.169

    F 1 /F 2 = e 33,8

    F 1 = 4,78 F 2

    16,24 = F 1 F 2

    16,24 = (4,78 F 2 F 2 )

    F

    2

    16,24

    3,78

    F

    2

    4,30 kg

    F 20,54 kg

    1

    Sehingga jumlah sabuk yang diperlukan adalah :

    N

    P

    d

    P .K

    o

    ......................................................

    (Sularso hal. 173)

    N

    N

    0,25

    0,25 x 0,97 1,03 1buah

    Dengan jenis sabuk yang dipakai adalah sabuk V dengan tipe sabuk sempit 3 V.

    BAB IV KESIMPULAN

    Berdasarkan hasil perhitungan pada bab-bab sebelumnya, maka dapat ditarik

    beberapa kesimpulan mengenai ukuran bagian-bagian roda gigi miring , yaitu sebagai

    berikut :

    • 1. Alat penggerak

    Daya motor

    = 0,25 kW

    Putaran motor

    = 1500 rpm

    Reduksi transmisi

    sabuk

    = 5

    Reduksi transmisi roda gigi

    = 1,5

    • 2. Roda gigi miring

    Jumlah roda gigi (gear)

    = 27 gigi

    Jumlah roda gigi (pinion)

    = 18 gigi

    Modul

    = 8,46 mm

    Bahan roda gigi

    = FC 18

    Kekuatan tegangan izin

    = 3,924.10 4 kPa

    • 3. Poros

    Bahan poros

    = G 10500 AISI 1050 ditarik dingin

    Panjang poros

    = 172 mm

    Diameter poros

    = 11 mm

    DAFTAR PUSTAKA

    • 1. Shigley, J.E dan LD. Mitchell, “Perencanaan Teknik Mesin”, Jilid 2, Edisi Keempat, Erlangga, Jakarta, 1984.

    • 2. Sularso, Ir, MSME dan K. Suga, “Dasar Perencanaan Dan Pemilihan Elemen Mesin”, Cetakan Kesembilan, Pradnya Paramita, Jakarta,
      1997.

    • 3. Daryanto, Drs, “Pengetahuan Dasar Teknik”, Cetakan Pertama, Bina Aksara, Jakarta, 1988.