Anda di halaman 1dari 3

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Hiperbilirubinemia terjadi apabila terdapat akumulasi blirubin dalam darah yang

berlebihan dengan ditandai adanya jaundice atau ikterus, perubahan warna kekuningan pada

kulit, sklera dan kuku (Hockenberry & Wilson 2009). Angka kematian bayi baru lahir

merupakan penyumbang kematian terbesar pada tingginya angka kematian bayi. Menurut

data Survei Demografi Kesehatan Indonesia (SDKI) 2012, AKB 32 per 1.000 kelahiran

hidup. AKN (Angka Kematian Neonatus) 19/1.000 kelahiran hidup, dan AKABA (Angka

Kematian Balita) 40/1.000 kelahiran hidup (BKKBN, 2012 ). Penyebab kematian neonatal

pada minggu pertama salah satunya adalah ikterus neonatorum. Hal ini menunjukan bahwa

hiperbilirubinemia pada neonatus sangat mempengaruhi indikator pembangunan kesehatan.

Cakupan hiperbilirubinemia pada neonatus setiap tahun meningkat. Pada tahun 2007

di Indonesia sebasar (5,6%) (Riskesdas,2007). Pada tahun 2009 sebesar (14%) dan tahun

2012 sebesar (17,32%) fakta ini menunjukan ikterus neonatorum pada neonatus masih

menjadi masalah di Indonesia.

Terdapat beberapa penyebab hiperbilirubinemia pada neonatus. Diantaranya adalah

komplikasi kehamilan (inkontabilitas golongan darah ABO dan Rh) 11,4%, dan pemberian air

susu ibu (ASI) 37,8%, faktor perinatal seperti infeksi 14,4 %, dan trauma lahir

(cephalhermaton) 37,2%, dan faktor neonatus seperti prematuritas 51,2%, rendahnya asupan

ASI 62,2%, hipoglikemia 22% , dan faktor genetik 0% faktor risiko lainnya hiperbillirubin

diantaranya pada bayi kurang bulan atau kehamilan usia <37 minggu 12,5 %, bayi dengan
berat lahir rendah (BBLR) 30,2% dan jenis persalinan. Hal tersebut membuktikan bahwa

masih banyak faktor yang mempengaruhi terjadinya ikterus neonaturum (Sastroasmoro,

2007).

Hiperbilirubinemia banyak ditemukan dibeberapa rumah sakit di Indonesia.

Berdasarkan hasil penelitian Risa pada tahun 2009 di RS Dr.Sardjito dikemukakan bahwa

angka kejadian ikterus terdapat pada 60% bayi cukup bulan dan 80% Bayi kurang bulan. 85%

bayi cukup bulan sehat mempunyai kadar bilirubin diatas 5mg/dl dan 23,8% memiliki kadar

bilirubin diatas 13mg/dl. Sedangkan di Jakarta, salah satunya di RSCM pada tahun 2003,

menemukan prevalensi kadar bilirubin 5mg/dl sebesar 58% dan untuk kadar bilirubn 12mg/dl

sebesar 29,35 pada bayi baru lahir. Lalu pada tahun 2007 angka kejadian persentase ikterus

neonatorum pada bayi cukup bulan sebesar 32,1% dan pada bayi kurang bulan sebesar

42,9%.

Hasil penelitian pada tahun 2013 di RSUD Koja, Jakarta Utara terdapat 157 bayi

dengan hiperbilirubinemia. Selain di rumah sakit pendidikan angka kejadian ikterus pada bayi

tercatat dibeberapa rumah sakit swasta. Pada tahun 2011 di Rumah Sakit Islam Pondok Kopi

Jakrta Timur terdapat 78/550 kelahiran hidup yang mengalami hiperbilirubinemia. Angka

tersebut meningkat pada tahun 2012 menjadi 105/560 kelahiran hidup. Bedasarkan data

tersebut peneliti tertarik untuk melakukan penelitian tentang Gambaran Angka Kejadian

Hiperbilirubinemia pada Neonatus di RSUD Koja Jakarta Utara

1.2 Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang diatas maka rumusan masalah dalam penelitian ini adalah

Bagaimana Gambaran Angka Kejadian Hiperbilirubinemia Pada Neonatus di RSUD Koja

Jakarta Utara Periode Januari-Desember 2014?


1.3 Tujuan Penelitian

Tujuan Umum

Untuk mengetahui angka kejadian hiperbilirubinemia pada neonatus di RSUD

Koja Jakarta Utara Periode Januari-Desember 2014.

Tujuan Khusus

1. Mengetahui angka kejadian hiperbilirubinemia pada bayi baru lahir di RSUD Koja
2. Mengetahui penyebab angka kejadian hiperbilirubinemia pada neonatus

berdasarkan faktor ibu


3. Mengetahui penyebab angka kejadian hiperbilirubinemia pada neonatus

berdasarkan faktor bayi.

1.4 Manfaat Penilitian

Manfaat Teoritis

Dapat menjadi salah satu bahan informasi tentang angka kejadian

hiperbilirubinemia dan faktor yang berkaitan dengan ikterus.

Manfaat Praktis

Bidan mampu mendeteksi dini kegawatdaruratan terhadap hiperbilirubinemia

dan mengaplikasikan peran dan penatalaksanaan hiperbilirubinemia pada bayi baru

lahir.