Anda di halaman 1dari 22

UJIAN COMPOUNDING AND DISPENSING

OLEH :

Ni Luh Gede Tiara Yanti (1508515033)

PROGRAM PROFESI APOTEKER


JURUSAN FARMASI
FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
UNIVERSITAS UDAYANA
2015
I. RESEP
Ny. Tri datang ke apotek Anda mengajak anaknya, An. Rika (1 tahun)
dengan membawa resep dari dokter. Pasien menderita diare sejak 2 hari yang
lalu. Pasien BAB sebanyak 3-4 kali/hari dengan feses berwarna kekuningan
dan konsistensi lembek. Pasien juga sempat mengalami demam tadi malam
dengan suhu 38,50C. Demam turun setelah dikompres dengan plester kompres
demam. Pasien mulai diare sejak diberikan susu formula merk baru oleh
Ibunya. Pasien masih mau makan dan minum, namun mulai rewel sejak tadi
pagi. Kondisi pasien saat ini cenderung lemas. Riwayat penyakit tidak
diketahui. Riwayat pengobatan tidak diketahui. Sehari-hari pasien diasuh oleh
nenek.
II. HASIL PEMBACAAN RESEP

Dr. XXX

SIP : 1234/xxxx/2010

Praktek Rumah

Jl. Bukit Jimbaran No.123 Jl. Bukit Jimbaran No. 88

Badung Badung

Tlp (0361)87654321 Tlp 08123456789

R/Dumin 125 dry syr No.1

R/Maxpro syr No.1

S2dd cth

R/Liprolac No. V

S1dd 1sdm

R/Orezink No. V

S3 dd 1 sdm

Pro: anak Rika (1 thn)


Alamat : Denpasar

Narasi :
Ny. Tri datang ke apotek Anda mengajak anaknya, An. Rika (1 tahun)
dengan membawa resep dari dokter. Pasien menderita diare sejak 2 hari yang
lalu. Pasien BAB sebanyak 3-4 kali/hari dengan feses berwarna kekuningan
dan konsistensi lembek. Pasien juga sempat mengalami demam tadi malam
dengan suhu 38,50C. Demam turun setelah dikompres dengan plester kompres
demam. Pasien mulai diare sejak diberikan susu formula merk baru oleh
Ibunya. Pasien masih mau makan dan minum, namun mulai rewel sejak tadi
pagi. Kondisi pasien saat ini cenderung lemas. Riwayat penyakit tidak
diketahui. Riwayat pengobatan tidak diketahui. Sehari-hari pasien diasuh oleh
nenek.
III. SKRINING RESEP
Apoteker akan pasien yang datang ke apotek serta memperkenalkan diri
sebagai apoteker kepada pasien. Apoteker akan bertanya kepada pasien mengenai
tujuan kedatangan pasien. Pasien akan menyatakan bahwa tujuannya datang ke
apotek adalah untuk menebus resep sambil menyerahkan resep yang akan ditebus.
Apoteker kemudian melakukan skrining resep yang dibawa oleh pasien.
Berdasarkan Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 35
Tahun 2014 Tentang Standar Pelayanan Kefarmasian Di Apotek, dinyatakan
bahwa skrining resep yang dilakukan oleh apoteker meliputi :
1. Persyaratan administratif :
a. Nama dokter, nomor Surat Izin Praktik (SIP), alamat, nomor telepon dan
paraf.
b. Nama, umur, jenis kelamin, dan berat badan pasien.
c. Tanggal penulisan resep.
2. Kesesuaian farmasetik:
a. Bentuk dan kekuatan sediaan
b. Stabilitas
c. Kompatibiltas (ketercampuran obat)
3. Pertimbangan klinis:
a. Ketepatan indikasi dan dosis Obat
b. Aturan, cara dan lama penggunaan Obat
c. Duplikasi dan/atau polifarmasi
d. Reaksi Obat yang tidak diinginkan (alergi, efek samping Obat,Manifestasi
klinis lain)
e. Kontra indikasi
f. Interaksi
3.1 Skrining Administrasi Resep
Tabel 1. Hasil skrining administrasi resep
Kelengkapan Resep Ada Tidak Ada
Identitas dokter Nama
SIP
Alamat praktek
No. Telpon
Paraf
Identitas pasien Nama
Umur
Jenis kelamin
Berat Badan
Tanggal penulisan Resep

Berdasarkan tabel di atas, tidak terdapat identitas pasien berupa jenis kelamin
dan berat badan. Pada resep hanya tertulis bahwa pasien dengan nama Rika, umur
1 tahun. Identitas pasien diperlukan dalam melakukan penyesuaian dosis
individual.
Berdasarkan pemeriksaan kelengkapan administrasi, resep di atas kurang
lengkap karena terdapat informasi yang tidak tercantum, sehingga seharusnya
resep ini dikembalikan ke pasien (ditolak), tetapi informasi individual pasien
dapat digali dengan cara menanyakan langsung kepada pasien saat menebus resep
di apotek.
3.2 Skrining Kesesuaian Farmasetik
a. Bentuk sediaan
Bentuk sediaan yang diberikan pada resep adalah sirup (dumin dry
syrup, maxpro syr, orezink) serta serbuk (liprolac).
b. Kekuatan sediaan
Penulisan kekuatan obat tidak dicantumkan sehingga digunakan
kekuatan obat terendah dan disesuaikan antara kekuatan obat dari nama
sediaan yang disebutkan dalam resep dengan sediaan yang ada di pasaran.
Apoteker harus berkonsultasi kembali kepada dokter untuk memastikan
bahwa kekuatan obat yang dimaksud dokter memang sama dengan
kekuatan obat yang beredar di pasaran.
c. Kompatibilitas
Dalam resep yang diberikan tidak terdapat masalah kompatibilitas
karena semua komponen obat dalam resep diberikan dalam sediaan tunggal
atau tidak mengalami perubahan bentuk sediaan karena peracikan.
d. Stabilitas
Sediaan pada resep cukup stabil karena merupakan sediaan jadi tunggal
dan tidak mengalami perubahan bentuk karena peracikan. Sediaan sirup
disimpan pada suhu sejuk. Penyimpanan keempat sediaan tersebut
dijauhkan dari sinar matahari langsung.

3.3 Skrining Pertimbangan Klinis


Berdasarkan Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 35
Tahun 2014 Tentang Standar Pelayanan Kefarmasian Di Apotek, dinyatakan
bahwa skrining resep untuk pertimbangan klinis yang dilakukan oleh apoteker
meliputi: Ketepatan indikasi dan dosis Obat, Aturan, cara dan lama penggunaan
Obat, Duplikasi dan/atau polifarmasi, Reaksi Obat yang tidak diinginkan (alergi,
efek samping Obat, Kontra indikasi, Interaksi). Hasil skrining klinis pada resep
dapat dilihat pada tabel 2 dan 3 di bawah ini.
Tabel 2. Komposisi, indikasi dan efek samping
Obat Komposisi Indikasi Efek samping
Dumin dry Parasetamol 120 mg/5 Antipiretik
syrup mL
Maxpro syr Cefixime 100 mg/5 mL Antibiotika
Liprolac *Viable cell 1,25 x Probiotik
109CFU
- Streptococcus
thermophilus 10
mg
- Lactobacillus
rhamnosus 3 mg
- Lactobalicillus
acidophilus 3 mg
- Bifidobacterium
longum 1,25 mg
- Bifidobacterium
bifidum 1,25 mg
*Fructooligosaccharide
509,08 mg
*Vitamin E 8,125 mg
*Vitamin A 3,60 mg
*Pyridoxine HCl 1,13
mg
*Vitamin B2 0,75 mg
*Thiamine HCL 0,70 mg

Orezink Zink 20 mg/5 mL Antidiare

Tabel 3. Perbandingan dosis pada resep dengan pustaka


No Nama zat Dosis Ket.
aktif Resep Pustaka
1. Dumin dry 3 x sehari Untuk anak 0-1 tahun Dosis: Sesuai
syrup sendok teh, 1 125 mL/2,5 mL,
jam setelah sendok teh 3-4 hari
makan sehari
(Lacy et al, 2011)

2. Maxpro syr 3 x sehari 1 Untuk anak umur Dosis: Sesuai


sendok teh, 2 lebih dari 6 bulan dan
jam setelah berat badan kurang
makan dari 50 kg dapat
diberikan dengan
dosis 8-20 mg/kg/hari
selama 7 hari untuk
infeksi akibat
S.pyogenes
Untuk anak dengan
demam tifoid dapat
diberikan denga dosis
20 mg/kg/hari selama
10-14 hari (Lacy et al,
2011)
3. Liprolac 1 x 1 sendok 1 sachet sehari Dosis: sesuai
makan mengandung 2,5 mg
viable cell untuk anak
0-1 tahun diberikan 1
sachet
4. Orezink 1 x 1 sendok 1 mg/mL untuk anak Dosis: terlalu
makan berusia 1 tahun tinggi
diberikan 3 mg/hari

KESIMPULAN HASIL SKRINING RESEP


Berdasarkan skrining yang telah dilakukan pada skrining administratif,
skrining farmasetis dan skrining klinis, resep di atas masih sangat belum lengkap
sehingga untuk memastikan keabsahan dan kelengkapan resep maka perlu
dilakukan komunikasi dengan pasien/pembawa resep. Penelusuran identitas
pasien dapat dilakukan dengan komunikasi langsung dengan pasien atau pembawa
resep.
Untuk menggali informasi yang tidak ada diresep serta untuk mencegah
medication error, maka apoteker melakukan konsultasi kepada pasien.
Apoteker : Selamat siang ibu, saya Tiara apoteker di apotek ini. Ada
yang bisa saya bantu bu?
Pembawa resep : Selamat siang bu, saya ingin menebus resep ini
Apoteker : Boleh saya lihat resepnya bu, maaf dengan ibu siapa saya
bicara?
Pembawa resep : (menyerahkan resep) saya Ibu Tri
Apoteker : Baik ibu Tri, mohon tunggu sebentar
(Apoteker kemudian mengecek stok obat yang tercantum dalam resep dan
memastikan bahwa obat yang diresepkan bagi pasien tersedia di Apotek)
Apoteker : Mohon maaf ibu, resep ini untuk siapa?
Pembawa resep : Resep ini untuk anak saya.
Apoteker : Apa sebelumnya ibu sudah pernah menebus resep untuk anak
ibu di apotek ini?
Pembawa resep : Belum bu, ini baru pertama kali
Apoteker : Ada alamat lengkap dan no telepon yang dapat kami
hubungi?
Pembawa resep : Saya tinggal di Jalan Hayam Wuruk, no hp saya
081337089567
Apoteker : Ada hal yang ingin saya tanyakan terkait pengobatan, apakah
ibu ada waktu sebentar?.
Ibu tri :Ya, silakan bu.
Apoteker : Kapan ibu memperoleh resep ini?
Ibu Tri : Saya baru saya memperoleh resep ini
Apoteker : Tinggi dan berat anak ibu berapa ya?
Ibu tri : Anak saya tingginya 100 cm, berat badannya 10 kg
Apoteker :Apakah ibu memiliki asuransi untuk menanggung biaya
kesehatannya?
Ibu Tri : Tidak ada bu

Dalam kasus ini Apoteker sudah memiliki data identitas pasien dan
kelengkapan resep telah di penuhi. Setelah mengumpulkan seluruh informasi yang
kurang, maka resep diatas dapat dilayani.

V. PENGGUNAAN OBAT YANG RASIONAL


Penggunaan obat yang rasional adalah bila pasien menerima obat yang
sesuai dengan kebutuhannya, untuk periode waktu yang adekuat dan dengan harga
yang paling murah untuk pasien dan masyarakat (WHO, 1985). WHO
memperkirakan bahwa lebih dari separuh dari seluruh obat di dunia diresepkan,
diberikan dan dijual dengan cara yang tidak tepat dan separuh dari pasien
menggunakan obat secara tidak tepat. Maka dari itu penting untuk menilai
penggunaan obat yang rasional guna menjamin pasien mendapatkan pengobatan
yang sesuai dengan kebutuhannya, untuk periode waktu yang adekuat dengan
harga yang terjangkau. Penggunaan obat dikatakan rasional apabila telah
memenuhi kriteria tepat diagnosis, tepat indikasi penyakit, tepat pemilihan obat,
tepat dosis, tepat cara pemberian, tepat interval waktu pemberian, tepat lama
pemberian, waspada terhadap efek samping serta sesuai dengan keadaan pasien
(KemenKes RI, 2011). Penilaian untuk penggunaan obat yang rasional dapat
dinilai dari salah satunya adalah metode SOAP.
a. Subjektif
Setelah dilakukan anamnese secara umum dari resep yang dibawa oleh
pasien, selanjutnya apoteker akan melanjutkan menggali informasi dari pasien
pembawa resep. Untuk meyakinkan anamnese tersebut dan untuk melengkapi
identitas pasien yang harus dicantumkan pada medication record maka apoteker
bertanya kepada pasien/pembawa resep terkait dengan kondisi pasien dengan
metode Three Prime Question. Berikut percakapan yang dilakukan apoteker
dengan pasien melengkapi indentitas diri pasien yang kurang lengkap.
Apoteker : Bagaimana penjelasan dokter tentang penyakit yang anak
ibu?
Pembawa resep : Kata dokter, anak saya kemungkinan mengalami diare
karena saya mengganti susu formula yang saya berikan, suhu
tubuhnya juga meningkat.
Apoteker : Berapa suhu tubuh anak ibu ketika diukur suhu tubuhnya
saat pemeriksaan?
Pembawa resep : Ketika diperiksa tadi suhu tubuh anak saya 38,50C
Apoteker : Untuk diarenya, sudah berapa lama bu ya, kemudian
bagaimana fesesnya?
Pembawa resep : diarenya sudah 2 hari bu, fesesnya lembek dengan warna
kekuningan, BABnya 3-4 kali bu
Apoteker : Apakah sebelumnya anak ibu pernah mengalami diare
seperti ini?
Pembawa resep : Sepertinya ini yang pertama kalinya bu
Apoteker : Anak ibu apakah ada alergi terhadap obat atau makanan?
Pembawa resep : Sejauh ini sih tidak ada bu, dia baik-baik saja sebelumnya.
Apoteker : Selama diare apakah anak ibu dapat diberikan oralite atau
suplemen tambahan?
Pembawa resep : Wah saya kurang tahu bu, karena anak saya diasuh oleh
neneknya
Apoteker : Oh begitu, apakah tadi dokter sudah menjelaskan kepada
bapak mengenai obat yang diterima?
Pembawa resep : Kata dokter anak saya diberikan obat untuk mengurangi
diare karena kemungkinan anak saya alergi terhadap susu
yang baru, kebetulan saya mengganti susu formula yang saya
berikan, selain itu anak saya juga diberikan obat penurun
panas
Apoteker : Bagaimana penjelasan Dokter tentang cara penggunaan obat
yang anak ibu terima?
Pembawa resep : Kata Dokter tadi saya diberikan 4 macam obat. Obat sirup
yang pertama diberikan 3 kali sehari sendok teh, sirup
kedua diminum 3 x sehari 1 sendok teh sampai habis, yang
sachet diminum 1 sachet bersama dengan makanan dan yang
terakhir 1 kali sehari setelah makan .
Apoteker : Apakah pada saat berobat ke Dokter ada dilakukan
pemeriksaan laboratorium?
Pembawa resep : Tidak ada bu.
Dari hasil percakapan diatas yang dilakukan dengan pasien, dapat diketahui
bahwa pasien mengalami diare karena penggantian susu formula. Berdasarkan
hasil komunikasi langsung kepada pasien melalui three prime question, maka
diketahui pasien datang ke dokter dengan keluhan sebagai berikut:
- Diare disertai peningkatan suhu tubuh

b. Objektif
Setelah melakukan penilaian secara subjektif, maka langkah selanjutnya
adalah menilai pasien secara objektif. Pada kasus di atas hanya terdapat
pengukuran suhu tubuh Suhu tubuh pasien 38,5oC
c. Assesment
Tahap selanjutnya adalah assesment.Pada tahap assesment, Apoteker dapat
melakukan penilaian kondisi klinis yang dialami pasien (anamnese) yang
disesuaikan dengan analisa 4T1W dan identifikasi drug related problemuntuk
menganalisa penggunaan obat yang rasional untuk kondisi pasien tersebut.
i. Penilaian Pengobatan yang Rasional
1. Tepat Indikasi
Pasien diberikan obat dengan indikasi yang benar sesuai diagnose Dokter.
Indikasi yang digunakan adalah indikasi yang sesuai dengan kategori farmakologi
dari masing-masing obat.Penilaian kesesuaian kondisi klinis yang dialami pasien
(anamnese) dan obat yang diresepkan dapat dilihat pada tabel 5 di bawah ini.

Table 5. Hasil Anamnese Kefarmasian Apoteker


Indikasi / Use yang Analisa Subjektif Anamnese Kefarmasian
Jenis Obat
DimungkinkanTerkait dan Objektif Sementara
Kasus
Dumin dry Dumin dry syrup
mengandung paracetamol,
syrup
parasetamol digunakan
Antipiretik
untuk mengatasi
Subjektif: peningkatan suhu tubuh
Pasien mengalami pada pasien
Maxpro syr diare dengan feses Cefixime mengandung
lembek dengan antibiotika yang digunakan
Antibiotik
warna kekuningan untuk mengatasi infeksi
disertai demam bakteri pada pasien
Liprolac Objektif: Treatment untuk diare dan
Probiotik 38,5oC pencegahan intoleransi
laktosa
Orezink Digunakan untuk
Antidiare mengobati diare pada
pasien

2. Tepat Obat
Keputusan untuk melakukan upaya terapi diambil setelah diagnosis
ditegakkan dengan benar. Dengan demikian, obat yang dipilih harus yang
memiliki efek terapi sesuai dengan jenis penyakit (KemenKes RI, 2011).
Berdasarkan penilaian dari data subjektif yang ada, maka diduga anamnese
sementara diduga pasien mengalami diare akibat penggantian susu formula.

3. Tepat Dosis
Tepat dosis adalah jumlah obat atau dosis yang diresepkan kepada pasien
sesuai dengan kebutuhan individual dari pasien dan dosis yang diberikan berada
dalam rentang terapi. Berikut adalah perbandingan kesesuaian dosis resep dengan
dosis pustaka.
Tabel 6. Perbandingan Dosis Pustaka dan Dosis Resep
No Nama zat Dosis Ket.
aktif Resep Pustaka
1. Dumin dry 3 x sehari Untuk anak 0-1 tahun Dosis: Sesuai
syrup sendok teh, 1 125 mL/2,5 mL,
jam setelah sendok teh 3-4 hari
makan sehari
(Lacy et al, 2011)

2. Maxpro syr 3 x sehari 1 Untuk anak umur Dosis: Sesuai


sendok teh, 2 lebih dari 6 bulan dan
jam setelah berat badan kurang
makan dari 50 kg dapat
diberikan dengan
dosis 8-20 mg/kg/hari
selama 7 hari untuk
infeksi akibat
S.pyogenes
Untuk anak dengan
demam tifoid dapat
diberikan denga dosis
20 mg/kg/hari selama
10-14 hari (Lacy et al,
2011)
3. Liprolac 1 x 1 sachet 1 sachet sehari Dosis: sesuai
mengandung 2,5 mg
viable cell untuk anak
0-1 tahun diberikan 1
sachet
4. Orezink 1 x 1 sendok 1 mg/mL untuk anak Dosis: terlalu
makan berusia 1 tahun tinggi
diberikan 3 mg/hari

4. Tepat pasien
Obat yang diresepkan mempertimbangkan kondisi individu yang
bersangkutan dan tidak kontraindikasi dengan kondisi pasien yang menerima
resep dan sebaiknya menimbulkan efek samping yang paling minimal. Pada resep,
bentuk sediaan yang diberikan kepada pasien adalah dalam bentuk sirup dan
serbuk. Pasien adalah kategori anak-anak dan tidak ada keluhan dari pasien yang
dapat mengganggu penggunaan bentuk sediaan tersebut.

5. Waspada Efek Samping


Pemberian obat potensial menimbulkan efek samping, yaitu efek tidak
diinginkan yang timbul pada pemberian obat dengan dosis terapi (KepmenKes RI,
2011). Efek samping yang dapat muncul pada penggunaan obat adalah:

Tabel 7. Efek Samping masing-masing Obat

Obat Komposisi Indikasi Efek samping

ii. Drug Related Problem (DRP)


Penggunaan obat yang tidak rasional sering dijumpai dalam praktek sehari-
hari. Peresepan obat tanpa indikasi yang jelas, penentuan dosis, cara, dan lama
pemberian yang keliru, serta peresepan obat yang mahal adalah beberapa contoh
dari penggunaan obat yang tidak rasional. Penggunaan suatu obat dikatakan tidak
rasional jika kemungkinan dampak negatif yang diterima oleh pasien lebih besar
daibandingkan manfaatnya. Dampak negatif dapat berupa:
a. Dampak klinik (contohnya terjadi efek samping dan resistensi kuman)
b. Dampak ekonomi (biaya tidak terjangkau)
(KepmenKes RI, 2011).

Analisa penggunaan obat yang rasional dapat dilakukan dengan identifikasi


DRP, yakni:
PROBLEM SUBYEKTIF dan TERAPI DRP
MEDIK OBYEKTIF
Diare dan Subyektif : 1. Dumin dry - 1.Dose too high
peningkatan Pasien mengalami sirup -
suhu tubuh diare dengan feses 2. Maxpro
lembek dengan warna 3. Liprolac
kekuningan disertai 4.Orezink
demam
Obyektif :
Suhu tubuh 38,5oC

1) Dose too high


Dosis, cara dan lama pemberian obat sangat berpengaruh terhadap efek
terapi obat. Pemberian dosis yang berlebihan, khususnya untuk obat yang dengan
rentang terapi sempit akan sangat beresiko timbulnya efek samping (KemenKes
RI, 2011).
Dalam resep ini, peresepan orezink adalah 1 x 1 yaitu 15 mL, sedangkan
untuk pemakaian anak dosisnya 1mg/ml untuk anak usia 1 tahun diberikan 3
mg/hari (Lacy, et al., 2011).

iii. Pengatasan DRP


Untuk mengatasi masalah penggunaan obat yang tidak rasional diperlukan
beberapa upaya perbaikan dan intervensi. Pengatasan DRP dapat dilakukan
dengan cara:
1) Dose too high
Dalam resep terdapat penggunaan orezink adalah 1x 1 atau 15 mL, sedangkan
dosis lazim untuk pemakaian anak dosisnya 1mg/ml untuk anak usia 1 tahun
diberikan 3 mg/hari. Sehingga apoteker menyarankan untuk menurunkan dosis
orezink menjadi sendok teh.

d. Plan
Berdasarkan anamnese kefarmasian yang dilakukan oleh apoteker, diduga
pasien mengalami diare. Apoteker merencanakan memberikan terapi obat pada
pasien dimana telah dikonfirmasi kepada dokter penulis resep dan kepada pasien,
maka rencana terapi untuk resep ini adalah:
1. Care Plan
Pasien direkomendasikan untuk melakukan terapi non-farmakologi dan
farmakologi untuk mempercepat terapi.
a. Terapi non farmakologi

b. Terapi farmakologi

VI. COMPOUNDING AND DISPENSING


1. Compounding
a. Penyiapan obat
Resep yang telah melewati proses skrining administratif, skrining farmasetik
dan skrining klinis serta ketersediaan stok obat yang diminta di apotek,
selanjutnya obat-obat dalam resep disiapkan. Obat diambil sejumlah yang
diresepkan. Sediaan yang akan diserahkan ke pasien masing-masing dimasukkan
ke dalam klip obat, diberikan label sesuai etiket yang telah dibuat (etiket putih
untuk sediaan oral dan etiket biru untuk sediaan topikal). Pada etiket diberikan
keterangan yang meliputi nomor resep, tanggal, nama pasien, frekuensi
penggunaan obat dan waktu pemakaian obat.
b. Pelabelan
- Dumin Dry Sirup

Apotek Tia Pharma


Jl. Hayam Wuruk, Denpasar
Denpasar-Bali
Telp: (0361) 721343

APA :Tiara Yanti, S.Farm, Apt.


SIPA : 25/34/4120/DB/DP/2015

No. 6 Denpasar, 21-10-2015

Anak Rika (1 tahun)


Dummin Dry Sirup
3 x sendok teh
1 jam setelah makan
BUD 14 hari

TTD Apotek

Apotek Tia Pharma


Jl. Hayam Wuruk, Denpasar
Denpasar-Bali
Telp: (0361) 721343

APA :Tiara Yanti, S.Farm, Apt.


SIPA : 25/34/4120/DB/DP/2015

No. 6 Denpasar, 21-10-2015

Anak Rika (1 tahun)


Maxpro sirup
3 x sehari 1 sendok teh
2 jam setelah makan
BUD 14 hari

TTD Apotek
Apotek Tia Pharma
Jl. Hayam Wuruk, Denpasar
Denpasar-Bali
Telp: (0361) 721343

APA :Tiara Yanti, S.Farm, Apt.


SIPA : 25/34/4120/DB/DP/2015

No. 6 Denpasar, 21-10-2015

Anak Rika (1 tahun)


Lacpro
1 x sehari 1 sachet
Saat makan

TTD Apotek

Apotek Tia Pharma


Jl. Hayam Wuruk, Denpasar
Denpasar-Bali
Telp: (0361) 721343

APA :Tiara Yanti, S.Farm, Apt.


SIPA : 25/34/4120/DB/DP/2015

No. 6 Denpasar, 21-10-2015

Anak Rika (1 tahun)


Orezink
1 x sehari sendok teh

TTD Apotek
2. Dispensing (Komunikasi, Informasi dan Edukasi)
Penyerahan obat yang diresepkan kepada pasien disertai dengan pemberian
KIE mengenai indikasi obat, cara dan lama penggunaan obat, cara penyimpanan
obat dan efek samping yang mungkin timbul saat pemakaian obat. Penyerahan
obat dan pemberian KIE kepada pasien meliputi:
a) Terapi Farmakologi:
Dummin dry sirup
Indikasi : Antipiretik (mengatasi demam pada anak).
Cara penggunaan : diminum 3 x sendok teh setelah makan
Penyimpanan : obat disimpan pada tempat kering dan terhindar dari
matahari pada ruangan yang sejuk atau lemari
pendingin.

VI. MONITORING
Monitoring terhadap pasien bertujuan untuk memantau efektifitas terapi
yang disarankan dan efek samping yang mungkin muncul (Adverse Drug
Reaction). Monitoring dan evaluasi perlu dilakukan untuk melihat dan
meningkatkan keberhasilan terapi. Monitoring akan membantu untuk melakukan
penanganan lebih lanjut kepada pasien dan meningkatkan kualitas kesehatan
pasien.

7.1 Efektivitas Terapi


Monitoring efektivitas terapi dapat dilakukan dengan melihat kondisi dari
gejala penyakit pasien apakah sudah membaik, ataukah dengan menanyakan
masih atau tidaknya kemerahan pada kulit dan rasa gatal yang dialami oleh
pasien.

7.2 Efek sampig Obat


Monitoring efek samping terapi dapat dilakukan dengan menanyakan ada
atau tidaknya gejala-gejala yang membuat tidak nyaman yang timbul setelah
menggunakan obat-obat yang diberikan.
DAFTAR PUSTAKA

Kemeterian Kesehatan Republik Indonesia. 2011. Modul Penggunaan Obat


Rasional. Jakarta: Direktorat Bina Pelayanan Kefarmasian, Direktorat
Jendral Bina Kefarmasian dan Alat Kesehatan, Kementerian Kesehatan
Republik Indonesia.
Lacy, C.F., Armstrong, L.L, Goldman, M.P. and Lance, L.L.. 2011. Drug
Information Handbook, 20th Edition. USA: Lexi-comp.
Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 35 Tahun 2014, Bab III.
Tentang Standar Pelayanan Kefarmasian Di Apotek.