Anda di halaman 1dari 53

BAB III

KONSEP PENDIDIKAN ANAK MENURUT RASU>LULLAH SAW

Anak merupakan dambaan bagi setiap orang tua, tidak ada

orang tua yang tidak menginginkan anaknya menjadi anak yang

berhasil baik di dunia maupun di akhirat, oleh karena itula untuk

menjadikan anak yang berhasil dan dambaan bagi orang tua tidak

ada cara lain kecuali mengikuti ajaran Rasu>lullah SAW. yang telah

beliau contohkan kepada kita melalui pendidikan yang islami

dengan menelusuri hadi>ts-hadi>ts yang telah beliau tinggalkan.

A. Pengertian Pendidikan Anak


Dalam bahasa Arab pendidikan adalah Tarbi>yah dan

pengajaran dalam bahasa Arabnya adalah Tali>m.

Pendidikan dan pengajaran dalam bahasa Arabnya tarbi>yah

wa tali>m.1Sedangkan pendidikan secara Istilah adalah

bimbingan dan pertolongan secara sadar yang diberikan oleh

pendidik (orang tua) kepada anak didik sesuai dengan

perkembangan jasmaniah dan rohania ke arah kedewasaan.2


Menurut Imam Al-Ghaza>liMakna Tarbi>yah

(pendidikan) serupa dengan pekerjaan seorang petani yang

1 Zakiah Daradjat, dkk. Ilmu Pendidikan Islam, cet ke-9, (Jakarta: bumi Aksara,
2011), hlm 25
2 Zuhairini dkk, Filsafat Pendidikan Islam, Cet ke-V (Jakarta: Bumi Aksara, 2009),
hlm 170
membuang duri dan mengeluarkan tumbuh-tumbuhan asing

atau rumput-rumputan yang mengganggu tanaman agar

dapat tumbuh denga baik dan membawa hasil yang

maksimal.3
Menurut ibnu> Qayyi>m siapa yang mengabaiakan

pendidikan anaknya dalam hal-hal yang berguna baginya,

lalu ia membiarkan begitu saja, berarti membuat kesalaha

yang besar4.
B. Langkah-Langkah Mempersiapkan Anak Menurut

Rasulullah SAW

Dalam upaya mempersiapkan anak shaleh, Islam telah

merancang langkah- langkah pembinaan dan bimbingan sejak

dari proses pemilihan jodoh, pemilihan jodoh sebagai langkah

awal dari pembentukan rumah tangga menurut pandangan islam

ikut berpengaruh dalam memprogramkan anak shaleh ini.

Selanjutnya, langkah tersebut dilanjutkan dengan pernikahan,

setelahnya berlanjut lagi dengan pembentukan kepribadian

anak, baik sebelum lahir (pranatal) maupun setelah lahir (pasca

natal). Kemudian yang terpenting yaitu pendidikan yang

diberikan kepada anak berdasarkan jenjang usianya.

3Samsul Munir Amin, Menyiapkan Masa Depan Anak Secara Islami, (Jakarta:
Amzah 2007), hlm. 3
4
1. Pembentukan Rumah Tangga Islami

a. Pemilihan Jodoh

Dalam memelihara jodoh kita tidak boleh terburu-buru

dan tergesa-gesa.yang perlu dalam hal ini adalah ketenangan

sehingga pilihan kita itu betul-betul kita yakini akan cocok

dengan kita dan jika sudah pasti bahwa jodoh itu akan cocok

dengan kita, barulah kita mulai bertindak. Pesan Rasulullah

SAW menunjukkan bahwa dalam Islam pemilihan jodoh

sebagai sesuatu yang penting dari langkah awal

mempersiapkan anak yang shaleh.5

1 Memilih Calon Istri

Proses pembinaan rumah tangga berawal sejak pemilihan

calon istri. Bila seseorang berhasil memilih calon istri yang tepat,

berarti sebagian dari keberhasilan rumah tangganya telah

diperoleh. Jadi, keberhasilan suatu rumah tangga dapat diukur

dari kemampuan orang tersebut di dalam memilih calon istrinya.

Oleh karena itu, memilih pasangan harus mendapat pemikiran

yang sungguh-sungguh.6

Sama halnya dengan orang-orang yang hendak bercocok

tanam, mereka terlebih dahulu harus memilih tanah yang baik,

5Opcit, Jalaludin, Mempersipkan anak Sha>leh, hlm 14


6Miqdad Yaljan, Potret Rumah Tangga Islami,Cet ke-I (Jakarta: Qisthi Press, 2007), hlm 23
subur dan cocok untuk pertumbuhan tanamannya. Demikian juga

awal dari proses pembinaan akidah anak harus dilakukan dari

semenjak anak belum lahir ke dunia, dengan cara memilih jodoh

yang berbibit dan berbobot.

Dalam hal ini Rasulullah SAW. memberikan nasehat dan

petunjuk kepada pria yang hendak menikah dengan sabdanya:

": :

(" )

Wanita itu dinikahi karena empat perkara karena hartanya,

karena keturunannya, karena kecantikannya dan karena

agamanya (jika tidak) hendaklah kamu memilih yang

beragama pasti kamu berbahagia.7

Dari penjelasan hadits di atas dapat dipahami bahwa, prinsip

utama dalam memilih jodoh adalah addin (agama). Yang dimaksud

dengan hadits di sini adalah emahaman yang hakiki terhadap Islam,

penerapan setiap keutamaan dan adabnya yang tinggi dalam

perbuatan dan tingkah laku.

7Hussein Bahreisj, Hadits Shahih Bukhari-Muslim, (Surabaya, CV. Karya Utama,), hlm
127
Disamping pentingnya memilih istri karena din ( agama-nya),

dan yang tatkala penting yaitu memilih istri yang mempunyai

karakter istri yang shalehahwanita yang shalehah mampu

menjadikan rumah tangganya bahagia, rukun, damai dan sejahtera,

karena ia paham benar tentang aturan-aturan yang telah diberikan

Alla>h SWT. dan pesan-pesan serta teladan-teladan yang telah

dicontohkan Muhamma>d SAW. kekasih Alla>h SWT. Karena itulah

Rasulullah SAW. berwasiat kepada kaum lelaki, bahwa

hartasimpanan yang paling indah dan berharga dalam hidup ini

bukan intan berlian, rumah yang indah, atau mobil yang mewah,

melainkan wanita yang shalehah. Beliau bersabda:

( )

Dunia itu adalah sebagai satu hiasan, dan sebaik-baik

hiasan dunia itu adalahwanita yang salehah. (H.R. Musli>m)8

Ciri-ciri wanita salehah adalah sebagaimana yang tertuang

dalam surah An- Nisa>ayat 34


Maka wanita-wanita yang salehah, ialah mereka yang taat

kepada Alla>h SWT. dan menjaga diri ketika (suaminya) tidak

8Ibid, Hussein Bahreis, hlm 129


ada, karena Alla>h SWT. telah menjaga (mereka).9

Taa>t kepada Alla>h SWT.. SWT SWT itu meliputi :

1 Memiliki rasa kecintaan terhadap Alla>h SWT.. SWT dan

Rasul serta berjihad di jalan Alla>h SWT.. SWT melebihi dari

keduniawian.

2 Menutup aurat

Menutup aurat bagi seorang istri atau seorang wanita

adalah hikmah dari Alla>h SWT.. SWT SWT. untuk

menyelamatkan kaum wanita dari bahaya fitnah. Dan Islam

menekankan agar wanita melindungi dirinya dengan cara

memakai pakaian yang menutup seluruh auratnya.

Para a>lim ulama menganjurkan agar para istri atau

anak wanitanya bila keluar rumah dalam berpakaian

hendaklah mereka menggunakan pakaian : (1) tebal dan

tidak tipis sehingga tidak terlihat bentuk tubuh dari luar; (2)

longgar tidak ketat sehingga tidak membentuk lekuk tubuh;

(3) tidak menyerupai pakaian lelaki; (4) tidak menyerupai

model busana wanita kafir; (5) tidak untuk menyombongkan

diri; (6) harus menutup aurat; (7) tidak memakaiwewangian;

(8) tidak berfungsi sebagai hiasan; (9) dengan wama yang


9Opcit,Departemen Agama RI, hlm 66
tidakmencolok mata, sebaiknya hitam, gelap atau abu-abu.10

Ciri wanita shalehah lainnya dapat kita lihat melalui

sabda Rasulullah SAW:

" :

( " )
Artinya: Maukah kamu kuberitahu suatu harta simpanan
yang sangat baik? Yaitu wanita shalehah yang
apabila kamu melihatnya, menyenangkan; apabila
kamu perintah, dia patuh, dan apabila ditinggal
pergi, dia selalu menjaga diri dan harta
suaminya(H.R Abu Dawud).11

Kalau engkau lihat dia menyenagkan, hal itu disebabkan oleh

budi luhur, pakaian bersih, dandanan yang serasi dihadapan

suaminya dan berusaha semaksimal untuk tampil paling menarik

hanya di depan suami dan anak-anaknya. Jika diperintah dia akan

patuh, menunjukkan adanya unsur baik dan pendidikan yang

terpuji serta antiasa ingin memberikan kepuasan hanya untuk

suaminya. Senantiasa memelihara diri dan harta suaminya,

menggambarkan betapa besar kekuatan agama imannya terhadap

Alla>h SWT.. SWT SWT. Rasulullah SAW. Walau suaminya tidak ada,

10Susi Dwi Bawarni dan Arin Mariani,Pot ret Keluarga Sakinah,.Cet pertama (Surabaya:
Mediaaman Press, 2006), hlm 15

11Susi Dwi Bawarni dan Arin Mariani,Pot ret Keluarga Sakinah,.Cet pertama (Surabaya:
Mediaaman Press, 2006), hlm 15
ia tetap memelihara kehormatan diri dan harta suaminya dan

apabila ia belum menikah maka ketaatan dan kepatuhannya

berlaku untuk kepada kedua orang tuanya.

2). Memilih Calon Suami

Merupakan kewajiban bagi seorang ayah-ibu untuk memilih

calon suami untuk anak gadisnya, yaitu laki-laki yang shaleh,

berakhlak Islami, dan beradab. Sifat-sifat hendaknya menjadi

ukuran yang utama sebelum melihat harta dan martabatnya. Islam

telah menganjurkan agar para orang tua tidak segan-segan untuk

menawarrkan anak gadisnya kepada pemuda yang dipandang

shaleh dan bertakwa. Rasu>lulla>h SAW. telah memberi contoh

dengan menawarkan putri beliau kepada Ali> Ibn Tha>lib,

sedangkan Uma>r menawarkan putrinya kepada Utsma>n dan Abu

Ba>kar RA.Rasu>lulla>h telah memperingatkan para orang tua

agar memilihkan calon suami yang baik bagi anak gadisnya,

sebagai sabda beliau:

" :
"
Apabila kamu sekalian didatangi oleh seseorang yang di>n

(agama) dan akhlaknya kamu ridhai, maka kawinkanlah ia.

Jika kamu sekalian tidak melaksanakannya, maka akan


terjadilah fitnah di muka bumi ini dan tersebarlah

kerusakan. (HR. AT-Tirmidzi)12

Kemudian orang tua juga dilarang dalam memaksakan

kehendaknya. Islam mengahargai hak memilih bagi laki-laki dan

wanita, karena merekalah yang akan memikul tanggung jawab

nantinya. Rasulullah SAW. melarang menikahkan anak gadisnya

secara paksa. Beliau bersabda:

( ) .

Janganlah engkau menikahkan seorang pemuda sebelum

engkau berunding dengannya, dan jangan pula menikahkan

seorang gadis sebelum meminta persetujuannya. Lalu para

sahabat bertanya, Ya Rasulullah SAW. bagaiamana tanda

persetujuannya.? Beliau bersabda, bila ditanya ia diam(HR.


13
Muslim) .

Pernikahan yang dilaksanakan atas dasar paksaan, maka

pernikahan itu tidak sah. Hal ini sebagai penghormatan Islam

terhadap hak-hak seseorang demi menjaga nama baiknya. Dalam

12 Abdullah Nasiha Ulwan. Pedoman Pendidikan Anak dalam Islam. Jilid satu, cet Ketiga (Jakarta: Asy-
Syifah 2012), hlm 13
13Opcit, Miqdad Yaljan , hlm 4
sebuah hadi>ts diriwayatkan bahwa Khausa> binti Khadda>m

melaporkan kepada Rasulullah SAW. sebab ayahnya telah

menikahkannya dengan seorang laki-laki yang tidak ia cintai, maka

Rasulullah SAW. melarang pemikahan paksa.14

Bahkan, bagi seorang wanita diperbolehkan menawarkan

dirinya kepada pemuda yang dia anggap baik. Dalam masa

kehidupan Nabi, pernah datang seorang wanita menawarkan

dirinya kepada Rasulullah. Maka salah seorang sahabat berkata, "Ia

tidak punya malu, alangkah jeleknya. Rasulullah SAW. menjawab,

Ia lebih baik darimu, ia ingin terhindar dari perbudakan yang

terlarang maka ia menawarkan dirinya. (Bukhari)15

Ciri-ciri sifat calon suami yang baik (saleh):

1 Tinggi cita-cita dan keras kemauan

2 Tenang dan berwibawa

3 Hidup teratur dan sopan

4 Suka menghormati dan menolong kaum lemah

5 Hormat kepada orang tua dan bertanggug jawab.16

3 . Melihat Calon Pasangannya

14Ibid,Miqdad Yaljan, hlm 46


15Ibid,Miqdad Yaljan, hlm 44
16Ramayulis dkk,Pendidikan Islam dalam Rumah Tangga, (Jakarta: Kalam Mulia, 2006),
hlm 32
Ajaran Islam membolehkan bagi pria yang akan menikah

melihat perempuan yang akan dinikahinya. Hal ini penting sekali

supaya jangan terjadi penyesalan dikemudian hari sebab mereka

berdua akan hidup bersama dalam suatu rumah tangga.

Oleh karena itu mereka harus saling kenal sebelum

melakukan pemikahan, sehingga mereka dapat mengenal tentang

sifat dan keadaan mereka masing-masing. Jika sekiranya tidak

dapat dilihat secara tatap muka menurut sewajarnya karena

berjauhan tempat dan sebagainya boleh juga dengan mengirimkan

utusan yang dipercaya agar supaya dia dapat menerangkan sifat-

sifat dan keadaan-keadaan wanita yang dinikahinya.

Sabda Rasulullah SAW :




" :



( )

"Apabila salah seorang kamu meminang seorang perempuan,

maka tidaklah berdosa atasmu untuk melihat perempuan itu

asal saja dengan sengaja semata- mata untuk mencari

perjodohan, baik diketahui oleh perempuan itu ataupun

tidak. (HR. Ahmad).17

17Ibid, Ramayaulis dkk, hlm 26


Yang perlu diketahui, bahwa yang boleh dilihat oleh pria dari

calon istrinya hanyalah muka dan telapak tangannya saja,

sedangkan yang lainnya haram melihatnya.18

b. Pernikahan

Pemikahan merupakan jalan yang harus ditempuh oleh orang

tua untuk mendapatkan keturunan, tanpa pemikahan yang sah

maka orang tua jangan berharap untuk mendapatkan anak saleh

sesuai apa yang ia harapkan, karena anak yang saleh itu hanya

bisa diwujudkan melalui pemikahan yang sah.

Nikah menurut bahasa yaitu, bercampur dan berkumpul,

artinya bercampur dan berkumpul antara pria dan wanita untuk

melakukan persetubuhan secara halal. Sedangkan menurut Istilah,

menurut ahli fiqh, yaitu aqad yang diatur oleh agama untuk

memberikan kepada pria hak memiliki penggunaan atas faraj

wanita dan seluruh tubuhnya untuk mencapai kenikmatan.19

Islam melalui Rasulullah SAW. menganjurkan kepada para

pemeluk agama Islam agar menikah, karena pemikahan adalah

jalan paling efektif untuk menjaga kehormatan diri, menjauhkan

seorang mukmin dari berbuat zina dan dosa-dosa lain. Juga sebagai

satu-satunya jalan untuk mendapatkan keturunan yang baik dan

18Opcit, Ramayaulis dkk, hlm 27


19Ibid,Ramayulis dkk, hlm 21
membina masyarakat yang ideal. Orang yang menikah semata-

mata karena Alla>h SWT.. SWT, berarti dia telah melaksanakan

salah satu perintah-Nya.20

Pernikahan menurut Islam adalah suatu hal yang sangat

penting dan utama, karena melalui ikatan inilah seorang laki-laki

dan wanita membentuk wadah yang disebut keluarga, dengannya

mereka dapat menemukan kebahagiaan, ketenangan, serta cinta

dan kasih sayang. Suatu keluarga yang terintegrasi antara rumah

tangga dan iman. Berkenaan dengan hal ini Alla>h SWT.. SWT SWT.

berfirman dalam surat Ar-Rum:21Artinya :

Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah dia

menciptakan untukmu isteri-isteri dari jenismu sendiri, supaya

kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-

Nya diantaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang

demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang


21
berfikir.

Kemudian Rasulullah SAW bersabda:

20Opcit,Susi Dwi Bawami dan Arin Mariani, hlm 32


21 Opcit, Depertemen Agama RI, hlm 32

":




)





(
Barang siapa yang dimudahkan baginya untuk menikah, lalu

ia tidak menikah, maka tidaklah ia termasuk golonganku.

(HR. Ath- Thabrani dan Al-Baihaqi)22

Berdasarkan hadits ini, Islam menganjurkan bagi seorang

muslim itu untuk menikah, apabila ia telah mampu melaksanakan

pemikahan (mampu dari segi Jasmani maupun rohani). Apabila ia

tidak melaksanakan pemikahan tersebut bahkan Rasulullah

menganggap seorang Muslim tersebut bukan dari golongan

umatnya.

2. Pembentukan Kepribadian Anak

a Pendidikan Sebelum Anak Lahir

Pendidikan sebelum lahir disebut dengan pendidikan

pranatal, Wahjoetomo mendefinisikan sebagai pendidikan yang

dilakukan oleh calon ayahdan calon ibu pada saat anak masih

berada dalam kandungan.23

Rasulullah SAW. menegaskan tentang hal penciptaan

manusia ketika masih dalam kandungan, dari Abu Abdurrahman

Abdullah bin Masud r.a berkata, Rasulullah SAW. bersabda kepada


22 Opcit,Abdullah NasihUlwan., Jilid Satu, hlm 4
23Zaenuddin, dkk., Seluk Beluk Pendidikan Dari Al-Ghazali, (Jakarta: Bumi Aksara, 2006), hlm 96
kami, sedang beliau adalah orang yang jujur dan terpercaya.

:
:

:
(. ) ...
Artinya: Sesungguhnya tiap-tiap kalian dikumpulkan
ciptaannya dalam rahim ibunya, selama empat puluh
hari berupa nutfah (air mani yang kental), lalu
menjadi alaqoh (segumpal darah) selama itu pula,
lalu menjadi mudghah (segumpal daging) selama itu
pula, kemudian Alla>h SWT.. SWT mengutus
malaikat untuk meniupkan ruh kepadanya dan
mencatat empat hal yang telah ditentukan, yakni :
rezeki, ajal, amal dan sengsara atau bahagianya.
(H.R. Bukha>ri Musli>m).24

Berdasarkan keterangan hadits di atas, maka para Ulama

menganjurkan kepada ibu-ibu yang sedang hamil dan suaminya

untuk selalu mendekatkan diri pada Alla>h SWT.. SWT dengan

memperbanyak membaca Al-Quran, membaca kalimat-kalimat

thoyyibah, melakukan shalat malam dan memohon kepada Alla>h

SWT.. SWT SWT. agar anak yang dilahirkan nanti menjadi anak

saleh, sehat jasmani maupun rohaninya. Sebab pada saat itu, nasib

anak akan ditulis mengenai kebahagiaannya dan celakanya, hidup

dan ajalnya.25

24 Imam An-Nawawi, penerjemah, Muhil Dhofir, hlm 12-13


25 Asadullah Al-Magrhribi, Cinta Pada anak,(Jombang: Lintas Media 2012), hlm
44
Diantara doa-doa itu antara lain :

Artinya: Ya Alla>h SWT.. SWT, jadikanlah kami dan keturunan

kami orang yang menegakkan shalat, wahai Tuhan

kami penuhilah doa kami.26

Artinya: Ya Alla>h SWT.. SWT, anugerahkanlah kepada kami

keturunan yang baik, sesungguhnyaEngkau Maha

Mendengar doa.27

Demikian anjuran para ulama terhadap ibu yang sedang

mengandung agar senantiasa banyak mendekatkan diri kepada

Alla>h SWT.. SWT SWT. dan yang tatkala penting ialah selama

kehamilan, seorang ibu harus menjaga makanannya, jangan

sampai memakan makanan subhat maupun yang haram, yang

akan berpengaruh kepada jiwa si anak yang sedang

dikandungnya.

b Pendidikan Setelah Kelahiran Anak

Langkah yang harus ditempuh dan sangat berpengaruh

dalam mempersiapkan anak saleh selanjutnya yaitu berkaitan

26Opcit,Departemen Agama RI, Q.S Ali Imron : 38, hlm 42


27Ibid,Departemen Agama RI, Q.S Ibrahim: 40, hlm 207
erat dengan kewajiban atau tanggung jawab orang tua kepada

anaknya.

Berikut hadi>ts-hadi>ts mengenai kewajiban orang tua

terhadap anaknya, Sabda Rasulullah SAW:

Artinya: Seorang anak itu tergadai dengan aqiqahnya,

disembelihkan dari padanya dihari ketujuh, diberikan nama dan

dicukur rambutnya. (H.R. Tirmidzi dan Hakim).28

Didalam riwayat lain Nabi SAW bersabda:

Artinya: Khitan itu disunnatkan (disyariatkan) bagi kaum

laki-laki dan dimuliakan bagi kaum perempuan29

Berdasarkan beberapa hadits di atas bahwa orang tua

memiliki tugas membina anak-anaknya. Tugas pembinaan

tersebut berupa :

1. Memilih Nama yang Baik


28 Jalaluddin bin Abu Bakar Assuyuti, Kitab Jamius Saghi>r, (Libanon : Da>rul
Qutu>b, 2010), hlm 359
29Al-Bukhari dan Muslim, Shahih Bukhari dan Muslim, Juz 13, (Beirut: Darul Maarifah, 1995), hlm
278
Salah satu bentuk kemuliaan dan kebaikan yang

dilakukan kepada bayi yang baru dilahirkan adalah pemberian

nama dan kunyah (julukan) yang terbaik kepada mereka. Karena

nama dan panggilan yang baik itu akan meninggalkan kesan positif

dalam hati.

Rasulullah SAW. bersabda


:




:



)






Sesungguhnya pada hari kiamat nanti akan dipanggil

dengan nama-nama kalian dan nama-nama bapak-bapak

kalian, maka perindahlah nama-nama kalian. (H.R Abu Daud

dan Ibnu Hibban).30

Dengan demikian tiap orang tua harus memikirkan yang

sebaik-baiknya dalam memberikan nama terhadap anaknya.

Karena sesuai dengan hadits di atas di akhirat nanti seorang itu

akan dipanggil sesuai dengan namanya sekaligus nama orang

tuanya. Makanya orang tua harus memberikan nama yang seindah

mungkin untuk anak-anaknya.

30Ibid, Muhammad Ibnu Abdul Hafidh Suwaid, hlm 40


Maka, perlu ditegaskan lagi bahwa dalam Islam nama adalah

sangat penting sekali dan hak bagi seorang anak yang baru

dilahirkan dan tidak boleh dianggap remeh karena nama

mengandung sebuah doa, harapan dan sekaligus pendidikan.

Dalam pandangan Islam, untuk menilai baik atau buruknya suatu

nama adalah dengan melihat artinya, contohnya adalah Abdullah

(Hamba Alla>h SWT.. SWT) dan Abdurrahman (Hamba yang maha

penyayang). Memberi nama anak dengan nama-nama Nabi atau

Malikatpun tidak dimakruhkan, bahkan nama Muhamma>d31

Apabila kita ingin mengetahui pengaruh sebuah nama

terhadap sikap dan keadaan pemilik nama tersebut, maka mari kita

perhatikan keterangan Sa>id ibn Musayya>b yang bersumber dari

ayah dan kakeknya. Ia berkata:

Artinya Aku datang kepada Nabi SAW., kemudian Nabi SAW


bertanya, Siapakah namamu? Aku pun menjawab,
Hazn (kesedihan). Kemudian Nabi SAW. berkata,
(Nama) Engkau adalah Sahl (kemudahan). Kemudian
Hazn berkata, Aku tidak akan mengubah nama yang
telah diberikan oleh ayahku kepadaku.32

Sa>id ibn Musayya>h menceritakan setelah peristiwa

tersebut, ia dan keluarganya senantiasa diliputi kesedihan

hadit>ts ini diriwayatkan oleh Bukha>ri dalam kitab

31Opcit, Abdullah Al-Maghribi, hlm 54


32Isham, Yusuf, 60 Wasiat Rasul Untuk orang tua dalam mendidik anak, Cet ke-1
(Bandung: PT. Grafindo Media Pratama, 2012), hlm 21
sha>hinya.

2). Mengadzani Anak yang Baru Lahir

Islam menganjurkan agar dibacakan kalimat adzan di telinga

kanan si bayi yang baru dilahirkan, dan iqo>mah di telinga kirinya.

Tujuannya ialah agar sejak dini si bayi sudah mendengarkan

kebesaran Asma Alla>h SWT.33

" :

()

Barang siapa yang telah melahirkan seorang anak kemudian

diadzani di telinga kanan dan diiqomati di telinga kiri maka

Jin tidak akan membahayakannya (H.R. Abi Yala).34

Hikmah dan rahasia adzan yang diperdengarkan untuk bayi

yang baru lahir, menurut Ad-Dahlawi adalah sebagai berikut:

a) Adzan adalah termasuk syiar Islam

b) Pengumandangan Agama yang dibawah oleh Nabi SAW

c) Adzan adalah pengusir setan, sedangkan setan

langsung menggoda anak manusia sejak dilahirkan.

d) Supaya ucapan pertama kali yang membuka

pendengaran anak manusia yang baru dilahirkan


33Opcit, Susi Dwi Bawarni & Arin Mariani, hlm 62
34Opcit, Jalaluddi>n bin Abu Bakar Assu>yuti, hlm 545
adalah kalimat tentang keagungan Alla>h SWT.. SWT

SWT. dan kalimat syahadat sebagai kunci memasuki

kehidupan dunia sebagaimana kelimat itu

dipergunakan sebagai kunci masuk Islam.

e) Diharapkan dapat meninggalkan kesan dan pengaruh

positif dalam jiwanya.

f) Agar ajakan dan seruan ke jalan Alla>h SWT.. SWT

SWT. dalalm dirinya dapat mendahului seruan setan

ke jalan kesesatan.35

3). Aqiqah

Pengertian umum aqiqah adalah penyembelihan hewan

(kambing) pada hari ketujuh setelah kelahiran anak. Sedangkan

secara istilah penyembelihan binatang pada hari ketujuh dari

kelahiran anak laki-laki atau perempuan.

Rasulullah SAW bersabda:

"Setiap anak itu tergadaikan dengan aqiqah (sebagai

penebusnya) yang disembelih pada hari ketujuh sekaligus

dinamai dan dicukur rambutnya pada waktu itu. (H.R Tirmidzi

35 Muhammad Ibnu Abdul Hafidh Suwaid, Cara Nabi Mendidik Anak, (Jakarta: Al Ttishom,
2004),hlm 38
dan Ha>kim).36

Kemudian Imam Ahmad dan At-Tirmidzi meriwayatkan dari

Aisyah r.ha. ia mengatakan bahwa:

Rasulullah SAW. bersabda, Bagi anak laki-laki

disembelihkan dua ekor kambing yang mencukupi dan bagi anak

perempuan disembelihkan satu ekor kambing. (H.R. Ahma>d, Abu

Da>wud, Nasa>i, dan Ibnu Hibban).37

Diantara hikmah yang terkadung dalam pelaksanaan

disyariatkannya Aqiqah ini adalah:

a Aqiqah merupakan sarana mendekatkan anak kepada

Alla>h SWT.. SWT SWT. sejak masa awal meghirup udara

kehidupan

b Aqiqah merupakan tebusan bagi anak untuk memberikan

syafaat pada hari akhir kepada kedua orang tuanya

c Aqiqah anak mengukuhkan talipersaudaraan dan kecintaan

diantara warga masyarakat dengan berkumpul di satu

tempat dalam menyambut kehadiran anak yang baru lahir.

d Aqiqah merupakan sarana yang dapat merealisasikan

prinsip-prinsip keadilan sosial dan menghapuskan gejala

kemiskinan di dalam masyarakat, misalnya dengan adanya

36Opcit, Muhammad Ibnu Abdul Hafidh Suwaid, hlm 44


37Opcit,Muhammad Ibnu Abdul Hafidh Suwaid, hlm 44
daging aqiqah yang diberikan kepada fakir miskin.38

4). Mencukur Rambut

Mencukur rambut adalah membuang seluruh rambut yang

ada di kepala anak yang baru lahir pada hari ke tujuh

kelahirannya.39

Adapun hadits yang menerangkan tentang mencukur rambut

seorang anak sudah dijelaskan atau diterangkan sebagaimana

hadits di atas. Pencukuran rambut ini dilakukan ketika bersamaan

dengan mengaqiqahkan seorang anak.

Hikmah yang terkandung dalam pencukuran rambut ini ada

dua, yaitu:

a Dari segi kesehatan, mencukur rambut anak akan

mempertebal daya tahan tubuh anak, membuka selaput

kulit kepala dan mempertajam indera penglihatan,

penciuman dan pendengaran.

b Dari segi kemaslahatan, bersedekah dengan perak

sebanyak berat timbangan rambut anak merupakan salah

satu sumber lain bagi jaminan sosial. Hal ini merupakan

suatu cara untuk mengikis kemiskinan dan suatu bukti

nyata adanya tolong menolong dan saling mengasihi di

38Opcit, Buku Fikih, hlm 27


39Opcit, Ramayulis dkk, hlm 125
dalam pergaulan masyarakat.

5). Menyusui Anak

Dalam mempersiapkan anak saleh, menyusui merupakan

termasuk salah satu factor pendukung yang sangat penting, karena

Air Susu Ibu (ASI) merupakan makanan yang pertama kali

dikonsumsi anak dan sangat baik bagi bayi yang baru lahir, demi

menjaga pertumbuhan dan perkembangan bayi selanjutnya. ASI

haruslah diberikan kepada bayi sampai dia menginjak usia dua

tahun penuh sebagai bukti kasih sayang sang ibu terhadap

anaknya.

Sebagaiamana yang difirmankan Alla>h SWT dalam surah Al-

Baqarah : 233

Artinya : Para Ibu hendaklah menyusukan anak-anaknya

selama dua tahun penuh, yaitu bagi yang ingin

menyempurnakan penyusuan.40

Dapat diambil kesimpulan bahwa Alla>h SWT.. SWT

menyuruh kepada sang ibu agar menyusui anaknya selama dua

tahun penuh. Dan saat ibu menyusui sang bayi secara omatis akan

40Opcit,Depertemen Agama RI, hlm 29


merasakan hangatnya kasih sayang yang diberikan sang ibu

sehingga pertumbuhan fisik dan perkembangan rohaninya dapat

berlangsung dengan baik.

Maka sangat diharapkan sekali kepada orang tua agar

memberikan ASI pada anaknya dari makanan yang bersifat halal

dan baik karena saat anak menyusu dia menyedot sari pati

makanan melalui sang ibu, jadi makanan yang dimakan sang ibu

harus diperoleh dengan cara yang halal sehingga kesatuan tubuh

bayi yang :? bentuk menjadikan dia akan mudah menerima segala

bentuk pendidikan terutama pendidikan keagamaan sehingga kelak

saat tumbuh dewasa dia akan benar-benar menjadi anak yang

saleh.

6) . Menghitankan

Langkah berikutnyadalam memprogramkan anak saleh

adalah menghitankannya. Khitan adalah memotong kulit bagian

depan (ujung) kemaluan anak laki-laki.41

Khitan merupakan Sunnah Nabi Ibarahim dan Alla>h SWT..

SWT memerintahkan untuk mengikuti sunnah tersebut,

sebagaimana firman Alla>h SWT.. SWT dalam surat An-Nahl ayat

123:


41Opcit, Muhammad Ibnu Abdul Suwaid, hlm 46
Artinya: Kemudian Kami wahyukan kepadamu (Muhammad)

ikutilah agama Ibrahim seorang yang hanif dan

bukanlah termasuk orang-orang yang

mempersekutukan Tuhan.42

Ayat ini menunjukkan kepada kita ummat Nabi Muhammad

SAW adanya perintah untuk mengikuti Nabi Ibrahim, termasuk

perintah khitan yang merupakan salah satu ajaran Nabi Ibrahim.

Nilai-nilai pendidikan yang terkandung

dalam khitan

a. Pendidikan Kesehatan

Dengan terkelupasnya kuluf (kulit ulu dzakar),

berarti seseorang akan selamat :iari peluh

berminyak dan sisa kencing yang mengandung

lemak dan kotor . Sisa-sisa tersebut tentu bisa

mengakibatkan gangguan kencing dan

pembusukan 1 khitan dapat mengurangi

kemungkinan terjangkitnya kanker kelamin ? .

Dapat menghindarkan anak dari penyakit

ngompol

Khitan dapat menimbulkan kebersihan dan

42Opcit, Depertemen Agama RI, hlm 40


keindahan bentuk dzakar.

b. Dari Segi Agama

Khitan merupakan pangkal fitrah dan syiar Islam

serta membedakan antaraseorang muslim dan

non muslim

Khitan merupakan pemyataan ubudiyah kepada

Alla>h SWT.. SWT SWT. sebagai

manifestasikepatuhan dan ketaa>tan kepada-

Nya.43

7). Mengajarkan Olah Raga

Sebagai orang tua mempunyai tanggung jawab yang

amat besar dalam pendidik fisik anak-anaknya. Salah satunya

adalah dengan membiasakan diri anakdengan berolah raga dan

bermain ketangkasan.

Dalam hadits Rasulullah SAW. bersabda :

)) : :

Artinya: Orang mukmin yang kuat lebih baik dan lebih disukai

Alla>h SWT.. SWT SWAT. dari pada orang mukmin yang

lemah (HR. Musli>m).44

43Opcit,Ramayulis, hlm 131


44Asrullah, konsep mendidik anak dalam keluarga dengan cinta menurut ajaran islam, (skripsi: 2008,
Rasulullah SAW. pernah menganjurkan kepada para

sahabatnya (pada khususnya) dan pada umumnya kepada seluruh

umatnya untuk mempelajari renang, memanah, menunggang kuda

atau sesuatu apa saja yang berkaitan dengan ketangkasan. Sebab

dengan membiasakan diri dengan berolah raga, bermain

ketangkasan, badan menjadi lebih segar, sehat dan tidak mudah

diserang oleh penyakit. Lebih dari itu seorang mukmin yang kuat

dan yang sehat akan ditakuti oleh pihak musuh.

8) . Memberikan Makanan dan Minuman yang Baik dan Halal

Secara fisiologis makanan yang dimakan oleh ibu yang

sedang hamil akan mempengaruhi pertumbuhan fisik anak. Kalau

tidak ada kelainan karena faktor lain di luar perkiraan, maka anak

akan tumbuh dengan memiliki organ-organ tubuh yang sempuma.

Oleh karena itu, dianjurkan kepada ibu hamil agar memakan

makanan yang bergizi lagi halal.45

Sang maha pemurah menganjurkan kepada orang tua

terutama ayah sebagai orang yang berkewajiban memberi nafkah,

supaya dapat memberikan makanan yang halal dan baik kepada

anaknya. Memberikan makanan dan minuman yang sehat dan

bergizi harus pula diimbangi dengan status makanan dan minuman

hlm 22), hlm 22


45Opcit,Syaiful Bahri Djamara, hlm 56
tersebut berdasarkan pandangan agama.

Dalam Al-Quran Alla>h SWT.. SWT SWT. menjelaskan dalam

surat Al-Baqarah ayat 168 :







Artinya : Hai sekalian manusia, makanlah yang halal lagi

baik dari apa yang terdapat di bumi, dan janganlah

kamu mengikuti langkah-langkah syaitan; karena

sesungguhnya syaitan itu adalah musuh yang

nyata bagimu.46

Dengan demikian dapat kita fahami bahwa Alla>h SWT.. SWT

SWT. sangat menganjurkan kepada orang tua untuk memberikan

nafkah yang halal dan baik kepada sang anak yang dimulai pada

saat ibu mengandung, menyusui dan hingga pada saat anak

tumbuh besar. Karena rezeki yang halal membawa dampak yang

menjadi anak yang bertingkah laku baik, shalih dan tidak membuat

kerusakan di lingkungan dia tinggal.

9). Menikahkan

Ra>sululla>h SAW. memerintahkan kepada orang tua agar

menikahkan anaknya yang telah dewasa. Sebab anak merupakan

46Opcit, Depertemen Agama RI, hlm 20


garis keturunan yang harus dijaga kesuciannya. Sedangkan satu-

satunya jalan untuk menjaga kesucian keturunan adalah dengan

menikah. Dan dipandang sudah mampu dalam menjalani hidupnya,

kedewasaan fisik dan mentalnya telah memungkinkan untuk berdiri

sendiri maka kewajiban orang tuanyalah untuk segera menikahkan

anaknya tersebut agar terhindar dari perbuatan-perbuatan yang

dilarang oleh agama selain itu untuk mengikuti sunnah Rasulullah

SAW.

Sabda Rasulullah SAW:

Nikahkanlah putra putri kalian, berilah anak-anak wanita

dengan emas dan perak, bersikaplah yang baik pada mereka

dengan memberi pakaian, dan bagusilah mereka dengan

pemberian yang bisa menyenagkan (hati) mereka.47

Dalam surat An-Nur ayat 32 Alla>h SWT.. SWT menjelaskan:

Artinya: Dan nikahkanlah orang-orang yang sendirian


diantara kamu dan orang-orang yang layak menikah
dari hamba-hamba sahayamu yang laki-laki dan

47Opcit, Asadullah Al-Maghri>bi, hlm 94


perempuan. Jika mereka miskin Alla>h SWT.. SWT
akan memampukan mereka dengan karunia-Nya.
Dan Alla>h SWT.. SWT Maha Luas (Pemberian-Nya)
lagi maha mengetahui.48

Maka dari itu orang tua hendaklah memperhatikan hal ini,

ketika sang anak sudah menginjak usia dewasa dan telah

mencukupi semuanya, hendaklah orang tua segera menikahkan

mereka dan memberikan nasihat-nasihat yang membangun bagi

mereka. Dan itulah diantara kecintaan dan kasih sayang Rasulullah

pada anak-anak sehingga membuat beliau mencurahkan

perhatiannya terhadap perjalanan masa depan anak-anak,

termasuk mengenai pemikahan. Ini membuktikan bahwa Rasulullah

SAW. adalah satu-satunya pemimpin di alam ini yang selalu

memikirkan umatnya mulai sejak kecil sampai dewasanya. Bahkan

pada pembahasan sebelumnya Rasulullah SAW. pernah berkata,

bahwa beliau menganjurkan umatnya untuk menikah apabila telah

rmempunyai kemampuan baik jasmani maupun rohani dan apabila

tidak menikah bukan termasuk golonganku.

3). Pendidikan Anak dalam Keluarga (0-21 tahun)

Dalam bukunya Jalaluddin, Rasulullah SAW. pernah

bersabda : Bimbinglah anakmu dengan cara belajar sambil

bermain pada jenjang usia 0-7 tahun, dan tanamkanlah sopan

48Opcit, Depertemen Agama RI, hlm 282


santun dan disiplin pada jenjang usia 7-14 tahun, kemudian ajaklah

bertukar pikiran pada jenjang usia 14-21 tahun, sesudah itu

lepaskan mereka untuk mandiri.49 Hal ini sejalan dengan apa yang

dikemukakan oleh Kartini Kartono dalam bukunya Rohmalina

Wahab tentang Psikologi pendidikan bahwa pembagian usia

tersebut dimulai dari masa kanak-kanak (0-7 tahun), masa anak-

anak 7-14 tahun): dan masa dewasa muda (14-21 tahun)50.

a) Bimbingan Anak Usia 0-7 Tahun

Pada jenjang usia 0-7 tahun ini menurut Rasulullah SAW.

pendidikan yang diberikan kepada anak dengan cara belajar sambil

bermain51. Pendidikan anak-anak usia 0-7 tahun ini pada dasamya

adalah berupa pembentukan kebiasaan. Sejak dari bangun tidur

hingga ke waktu tidur berikutnya, anak-anak memperoleh

pengetahuan dari apa yang dilihat, dipikir dan dikerjakannya.

Dengan demikian, jika dalam kesehariannya ia melihat yang baik,

melalui perlakuan yang ramah dan pembiasaan untuk

mengerjakan yang baik, diperkirakan akan menyebabkan ia

terbiasa kepada hal-hal yang baik pula.

Pada usia ini, sebagaimana pada pembahasan sebelumnya

49 Opcit, Jalaluddin, Mempersiapkan Anak Shaleh, hlm 111


50Rohmalina Wahab,Psikologi Pendidikan,Cetke- II, (Palembang, IAIN Raden FATAH Pess, 2008), hlm 80
51Opcit,Jalaluddin, hlm 112
bahwa anak sudah dibiasakan kepada hal-hal kebaikan, seperti

waktu lahir orang tua membisikan azan ditelinga anak yang kanan

dan mengiqomahkan pada telinga kiri, mengaqiqahkan anak,

mengajarkan olahraga, membiasakan anak membaca Al-Quran

dan shalat, membiasakan anak makan dengan tangan kanan dan

kebiasaan-kebiasaan lainnya yang berkaitan dengan usia tersebut.

b) Bimbingan Anak Usia 7-14 Tahun

Pada tahap kedua, Rasulullah SAW. menyatakan bahwa

bimbingan yang diberikan kepada anak dititikberatkan pada

pembentukan disiplin dan moral (Addi>bu). Pada tahap kedua ini,

yaitu anak antara usia 7-14 tahun, memang memiliki ciri-ciri

perkembangan yang berbeda dari tingkat usia sebelumnya. Ada

beberapa aspekperkembangan yang dimiliki oleh anak-anak dalam

usia tersebut baik meliputiperkembangan intelektualnya, perasaan,

bahasa, minat, sosial dan lainnya.52

Sabda Rasulullah SAW :

( )

Artinya : Dari Amir bin Syuaib, dari ayahnya, dari kakeknya


r.huma berkata, dari ayahnya, Rasulullah SAW
52Ibid, Jalaluddin, hlm 119
bersabda, Suruhlah anak-anak mengerjakan shalat
ketika mereka telah berumur tujuh tahun, pukullah
mereka (jika meninggalkan) shalat ketika mereka
berumur sepuluh tahun, dan (pada usia ini juga),
pisahkanlah tempat tidur antara mereka (saudara
laki-laki dan saudara perempuan mereka). (H.R. Abu
Dawud).

Barangkali latar belakang ini pula yang termuat dalam

anjuran Rasulullah SAW. agar anak diusia tujuh tahun dibiasakan

menunaikan sha>lat, serta diperkeras menjadi bentuk kepatuhan

jika anak sudah mencapai usia 10 tahun. Anak-anak dalam rentang

usia 7-10 tahun memang sudah memiliki kemampuan untuk

mengemban amanat itu.

Penekanan pada kegiatan shalat di atas merupakan

penerapan kedisiplinan pada diri anak oleh orang tua, dimana

proses sebelumnya anak diberikan pendidikan melalui pembiasaan.

Dengan kata lain pendidikan pada tahap ini merupakan kelanjutan

dari tahap sebelumnya.

c. Bimbingan Anak Usia 14-21 tahun

Periode ini merupakan masa pertumbuhan dan perubahan

yang sangat pesat dan masa ini terjadi pada usia yang berbeda

bagi anak laki-laki dan perempuan. Kriteria yang umum digunakan

fase ini adalah bagi anak laki-laki ditandai dengan mimpi basah
sedangkan pada anak perempuan ditandai dengan masa haid

pertama.53

Pada masa ini anak beranjak pada masa remaja menuju

dewasa awal, mereka melalui pengembangan wawasan serta

kemampuan mengembangkan dan mengemukakanpendapat,

dengan cara memperlakukan mereka seperti seorang sahabat.

Karena pada masa ini orang tua harus senantiasa memperhatikan

kemampuan serta tingkat kedewasaan anak. Dimana pada masa

ini anak telah mamasuki jenjang pendidikan yang lebih tinggi lagi

dalam hal pendidikan formal.54

Bimbingan yang diberikan kepada anak dalam periode

perkembangan ini menurut Rasulullah SAW. adalah dengan cara

mengadakan dialog, diskusi, bermusyawarah layaknya dua orang

teman sebaya. Sho>hibbu (perlakukanlah seperti teman). anjuran

Rasulullah SAW. Jangan lagi mereka diperlakukan seperti anak

kecil, tapi didiklah mereka dengan menganggap mereka sebagai

seorang teman.55

Dari proses pendidikan tersebut di atas, tentunya pembinaan

agama terhadap anak harus terus menerus dilakukan, mulai dari

53Opcit, Rahmalina Waha>b, hlm 92


54Kemas Zakariah, Pendidikan dalam Lingkungan Keluarga Menurut Ajaran
Isla>m, (Skripsi: IAIN R.F, 2012), 43
55Opcit, Syekh Maulana Muhammad Yusuf Al-Kandahla>lawi Rah.a, hlm 149
anak usia balita sampai pada -memasuki masa remaja hingga

menuju dewasa awal. Karena agamalah yang mampu memberikan

pondasi kesopanan, akhlak, serta ilmu pengetahuan yang kuat.

Tentunya hal ini diterima anak mulai dari lingkungan keluarga.

Keluarga merupakan basis dari pendidikan seorang anak,

karena keluarga adalah lingkungan pendidikan yang pertama bagi

anak. Dimana didalamnya anak mengalami proses pendidikan

yang panjang, mulai dari anak lahir sampai pada hari ketujuh, anak

disembelihkan aqiqah, dicukur rambutnya, diberi nama yang baik

dan lain-lain. Setelah itu mereka dimulai dibiasakan dalam segala

hal yang baik, misalnya shalat, belajar al-quran dan sebagainya.

Kemudian mereka mulai diterapkan kedisiplinan ketika usia mulai

tujuh tahun ke atas, dengan sangsi-sangsi yang diberikan jika tidak

melaksanakannya. Kemudian disaat umur mulai sepuluh tahun

keatas mereka diberi pukulan jika tidak melaksanakan shalat,

sampai pada usia mereka remaja menuju dewasa awal dimana

mereka sudah mengalami perkembangan dan kematangan jiwa,

dimana mulai mengenal lawan jenis mereka. Untuk mencegah

akses-akses seksual yang kurang baik, maka orang tua mereka

boleh menikahkan mereka.

Hal di atas menggambarkan bagaimana indahnya pendidikan


Islam itu, karena anak-anak benar-benar diperhatikan sampai pada

faktor-faktor yang kecil. Pendidikan Islam dalam keluarga adalah

sebuah pendidikan yang dapat menghantarkan diri seorang anak

menjadi anak yang saleh menuju ketaatan kepada Alla>h SWT..

SWT serta berbakti kepada kedua orang tuanya.

C. Metode Pendidikan untuk Menghasilkan Anak Saleh

Alla>h SWT.. SWTSWT. telah menegaskan bahwa Rasulullah

SAW. merupakan teladan terbaik bagi umat manusia. Oleh karena

itu sebagai umat Islam kita patut menjadikan Rasulullahsebagai

referensi dalam segala hal, termasuk dalam pendidikan anak. Dari

hadits- hadits terpercaya yang telah dikumpulkan para ulama, kita

dapat mengambil pelajaran (ibrah) bagaimana metode pendidikan

Rasulullah SAW.56

Metode Pendidikan Rasulullah SAW. masih dapat diterapkan

dalam pendidikan di dalam rumah tangga maupun di sekolah.

Secara umum metode ini saling menunjang antara satu dengan

yang lainnya. Oleh karena itu, Rasulullah mengajak kepada para

orang tua untuk memberikan perhatian secara baik terhadap

pendidikan anak-anak di waktu kecil sebab hal itu akan sangat

bermanfaat bagi mereka di kala besar. Mereka akan terjun ke


56Opcit,Wendi Zarman, hlm 158
tengah masyarakat dengan baik dan aman. Lebih dari itu, mereka

akan memberikan tambahan rasa bahagia dan bangga bagi orang

tua. Ini merupakan tambahan pahala yang amat besar yang

disimpan Alla>h SWT.. SWT untuk orang tua yang bersungguh-

sungguh mendidik anak-anaknya.57

Dalam mempersiapkan anak saleh tidak semerta-merta

terbentuk secara alami melain terbentuk dari bimbingan dan

didikan dari orang tuanya. Anak saleh dapat terbentuk melalui

metode-metode yang akan dipaparkan berikut ini :

1 Metode Pendidikan dengan Keteladanan

Keteladanan dalam pendidikan adalah metode berpengaruh

yang paling meyakinkan keberhasilannya dalam mempersiapkan

dan membentuk anak di dalam moral, spiritual dan sosial. Hal ini

karena pendidik adalah contoh terbaik dalam pandangan anak,

yang akan ditirunya dalam tindak tanduknya, dan tata santunnya,

disadari ataupun tidak, bahkan tercetak dalam jiwa dan perasaan

suatu gambaran pendidik tersebut, baik dalam ucapan atau

perbuatan, baik material maupun spiritual, diketahui atau tidak

diketahui.58

Di sini, masalah keteladanan menjadi faktor penting dalam

57Opcit,Muhammad Siraj, hlm 93


58Opcit, Abdullah Nasih Ulwa>n, Jilid Dua, hlm 2
hal baik-buruknya anak. Jika pendidik atau orang tua jujur, dapat

dipercaya, berakhlak mulia, berani dan menjauhkan diri dari

perbuatan-perbuatan yang bertentangan dengan agama, maka si

anak akan tumbuh dalam kejujuran, terbentuk dengan akhlak

mulia, keberanian dan dalam sikap yang menjauhkan diri dari

perbuatan-perbuatan yang bertentangan dengan agama. Dan jika

orang tua atau pendidik tersebut bohong, khianat, durhaka, kikir,

penakut, dan hina, maka si anak akan tumbuh dalam kebohongan,

khianat, durhaka, kikir, penakut dan hina.

Dari sini, Rasulullah SAW. sangat memperhatikan agar para

pendidik selalu tampil di depan anak didiknya dengan penampilan

yang bisa dijadikan sebagai teladan yang baik, dalam segala hal.

Sehingga, anak didik sejak usia pertumbuhannya bisa tumbuh

dalam kebaikan, sejak kecil sudah mengenal akhlak yang luhur.59

Keteladanan merupakan kekuatan kunci dari pendidikan

Rasulullah SAW. Mari kita selami kehidupan Rasulullah SAW. lebih

dalam. Adakah beliau seorang yang hanya pandai berkhutbah,

menasehati ini dan itu, sementara perilaku beliau sendiri berlainan

dengan apa yang beliau nasehatkan? Sama sekali tidak. Apa-apa

yang beliau perintahkan kepada umat, maka beliau adalah orang

pertama dan paling sempurna dalam menerapkan keteladanan.


59Opcit, Abdullah Nasih Ulwa>n, Jilid Dua, hlm 30
Beliau memerintahkan kita untuk hidup sederhana, maka

beliau sendiri yang pertama mencontohkannya. Jangan dikira

Rasulullah SAW. bersikap sederhana itu karena beliau tidak

memiliki harta. Bila beliau mau, dapat dengan mudah

memperoleh harta yang berlimpah dan menggunakannya untuk

kenikmatan hidupnya. Namun setiap kali memperoleh harta,

beliau lebih suka menginfakkannya kepada orang lain yang

membutuhkan atau sekedar untuk menyenagkan hati orang lain.

Sedangkan beliau sendiri lebih memilih bersikap zuhud. Baihaqi

meriwayatkan dari Aisyah r.ha.,

Selama tiga hari berturut-turut, Rasulullah SAW. tidak

merasa kenyang. Dan jika kami inginkan, kami dapat

mengenyangkan beliau, tapi beliau lebih suka

mengenyangkan orang lain.60

Tidak diragukan lagi, keteladanan merupakan metode

pendidikan yang sangat efektif. Tidak jarang, hanya dengan bekal

keteladanan, tanpa harus banyak berbicara, banyak orang

tergerak untuk melakukan sesuatu. Sebaliknya, tanpa

keteladanan, tujuan pendidikan akan sulit diraih.

Demikianlah, Rasulullah memberikan pelajaran kepada

siapapun yang menjadi beban pendidikan dengan memberikan


60Opcit, Wendi Zarman, hlm 168
teladan yang baik dalam segala sesuatu, sehingga dijadikan

cermin, ikutan dan membekas dalam diri anak-anak dengan

perilaku yang terpuji.

2 Metode Pendidikan dengan Adat Kebiasaan

Secara etimologi, pembiasaan asal katanya adalah biasa.

Dalam kamus besar bahasa Indonesia, biasa artinya lazim atau

umum, seperti sedia kala, sudah merupakan hal yang tidak

terpisahkan dari kehidupan sehari-hari.61

Biasanya seseorang itu berbuat sesuai dengan

kebiasaannya sehari-hari. Artinya, apabila seseorang itu terbiasa

merokok, maka merokok akan menjadi kebiasaan, jika

kebiasaannya sering tidur, maka dia akan terbiasa dengan tidur.

Sebaliknya, apabila seseorang terbiasa dalam kebaikan, maka

dia akan terbiasa dengan kebaikan tersebut. Misalnya, setiap

masuk mengucapkan salam, setiap memulai belajar membaca

basamalah, membiasakan shalat dhuha di sekolah, membiasakan

hidup bersih, membiasakan berbicara dengan baik. Dan metode

inilah yang sering dilakukan Rasulullah SAW dalam membina

umat. Misalnya, mendidik sahabat terbiasa shalat berjamaah,

membiasakan umat untuk memberikan zakat, membiasakan

61Opcit, Samsul Nizar dan Zainal Efendi Hasibuan, hlm 73


sahabat berpuasa dan berprilaku mulai lainnya.62

Masalah-masalah yang sudah menjadi ketetapan dalam

syariat Islam, bahwa sang anak diciptakan dengan fitrah tauhid

yang murni, agama yang lurus, dan iman kepada Alla>h SWT..

SWT. Kebenaran itu sesuai dengan sabda Rasulullah SAW yang

diriwayatkan Al-Bukhari.

:
:
( )
Setiap anak yang dilahirkan, ia dilahirkan dalam fitrah

(kesucian) maka kedua orang tuanyalah yang akan

menjadikan ia sebagai seorang Yahudi, Nasrani, atau

Majusi.63

Maksud hadits diatas menjelaskan bahwa, anak ketika lahir

ke dunia masih dalam keadaan suci namun ia menjadi baik atau

buruk tergantung dari didikan orang tuanya, dan dalam hal ini

termasuk anak yang saleh. Anak saleh setidak-tidaknya dapat

dipersiapkan melalui pembinaan. Dan bagaimana anak shaleh,

tampaknya Islam telah menyiapkan tuntunannya.

Dari sini, peranan pembiasaan, pengajaran dan pendidikan

dalam pertumbuhan dan perkembangan anak akan menemukan


62 Ibid, Opcit, Samsul Nizar dan Zainal Efendi Hasibuan, hlm 73
63Opcit, Abdullah Nasih Ulwa>n, Jilid Dua, hlm 42-43
tauhid yang mumi, keutamaan-keutamaan budi pekerti, spiritual

dan etika agama yang lurus. Karena anak merupakan laksana kain

yang putih bersih, jadi tergantung dari orang tuanya yang ingin

menulis apa pada kain tersebut.

Jadi, jelaslah bahwa seorang anak sangat tergantung pada

orang lain (orang tua), dan orang tuapun harus benar-benar dalam

memberikan pendidikan terhadap anaknya, jika anak dibiasakan

dalam hal yang baik maka pahala dan kebaikan pula jadinya, dan

jika dibiasakan dalam hal yang buruk maka keburukan pula yang

akan dilakukannya sehingga orang tua akan menanggung dosa dan

mudharatnya.

3 Metode Pendidikan dengan Nasihat

Metode lain yang penting dalam pendidikan, pembentukan

keimanan, mempersiapkan moral, spiritual dan sosial anak, adalah

pendidikan dengan pemberian nasihat. Sebab, nasihat ini dapat

membukakan mata anak-anak pada hakekat sesuatu, dan

mendorongnya menuju situasi luhur, dan menghiasinya dengan

akhlak yang mulia, dan membekalinya dengan prinsip-prinsip Islam.

Memberikan nasihat kepada anak mesti dilakukan jika dalam

sikap dan perilakunya terdapat gejala yang kurang baik bagi


perkembangannya. Pemberian nasihat perlu waktu yang tepat dan

dengan sikap yang bijaksana, jauh dari kekerasan dan kebencian.

Seperti hadits yang diriwayatkan Ibnu Masud r.a berikut i n i :

Dari Ibnu Masud r.a, bahwa Nabi SAW selalu memilih waktu

yang tepat bagi kami untuk memberikan nasihat, karena

beliau takut kami akan merasa bosan.64

Maksud dari hadits ini adalah bahwa Rasulullah SAW. selalu

memperhatikan aspek waktu dalam memberikan nasihat kepada

para sahabat. Begitu juga hendaknya manasihati anak sangatlah

penting untuk memilih waktu yang tepat. Orang tua bisa

menasihati anak pada saat rekreasi, dalam perjalanan di atas

kendaraan, saat makan, iiau pada waktu anak sedang sakit.65

Metode menasehati dengan perkataan adalah metode paling

dasar di dalam pendidikan. Setiap orangtua dan guru pastilah

pernah melakukan cara ini kepada anak-anak atau murid-muridnya.

Dalam hal ini, mendidik dengan cara menasehati melalui perkataan

merupakan metode yang paling sering digunakan Nabi SAW. dalam

mengajari sahabat-sahabatnya.66

64Ibnu Hajar Al Asqalani, Fathul Ba>ri, Penjelasan Kitab Sa>hih Al-Bukha>ri,


(Jakarta: Pustaka Azzam, 2002), hlm 307
65Opcit, Syaiful Bahri Djamara, hlm 55
66Opcit, Wendi Zarman, hlm 158
Seperti Rasulullah SAW. menasihati umar bin Salamah r.a

pada saat waktu makan. Umar bin Salamah berkata, ketika masih

anak-anak, aku pernah dipangku Rasulullah SAW. tanganku

melayang kea rah sebuah nampan berisi makanan. Rasulullah SAW.

berkata kepadaku, nak, bacalah basmAlla>h SWT.. SWT, lalu

makanlah dengan tangan kanan dan ambillah makanan yang

terdekat denganmu!. Maka seperti itulah cara makananku

seterusnya. ( H.R. Bukha>ri Musli>m).67

Selanjutnya, ditinjau dari pendidikan, nasihat mempunyai

beberapa faedah, a). Tergugahnya perasaan Rabbaniyah pada diri

peserta didik (anak), b). berfikir Rabba>ni yang sehat, c).

terbinanya jamaah yang mukmin, d). penyucian dan pembersihan

jiwa yang merupakan tujuan dari pendidikan Isla>m.68

4 Metode Pendidikan dengan Perhatian

Yang dimaksud dengan pendidikan dengan perhatian adalah

mencurahkan, memperhatikan dan senantiasa mengikuti

perkembangan anak dalam pembinaan akidah dan moral,

persiapan spiritual dan sosialnya. Islam, dengan universitalitasnya

prinsip dan peraturannya yang abadi, memerintah para bapak, ibu

67Opcit, Muhamma>d Ibnu> Abdul Hafidh Suwaid, hlm 60


68Opcit, Samsul Nizar dan Zainal Efendi Hasibuan, hlm 78
dan pendidik untuk memperhatikan dan senantiasa mengikuti serta

mengontrol anak-anaknya, dalam segala segi kehidupan dan

pendidikan yang universal .69

Hadits yang memerintahkan untuk senantiasa

memperhatikan keluarga dan anak-anak, adalah cukup banyak,

Seperti hadits yang diriwayatkan oleh Abu Daud r.a, ia berkata,

Rasulullah SAW. bersabda:

( )

Artinya :Suruhlah anak-anak mengerjakan shalatketika mereka


telah berumur tujuh tahun, pukullah mereka (jika
meninggalkan) shalat ketika mereka berumur sepuluh
tahun, dan (pada usia ini juga), pisahkanlah tempat tidur
antara mereka (saudara laki-laki dan saudara perempuan
mereka.(H.R.Abu Dawud).70

Dalam hadits lain, dari Ath-Thabrani meriwayatkan dari Ali

r.a., bahwa Rasulullah SAW. bersabda:

:

( )

69Opcit, Abdullah Nasih Ulwa>n, Jilid Dua, hlm 123


70Opcit, Syekh Maulana Muhammad Yusuf Al-Kandahla>lawi Rah.a, hlm 149
Didiklah anak-anakmu atas tiga perkara: Mencintai Nabi

mereka, mencintai

keluarga Nabi SAW. dan membaca Al-

Quran.71

Sudah menjadi kesepakatan bahwa memperhatikan anak dan

megontrolnya, yang dilakukan oleh pendidik atau orang tua adalah

asas pendidikan yang paling utama. Seperti hadits di atas, yang

memberikan kesimpulan bahwa memberikan perhatian pendidikan

kepada anak sangatlah penting, seperti memperhatikan pendidikan

anak tentang shalatnya, kemudian memberikan pendidikan

tentang mencintai Nabi beserta keluarganya dan pentingnya

memberikan pendidikan kepada anak untuk membaca Al-Quran,

dengan tujuan tidak lain agar seorang anak tersebut menjadi lebih

taat kepada Alla>h SWT.. SWT dan Rasul-Nya.

Permasalahan yang harus diketahui oleh para pendidik

adalah, bahwa pendidik dengan perhatian dan pengawasan tidak

hanya terbatas pada satu-dua segi perbaikan dalam pembentukan

jiwa umat manusia. Tetapi harus mencakup semua segi, segi

keimanan, mental, moral, fisikal spiritual dan sosial. Sehingga,

pendidikan ini dapat menghasilkan buah dalam menciptakan

individu muslim yang berimbang, matang dan sempuma,


71Opcit, Abdullah Nasih Ulwa>n, Jilid Dua, hlm 125
menunaikan hak semua orang yang memiliki hak dalam kehidupan.

Demikianlah metode Islam dalam pendidikan dengan

perhatian. Metode tersebut, seperti yang kita lihat, adalah metode

yang lurus. Jika diterapkan, maka anak kita akan menjadi penyejuk

hati, menjadi anggota masyarakat yang sholeh, bermanfaat bagi

tubuh umat Islam yang satu. Maka hendaklah kita senantiasa

memperhatikan dan mengawasi anak-anak dengan sepenuh hati,

pikiran dan perhatian. Perhatian segi keimanan, ruhani, akhlak,

ilmu pengetahuan, pergaulan dengan orang lain, sikap jiwa, sikap

emosi, dan segala sesuatunya. Sehingga, anak kita akan menjadi

seorang Mumin yang bertakwa, disegani dihormati dan terpuji. Ini

semua tidak mustahil jika ia diberi pendidikan yang baik, dan kita

berikan sepenuhnya hak dan tanggung jawab kita kepadanya.

5 Metode Pendidikan dengan Memberi Hukuman

Di bawah ini metode yang dipakai Islam dalam

mengupayakan memberikan hukuman kepada anak. Namun,

sebelum memaparkan macam-macam metode dalam memberikan

hukuman tersebut maka penulis hanya memberikan beberapa

contoh dalam hal memberikan hukuman menurut metode

Rasulullah SAW, diantaranya:

a Menunjukkan kesalahan dengan pengarahan


Al-Bukhari dan Muslim meriwayatkan dari Umar bin Abi

Salmah ra. Ia berkata:

Ketika aku kecil, berada dalam asuhan Rasulullah SAW. Pada

suatu hari ketika tanganku bergerak ke sana kemari di atas

piring berisi makanan, berkatalah Rasulullah SAW., Wahai

anak, sebutlah nama Alla>h SWT.. SWT. Makanlah dengan

tangan Kanan mu dan makanlah apa yang dekat dengan-

mu.72

Dalam hal ini kita lihat bahwa Rasulullah SAW memberi

petunjuk kepada Umar bin Abi Salmah terhadap kesalahannya,

dengan nasihat yang baik, pengarahan yang membekas, ringkas

dan jelas.

b Menunjukkan kesalahan dengan memukul

Abu Daud Al-Hakim meriwayatkan dari Amr bin Syuaib, dari

ayahnya, dari kakeknya bahwa Rasulullah SAW. bersabda:

( )

Suruhlah anak-anak kalian mengerjakan shalat sejak

mereka berusia tujuh tahun, dan pukullah mereka jika

72Opcit, Abdullah Nasih Ulwa>n, Jilid Dua, hlm


melalaikannya, ketika mereka berusia sepuluh tahun, dan

pukullah mereka jika melalakannya, ketika mereka berusia

sepuluh tahun, dan pisahkanlah mereka dari tempat

tidurnya.73

Hadits ini memberikan penjelasan mengenai hukuman

memukul yang diberikan kepada anak. Telah kita ketahui bahwa

hukuman dengan memukul adalah hal yang diterapkan oleh Islam.

Dan dilakukan pada tahap terakhir, setelah nasihat dan tidak

mengalami perubahan. Tata cara yang tertib ini menunjukkan

bahwa pendidik tidak boleh menggunakan yang lebih keras jika

yang lebih ringan sudah bermanfaat. Sebab, pukulan adalah

hukuman yang paling berat, tidak boleh menggunakannya kecuali

jika dengan jalan lain sudah tidak bisa. Perlu diketahui pula bahwa

Rasulullah SAW. sama sekali belum pernah memukul seorang pun

dari istri- istrinya.

Tetapi, ketika Islam menetapkan hukuman dengan pukulan

seperti telah kita terangkan di atas, maka Islam memberikan

batasan dan persyaratan, sehingga pukulan tidak keluar dari

maksud pendidikan, yaitu untuk memperbaiki dan menjerakan

menjadi sebuah perbaikan.

Persyaratan memberikan hukuman pukulan adalah sebagai


73Ibid, hlm 162-163
berikut:

1 .Pendidik tidak terburu menggunakan metode pukulan,

kecuali setelah menggunakan semua metode lembut lain

yang mendidik dan membuat jera, seperti telah kita

terangkan pada lembar-Iembar terdahulu.

2). Pendidik tidak memukul ketika ia dalam keadaan sangat

marah, karena dikhawatirkan menimbulkan bahaya

terhadap anak.

3). Ketika memukul, hendaknya menghindari anggota badan

yang peka, seperti kepala, mjuka, dada, dan perut.

4). Pada orang dewasa, setelah tiga pukulan tidak membuatnya

jera, maka boleh ditambah hingga sepuluh kali.

Sebagaimana sabda Rasulullah SAW

Janganlah seseorang mendera lebih dari sepuluh kali

deraan, kecuali dalam hukuman (hudud) yang ditentukan

Alla>h SWT.. SWT SWT.

5). Tidak memukul anak,, sebeleum ia berusia sepuluh tahun.

6). Jika kesalahan anak adalah untuk pertama kalinya,

hendaknya ia diberi kesempatan untuk bertaubat dari

perbuatan yang telah dilakukan, memberi kesempatan

untuk meminta maaf, dan diberi kelapangan untuk


didekati seorang penengah, tanpa memberikan hukuman,

tetapi mengambil janji untuk

tidak mengulangi kesalahannya itu.

7). Pendidik hendaknya memukul anak dengan tangannya,

dan tidak menyerahkan kepada saudara-saudaranya atau

teman-temannya.

8). Jika anak sudah menginjak usia dewasa, dan pendidik

melihat bahwa pukulan sepuluh kali tidak juga

membuatnya jera, maka boleh ia menambah dan

mengulanginya, sehingga anak menjadi baik kembali.74

Dari sini jelas bahwa pendidikan Islam telah memberikan

perhatian besar terhadap hukuman, baik hukuman spiritual maupun

material. Hukuman ini telah diberi batasan dan persyaratan, dan

pendidik (orang tua) tidak boleh melanggar. Jika pendidik

menginginkan anak-anak yang utama dan perbaikan yang mulia.

Demikianlah berbagai metode pendidikan yang memberikan

bekas pada anak. Metode-metode tersebut, seperti telah kita

ketahui merupakan metode-metode esensial, praktikal dan efektif.

Jika dapat dilaksanakan dengan segala batasan dan

persyaratannya, maka tidak diragukan anak akan menjadi manusia


74 Ibid, hlm 165
yang berarti, dihormati, dikenal di antara kaumnya sebagai orang

yang bertakwa, ahli beribadah dan ihsan.

Karenanya jika kita menginginkan kebaikan pada diri anak,

kebahagiaan bagi orang tuanya, ketentraman bagi masyarakat,

hendaknya metode-metode ini tidak kita abaikan. Dan hendaknya

kita berlaku bijaksana dalam memilih metode yang paling efektif

dalam situasi dan kondisi tertentu.