Anda di halaman 1dari 38

Memahami Teori Ruang

(Rangkuman Teori Ruang)


1. PENGERTIAN RUANG
Ruang merupakan salah satu komponen penting dalam kehidupan
manusia. Ruang sangat terkait erat dengan waktu. Karena sangat
pentingnya ruang dan waktu bagi kehidupan manusia, maka filsafat ruang
dan waktu telah menjadi perdebatan sejak ribuan tahun yang lalu.
Keterkaitan yang sangat erat antara ruang dan waktu, dalam ilmu Fisika,
keduanya kemudian digabung menjadi ruang waktu atau ruang-waktu dalam
suatu kontinum. Ruang-waktu biasanya ditafsirkan dengan ruang yang tiga
dimensi dan waktu memainkan peran sebagai dimensi keempat. Pada ilmu
pengembangan ekonomi lokal, seperti ilmu ekonomi berbasis wilayah
lainnya, ruang mempunyai posisi yang sangat sentral, dan ruang inilah yang
merupakan pembeda utama dengan ekonomi konvensional. Menurut
Budiharsono (2013) sumbangan terbesar tentang filsafat ruang dan waktu
berasal dari filsuf Islam, seperti: Al-Kindi (801873 M), Al Ghazali 105819
December 1111 M), dan Ibnu Haitham atau Alhazen (965 1040 H). Karya-
karya mereka merupakan inspirasi bagi filsuf-filsuf Barat seperti Immanuel
Kant.
Ruang mengandung pengertian sebagai wadah yang meliputi ruang
daratan, ruang lautan dan ruang udara sebagai satu kesatuan wilayah,
tempat manusia dan mahluk lainnya hidup dan melakukan kegiatan serta
memelihara kelangsungan hidupnya. Ruang itu terbatas dan jumlahnya
relatif tetap. Sedangkan aktivitas manusia dan pesatnya perkembangan
penduduk memerlukan ketersediaan ruang untuk beraktivitas senantiasa
berkembang setiap hari. Hal ini mengakibatkan kebutuhan akan ruang
semakin tinggi. Ruang merupakan sumber daya alam yang harus dikelola
bagi sebesar-besar kemakmuran rakyat sebagaimana diamanatkan dalam
Pasal 33 ayat (3) UUD 1945 yang menegaskan bahwa bumi dan air serta
kekayaan alam yang terkandung di dalamnya dikuasai oleh negara dan
digunakan sebesar-besarnya kemakmuran rakyat. Dalam konteks ini ruang
harus dilindungi dan dikelola secara terkoordinasi, terpadu, dan
berkelanjutan. Beberapa pengertian tentang ruang oleh beberapa ahli antara
lain:
a. Menurut Lao Tzu (dalam Surasetja, 2007)
Ruang adalah kekosongan yang ada di sekitar kita maupun di sekitar
objek atau benda, ruang yang terkandung di dalam adalah lebih hakiki
ketimbang materialnya, yakni masa. Kekosongan yang terbingkaikan
oleh elemen pembatas pintu dan jendela, boleh dianggap sebagai
ruang transisi yang membatasi bentuk arsitektur yang fundamental.
Ada tiga tahapan hierarki ruang: pertama, ruang sebagai hasil dari
perangkaian secara tektonik; kedua, ruang yang di lingkup bentuk
stereotomik dan ketiga, ruang peralihan yang membentuk suatu
hubungan antara di dalam dengan dunia diluar.
b. Menurut Plato (dalam Surasetja, 2007)
Ruang adalah sesuatu yang dapat terlihat dan teraba, menjadi teraba
karena memiliki karakter yang jelas berbeda dengan semua unsur
lainnya. Plato mengatakan: kini, segala sesuatunya harus berwadaq,
kasat mata, dan teraba: namun tak ada sesuatu pun yang dapat kasat
mata tanpa adanya api, tak ada sesuatu pun yang dapat teraba bila
tak bermassa, dan tak ada sesuatu pun yang dapat bermassa tanpa
adanya unsur tanah. Maka Tuhan pun menciptakan dunia dari api dan
tanah . Meletakan air dan udara diantara api dan tanah dan
membuatnya sebanding antara yang satu dengan lainnya, sehingga
udara terhadap air sebanding dengan air terhadap tanah; demikian ia
membuat dunia ini sebagai kesatuan yang kasat mata dan teraba.
(Cornelis van de Ven, 1995).
c. Menurut Aristoteles (dalam Surasetja, 2007)
Ruang adalah sebagai tempat (topos), tempat (topos) sebagai suatu
dimana, atau sesuatu place of belonging, yang menjadi lokasi yang
tepat dimana setiap elemen fisik cenderung berada. Aristoteles
mengatakan: wadaq-wadaq semata bergerak ke atas dan kebawah
menuju tempatnya yang tetap dan setiap hal berada di suatu tempat
yakni dalam sebuah tempat. Suatu tempat, atau ruang, tidak dapat
memiliki suatu wadaq. (Cornelis van d Ven, 1995). Karakteristik dari
ruang dirangkum menjadi lima butir: Tempat melingkupi objek yang
ada padanya. Tempat bukan bagian dari yang dilingkupinya. Tempat
dari suatu objek tidak lebih besar dan tidak lebih kecil dari objek
tersebut. Tempat dapat ditinggalkan oleh objek serta dapat dipisahkan
dari objek itu Tempat selalu mengikuti objek, meskipun objek terus
berpindah sampai berhenti pada posisinya.
d. Menurut Isaac Newton, (Budiharsono, 2013)
Ruang adalah absolut dalam arti bahwa ia ada secara permanen dan
independen.
e. Menurut Josef Prijotomo (dalam Surasetja, 2007)
Ruang adalah bagian dari bangunan yang berupa rongga, sela yang
terletak diantara dua objek dan alam terbuka yang mengelilingi dan
melingkup kita. Bukan objek rinupa dan ragawi tidak terlihat hanya
dapat dirasakan oleh pendengaran, penciuman dan perabaan.
f. Menurut Rudolf Arnheim (dalam Surasetja, 2007)
Ruang adalah sesuatu yang dapat dibayangkan sebagai satu kesatuan
terbatas atau tidak terbatas, seperti keadaan yang kosong yang sudah
disiapkan mempunyai kapasitas untuk diisi barang.
g. Menurut Immanuel Kant (dalam Surasetja, 2007)
Ruang bukanlah suatu objektif atau nyata merupakan sesuatu yang
subjektif sebagai hasil pikiran dan perasaan manusia. Ruang
merupakan suatu ide a priori, bukan suatu objek empiris, yang
dihasilkan dari pengalaman-pengalaman eksterior. Dalam bukunya
Prolegomena, Kant menulis, bahwa konsep-konsep a priori tidak
berasal dari pengalaman, namun sepenuhnya berasal dari opini dalam
pemahaman murni. Selain dari a priori intuisi, Kant juga mengenakan
kualitas ketidakterbatasan terhadap ruang dan waktu.
Budiharsono (2013) juga memberikan penjelasan mengenai
perkembangan Filsafat Ruang Abad 19-20 sebagai berikut:
1. Pada abad ke 19 dan 20, matematikawan mulai mengkaji Geometri
Non-Euclidean, dimana ruang dapat dikatakan melengkung, bukan
datar. Menurut teori Eistein tentang Relativitas Umum, bahwa ruang
di sekitar medan gravitasi menyimpang dari ruang Euclidean.
2. Michael Foucault yang menyatakan bahwa abad 19 adalah abad
waktu, ruang tak bergerak, ajeg dan mati. Zaman ruang akan terjadi
pada abad 20, dimana ruang akan aktif, bergerak, dan subur. Kalau
mengikuti pola piker Foucault tersebut, maka abad ke-21 ini,
merupakan abad ruang-waktu, menjalin ruang dan waktu.
3. Perkembangan pemikiran tentang ruang pada era abad banyak
dipengaruhi oleh pemikiran Karl Marx. Henri Lefebvre merupakan
filsuf dari Perancis yang memulai kerja tentang ruang berdasarkan
pemikiran Karl Marx. Karya-karya Lefebvre kemudian menjadi inspirasi
bagi penerusnya seperti Edward W. Soja, David Harvey dan Rob
Shield.
Lefebvre dalam Budiharsono (2013) menjelaskan bahwa ruang
diproduksi dalam masyarakat melalui proses triadic terdiri dari "Ruang
Praktik", "Representasi Ruang," dan "Representasional Ruang atau Ruang
Representasi. Ruang Praktik (peru Espace atau ruang yang dapat dirasakan)
yaitu ruang yang dihasilkan oleh produksi dan reproduksi kapitalis, yang
merupakan hasil dari kegiatan dan perilaku dan pengalaman manusia atau
merupakan bentuk ruang secara fisik, ruang nyata, ruang yang dihasilkan
dan digunakan. Representasi ruang (conu Espace, ruang dipahami) adalah
representasi hegemonik ideologis terkait dengan ruang atau dapat juga
dikatakan sebagai ruang savoir (pengetahuan) dan logika atau ruang sebagai
konstruksi mental atau ruang dalam alam pikiran (dibayangkan) yang
merupakan representasi kekuasaan, ideologi, kontrol, dan pengawasan.
Representasional ruang atau ruang representasi (vcu Espace, ruang hidup)
terkait dengan gerakan perlawanan melakukan hal itu atau melihat ruang
sebagai sesuatu yang diproduksi dan dimodifikasi sepanjang waktu dan
melalui penggunaannya, ruang diinvestasikan dengan simbolisme dan
makna, ruang dari connaissance (kurang lebih formal atau bentuk-bentuk
pengetahuan lokal), ruang sebagai sesuatu nyata-dan-dibayangkan.
Sementara itu Edward Soja dalam Budhiharsono (2013) memberikan
penjelasan bahwa mengembangkan tiga konsep yang penting untuk dapat
memahami idenya tentang Ruang Ketiga (Third space). Konsep yang
pertama adalah Thirding-as-Othering, yang kedua dan ketiga adalah dua
trialektika, yaitu Ontologis dan Epistomologis. Ontologis yaitu trialectics of
being: kesejarahan (historically), kesosialan (sociality) dan keruangan
(spatiality). Epistomologis trialectics of spatiality: ruang dirasakan
(perceived space), ruang dipahami (conceived space), dan ruang hidup (lived
space). Konsep Ruang Ketiga dari Soja ini melampaui Konsep Marxismenya
Lefebvre dalam upaya untuk merangkul kelompok atau individu yang
terpinggirkan dan kehilangan haknya, yang terus-menerus termarjinalkan
karena keruangan mereka diabaikan.

2. UNSUR PEMBENTUK RUANG


Ruang tidak dapat dipisahkan dari kehidupan manusia baik secara
psikologis emosional (persepsi), maupun dimensional. Manusia berada dalam
ruang, bergerak serta menghayati, berfikir dan juga menciptakan ruang
untuk menyatakan bentuk dunianya. Di dalam buku struktur Esensi
Arsitektur karya Forrest Wilson hal 15, Edward T. Hall menuliskan hubungan
antara manusia dengan ruang. Ia mengatakan: Salah satu perasaan kita
yang penting mengenai ruang adalah perasaan teritorial. Perasaan ini
memenuhi kebutuhan dasar akan identitas diri, kenyamanan dan rasa aman
pada pribadi manusia. Secara umum, ruang dibentuk oleh tiga elemen
pembentuk ruang yaitu:
a. Bidang alas/lantai (the base plane).
Oleh karena lantai merupakan pendukung kegiatan kita dalam suatu
bangunan, sudah tentu secara struktural harus kuat dan awet. Lantai
juga merupakan unsur yang penting di dalam sebuah ruang, bentuk,
warna, pola dan teksturnya akan menentukan sejauh mana bidang
tersebut akan menentukan batas-batas ruang dan berfungsi sebagai
dasar dimana secara visual unsur-unsur lain di dalam ruang dapat
dilihat. Tekstur dan kepadatan material dibawah kaki juga akan
mempengaruhi cara kita berjalan di atas permukaannya.
b. Bidang dinding/pembatas (the vertical space divider).
Sebagai unsur perancangan bidang dinding dapat menyatu dengan
bidang lantai atau dibuat sebagai bidang yang terpisah. Bidang
tersebut bisa sebagai latar belakang yang netral untuk unsur-unsur lain
di dalam ruang atau sebagai unsur visual yang aktif di dalamnya.
Bidang dinding ini dapat juga transparan seperti halnya sebuah
sumber cahaya atau suatu pemandangan.
c. Bidang langit-langit/atap (the overhead plane).
Bidang atap adalah unsur pelindung utama dari suatu bangunan dan
berfungsi untuk melindungi bagian dalam dari pengaruh iklim.
Bentuknya ditentukan oleh geometris dan jenis material yang
digunakan pada strukturnya serta cara meletakkannya dan cara
melintasi ruang di atas penyangganya. Secara visual bidang atap
merupakan topi dari suatu bangunan dan memiliki pengaruh yang
kuat terhadap bentuk bangunan dan pembayangan.

3. PENGERTIAN RUANG DAN LOKASI


Menurut Tisnaadmidjaja, dalam Yusuf (1997) yang dimaksud dengan
ruang adalah wujud fisik wilayah dalam dimensi geografis dan geometris
yang merupakan wadah bagi manusia dalam melaksanakan kegiatan
kehidupannya dalam suatu kualitas kehidupan yang layak. Tata ruang
menurut undang-undang penataan ruang dijelaskan sebagai wujud struktur
ruang dan pola ruang, sedangkan struktur ruang adalah susunan pusat-pusat
permukiman dan sistem jaringan prasarana dan sarana yang berfungsi
sebagai pendukung kegiatan sosial ekonomi masyarakat yang secara
hierarkis memiliki hubungan fungsional.
Penataan ruang adalah suatu sistem proses perencanaan tata ruang,
pemanfaatan tata ruang dan pengendalian pemanfaatan ruang. Hal tersebut
merupakan ruang lingkup penataan ruang sebagai objek Hukum Administrasi
Negara. Jadi, hukum penataan ruang menurut Undang-Undang Nomor 26
Tahun 2007 yaitu hukum yang berwujud struktur ruang (ialah susunan pusat-
pusat pemukiman dan sistem jaringan prasarana dan sarana yang berfungsi
sebagai pendukung kegiatan ekonomi masyarakat yang secara hierarkis
memiliki hubungan fungsional) dan pola ruang (ialah distribusi peruntukan
ruang dalam suatu wilayah yang meliputi peruntukan ruang untuk fungsi
lindung dan peruntukan ruang untuk fungsi budi daya).
Teori lokasi adalah ilmu yang menyelidiki tata ruang (spatial order)
kegiatan ekonomi, atau ilmu yang menyelidiki alokasi geografis dari sumber-
sumber yang potensial, serta hubungannya dengan atau pengaruhnya
terhadap keberadaan berbagai macam usaha/kegiatan lain baik ekonomi
maupun sosial (Tarigan, 2006:77). Teori Lokasi berusaha untuk menjelaskan
distribusi kegiatan di suatu tempat. Tujuannya adalah untuk mengidentifikasi
faktor-faktor yang mempengaruhi lokasi kegiatan individu, alokasi bagian
yang berbeda dari wilayah di antara berbagai jenis produksi, membagi pasar
spasial antara produsen, dan distribusi fungsional kegiatan di suatu tempat.
Berbagai fenomena dianalisis dengan menghapus (fisik) fitur geografis yang
mungkin dapat menjelaskan konsentrasi wilayah kegiatan, sehingga pilihan
lokasi diinterpretasikan dengan mempertimbangkan hanya kekuatan besar
ekonomi yang mendorong proses lokasi: biaya transportasi, yang menyebar
kegiatan di suatu tempat dan pengelompokan ekonomi, yang justru
menyebabkan kegiatan untuk berkonsentrasi. Capello (2011) dalam Suryani
(2015) juga menjelaskan bahwa pilihan lokasi juga ditentukan oleh prinsip
khusus organisasi spasial kegiatan yaitu: 'aksesibilitas', dan aksesibilitas
khusus untuk pasar atau 'center'.

3.1 TEORI TEMPAT PEMUSATAN (CENTRAL PLACE THEORY) -


Christaller
Suatu tempat merupakan pusat pelayanan. Menurut Christaller dalam
Taylor at all (2010), pusat-pusat pelayanan cenderung tersebar di dalam
wilayah menurut pola berbentuk heksagon (segi enam). Keadaan seperti itu
akan terlihat dengan jelas di wilayah yang mempunyai dua syarat: (1)
topografi yang seragam sehingga tidak ada bagian wilayah yang mendapat
pengaruh dari lereng dan pengaruh alam lain dalam hubungan dengan jalur
pengangkutan, (2) kehidupan ekonomi yang homogen dan tidak
memungkinkan adanya produksi primer, yang menghasilkan padi-padian,
kayu atau batu bara.
Teori Christaller (1933) menjelaskan bagaimana susunan dari besaran
kota, jumlah kota, dan distribusinya di dalam satu wilayah. Model Christaller
ini merupakan suatu sistem geometri, di mana angka 3 yang diterapkan
secara arbiter memiliki peran yang sangat berarti dan model ini disebut
sistem K = 3. Model Christaller menjelaskan model area perdagangan
heksagonal dengan menggunakan jangkauan atau luas pasar dari setiap
komoditi yang dinamakan range dan threshold. Dalam keadaan yang
mempunyai kedua syarat seperti di atas itu akan berkembang tiga hal
(Jayadinata, 1999:180) seperti diterangkan di bawah ini:
a. Ajang jasa (ajang niaga) akan berkembang secara wajar di seluruh
wilayah dengan jarak dua jam berjalan kaki atau 2 x 3,5 = 7 km.
Secara teori tiap pusat pelayanan melayani kawasan yang berbentuk
lingkaran dengan radius 3,5 km (satu jam berjalan kaki), jadi pusat
wilayah layanan akan terletak di pusat kawasan tersebut. Teori ini
disebut teori tempat pemusatan (central place theory).
b. Kawasan-kawasan berbentuk lingkaran yang saling berbatasan,
walaupun bentuk lingkaran adalah paling efisien, akan mempunyai
bagian-bagian yang bertumpang tindih atau bagian-bagian yang
senjang (kosong), sehingga bentuk lingkaran itu tidak biasa digunakan
untuk kawasan atau wilayahnya. Berhubung dengan itu Christaller
mengemukakan bahwa pusat pelayanan akan berlokasi menurut pola
heksagon, sehingga wilayah akan saling berbatasan tanpa bertumpang
tindih.
c. Dalam wilayah akan berkembang ajang niaga dalam pola heksagon.
Yang paling banyak adalah dusun-dusun sebagai pusat perdagangan
yang melayani penduduk wilayah pedesaan. Satu dusun dengan dusun
lainnya akan menempuh jarak 7 km.
Gambar 1. Hipotesis Christaller
Dalam asumsi yang sama dengan Christaller, Lloyd (Location in
space, 1977) melihat bahwa jangkauan/luas pelayanan dari setiap komoditas
itu ada batasnya yang dinamakan range dan ada batas minimal dari luas
pelayanannya dinamakan threshold. (Tarigan, 2006:79)
Berdasarkan hal tersebut di atas dapat dijelaskan model Christaller
tentang terjadinya model area pelayanan heksagonal sebagai berikut:
(Tarigan, 2006:80)

Gambar 2. Kronologi terjadinya area pelayanan hexagonal


a. Mula-mula terbentuk area pelayanan berupa lingkaran-lingkaran.
Setiap lingkaran memilik pusat dan menggambarkan threshold.
Lingkaran-lingkaran ini tidak tumpang tindih seperti pada bagian A
dari Gambar
b. Kemudian digambarkan lingkaran-lingkaran berupa range dari
pelayanan tersebut yang lingkarannya boleh tumpang tindih seperti
terlihat pada bagian B.
c. Range yang tumpang tindih dibagi antara kedua pusat yang
berdekatan sehingga terbentuk areal yang heksagonal yang menutupi
seluruh dataran yang tidak lagi tumpang tindih, seperti terlihat pada
bagian C.
d. Tiap pelayanan berdasarkan tingkat ordenya memiliki heksagonal
sendiri-sendiri. Dengan menggunakan k=3, pelayanan orde I lebar
heksagonalnya adalah 3 kali heksagonal pelayanan orde II. Pelayanan
orde II lebar heksagonalnya adalah 3 kali heksagonal pelayanan orde
III, dan seterusnya. Tiap heksagonal memiliki pusat yang besar
kecilnya sesuai dengan besarnya heksagonal tersebut. Heksagonal
yang sama besarnya tidak saling tumpang tindih, tetapi antara
heksagonal yang tidak sama besarnya akan terjadi tumpang tindih,
seperti terlihat pada bagian D.

3.2 TEORI KONSENTRIS (E.W. Burgess, 1925)


Model zona konsentrik atau Teori konsentris adalah teori mengenai
perencanaan perkotaan yang dikembangkan oleh seorang sosiolog asal
Amerika Serikat bernama Ernest Burgess berdasarkan hasil penelitiannya
terhadap kota Chicago yang dilakukan pada tahun 1925. Burgess
menyimpulkan bahwa wilayah perkotaan dapat dibagi menjadi enam zona.
Menurutnya, kota Chicago ternyata telah berkembang sedemikian rupa dan
menunjukkan pola penggunaan lahan yang konsentris dimana masing-
masing jenis penggunaan lahan ini dianalogikan sebagai suatu konsep
natural area. Dari pengamatannya, suatu kota akan terdiri dari zona-zona
yang konsentris dan masing-masing zona ini sekaligus mencerminkan tipe
penggunaan lahan yang berbeda.
Model yang paling terkenal dari area sosial urban ini direncanakan
oleh E.W Burgess di tahun 1923 dan telah dikenal sebagai Zona l atau Teori
Konsentris. Model ini didasarkan pada konsep bahwa perkembangan sebuah
kota terjadi ke arah luar dari area sentralnya, untuk membentuk serangkaian
zona-zona konsentris. Zona ini dimulai dengan Central Business District,
yang dikelilingi dengan area transisi. Kemudian zona transisi ini dikelilingi
oleh zona perumahan pekerja. Dari hal ini, kemudian menyebabkan Burgess
terkenal dengan teori konsentrisnnya (Concentric Theory).
Kota dianggap sebagai suatu objek studi dimana di dalamnya
terdapat masyarakat manusia yang sangat kompleks, telah mengalami
proses interelasi antarmanusia dan antara manusia dengan lingkungannya.
Hasil dari hubungan itu mengakibatkan terciptanya pola keteraturan dari
penggunaan lahan. Ciri-Ciri kota dengan model konsentris adalah:
a. Pusat kota terletak di tengah kota
b. Berbentuk Bundar yang merupakan pusat kehidupan sosial, ekonomi,
budaya, dan politik
c. Zona dengan derajat aksesibilitas tinggi dalam suatu kota

Gambar 3. Model Zone Konsentris Burges


Gambar 4. Bentuk kota yang menggunakan teori konsentris,
sumber Lutfi, 2016
Teori jalur sepusat atau Teori Konsentris (Concentric Zone Theory)
E.W. Burgess, mengemukakan bahwa kota terbagi sebagai berikut:
(Jayadinata, 1999:129)
a. Daerah pusat kegiatan (Central Business District); Pada lingkaran
dalam terletak pusat kota yang terdiri atas: bangunan-bangunan
kantor, hotel, bank, bioskop, pasar, dan toko pusat perbelanjaan;
b. Zona peralihan (Transition Zone); Pada lingkaran tengah pertama
terdapat jalur alih: rumah-rumah sewaan, kawasan industri,
perumahan buruh;
c. Zona pemukiman pekerja (Zone of working mens homes); Pada
lingkaran tengah kedua terletak jalur wisma buruh, yakni kawasan
perumahan untuk tenaga kerja pabrik;
d. Zona pemukiman yang lebih baik (zone of better residences); Pada
lingkaran luar terdapat jalur madyawisma, yakni kawasan perumahan
yang luas untuk tenaga kerja halus dan kaum madya (middle class);
e. Zona para penglaju (zone of commuters); Di luar lingkaran terdapat
jalur pendugdag atau jalur penglaju (jalur ulang-alik); sepanjang jalan
besar terdapat perumahan masyarakat golongan madya dan
golongan atas atau masyarakat upakota.
Daerah pusat kegiatan merupakan pusat kehidupan sosial, ekonomi,
budaya dan politik dalam suatu kota, sehingga pada zona ini terdapat
bangunan utama untuk kegiatan sosial, ekonomi, budaya dan politik. Zona
ini dianggap oleh Burgess sebagai the area of dominance.
Dalam penjelasan teori konsentris, Burgess selalu menggunakan
terminologi ekologis seperti istilah dominasi, invasi dan suksesi. Proses
ekologis ini oleh McKenzie diperjelas lagi dengan lebih detail. Menurutnya,
proses invasi dibagi ke dalam tiga tingkatan yaitu: (1) Initial Stage (tahap
permulaan); (2) Secondary Stage (tahap lanjutan); dan (3) Climax Stage
(tahap klimak). Proses permulaan dari invasi ditandai oleh adanya gejala
ekspansi geografis dari satu kelompok sosial yang ada dan kemudian
menemui tantangan dari penduduk yang ada pada daerah yang terkena
ekspansi. Pada tahap lanjut terjadi persaingan yang kemudian diikuti proses
Displacement (perpindahan); Selection (seleksi); dan Assimilation
(asimilasi). Kelompok-kelompok yang terpaksa kalah bersaing, akan
menempati/mengadakan ekspansi ke wilayah lain yang lebih lemah dan
kemudian akan diikuti oleh suksesi baru. Pada saat terakhir tersebut akan
tercapai apa yang disebut tahap klimaks. Proses ini terus menerus terjadi,
akibatnya terlihat semakin meluasnya zona melingkar konsentris yang ada
pada suatu kota. Hasil dari proses ini adalah lapisan Natural Area dengan
keseragaman sifat-sifat.
Ciri khas utama teori ini adalah adanya kecenderungan, dalam
perkembangan tiap daerah dalam cenderung memperluas dan masuk
daerah berikutnya (sebelah luarnya). Prosesnya mengikuti sebuah urutan-
urutan yang dikenal sebagai rangkaian invasi (invasion succession).
Cepatnya proses ini tergantung pada laju pertumbuhan ekonomi kota dan
perkembangan penduduk. Sedangkan di pihak lain, jika jumlah penduduk
sebuah kota besar cenderung menurun, maka daerah disebelah luar
cenderung tetap sama sedangkan daerah transisi menyusut kedalam daerah
pusat bisnis. Penyusutan daerah pusat bisnis ini akan menciptakan daerah
kumuh komersial dan perkampungan. Sedangkan interpretasi ekonomi dari
teori konsentris menekankan bahwa semakin dekat dengan pusat kota
semakin mahal harga tanah.

3.3 TEORI SEKTOR (Hoyt, 1939)


Munculnya ide untuk mempertimbangkan variabel sector pertama kali
dikemukakan oleh Hoyt (1939) mengenai pola-pola sewa rumah tinggal pada
kota-kota di Amerika Serikat. Pola konsentris dikemukakan oleh Burges
ternyata pola sewa tempat tinggal pada kota-kota di Amerika cenderung
berbentuk pola sector. Menurut Hoyt kunci terhadap peletakan sector ini
terlihat pada lokasi daripada high quality areas (daerah-daerah yang
berkualitas tinggi untuk tempat tinggal). Kecenderungan penduduk untuk
bertempat tinggal adalah pada daerah-daerah yang dianggap nyaman dalam
arti luas.
Gambar 5. Bentuk kota dengan Teori sektoral, sumber Lutfi,
2016
Ciri-Ciri kota dengan model sektoral adalah sebagai berikut:
Hampir sama dengan teori konsentris, pusat kota berada di tengah
Menjadikan Jalur transportasi sebagai batas zona konsentris pada
struktur kota sehingga zona berubah mengikuti sektor tertentu.
Teori sektor (Sector Theory) menurut Humer Hoyt yang mengatakan bahwa
kota tersusun sebagai berikut: (Jayadinata, 1999:130)
a. Pada lingkaran pusat terdapat pusat kota;
b. Pada sektor tertentu terdapat kawasan industri ringan dan kawasan
perdagangan;
c. Dekat pusat kota dan dekat sektor tersebut di atas, pada bagian
sebelah menyebelahnya, terdapat sektor murbawisma, yaitu
kawasan tempat tinggal kaum murba atau kaum buruh;
d. Agak jauh dari pusat kota dan sektor industri serta perdagangan,
terletak sektor madyawisma;
e. Lebih jauh lagi terdapat sektor adiwisma, kawasan tempat tinggal
golongan atas.
Secara konseptual model teori sector yang dikembangkan oleh Hoyt,
dalam beberapa hal masih menunjukkan persebaran zona-zona konsentris.
Dalam teori sektor ini, terjadi proses penyaringan dari penduduk yang
tinggal pada sektor-sektor yang ada filtering process sendiri hanya berjalan
dengan baik bila private housing market berperan besar dalam proses
pengadaan rumah bagi warga kota, Namun ternyata distribusi umum
bangunan cenderung menunjukkan pola persebaran konsentris (Johnson
dalam Hadi Sabari Yunus, 2010). Teori Hoyt dalam model diagramnya yang
dikemukakan jelas terlihat adanya dua unsur yaitu persebaran penggunaan
lahan secara sektoral dan persebaran penggunaan lahan secara konsentris
di lain pihak.

3.4 TEORI INTI GANDA - MULTIPLE NUCLEUS THEORY (Harris &


Ullman, 1945)
Teori inti ganda adalah teori yang dikemukakan oleh dua orang ahli
geografi yang bernama Harris dan Ullman pada tahun 1945. Mereka berdua
berpendapat bahwa teori konsentris dan sektoral memang terdapat di
perkotaan namun apabila dilihat lebih dalam lagi, maka akan didapati
kenyataan yang lebih kompleks.
Kenyataan yang kompleks ini disebabkan karena dalam sebuah kota
yang berkembang akan tumbuh inti-inti kota yang baru yang sesuai dengan
kegunaan sebuah lahan, misalnya adanya pabrik, universitas, bandara,
stasiun kereta api dan sebagainya. Nah, inti-inti kota tersebut akan
menciptakan suatu pola yang berbeda-beda karena kita tentunya akan tahu
bahwa sebuah tempat yang dibuka (misalnya pabrik), maka di sekitarnya
akan tumbuh pemukiman kos-kosan, perdagangan kecil dan sebagainya
yang tentunya semua ini akan ikut mempengaruhi struktur ruang kota.
Biasanya faktor keuntungan dari segi ekonomilah yang melatarbelakangi
munculnya inti-inti kota ini.
Gambar 6. Struktur kota menurut teori inti ganda (sumber:
Lutfi, 2016)
Ciri-Ciri kota dengan model inti ganda adalah sebagai berikut:
DPK atau CBD letaknya relatif di tengah-tengah sel-sel lainnya dan
berfungsi sebagai salah satu growing points
zona ini menampung sebagian besar kegiatan kota, berupa pusat
fasilitas transportasi dan di dalamnya terdapat distrik spesialisasi
pelayanan
DPK atau CBD berganda (Lebih dari 1 pusat kota)
letak pusat kota tidak berada di tengah dan bentuk kotanya tidak
berbentuk bundar
Gambar 7. Struktur kota menurut teori inti ganda

Menurut R. D. Mc Kenie menerangkan bahwa kota meliputi: pusat


kota, kawasan kegiatan ekonomi, kawasan hunian, dan pusat lainnya. Teori
ini umumnya berlaku untuk kota-kota yang agak besar. Menurut teori ini kota
terdiri atas: (Jayadinata, 1999:132)
a. Pusat kota atau CBD;
b. Kawasan niaga dan industri;
c. Kawasan murbawisma, tempat tinggal berkualitas rendah;
d. Kawasan madyawisma, tempat tinggal berkualitas menengah;
e. Kawasan adiwisma, tempat tinggal berkualitas tinggi;
f. Pusat industri berat;
g. Pusat niaga/perbelanjaan lain di pinggiran;
h. Upakota, untuk kawasan madyawisma dan adiwisma;
i. Upakota (suburb) untuk kawasan industri.

3.5 TEORI LOKASI - Johann Heinrich von Thnen (1783 1850)


Johann Heinrich von Thnen merupakan seorang ekonom yang
menjanjikan pada abad ke-19. Von Thnen adalah seorang tuan tanah asal
Mecklenburg (sebelah utara Jerman) yang merupakan pionir teori
pemanfaatan tanah. Dia telah mengembangkan hubungan antara perbedaan
lokasi pada tata ruang (spatial cation) dan pola penggunaan lahan. Dalam
buku karangannya yang berjudul Der Isolierte Staat in Beziehug suf Land
Wirtshaft (1826) yang kemudian dialihbahasakan oleh Peter Hall menjadi The
Isolated State to Agriculture (1966), beliau mengembangkan rumusan
pertama mengenai teori ekonomi keruangan yang kemudian dihubungkan
dengan teori sewa (rent) (Ridha, 2010).
Von Thnen mengidentifikasi perbedaan lokasi dari berbagai kegiatan
atas dasar perbedaan sewa lahan. Beliau menyatakan bahwa semakin dekat
dengan pusat, maka harga sewa tanah akan semakin mahal, dan semakin
jauh jarak dari pusat, harga sewa tanah akan semakin rendah. Von Thnen
mengembangkan teori ini berdasarkan pengamatan di daerah tempat
tinggalnya, ia menggambarkan bahwa perbedaan ongkos transportasi tiap
komoditas pertanian dari tempat produksi ke pasar terdekat mempengaruhi
jenis penggunaan tanah yang ada di suatu daerah.
Teori ini memperhatikan jarak tempuh antara daerah produksi dan
pasar, pola tersebut memasukkan variable keawetan, berat, dan harga dari
berbagai komoditas pertanian. Model Von Thnen mengenai tanah pertanian
ini dibuat sebelum era industrialisasi. Dalam tori ini terdapat 7 asumsi yang
dikeluarkan oleh Von Thnen dalam uji laboratoriumnya:
a. Terdapat suatu daerah terpencil yang terdiri atas daerah perkotaan
dengan daerah pedalamannya dan merupakan satu-satunya daerah
pemasok kebutuhan pokok yang merupakan komoditi pertanian
isolated stated
b. Daerah perkotaan tersebut merupakan daerah penjualan kelebihan
produksi daerah pedalaman dan tidak menerima penjualan hasil
pertanian dari daerah lain single market
c. Daerah pedalaman tidak menjual kelebihan produksinya ke daerah
lain kecuali ke daerah perkotaan single destination
d. Daerah pedalaman merupakan daerah berciri sama (homogenous)
dan cocok untuk tanaman dan peternakan dalam menengah
e. Daerah pedalaman dihuni oleh petani yang berusaha untuk
memperoleh keuntungan maksimum dan mampu untuk
menyesuaikan hasil tanaman dan peternakannya dengan
permintaan yang terdapat di daerah perkotaan maximum oriented
f. Satu-satunya angkutan yang terdapat pada waktu itu adalah
angkutan darat berupa gerobak yang dihela oleh kuda one moda
transportation
g. Biaya angkutan ditanggung oleh petani dan besarnya sebanding
dengan jarak yang ditempuh. Petani mengangkut semua hasil
dalam bentuk segar. equidistant
Dengan asumsi tersebut maka daerah lokasi berbagai jenis pertanian
akan berkembang dalam bentuk lingkaran tidak beraturan yang mengelilingi
daerah pertanian. Gambar model von Thnen di atas dapat dibagi menjadi
dua bagian. Pertama, menampilkan "isolated area" yang terdiri dari dataran
yang "teratur", kedua adalah, kondisi yang "telah dimodifikasi" (terdapat
sungai yang dapat dilayari). Semua penggunaan tanah pertanian
memaksimalkan produktifitasnya masing-masing, dimana dalam kasus ini
bergantung pada lokasi dari pasar (pusat kota).
Model tersebut membandingkan hubungan antara biaya produksi,
harga pasar dan biaya transportasi. Kewajiban petani adalah
memaksimalkan keuntungan yang didapat dari harga pasar dikurang biaya
transportasi dan biaya produksi. Aktivitas yang paling produktif seperti
berkebun dan produksi susu sapi, atau aktivitas yang memiliki biaya
transportasi tinggi seperti kayu bakar, lokasinya dekat dengan pasar. Dalam
teori von Thnen ini, terdapat beberapa asumsi yang sudah tidak relevan
lagi, diantaranya adalah:
a. Jumlah Pasar. Di daerah pengamatan tidak hanya ada 1 market
centre, tetapi 2 pusat dimana petani dapat menjual komoditinya.
b. Topografis. Kondisi Topografi dan kesuburan tanah tidak selalu
sama, pada dasarnya kondisi ini selalu berbeda untuk tiap-tiap
wilayah pertanian. Jadi untuk hasil pertanian yang akan diperoleh
juga akan berbeda pula.
c. Biaya Transportasi. Keseragaman biaya transportasi ke segala arah
dari pusat kota yang sudah tidak relevan lagi, karena tergantung
dengan jarak pemasaran dan bahan baku, dengan kata lain
tergantung dengan biaya transportasi itu sendiri (baik transportasi
bahan baku dan distribusi barang).
d. Petani tidak semata-mata profit maximization Petani yang berdiam
dekat dengan daerah perkotaan mempunyai alternative komoditas
pertanian yang lebih banyak untuk diusahakan. Sedangkan petani
yang jauh dari perkotaan mempunyai pilihan lebih terbatas.
Inti von Thnen adalah mengenai lokasi dan spesialisasi pertanian,
berdasarkan asumsi-asumsi yang digunakan, yaitu:
a. Wilayah model yang terisolasikan (isolated state) adalah bebas dari
pengaruh pasar-pasar kota-kota lain.
b. Wilayah model membentuk tipe permukiman perkampungan di
mana kebanyakan keluarga petani hidup pada tempat-tempat yang
terpusat dan bukan tersebar di seluruh wilayah.
c. Wilayah model memiliki iklim, tanah, dan topografi yang seragam
atau uniform (produktifitas tanah secara fisik adalah sama).
d. Wilayah model memiliki fasilitas transportasi tradisional yang relatif
seragam.
e. Faktor-faktor alamiah yang mempengaruhi penggunaan lahan
adalah konstan, maka dapat dianalisis bahwa sewa lahan
merupakan hasil persaingan antara jenis penggunaan lahan.
Von Thnen (1826) hanya menambah kekurangan teori sewa tanah
David Ricardo yaitu mengenai jarak tanah dari pasar. Hal ini setelah dikaji
ternyata beda, karena semakin jauh dari pasar semakin mahal biaya
transportasinya. Ada beberapa hal yang mempengaruhi sewa tanah:
a. Kualitas tanah yang disebabkan oleh kesuburan tanah, pengairan,
adanya fasilitas listrik, jalan dan sarana lainnya;
b. Letaknya strategis untuk perusahaan/industri; dan
c. Banyaknya permintaan tanah yang ditujukan untuk pabrik,
bangunan rumah, dan perkebunan.
Von Thnen juga mengidentifikasi tentang perbedaan lokasi dari
berbagai kegiatan pertanian atas dasar perbedaan sewa lahan
(pertimbangan ekonomi). Menurut Von Thnen tingkat sewa lahan adalah
paling mahal di pusat pasar dan makin rendah apabila makin jauh dari pasar.
Von Thnen menentukan hubungan sewa lahan dengan jarak ke pasar
dengan menggunakan kurva permintaan. Berdasarkan perbandingan (selisih)
antara harga jual dengan biaya produksi, masing-masing jenis produksi
memiliki kemampuan yang berbeda untuk membayar sewa lahan. Makin
tinggi kemampuannya untuk membayar sewa lahan, makin besar
kemungkinan kegiatan itu berlokasi dekat ke pusat pasar. Dalam model
tersebut, Von Thnen membuat asumsi sebagai berikut: wilayah analisis
bersifat terisolir sehingga tidak terdapat pengaruh pasar dari kota lain;
a. Tipe permukiman adalah padat di pusat wilayah dan semakin
kurang padat apabila menjauh dari pusat wilayah;
b. Seluruh wilayah model memiliki iklim, tanah dan topografi yang
seragam;
c. Fasilitas pengangkutan adalah primitif (sesuai dengan zaman-nya)
dan relatif seragam. Ongkos ditentukan oleh berat barang yang
dibawa; dan
d. Kecuali perbedaan jarak ke pasar semua faktor alamiah yang
mempengaruhi penggunaan tanah adalah seragam dan konstan.
Dalam menjelaskan teorinya ini, von Thnen menggunakan tanah
pertanian sebagai contoh kasusnya. Dia menggambarkan bahwa perbedaan
ongkos transportasi tiap komoditas pertanian dari tempat produksi ke pasar
terdekat mempengaruhi jenis penggunaan tanah yang ada di suatu daerah.
Model von Thnen mengenai tanah pertanian ini, dibuat sebelum era
industrialisasi, yang memiliki asumsi dasar sebagai berikut: Kota terletak di
tengah antara "daerah terisolasi" (isolated state), isolated state dikelilingi
oleh hutan belantara, tanahnya datar tidak terdapat sungai dan
pegunungan, dan kualitas tanah dan iklim tetap. Petani di daerah yang
terisolasi ini membawa barangnya ke pasar lewat darat dengan
menggunakan gerobak, langsung menuju ke pusat kota.

Gambar 8. Gambar model von Thnen


Gambar model von Thnen di atas dapat dibagi menjadi dua bagian.
Pertama, menampilkan "isolated area" yang terdiri dari dataran yang
"teratur", kedua adalah, kondisi yang "telah dimodifikasi" (terdapat sungai
yang dapat dilayari). Semua penggunaan tanah pertanian memaksimalkan
produktifitasnya masing-masing, dimana dalam kasus ini bergantung pada
lokasi dari pasar (pusat kota). Membandingkan hubungan antara biaya
produksi, harga pasar dan biaya transportasi. Kewajiban petani adalah
memaksimalkan keuntungan yang didapat dari harga pasar dikurang biaya
transportasi dan biaya produksi. Aktivitas yang paling produktif seperti
berkebun dan produksi susu sapi, atau aktivitas yang memiliki biaya
transportasi tinggi seperti kayu bakar, lokasinya dekat dengan pasar. Tentu
saja hubungan di atas sangat sulit diterapkan pada keadaan yang
sebenarnya. Tetapi bagaimanapun kita mengakui bahwa terdapat hubungan
yang kuat antara sistem transportasi dengan pola penggunaan tanah
pertanian regional.
Von Thnen (1826) mengidentifikasi tentang perbedaan lokasi dari
berbagai kegiatan pertanian atas dasar perbedaan sewa lahan
(pertimbangan ekonomi). Menurut Von Thnen tingkat sewa lahan adalah
paling mahal di pusat pasar dan makin rendah apabila makin jauh dari pasar.
Von Thnen menentukan hubungan sewa lahan dengan jarak ke pasar
dengan menggunakan kurva permintaan. Berdasarkan perbandingan (selisih)
antara harga jual dengan biaya produksi, masing-masing jenis produksi
memiliki kemampuan yang berbeda untuk membayar sewa lahan. Makin
tinggi kemampuannya untuk membayar sewa lahan, makin besar
kemungkinan kegiatan itu berlokasi dekat ke pusat pasar. Hasilnya adalah
suatu pola penggunaan lahan berupa diagram cincin. Perkembangan dari
teori Von Thnen adalah selain harga lahan tinggi di pusat kota dan akan
makin menurun apabila makin jauh dari pusat kota.

3.6 TEORI WEBER - Theory of Location of Industries (Friedrich CJ,


1929)
Alfred Weber, ekonom Jerman yang mengajar di Universitas Praha
pada tahun 1904 hingga 1907 dan kemudian di Universitas Heidelberg
(Jerman) pada 1907 1933, menulis buku berjudul Uber den Standort der
Industrien (1909) yang kemudian dialihbahasakan oleh J.C. Friedrich menjadi
Alfred Webers Theory of Location of Industries (1929). Beliau merupakan
pelopor pengembangan rumusan mengenai teori lokasi dengan pendekatan
kegiatan industri pengolahan (manufacturing).
Weber mencetuskan teori yang berkaitan dengan least cost location,
yang menyebutkan bahwa lokasi industri sebaiknya diletakkan di tempat
yang memiliki biaya yang paling minimal, yaitu tempat dimana total biaya
transportasi dan tenaga kerja minimum, yang cenderung identik dengan
tingkat keuntungan yang maksimum.
Prinsip teori Weber adalah bahwa penentuan lokasi industri
ditempatkan di tempat-tempat yang resiko biaya atau biayanya paling
murah atau minimal (least cost location). Prinsip tersebut didasarkan pada
enam asumsi bersifat prakondisi, yaitu:
a. Wilayah bersifat homogen dalam hal topografi, iklim dan
penduduknya (keadaan penduduk yang dimaksud menyangkut
jumlah dan kualitas SDM)
b. Ketersediaan sumber daya bahan mentah.
c. Upah tenaga kerja.
d. Biaya pengangkutan bahan mentah ke lokasi pabrik (biaya sangat
ditentukan oleh bobot bahan mentah dan lokasi bahan mentah)
e. Persaingan antarkegiatan industri.
f. Manusia berpikir secara rasional.
Weber juga menyusun sebuah model yang dikenal dengan istilah segitiga
lokasional (locational triangle), yang didasarkan pada asumsi:
a. Bahwa daerah yang menjadi objek penelitian adalah daerah yang
terisolasi. Konsumennya terpusat pada pusat-pusat tertentu. Semua
unit perusahaan dapat memasuki pasar yang tidak terbatas dan
persaingan sempurna.
b. Semua sumber daya alam tersedia secara tidak terbatas.
c. Barang-barang lainnya seperti minyak bumi dan mineral adalah
sporadis tersedia secara terbatas pada sejumlah tempat.
d. Tenaga kerja tidak tersedia secara luas, ada yang menetap tetapi
ada juga yang mobilitasnya tinggi.
Weber berpendapat bahwa dalam menentukan lokasi industri, terdapat tiga
faktor penentu, yaitu biaya transportasi, upah tenaga kerja, dan dampak
aglomerasi dan de-aglomerasi. Biaya transportasi diasumsikan berbanding
lurus terhadap jarak yang ditempuh dan berat barang, sehingga titik
terendah biaya transportasi menunjukkan biaya minimum untuk angkutan
bahan baku dan distribusi hasil produksi. Biaya transportasi dipengaruhi oleh
berat lokasional, yaitu berat total semua barang berupa input yang harus
diangkut ke tempat produksi untuk menghasilkan satu satuan output
ditambah berat output yang akan dibawa ke pasar. Berat total itu terdiri dari
satu satuan produk akhir ditambah semua berat input yang harus diangkut
ke lokasi pabrik seperti bahan mentah yang diperlukan untuk menghasilkan
satu satuan output. Dalam model ini, tujuannya adalah meminimalkan biaya
transportasi sebagai fungsi dari jarak dan berat barang yang harus diangkut
(input dan output).
Weber mengembangkan konsep tiga arah yang dikenal dengan teori segitiga
lokasi (locational triangle) seperti gambar berikut, yang kemudian
dirumuskan secara matematis dengan sebuah persamaan.

T(k) = q [(k1 a1 n1) + (k2 a2 n2) +


m k3]
T(k) = biaya angkut minimum
M = sumber bahan baku
C = pasar
K = lokasi optimal industri
q = output (hasil produksi)
k = jarak dari sumber bahan baku
dan pasar
a = koefisien input
n = biaya angkut bahan baku
m = biaya angkut hasil produksi
Weber menyimpulkan bahwa lokasi optimal dari suatu perusahaan industri
umumnya terletak di dekat pasar atau sumber bahan baku. Alasannya
adalah jika suatu perusahaan industri memilih lokasi pada salah satu dari
kedua tempat tersebut, maka ongkos angkut untuk bahan baku dan hasil
produksi akan dapat diminimalkan dan keuntungan aglomerasi yang
ditimbulkan dari adanya konsentrasi perusahaan pada suatu lokasi akan
dapat pula dimanfaatkan semaksimal mungkin.

Berdasarkan pertimbangan segitiga lokasi di atas, dihasilkan tempat dengan


biaya transportasi minimal (minimum transportation cost) dengan titik-titik
peng-hubung satu sama lain. Gambar (a) terjadi saat berat bahan baku sama
dengan berat barang jadi, sehingga biaya transportasi minimal saat lokasi
optimal berada di tengah, di mana nilai IM sama dengan 1. Gambar (b)
terjadi saat berat bahan baku lebih besar dari berat barang jadi, sehingga
lokasi optimal berada mendekati sumber bahan baku karena biaya
transportasi bahan baku lebih mahal, di mana nilai IM lebih besar dari 1.
Gambar (c) terjadi saat berat bahan baku lebih kecil dari berat barang jadi,
sehingga lokasi optimal berada mendekati pasar karena biaya transportasi
bahan baku lebih murah, di mana nilai IM kurang dari 1.
Weber mengemukakan teori lokasi industri dengan prinsip penentuan lokasi
industri ditempatkan di tempat-tempat yang resiko biaya atau biayanya
paling murah atau minimal (least cost location). Pada konsepnya berupa
segitiga lokasional, Weber menunjukkan bahwa fungsi tujuan adalah
meminimalkan biaya transportasi sebagai fungsi dari jarak dan berat barang
yang harus diangkut (input dan output). Jika muncul kondisi di mana pada
proses produksi menimbulkan penyusutan berat barang (weight loosing
process), lokasi optimal akan berada pada sumber bahan baku, sedangkan
jika muncul kondisi di mana pada proses produksi menimbulkan peningkatan
berat barang (weight gainning process), lokasi optimal akan berada di dekat
pasar. Sehingga menurut Weber, penentuan lokasi industri optimal adalah
dengan melihat letak sumber bahan baku dan pasar dalam upaya menekan
biaya transportasi dengan mempertimbangkan berat bahan baku dan berat
barang jadi, dengan tiga variable penentu, yaitu titik material (bahan baku),
titik konsumsi (pasar), dan titik tenaga kerja.
Faktor Penentu Lokasi Industri
Beberapa faktor yang harus dipertimbangkan dalam menentukan lokasi
industri, diantaranya sebagai berikut:
a. Bahan Mentah
Bahan mentah merupakan kebutuhan pokok yang harus dipenuhi
dalam kegiatan industri, sehingga keberadaannya harus selalu
tersedia dalam jumlah yang besar demi kelancaran dan
keberlanjutan proses produksi. Apabila bahan mentah yang
dibutuhkan industri, cadangannya cukup besar dan banyak
ditemukan maka akan mempermudah dan memperbanyak pilihan
atau alternatif penempatan lokasi industri. Apabila bahan mentah
yang dibutuhkan industri cadangannya terbatas dan hanya
ditemukan di tempat tertentu saja maka akan menyebabkan biaya
operasional semakin tinggi dan pilihan untuk penempatan lokasi
industri semakin terbatas.
b. Modal
Modal yang digunakan dalam peoses produksi merupakan hal yang
sangat penting. Hal ini kaitannya dengan jumlah produk yang akan
dihasilkan, pengadaan bahan mentah, tenaga kerja yang
dibutuhkan, teknologi yang akan digunakan, dan luasnya sistem
pemasaran.
c. Tenaga Kerja
Tenaga kerja merupakan tulang punggung dalam menjaga
kelancaran proses produksi, baik jumlah maupun keahliannya.
Adakalanya suatu industri membutuhkan tenaga kerja yang banyak,
walaupun kurang berpendidikan. Tetapi, ada pula industri yang
hanya membutuhkan tenaga-tenaga kerja yang berpendidikan dan
terampil. Dengan demikian, penempatan lokasi industri berdasarkan
tenaga kerja sangat tergantung pada jenis dan karakteristik
kegiatan industrinya.
d. Sumber Energi
Kegiatan industri sangat membutuhkan energi untuk menggerakkan
mesin- mesin produksi, misalnya: kayu bakar, batubara, listrik,
minyak bumi, gas alam, dan tenaga atom/nuklir. Suatu industri yang
banyak membutuhkan energi, umumnya mendekati tempat-tempat
yang menjadi sumber energi tersebut.
e. Transportasi
Kegiatan industri harus ditunjang oleh kemudahan sarana
transportasi dan perhubungan. Hal ini untuk melancarkan pasokan
bahan baku dan menjamin distribusi pemasaran produk yang
dihasilkan.
f. Pasar
Pasar sebagai komponen yang sangat penting dalam
mempertimbangkan lokasi industri, sebab pasar sebagai sarana
untuk memasarkan atau menjual produk yang dihasilkan. Lokasi
suatu industri diusahakan sedekat mungkin menjangkau konsumen,
agar hasil produksi mudah dipasarkan.
g. Teknologi yang digunakan
Penggunaan teknologi yang kurang tepat dapat menghambat
jalannya suatu kegiatan industri. Penggunaan teknologi yang
disarankan untuk pengembangan industri pada masa mendatang
adalah industri yang: memiliki tingkat pencemaran (air, udara, dan
kebisingan) yang rendah, hemat air, hemat bahan baku, dan
memiliki nilai ekonomis yang tinggi.
h. Perangkat Hukum
Perangkat hukum dalam bentuk peraturan dan perundang-
undangan sangat penting demi menjamin kepastian berusaha dan
kelangsungan industri, antara lain tata ruang, fungsi wilayah, upah
minimum regional (UMR), perizinan, sistem perpajakan, dan
keamanan. Termasuk jaminan keamanan dan hokum penggunaan
bahan baku, proses produksi, dan pemasaran.
i. Kondisi Lingkungan
Faktor lingkungan yang dimaksud ialah segala sesuatu yang ada di
sekitarnya yang dapat menunjang kelancaran produksi. Suatu lokasi
industri yang kurang mendukung, seperti keamanan dan ketertiban,
jarak ke pemukiman, struktur batuan yang tidak stabil, iklim yang
kurang cocok, terbatasnya sumber air, dan lain-lain, hal ini dapat
menghambat keberlangsungan kegiatan industri.

3.7 TEORI AUGUST LOSCH (1945)


Pada tahun 1945, August Lost memperkuat teori Christaller, mereka
berkesimpulan bahwa cara yang baik untuk menyediakan pelayanan
berdasarkan apek keruangan kepada penduduk. Jadi lokasi kegiatan yang
melayani kebutuhan penduduk itu harus ada pada tempat yang sentral
(yang memungkinkan partisipasi warga yang jumlahnya maksimum). Tempat
yang semacam itu oleh Christaller dan Losch diasumsikan sebagai titik
simpul-simpul dari suatu bentuk geometrik yang heksagonal. Tempat-tempat
semacam itu memiliki kawasan pengaruh terhadap daerah sekitarnya.
Hubungan antara lokasi tempat-tempat yang sentral dengan tempat yang
sentral di sekitarnya membentuk hierarki jaringan seperti sarang lebah.
Teori ini pertama kali dikemukakan oleh August Losch tahun 1954,
yang mendasarkan analisis pemilihan lokasi optimal pada luas pasar yang
dapat dikuasai dan kompetisi antar tempat. Menurut Sjafrizal (2008),
berdasarkan pandangan ini, sebuah perusahaan akan memilih suatu tempat
sebagai lokasi yang optimal berdasarkan kekuatan persaingan antar tempat
dan luas pasar yang dapat dikuasainya. Dengan demikian terlihat bahwa
permintaan dan penawaran antar tempat merupakan unsur penting dalam
menentukan lokasi optimal dari suatu kegiatan perusahaan. Asumsi dasar
Teori Market Area ini adalah: (a) Konsumen tersebar secara relative merata
antar tempat, artinya teori ini cocok diberlakukan di daerah perkotaan
dimana konsentrasi penduduk dan industry relative merata dibandingkan
dengan daerah perdesaan atau pedalaman. (b) Produk homogeny, sehingga
persaingan akan sangat ditentukan oleh harga dan ongkos angkut. (c)
Ongkos angkut per kesatuan jarak (ton/km) adalah sama (No Economies of
Long Haul). (d) Konsumen bersifat rasional, yaitu melakukan pembelian pada
lokasi pasar yang dekat dengan tempat tinggal. (Sjarfizal: 2008). Selanjutnya
Sjafrizal (2008) mengatakan bahwa kondisi stabil dan diinginkan adalah
kondisi keseimbangan (equilibrium) yang dapat memuaskan pihak yang
berkepentingan, yaitu produsen dan konsumen. Kondisi keseimbangan ini
dapat berbeda baik dari sudut pandang pedagang atau pengusaha atau dari
sudut pandang masyarakat umum.
August Losch mengatakan bahwa lokasi penjual berpengaruh
terhadap jumlah konsumen yang dapat dijaringnya. Makin jauh dari pasar,
konsumen enggan membeli karena biaya transportasi (semakin jauh tempat
penjualan) semakin mahal. Produsen harus memilih lokasi yang
menghasilkan penjualan terbesar. Losch menyarankan lokasi produksi
ditempatkan di dekat pasar (Centre Business District). Maka dari itu
produsen harus memilih lokasi yang dapat menghasilkan keuntungan
maksimum. August Losch merupakan orang pertama yang mengembangkan
teori lokasi dengan segi permintaan sebagai variabel utamanya. Teori ini
bertujuan untuk menemukan pola lokasi industri sehingga tercipta
keseimbangan spasial antar lokasi.
Menurut Losch, permintaan (demand) menjadi salah satu faktor
penting dalam penentuan lokasi industri. Lokasi industri seharusnya
mempertimbangkan jumlah permintaan yang ada dalam suatu wilayah.
Lokasi industri yang berdekatan dengan jumlah permintaan yang tinggi
selain dapat menambah profit juga dapat mengurangi biaya distribusi
barang. Economic landscape akan terjadi apabila terjadi keseimbangan
(equilibrium) antara supply dan demand tersebut.
Untuk mencapai keseimbangan, ekonomi ruang Losch harus
memenuhi beberapa syarat sebagai berikut:

a. Setiap lokasi industri harus


menjamin keuntungan
maksimum bagi penjual
maupun pembeli.
b. Terdapat cukup banyak usaha
pertanian dengan penyebaran
cukup merata sehingga seluruh
permintaan yang ada dapat
dilayani.
c. Terdapat free entry dan tak ada
petani yang memperoleh
super-normal profit sehingga
tak ada rangsangan bagi petani
dari luar untuk masuk dan
menjual barang yang sama di
daerah tersebut.
d. Daerah penawaran adalah
sedemikian hingga
memungkinkan petani yang
ada untuk mencapai besar
optimum, dan
e. Konsumen bersikap indifferent
terhadap penjual manapun dan
satu-satunya pertimbangan
untuk membeli adalah harga
yang rendah.
Menurut Losch, munculnya daerah pasar di sekeliling setiap tempat
sentral juga dipengaruhi oleh adanya jaringan daerah-daerah pasar untuk
setiap kelompok barang. Jaringan-jaringan ini terletak secara sistematis di
dalam wilayah-wilayah ekonomi yang terbagi di seluruh dunia menurut
hukum tertentu.
Lebih jauh dari pusat kota adalah hunian yang lebih luas, ditempati
oleh kelompok-kelompok kelas menengah. Terakhir adalah zona komuter
yang terletak di luar area built up kota, batas terluarnya merupakan satu jam
perjalanan dari pusat kota, dimana sejumlah besar populasi zona ini bekerja.
Pada praktiknya, banyak kota-kota menunjukkan sebuah bentuk bintang
(star-shaped) daripada konsentris, dengan perkembangan urban didorong
untuk terjadi di sepanjang highway (jalan tol) yang menyebar dari pusat
kotanya dan tipe berlawanan atau pemanfaatan lahan urban yang ditemukan
diantara jalan-jalan utama. Teori ini juga telah dimodifikasi oleh pernyataan
bahwa wilayah urban yang identik tidak diharapkan berada dalam zona
konsentris, tapi jenis tipe pemanfaatan lahan tersebut cenderung terjadi
pada jarak yang sama dari pusat, seringkali dalam bentuk tambal sulam
(patches) daripada membentuk ring yang kontinyu Kota Multi-Pusat.
Teori konsentris dan teori sektor memiliki kelebihan dalam
kesederhanaannya yang atraktif, tapi situasi dalam kebanyakan kota
mungkin terlalu rumit untuk dicakup dalam sebuah generalisasi yang mudah
dipahami. Sebagai akibatnya, teori-teori tersebut telah dirancang dengan
rumit, memberikan hasil yang lebih mirip dengan realitas, tapi pada waktu
yang sama menjadi kurang jelas daripada pernyataan sebelumnya. Salah
satu contoh dari perancangan ini adalah Teori Multi Nuclei, yang
dikembangkan oleh dua ahli geografi, C.D Harris dan E. Ullman, di tahun
1945. Teori ini menyatakan bahwa kota-kota memiliki struktur seluler,
dimana tipe pemanfaatan lahan telah dikembangkan di sekeliling titik
pertumbuhan tertentu, atau nuclei, di dalam area urban. Pengelompokan
pemanfaatan lahan khusus di sekeliling nuclei ini telah didorong oleh empat
faktor, yang mempengaruhi distribusi aktivitas-aktivitas manusia di dalam
sebuah kota dalam berbagai cara. Untuk memulainya, aktivitas-aktivitas
tertentu membutuhkan fasilitas-fasilitas tertentu pula, baik yang ditemukan
secara alami atau dibuktikan di kemudian hari oleh usaha manusia. Lokasi
Central Business District pada titik aksesibilitas maksimal memberikan
sebuah ilustrasi faktor ini. Atau sekali lagi, aktivitas-aktivitas tertentu
mengelompok bersama karena mereka mendapatkan profit dari kohesi,
sebuah contoh mengelompokkan industri pakaian jadi dalam distrik dalam
(inner district) di beberapa kota besar. Aktivitas-aktivitas lain saling
mengganggu satu sama lain dan normalnya tidak ditemukan dalam
penyejajaran yang dekat: sebagai contoh, industri berat dan area residential
kelas-atas jarang ditempatkan saling berdekatan.

3.8 TEORI KUTUB PERTUMBUHAN PERROUX (1955)


Teori Kutub Pertumbuhan (Growth Pole Theory) Teori ini dicetuskan
oleh ahli ekonomi kelahiran Perancis bernama Francois Perroux (1903-1987),
yang dikenal juga sebagai penganut aliran ekonomi keseimbangan umum.
Kutub pertumbuhan didefinisikan sebagai suatu gugus industri yang mampu
membangkitkan pertumbuhan ekonomi yang dinamis dalam suatu sistem
ekonomi tertentu, mempunyai kaitan yang kuat melalui hubungan input
output di sekitar leading industry (propulsive industry atau industrial matrix).
Gugus ini mempunyai sifat saling keterkaitan antar sektor yang tumbuh
dengan cepat dibanding bagian ekonomi lainnya, karena mampu
menerapkan teknologi yang maju dan tingginya laju tingkat inovasi serta
tingginya elastisitas pendapatan terhadap permintaan produk yang
dihasilkannya. Kemudian produk ini dijual ke pasar nasional secara luas dan
mempunyai mutiplier effect terhadap segmen ekonomi lainnya. Industri-
industri yang dominan dan propulsif terdapat di kota-kota kutub
pertumbuhan wilayah. Konsentrasi dan saling berkaitan merupakan dua
faktor penting dalam setiap pusat pengembangan karena melalui
faktorfaktor tersebut akan dapat diciptakan berbagai bentuk aglomerasi
ekonomi yang dapat menunjang pertumbuhan industri yang bersangkutan
melalui penurunan ongkos produksi. Keuntungan aglomerasi yang
merupakan kekuatan utama pengembangan wilayah dapat berupa scale
economies, localization economies, atau urbanization economies.
Teori Kutub Pertumbuhan merupakan teori yang menjadi dasar dalam
strategi dan kebijaksanaan pembangunan industri daerah yang banyak
dijalankan di berbagai negara. Pada awalnya, konsep ini dianggap penting
karena memberikan kerangka rekonsialiasi antara pembangunan ekonomi
regional di wilayah pusat (kota) dan hinterland-nya Tetapi dalam praktek
tidak seperti yang diharapkan karena wilayah pusat dampak tetesan (trickle
down effect) kepada wilayah hinterlandnya ternyata jauh lebih kecil dari
pada dampak polarisasi (backwash effect) sehingga pengurasan sumberdaya
hinterland oleh pusat menjad sangat menonjol.
Beberapa pernyataan Perroux mengenai Teori Pusat Pertumbuhan (Growth
Pole) antara lain:
a. Pembangunan atau pertumbuhan tidak terjadi di segala tata-ruang,
akan tetapi hanya terbatas pada beberapa tempat tertentu dengan
variablevariabel yang berbeda intensitasnya.
b. Salah satu cara untuk menggalakkan kegiatan pembangunan dari
suatu daerah tertentu melalui pemanfaatan Agglomeration
economies sebagai faktor pendorong utama.
c. Pusat Pertumbuhan merupakan teori yang menjadi dasar dari
strategi kebijaksanaan pembangunan wilayah melalui industri
daerah Tata ruang: sebagai suatu arena (medan) kekuatan di
dalamnya terdapat kutub-kutub atau pusat-pusat. Setiap kutub
mempunyai kekuatan pancaran pengembangan keluar dan
kekuatan tarikan kedalam.
Growth Pole dapat diartikan dengan 2 cara, yaitu:
a. Secara Fungsional
Adalah: suatu lokasi konsentrasi kelompok usaha atau cabang
industry yang sifat hubungannya memiliki unsur-unsur kedinamisan
sehingga mampu menstimulasi kehidupan ekonomi baik kedalam
maupun keluar (daerah belakangnya).
b. Secara Geografis
Suatu lokasi yang banyak memiliki fasilitas dan kemudahan
sehingga menjadi pusat daya tarik (pole of attraction) yang
menyebabkan berbagai macam usaha tertarik untuk berlokasi
disitu dan masyarakat senang datang memanfaatkan fasilitas yang
ada di kota.
Inti teori Perroux
a. Dalam proses pembangunan akan timbul industri unggulan yang
merupakan industri penggerak utama dalam pembangunan suatu
daerah. Keterkaitan industri sangat erat, maka perkembangan
industri unggulan akan mempengaruhi perkembangan industri lain
yang berhubungan dengan industri unggulan.
b. Pemusatan industri pada satu daerah akan mempercepat
pertumbuhan perekonomian karena akan menciptakan pola
konsumsi yang berbeda antar daerah.
d. Perekonomian merupakan gabungan dari system industri yang
relative aktif (unggulan) dengan industri yang relative pasip atau
industri yang tergantung industri unggulan.
e. Teori Perroux Berlandaskan pada Teori Shcumpeter Peran
Inovasi (Kewiraswastaan)
f. Teori Perroux berdasarkan pada teori inovasi dan perusahaan
berskala besar. Ekspansi regional adalah interaksi antara industri-
industri pendorong yang merupakan pusat nadi dari kutub
pertumbuhan.

3.9 TEORI LOKASI PERTUMBUHAN


Teori lokasi merupakan cabang ilmu ekonomi regional paling tua yang
dikembangkan sejak abad kesembilan belas (H.W. Richardson, 1979). Teori
ini diilhami oleh pertanyaan Weber (1929), yaitu orang yang pertama kali
mengajukan pertanyaan mengapa pabrik-pabrik cenderung berlokasi saling
berdekatan. Teori lokasi adalah teori yang menjelaskan di mana dan
bagaimana suatu aktivitas ekonomi memilih lokasinya secara optimal.
Jawaban terhadap pertanyaan tersebut adalah penting bagi para pengambil
keputusan publik, perencana-perencana lembaga perdagangan eceran (yang
ingin membuat pilihan lokasi yang tepat) maupun pengembangan komunitas
serta real estate, yang berharap untuk dapat menarik bisnis ke kawasan-
kawasan mereka (Soepono, 1999). Dengan demikian lokasi perusahaan-
perusahaan atau kegiatan ekonomi memerankan peranan penting bagi lokasi
daerah/kota-kota. Keputusan-keputusan lokasi perusahaan-perusahaan dan
aktivitas ekonomi seharusnya menyebabkan timbul dan berkembangnya
kota-kota dan daerah-daerah.
Pemilihan lokasi aktivitas ekonomi dipengaruhi oleh faktor-faktor
lokasi. Faktor-faktor lokasi adalah faktor yang mempengaruhi keputusan
lokasi suatu aktivitas ekonomi, seperti aktivitas produksi atau aktivitas
pemberian jasa. Setiap organisasi dari aktivitas ekonomi dipengaruhi oleh
faktor-faktor lokasi. Dengan kata lain, faktor-faktor lokasi adalah variabel-
variabel yang mempengaruhi keputusan lokasi (Soepono, 1999).
Faktor-faktor lokasi menurut Soepono (1999), dapat dikelompokkan
menjadi dua orientasi yaitu, pertama, orientasi transportasi, yang dimaksud
dengan orientasi transportasi adalah bahwa transportasi merupakan porsi
terbesar dari biaya total dari organisasi suatu aktivitas ekonomi, sehingga
menjadi penentu keputusan lokasi. Faktor-faktor lokasi yang berorientasi
transportasi antara lain; faktor transportasi, faktor sumber daya, faktor
pasar, dan faktor tenaga kerja. Kedua, orientasi masukan lokal, yang
dimaksud dengan orientasi masukan lokal adalah bahwa masukan lokal
itulah yang merupakan persentase terbesar dari biaya total dan disebut ke
lokasi lain. Faktor-faktor lokasi yang berorientasi masukan lokal antara lain;
faktor energi, faktor kenyamanan (mutu hidup, kualitas hidup atau gaya
hidup), faktor aglomerasi, pelayanan publik setempat, pajak, insentif
pemerintah (pusat dan daerah), iklim bisnis setempat, site costs (harga
tanah dna gedung, fasilitas perkantoran dan gedung), dan stabilitas atau
iklim politik.

DAFTAR PUSTAKA

_______. 2001. White Paper on Spatial Planning and Land Use Management.
Ministry of Agriculture and Land Affairs
Adisasmita, R. 2008. Pengembangan Wilayah: Konsep dan Teori. Yogyakarta:
Graha Ilmu
Akil S, _____. Pengembangan Wilayah Dan Penataan Ruang di Indonesia:
Tinjauan Teoritis Dan Praktis. Direktur Jenderal Penataan Ruang
Departemen Permukiman dan Prasarana Wilayah.
http://geografi.ums.ac.id/ebook/perenc_kota/sumber/PaperUNHAS-
KAPET.pdf
Albrechts L. 2010. In Pursuit of New Approaches to Strategic Spatial Planning.
A European Perspective. International Planning Studies. Pages 293-310
Bourne, M.C., 1982, Food Texture and Viscosity, Academic Press Inc., New
York
Budiharsono S, 2013. Perkembangan Dan Pengertian Ekonomi Wilayah,
Ruang Dan Wilayah Dan Teori Lokasi. Program Magister Ilmu
Administrasi. Sekolah Tinggi Ilmu Administrasi. Lembaga Administrasi
Negara (STIA-LAN)
Buhalis, D., 1998, Strategic use of information technologies in the tourism
industry, Tourism Management, Vol.19(5), pp.409-421.
Chapin, F. Stuart Jr. 1997. Urban Land Use Planning, Chicago: Third Edition
University of Illinois Press.
Chapin, F. Suart. Jr, and Kaiser, Edward J, 1979. Urban Land Use Planning.3rd,
Urbana, University Of Illois Press.
Cullingworth, J. B., & Nadin, V. (2006). Town and country planning in the UK.
London: Routledge, Taylor & Francis Group.
Cooper, et. al. 2005. Tourism Principle and Practice, 3nd ed. Prentice Hall,
New York.
Darin-Drabkin, H. 1985. Land Policy and Urban Growth. Oxford: Pergamon
Press
Davidson, R., and Maitland, R., 1997. Tourism Destination, Hodder and
Stoughton, London. Pearce, Douglas, 1989, Tourism Development,
Longman Group, New York
Djojodipuro, Marsudi. 1992. Teori Lokasi. Jakarta: Lembaga Penerbit Fakultas
Ekonomi Universitas Indonesia.
Egan, Edmund A.(1993). Theories of Labor and Industrial Location. Berkeley
Planning Journal, 8(1). ucb_crp_bpj_13088.:
http://escholarship.org/uc/item/0r257599
European Conference of Ministers Respons. 1983. European regional/spatial
planning charter. Torremolinos charter adopted on 20 May 1983 at
Torremolinos (Spain). Published 1983 by Council of Europe in Strasbourg
England. diakses melalui http://escholarship.org/uc/item/0r257599#
Friedrich CJ, 1929. Alfred Weber's Theory of The Location of Industries.
Northeastern University Library, Boston, Massachusetts. The university
of Chicago Press. Chicago, Illinois. Diakses melalui
http://www.economia.unam.mx/cedrus/descargas/Libro%20de
%20Weber.pdf
Hadi, Ridha. 2010. Dasar-dasar Teori Von Thnen, dalam blogspot.
http://ridha-planologi.blogspot.com. Diunduh Jumat, 7 September 2012.
Hall, Michael, C., 2000. Tourism Planning: Policies, Processes and
Relationship, Pearson Education. Ltd., UK. p. 10
Hoyt, H. 1939: The structure and growth of residential neighborhoods in
American cities. Washington, DC: Federal Housing Administration
Inskeep, Edward, 1991. Tourism Planning: An Integrated and Sustainable
Tourism Development Approach, Van Norstrand Reinhold, New York,
USA.
Jayadinata, T. Johara (1999). Tata Guna Tanah dalam Perencanaan Pedesaan
Perkotaan dan Wilayah. Institut Teknologi Bandung.
Jones MT, Williams RH. 2001. The European Dimension of British Planning.
Spon Press. 11 New Fetter Lane. London. Imprint of taylor & Francis
Group
Lean, W., & Goodall, B. (1966). Aspects of land economics. Bath: Pitman
Press
Lichfield, N. (1980). An International Perspective on Land. Built Environment
(1978-), 6(4), 259-262. Retrieved from
http://www.jstor.org/stable/23284723
Lloyd P., Dicken P. 1977: Location in space: a theoretical approach second
edition. London: Harper and Row
Leiper, N, 1995. Tourism Management, Collingwood, Victoria: RMIT
Lutfi, Muhammad, 2016. Kajian Terhadap Teori Tata Ruang Kota. Pendidikan
ilmu pengetahuan sosial. Fakultas ilmu sosial. Universitas Negeri
Semarang. http://bintangmimpisenjaku.blogspot.co.id/2016/10/kajian-
teori-tata-ruang-kota.html
Marangkup H P R, Ulin M E S, 2006. Identifikasi Pola Pengembangan Daerah
Pinggiran Dan Pola Jaringan Jalan Kota Semarang. Jurusan Teknik Sipil.
Fakultas Teknik. Universitas Diponegoro Semarang
Murphy, P.E. 1985. Tourism A Community Approach. London and New York:
Longman
Pierce, J. T. (1981), CONVERSION OF RURAL LAND TO URBAN: A CANADIAN
PROFILE. The Professional Geographer, 33: 163173. doi:10.1111/j.0033-
0124.1981.00163.x
Richardson, H. W. (1979). Spatial Interaction Theory and Planning Models. by
Anders Karlqvist; Lars Lundqvist; FolkeSnickars; Jrgen W. Weibull. Book
Review. Journal of Economic Literature, Vol. 17, No. 2 (Jun., 1979), pp.
603-605.
Setiadi H. 2009. KONSEP PUSAT PINGGIRAN: SEBUAH TINJAUAN TEORITIS.
Working Paper on Regional Development Studies. Departemen Geografi
Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Indonesia
Setiyanto A, Irawan B, 2015. Pembangunan Pertanian Berbasis Ekoregion.
Indonesian Agency For Agricultural Research And Development (Iaard)
Press. diakses melalui
http://www.litbang.pertanian.go.id/buku/ekoregion/
Sjafrizal. 2008. Ekonomi Regional: Teori dan Aplikasi. Penerbit Baduose.
Media. Jakarta
Soegino, 1987, Dampak Perubahan Bentuk Lahan Pertanian menjadi Lahan
Non Pertanian terhadap Kegiatan Sosial Ekonomi Masyarakat di Wilayah
Kecamatan Gedangan Kabupaten Sidoarjo, Skripsi, Universitas Gadjah
Mada, Yogyakarta
Soepono, P. 1999. Teori Lokasi: Representasi Landasan Mikro Bagi Teori
Pembangunan Daerah, Jurnal Ekonomi dan Bisnis Indonesia, Vol. 14
No.4, 4-24.
Sugandhy, A. (1989). Keanekaragaman Permukiman Golongan
Berpenghasilan Rendah di Kota Dati II Malang. JIIS No. 1, PAU-IS-UC dan
PT Gramedia Utama. Jakarta.
Sujarto, Djoko. 1985. Beberapa Pengertian Tentang Perencanaan Fisik.
Bhratara Karya Aksara. Jakarta
Surasetja R. I., 2007. Fungsi, Ruang, Bentuk Dan Ekspresi Dalam Arsitektur.
Program Studi Arsitektur. Jurusan Pendidikan Teknik Arsitektur. FPTK. UPI
Suryani Yosi. 2015. Teori Lokasi Dalam Penentuan Pembangunan Lokasi Pasar
Tradisional (Telaah Studi Literatur). Politeknik Negeri Padang. Kampus
Unand Limau Manis. SNEMA. Padang. Indonesia.
Swarbrooke, John, 1996. Pengembangan Pariwisata. Jakarta: Gramedia
Pustaka Utama.
Swaarbrooke, John, 1991. Attraction Management. Prentice Hall. London
Tarigan, Robinson, 2006. Ekonomi Regional: Teori dan Aplikasi (Edisi Revisi).
Bumi Aksara. Jakarta.
Tarigan, Robinson,2006. Perencanaan Pembangunan Wilayah. Jakarta: PT.
Bumi Aksara
Taylor, P. J., Hoyler, M., & Verbruggen, R. (2010). External urban relational
process: introducing central flow theory to complement central place
theory. Urban studies, 47(13), 2803-2818.
Ullman, E. L. (1980). Geography as Spatial Interaction. Seattle: University of
Washington Press.
Undang Undang No. 26 Tahun 2007 tentang Penataan Ruang
Undang-Undang Nomor 26 Tahun 2007 tentang Penataan Ruang, Pasal 1
Angka 2, 3, 5
Wahyuningsih, Menik. 2012. Pola dan Faktor Penentu Nilai Lahan Perkotaan
di Kota Surakarta, dalam eprintsundip.
http://eprints.undip.ac.id/4088/1/Naskah_TA.pdf. Diunduh Jumat, 7
September 2012.
Yeates Maurice, 1980. North America Urban Pattern (Scripta series in
geography). Hodder & Stoughton Educational. English
Yunus H S. 2000. Struktur Tata Ruang Kota. Pustaka Belajar. Yogyakarta.
Yunus H S. 2003. Klasifikasi Kota. Pustaka Belajar. Yogyakarta
Yunus, Hadi Sabari. 2010. Struktur Tata Ruang Kota. Yogyakarta: Pustaka
Pelajar
Yusuf W. A. 1997. Pranata Pembangunan. Bandung: Universitas Parahyanga.
hlm. 6

http://aswar-fitrah.blogspot.co.id/2013_05_01_archive.html
http://escholarship.org/uc/item/1k3927t6
http://fenix.tecnico.ulisboa.pt/downloadFile/1126518382175106/Economics
%20of%20agglomeration.pdf
http://latahzanovi.blogspot.co.id/2013/06/teori-lokasi.html
http://people.hofstra.edu/geotrans/eng/ch7en/conc7en/coreperiphery.html
http://sites.maxwell.syr.edu/clag/yearbook1972/gauthier.pdf
http://www.economyprofessor.com/theorists/francoisperroux.php
DAFTAR GAMBAR
Gambar 1. Hipotesis Christaller............................................................................. 9
Gambar 2. Kronologi terjadinya area pelayanan hexagonal...................................9
Gambar 3. Model Zone Konsentris Burges...........................................................11
Gambar 4. Bentuk kota yang menggunakan teori konsentris, sumber Lutfi, 2016
11
Gambar 5. Bentuk kota dengan Teori sektoral, sumber Lutfi, 2016.....................13
Gambar 6. Struktur kota menurut teori inti ganda (sumber: Lutfi, 2016).............15
Gambar 7. Struktur kota menurut teori inti ganda...............................................15
Gambar 8. Gambar model von Thnen................................................................19
Gambar 9. Interaksi Pariwisata............................................................................ 31
Gambar 10.Keseimbangan Penawaran dan Permintaan Dalam Sistem Pariwisata,
32
Gambar 11.Komponen Pengembangan Pariwisata Sumber: Inskeep (1991) p. 38-
39 35