Anda di halaman 1dari 4

KLIPING

RUMAH ADAT

NAMA : AULIA DEVI AISAH


KELAS : 2

SDN MAGELANG 7
RUMAH ADAT MINANGKABAU

Rumah Rumah Gadang adalah rumah adat suku Minangkabau yang juga memiliki
sebutan lain seperti rumah Godang, rumah Bagonjong, dan rumah Baanjuang. Rumah adat
ini merupakan rumah model panggung yang berukuran besar dengan bentuk persegi panjang.
Sama seperti rumah adat Indonesia lainnya, rumah gadang juga dibuat dari material yang
berasal dari alam. Tiang penyangga, dinding, dan lantai terbuat dari papan kayu dan bambu,
sementara atapnya yang berbentuk seperti tanduk kerbau terbuat dari ijuk. Meski terbuat dari
hampir 100% bahan alam, arsitektur rumah gadang tetaplah memiliki desain yang kuat.
Rumah ini memiliki desain tahan gempa sesuai dengan kondisi geografis Sumatera Barat
yang memang terletak di daerah rawan gempa. Desain tahan gempa pada rumah gadang salah
satunya ditemukan pada tiangnya yang tidak menancap ke tanah. Tiang rumah adat Sumatera
barat ini justru menumpang atau bertumpu pada batu-batu datar di atas tanah. Dengan desain
ini, getaran tidak akan mengakibatkan rumah rubuh saat terjadi gempa berskala besar
sekalipun. Selain itu, setiap pertemuan antara tiang dan kaso besar pada rumah adat ini tidak
disatukan menggunakan paku, melainkan menggunakan pasak yang terbuat dari kayu.
Dengan sistem sambungan ini, rumah gadang akan dapat bergerak secara fleksibel meski
diguncang dengan getaran gempa yang kuat.
RUMAH ADAT JAWA TENGAH

Rumah Joglo dibangun dengan desain arsitektur yang cukup unik. Salah satu
keunikan tersebut terletak pada desain rangka atapnya yang memiliki bubungan cukup
tinggi. Desain atap yang demikian dihasilkan dari pola tiang-tiang yang menyangga
rumah. Utamanya pada bagian tengah rumah, terdapat 4 tiang berukuran lebih tinggi yang
menyangga beban atap. Keempat tiang yang kerap disebut soko guru ini menyangga
dan menjadi tempat pertemuan rangka atap yang menopang beban atap.
Atap rumah adat Jawa Tengah ini sendiri dibuat dari bahan genting tanah.
Sebelum genting ditemukan, pada masa silam atap rumah ini juga dibuat dari bahan ijuk
atau alang-alang yang dianyam. Penggunaan desain rangka atap dengan bubungan tinggi
dan material atap dari bahan alam merupakan salah satu hal yang membuat rumah Joglo
terasa dingin dan sejuk. Adapun secara keseluruhan, rumah Joglo sendiri lebih banyak
menggunakan kayu-kayuan keras, baik untuk dinding, tiang, rangka atap, pintu, jendela,
dan bagian lainnya. Kayu jati adalah pilihan utama yang kerap ditemukan pada rumah-
rumah lawas. Kayu jati sangat awet dan terbukti dapat bertahan lama bahkan hingga
ratusan tahun.
RUMAH ADAT PAPUA
Rumah adat Papua tersebut bernama rumah Honai. Rumah Honai sendiri sebutan bagi
rumah para pria Papua dewasa yang berbentuk seperti kerucut dan dibangun dari material
yang murni 100% dari alam. Berdasarkan fungsinya sendiri, rumah Honai dapat dibedakan
menjadi 3, yaitu rumah bagi Pria (yang disebut Honai), rumah bagi wanita (Ebei), dan
rumah yang khusus digunakan untuk kandang hewan atau babi (Wamai). Ketiga jenis rumah
Honai ini dari strukturnya terlihat sama persis, hanya saja untuk rumah yang dikhususkan
bagi pria ukurannya biasanya lebih tinggi.

Berbeda dengan kebanyakan rumah adat di Indonesia yang berstruktur


panggung, rumah Honai sendiri memiliki lantai berupa tanah. Lantai rumah honai ada 2,
lantai pertama yang beralas tanah biasanya digunakan untuk tempat berkumpul,
bermusyawarah, dan beraktivitas saat malam hari, dan lantai kedua yang beralas papan
digunakan untuk tempat tidur. Untuk menghubungkan lantai pertama dan kedua,
digunakan sebuah tangga yang terbuat dari kayu, sementara itu di tengah lantai pertama
biasanya juga terdapat tempat membakar kayu (membuat api unggun) yang digunakan
untuk menghangatkan ruangan saat malam hari.
Rumah honai berukuran sempit yaitu tinggi sekitar 3 meter dan diameter sekitar
5 meter. Meski sempit, rumah adat Papua ini diisi oleh banyak orang antara 5 sd 10
orang, hal ini dimaksudkan agar suhu di dalam rumah bisa tetap terjaga hangat. Untuk
menjaga suhu tetap hangat, rumah honai juga tidak dilengkapi dengan jendela. Pintu
rumah adat ini pun hanya ada 1 buah terletak di bagian depan rumah. Karena desain
seperti ini, terlebih saat malam api unggun dinyalakan di dalam rumah, maka rumah ini
akan terasa begitu pengap terutama bagi mereka yang pertama kali memasukinya.