Anda di halaman 1dari 27

MAKALAH KIMIA INDUSTRI FARMASI (PT.

KONIMEX
PHARMACEUTICAL)

Disusun untuk memenuhi mata kuliah kimia industri

Oleh :

1. Ahmad Hanif F. (1147040003)


2. Anggi Yulian S. (1147040009)
3. Emay Maesaroh (1147040024)
4. Gilman Ali Reza (1147040031)

Kelompok VII

JURUSAN KIMIA

FAKULTAS SAINS DAN TEKNOLOGI

UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SUNAN GUNUNG JATI

BANDUNG

2017
DAFTAR ISI

DAFTAR ISI.............................................................................................. 2
BAB I...................................................................................................... 3
A. LATAR BELAKANG..........................................................................3
B. TUJUAN......................................................................................... 4
BAB II..................................................................................................... 5
A. INDUSTRI...................................................................................... 5
B. INDUSTRI FARMASI........................................................................5
C. PARASETAMOL............................................................................... 6
D. SEJARAH DAN PERKEMBANGAN PT KONIMEX................................8
BAB III................................................................................................... 11
A. BAHAN BAKU PARASETAMOL DAN PENANGANANNYA..................11
1. Parasetamol menggunakan bahan bahan baku:......................11
2. Beberapa penanganan baha baku parasetamol......................11
B. PROSES PEMBUATAN PARASETAMOL...........................................13
1. Pembuatan Paracetamol dari p-nitroklorobenzena..................15
2. Alat-alat yang digunakan dalam indutri pembuatan
paracetamol................................................................................... 16
C. PENANGANAN LIMBAH INDUSTRI FARMASI.................................17
1. Pengolahan limbah primer.......................................................17
2. Pengolahan limbah sekunder...................................................18
3. Pengolahan limbah tersier.......................................................19
BAB IV.................................................................................................. 22
KESIMPULAN..................................................................................... 22
BAB I
PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG
Obat ialah salah satu zat/senyawa untuk mencegah,
mengurangi, serta mengobati penyakit. Supaya obat yang
diproduksi aman, bermutu, dan berkhasiat, pemerintah berupaya
untuk menerapkan standar nasional cara pembuatan obat yang
baik (CPOB) pada setiap industri farmasi berdasarkan peraturan
menteri RI Nomor 43/Menkes/SK/II/1988 tanggal 02 Februari
1988. CPOB ini untuk menetapkan standar nasional sesuai
dengan penggunaannya.
Kualitas obat tidak dapat ditentukan hanya dari pemeriksaan
produk pada proses terakhir saja, melainkan harus didasarkan
pada seluruh tahapan pembuatan obat. Parasetamol merupakan
obat yang digunakan sebagai penghilang rasa nyeri, juga
sebagai obat penurun panas. Untuk menjamin bahwa produk
tersebut layak untuk dikonsumsi, maka harus dilakukan
pengawasan produk untuk menjamin kualitas serta keamanan
obat tersebut. Proses pengendalian mutu serta keamanan obat
dilakukan dengan menganalisis kandungan senyawa yang aktif
dalam obat dengan menggunakan metode analisis yang memiliki
ketelitian dan ketepatan yang cukup baik.
Pada analisis kadar senyawa aktif obat, dilakukan
pengukuran analitik yang pada prinsipnya untuk mengetahui nilai
yang sebenarnya. Penentuan nilai sebenarnya pada suatu obat
akan diperoleh dengan baik jika menggunakan metode standar
baku dan menggunakan instrumen-instrumen yang telah
terkalibrasi.
Untuk keperluan analisis kuantitatif, metode yang sering
digunakan untuk mengetahui kadar parasetamol ialah
menggunakan spektrofotometer ultraviolet. Dalam pengawasan
analgesik dan antipiretik pada senyawa aktif parasetamol,
spektrofotometri ultraviolet ini dijadikan metode alternatif
dengan beberapa keuntungan yaitu: murah, mudah, dan tanpa
adanya tahap pemisahan, selain menggunakan metode
spektrofotometri ultraviolet penetapan kadar dalam parasetamol
juga dapat digunakan metode titrimetri dan kromatografi cair
sesuai dengan farmakope Indonesia (1995:649). Sedangkan jika
parasetamol dikombinasikan dengan obat lain maka untuk
menentukan kadar parasetamol bisa menggunakan metode
spektrofotometri, voltametri, spektrometri FTIR, dan HPLC.
B. TUJUAN
1. Menentukan bahan baku yang digunakan dalam pembuatan
obat parasetamol
2. Menganalisis penanganan bahan baku parasetamol PT
Konimex Pharmaceutical
3. Menganalisis proses dan tahapan pembuatan obat
parasetamol di industri
4. Menganalisis proses penanganan limbah di industri PT kimia
Farma Plant Jakarta
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

A INDUSTRI
Industri adalah suatu bidang yang pada dasarnya
mengutamakan ketrampilan, ketekunan kerja (bahasa Inggris:
industrious) yang disertai oleh penggunaan alat-alat di bidang
pengolahan hasil-hasil bumi, dan pendistribusian dalam industri
tersebut itu sebagai dasar utama. Maka industri umumnya
dikenal sebagai usaha-usaha yang mencukupi kebutuhan
(ekonomi) manusia. Industri itu berhubungan erat dengan bumi
karena pada dasarnya industri sangat berpengaruh pada
lingkungan yang ada dibumi. Selain bumi, langit pun dapat
dipengaruhi oleh industri dengan limbah gasnya. Semakin jauh
industri dengan tanah yang berkualitas kurang baik, maka
semakin berpengaruh nilai ekonomi, politik serta budaya yang
ada pada daerah sekitar.

B INDUSTRI FARMASI
1 Pengertian Industri Farmasi

Berdasarkan Surat Keputusan Menteri Kesehatan No.


245/MenKes/SK/V/1990 tentang Ketentuan dan Tata Cara
Pelaksanaan Pemberian Izin Usaha Industri Farmasi. Industri
Farmasi adalah Industri yang mengolah, meracik obat sesuai
dengan ketentuan mutu. Produknya dihasil kan obat Jadi dan
Bahan Baku Obat. Definisi dari obat jadi yaitu sediaan
bahan yang siap digunakan untuk menyelidiki sistem
patologi dan fisiologi dalam rangka penetapan diagnosa,
pencegahan, penyembuhan, pemulihan, peningkatan
kesehatan dan kontrasepsi. Sedangkan yang dimaksud
dengan bahan baku obat adalah bahan baik yang
berkhasiat maupun yang tidak berkhasiat yang digunakan
dalam pengolahan obat dengan standar mutu sebagai bahan
farmasi.

2 Persyaratan Industri Farmasi

Perusahaan industri farmasi wajib mendapatkan izin


usaha industri farmasi, karena industri itu wajib memenuhi
persyaratan yang telah ditetapkan oleh Menteri Kesehatan.
Persyaratan industri farmasi tercantum dalam Surat
Keputusan Menteri Kesehatan RI No. 245//Menkes/SK/V/1990
adalah sebagai berikut:

a Industri farmasi merupakan suatu badan umum atau badan


hukum yang terbentuk atas Perseroan Terbatas.
b Memiliki rencana investasi.
c Memiliki Nomor Pokok Wajib Pajak (NPWP).
d Industri farmasi obat jadi dan bahan baku wajib
memenuhi persyaratan CPOB sesuai dengan ketentuan SK
Menteri Kesehatan No. 43/Menkes/SK/II/1988.
e Industri farmasi obat jadi dan bahan baku, wajib
memperkerjakan secara tetap sekurang-kurangnya dua
orang apoteker warga Negara Indonesia, masing-masing
sebagai penanggung jawab produksi dan penanggung
jawab pengawasan mutu sesuai dengan persyaratan
CPOB.
f Obat jadi yang diproduksi oleh industri farmasi hanya
dapat diedarkan setelah memperoleh izin edar sesuai
dengan ketentuan perundang-undangan yang berlaku.
C PARASETAMOL
1 Pengertian Parasetamol
Parasetamol atau asetaminofen adalah obat analgesik dan
antipiretik yang digunakan untuk melegakan sakit kepala, sakit
ringan, serta demam. Dalam penggunaan yang besar artinya
digunakan untuk obat salesma dan flu. Hal ini bahwa obat
parasetamol memiliki dosis standar, tetapi dapat terjadi
overdosis ketika yang menggunakan tanpa aturan yang sesuai
atau yang telah ditentukan hanya karena obat analgesik ini
mudah didapat. Obat analgesik yang lain seperti aspirin dan
ibuprofen, parasetamol tak memiliki sifat anti radang. Jadi
parasetamol tidak tergolong dalam obat jenis obat anti-
inflamasi nonsteroid (OAINS). Dalam dosis normal,
parasetamol tidak merusak permukaan dalam perut atau
mengganggu gumpalan darah, ginjal, atau duktus arteriosus
pada janin.
2 Sejarah Parasetamol
Asetaminofen adalah sebagai bahan dasar parasetamol.
Tetapi sebelum penemuan asetaminofen ini digunakan terlebih
dahulu kulit sinkona berperan sebagai agen antipiretik. Karena
pohon sinkona semakin berkurang pada 1880-an, sehingga
ditemukan asetaminofen, yaitu pada 1880-an; asetanilida
pada 1886 dan fenasetin pada 1887. Pada masa ini,
parasetamol telah disintesis oleh Harmon Northrop Morse
melalui pengurangan p-nitrofenol bersama timah dalam asam
asetat gletser. Pada tahun 1873 telah digunakan dalam bidang
pengobatan, tetapi dalam waktu dekade terakhir tidak
digunakan untuk pengobatan. Pada 1893, parasetamol telah
ditemui di dalam air kencing seseorang yang mengambil
fenasetin, yang memekat kepada hablur campuran berwarna
putih dan berasa pahit.
Pada tahun 1899, parasetamol dijumpai sebagai metabolit
asetanilida. Pada 1946, Lembaga Studi Analgesik dan Obat-
obatan Sedatif telah memberi bantuan kepada Departemen
Kesehatan New York dalam mempelajari masalah yang
berkaitan dengan agen analgesik. Bernard Brodie dan Julius
Axelrod telah ditugaskan untuk mengkaji sejenis darah yang
tidak berbahay dalam agen aspirin yang dikaitkan dengan
adanya methemoglobinemia. Di dalam tulisan mereka Brodie
dan Axelrod mengaitkan penyebab metabolit parasetamol aktif
dalam penggunaan asetanilida dengan methemoglobinemia.
Mereka menyimpulkan bahwa penggunaan parasetamol tidak
menghasilkan racun asetanilida.
3 Struktur dan Nama Lain Parasetamol
Nama sistematis yang telah disetujui oleh IUPAC yaitu N-
(4-hidroksifenil)etanamida dan N-(4-hidroksifenil)asetamida.
Selain itu, parasetamol disebut juga dengan asetaminofen.
Kata asetaminofen versi Amerika N-asetil-para-aminofenol
asetominofen dan parasetamol versi Inggris para-asetil-amino-
fenol parasetamol.

D SEJARAH DAN PERKEMBANGAN PT KONIMEX

Pada tahun 1960, Djoenaedi Joesoef merintis pendirian


industri farmasi yang diberi nama PT. Kondang Sewu. Pada tahun
1967, beliau membuka kantor perwakilan PT. Kondang Sewu di
Jakarta. Daerah jakarta dan jawa barat pada massa itu belum
sepenuhnya percaya dengan produk-produk dari PT. Kondang
tersebut, tetapi lebih memproduksi obat-obatan dari luar Jakarta
atau Jawa barat. Atas saran dari Direktur Jenderal Farmasi
yang menjabat saat itu, nama PT. Kondang sewu kemudian
diganti menjadi PT. Kondang Impor Export yang lebih dikenal
dengan singkatan PT. Konimex.

Pada tanggal 8 Juni 1967 Djoenaedi Joesoef menetapkan PT.


Konimex Pharmaceutical Laboratories di Jalan Urip Sumoharjo
No. 96-98 Surakarta. Pada awal didirikan PT.Konimex bergerak
dalam bidang perdagangan obat-obatan, bahan kimia, alat
laboratorium dan alat kedokteran. Produk yang pertama
diluncurkan pada tahun 1967 ialah Mexaquin (obat
antimalaria), sulfa dan kapsul tetrasiklin. Dua tahun kemudian,
diluncurkan produk Konidin dan pada tahun 1974 diluncurkan
produk Inza. Setelah itu, dari tahun ke tahun PT. Konimex
mencoba pengembangan portofolio produknya. Awalnya obat-
obat bebas diproduksi oleh PT. Konimex, tetapi dengan seiring
berjalannya waktu PT. Konimex melakukan pengembangan
dengan resep dokter (ethical) serta produk nonkuratif, atau
vitamin.

Lembaga Penanaman Modal Dalam Negeri (PMDN)


meberikan dukungan berupa fasilitas terhadap PT.Konimex
dengan mengawali produksi obat-obat sendiri. Perkembangan
usaha PT.Konimex cukup berkembang sejalan dengan
pertumbuhan ekonomi di Indonesia. Tahun 1972, usaha bisnis
terkonsentrasi pada produksi farmasi OTC dengan kemasan 4
tablet hingga sekarang. Bisnis lainnya seperti alat kesehatan,
dental equipment, dan hospital packing products tidak ditindak
lanjuti kembali.

Pada usia kesepuluh tahun, skala usaha PT.Konimex


semakin besar dengan menuntut sistem pengelolaan yang
lebih profesional. Pada tahun 1977, PT.Konimex mulai bekerja
sama dengan konsultan untuk memulai melakukan
pembenahan struktur dan sistem manajemen, melaksanakan
program pelatihan, serta merekrut tenaga profesional.

Pada tahun 1979, PT. Konimex membangun pabrik baru di


Sanggrahan, sekitar lima kilometer barat daya Surakarta.
Pada tahun 1980, dikompleks ini didirikan pabrik kembang
gula Nimms. Pendirian pabrik kembang gula Nimms merupakan
awal diversifikasi PT.Konimex ke industri makanan. Pada tahun
1980, untuk melaksanakan peraturan pemerintah yang
mengharuskan pemisahan antara produsen obat dengan
distributornya maka PT.Konimex mendirikan PT.Sinar
Intermark. Dalam memperluas jangkauan distribusi, maka
semakin banyaknya pula produk yang dipasarkan oleh
PT.Konimex. Pada tahun 1980 PT.Konimex mendirikan distributor
kedua yaitu PT.Marga Nusantara Jaya. PT.Sinar Intermark memiliki
cabang-cabang yang berpusat di Solo serta melayani distribusi
untuk wilyah Indonesia bagian timur dan sebagian Indonesia
bagian tengah. Kantor pusat di Jakarta bisa di PT.Marga
Nusantara Jaya serta dapat melayani distribusi untuk wilayah
Indonesia bagian barat dan sebagaian Indonesia bagian
tengah. Tahun 1993, PT.Konimex mendirikan PT.Solonat yang
memproduksi berbagai makanan ringan khusus dari bahan
kacang-kacangan, namun seiring dengan perkembangan produk
dari bahan alam maka pabrik PT. Solonat sekarang ini
dikhususkan untuk memproduksi natural product. Pada tahun
1994, PT. Konimex mendirikan pabrik biskuit yang dinamai
dengan Sobisco.

Produk-produk Konimex dapat diproduksi/ dipasarkan


didalam Negeri maupun di luar Negeri. ini tidak hanya dipasarkan
di dalam negeri, tetapi sudah mulai diekspor ke luar negeri,
seperti Singapura, Malaysia, Myanmar, Vietnam dan Nigeria.
Saat ini PT. Konimex telah menerima 14 sertifikat CPOB dan 6
sertifikat CPOTB dari Badan Pengawasan Obat dan Makanan
Departemen Kesehatan Republik Indonesia berdasarkan jenis dan
bentuk sediaannya. PT. Konimex merupakan perusahaan yang
menyadari bahwa produktivitas perusahaan sangat dipengaruhi
oleh kesehatan dan kesejahteraan dari seluruh karyawannya.
Perhatian dan kepedulian akan hal tersebut diwujudkan
melalui tersedianya fasilitas-faslitas bagi para karyawan
antara lain berupa TPO (Tunjangan Pengobatan), AMAG
(Asuransi Multi Arta Guna), Jaminan Sosial Tenaga Kerja
(Jamsostek), poliklinik, dokter perusahaan, program pinjaman
individual, program pelatihan atau diklat, dana pensiun,
perpustakaan, kesempatan untuk menunaikan ibadah haji,
mushola, kantin, koperasi, paguyuban keluarga sejahtera,
social event, Serikat Pekerja Seluruh Indonesia (SPSI),
Koperasi Karyawan Mandiri (Kopkar) SEHAT, dan Panitia
Pembinaan Keselamatan dan Kesehatan Kerja (P2K3).
BAB III
PEMBAHASAN

A BAHAN BAKU PARASETAMOL DAN PENANGANANNYA


1 Parasetamol menggunakan bahan bahan baku:

No. Nama bahan baku Jumlah (ton)


1 p-nitroklorobenzena (PNCB) 1,25
2 Anhidrida asetat 0,76
3 Asam asetat 0,34
4 Soda api (NaOH) 0,75
5 Serbuk besi 0,30
6 Hydrose 0,01
7 Karbon aktif 0,01
8 Asam sulfat 0,25

2 Beberapa penanganan baha baku parasetamol


a p-nitroklorobenzena (PNCB)
p-nitroklorobenzena berbentuk padatan berwarna kuning
cerah dan kristal murni yang memiliki berat molekul 157,56 SMA.
Titik lelehnya 80 C dan titik leleh 240 C. PNCB disimpan
ditempat kering berasa dingin dan tempat tertutup, Anhidrida
asetat
Nama IUPAC dari anhidrat asetat etanoil etanoat merupakan
termasuk salah satu anhidrida asam bersifat sederhana.
(CH3CO)2O itu termasuk rumus kimianya.dalam sintesis organik
anhidrat asetat termasuk reagen yang penting. reaksi kondensasi
merupakan proses pembentukan anhidrat asetat. Penyimpanan
anhidirida asetat yaitu tidak boleh disimpan dengan bahan-
bahan yang tidak sesuai, jangan disimpan dibawah sinar
matahari langsung diatas lantai yang tidak meresap. Hindari
kontak dengan kulit, mata dan jangan dihirup karena bersifat
karsinogenik.
b Asam asetat
Senyawa kimia organik yang umumnya dikenal memiliki
rasa asam dan digunakan pada makana yaitu asam asetat. Asam
cuka memiliki rumus empiris C2H4O2. Rumus ini seringkali ditulis
dalam bentuk CH3-COOH. Asam asetat pekat adalah cairan
higroskopis tak berwarna dan memiliki titik beku 16,7 C. Cuka
mengandung 3-9% volume asam asetat, komponen utaam
sea\lain air ialah asam cuka. Asam asetat bersifat korosif dan
dapat melukai kulit walaupun pada dasarnya asam cuka ini
tergolong asam lemah,maka penggunaan asam lemah harus
secara hati hati. Penyimpana asam asetat harus dijauhkan dari
tempat panas.
c Soda api (NaOH)
Natrium hidroksida (NaOH) sejenis basa logam kaustik.
Oksida basa merupakan pembentuk natrium hidroksida, didalam
air natrium hidroksida dilarutkan. Ketka dilarutkan dalam air
natrium hidroksida akan membentuk alkalin yang bersifat kuat.
Alkalin yang kuat biasanya digunakan di berbagai industri
biasanya industri detergen.
Natrium Hidroksida umumnya bersifat padatan, Natrium
hidroksida akan secara spontan menyerap karbon dioksida dan
natrium dioksida ini bersifat lembab dari udara bebas.
Penyimpanaanya harus ditempatkan ditempat yang kompatible
kering.
d Serbuk besi
Pembuatan besi gubal biasanya menggunakan serbuk besi.
Oksigen dan atom yang berikatan dalam molekul biasanya
merupakan satuan dari bijih besi. Besi metalik dimuka bumi
hampir tidak dikenal kecuali besi yang nickel. Didalam bumi besi
merupakan unsur yang melimpah, terdiri sekitar 5% dalam
mineral silikat besi terikat didalamnya. Didalam semua industri
besi digunakan sebagai bahan yang utama.
e Karbon aktif
Karbon akti termasuk memiliki luas prmukaan yang luas.
Suatumaterial yang memiliki luas permukaan 500 m 2 bisa
diperoleh hanya dengan 1 gram karbon aktif . proses pengaktifan
ini hanya bertujuan untuk memperbesar luas permukaa.
peningkatan kemampuan adsorpsi karbion digunakan dibeberapa
usaha.
Karbon aktif didalam ruang tertutup karbon aktif dapat
menghilangkan oksigen terutama pada saat keadaannya basah.
Penyimpanan karbon aktif harus ditempat yang kering, dan sejuk
dengan ventilasi yang baik. Jangan disimpan bersama-sama
dengan zat-zat pengoksidasi kuat. Jangan simpan bersama zat
kimia yang mudah menguap karena bahan tersebut bias terjerat
ke produk. Simpan dalam container engan label yang tepat.
f Asam Sulfat
Asam mineral kuat termasuk kedalam asam sulfat. Didalam
semua perbandingan zat ini larut dalam air. Asam sulfat memiliki
bnayak kegunaan terutama dbidang industri dan laboratorium.
Kegunaan utama adalah pemrosesan bijih mineral, sintesis kimia,
pemrosesan air limbah dan pengilangan minyak. Cairan tak
berwarna merupakan ciri dari asam sulfat asam sulfat juga
sberbau menyengat.penyimpanan asam sulfat diletakkan jauh
dari material yang tidak cocok.
B PROSES PEMBUATAN PARASETAMOL

Dalam pembuatan parasetamol ada beberapa jalur sintesis


yang digunakan karena dalam pembuatan parasetamol ini
melibatkan beberapa tahap sintesis. Pada umumnya diberbagai
nengara pembuatan parasetamol hanya ada 2 cara yang
digunakan yaitu dengan fenol dan dari p-nitroklorobenzena.
Dalam pembuatan parasetamol yaitu dengan menggunakan
jalur sintesis oganik dengan rute sbb:

Jika dibandingkan dengan via fenol atau p-nitrokhlorobenzen


PNCB rute nitrobenzene lebih pendek rutenya dalam mensintesis
parasetamol . via fenol atau p-nitrokhlorobenzen PNCB lebih
jarang digunakan dinegara lain jika dibandingkan dengan rute
nitrobenzene yang kebanyakan negara menggunakan rute
nitrobenzene dikarenakan rute nitrobenzena ini lebih sedikit
sintesisnya. Di dunia Malinckrodt Inc via rut benzena ini
digunakan diperusahan parasetamol yang terkenal. Setiap rute
via nitrobenzena memiliki produk samping, kesulitan recovery
dalam pemilihan rute sintesis organik diperlukan dpertimbangan
dalam pemilihan produk sampik pada pembuatan parasetamol.
Didalam industri farmasi ini sama halnya proses pembuatannya
dengan menggunakan rute sintesis benzena tetapi didalam
industri farmasi pembuatan parasetamolnya dengan jumlah
banyak bisa mncapai ratusan bahkan ribuan produk yang
disintesis sehingga menghasilkan produk parasetamol.
Preparasi p-aminofenol dilakukan sebagai langkah awal
dalam pembuatan parasetamol dan untuk langkah berikutnya
asetilasi p-aminofenol.

P-aminofenol dapat disiapkan dari fenol dengan terlebih


dahulu mengubah fenol menjadi p-nitrofenol dengan natrium
nitrit dan asam sulfat dan kemudian mengubah nitrosofenol
menjadi p-aminofenol melalui reaksi reduksi dengan natrium
sulfida dan amonium karbonat.
Kegunaan P-aminofenol (PAP) selain dikonversi menjadi
paracetamol sendiri atau digabung dgn hidrokuinon, juga
digunakan sebagai zat kimia fotografi, inhibitor korosi untuk cat
dan mesin 2-tak dan sebagai pewarna kayu dan bulu ungas.

1 Pembuatan Paracetamol dari p-nitroklorobenzena

Proses p-nitroklorobenzena (PCNB) banyak digunakan di


India hampir 80% industry paracetamol di India banyak
menggunakan jalur ini.

Pertama PNCB direaksikan dengan soda api (NaOH) pada


tekanan 5 kg/cm3 dan pada suhu 150 C selama 8 jam dalam
autoclave. Produk reaksi ini adalah p-nitrofenol (PNP), yang akan
dipisahkan dengan proses kristalisasi dan penyaringan. PNP
tersebut akan direaksikan dengan asam asetat pada pH 3 untuk
dikonversi menjadi p-aminofenol (PAP). PAP ini akan mengalami
asetilasi untuk mengahasilan parasetamol mentah. Produk
mentah tersebut kemudian diputihkan dengan karbon aktif untuk
memproduksi parasetamol yang berwarna putih salju. Kemudian
parasetamol dikeringkan di dalam tray dryer dan ditumbuk
dengan ukuran 40 mikron. Proses paracetamol ini harus dikontrol
dengan hati-hati dan dilakukan dengan optimal untuk
mendapatkan efisiensi proses yang memuaskan dan
mendapatkan kualitas yang baik. mesin penetralisasi, mesin
pengkristal, mesin sentrifugasi, nampan pengering (tray dryer),
pulveriser, ketel uap, tanaman pendingin, pompa vakum, filter
Neutsche, dan kompresor udara

2 Alat-alat yang digunakan dalam indutri pembuatan


paracetamol
Reactor
Mesin penetralisasi
Mesin pengkristal
Mesin setrifugasi
Nampan pengering (tray dryer)
Pulveriser
Katel uap
Pompa vakum
Filter Neutshce
Kompresor udara
C PENANGANAN LIMBAH INDUSTRI FARMASI

sisa hasil produksi obat obatan berbentuk cairan merupakan


salah satu limbah cair yang dihasilkan berupa cairan yang akan
mencemai lingkungan disekitar industri tersebut. Maka dari itu
untuk mencegah pencemaran lingkungan maka industri
melakukan metode pengolahan limbah dengan cara presipitasi,
adsorpsi, dan koagulasi. Proses koagulasi dilakukan dengan
sintetik (garam-garam alumunium) dan biokoagulan (alami).
COD, BOD, TSS dalam limbah air dapat didegradasi dengan
biokoagulan alami, sehingga dapat meningkatkan kualitas air
limbah industri farmasi tersebut. COD, BOD, TSS sebagai
parameter kualitas air limbah industri farmasi yang dapat
mengetahui pengaruh biokoagulan alami terhadap limbah
tersebut.
Sumber-sumber pencemar air limbah industri farmasi sebagai
berikut :

a Toilet
b Sisa cucian alat laboratorium
c Bekas reagensia laboratorium
d Obat kadaluwarsa
e Sisa kemasan-kemasan obat

Prinsip pengolahan limbah 3 bagian, diantaranya :

1 Pengolahan limbah primer

Pemisahan air dari padatan merupakan salah satu


pengolahan limbah secara primer. Limbah yang padat
diendapkan hingga mengendap untuk memisahkan limbah yang
berupa padatan. Adapun salah satu contoh limbah yang berupa
padatan yaitu: plastik, kertas, kaleng dan lain lainnya.
Penanganan primer terdiri dari 3 tahap, yaitu :
a Penyaringan
Limbah yang berupa padatan ini dipisahkan dengan
menggunakan air yang mengalir proses ini disebut juga proses
penyaringan dimana limbah padatan disaring dengan air yang
mengalir hingga akan terpisahkan limbah yang berupa
padatan. Adapun alat yang digunakan dalam proses
penyaringan yaitu dengan menggunakan alat monitor
merupakan salahsatu alat penyaringan limbah. Dalam tangki
pengendapan bahan yang dihancurkan terpisah. Endapan yang
telah diperoleh dari hasil penyaringan kemudian di biarkan
mengendap kembali selama beberapa hari untuk menutupi
tanah.
b Pemisahan endapan
Setelah terjadinya pengendapan air yang tersuspensi
dipisahkan kembali. sebelum dibuang pada saluran padatan
yang tersuspensi pada perlakuan primer diperlakukan dengan
gas klorin. Penggunaan gas klorin ini bertujuan untuk
pembunuhan bakteri yang akan membahayakan lingkungan.
Polutan pada konsentrasinya harus mendekati pada satuan
ppm.
2 Pengolahan limbah sekunder

Penyaringan trikel dan lumpur aktif merupakan 2 metode


yang digunakan dalm proses pengolahan limbah sekunder.
Dengan menggunakan lumpur aktif 90 % dan penyaringan trikel
padatan tersuspensi dapat dihilangkan Penyaringan ini terdiri
atas Kerikil dan lapisan batu yang tingginya 90 cm hingga 3
meter. Lapisan batu dialirkan air buangan secara lambat. Setelah
proses penangan primer ada bakteri berkembang biak pada
lapisan batu tersebut sehingga masih terdapat bahan-bahan
organik dalam air buangan. Air yang keluar dari lapisan aktif itu
keluar dari pipa penyaringan bagian bawah. Sistem penyaringan
ini adalah suatu cara proses penanganan sekunder, namun
proses yang baru dinamakan proses lumpur aktif. Proses lumpur
aktif ini bakteri yang ada dalam tangki mengalami kontak
dengan air, dimana kecepatan aktivitasnya mrningkat dengan
dimasukannya udara dan lumpur yang mengandung bakteri
dalam proses penangan primer tersebut. Dalam lumpur aktif
terdapat bakteri yang mengalami kontak tangki aerasi yang
memecah bahan organik menjadi lebih sederhana. Melakukan
proses lumpur aktif dengan digantikannya udara dengan oksigen
murni. Penggunaan oksigen murni banyak bakteri tumbuh dalam
tempat yang kecil. Efesiensi penggunaan oksigen mencapai 90%
daripada sistem konvensional hanya mencapai 5-10%. Air
dikeluarkan dari tangki aerasi ke tangki sedimentasi, dimana
padatannyan akan menghilang. Proses klorinasi mengakhiri
penanganan sekunder.
3 Pengolahan limbah tersier

Pada proses penanganan primer dan sekunder tidak dapat


dihilangkan senyawa organik dan anorganik yang terlarut serta
menurunkan nilai BOD. Proses selanjutnya penanganan tersier.
Proses ini digunakan menghilangkan bahan-bahan terlarut,
seperti senyawa fosfor dan nitrogen. Prosesnya merupakan
pemisahan fisiko-kimia (adsorbsi, destilasi dan osmosis)
berlawanan atau menghilangkan kontaminan pada proses
sekunder yang tidak digunakan. Pada proses penanganan primer
dan sekunder telah dilakukan, tetapi masih terdapat bahan yang
terlarut dalam air buangan. Komponen tersebut dipecahkan oleh
bakteri yang menyebabkan perubahan bau, rasa serta
lingkungan hidup dalam air itu sendiri. Kontaminan yang
dihilangkan itu pelarut yang tersuspensi, senyawa organik,
anorganik terlarut.
Menurut Menteri Lingkungan Hidup No.51 tahun 1995
limbah air industri farmasi, sebagai berikut :
a TSS (Total Suspended Solid)

Padatan total merupakan sampel/ bahan yang telah


mengalami pemanasan pada suhu tertentu. Residu/ padatan ini
merupakan sampel yang terlarut serta tersuspensi dalam air.
Proses pemanasan dapat menghilangkan nilai padatan total.
Dimana padatan total yang hilang berupa bikarbonat yang
ditransformasi menjadi karbondioksida. Prinsip pengukuran TSS
ialah pada sampel yang homogen, disaring lalu ditimbang.
Kemudian dikeringkan hingga beratnya konstan pada suhu
103C-105C. Menurut Menteri Lingkungan Hidup No.51 tahun
1995, nilai maksimum TSS limbah cair industri farmasi adalah 75
mg/L.

b Derajat keasamam (pH)

Pengukuran konsentrasi ion H+ dan OH- dalam air


ditentukan oleh pH. Derajat keasaman merupakan logaritma
negatif dari konsentrasi ion hidrogen.

pH = - log [H3O+] atau pH = - log [H+]

Larutan yang tidak diketahui dan larutan yang diketahui


didalam maupun luar elektroda gelas pada potensial elektrokimia
merupakan dasar prinsip pengukuran pH. Potensial elektrokimia
pada ion hidrogen akan di ukur oleh elektroda gelas. Ion hidrogen
yang kecil akan berinteraksi dengan kaca yang berlapis tipis.
Menurut Menteri Lingkungan Hidup No.51 tahun 1995, nilai
maksimum pH limbah cair industri farmasi adalah 6-9.

c COD (Chemical Oxygen Demand)

COD merupakan reaksi oksidasi kalium bikarbonat dengan


pemanasan asam sulfat. COD digambarkan jumlah total oksigen
yang membutuhkan senyawa organik untuk dioksidasi, baik yang
dapat didegradasi maupunsukar didegradasi. Proses COD
digunakan oksigen yang setara dengan dikromat dalam sampel
air. Pengukuran COD didasarkan pada pengoksidasian senyawa
organik menjadi karbondioksida serta air pengoksidasi kuat.

Penggunaan kalium dikromat harus lebih, jika lebih dapat


digunakan titrasi kembali menggunakan oksidator yang sudah
terpakai. Kalium dikromat dapat mengoksidasi dalam keadaan
asam. Bahan/ senyawa organik dalam air yang mudah menguap
pada saat oksidasi maka dilakukan refluks. Menurut Menteri
Lingkungan Hidup No.51 tahun 1995, nilai maksimum COD
limbah cair industri farmasi adalah 150 mg/L.

d BOD (Biochemical Oxygen Demand)

BOD merupakan proses biokimia yang secara teoritis


diperlukan oksigen terlarut dalam proses fotosintesis. BOD ini
memiliki metode pengolahan dengan modifikasi reaktor yang
berbeda. Pertama reaktor pertumbuhan tersuspensi, dimana
keadaan ini mikroorganisme tumbuh dan berkembang contohnya
lumpur aktif. Prosesnya dinamakan kontak stabilisasi dan
oxidation ditch. Penurunan BOD dalam oxidation ditch efesinnya
tinggi sekitar 85-90%. Proses kontak stabilisasi memerlukan
penyisihan BOD tersuspensi dengan adsorbsi dalam tangki.
Kedua, pertumbuhan lekat memerlukan film atau media untuk
melekatkan mikroorganisme agar dapat tumbuh. Modifikasinya
yaitu trickling filter, cakram biologi, filter terendam, reaktor
fludisasi.

e Fenol

Fenol merupakan padatan putih yang larut dalam suhu


ruang. Fenol dalam lingkungan air berbahaya karena dapat
membentuk mutagen dengan klorinasi air. Salah satu fenol
dalam air yaitu 2,4-diklorofenol dan 2,6-diklorofenol yang
menyebabkan bau pada lingkungan air. Pemeriksaan limbah air
industri khususnya industri farmasi dilakukan penelitian
kandungan fenol dalam air dengan ektraksi warna, kromatografi
kertas, spektofotometer UV-Vis. Menurut Menteri Lingkungan
Hidup No.51 tahun 1995, nilai maksimum fenol limbah cair
industri farmasi adalah 1 mg/L.

f Amonium (NH4+)
Amonium dalam lingkungan air berbentuk gas. Amonium
dalam air bebentuk (NH4+) dan NH4+ (amonium total). Jika
amonium dalam air berbentuk bebas, maka tidak dapat
terionisasi sehingga dapat membentuk siklus nitrogen amonium
menjadi nitrit kemudian nitrat. Proses ini dinamakan nitrifikasi
yang melibatkan bakteri nitrosomonas dan nitrobacter yang
menjadikan nitrit menjadi nitrat. Analisis kandungan amonium
dalam air digunakan metode Nessler dengan reagen reignette
menggunakan spektrofotometer.
BAB IV
PENUTUP
KESIMPULAN
Berdasarkan laporan kimia industri farmasi, dapat
disimpulkan bahwa :
a) Bahan yang digunakan dalam pembuatan obat parasetamol
adalah p-nitroklorobenzena, anhidrida asetat, asam asetat,
soda api (NaOH), serbuk besi, Hydrose, karbon aktif, asam
sulfat
b) P-nitroklorobenzena penanganannya ditempat kering, dingin
dan simpan ditangki tertutup atau ditempat tertutup
c) Anhidrida asetat penangannya disimpan dengan bahan-
bahan yang tidak sesuai, jangan disimpan dibawah sinar
matahari langsung diatas lantai yang tidak meresap. Hindari
kontak dengan kulit, mata dan jangan dihirup karena
bersifat karsinogenik.
d) Asam asetat penangannya pada kondisi yang tidak panas,
sumber pengapian dan logam. Cara distribusi asam asetat
juga harus diperhatikan dan harus sesuai DOT.
e) Penyimpanan NaOH harus ditempat yang sejuk, kering,
berventilasi baik, tempat yang jauh dari bahan-bahan yang
mudah bereaksi dengan NaOH dan tetap tertutup rapat.
f) Penyimpanan karbon aktif harus di tempat yang kering, dan
sejuk dengan pertukaran udara yang baik. Jauhkan dari
sumber panas dan sumber nyala. Jangan disimpan bersama-
sama dengan zat-zat pengoksidasi kuat. Jangan simpan
bersama zat kimia yang mudah menguap karena bahan
tersebut bisa terjerat ke produk. Simpan dalam wadah
dengan memberi nama label yang tepat.
g) Penyimpanan karbon aktif harus ditempat yang kering, dan
sejuk dengan ventilasi udara yang baik. Jauhkan dari sumber
panas dan sumber nyala. Jangan disimpan bersama-sama
dengan zat-zat pengoksidasi kuat. Jangan simpan bersama
zat kimia yang mudah menguap karena bahan tersebut bias
terjerat ke produk. Simpan dalam container engan label
yang tepat.
h) Penyimpanan asam sulfat harus ditempat yang dingin,
kering, dan mempunyai ventilasi yang baik. Jangan lupa
mencuci tangan setelah menggunakan asam sulfat.
i) Pembuatan parasetamol dari fenol melibatkan preparasi p-
aminofenol sebagai langkah awalnya, dan asetilasi p-
aminofenol untuk memproduksi parasetamol sebagai
langkah berikutnya.
j) Pengolahan limbah bahan beracun berbahaya diolah dengan
kerja sama dengan PT. Prasada Pemusnah Limbah Industri di
Cileungsi, Bogor, untuk limbah B-3 padat, PT. Dongwoo
Environmental Indonesia di cikarang, Bekasi untuk limbah
cair.
k) Pengolahan dengan Instalasi Pembuangan Air Limbah (IPAL)
perlu dilakukan untuk menjaga lingkungan agar tidak
tercemar.
l) Pengolahan limbah cair dapat dilakukan berdasarkan sifat
fisika, biologis dan kimia.