Anda di halaman 1dari 2

Nama : Bonanza Marbun

Candra Sihombing
Daniel Sinaga
Delky Simamora
Sri Mutiara E. Simatupang
Mata Kuliah : Etika I
Dosen : Pdt. Mixon A. Simarmata, M.Th
Etika Karakter Kristiani

Manusia sebagai mahkluk sosial adalah termasuk orang-orang yang memiliki kebebasan.
Dimana yang dimaksudkan sebagai kebebasan adalah kita memiliki hak untuk bersosial dan
bertindak mengambil keputusan untuk diri kita sendiri. Dengan adanya kebebasan yamng
diberikan, itu berarti bahwa diri kitalah yang nantinya akan bertanggung jawab atas apa yang
telah menjadi keputusan kita. Untuk itu diperlukan suara hati yang nantinya dapat membantu kita
dalam mengambil keputusan yang tepat untuk kita. Dan suara hati akan dibantu dengan adanya
kekuatan moral. Kekuatan moral adalah kekuatan kepribadian seseorang yang mantap dalam
kesanggupannya untuk bertindak sesuai dengan apa yang diyakininya sebagai benar. Dalam
bukunya, Franz Magnis-Suseno membahas ada beberapa sikap yang dianggap sebagai dasar
kepribadian yang mantap.
Pertama, yang dapat dijadikan usaha dasar untuk menjadi orang kuat secara moral adalah
kejujuran. Tanpa kejujuran kita tidak akan dapat berjalan. Karena jika untuk jujur saja kita belum
mampu, sama saja bahwa kita belum berani untuk menjadi diri kita sendiri dan belum sanggup
untuk mengambil keputusan. Jika kita ingin jujur dengan orang lain, terlebih dahulu yang harus
kita lakukan adalah jujur pada diri sendiri. Orang yang tidak jujur akan berada dalam pelarian: ia
lari dari orang lain yang ditakuti sebagai ancaman, dan ia lari dari dirinya sendiri karena tidak
berani menghadapi kenyataannya yang sebenarnya. Maka untuk dapat berlaku jujur dibutuhkan
sebuah keberanian, untuk berhenti melarikan diri dan menjadi diri sendiri.
Kedua, kita harus menjadi otentik yaitu menjadi diri kita sendiri. Manusia otentik adalah
manusia yang menghayati dan menunjukkan diri sesuai dengan keasliannya, dengan
kepribadiannya yang sebenarnya. Dan manusia yang tidak otentik berarti adalah orang-orang
yang tidak menunjukkan dirinya sendiri dan hanya akan bertindak dengan cara menyesuaikan
dirinya dengan apa yang diharapkan lingkungan yang seolah-olah menjadi tidak memiliki
kepribadian sendiri. Dasar ketidakotentikan itu sendiri adalah rasa takut jangan-jangan ia akan
ditinggalkan oleh orang-orang sekitarnya. Untuk itu, yang dapat dilakukannya hanyalah
mengikuti apa yang menjadi keinginan kelompok sekitarnya dan akan mengakibatkan ia tidak
mengembangkan identitas dan identitas dan kepribadiannya sendiri.
Ketiga, kesediaan untuk bertanggung jawab. Bertanggung jawab berarti suatu sikap
terhadap tugas yang membebani kita. Dengan begitu kita akan merasa terikat untuk
menyelesaikannya dan melaksanakannya sebaik mungkin, meskipun dituntut pengorbanan atau
kurang menguntungkan ataupun akan ditentang oleh orang lain. Merasa bertanggung jawab
berarti bahwa meskipun orang lain tidak melihat, kita tidak merasa puas sampai pekerjaan itu
diselesaikan sampai tuntas. Kesediaan untuk bertanggung jawab demikian adalah tanda kekuatan
batin yang sudah mantap.
Keempat, kemandirian moral. Kemandirian moral adalah bahwa kita tidak pernah ikut-
ikutan dengan berbagai pandangan moral dalam lingkungan kita, melainkan selalu membentuk
penilaian dan pendirian sendiri dan bertindak sesuai dengannya. Kita tidak sekedar mengikuti
apa yang biasa terjadi. Kemandirian moral adalah kekuatan batin untuk mengambil sikap moral
sendiri dan untuk bertindak sesuai dengannya. Kekuatan untuk bagaimanapun juga tidak mau
berurusan dengan permainan yang kita sadari sebagai tidak jujur atau melanggar keadilan.
Mandiri secara moral berarti kita tidak dapat dibeli oleh mayoritas, bahwa kita tidak pernah
akan rukun hanya demi kebersamaan kalau kerukunan itu melanggar aturan.
Kelima, keberanian moral. Keberanian moral menunjukkan diri dalam tekad untuk tetap
mempertahankan sikap yang telah diyakini sebagai kewajiban pun pula apabila tidak disetujui
atau secara aktif dilawan oleh lingkungan. Orang-orang yang memiliki ini tidak akan lari dari
tugas dan tanggung jawab juga kalau ia mengisolasikan diri, dibuat merasa malu, dicela,
ditentang atau diancam oleh banyak orang, dan juga oleh mereka yang penilaiannya kita segani.
Keberanian moral adalah kesetiaan terhadap suara hati yang menyatakan diri dalam kesediaan
untuk mengambil risiko. Keberanian moral berarti berpihak pada yang lebih lemah melawan
yang kuat, yang memperlakukannya dengan tidak adil. Keberanian moral tidak menyesuaikan
diri dengan kekuatan-kekuatan yang ada kalau itu berarti berkompromikan kebenaran dan
keadilan.
Keenam, kerendahan hati. Kerendahan hati bukan berarti kita merendahkan diri,
melainkan bahwa kita melihat diri seada kita. Kerendahan hati adalah kekuatan batin untuk
melihat diri sesuai dengan kenyataannya. Orang yang rendah hati tidak hanya melihay
kelemahannya melainkan juga kekuatannya. Ia sadar bahwa kekuatannya dan juga kebaikannya
terbatas. Dalam bidang moral kerendahan hati tidak hanya berarti bahwa kita sadar akan
keterbatasan kebaikan kita, melainkan juga bahwa kemampuan kita untuk memberikan penilaian
moral terbatas. Tanpa kerendahan hati keberanian moral mudah menjadi kesombongan atau
kedok untuk menyembunyikan, bahwa kita tidak rela untuk memperhatikan orang lain, atau
bahkan bahwa kita sebenarnya takut dan tidak berani untuk membuka diri dalam dialog kritis.
Orang yang rendah hati sering menunjukkan daya tahan yang paling besar apabila betul-betul
harus diberikan perlawanan. Orang yang rendah hati tidak merasa diri penting dan karena itu
berani untuk mempertaruhkan diri apabila ia sudah meyakini sikapnya sebagai tanggung
jawabnya.
Yang terakhir adalah realistic dan kritis. Franz Magnis-Suseno menutup buku ini dengan
pembahasan tentang sikap realistic dan kritis. Tanggug jawab moral menuntut sikap yang
realistik. Apa yang menjadi kebutuhan orang dan masyarakat yang real hanya dapat diketahui
dari realitas itu sendiri. Sikap realistic tidak berarti bahwa kita menerima realitas begitu saja.
Kita mempelajari keadaan dengan serealis-realisnya supaya dapat kita sesuaikan dengan tuntutan
prinsip-prinsip dasar. Tanggung jawab moral menuntut agar kita terus-menerus memperbaiki apa
yang ada supaya lebih adil, lebih sesuai dengan martabat manusia, dan supaya orang-orang dapat
lebih bahagia tanggung jawab moral yang nyata menuntut sikap realistik dan kritis. Pedomannya
ialah untuk menjamin keadilan dan menciptakan suatu keadaan masyarakat yang membuka
kemungkinan lebih besar bagi anggota-anggota untuk membangun hidup yang lebih bebas dari
penderitaan dan lebih bahagia.