Anda di halaman 1dari 2

Pada praktikum ini, dilakukan pengujian kromatografi lapis tipis dan kromatografi kertas.

Prinsip dari kromatografi lapis tipis dan kromatografi kertas adalah pemisahan zat berdasarkan
pada kelarutan dan adsorpsi dari suatu zat. Kadar warna dari suatu zat ditentukan dari faktor
retensi yaitu rasio dari jarak tempuh zat dengan jarak tempuh dari pelarut. Prinsip dari
kromatografi kertas dan kromatografi lapis tipis hampir sama, perbedaannya terdapat pada jenis
fase diam yang digunakan. Pada praktikum ini fase diam dari kromatografi kertas adalah kertas
saring Whatmann dan fase diam untuk kromatografi lapis tipis adalah plat silika. Waktu yang
dibutuhkan untuk kromatografi kertas lebih singkat dibandingkan dengan kromatografi lapis
tipis. Sedangkan untuk fase gerak yang digunakan sama, yaitu campuran dari pelarut isoamil
alkohol, alkohol, ammonia, dan air dengan perbandingan (4 : 4 : 1 : 1).
Preparasi dari kromatografi kertas dan lapis tipis hampir sama, yaitu pemberian garis batas
pada ujung atas dan bawah dari plat silika dan kertas Whatmann, kemudian dibagi menjadi
beberapa bagian untuk tempat penotolan sampel dan larutan standar serta tempat untuk penulisan
keterangan. Setelah preparasi selesai, dilanjutkan dengan penotolan larutan standar zat warna dan
sampel dengan cara penotolan menggunakan pipa kapiler sebanyak tiga kali, setiap kali
penotolan dibiarkan kering terlebih dahulu baru ditotol kembali hingga tiga kali.
Zat pewarna yang digunakan sebagai standar pada praktikum ini adalah Brilliant blue,
sunset yellow, Brown HT, dan Ponceau 4R. Keempat jenis zat pewarna tersebut memiliki
kekuatan adsorpsi yang berbeda-beda. Sampel yang diuji pada praktikum ini adalah sampel 1 dan
2 pada pengujian kromatografi lapis tipis dan sampel 2 untuk kromatografi kertas. Larutan
standar brilliant blue memiliki kekuatan adsorpsi terlemah baik pada kertas saring maupun plat
selulosa, hal ini dilihat dari jarak garis awal ke pusat zona paling panjang. Sedangkan larutan
standar yang memiliki kekuatan adsorpsi terkuat pada kertas saring adalah larutan standar brown
HT dan pada plat selulosa adalah ponceau 4R, hal ini dilihat dari jarak garis awal ke pusat zona
yang paling pendek.
Dari pengujian dengan kromatografi kertas , dapat diketahui bahwa sampel 2 mengandung
zat warna merah (Ponceau 4R) dan biru (Brilliant blue) dilihat dari nilai Rf dari sampel yang
paling mendekati dengan nilai Rf dari larutan standar Ponceau dan Brilliant blue. Sedangkan
pada kromatografi lapis tipis, pada sampel 1 diketahui mengandung zat warna brilliant blue dan
xxx (nek liat nilai Rf dee meh podo nd brown HT sama sunset yellow.). Pada sampel 2 diketahui
bahwa terkandung zat warna brilliant blue dan xxxx (ini pembulatan e aku bingung mendekati Rf
sg mana brown HT atau sunset yellow?).
Penentuan warna dari sampel dilakukan dengan cara membandingkan nilai Rf dari noda
pada sampel dengan nilai Rf dari larutan standar, dilihat mana yang paling mendekati dengan Rf
standar maka warna itulah yang dikandung oleh sampel.