Anda di halaman 1dari 67

LAPORAN PRAKTIKUM

PALEONTOLOGI
FIELDTRIP SANGIRAN

Dosen Pengampu :
Drs. Gentur Waluyo
Asisten Praktikum :
Fatchurrohman Dwi Saputra
Disusun Oleh :

Untung Rizkiyanto ( H1F012002 )


Dalfa Fatihatussalimah ( H1F012002 )
Shisil Fitriana ( H1F012013 )
Enggar Shafira Agriska ( H1F012015 )
Luthfi Adi Prasetyo ( H1F012018 )

KEMENTERIAN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN


REPUBLIK INDONESIA
UNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMAN
FAKULTAS SAINS DAN TEKNIK
PROGRAM STUDI TEKNIK GEOLOGI
PURWOKERTO
2013

1
KATA PENGANTAR

2
Terimakasih pada

Dosen Paleontologi kita tercinta

Asisten praktikum

Pendamping Kelompok

3
Kerjasama Kelompok

4
BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Geologi daerah Sangiran erat kaitannya dengan cabang ilmu Geologi
khususnya Paleontologi. Paleontologi adalah ilmu yang mempelajari tentang
keadaan fosil-fosil yang terkandung dalam batuan yang dapat mengungkapkan
sejarah masa lalu. Daerah Sangiran sangat kaya akan keterdapan fosilnya terutama
fosil vertebrata. Sudah banyak penelitian di daerah sangiran ini yang mempelajari
formasi batuan, kandungan fosilnya,jenis fosilnya dan yang lainnya. Semua
penelitian ini dapat kita lihat d museum yang ada d Sangiran.
Museum Sangiran adalah museum arkeologi yang terletak di Kecamatan
Kalijambe, Kabupaten Sragen, Provinsi Jawa Tengah, Indonesia. Museum ini
berdekatan dengan area situs fosil purbakala Sangiran yang merupakan salah satu
Situs Warisan Dunia. Situs Sangiran memiliki luas mencapai 56 km meliputi tiga
kecamatan di Sragen (Gemolong, Kalijambe, dan Plupuh) serta Kecamatan
Gondangrejo yang masuk wilayah Kabupaten Karanganyar. Situs Sangiran
berada di dalam kawasan Kubah Sangiran yang merupakan bagian dari depresi
Solo, di kaki Gunung Lawu (17 km dari kota Solo).
Museum Sangiran beserta situs arkeologinya, selain menjadi obyek wisata
yang menarik juga merupakan arena penelitian tentang kehidupan pra sejarah
terpenting dan terlengkap di Asia, bahkan dunia. Dalam museum ini dapat
diperoleh informasi lengkap tentang pola kehidupan manusia purba di Jawa yang
menyumbang perkembangan ilmu pengetahuan seperti Antropologi, Arkeologi,
Geologi, Paleoanthropologi. Di lokasi situs Sangiran ini pula, untuk pertama
kalinya ditemukan fosil rahang bawah Pithecantropus Erectus (salah satu spesies
dalam taxon Homo erectus) oleh arkeolog Jerman, Profesor Von Koenigswald.
Museum sangiran menyumbang perkembangan ilmu pengetahuan seperti
Antropologi, Arkeologi, Geologi, Paleoanthropologi. Oleh karena itu, dalam
makalah ini akan dibahas tentang informasi tentang museum sangiran.

5
1.2 Rumusan Masalah
Berdasarkan dari latar belakang diatas dapat dirumuskan permasalahan
sebagai berikut:
1. Bagaimana kondisi geologi regional daerah sangiran?
2. Apa saja jenis fosil yang terdapat pada daerah sangiran?
3. Bagaimana sejarah geologi daerah sangiran?

1.3 Tujuan Penulisan


Tujuan yang terkandung dari penelitian ini adalah sebagai berikut:
1. untuk mengetahui kondisi geologi regional daerah sangiran
2. untuk mengetahui jenis fosil yang terdapat pada daerah sangiran
3. untuk mengetahui sejarah geologi daerah sangiran

1.5 Ruang Lingkup


Penelitian ini adalah hasil studi lapangan paleontologi dan kondisi geologi
dengan keterdapatan fosil di daerah Sangiran. Studi lapangan paleontologi
dilakukan dengan :
1. Pengamatan kondisi geologi di lapangan.
2. Pengamatan kondisi bentang alam di lapangan.
3. Pengamatan fosil yang dapat diamati di lapangan seperti kemunculan
fosil molusca laut, rawa dan darat pada singkapan formasi di
Sangiran

6
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Regional Sangiran


Pulau Jawa secara fisiografi dan struktural, dibagi atas empat bagian
utama (Bemmelen, 1970) yaitu: Sebelah barat Cirebon (Jawa Barat), Jawa
Tengah (antara Cirebon dan Semarang), Jawa Timur (antara Semarang dan
Surabaya), Cabang sebelah timur Pulau Jawa, meliputi Selat Madura dan
Pulau Madura. Jawa Tengah merupakan bagian yang sempit di antara bagian
yang lain dari Pulau Jawa, lebarnya pada arah utara-selatan sekitar 100 120
km. Daerah Jawa Tengah tersebut terbentuk oleh dua pegunungan yaitu
Pegunungan Serayu Utara yang berbatasan dengan jalur Pegunungan Bogor di
sebelah barat dan Pegunungan Kendeng di sebelah timur serta Pegunungan
Serayu Selatan yang merupakan terusan dari Depresi Bandung di Jawa Barat.
Pegunungan Serayu Utara memiliki luas 30-50 km, pada bagian barat
dibatasi oleh Gunung Slamet dan di bagian timur ditutupi oleh endapan
gunung api muda dari Gunung Rogojembangan, Gunung Prahu dan Gunung
Ungaran. Geologi daerah penelitian tepatnya terletak pada jalur Pegunungan
Serayu Utara, yaitu pada lereng bagian selatan dari Gunung Api Rogojembangan,
Dieng dan Gunung Sundoro, serta terletak pada bagian utara dari aliran Sungai
Serayu yang mengalir dari Timur ke arah Barat.Sketsa fisiografi Jawa bagian

tengah (Bemmelen, 1943 van Bemmelen, 1970, dengan modifikasi)

7
Pembahasan geomorfologi secara regional di Indonesia, tidak terlepas dari
pembagian jalur-jalur fisiografi yang dibuat oleh van Bemmelen (1949).Menurut
van Bemmelen (1949), secara umum fisiografi Jawa Tengah mulai dari bagian
utara sampai ke selatan dapat dibagi ke dalam lima zona fisiografi, yaitu:
1. Dataran Pantai Utara
Di Jawa Tengah, zona ini mempunyai lebar maksimum 40 km di selatan
Brebes, Lembah Pemali memisahkan Zona Bogor (Bogor Range) dari Jawa Barat
dengan Pegunungan Utara dari Jawa Tengah. Ke arah timur dataran pantai ini
makin menyempit +20 km di sebelah selatan Tegal dan kemudian menghilang
seluruhnya di sebelah timur Pekalongan, dataran tinggi dari gunungapi Kuarter
menjorok ke arah laut. Antara Weleri dan Kaliwungu, dataran ini muncul kembali,
dibentuk oleh hamparan endapan aluvial dari sungai Bodri yang mengalami
pertumbuhan maju ke arah Laut Jawa.
2. Pegunungan Serayu Utara
Zona ini menempati bagian utara Jawa Tengah dan membentuk rantai
penghubung antara Zona Bogor di Jawa Barat dengan Pegunungan Kendeng di
Jawa Timur. Di bagian barat dibatasi oleh Gunung Slamet (3429 mdpl) dan di
bagian timur tertutup oleh hasil endapan volkanik muda dari Gunung
Regojembang (2177 mdpl), Komplek Dieng (Gunung Prahu, 2566 mdpl) dan
Gunung Ungaran (2050 mdpl).Garis batas dengan Zona Bogor adalah Prupuk-
Bumiayu-Ajibarang.
3. Zona Depresi Sentral
Zona ini menempati bagian tengah dari Jawa Tengah dan dikenal dengan
nama Lembah Serayu. Lembah ini memisahkan antara Pegunungan Serayu Utara
dengan Pegunungan Serayu Selatan.Zona ini mempunyai penyebaran dari
Majenang, Ajibarang, Purwokerto, Banjarnegara, dan Wonosobo.
4. Pegunungan Serayu Selatan
Zona ini terdiri dari bagian barat dan timur. Bagian barat disebut sebagai
pengangkatan pada zona depresi Bandung dari Jawa Barat atau sebagai struktur
baru yang terdapat di Jawa Tengah. Bagian timur Pegunungan Serayu Selatan
membentuk antiklin. Bagian barat dengan bagian timur dipisahkan oleh Lembah

8
Jatilawang, yang dimulai dekat Ajibarang, sebuah antiklin menjadi sempit dan
dipotong oleh Sungai Serayu yang melintang dengan arah utara-selatan. Sebelah
timur dari Banyumas, antiklin berkembang ke arah timur, membentuk
antiklinorium mencapai lebar 30 km dari daerah Luk Ulo sampai ke selatan
Banjarnegara. Sedangkan ujung timur dari Pegunungan Serayu Selatan
membentuk sebuah dome dari Purworejo sampai lembah Sungai Progo dan
dikenal sebagai Pegunungan Kulon Progo.
5. Dataran Pantai Jawa Tengah Selatan
Zona ini mempunyai lebar 10 25 km. Bagian ini membentuk kontras
yang tajam dengan pantai berbukit dari Jawa Barat dan Jawa Timur.Jalur dataran
ini bergantung dengan Zona Bandung dari Jawa Barat. Pada bagian tengah jalur
ini terganggu oleh adanya Pegunungan Karangbolong yang secara fisiografis dan
struktural mirip dengan Pegunungan Selatan dari Jawa Barat dan Jawa Timur.
Daerah penelitian masuk ke dalam zona kuning, dimana daerah penelitian
masuk ke dalam zona Antiklinorium Pegunungan Kendeng (van Bemmelen,
1970).

9
Menurut van Bemmelen (1949) struktur kubah sangiran mungkin
berkaitan dengan penggelinciran grafitasi(grafity gliding). Bahan vulkanik di
lereng gunung api. Kloosterman mempunyai pendapat lain yang digambarkan di
gambar diatas struktur diaplir gunung mijil adalah kunci untuk mengerti struktur
kubah sangiran. Walaupun dalam skala yang lebih besar tetapi prinsip nya tetap
sama yaitu lapisan plastis yang ditekan oleh beban dari lapisan yang diatasnya,
apalagi bila ditekan dari atas tidak merata seperti tubuh gunung api. Gunung api
laawu yang mempunyai fundamesi batuan tersier yang sangat lembek. Tekanan
gravitasi tubuh gunung api lawu mungkin mampu menekan material plastis yaitu
mud stones dan lempung marine keluar dari diaplir yang mengalir ke atas dan
membentuk lapisan diatasnya. Jadi menurut kloosterman struktur kubah sangiran
yang begitu sempurna adalah hasil dari diaplir bahan tersier yang mendorong
keatas sehingga lapisan diatas terbentuk sebagai kubah. Proses ini mungkin masih
terjadi terus menerus karena proses ini berjalan pelan pelan. Oleh karena proses
ini berjalan secara menerus, sungai antaselden dan kali cemoro berhasil
memotong struktur jubbah sangiran. Keistimewaan sangiran menurut ahli geologi
dahulu dimasa purba merupakan hamparan lautan. Akibat proses tektonik dan
bencana alam letusan gunung lawu, gunung merapi dan gunung merbabu maka
sangiran menjadi sebuah dataran. Hal ini dibuktikan dengan lapisan lapisan
pembentuk wilayah sangiran yang sangat berbeda dengan lapisan tanah pada

10
wilayah lain. Tiap lapisan tanah ditemukan fosil-fosil menurut jenis dan
jamannya.Misalnya fosil binatang laut banyak di temukan di lapisan tanah paling
bawah yang dulunya merupakan lautan.

Geomorfologi daerah sangiran merupakan suatu dome.Sangiran


merupakan daerah dengan luas sekitar 32 km2 yang membujur dari utara ke
selatan sepanjang 8 km dan dari timur ke barat sepanjang 4 km, sehingga secara
umum dome Sangiran berbentuk oval.Dome Sangiran merupakan daerah yang
tersingkap. Berdasarkan hasil penelitian terbentuknya Dome Sangiran merupakan
peristiwa geologi yang diawali pada 2,4 juta tahun yang lalu terjadi
pengangkatan,gerakan lempeng bumi,letusan gunung berapi dan adanya masa
glasial sehingga terjadi penyusutan air laut yang akhirnya membuat wilayah
Sangiran terangkat keatas, hal ini dibuktikan dengan endapan yang bisa kita
jumpai di sepanjang Sungai Puren yang tersingkap lapisan lempeng biru dari
Formasi Kalibeng yang merupakan endapan daerah lingkungan lautan dan hingga
sekarang ini banyak sekali dijumpai fosil-fosil moluska laut. Aspek geomorfologi
dome Sangiran meliputi :
1. Merupakan Dome.
2. Sangiran adalah suatu Kawasan yang dibentuk / dikontrol oleh struktur
Geologi (Lipatan Miring Segala Arah) yang bekerja secara bersama-sama
dengan proses Eksogenik ( Curah Hujan, Pelapukan, Erosi dan
sedimentasi).
3. Proses-proses Geomorfik ini akan bekerja secara simultan, karena
didukung oleh faktor resistensi Batuan yang ada adalah sangat bervariasi.
Morfologi Sangiran merupakan kubah struktural dengan puncak telah terer
osi kuat.Sebagaiakibatnya adalah pembentukan pada aliran yang spesifik yaitu "an

11
nular"yakni pada aliran "trallis" dominan sungai sub sekuenya melingkar dan
sungai konsekuenya radial. Suatu struktur kubah sering kali memperlihatkan
penampang-penampang geologis yang baik dari informasi muda di pinggir ke
formasi yang tua di pusat kubahnya. Kubah sangiran juga menyingkap suatu
penampang hingga batuan tersier. Proses ini mungkin masih berlangsung terus
menerus, sebab proses ini berjalan secara geomorfik.
Dalam sangiran terdapat sungai anteseden dan kali cemoro yang
memotong struktur kubah sangiran walaupun lapisan lapisan di dalam kubah
terpotong ke atas tetapi kali cemoro tetap dapat memotongnya dengan erosi
vertical.

2.2 Formasi-Formasi di Sangiran


Formasi Kalibeng.
Formasi ini merupakan formasi tertua di lembah Sangiran. Lapisan ini
terdiri dari pasir yang berwarna abu kehitaman dan batu pasir gampingan dengan
kandungan fosil Foraminifera dan Mollusca(bertulang lunak) yang melimpah. Di
lapisan ini pula terdapat fosil kepiting, hal ini menunjukkan bahwa lapisan ini
dulunya adalah wilayah perairan payau. Menurut para ahli bahwa perairan ini
mengalami regresi (penyusutan air laut) yang terjadi pada zaman Pliosen, hal ini
menyebabkan terbentuknya daratan baru. Hipotesa tersebut diperkuat dengan
penemuan fosil Gajah purba atau Madtodon bumi juensis . Berumur 5 juta s/d 1.8
juta tahun lalu. Dengan lapisan:
1. Lapisan napal (Marl)
2. Lapisan lempung abu-abu (biru) dari endapan laut dalam
3. Lapisan foraminifera dari endapan laut dangkal
4. Lapisan balanus batu gamping
5. Lapisan lahar bawah dari endapan air payau.
Formasi Pucangan.
Formasi ini terdiri dari dua bagian yaitu : bagian breksi dan bagian batu
lempung hitam. Bagian breksi terdiri dari batu pasir konglomerat dan breksi,
lapisan ini berbatasan langsung dengan formasi Kalibeng. Pada bagian breksi
ditemukan fosil hewan jenis vertebrata (bertulang belakang) seperti Stegodont

12
spdan Sus sp. spesies ini disebut fauna Jetis oleh Von Koeningswald. Sementara
pada lapisan lempung hitam diduga berasal dari daerah air tawar, dan jenis spesies
faunanya serupa dengan bagian breksi. Pada formasi Pucangan ini strukturnya
terdiri dari Vulkanik dan air tawar. Berumur 1.8 juta s/d 1 juta tahun lalu. Dengan
lapisan:
1. Lapisan lempung hitam (kuning) dari endapan air tawar
2. Lapisan batuan kongkresi
3. Lapisan lempung volkanik (Tuff) (ada 14 tuff)
4. Lapisan batuan nodul
5. Lapisan batuan diatome warna kehijauan
Formasi Kabuh.
Formasi ini diduga berasal dari danau Plestosin yang telah mengering,
pada lapisan ini telah dilakukan ekskavasi di teras Dayu yang merupakan
Grenzbank(lapisan pembatas). Disini ditemukan Sangiran flake industry
(alat buatan khusus Sangiran) dan fosil Pithecanthropus erectus. berumur
1 juta s/d 250 ribu tahun lalu. Dengan Lapisan:
01. Lapisan konglomerat
02. Lapisan batuan grenzbank sebagai pembatas
03. Lapisan lempeng vulkanik (tuff) (ada 3 tuff)
04. Lapisan pasir halus silang siur
05. Lapisan pasir gravel.
Formasi Notopuro.
Formasi ini merupakan formasi yang paling curam letaknya, dan hanya
terdapat fosil seperti di formasi kabuh. Adapun fosil manusia purba yang
ditemukan di Sangiran, yaitu :
Meganthropus palaeojavanicus
Ditemukan pada lapisan pleistosen bawah, oleh Von Koeningswald
Homo soloensis
Ditemukan di lapisan pleistosen atas oleh 3 arkeolog Belanda yaitu
Ter Haar, Oppenoorth dan Von Koeningswald. Berumur 250 ribu s/d
15 ribu tahun lalu. Dengan lapisan:
01. Lapisan lahar atas

13
02. Lapisan teras
03. Lapisan batu pumice

Berikut rincian penemuan fosil-fosil di daerah Sangiran :


TAHUN TEMUAN
1936 Fragmen rahang bawah
1937 Atap tengkorak
1938 Atap tengkorak
1939 Tengkorak
1939 Fragmen rahang bawah
1941 Gigi-gigi
1952 Rahang bawah
1960 Fragmen rahang bawah
1963 Tulang pipi, atap tengkorak
1965 Gigi-gigi
1965 Atap tengkorak
1965 Tulang-tulang tengkorak
1965 Fragmen tengkorak
1966 Fragmen tulang tengkorak
1966 Fragmen dasar tengkorak
1968 Fragmen rahang atas kiri
1969 Fragmen rahang atas kanan
1970 Fragmen tulang tengkorak
1970 Fragmen tulang kepala bagian belakang
1971 Fragmen tulang tengkorak

2.3 Struktur Yang Terdapat di Sangiran


Menurut Pulunggono dan Martodjojo (1994), pola struktur Pulau Jawa
pada dasarnya memiliki tiga arah kelurusan struktur yang dominan, yaitu:
Pola struktur pertama yang dicirikan oleh arah timur laut - barat daya yang dikenal
dengan Pola Meratus. Pola Meratus terbentuk pada 80 sampai 53 juta tahun yang
lalu (Kapur akhir Eosen Awal)

14
Pola struktur kedua dominan dijabarkan oleh sesar-sesar berarah utara
selatan yang dikenal dengan Pola Sunda. Pola Sunda pada umumnya berupa
struktur regangan. Pola Sunda terbentuk sejak 53 sampai 32 juta tahun yang lalu
(Eosen awal Oligosen awal)
Pola struktur ketiga atau disebut juga Pola Jawa mempunyai arah
struktur barat timur yang umumnya dominan berada berada di daratan Pulau
Jawa bagian barat diwakili oleh sesar-sesar naik seperti sesar baribis dan sesar-
sesar dalam Cekungan Bogor. Di bagian tengah tampak pola sesar-sesar yang
terdapat pada zona Serayu Utara dan Serayu Selatan.Di bagian Timur ditunjukan
oleh sesar naik.Pola Jawa terbentuk sejak 32 juta tahun yang lalu.
Secara regional di zona Pegunungan Serayu Selatan dijumpai struktur
geologi berupa lipatan, sesar, dan kekar (Asikin, dkk, 1992).Pada umumnya
strukturstruktur tersebut dijumpai pada batuan yang berumur Kapur hingga
Pliosen.Lipatanlipatan sebagian besar berada di daerah barat dan umunya
berarah barattimur.Di bagian timur dan selatan struktur lipatan pada umumnya
berupa monoklin dengan kemiringan lapisan ke arah selatan.Sumbusumbu
lipatan tersebut memiliki arah yang relatif sejajar dan sebagian besar terpotong
oleh sesar.
Struktur Geologi permukaan yang terdapat di daerah Banyumas dan
sekitarnya umumnya didominasi oleh sumbu-sumbu lipatan dan jurus perlapisan
batuan yang berarah baratlaut-tenggara.Dari interpretasi penampang seismik
melalui Adipala- Purwokerto, terlihat adanya tinggian dan rendahan pada
Cekungan Banyumas.Tinggian dan rendahan tersebut dipisahkan oleh sesar-sesar
turun membentuk struktur graben dan setengah graben.Pada graben ini
diendapkan material sedimen Paleogen dan Neogen.

2.4 Sejarah Sangiran


Sangiran merupakan situs prasejarah yang berada di kaki gunung lawu,
tepatnya di depresi Solo sekitar 17 km ke arah utara dari kota solo dan secara
administrative terletak diwilayah Kabupaten Sragen dan sebagian terletak di
kabupaten karanganyar, propinsi Jawa Tengah. Luas wilayah 56 KM yang
mencakup tiga kecamatan di kabupaten Sragen. Surat keputusan Menteri

15
Pendidikan & Kebudayaan NO 070/0/1977, Sangiran ditetapkan sebagai cagar
budaya dengan luas wilayah 56 KM, dan selanjutnya Sangiran pada tahun 1996
oleh UNESCO ditetapkan sebagai World Heritage dengan nomor 593.
Menurut sejarah Geologi, daerah Sangiran mulai terbentuk pada akhir kala
plestosen. Situs Sangiran terkenal karena mempunyai stratigrafi yang lengkap dan
menjadi yang terlengkap di benua Asia, sehingga itu diakui dapat
menyumbangkan data penting bagi pemahaman sejarah evolusi fisik manusia,
maupun lingkungan keadaan alam purba. Stratigrafi di kawasan situs Sangiran
menunjukkan proses perkembangan evolusi dari lingkungan laut yang berangsur-
angsur berubah menjadi lingkungan daratan, seperti tercermin dari fosil-fosil yang
ditemukan pada masing-masing formasi. Berdasarkan proses terbentuknya &
kandungannya, lapisan tanah situs Sangiran dibedakan menjadi lima lapisan.

2.5 Stratigrafi Sangiran


Korelasi Satuan Peta Lembar Salatiga (Sukardi dan T. Budhitrisna, 1992)

Di daerah penelitian Sangiran terdapat 4 lapisan stratigrafi bagian dari


stratigrafi regional Salatiga.Lapisan stratigrafi yang ada di Sangiran sangatlah
lengkap. Lapisan stratigrafi yang pertama tersebut mulai dibentuk pada akhir kala

16
Pliosen yang pada saat itu merupakan lingkungan laut dalam Formasi Kalibeng (2
juta - 1,8 juta tahun yang lalu). Di dalam lapisan lempung biru, selain
mengandung foraminifera dan jenis mollusca laut (turitella, arca, nasarius, dan
lain-lain) juga ditemukan fosil ikan, kepiting, dan gigi ikan hiu.

2.6 Form Fieldtrip

1. Lokasi Pengamatan

Formasi Notopuro.

Nomor Lokasi Pengamatan : 1


Nama Lokasi : Dukuh Pagerjo, Desa Krikilan,
Kecamatan Kalijambe, Kabupaten Sragen
Kordinat GPS : S 7,450440 dan E 110,831830
Unsur Geologi yang diamati: Singkapan Batupasir, Breksi Vulkanik,
Formasi Notopuro
Hari/ Tanggal : Minggu, 1 Desember 2013
Waktu Pengamatan : pukul 09.00 s.d. 10.00
Cuaca : Cerah
Sketsa Singkapan :

17
Deskripsi Singkapan:

Singkapan ini terletak di sebelah utara jalan raya pada stopsite 1, singkapan ini
merupakan singkapan sedimen dan terlhat lapuk, juga di perkirakan mengalami longsor
yang terlihat dari kondisi singkapan yang berbentuk seperti debris. Dari arah kejauhan
terlihat dua litologi batuan yang terdapat pada singkapan tersebut, yaitu batupasir dan
konglomerat. Selain itu terdapat struktur geologi yaitu berupa kekar dari arah timur.
Deskripsi Batuan dan Fosil :

Warna : Coklat
Struktur : Masif
Jenis Batuan : Klatstik
Tekstur :
Kemas : terbuka
Porositas : baik
Besar Butir : pasir
Sortasi : baik
Komposisi Mineral : kuarsa, semennya silika
Sifat Batuan : non karbonat
Nama batuan : Batupasir

Deskripsi Batuan dan Fosil :


Warna : Coklat
Struktur : Masif
Jenis Batuan : Klatstik
Tekstur :
Kemas : terbuka
Porositas : buruk
Besar Butir : kerikil
Sortasi : buruk
Komposisi Mineral : matriks: kuarsa semen: karbonat fragmen:
andesit, diorit, batupasir
Sifat Batuan : karbonat
Nama batuan : konglomerat
Keterangan Tmbahan : Pada singkapan ini terdapat dua warna litologi
yang berbeda yaitu terang dan gelap dan termasuk dalam formasi notopuro.
Pengukuran Struktur :-
Potensi Geologi :-

18
2. Lokasi Pengamatan 2
Dome Sangiran
Nomor Lokasi Pengamatan :2
Nama Lokasi : Dukuh Pagerjo, Desa Krikilan,
Kecamatan Kalijambe, Kabupaten Sragen
Kordinat GPS : S 7,450440 dan E 110,831830
Unsur Geologi yang diamati: Dome Sangiran
Hari/ Tanggal : Minggu, 1 Desember 2013
Waktu Pengamatan : pukul 10.15 s.d. 10.30
Cuaca : Cerah
Sketsa Singkapan :

Deskripsi Singkapan:
Dome Sangiran merupakan daerah yang tersingkap. Berdasarkan hasil
penelitian terbentuknya Dome Sangiran merupakan peristiwa geologis yaitu
diawali pada 2,4 juta tahun yang lalu terjadi pengangkatan,gerakan lempeng
bumi,letusan gunung berapi dan adanya masa glasial sehingga terjadi penyusutan
air laut yang akhirnya membuat wilayah Sangiran terangkat keatas, hal ini
dibuktikan dengan endapan yang bisa kita jumpai di sepanjang Sungai Puren yang
tersingkap lapisan lempeng biru dari Formasi Kalibeng yang merupakan endapan
daerah lingkungan lautan dan hingga sekarang ini banyak sekali dijumpai fosil-
fosil moluska laut.

19
3. Lokasi Pengamatan
Formasi kalibeng

Nomor Lokasi Pengamatan :3

Nama Lokasi : Kalipuren, Dukuh Pablengan, Desa


Krikilan, Kecamatan Kalijambe, Kabupaten Sragen

Koordinat GPS : S 7,450920 E 110,841280

Unsur Geologi yang diamati: Singkapan Batulempung Biru, Formasi


Kalibeng

Hari/Tanggal : Minggu, 1 Desember 2013

Waktu Pengamatan : 10.34 WIB s/d 11.59 WIB

Cuaca : Cerah

Sketsa Singkapan :

20
Deskripsi Singkapan :

Singkapan ini terletak di Kalipuren, Dukuh Pablengan, Desa Krikilan,


Kecamatan Kalijambe, Kabupaten Sragen. Singkapan ini terletak 600 meter dari
jalan raya. Singkapan ini membentang dari arah utara ke selatan. Singkapan ini
berukuran 4 m x 7 m dan merupakan singkaoan batuan sedimen berupa
batulempung biru. Singkapan ini merupakan formasi kalibeng.

Umur formasi ini adalah Pliosen (2 juta -1,8 juta tahun yang lalu).
Persebaran formasi Kalibeng ditemukan disekitar Kubah Sangiran, dan
membentuk perbukitan yang landai. Ketebalan formasi ini mencapai 126,5 m.
satuan litologinya berupa lempung abu-abu kebiruan setebal 107 m, pasir lanau
setebal 4,2 6,9 m, batu gamping balanus setebal 0 - 10,1M.

Pada formasi ini banyak ditemukan fosil-fosil Foraminifera dan Moluska


laut. Antara lain ditemukan : arca (anadara), arcitectonica, lopha (alectryonia),
Conus, Mirex, Chlamis, Pecten, Prunum, Turicula, renella spinoca, anomia,
arcopsis, linopsis, dan turitella acoyana. Fosil-fosil tersebut merupakan ciri dari
lingkungan pengendapan laut dangkal

Proses pembentukan formasi tersebut di bawah kendali tektonik, muka


laut. Ketebalan formasi Kalibeng ini lebih dari 130 meter. Formasi Kalibeng ini
mengandung fosil foraminifera, moluska laut dan moluska air payau.

Jenis Batuan : Batuan Sedimen Klastik

Deskripsi Batuan : 1. Batulempung Biru

Sedimen Klastik
Hitam kebiruan
Struktur Perlapisan
Karbonatan
Fosil Mollusca
Besar Butir Lempung

2. Fosil Mollusca

21
Memilki cangkang memanjang
Berwarna putih kecoklatan
Kondisi fosil agak lapuk

Nama Batuan : 1. Batulempung Biru

Potensi Geologi :

Formasi ini mengandung fosil yang digunakan untuk bidang keilmuan


seperti Biologi, Paleontologi, dan Paleoantropologi.

4. Lokasi Pengamatan
Formasi Kabuh
Nomor Lokasi Pengamatan : 4
Nama Lokasi : Desa Dayu Kecamatan Gondangrejo
Kabupaten Karanganyar
Kordinat GPS : S 70 25 34,33 dan E 1100 90 43

Unsur Geologi yang diamati: Singkapan Batupasir, Formasi Kabuh


Hari/ Tanggal : Minggu, 1 Desember 2013
Waktu Pengamatan : pukul 11.20 s.d. 11.40
Cuaca : Cerah
Potensi Geologi :
Formasi ini mengandung fosil yang digunakan untuk bidang keilmuan
seperti Biologi, Paleontologi, dan Paleoantropologi.
Sketsa Singkapan :

22
Deskripsi Singkapan:
Pada fieldtrip hari minggu tanggal 1 Desember 2013 lokasi pengamatan yang
ketiga adalah singkapan formasi kabuh yang terletak di desa Dayu Kecamatan
Gondangrejo Kabupaten Karanganyar pada koordinat gps S 70 25 34,33 dan E
1100 90 43 pada pukul 10.45 sampai 13.15 dengan keadaan cuaca yang cerah.
Formasi ini terletak kurang lebih 500m dari jalan utama, dekat dengan aliran
sungai, mempunyai dimensi 7m x 10m,banyak vegetasi di sekitar singkapannya.
Deskripsi Batuan : 1. Batupasir karbonatan

Sedimen Klastik
Kuning Kecoklatan
Struktur Perlapisan
Karbonatan
Besar Butir pasir halus-pasir kasar

Nama Batuan : 1. Batupasir Karbonatan

5. Lokasi Pengamatan
Formasi Pucangan.
Nomor Lokasi Pengamatan : 5
Nama Lokasi : Dukuh Ngampon, Desa Krikilan,
Kecamatan Kalijambe, Kabupaten Sragen
Kordinat GPS : S 70 7 13,91 dan E 1100 50 3,854
Unsur Geologi yang diamati: Singkapan Batulempung, Tufaan, Formasi
Pucangan
Hari/ Tanggal : Minggu, 1 Desember 2013
Waktu Pengamatan : pukul 11.50 s.d. 12.40
Cuaca : Cerah
Potensi Geologi : Formasi ini mengandung fosil yang
digunakan untuk bidang keilmuan seperti Biologi, Paleontologi, dan
Paleoantropologi.

23
Sketsa Singkapan :

Deskripsi Singkapan:
Singkapan ini terletak di Kalipuren, Dukuh Pablengan, Desa Krikilan,
Kecamatan Kalijambe, Kabupaten Sragen. Singkapan ini terletak 600 meter dari
jalan raya. Singkapan ini membentang dari arah utara ke selatan. Singkapan ini
berukuran 4 m x 7 m dan merupakan singkaoan batuan sedimen berupa
batulempung biru. Singkapan ini merupakan formasi kalibeng.

Umur formasi ini adalah Pliosen (2 juta -1,8 juta tahun yang lalu).
Persebaran formasi Kalibeng ditemukan disekitar Kubah Sangiran, dan
membentuk perbukitan yang landai. Ketebalan formasi ini mencapai 126,5 m.
satuan litologinya berupa lempung abu-abu kebiruan setebal 107 m, pasir lanau
setebal 4,2 6,9 m, batu gamping balanus setebal 0 - 10,1M.

Pada formasi ini banyak ditemukan fosil-fosil Foraminifera dan Moluska


laut. Antara lain ditemukan : arca (anadara), arcitectonica, lopha (alectryonia),
Conus, Mirex, Chlamis, Pecten, Prunum, Turicula, renella spinoca, anomia,
arcopsis, linopsis, dan turitella acoyana. Fosil-fosil tersebut merupakan ciri dari
lingkungan pengendapan laut dangkal

24
Proses pembentukan formasi tersebut di bawah kendali tektonik, muka
laut. Ketebalan formasi Kalibeng ini lebih dari 130 meter. Formasi Kalibeng ini
mengandung fosil foraminifera, moluska laut dan moluska air payau.

Deskripsi Batuan : 1. Batulempung

Sedimen Klastik
Abu-abu
Struktur Perlapisan
Karbonatan
Fosil Mollusca
Besar Butir Lempung

2. Fosil Mollusca

Memilki cangkang memanjang


Berwarna putih kecoklatan
Kondisi fosil agak lapuk
Nama Batuan : 1. Batulempung

6. Lokasi pengamatan
Formasi pucangan
Nomor Lokasi Pengamatan : 6
Nama Lokasi : Dukuh Ngampon, Desa Krikilan,
Kecamatan Kalijambe, Kabupaten Sragen
Kordinat GPS : S 70 7 13,91 dan E 1100 50 3,854
Unsur Geologi yang diamati: Singkapan Batulempung, Tufaan, Formasi
Pucangan
Hari/ Tanggal : Minggu, 1 Desember 2013
Waktu Pengamatan : pukul 12.45. s.d. 13.15
Cuaca : Cerah
Potensi Geologi : Formasi ini mengandung fosil yang
digunakan untuk bidang keilmuan seperti Biologi, Paleontologi, dan
Paleoantropologi.

25
Sketsa Singkapan :

Deskripsi Singkapan :
Pada fieldtrip hari minggu tanggal 1 Desember 2013 lokasi pengamatan
yang pertama adalah singkapan formasi pucangan yang terletak di desa Dukuh
Ngampon Kalijambe Kabupaten Sragen pada koordinat gps S 70 7 13,91 dan E
1100 50 3,854 pada pukul 10.45 sampai 11.20 dengan keadaan cuaca yang
cerah. Singkapan formasi pucangan terletak kurang lebih 200m dari jalan utama,
mempunyai dimensi 10m x 6m terdiri dari breksi laharik dan batulempung,
banyak terdapat fosil binatang laut dan tumbuhan,batuan yang mendominasi pada
formasi ini adalah batulempung hitam,formasi ini terbentuk di daerah peralihan
dari laut ke darat.
Deskripsi Batuan : 1. Batu pasir karbonatan

Sedimen Klastik
Warna Hitam
Struktur mudcrack
Sifat Karbonatan
Besar Butir Pasir Halus
Komposisi batuan kuarsa dan fosil kerang

2. Batulempung

26
Sedimen Klastik
Putih kebiru-biruan
Struktur Perlapisan
Karbonatan
Fosil Mollusca
Besar butir Lempung

Nama Batuan : 1.Batu pasir karbonatan

2.Batu Lempung

27
BAB III

PEMBAHASAN

A. Deskripsi Singkapan di Lapangan

I. Lokasi Pengamatan1

Pada sekitar 250.000 tahun yang lalu, lahar vulkanik diendapkan kembali
di daerah Sangiran, yang juga mengangkut material batuan andesit berukuran
kecil hingga bongkah. Pengendapan lahar ini dimungkinkan berlangsung cukup
singkat sekitar 70.000 tahun. Di atasnya kemudian diendapkan lapisan pasir
vulkanik, dan ini yang menjadi bagian dari formasi Notopuro.
Setelah pembentukan Formasi Notopuro, terjadilah pelipatan morfologi
secara umum di Sangiran yang disebabkan deformasi kendeng periode kedua
mengakibatkan Sangiran ke dalam bentuk kubah raksasa. Erosi kali Cemoro
berlangsung terus menerus di bagian puncak kubah, sehingga menghasilkan
cekungan besar yang saat ini menjadi ciri khas dari morfologi situs Sangiran.

28
Deskripsi Batuan : Batupasir Kasar

Sedimen Klastik
Kuning Kecoklatan
Struktur Perlapisan
Karbonatan
Besar Butir pasir halus-pasir kasar

Foto-foto stopsite 1 :

29
II. Lokasi Pengamatan 2

Dome Sangiran merupakan daerah yang tersingkap. Berdasarkan hasil


penelitian terbentuknya Dome Sangiran merupakan peristiwa geologis yaitu
diawali pada 2,4 juta tahun yang lalu terjadi pengangkatan,gerakan lempeng
bumi,letusan gunung berapi dan adanya masa glasial sehingga terjadi penyusutan
air laut yang akhirnya membuat wilayah Sangiran terangkat keatas, hal ini
dibuktikan dengan endapan yang bisa kita jumpai di sepanjang Sungai Puren yang
tersingkap lapisan lempeng biru dari Formasi Kalibeng yang merupakan endapan
daerah lingkungan lautan dan hingga sekarang ini banyak sekali dijumpai fosil-
fosil moluska laut.

30
Foto-foto stopsite 2 :

III. Lokasi Pengamatan 3

Formasi Kalibeng

Berumur 2,4-1,8 juta tahun yang lalu. Formasi ini tersusun atas napal dan
batulempung gampingan berwarna abu-abu kebiru-biruan di bagian bawah
kemudian diikuti dengan batugamping kalkarenit dan kalsirudit bagian atas yang
tersingkap di daerah pusat kubah, yakni pada daerah depresi di utara desa sangiran

31
serta sepanjang aliran sungai Puren di sebelah timur dan tenggara desa Sangiran
dengan tebal 125 m.

Napal dan batulempung sangat mudah tererosi karena bersifat liat dan
lunak. Pada napal banyak dijumpai fosil foraminifera bentonik yang berupa
Operculina complanata, Ammonia beccari, Elphidium Craticulatum bersama
dengan fosil gigi ikan hiu (Soedarmadji, 1976). Selain itu juga dijumpai
foraminifera planktonik seperti Globoratalia acostaensis, G. tumida flexuosa, dan
Sphaeroidinella dehiscens. ini menunjukkan batuan tersebut terendapkan pada
akhir pliosen di laut dangkal yang berhubungan langsung dengan laut terbuka.

Batulempung abu-abunya juga bersifat lunak sehingga sering terjadi


gerakan massa di musim hujan, baik dalam bentuk rayapan, aliran, maupun
bongkahan. Pada batuan ini dijumpai fosil gastropoda dan pelecypoda seperti
Turitella bantamensis, Cominella sangiranensis, Placenfa sp., yang mana
menunjukkan pengendapan pada kondisi laut dangkal di akhir pliosen. Selain itu
juga terkandung fosil yang menunjukkan kondsisi air payau, yakni fosil ostrakoda
an pelecypoda jenis Ostrea. Di atas batulempung dijumpai lapisan kalkarenit dan
kalsirudit yang tersusun oleh fragmen fosil (coquina) yang saling bertumpu yang
menunjukkan pengendapan di laut dangkal dengan energi besar. Adanya fosil
Balanus pada kalsirudit menunjukkan pengendapan terjadi pada daerah pasang
surut (litoral). Disamping itu juga dijumpai lapisan batugamping diatas gamping
balanus yang mengandung fosil Ccarbicula yang menunjukkan kondisi
pengendapan air tawar.

Berdasarkan kandungan fosil dan litologi tersebut menunjukkan gejala


pengkasaran ke atas dan pendangkalan ke atas dari kondisi laut laut dangkal
terbuka, mnejadi kondisi pasng surut dan berakhir pada kondisi air tawar dan air
payau.

32
Deskripsi Batuan :

Foto-foto stopsite 3 :

33
IV. Lokasi Pengamatan 4

- Lapisan Grenzbank

Formasi ini terendapkan di atas formasi pucangan. Bagian terbawah dari


formasi ini tersusun oleh perlapisan tipis batugamping konglomeratan yang tidak
menerus dengan ketebalan bervariasi antara 0,5-3 meter. Tersusun oleh fragmen
membulat yang terdiri dari kalsedon dan beberapa batuan lain yang telah
mengalami alterasi hidrothermal, bercampur dengan pelecypoda yang
cangkangnya menebal dan membulat karena kalsifikasi dan tersemen dengan kuat.
Lapisan ini terendapkan oleh energi yang tinggi sehingga menghasilkan onggokan
yang berbutir kasar

- Formasi Kabuh

Berumur 730-250 ribu tahun yang lalu, batupasir ini diperkirakan terendapkan
pada lingkungan sungai teranyam (Rahardjo, 1981) dalam situasi lingkungan
vegetasi terbuka (semah, 1984). Pada bagian bawah batupasir dijumpai fosil yang
merupakan anggota dari fauna trinil, seperti Binos palaeosundaecus, Bubalus
palaeokerabau, Duboisia santeng. Ke arah atas dijumpai perwakilan dari fauna
kedungbrubus. Kumpulan ini menunjukkan umur sekitar 0,8 juta tahun.

34
Beberapa tuff dijumpai pada batupasir menunjukkan pada saat pengendapan
terjadi beberapa kali letusan gunung api, yang mana pada batupasir ini sebagian
besar fosil hominid ditemukan. Di bagian tengah dari formsi ini dijumpai tektit
yang berukuran kerikil hingga kerakal (13-40 mm).

Salah satu temuan yang paling penting adalah penemuan fosil manusia purba
yang disebut Pithecantropus erectus ( Homo erectus). Tetapt lokasi asal fosil ini
belum sepenuhnya diketahui karena penemuan fosil ini dalam bentuk material
yang lepas-lepas.

Deskripsi Batuan :

Foto-foto stopsite 4 :

35
V. Lokasi Pengamatan 5

Formasi Pucangan

Formasi ini berada di atas lapisan atau formasi kalibeng. Sekitar 1.800.000
700.000 tahun yang lalu formasi ini merupakan rawa pantai dan di dalam
lapisan ini terbentuk endapan diatomit yang mengandung cangkang diatomea laut.
Formasi ini berupa lempung hitam dan mulai terbentuk dari endapan lahar
Gunung Merapi purba dan Gunung Lawu purba

Menurut literatur lain, formasi pucangan tersusun oleh breksi vulkanik di


bagian bawah dan lempung hitam di bagian atas. Breksi vulkanik membentuk
deretan bukit kecil yang tahan erosi yang ditempati desa Sangiran itu sendiri dan
menumpang secara tidak selaras di atas formasi Kalibeng. Di antara breksi
dijumpai sisipan batupasir konglomeratan dengan fragmen andesit berukuran pasir
hingga kerakal. Di beberapa tempat menunjukkan struktur silang siur tipe palung
yang menunjukkan endapan pasang pada daerah sungai ternyam. Pada batupasir
konglomeratan ini dijumpai fosil vertebrata jenis kuda air dan gajah purba.

36
Di atas breksi vulkanik terendapkan batulempung hitam yang mana
berdasarkan kandungan fosilnya dibedakan menjadi dua bagian, yakni:

Bagian bawah hasil pengendapan air laut dan air payau yang terdiri dari
perselingan antara lempung abu-abu kebiruan dengan sisipan tanah diatome dan
lapisan yang mengandung fosil moluska secara melimpah, ostracoda, dan
foraminifera yang menunjukkan kondisi transisi.

Bagian atas yang mana dijumpai lapisan tanah yang menunjukkan struktur
laminasi dan mengandung fosil spesies yang hidup di laut, seperti Chyclothella,
Actinocyclus, Diploneis.

Pergantian asosiasi fauna laut dan air tawar, menunjukkan pengendapan terjadi di
dekat laut, dimana selama pengendapan, terjadi beberapa kali invasi laut, akibat
tektonik atau perubahan muka laut.

Dari urutan litologi yang menyusun formasi pucangan dapat ditafsirkan


bahwa pengendapanya semula merupakan aliran lahar ke cekungan yang berair
payau, yang terbentuk sejak akhir pengendapan formasi kalibeng, dengan ciri
utama berupa fosil Corbicula. Endapan lahar tersebu mempersempit cekungan air
payau tersebut, yang kemudian akibat sedimentasi yang terus menerus berubah
mnejadi cekungan air tawar, berupa danau atau rawa yang sudah tidak lagi
berhubungan dengan laut. Semua proses ini terjadi pada kala pliosen awal.

Deskripsi Batuan :

37
Foto-foto stopsite 5 :

38
VI. Lokasi Pengamatan 6

Formasi Pucangan

Formasi ini berada di atas lapisan atau formasi kalibeng. Sekitar 1.800.000
700.000 tahun yang lalu formasi ini merupakan rawa pantai dan di dalam
lapisan ini terbentuk endapan diatomit yang mengandung cangkang diatomea laut.
Formasi ini berupa lempung hitam dan mulai terbentuk dari endapan lahar
Gunung Merapi purba dan Gunung Lawu purba

Menurut literatur lain, formasi pucangan tersusun oleh breksi vulkanik di


bagian bawah dan lempung hitam di bagian atas. Breksi vulkanik membentuk
deretan bukit kecil yang tahan erosi yang ditempati desa Sangiran itu sendiri dan
menumpang secara tidak selaras di atas formasi Kalibeng. Di antara breksi
dijumpai sisipan batupasir konglomeratan dengan fragmen andesit berukuran pasir
hingga kerakal. Di beberapa tempat menunjukkan struktur silang siur tipe palung
yang menunjukkan endapan pasang pada daerah sungai ternyam. Pada batupasir
konglomeratan ini dijumpai fosil vertebrata jenis kuda air dan gajah purba.

39
Di atas breksi vulkanik terendapkan batulempung hitam yang mana
berdasarkan kandungan fosilnya dibedakan menjadi dua bagian, yakni:

Bagian bawah hasil pengendapan air laut dan air payau yang terdiri dari
perselingan antara lempung abu-abu kebiruan dengan sisipan tanah diatome dan
lapisan yang mengandung fosil moluska secara melimpah, ostracoda, dan
foraminifera yang menunjukkan kondisi transisi.

Bagian atas yang mana dijumpai lapisan tanah yang menunjukkan struktur
laminasi dan mengandung fosil spesies yang hidup di laut, seperti Chyclothella,
Actinocyclus, Diploneis.

Pergantian asosiasi fauna laut dan air tawar, menunjukkan pengendapan terjadi di
dekat laut, dimana selama pengendapan, terjadi beberapa kali invasi laut, akibat
tektonik atau perubahan muka laut.

Dari urutan litologi yang menyusun formasi pucangan dapat ditafsirkan


bahwa pengendapanya semula merupakan aliran lahar ke cekungan yang berair
payau, yang terbentuk sejak akhir pengendapan formasi kalibeng, dengan ciri
utama berupa fosil Corbicula. Endapan lahar tersebu mempersempit cekungan air
payau tersebut, yang kemudian akibat sedimentasi yang terus menerus berubah
mnejadi cekungan air tawar, berupa danau atau rawa yang sudah tidak lagi
berhubungan dengan laut. Semua proses ini terjadi pada kala pliosen awal.

Deskripsi Batuan :

40
Foto-foto stopsite 6 :

41
B. Museum Sangiran ( The Homeland of Java Man )

Museum Sangiran adalah museum arkeologi yang terletak di Kecamatan


Kalijambe, Kabupaten Sragen, Provinsi Jawa Tengah, Indonesia.Museum ini
berdekatan dengan area situs fosil purbakala Sangiran yang merupakan salah satu
Situs Warisan Dunia. Situs Sangiran memiliki luas mencapai 56 km meliputi tiga
kecamatan di Sragen (Gemolong, Kalijambe, dan Plupuh) serta Kecamatan
Gondangrejo yang masuk wilayah Kabupaten Karanganyar. Situs Sangiran
berada di dalam kawasan Kubah Sangiran yang merupakan bagian dari depresi
Solo, di kaki Gunung Lawu (17 km dari kota Solo).
Museum Sangiran beserta situs arkeologinya, selain menjadi obyek wisata
yang menarik juga merupakan arena penelitian tentang kehidupan pra sejarah
terpenting dan terlengkap di Asia, bahkan dunia.Dalam museum ini dapat
diperoleh informasi lengkap tentang pola kehidupan manusia purba di Jawa yang
menyumbang perkembangan ilmu pengetahuan seperti Antropologi, Arkeologi,
Geologi, Paleoanthropologi.Di lokasi situs Sangiran ini pula, untuk pertama
kalinya ditemukan fosil rahang bawah Pithecantropus Erectus (salah satu spesies
dalam taxon Homo erectus) oleh arkeolog Jerman, Profesor Von Koenigswald.
Lebih menarik lagi, di area situs Sangiran ini pula jejak tinggalan berumur 2
juta tahun hingga 200.000 tahun masih dapat ditemukan hingga kini, sehingga
para ahli dapat merangkai sebuah benang merah sebuah sejarah yang pernah
terjadi di Sangiran secara berurutan. Koleksi yang tersimpan di museum ini

42
mencapai 13.806 buah yang tersimpan pada dua tempat yaitu 2.931 tersimpan di
ruang pameran dan 10.875 di dalam ruang penyimpanan.
Museum sangiran menyumbang perkembangan ilmu pengetahuan seperti
Antropologi, Arkeologi, Geologi, Paleoanthropologi. Oleh karena itu, dalam
makalah ini akan dibahas tentang informasi tentang museum sangiran.

- Wilayah Museum Sangiran

Sangiran adalah sebuah situs arkeologi di Jawa, Indonesia.Sangiran


memiliki area sekitar 48 km. Secara fisiografis sangiran terletak pada zona
Central Depression, yaitu berupa dataran rendah yang terletak antara gunung api
aktif, Merapi dan Merbabu di sebelah barat serta Lawu di sebelah timur.
Secara administratif Sangiran terletak di Kabupaten Sragen (meliputi 3
Kecamatan yaitu Kecamatan Kalijambe, Gemolong dan Plupuh serta Kecamatan
Gondangrejo) dan kabupaten Karanganyar, Jawa Tengah.Sangiran terletak di desa
Krikilan, Kec. Kalijambe ( + 40 km dari Sragen atau + 17 km dari Solo) situs ini
menyimpan puluhan ribu fosil dari jaan pleistocen ( + 2 juta tahun lalu).
Situs Sangiran merupakan daerah perbukitan yang mencakup kawasan
seluas 32 km dengan bentangan arah dari utara ke selatan kurang lebih 8 km dan
dari barat ke timur kurang lebih 4 km.Daerah ini meliputi 12 kelurahan di 4

43
kecamatan, yaitu kecamatan kalijember, gemolong, plupuh, dan godangrejo.
Daerah sangiran memiliki sebuah sungai yang membelah daerah tersebut menjadi
dua yaitu kali cemara yang bermuara di bengawan solo.
Fosil-fosil purba ini merupakan 65 % fosil hominid purba di Indonesia dan
50 % di seluruh dunia.Hingga saat ini telah ditemukan lebih dari 13.685 fosil
2.931 fosil ada di Museum, sisanya disimpan di gudang penyimpanan.Pada tahun
1977 Sangiran ditetapkan oleh Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Indonesia
sebagai cagar budaya, berdasarkan Surat Keputusan Menteri Pendidikan dan
Kebudayaan No.070/0/1977, tanggal 5 Maret 1977.Selanjutnya keputusan itu
dikuatkan oleh Komite World Heritage UNESCO pada peringatannya yang ke-20
di Merida, Mexico yang menetapkan kawasan Sangiran sebagai kawasan World
Heritage (warisan dunia) No. 593.

- Sejarah Situs Sangiran

Sejarah Museum Sangiran bermula dari kegiatan penelitian yang dilakukan


oleh Von Koeningswald sekitar tahun 1930-an. Di dalam kegiatannya Von
Koeningswald dibantu oleh Toto Marsono, Kepala Desa Krikilan pada masa itu.
Setiap hari Toto Marsono atas perintah Von Koeningswald mengerahkan
penduduk Sangiran untuk mencari balung buto (Bahasa Jawa = tulang raksasa).
Demikian penduduk Sangiran mengistilahkan temuan tulang-tulang berukuran
besar yang telah membatu yang berserakan di sekitar ladang mereka.Balung buto
tersebut adalah fosil yaitu sisa-sisa organisme atau jasad hidup purba yang
terawetkan di dalam bumi.
Fosil-fosil tersebut kemudian dikumpulkan di Pendopo Kelurahan Krikilan
untuk bahan pnelitian Von Koeningswald, maupun para ahli lainnya.Fosil-fosil
yang dianggap penting dibawa oleh masing-masing peneliti ke laboratorium
mereka, sedang sisanya dibiarkan menumpuk di Pendopo Kelurahan Krikilan.
Setelah Von Koeningswald tidak aktif lagi melaksanakan penelitian di
Sangiran, kegiatan mengumpulkan fosil masih diteruskan oleh Toto Marsono
sehingga jumlah fosil di Pendopo Kelurahan semakin melimpah.Dari Pendopo
Kelurahan Krikilan inilah lahir cikal-bakal Museum Sangiran.

44
Untuk menampung koleksi fosil yang semakin hari semakin bertambah
maka pada tahun 1974 Gubernur Jawa Tengah melalui Bupati Sragen membangun
museum kecil di Desa Krikilan, Kecamatan Kalijambe, Kabupaten Saragen di atas
tanah seluas 1000 m. Museum tersebut diberi nama Museum Pestosen. Seluruh
koleksi di Pendopo Kelurahan Krikilan kemudian dipindahkan ke Museum
tersebut.Saat ini sisa bangunan museum tersebut telah dirombak dan
dialihfungsikan menjadi Balai Desa Krikilan.
Sementara di Kawasan Cagar Budaya Sangiran sisi selatan pada tahun 1977
dibangun juga sebuah museum di Desa Dayu, Kecamatan Godangrejo, Kabupaten
Karanganyar.Museum ini difungsikan sebagai basecamp sekaligus tempat untuk
menampung hasil penelitian lapangan di wilayah Cagar Budaya Sangiran sisi
selatan.Saat ini museum tersebut sudah dibongkar dan bangunannya dipindahkan
dan dijadikan Pendopo Desa Dayu.
Tahun 1983 pemerintah pusat membangun museum baru yang lebih besar di
Desa Ngampon, Desa Krikilan, Kecamatan Kalijambe, Kabupaten
Sragen.Kompleks Museum ini didirikan di atas tanah seluas 16.675 m.
Bnagunannya antara lain terdiri dari Ruang Pameran, Ruang Pertemuan/ Seminar,
Ruang Kantor/ Administrasi, Ruang Perpustakaan, Ruang Storage, Ruang
Laboratorium, Ruang Istirahat/ Ruang Tinggal Peneliti, Ruang Garasi, dan Kamar
Mandi. Selanjutnya koleksi yang ada di Museum Plestosen Krikilan dan Koleksi
di Museum Dayu dipindahkan ke museum yang baru ini.Museum ini selain
berfungsi untuk memamerkan fosil temuan dari kawasan Sangiran juga berfungsi
untuk mengkonservasi temuan yang ada dan sebagai pusat perlindungan dan
pelestarian kawasan Sangiran.
Tahun 1998 Dinas Praiwisata Propinsi Jawa Tengah melengkaspi Kompleks
Museum Sangiran dendan Bnagunan Audio Visual di sisi timur museum.Dan
tahun 2004 Bupati Sragen mengubah interior Ruang Knator dan Ruang Pertemuan
menjadi Ruang Pameran Tambahan.
Tahun 2003 Pemerintah pusat merencanakan membuat museum yang lebih
representative menggantikan museum yang ada secara bertahap.Awal tahun 2004
ini telah selesai didirikan bangunan perkantoran tiga lantai yang terdiri dari ruang
basemen untuk gudang, lantai I untuk Laboratorium, dan lantai II untuk

45
perkantoran. Program selanjutnya adalah membuat ruang audio visual, ruang
transit untuk penerimaan pengunjung, ruang pameran bawah tanah, ruang
pertemuan, perpustakaan, taman purbakala, dan lain-lain.

- Proses Terbentuknya Sangiran

Pada awalnya sangiran merupakan lautan dangkal.Pada saat itu keadaan


bumi masih belum stabil seperti sekarang, di beberapa bagian bumi seringkali
mendapatkan pergerakan di dalam perut bumi yang disebabkan adanya dorongan
tekanan endogen.Sangiran juga mengalami hal serupa, karena adanya dorongan
tenaga endogen (dari dalam bumi) terjadi pengankatan dan pelipatan pada
permukaan laut sangiran. Akibat dn pelipatan permukaan maka terbentuklah
daratan-daratan yang mengisolasi sebagaian lautan tersebut sehingga menjadi
danau dan rawa-rawa.

46
Saat terjadinya masa glacial (pembekuan), permukaan air laut menyusut, itu
disebabkan karena adanya pembekuan es di kutub utara maka muncullah daratan
di permukaan bumi.Danau dan rawa sangiran yang terbentuk dari lautan dangkal
juga menjadi daratan kering.
Proses pembentukan situs sangiran erat kaitannya dengan aktivitas gunung
lawu tua. Kubah sangiran diperkirakan terbentuk akibat gaya kompresi dari
runtuhan gunung Lawu tua, gaya endogen berupa pengakatan dan pelipatan tanah
serta gaya gravitasi bumi. Gaya kompresi yang sama juga menyebabkan
terbentuknya kubah-kubah lain seperti: Kubah Gemolong, Kubah Gamping,
Kubah Bringinan, Kubah Gesingan, dan Kubah Munggur.
Tenaga endogen yang terjadi berulang-berulang mengakibatkan permukan
tanah di sangiran naik akibatnya adanya dorongan di dalam dan membentuk
bukit.Kemudian karena aktivitas gunung lawu membuat tanah perbukitan longsor
dan membentuk kubah, tanah di sekitar sungai cemarapun ikut longsor.Akibat dari
hal tersebut, terbentuklah lapisan tanah yang berbeda dari lapisan tanah
permukaan.Lapisan tanah yang terbentuk adalah lapisan dari jaman purbakala
dimana hsil dari terbentuknya tanah sangiran membuat para ahli purbakala dan
masyarakat sekitar menemukan bukti-bukti kehidupan masa prasejarah.Higga kini
lapisan tanah (stratigrafi) yang dapat ditemukan dan diteliti terdapat 4 lapis.
Situs sangiran merupakan daerah perbukitan yang terbentuk dari fragmen-
fragmen batu gamping foraminifera dan batu pasir yang tercampur dengan
Lumpur saat masa halosen. Juga yang endapan alivial yang terdiri dari campuran
lempung, pasir, kerikil, dan krakal dengan ketebalan kurang lebih 2 meter yang
dapat terlihat di sungai cemara.Sungai cemara yang mengalir didaerah sangiran
merupakan sungai anteseden yang menyayat kubah sangiran.Hal ini menyebabkan
struktur kubah dan stratifigrafi tanah daerah sangiran dapat dipelajari dengan baik.
Tersingkapnya tanah di tepi sungai cemara menunjukan aktivitas erosi dan
sedimentasi yang intensif pada masa sekarang. Proses erosi tersebut
mengakibatkan munculnya fosil-fosil binatang maupun manusia purba di
permukaan tanah sehingga sering ditemukan fosil-fosil setelah turun hujan.
Akibat dari dorongan tenaga endogen pada awalnya, aktivitas erosi dan
sedimentasi yang tinggi maka menyebabkan pengangkatan dan pelipatan tanah

47
sangiran, sehingga lapisan tanah sangiran terbagi dari 4 lapisan (dari lapisan
teratas) yaitu Formasi Notopuro, Formasi Kabuh, Formasi Pucangan dan Formasi
Kalibeng.

- Formasi Lapisan Sangiran

Secara struktural Sangiran merupakan daerah yang mengalami


pengangkatan dan perlipatan yang kemudian membentuk struktur kubah terbalik,
yang seiring berjalannya waktu mengalami erosi. Adanya pengangkatan ini terjadi
karena proses penekanan dari kiri ke kanan oleh tenaga eksogen dan dari bawah
ke atas oleh tenaga endogen. Erosi menyebabkan tersingkapnya lapisan-lapisan
tanah secara alamiah.Dimana di dalamnya terkandung informasi tentang
kehidupan sejarah manusia purba dengan segala yang ada di sekelilingnya (pola
hidup dan binatang-binatang yang hidup bersamanya).
Keistimewaan Sangiran, berdasarkan penelitian para ahli Geologi dulu pada
masa purba merupakan hamparan lautan. Akibat proses geologi dan akibat
bencana alam letusan Gunung Lawu, Gunung Merapi, dan Gunung Merbabu,
Sangiran menjadi daratan. Hal tersebut dibuktikan dengan lapisan-lapisan tanah

48
pembentuk wilayah Sangiran yang sangat berbeda dengan lapisan tanah di tempat
lain. Tiap-tiap lapisan tanah tersebut ditemukan fosil-fosil menurut jenis dan
jamannya.Misalnya, Fosil binatang laut banyak diketemukan di Lapisan tanah
paling bawah, yang dulu merupakan lautan.

Adapun lapisan tanah yang tersingkap di wilayah Sangiran terbagi menjadi


4 lapisan (dari lapisan terbawah) yaitu Formasi Kalibeng, Formasi Pucangan,
Formasi Kabuh, dan Formasi Notopuro.

1. Formasi Kalibeng

49
Formasi kalibeng berumur 3.000.000-1.800.000 tahun yang lalu.Formasi
tanah ini hanya tersingkap pada bagian Kalibeng atas (Pliocene atas).Formasi ini
terdiri dari 4 lapisan.Untuk lapisan terbawah ketebalan mencapai 107 meter
merupakan endapan laut dalam berupa lempung abu-abu kebiruan dan lempung
lanau dengan kandungan moluska laut.Lapisan kedua ketebalan 4-7 meter
merupakan endapan laut dangkal berupa pasir lanau dengan kandungan fosil
moluska jenis Turitella dan foraminifera. Lapisan ketiga berupa endapan batu
gamping balanus dengan ketebalan 1-2,5 meter. Lapisan keempat berupa endapan
lempung dan lanau hasil sedimentasi air payau dengan kandungan moluska jenis
corbicula.Adanya kalkarenit dan kalsirudit menunjukkan bahwa formasi Kalibeng
merupakan hasil endapan laut yang amat dangkal.
Formasi kalibeng merupakan endapan tertua di kubah sangiran, terdiri dari
batu Napal Pasiran warna abu-abu kehitaman dan disisipi bau gamping balanus
dankor bikula.Ketebalan formasi kalibeng lebih dari 130 meter, kandungan
fosilnya antara lain foraminifera, molusca laut.Dismaping itu juga banyak
ditemukan gastropoda dan molusca air payau, ini menunjukan bahwa lingkungan
pengendapannya adalah air payau (peralihan antara air asin dan air tawar).Makin
keatas lapisan tersebut berubah menjadi semakin pasiran.
Mengandung ostrea berkulit tebal yang menunjukaan organisme ini hidup di
pinggir laut.Lapisan berfasies pasiran diatas ditutupi oleh batu gamping
balanus.Hewan ini hidup dizona anatar laut pasang dan surut.Sehingga dapat
diperkirakan batu gamping ini diendapkan di lingkunagn tersebut.Lapisan teratas
terdapat batu pasir yang mengandung korbuline, yaitu paleoypoda yang sering
hidup di air tawar.Daru urutan fasies tersebut diatas dapat ditarik kesimpulan
bahwa pada waktu pengendapannya berbagai lapisan tersbut yaitu formasi
kalibeng mengalami susut laut (regresi) berubah menjadi daratan

2. Formasi Pucanga

50
Formasi Pucangan berumur 1.800.000-800.000 tahun yang lalu.Formasi ini
terbagi menjadi dua yaitu lahar bawah dan lempung hitam. Formasi Pucangan
lahar bawah ketebalannya berkisar 0,7-50 meter berupa endapan lahar dingin atau
breksi vulkanik yang terbawa aliran sungai dan mengendapkan moluska air tawar
di bagian bawah dan diatome di bagian atas. Pada lapisan ini juga terdapat
fragmen batu lempung gampingan dari formasi Kalibeng.
Formasi Pucangan Atas ketebalan mencapai 100 meter berupa lapisan napal
dan lempung yang merupakan pengendapan rawa-rawa, pada formasi ini terdapat
sisipan endapan molusca marine yang menunjukkan bahwa pada waktu itu pernah
terjadi transgresi laut.Formasi ini banyak mengandung fosil binatang vertebrata
seperti gajah (Stegodon trigonocephalus), banteng (Bibos paleosondaicus), kerbau
(Bubalus paleokarabau, Hippopotamidae dan Cervidae. Pada formasi Pucangan
ini juga ditemukan fosi Homo erectus , fosil karapaks dan plastrn kura-kura.
Dua pasies pokok yang terdapat pada formasi ini adalah pasies batu
lempung hitam laut dan pasies breksi yang terdiri dari vulkanik tufaan sampai
pasiran.Pada pasies ini banyak ditemukan fosil vertebrata. Fragmen batuan berupa
batu pasir gampingan dari formasi kalibeng jug dijumpai pada pasies breksi
kalibeng bagian bawah. Keadaan ini menunjukan bahwa formasi kalibeng.
Susunan tanah menurut J. Duyfjes, dari atas sampai kebawah sebagai berikut:
a. Endapan batu pasir tufaan setebal 35 meter
b. Batu pasir tufaan yang mengandung tanah liat dan napal yang berisis kerang
laut setebal 10 meter.
c. Lapisan lempung berwarna kehijauan setebal 5 meter.
d. Batu pasir kasar, konglomerat atau batu adesit setebal 100 meter. Pada lapisan
ini ditemukan fosil Pithecantropus (homo erectus).
e. Endapan batu pasir tufaan dengan diselingi batu lempung.
f. Napal dan batu pasir tufaan yang mengandung lempung dan molusca laut
setebal 25 meter.
Pada formasi pucangan fosil tengkorak Pithecantropus Erectus, kemudian
ditemukan juga fosil tengkorak Megantropus Paleojavanicus. Asosiasi hewan lain

51
yang hidup berdampingan dengan kedua manusia purba adalah gajah, penyu, ikan
hiu, badak, dll.

3. Formasi Kabuh

Formasi Kabuh merupakan lapisan yang berumur 800.00-250.000 tahun


yang lalu dan merupakan formasi yang paling banyak ditemukan fosil mamalia,
manusia purba dan alat batu.Formasi ini terbagi menjadi dua yaitu grenzbank
yang metupakan lapisan pembatas antara formasi Pucangan dengan Kabuh.Terdiri
dari lapisan batu gamping konglomeratan yang berbentuk lensa-lensa dengan
ketebalan 2meter.Di grenzbank banyak ditemukan fosil mamalia (Stegodon
trigonocephalus, Bubalus paleokarabau, Duboisia santeng dll) dan fosil
Hominidae.Formasi Kabuh atas ketebalan lapisannya sekitar 3-16 meter
merupakan batu pasir dengan struktur silang siur yang menunjukkan hasil
endapan sungai.Terjadi pada kala Pleistocene tengah.
Endapan kala plastosen tengan terkenal dengan nama formasi kabuh.
Formasi ini memperlihatkan endapan yang berasal dari gunung Lawu tua,berupa:
batu tufa, batu pasir, dan konglomerat. Ketebalan formasi sangat bervariasi antara
10-16 meter.
Alat-alat dari batu telah ditemukan pada formasi ini.Dengan ditemukan alat-
alat batu tersbut menunjukan bahwa pithecanthropus pada saat itu sudag mengenal
alat-alat perburuan untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari.Formasi kabuh
terdiri dari spesies fluviatil yang terdiri dari batu pasir dengan struktur silang-siur

52
dan konglemaratrt.Formasi kabuh ini terletak di atas formasi pucangan secara
tidak selaras.

4. Formasi Notopuro

Formasi Notopuro terletak di di atas formasi Kabuh dan tersebar di bagian


tas perbukitan di sekeliling Kubah Sangiran. Formasi ini tersusun oleh material
vulkanis seperti batu pasir vulkanis, konglomerat dan breksi dengan fragmen
batuan beku andesit yang berukuran brangkal hingga bonkah. Ketebalan lapisan
mencapai 47 meter dan terbagi menjadi tiga lapisan yaitu lapisan Formasi
Notopuro bawah dengan ketebalan 3,2-28,9 meter, Formasi Notopuro tengah
dengan ketebalan maksimal 20 meter dan Formasi Notopuro atas dengan
ketebalan 25 meter. Pada Formasi Notopuro ini sangat jarang dijumpai
fosil.Formasi ini ditafsirkan sebagai hasil pengendapan darat yang sangat
dipengaruhi oleh aktivitas vulkanik dan terjadi pada kala Pleistocene atas.
Formasi Notopuro adalah lapisan tanah dikala plastosen atas yang berumur
10.000-125.000 tahun yang lalu.Formasi Notopuro adalah lapisan yang terbentuk
oleh endapan lahar dan terdiri atas breksi andesit dan konglomerat. Pada formasi
ini dijumpai Frakmen dari mineral kaledon, kaursa susu, carnelian, agate, kerikil
andesit, tufa dan pasiran yang merupakan penyusun utama dari breksiden
konglomerat. Pada endapan kerikil banyak ditemukn serpih bilah, yaitu alat pada
tingkat perkembangan menjadi konglomerat dan batu pasir silang siur dengan

53
ketebalan sekitar 2-45 meter tersebut menunjukan bahwa kala plastosen akhir
telah terjadi banjir lahar yang besar.
Secara stratigrafis situs ini merupakan situs manusia purba berdiri tegak
terlengkap di Asia yang kehidupannya dapat dilihat secara berurutan dan tanpa
terputus sejak 2 juta tahun yang lalu hingga 200.000 tahun yang lalu yaitu sejak
Kala Pliocene Akhir hingga akhir Pleistocene Tengah. Situs Sangiran menurut
penelitian geologi muncul sejak Jaman Tersier akhir Pada kala Pliocene atas
kawasan Sangiran masih berupa lautan dalam yang berangsur berubah menjadi
laut dangkal dengan kehidupan foraminifera dan moluska laut.Pendangkalan
berjalan terus sampai akhir kala Pliocene.

- Pengungkap Situs Sejarah Sangiran

Penelitian terhadap situs sangiran diwali oleh Eugene Dubois pada tahun
1893 dimana sebelum dia mengadakan penelusuran mencari fosil nenek moyang
manusia di Sumatra Barat, tetapi dia tidak menemukannya. Selai Dubois, tahun
1930-an penelususranb dilakukan oleh GHR Von Koenigswald. Tahun 1934 Von
Koenigswald berhasil menemukan kurang lebih 1000 alat batuan manusia purba
yang pernah hidup di Sangiran.
Tahun 1936 Von Koenigswald berhasil menemukan fosil rahang atas
manusia pdan selanjutnya ia memberi nama fosil Megantrophus Paleojavanicus.
Tahun 1973 dia juga berhasil menemukan manusia purba yang dicari oleh Eugene

54
Dubois yaitu Pithecanthropus Erectus. Penemuan kedua ini mendorong para ahli
untuk mengadakan penelitian lanjutan di situs sangiran diantaranya : Helmut de
Tera, Movius, P. Marks, RW van Bemmelean, H.R van Hekkeren, Gert jan
Barsta, Francois Semah, Anne Marie Semah, M. Itahara. Sedangkan peneliti-
peneliti dari Indonesia yang serius menangani sangiran adalah: R.P Soejono,
Teuku Jacob, S. Sartono, dan Hari Widianto.

- Koleksi Koleksi Museum Sangiran

Koleksi yang berada di museum sangiran saat ini semua berasal dari sekitar
situs sangiran. Koleksi koleksi tersebut berupa fosil manusia, fosil hewan, fosil
tumbuhan, batu batuan, sedimentani, dan juga peralatan dapur yang dulu pernah
dibuat dan digunakan oleh manusia purba yang pernah bermukim di sangiran.

1. Fosil manusia, antara lain Australopithecus africanus ,Pithecanthropus


mojokertensis (Pithecantropus robustus ), Meganthropus palaeojavanicus
, Pithecanthropus erectus , Homo soloensis , Homo neanderthal Eropa,
Homo neanderthal Asia, dan Homo sapiens .

55
2. . Fosil binatang bertulang belakang, antara lain Elephas namadicus
(gajah), Stegodon trigonocephalus (gajah), Mastodon sp (gajah), Bubalus
palaeokarabau (kerbau), Felis palaeojavanica (harimau), Sus sp (babi),
Rhinocerus sondaicus (badak), Bovidae (sapi, banteng), dan Cervus sp
(rusa dan domba).

56
3. Fosil binatang air, antara lain Crocodillus sp (buaya), ikan dan kepiting,
gigi ikan hiu, Hippopotamus sp (kuda nil), Mollusca (kelas Pelecypoda
dan Gastropoda ), Chelonia sp (kura-kura), dan foraminifera .

57
4. Batu-batuan , antara lain Meteorit/Taktit, Kalesdon, Diatome, Agate,
Ametis.

4. Alat-alat batu, antara lain serpih dan bilah, serut dan gurdi, kapak persegi,
bola batu dan kapak perimbas-penetaan

-
-
-

58
-
- Evolusi Manusia Purba

Banyak fosil yang ditemukan di Sanggiran ini, salah satu fosil manusia
Purba.

a. Meganthropus Paleojavanicus ( Manusia besar dan tertua di Pulau Jawa )


Fosil ini pertama kali ditemukan pada tahun 1941 oleh Koeningwald di
Sangiran berupa rahang atas dan gigi lepas.Manusia ini hidup sejaman
dengan Pitecantropus Mojokertensis, namun hidupnya lebih primitif. Fosil
ini ditemukan pada formasi Pucangan ( 1-2 juta tahun lalu ).
b. Pithecantropus
Fosil ini ditemukan pada formasi Kubah.Diperkirakan hidup antara 1 juta
600.000 tahun yang lalu.Pada jaman batu batu tua yang ditandai dengan
ditemukan alat-alat seperti kapak gangguan dan alat serpih.
Pithecantropus Erectus ditemukan pada tahun 1809 oleh Dubois dari desa
Trinil ( Ngawi, Jawa Timur ) yang berupa tulang rahang bagian atas
tengkorak.
Pithecantropus soloensisi ditemukan pada tahun 1931 1933 oleh
Koeningswald dan Oppennorth do daerah Ngandong dan Sangiran berupa
tulang kering dan tengkorak.
c. Homo
Manusia yang lebih sempurna dan lebih muda dibanding kedua manusia
purba lainnya.Telah mulai mengenal peertanian dan beladang.
Homo Soloenis ditemukan tahun 1981 -1934 oleh Von Koeningswald dan
Wedenrich di desa Ngandong lebah Bangawan Solo berupa fosil
tengkorak.
Homo wajakensis ditemukan pada tahun 1889 di Wajak ( Tulungagung,
Jawa Timur ). Fosil yang ditemukan berupa tulang tengkorak rahang atas,
dan bawah, tulang paha dan tulang kering.

59
BAB IV
PENUTUP

4.1. KESIMPULAN

Dari kegiatan fieldtrip pada daerah Sangiran dan sekitarnya serta analisis
data pengamatan yang dilakukan hingga diperoleh hasil sejarahnya, maka dapat
disimpulkan sebagai berikut:

Daerah Sangiran terdiri atas empat formasi satuan batuan. Secara


berurutan dari yang tertua, yaitu Formasi Kalibeng, Formasi Pucangan,
kemudian diselingi oleh Lapisan Grenzbangk, Formasi Kabuh, dan
Formasi Notopuro.
Daerah Sangiran secara stratigrafi tersusun atas 9 satuan batuan.
Secara berurutan dari yang tertua, yaitu satuan Batulempung, satuan
Konglomerat, satuan Batupasir, satuan Tuff, satuan Aglomerat, dan
Alluvial.
Dari data yang diperoleh dari menara pandang, saat ini morfologi
kubah Sangiran telah mengalami erosi membentuk cekungan dan
tertutupi oleh vegetasi.
Fosil yang ditemukan pada daerah pengamatan berupa fosil moluska
dengan cangkang bertekstur kasar sampai halus yang mengindikasikan
bahwa daerah Sangiran dulunya merupakan lingkungan pengendapan
laut dangkal yang beralih menjadi lingkungan rawa.
Museum Sangiran berisi data-data yang menceritakan tentang evolusi
bumi serta koleksi-koleksi temuan fosil vertebrata.

4.2. KOLOM LITOLOGI SANGIRAN

60
4.3. SEJARAH GROLOGI SANGIRAN
Secara struktural, kawasan sangiran merupakan suatu kubah yang mana
perlapisan batuan di bagian tengah berada di atas sebagai puncak , sedangkan sisi-
sisi lainnya memiliki kemiringan ke arah luar. Kubah ini memiliki bentuk
memanjang dari arah utara timur laut menuju selatan barat daya. Kubah ini
diperkirakan terbentuk 0,5 juta tahun yang lalu yang dilihat dari formasi batuan
termuda yang ikut terlipat atau termiringkan pada saat terkena gaya endogen (
Wartono R., 2007). Berbagai pendapat para ahli bermunculan mengenai asal-usul
kubah ini, salah satunya oleh Van Bemmelem pada tahun 1949 yang mengatakan
bahwa kubah ini terbentuk sebagai akibat tenaga endogen yakni gaya kompresif
yang berhubungan dengan proses vulkano-tektonik sebagai akibat longsornya G.
Lawu tua. Sementara Van Gorsel pada tahun 1987 berpendapat bahwa kubah ini
terbentuk akibat proses pembentukan gunung api yang baru mulai, pendapat lain

61
mengenai asal-usul terbentuknya kubah ini seperti akibat adanya struktur diapir
dan adanya struktur lipatan yang disebabkan oleh proses wrencing.
Adanya pengangkatan ini terjadi karena proses penekanan dari kiri ke
kanan oleh tenaga eksogen dan dari bawah ke atas oleh tenaga endogen. Erosi
menyebabkan tersingkapnya lapisan-lapisan tanah secara alamiah. Dimana di
dalamnya terkandung informasi tentang kehidupan sejarah manusia purba dengan
segala yang ada di sekelilingnya (pola hidup dan binatang-binatang yang hidup
bersamanya). Keistimewaan Sangiran, berdasarkan penelitian para ahli Geologi
dulu pada masa purba merupakan hamparan lautan. Akibat proses geologi dan
akibat bencana alam letusan Gunung Lawu, Gunung Merapi, dan Gunung
Merbabu, Sangiran menjadi daratan. Hal tersebut dibuktikan dengan lapisan-
lapisan tanah pembentuk wilayah Sangiran yang sangat berbeda dengan lapisan
tanah di tempat lain. Tiap-tiap lapisan tanah tersebut ditemukan fosil-fosil
menurut jenis dan jamannya. Misalnya, Fosil binatang laut banyak diketemukan di
Lapisan tanah paling bawah, yang dulu merupakan lautan.

Gambar 32. Mekanisme tektonik yang menyebabkan terbentuknya Kubah


Sangiran

62
Gambar 33. Proses erosi yang terjadi pada Kubah Sangiran akibat aliran Kali
Cemoro

Gambar 34. Struktur Kubah Sangiran

63
Gambar 35. Tatanan stratigrafi Kubah Sangiran

Adapun lapisan tanah yang tersingkap di wilayah Sangiran terbagi


menjadi 4 lapisan (dari lapisan teratas) yaitu Formasi Notopuro, Formasi Kabuh,
Formasi Pucangan dan Formasi Kalibeng.
Formasi Kalibeng (Pliosen): merupakan perulangan fasies laut mulai dari
napal hingga lempung dekat pantai (nearshore deposits) yang ditutupi oleh lower
lava. Beberapa perubahan muka laut (sealevel changes) dapat dirinci secara baik,
dan merupakan cekungan laut terbuka ketika itu. Tektonik termasuk erupsi
gunungapi, dan perubahan muka laut. Siklus-sekuen stratigrafi berbasis
astrostratigrafi dapat diterapkan. Proses pembentukan formasi tersebut di bawah
kendali tektonik, muka laut.
Formasi Pucangan / Sangiran (Plistosen Bawah): yang terdiri dari lempung
hitam hingga abu-abu dengan lapisan tipis pasir yang diikuti oleh lapisan-lapisan
moluska dan diatomic. Perubahan muka air danau berkaitan dengan iklim, dan
genesa keterkaitannya dengan tektonik dan erupsi gunungapi dapat ungkapkan
secara baik. Diinterpretasikan, ketika itu sebagai lingkungan tertutup lacustrine.
Pada beberapa tempat antara Musium dan irigasi sangat jelas terlihat perubahan
cekungan (basin migration) kedua Formasi tersebut, dan dapat diikut berubahnya
base-level terkait dengan tektonik. Formasi ini selanjutnya ditutupi oleh

64
grenzbank. Hasil pengamatan, fasies sedimen tersebut dapat dikategorikan sebagai
material rombakan, sementara kami sebut sebagai debris flow deposits. Siklus
perubahan iklim hubungannya dengan tektonik, erupsi gunungapi, dan evolusi
fauna dapat dipelajari secara baik dan rinci.
Terdapat pergantian asosiasi fauna laut dan air tawar, menunjukkan
pengendapan terjadi di dekat laut, dimana selama pengendapan, terjadi beberapa
kali invasi laut, akibat tektonik atau perubahan muka laut.Dari urutan litologi yang
menyusun formasi pucangan dapat ditafsirkan bahwa pengendapanya semula
merupakan aliran lahar ke cekungan yang berair payau, yang terbentuk sejak akhir
pengendapan formasi kalibeng, dengan ciri utama berupa
fosil Corbicula. Endapan lahar tersebut mempersempit cekungan air payau
tersebut, yang kemudian akibat sedimentasi yang terus menerus berubah mnejadi
cekungan air tawar, berupa danau atau rawa yang sudah tidak lagi berhubungan
dengan laut. Semua proses ini terjadi pada kala pliosen awal.
Formasi Kabuh/ Bapang (Plistosen Tengah): termasuk cekungan sistem
fluvial, dan dapat dibedakan menjadi 7 tubuh pasir fluvial (F.1-F.7) yang
mengalami pergeseran dari waktu ke waktu, yang selanjutnya dapat dibedakan
menjadi 3 kelompok (F1-F-3), (F4 dan F5), dan F6/F7. Pengelompokkan
berdasarkan setiap tubuh pasir dikontrol oleh efek berubahnya iklim, tektonik dan
erupsi gunungapi. F1 hingga F3 (Kabuh Bawah) mengalami pergeseran sedikit
dan menempati lokasi-lokasi tertentu, demikian pula halnya dengan F4/F5 (Kabuh
Tengah) dan F6 dan F7 (Kabuh Atas). Kontak ketiga grup atau keolompok tubuh
batupasir tersebut belum diketemukan, sehingga dapat diinterpertasikan bahwa
elevasi ketika dibentuknya F. Kabuh diantaranya telah mengalami perubahan atau
pergeseran alur secara berangsur dan mendadak (umum terjadi pada cekungan
fluvial di bawah pengaruh tektonik/ synsedimentaty tectonics). Formasi ini
ditutupi oleh upper lahar dan Formasi Notopuro berumur Plistosen Atas.
Lapisan grenzbank: Pada 700.000 tahun yang lalu lapisan ini terletak
diatas formasi Pucangan. Terbentuknya formasi ini terjadi erosi pecahan gamping
pisoid dari pegunungan selatan yang terletak di selatan Sangiran dan kerikil-
kerikal vulkanik dari Pegunungan Kendeng di utaranya. Material erosi tersebut
menyatu di Sangiran sehingga membentuk suatu lapisan keras setebal 1-4 meter,

65
yang disebut grenzbank alias lapisan pembatas. Lapisan ini dipakai sebagai tanda
batas antara Formasi pucangan dan Formasi Kabuh.Pengendapan grenzbank
menandai perubahan lingkungan rawa menjadi lingkungan darat secara permanen
di Sangiran. Pada Grenzbank banyak ditemukan hewan mamalia, ditemukan pula
fosil Homo Erectus.
Formasi Notopuro: terletak di di atas formasi Kabuh dan tersebar di bagian
tas perbukitan di sekeliling Kubah Sangiran. Formasi ini tersusun oleh material
vulkanis seperti batu pasir vulkanis, konglomerat dan breksi dengan fragmen
batuan beku andesit yang berukuran brangkal hingga bonkah. Ketebalan lapisan
mencapai 47 meter dan terbagi menjadi tiga lapisan yaitu lapisan Formasi
Notopuro bawah dengan ketebalan 3,2-28,9 meter, Formasi Notopuro tengah
dengan ketebalan maksimal 20 meter dan Formasi Notopuro atas dengan
ketebalan 25 meter. Pada Formasi Notopuro ini sangat jarang dijumpai fosil.
Formasi ini ditafsirkan sebagai hasil pengendapan darat yang sangat dipengaruhi
oleh aktivitas vulkanik dan terjadi pada kala Pleistocene atas.

66
DAFTAR PUSTAKA

Bemmelem, V. 1949. The Geology of Indonesia Vol-IA General Geologi of


Indonesia and Adjacent Archipelagoes. Government Printing Office, The
Hague

Poesponegoro, Marwati D. 1981. Sejarah Nasional Indonesia I. Cetakan


I. Jakarta:Depdiknas.

Poster museum sangiran . solo , jawa tengah

Sapiie, Benyamin.Geologi Fisik. Bandung: ITB

Santosa, Hery. 2000.Sejarah Kebudayaan Indonesia. Yogyakarta: Universitas


Sanata Dharma.

Tjiptadi, Rusmulia. et al. 2004. Museum Situs Sangiran Sejarah Evolusi Manusia
Purba

67