Anda di halaman 1dari 23

KALIBRASI BERKALA

Pengertian Kalibrasi Pengertian / arti kalibrasi adalah proses verifikasi bahwa suatu
akurasi alat ukur sesuai dengan rancangannya. Kalibrasi biasa dilakukan dengan
membandingkan suatu standar yang tertelusur dengan standar nasional maupun
internasional dan bahan-bahan acuan tersertifikasi.

Sedangkan pengertian / arti kalibrasi ISO/IEC Guide 17025 adalah serangkaian kegiatan
yang membentuk hubungan antara nilai yang ditunjukkan oleh instrumen ukur atau
sistem pengukuran, atau nilai yang diwakili oleh bahan ukur, dengan nilai-nilai yang
sudah diketahui yang berkaitan dari besaran yang diukur dalam kondisi tertentu.

Dengan kata lain, kalibrasi adalah kegiatan untuk menentukan kebenaran konvensional
nilai penunjukkan alat ukur dan bahan ukur dengan cara membandingkan terhadap
standar ukur yang mampu telusur (traceable) ke standar nasional untuk satuan ukuran
dan/atau internasional.

Sistem manajemen baik itu sistem manajemen mutu ISO 9001 : 2008, sistem
manajemen lingkungan ISO 14001 : 2005, ataupun sistem manajemen kesehatan
keselamatan kerja OHSAS 18001 : 2008 juga mempersyaratkan dalam salah satu
klausulnya bahwa peralatan yang digunakan dalam suatu perusahaan yang berpengaruh
terhadap mutu, lingkungan, ataupun kesehatan harus dikalibrasi ataupun diverivikasi
secara berkala.

Arti Pentingnya Kalibrasi Kalibrasi alat ukur selain digunakan untuk memenuhi salah
satu persyaratan / klausul sistem manajemen mutu ISO 9001 : 2008, sistem
manajemen lingkungan ISO 14001 : 2005, ataupun OHSAS 18001 : 2007 tetapi juga
mempunyai manfaat lainnya antara lain :
1 Jaminan mutu terhadap produk yang dihasilkan melalui sistem pengukuran yang valid
2 Menghindari cacat/penyimpangan hasil ukur
3 Menjamin kondisi alat ukur tetap terjaga sesuai spesifikasinya
Kalibrasi adalah suatu kegiatan yang dilakukan untuk menentukan kebenaran
konvensional nilai penunjukan instrumen/alat ukur dan bahan ukur, dengan cara
membandingkan terhadap standar ukurnya yang tertelusur (traceable) ke standar
nasional dan/atau internasional. Kegiatan kalibrasi ini sangat penting dilakukan untuk
setiap alat kesehatan, terlebih bagi alat kesehatan yang rutin digunakan setiap hari di
sarana pelayanan kesehatan.

Tujuan dilakukannya kalibrasi ini adalah:


Patient Safety menjaga dan meningkatkan mutu dan efektifitas pelayanan serta
keselamatan terhadap pasien dan petugas medis, menjadi hal yang wajib dari
penggunaan peralatan kesehatan harus memenuhi persyaratan mutu dan
keamanan.
Memastikan kesesuaian karakteristik terhadap spesifikasi dari suatu bahan ukur atau
instrumen/alat
Menentukan deviasi atau penyimpangan kebenaran konvensional dari nilai
penunjukan suatu instrumen ukur atau deviasi dimensi nominal yang seharusnya
untuk suatu bahan ukur
Menjaga keakuratan nilai yang dihasilkan oleh suatu alat sehingga tidak menyimpang
jauh dari ambang batas yang ditentukan
Menjamin hasil-hasil pengukuran sesuai dengan standar nasional maupun
internasional

Sesuai dengan aturan dari pemerintah, setiap peralatan kesehatan terutama yang
terdapat dan digunakan di sarana pelayanan kesehatan harus diuji dan dikalibrasi secara
berkala oleh Balai Pengujian Fasilitas Kesehatan, Institusi Pengujian Fasilitas Kesehatan
yang berwenang dan/atau perusahaan swasta terpercaya. Setelah institusi penguji
melakukan kalibrasi terhadap alat kesehatan, selanjutnya setiap alat kesehatan yang
memenuhi standar akan diberikan sertifikat dan tanda yang menyatakan bahwa alat
tersebut sudah layak pakai.

Kalibrasi alat kesehatan dibagi menjadi 2 jenis kalibrasi antara lain :


1 Kalibrasi Legal, adalah kalibrasi alat kesehatan yang dilakukan untuk keperluan
legalitas perijinan dan akreditasi dan dilakukan minimal setahun 1 kali oleh
institusi penguji kalibrasi terakreditasi KAN (diakui secara nasional)
2 Kalibrasi Internal, adalah kalibrasi alat kesehatan yang dilakukan secara berkala atau
sewaktu-waktu dengan tujuan uji fungsi performance alat, quality control dan
verifikasi hasil pengukuran. Yang dilakukan oleh teknisi vendor alat bersangkutan
yang bersertifikat ataupun teknisi elektromedis rumah sakit yang bersertifikat.
Biasanya kalibrasi internal sudah termasuk dalam fasilitas kontrak service vendor.
Dilakukan berkala sesuai dengan kebutuhan, minimal 3x setahun.
Admin menyarankan untuk melakukan kedua kalibrasi tersebut. Dan mendorong setiap
rumah sakit memiliki minimal 2 unit alat kalibrasi mandiri untuk menjalankan program
pemeliharaan dan perbaikan alat kesehatan.

Kriteria Alat Kesehatan Wajib Kalibrasi

Menurut aturan pemerintah dan amanat undang-undang :


Undang-Undang Republik Indonesia No. 44 tahun 2009 tentang Rumah Sakit Pasal
16

Persyaratan peralatan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 7 ayat (1) meliputi


peralatan medis dan nonmedis harus memenuhi standar pelayanan, persyaratan
mutu, keamanan, keselamatan dan laik pakai.
Peralatan medis sebagaimana dimaksud pada ayat (1) harus diuji dan dikalibrasi
secara berkala oleh Balai Pengujian Fasilitas Kesehatan dan/atau institusi
pengujian fasilitas kesehatan yang berwenang.
Peralatan yang menggunakan sinar pengion harus memenuhi ketentuan dan
harus diawasi oleh lembaga yang berwenang.
Penggunaan peralatan medis dan nonmedis di Rumah Sakit harus dilakukan
sesuai dengan indikasi medis pasien.
Pengoperasian dan pemeliharaan peralatan Rumah Sakit harus dilakukan oleh
petugas yang mempunyai kompetensi di bidangnya.
Pemeliharaan peralatan harus didokumentasi dan dievaluasi secara berkala
dan berkesinambungan.
Ketentuan mengenai pengujian dan/atau kalibrasi peralatan medis, standar yang
berkaitan dengan keamanan, mutu, dan manfaat dilaksanakan sesuai dengan
ketentuan peraturan perundang-undangan.

Pasal 17
Rumah Sakit yang tidak memenuhi persyaratan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 7,
Pasal 8, Pasal 9, Pasal 10, Pasal 11, Pasal 12, Pasal 13, Pasal 14, Pasal 15, dan
Pasal 16 tidak diberikan izin mendirikan, dicabut atau tidak diperpanjang izin
operasional Rumah Sakit.
Pengoperasian dan pemeliharaan peralatan RS harus dilakukan oleh petugas yang
mempunyai kompetensi di bidangnya. Pemeliharaan peralatan tersebut harus
didokumentasikan dan dievaluasi secara berkala dan berkesinambungan. alat
kesehatan yang digunakan di sarana pelayanan kesehatan wajib untuk dilakukan
uji kalibrasi secara berkala, setidaknya satu kali setiap tahunnya.
Peraturan Menteri Kesehatan No 363/Menkes/PER/IV/1998 tentang Pengujian dan
Kalibrasi Alat Kesehatan pada sarana Pelayanan Kesehata, dilampirkan daftar alat
kesehatan yang wajib dikalibrasi
Peraturan Menteri Kesehatan No 54 Tahun 2015. Tentang Pengujian dan Kalibrasi alat
Kesehatan, dilampirkan daftar alat kesehatan yang wajib dikalibrasi
Mengapa hal ini diberlakukan? Tingkat teknologi, beban kerja alat, dan usia suatu alat
akan sangat mempengaruhi kinerja suatu alat kesehatan, baik untuk tingkat akurasi,
ketelitian, maupun keamanannya, sehingga kalibrasi akan sangat diperlukan untuk
menjaga agar alat kesehatan tetap dapat bekerja optimal.

Alat kesehatan yang wajib dikalibrasi adalah yang memiliki kriteria seperti berikut ini:
1 Belum memiliki sertifikat dan tanda lulus pengujian atau kalibrasi.
2 Masa berlaku sertifikat dan tanda lulus pengujian atau kalibrasi telah habis.
3 Diketahui penunjukannya atau hasil keluarannya atau kinerjanya (performance) atau
kemanannya (safety) tidak sesuai lagi, walaupun sertifikat dan tanda masih
berlaku.
4 Telah mengalami perbaikan, walaupun sertifikat dan tanda masih berlaku.
5 Telah dipindahkan bagi yang memerlukan instansi, walaupun sertifikat dan tanda
masih berlaku.
6 Atau jika tanda layak pakai pada alat kesehatan tersebut hilang ataupun rusak,
sehingga tidak dapat memberikan informasi yang sebenarnya.
Pelaksanaan Kalibrasi Alat Kesehatan

Dalam pelaksanaannya, kalibrasi dapat dilakukan dengan cara membandingkan nilai


terukur dengan nilai yang diabadikan pada alat kesehatan. Kegiatan yang dilaksanakan
dalam kalibrasi alat kesehatan yaitu:
Pengukuran kondisi lingkungan.
Pemeriksaan kondisi fisik dan fungsi komponen alat kesehatan.
Pengukuran keselamatan kerja.
Pengukuran kinerja sebelum dan setelah penyetelan atau pemberian faktor kalibrasi
sehingga nilai yang terukur sesuai dengan nilai yang diabadikan pada bahan ukur.
Kriteria Alat Kesehatan Lulus Kalibrasi

Selain kriteria wajib kalibrasi, terdapat pula kriteria alat kesehatan yang dinyatakan lulus
kalibrasi sehingga layak untuk digunakan. Kriteria tersebut adalah:
Penyimpangan hasil pengukuran dibandingkan dengan nilai yang diabadikan pada alat
kesehatan tersebut tidak melebihi penyimpangan yang diijinkan.
Nilai hasil pengukuran keselamatan kerja berada dalam nilai ambang batas yang
diinjinkan.
Dengan melakukan kalibrasi secara berkala, maka tingkat akurasi dan kinerja dari alat
kesehatan dapat terjaga dengan baik.

Alat apa saja yang di wajib Kalibrasi


1
2
3
4
5 Alat Hisap Medik
6 Anesthesi Unit
7 Aspirator
8 Baby Incubator
9 Bed Side Monitor
10 Blood Bank
11 Blood Pressure Monitor
12 Blood Warmer
13 Bluelight
14 Centrifuge
15 Couter
16 Cardiotocograph
17 DC Shock
18 Defibrillator
19 Defibrillator Monitor
20 Doppler
21 ECG
22 E C G Monitor
23 Electro Coutry Treatment
24 Electroenchepalograph (EEG)
25
26
27 Electrostimulator
28 Electrosurgery Unit (ESU)
29 ENT Treatment
30 Feeding pump
31 Flow Meter
32 Incubator Laboratorium
33 Infant Incubator
34 Infant Warmer
35 Infusion Pump
36 Inkubator Bayi
37 Inkubator Perawatan
38 Nebulizer
39 Oven
40 Oxymeter
41 Parafin Bath
42 Pasien Monitor
43 Pulse Oxymetri
44 Refrigerator Labolatorium
45 Rotator
46 Sphygmomamometer
47
48
49 Spirometri
50 SPO2 Monitor
51 Sterilisator Basah
52 Sterilisator Kering
53 Stirer
54 Syringe Pump
55 Tensimeter
56 Traksi
57 Treadmil + ECG
58 Vaporizer
59 Ventilator
60 Vital Sign Monitor
61 Waterbath
62 X-Ray Angiography
63 X-Ray C-Arm
64 X-Ray Dental Intra Oral
65 X-Ray Dental Panoramic
66 X-Ray Fluoroscopy
67 X-Ray General Purpose
68 X-Ray Mammography
69 X-Ray MCS
70
71
72 X-Ray Mobile
73 X-Ray Portable
74 Hematologi Analyzer
75 Chemistry Analyzer
76 Immunologi Analyzer
77 Coagulation Analyzer
78 Electrolit Analyzer
79 Blood Gas Analyzer
80 Urine Analyzer
81 USG
82 Diatermy
83 SWD (Short Wave Diatermy )
84 MWD ( Mikro Wave Diatermy )
85 TENS
86 Ultra Sound Theraphy
87 CPAP
88 Timbangan Bayi
89 Timbangan Dewasa
90 Micropipet
91 Light Source ( Lampu Operasi )
92 Phototheraphy Blue Light
93

QUALITY CONTROL

Quality Control / QC adalah Pengendali Mutu Peralatan Kesehatan di lapangan, baik pra
maupun pasca kalibrasi. Quality control juga bertanggung jawab dalam menjalankan dan
memantau peralatan inspeksi, serta merekam dan menganalisis data kualitas suatu
pelayanan pemeliharaan alat kesehatan.

Dalam pelaksanaannya, Quality Control melakukan pengukuran terhadap peralatan


kesehatan di lapangan. Salah satu tolak ukur keberhasilan Quality Control adalah
besarnya kontribusi yang baik dari pelayanan kesehatan yang dilakukan melalui
peralatan kesehatan tersebut dalam meningkatkan kualitas pelayanan. Kesulitan yang
sering dihadapi oleh team quality control adalah membentuk visi dan misi yang sama
pada semua team agar semua team memiliki kesadaran dan bersedia melakukan
perbaikan untuk meningkatkan standar kualitas secara terus-menerus.

Karena kalibrasi umumnya dilakukan hanya setahun sekali. Apabila dalam rentang waktu
kalibrasi selanjutnya alat kesehatan tersebut terdapat pemeliharaan dan perbaikan
ataupun permintaan kalibrasi oleh user/ operator untuk "make sure" hasil dan
kualitasnya sesuai. Maka harus dilakukan re-kalibrasi. Tentunya teknisi elektromedik
harus dibekali dengan peralatan kalibrasi yang sudah terverifikasi dan tentunya teknisi
elektromedik mempunyai sertifikasi dan terlatih untuk melakukan kalibrasi guna
melakukan quality control berkala.

Contoh kasus :

Ruangan IGD (Instalasi Gawat Darurat) mengeluhkan hasil NIBP Bedside Monitornya
tidak valid dan berbeda dengan hasil pengukuran tensimeter aneroid mereka, dan hal
tersebut sudah diulang beberapa kali, hasil pemeriksaan pasien sangat jauh melenceng
dan tidak sesuai dengan hasil pemeriksaan fisik oleh dokter.
Solusi :

Harus dilakukan re-kalibrasi Bedside Monitor, jika hasil pengukuran kalibrasi tidak sesuai
maka harus dilakukan perbaikan alat kesehatan, setelah dilakukan perbaikan, maka
harus dikalibrasi kembali sesuai dengan standar pabrikan. Masalahnya jika teknisi
elektromedik tidak mempunyai alat ukur kalibrasi untuk melakukan Quality Control
maka akan menunda pelayanan dan safety pasien sangat diragukan, melihat hasil
pemeriksaan yang berbeda.

Yang terjadi di lapangan :


Kebanyakan teknisi elektromedik tidak mempunyai alat kalibrasi mandiri, sangat
terbatas, sehingga masih harus menunggu kajian kalibrasi tahunan kembali ?!? Apakah
pelayanan ke pasien juga harus menunggu waktu selama itu. Maka dari itu dengan
tersedianya alat kalibrasi secara mandiri akan mempercepat pelayanan pemeliharaan
Quality Control di lapangan dan respon waktu yang lebih maksimal.

Tata cara kalibrasi mempunyai Standard Operasional (SOP) tersendiri oleh tenaga
elektromedik yang sudah terlatih dan tersertifikasi.

Kalibrasi yang digunakan mengacu pada referensi SNI (Standar Nasional Indonesia)
maupun Internasional, contoh: OIML (Organization International Metrology Legal), EA
(European co-operation for Accreditation), ECRI (Emergency Care Research Institute),
AAMI (Association for the Advancement of Medical Instrumentation), IEC (International
Electrotechnical Commision) dan KAN (Komite Akreditasi Nasional)

Quality Control Manajemen harus dilakukan secara berkala, sehubungan dengan


tersedianya unit yang laik pakai dan keselamatan pasien (safety pasien) terjamin.
Pemenuhan fasilitas dan instrumen kalibrasi yang memadai sangat dibutuhkan.
Bagaimana Anda tahu bahwa peralatan medis tersebut handal, akurat, dan aman?
Quality Control diperlukan untuk mengevaluasi beberapa perangkat medis (misalnya:
Unit terapi ultrasound, Unit interferential, defibrillator jantung, Unit terapi laser, dll).
evaluasi akan mencakup keandalan, akurasi, dan keamanan perangkat medis. Ini akan
menjadi kontribusi penting untuk prosedur praktek pelayanan yang terbaik.

CONTOH ALAT KALIBRASI ALAT ELEKTROMEDIK

Banyak merk alat kalibrasi yang beredar di pasaran, kita harus memperhatikan
ketersediaan purna jual alat kalibrasi, service center, kalibrasi calibrator alat kalibrasi,
dan spesifikasi yang dibutuhkan pada alat kalibrasi tersebut.

Anak Timbangan
Electrical Safety Analyzer
ECG Phantom Simulator
IDA (Intelligent Drainage Analyzer) Infusion Analyzer
Temperature Tester
Audiometers Tester
Sound level meters
Defibrillator / pacemaker analyzers
Ultrasonography Imaging Phantom
NIBP simulators
Pressure meter
Sp02 simulators
X-Ray Mesurement Survey Meter
Diagnostic Imaging QA/ Diagnostic imaging x-ray test devices
Patient monitor testers (patient simulators)
Fetal / maternal simulators
CT / MRI / X-Ray phantoms
Electrosurgical unit testers
Ventilator / gas-flow analyzers
Incubator analyzers
Dll
Merk Kalibrator Alat Medis Di Pasaran :
Alaris Medical Systems
ERBE
IMT Medical
BioTek
Eschmann
Rigel Medical
Clinical Dynamics
Fluke Biomedical
TSI
Piranha -RTI
Admin banyak menemui tidak semua Rumah Sakit mempunyai alat kalibrasi internal
mandiri. Pertanyaannya, apakah acuan uji performa test, quality control dan kelaikan
alat bila tidak ada alat kalibrasi internal ? Apakah harus menunggu kalibrasi legal
dilakukan, yang waktunya setahun 1x ?

Oleh karena itu perlu menjadi pemikiran bagi manajemen rumah sakit untuk lebih
memikirkan tentang adanya alat kalibrasi internal. Jadi kalibrasi bisa dilakukan dengan
alat ukur dan alat kalibrasi, bukan hasil menerawang bebas :)))

Melalui kalibrasi legal dan kalibrasi internal secara berkala maka akurasi dan batas
kesalahan yang diperbolehkan bisa diketahui. Dimana alat kesehatan harus memiliki
performance yang ketat antara lain ketelitian (accuracy), kepekaan (sensitivity),
reproduksibilitas dan aspek keselamatan (safety aspec). Sehingga dalam penggunaannya
akan selalu siap pakai dan memenuhi standar teknis pemakaian peralatan kedokteran.

Metode kalibrasi yang digunakan mengacu pada referensi SNI (Standar Nasional
Indonesia) maupun Internasional, contoh: OIML (Organization International Metrology
Legal), EA (European co-operation for Accreditation), ECRI (Emergency Care Research
Institute), AAMI (Association for the Advancement of Medical
Instrumentation), IEC (International Electrotechnical Commision).

Kalibrasi Alat Kesehatan


3.1.1 Pengertian Kalibrasi
Kalibrasi adalah menentukan kebenaran konvensional penunjukkan alat melalui
cara perbandingan dengan standar ukurnya yang tertelusur ke standar
Nasional/Internasional. Kalibrasi bisa dilakukan dengan membandingkan suatu standar
yang terhubung dengan standar nasional maupun internasional bahan bahan acuan
tersertifikasi, serta mengikuti petunjuk didalam ISO/IEC 17025:2005.
Pada umumnya kalibrasi merupakan proses untuk menyesuaikan keluaran atau
indikasi dari suatu perangkat pengukuran agar sesuai dengan besaran dari standar yang
digunakan dalam akurasi tertentu, contohnya :
- Thermometer dapat dikalibrasi sehingga kesalahan indikasi atau koreksi dapat
ditentukan dan disesuaikan ( melalui konstanta kalibrasi ). Sehingga thermometer
tersebut menunjukkan temperature yang sebenarnya dalam celcius pada titik titik
tertentu disklala.
- Sphygmomanometer dapat dikalibrasi sehingga kesalahan atau indikasi atau koreksi
pada air raksa dapat ditentukan dan disesuaikan. Sehingga pembacaan air raksa dapat
menunjukkan skala yang sebenarnya.

3.1.2 Ketentuan ketentuan pokok kalibrasi


- Perangkat baru
- Suatu perangkat setiap waktu tertentu
- Suatu perangkat setiap waktu penggunaan tertentu ( jam operasi )
- Ketika suatu perangkat mengalami tumbukan atau getaran yang berpotensi
mengubah
kalibrasi
- Ketika hasil pengamatan dipertanyakan

3.1.3 Metode metode kalibrasi


- Kurva kalibrasi
Sejumlah larutan baku dengan variasi konsentrasi disiapkan, kemudian diukur
menggunakan instrument dan respon instrument dicatat
- Adisi standard
Metode yang digunakan untuk analit dalam matriks yang kompleks, yang mengakibatkan
terjadinya interfrensi dalam respon instrument, sering disebut juga metode spiking
- Standard Internal
Umumnya digunakan dalam GC dan HPLC
Suatu senyawa reference/pembanding ( standar interal ) dengan volume / massa yang
konstan ditambahkan ke dalam larutan standard dan sampel.

3.1.4 Ada dua kalibrasi di Indonesia :


- Kalibrasi teknis ( untuk proses Produksi )
Kalibrasi peralatan alat ukur yang tidak langsung berhubungan dengan dunia
perdagangan. Dilakukan oleh LABORATORIUM kalibrasi terakreditasi KAN ( diakui secara
Nasional ).
- Kalibrasi Legal ( untuk keperluan Umum )
Kalibrasi peralatan alat ukur untuk keperluan perdagangan dilakukan oleh Direktorat
Metrologi Depdag.

3.1.5 Sumber sumber yang mempengaruhi hasil kalibrasi :


- Prosedur
- Kalibrator
- Tenaga pengkalibrasi
- Periode kalibrasi
- Lingkungan
- Alat yang dikalibrasi

3.1.6 Interval waktu kalibrasi :


- Selang waktu antara satu kalibrasi alat ukur denagn kalibrasi berikutnya. Interval
kalibrasi bisa dinyatakan dalam beberapa cara antara lain:
a. Waktu Kalender ( 1 tahun sekali, dan seterusnya )
b. Waktu pemakaian ( 1000 jam pakai dan seterusnya )
c. Kombinasi cara pertama dan kedua, tergantung mana yang lebih dahulu tercapai.
3.1.7 Istilah dalam kalibrasi alat ukur :
- Resolusi
Nilai skala terkecil / suatu ekspresi kuantitatif dari kemampuan alat penunjuk untuk
perbedaan yang cukup berarti antara nilai yang terdekat dari jumlah yang ditunjukan.
- Akurasi
Kemampuan dari alat ukur untuk memberikan indikasi kedekatan terhadap harga
sebenarnya dari objek yang diukur.
- Presisi
Kecenderungan data yang diperoleh dari perulangan mengindikasikan kecilnya
simpangan ( deviasi ).
- Reaptibility
Ukuran variasi statistic data yang dihasilkan bila pengukuran dilakukan oleh personal,
perlengkapan, serta ruangan dengan kondisi yang lama.
- Readability
Kemampuan dari indra manusia dalam membaca data yang dihasilkan oleh suatu
instrument.

3.1.8 Mengidentifikasi alat yang dikalibrasi.


- Membuat jadwal kalibrasi ( internal/external )
- Menyiapkan alat dan bahan
- Melakukan kalibrasi
- Membuat laporan kalibrasi
- Evaluasi hasil kalibrasi
- Sesuai standar
a. Ya ( mencatat / memasang table kalibrasi )
b. Tidak ( melakukan evaluasi data dampak dari penyimpangan alat ke laporan ke
membuat
laporan kerusakan ke prosedur perbaikan alat ).

3.1.9 Tujuan kalibrasi :


- Menentukan deviasi ( penyimpangan ) kebenaran nilai konvensional penunjukan
suatu
instrument ukur.
- Menjamin hasil hasil pengukuran sesuai dengan standar standar nasional
maupun
internasional .
- Untuk mencapai ketertelusuran pengukuran melalui rangkaian perbandingan tak
terputus putus.
- Menentukan apakah peralatan masih layak digunakan sesuai dengan fungsinya.
- Deteksi, korelasi, melaporkan dan mengeliminasi setiap variasi keakuratan alat uji.

3.1.10 Manfaat kalibrasi antara lain :


- Mendukung system mutu yang diterapkan diberbagai industry pada peralatan
laboratorium dan produksi yang dimiliki.
- Mengetahui seberapa jauh perbedaan ( penyimpangan ) antara harga benar dengan
harga
yang ditunjukan oleh alat ukur.
- Menjaga kondisi instrument ukur dan bahan ukur agar tetap sesuai dengan
spesiikasinya.

3.1.11 Beberapa kebutuhan untuk proses kalibrasi


- Adanya Obyek Ukur ( Unit Under Test )
- Adanya Calibrator ( Standard )
- Adanya prosedur kalibrasi
- Adanya teknisi yang telah bersertifikasi
- Lingkungan terkondisi dengan baik
- Hasil kalibrasi itu sendiri, yaitu Quality Record berupa sertifikasi kalibrasi.

3.1.12 Pengertian Kalibrasi menurut ISO/IEC GUIDE 17025 : 2005 dan VIM
( Vocabulary Of International Metrology )

KALIBRASI adalah serangkainan kegiatan yang membentuk hubungan antara nilai yang
ditujukan oleh instrument ukur/system pengukuran atau nilai diwakili oleh bahan ukur,
dengan nilai nilai yang sudah diketahui yang berkaitan dari besaran yang diukur dalam
kondisi tertentu. Dengan kata lain kalibrasi adalah untuk menentukan kebenaran,
konvensional nilai penunjukan alat ukur dengan cara membandingkan terhadap standar
ukur yang mampu tertelusur ( traceable ) ke standar Nasional untuk satuan
ukur/internasional.
3.1.13 Ketentuan Ketentuan Pokok Kalibrasi
- Sifat Umum Alat Ukur
Alat ukur merupakan alat yang dibuat manusia sehingga ketidaksempurnaan adalah ciri
utama. Ketidaksempurnaan dapat diketahui melalui istilah Rantai Kalibrasi. Istilah Rantai
Kalibrasi antara lain :
- Kepekaan ( Sensitivity )
Kemampuan Alat ukur menerima, mengubah dan meneruskan isyarat sensor ( dari
sensor menuju ke bagian penunjuk, pencatat, atau pengolah data pengukuran ).
Kepekaan alat ukur ditentukan terutama oleh bagian pengubah, sesuai denagn prinsip
kerja yang diterapkan.
- Histerisis ( Histerysis )
Perbedaan atau penyimpangan yang timbul sewaktu dilakukan pengukuran secara
berkesinambungan dari dua arah yang berlawanan ( mulai dari skala Nol sampai skala
maksimum kemudian diulangi dari skala maksimum sampai skala Nol ). Histerisis muncul
karena adanya gesekan pada bagian pengubah alat ukur.
- Keterbacaan ( Readability )
Keterbacaan skala dengan penunjuk digitallebuh tinggi dibandingkan dengan
keterbacaan skala dengan jarum penunjuk.
- Kestabilan Nol ( Zero Stability )
Suatu penyimpangan yang membesar tetapi dengan harga yang tetap atau berubah
ubah secara rambang tak stabil, dikarenakan ketidakkakuan system pemegang alat ukur
atau benda ukur, kelonggaran system pengencang atau keausan system pemosisi.
- Pengembangan ( Floating )
Kadang-kadang terjadi pula jarum penunjuk dari alat ukur yang digunakan posisinya
berubah-ubah. Atau kalau penunjuknya dengan sistem digital angka paling kanan atau
angka terakhir berubah-ubah. Kejadian seperti ini dinamakan pengambangan. Kepekaan
dari alat ukur akan membuat perubahan kecil dari sensor diperbesar oleh pengubah.
Makin peka alat ukur makin besar pula kemungkinan terjadinya pengambangan. Untuk
itu, bila menggunakan alat-alat ukur yang mempunyai jarum penunjuk pada skalanya
atau penunjuk digital harus dihindari adanya kotoran atau getaran, juga harus digunakan
metode pengukuran yang secermat mungkin.

- Pergeseran ( Shifting, Drift )


Pergeseran adalah penyimpangan yang terjadi dari harga-hargayang ditunjukkan pada
skala atau yang tercatat pada kertas grafikpadahal sensor tidak melakukan perubahan
apa-apa. Kejadian seperti in sering disebut dengan istilah pergeseran, banyak terjadi
pada alat-alatukur elektris yang komponen-komponennya sudah tua.
- Kepasifan / kelambatan Reaksi ( Passivity )
Kepasifan Kadang-kadang sewaktu dilakukan pengukuran terjadi pula bahwa jarum
penunjuk skala tidak bergerak sama sekali pada waktu terjadi perbedaan harga yang
kecil. Atau dapat dikatakan isyarat yang kecil dari sensor alat ukur tidak menimbulkan
perubahan sama sekali pada jarum penunjuknya. Keadaan yang demikian inilah yang
sering disebut dengan kepasifan atau kelambatan gerak alat ukur Untuk alat-alat ukur
mekanis kalaupun terjadi kepasifan atau kelambatan gerak jarum penunjuknya mungkin
disebabkan oleh pengaruh pegas yang sifat elastisnya kurang sempurnya. Pada alat ukur
pneumatis juga sering terjadi kepasifan ini misalnya lambatnya reaksi dari barometer
padahal sudah terjadi perubahan tekanan udara. Hal inidisebabkan volume udaranya
terlalu besar akibat dari terlalu panjangnya pipa penghubung sensor dengan ruang
perantara.

3.2 Pemeliharaan Alat Kesehatan

3.2.1 Pengertian Pemeliharaan (maintenance) Menurut Para Ahli


1. Menurut Jay Heizer dan Barry Render, (2001) dalam bukunya operations
Management pemeliharaan adalah : all activities involved in keeping a systems
equipment in working order . Artinya: pemeliharaan adalah segala kegiatan yang di
dalamnya adalah untuk menjaga sistem peralatan agar bekerja dengan baik.
2. Menurut M.S Sehwarat dan J.S Narang, (2001) dalam bukunya Production
Management pemeliharaan ( maintenance ) adalah sebuah pekerjaan yang dilakukan
secara berurutan untuk menjaga atau memperbaiki fasilitas yang ada sehingga sesuai
dengan standar (sesuai dengan standar fungsional dan kualitas).
3. Menurut Sofy an Assauri (2004) pemeliharaan adalah kegiatan untuk memelihara
atau menjaga fasilitas/peralatan pabrik dan mengadakan perbaikan atau
penyesuaian/penggantian yang diperlukan agar supaya terdapat suatu keadaan operasi
produksi yang memuaskan sesuai dengan apa yang direncanakan.

Dari beberapa pendapat di atas bahwa dapat disimpulkan bahwa kegiatan


pemeliharaan dilakukan untuk merawat ataupun memperbaiki peralatan perusahaan
agar dapat melaksanakan produksi dengan efektif dan efisien sesuai dengan pesanan
yang telah direncanakan dengan hasil produk yang berkualitas.

Kurang diperhatikannya Pemeliharaan (maintenance) diantaranya disebabkan


oleh banyaknya dana yang dibutuhkan, dan rumitnya tugas Pemeliharaan (maintenance)
Namun bagi kegiatan operasi perusahaan, maintenance sudah menjadi dwi fungsi, yaitu
pelaksanaan dan kesadaran untuk melakukan pemeliharaan terhadap fasilitas-fasilitas
produksi.

3.2.2 Tujuan Pemeliharaan (maintenance).


Suatu kalimat yang perlu diketahui oleh orang pemeliharaan dan bagian lainnya
bagi suatu pabrik adalah pemeliharaan ( maintenance ) murah sedangkan perbaikan
( repair ) mahal. (Setiawan F.D, 2008).
Menurut Daryus A, (2008) dalam bukunya manajemen pemeliharaan mesin
Tujuan pemeliharaan yang utama dapat didefenisikan sebagai berikut:
1. Untuk memperpanjang kegunaan asset,
2. Untuk menjamin ketersediaan optimum peralatan yang dipasang untuk produksi
dan mendapatkan laba investasi maksimum yang mungkin,
3. Untuk menjamin kesiapan operasional dari seluruh peralatan yang diperlukan
dalam keadaan darurat setiap waktu,
4. Untuk menjamin keselamatan orang yang menggunakan sarana tersebut.

Sedangkan Menurut Sofyan Assauri, 2004, tujuan pemeliharaan yaitu :


1. Kemampuan produksi dapat memenuhi kebutuhan sesuai dengan rencana
produksi,
2. Menjaga kualitas pada tingkat yang tepat untuk memenuhi apa yang dibutuhkan
oleh produk itu sendiri dan kegiatan produksi yang tidak terganggu,
3. Untuk membantu mengurangi pemakaian dan penyimpangan yang di luar batas
dan menjaga modal yang di investasikan tersebut,
4. Untuk mencapai tingkat biaya pemeliharaan serendah mungkin, dengan
melaksanakan kegiatan pemeliharaan secara efektif dan efisien,
5. Menghindari kegiatan pemeliharaan yang dapat membahayakan keselamatan para
pekerja
6. Mengadakan suatu kerja sama yang erat dengan fungsi - fungsi utama lainnya dari
suatu perusahaan dalam rangka untuk mencapai tujuan utama perusahaan yaitu tingkat
keuntungan ( return on investment ) yang sebaik mungkin dan total biaya yang
terendah.

3.2.3 Fungsi Pemeliharaan (maintenance).


Apakah maksud pemeliharaan. Menurut pendapat Agus Ahyari, (2002) fungsi
pemeliharaan adalah agar dapat memperpanjang umur ekonomis dari mesin dan
peralatan produksi yang ada serta mengusahakan agar mesin dan peralatan produksi
tersebut selalu dalam keadaan optimal dan siap pakai untuk pelaksanaan proses
produksi.

Keuntungan- keuntungan yang akan diperoleh dengan adanya pemeliharaan yang


baik terhadap mesin, adalah sebagai berikut :
1. Mesin dan peralatan produksi yang ada dalam perusahaan yang bersangkutan akan
dapat dipergunakan dalam jangka waktu panjang,
2. Pelaksanaan proses produksi dalam perusahaan yang bersangkutan berjalan
dengan lancar
3. Dapat menghindarkan diri atau dapat menekan sekecil mungkin terdapatnya
kemungkinan kerusakan-kerusakan berat dari mesin dan peralatan produksi selama
proses produksi berjalan,
4. Peralatan produksi yang digunakan dapat berjalan stabil dan baik, maka proses dan
pengendalian kualitas proses harus dilaksanakan dengan baik pula,
5. Dapat dihindarkannya kerusakan-kerusakan total dari mesin dan peralatan produksi
yang digunakan,
6. Apabila mesin dan peralatan produksi berjalan dengan baik, maka penyerapan
bahan baku dapat berjalan normal,

3.2.4 Jenis-jenis pemeliharaan


1. Prefentive Maintenance.
Prefentive Maintenance disebut juga tindakan pencegahan atau overhaul, yaitu
kegitaan pemeliharaan dan perawatan untuk mencegah kerusakan yang tak terduga dan
menemukan kondisi atau keadaan yang menyebabkan fasilitas operasi lebih tepat.
Pemeliharaan prefentif apabila direncanakan dengan baik dapat mencegah terjadinya
kegagalan atau kerusakan, sebab apabila terjadi kerusakan peralatan operasi dapat
berakibat kemacetan produksi secara total.

2. Corrective Maintenance.
Disebut juga break down maintenance, yaitu kegiatan pemeliharaan dan
perawatan yang dilakukan setelah terjadi kerusakan, kegagalan, atau kelainan fasilitas
produksi sehingga tidak dapat berfungsi dengan baik.

3.3 Perbaikan Alat Kesehatan


3.3.1Pengertian Servis (Perbaikan)
Servis sering juga disebut dengan istilah perbaikan(jasa). Pengertian dari
perbaikan itu sendiri adalah usaha untuk mengembalikan kondisi dan fungsi dari suatu
benda atau alat yang rusak akibat pemakaian alat tersebut pada kondisi semula . Proses
perbaikan tidak menuntut penyamaan sesuai kondisi awal, yang diutamakan adalah alat
tersebut bisa berfungsi normal kembali. Perbaikan memungkinkan untuk terjadinya
pergantian bagian alat/spare part. Terkadang dari beberapa produk yang ada dipasaran
tidak menyediakan spare part untuk penggantian saat dilakukan perbaikan, meskipun
ada, harga spare part tersebut hampir mendekati harga baru satu unit produk tersebut.
Hal ini yang memaksa user/pelanggan untuk membeli baru produk yang sama.

Tidak setiap perbaikan dapat diselesaikan dengan mudah, tergantung tingkat


kesulitan dan kerumitan assembling/perakitan alat tersebut, mulai dari tingkatan jenis
bahan hingga tingkat kecanggihan fungsi alat tersebut. Tingkat kesulitan tersebutlah
yang menumbuhkan perbedaan jenis perbaikan, mulai jenis perbaikan ringan, perbaikan
sedang dan perbaikan yang sering dinamakan servis berat. Dari jenis servis diatas
ditentukan biaya perbaikan sesuai tingkat kesulitannya.

Service merupakan satu hal yang sangat penting dalam dunia bisnis karena
service merupakan salah satu bentuk penghargaan kepada pelanggan. Service juga
menjadi salah satu pertimbangan seseorang untuk memutuskan membeli produk atau
menggunakan jasa dari sebua perusahaan. Service yang buruk bisa membuat pelanggan
lari dan beralih ke perusahaan pesaing. Mengingat begitu pentingnya service bagi
kelangsungan usaha kita, sudah selayaknya bila kita selalu menjaga service kita kepada
pelanggan.

Berikut ini adalah pengertian dan definisi service:


4 AHMAN SUTARDI & ENDANG BUDIASIH
Service adalah setiap kegiatan yang diperuntukkan atau ditujukan untuk memberikan
kepuasan melalui pelayanan yang diberikan seseorang secara memuaskan
HERMAWAN KERTAJAYA
Service merupakan sebuah paradigma dari orang - orang dalam sebuah perusahaan,
tidak peduli apakah sebuah perusahaan yang menhasilkan product atau service untuk
selalu memberikan best value pada pelanggannya
3 LOVELOCK & WIRTZ, 2004
Meskipun service sering kali memasukkan komponen tangibles yang penting, komponen
ini bersama - sama dengan personel yang ahli menjadi kombinasi yang dominan dalam
rangkaian value creation untuk penciptaan kinerja jasa
MOHD ROZANI PAWAN CHEK
Service adalah merupakan gabungan dari selling (menjual), emphasis (menenkankan),
return (timbal balik), Visit (mengunjungi), Increase (menambah atau meningkatkan),
commitment (mengikatkan diri), dan earn (penghasilan)
7 LAURENSIUS MANURUNG
Service merupakan aktivitas perusahaan dalam memberikan layanan pelanggan meliputi
penanganan pelanggan dan keluhan pelanggan
HOLY ICUN Y & MARTINUS GETTY
Service merupakan komponen tambahan seperti garansi jasa, garansi spare part,
asuransi, dll
IMELDA SAPUTRA
service adalah salah satu nilai tambah yang perlu kita miliki jika kita ingin tetap eksis di
tengah - tengah persaingan yang semakin ketat seperti sekarang ini

BAB IV
PEMBAHASAN ALAT

4.1 SPHYGMOMANOMETER (TENSIMETER)

A. Penjelasan Alat
Tensimeter adalah alat pengukuran tekanan darah sering juga disebut
sphygmomanometer
B. Bagian bagian Tensimeter
1) Manset
Berfungsi untuk menampung udara yang dipompa dari bulb dan untuk mendeteksi
tekanan darah pasien yang pada penggunaanya dipasang pada lengan pasien.
2) Bulb / Pemompa
Berfungsi untuk memompa udara ke dalam manset. Pada bulb terdapat :
a) Valve Inlet / klep masuk yang berfungsi untuk menghisap udara dari luar
b) Valve output / klep keluar yang berfungsi mengeluarkan udara dari dalam bulb (di
dalamnya terdapat filter)
c) Valve pembuangan yang berfungsi untuk uang udara dari manset pada saat
pengukuran
3) Tabung kaca pengukur
Berfungsi untuk mengukur air raksa yang dipompaoleh udara di dalam manset. Diatas
tabung kaca pengukur terdapat lubang pembuangan udara

4) Valve on / of
Berfungsi untuk membuka atau menutup jalannya air raksa
5) Tabung Air Raksa
Berfungsi untuk menampung air raksa. Diatas tabung air raksa ada filternya.

C. Cara pengukuran tekanan darah


Cara menggunakan tensimeter air raksa adalah
a. Pemeriksa memasang kantong karet terbungkus kain (cuff ) pada lengan atas.
b. Stetoskop ditempatkan pada lipatan siku bagian dalam.
c. Kantong karet kemudian dikembangkan dengan cara memompakan udara ke
dalamnya. Kantong karet yang membesar akan menekan pembuluh darah lengan (br
achial artery ) sehingga aliran darah terhenti sementara.
d. Udara kemudian dikeluarkan secara perlahan dengan memutar sumbat udara.
e. Saat tekanan udara dalam kantong karet diturunkan, ada dua hal yang harus
diperhatikan pemeriksa. Pertama, jarum penunjuk tekanan, kedua bunyi denyut
pembuluh darah lengan yang dihantarkan lewat stetoskop. Saat terdengat denyut untuk
pertama kalinya, nilai yang ditunjukkan jarum penunjuk tekanan adalah nilai tekanan
sistolik.
f. Seiring dengan terus turunnya tekanan udara, bunyi denyut yang terdengar lewat
stetoskop akan menghilang. Nilai yang ditunjukkan oleh jarum penunjuk tekanan saat
bunyi denyut menghilang disebut tekanan diastolik.
D. Pemeliharaan Tensimeter Air Raksa
Cara membersihkan dan memperbaiki tensimeter air raksa:
Tensimeter jenis ini paling banyak dipergunakan oleh para tenaga medis dan
mempunyai usia yang lama dalam penggunaanya asal perawatannya dijaga dengan baik.

1) Persiapan peralatannya
a) Tang buaya atau tang kombnasi
b) Air raksa
c) Kasa / kain polos dengan ukuran minimal 20x20 cm
d) Kawat panjang 40cm dengan dia. 0.4 mm
e) Kapas
f) Wadah kecil / mankuk
g) Syiringe / suntikan

2) Pelaksanaannya
a) Buka tensimeter, perhatikan apakan dalam keadaan terbuka atau tertutup
tensimeternya, jika terbuka tutuplah pengaman air raksanya agar tidak tercecer saat
gelas kaca ukur dibuka.
b) Buka penutup atas dengan memutar berlawanan jarum jam
c) Ambil secara perlahan gelas ukur dan bersihkan dengan kawat dan kapas, hingga debu

dan karat air raksa hilang.


d) Siapkan mankuk atau wadah untuk menampung air raksa yang akan dikeluarkan dari
chambernya dengan membuka valve pengamannya
e) Kemudian taburkan letakan kain pada telapak lengan anda, dan letakkan air raksa
diatasnyasetelah itu lakukan pemerasan hingga air raksa kembali bersih dari debu dan
karat
f) Bersihkan chamber air raksa
g) Setelah bersih posisikan kembali gelas ukur
h) Isikan kembali air raksa yang telah bersih kedalam chamber dengan menggunakan
syiringe/suntikan , isikan air raksa hingga menyentuh garis nol pada gelas ukur, jika
kurang lakukan penambahan dan tutup kembali bagian atasnya
i) Lakukan pengetesan dengan Pressure meter atau dengan membandingkan dengan
tensimeter lainnya dengan menghubungkan secara langsung untuk melakukan
pengaturan /adjusment
j) Jika telah sama maka proses pengaturan selesai
k) Bersihkan pula Balon Pompa / Bulp tensi dengan membuka filter udara dan
membersihkannya dari debu
l) Ganti Maset dan Balon tensi yang bocor dan lap kembali
m) Proses pemeliharaan selesai

E. Troubleshooting
1) Bulb bila dipompa tidak dapat menggelembung kembali dengan cepat.
Penyebabnya adalah valve inlet atau klep masuk kotor
Penanggulanganya :
a. Ambil kapas, alkohol dan kawat halus
b. Bersihkan valve inlet / klep masuk dengan cara kawat halus ujungnya diberi kapas
dan basahi dengan alkohol

2) Bulb bila dipompa terasa keras


Penyebabnya adalah valve outlet atau klep keluar kotor
Penanggulanganya :
a) Lepaskan valve outlet dari bulb
b) Buka filternya dengan cara menggunakan pinset untuk menjepit dan tarik keluar.
c) Bersihkan filter dengan alkohol
3) Air raksa naiknya pelan pelan atau tidak sesuai dengan tekanan udara yang
ada di manset
Penyebabnya adalah Tabung kaca pengukur kotor.
Penanggulangannya :
a) Valve on / off pastikan berada pada posisi off.
b) Lepaskan kaca pengukur dengan cara buka tutup lubang pembuangan dan dorong
keatas tabung kaca pengukur.
c) Bersihkan tabung kaca pengukur dengan kawat yang ujungnya diberi kapas.
Masukkan kawat tersebut kedalam lubang tabung kaca pengukur dan dorong sampai
keluar diujung yang satunya. Ulangi beberapa kali sampai tabung kaca pengukur bersih.
d) Masukan tabung kaca pengukur dan tutup kembali lubang pembuangan

4) Air raksa pada saat awal tidak menunjuk angka 0 (nol)


Penyebabnya adalah air raksa kurang.
Penanggulangannya :
a) Valve on / off pastikan pada posisi off
b) Lepaskan tutup lubang pembuangan.
c) Gunakan spuit untuk menambah air raksa. Perhatikan jumlah air raksa dengan
melihat pada skala.
d) Bila air raksa sudah sampai pada posisi 0 (nol), berarti air raksa sudah cukup.
e) Masukkan kembali tabung kaca pengukur dan tutup lubang pembuangan.
f) Jangan pernah menambah air raksa dengan cara menusuk langsung tutup
pembuangan.

5) Manset setelah dipompa kempis kembali


Penyebabnya adalah Manset bocor atau ada hubungan antar selang penghubung yang
kurang kencang.
Penangggulangannya :
Pompa bulb sampai manset keras, kemudian selang dekat manset tekuk dan tekan
dengan kuat sehingga tidak ada udara yang keluar. Perhatikan apakah manset kempis
atau tidak. Bila kempis berarti manset bocor, maka ganti dengan yang baru. Bila
manset tidak kempis berarti ada hubungan antara selang penghubung yang kurang
kencan. Periksa dan kencangkan.

6) Hasil pengukuran tidak sesuai bila dibanding dengan tensimeter yang lain
Penyebabnya :
a) Tabung kaca pengukur kotor. Penanggulangannya sama dengan cara diatas
b) Air raksa tidak menunjuk angka 0 (nol) pada saat awal pengukuran.
Penanggulangannya sama dengan cara menambah air raksa diatas.

F. Prosedur Kalibrasi
I. Persiapan
1. Gunakan perlengkapan keselamatan diri seperti masker dan sarung tangan karet
sebelum melakukan pendataan/pengukuran.
2. Lakukan pendataan administrasi meliputi :
0 Data pelanggan, yang terdiri dari : nama pelanggan dan nomor order. Khusus
no.order diisi untuk pekerjaan kalibrasi yang dilakukan di dalam
laboratorium.
1 Data alat pelanggan (UUT), terdiri dari : merk, type, nomor seri dan tempat
kalibrasi, ruangan alat dan jenis cuff (dewasa atau anak)
2 Data alat standart yang digunakan, terdiri dari : merk, dan type
3. Lakukan pengukuran kondisi lingkungan, meliputi kondisi suhu dan kelembaban.
Pencatatan kondisi lingkungan dilakukan pada saat awal serta akhir pengukuran.
4. Lakukan pemeriksaan fisik, meliputi badan/permukaan UUT, cuff & selang,
bulb/balon, serta meter/skala pembaca pada UUT.
5. Catat hasil pemeriksaan pada lembar kerja.
6. Rakit UUT dengan Standart seperti gambar di bawah ini.

II. Kalibrasi
1. Tes Kebocoran
a. Untuk cuff dewasa, berikan tekanan 200 mmHg pada UUT atau 160 mmHg untuk
cuff anak
b. Setelah 60 detik, kemudian baca penunjukan penurunan tekanan. Lakukan
pengukuran tes kebocoran sebanyak 3 (tiga) kali.
c. Nilai kebocoran maksimum tidak boleh melebihi 15 mmHg/60 detik (ECRI 424-
20010301).
d. Jika ditemukan tingkat tes kebocoran melebihi ambang batas (15 mmHg/60 detik),
maka lakukan pengecekan pada setiap sambungan antara UUT dan standart serta cuff
dan bulb.
e. Apabila tes kebocoran tetap melebihi ambang batas, gunakanlah alat bantu (cuff
dan bulb persediaan).
f. Catat hasil pengukurannya pada lembar kerja, berikut catatan rekomendasi
penggantian bulb dan atau cuff.
2. Pengukuran Tekanan.
a. Sebelum melakukan pengukuran lepas sambungan antara UUT dan standart,
pastikan nilai penunjukannya pada Sphygmomanometer di 0 mmHg.
b. Lakukan zeroing pada standart, kemudian sambung kembali UUT dengan standart.
b. Untuk cuff dewasa lakukan pengukuran pada titik (0, 60, 80, 100, 120, 140, 160
180, 200) mmHg dan cuff anak pada titik (0, 60, 80, 100, 120, 140) mmHg.
c. Pengukuran dilakukan sebanyak 3 (tiga) kali untuk setiap titik pada kondisi naik
dan turun.
d. Catat nilai yang terukur pada lembar kerja kalibrasi.
e. Setelah selesai, rapikan UUT, standart dan alat bantu.

G. Ambang batas.

No. Parameter Ambang batas yang diijinkan Acuan


1. Kebocoran tekanan 15 mmHg/60 detik ECRI 424-20010301
2. Akurasi tekanan 3 mmHg OIML R 16-1

H. Telaah Teknis
1. Nilai kebocoran tekanan
Dihitung berdasarkan nilai kebocoran maksimal dari 3 (tiga) data yang diambil.
Jika nilai maksimal dari 3 (tiga) data tersebut tidak melebihi ambang batas (15
mmHg/60detik), maka telaah teknis untuk parameter kebocoran tekanan dinyatakan
Laik.
Jika nilai maksimal dari 3 (tiga) data tersebut melebihi ambang batas (15 mmHg/60
detik), maka telaah teknis untuk parameter kebocoran tekanan dinyatakan Tidak Laik.

2. Akurasi Tekanan
Penentuan kriteria Laik/Tidak Laik akurasi tekanan di tiap titik Sphygmomanometer
berdasarkan nilai penjumlahan dari nilai koreksi ditambah nilai ketidakpastiannya.
Jika hasil penjumlahan nilai koreksi berikut nilai ketidakpastian di suatu titik pengukuran
kurang dari 3 mmHg, maka titik pengukuran tersebut dinyatakan Laik.
Jika hasil penjumlahan nilai koreksi berikut nilai ketidakpastian di suatu titik
pengukuran melebihi 3 mmHg, maka titik pengukuran tersebut dinyatakan Tidak Laik.