Anda di halaman 1dari 11

LAPORAN PENDAHULUAN

ASUHAN KEPERAWATAN KLIEN


DENGAN ARTERIOVENTRICULAR BLOCK
DI ICCU RSUP DR. SARDJITO YOGYAKARTA

Tugas Mandiri
Stase Praktek Keperawatan Gawat Darurat
Program Studi Ilmu Keperawatan

Disusun oleh:
MAWADAH SETYA RAHMAWATI
16/408400/KU/19446

PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN


FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS GADJAH MADA
YOGYAKARTA
2017
ARTERIOVENTRICULAR BLOCK

A. Definisi
Arterioventricular (AV) block adalah gangguan pada nodus AV dan/atau sistem
konduksi yang menyebabkan kegagalan transmisi gelombang P ke ventrikel.
Atrioventricular blok terjadi ketika depolarisasi atrium gagal mencapai ventrikel atau
ketika terjadi keterlambatan depolarisasi atrium.

B. Klasifikasi
Ada 3 derajat dari AV blok yang diketahui, yaitu:
1. Derajat 1 AV Blok

Pada AV block derajat pertama ini, konduksi AV diperpanjang tetapi semua impuls
akhirnya dikonduksi ke ventrikel. Gelombang P ada dan mendahului tiap-tiap QRS
dengan perbandingan 1:1, interval PR konstan tetapi durasi melebihi di atas batas 0,2
detik. Terjadi pemanjangan interval PR pada EKG (> 200/ lebih dari 5 kotak kecil msec
pada dewasa dan > 160 pada anak-anak). Pada AV blok derajat 1 semua impuls atrium
mencapai ventrikel. Namun, kunduksinya mengalami keterlambatan sampai ke AV
node. Interval PR konstan.

2. Derajat 2 AV Blok
a. AV block derajat 2 Mobitz I (Wenckenbach blok)
Tipe yang kedua, blok AV derajat dua, konduksi AV diperlambat secara progresif
pada masing-masing sinus sampai akhirnya impuls ke ventrikel diblok secara
komplit. Siklus kemudian berulang dengan sendirinya. Pada gambaran EKG,
gelombang P ada dan berhubungan dengan QRS di dalam sebuah pola siklus.
Interval PR secara progresif memanjang pada tiap-tiap denyut sampai kompleks
QRS tidak dikonduksi. Kompleks QRS mempunyai bentuk yang sama seperti irama
dasar. Interval antara kompleks QRS berturut-turut memendek sampai terjadi
penurunan denyut. Terdiri dari pemanjangan interval PR yang progresif dengan
diikuti single P nonkonduksi. Episode Mobitz I blok biasanya terdiri dari 3-5 irama,
dengan rasio non konduksi dengan irama konduksi 4:3, 3:2, dan begitu seterusnya.

b. AV block derajat 2 Mobitz II

AV block tipe II digambarkan sebagai blok intermiten pada konduksi AV sebelum


perpanjangan interval PR. Ini ditandai oleh interval PR fixed jika konduksi AV ada
dan gelombang P tidak dikondusikan saat blok terjadi. Blok ini dapat terjadi kadang-
kadang atau berulang dengan pola konduksi 2:1 (2 konduksi dan 1 blok), 3:1 (3
konduksi dan 1 blok), atau bahkan 4:1 (2 konduksi dan 1 blok), karena tidak ada
gangguan pada nodus sinus, interval PP teratur. Sering kali ada bundle branch block
(BBB) atau blok cabang berkas yang menyertai sehingga QRS akan melebar.

3. Derajat 3 AV Blok

Pada blok jantung komplit, nodus sinus terus memberi cetusan secara normal,
tetapi tidak ada impuls yang mencapai ventrikel. Ventrikel dirangsang dari sel-sel
pacu jantung yang keluar dan dipertemu (frekuensi 40-60 denyut/menit) atau pada
ventrikel (frekuensi 20-40 denyut/menit) tergantung pada tingkat AV blok. Pada
gambaran EKG gelombang P dan kompleks QRS ada tetapi tidak ada hubungan
antara keduanya. Interval PP dan RR akan teratur tetapi interval RR bervariasi. Jika
pacu jantung pertemuan memacu ventrikel, QRS akan mengecil. Pacu jantung
idioventrikular akan mengakibatkan kompleks QRS yang lebar. Tidak ada hubungan
yang terlihat antara irama gelombang P dan irama komplek QRS di AV blok derajat
tiga. Frekuensi dari gelombang P (atrial rate) adalah lebih tinggi daripada frekuensi
komplek QRS (ventrikular rate).

C. Etiologi
1. Derajat 1 AV Blok
Terjadi pada semua usia dan pada jantung normal atau penyakit jantung. PR yang
memanjang lebih dari 0,2 detik dapat disebabkan oleh obat-obatan seperti digitalis,
blocker, penghambatan saluran kalsium, serta penyakit arteri koroner, berbagai
penyakit infeksi, dan lesi congenital.
2. Derajat 2 AV Blok
a. Derajat 2 AV blok Mobitz I (Wenckebach)
Tipe ini biasanya dihubungkan dengan blok di atas berkas His. Demikian juga
beberapa obat atau proses penyakit yang mempengaruhi nodus AV seperti
digitalis atau infark dinding inferior dari miocard dapat menghasilkan AV blok
tipe ini.
b. Derajat 2 AV blok Mobitz II
Adanya pola Mobitz II menyatakan blok di bawah berkas His. Ini terlihat pada
infark dinding anterior miokard dan berbagai penyakit jaringan konduksi.
3. Derajat 3 AV blok (komplit)
Penyebab dari tipe ini sama dengan penyebab pada AV blok pada derajat yang lebih
kecil. Blok jantung lengkap atau derajat tiga bisa terlihat setelah IMA. Dalam irama
utama ini, tidak ada koordinasi antara kontraksi atrium dan ventrikel. Karena
kecepatan ventrikel sendiri sekitar 20 sampai 40 kali permenit, maka sering
penderita menyajikan tanda-tanda curah jantung yang buruk seperti hipotensi dan
perfusi serebrum yang buruk.

D. Patofisiologi
Blok jantung adalah perlambatan atau pemutusan hantaran impuls antara atrium
dan venrikel. Impuls jantung biasanya menyebar mulai dari nodus sinus, mengikuti
jalur internodal menuju nodus AV dan ventrikel dalam 0,20 detik (interval PR normal);
depolarisasi ventrikel terjadi dalam waktu 0,10 detik (lama QRS komplek). Terdapat
tiga bentuk blok jantung yang berturut-turut makin progresif. Pada blok jantung
derajatderajat satu semua impuls dihantarkan melalui sambungan AV, tetapi waktu
hantaran memanjang. Pada blok jantung derajat dua, sebagian impuls dihantarkan ke
ventrikel tetapi beberapa impuls lainnya dihambat. Terdapat dua jenis blok jantung
derajat dua, yaitu Wenckebach (mobitz I) ditandai dengan siklus berulang waktu
penghantaran AV ang memanjang progresif, yang mencapai puncaknya bila denyut
tidak dihantarkan. Jenis kedua (mobitz II) merupakan panghantaran sebagian impuls
dengan waktu hantaran AV yang tetap dan impuls yanglain tidak dihantarkan.
Pada blok jantung derajat tiga, tidak ada impuls yang dihantarkan ke ventrikel,
terjadi henti jantung, kecuali bila escape pacemaker dari ventrikel ataupun sambungan
atrioventrikuler mulai berfungsi. Blok berkas cabang adalah terputusnya hantaran
berkas cabang yang memperpanjang waktu depolarisasi hingga lebih dari 0,10 detik.
E. Tanda dan Gejala
AV blok sering menyebabkan bradikardia, meskipun lebih jarang dibandingkan
dengan kelainan fungsi nodus SA. Seperti gejala bradikardia yaitu pusing, lemas,
sinkop, dan dapat menyebabkan kematian mendadak
1. Derajat 1 AV blok
a. Sulit dideteksi secara klinis
b. Bunyi jantung pertama bisa lemah
c. Gambaran EKG: PR yang memanjang lebih dari 0,2 detik
2. Derajat 2 AV blok
a. Denyut jantung < 40x/menit
b. Pada Mobitz I tampak adanya pemanjangan interval PR hingga kompleks QRS
menghilang.
c. Blok Mobitz tipe II merupakan aritmia yang lebih serius karena lebih sering
menyebabkan kompleks QRS menghilang. Penderita blok Mobitz tipe II sering
menderita gejala penurunan curah jantung dan akan memerlukan atropine dalam
dosis yang telah disebutkan sebelumnya.
3. Derajat 3 AV blok (komplit)
Atrium yang berdenyut terpisah dari ventrikel, kadang-kadang kontraksi saat katup
tricuspid sedang menutup. Darah tidak bisa keluar dari atrium dan malah terdorong
kembali ke vena leher, sehingga denyut tekanan vena jugularis (JVP) nampak jelas
seperti gelombang meriam (cannon). Tampak tanda-tanda curah jantung yang
buruk seperti hipotensi dan perfusi serebrum yang buruk.

F. Pemeriksaan Penunjang
1. EKG
Pada EKG akan ditemukan adanya AV blok sesuai dengan derajatnya.
2. Foto thorax
Dapat ditunjukkan adanya pembesaran bayangan jantung sehubungan dengan
disfungsi ventrikel dan katup.
3. Elektrolit
Peningkatan atau penurunan kalium, kalsium, dan magnesium dapat menyebabkan
disritmia.

G. Penatalaksanaan
1. Derajat 1 AV blok
a. Tidak ada tindakan yang diindikasikan.
b. Interval PR harus dimonitor ketat terhadap kemungkinan blok lebih lanjut,
c. Kemungkinan dari efek obat juga harus diketahui
2. Derajat 2 AV blok Mobitz I
a. Tidak ada tindakan yang diindikasikan. Kecuali menghentikan obat jika ini
merupakan agen pengganggu.
b. Monitor klien terhadap berlanjutnya blok.
c. Tipe ini biasanya tidak diterapi kecuali sering kompleks QRS menghilang
dengan akibat gejala klinis hipotensi dan penurunan perfusi serebrum. Bila ada
gejala ini maka pada penderita bisa diberikan 0,5 sampai 1,0 mg atropine IV
sampai total 2,0 mg.
3. Derajat 2 AV blok Mobitz II
a. Observasi ketat terhadap perkembangan menjadi blok jantung derajat III.
b. Obat seperti atropine atau isopreterenol, atau pacu jantung mungkin diperlukan
bila pasien menunjukkan gejala-gejala atau jika blok terjadi dalam situasi IMA
akut pada dinding anterior.
4. Derajat 3 AV blok (komplit)
Atropin (0,5 sampai 1 mg) bisa diberikan dengan dorongan IV. Bila tidak ada
kenaikan denyut nadi dalam respon terhadap atropine maka bisa dimulai tetesan
isoproterenol 1 mg dalam 500 ml D5W dengan tetesan keciluntuk meningkatkan
kecepatan denyut ventrikel. Penderita yang menunjukkan blok jantung derajat tiga
memerlukan pemasangan alat pacu jantung untuk menjamin curah jantung yang
mencukupi.
5. Implantasi pacu jantung (pace maker)
Merupakan terapi terpilih untuk bradiatritmia simtomatik. Pacu jantung permanen
adalah suatu alat elektronik kecil yang menghasilkan impuls regular untuk
mendepolarisasi jantung melalui electrode yang dimasukkan ke sisi kanan jantung
melalui system vena. Suatu pacu jantung satu bilik memiliki electrode pada
ventrikel kanan atau atrium kanan. Pacu jantung dua bilik memberikan impuls ke
atrium dan ventrikel melalui dua electrode dan bisa menghasilkan impuls yang
sinkron pada ventrikel setelah tiap gelombang P yang terjadi di atrium. Sehingga
timbul impuls yang mendekati depolarisasi fisiologis pada jantung, dan
memungkinkan jantung berdenyut sesuai dengan nodus sinus.

H. Diagnosa yang Mungkin Muncul


1. Penurunan curah jantung b.d disfungsi konduksi listrik
2. Intoleransi aktivitas b.d ketidakseimbangan suplai dan kebutuhan oksigen
3. Defisit pengetahuan: proses penyakit dan prosedur terapi b.d kurangnya paparan
informasi

I. Perencanaan Keperawatan
Diagnosa NOC NIC
Keperawatan
Penurunan curah Keefektifan pompa jantung Perawatan jantung akut
jantung b.d disfungsi Kriteria hasil yang - Evaluasi nyeri dada
konduksi listrik disarankan: (seperti:intensitas, lokasi,
Menunjukkan curah jantung penyebaran, durasi, faktor
yang memuaskan,dibuktikan presipitasi, dan faktor yang
dengan keefektifan pompa meringankan)
jantung, status sirkulasi, - Pantau ritme dan denyut jantung
perfusi jaringan(organ - Auskultasi bunyi jantung
- Pantau status neurologis
abdomen) dan perfusi
- Pantau masukan/keluaran ,
jaringan (perifer).
keluaran urin dan berat badan
setiap hari
Status sirkulasi - Pilih lead EKG terbaik untuk
Menunjukkan status pemantauan lebih lanjut
sirkulasi dibuktikan dengan - Dapatkan 12-lead EKG
indikator kegawatan - Pantau fungsi ginjal
sebagai berikut: - Pantau fungsi hati
- Denyut jantung dalam - Pantau tekanan darah dan
batasnormal parameter hemodinamik
- Tekanan vena central - Pantau faktor yang menentukan
dan tekanan dalam dalam pemberian oksigen
paru dalam batas - Pertahankan lingkungan yang
normal kondusif untuk istirahat dan
- Hipotensi ortostatis penyembuhan
tidak ada - Hindari mengambil suhu rektal
- Distensi vena leher - Mencegah pembentukan
tidak ada trombus perifer
- Edema perifer tidak - Memberikan medikasi untuk
ada mengurangi/mencegah nyeri
- Asites tidak ada
- Denyut perifer kuat
dan simetris
- Status kognitif dalam
status normal
Intoleransi aktivitas Daya Tahan Terapi aktivitas
b.d Indikator : - Kolaborasi dengan terapis
ketidakseimbangan - Kinerja rutin yang kegiatan, fisik, dan / atau
suplai dan biasa rekreasi dalam perencanaan dan
kebutuhan oksigen - Aktivitas monitoring program aktivitas,
- Penampilan istirahat yang sesuai.
- Konsentrasi - Membantu untuk memilih
Kekuatan otot aktivitas sesuai dengan fisik,
- Kadar oksigen darah
capabiliti psikologi, dan sosial.
- Membantu untuk mendapatkan
transportasi aktivitas, yang
sesuai.
- Membantu pasien untuk
menjadwalkan periode waktu
tertentu untuk aktivitas
pengalihan ke rutinitas sehari-
hari.
- Membantu pasien/ keluarga
untuk mengidentifikasi defisit
pada tingkat aktivitas.
- Anjurkan pasien/ keluarga
tentang peran aktivitas fisik,
sosial, spiritual, dan kognitif
dalam fungsi menjaga kesehatan.
- Memberikan aktivitas untuk
meningkatkan rentang perhatian
dalam konsultasi dengan PL
- Membantu dengan aktivitas fisik
secara teratur (misalnya,
ambulasi, tranfers, berputar, dan
perawatan pribadi), yang
diperlukan.
- Membantu pasien untuk
memantau kemajuan menuju
pencapaian tujuan sendiri

Defisit pengetahuan: Pengetahuan: proses Pembelajaran: proses penyakit


proses penyakit dan penyakit dan prosedur terapi - Kaji tingkat pengetahuan klien
prosedur terapi b.d Indikator tentang penyakit
kurangnya paparan - Familiar terhadap nama - Jelaskan patofisiologi penyakit
informasi penyakit dan bagaimana kaitannya
- Mampu dengan anatomi dan fisiologi
mendiskripsikan proses tubuh
penyakit - Identifikasi kemungkinan
- Mampu penyebab dan tanda dan gejala
mendiskripsikan umum penyakit
penyeban, tanda dan - Berikan informasi tentang
gejala, komplikasi dari kondisi klien dan hasil
penyakit pemeriksaan diagnostik
- Instruksikan klien untuk
melaporkan tanda dan gejala
kepada petugas

Pembelajaran: prosedur/perawatan
- Informasikan klien waktu dan
lama waktu pelaksanaan
prosedur/perawatan
- Kaji tingkat pengetahuan klien
tentang prosedur yang akan
dilakukan
- Jelaskan tujuan
prosedur/perawatan dan hal-
hal yang perlu dilakukan
setelah prosedur/perawatan
- Instruksikan klien
menggunakan tehnik koping
untuk mengontrol beberapa
aspek selama
prosedur/perawatan (relaksasi
da imagery)
DAFTAR PUSTAKA

ACC/AHA/HRS. 2008. Guidelines for Device Based Therapy of Cardiac Rhythm


Abnormalities. Circulation; 117: 2820-2840.

Boyle A. J., Jaffe A. S. 2009. Acute Myocardial Infarction In: Crawford MH ed. Current
Diagnosis & Treatment Cardiology 3rd Ed. New York: McGraw-Hill.

Bulecheck, G. M., Butcher, H. K., Dochterman, J. M., Wagner, C. M. 2013. Nursing


Interventions Classification (NIC) 6th Edition. USA: Elsevier Mosby.

Herdman, T. H., Kamitsuru, S. 2015. NANDA International Nursing Diagnoses: Definition


& Classification 2015-2017. Oxford: Wiley Blakwell.

Moorhead, S., Johnson, M., Maas, M. L., Swanson, E. 2013. Nursing Outcomes
Classification (NOC) 5th Edition. SA: Elsevier Mosby.

Verdy. 2012. Inferior Myocardial Infarction dengan Complete Heart Block. CDK, 189: vol
39 no 1. http://www.emedicine.medscape.com/article/155919.htm