Anda di halaman 1dari 6

1.1.

Sejarah perkerasan jalan

Sejarah perkerasan jalan dimulai bersamaan dengan sejarah umat manusia itu
sendiri yang selalu berhasrat untuk mencari kebutuhan hidup dan berkomunikasi dengan
sesama. Pada awalnya jalan hanyalah berupa jejak manusia yang mencari kebutuhan
hidup atau sumber air. Setelah manusia mulai hidup berkelompok jejak jejak itu
berubah menjadi jalan setapak. Dengan mulai dipergunakannya hewan sebagai alat
transportasi, jalan mulai dibuat rata. Jalan yang diperkeras pertama kali ditemukan di
Mesopotamia berkaitan dengan ditemukannya roda sekitar Masehi.

Konstruksi perkerasan jalan berkembang pesat pada zaman keemasan Romawi.


Pada saat itu telah mulai dibangun jalan jalan yang terdiri dari beberapa lapis
perkerasan. Perkembangan konstruksi jalan seakan terhenti dengan mundurnya
kekuasaan Romawi sampai awal abad ke-18. Pada saat itu beberapa ahli dari Perancis
dan Skotlandia menemukan system system konstruksi perkerasan jalan yang sebagian
sampai saatini masih umum digunakan di berbagai negara di dunia.

John Louden Mac Adam (1756-1836), orang Skotlandia memperkenalkan


konstruksi perkerasan yang terdiri dari batu pecahatau batu kali, pori pori diatasnya
ditutup dengan batu yang lebih kecil/halus. Perkerasan ini dikenal dengan Lapis
Makadam. Untuk memberika lapisan yang kedap air, maka di atas lapisan makadam
diberi lapisan aus yang menggunakan aspal sebagai bahan pengikat dan ditaburi pasir
kasar.

Pierre Marie Jerome Tresaguet (1716-1796) dari Perancis mengembangkan sistem


lapisan batu pecah yang dilengkapi dengan drainase, kemiringan melintang serta mulai
menggunakan pondasi dari batu.

Thomas Telford (1757-1834) dari Skotlandia membangun jalan mirip dengan apa
yang dilaksanakan Tresaguet. Konstruksi perkerasannya terdiri dari batu pecah
berukuran 15 / 20 sampai 25 / 30 yang disusun tegak. Batu batu kecil diletakkan di
atasnya untuk menutup pori pori yang ada dan memberikan permukaan yang rata.
Sistem ini terkenal dengan nama Sistem Telford. Jalan jalan di Indonesia yang dibuat
pada jaman dahulu sebagian besar merupakan system jalan Telford, walaupun di atasnya
telah diberikan lapisan aus dengan pengikat aspal.

Perkerasan jalan dengan menggunakan aspal sebagai bahan pengikat telah


ditemukan pertama kali di Babylon pada 625 tahun sebelum Masehi, tetapi perkerasan
jenis ini tidak berkembang sampai ditemukannya kendaraan bermotor bensin oleh
Gottlieb Daimler dan Karl Benz pada tahun 1880. Mulai tahun 1920 sampai sekarang
teknologi konstruksi perkerasan dengan menggunakan aspal sebagai bahan pengikat
maju pesat.

Konstruksi perkerasan menggunakan semen sebagai bahan pengikat telah


ditemukan pada tahun 1828 di London, tetapi sama halnya dengan perkerasan
menggunakan aspal, perkerasan ini mulai berkembang pesat sejak awal tahun 1900 an.

Catatan tentang jalan di Indonesia tak dapat banyak ditemukan. Pembangunan jalan
yang tercatat dalam sejarah bangsa Indonesia adalah pembangunan jalan pos pada jaman
pemerintahan Daendels, yang dibangundari Anyer di Banten sampai Banyuwangi di
Jawa Timur, membentang sepanjang pulau Jawa. Pembangunan tersebut dilakukan
dengan kerja paksa padaakhir abad ke-18. Tujuan pembangunan pada saat itu terutama
untuk kepentingan strategi. Pada masa tanam paksa untuk memudahkan pengangkutan
hasil tanaman, dibangunjuga jalan jalan yang merupakan cabang dari jalan pos
terdahulu. Di luar pulau Jawa pembangunan jalan hampir tidak berarti, kecuali di sekitar
daerah tanaman paksa di Sumatra Tengah dan Utara.

Awal tahun 1970 Indonesia mulai membangun jalan jalan dengan klasifikasi yang
lebih baik, hal ini ditandai dengan diresmikannya jalan tol pertama pada tanggal 9 Maret
1978 sepanjang 53 km, yang menghubungkan kota Jakrta Bogor Ciawi dan terkenal
dengan nama Jalan Tol Jagorawi.
1.2. JENIS KONSTRUKSI PERKERASAN

Berdasarkan bahan pengikatnya konstruksi perkerasan jalan dapat dibedakan atas :

a. Konstruksi perkerasan lentur (flexible pavement), yaitu perkerasan yang


menggunakan aspal sebagai bahan pengikat. Lapisan lapisan perkerasannya
bersifat memikul dan menyebarkan beban lalu lintas ke tanah dasar.
b. Konstruksi perkerasan kaku (rigid pavement), yaitu perkerasan yang menggunakan
semen (portland cement) sebagai bahan pengikat. Pelat beton dengan atau tanpa
tulangan diletakkan di atas tanah dasar dengan atau tanpa ;apis pondasi bawah.
Beban lalu lintas sebagian besar dipikul oleh pelat beton.
c. Konstruksi perkerasan komposit (komposit pavement), yaitu perkerasan kaku yang
dikobinasikan dengan perkerasan lentur dapat berupa perkerasan lentur diatas
perkerasan kaku, atau perkerasan kaku di atas perkerasan lentur.

Perbedaan utama antara perkerasan kaku dan perkerasan lentur diberikan pada table 1.1
di bawah ini.

Perkerasan lentur Perkerasan kaku


1 Bahan pengikat Aspal Semen
2 Repetisi beban Timbul rutting (lendutan Timbuk retak retak pada
pada jalur roda) permukaan
3 Penurunan tanah dasar Jalan bergelombang Bersifat sebagai balok di
(mengikuti tanah dasar) atas perletakan
4 Perubahan temperatur Modulus kekakuan Modulus kekakuan tidak
berubah. Timbul tegangan berubah. Timbul tegangan
dalam yang kecil dalam yang besar

Tabel 1.1 Perbedaan antara perkerasan lentur dan perkerasan kaku


1.3. KRITERIA KONSTRUKSI PERKERASAN LENTUR

Guna dapat memberikan rasa aman dan nyaman kepada pengguna jalan,
makakonstruksi perkerasan jalan haruslah memenuhi syarat syarat tertentu yan data
dikelompokkan menjadi 2 yaitu :

1) Syarat Syarat Berlalu Lintas


Konstruksi perkerasan lentur dipandang dari keamanan dan kenyamanan berlalu
lintas haruslah memenuhi syarat syarat sebagai berikut:
a. Permukaan yang rata, tidak bergelombang, tidak melendut dantida berlubang.
b. Permukaan cukup kak, sehingga tidak mudah berubah bentuk akibat beban yang
bekerja di atasnya.
c. Permukaan cukup kesat, memberikan gesekan yang baik antara ban dan
permukaan jalan sehingga tak mudah selip.
d. Permukaan tidak mengkilap, tidak silau jika terkena sinar matahari.

2) Syarat Syarat Kekuatan / Struktural


Konstruksi perkerasan jalan dipandang dari segi kemampuan memikul dan
menyebarkan beban, haruslah memenui syarat syarat:
a. Ketebalan yang cukup sehingga mampu menyebarkan beban/muatan lalu lintas
ke tanah dasar.
b. Kedap terhadap air, sehingga air tidak mudah meresap ke lapisan bawahnya.
c. Permukaan mudah mengalirkan air, sehingga air hujan yang jatuh di atasnya
dapat cepat dialirkan.
d. Kekakuan untuk memikul beban yang bekerja tanpa menimbulkan deformasi
yang berarti.
Untuk dapat memenuhi hal hal tersebut, perencanaan dan pelaksanaan konstruksi
perkerasan lentur jalan harusla mencakup:
1. Perencanaan tebal masing masing lapisan perkerasan
Dengan memperhatikan daya dukung tanah dasar, beban lalu lintas yang akan
dipikulnya, keadaan lingkungan, jenis lapisan yang dipilih, dapatlah ditentukan
tebal masing masing lapisan berdasarkan beberapa metoda yang ada.
2. Analisa campuran bahan
Dengan memperhatikan mutu dan jumlah bahan setempat yang tersedia,
direncanakanlah suatu susunan campuran tertentu sehingga spesifikasi dari jenis
lapisan yang dipilih terpenuhi.
3. Pengawasan pelaksanaan pekerjaan
Perencanaan tebal perkerasan yang baik, susunan campuran yang memenuhi
syarat, belumlah dapat menjamin dihasilkannya lapisan perkerasan yang
memenuhi apa yang diinginkan jika tidak dilakukan pengawasan pelaksanaan
yang cermat mulai dari tahap pencampuran atau penghamparan dan akhirnya
pada tahap pemadatan dan pemeliharaan.

Disamping itu tak dapat dilupakan system pemeliharaan yang terencana dan tepat
selama umur pelayanan, termasuk di dalamnya system drainase jalan tersebut.
Persyaratan Beban Muatan Perkerasan Lentur

Kita perlu mengetahui bagaimana beban lalu lintas diteruskan dan didistribusikan ke
berbagai lapisan struktur perkerasan jalan tersebut.

1. Distribusi Beban

Pengujian di Transport Research Laboratory telah membuktikan bahwa distribusi beban


terjadi, tetapi pengujian menunjukkan bahwa sudut distribusinya tidak konstan seperti
ditunjukkan