Anda di halaman 1dari 5

PATOGENESIS ABLASIO RETINA

Pada ablasio retina terjadi pemisahan retina sensorik yaitu lapisan fotoreseptor dengan
lapisan epitel pigmen retina dibawahnya. Terdapat tiga jenis utama ablasio retina yang masing-
masing mempunyai patogenesis yang berbeda yaitu : (8,11,12,14,17,22,25)
Ablasio Retina Regmatogenosa
Bentuk tersering dari ketiga jenis ablasio retina dengan karakteristik pemutusan total
(full-thickness) berbentuk tapal kuda lubang atropi bundar atau robekan sirkumferensial anterior
(dialisis retina). Berasal dari bahasa Yunani regma yang berarti robek. Robekan retina pada
ablasio retina jenis ini disebabkan pengaruh antara traksi antara vitreo retina dan retina perifer
yang dipredisposisi oleh faktor degenerasi.
Predisposisi degenerasi retina perifer :
1. Lattice degeneration
Ditemukan pada 40% penderita ablasio retina dengan myopia tinggi usia muda , sinroma
marfan, stickies synd, Ehlers-Danlos synd yang semuanya merupakan faktor resiko
terjadinya ablasio retina
2. Snail track degeneration
3. Degenerasi retinoskisis
4. White-without pressure
Dinamika traksi vitreoretina yang terjadi berupa sinkisis liquefaction dari vitreus gel. Beberapa
mata dengan sinkisis berkembang menjadi lubang pada bagian tipis kortek posterior yang
menutupi fovea. Cairan sinkisis berasal tengah vitreous yang lewat melalui defek menuju ruang
retrohyaloid yang baru terbentuk. Proses ini menyebabkan tertariknya vitreus posterior dan
membrana limitan interna retina sejauh batas posterior vitreous base. Sisa vitreus gel mengendap
ke bawah dan ruangan retrohyaloid akan diisi sepenuhnya oleh cairan sinkitik.

Ablasio Retina Traksi


Ablasio retina akibat traksi adalah jenis tersering kedua yang terutama disebabkan oleh beberapa
kelainan seperti
Retinopati diabetik proliferatif
Retinopati prematuriti
Trauma tembus segmen posterior
Kelainan diatas menyebabkan adanya gaya-gaya traksi yang secara aktif menarik retina sensorik
menjauhi epitel pigmen dibawhnya disebabkan oleh adanya membran vitreosa, epiretina atau
subretina yang terdiri dari fibroblas sel glia atau sel epitel pigmen retina. Traksi ini menyebabkan
terlepasnya lapisan sensorik retina dengan RPE. Pada awalnya pelepasan mungkin terbatas di
sepanjang arkade-arkade vaskular, tetapi dapat terjadi perkembangan sehingga kelainan
melibatkan retina mid perifer dan macula

Ablasio retinopati eksudatif


Ablasio retina eksudatif paling jarang terjadi dibandingkan Ablasio Retina Traksi dan
regmatogenosa. Penyebabnya adalah gangguan pada pigmen epitel retina sehingga cairan dari
koroid masuk ke dalam ruang sub retina. Ablasio jenis ini dapat terjadi walaupun tidak ada
pemutusan retina atau traksi vitreo retina. Hal ini disebabkan berbagai keadaan seperti tumor
koroid (melanoma, haemangioma) dan metastasenya, inflamasi intraokuler seperti penyakit
Harada dan Skleritis posterior, iatrogenik termasuk operasi pada ablasio retina sebelumnya,
fotokoagulasi pan retinal. Neovaskuler subretinal yang berhubungan dengan retinal telangiektasi
dan neovaskuler koroid bisa juga menyebabkan kelainan pada RPE.

GEJALA KLINIS.
Keluhan yang klasik dan sering dilaporkan adalah photopsia dan floaters sebesar 60 %
setelah beberapa saat penderita mengeluh kehilangan lapang pandangan perifer kemudian
berlanjut menjadi kehilangan penglihatan sentral.(9,13,21,22,23,24)
1. Photopsia.
Adalah: sensasi subjektif yang dikeluhkan penderita sebagai kilatan cahaya, hal ini
disebabkan oleh tarikan pada vitreo retina di daerah perifer.
2. Floaters.
Adalah : Gerakan kekeruhan vitreous yang memberikan bayangan pada retina, ada tiga
bentuk floaters yang sering dijumpai yakni :
a. Lingkaran besar ( Weiss ring )
b. Cobwebs
c. Bintik-bintik kecil.
3. Defek Lapang Pandangan.
Hilangnya lapangan pandang disebabkan oleh: menyebarnya cairan sub retina ke daerah
ekuator, defek ini kadang menghilang pada saat bangun pagi dan timbul lagi sesudah
bekerja atau jalan pada siang hari
4. Penurunan visus
Pada pasien ablasio yang belum mengenai makula visus pasien bisa normal. Akan tetapi
lama kelamaan akan mengalami penurunan sampai akhirnya visus menurun total (O)
pada ablasio retina total.
5. Metamorfopsia.
Adalah terjadinnya distorsi bergelombang dari objek yang dilihat pasien, yang terjadi
apabila Ablasio Retina sudah mengenai makula.

Diagnosis
Diagnosis ablasio retina bisa ditegakkan dengan anamnesis yang baik mengenai keluhan
pasien, perjalanan penyakit, faktor-faktor pencetus penyakit diikuti pemeriksaan mata mulai dari
visus , lapangan pandangan, pemerilsaan warna, pemeriksaan segmen depan mata, segmen
belakang mata dengan oftalmoskop dan pemeriksaan penunjang lainnya seperti laboratorium,
radiologis, imaging dll.
Anamnesis
Sebagian besar pasien datang dengan keluhan melihat bayangan berupa photopsi, floater
pada awal penyakit, diikuti dengan penyempitan lapangan pandangan perifer kemudian bila
proses berlanjut pasien akan kehilangan lapangan penglihatan sentral. Pada pasien ablasio retina
regmatogenosa perlu pula ditanyakan adanya riwayat operasi mata seperti ektraksi katarak,
afakia, myopia, trauma tumpul dll. Kelainan sistemik pada pasien berupa hipertensi berat,
eklampsia, atau gagal ginjal sering terjadi pada pasien dengan ablasio retina eksudatifa. Diabetes
mellitus, retinopati prematuritas dan trauma tembus perlu juga dicari pada ablasio retina
traksional.(13,25)
Pemeriksaan visus atau tajam penglihatan
Pada pasien ablasio retina tanpa kelainan makula penglihatan sentral pasien tidak
terganggu sehingga visus pasien bisa normal.(13,25)
Pemeriksaan lapangan pandang
Kelainan pada lapangan pandangan bisa terjadi pada ablasio yang telah lanjut.
Pemeriksaan ini bisa juga mendeteksi lokasi dari ablasio retina. Apabila ablasio retina terjadi
pada posterior ekuator bisanya keluhan penyempitan pada lapangan pandangan belum
ditemukan sampai terjadi defek pada kutup posterior dan makula. Ablasio retina yang terjadi
pada bagian anterior retina tidak bisa ditentukan dengan pemeriksaan lapangan pandangan.
Pasien dengan defek lapangan pandangan pada bagian superior menandakan ablasio pada bagian
inferior retina, akan tetapi pemeriksaan ini lebih bermakna menentukan diagnosis dan lokasi
ablasio pada kelainan yang sudah lanjut.(13,22,23,24)
Pemeriksaan segmen depan mata
Pemeriksaan ini dimulai dengan inspeksi mata pasien apakah ada tanda-tanda trauma
pada segmen depan mata yang bisa dijadikan petunjuk adanya kemungkinan kelainan yang
berhubungan dengan trauma yamg mencetuskan ablasio retina. Pemeriksaan selanjutnya dapat
digunakan slit lamp. Segmen depan mata biasanya normal biasanya normal. Pemeriksaan
tekanan intra okuler menurun pada ablasio retina regmatogenosa, normal pada ablasio retina
traksional dan bervariasi pada ablasio retina eksudativa.(13,22,24)
Pemeriksaan pada segmen posterior mata
Kelainan pada segmen posterior berupa kelainan vitreus dan retina dapat dilakukan
dengan menggunakan oftalmoskop direk atau oftalmoskop indirek, Three mirror dll.
Kelainan yang bisa ditemukan pada vitreous berupa : (13,22,24)
Tobacco dust atau shafer sign yaitu sel berpigmen pada vitreus. Tanda ini patognomonis
terjadi pada sebagian besar kasus robekan retina tanpa adanya riwayat operasi.
Membrane pada vitreus terutama pada proliferatif vitreoretinopathy
Darah didalam vitreous terutama di dalam ruangan retrohyaloid.
Kelainan yang ditemukan pada retina berupa :
Robekan retina bisa berbentuk tapal kuda bila terdapat pada segmen superior temporal,
dan superior nasal. Lobang pada retina (hole) sering ditemukan pada kelainan pada
segmen superior temporal dan segmen inferior nasal
Konfigurasi retina biasanya berbentuk konveks (mencembung), retina yang lepas
berwarna keabu-abuan, pucat, keruh, serta kehilangan bayangan konfigurasi pembuluh
darah koroid. Pembuluh darah retina sendiri berwarna lebih gelap dibanding retina yang
normal sehingga perbedaan arteri dan vena tidak terlalu kontras, permukaan retina kasar
seperti kulit jeruk (an orange-peel appearance).
Perpindahan cairan sub retinal terutama dengan perubahan posisi kepala
Mobilitas retina biasanya bergerak bebas,undulasi (+) kecuali bila sudah terjadi PVR
Macular pseudohole berupa keadaan yang terjadi akibat tipisnya retina pada fovea
dimana polus posterior retina terlepas.
Gejala klinis ablasio yang sudah lama (22)
Retina menjadi tipis
Terbentuk garis demarkasi sub retinal
Terjadi PVR