Anda di halaman 1dari 15

ASUHAN KEPERAWATAN (ASKEP)

BRONKOPNEUMONIA

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Bronkopneumonia adalah peradangan akut pada paru-paru yang mengenai satu atau beberapa
lobus. Bronkopneumonia merupakan penyumbang kematian balita di dunia sekitar 1,6-2,2
juta balita dengan proporsi 19%. Masalah yang sering muncul pada klien dengan
Boncopnemonia adalah tidak efektifnya bersihan jalan napas, resiko tonggi terhadap infeksi,
klurang pengetahuan, intolerasnsi aktivitas, tidak efektifnya pola napas.

Hasil penelitian diperoleh trend kunjungan penderita bronkopneumonia berdasarkan data


tahun 2005-2009 menunjukkan penurunan dengan persamaan garis Y= 16,6-X. Proporsi
berdasarkan sosiodemografi yaitu kelompok umur 2-11 bulan 48,5%, sex ratio168%, dan
Kota Medan 71,0%. Bronkopneumonia berat 28,0%, jumlah kunjungan berulang satu kali
94,1%, gizi buruk 4,2%, imunisasi tidak lengkap 82,9%, pendidikan ayah dan ibu SLTA dan
Akademi/PT masing masing 42,9% dan 42,1%, pekerjaan ayah pegawai swasta 39,1%, ibu
rumah tangga 45,5%, jumlah anak orang tua tiga 60,0%, anak ke tiga 60,0%, lama rawatan
rata-rata 4,70 hari, dan meninggal 4,8%.

Jika broncopnemonia terlambat didiagnosa atau terapi awal yang tidakmemadai pada
broncopnemonia dapat menimbulka empisema, rusaknya jalan napas, bronkitis, maka
diperlukan asuhan keperawatan secara menyeluruh yang meliputi aspek promotif, preventif,
kuratif dan rehabilitatif untuk mencegah komplikasi yang mungkin terjadi.

Untuk itu, berdasarkan uraian diatas, kami merasa perlu membahas dan menelaah lebih
dalam mengenai penyakit broncopneumonia untuk dapat mengetahui bagaimana melakukan
asuhan keperawatan pada pasien bronkopnemonia dengan pendekatan proses keperawatan
yang benar.

1.2 Rumusan Masalah

Bagaimanakah asuhan keperawatan yang tepat pada pasien dengan penyakit


broncopneumonia?

1.3 Tujuan Umum

Untuk dapat mengetahui bagaimana asuhan keperawatan yang tepat pada pasien dengan
penyakit broncopneumonia.
1.4 Tujun Khusus

1.4.1 Untuk mengetahui secara keseluruhan mengenai penyakit broncopneumonia

1.4.2 Menambah pengetahuan mengenai berbagai penyakit pada sistem pernafasan salah
satunya broncopneumonia yang telah terjadi di masyarakat sekitar.

BAB II

PEMBAHASAN

2.1. Definisi

Bronkopneumonia adalah pneumonia yang terdapat di daerah bronkus kanan maupun


kiri atau keduanya. Bronkopneumonia (pneumonia lobularis) adalah peradangan pada
parenkim paru yang awalnya terjadi di bronkioli terminalis dan juga dapat mengenai alveolus
sekitarnya. Bronkiolus terminalis menjadi tersumbat dengan eksudat mukopurulen
membentuk bercak-bercak konsolidasi di lobulus yang bersebelahan. Penyakit ini seringnya
bersifat sekunder, mengikuti infeksi dari saluran nafas atas, demam pada infeksi spesifik dan
penyakit yang melemahkan sistem pertahanan tubuh. Pada bayi dan orang-orang yang lemah,
pneumonia dapat muncul sebagai infeksi primer. Bronkopneumonia sering disebabkan oleh
bermacam-macam etiologi seperti bakteri, virus, jamur dan benda asing.

2.2 Klasifikasi Pneumonia

2.2.1 Berdasarkan Sumber Infeksi

a. Pneumonia yg didapat di masyarakat (Community-acquired pneumonia.)

1.) Streptococcus pneumonia merupakan penyebab utama pada orang dewasa

2.) Haemophilus influenzae merupakan penyebab yang sering pada anak-anak

3.) Mycoplasma sering bisa menjadi penyebab keduanya (anak & dewasa)

b. Pneumonia yg didapat di RS (Hospital-acquired pneumonia )

1.) Terutama disebabkan kerena kuman gram negatif

2.) Angka kematiannya > daripada CAP (Community-acquired pneumonia.)

3.) Prognosis ditentukan ada tidaknya penyakit penyerta

c. Pneumonia aspirasi
1.) Sering terjadi pada bayi dan anak-anak

2.) Pada orang dewasa sering disebabkan oleh bakteri anaerob

d. Pneumonia Immunocompromise host

1.) Macam kuman penyebabnya sangat luas, termasuk kuman sebenarnya mempunyai
patogenesis yang rendah

2.) Berkembang sangat progresif menyebabkan kematian akibat rendahnya pertahanan


tubuh

2.2.2 Berdasarkan Kuman Penyebab

a. Pneumonia bakterial

1.) Sering terjadi pada semua usia

2.) Beberapa mikroba cenderung menyerang individu yang peka, misal; Klebsiella pada
penderita alkoholik, Staphylococcus menyerang pasca influenza

1. Pneumonia Atipikal

1.) Disebabkan: Mycoplasma, Legionella dan Chlamydia

2.) Sering mengenai anak-anak dan dewasa muda

1. Pneumonia yang disebabkan virus

1.) Sering pada bayi dan anak-anak

2.) Merupakan penyakit yang serius pada penderita dengan pertahanan tubuh yang lemah

1. Pneumonia yang disebabkan oleh jamur atau patogen lainnya

1.) Seringkali merupakan infeksi sekunder

2.) Predileksi terutama pada penderita dengan pertahanan tubuh yang rendah

2.2.3 Berdasarkan Predileksi atau Tempat Infeksi

a. Pneumonia lobaris (lobar pneumonia)

1.) Sering pada pneumonia bakterial

2.) Jarang pada bayi dan orang tua


3.) Pneumonia terjadi pada satu lobus atau segmen, kemungkinan dikarenakan obstruksi
bronkus misalnya : aspirasi benda asing pada anak atau proses keganasan pada orang dewasa

b. Bronchopneumonia

1.) Ditandai adanya bercak-bercak infiltrat pada lapangan paru

2.) Dapat disebabkan bakteri maupun virus

3.) Sering pada bayi dan orang tua

4.) Jarang dihubungkan dengan obstruksi bronkus

c. Pneumonia interstisialis (interstitial pneumonia

1.) Proses terjadi mengenai jaringan interstitium daripada alevoli atau bronki

2.) Merupakan karakteristik (tipikal) infeksi oportunistik (Cytomegalovirus, Pneumocystis


carinii)

2.3. Etiologi

Secara umun individu yang terserang bronkopneumonia diakibatkan oleh adanya penurunan
mekanisme pertahanan tubuh terhadap virulensi organisme patogen. Orang yang normal dan
sehat mempunyai mekanisme pertahanan tubuh terhadap organ pernafasan yang terdiri atas :
reflek glotis dan batuk, adanya lapisan mukus, gerakan silia yang menggerakkan kuman
keluar dari organ, dan sekresi humoral setempat.

2.3.1 Faktor Infeksi

- Pada neonatus : Streptocccus grup B, Respiratory Sincytial Virus (RSV).

- Pada bayi :

Virus : Virus parainfluensa, virus influenza, Adenovirus, RSV, Cytomegalovirus.

Organisme atipikal : Chlamidia trachomatis, Pneumocytis.

Bakteri : Streptokokus pneumoni, Haemofilus influenza, Mycobacterium


tuberculosa, Bordetella pertusis.

- Pada anak-anak :

Virus : Parainfluensa, Influensa Virus, Adenovirus, RSP

Organisme atipikal : Mycoplasma pneumonia


Bakteri : Pneumococcus, Mycobakterium tuberculosa.

- Pada anak besar dewasa muda :

Organisme atipikal : Mycoplasma pneumonia, C. trachomatis

Bakteri : Pneumococcus, Bordetella Pertusis, M. tuberculosis.

2.3.2 Faktor Non Infeksi

Terjadi akibat disfungsi menelan atau refluks esophagus meliputi :

1. Bronkopneumonia hidrokarbon dapat terjadi oleh karena aspirasi selama penelanan


muntah atau pemasangan selang NGT ( zat hidrokarbon seperti pelitur, minyak tanah
dan bensin).

2. Bronkopneumonia lipoid dapat terjadi akibat pemasukan obat yang mengandung


minyak secara intranasal, termasuk jeli petroleum. Setiap keadaan yang mengganggu
mekanisme menelan seperti palatoskizis, pemberian makanan dengan posisi
horizontal, atau pemaksaan pemberian makanan seperti minyak ikan pada anak yang
sedang menangis. Keparahan penyakit tergantung pada jenis minyak yang terinhalasi.
Jenis minyak binatang yang mengandung asam lemak tinggi bersifat paling merusak
contohnya seperti susu dan minyak ikan.

Selain faktor di atas, daya tahan tubuh sangat berpengaruh untuk terjadinya
Bronkopneumonia. Menurut sistem imun pada penderita-penderita penyakit yang berat
seperti AIDS dan respon imunitas yang belum berkembang pada bayi dan anak merupakan
faktor predisposisi terjadinya penyakit ini.

2.4 Faktor Resiko

Faktor-faktor yang berperan dalam kejadian Bronkopneumonia adalah sebagai berikut


:

1. Faktor host (diri)

1. Usia

Kebanyakan infeksi saluran pernafasan yang sering mengenai anak usia dibawah 3 tahun,
terutama bayi kurang dari 1 tahum. Beberapa penelitian menunjukkan bahwa anak pada balita
lebih rentan terkena penyakit bonkopneumonia dibandingkan orang dewasa dikarenakan
kekebalan tubuhnya masih belum sempurna.

1. Status Gizi

Interaksi antara infeksi dan Kekurangan Kalori Protein (KKP) telah lama dikenal, kedua
keadaan ini sinergistik, saling mempengaruhi, yang satu merupakan predisposisi yang lain
(Tupasi, 1985). Pada KKP, ketahanan tubuh menurun dan virulensi phatogen lebih kuat
sehingga menyebabkan keseimbangan yang tergangu dan akan terjadi infeksi, sedangkan
salah satu determinan utama dalam mempertahankan keseimbangan tersebut adalah status
gizi.

1. Riwayat penyakit terdahulu

Penyakit terdahulu yang sering muncul dan bertambah parah karena penumpukan sekresi
yang berlebih yaitu influenza. Pemasangan selang NGT yang tidak bersih dan tertular
berbagai mikrobakteri dapat menyebakan terjadinya bronkopneumonea.

1. Faktor Lingkungan

1. Rumah

Rumah merupakan struktur fisik, dimana orang menggunakannya untuk tempat berlindung
yang dilengkapi dengan fasilitas dan pelayanan yang diperlukan, perlengkapan yang berguna
untuk kesehatan jasmani, rohani, dan keadaanan sosialnya yang baik untuk keluarga dan
individu (WHO, 1989).

1. Kepadatan hunian (crowded)

Kepadatan hunian seperti luar ruang per orang, jumlah anggota keluarga, dan masyarakat
diduga merupakan faktor resiko penularan pneumonia.

1. Status sosioekonomi

Kepadatan penduduk dan tingkat sosioekonomi yang rendah mempunyai hubungan yang erat
dengan kesehatan masyarakat.

2.5 Patofisiologi

Bronchopneumonia selalu didahului oleh infeksi saluran nafas bagian atas yang disebabkan
oleh bakteri staphylococcus, Haemophillus influenzae atau karena aspirasi makanan dan
minuman.

Dari saluran pernafasan kemudian sebagian kuman tersebut masukl ke saluran pernafasan
bagian bawah dan menyebabkan terjadinya infeksi kuman di tempat tersebut, sebagian lagi
masuk ke pembuluh darah dan menginfeksi saluran pernafasan dengan ganbaran sebagai
berikut:

1. Infeksi saluran nafas bagian bawah menyebabkan tiga hal, yaitu dilatasi pembuluh
darah alveoli, peningkatan suhu, dan edema antara kapiler dan alveoli.

2. 2. Ekspansi kuman melalui pembuluh darah kemudian masuk ke dalam saluran


pencernaan dan menginfeksinya mengakibatkan terjadinya peningkatan flora normal
dalam usus, peristaltik meningkat akibat usus mengalami malabsorbsi dan kemudian
terjadilah diare yang beresiko terhadap gangguan keseimbangan cairan dan elektrolit
2.6 Manifestasi Klinis

1.) Demam mendadak, disertai menggigil, baik pada awal penyakit atau selama sakit
2.) Batuk, mula-mula mukoid lalu purulen dan bisa terjadi
hemoptisis

3.) Nyeri pleuritik, ringan sampai berat, apabila proses menjalar ke pleura (terjadi
pleuropneumonia)

4.) Tanda & gejala lain yang tidak spesifik : mialgia, pusing, anoreksia, malaise, diare,
mual & muntah.

2.7 Pemeriksaan

2.7.1 Pemeriksaan fisik

a. Inspeksi / palpasi : sisi hemitoraks yg sakit tertinggal

b. Palpasi / Perkusi / Auskultasi

tanda-tanda konsolidasi : Redup, fremitus raba / suara meningkat, suara napas


bronkovesikuler bronchial, suara bisik, krepitasi

2.7.2 Pemeriksaan Penunjang

a. Pemeriksaan dahak

1.) Mempunyai banyak keterbatasan

2.) Usahakan bebas dari kontaminan dengan berbagai cara :

1. Sputum dicuci dg garam faali, diambil sputum yang mengandung darah dan nanah

2. kavum orofaring dibersihkan dulu dengan cara berkumur

3. aspirasi trakeal

4. memakai bronkosokopi

5. pungsi transtorakal

3.) spesimen yg diperoleh lalu dilakukan pengecatan gram dan kultur

b. Pemeriksaan darah
1. Umumnya lekositosis ringan sampai tinggi

2. 2. Hitung jenis bergeser ke kiri ( shift to the left)

3. LED dapat juga tinggi

4. Kultur darah dapat positif 20-25 % pada penderita yang tidak diobati

c. Foto thorax PA/lateral

1. Abnormalitas radiologis pada pneumonia disebabkan karena pengisian alveoli oleh


cairan radang berupa : opasitas / peningkatan densitas ( konsolidasi ) disertai dengan
gambaran air bronchogram

2. Bila di dapatkan gejala klinis pneumonia tetapi gambaran radiologis negatif, maka
ulangan foto toraks harus diulangi dalam 24-48 jam untuk menegakkan diagnosis.

3. Pemeriksaan gas darah

1. Hipoksemia & hipokarbia

2. Asidosis respiratorik pada stadium lanjut

e. Tampilan klinis pneumonia dapat dibedakan menjadi dua kelompok, yaitu bacterial dan
non bacterial (atipikal)

KARAKTER PNEUMONIA PNEUMONIA NON


KLINIS BAKTERIAL BAKTERIAL (ATIPIKAL)

Timbulnya gejala Mendadak sebagian besar Berangsur-angsur, sering


di paru bersifat umum selain di paru

Batuk Produktif dengan banyak Tidak produktif, sputum


sputum, sedikit
purulen/mukopurulen

Pengecatan gram Sering ditemukan mikroba Non diagnostik, baik pada


pengecatan gram maupun
kultur

Leukositosis Ada dan tinggi, leukopeni Biasanya tidak ada, atau


pada kasus yang jelek leukopeni

Nyeri dada Ada, bervariasi dari yang Jarang


ringan sampai berat

Foto paru Tanda konsolidasi lobar, Tidak mengikuti batas


segen atau anatomis, kelainan
bronkopneumonia interstitial

2.8 Penatalaksanaan

Pengelolahan pneumonia harus berimbang dan memadai, mencakup :

1. Tindakan umum ( general suportif )

2. Koreksi kelainan tubuh yang ada

3. Pemilihan antibiotik

Bila keadaan klinis baik dan tidak ada indikasi rawat inap dapat diobati di rumah. Juga
diperhatikan ada tidaknya faktor modifikasi, yaitu keadaan yang dapat meningkatkan resiko
infeksi patogen yang spesifik misalnya S. pneumoniae yang resisten terhadap penesilin.

A.) Faktor modifikasi adalah keadaan yang dapat meningkatkan resiko infeksi dengan kuman
patogen yg spesifik. Kuman-kuman tersebut meliputi :

1. Streptococcus pneumoniae yg resisten terhadap penisilin :

a. Usia > 65 tahun

b. Mendapat tx betalaktam dlm 3 bulan terakhir

c. Pecandu alkohol

d. Penyakit gangguan imunitas (tms tx steroid)

e. Adanya penyakit ko-morbid yang lain


f. Kontak dengan anak-anak

1. Enterik gram-negative :

1. Penghuni rumah jompo

2. Adanya dasar penyakit kardiopulmoner

3. Adanya penyakit ko-morbid yang lain

4. Pengobatan antibiotika sebelumnya

5. 3. Pseudomonas aeruginosa :

1. Kerusakan jaringan paru (bronkiektasis)

2. Terapi kortikosteroid (>10 mg pednison/hari)

3. Pengobatan antibiotik spektrum luas lebih dari 7 hari


sebelumnya

4. Malnutrisi

B.) Faktor antibiotik diperlukan adanya pendekatan yang logis untuk memperkirakan etiologi
dan memberikan pengobatan inisial secara empiris. Pendekatan ini harus
mempertimbangkan :

1. kecenderungan epidemiologis setempat

2. usia penderita

3. penyakit penyerta / komorbid

4. faktor risiko sosial (alkohol, drug abuse, dll)

5. temuan kelainan paru (pemeriksaan fisik dan radiologis)

2.8.1 Penatalaksanaan rawat jalan

a. Pengobatan suportif / simtomatik

1. Istirahat di tempat tidur

2. Minum secukupnya untuk mengatasi dehidrasi

1. Bila panas tinggi perlu dikompres atau minum obat penurun panas

2. Bila perlu dapat diberikan mukolitik dan ekspektoran

3. Pengobatan antibiotik harus diberikan ( sesuai bagan ) kurang dari 4 jam


2.8.2 Penatalaksanaan rawat inap

a. Pengobatan suportif / simtomatik

1. Pemberian terapi oksigen

2. Pemasangan infus untuk rehidrasi dan koreksi kalori dan elektrolit

3. Pemberian obat simtomatik antara laim antipiretik, mukolitik

1.

1. Pengobatan antibiotik harus diberikan ( sesuai bagan ) kurang dari 4 jam

2.8.3 Penatalaksanaan rawat inap di ruang rawat intensif

a. Pengobatan suportif / simtomatik

1. Pemberian terapi oksigen

2. Pemasangan infus untuk rehidrasi, koreksi kalori & elektrolit

3. Pemberian obat simtomatik antara lain antipiretik, mukolitik

b. Pengobatan antibiotik harus diberikan ( sesuai bagan ) kurang darti 4 jam

c. Bila ada indikasi penderita dipasang ventilator mekanik.

2.9 Asuhan Keperawatan

No. Diagnosis Perencanaan


Keperawatan

Tujuan Intervensi Rasional

1. Bersihan jalan Jalan napas bersih 1) Mengkaji frekuensi Takipnea biasany


nafas tidak dan efektif setelah pernafasan, catat rasio inspirasi/ pada beberapa de
efektif hari perawatan, ekspirasi dapat ditemukan
berhubungan dengan criteria: penerimaan atau s
dengan 2) mengauskultasi bunyi nafas, stres/ adanya pros
peningkatan a) Tidak ada catat adanya bunyi nafas. infeksi akut. Pern
produksi dypsnoe, sianosis, Misalnya: mengi, krekels dan dapat melambat d
sputum. ronchi dan suara frekuensi ekspiras
Data-data: krek-krek ronki. memanjang diban
inspirasi.
Data Subjektif b) BGA mormal 3) Memberikan posisi semi
fowler. Bersihan jalan na
Pasien mengeluh pH = 7,35 7,45 tidak efektif dapa
rewel 4) Memberikan minum hangat dimanifestasikan
H+ = 3545 sedikit sedikit tapi sering. adanya bunyi naf
Pasien mengeluh nmol/L(nM) adventisius
sesak sesak 5) Melaksanakan tindakan
nafas PaO2 = 80100 delegatif : Bronchodilator, Posisi semi fowle
mmHg mukolitik, untuk mencairkan mempermudah pa
Pasien tidak mau dahak sehingga mudah untuk bernafas
makan PaCO 2 = 3545 dikeluarkan.
mmHg Hidrasi menurunk
Terdengar suara kekentalan sekret
HCO3= 2226 mempermudah
grek-grek
mmol/L pengeluaran.
orang tua
menyatakan Pemberian obat-o
kurang paham pengerncer dahak
tentang penyakit memudahkan pro
yang diderita evakuasi jalan na
anaknya

anak mencret

Data Objektif

Pernafasan cepat
dan dangkal

pernafasan
cuping hidung

ronchi dan
sianosis

batuk berdahak
sputum purulen

penggunaan otot
Bantu nafas
bunyi nafas
bronchovesikule
r

muntah malaise

penurunan nafsu
makan dan berat
badan

respirasi
meningkat

2. Gangguan pertukaran Menunjukan fungsi 1) Mengkaji frekuensi, Manifestasi distre


gas berhubungan paru yang optimal Kedalaman dan kemudahan pernafasan tergan
dengan perubahan dengan kriteria pernafasan. pada derajat keter
membran alveolus sesak hilang, tidak paru dan status ke
kapiler, gangguan ada sianosis pada 2) Mengbsevasi warna kulit, umum
kapasitas pembawa kulit, membran membran mucosa dan kuku
oksigen darah, mucosa dan kuku. apakah terdapat sianosis. Sianosis menunju
gangguan pengiriman vasokontriksi atau
oksigen 3) Mempertahankan istirahat tubuh terhadap de
dan tidur. menggigil dan ter
hipoksemia.
4) Kolaborasi pemberian
oksigen dengan benar sesuai Menghemat peng
dengan indikasi oksigen dengan Is
dan tidur

Mempertahankan
di atas 60 mmHg

3. Intoleransi aktivitas Mampu toleran 1) Membantu aktivitas anak Anak membutuhk


berhubungan dewngan terhadap aktivitas untuk memenuhi kebutuhan bantuan dalam ke
kelemahan umum. sesuai kemampuan / sehari-hari. sakit untuk meme
kondisi anak. kebutuhannya
2) Menyarankan keluarga
untuk membatasi aktivitas anak Aktifitas yang be
yang berlebihan yang dapat akan membutuhk
menimbulkan kelelahan. banyak tenaga da
menimbulkan kel
3) Menyarankan untuk pada anak
melakukan aktivitas secara
bertahap. Dengan aktifitas y
dilakukan bertaha
diharapkan energ
dikeluarkan tidak
berlebih

4. Nyeri akut berhubungan Nyeri hilang / 1) Menentukan karakteristik Mengetahui tingk


dengan inflamasi berkurang dengan nyeri misalnya tajam, ditusuk, keparahan penyak
parenkim paru. kriteria : dll.
Menunjukan Rasa nyaman ada
penurunan skala 2) Memberikan tindakan salah satu cara un
nyeri , wajah kenyamanan mengurangi rasa
tampak rileks. karena bisa menim
3) Mengjarkan tekhnik efek relaksasi
relaksasi, atau latihan nafas.
Dengan nafas yan
4) Memberikan tindakan dapat mengurang
delegasi pemberian analgetika nyeri yang diderit
untuk menurunkan nyeri.
Permberian analg
sangat berperan d
penurunan tingka
kenyerian

5. Kurang pengetahuan Pengetahuan orang 1) Memberikan penjelasan Menambah penge


berhubungan dengan tua meningkat tentang penyakit anak, keluarga sehingga
kurangnya pemahaman dengan kriteria : pencegahan, penatalaksanaan di membantu dalam
terhadap informasi mampu mengulang rumah sakit atau yang dapat perawatan anak
kembali penjelasan dilakukan dirumah agar oreang
yang diberikan. tua mengetahui dan mau aktif Peran ibu sangatl
ikut serta dalam setiap tindakan. penting dalam pro
penyembuhan ana
2) Memotivasi ibu untuk
melaksanakan anjuran petugas.

6. Perubahan nutrisi Gangguan nutrisi 1) Mengidentifikasi faktor Pilihan intervensi


kurang dari kebutuhan tidak terjadi dengan yang dapat menimbulkan mual tergantung pada
tubuh berhubungan kriteria makanan dan muntah penyebab masalah
dengan peningkatan yang disediakan
kebutuhan metabolik dapat dihabiskan. 2) Memberikan makan porsi Tindakan ini dapa
sekunder terhadap kecil tapi sering. meningkatkan ma
demam dan proses meskipun nafsu m
infeksi. 3) Menyajikan makanan mungkin lambat u
dalam keadaan hangat. kembali dan men
4) Menimbang BB setiap efek mual pada an
hari
Makanan hangat
meningkatkan ras
nyaman diperut a

Adanya kondisi k
dapat menimbulk
malnutrisi, rendah
tahanan terhadap
atau lambatnya
responterhadap te

7. Kekurangan volume Tidak terjadi 1) Mengkaji perubahan Untuk menunjukk


cairan berhubungan kehilangan volume tanda-tanda vital. adnya kekurangan
dengan kehilangan cairan dengan sisitemik
cairan yang berlebihan , kriteria : 2) Mengkaji turgor kulit.
penurunan pemasukan Meningkatnya Indikator langsun
oral masukan cairan , 3) Menyatat intake dan out keadekuatan masu
tidak ada tanda put cairan. cairan
tanda kurang
volume cairan. 4) Kolaborasi pemberian Memberikan info
obat sesuai indikasi. tentang keadekua
volume cairan da
kebutuhan pengga

Memperbaiki stst
kesehatan

Download : WOC ASKEP BRONKOPNEUMONIA