Anda di halaman 1dari 97

DESAIN PENCAHAYAAN

ARSITEKTURAL
Konrep Pencohoyoon Artifiriol podo Ruong [kderior

Pormonongon llonurung

Pune,bit ANDI Yogyokorto


Desoin Pencohoyoon Arsileklurol
Konsep Pencohoyoon Artifisiol podo
Oleh: Pqrmonongon Monurung Prakata
Hok Cipto O 2009 podo Penulis

Editor : Nikodemus WK
Setting : Alek
Desoin Cover : Dony
76e ?z lePht 7/ z"tz,
TAPAAN DAN,APUAi'| cAllAyA DALA,ll AR,lltlruR
Korektor : Amondo f Aktor Sodewo
Le Corbusier menunjukkan keterkaitan yang besar antara arsitektur
Hok Cipto dilindungi undong-undong. dengan cahaya. Bahkan jika tanpa cahaya, arsitektur tampaknya tidak
Dilorong memperbonyok otou memindohkon sebogion otou seluruh isi buku ini dolom
akan ada. Cahaya mempunyai pengaruh yang besar dalam membentuk
bentuk opopun. boik secoro elektronis moupun mekonis, termosuk memfotocopy,
merekom otou dengon sistem penyimponon loinnyo, tonpo izin tertulis dori Penulis. keberadaan arsitektur.

Penerbit: C.V ANDI OFFSET (Penerbit ANDI) Pada siang hari, cahaya dari sinar matahari tropis yang melimpah
Jl. Beo 38-40,Ielp.(O274) 56,l88,l (Hunting), Fox.(O2741 588282 Yogyokorto tampaknya membuat kita lebih menyukai keteduhan, bayang-bayang,
5528r
atau keremangan. Banyak variasi dan teknik penciptaan ruang dengan
Percetokon: ANDI OFFSET membuat bidang-bidang yang transparan seperti tirai atau dengan
Jl. Beo 38-40,Ielp.(O2741 56'l881 (Hunting), Fox.(0274) 588282 Yogyokorro menggunakan gradasi cahaya yang dihasilkan dari susunan sekuens ruang,
5528 I misalnya, dapat kita pelajari dari tradisi. Namun, bagaimana dengan
penerangan buatan? Tampaknya hal ini masih merupakan pengetahuan
Perpuslokoon Nosionol: Kotolog dolom Terbilon (KDT) "baru" bagi kita para arsitek.

Memang, dari arsitektur tradisional pun kita sebenarnya bisa menemukan


Monurung, Pormonongon
beberapa teknik pengolahan dan pemanfaatan cahaya dalam penerangan
Desoin Pencohoyoon Arsitekturol buatan. Pada awalnya, tentu saja sumber utama pencahayaannya adalah
Konsep Pencohoyoon Artifisiol podo Ruong Eksterior f api dengan berbagai bentuknya, seperti obor, Iampu minyak, atau lilin.
Pormonongon Monurung;- Ed. l. - Yogyokorto; ANDI, Karakteristik alamiah dari nyala api inilah yang kemudian diapresiasi dan
l8 l7 16 t5 t4 t3 t2 tt to 09 clipakai sebagai penentu desain arsitektur.
xx * 172 hlm.; 16 x 23 Cm. Secara spekulatif dapat dikatakan bahwa banyak ukiran rumah |awa pada
1098765432t kerangka atap, tiang, dan juga pada baloknya "menghadap" ke bawah,
ISBN:978 -979- 29 - r2r0- 4
'l'entu hal ini berkaitan dengan upaya untuk menangkap cahaya api
clengan sifatnya yang selalu berpendar ke atas. Atau, lihatlah pada ukirln
l. Judul
ukiran yang peradanya terlihat sangat hidup dalam kilatan dan goyrrrrlirrn
'l
. Architecturol Design rryala lidah api. Selain itu, mungkinkah dinding miring fagacl,,r'unralr
gadang Minang juga terkait dengan upaya untuk menghadirkun biclarrg
fiontal terhadap sumber cahaya?
o Qai!:: l-li
6 i,ii.ui;i,,
O 9-lrl ,.".,,..
Desain Pencahayaan Arsitektural

Dengan ditemukannya jenis lampu listrik dengan berbagai jenis dan Prakata
karakteristik nyalanya, peluang pemanfaatan Penerangan buatan semakin
terbuka. Pada awalnya, penerangan buatan memang hanya digunakan
untuk tujuan fungsional yar,g basic saja, tetapi sejalan dengan majunya
pengetahuan, teknologi, dan meningkatnya kebutuhan, Penerangan
buatan digunakan untuk tujuan yang lebih Penting. Bahkan, penerangan
Seperti halnya perkembangan perangkat teknologi yang senantiasa
buatan telah berkemban!1 dengan pesat dan membentuk suatu bidang
berawal dari pemenuhan kebutuhan fungsional, pencahayaan pun had.ir
keahlian khusus. Keahlian untuk mewujudkan penerangan buatan yang
melalui fase yang sama. cahaya dibutuhkan oleh manusia dan makhluk
tepat tentulah sangat penting untuk menopang kehadiran karya arsitektur
hidup lainnya untuk membantu mengenali dan mengetahui kondisi
yang mampu menggugah Perasaan, mengartikulasikan detail, dan sekelilingnya dalam menunjang berbagai aktivitas keseharian. Kebutuhan
membangun suasana ruang. Ruang maupun sosok arsitektur dapat hadir
akan cahaya yang telah diberikan oleh alam melalui matahari, bintang,
dengan bentuk yang sangat berbeda dalam guyuran dan kilauan cahaya
dan pantulan benda-benda langit dalam gugus tata surya ternyata belum
yang tertata.
dapat menjangkau seluruh mang yang digunakan. Manusia pun berupaya
Buku Desain Pencahayaan Arsitekrural yang ditulis oleh Parmonangan mengembangkan keterbatasan tersebut dengan api, obor, lilin, dan, pada
Manurung ini merupakan wujud nyata dari kepedulian, keahlian, dan juga akhirnya, lampu.
kerja keras untuk mengantarkan apresiasi, membukakan minat, dan
Setelah kebutuhan secara fungsional terpenuhi, kebutuhan akan estetika
menginspirasi gagasan desain untuk arsitek, mahasiswa, pengajar, Penge-
dan kenyamanan pun menjadi tuntutan selanjutnya. Cahaya mulai
lola kota, konsultan, kontraktor, dan sebagainya.
digunakan untuk memberikan aksentuasi pada pencitraan visual ruang
Buku ini tentu akan membukakan peluang-peluang baru bagi petualangan dan massa. Perkembangan teknologi pun mulai mencoba untuk
kreatif untuk menghadirkan karya-karya arsitektut yarrg tersaji dengan memenuhi kebutuhan tersebut, baik secara kualitas maupun kuantitas.
baik dan mampu menyapa emosi. Cahaya memang bukan satu-satunya fokus pengembangan, annature
lampu juga hadir dengan variasi desainnya yang menarik dan berupaya
untuk memenuhi kebutuhan arsitektur.
Yogyakarta, 21 ]uli 2009 Kini, dengan perkembangan teknologi dan desain produk armaturelampt
yang representatif, kebutuhan akan terciptanya citra visual yang baik
melalui pencahayaan kembali ke tangan para tighting designer.
Eko Prawoto/Arsitek Kemampuan dalam menerjemahkan desain bangunan, membaca
kebutuhan fungsional ruang, sampai pada penciptaan kondisi visual yang
mampu memberikan persepsi yang positif dengan pertimbangan fakror
psikologi manusia.di dalamnya menjadi bagian penting dalam ck'sain
pencahayaan atau yang lebih dikenal dengan sebutan lighting desfiln.
Desain Pencahayaan Arsitektural Prakata vil

Namun, pemenuhan kebutuhan fungsional dan estetika saja tidaklah Kristen Duta wacana Yogyakarta, penulis mengucapkan terima kasih atas
cukup, pencahayaan harus mampu memenuhi tuntutan kenyamanan para berbagai diskusi yang selama ini dilakukan. Kepada Ir. wiyatiningsih,
"konsumennya". Melalui pencahayaan yang baik, orang dapat merasakan MT., (Ph.D. Cand.) di Karlsruhe University atas sumbangan foto-foto
suasana yang nyaman, yang membangkitkan mood, dan yang memenuhi yang turut melengkapi buku ini serta Sita Amijaya, ST., M.Eng atas
tuntutan psikologis dan fisiologis mereka. bantuannya.

Buku ini lebih difokuskan p_ada desain pencahayaan eksterior atau ruang Terima kasih yang sebesar-besarnya kepada kedua orang tua penulis, istri
luar yang mempunyai kompleksitas yang sangat tinggi. Pencahayaan tercinta, Sari Irjayanti, dan juga kepada Rhein villareal dan crarence
ruang luar menjadi penting karena ruang luar akan diakses secara visual vincentio Davin yang telah kehilangan banyak waktu kebersamaan
oleh semua orang yang melaluinya dan, tentu saja, dapat menimbulkan karena proses penulisan buku ini.
beragam persepsi.

Proses perancangan pencahayaan eksterior tidak dapat bertitik tolak


hanya pada pengetahuan mengenai lampu. Pemahaman mengenai konsep Parmonangan Manurung
arsitektural fasad bangunan, lanskap, tipe-tipe lampu eksterior, sampai
pada persepsi visual dan faktor psikologis manusia merupakan faktor yang
sangat berpengaruh dalam menghasilkan desain pencahayaan eksterior
yang baik.

Penulis selalu berupaya untuk menelusuri semua pemegang hak cipta dari
seluruh materi yang digunakan dalam buku ini, namun apabila ada
kesalahan dan kelalaian yang terjadi tanpa disengaja, penulis memohon
maaf yang sebesar-besarnya dan akan berupaya untuk memperbaikinya,
Berbagai masukan bagi kesempurnaan buku ini sangat diharapkan demi
suatu kemajuan bersama.

Atas kehadiran buku ini, penulis tak lupa mengucapkan rasa terima kasih
yang sebesar-besarnya kepada berbagai pihak. Kepada Budi Sutedjo atas
motivasi, dukungan, serta dorongannya pada penulis untuk menghasilkan
buku ini. Kepada lemmy Hendra, Direktur PT.Citilite, serta Noel Casipit,
Lighting Designer ERCO Lighting Pte. Ltd., Singapore, atas berbagai
diskusi dan kesempatan kerja sama yang begitu besar dengan penulis.
]uga, kepada Prof. Ir. Prasasto Satwiko, Ph.D. atas masukan dan
dorongannya kepada penulis, serta Ir. |atmika Adi Suryabrata, M.Sc, Ph.D
karena darinyalah ketertarikan dan pemahaman penulis pada lighting
design berawal. Kepacla seluruh kolega di Prodi Arsitektur lJniversitas
vilt Desain Pencahayaan Arsitektu ral

Daftar lsi

PRAKATA OLEH EKO PRAWOTO ul

PRAKATA Y

DAFTARISI ix
DAFTAR GAMBAR xiii
DAFTARTABEL )o(

BAB 1 PERAN PENCA}I,A.YAAN DALAM ARSITEKTIJR 1

1.1 Membentuk Karakter Kota MeIaIui Desain Pencahayaan 1

1.1.1 Pencahayaan |alan 2


1.1.2 Pencahayaan pada Bangunan 5

1.1.3 Penanda Kota 6

1.2 Pencahayaan dalam Arsitektur .......... 7


1.2.1 Kebutuhan Fungsional ............. 7
1.2.2 CitraVisual 9
1.2.3 Faktor Kenyamanan dan Keamanan ...................... 13

BAB 2 KUALITAS DAN KUANTITAS PENCAA{YAJU{ t7


2.1 Kualitas Pencahayaan 18
2.1.1 Persepsi Visual 21

2.1.2 Mengukur Persepsi Visual 22


2.1.3 Pengaruh Pencahayaan pada Sisi Psikologis
l\4anusia 36
Desain Pencahayaan Arsitektural Daftar isi xt

2.2 Kuantitas Pencahayaan 37 4.3.3 Mendefinisikan Massa ......... ............... 127


2.2.1 Standar Kebutuhan Cahaya 38 4.3.4 Mendefinisikan Fungsi ....................... 143
2.2.2 Mengukur Kuantitas Cahaya 44 4.3.5 Mendefinisikan Pergerakan ............... 145

BAB 3 SUMBER O{T,IAYA DAN ARMATUR LAMPU BAB 5 DOKUMENTASI TEKMK DAN TA}IAP INSTAI.A.SI .......... 151
EKSTERIOR 53 5.1 Teknik
Doktrmentasi ............. 152
3.1 Macam-Macam Sumber Cahaya 54 5.1.1 RencanaTitiklampu .... 152
3.1.1 Incandescent Lamp (Lampu Pijar) 54 5.1.2 SpesifikasiTeknis .......... 154
3.1.2 Fluorescent Lamp (Lampu Fluoresens) 57 5.1.3 PembuatanDetail .......... 157
3.1.3 High Intensiry Discharge 60 5.1.4 RencanaAnggaranBiaya ......... .......... 158
3.1.4 LED (Light Emmiting Diode) 64
5.2 Proses Instalasi ... 160
3.2 Tipe Armatur Lampu Eksterior 68 5.2.1 Tahap Konstruksi .......... 160
3.2.1 Berdasarkan Distribusi Cahaya 69 5.2.2 Pengaturan Arah Cahaya ................... 161
3.2.2 Berdasarkan Arah Cahaya 72 5.2.3 Perawatan ........... ........... 162
3.2.3 Berdasarkan Sudut Cahaya 77
3.2.4 Berdasarkan Peletakan Armatur 83
DAFTARPUSTAKA.. l6s
3.2.5 Pertimbangan Pemilihan Armatur Lampu 90 INDEKS,..... t67

BAB 4 KONSEP PH{O{I{r{YAJU{ EKSTERIOR 93


4.1 Elemen-ElemenElsterior 93
4.1.1 Fasad 93
4.1.2 Ruang Terbuka/Plaza ............... 99
4.1.3 ]alur Sirkulasi 100
4.1.4 Vegetasi ................ 104

4.1.5 ElemenAir .......... 106

4.2 Menerjemahkan Konsep Arsitektural 110

4.3 Konsep Pencahayaan Elsterior 111


4.3.1 Pencahayaan Eksterior ............... 111

4.3.2 Mendefinisikan Ruang 118


xil Desain Pencahayaan Arsitektural

Daftar Gambar

Gambar 1.1 Pada siang hari, elemen pencahayaan harus


memperkuat karakter kawasan sekitarnya, seperti
desain yang kontekstual, selaras dengan bangunan
dan furnitur jalan

Gambar 1.2 Walaupun memiliki persamaan dengan lampu-lampu


di beberapa kota di Eropa, Iampu di falan Malioboro,
Yogyakarta, lebih menekankan penggunaan unsur
lokal. Namun, karena tidak diimbangi dengan
penataan yang baik, lampu tersebut tampaknya
hanya menghasilkan citra visual yang buruk..

Gambar 1.3 Peran jembatan Erasmus di Kota Rotterdam, Belanda,


sebagai penanda kota semakin kuat dengan
pencahayaan pada elemen kabel dan struktur utama..

Gambar 1.4 Gereja Blenduk yang berada di kawasan bersejarah


Kota Lama Semarang, memiliki karakter visual yang
sangat kuat sehingga mampu berperan sebagai
landmarkkawasarr 10

Gambar 1.5 Pencahayaan memiliki kemampuan dalam


meningkatkan citra visual bangunan dengan
menonjolkan elemen-elemen dan detail arsitektur
maupun lanskap, terutama pada bangunan lama yang
memiliki karakteristik yang kuat.... 12

Gambar 1.6 Penggunaan pencahayaan tidak langsung pada lampu


jalan maupun jalur pejalan kaki akan mereduksi
tingkat kesilauan dan membuat akses visual menjadi
lebih nyamar1. ................. l(r
Desain Pencahayaan Arsitektural Daftar Gambar

Gambar 2.1 Kondisi nyata bangunan pada siang hari Gambar 3.11 Distribusi cahaya secara tidak langsung menuju
pukul 11.00 WIB dan pada malam hari 72
pukul 20.00 WIB............ 32
Gambar 3.12 Arah cahaya ke atas (upligh)...... 73
Gambar 2.2 Simulasi pencahayaan pada kawasan Kota Lama
Gambar 3.13 Armatur up I igh t re c c es e d b agi p encahayaan pohon
Semarang dengan soitware Lightscape 3.2 ................... 34 yang menyatu dengan desain lanskap 73
Gambar 2.3 Simulasi pencahayaan pada bangunan karya arsitek
Gambar 3.14 Arah cahaya ke bawah (downlight). 74
Belanda, Thomas Karsten, di kawasan Kota Lama
Semarang dengan s oltware Lightscape 3.2 ................... 35 Gambar 3.15 |ika dibandingkan dengan downlight reccesed,
arnatur downlight yang diletakkan pada permukaan
Gambar 2.4 Ilustrasi istilah dan satuan yang digunakan dalam
langit-langit lebih mudah untuk dipindahkan 75
pencahayaan 44
Gambar 3.16 Arah cahaya baur/menyebar (diffuse) 76
Gambar 2.5 Penggunaan metode kalkulasi kuantitas cahaya pada
desain pencahayaan eksterior. 48 Gambar 3.17 Pencahayaan baur dibutuhkan untuk memberikan
kesan yang datar, terutama bagi kebutuhan

Gambar 3.1 Lampu incandescenratau yang di Indonesia lebih


fungsional... 77

dikenal sebagai lampu pijar atau bohlam........ 56 Gambar 3.18 Contoh armatur lampu spotlight.. 78

Gambar 3.2 Beberapa variasi bentuk lampu pijar ............ 56 Gambar 3.19 Aplikasi spotlightpada pencahayaan eksterior. 78

Gambar 3.3. Perbandingan dimensi lampu fluoresens T12, T8, T5, Gambar 3.20 Contoh lampu Iloodlight.. 79
dan T2......... 58
Gambar 3.21 Aplikasi lampu lloodlight pada pencahayaan
Gambar 3.4 Variasi bentuk fluoresens kompak (CFL). 60 eksterior.. 80

Gambar 3.5 Contoh varian lampu metal halida, keluarga lampu Gambar 3.22 Contoh lampu wallwasher.. 81
IIigh Intensi ty Dis charge.. 62
Perbandingan lampu floodlight dar, wallwasherdalam
Gambar 3.23
Gambar 3.6 Lampu merkuri. 63 menerangi bidang vertikal.. 81

Gambar 3.7 Lampu f{igh Pressure Sodium........ 64 Gambar 3.24 Lampu wa I I was h er re c ces ed, b aik pada permukaan
laratai (in-ground) mauptn pada permukaan
Gambar 3.8 Lampu Light Emmiting Diodedan aplikasinya pada
lampu orientasi
langit-langit 82
66
Gambar 3.25 Lampu wallwasher reccesed in-ground mampu
Gambar 3.9 Distribusi cahaya secara langsung dari sumber cahaya 70
menerangi dinding tanpa menyilaukan pejalan kaki... U')
Gambar 3.10 Distribusi cahaya semilangsung/tak langsung.. ............ 7l
Gambar 3.25 Armatur lampu wall lightyang diletakkan di
permukaan bidang vertikal. tl'l
Desain Pencahayaan Arsitektural Daftar Gambar xvii

Gambar 3.27 Armatur lampu step lightyang diletakkan di tangga .. 84 Gambar 4.6 ]alur pejalan kaki yang nyaman dan aman akan
menumbuhkan minat para pejalan kaki untuk
Gambar 3.28 Lampu gantung atau. suspension atau pendantyang
digunakan pada pencahayaiur. mang luar ..................... 85
menggunakannya.............. ... 102

Gambar 4.7 Tangga memungkinkan penggunanya mencapai


Gambar 3.29 Variasi lampu tiang atau lampu kolom. 86
mang-mang dengan perbedaan elevasi ........................ 103
Gambar 3.30 Lampu tiang bagi penerangan taman dan jalur pejalan
Gambar 4.8 Elemen vegetasi mampu menciptakan keteduhan dan
kaki............. 87
kesejukan yang dibutuhkan bagi kenyamanan
Gambar 3.31 Lampu kolom menegaskan orientasi jalur sirkulasi..... 87 pengguna ruang terbuka................... ........ 105
Gambar 3.32 Bollardrnentpakan armatur khas lampu eksterior ...... 88 Gambar 4.9 Elemen vegetasi dapat berfungsi sebagai pembentuk
Gambar 3.33 Bollard dapat digunakan untuk mempertegas jalur ruang maupun penegas ruang sirkulasi. ....................... 105
pejalan kaki ............. 89 Gambar 4.10 Permainan air pada sebuah desain lanskap dapat
Gambar 3.34 Lampu bawah air harus memiliki ketahanan yang menciptakan kenyamanan dan kesejukan, serta
kuat terhadap tekanan air dan efek korosi memasukkan elemen alam pada sebuah ruang
89
terbuka ............ lO7

Gambar 4.1 Fasad sebuah apartemen di Hong Kong Gambar 4.11 Komposisi air sebagai elemen cair dengan bidang masif
memperlihatkan garis-garis horizontal yang lebih mampu menghadirkan kesan visual yang menarik...... 108
dominan...... 94 Gambar 4.12 Air mancur yang dipancarkan secara tegak lurus akan
Gambar 4.2 Ornamen dan detail yang mendominasi fasad menciptakan suasana yang nyaman dan baik bagi
menciptakan karakter yang sangat kuat pada Katedral indra visual, pendengaran, maupun peraba.................. 1 09
Koeln, |erman 95 Gambar 4.13 Dalam kondisi tenang, air dapat berperan sebagai
Gambar 4.3 Material dan tekstur pada kulit bangunan turut reflektor...... ..... 109
membentuk karakter bangunan tersebut 97 Gambar 4.14 Ruang-ruangyang dibentuk dengan berbagai cara....... 119
Gambar 4.4 Permainan kedalaman pada fasad mampu mengurangi Gambar 4.15 Elemen-elemen vertikal pembentuk ruang dapat
kekakuan bangunan.... 98 didefinisikan dengan pencahayaan (simulasi dengan
Gambar 4.5 Plaza yang dibentuk oleh massa bangunan software Dialux 4.2 dan lampu Erco)............................ 122
menghadirkan ruang yang representatif ketika Gambar 4.16 Ruang-ruang yang dibentuk oleh elemen horizontal
dipadukan dengan elemen-elemen alam, seperti dapat dipertegas dengan berbagai pendekatan
vegetasi dan air 99 pegcahayaan (simulasi dengan software Dialux 4.2
dan lampu Erco)............ ....... l2')
xviii Desain Pencahayaan Arsitektural Daftar Gambar

Gambar 4.17 Cahaya yang dihasilkan oleh api unggun akan Gambar 4.29 Elemen garis yang dibentuk oleh rangka baja pada
mendefinisikan ruang dengan luas tertentu yang Menara Eiffel tetap dapat diakses secara yisual
sangat tergantung pada intensitas cahaya yang walau dari jarak yang cukup jauh. ............ 74].
dihasilkan. .....'.. 124
Gambar 4.30 Strulctur gantung gedung HSBC Hong Kong semakin
Gambar 4.18 Warna cahaya dapat digunakan untuk menciptakan dominan pada malam hari.............. 142
ruang dan mempertegas batasan-batasan ruang.. ......... 126
Gambar 4.31 Selain harus mampu mendefinisikan fungsi serta
Gambar 4.19 Ruang sirkulasi linear dibentuk dengan permainan aktivitas yang terjadi, sebuah plaza kota juga harus
pola cahaya (simulasi dengan software Dialux 4.2 mampu menciptakan kondisi visual yang menaril<...... t4s
dan lampu Erco)............ ....... 727
Gambar 4.32 Lampu jalan memiliki peran yang sangat vital dalam
Gambar 4.20 Penggunaan cahaya langsung (kiri), langsung dan baur mendefinisikan pergerakan dengan kecepatan tinggi.. 147
(tengah), dan cahaya baur (kanan) memberikan efek
visual yang berbeda. ............ I29
Gambar 4.33 Cahaya yang dihasilkan bollardmamptt
mendefinisikan pergerakan pejalan kaki pada
Gambar 4.21 Peletakan lampu uplightakan memengaruhi impresi jalur pejalan kaki............. t47
pada sebuah massa. .............. 131
Gambar 4.34 Dengan desain pencahayaan yang baik, pergerakan
Gambar 4.22 Pertemuan antarbidang dan garis yang jelas, serta air dapat menciptakan sajian visual yang menarik. ..... t49
latar belakangyar,ggelap membuat sebuah massa
dapat dipahami dengan baik.............. ....,.. 132
Gambar 4.35 Pergerakan air dengan kecepatan tinggi tetap dapat
dinikmati dengan aksentuasi pencahayaan 149
Gambar 4.23 Penambahan filter warna mampu membuat sebuah
massa mendominasi konteks. ................... 133
Gambar 5.1 Contoh simbol yang dapat digunakan pada rencana
Gambar 4.24 Pertemuan kolom dan balok menjadi semakin kuat titik lampu.. t54
melalui pencahayaan ........... 134
Gambar 5.2 Spesifikasi lampu menunjukkan secara lengkap
Gambar 4.25 Tingkat transparansi dan jenis material akan fotometri, sumber cahaya, sudut cahaya, daya,
memengaruhi arah dan sebaran cahaya..............,......... 1 35 intensitas cahaya serta material, dan dimensi armatur. 156
Gambar 4.26 Sumber cahaya yang diletakkan di dalam kaca Gambar 5.3 Spesifikasi lampu bollard lengkap dengan fotometri,
semitransparan mampu memberikan efek visual yang sumber cahaya, material, dan dimensi 157
menarik. .......... 137
Gambar 5.4 Contoh detail konstruksi pada lampu columndan
Gambat 4.27 Arah pantulan cahaya sangat ditentukan oleh tekstur reccesed l5rJ
permukaan. ..... 139
Gambar 5.5 Tiilgkat akurasi sudut cahaya sangat dipengaruhi
Gambar 4.28 Tekstur yang berbeda pada sebuah fasad akan oleh produk armatur lampu. I (;)
menghasilkan efek cahaya yang berbeda pula ............. 140
Daftar Tabcl BAB 1
Peran Pcncahayaan
dalam Arsitcktur
Tabel 2.7 Hasil persepsi visual terhadap kualitas pencahayaan...... 33

Tabel 2.2 Standar pencahayaan jalan ............ 40

Tabel 2.3 Standar pencahayaan jalur pejalan kaki............. 42


Pencahayaan memainkan peranan yang sangat penting
Tabel 2.4 Standar pencahayaan tempat parkir terbuka........ 43 dalam arsitektur, baik dalam menunjang fungsi ruang
Tabel 2.5 Perbandingan alat ukur kuantitas cahaya......... 48 dan berlangsungnya berbagai kegiatan di dalam ruang,
membentuk citra visual estetis, maupun menciptakan
kenyamanan dan keamanan bagi para pengguna ruang.
Tabel 3.1 Perbandingan 1ampu.......... 66
Dalam skala makro, pencahayaan berperan dalam
menciptakan identitas kawasan dan memungkinkan
Tabel 4.1 Bahan-bahan yang tidak tembus cahaya 136 terjadinya pergerakan manusia dengan baik melalui
Tabel 4.2 Bahan-bahan yang tembus cahaya......... r37 informasi visual yang jelas. Di sisi lain, dalam skala
mikro, kebutuhan fungsional ruang, estetika bentuk
arsitektural, dan al<sentuasi pada ruang dan detail
menjadi suatu kebutuhan perancangan dengan pen-
cahayaan yang menjadi faktor utamanya.

1.1 ilt,tBINIUl( KARAI(ITR (0lA,lttLALUl


DI'AIN PTi'ICAHA)/AAN'

Iklim globalisasi dan industrialisasi membawa kese-


ragaman pada wajah kota, seperti halnya dengan
keseragaman gaya hidup warga kota. Antara kota yang
satu dengan yang lainnya terlihat produk-produk yang

Manurung, Parmonangan. "Membentuk Karakter Kota Melalui


Desain Pencahayaan". Rubrik Desain Harian Kompas, Minggu, 26
November 2006.
Desain Pencahayaan Arsitektural Peran Pencahayaan dalam Arsitektur

nyaris sama, misalnya pada desain bangunannya. ciptakan kondisi visual yang kondusif pada malam hari
bagi pengendara kendaraan bermotor dan pejalan kaki
Pemilihan elemen kota lainnya, seperti furnitur jalan,
sehingga tercipta kenyamanan, rasa aman, kgselamat-
papan reklame, lampu jalan, telepon umum, sampai
an, dan mobilitas kendaraan bermotor yang dapat
tempat sampah, yang merupakan produk buatan yang
berjalan dengan baik.
diproduksi secEra massal, turut berperan dalam ter-
ciptanya suatu keseragaman. Pada perkembangannya, sebagai bagian dari peran-
cangan kota, peran pencahayaan ruang kota tidak
Dalam menciptakan dan memperkuat karakter kota,
hanya terjadi dalam lingkup fungsional semata. Unsur
desain memainkan peranan sangat vital. Desain kota
estetika pun harus menjadi perhatian utama.
yang berangkat dari unsur-unsur yang terkandung
dalam budaya dan kearifan lokal memiliki karakter
yang sangat kuat dan mampu menciptakan identitas
kota. Gombor l.l
Podo siong hori,
elemen pentohoyoon
Salah satu pendekatan yang dapat digunakan untuk
horus memperkuol
memperkuat karakter kota adalah dengan melalui
korokter kowoson
desain pencahayaan kota (urban lighting) karena sekilornyo, seperli
desain tersebut mampu menciptakan suatu kesan desoin yong

visual tertentu. Namun, kesalahan dalam menentukan konleksluol, seloros


dengon bongunon don
dan memilih konsep pencahayaan kota juga dapat
furnilur jolon
menjadi bumerang yang justru menjadi penyebab
pudarnya identitas kota.
Penggunaan lampu jalan dan lampu dekoratif yang
Penekanan pada kesan yisual melalui pencahayaan diproduksi secara massal menyebabkan terciptanya
dapat dilakukan pada beberapa elemen vital ruang keseragaman antarkota. Di samping itu, pertimbangan
kota, misalnya pada lampu jalan, kawasan bersejarah, pemilihan lampu jalan sering kali haaya memper-
kawasan komersial, kawasan tepian ur (water fron), hatikan estetika pencahayaan pada malam hari, di saat
dala tetenger (penanda, landmark) kota.
lampu masih menyala tanpa mempertimbangkan kon-
disi di siang hari pada saat lampu mati. Akibatnya,
sering kali lampu tersebut menjadi tidak kontekstual
l.l.l Pancohoyoon Jolon dengan fasilitas kota lainnya dan tidak menarik secara
Secara umum, fungsi dari pencahayaan kota adalah visual.
untuk menciptakan penerangan yang dapat mendu- !
kung berbagai aktivitas suatu lingkungan perkotaan.
Pencahayaan jalan, misalnya, "bertugas" untuk men-
Desain Pencahayaan Arsitektu ral Peran Pencahayaan dalam Arsitektur

.l..l.2
Pencohoyoon podo Bongunon

Konsep pencahayaan pada bangunan dalam lingkung-


an perkotaan harus memiliki pendekatan yang berbeda
karena karakteristik tiap bangunan juga berbeda.
Gombor I.2 Bangunan lama, misalnya, biasanya kaya berbagai or-
Woloupun memiliki
persomoon dengon
namen dan detail arsitektural yang menarik, dan
lompu-lompu di membutuhkan aksentuasi dalam memperkuat karak-
beberopo kolo di Eropo, ternya. Penekanan dapat dilakukan dengan memberi-
lompu di Jolon
kan cahaya dalam intensitas yang tinggi, penggunaan
Molioboro, Yo gyokorlo,
lebih menekonkon
filter warna, maupun dengan menciptakan pola cahaya
penggunoon unsur lokol. yang mempertegas pola pada fasad.
Nomun, koreno lidok
diimbongi dengon Pendekatan yang berbeda terjadi pada kawasan
penoloon yong boik, komersial. Sebagai kawasan yang sangat lekat dengan
lompu lersebul iklim globalisasi dan industri, kawasan ini sering
lompoknyo honyo
memainkan peran untuk menghapus identitas lokal.
menghosilkon rilro
visuol yong buruk. Namun, dengan melakukan pendekatan desain yang
beorientasi pada budaya lokal, bukan tidak mungkin
Lampu jalan harus mempertimbangkan konteks kota jika kawasan komersial dapat digunakan unfuk
sehingga mampu menciptakan kesatuan desain yang menonjolkan karakter suatu kota.
utuh yang dapat memperkuat karakter kota. Desain
Preseden nyata ditunjukkan oleh kawasan komersial
dan peletakan lampu jalan harus dipertimbangkan
bersama dengan desain furnitur jalan lain. ]ika syarat
di |alan Malioboro, Yogyakarta. Penggunaan lampu
jalan yang sangat khas dengan ornamen serta warna
ini tidak dipenuhi, lampu jalan hanya akan me-
nyajikan polusi visual.
yang sangat identik dengan budaya lokal semakin
memperkuat karakter yang dimilikinya.
Unsur dekoratif dan kekhasan yang berangkat dari
kearifan budaya lokal dapat menjadi pertimbangan Di sisi lain, pendekatan desain pencahayaan pada ka-
wasan komersial tidak hanya mengenai pencahayaan
konseptual. Dengan demikian, sebuah kota akan
jalan. Pencahayaan billboard dan papan reklame me-
memiliki fasilitas yang betul-betul menjadi miliknya
rupakan hal yang harus mendapatkan perhatian lebih.
dan sp iri t lokalitasnya tetap teriaga.
Pencahayaan papaa reklame yang tidak memiliki
konsep jelas pada u'ap bangunan dapat menghasilkan
kualitas visual sangat buruk, bahkan dapat men-
ciptakan polusi cahaya yang sangat berbahaya bagi
Desain Pencahayaan Arsitektural Peran Pencahayaan dalam Arsitektur

pengguna jalan, terutama untulc pengendara kendara- makro yang jelas. Desain pencahayaan kota harus
an bermotor berkecepatan tinggi. dapat terbaca sebagai pola besar yang jelas dalam
lingkungan perkotaan, elemen mana yang berperan
Tentu hal ini bukanlah pekerjaan yang mudah, meng- sebagai titik awal dan elemen mana yErng merupakan
ingat adanya kepentingan ekonomi dan bisnis yang titik klimaksnya. Tentu saja setiap elemen peran-
melatarbelakangi kawasan tersebut. Perlu kebijakan cangan harus berangkat dari kearifan budaya lokal
yang kuat dan arahan rancangan yang telah diper- setiap kota. Tanpa itu semua, hanya akan ada satu
timbangkan dengan sangat matang, serta memper- identitas kota di seluruh dunia yang mengacu pada
hatikan tidak hanya sisi fungsional dan desain pen- satu kultur.
cahayaannya saja, tetapi j.rga pertimbangan sisi
ekonomi yang menguntungkan semua pihak.

.l.1.3
Penondo Koto

Elemen kota lainnya yang perlu mendapatkan pene-


Gombar I.3
kanan pada mdlam hari tentu saja adalah tetenger Peron iemboton
(penanda) kota. Sebagai penanda kota, elemen ini [rosmus di Kolo
harus mendapat penekanan lebih dibandingkan Rollerdom, Belondo,
sebogoi penondo koto
elemen lain. Tetenger kota dapat berupa bangunan,
semokin kuol dengon
rugu, sculpture, jembatan, atau karya arsitektural pentohoyoon podo
Iainnya. elemen kobel don
slruklur ulomonyo
Penekanan melalui pencahayaan dapat dilakukan
dengan menampilkan detail yang spesifik, elemen
struktur, tekstur, maupun menciptakan efek bayangan. 1.2 PINCAI|AyAAN DALA,tl ARillfllUR

Penciptaan kesan visual yang dramatis pada tetenger 1.2..l (ebuluhon fungrionol
kota akan menghadirkan suatu kesan terhadap ruang
kota pada setiap orang yang melaluinya. Pengalaman Pencahayaan memainkan peranan yang sangat penting
ruang yang terus terbentuk akan menimbulkan atau dapat dikatakan sangat vital dalam arsitektur. Se-
orientasi terhadap ruang kota sehingga perar, tetenger cara umum, sebuah karya arsitektural membutuhkan
kota sebagai elemen penanda pun akan tercapai. cahaya dalam pemenuhan kebutuhan fungsional, yang
merupakan salah satu tujuan utama arsitektur. Peme-
Dalam mencapai tujuan terbentuknya karakter kota, nuhan kebutuhan fuigsional ini sangat terkait dengan
desain pencahayaan harus dipertimbangkan secara berjalannya berbagai aktivitas di dalam mang. Dengan
komprehensif dan mengacu pada sebuah konsep adanya cahaya, kita memiliki orientasi terhadap ruang
Desain Pencahayaan Arsitektural Peran Pencahayaan dalam Arsitektur

dan mampu mendefinisikan massa. Dengan mengenali berlangsung di dalamnya dapat berjalan dengan baik.
kondisi di sekitar kita, kita akan memiliki pemahaman Demikian pula halnya dengan kebutuhan pencahayaan
dan pemaknaan tentang kondisi sebuah ruang pada ruang luar, tanpa terpenuhinya kebutuhan
sehingga dapat memutuskan tindakan yang tePat saat pencahayaan, kita akan kehilangan orientasi terhadap
melakukan setiap aktivitas. ruang dan berbagai objek yang ada di sekitar kita.

Pemanfaatan pencahayaan sec:ra fungsional untuk


memenuhi standar kuantitas cahaya yang dibutuhkan
1.2.2 Ciho Viruol
dalam suatu aktivitas tertentu di dalam sebuah ruang Sebuah objek arsitektur dapat dinikmati apabila indra
sering kali menjadi hal yang utama di dalam proses visual kita mampu mengakses dengan baik informasi
perancangan arsitektur. Hal ini merupakan sesuaftt visual dari elemen-elemen arsitekturalnya. Intensitas
yang sangat wajar karena bagaimanapun juga sebuah cahaya yang kurang akan menyebabkan ketidakleng-
ruang harus mampu memenuhi tanggung jawab ke- kapan informasi visual yang kita terima. Sebaliknya,
gunaannya. Dalam kondisi ini, pencahayaan memain- intensitas cahaya yang berlebihan akan menyebabkan
kan peran penting agar tujuan tersebut dapat ter- kesilauan sehingga elemen arsitektural yang kita lihat
penuhi. Namun, pemenuhan fujuan fungsional bukan- menjadi tidak jelas.
lah satu-satunya ntgas pencahayaan, kebutuhan akan
estetika, kenyamanan, dan keamanan pun menjadi Ketidaklengkapaa informasi visual yang diterima oleh
tugas lain yang harus diselesaikan dalam sebuah desain indra penglihatan kita akan memengaruhi persepsi dan
pencahayaan. pandangan kita terhadap sebuah objek visual. Dengan
kata lain, bangunan yang memiliki desain yang me-
Pencahayaan lebih bersifat kuantitatif jika pencahaya- narik, permainan bentuk yang indah, maupun kekuat-
an ditujukan sebagai penunjang fungsi dan aktivitas an detail yang dominan sekali pun hanya akan mem-
sebuah ruang (baik interior, eksterior, maupun dalam berikan kesan yang buruk ketika semua unsur tersebut
skala ruang kota). Kondisi ini memang akan menuntut tidak dapat diakses dengan baik oleh penglihatan. Pada
pencahayaan untuk mampu memenuhi standar kuan- siang hari, cahaya matahari memegang peranan dalam
titas dalam menampilkan informasi visual yang di- pencahayaan sehingga kita mampu melihat berbagai
butuhkan oleh tiap-tiap kegiatan. elemen visual yang ada di sekitar kita. Namun, ketika
malam hari tiba, hampir semua peranan itu dipegang
Secara kuantitas, pencahayaan dirancang agar dapat
oleh cahaya buatan. Dengan demikian, kekhasan
memenuhi kebutuhan visual manusia. Dalam hal ini,
karakter yisual sebuah karya arsitektural di malam
intensitas cahaya merupakan bagian terpenting dalam
hari akan dapat dinikmati kembali melalui desain
proses perancangan. Pada interior bangunan, setiap
pencahayaan yanltepat.
ruang dengan fungsi berbeda akan memiliki kebu-
tuhan cahaya yang berbeda agar setiap aktivitas yang
l0 Desain Pencahayaan Arsitektural Peran Pencahayaan dalam Arsitektur il
Kekurangan dari cahaya matahari adalah cahaya yang Pada umumnya, bangunan-bangunan lama yang ber-
merata dan menyebar sehingga kesan visual yang sejarah memiliki karakteristik yang kuat. Selain unsur
tercipta terlihat datar tanpa ada aksentuasi tertentu, sejarah yang melekat padanya, bangunan-bangunan
terutama pada detail-detail bangunan yang diharapkan lama biasanya memiliki kekayaan bentuk dan per-
dapat tampil dominan. Selain itu, arah cahaya yang mainan detail maupun onlamen sebagai suatu peng-
tidak tetap karena sangat dipengaruhi oleh garis edar hargaan pada setiap pertemuan, baik pertemuan struk-
matahari pada setiap perubahan waktu dapat me- tur maupun elemen arsitektural. Menurut Rossi
nimbulkan citra visual yang senantiasa berubah. (1982), elemen-elemen kota yang sangat berperan
Walaupun demikian, kekurangan tersebut sebenarnya dalam pembentukan karakter historis adalah bangunan
dapat menjadi suatu kelebihan pada desain apabila bersejarah yang signifikan dan memiliki hubungan
dipertimbangkan secara matang dan menyeluruh, dengan latar belakang sejarah dalam membentuk ka-
seperti yang terjadi ketika perancang menggunakan rakter kawasan. Dengan demikian, kualitas penca-
elemen-elemen bangunan unfuk membatasi dan hayaan pada bangunan-bangunan bersejarah tidak
mengarahkan datangnya cahaya. hanya memengaruhi citra visual bangunan tersebut,
namun juga memengaruhi karakter kawasan yang
Sedangkan pada malam hari, pencahayaan artifisial
menjadi lokasi bangunan tersebut.
akan memainkan peran vital dalam memproduksi
kualitas visual, serta menjadi faktor yang sangat me- Dalam konteks kawasan, Lynch (1960) berpendapat
mengaruhi penciptaan citra visual arsitektur yang bahwa kualitas fisik yang diberikan oleh suatu sistem
baik. Semakin kuat karakter dari sebuah karya arsitek- visual pada suatu kawasan dapat menimbulkan suatu
tural, semakin besar pula tuntutan pada kualitas image yang cukup kuat pada seorang pengamat ter-
pencahayaan artifisial. Hal ini menjadi wajar untuk hadap kawasan tersebut. Kualitas ini dinamakan seba-
dilakukan agar citra visual yang ditampilkan tetap gai kemampuan yang mampu mendatangkan kesan
terjaga, terlebih jika karya tersebut mampu meng- (imageabiliq). Imageability sangar erat hubungannya
hasilkan citra visual yang baik pada siang hari. dengan kejelasan atau kemampuan "terbacanya"
(legibiliq4 suatu kawasan. Berkaitan dengan hal ini,
Gombor 1.4 menurut Lynch, image terhadap suatu kawasan ber-
Gereio Blenduk yong kaitan dengan tiga komponen, yaitu identitas dari
berodo di kowoson suatu objek yang dapat membedakannya dengan objek
berseioroh Koto tomo
lain, struktur yang mencakup pola hubungan antar-
Semorong memiliki
korokter visuol yong
objek dengan pengamat dan objek dengan objek lain
songol kuol sehinggo dalam suatu kawasan, dan makna yang diberikan oleh
mompu berperon objek atau lingkuigan kepada pengamat.
sebogoi londnork
kowo son.
t2 Desain Pencahayaan Arsitektural Peran Pencahayaan dalam Arsitektur t3

Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa peranan Selain itu, elemen vegetasi yang berperan sebagai .fore-
pencahayaan, khususnya pencahayaan artifisial, dalam ground pw mendapat perlakuan khusus pencahayaan
pembentukan citra visual bangunan maupun kawasan sehingga seluruh elemen pada tapak menjadi satu
merupakan hal yang vital. Karakteristik bangunan kesatuan visual, penggunaan cahaya berwarna putih
yang kuat dapat ditonjolkan melalui suatu desain semakin mempertegas warna hijau daun. Di bawah
pencahayaan yang baik sehingga citra visual bangunan cahaya matahari, semua elemen arsitektur diperlaku-
tersebut akan mendominasi konteks. kan sama tanpa ada penekanan pada satu elemen,
seperti halnya pada warna cahaya yang diberikan.
Oleh sebab itu, dominasi elemen-elemen arsitektural
lebih mengarah pada perbedaan dimensi, garis-garis
tegas yang berirama, maupun pemilihan material,
Gombor I.5
tekstur, dan warna.
Pencohoyoon memiliki
kemompuon dolom
meningkolkon cilro
.l.2.3
foktor (enyomonon don (aomonon
visuol bongunon dengon
menoniolkon elemen- Pada masa-masa awal penemuan lampu, kebutuhan
elemen don deloil
fungsional lampu menjadi tujuan yang utama, sebuah
orsileklur moupun
lonskop, lerutomo podo
kebutuhan yang memungkinkan berbagai kegiatan
bongunon lomo yong pada malam hari dapat berlangsung. Meskipun demi-
memiliki koroklerislik kian, faktor kenyamanan, terlebih keamanan, juga
yong kuol
menjadi kebutuhan yang tak terpisahkan.

Seperti yang terlihat pada gambar 1.5, sebuah ba- Faktor kenyamanan yang dihasilkan melalui penca-
ngunan lama yang terdapat di Kota Dussedorf, Jerman, hayaan artifisial sangat berkaitan dengan bagaimana
mampu menampilkan citra visual yang sangat baik kita dapat melakukan berbagai aktivitas dengan benar.
dengan adanya pencahayaan artifisial. Garis-garis Aktivitas kita di sebuah ruang terbuka, misalnya, akan
vertikal bangunan yang sekaligus berperan sebagai berjalan dengan baik apabila kita dapat menyusuri
sistem struktur menjadi semakin dominan dengan jalan, melintasi jembatan, menuruni tangga, maupun
penggunaan lampu sorot (uplighr) yang berwarna membaca di plaza tanpa mengalami kesulitan untuk
kekuningan, sedangkan elemen bidang horizontal di- mengakses objek-objek tersebut secara visual. Me-
tampilkan secara merata agar permainan bata ekspos nuruni tangga dalam kondisi kurang cahaya akan
dapat tampil dengan baik. Pencahayaan pada dinding menimbulkan rasa khawatir pada keselamatan kita
tersebut juga menghasilkan efek bayangan pada spasi karena adanya keterbatasan informasi visual yang
di antara batu bata sehingga mampu mempertegas diterima dari kegiatan yang kita lakukan. Kondisi
kesan tiga dimensi tekstur. cahaya yang berlebihan ketika kita sedang membaca
t4 Desain Pencahayaan Arsitektural Peran Pencahayaan dalam Arsitektur t5

juga akan rnenciptakan kondisi yang jauh dari ke- bangunan (pintu, jendela, dsb.) agar cahaya yang ma-
nyamanan karena pantulan cahaya yang ditimbulkan suk bukanlah cahaya langsung melainkan cahaya yang
justru menghalangi akses kita kepada tulisan yang kita telah dipantulkan oleh berbagai objek di sekitarnya.
baca. Pada pencahayaan artifisial, kap lampu sering kali
digunakan untuk menghalangi datangnya cahaya lang-
Seperti cahaya matahari, pencahayaan artifisial juga sung dari sebuah sumber cahaya. Cara lain yang biasa
memengaruhi tingkat kenyamanan kita tidak hanya digunakan adalah dengan memantulkan cahaya lang-
melalui pemenuhan intensitas cahaya terhadap tun- sung ke sebuah bidang permukaan (langit-langit,
tutan kebutuhan aktivitas yang dilakukan, tetapi juga dinding, atau lantai) sebelum mengenai mata. Namun,
melalui energi panas yang ditimbulkannya. Walaupun penggunaan elemen pemantul yang berbahan meng-
kebutuhan intensitas cahaya telah terpenuhi dengan kilat dapat membuat cahaya terkonsentrasi pada satu
baik, namun, jika lampu yang kita grlnakan menghasil- area sehingga elemen tersebut justru akan menyilau-
kan panas yang tinggi sehingga memengaruhi kondisi kan.
termal ruang tempat kita beraktivitas, maka tingkat
kenyamanan pun akan menurun. Namun, pada kondisi Perkembangan teknologi dan desain lampu yang ada
ruang dan aktivitas yang berbeda, kadang kita memang saat ini telah merespons kondisi tersebut. Berbagai
membutuhkan peningkatan suhu ruang sehingga lampu (sumber cahaya dan rumah lampu) yang meng-
lampu-lampu yang menghasilkan energi panas (seperti hasilkan cahaya tidak langsung dan dilengkapi dengan
lampu pijar, halogen, dsb.) dapat digunakan. Lampu- bidang reflektor telah diproduksi. Selain itu, lampu
lampu tersebut tidak hanya menciptakan kehangatan dengan sumber cahaya langsung pun sekarang sudah
ruang secara fisiologis, namun juga secara psikologis dilengkapi dengan filter anti-glare sehingga harga
melalui warna cahaya kekuningan (warm ligh) yar.lg lampu tersebut menjadi relatif lebih mahal.
dihasilkannya.
Dengan menggunakan prinsip-prinsip di atas, tingkat
Salah satu faktor penyebab ketidaknyamanan yang kesilauan akan dapat direduksi sehingga tingkat
dihasilkan oleh suatu sumber cahaya adalah kesilauan kenyamanan pun relatif lebih mudah dicapai. Hal ini
@1r*). Kesilauan terjadi akibat cahaya secara langsung sangat penting terutama bagi ruang-ruang dengan
atau tidak langsung mengenai mata dengan intensitas aktivitas yang membutuhkan konsentrasi dan tingkat
yang tinggi. Hal yang sama juga terjadi ketika kita keselamatan yang tinggi.
menghadap ke arah matahari tanpa menggunakan
pelindung mata.

Dalam upaya untuk mengurangi tingkat kesilauan


yang diakibatkan oleh cahaya matahari, kita sering
kali menambahkan elemen bidang pada bukaan
tL
t9
Desain Pencahayaan Arsitektural

BAB 2
l(ualitas dan Kuantitas
Pencahayaan
,Y

Pencahayaan memainkan peran yang sangat penting


dalam kehidupan manusia, bahkan makhluk hidup
lainnya pun memiliki ketergantungan yang sangat
Gombor I '6 besar pada cahaya. Pada hakikatnya, manusia mem-
Penggunoon
butuhkan cahaya untuk mendapatkan informasi visual
pentohoYoon lidok
mengenai kondisi di sekitarnya, baik kondisi ruang,
longsung Podo lomPu
iolon mouPun iolur
benda, orientasi, pergerakan, kebutuhan akan berlang-
peiolon koki okon sungnya aktivitas tertentu, dan berbagai informasi
mereduksi lingkot visual lainnya.
kesilouon don membuol
okses visuol meniodi Secara fungsional, cahaya diburuhkan agar manusia
lebih nYomon
dapat melakukan berbagai aktivitas, baik aktivitas
bekerja, bermain, berolahraga, maupun membaca.
Oleh sebab itu, kebutuhan intensitas cahaya sangat
tergantung pada aktivitas yang akan dilakukan. Selain
memiliki tujuan fungsional, yaitu untuk menampilkan
informasi visual, pencahayaan juga memiliki peran
dalam meningkatkan kualitas visual. Dalam konteks
perancangan arsitektur, pencahayaan dapat digunakan
untuk meningkatkan citra visual bangunan, terutama
pada malam hari. Dengan adanya dua kebutuhan ter-
sebut, desain pencahayaan sering kali dikelompokkan
ke dalam dua tujuan pemenuhan kebutuhan, yairu
1. kualitas pencahalraan dan
2. kuantitas pencahayaan.

,{-": i: li.
"...t

i', ". ,tt


l, ,i .t

irrtlrt
Kualitas dan Kuantitas Pencahayaan t9

Dalam desain pencahayaan, kedua tujuan tersebut menciptakan respons positif yang menyentuh sisi psi-
sering kali tidak dapat dipenuhi secara bersamaan kologis malusia.
sehingga orientasi hanya diberikan pada salah satu di
antaranya. Secara garis besar, kualitas pencahayaan Pada siang hari, dalam kondisi langit yang cerah, caha-
lebih berorientasi pada pemenuhan kebutuhan psiko- ya matahari mampu menampilkan massa bangunan
logis manusia, sedangkan kuantitas pencahayaan lebih dengan jelas. Berbagai elemen eksterior bangunan,
ditujukan pada pemenuhan kebutuhan fungsional seperti fasad, taman, jalur sirkulasi, dan sebagainya
ruang agar pencahayaan mampu memenuhi tuntutan mampu memberikan informasi visual yang dibutuhkan
aktivitas terhadap intensitas cahaya. oleh indra perglihatan kita. Namun, sumber cahaya
tunggal dengan arah cahaya yang menyebar secara
Tanpa cahaya, kita tidak dapat mengenali kondisi di merata (baur) yang dihasilkan cahaya matahari, mem-
sekitar kita, tidak memiliki orientasi, dan tidak mampu berikan kesan yang datar tanpa adanya penekanan
menerjemahkan ruang dan massa. Tanpa cahaya, arsi- pada satu bagian tertentu. Bayangan-bayangan yang
tektur pun seakan tidak bernilai. Namun, pencahayaan tercipta pun menuju pada arah dan sudut yang sama.
tidak melulu persoalan fungsional dan estetika. Dengan kata lain, seluruh elemen arsitektur akan
Persoalan lain adalah mengenai pandangan, penca- memiliki porsi yang sama dalam memberikan infor-
hayaan merupakan bantuan bagi manusia untuk dapat masi visualnya.
melihat dengan nyaman dan efektif (Stef$2, 2002).
Untuk itu, teknologi pencahayaan yang telah berkem- Selain itu, kualitas cahaya alami yang baik dari cahaya
bang dengan sangat pesat harus dipadukan dengan matahari tidak dapat dipertahankan karena posisi
sentuhan desain untuk memenuhi kebutuhan psiko- bumi terhadap matahari akan selalu berubah dan me-
logis dan fisiologis pengguna ruang atau orang yang mengaruhi kualitas pencahayaan yang dihasilkannya.
"mengonsumsinya" secara visual. Faktor lain yang memengaruhi kualitas cahaya mata-
hari adalah kondisi cuaca yang tidak dapat diprediksi.
Kondisi langit yang berawan, mendung, maupun cerah
2.1 ruALIASPTNCAI]A}/AAI.I
pun akan memberikan kondisi visual yang berbeda
Sebagai elemen yang sangat berpengaruh pada kondisi terhadap sebuah karya arsitektur.
visual suatu lingkungan, pencahayaan sangat berperan
dalam menciptakan suatu perasaan tertentu pada Kondisi yang berbeda terjadi pada malam hari ketika
setiap orang mengenai kondisi visual di sekitarnya. perancang memiliki kesempatan yang besar dalam
Pencahayaan yang mampu menciptakan suasana nya- menyusun konsep pencahayaan. Kesempatan tersebut
man dan memuaskan perasaan orang pada sebuah muncul dalam pengelolaan informasi visual dengan
lingkungan merupakan pencahayaan yang memiliki menonjolkan elemegr tertentu melalui cahaya dan, di
kualitas yang baik. Kualitas pencahayaan sangat terkait sisi lain, "menyimpan" elemen lainnya dalam bayang-
dengan kemampuan pencahayaan tersebut dalam an, memainkan warna, serta membenfuk varian pola
20 Desain Pencahayaan Arsitektural Kualitas dan Kuantitas Pencahayaan 2l

cahaya. Pengelolaan cahaya dapat dilakukan peran- Kualitas pencahayaan memang sangat bersifat subjektif
cang untuk mendukung konsep arsitekfural bangunan karena sangat ditentukan oleh perasaan yang di-
dengan memainkan intensitas cahaya, arah cahaya, hasilkannya pada setiap individu. Untuk itu, dalam
dan warna cahaya sesuai dengan kualitas visual yang mengukur kualitas pencahayaan dari sebuah karya
diinginkan. arsitektur, seorang peranc:ulg dapat melakukan suatu
pendekatan pada respons visual melalui suatu Peng-
Secara sederhana, desain pencahayaan artifisial tidak
amatan maupun penelitian. Dengan adanya resPons
berbeda dengan tata rias wajah atau make-up yang
masyarakat pada sebuah desain pencahayaan, terutama
digunakan untuk memperindah penampilan dan citra
pencahayaan eksterior, PerancElng dapat mengetahui
visual dengan penonjolan pada satu bagian dan pe-
kualitas pencahayaan yang ada.
nyimpanan pada bagian lainnya dengan bayangan.
Dengan demikian, pencahayaan juga dapat digunakan
untuk meningkatkan kualitas visual sebuah karya 2.1.1 Penepri Viruol
arsitektur pada malam hari, bahkan jika karya tersebut
Sebagai bidang yang sangatterkait dengan penciptaan
memiliki kualitas visual yang biasa-biasa saja.
kondisi visual, dalam proses Perancangannya, para
Cahaya menjadikan segala sesuatu yang ada di sekitar perancang harus mengerti kebutuhan fisiologis dan
kita memiliki informasi visual sehingga otak mampu psikologis manusia akan pencahayaan. Dalam menca-
menerjemahkannya dan menghasilkan respons terten- pai tujuan tersebut, pemahaman mengenai persepsi

tu. Estetika yang melekat pada sebuah karya arsitektur visual merupakan langkah awal yang dapat dilakukan.
pun mampu ditangkap oleh mata karena kehadiran
Setiap orang akan memiliki persepsi atau penilaian
cahaya. Pencahayaan menjadi sangat penting karena
tertentu kepada setiap informasi visual yang diterima
sebagian besar informasi yang didapatkan manusia
oleh indra penglihatannya. Persepsi yang muncul pada
bersumber pada indra penglihatan.
setiap orang dapat berbeda-beda dan sering kali sangat
Penerangan lingkungan yang baik akan membantu dipengaruhi oleh pengalaman masa lalu mereka'
kita mengerjakan pekerjaan dan membuat kita merasa
Di dalam desain pencahayaan, persepsi visual memain-
nyaman ketika mengerjakannya. Walaupun terkesan
kan peranan yang sangat penting. Menurut Lam
sederhana, pernyataan ini merupakan tujuan dari
(1977), "Untuk merancang pencahayaan yang baik,
lighting design, untuk menciptakan kenyamanan, sua-
perancang harus mengerti kejelasan prinsip-prinsip
sana yang menyenangkan, dan ruang yang fungsional
dan proses persepsi rrisual, serta kebutuhan manusia
bagi setiap orang di dalamnya (Lam,1977).
terhadap informasi visual. Kita tidak membutuhkan
Secara kualitatif, pencahayaan dapat berhasil apabila teknologi yang leb,ih atau lampu yang lebih. Yang kita
mampu memberikan respons yang positif dan meme- butuhkan adalah bagaimana cara mengaplikasikan
nuhi kebutuhan psikologis orang yang mengamatinya. teknologi untuk menyelesaikan masalah'" Persepsi
??______-___ Desain pencahayaan Arsitektural Kualitas dan Kuantitas Pencahayaan 23

visual pada suatu proses perancangan lebih bersifat ;-;; ;;;;-; .,,;,;",,"*n,u Ka,a.
kua li ta ti f daripada ku an ti ta ti f. Menurut Lam, penilaian kata tersebut merupakan pasangan kata sifat dengan
kita pada ruang tergErntung bagaimana ruang tersebut arti yang berlawanan. William Lam (1977) meng-
dapat memenuhi harapan*harapan kita. Kita menilai ungkapkan beberapa kata yang dapat digunakan, yaitu
sebuah ruarrg terang atau. gelap bukan karena tingkat
pencahayaan ruang secara aktual, tetapi karena ke-
Tidakfokus Fokus

mampuan pencahayaan lingkungan untuk memenuhi


Silau BercahaYa

harapan-harapan dan memuaskan kebutuhan infor-


Suram Riang

masi visual. Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa


Pudar Menarik

tidak ada standar yang bersifat baku dan dapat me-


Kacau Teratur

nentukan suatu persepsi tertentu terhadap pengaruh-


Umum Intim
Tidak Menyenangkan MenYenangkan
pengaruh yang dihasilkan oleh suaru instalasi pen-
Tidak bersahabat Bersahabat
cahayaan. Persepsi visual mencakup lebih dari sekadar
Tidak cocok Cocok
respons pasif dan mekanis pada pola pencahayaan.
Persepsi yisual adalah sesuatu yang kompleks, proses Dengan menggunakan pasangan kata yang mengacu
aktif dari penilaian, informasi, penyaringan, inter- pada penilaian kondisi visual, kita dapat mengetahui
pelasi, dan harapan-harapan yang dikombinasikan ke kecenderungan yang diakibatkan oleh kondisi pen-
dalam data untuk menghasilkan persepsi yang berarti. cahayaan tertentu pada orang-orang yang mengamati-
nya. Pasangan kata dengan skala tertentu akan mem-
Dalam desain pencahayaan pada objek-objek arsitek- bantu perancang dalam mengukur persepsi visual
tur, pemahaman pada persepsi visual menjadi bagian masyarakat atau komunitas tertentu yang terkait
terpenting karena objek-objek arsitektur sangat me- langsung dengan desain pencahayaan yang (akan)
mengaruhi kualitas lingkungan visual di sekitarnya. dibuat.
Perlu dicatat bahwa bukan arsitek atau lighting
designer-lah yang akan menikmati hasil karya mereka, Setiap orang akan meny"rkai suasana yang nyaman,
melainkan orang-orang yang melewati bangunan menyenangkan, menimbulkan rasa santai, jauh dari
tersebut. Untuk itu, merekalah yang menjadi penentu segala ketegangan, dan kondisi yang menakutkan' Sua-
kualitas visual yang akan dihasilkan (Manurung, sana tersebut dapat dirasakan apabila seseorang berada
2007). pada kondisi lingkungan yang mendukung' Mengingat
besarnya pengaruh informasi visual yang disampaikan
oleh mata kepada otak terhadap sisi psikologis manu-
2.1.2 lilengukur Perrepri Viruol
sia, penciptaan kondisi visual yang baik menjadi sangat
Dalam upaya pengukuran persepsi visual para peng- penting, dan penc*hayaanlah yang memegang peranan
guna ruang dan pengamat (uiewer) terhadap kualitas tersebut. Suasana hati seseorang tentu merupakan
sebuah desain pencahayaan, kita dapat menggunakan faktor yang sangat memengaruhi persepsi mereka
24 Desain Pencahayaan Arsitektural [-s.1rg-d-t5:flg'-I-l-tEv::l- -----------1:

terhadap kondisi visual tertentu. Mereka yang sedang spacious (luas) dengan lawan katanya, cramped
sedih, kecewa, marah, dan sakit hati cenderung akan (sempit).
memberikan respons yang negatif bahkan terhadap
kondisi visual yang baik sekali pun.
3. Preference
Preference mengacu pada evaluasi pengguna se-
Senada dengan Lam, Gary Steffy, seorang lighting cara keseluruhan terhadap pencahayaEln ruang'
designer, memiliki pendekatan yang sama dalam Skala diferensial yang bisa digunakan adalah 'Irte
mengukur persepsi visual terhadap sebuah karya (suka) dengan lawan katanya, d'rslrAe (tidak suka)'
desain pencahayaan. Menurut Stetry (2002), "Penem-
patan titik lampu @eripheral versus overhead) akan
4. Relaxatian
Relaxation mengacu pada derajat intensitas peker-
memengaruhi kenyamanan dan kelapangan mang.
jaan yang dirasakan Pengguna. Pencahayaan yang
Distribusi cahaya (uniform versus nonuniform)
tidak seragam (bervariasi) akan menciptakan pera-
berpengaruh pada keluasan. Intensitas cahaya (bright
saan santai. Sedangkan pencahayaan yang seragam
versus drm) berpengaruh pada kejelasan visual."
dan memusat akan menciptakan perasaan tegang'
Lebih jauh, Stef$, mengungkapkan adanya lima penga-
ruh yang terkait dengan pencahayaan, yaitu visual 5. Iatimacy
Intimacy mengacu pada persepsi pengguna ter-
clarig (kejelasan visual), spaciousness (keluasan),
hadap privasi atau keakraban sebuah ruang' Skala
preference (pilihan), relaxation (relaksasi), dan
d.iferensial yang bisa digunakan adalah privat
intimacy (keakraban).
(privat) dengan lawan katanya, public (umttrr.)'
1. Visual Clarity
Visual claity mengacu pada kemampuan Dari penelitian yang pernah dilakukan penulis2'
pengguna (users) untuk membedakan detail-detail didapatkan beberapa faktor penting dalam desain
arsitektur dan interior, perlengkapan, dan objek pencahayaan yang berpengaruh pada persepsi visual
Iainnya. Dalam pengujian, kita dapat mengguna- manusia. Penelitian yang dilakukan terhadap desain
kan kata clear (jelas) dengan lawan katanya, hazy pencahayaan pada fasad dengan menggunakan tiga
(kabur). p"."-"t"., yaitu arah cahaya (overhead difrtse'
uplight, dan downlighr), intensitas cahaya, dan warna
2. Spaciousness menunjukkan beberapa kesimpulan' Arah
Spaciousness mengacu pada persepsi pengguna ""nuyu yang paling disukai responden adalah arah
cahaya
terhadap volume ruang. Kurangnya pencahayaan
cahaya yang dihasilkan oleh lampu downlight darr
pada sebuah ruang akan menciptakan pembatasan
mang. Kata-kata yarlg bisa digunakan unflrk Pencahayaan Fmade Bangunan Pada
2 MaDurutr8, Psrmonangan.2g)2 "Fakor_Faktor Penentu Sistem
menguji kondisi visual sebuah mang adalah IGwun". taporan Tesis 52 Magiser Dsain Kawasan Binaan UGM' Yogyalam'
Kualitas dan Kuantitas Pencahayaan

uplight. Sementara itu, arah cahaya merata (diffuse) tersebut terlihat jelas bahwa suasana menarik dapat
yang dihasilkan oleh lampu overhead dif{use cen- diciptakan oleh pola cahaya lampu uplight darr
derung tidak disukai. Lampu overhead diffuse mampu downlightmelalui bayangan yang dihasilkan oleh arah
memberikan efek cahaya yang terang, namun men- cahaya lampu serta penekanan bentuk tiga dimensi
ciptakan suasana yang monoton dar. sederhana. bangunan.

Lampu downligh ting dan upligh ting lebih disukai oleh Penelitian dengan parameter intensitas cahaya dilaku-
responden dan menghasilkan persepsi visual yang di- kan pada tiga tipe ruang luar yang berbeda. Pada
tunjukkan pada kata-kata yang dipilih, yaittt kon- kondisi ruang luar yang pertama, bangunan hanya ada
pleks, uariatid menarik, dan menyenangkan. Hasll pada salah satu sisi ruas jalan, sedangkan pada kondisi
penelitian terhadap araVpola cahaya menyimpulkan ruang luar kedua, bangunan terdapat pada kedua sisi
bahwa lampu downlighting dan upltghting menghasil- ruas jalan. Pada kondisi ruang luar ketiga, bangunan
kan respons yang cenderung ke arah positif atau terdapat pada kedua sisi ruas jalan, namun dengan
mendapatkan respons yang lebih baik dibandingkan jalan yang lebih lebar. Dengan menggunakan inten-
dengan lampu overhead diffuse. Pola cahaya yang di- sitas yang sama (intensitas rendah dan tinggi) pada
hasilkan oleh lampu uplightdan downtighf mencipra- ketiga tipe ruang luar tersebut didapatkan kesimpulan
kan respons (persepsi) menarik karena arah cahaya bahwa tipe ruang eksterior yang berbeda akan mem-
kedua lampu tersebut mampu menghasilkan efek-efek berikan efek cahaya dan kesan yang berbeda. |ika
bayangan pada bangunan dan mampu menonjolkan elemen ruang jalannya semakin kompleks dan lebar
bentuk, tekstur, dan detail bangunan. Kondisi ini jalannya semakin kecil, kondisi visualnya akan men-
menciptakan suasana yang variatif dan tidak monoton, jadi semakin terang, jelas, ceia, dan mampu mencip-
yang berbeda dengan suasana yang dihasilkan oleh takan rasa aman. Demikian pula sebaliknya, jika
lampu overhead diffuse. elemen pembentuknya semakin sederhana dan ruas
jalannya semakin lebar, kondisi visualnya akan men-
Menurut Lam (1977), sebuah objek atau ruang yang
jadi semakin gelap dan jauh dari kejelasan, keceriaan,
memiliki perhatian yang baik jarang sekali digambar-
dan rasa aman. Merrurut Lam (1977), "Persepsi ter-
kan secara visual rzerz bosankan. Bagaimanapun juga
hadap kuat terang cahaya, seperti halnya pada warna,
sesuatu yang bersifat membosankan tidak dapat dibuat
dipengaruhi oleh kekontrasan. Objek-objek dengan
menarik jika perancang hanya mengandalkan pening-
tingkat pencahayaan yang sama akan terlihat terang
katan pencahayaan pennukaan. Lingkungan tersebut
atau gelap tergantung pada pencahayaan relatif pada
dapat diubah jika pencahayaan mendapatkan tambah-
konteksnya."
an warna yang lebih releyan dan tepat bagi perhatian
visual, dengan bayangan yang dihasilkan oleh arah Pada parameter terckhir, yaitu warna cahaya, empat
cahaya yang menekankan bentuk tiga dimensi, atau jenis warna akan digunakan sebagai filter warna pada
memakai cahaya yang dramatis. Dari pernyataan lampu. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penam-
28 Desain Pencahayaan Arsitektural Kualitas dan Kuantitas Pencahayaan 29

bahan filter warna (color filter) pada lampu memiliki oleh pemakaian filter warna hijau adalah cende-
kecenderungan untuk menghasilkan respons negatif fi)ig sangat kabur sangat suram, sangat jelek,
dari para responden. Para responden cenderung tidak sangat tidak mengundang, saflgat tegang, dart
menyukai penambahan filter warna, hal ini diikuti sangat tidak menyenangkan Secara keseluruhan,
oleh respons lain yang menyerrainya, yaitu gelap, grafik filter warna hijau cenderung mengarah ke
kabut suram, membosankan, tegang, dan tidak aman. arah negatif dan sangat negatif.
Secara umum, respons yang diberikan terhadap pe-
nambahan filter warna dengan empat jenis warna yang 4. Warna Biru
berbeda memiliki kecenderungan dan pola yang sama, Secara keseluruhan, efek yang ditimbulkan oleh
yaitu ke arah negatif. Namun, secara spesifik respons penambahan filter warna biru hampir sama

yang dihasilkan oleh keempat warna tersebut cukup dengan efek yang ditimbulkan oleh warna merah.
bervariasi. Berikut adalah penjelasan mengenai pema- Hal ini terlihat dari pola grafik yang dibentuk oleh
kaian keempat warna tersebut sebagai filter warna. kedua filter warna tersebut, yaitu cenderung
kabur, suram, jelek, tidak mengundang, mem-
1. Warna Kuning bosankan, tegang, dan cenderur,g tidak disukai.
Penambahan filter warna kuning memiliki kecen-
derungan untuk menghasilkan kondisi visual yang I dealnya, tahap perancangan penc ahayaan arsitektural
Lebih terang, jelas, dar, lebih disukai jika diban- harus dilakukan bersama dengan proses perancangan
dingkan warna yang lainnya, akan tetapi warna arsitektur atau setidaknya dilakukan sebelum proses
kuning tidak mampu menciptakan rasa aman. konstruksi dimulai sehingga produk desain pencaha-
Secara umum, penambahan filter warna kuning yaan dapat terintegrasi dengan desain arsitektural dan
berada pada pilihan netral dan lebih baik daripada tahap instalasi dapat sejalan dengan pelaksanaan kon-
warna lainnya. struksi bangunan. Untuk iru, dibutuhkan kerja sama
antara pihak konsultan perencana (arsitek), konsultan
2. Warna Merah
lanskap, pihak mekanikal elektrikal (ME), kontraktor
Penambahan warna merah pada lampu cenderung
pelalsana, dan pihak terkait lainnya.
tidak disukai responden karena menghasilkan
kondisi visual yang cenderung kabur, suram, jelek, Pasalnya, konsep arsitektur yang telah dibuat oleh
tidak mengundang, membosankan, dar, tegang. arsitek perencana maupun arsitek lanskap harus dapat
ditunjang oleh pencahayaan pada malam hari. Demi
3. Warna Hijau
kian hatnya dengan pihak pelaksana, dengan menge-
Filter warna hijau menghasilkan grafik yang
tahui desain pencahayaan sejak awal, pihak pelaksana
sangat tegas yang mengarah ke arah negatif dan
dapat mengatur ploses pelaksanaan dan instalasi
merupakan filter warna yang paling tidak disukai
sehingga sanggup meminimalkan terjadinya kesalahan,
di antara semua filter warna yang digunakan maupun kesalahan peletakan kabel (cabling) yang
dalam simulasi. Efek visual lain yang ditimbulkan
30 Desain Pencahayaan Arsitektural Kualitas dan Kuantitas Pencahayaan 3t

mengganggu estetika bangunan. Namun, tidak sedikit dilakukan pada bangunan yang telah berdiri. Langkah
juga desain pencahayaan yang justru dibuat pada ba- ini dilakukan untuk mendapatkan data mengenai
ngunan yang telah berdiri, misalnya pada bangunan- kualitas visual bangunan sebelum proses perancErngErn
bangunan lama yang bersejarah. dilakukan. Tahapan ini
dapat dilakukan pada dua
kelompok waktu yang berbeda, yaitu
Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa desain pen-
cahayaan arsitektural dapat dilakukan pada dua tahap- 1. siang hari (daytime)
an yang berbeda, yaitu Pengukuran persepsi visual pada siang hari sangat
1. dilakukan pada bangunan yang telah berdiri dan penting dilakukan untuk mendapatkan respons
masyarakat terhadap elemen-elemen arsitektural
2, terintegrasi dengan perancangan arsitektur.
bangunan. Cahaya matahari yang datar dan merata
akan menampilkan seluruh elemen bangunan se-
Walaupun memiliki kelemahan, karena proses yang
cara merata pula. Oleh karena itu, permainan
tidak terintegrasi dengan proses perancangan arsitek-
bentuk, dimensi, warna, maupun tekstur akan me-
tural dan tahap konstruksi, pengukuran persepsi visual
mainkan peran penting dalam membentuk karak-
terhadap bangunan yang telah berdiri memiliki ke-
untungan tersendiri. Pengukuran persepsi visual pada
ter bangunan. Selain itu, pengukuran perspesi
visuai terhadap kondisi visual bangunan pada siang
bangunan yang telah berdiri dapat dilakukan karena
hari dilakukan sebagai referensi dan perbandingan
bangunan tersebut telah memberikan informasi visual
untuk mengetahui elemen-elemen atau komposisi
yang telah membentuk persepsi tertentu pada setiap
yang menarik. Dengan demikian, perancang dapat
orang yang melaluinya maupun pada para pengguna-
menentukan konsep pencahayaan artifisial yang
nya. Kondisi ini akan memberikan berbagai informasi
paling tepat dan lebih objektif.
yang dibutuhkan perancang dalam memahami respons
visual terhadap kondisi nyata bangunan. Pengukuran 2. malam }l.ari (nightine)
persepsi visual, selain dapat dilakukan pada kondisi Untuk bangunan yang telah berdiri, sebelum
nyata bangunan, juga dapat dilakukan pada hasil membuat konsep pencahayaan, perancang dapat
perancangan dengan pendekatan yang berbeda. melakukan penilaian terhadap kondisi pencahaya-
an yang ada melalui persepsi visual. Hal ini
Dengan demikian, pengukuran persepsi visual dapat
penting untuk mengetahui kualitas pencahayaan
dilakukan pada dua tahapan, yaitu
bangunan maupun lanskap yang sesungguhnya
1. pada kondisinyata bangunan dan
sehingga dapat memberikan arah yang jelas pada
2. pada hasil perancangan. saat pembuatan konsep. Dengan mengetahui per-
sepsi visual terhadap kondisi pencahayaan bangun-
Pengukuran persepsi visual pada kondisi nyata ba- an yang sesungguhnya pada malam hari, peran-
ngunan dan elemen eksterior tentu saia hanya dapat cang akan mendapatkan informasi mengenai
32 Desain Pencahayaan Arsitektural Kualitas dan Kuantitas Pencahayaan 33

kekurangan dan kelebihan pencahayaan yang ada. Seperti yang tertulis dalam Tabe1 2.1, pada siang hari,
Hal ini sangat membantu dalam proses peran- gedung tersebut mampu terlihat dengan jelas, terang,
cangan. indah, dan mampu menghadirkan kesan mengundang,
tenang, dan aman. Sedangkan pada malam hari, tam-
Perbandingan kondisi siang hari, dengan cahaya mata-
pilan visual gedung tersebut terlihat suram, sederhana,
hari yang merata, terhadap kondisi pencahayaan pada
monoton, tidak dominan, dar, menimbulkan kesan
malam hari dapat dianalisis oleh perancang ketika
membosankan, tegang, dan tidak menyenangkan.
menentukan konsep perancangan dan efek-efek pen-
cahayaan sehingga pencahayaan mampu memenuhi Kondisi ini dapat diakibatkan karena penggunaan lam-
kualitas pencahayaan yang baik. Elemen-elemen yang pu yang tidak sesuai dengan kebutuhan visual bangun-
menimbulkan persepsi positif dapat lebih ditingkatkan an. Penggunaan lampu lloodlight yang sangat minim,
melalui pencahayaan pada malam hari. Demikian pula dengan warna warm light (kekuningan), menampilkan
halnya dengan elemen-elemen yang menimbulkan kesan suram pada bangunan, dan hilangnya detail dan
kesan negatif (baik pada kondisi nyata bangunan pada ornamen bangunan dalam bayangan.
siang hari maupun pada malam hari) dapat diting-
katkan kualitasnya melalui pengembangan konsep Penggunaan neonsign dart neonbox sebagai media
pencahayaan pada malam hari. identitas bangunan menjadi dominan secara visual
sehingga elemen-elemen arsitektural bangunan justru
menjadi tidak dominan.
Gcmbur 2.1
Kondisi nyoto bongunon
!5: ,,{r I { g -Z :3 i4 I!5
GElap T.rtng
podo siong hori pukul
11.00 WIB don podo
molom hori pukul 20.00
wt8
Jolo& lndah

Gambar 2.1 menunjukkan kondisi sebuah bangunan


bersejarah di Yogyakarta dengan gaya arsitektur kolo-
nialnya, dengan dua sumber cahaya yang berbeda,
Togans Tenang
yaitu pada siang hari (pencahayaan alami) dan pada
malam hari (pencahayaan artifisial). Pengukuran
Tobel 2.1
persepsi visual dilakukan untuk mendapatkan respons
Hosil persepsi visuol
pengamat (viewer) atau masyarakat yang berada di ......... siang hail
lerhodop kuolitor
malrm hai
sekitar lokasi terhadap kondisi visual bangunan. Se- (Sumber: Monurung, 2008) pencohoyoon

bagai bangunan sudut, bangunan ini memiliki peran -

yang sangat vital dalam konteks kawasan dan kota.


34 Desain Pencahayaan Arsitektural Kualitas dan Kuantitas Pencahayaan 35

Pengukuran persepsi visual pada hasil rancangan, baik perancangan yang sesungguhnya. Data tersebut dapat
pada desain yang terintegrasi dengan proses peran- berupa tingkat iluminasi rata-rata lingkungan, mate-
cangan arsitektur maupun pada desain pencahayaan rial yang ada, dan tingkat iluminasi. Semakin akurat
bagi bangunan yang telah berdiri, dapat dilakukan de- data yang dimasukkan, semakin akurat pula hasil
ngan beberapa metode, di antaranya adalah dengan simulasi yang dapat ditunjukkan kepada responden.
simulasi komputer dan pembuatan mock-up. Petg- Dengan menggunakan perangkat lunak komputer,
ukuran persepsi visual dapat dilakukan dengan mem- perancang dapat menghasilkan berbagai varian desain
buat simulasi pencahayaan pada model tiga dimensi sekaligus sehingga dapat memberikan berbagai alter-
yang dibuat dengan perangkat lunak komputer. natif desain dan memutuskan desain yang terbaik
Simulasi pencahayaan kemudian dapat digunakan berdasarkan hasil pengukuran persepsi visual.
untuk mengukur persepsi visual dan mendapatkan
masukan yang dibutuhkan dengan menunjukkannya
pada responden.
Gombur 2.3
5imulosi pencohoyoon
podo bongunon koryo
orsilek Belondo,
Ihomos Korslen, di
kowoson Kolo [omo
5emorong dengon sofl-
wore Iightsrope 3.2
(Sumber: Monurung,
20021
Gombor 2.2
Simulosi pencohoyoon Selain menggunakan simulasi komputer, perancang
podo kowoson Kolo juga dapat menggunakarr mock-up dan melakukan
[omo Semorong
simulasi dengan lampu yang sesungguhnya. Kualitas
dengon soflwore
[ighlscope 3.2r
simulasi pecahayaan pada mock-up tersebut kemudian
diukur melalui persepsi visual dengan cara yang sama
Namun, untuk mendapatkan hasil simulasi dengan seperti yang dilakukan pada bangunan yang telah
tingkat akurasi yang tinggi, perancang harus mema- berdiri. Hasil simulasi ini lebih akurat apabila di-
sukkan berbagai data yang terdapat pada kondisi lokasi bandingkan dengan simulasi komputer karena dilaku-
kan pada lokasi dan skala yang sesungguhnya sehingga
dapat dipahami den$n baik oleh indra yisual. Namun,
t Manurung, Parmonangan. "Kota Lama Semarang: Pudarnya proses ini tentu akan memakan waktu dan biaya yang
Sebuah Citra Visual Arsitektur". Rubrik Desain Harian lebih besar.
Kompx, Minggu, 13 April 2003.
36 Desain Pencahayaan Arsitektural Kualitas dan Kuantitas Pencahayaan 37

Pada pencahayaan eksterior, desainer memiliki tan-


2.1.3 Pengoruh Pancohoyoon p0d0 ri,i Prikologir
tangan yang sangat kompleks. Kebutuhan fisiologis
llonurio
dan psikologis para pengguna dan pengamat harus
Setiap informasi visual yang diterima oleh indra peng- betul-betu1 diperhatikan. Pada taman, misalnya, orang
lihatan akan disampaikan ke otak yang kemudian me- harus mampu mendapatkan informasi visual mengenai
ngolahnya sehingga menghasilkan dampak psikologis batasan ruang, elemen-elemen yang ada di sekitarnya
tertentu. Dalam hal ini jelas terlihat besarnya peng- (tanaman, bangku taman, jalan, kolam, dan sebagai-
aruh pencahayaan dalam menciptakan dampak psiko- nya), dan orientasi yang jelas. Kebutuhan tersebut
logis pada seseorang karena hanya dengan pencahaya- harus dipenuhi secara mutlak untuk menunjang fung-
anlah indra penglihatan mampu bekerja dan menerima sionalitas taman di malam hari. Secara psikologis,
informasi visual tentang kondisi yang ada di seke- taman juga harus mampu memberikan rasa aman bagi
lilingnya. setiap orang yang ada di dalamnya. Rasa aman akan
tercipta melalui kondisi pencahayaan yang cukup te-
Gary Steffy (2002) mengungkapkan empat faktor pada
rang dan memadai untuk melihat kondisi di sekeliling-
desain pencahayaan yang memengaruhi sisi psikologis
nya. Suasana yang gelap sering kali menimbulkan
manusia, yaitu
perasaan tegang, khawatir, gelisah, dan tidak aman.
1. faktor pengamat, Hal ini sangat terkait erat dengan tingginya tingkat
2. faktor lokasi cahaya, kriminalitas yang te4adi pada lingkungan yang
3. faktor distribusi cahaya, dan memiliki penerangan minimal atau tanpa penerangEln.
4. faktor intensitas cahaya. Selain mampu menciptakan rasa aman, pencahayaan
taman juga harus didesain secara menarik dengan
Masa lalu seseorang akan sangat memengaruhi respons
pemberian aksentuasi pada elemen-elemen di dalam-
yang diberikan pada kondisi visual tertentu. Faktor
pengamat sangat terkait dengan pengalaman masa lalu
nya. yang menyenangkan akan membuat
Suasana
orang merasa nyaman bila berada di taman pada
mereka, budaya, dan suasana hati saat itu. Pengalaman
malam hari.
yang menyenangkan atau yang buruk pada kondisi
visual tertentu akan membuat pengamat memberikan
respons yang sama ketika mereka mendapatkan 2.2 (UANTITA' PTNCAI{A)/AAI.I
kondisi visual lain yang sejenis. Selain itu, faktor
Dalam pembahasan sebelumnya telah disebutkan
lingkungan dan latar belakang seorang pengamat juga
bahwa kuantitas pencahayaan merupakan suatu upaya
akan memengaruhi persepsi psikologisnya pada untuk memenuhi kebutuhan fungsional mang. Kebu-
kondisi visual tertentu. Seseorang yang berasal dari
tuhan fungsional rangat terkait erat dengan aktivitas
sebuah desa terpencil tentu akan memiliki persepsi
yang terjadi pada ruang tersebut. Berbeda dengan
yang sangat kontras ketika berada dalam hiruk pikuk
kualitas pencahayaan yang lebih berorientasi pada
Iingkungan perkotaan.
38 Desain Pencahayaan Arsitektural Kualitas dan Kuantitas Pencahayaan 39

penciptaan penampilan visual (rrrsual performance), berasal dari sebuah desa kecil, misalnya, yang tingkat
kuantitas pencahayaan lebih tertuju pada pemenuhan pencahayaannya sangat terbatas, akan memiliki ke-
kebutuhan kerja visual (uisual task). tergantungan yang lebih kecil pada cahaya ketika
melakukan suatu aktivitas tertentu. Hal yang berbeda
Pada pencahayaan eksterior, kuantitas pencahayaan akan dialami oleh masyarakat perkotaan yang telah
akan dipengaruhi oleh aktivitas yang terjadi pada terbiasa mendapatkan kuantitas cahaya yang memadai
ruang tersebut. Misalnya, sebuah taman yang difungsi- sebagai penunjang aktivitas mereka.
kan sebagai ruang untuk bersantai dan hanya diguna-
kan untuk aktivitas duduk akan memiliki kebutuhan Namun, untuk mendapatkan suatu hasil perancangan
kuantitas cahaya yang berbeda dengan taman yang yang mampu mengakomodasi semua kebutuhan ma-
digunakan untuk kegiatan membaca. Dalam hal ini, nusia akan kuantitas cahaya, standar-standar penca-
fungsi ruang merupakan bagian dari proses perancang- hayaan yang telah dibuat berdasarkan beberapa hasil
an arsitektural. Pemenuhan kuantitas cahaya bagi penelitian perlu digunakan. Pada pencahayaan ekste-
fungsi tersebut adalah tugas perancang pencahayaan. rior, kebutuhan terhadap intensitas cahaya akan
berbeda dengan pencahayaan interior. Hal ini sangat
dipengaruhi oleh berbagai faktor yang sangat kom-
2.2.1 ltondor (ebutuhon Cohoyo
p1eks. Kondisi ruang luar, yang sangat dipengaruhi
Kebutuhan kuantitas cahaya bagi tiap orang akan oleh cahaya bulan, bintang, langit, kendaraan ber-
berbeda. Hal ini sangat terkait dengan kondisi dan motor, dan cahaya-cahaya pantulan dari bangunan
latar belakang orang tersebut. Faktor usia akan sangat sekitarnya, tidak memungkinkan adanya pengkalku-
berpengaruh pada kemampuan orang unruk melihat di lasian yang akurat. Selain itu, kemampuan manusia
dalam kondisi cahaya tertentu. Semakin tua usia se- untuk beradaptasi dengan kondisi pencahayaan di
seorang, semakin menurun pula kemampuan mata ruang luar lebih besar dibandingkan dengan kemam-
dalam merespons cahaya sehingga kebutuhan akan puan pada interior karena kondisi lingkungan akan
kuantitas cahaya menjadi semakin besar jika diban- menciptakan transisi dan tingkatan-tingkatan Penca-
dingkan dengan mereka yang berusia lebih muda. hayaan sebelum menuju area tertentu. Hal ini tidak
Pada ruang-ruang tertentu, kebutuhan kuantitas terjadi pada ruang dalam karena ketika kita memasuki
cahaya yang berbeda pada tiap-tiap usia dapat sebuah ruangan, kondisi pencahayaan ruangan ter-
dipenuhi. Namun, ketika berbicara mengenai ruang sebut bisa sangat berbeda dengan ruangan sebelumnya,
publik maupun ruang terbuka, perbedaan kebutuhan contoh paling nyata adalah ketika kita memasuki atau
tersebut sering kali tidak dapat diakomodasi. keluar dari sebuah studio di gedung bioskop.

Faktor lain yang turut memengaruhi kebutuhan sese- Kebutuhan kuantitqs cahaya yang berbeda bagi pen-
orang pada intensitas cahaya adalah latar belakang cahayaan interior dan eksterior telah menghasilkan
atau kondisi masa lalu orang tersebut. Seseorang yang standar pencahayaan yang berbeda, Tabel 2.2 - 2.4
40 Desain Pencahayaan Arsitektu ral Kualitas dan Kuantitas Pencahayaan 4t

akan memperlihatkan standar yang mengacu pada lEsl{a


Petuniuk (rosio rolo.
standar IESNA, Illuminating Engineering Society of Roodwoy Tolo Gunu Diskusi Conloh
lESt'lA
lluminun
rolo don
Class
North Ameica. Kuantitas cahaya ruang luar akan
sangat dipengaruhi oleh kondisi pencahayaan ling- .lolon Volume penggunoon Sebuoh iolur Sebuoh iolon
conblorlt
0.5 I( (5

lokol iolur pejolon koki yong Ialulinlos lokol yong melinlosi lx)
kungan, jenis kegiatan, tingkat kecepatan pergerakan, cukup podol (lESNA yong diluiukon fosilitos koto,
dan material yang digunakan. Oleh sebab itu, dalam men gklosilikosikonnyo sebogoi okses seperli
sebogoi kowoson longsung. Jolon perpuslokoon
desain pencahayaan eksterior, faktor-faktor tersebut "komersiol".) lokol lerhubung don pusol
6,1
harus menjadi pertimbangan, terutama dalam meme- dengon iolon- rekreosi,
ospol
0.7 lc(l
don/olou lr)
nuhi tuntutan kuantitas cahaya. iolon
penghubung me lolu i

menuiu iolon kompleks


Tobel 2.2 5londor pentohoyoon iolon ulomo. oporlemen don
oerlokoon
Unifornity
IESNA Jolon Tingkol kepodoton Sebuoh Sebuoh iolon 0.3 ft (3
Peluniuk (rosio rolo- iolur runblork
Roadwoy fulo Guno Diskusi Conloh lluminun lokol peiolon koki relolif lolu-linlos lokol yong melinlosi lrl
IESNA rfllo don
Closs rendoh. (liSNA yong dituiukon kom pleks
minimuml
mengklosilikosikonnyo sebogoi ukses perumohon
Jolon Tingkot kepodoton Sebuoh iolur Jolon yong 1.2 f(
conblotk sebogoi kowoson longsung. Jolon don/otou
ulom o iolon don iolur peiolon lolu-linlos yong melinlosi pusol ll ? lvl
krki yong tinggi podo menghubungkon kolo olou
"perumohon".) lokol lerhubung oporlemen 6:l
0.4 fr (4
dengon jolon- ospol
molom hori. (ltSNA beberopo iolur kowoson lx)
mengklosilikosikonnyo lolu-linlos perbelonioon iolon
penghubung
sebogoi kowoson ulomo podo dekot pusol 3:l
1.7 lc menuiu iolon
"kom ersiol".) kowoson bisnis kolo ospol
(l 7 lx) ulomo.
yong podol
dengon jolon (Sumber: Steffy, 2000)
royo olou jolur
kerelo ooi
Jolon Tingkol kepodolon Sebuoh lolur Jolon yong 0.6 f(
onblork (6 lx)
ulomo peiolon kuki relolif lolu-linlos yong melinlosi
rendoh. (ltSNA menghubungkon sebuuh 0.9 f(
ospol
m engk lo sifiko si konnyo beberopo iolur lingkungon 19 lr)
sebogoi kowoson lolu-linlos perumohon
"perumohon".) ulomo podo y0ng 3:l
kowoson bisnis menghubungkon
0.4 f(
yong podol kowoson bisnis ospol
(4 lx)
dengon iolon dengcn iolon
royo olou iolur r0y0
kerelo ooi
42 Desain Pencahayaan Arsitektural Kualitas dan Kuantitas Pencahayaan 43

Tobel 2.3 Slondor pencohoyoon jolur peiolon koki Walaupun buku ini lebih menekankan pada desain
pencahayaan arsitektural yang lebih berorientasi pada
Petuniuk lESl{A
Vertikol
pencahayaan eksterior bangunan, pengetahuan
Horizontol
Tipe
Totu Guno Diskusi Conloh Uniformity Unitormily
mengenai pencahayaan jalan tetaplah penting untuk
Trotoor
(rosio rolo" (rosio rolo- dipahami. Selain untuk pencahayaan jalur pejalan kaki
lluminon lluminon
rolo don rolo don
dan tempat parkir, standar IESNA untuk pencahayaan
minimum) minimum)
Troloor di Tingkol kepodolon Sebuoh Sebuoh trotoor jalan pun akan melengkapi pengetahuan mengenai
lepi jolon iolon don iolur lrolool yong dekol pencahayaan ruang Iuar secara keseluruhan.
pelolon koki yong dengon dengon iolon
linggi podo molom lingkol ulomo menuiu
Tobel 2.4 Stondor pencohoy00n lempol porkir lerbuk0
hori (ltSNA kepodolon kowoson
mengklosifikosikon linggi podo perbelonioon
Petuniuk 0psionol
kowoson ini sebogoi molom hori, di pusol kolo
kowoson y0ng
Tipe Horizonlol Vertikol
"komersiol".) berdekolon lfr (l 0lx) 4:l 2.21c(lllxl 4: l
Ruong Diskusi Uniformity Uniformity
dengon iolon
Porkir ftosio rolo- (rosio rolo-
dengon lluminon lluminon
rolo ke roto ke
lingkol
kepodolon
minimum) minimuml
kendoroon Iingkol Iempol porkir dengon
yong linggi kegiolon tingkot kegiolon yong
podo molom linggi linggi podo molom hori,
hori seperli kegiolon
Trotoor di Tingkol kepodolon Sebuoh Sebuoh troloor llc (l0lx) 4:l
olohrogo, budoyo olou
lepi loion peiolon koki relolil lroloor dekot dengon
kegiolon mosyorokol, don
tendoh. (lt5NA dengon jolon melolui
kegiolon perbelonioon di
mengklosifikosikon lingkol sebuoh
m0l
kowoson ini sebogoi kepodolon lingkungon
kowoson yong rendoh perumohon
0.zfr (2lx) 4:l 0.5fr (5lx) 5: I Iin gkol Iempol porkir dengon
"perumohon".) podo molom kegiolon lingkol kegiolon yong
hori don sedon g relolif rendoh podo
dekol dengon molom hori, seperli pusol
ir lnn perbelonioon mosyorokol,
0.21c (2lx) 4:l
Jroloor Tingkol kegiolon Sebuoh Sebuoh iolur porkir konlor, hondoro
don pejolon koki lidok lroloor don pejolon koki
don slosiun, pusol wisolo,
longgo lergonlung podo longgo yong podo lomon
don komoleks Derumohon
iouh dori iolon ulomo, nomun iouh dori kolo otou
jolur lelop Ti ngkol Tempot porkir dengon
lon iolon dengon kom pus
io
mengonlisipo5i lingkol
0.5fr (5lx) l0: I 0.5fc (5lx) 5:l kegiolon tingkol kegiolon yong
kegiolun yong kepodolon rendoh rendoh, seperli loko, 0.2fc (2lx) 4:l
lerjodi seponiong yong rendoh losililos induslri don
molo m. podo molom pendidikon, don oereio
hori
(Sumber: 5leffy,2000)
(Sumber: Sreffy, 2000)
I
I
i

44 Desain Pencahayaan Arsitektural Kualitas dan Kuantitas Pencahayaan 45

2.2.2 rllengukur l(uontitor Cohoyo Beberapa istilah dan satuan yang terkait pada kuantitas
cahaya, antara lain adalah
Dalam proses desain pencahayaan, ketika perancang
telah membuat konsep pencahayaan, maka perancErng l. iluminan (illumiaaace)
harus mampu memenuhi kebutuhan kuantitas pen- |umlah satuan cahaya yang mengenai sebuah
cahayaan sesuai dengan standar yang telah ditentukan bidang permukaan per unit area (satuan: lux [x])
dan sesuai dengan perunfukan masing-masing ruang.
Pemenuhan standar tersebut merupakan suatu upaya 2. iluminan vertikal (vertical illuminance)
untuk mengakomodasi berbagai kegiatan di dalam |umlah satuan cahaya (lux) yang mengenai sebuah
ruang agar semua kegiatan dapat berjalan dengan baik bidang vertikal (dinding, kolom, dsb.)
dengan pencahayaan yang mampu memberikan ber-
3. iluminan horizonal (horizoaal illuminance)
bagai informasi visual yang dibutuhkan dan mampu
fumlah satuan cahaya (lux) yang mengenai sebuah
menjalankan kerja visual. Di dalam bidang pen-
bidang horizontal (lantai, trotoar, jalan, langit-
cahayaan, terdapat beberapa istilah dan satuan yang
Iangit, dsb.)
perlu diketahui agar proses perancangan dapat berjalan
dengan baik. Istilah-istilah tersebut mengacu pada 4. luminan (luminance)
prinsip-prinsip kerja sumber-sumber cahaya dan |umlah satuan cahaya yang dipantulkan kembali
pengaruhnya terhadap lingkungan visual. oleh sebuah bidang permukaan (satuan: cd/m2)

5. lumen (lm)
Satuan yang digunakan untuk mengukur jumlah
cahaya yang keluar dari sebuah sumber cahaya per
satuan waktu.

6. Iux (lx)
Satuan yang digunakan untuk mengukur jumlah
cahaya yang mengenai sebuah bidang permukaan
per satu unit area. lx = lm/m2.
Gombor 2.4
lluslrosi istiloh don 7. candela(cd)
soluon yong digunokon Satuan yang digunakan untuk mengukur intensitas
dolom penrohoyoon
cahaya dari sebuah sumber cahaya.

Dalam memenuhi kebutuhan kuantitas pencahayaan


sebuah ruang, baik interior maupun eksterior, SteS
(2002) menyebutkan lima cara yang dapat digunakan,
46 Desain Pencahayaan Arsitektural Kualitas dan Kuantitas Pencahayaan 47

yail;l template, lumen method (metode l:urr;ren), point (terdapat pada katalog lampu yang dikeluarkan
method (metode point), dan computer calculation oleh pabrik lampu).
(kalkulasi komputer).
3. Poiat method atau metode titik biasanya diguna-
1. Template merupakan cEra yiurg sederhana dan
kan untuk mengukur pencahayaan pada titik-titik
cepat dalam mengukur kuantitas pencahayaan.
tertentu atau rangkaian titik-titik yang diterangi
Pengukuran dilakukan dengan menggunakan data
lampu yang digunakan, yaitu fotometri yang di-
dengan menggunakan sumber cahaya titik (misal-
nya, lampu halogen atau HIR PAR atau lampu
hasilkan, intensitas cahaya (lux atau fc) yang
MR). Metode ini juga dapat digunakan untuk me-
dihasilkan pada ketinggian tertentu (dari bidang
nyempurnakan metode lumen pada sebuah desain
kerja), dan jarak masing-masing lampu. Namun,
pencahayaan yang menggunakan lampu down-
pengukuran kuantitas pencahayaan dengan cara
-14gir. Namun, metode titik memiliki kelemahan
ini memiliki tingkat akurasi yang sangat rendah.
karena tidak memperhitungkan pantulan cahaya
Oleh sebab itu., template lebih banyak digunakan
yang terjadi pada bidang permukaan. Oleh sebab
pada pencahayaan site (site lighting) dan pen-
itu, metode titik lebih tepat iika digunakan pada
cahayaan jalur Qtath lighting).
ruang luar atau sebuah ruang dalam dengan
2. Lumen method atau metode lumen merupakan dinding dan langit-langit berwarna hitam.
cara menghitung kuantitas cahaya yang cukup 4. Computer calculation atau kalkulasi komputer.
banyak digunakan. Penghitungan dengan metode Perkembangan teknologi komputer yang sangat
lumen biasanya lebih tepat jika digunakan pada pesat telah membawa kemudahan dan meningkat-
pencahayaan dengan sumber cahaya yang seragam kan akurasi penghitungan kuantitas cahaya. Pe-
(uniform) pada bidang pencahayaan horizontal. rangkat lunak komputer tidak hanya mampu
Steffy menyebutkan bahwa faktor-faktor yang menghasilkan renderasi yang baik untuk menam-
berpengaruh pada metode Iumen adalah standar pilkan kualitas pencahayaan pada model tiga
pencahayaan, luas ruang, data lumen lampu (di- dimensi, namun juga mampu menghasilkan hasil
keluarkan oleh pabrik untuk tiap-tiap produksi yang akurat secara kuantitas. Perangkat lunak
lampu), faktor kehilangan cahaya yang dapat di- komputer untuk pencahayaan terbagi atas dua
pulihkan (menurunnya intensitas cahaya akibat teknik, yailrr flux transfer dan ray tracing, yang
memudarnya permukaan a-rmafur lampu, maupun mampu melakukan kalkulasi tidak hanya pada
permukaan ruang, baik akibat kotoran maupun metode titik dan metode lumen, namun juga dapat
akibat faktor usia, kondisi ini dapat dipulihkan digunakan untuk melakukan kalkulasi pada
dengan pengecatan, pembersihan, dan sebagainya), penggunaan berhagai jenis lampu yang berbeda
faktor kehilangan cahaya yang tidak dapat dipulih- (nonuniform).
kan (akibat tegangan listriVvoltase, ballast, serta
kondisi termal), dan koefisien penggunaan armatur
48 Desain Pencahayaan Arsitektural Kualitas dan Kuantitas Pencahayaan 49

Metode
femplotc Metode Titik Flux fonsfer fray frodng
lumen
a Buruk unluk o (ukup sompoi r Eoik o Boik sompoi r Boik sompoi
b9
IP
inlerior boik semp urn0 sempurn0
915 a (ukup boik
-=J
untuk
ek slerior
. (epol . (epol o lebih okurot o lebih okurol o Sempurno
o dolom
.tt meng ho sil-
o
o kon
Gombor 2.5
- vi suol
inoge

Penggunoon melode a llonyo a llonyo a Memb uluhkon a Hosil r Dibolosi


kolkulosi kuonlilos m emenuhi memenuhi woktu lebih lergonlung oleh doto
rohoyo podo desoin solu krilerio solu krilerio lomo doto yong yong odo
pencohoyoon ekslerior a Tingkol a Rolo-rolo a Tonpo dimosu kkon o Dibolosi
okurosi dopol niloi dosor muhi pontulon woktu
Tobel 2.5 Perbondingon olol ukur kuonlilos rohoyo di pertonyo- (tonpo niloi a Diosum sikon a Dopol . Dopot
kon minimum sumber cohoyo leriodi lerjodi
g a Niloi owol olou titik kesolohon kesol ohon
Metode E
femplole Metode Titik Flax fonsfer Roy fracing o (horu s moksimum) a 5umber cohoyo podo lingkol podo sisi
Lunen E
E a Dio sum sikon kelepolon keom on on
ditom bohkon yong besor
a Iongon a Tongon . Tongon . Tongon . Kompuler I
f
foktor-foklor podo a Berpolen .
o horus melolui si Serpolensi
I
(pensil, (kolkulotor) (kol kulotor) (kolkulolor) - perboikon) ruong/oreo pen gkol kulo si- meru sok meru so k
I
kerlos, don a Kompuler . Kompuler . Kompuler a Tonpo kosong (tonpo on lerpisoh pohon pohon
o olok)
m uhiponlulon obiek)
a Tongon
a D iosum sikon
(kol kulotor'l
podo
Tidok Yo Yo Yo Yo
ruong/oreo
E
kosong (lonpo
obiek)
=

Yo Yo Yo Yo Yo

cE
Et
.=o
EH
=o

Tidok Tidok Yo Yo Yo
E-
EE
EJ
EL
-O
=>
50
----- -- -- -P_:'_":f_:l:tzg lTl!:glll! Kualitas dan Kuantitas Pencahayaan

Metode
femplole
Iumen
Meiode Titik Flax fonsfer Ray fracing plaza yang mengakomodasi kegiatan yang lebih spe-
o Aplikosi o Aplikosi o Aplikosi r Aplikosi o Aplikosi
sifik, seperti membaca, dapat menggunakan metode
ekslerior inlerior ekslerior ekslerior ekslerior lumen. Apabila perErncang ingin menghasilkan peng-
o Aplikosi o Aplikosi r Aplikosi o Aplikosi o Aplikosi hitungan yang lebih akurat sekaligus memproduksi
inlerior ser0g0m inlerior inlerior inlerior citra renderasi, penggunaan komputer merupakan me-
o Aplikosi o Membuol r Aplikosi o Aplikosi o Aplikosi
tode yang tepat karena hasilnya juga dapat digunakan
ser0g0m layoalowtl rer0g0m ser0g0m ser0g0m
o Membuol r Membuol o Aplikosi o r Aplikosi sebagai bahan presentasi.
Aplikosi
loyoat owol perkiroon berogom berogom berogom
g o Membuof bioyo cukup o Membuol o Membuol o Membuol
E unluk
E perkiroon loyoul loyoal loyout
D
D bioyo pencohoyoon oksenluosi
6 oksentuosi oksenluosi
o tok longsung o
G Membuol o Membuol o Membuol
o Boik unluk loyoul loyoul loyoul
penrohoyoon penrohoyoon pencohoyo- pencohoyo-
longsung UMUM 0n umum 0n umum
r Membuol r Membuol o Membuol
loyout layoul loyoul
pencohoyoon penrohoyo- pencohoyo-
kerjo on kerio on kerio

(5umber: Steffy, 2000)

Dari perbandingan metode kalkulasi pada Tabel 2.5,


jelas terlihat bahwa masing-masing metode memiliki
kelebihan dan kekurangannya sendiri. Kelebihan dan
kekurangan tersebut sangat berhubungan dengan
kemampuan masing-masing metode dalam mencapai
tingkat akurasi, waktu penghitungan, kemudahan
pelaksanaan, maupun biaya yang dibutuhkan.

Dengan demikian, perancang dapat menentukan me-


tode yang akan digunakan berdasarkan faktor-faktor
tersebut. Untuk pencahayaan eksterior, pemilihan
metode kalkulasi dapat ditenrukan berdasarkan fungsi
ruang yang akan dirancang, misalnya tangga atau
tanjakan dapat menggunakan template, sedangkan
52 Desain Pencahayaan Arsitektural

BAB 3
Sumbcr Cahaya dan
Armatur Lampu Ekstcrior

Pemahaman mengenai sumber cahaya dalam desain


pencahayaan arsitektural (architecrural lighting
design) menjadi sangat penting mengingat tiap-tiap
sumber cahaya memiliki karakteristik, tingkat efficacy
(perbandingan daya yang dibutuhkan dengan kuat
cahaya yang dihasilkan), renderasi warna, dan tempe-
ratur warna yang berbeda. Dengan memahami karak-
teristik tiap-tiap sumber cahaya, kita dapat menentu-
kan sumber cahaya yang dapat memenuhi kebutuhan
desain, baik secara fungsional, citra visual arsitektur,
maupun faktor kenyamanan dan keamanan.

Pada perkembangannya, karakteristik sumber-sumber


cahaya akan menjadi lebih spesifik ketika digunakan
secara terintegrasi dengan armatur (fixrure) lampu'
Selain berperan dalam menjawab kebutuhan desain,
pemilihan rumah lampu bagi pencahayaan ruang luar
haruslah mempertimbangkan faktor iklim, kemudahan
perawatan, dan perilaku manusia. Menurut Moyer
(1992), di dalam memilih lampu bagi pencahayaan
ruang luar terdapat beberapa faktor yang sangat
penting untuk diperhatikan, yaitu intensitas, ukuran
fixture, besaran watt, tipe lampu (dalam variasi
beamspread dan watt), dan warna.
,f

54
Desain pencahayaan Arsitektural
Sumber Cahaya dan Armatur Lampu Eksterior 55

3.l,ltACA,tl.,ltACA/11 5U/'lBtR CAt{AyA


Namun, karena harganya yang lebih murah diban-
Secara garis besar, sumber cahaya dibedakan
atas dua dingkan jenis lampu lainnya sefta kemudahan insta-
kelompok, yaitu incandescent tamp (sumber lasinya, lampu pijar sangat diminati oleh banyak
cahaya
yang mengeluarkan cahaya akibat terjadinya pema_ orang. Selain itu, warna kekuningan (warm lighfl yarg
nasan pada kawat filamen) dar- discharge lamp
(lamprt dihasilkannya pun mampu menciptakan suasana ha-
yang pengoperasiannya mengunakan ballast). ngat, akrab, lebih alami, dan teduh sehingga lampu
Namun,
untuk memudahkan identifikasi, sesuai dengan produk pijar sering digunakan sebagai lampu utama pada
lampu yang banyak beredar di pasaran, pJa bahasan hunian.
ini sumber cahaya dibagi atas empat kelompok, yaitu
Dari segi bentuk, lampu incandescenr memiliki bebe-
f. incandescent lamp(lampu pijar), rapa varian yang disimbolkan dengan huruf besar pada
2. fluorescent lamp (lampu fluoresens), setiap tipe lampu. Untuk lampu incandescenr, bentuk
3. Iligh Intensity Discharge, dar_ lampu meliputi S-straight side, F-flame, G-gobular,
T-tubular, PAR-parabolic aluminized reflector, R-
4, LED. reflector, MR-multimirror reflector, dan A-arbitrary.a
Variasi bentuk tersebut memungkinkan para desainer
3..I.1 lnconderanl Lomp (Lompu pijor) pencahayaan untuk menghasilkan desain yang
beragam, baik secara efek pencahayaan maupun secara
Lampu pijar merupakan salah satu lampu yang paling tampilan visual lampu. Lampu PAR, R, dan MR, sesuai
tua usianya sejak pertama kali dikembangkan oleh dengan namanya, telah dilengkapi dengan reflektor
Thomas Alva Edison. Lampu yang di Indonesia lebih sehingga dapat berfungsi sebagai lampu sorot tanpa
dikenal dengan sebutan bohlam karena bentuknya harus tergantung pada rumah lampu. Sedangkan
yang menyerupai bola sesungguhnya memiliki lampu incandescenr lainnya cenderung memiliki dis-
efficacy
yang paling kecil di antara sumber cahaya modern tribusi cahaya yang menyebar (diffiise) dan variasinya
lainnya. Dari total energi listrik yang digunakan, lebih ditekankan pada bentuk lampu secara visual.
hanya sekitar 7Oo/o saja yang diubah menyadi cahaya,
sedangkan sekitar 90olo lainnya dibuang sebagai Dalam mengidentifikasi varian lampu berdasarkan
energi
panas. Kondisi ini menjadi salah satu faktor simbol huruFhuruf tersebut, yang mengindikasikan
yang me_
nyebabkan usia lampu pijar menjadi pendek (sekitar bentuk lampu, klasifikasi lampu juga dibedakan ber-
1000 jam). Berdasarkan prinsip kerjanya, lampu dasarkan ukurannya. Ukuran lampu biasanya ditulis
pijar
akan menghasilkan cahaya melalui pemanasan setelah simbol huruf dan dibuat dalam satuan 1/8
filamen
dalam ruang hampa yang diisi dengan gas argon inchi. Sebagai contoh, lampu R40 berarti lampu
atau
gas lainnya. Pemanasan yang terjadi d.alam
bola kaca
tersebut dilakukan dengan menggunakan energi
listrik. a Moyer, L.M. 1992. The l^andscape Lighting. New York: ]ohn
Wiley & Sons, Inc.
Sumber Cahaya dan Armatur Lampu Eksterior 57

reflektor dengan diameter 40/8 inchi atau 5 inchi (12,5 3..l.2 fluorerent Lomp (tompu fluorelenr)
cm). Contoh lain, MR16 merupakan lampu multi-
mirror reflector dengan diameter 2 inchi, PAR56 Lampu fluoresens di Indonesia lebih dikenal dengan
merupakan lampu parabolic aluminized reflector de- sebutan yang sesungguhnya keliru, yaitu lampu "neon"
ngan diameter 7 inchi, dan seterusnya. padahal pada hakikatnya' lampu neon ditujukan pada
sumber cahaya yang menggunakan gas neon' Sebutan
Pada tipe incandescenr, lampu halogen merupakan lain untuk lampu fluoresens adalah lampu TL (Tubular
sumber cahaya yang mampu menghasilkan cahaya de- Lamp) karena berbentuk tabung, walaupun variasi
ngan warna cahaya putih yang lebih seimbang di- bentuk lampu jenis ini sesungguhnya sangat banyak'
bandingkan dengan jenis konvensional. Selain itu,
lampu halogen memiliki bentuk dan konsumsi daya Lampu fluoresens merupakan bagian dari lampu LPD
yang bervariasi, dengan efficacy dan usia yang lebih (Low Pressure Discharge). Dalam Proses penyalaan
baik, sehingga banyak digunakan pada pencahayaan lampu, Iampu ini menggunakat ballast yang berperan
interior dan eksterior. Namun, tentu saja kelebihan- sebagai pengatur arus listrik ke lampu'
Penggunaan

kelebihan tersebut akan berdampak pada harga lampu ballast menyebabkan lampu fluoresens tidak dapat
yang lebih mahal. dinyalakan dengan seketika seperti yang dapat di-
lakukan pada lampu pijar. Lampu fluoresens merupa-
kan sumber cahaya berbentuk tabung yang diisi
dengan gas merkuri, argon' fosfor, dan gas lainnya
Gombor 3.1
Lompu in con de s re n I olou yang berperan membantu perpindahan elektron di
yong dl lndonesio lebih dalam tabung.
dikenol sebogoi lompu
piior olou bohlom Pada desain pencahayaan ruang luar, lampu fluoresens
banyak digunakan untuk menghasilkan cahaya yang
merata untuk memenuhi kebutuhan fungsional ber-
bagai aktivitas. Cahaya putih jernih yang merata yang
dihasilkan dengan kecenderungan untuk tidak meme-

Gomhor 3.2
? 6 0 ngaruhi warna benda, membuat lampu fluoresens
-r-pu menampilkan objek visual dengan sangat baik'
Namun, kinerja lampu fluoresens sangat dipengaruhi
oleh temperafur ruang sehingga lampu fluoresens

?
Beberopo voriosi benluk
lompu piior : (ol s troight tidak dapat bekerja secara maksimal pada ruang luar
side,(b) flone,(c) kecuali berada Plda armatur lampu mauPun di antara
lubulor,ldl porobolk elemen arsitektur yang melindunginya dari perubahan
oluninized refleclor, don
temperatur.
le) reflector
58 Desain Pencahayaan Arsitektural !v*::-9:!r-g{T*:-BrH!f:::13I--------- ----s-?

600 mm,900 mm, 1200 mm, dan 1500 mm dengan


Ada dua bentuk lampu yang akan dibahas dalam
kuat arus 17 watt, 25 watt' 32 watt' dan 40 watt.
uraian berikut, yaitu bentuk tabung linear dan bentuk
Sedangkan T5 memiliki diameter yang lebih kecil,
kompak.
yaitu 1,5 cm, dengan variasi paniang tabung, 560
1. BennrkTabungLinear mm, 864 mm, 1163 mm, dan 1473 mm dan dengan
Bentuk standar lampu fluoresens adalah tabung variasi energi listrik yang dibutuhkan, 14 watt, 21
linear yang memanjang dengan berbagai ukuran watt, 28 watt, dan 35 watt. Dengan diameter yang
dan diameter. Bentuk ini menyebabkan lampu hanya 15 mm, lampu ini tentu lebih kecil di-
fluoresens standar menjadi tidak efisien dalam bandingkan dengan rekannya, T8. Keliling tabung-
pemanfaatan mang maupun pemasangannya. Na- nya juga lebih kecil 40olo dibandingkan tabung T8
mun, di sisi lain, hal ini justru menjadi kelebihan sehingga mampu mengurangi jumlah kaca, mer-
tersendiri dalam menghasilkan cahaya yang mem- kuri, dan fosfor yang dibutuhkan (lebih mampu
bentuk elemen garis, baik secara langsung maupun bertahan lsustainable) dibandingkan T8)'5
tidak langsung.
Lampu fluoresens linear dengan diameter terkecil
yang beredar di pasaran saat ini adalah T2. Dengan
diameter yang hanya 2/8 inchi atau 0.6 cm, T2
sangat efisien untuk digunakan sebagai cove
tighting atau Pencahayaan ceruk. Dengan bentuk
yang sangat ramping, namun dengan intensitas
cahaya yang tinggi dan kebutuhan daya yang
Gombor 3.3
rendah, lampu T2 menjadi sangat efisien untuk
Perbondingon dimensi
lompu fluoresens TI2,
digunakan dalam berbagai desain pencahayaan.
T8, T5, don 12
2. Bentuk Kompak (Compact Fluoresceat lamp)
Dalam menjawab tuntutan efisiensi, Iampu fluore- Dalam memenuhi kebutuhan efisiensi ruang dan
sens yang berbentuk tabung linear mengalami proses instalasi yang mudah seperti lampu pijar,
perkembangan pada diameter dan panjang tabung- pada perkembangannya lampu fluoresens telah
nya. Beberapa tipe yang banyak dikenal adalah diproduksi dalam bentuk kompak atau sering
T12, T8, T5, dengan tipe yang terkecil dan terbaru disebut CFL (Compact Fluorescent Lamp). Bentuk
adalah T2. Huruf 7 berarti lampu dengan tipe CFL sendiri memiliki banyak variasi bentuk. Selain
tubular (tabtng), sedangkan angka di belakangnya agar tampil menarik, variasi bentuk juga di-
menunjukkan diameter lampu tersebut yang pengaruhi oleh kebutuhan cahaya yang akan
berbanding 1/8 inchi, misalnya T8 berarti lampu
fluoresens bentuk tabung dengan diameter 1 inchi 5 Stef$,, Gary. 2002. Architectural Ligltting Design. New York:
atau 2,5 cm. Lampu T8 memiliki variasi paniang )ohn Willey & Sons, Inc.
II

60 Desain Pencahayaan Arsitektural Sumber Cahaya dan Armatur Lampu Eksterior 6t

dihasilkan. CFL yang berbentuk u1ir, misalnya, di- intensitas tinggi. Lampu HID memiliki tiga jenis uta-
buat untuk memaksimalkan panjang tabung tanpa ma, yaitu metal halida, merkuri, dan sodium bertekan-
mengorbankan proporsi lampu. Semakin panjang an tinggi (High Pressure Sodiun/HPS). Lampu-lampu
tabung lampu, semakin banyak pula cahaya yang HID diaktifkan dengan ballast dan membutuhkan
akan dihasilkan. waktu yang lama dari saat mulai dinyalakan sampai
mencapai terang yang maksimum. Lampu-lampu HID
Agar dapat seefisien lampu pijar, selain mempertim- sangat baik dalam pencahayaan ruang luar. Selain
bangkan bentuk lampu, lampu fluoresens juga meng- karena mampu menghasilkan cahaya dengan intensitas
gunakan bentuk soket yang sama untuk memudahkan tinggi, lampu HID juga memiliki bentuk yang kompak
instalasi. Kemudahan instalasi, bentuk yang ringkas, dengan berbagai bentuk seperti lampu pijar. Berikut
dan kualitas cahaya yang baik menyebabkan lampu adalah uraian mengenai ketiga jenis lampu HID.
fluoresens kompak banyak digunakan sebagai lampu
downlight pada berbagai kebutuhan, baik pada ruang 1. Metal Halida
publik (pusat perbelanjaan, mal, dan lain-lain) maupun Lampu metal halida merupakan jenis lampu yang
pada fungsi lain, seperti perkantoran dan hunian. paling banyak digunakan pada pencahayaan ekste-
Peran lampu jenis ini mampu mengganti peran lampu rior. Selain karena kuat cahaya yang dihasilkan-
pijar, terutama pada renderasi warna yang dihasilkan nya, warna putih dari lampu ini juga sangat se-
dan kebutuhan daya yang jauh lebih kecil. imbang. Sebagai sumber cahaya yang menghasil-
kan cahaya berintensitas tinggi, metal halida sa-
ngat ideal jika digunakan sebagai lampu sorot
(floodlight), baik pada fasad bangunat, sculpture,
maupun elemen vegetasi. Cahaya putih yang
seimbang, yang ditunjang dengan renderasi warna
yang baik, sangat mendukung pencahayaan pada
objek-objek tersebut.

Gombor 3.4
Voriosi bentuk
fluoresens kompok ((f l-) wffiu? Kelebihan lain dari lampu metal halida adalah
tingkat efficacy-nya yang tinggi yang mencapai
85-125 lumens/watt sehingga panas yang dihasil-
kan sangat kecil dan umurnya mampu mencapai
10.000-20.000 jam. Variasi cahaya yang dihasilkan
3..|.3 lligh lntenrily Dirhorge metal halida memungkinkan para perancang
Seperti yang tergambar dari namanya, lampt High untuk menciptakan berbagai kesan visual yang
Intensity Discharge (HID) adalah lampu-lampt dis- berbeda. Metal halida mampu menghasilkan caha-
charge yang mampu menghasilkan cahaya dengan ya putih hangat (warm white), putih netral
(neutral white), dan putih cahaya siang hari
lr

62 Desain Pencahayaan Arsitektural


Sumber Cahaya dan Armatur Lampu Eksterior 63

(daylight white) sehingga kebutuhan dalam mem-


tipe HID lainnya sehingga lampu ini tidak terlalu
pertahankan warna asli benda maupun mencipta-
baik jika digunakan untuk memberikan aksentuasi
kan kesan ruang yang hangat dapat dicapai.
pada elemen arsitektural maupun lanskap.
Bentuknya yang kecil (tergantung bentuk armatur
lampunya) memungkinkan untuk disembunyikan Sesuai dengan prinsip kerjanya, lampu merkuri
di antara elemen arsitektur. menghasilkan cahaya dengan melepaskan gas mer-
kuri. Lampu merkuri menghasilkan cahaya biru
Kekurangan lampu metal halida hanya terletak
dan hijau dan menciptakan kesan yang dingin.
pada durasi waktu yang dibutuhkan untuk men-
Kondisi ini tidak mendukung dalam pencahayaan
capai terang maksimum, yaitu 5-10 menit, dan
dengan tujuan unfttk menampilkan warna asli
juga waktu unfuk menghidupkannya kembali sete-
benda karena informasi visual yang akan di-
lah mati secara tiba-tiba (restrike) yang mencapai
sampaikan justru akan menjadi bias.
10-20 menit, waktu yang cukup lama apabila
digunakan sebagai sumber cahaya penerangan uta-
ma. Namun, apabila digunakan untuk mencipta-
kan aksentuasi elemen eksterior, waktu tunggu
tersebut tidak akan menjadi masalah yang meng-
ganggu.
Gombor 3.6
lompu merkuri

3. High Pressure fu dium (HPS)


Seperti lampu metal halida, lampu High Pressure
Sodium (HPS) atau lampu sodium bertekanan ting-
gi merupakan lampu HID dengan tingkat efficacy
Gombor 3.5 yang sangat tinggi. Tingkat effrcacybiasanya akan
(onloh vorion lompu
memengaruhi usia lampu. Semakin tinggi tingkat
melol holido, keluorgo
lonpu lligh lnlensity effrcacy lampu, semakin kecil energi panas yang
0ixhorge dihasilkan. Hasilnya, usia lampu menjadi panjang.

2. Merkuri Namun, berbeda halnya dengan lampu metal hali-


Salah satu tipe lampu HID yang cukup banyak da yang memiliki renderasi warna yang baik, lam-
digunakan pada pencahayaan eksterior adalah pu HPS menghasilkan renderasi warna yang
lampu merkuri. Namun, lampu merkuri memiliki buruk. Dengan demikian, lampu HPS tidak cocok
efficacy yang lebih rendah dan juga renderasi jika digunakan sebagai penerElngan fungsional
warna yang lebih buruk jika dibandingkan dengan yang dibutuhkan pada aktivitas yang menuntut

ri
lt
ft

64 Desain Pencahayaan Arsitektural Sumber Cahaya dan Armatur Lampu Eksterior 65

adanya kualitas visual yang baik. Lampu HPS juga LED sangat menunjang desain pencahayaan eksterior,
tidak mampu mempertahankan tampilan visual hal ini terkait dengan variasi warna yang dimilikinya,
objek-objek tertentu karena lampu ini akan meme- yaitu putih dingin (cool white), kekuningan, merah,
ngaruhi warna benda dan membuatnya menjadi hijau, dan biru. Variasi warna ini memungkinkan pen-
kekuningan. ciptaan suasana ruang maupun objek yang senantiasa
berubah (color changing) dengan memainkan warna-
warna yang berbeda pada waktu-waktu tertentu.
'Warna-warna
tersebut juga dapat digunakan sebagai
elemen pengarah pada jalur sirkulasi maupun sebagai
penanda ruang-ruang fungsional.

Keterbatasan intensitas cahaya yang dihasilkan LED


saat ini sesungguhnya telah mampu dimaksimalkan
melalui perkembangan teknologi armatur lampu. Be-
Gombor 3.7 [ompu berapa pabrik lampu telah memproduksi armatur lam-
High Pressure Sodium pu bagi LED yang dapat berfungsi sebagai floodlight,
wallwasher, bollard, dan tipe lainnya. Kelebihan LED
Karena tingkat efficacy-nya yang tinggi dan umurnya dalam menghasilkan variasi warna menjadi salah satu
yang mampu mencapai lebih dari 20.000 jam, lampu faktor yang mendorong penggunaan LED pada ber-
HPS sangat sering digunakan untuk penerangan area bagai aplikasi lampu tersebut. Variasi w;rna yang da-
parkir dan beberapa terbuka yang tidak begitu mem- pat diubah sesuai dengan konsep desain kini dapat
butuhkan kualitas penerangan yang baik. Dengan dioperasikan dengan remote control ata.o dengan kom-
lampu HPS, tingkat penerangan yang tinggi dapat di- puter. Dengatt remote control, warna-warna cahaya
capai dengan daya listrik yang rendah dan perawatan dapat diganti secara manual sesuai keinginan peran-
yang relatif mudah dan murah. cang maupun pemilik bangunan. Selain itu, peng-
operasian perubahan warna dengan komputer me-
3.1.4 UD (lisfil tnnilns hiode) mungkinkan perancang atau pemilik bangunan untuk
dapat mengatur perubahan berdasarkan durasi waktu
Perkembangan teknologi lampu yang pesat telah me-
tertentu secara otomatis. Secara sederhana, contoh
ngantar penciptaan jenis lampu baru, yaitu LED (Light
pengoperasian LED dengan konsep perubahan warna
Emmiting Diode). Lampu LED memiliki usia yang sa-
dapat dilihat pada lampu-Iampu lalu-lintas (traffic
ngat panjang, mencapai 100.000 jam, dengan konsumsi
light) yang dioperasikan berdasarkan durasi waktu.
daya listrik yang sangat kecil. Kelemahan LED adalah
intensitas cahaya yang dihasilkannya lebih kecil jika
dibandingkan dengan jenis sumber cahaya lainnya.
*f

66 Desain Pencahayaan Arsitektural Sumber Cahaya dan Armatur Lampu Eksterior 67

USIA
KATTG()RI DAYA
tfftctff TAMPU ruiltfqiltft $Afr\t^t{il
(lumens per PERGATIIIAT'I
LAMPU (wotl) (dolom RIIItrSI lilltfiaPI
wotl)
ioml

Fluoresens 4-220 20-95 7.500. l(ebuluhon Stortlmenyolo [lonyo podo


Stondor F40 20.000 bollosi dengon segero dosor, vollose,
Bollost 3 lompu per don woll yong
Mognelis 60- billost Sebelum ponos, s0m0
t5 membuluhkon
Bollosl woktu beberopo
Elektronik 40- deiik
95
Tipe kompok lonpo reslrike
LED Tipe monuol:
tidok
terdollor
Gombor 3.8
Lompu light tnniting
1iode dsn oplikosinyo
podo lompu orientosi
WW Merkuri 40-t.000 50-60,
Worno yong
r 6.000-
24.000,
(ebuluhon
bollost
Slorldon
reslrikalebih
Podo dosor,
vollose, don
(Sumber: ERC0
Progrom 20061071 ffi&ffi boik don/otou
woll rendoh
mencopoi 20
dengon
hollosl
sendiri l2-
I lompu per
ballosl
dori 3 menil woll yong romo

Tobel 3.1 Perbondingon lompu I 6.000

USIA
tfflcA(r Melol Holido 70-t.500 75-125 6.000- Kebuluhon tlott Podo dosor,
KATTGORI DAYA
(lumens per
TAMPU ntilsfafilff trAi4P0wft 20.000 bollost 2-5 menil vohose, don
PERGANIIAN
TAMPU (wotl) (dolom MUAST titnffaPr I lompu per woll yong somo
wott)
ioml bollost Xestrike.
l0-20 menil
lnrundesrent t-t.500 7-24, 750-2.000 120-135 volt Slortf nenydo Podo tipe dosor
Rolo-rolo l7 dengon segero yong s0m0 lligh Pressure 35-t.000 Slott
80-t 00, 24.000, Kebuluhon Podo dosor,
Iompu- Tidok odo. Sodian Woll rendoh w0rn0 bollon 3-4 menil vollose, don
lompu Semuo lompu Ionpo reslrike 'I
mencopoi 50 boik lompu per woll yong somo
lerlenlu: dengon vohose di I 0.000 ballosl leslrike
l0 iom bowoh I 20 l/2-l menil
m embutuhkon
lronslorner. low Pressure r8.t 80 Menropoi I 80 I 0.000- Kebuluhon ttorll Podo dolor,
Kuonlilos lompu Sodiun I 8.000 bollost 7-15 menil vohore, don
per lronsforner
I lompu per woll yon0 romo
lergontung podo I hollosl leslrike.
woll lompu. I menil
I
(Sumber: Moyer, I992)
I
I

I
I
68 Desain Pencahayaan Arsitektural Sumber Cahaya dan Armatur Lampu Eksterior 69

3.2 TIPI ARI1AIUR tA/ltPU II(tltRloR dikeluarkan oleh sumber cahaya menjadi berlipat
ganda.
Karakter, spesifikasi, kebutuhan daya, dan daya tahan
sumber cahaya yang satu dengan yang lainnya Untuk memudahkan identifikasi tipe-tipe annatur
memang berbeda. Namun, tanpa perlengkapan lampu, lampu, pada subbab ini armatur lampu akan dikelom-
atau yang sering disebut armatur lampu atau luminair, pokkan ke dalam beberapa kategori, yaitu
semua sumber cahaya hampir terlihat sama, kecuali 1. berdasarkan distribusi cahaya,
pada renderasi warna yang dihasilkan. Tanpa armatur
lampu (terdiri dari rumah lampu, soket, ballas6 peng- 2. berdasarkan arah cahaya,
atur kemiringan, dan lain-lain) sumber cahaya hanya 3. berdasarkan sudut cahaya, dan
terdiri dari dua klasifikasi, yaitu sumber cahaya titik
(yang terdiri dari sumber-sumber cahaya yang ber-
4. berdasarkan peletakan armafur.

bentuk bola), dan cahaya linear, seperti yang tampak


pada lampu fluoresens linear. 3.2.1 Berdororkon Dirhiburi [ohoyo
Peran penting sebuah armatur lampu adalah meng- Selain berfungsi sebagai pelindung lampu, Armatur
arahkan /membelokkan cahaya, menyebarkan cahaya, lampu juga memiliki peran penting sebagai pengatur
atau sebaliknya, memusatkan konsentrasi cahaya. Pada distribusi cahaya. Secara umum, distribusi cahaya
pencahayaan ruang luar, rumah lampu memiliki dibagi menjadi tiga kelompok, yaitu
"tanggung jawab" melindungi sumber cahaya terhadap
1. direct lighting(pencahayaan langsung)
berbagai kondisi cuaca, baik panas, dingin, air hujan, Pencahayaan langsung merupakan cahaya yang
korosi, dan juga tindakan pencurian. Selain melindu- didistribusikan secara langsung dari sumber cahaya
ngi sumber cahaya, armatur lampu juga harus mampu
menuju sasaran yang dituju. Pencahayaan lang-
melindungi dirinya sendiri dari berbagai kondisi sung biasanya merupakan cahaya yang ditujukan
tersebut.
secara fungsional untuk memenuhi kebutuhan
Tujuan dalam pengaturan araVdistribusi cahaya, se- cahaya secara kuantitatif pada sebuah ruang atau
lain sebagai upaya menciptakan pola cahaya yang be- bidang kerja. Pada ruang luar, pencahayaan lang-
ragam dalam desain pencahayaan, juga dimalsudkan sung biasa digunakan pada pencahayaan jalan,
untuk mengurangi ketidaknyamanan visual akibat jalur pejalan kaki, maupun teras bangunan.
kesilauan (glrn). Tanpa armatur lampu, setiap sumber Pada umumnya, pencahayaan langsung digunakan
cahaya (kecuali tipe PAR, MR, dan R) cenderung untuk memenuhi kebutuhan intensitas cahaya
menghasilkan cahaya yang datar dan menyebar se- yang dibutuhkqgr dalam menunjang aktivitas yang
hingga menghasilkan kesan ruang yang monoton. terjadi pada sebuah ruang, baik ruang luar maupun
Armatur lampu juga kerap dilengkapi dengan berbagai ; ruang dalam. Pencahayaan jalan dan jalur pejalan
elemen reflektor sehingga intensitas cahaya yang !
I
I

i i
I
70 Desain Pencahayaan Arsitektural Sumber Cahaya dan Armatur Lampu Eksterior 7t

kaki, misalnya, dituntut untuk mampu memenuhi tetap memenuhi standar bagi aktivitas yang ber-
kuantitas cahaya bagi pergerakan yang terjadi. langsung.
Sementara pada taman, plaza, dan teras bangunan, Pencahayaan semilangsung/tak langsung juga se-
pencahayaan langsung harus mampu memenuhi ring diaplikasikan pada pencahayaan untuk men-
tuntutan kuantitas cahaya bagi kegiatan membaca, definisikan dinding, kolom, dan bidang vertikal
bermain, maupun hanya untuk sekadar duduk lainnya. Keluarnya cahaya dari sumber cahaya
santai. pada dua arah yang berbeda dapat menciptakan
kesan visual yang menarik apabila diaplikasikan
dalam desain pencahayaan. OIeh sebab itu, selain
dapat diaplikasikan untuk memenuhi kebutuhan
kuantitas cahaya, pencahayaan semilangsunfak
langsung juga dapat diaplikasikan untuk mencipta-
Gombor 3.9
kan kualitas visual suatu objek arsitektural.
Dislribusi cohoyo
secoro longsung dori
sumber rohoyo

2. semidirect/indirect (pencahayaan semilangsung/


tak langsung)
Pencahayaan semilangsung atau tak langsung me-
Gombar 3.10
rupakan pencahayaan yang pendistribusiannya Di stribusi cohoyo
terbagi pada dua arah distribusi. Sebagian cahaya semilongsung/lok

yang berasal dari sumber cahaya didistribusikan longsu ng

secara langsung ke sasaran (ke bawah), sedangkan


3. indirect lighaag (pencahayaan tak langsung)
sebagian lagi dipantulkan pada sebuah bidang
Pencahayaan tak langsung diaplikasikan dengan
permukaan (ke atas).
memantulkan cahaya yang berasal dari sumber
Pada pencahayaan eksterior, beberapa jenis Iampu cahaya pada bidang pemantul atau reflektor. Pen-
menggunakan distribusi semacam ini untuk me- cahayaan tak langsung biasanya digunakan unfuk
menuhi kebutuhan intensitas cahaya sekaligus mengurangi tingkat kesilauan yang dihasilkan oleh
mengurangi tingkat kesilauan yang dihasilkan. Ba- sumber cahaya sehingga pencahayaan tersebut
nyak lampu pejalan kaki dan lampu taman telah dapat menghasilkan cahaya yang lebih lembut.
mengaplikasikan distribusi dua arah cahaya seba-
Pencahayaan tidak langsung kerap diaplikasikan
gai pencahayaan semilangsung/tak langsung unfuk
pada ruang-ruu.rg tr"ngun aktivitas yang memiliki
menghasilkan cahaya yang lembut (soft), namun
tingkat pergerakan serta ketelitian yang rendah.

li
77 Desain Pencahayaan Arsitektural Sumber Cahaya dan Armatur Lampu Ekterior 73

Aktivitas duduk-duduk santai pada sebuah plaza


atau taman, misalnya, kerap menggunakan penca-
hayaan tak langsung.

Pada pencahayaan eksterior, pencahayaan tidak


langsung sering digunakan untuk pencahayaan
jalur pejalan kaki, taman, dan teras bangunan
dengan laagit{angit bangunan sebagai elemen
pemantul cahaya.
Gombor 3.12
Aroh rohoyo ke otos
Vpt4ht

Karena letaknya yang berada di bagian bawah, arma-


tur untuk setiap lampu uplight harus kuat terhadap
benturan, mampu menahan beban tertentu, kedap air,
Gombor 3.1I anti karat, namun tetap mudah dalam perawatan dan
Dislribusi cohoyo pergantian lampu.
seroro lidok longsung
menuiu bidong kerio

3.2.2 Berdororkon Aroh Cohoyo

Berdasarkan arah cahaya, armatur lampu dapat dapat


dikelompokkan ke dalam tiga bagian, yaitu
1. uplight(anh cahaya ke atas)
Gombor 3.13
Uplight merupakan kelompok armatur yang men-
Armolur uplighl
distribusikan cahaya dari bawah ke arah atas de- reaesedbogi
ngan sudut tertentu. Pada umumnya lampu-lampu pencohoyoon pohon
uplight diletakkan pada bagian dasar, seperti yong menyolu dengon
desoin lonskop
lantai, trotoar, maupun di atas tanah atau rumput,
dengan malsud menyinari objek-objek yang ber-
2. downlight(arah cahaya ke bawah)
ada di atasnya. Lampu uplight juga sangat sering
Hampir senada dengan annatur lampu uplight,
diletakkan di dinding dan kolom untuk membe- armatur lampu downlight memiliki karakter yang
rikan aksentuasi pada kedua elemen arsitektur sama, namun dengan arah cahaya sebaliknya, yaitu
tersebut.

I
i

tl
74 Desain Pencahayaan Arsitekrural Sumber Cahaya dan Armatur Lampu Eksterior 75

cahaya yang datang dari atas ke arah bawah.


Biasanya lampu downlight diletakkan pada langit-
langit untuk penerangan umum (general lighting)
dan untuk menciptakan kesan yang bersih pada
langit-langit (clean ceilling). Selain untuk meme-
nuhi tuntutan estetika desain, langit-langit yang
bersih dari berbagai peralatan lampu yang me-
nonjol juga sangat mendukung dalam menciptakan
akustik ruang yang baik.

Gombor 3.15
Jiko dibondingkon
dengon downlighl
reuesed, ormolur
downlighlyong
Gombor 3.14 Aroh dilelokkon podo
tohoyo ke bowoh permukoon longil-
(downlightt longil lebih mudoh
untuk dipindohkon
Seperti halnya uplighC lampu downlight juga da-
pat diletakkan di dinding dan kolom unruk men* 3. diffii s e (ar ah cahaya menyebar)
ciptakan aksentuasi maupun yariasi pola cahaya. Cahaya dengan arah menyebar atau diffitse me-
Untuk tujuan tersebut, berbagai variasi armatur rupakan pencahayaan yang paling sering diapli-
dapat digunakan dengan tetap memperhatikan kasikan, terutama pada hunian. Arah cahaya yang
kesatuan desain armatur lampu dengan desain menyebar secara merata atau baur sesungguhnya
arsitektur yang telah dibuat oleh arsitek yang ber- dapat dicapai tanpa menggunakan rumah lampu
tanggung jawab terhadap desain secara keseluruh- atau langsung dari sumber cahaya (kecuali untuk
an. tipe reflektor, seperti PAR, MR, dan R). Meskipun
begitu, rumah lampu tetap dibutuhkan untuk me-
Pada lampu downlight, sumber cahaya yang biasa
maksimalkan intensitas cahaya agar dapat menye-
digunakan adalah kelompok lampu incandescent,
bar dalam jangkauan yang lebih luas. Di samping
seperti lampu pijar, halogen, dan lampu fluoresens
kompak. Beberapa armatur lampu memang dide-
itu, rumah lampu juga dibutuhkan untuk me-
minimalkan efek silau yang dihasilkan oleh sum-
sain unfuk dapat menampung lebih dari satu sum-
ber cahaya agar intensitas cahaya yang dihasilkan
ber cahaya. Biasanya material yang digunakan
untuk mereduksi kesilauan sekaligus memproduksi
menjadi semakin besar.
I

76 Desain Pencahayaan Arsitektural Sumber Cahaya dan Armatur Lampu Eksterior 77

cahaya yang lembut adalah kaca susu, plastik


semitransparan, dan kaca kristal.

Untuk menciptakan distribusi cahaya yang merata,


arrnaftr lampu biasanya akan digantung, baik pada
Iangit-langit, pada permukaan dinding, atau pada
tiang untuk pencahayaan ruang luar. Penggunaan Gombur 3.17
Penrohoyoon bour
lampu gantung untuk menunjang pencahayaan
dibutuhkon untuk
dengan arah merata berfungsi untuk menghindari
memberikon keson yong
bayangan yang ditimbulkan oleh perlengkapan dotor, lerulomo bogi
lampu yang berada di bawahnya. Dengan meng- kebutuhon fungsionol

gantung lampu, bidang-bidang permukaan yang (Foio: Wiyoliningsih)

berada di sekitarnya dapat diterangi secara merata.

3.2.3 Bardororkon tudut Cohoyo

Dalam memenuhi berbagai tuntutan desain penca-


hayaan, tipe armatur lampu pun selalu mengalami per-
kembangan. Pada pencahayaan eksterior, dengan ber-
bagai jenis objek arsitektural dan lanskap yang harus
diakomodasi, armatur lampu dapat dikelompokkan
berdasarkan sudut cahaya yang dihasilkan' Dengan
Gombor 3.16 perbedaan sudut cahaya, perancang dapat membe-
Aroh rohoyo dakan pencahayaan berdasarkan dimensi objek yang
btur I neny ebor (diffu s li
akan diberi efek cahaya.
Kebutuhan bagi pencahayaan baur dilakukan
Berdasarkan sudut cahaya, armatur lampu dapat di-
untuk menciptakan ruang dengan kesan datar dan
kelompokkan ke dalam tiga bagian, yaitu
terkadang monoton. Hal ini memang lebih di-
tujukan pada pemenuhan kebutuhan cahaya secara 1. armatur spotlight (lampa sorot)
kuantitatif bagi berbagai kegiatan yang berlang- Lampu sorot digunakan untuk memberikan aksen-
sung. tuasi pada sebuah objek atau detail yang spesifik
dan memiliki dimensi yang kecil' Dengan pola
cahaya yang berbentuk lingkaran dan sudut ca-
haya yang kecil (< 300) lampu sorot sering diapli-
kasikan pada pencahayaan eksterior dengan tujuan
untuk menonjolkan objek-objek eksterior, seperti

il
78 Desain Pencahayaan Arsitektural Sumber Cahaya dan Armatur Lampu Eksterior 79

patung, air mancur, vegetasi (dengan dimensi dan armatur floodlight


tajuk yang relatif kecil), kolam, dan detail-detail Floodlight merupakan sebuah lampu sorot dengan
arsitekturd. sudut cahaya yang lebih besar jika dibandingkan
dengan spotlight. Untuk menghasilkan cahaya de-
Gombor 3.18
(onloh ormotur lompu
,@ ngan sudut lebar, rumah lampu yang digunakan
spoilAht
(Sumher: Unilomp
Exlerior Product
ffi
*ffi*--try"
biasanya berbentuk kotak, hal ini sekaligus mem-
bu.at lloodlighr menghasilkan pola cahaya yang
sesuai dengan rumah lampunya. Dengan sudut
Guide for Lighi +
Building) & cahaya yang lebar, lloodlight sangat menunjang
pencahayaan yang ditujukan pada objek-objek
yang lebih besar, seperti patung, pohon (dengan
I

dimensi dan tajuk yang lebih lebar), fasad, sampai


pada atap bangunan.

Untuk mempermudah proses instalasi dan meng-


arahkan lampu sesuai dengan kemiringan yang
dibutuhkan, lampu lloodlight biasanya dilengkapi
dengan rotator. Rotator memungkinkan proses ro-
tasi dilakukan pada armatur lampu secara vertikal
maupun horizontal. Beberapa pabrik lampu bah-
kan sudah melengkapi rotator dengan sudut ke-
miringan yang dapat dikunci sehingga tingkat
akurasinya menjadi lebih tinggi.

Gombor 3.20
Gombor 3.19
(onloh lompu floodlight
Aplikosi spoilightpodo
pencohoyoon ekslerior
(Sumber: Unilomp
Exterior Product
& (Sumber: ERCO
Progrom 2006107l,

Guide for tight +


Building)
80 Desain Pencahayaan Arsitektural Sumber Cahaya dan Armatur Lampu Eksterior 8l

diletakkan pada titik tengah dinding dengan


menggunakan tiang (pole). Kondisi ini secara
visual akan merusak desain arsitektural secara
keseluruhan dan mengganggu pergerakan orang.
Tidak hanya bidang dinding vertikal, bidang
dinding secara horizontal pun dapat dijangkau
Gombor 3.2I dengan arrnatur wallwasher jenis lain. Armatur
Aplikosi lompu floodlight lampu jenis ini akan memiliki dimensi yang lebih
podo penrohoyoon
Iebar pada sisi horizontalnya, dan sebaliknya,
ek sle rior
relatif lebih kecil pada sisi vertikalnya.
(Sumher: ERCO
Progrom 2006107)

3. armatur wallwasher
Sesuai dengan namanya, wallwasher atau "penyi-
ram dinding" digunakan untuk memberikan ak-
senruasi pada permukaan bidang vertikal (din- Gombor 3.22 (onloh
ding). Wallwasher memiliki sudut cahaya yang lompu wollwosher
(Sumber: ERC0
sangat lebar dan lebih besar jika dibandingkan
Progrom 2006107l.
dengan floodlight, namun mempunyai pola cahaya
yang sama, yairu segiempat.

Untuk dapat menjalankan fungsinya sebagai pe-


nyiram dinding, tanpa harus merusak tampilan Gombor 3.23
secara keseluruhan akibat peletakan lampu dan Perbondinqon lompu
penggunaan tiang, beberapa wallwasher didesain floodlight don
dengan rumah lampu asimetris. Benruk ini akan wollwosherdolom
menerongi bidong
mampu menghasilkan cahaya yang lebih luas v erliksl
dengan peletakan lampu yang lebih rendah
sehingga armatur lampu dapat disembunyikan Pada perkembangannya, wallwasher dengan re-
pada elemen arsitekrur maupun lanskap. flektor lampu asimetris telah dapat diaplikasikan
sebagai lampu recessed, yang diletakkan rata
|ika menggunakan lampu floodlight (yang memi- dengan permukaan bidang (lantai, trotoar, langit-
liki rumah lampu berbentuk simetris) sebagai pe-
langit, dan tlinding). Dengan demikian, Iampu
nyiram dinding, untuk menerangi elemen per- dapat menerangi dinding tanpa menyilaukan dan
mukaan dinding secara merata, lampu harus mengganggu pergerakan orang yang melaluinya
82. Desain pencahayaan Arsitektural Sumber Cahaya dan Armatur Lampu Eksterior 83

(Gambar 3.24). Peletakan lampu di permukaan Selain memiliki jenis yang dapat diletakkan di
tanah juga membuat lampu dapat berperan sebagai permukaan tanah, lampu wallwasher juga dapat
elemen pengarah sirkulasi, baik pada malam hari diletakkan di langit-langit (ceiling) dan rata de-
melalui cahaya yang dihasilkan maupun pada siang ngan bidang permukaan seperti halnya lampu
hari melalui armatur lampu (Gambar 3.25). downlight. Dengan cahaya langsung yang meng-
arah ke permukaan dinding, ruang di sekitarnya
juga akan mendapatkan cahaya yang lembut mela-
lui pencahayaan tidak langsung yang dipantulkan
di dinding. Dengan penggunaan wallwasher yang
diletakkan pada langit-langit dan permukaan ta-
Gombor 3.24 naVlantai, aksentuasi pencahayaan dan pencaha-
Lompu vollwosher yaan fungsional dapat dicapai secara bersamaan.
rerrcsed boik podo
permukoon lontoi lin-
groundj moupun podo 3.2.4 Berdororkon Pelatokon Armotur
permukoon longit-longit
Pada pencahayaan arsitektural eksterior, tipe armatur
lampu dapat dikelompokkan berdasarkan tempat pele-
takan armatur lampu. Tempat peletakan lampu dapat
berupa bidang horizontal (lantai dan langit-langit),
bidang vertikal (dinding dan kolom), maupun elemen
arsitektural lainnya, baik secara langsung maupun
dengan berbagai alat bantu seperti tiang.

Pada bahasan ini, tipe-tipe armatur lampu berdasarkan


peletakannya dikelompokkan ke dalam beberapa
bagian, yaitu

1. annatur waII lighdlamprdirdirg


Wall light merupakan lampu yang dirancang
Gombor 3.25
Lompu wollwosher
untuk dapat diletakkan di permukaan dinding
reresed in-ground maupun kolom. Lampu-lampu tersebut dapat me-
mompu menerongi rupakan lampu dengan arah cahaya ke atas (up-
dinding tonpo ligh), ke baqah (downlight), menyebar (ditruse),
menyiloukon peiolon
maupun kombinasi antara uplight dar. downlight.
koki

at
ll
.9_4_________ Desain pencahayaan Arsitektural
Sumber Cahaya dan Armatur Lampu Eksterior 85

3. armatur suqtension (lampu ganftng)


, '\a Lampu gantung sering menjadi bagian dalam de-

Gombor 3.26
Armolur lompu wo// light
ih"q*--:tu
sain pencahayaan interior, baik sebagai pencaha-
yaan fungsional maupun sebagai pencahayaan
dekorasi. Pada ruang luar, lampu gantung lebih
yong diletokkon di
sering digunakan sebagai pencahayaan fungsional

%"
permukoon bidong
yang diletakkan pada bagian teras/beranda ba-

ffi
verti kol
(Sumber: lng. ngunan, maupun digantungkan pada balok-balok
Cosloldi kantilever.
lluminozione Generol
Colologue I /2005) 3p*; Pada perkembangannya, banyak variasi lampu
gantung yang digantung bukan pada langit-langit,
2. armatur step lighdlanpu tangga tetapi pada tiang. Beberapa produk mengelompok-
Step light atau lampu tangga digunakan untuk me- kan lampu gantung sebagai suspension dan yang
nerangi anak tangga dengan membentuk pola ca- Iainnya mengelompokkan lampu gantung sebagai
haya tertentu agar tangga dapat diakses dengan pendant (anting-anting), namun pada dasarnya
baik. Selain untuk menciptakan citra visual yang keduanya memiliki maknayang sama.
baik, lampu tersebut juga berfungsi unruk mening-
katkan keselamatan setiap orang yang melalui

II
anak-anak tangga tersebut. Karena dimensi anak
tangga relatif kecil (30-40 cm), sumber cahaya
yang digunakan untuk meneranginya merupakan
sumber cahaya dengan intensitas cahaya yang
kecil. Beberapa produsen telah menggunakan LED I
,,
\*3 I
-t

tils
sebagai sumber cahaya step light. I Gombor 3.28
Lompu gonlung olou
suspension olou
pendonlyong
digunokon podo
penrohoyoon ruong
luor

Gombor 3.27 aruafir lnle lightingllampt aang


Armotur lompu rlep Pole lighting merupakan lampu eksterior yang
/ight y ong diletokkon di sering digunakan pada penerangan jalan, jalur pe-
longgo jalan kaki, maupun tzrman. Penggunaan tiang di-
Sumber Cahaya dan Armatur Lampu Eksterior 87

tujukan untuk mengatur letak lampu agar mampu


menghasilkan cahaya dengan jangkauan yang
lebih luas. Tiang pada ruang luar berperan seperti
langit-langit dan dinding pada bangunan.
Variasi tinggi tiang sangat tergantung dari luas
area yang akan diterangi, apakah sebuah jalan be-
sar, atau hanya jalur pejalan kaki dengan lebar
yang tidak lebih dari 2 meter. Karena fungsinya
sebagai penerangan jalan dan jalur pejalan kaki,
Iampu tiang harus diletakkan di tepi jalur sirkulasi Gombur 3.30
Lompu tiong bogi
tersebut, dan untuk menjangkau area cahaya yang
penerongon lomon don
lebih luas, perpanjangan dengan sistem kantilever
iolur peiolon koki
dan gantung perlu diterapkan. Beberapa produk
lampu tiang telah hadir dengan variasi desain yang
menarik yang berarti bahwa lampu tersebut tidak
hanya berorientasi pada pemenuhan kebutuhan
fungsional saja. Lampu tiang yang hadir tanpa
elemen horizontal (kantilever) sering disebut
lampu kolom (column light).

Gombor 3.29 :#
;!
n jtrrl
":.rirjs.
--s it',
Voriosi lompu liong olou T
lompu kolom v
I
Gombor 3.31
(Sumber: Unilomp I
I [ompu kolom
Exterior Produrt
menegoskon ortottlorl
Guide for lighr + I
Building) iolur sirkulori
I ;l
il
88 Desain Pencahayaan Arsitektural Sumber Cahaya dan Armatur Lampu Eksterior 89

5. armatur bollard
Pada dasarnya, bollard merupakan salah satu ben-
tuk dari lampu tiang atau lampu kolom, namun
dengan dimensi yang lebih kecil. Bollard lebih
Gombor 3.33
difungsikan pada pencahayaan jalur pejalan kaki
Rollorddopot
dan taman. Karena ukurannya yang pendek, seki- digunokon unluk
tar 20 cm - 1 meter dan berada di bawah garis pan- memperlegos iolur
dang manusia, bollard lebih banyak menghasilkan peiolon koki

pencahayaan tak langsung dan mengarah pada


bidang horizontal, baik lantai, trotoar, tanah, 6. armaflr underwateilamPt bawah air
maupun permukaan rumput. Lampu bawah air didesain sebagai elemen Penca-
hayaan pada water feature darr kolam. Secara fisik,
Sedangkan untuk pola cahaya yang dihasilkan, armatur lampu harus dapat menjamin keamanan
sebagian bollard menghasilkan cahaya dengan arah sumber cahaya agar air tidak masuk ke dalam ru-
menyebar (biasanya digunakan pada taman) dan mah lampu. Lampu bawah air memiliki beberapa
sebagian lainnya menghasilkan cahaya dengan satu jenis lampu, seperti recessed, floodlight, setta sPot'
arah, dua arah, dan empat arah sebaran dari light, wt a,k fujuan pencahayaan yang berbeda.
sumber cahaya. Untuk menjalankan peran sebagai
floodlight, bollard biasanya menggunakan sumber Recessed lamp diletakkan rata dengan permukaan
cahaya metal halida maupun halogen, sedangkan dasar kolam maupun permukaan dinding kolam
untuk menghasilkan cahaya yang menyebar,
untuk menerangi objek di atasnya serta untuk
bollard menggunakan sumber cahaya fluoresens membentuk pola cahaya pada permukaan air.
kompak.
Sedangkan lampu floodlight dar. spotlighr lebih
sering digunakan untuk memberikan aksentuasi

Gombor 3.32
*V pada elemen Patung, air mancur, atau air terjun.

8ollordmerupokon
Gombur 3.34
ormotur khos lompu 'ffi Lompu bowoh oir horus
ekslerior

W
memiliki kelohonon
(Sumber: ERC0
yong kuol lerhodop
Progrom 2006107)
lekonon oir don elek
korosi
(Sumber: lng.
Cosloldi
lluminozlonc
Generol Colologur
r /200s)
.?9_________ Desain pencahayaan Arsitektural Sumber Cahaya dan Armatur Lampu Eksterior 9t

3.2.5 Perfimbongon Pamilihon Armotur lompu yang tertutup dengan raPat agar mampu mencegah
Armatur lampu dirancang sebagai tempat untuk setiap terjadinya pengembunan. Air atau embun yang ter-
sumber cahaya agar dapat berfungsi dengan baik. Oleh perangkap selain dapat menyebabkan korsleting dan
karena itu, bentuk dan ukuran armatur lampu sangat mempelpendek usia lampu, juga dapat merusak kuali-
ditentukan oleh jenis, tipe, dan ukuran sumber cahaya tas cahaya yang dihasilkan.
yang akan ditanggungnya. Beberapa pabrik lampu Beberapa lampu (sumber cahaya) telah dilengkapi
memproduksi armatur lampu yang dapat digunakan
dengan material yang tahan terhadap berbagai kondisi
pada berbagai jenis sumber cahaya secara bergantian.
cuaca dan lampu tersebut juga kedap air, contohnya
Produk semacam ini memungkinkan desainer pen-
lampu incandescenrtipe PAR 36 dan PAR 38' Dengan
cahayaan Qighting designer) untuk merancang ber-
demikian, lampu-lampu tersebut tidak membutuhkan
bagai efek cahaya dengan menggunakan armatur rumah lampu untuk melindunginya. Bahkan, kedua
lampu yang sama.
tipe PAR tersebut tidak lagi membutuhkan reflektor
Pemilihan armafur lampu, selain mempertimbangkan karena sudah dirancang sebagai lampu sorot dengan
distribusi cahaya, arah cahaya, dan sudut cahaya yang sudut cahaya tertentu. Kelebihan tersebut membuat
dihasilkan, juga harus memperhatikan kondisi fisik lampu PAR 36 dan PAR 38 sering digunakan sebagai
armatur lampu. Kondisi fisik armatur lampu terkait elemen pencahayaan eksterior yang praktis dan efi-
dengan bahan yang digunakan, kemudahan instalasi, sien. Kebutuhan utama bagi kedua lampu ini hanyalah
dan perlengkapan armatur yang menunjang keamanan soket untuk tempat peletakan untuk pengaturan sudut
dari berbagai tindakan pencurian dan perusakan yang kemiringan lampu.
mungkin terjadi.
Pemilihan lampu yang kedap air kadang kala memun-
Pada pencahayaan eksterior, armatur lampu harus culkan permasalahan lain. Armatur lampu yang serba
dapat bertahaa terhadap berbagai kondisi ruang luar, tertutup memang berguna untuk mencegah masuknya
baik hujan, panas, serta pada kead.aan yang meng- air ke dalam rumah lampu, namun di sisi lain kondisi
akibatkan terjadinya korosi. Untuk itu, pemilihan tersebut dapat mengakibatkan kurangnya sirkulasi
armatur juga harus mempertimbangkan material yang udara yang dibutuhkan untuk membuang udara panas
digunakan, misalnya apakah armatur tersebut terbuat yang dihasilkan oleh sumber cahaya. Panas yang ter-
dari aluminium atau stainless steel. jebak di dalam rumah lampu, terutama ketika meng-
gunakan lampu dengan daya listrik yang tinggi, akan
Air akan menjadi permasalahan dalam pengoperasian menyebabkan lampu cePat rusak.
dan perawatan lampu-lampu eksterior. Armatur yang
kedap air atau yang memiliki sistem pembuangan air Dalam desain aneatur lampu, pertimbangan kemudah-
di dalamnya harus menjadi pilihan utama unruk an proses instalasi dan keamanan lampu sering kali
masalah tersebut. Armatur lampu harus memiliki lensa bertolak belakang. Untuk mendapatkan armafur lam-
92 Desain pencahayaan Arsitektural

pu yang mudah dalam pemasangan dan pemindahan_


nya, dibutuhkan desain yang sederhana dan tanpa BAB 4
penguncian. Sedangkan untuk meningkatkan keaman_
an lampu dari tindakan pencurian dan perusakan,
Konscp Pcncahayaan
lampu harus dapat dikunci dan menyatu dengan bi_ Ekstcrior
dang peletalcannya, baik pada lantai, trotoar, dinding,
maupun langit-langit. Meskipun begitu, beberapa pro_
duk telah mampu memenuhi kedua tuntutan tersebut
dengan desain yang dihasilkanaya.
Pemahaman mengenai konsep pencahayaan eksterior
sebailnya dimulai dengan pemahaman terhadap elemen-
elemen eksterior. Bab 1-3 telah mencoba membahas
permasalahan pencahayaan dan arsitektur, baik hal-
hal yang mendasar maupun permasalahan yang lebih
spesifik terhadap jenis-jenis sumber cahaya dan arma-
tur lampu.

Pada bab ini, pembahasan mengenai konsep pencaha-


yaan akan menjadi penekanan utama. Pembahasan
mengenai konsep pencahayaan arsitektur akan dileng-
kapi dengan tinjauan elemen-elemen eksterior, baik
pelingkup bangunan (building envelope), ruang sir-
kulasi, plaza, elemen vegetasi dan fitur air.

4.1 tLt/lttiltLt/'lttrlIl(llIRl0R

4..l.1 Iorod
Fasad merupakan bagian dari bangunan yang menam-
pilkan citra visual bangunan tersebut. Sebagai bagian
pembentuk kesan visual, fasad atau waiah bangunan
harus mendapatkan perhatian khusus dalam proses
perencanaan darf perancangannya. Penekanan desain
!t pada fasad pada umumnya dibentuk melalui beberapa
ll elemen, misalnya permainan elemen garis dan bidang,
permainan elemen dekoratif dan detail, penggunaan
.9_1_________ Desain pencahayaan Arsitektural Konsep Pencahayaan Eksterior 95

material, dan permainan maju-mundur (setback) ba- Seperti hatnya garis vertikal, garis horizontal juga
ngunan. Berikut adalah penjelasan mengenai elemen- sering kali dibentuk oleh struktur balok yang di-
elemen yang digunakan untuk desain pada fasad. rancang lebih menjorok ke arah luar dibandingkan
1. Elemen Gads dan Bidang dengan elemen dindingnya. Elemen jendela juga
Elemen garis pada fasad sangat sering digunakan sangat sering digunakan untuk mempertegas garis
dalam perancangan, baik pada bangunan komer- horizontal pada fasad.
sial, perkantoran, bahkan pada rumah tinggal.
Elemen garis memang mampu menciptakan karak-
2. Elemen Dekoratif dan Detail
Dalam upaya peningkatan nilai estetika bangunan,
ter yang kuat pada sebuah bangunan. Garis ver-
para arsitek sering kali "bermain-main" dengan
tikal, misalnya, mampu membuat sebuah bangun-
elemen dekoratif dan detail. Kedua elemen ter-
an terlihat lebih tinggi dari kondisi sebenarnya.
sebut sering hadir sebagai sebuah penekanan pada
Garis-garis vertikal biasanya dibentuk oleh deretan
berbagai pertemuan. Pertemuan kolom struktur
kolom struktur yang memang mengarah ke bagian
dengan balok struktur, misalnya, sering kali men-
luar bangunan, dengan elemen dinding yang ada di
dapatkan penekanan dengan elemen dekoratif dan
bagian dalam. Selain kolom struktur, garis-garis
ditampilkan dengan lebih jelas dengan detail ter-
vertikal juga biasa dibentuk oleh elemen bukaan
tentu. Batasan struktur vertikal dan horizontal pun
seperti jendela.
menjadi semakin jelas dengan adanya penekanan-
penekanan tersebut.

Gombor 4.1 Gombor 4.2


Fosod sebuoh oporlemen 0rnomen don deloil
di Hong Kong yong mendominosi
memperliholkon goris- fosod menriplokon
goris horizontol yong korokler yong iorrrtol
lebih dominon kuot podo Kolodrol
Koeln, Jermon
96 Desain Pencahayaan Arsitektural 5_"-l'_"_p_I_"lg:y::l!$::I9j---- -----------ef

Demikian pula halnya dengan perremuan dinding fasad. Sedangkan secara biologis, pertumbuhan
dengan langit-langit, dinding dengan lantai, balok jamur, lumut, cendawan, dan sebagainya dapat
dengan dinding, kolom dengan lantai, kolom merusak tampilan visual yang telah terfuang dalam
dengan langit-Iangit, dan seterusnya. Pada konsep perancangan'
bangunan-bangunan lama, penggunaan elemen Material yang digunakan pada kulit bangunan juga
dekoratif dan permainan detail lebih banyak akan memengaruhi kenyamanan di dalam bangun-
ditemui. Seperti yang tampak pada Gambar 4.2, an tersebut. Kenyamanan termal, misalnya, sangat
seluruh fasad dihiasi oleh ornamen dan detail yang dipengaruhi oleh suhu dan pencahayaan ruang'
merupakan suatu rangkaian kisah masa lalu. Tanpa adanya pertimbangan yang baik dalam pe-
milihan material pada kulit bangunan, kemampu-
3. Material dan Tekstur
an material dalam menyeraP panas, memantulkan
Sebagai bagian dai finishing bangunan, pemilihan
panas, menyeraP cahaya, dan memantulkan caha-
material sangat menentukan dalam pembentukan
ya, bisa menjadi tidak sejalan dengan kebutuhan'
citra visual. Dengan demikian, pemilihan material
Sebagai contoh, kebutuhan akan ruang yang lebih
dan tekstur tertentu tidak dapat dilepaskan dari
dingin tentunya tidak akan terpenuhi jika material
konsep perancangan arsitektur secara keseluruhan.
yang digunakan justru material yang memiliki sifat
Bangunan dengan konsep natural, misalnya, sering
menyerap dan menyimPan Panas.
kali dihadirkan dengan berbagai material alam,
seperti batu kali, batu candi, kayu, bambu, dan
sebagainya. Berbeda dengan hal tersebut, konsep ffffi
[ry "$ Yd
futuristik lebih didominasi oleh material buatan &o
.t^ Y,
seperti stainless steel dar. aluminium. Kehadiran
material-material tersebut dapat memperkuat ka-
rakter bangunan atau bahkan memperlemah jika
komposisinya salah.

Secara fungsional, material pada fasad tidak hanya


Gombor 4.3
berperan dalam penciptaan kualitas visual yang
Moleriol don lekslur
baik. Namun, material yang dipilih juga harus podo kulil bongunon
mampu melindungi bangunan dari berbagai kon- lurul membenluk
disi cuaca yang dapat menimbulkan kerusakan korokler bongunon

dengan proses kimiawi dan biologisnya. Proses lersebul

kimia yang menghasilkan korosi, misalnya, dapat


Dalam arsitektur, material merupakan hal yang
mengganggu kekuatan material dan mengganggu
tidak terpisahkan dengan tekstur. Ketika kita me-
tampilan visual dengan noda yang muncul pada
milih suatu material yang akan digunakan sebagai
'.=,,1
l

98 Desain Pencahayaan Arsitektural

kulit bangunan, tekstur material tersebut akan 4.1.2 Ruong lerbuko/Plozo


turut memengaruhi tampilan visual fasad secara
Sebagai sebuah ruang yang dibentuk dari
kehadiran
keseluruhan. Dengan demikian, pemilihan mate- seba-
beberapa bangunan, sebuah plaza dapat beryeran
rial harus betul-betul menjadi bagian dalam kon-
sep perancangan secara utuh.
g"i *utg p.rltit yang rePresentatif dan akomodatif'
ber-
ierb"gai"kegiatan publik seperti duduk santai'
diakomodasi dengan
4. Permainan Setback m"i.t,-dan hin sebagainya dapat
luas' dan
Permainan setback (maju-mundur) bangunan penyediaan tempat duduk, mang yang cukup
sering kali dilakukan perancang untuk mendapat- lanskap yang mampu menciptakan
"I"*".r-"l"rrren
termasuk kenyamanan visual' pa-
kan suatu komposisi tertentu. Permainan maju- kenyamanan, -seperti
mundur sering ditemui pada batas antara bangun- *rr!, kol"*, air mancur, pepohonan' dan sebagainya'
an dengan batas persil maupun jalan, serta pada
Faktor kenyamanan dan keamanan juga turut
dipe-
fasad untuk menciptakan kesan ruang pada tam- yang ada serta
ngaruhi oleh kualitas dan skala ruang
pilan bangunan, atau sekadar menciptakan efek Skala
mlterial dan tekstur permukaan yang digunakan'
pembayangan.
ruang sering kali turut menentukan kualitas
sebuah
tekstur permukaan'
Dalam menciptakan mang-ruang fungsional, per- pl"rul S"d"rrgkan material dan
mainan kedalaman pada fasad sering kali tampil p"k"rusan, dapat mengurangi tingkat kesilauan
akibai Pantulan cahaya matahari' Di samping
pada elemen balkon, khususnya pada bangunan "tuo itu'
dapat mencegah ter-
hunian komersial, seperti hotel dan apartemen. materiai dengan tekstur kasar
Selain itu, permainan kedalaman fasad juga mam- jadinya kecelakaan pada saat hujan'
pu mengurangi kekakuan yang dihasilkan dari
bentuk geometri kotak pada sebuah bangunan.

-i
I
Gombor 4.5
Ploro yong dihenluk oleh
mosso bongunon
menghodirkon ruong
yong rePresenlolif
keliko dipodukon dengon
elemen-elemen olom,
Gombor 4.4 seperli vegetosi don oir
Permoinon kedolomon (Foto: WiYotiningrlh)
podo fosod mompu
mengurongi kekokuon
bonguno n

:l
1i

{i
ll
t00 Desain Pencahayaan Arsitektural ST'_"_fI_"1._*yel!$!:I_"j____ __________l_91

4.1.3 lolur tirkulori pergerakan manusia dari satu ruang ke ruang lainnya
ini memiliki peran vital dalam menjamin kelang-
Secara fungsional, jalur sirkulasi digunakan untuk sungan aktivitas di dalam mang. Tanpa adanya jalur
menghubungkan satu ruang dengan ruang lainnya. sirkulasi, kita tidak dapat mencapai ruang untuk ber-
Dalam skala bangunan, ruang-ruang tersebut dapat aktivitas. Untuk itu, faktor keamanan, keselamatan,
berupa ruang-ruang yang berada di dalam suatu ba- dan kenyamanan menjadi Pertimbangan penting
ngunan, ruang-nrang di luar bangunan, dan ruang- dalam suatu desail.
ruang di antara dua bangunan atau lebih. Sedangkan
dalam skala kota, jalur sirkulasi berperan sebagai Dimensi ruang sirkulasi akan ditentukan oleh banyak-
penghubung satu area dengan area lainnya atau satu nya orang yang akan melalui jalur sirkulasi tersebut,
kawasan dengan kawasan lainnya. baik secara berdampingan maupun berpapasan. Hal ini
sangat terkait dengan kenyamanan dan tingkat kece-
Perbedaan skala tersebut akan berpengaruh pada tipe- patan pergerakan. Lebar minimal jalur pejalan kaki
tipe jalur sirkulasi dan alat transportasi yang akan di- adalah 120 cm. Lebar ini memungkinkan jalur untuk
gunakan. Untuk ruang-ruang kecil dengan jarak yang dilalui dua orang secara bersamaan. Keamanan peng-
relatif dekat, misalnya, dapat diberikan jalur sirkulasi guna jalur pejalan kaki, dalam kaitannya dengan tin-
bagi pejalan kaki, sebaliknya untuk tipe sirkulasi yang dak kriminal y*g mungkin terjadi, akan berpengaruh
lebih besar, kebutuhan alat transportasi bermotor pun pada kepercayaan terhadap jalur sirkulasi tersebut'
menjadi suatu tuntutan dalam pencapaian ruang. Tingkat keamanan yang rendah akan menyebabkan
intensitas penggunaan jalur peialan kaki menurun,
Dengan kata lain, jenis transportasi yang digunakan
demikian juga dengan hal sebaliknya'
akan memengaruhi pola sirkulasi, dimensi ruang sir-
kulasi, dan material yang akan digunakan bagi pe- Faktor keselamatan sangat terkait dengan keamanan
kerasan jalur sirkulasi tersebut. Secara umum, sesuai saat melakukan pergerakan, terutama pergerakan de-
peruntukannya, jalur sirkulasi dapat dibagi menjadi ngan kecepatan tinggi. Pemilihan material menjadi
tiga jalur, yaitu salah satu elemen yang akan memengaruhi tingkat
1. jalur pejalan kaki Qtedestrian walkwafi, keselamatan orang yang melaluinya. Material yang
2. jalur kendaraan tak bermotor, dan licin pada jalur pejalan kaki, misalnya, akan menye-
babkan orang mudah tergelincir. Desain ialur pejalan
3. jalur kendaraan bermotor. kaki, baik pola sirkulasi, ketinggian, lebar, dan
elemen-elemen pembatas mang sirkulasi, menjadi
Dalam bab ini, pembahasan akan lebih ditujukan pada bagian yang turut memengaruhi tingkat keselamatan.
jalur sirkulasi yang diperuntukkan bagi pejalan kaki.
]alur pejalan kaki merupakan bagian yang tak rer- Faktor kenyamanai sesungguhnya sangat dipengaruhi
pisahkan dalam desain lanskap atau eksterior ba- oleh bagaimana jalur sirkulasi tersebut mampu meme-
ngunall. Jalur yang disediakan bagi berlangsungnya
102

-D_:,_ll-tr:!:tgllr:::!grl
*"T:i: penggunan ya. Denga
.[:tfp Pencahayaan Eksterior
___j________
n demikia n, fak tor 103
,11T,akan
rnr lebih bersjfa,,ru;ur.,iri;;;,;.0 individu kan. Di sisi lain, material juga
akan mempunyai penilrr* akan berpengaruh pada
beberapa hal yang
dapat menjaai
,*r-i"ri"a".N*r.r, panas yang diketuarian
:Tgli,langsung o"t"*I_'ian secara
i".rr_U""gan tidak turut memengaruhi tingkat
menciptakan kenyan dalam kenyaman_
bagi pengguna aJal"h an.
,l-u""s*1";"'fl;I.1"': pe'-
* ;:'J rl#t
"*,f :tfl
psikorolis, ;,
"vu.,g n"fl :
ffff'l:H:hff il: lt p"t'"',,* i.,a"n,
w"*"r,giu,, ;;;"IY-111'* bagi penggunanva.
panjang aru, il;;
l. jiffi;} T:: ;TH:-
1+i
Pengguna saat mencapai tempar
d;;;;;.'"

Oombor 4.6
Jolur pejolon koki Gombar 4.7
yong nyomon don Tonggo memungkinkon
omon okon penggunonyo menropoi
menumbuhkon minol ruong-ruong dengon
poro pefolon koki perbedoon elevosi
untuk me-nghubungkanruang-ruang
menggunokonnyo ::lain
jalur
secara horizontal,
pejalan kaki juga b"rplr, ;rk;""ghubung_
kan ruang-nrang secara
secara fisiorogis, jalur
vertikal atau ruang_ruang
yang
tersebur akan memengaruhi memiliki perbedaan elevasi. puau
fisik urnri_nya, per_
ffiTl';.f,"i'o?o1.o"n r"' d d;'";" ;",1 p ", "d, h,
bedaan elevasi tersebut
diatasi ;";;;-;*rediaan
jalur sirkulasi vertikal,
,*ggu?"., Lmp galur
;:lur:*;#mLl!,tiijlt;ff :tr}:,f* le1eni
melandai). Datam menjaiankan
kulasi vertikat tersebut h"*,
ffigri;;": jatur sir_
diperunrukklY' 1*9'n PenSSunaan
rial yang mate-
keselamatan para penggunanya.
;;;;i, m"nyami,
Misalnya, dengan
p;,",:,*d";' ;q;i_ ::ffff ',1TI XTT:* penggunaan dimerrei yang
nyaman untuk dilalui,
rangi ketidaknyamanan penggunaan material yang
akibat ;il;; ;;;1r",ryl"u_ tidak licin, terutama pada
saat hujan, dan penggunaan
elemen penanda pada
t04 Desain Pencahayaan Arsitektural ["-T-"-qi-"r'3y::l-E!:::ry:--- ----------!-9:
tanjakan dan injakan agar setiap pengguna mengetahui tingan perancangan ruang luar. Perancang dapat
batasan dari tiap-tiap anak tangga. Secara visual, jalur menggunakan elemen vegetasi sebagai elemen pene-
sirkulasi vertikal juga dapat digunakan sebagai transisi duh pada sebuah ruang terbuka atau sebagai filter
antarruang antara ruang yang rendah dengan ruang kebisingan pada ruang eksterior yang dekat dengan
yang lebih tinggi. jalan. Di sisi lain, elemen vegetasi juga dapat diguna-
kan sebagai pelapis bidang horizontal dan vertikal'
baik sebagai ground cover dengan menggunakan rum-
4.1.4 Vegalori
put maupun tanaman semak pada permukaan tanah
Elemen vegetasi memiliki peran yang $angat besar bagi atau sebagai penutup dinding dengan menggunakan
kehidupan manusia dan mahluk hidup lainnya. Selain tanaman merambat.
berperan dalam proses fotosintesis, tanaman juga turut
melindungi manusia dari berbagai kondisi cuaca, baik
dari panas terik matahari, terpaan angin, dan derasnya
air hujan. Di sisi lain, tanaman atau vegetasi juga dapat
mengurangi tingkat kebisingan, dan polusi udara yang
ditimbulkan oleh asap kendaraan bermotor. Dalam Gombor 4.8
kaitannya dengan permasalahan lingkungan, elemen flemen vegelosi
vegetasi turut berperan dalam menjaga daerah resapan mompu menciplokon

air tanah dan mencegah terjadinya longsor pada per- keleduhon don
keseiukon yong
mukaan yang tinggi.
dibuluhkon bogi
kenyomonon pengguno
Selain berbagai peranan penting di atas, secara arsitek-
ruong lerbuko
tural, elemen vegetasi kerap digunakan untuk mencip-
takan ruang dan mempertegas jalur sirkulasi. Sebuah
pohon dengan tajuk yang lebar akan memiliki kemam-
puan untuk menciptakan ruang melalui bayangan
yang dihasilkannya. Ruang ini kemudian dimanfaat-
kan sebagai area parkir dan area bersantai. Penempat-
an elemen vegetasi dengan pola lingkaran, kotak,
segitiga, maupun linear akan menghasilkan ruang se- Gombor 4.9
suai dengan pola-pola tersebut. Elemen vegetosi dopol
berfungsi sebogoi
Beragamnya jenis elemen vegetasi, baik dalam ukuran, pembenluk ruong
bentuk, tekstur, serta warna, memungkinkan peran- moupun penegos ruoil(l
sirkulosi
cang untuk menggunakannya pada berbagai kepen-
r06 Desain Pencahayaan Arsitektural
[._l'_"_pl_T.{ygl_E$fryl___ ----------191

4.1.5 fleman Air Penempatan elemen air serta pemilihan material tentu
akan sangat memengaruhi penciptaan suasEma nrang
Air merupakan bagian yang tak terpisahkan dalam se-
buah perancangan lanskap maupun eksterior. Sebagai
luar yang nyaman. Material-material yang mengan-
dung unsur alam, seperti batu candi, batu kali, dan
bagian dari unsur alam, air seolah menyatukan ling-
sebagainya dapat menciptakan kesan alami yang kuat
kungan buatan dengan alam. Di daerah perkotaan,
pada elemen air' Namun, material buatan pun kerap
kehadiran air pada ruang-ruang terbuka sangat mem-
mampu menghadirkEln suasana yang menarik, seperti
bantu penciptaan kenyamanan, baik yang dihasilkan
penggunaan material kaca sebagai wadah atau bidang
oleh tampilan visualnya yang mampu menggambarkan
vertikal bagi air terjun.
keadaan alam dengan suara-suaranya, atau oleh ke-
mampuannya untuk menyejukkan dan mendinginkan Namun, dalam perancangan lanskap dengan elemen
suasana. air, baik pada sebuah kolam, air mancur, maupun air
Karena mempunyai bentuk yang sangat tergantung
terjun, perancang juga perlu mempertimbangkan ke-
tersediaan cadangan air. Permasalahan lingkungan
pada keberadaan tempatnya, pada perancangan eks-
yang sedang dihadapi oleh dunia global memang me-
terior, pengolahan elemen air sering kali dikelompok-
nuntut kita untuk memanfaatkan air dengan bijaksana'
kan menjadi tiga bagian, yaitu
Oleh sebab itu, penggunaan air harus betul-betul
1. kolam (pool). Kolam merupakan wadah yang mempertimbangkan dampak yang timbul pada ling-
menampung air dalam berbagai bentuk dan fungsi,
kungan. Misalnya, penggunaan air untuk kolam dapat
contohnya adalah kolam hias atau kolam renang.
terintegrasi dengan perawatan elemen vegetasi sehing-
2. air mancur (fountain). Air mancur sering kali ga air tidak akan langsung terbuang, tetapi dapat di-
digunakan untuk menciptakan suatu pergerakan manfaatkan untuk kepentingan lainnya, atau air tidak
yang menarik secara visual dan untuk mencip- terbuang di permukaan, tetapi dapat disimpan sebagai
takan kenyamtrnan dan kesejukan. Di samping itu, cadangan air tanah.
suara yang dihasilkannya mampu membuat sese-
orang merasa dekat dengan alam.

3. air terjun (cascade). Seperti air mancur, air terjun


Gombor 4.10
kerap digunakan untuk menciptakan suasana yang Permoinon oir podo
nyaman pada sebuah ruang terbuka. Pada bagian sebuoh desoin lonskoP

ini, pergerakan pada air lebih disebabkan karena dopot mentiplokon


kenyomonon don
gaya gravitasi dan kecenderungan air yang terus
keseiukon, serto
mengalir untuk mengisi ruang kosong yang lebih memosukkon elemen
rendah. olom podo sebuoh
ruong lerbuko
t08 Desain Pencahayaan Arsitektural
Konsep Pencahayaan Eksterior 109

t
I

Gombor 4.1I
Komposisi oir sebogoi
elemen roir dengon
bidong mosif mompu
menghodirkon keson
visuol yong menorik

Gombor 4.12
Pembersihan kolam secara teratur dapat menjaga ke-
Air montur yong
bersihan air sehingga pergantian air dapat dilakukan dipontorkon seroro
dalam jangka waktu yang lebih lama. Sebaliknya, ke- legok lurus okon
bersihan air yang tidak terjaga akan membuat air menciplokon suosono
yong nyomon don boik
menjadi lebih sering diganti. Kondisi ini jelas tidak
bogi indro visuol,
mendukung upaya penciptaan lingkungan yang ber- pendengoron, moupun
kelanjutan. perobo

Sebagai unsur alam yang mampu berperan sebagai


reflektor, air yang tenang juga dapat digunakan untuk
menciptakan pantulan bagi objek yang ada di sekitar-
nya, khususnya bangunan. Adanya pantulan bangunan
pada permukaan air dapat menciptakan kesan monu-
mental pada bangunan tersebut ketika bayangan dan
bangunan bersatu sehingga kesan vertikal bangunan-
nya menjadi semakin kuat (Gambar 4.13).

Gombor 4.13
Dolom kondisi tenong,
oir dopol berperon
sebogoi refleklor
il0 Desain Pencahayaan Arsitektural ["_T_"_qI_T._ty_"31!$::g--- -----------l-ll
Kondisi nyata bangunan juga menjadi bagian yang
4.2 /lttNtUt,ttAHl(At{ l(0t'|ltP ARSlttlruRAL
sungguh-sungguh harus dipahami oleh perancang
Dalam menciptakan suatu sinergi antara desain pen- pencahayaan sebelum menyusun konsep pencahayaan'
cahayaan dengan desain arsitektural, desainer penca-
hayaan harus mampu menerjemahkan konsep arsi-
tektural yang telah dibuat oleh pihak arsitek peren-
4.3 I(ON'[P PT}ICAHA)/MN TKIITRIOR

cana. Tanpa adanya pemahaman terhadap konsep arsi-


4.3..l Pencohoyoon [kderior
tektural, kondisi visual yang dihasilkan justru dapat
merusak tatanan yang telah dibentuk. Pencahayaan ruang Iuar melingkupi sebuah area Pu-
blik sebagai temPat berlangsungnya berbagai kegiatan
Pasalnya, kehadiran pencahayaan seharusnya dapat
masyarakat (Lumsden, 1974). Secara umum, pencaha-
memperkuat citra visual bangunan, bukan sebaliknya.
yaan ruang luar berfungsi untuk menciptakan kondisi
Sebagai penegasan, arsitek dan perancang pencahayaan
visual yang dapat menunjang berbagai kegiatan di Iuar
memang harus bekerja sama. Untuk itu, keterlibatan
bangunan. Pencahayaan ruang luar terbagi menjadi
perancang pencahayaan sangat dibutuhkan sejak awal
tiga bagian, Yaitu
proses perancangan arsitektur. Dengan memiliki pe-
1. pencahayaan fasad(building floodlighting)'
mahaman terhadap konsep arsitektural yang sudah
dibuat, perancang pencahayaan akan menyrsun kon- 2. pencahayaan jalan (street lighting), dar'
sep pencahayaan yang dapat mendukung konsep
3. pencahayaan ruang terbuka/taman @ark lighting)'
keseluruhan dan kondisi visual yang diharapkan, baik
secara kualitas maupun kuantitas.
Berikut adalah penjelasan mengenai ketiga bagian dari
Secara kualitas, konsep pencahayaan yang diusulkan pencahayaan ruang luar.
harus mampu menampilkan citra visual yang jauh 1. PencahayaanPada Fasad
lebih baik dibandingkan dengan kondisi visual pada Efek pencahayaan yang diciptakan pada suatu ba-
siang hari. Sedangkan secara kuantitas, konsep pen- ngunarr dapat menimbulkan suatu kesan tertentu'
cahayaan harus mampu menunjang berbagai aktivitas serta dapat menonjolkan detail-detail yang spesifik
yang telah disusuu melalui pengolahan ruang oleh pada bangunan' Suasana yang membosankan' mu-
arsitek. Dengan demikian, pencahayaan telah mampu ."*, d", tidak nyaman secara visual tentu akan
menjalankan fungsinya dalam penciptaan kondisi tercipta apabila pencahayaan pada bangunarl mau-
visual lingkungan yang baik. pun wajah kota hanya memperhatikan faktor
fungsional dan peraturan lampu jalan' Karakter
Perancang pencahayaan dituntut untuk memahami
sebuah banguncn dipertimbangkan untuk menj adi
berbagai elemen yang ada pada perancangan arsitektur
sebuah produk bagi bentuknya di dalam elemen-
dan lanskap, kualitas ruang, skala ruang, dan berbagai
elemen vertikal dan horizontal (komposisi keisti-
material dan keterkaitannya dengan pencahayaan.
n2 Desain Pencahayaan Arsitektural
5_"_l'_"-fl-"1.-tygl!$:::':l---- ----------l-11

mewaan utama, seperti pintu, jendela, garis atap Konsep pencahayaan bangunan sebenarnya adalah
dan detail-detail dekoratif). Pada siang hari, untuk menyoroti sebuah fasad (Moyer' 1992)'
elemen-elemen ini akan terlihat menonjol dengan Lebih lanjut Moyer mengatakan bahwa selama
adanya bayangan, tekstur permukaan, dan warna, pembuatan konsep perancangan, Para Perancang
namun pada malam hari elemen-elemen tersebut pencahayaan Qighting designe) perlu mengeva-
akan hilang dalam kegelapan (Phoenix). Penca- luasi pe.r"mpilan bangunan untuk menentukan
hayaan dapat digunakan untuk meningkatkan kua- kepentingan-kepentingannya dalam komposisi ca-
litas suatu bangunan dan menciptakan dekorasi haya (luminous) dan merencanakan bagaimana
warna yang berbeda dengan wtrna aslinya. Penca- pencahayaan harus me-rerzder bangunan' Penca-
hayaan juga dapat digunakan untuk menginter- h"y"* yang tidak baik pada fasad akan merusak
pretasikan hubungan massa, bidang, dan detail penampilan bangunan secara keseluruhan' Arma-
bangunan. Penggunaan pencahayaan pada masing- i., y*g terlalu banyak akan meninggalkan kele-
masing elemen tersebut dapat memperbaiki wajah mahan pada efek pencahayaan dan sering kali
bangunan (Moyer, 1992). mengabaikan detail-detail bangunan' Armatur
yang terlalu banyak juga dapat menciptakan ting-
Dalam perancangan pencahayaan, efek visual me-
rupakan hal yang harus dipertimbangkan karena
kat terang yang besar pada satu atau lebih area
bangunan atau membuat bangunan terlalu terang
berkaitan dengan citra yang akan dihasilkan pada
sehingga tidak dapat menyatu dengan lingkungan-
bangunan dalam skala mikro dan karakter kawa-
,tyr. P"rr"rr*an daya lampu atau warna yang salah
san secara keseluruhan pada skala makro. Dalam
dapat menimbulkan kelebihan cahaya yang akan
penciptaan efek visual pencahayaan bangunan,
menimbulkan ketidakserasian pencahayaan de-
Lumsden (1974) mengatakan bahwa di saat ba-
ngan material bangunan. Pada prinsipnya' bangun-
ngunan memiliki suatu bentuk arsitektural yang
an yang akan diberi pencahayaan memiliki suatu
menentukan, floodlighting (lampu sorot) harus
pengaruh yang kuat pada kawasan' Oleh karena
dirancang untuk dapat mendukung bentuknya.
Bangunan dengan penekanan pada unsur vertikal
ifu, perancang pencahayaan sebaiknya bisa meng-
hasilkan efek pencahayaan yang baik'
harus disinari dari satu sisi, saat garis-garis hori-
zontal pada desain lain mungkin menginginkan Menurut Moyer, ada tiga elemen pencahayaan
sebuah perlakuan frontal atau linear. Perencanaan yang menentukan keberhasilan efek pencahayaan
lloodlighting yang baik dapat memberikan kesan yang baik Pada fasad, Yaitu
yang lebih baik bagi sebuah bangunan biasa, atau
menciptakan hubungan pada sebuah fasad yang a. direction(arah)
berantakan. Arah cahEya akan memengaruhi penampilan
tekstur, bayangan, dan bagian-bagian penting
lainnya. Faktor tersebut juga dapat digunakan
|4 Desain pencahayaan Arsitektural
Konsep Pencahayaan Eksterior il5
untuk menekankan aspek tiga dimensi sebuah
bangunan atau menambahkan kedalaman pan_ Lighting Handbooh 1987). Untuk para pengendara
dangan terhadap bangunan. Arah cahaya yang motor, pencahayaan jalan yang baik akan mem-
berbeda akan menciptakan pola bantu mereka melihat detail-detail dengan lebih
yrr!
""h.y" jelas, menempatkan mereka pada posisi yang pasti,
berbeda pula.
dan menciptakan keselamatan di ja-lan. Sementara
b. intensity (Lrltensitas) bagi para pejalan kaki, pencahayaan harus dapat
Intensitas cahaya digunakan untuk menyeim_ membantu mereka melihat detail-detail fasilitas
bangkan variasi bagian_bagian penting ba_ pejalan kaki, mengetahui kehadiran para pejalan
ngunan terhadap letalnya pada site. para kaki lainnya maupun pengendara motor, dan
perancang perlu melakukan evaluasi terhadap mengenali objek-objek di sekitar mereka. Dengan
bagian-bagian bangunan maupun fasad, kemu_ demikian, setiap objek maupun detail-detail dalam
dian menyusunnya ke dalam suatu urutan suatu kawasan dapat diterima oleh objek pengli-
yang dimulai dari bagian_bagian yang rerpen_ hatan manusia sehingga terciptalah kenyamanan,
ting untuk memulai perencanaarr brightness. keamanan, keselamatan, kecepatan, dan aktivitas
pada kawasan tersebut dapat berjalan dengan baik.
c. color(warna)
Prinsip dasar pencahayaan jalan adalah untuk
Warna dapat digunakan membedakan suatu
menerangi bidang horizontal atau jalan itu sendiri
objek dengan objek lainnya. W.arna lampu da_ sehingga pencahayaan dapat memberikan orientasi
pat meningkatkan penampilan bangunan, me_
dan informasi visual kepada pengendara mengenai
nyeimbangkan, atau membedakannya (con_
kondisi yang ada pada jalan tersebut dan arah yang
trast) dengan elemen_elemen perancangan.
dituju oleh jalan tersebut.
Warna dapat dimasukkan melalui pergantian
tipe lampu dari satu armatur ke armatur lain_ Sementara itu, menurut Moyer (1992), pencaha-
nya, atau dengan menambahkan filter warna yaan jalan akan mencakup hal-hal berikut.
(color filter). Namun, pengaruh_pengaruh
warna yang terlalu kuat atau terlalu bervariasi
a. tingkat penerangan. HaI ini tergantung pada
dapat merusak tampilan bangunan maupun lokasi, jumlah pejalan kaki, lalu-lintas ken-
lokasi pencahayaan secara keseluruhan.
daraal, tingkat cahaya sekitar, dan peraturan
pemerintah.
2. Pencahayaan /alan (S*et lighting)
b. keselamatan. Orang akan merasa aman jika
Tujuan utama dari pencahayaan jalan bagi pengen_
bisa melihat dengan jelas lingkungan di seki-
dara dan pejalan kaki adalah unruk menciptakan
tarnya. Oleh karena itu, pencahayaan harus
lingkungan yang kondusif pada malam hari bagi
dapat menciptakan pandangan yang jelas bagi
kecepatan, keakuratan, dan kenyamanan (fES pengguna jalan.
il6 Desain pencahayaan Arsitektural Konsep Pencahayaan Eksterior |7
c. material, paving atau tempat berjalan dengan tanaman, atau kombinasinya. Keputusan ter-
berbagai jenis, bentuk, drn wa.na.
sebut memengaruhi bentuk, warna, detail, efek
d. pola lampu. pencahayaan di sepanjang jalur 3 dimensi, dan tekstur dari tanaman yang
jalan disebut baik jika pencahayaan disinari.
tersebut
tidak membingungkan para pengguna jalan. c. jumlah cahaya. Variabel ini menunjukkan pen-
e. pemilihan armatur. Hal ini mencakup dua hal, tingnya tanaman pada desain secara keseluruh-
yaitu sebagai bagian dari dekorasi dan sebagai an.
penyedia efek lampu dari lokasi yang
bunyi.
rersem_
)enis material tanaman turut memengaruhi desain
pencahayaan yang ada, elemen-elemen tersebut adalah
3. Pencahayaan Taman (parkhghdng) karakteristik fi,sik, penampilan fisik, dan pernrmbuh-
Pencahayaan taman meliputi p urr"-uhuy"an an.
pohon,
semak, bunga, dan jalur, bahkan bila
memung_
kinkan, pencahayaan kolam dan air mancur. Bagaimana tanaman dapat menjadi bagian dari kom-
Tuju_
an pencahayaan taman adalah untuk posisi tergantung dari seberapa besar cahaya yang
mendefinisi_
kan elemen-elemen yang terdapat di taman, mengenainya dan bagaimana tanaman diatur sede-
baik
elemen vegetasi, elemen air, maupun mikian rupa dengan pencahayaan. Apakah pohon
elemen
pendukung lainnya. menjadi titik fokus utama, sampingan, elemen transisi,
atau elemen latar belakang.
Untuk memilih teknik pencahayaan yang sesuai
unruk tanaman tertentu, perancang perlu Sebagai fokus utama, pohon harus diberi cahaya se-
mem-
perhatikan bagaimana tanaman membentuk hingga tampak lebih terang dari objek di sekitarnya.
kom_
posisi cahaya dan juga efek visual yang
ingin di_ Kemudian, perancang harus menentukan jumlah
tampilkan pada ranaman. Menurut Moye, cahaya yang diperlukan. Pohon dengan warna daun
(1992),
ada tiga variabel yang dipakai untuk yang lebih gelap akan memerlukan cahaya yang lebih
memper_
timbangkan pencahayaan tanaman, yaitu banyak untuk menjadi fokus utama.

a. arah cahaya. Variabel ini terdiri atas uplight, Frontlighting menciptakan bentuk, mengikat area ke
downlight, atau sidelighr pemilihan arah dalam kesaruan komposisi. Backlighting menimbulkan
ca_
haya berpengaruh pada penampilan tanaman. ketertarikan pada suasana dan dapat menambah ke-
Meskipun begitu, lokasi pemasangan lampu dalaman dengan memisahkan tanaman dari latar be-
sering kali tidak tersedia. Iakangnya. Sidelighting memberikan tekanan tekstur
pada tanaman dan menciptakan bayangan, baik ver-
b. lokasi pemasangan. Lokasi pemasangan
me_ tikal maupun hoizontal.
merlukan pertimbangan letak terhaduf ,unu-_
an, apakah di depan, di samping, di
telakang
.1]9________ Desain pencahayaan Arsitektural
Konsep Pencahayaan Eksterior il9
4.3.2 rllendefinirikon Ruong
dan pola lantai, walaupun ketinggian lantainya sama.
Sebuah ruang dapat terbenfuk apabila memiliki ba-
tasan-batasan yang jelas. Batasan ruang dapat terbaca
karena adanya perbedaan dengan lingkungan sekitar- IJ
^
nya. Perbedaan tersebut dapat berupa elemen fisik \[
maupun nonfisik. Ruang sosial, misalnya, dapat
terbentuk akibat adanya perbedaan status sosial dalam
masyarakat. Demikian halnya dengan ruang publik
dan privat yang dibedakan oleh status kepentingan (o) (b)

yang terdapat di dalamnya.

Secara visual, ruang dapat dibaca karena adanya per-


bedaan elemen-elemen visual, termasuk elemen fisik.
Perbedaan elevasi lantai, perbedaan dimensi dinding,
wanla, dan sebagainya akan mempertegas batasan
ruang yang satu dengan ruang lainnya. Keberadaan
sesuatu di dalam atau di luar ruang memang sangat
s Lh#
tergantung pada batasan-batasan tersebut. Namun, (d)
ruang hanya dapat dipahami keberadaannya secara
visual apabila ada cahaya yang memadai, yang mampu
memberikan informasi visual dari elemen-elemen
pembentuk ruang tersebut.

Elemen-elemen pembenruk ruang tidak saja berupa Gombor 4.14


sebuah objek permanen, seperti dinding bata, dinding Ruong-ruong yong dibenluk dengon berbogoi
(0r0, yoilu dengon (o) perbedoon elevosi, (b)
kayu, kolom beton, dan sebagainya, tetapi juga objek-
perbedoon leksluy'worno, (r) penggunoon
objek yang tidak permanen. Sebuah kain tipis yang sheller,(d) elemen goris verlikol, don (e)

digantung secara vertikal akan membentuk sebuah (4 elemen bidong vertikol


ruang dan memisahkannya dengan ruang lainnya.
Ruang juga tidak hanya dibentuk oleh elemen-elemen Pencahayaan dapat digunakan unfuk membentuk
vertikal (seperti dinding), tetapi juga dibentuk oleh ruang melalui dua pendekatan, yaitu
elemen horizontal (lantai dan langit-langit). per- 1. mempertegas elemen struktural dan
bedaan ketinggian lantai dengan lingkungan sekitar-
nya telah menciptakan ruang tersendiri. Hal yang 2. menggunakan intensitas cahaya, warna cahaya,
dan pola cahaya.
sama juga berlaku untuk perbedaan tekstur, warna,
t20
Desain pencahayaan Arsitektural
Konsep Pencahayaan Ekterior t2t
*:l"t memang tidak hanya mampu dite4emahkan
oleh indra penglihatan ,aja. Indr" dan dipahami keberadaannya. Tanpa adanya caha-
tr_ ;;l; manusia ya, ruang tidak dapat didefinisikan karena batasan-
pun dapat mendefinisikan ruang.
Numrrr, nrang yang
diterjemahkan secara visual sa"ngat batasannya tidak terbaca.
t"rg_to.,g p"d,
cahaya sehingga volume, suasana, Dalam kondisi ini, pencahayaan artifisial akan
dan kualitas ruang
tersebur dapat didefinisikan. memainkan peran pentingnya. Pencahayaan arti-
1. Mempertegas Elemen pembentuk
Ruang
fisial dapat menampilkan kembali batasan-batasan
Pada siang hari, elemen_elemen ruang dengan menerangi elemen-elemen pemben-
mampu tuknya. Melalui pencahayaan artifisial, kualitas
"krt".t.
memberikan informasi visual dan
menampilkan
batasan-batasan ruang yang dibentuk ruang dapat ditampilkan seperti pada kondisi di
oleh elemen_
elemen titik, garis, maupun bidang. siang hari dengan pencahayaan bav (diffitse). Se-
Informasi lain itu, pencahayaan artifisial juga dapat di
visual mengenai batasan_batasan
ruIrrg t".r"b.rt gunakan untuk meningkatkan kualitas ruang dan
mampu dicapai karena terpenuhinya
Iebutuhan mempertegas batasan-batasannya dengan mencip-
cahaya oleh matahari, terlebih jika
ialam kondisi takan kekontrasan pada elemen pembentuk ruang
cuaca yang mendukung.
dengan lingkungan sekitarnya. Elemen-elemen
Ruang-ruang yang telah dirancang pembentuk ruang tersebut berupa elemen vertikal
oleh arsitek
maupun arsitek lanskap dengan
elemen arsitek_ dan horizontal.
tural atau struktural, ,"p"ai dinding,
kolom,
lanrai, langit{angit, jalur pejalan
kaki, din elemen a. ElemenVertikal
vegetasi, dapat dibaca dan didefinisikan Elemen-elemen arsitektural pembentuk ruang
karena
terpenuhinya kebutuhan cahaya dapat digunakan untuk membentuk ruang de-
oleh matahari.
Perbedaan struktur, bentuk, ngan menciptakan batasan-batasan secara ver-
dimenri, material,
warna, tekstur, elevasi, dan sebagainya tikal dan horizontal. Secara vertikal, elemen-
akan ter_
baca dengan jelas dan membentuk
batasan_batasan elemen pembentuk ruang yang biasa
yang akan dipahami dan dimengerti digunakan adalah dinding dan kolom. Pada
sebagai
sebuah ruang. malam hari, kedua elemen tersebut dapat
Pada malam hari, tanpa adanya dipertegas keberadaannya dengan pencahaya-
pencahayaan yang
memadai, batasan-batasan tersebut an artifisial, baik menggunakan arah cahaya
akan menghi_
lang di dalam kegelapan. Secara menyebar (ditrase), dari bawah (uplight) mart-
visual, seluruh
ele1el yang terdapat pada lingkungan pun dari atas (downlight).
tersebur
sama, yaitu tidak memiltfi informasi
lenildi
visual. Tanpa informasi visual dari
elemen_elemen
tersebut, sebuah ruang tidak dapat
didefinisikan
122
Desain pencahayaan Arsitektural Konsep Pencahayaan Eksterior t23

2. Menggunakan Intensitas Cahaya, Warna Cahaya,


dan Pola Cahaya
Ruang dibentuk dengan menciptakan batasan-
Gombsr 4.1 5
flemen-elemen verlikol
batasannya. Artinya, batasan-batasan tersebut ti-
pembentuk ruong dopot dak hanya berupa sebuah massa atau objek padat.
didefinisikon dengon Dengan kata lain, pencahayaan pun dapat diguna-
penrohoyoon (simulosi
kan untuk membentuk sebuah ruang.Namun, ber-
dengon soflwore Diolux
beda dengan ruang yang dibentuk secara struk-
4.2 don lompu trro)
tural, ruang yang dibentuk dengan pencahayaan
b. Elemen Horizontal hanya dapat dirasakan keberadaannya secara
visual.
Elemen-elemen arsitektural pembentuk
ruang
secara horizontal adalah lantai
dan langit_
Batasan-batasan ruang secara visual dibentuk
langit. Elemen-elemen tersebut dapat dengan beberapa pendekatan pencahayaan, seperti
hadir
secara terpisah atau secara bersamaan perbedaan intensitas cahaya, perbedaan warna
saat
proses penciptaan ruang. Ketika cahaya, dan perbedaan pola cahaya.
kedua elemen
tersebut hadir secara bersamaan,
ruang yang a. Intensitas Cahaya
terbentuk akan semakin tegas dur "*^.,g
tersebut dapat membedakan posisi .,di Perbedaan intensitas cahaya atau tingkat te-
dalam,,
dan "di luar" dengan sangat jelas. rang cahaya dapat membentuk ruang dengan
Sama halnya
dengan elemen vertikal, kedua adanya kekontrasan antara gelap dan terang.
elemen rer_
sebut dapat dipertegas keberadaannya Semakin tinggi kekontrasan yang dihasilkan,
dengan
pencahayaan diffitse, uphghA semakin tegas pula batasan-batasan ruang yang
atau downlight.
terbentuk.
Gombor 4.16
Ruong-ruong yong Ketika diadakan pesta api unggun di sebuah
dibentuk oleh elemen

IW
lapangan terbuka, peserta pesta pasti akan me-
horizonlol dopot
ngelilingi api unggun pada area yang diterangi
diperlegos dengon
berbogoi pendekoton oleh cahaya api unggun tersebut. Area yang

rurruw
penrohoyoon dikenai cahaya akan membentuk sebuah ruang
(simulosi dengon dan para pesefia pesta akan berupaya untuk
soflwore Diolux 4.2
berada pada area tersebut. Namun, batasan
don lompu trro)
ruang yang terbentuk oleh cahaya api unggun
akan menjidi sangat fleksibel. Ketika intensitas
cahaya api unggun semakin mengecil karena
124 Desain pencahayaan Arsitektural Konsep Pencahayaan Eksterior t25

bahan bakarnya berkurang, ruang yang ter_ berlaku pada sebuah lingkungan tanpa perbe-
bentuk pun akan semakin mengecil.
daan elevasi yang batasannya ditentukan oleh
pertemuan antara gelap dengan terang.
Cahaya dapat digunakan untuk mendefinisikan
atau menciptakan ruang dengan menggunakan
intensitas cahaya tertentu. Penetapan inten-
sitas cahaya yang digunakan sangat dipenga-
Gombor 4.1 7 ruhi oleh fungsi mang. Fungsi ruang ditetap-
(ohoyo yong
kan berdasarkan kegiatan yang akan dilakukan
dihosilkon oleh opi
unggun okon
didalamnya. Setiap kegiatan pun masih memi-
mendefinisikon ruong liki kebutuhan intensitas cahaya yang berbeda,
dengon luos lerlenlu begitu juga dengan pengguna mang. Pengguna
yong songol
ruang akan memiliki kemampuan berbeda
lergonlung podo
inlensilos rohoyo dalam mendapatkan informasi visual. Hal ini
yong dihosilkon sangat terkait pada perbedaan usia yang di-
miliki masing-masing pengguna dan faktor
Hal yang sama juga terjadi pada sebuah ruang internal lainnya.
pertemuan dengan intensitas cahaya yang se_
suai standar dan digunakan untuk acara yang b. Warna Cahaya
dihadiri oleh banyak orang pada malam hari. Pada prinsipnya, penciptaan ruang dengan
Pada awalnya, mang pertemuan tersebut dapat warna cahaya sama seperti penciptaan ruang
didefinisikan dengan baik. Batasan-batasan dengan intensitas cahaya. Pada warna cahaya,
ruang yang terbentuk oleh dinding, kolom, batasan ruang dibentuk dengan kekontrasan
lantai, langit-langit, atau elemen furnitur dapat antara warna yang satu dengan warna lain.
diterima secara visual. Namun, ketika secra Semakin kontras warna-warna tersebut, sema-
tiba-tiba terjadi pemutusan aliran listrik yang kin kuat ruang yang terbentuk, misalnya pe-
mengakibatkan semua sumber cahaya padam, makaian warna merah dengan Drru dan seba-
orang-orang yang ada akan panik karena gainya. Demikian juga sebaliknya, semakin ti-
batasan ruangnya "hilang". pis perbedaan warna-warna tersebut, semakin
Dengan adanya kekontrasan pada sebuah ling- kabur batasan ruang yang ada, misalnya pema-
kungan, kita dapat membedakan sesuatu yang kaian warna merah dengan ungu, ata:u warna
berada di dalam atau di luar ruang tanpa harus birudengans.ngu.
menggunakan pembatas struktural. Hal ini pun Dalam menciptakan variasi warna, sumber-
sumber cahaya dapat ditambah dengan filter
1_T________ Desain pencahayaan Arsitektural
Konsep Pencahayaan Eksterior 127

wanla sesuai dengan kebutuhan desain atau


nambahkan lensa yang berbeda pada armatur
dengan lampu LED. Filter warna biasanya
lampu yang sama.
merupakan aksesoris yang disediakan oleh
pabrik pada beberapa armatur yang mereka
produksi.

Gombor 4.18
Gombor 4.19
Worno cohoyo dopol
Ruong sirkulosi lineor
digunokon unluk
dibenluk dengon
menriplokon ruong don
permoinon polo cohoyo
mempertegos boloson-
(simulosi dengon
boloson ruong
soflwore Diolux 4.2 don
(Sumber: ERCO
lompu [rco)
Progrom 2008109l,

c. Pola Cahaya
4.3.3 lilandafinirikon /froro
Ketika kita pada malam hari berada di sebuah
ruang terbuka yang sangat luas yang tidak Arsitekrur dapat disebut permainan massa dan ruang
berdinding pembatas, kita akan melihat bahwa untuk memenuhi kebutuhan fungsional atau konsumsi
sumber cahaya yang dihadirkan pada ruang estetika visual. Dalam menciptakan ruang fungsional
terbuka tersebut akan mengenai elemen yang mengakomodasi berbagai aktivitas, permainan
permukaan horizontal (lantai, tanah, rumput, dan pengolahan massa menjadi bagian di dalamnya.
dan sebagainya) dan menciptakan batasan Massa-massa yang membentuk ruang dapat berupa
ruang sesuai dengan pola cahaya yang terben_ elemen titik maupun bidang. Elemen titik kerap diim-
tuk. Dengan memainkan pola cahaya, perbeda- plementasikan melalui pengolahan dan pengaturan
an antara pola cahaya yang saru dengan yang kolom, sedangkan elemen bidang membentuk ruang
lainnya akan terbentuk. Pola-pola cahaya ter- melalui pengolahan dinding.
sebutlah yang akan menciptakan ruang. pola
Selain mewadahi aktivitas dalam perwujudan ruang,
cahaya dapat diciptakan dengan menggunakan
permainan massa diwujudkan dalam suatu produk
armatur lampu yang berbeda atau dengan me_
desain untuk memenuhi kebutuhan estetika, misalnya
sebuah sculpture yang sering kali Iebih ditujukan
128 Desain pencahayaan Arsitektural Konsep Pencahayaan Eksterior t29

untuk tujuan visualnya dibandingkan tujuan fungsi_ Pendekatan pencahayaan yang berbeda pada sebuah
onal atau kegunaannya. Ketika muncul kebutuhan massa yang sama akan menghasilkan impresi yang
akan suatu makna yang spesifik dari arsitektur sebagai berbeda pula. Intensitas cahaya, warna cahaya, arah
perwujudan identitas atau kekhasan lokal, maka cahaya, dan pola cahaya yang diberikan pada sebuah
elemen-elemen tersebut mendapat suatu perlakuan massa akan menghasilkan beragam variasi kesan
khusus dalam penyelesaian desainnya. Setiap pertemu_ visual. Gambar 4.20 menunjukkan efek visual yang
an kerap dianggap sebagai sesuatu yang penting. Massa dihasilkan oleh penggunaan cahaya langsung (kiri),
pun mengalami suatu transformasi dari bentuk geo_ kombinasi cahaya langsung dan baur (tengah), dan
metri aslinya. Proses transformasi tersebut yang di_ penggunaan cahaya baur (kanan). Dalam hal ini, ba-
padukan dengan pengoptimalan material dan tel$tur yangan nrrut memperkuat dan sekaligus melemahkan
menghasilkan banyak karya arsitektur yang sangar kesan visual sebuah massa sehingga konsep pen-
menarik. cahayaan harus mempertimbangkan kekuatan karak-
ter sebuah objek.

ffi ffi
Namun, berbagai sajian visual yang telah dihasilkan
tidaklah dapat dinikmati ranpa adanya cahaya. Hal ini
tentu saja sangar dipahami oleh setiap arsitek. Sebuah
massa berbenruk kotak akan dapat dipahami bentuk_
Ifl {-l
[,^sI
|'ry1

ffi ff:l ffit


ffiM tl--
nya apabila pertemuan-pertemuan bidang permukaan Gombor 4.20
atau sisi-sisinya dapat diakses secara visual. Kurangnya Penggunoon tohoyo

pencahayaan akan menyebabkan terjadinya pergeser_ ] longsung (kiri),

an persepsi pada sebuah massa karena banyak infor_ ["Fffi longsung don bour

ffi W
I (tengoh), don rohoyo
l-l
masi visual akan menghilang, baik informasi bentuk, bour (konon)
warna, tekstur, kedalaman, dan informasi fisik lainnya. memberikon efek

Namun, tingkat intensitas cahaya yang berlebihan pun visuol yong berbedo
(Sumber: Gonslondl
dapat menimbulkan dampak visual yang sama. Cahaya
yang berlebihan akan menyebabkan massa atau bidang
l'*'l & Hofmonn, 1992)

permukaan memantulkan dan membiaskan cahaya


Ada beberapa hal yang harus diperhatikan oleh arsitek
lebih banyak sehingga mata tidak dapat mengalses
dalam pendefinisian massa, yaitu bentuk, detail,
informasi visual dengan baik. Misalnya, sebuah bi-
material, telstur, dan struktur.
dang permukaan dengan tekstur kasar yang dikenai
cahaya berlebih akan kehilangan informasi visual 1. Bentuk
mengenai detail tekstur yang dimilikinya. Bayangan Dalam arsitektur maupun bidang desain lainnya,
yang dibutuhkan dalam menyampaikan informasi termasuk desain lanskap sampai desain produk,
visual mengenai kedalaman tekstur juga tidak akan bentuk akan menjadi suatu pertimbangan utama'
tercipta ketika cahaya yang diberikan berlebihan. Bentuk, yang untuk alasan inilah arsitektur hadir,
r30 Desain Pencahayaan Arsitektural Ls'-:zl-"rtv:ll!!:::l9j---- ----------L1l

bukan hanya sebagai sebuah sajian visual untuk Seperti halnya sebuah ruang yang dapat dirasakan
kenikmatan indra visual kita. Tetapi bentuk me- keberadaannya apabila batasan-batasannya dapat
miliki tanggung jawab yang sangat besar terhadap dipahami dengan baik, sebuah bentuk massa ba-
kenyamanan, keamanan, dan keberlangsungan se- .rjrrr* pun juga demikian' Sebuah bentuk kotak
buah aktivitas. Bentuk sebuah ruang akan meme- akan dipahami kekotakannya hanya iika kita men-
ngaruhi kenyamanan pada ruang tersebut serta dapatkan informasi mengenai Pertemuan bidang-
kualitasnya dalam menjalankan tugas fungsional- bidang sebagai elemen pembentuknya' Pertemuan-
nya. Bentuk sebuah bangunan akan mencitrakan pertemuan tersebut patut mendapatkan penekanan
bangunan tersebut dalam konteksnya, bahkan dalam desain pencahayaan karena dalam perte-
akan melekatkan sebuah jati diri pada pemiliknya. muanlah sebuah makna keberadaan dapat di-
Bentuk sebuah lanskap pun sama, bentuk tersebut pahami'
akan menentukan apakah bentuk tertentu akan Gambar 4'21 (a) dan (b) dapat menggambarkan
mampu menyita perhatian dan melayani orang perbedaan kesan visual yang dihasilkan oleh
yang berada di dalamnya. penemPatan pencahayaan uptight yang berbeda'
Pada perkembangannya, bentuk mengalami berba- Gambar a.21 (a) lebih menekankan Pertemuan
gai perubahan yang terkait dengan perkembangan antara dua bidang permukaan sehingga batasan-
aliran dan perubahan gaya hidup (life sqie). batasannya yang jelas akan mampu memberikan
Namun, dalam berbagai perkembangan yang terja- informasi visual tentang bentuk massa secara
di, kehadiran bentuk-bentuk dasar geometri, se- keseluruhan. Hal ini tidak terjadi pada gambar
perti kotak, lingkaran, dan segitiga, tetap dapat 4.21 (b) karena keempat bidang vertikal akan
dirasakan. terbaca sebagai bidang-bidang yang saling terpisah
sehingga tidak mampu membentuk persepsi me-
Sebuah bentuk massa bangunan akan dapat di- ngenai bentuk massa dengan baik'
rasakan makna kehadiran dan kekuatan desainnya

E@
apabila terdapat cahaya yang memadai. Pada siang
hari, di sebuah ruang terbuka, kehadiran bentuk
dapat diakses secara visual. Sebaliknya, pada
malam hari, dengan latar belakang kegelapan kita
dapat melakukan penekanan-penekanan dalam
pendefinisian dart penegasan bentuk massa ba-
ngunan, sekaligus menyimpan bagian lainnya. Hal
ini dapat dilakukan dengan pendekatan melalui
ll tt
Gombor 4.21
Pelelokon lomPu
uplightokan
desain pencahayaan yang baik. l
me mengoruhi imPresi
podo sebuoh mosso
1l_2________ Desain pencahayaan Arsitektural
Konsep Pencahayaan Eksterior t33

Gambar 4.23 menunjukkan bentuk yang mendo-


minasi konteks melalui penambahan filter warna
pada lampu floodflight.

Gambor 4.22
Perlemuon onlorbidong
don goris yong ielos,
serlo lolor belokong
yong gelop membuol
sebuoh mosso dopol
dipohomi dengon boik
(tolo: Wiyotiningsih)
Gombor 4.23
Dalam sebuah ruang visual dengan informasi Penombohon fiher worno
mompu membuol sebuoh
visual yang sangat kompleks, mata tidak akan
mosso mendominosi
memiliki fokus terhadap sebuah objek tertentu. konleks
Seluruh objek yang terdapat dalam ruang visual (toto: Wiyoiiningsih)
akan memiliki porsi visual yang relatif sama.
2. Detail
Dalam kondisi ini, sering kali intensitas pen-
Detail arsitektural merupakan suatu penghargaan
cahayaan tidak mampu memberikan aksentuasi
terhadap pertemuan elemen-elemen arsitektural.
pada sebuah objek. Di sisi lain, jika intensitas caha-
Keberadaannya menjadi penting karena hadir dari
yanya semakin tinggi, tingkat kesilauan (Sluu)
kesadaran seorang perancang akan pentingnya
yang dihasilkannya pun akan semakin besar, dan
sebuah aksentuasi pada pertemuan tersebut, baik
hal ini tentu akan memengaruhi tingkat kenya-
pertemuan kolom dengan balok, bidang vertikal
manan visual. Dalam kondisi ini, pemberian warna
dengan bidang horizontal, dinding dengan din-
pada cahaya merupakan suatu pendekatan yang
ding, maupun pertemuan antarbidang atap.
mungkin diterapkan. W'arna cahaya melalui pe-
nambahan filter warna dapat digunakan untuk Detail berbeda dengan sebuah ornamen yang hadir
mempertegas sebuah bentuk massa, menampilkan pada sebuah bidang permukaan, baik dalam ben-
batasan-batasan, dan memperkuat kesan visualnya. tuk dua dimensi maupun tiga dimensi. Kehadiran
t34 Desain Pencahayaan Arsitektural ["]'_ep_I_"11trygt!$t-19t---- ----------l-3-:

paran akan meneruskan cahaya ke bagian sisi


ornamen yang lebih ditekankan pada pengisian
lainnya, sedangkan bidang permukaan yang masif
sebuah bidang permukaan membuat ornamen
akan memiliki kecendemngan untuk memantul-
memiliki peran yang lebih kecil dibandingkan
kan cahaya. Warna material pun akan meme-
sebuah detail yang menyatu dengan sebuah desain.
ngaruhi besarnya cahaya yang dipantulkan atau
Melalui desain pencahayaan, kekuatan sebuah diserap.'Warna gelap akan lebih banyak menyeraP
detail sekaligus aksentuasi sebuah pertemuan dapat cahaya, sedangkan warna cerah akan cenderung
lebih diperkuat. Penggunaan intensitas cahaya memantulkan cahaYa.
yang lebih tinggi pada sebuah detail akan mem-
Besarnya cahaya yang dapat diteruskan oleh
buat perannya menjadi semakin penting dalam
sebuah bidang permukaan sangat dipengaruhi oleh
sebuah ruang visual.
tingkat transparansi bidang tersebut. Kaca bening
akan meneruskan lebih banyak cahaya dibanding-
kan kaca buram. Dengan demikian, pemilihan
material bangunan harus dipertimbangkan sejak
awal proses desain. Dengan kata lain, peran
seorang ligh ting designer tidaklah selalu dilibatkan
pada tahap akhir ketika bangunan sudah berdiri,
namun sejak tahap awal perancangan agar dapat
memutuskan kesan visual dan dampaknya ter-
hadap lingkungan visual'

Gombor 4.25
Tingkol tronsporonsi

Gombor 4.24 don ienis moleriol okon

Perlemuon kolom don memengoruhi oroh don

bolok meniodi semokin seboron tohoyo' (o)

kuol melolui lronsmisi longsung, (b)


pencohoyoon lronsmisi meniolor, don
(c) tronsmisi menyebor

3. Material (Sumber: Stefly,

Material memiliki pengaruh yang sangat besar (o) 0) (() 20021

pada perilaku yang dihasilkan oleh cahaya. ]enis Tabel 4.1 menuniukkan perilaku material dalam
material yang digunakan oleh bidang permukaan memantulkan cahaya yang mengenainya, dengan
pun akan menentukan apakah cahaya akan di- arah cahaya yang tegak lurus terhadap bidang
teruskan, dipanrulkan, atau diserap oleh sebuah permukaan. Pemahaman mengenai hal ini menjadi
bidang permukaan. Bidang permukaan yang trans- penting, tidak hanya untuk mengetahui efek caha-
.119________ Desain pencahayaan Arsitektural Konsep Pencahayaan Eksterior t37

ya yang mengenai bidang permukaan, namun juga Tobel 4.2 Bohon-bohon yong lembus tohoyo
untuk memahami banyaknya cahaya yang akan
fronsmisi Relleksi Absorpsi fingkol
dipantulkan dan memengaruhi kondisi visual di Tebol
Bohon honloron pontulon reropon penyeborun
mm
sekitarnya. Cahaya pantulan (luminance) yang to tohovo
berlebihan akan menyebabkan ketidaknyamanan
koco polos lerong t-4 90-92 6-8 2-4 songol lemoh
visual lingkungan dan akan memengaruhi citra vi- koco prismc 3-6 90.70 5-20 5-r 0 kuol
sual bangunar secara keseluruhan. Selain memiliki koco ornomen 3-6 90-60 t-20 3-20 lemoh
kemampuan untuk memantulkan cahaya, sebagian (cohoyo podo sisi holud
koro mol esl 2-3 78-63 t2-20 t0-t7 lemoh
material lainnya juga dapat meneruskan cahaya. (rohoyo podo sisi holud
Perilaku untuk meneruskan cahaya tergantung koco opol 2-3 66-36 3t-54 3-10 kuot
pada jenis material dan tingkat transparansi yang olbosler murni il-t3 30-r 7 54-62 t6-2t kuol
koro lermoluks 5-8 4t-21 37-48 6-25
dimilikinya. I redong
pulih kerlos pergomen t-2 55-35 35-50 r0-15 sedcng
serol-serot pulih lipit 70-30 30-60 2-8 sedong
Tobel 4.1 Bohon-bohon yong tidok lembus rohoyo
(sulro, kolun)

Refleksi l(emonpuon
Bohon Pemonlulon
penveboron rohovo
(Sumber, Mongunwiioyo, 2000)
oluminium songol mengkilou 80-85 songol lemoh kuot
oluminium mot/burom 55-65 kuot songol lemoh
emoil putih 65-75 sedong lemoh
gips putih segor 85-95 kuol songol lemoh
kerlos putih burom 70-80 sedong I emoh
kertos putih mengkilou 70-80 lemoh sedong
rermin koco 80-88 songol lemoh kuol
perok dipoles 90-92 songot lemoh kuol
gronil 20-25 lemoh
bolu kopur 35-55 sedong
koyu mohoni dipoles 6-12 lemoh
plesleron kopur pulih 40-45 sedong
plesleron rol gelop 0-25 songol lemoh
bohon hitom 0-0,5 songol lemoh
koyu kosor 0-40 lemoh
botu boto (bosoh) 8-30 lemoh
bolu holo (kering) sedong
belon kosor Gombor 4.25
20-30 kuol
genling meroh boru Sumber cohoyo yong
l0-t5 kuol
genling kolor 5-t 0
dilelokkon di dolom
kuol
koco semilronsporon
mompu memberikon
(Sumber: Mongunwiioyo, 2000)
efek visuol yong
menorik
r38 Desain Pencahayaan Arsitektural Konsep Pencahayaan Eksterior I 39

4. Teksnrr
sudut datang \- sudut datang (sama
Tekstur sebuah bidang permukaan memiliki suatu \dengan sudut pantul Pada

peran dalam memperkuat kesan visual bangunan \te,irt oias")

maupun lanskap. Kehadiran tekstur kerap mampu


memberikan kesan yang lebih mendalam pada
sebuah desain. Penggunaan batu alam, misalnya,
akan membuat kesan alami sebuah bangunan men-
jadi lebih kuat. Di sisi lain, tekstur juga memiliki
peran fungsional, baik untuk menjaga keselamatan
pengguna jalur pejalan kaki maupun plaza, sampai
pada sebuah elemen pengarah bagi kaum difabel.

Penggunaan cahaya dengan intensitas tinggi dapat


berdampak pada hilangnya informasi visual me-
ngenai karakteristik tekstur sebuah bidang permu-
kaan. Cahaya yang datang secara frontal dengan
intensitas tinggi akan menyebabkan hilangnya
bayangan yang dibutuhkan untuk menampilkan
kesan tiga dimensi dan kedalaman tel<stur. Se-
baliknya, kurangnya pencahayaan jrg" dapat
menurunkan karakter tekstur.
Gsmbor 4.27
Tiap-tiap tekstur akan memiliki perilaku yang Aroh ponlulon rohoyo
berbeda dalam merespon cahaya. Beberapa jenis songol dilenlukon oleh
tekstur mampu memantulkan cahaya secara me- lekslur permukoon:
nyebar (diffuse), sedangkan jenis lainnya akan (o) ponlulon sperulor,
(b) ponlulon s eni specalor,
memantulkan cahaya sesuai dengan sudut datang- (c) ponlulon menyebor
nya cahaya (specular). (Sumber: Sreffy,2002)
119________ Desain pencahayaan Arsitektural Konsep Pencahayaan Eksterior t4t

Elemen garis, misalnya, dapat diberi penekanan


dengan spotlight, narrow beam, atars, sudut cahaya
yang kecil. Besar-kecilnya sudut cahaya harus
disesuaikan dengan dimensi struktur, kolom beton
berdimensi 40 x 40 cm tentu mendapat perlakuan
yang berbeda jika dibandingkan dengan rangka
baja 10 cm.

Gsmbor 4.28
Tekslur yong berbedo
podo sebuoh fosod okon
menghosilkon efek
cohoyo yong berbedo
pul o

Stnrktur
Elemen struktur bangunan merupakan performa Gombor 4.29
Hemen goris yong
kekuatan bangunan tersebut. Hal ini menunjukkan
dibentuk oleh rongko
bahwa elemen struktur memiliki peran visual yang bojo podo Menoro [iffel
sangat penting. Elemen struktur yang terdiri atas lelop dopot diokses
elemen garis, bidang, dan ruang akan menjadi secoro visuol wolou dori

sangat dominan di dalam sebuah penampilan ba- iorok yong rukup iouh
(toio: Wiyotiningsih)
ngunan. Elemen garis yang dibentuk oleh struktur
rangka, baik berupa kolom maupun balok, akan Pada gambar 4.29, elemen garis yang dibentuk
memengaruhi citra visual sebuah bangunan dan oleh struktur rangka baja, menjadi kekuatan visual
bahkan mampu mendominasi konteks. Dengan Menara Eiffel. Pada malam hari, menara tersebut
demikian, elemen struktur dapat menjadi semakin justru semakin mendominasi konteks dengan latar
dominan secara visual dengan penekanan melalui belakang kegelapan malam. Bahkan, dari jarak
pencahayaan. Namun, pemilihan sumber cahaya yang cukup jauh, elemen garis rangka bajanya
dan armatur lampu juga harus disesuaikan dengan masih dapat di.akses secara visual. Pencahayaan
bentuk dan karakter struktur tersebut. Menara Eiffel merupakan salah satu contoh
pendekatan pencahayaan yang sangat baik.
.|42 Desain pencahayaan Arsitektural Konsep Pencahayaan Eksterior t43

Berbeda dengan Menara Eiffel yang keseluruhan


pohon, memiliki elemen struktur dan pengisi se-
tampilannya didominasi elemen strukrur rangka,
perti halnya sebuah bangunan. Pohon yang di-
citra visual gedung HSBC di Hong Kong (Gambar
dominasi oleh batang-batang sebagai elemen
4.30) dibentuk oleh kombinasi dari elemen garis
strukturnya dapat diperlakukan sama seperti ba-
dan bidang. Penggunaan struktur suspended men_
ngunan dalam hal pendekatan pencahayaan.
citrakan kekuatan dan kekokohan bangunan. pada
Sebuah pohon dengan batang-batang yang besar
siang hari, elemen struktur mampu tampil secara
dapat dipertegas dengan lampu Iloodlight dengan
baik karena cukup mampu mendominasi fasad.
warna cahaya kekuningan agar memberikan kesan
Pada malam hari, aksentuasi garis-garis struktur
visual yang menarik pada lanskap secara kese-
semakin dominan pada fasad, bahkan pada kawa-
luruhan. Di sisi lain, pohon yang memiliki elemen
san tersebut.
pengisi yang menarik, seperti daun atau bunga
yang alami, dapat dipertegas dan dijaga citra
visualnya dengan menggunakan cahaya putih.

4.3.4 llendefinirikon funyi


Tujuan utama dari sebuah pencahayaan adalah peme-
nuhan tujuan fungsional yang berkaitan erat dengan
aktivitas yang terjadi pada sebuah ruang. Dalam
menjalankan tugas fungsionalnya, pencahayaan harus
dirancang untuk terlebih dahulu mengetahui kegiatan
yang akan berlangsung, tingkat ketelitian yang di-
butuhkan, kondisi pencahayaan sekitar (lighting exis-
Gombor 4.30 ting), dan material yang ada dalam kaitannya dengan
Slruklur gontung gedung
kemampuan untuk memantulkan cahaya.
H5B( Hong Kong
semokin dominon podo
Namun, sebagai bagian dari sebuah penciptaan kondisi
molom hori
visual, pencahayaan dapat berperan dalam penciptaan
Pendekatan serta pemahaman mengenai penca_ estetika ruang dan bentuk. Pada sebuah ruang luar,
hayaan pada elemen strukrur pada hakikatnya fungsi ruang harus dapat didefinisikan melalui cahaya,
tidak hanya berlaku pada sebuah bangunan, tetapi khususnya untuk kondisi pada malam hari. Sebuah
dapat diimplementasikan pada objek lainnya, se_ taman yang digunakan untuk jalan-jalan, duduk-
perti sculpture, elemen lanskap, pagar, dan elemen duduk, atau sekadar mengobrol tentu akan mem-
vegetasi. Elemen vegetasi, atau dalam hal ini punyai pendekatan penceihayaan yang berbeda dengan
taman yang digunakan untuk membaca, berdiskusi,
.!11________ Desain pencahayaan Arsitektural t45
Konsep Pencahayaan Eksterior

serta pekerjaan ringan lainnya. perbedaan yang terjadi


menjadi bagian utama, demikian pula halnya dengan
adalah pada intensitas cahaya yang dibutuhkan (lihat
keamanan dan keselamatan pengguna ruang.
Bab 2) pada kegiatan-kegiatan tersebut.
Setelah mendapatkan beberapa layer yang dibutuhkan,
Kebutuhan akan fungsi yang akan diakomodasi pada
perancang dapat melakukan elsekusi desain, memilih
sebuah ruang terbuka tentu saja bukanlah keputusan
sumber cahaya dan armatur, menentukan intensitas
seorang lighting designer, namun merupakan keputus-
cahaya yang dibutuhkan, sampai memutuskan letak
an klien dan arsitek perencana. Seorang lighting dan sudut lampu. Dengan demikian, desain penca-
designerakan bertugas untuk mewujud.kan mang yang
hayaan yang dihasilkan akan lebih terintegrasi, baik
mampu mendefinisikan fungsi, menciptakan kondisi
secara fungsional dan estetika, mampu menjamin ke-
visual yang menarik, dan mampu memberikan infor-
amanan dan kenyamanan Pengguna, serta memPer-
masi visual lingkungan sekitarnya. Untuk itu, per-
mudah operasional dan perawatan perangkat lampu.
timbangan perancangan harus dilakukan secara kuan-
titatif dan kualitatif agar mampu menghasilkan desain
yang baik.

Pada sebuah ruang terbuka publik, pengguna ruang


harus dapat mengakses informasi visual, seperti ber- Gombor 4.31
Seloin horus mompu
bagai rambu-rambu, tatda (signage), informasi pera,
mendefinisikon fungsi
dan informasi keberadaan objek-objek di sekitar serto oklivilos yong
(pohon, bangku, jalur pejalan kaki, kolam, dan seba- leriodi, sebuoh plozo
gainya). Hal ini dibutuhkan tidak hanya sebagai pe- kolo jugo horus mompu
menriplokon kondisi
nunjang keberlangsungan sebuah kegiatan, namun
visuol yong menorik
sebagai penjamin keamanan, keselamatan, dan keya-
(Foto: Wiyoliningsih)
manan pengguna ruang.

Untuk mewujudkan desain yang akomodatif terhadap


4.3.5 rTrendafinirikon Pergerokon
kegiatan yang ada sekaligus menciptakan kondisi vi-
sual yang menarik, beberapa layer dalam proses peran- Berbagai kegiatan yang terjadi di ruang terbuka akan
cangan perlu dibuat. Layer-layer tersebut dapat terdiri berlangsung dalam sebuah pergerakan. Pergerakan
atas layer fungsi utama, fungsi pendukung, layer dalam hal ini memiliki berbagai tingkatan kecepatan,
estetika, layer keamanan dan keselamatan, dan layer- kegiatan yang terjadi di sebuah taman tentu memiliki
layer lainnya. Dengan adanya layer-layer tersebut, kecepatan yang berbeda dengan kegiatan jalan kaki
skala prioritas dapat dipetakan dengan baik dalam pada sebuah jaluf pejalan kaki. Di sisi lain, kegiatan
desain. Tentu saja dalam hal ini kebutuhan fungsi pejalan kaki memiliki kecepatan yang berbeda pula
dengan pergerakan kendaraan bermotor di sebuah

,l
-----------t-!7-
["],-:ql-"l.Pgl-l$:::':l----
Bot]ardakanlebihtepatjikadigunakanP-adaruang-
di jalan lingkungan, jalan protokol' atau pergerakan yang memiliki
jalan, baik ruang terbuk, d'""gu" pejalan
jalan tol. i"""i** yang relatif t""auit seperti ialur
kaki'
Dalam mendefinisikan pergerakan yang terjadi pada
malam hari, pencahayaan memainkan peran yang
sangat vital. Dalam konteks ini, keamanan dan
kese-

lamatan Pengguna ruang mempakan prioritas yang


utama. Kedua faktor ini
dapat dicapai apabila peng-
guna mang mendapatkan informasi yang jelas menge-
iai kondisi di sekitar mereka' Informasi tersebut
jalur
mencakup hal-hal, seperti kondisi mang, Iebar
pejalan kaki, jalan yang dilalui, material yang diguna- Gombor 4.32 LomPu

Lan, kondisi bidang horizontal, dan bidang-bidang iolon memiliki Perqn Yong
pembatasnya. Dengan mendapatkan informasi yang songot vilol dolom

jelas, pengguna ruang dapat menentukan tingkat ke-


mendetinisikon Pergerokon
denoon ketePolon linggi
."p"a*r, y"..g digunakan ketika berada pada (toio: WiYotiningsih)
"k"n
manS-nrang terbuka tersebut'
kese-
Pencahayaan dapat digunakan untuk menerangi
luruhan ruang terbuka (termasuk ialur pejalan kaki
dan jalan) dengan menggunakan pole lighting
(llhat
sub-subbab 3.2.4), atau hanya menerangi bidang
horizontal (lantai, jalur pejalan kaki, jalan) dengan
menggu.nakan bollard. Namun, tentu saja penggunaan
salah satu armatur ini harus disesuaikan dengan stan-
Gombor 4.33
dar kebutuhan ruang linear yang ada' Semakin tinggi (ohoyo Yong dihosilkon

tingkat pergerakan, semakin besar kebutuhan akan hollordntmPu


mendefinisikon Pergerokon
irform"si visual, dan semakin kecil kebutuhan akan peiolon koki Podo iolur
detail dari informasi visual tersebut' Dengan demikian' peiolon koki
penggunaan sumber cahaya seperti merkuri dan
lampu (sumber: ERC0

sodium bertekanan tinggi atau HiSh Presswe Sodium irosrorn 2008/09)


yang memiliki effrcary tinggi, namun memiliki
renderasi yang buruk, sangatlah tepat'
r48 Desain Pencahayaan Arsitektural Konsep Pencahay-aan !$1319l--- ----------112.

Pergerakan yang terjadi pada sebuah ruang terbuka


dapat dipahami lebih jauh lagi, tidak hanya mencakup
pergerakan atau perpindahan yang terjadi pada aktivi- Gombor 4.34
tas manusia. Pergerakan yang terjadi pada objek lain di Dengon desoin

sekitar kita juga dapat didefinisikan melalui pencaha- pentohoyoon yong


boik, pergerokon oir
yaan. Pergerakan air, misalnya, baik air mancur (foun-
dopol mentiplokon
rarz) maupun air terjun (cascade), harus dapat didefi- soiion visuol yog
nisikan dengan baik oleh cahaya karena pergerakan air menorik
merupakan elemen penting pada perancangan ruang (Foio: lng. Cosloldi
lluminozione
luar. Pergerakan air dapat ditekankan melalui pen-
Generol Cotologue
cahayaan yang datang dari luar maupun dari dalam air, r /200s)
hal ini sangat tergantung pada konsep perancangEln
secara keseluruhan. Namun, tentu saja Perancangan di-
Penekanan pencahayaan pada air mancur dapat
harus dapat mendefinisikan pergerakannya secara jelas bebe-
lakukan de.,!an pembagian air mancur ke dalam
dan lengkap. Air mancur dengan ketinggian 3 meter
rapa layer (iapisan). Air mancur yang menghasilkan
harus mampu dijangkau oleh cahaya secara utuh.
*u*" Putih dapat dipertahankan atau dipertegas
Cahaya yang hanya mengenai sebagian air mancur air
dengan cahaya yang berwarna Putih' sedangkan
akan menghilangkan informasi visual dan memberikan
permukaan yang tenang dapat menggunakan warna
persepsi yang negatif.
."t ry, yang berbeda, misalnya dengan penambahan
Air yang bergerak umumnya akan menghasilkan filter warna kuning, biru, atau hijau' Namun' tentu
warna putih. Dengan demikian, penggunaan warna saja, pemilihan warna harus disesuaikan dengan
lampu dapat lebih bervariasi, apakah akan memper- konsep perancagan ruang luar secara komprehensif'
tahankan warna air atau bahkan memberikan efek
kontras dengan menambahkan filter warna kuning,
hijau, biru, atau warna lainnya.

Gumbor 4.35
Pergerokon oir dengon
kecepoton linggi leloP
dopol dinikmoli dengon
oksenluosi
pencohoyoon
(Sumber: ERC0
Progrom 2008/09).
t50
Desain pencahayaan Arsitektural

BAB 5
Dokumcntasi Tcknik dan
Tahap lnstalasi

Dalam setiap proses perancangan, pembuatan doku-


mentasi hasil perancangan merupakan tahap yang
sangat penting. Dokumentasi teknik merupakan jem-
batan antara gagasan dan perwujudan perancangan,
sekaligus menjadi benang merah antara perancang/
desainer dan pelaksana sebagai pihak yang bertang-
gung jawab pada tahap konstruksi.

Hal yang sama terjadi pada setiap perancangan pen-


iahayaan, baik pencahayaan interior maupun ekste-
rior. Gagasan desain yang sudah tertuang secara kon-
septual membutuhkan gambaran detail secara menye-
luruh agar dapat diwujudkan. Dalam hal ini, lighting
designer bertanggung jawab dalam pembuatan doku-
mentasi teknik agar pihak pelaksana atau kontraktor
dapat mewujudkan gagasan tersebut.

Pada umumnya, dokumentasi teknik dibuat setelah


konsep pencahayaan disetujui oleh klien/pemilik
proyek. Gagasan yang dipresentasikan secara jelas dan
dapat merepresentasikan keadaan sesungguhnya akan
memberikan gambaran yang jelas bagi klien untuk
mengambil keputusan. Untuk itu, pada tahap penyam-
paian gagasanlkonsep desain, teknologi komputer
modelling dengan hasil rendering yang baik akan
sering digunakan. Teknik lain yang sering digunakan
adalah teknik mock-up, namun cara ini membutuhkan
r52 Desain Pencahayaan Arsitektural
.P-"-Lvsg'i-E9L!:*!s-['::B:i- -----Ls-l

Peletakan lampu uplight, diffitse' dan


wallwasher
biaya yang besar.
hanya memperhatikan posisi sasara yang akan
tidak
Ketika konsep pencahayaan telah disetujui, pihak pe- diterangi, namun juga harus memperhitungkan iarak
rancang akan membuat dokumentasi teknik atau lampu dari sasaran dan lokasi peletakan yang
me-
gambar kerja yang digunakan sebagai pedoman bagi walaupun mem-
mungkinkan. Peletakan yang salah'
pihak pelaksana&ontraktor dalam tahap instalasi dan beriian efek pencahayaan yang baik pada sasaran'
ke-
konstruksi. Dengan demikian, berbagai proses instalasi hanya akan mengganggu kesatuan desain-secara
yang harus dilakukan oleh pihak pelaksana dapat juga akan meng-
selumhan. Selain itu, hal tersebut
ganggu aktivitas yang terjadi di dalam ruang'
dibaca pada dokumen yang dibuat yang meliputi hal- dan
hal, seperti rencana titik lampu, spesifikasi lampu (tipe L"tgrr."rgi kenyamanan dan keselamatan pengguna
armatur, sumber cahaya, daya yang dibutuhkan, dan ruang.
sebagainya), gambar detail pelaksanaan, pengelom-
pokan lampu (grouping), arah/sudut cahaya, dan Pada rencana titik lampu, berbagai data harus disaji-
melakukan
rencana anggaran biaya. kan secara ielas agar pihak pelaksana dapat
yang diinginkan peran-
proses instalasi sesuai dengan
posisi Iampu
D"t, tersebut meliputi letak atau
5.1 D0|(U,I'[NIA!l l[l(l.lIl( ""rrg.
sefta arah atau sasaran yang akan disorot
(khususnya
sorot, floodlight, dan wallwasher)' letak/
bagi lampu
5..l.1 Rancono Titik Lompu
piiri bullrrr atau transformer' sistem kontrol serta
Selain berorientasi pada konsep desain untuk mewu- grouping lampu, jaringan kabel' dan simbol-simbol
"y"rrg akan
judkan kondisi visual yang diinginkan, pembuatan dii,r"uLan. Informasi yang tidak jelas hanya
Rencana
rencana titik Iampu juga harus memperhatikan kondisi *"r.rUrr", Proses instalasi menjadi terganggu'
di lapangan. Pembuatan rencEma titik lampu tidak titik lampu juga akan menjadi suatu arahan pada
dapat mengabaikan kondisi nyata mauPun Peran- gambar detail serta spesifikasi lain yang lebih konkret'
cangan arsitektur. Selain agar tercipta desain yang
utuh, hal tersebut dilakukan agar proses instalasi atau
konstruksi dapat dilaksanakan dengan baik. Peletakan
lampu downlight pada plafon, misalnya, harus mem-
perhatikan pola plafon dan posisi balok-balok rangka
plafon agar mendapatkan posisi peletakan yang baik.
Demikian pula halnya pada lampu uplighC difrtse,
wallwasher, dan lampu lainnya. Selain memengaruhi
posisi lampu, kondisi nyata juga akan menentukan
sistem jaringan kabel yang akan dibuat"
154 Desain pencahayaan Arsitektural Dokumentasi Teknik dan Tahap lnstalasi r55

SYMBOLS LIST karakter cahaya yang akan dihasilkan, baik intensitas


cahaya, warna cahaya, maupun pola cahaya. Dari sisi
rC. - I[:ft1Ll!
Lo] nGrrrou,sTso
[} ;lntroH aox
teknis, perancang akan mempertimbangkan secara
|-- osrq;*r;itouru
rE D AlJusrAEL s sirldrg PoL swtTcs
tersendiri daya yang dibutuhkan, ballastyang diguna-
/ f l JU{CImaulilouHlEO
AOJUSiAALE TIXIURF
Srrl LO,,t rJOtTAGt OlHMEtl kan, dan harga yang ditawarkan oleh produsen
a{Lrlv GEADE ptxrlrRs sD
produk-produk tersebut.
il] DIMiltR

$r
i{4J wALr MoLrNr scitkce :.iq,{y slvrTcrt Setelah membuat konsep desain pencahayaan, lighting
t* p{*oAt{r 5q 9uJAYDiHi{ttSt,lte$i designer dapat memilih berbagai tipe, jenis, dan merek
mrliL,G*rr S- LO$LRfr$[tLtttllOL]0|LS sumber cahaya, dan armatur yang sesuai. Untuk itu,
> ' COtl!ROL ctt0urr
lighting designer dapat berdiskusi dengan produsen
) srtt,ricrr q cEilrtR LlN
lampu untuk mendapatkan spesifikasi yang menunjang
-ril
1/
f,[08$rilreLrc,r L6.1. t{rts[DETTRMHLU konsep peranc.mgan. Walaupun setiap produsen atau
..-)--i::= pabrik lampu telah mengeluarkan katalog untuk tiap-
srIiEr u6q}
S ,u,"ru*ruu*urr
Gombor 5.1 .{- tiap produk yang mereka produksi, perancang harus
(ontoh simbol yong 1if BflLAnD i] rerr. tetap melihat secara langsung efek cahaya yang di-
dopot digunokon podo
.".,.,.,-....... tsclwodscENt st,t,p Ll{;Xy G saclox hasilkan oleh produk-produk tersebut, hal ini ber-
renrono lilik lompu
(Sumber: Moyer, I I'tqsFo&M[lt 6l Flxturr{ Typt rbt}llrt-rcA}rur
hubungan dengan karakter cahaya yang sangat
te92l spesifik.

Perkembangan teknologi pencahayaan yang sangat


5.1.2 lperifikori leknir cepat harus mampu diimbangi oleh lighting designer
yang menyusun konsep perancangan. Pada perkem-
Seperti halnya dokumentasi perancangan arsitektur
bangannya, konsep sustainability yang mendukung
yang dilengkapi dengan detail spesifikasi material serta
terwujudnya kehidupan yang berkelanjutan meng-
perlengkapan yang akan digunakan, desain pencaha-
I
arahkan teknologi pencahayaan pada produk lampu
yaan pun dilengkapi dengan hal-hal yang sama. Ren_
yang hemat energi, namun tetap mampu menghasil-
cana titik lampu yang telah dibuat harus dilengkapi
kan intensitas cahaya yang tinggi. Dengan demikian,
dengan spesifikasi sumber cahaya dan armatur lampu
update data harus selalu dilakukan oleh pihak pe-
yang akan digunakan. Hal ini menjadi penting karena
rancang dengan selalu menjalin hubungan dan ber-
rencana tersebut akan berkaitan dengan hasil yang
diskusi dengan pihak produsen atau pabrik lampu.
diharapkan pada konsep perancangan.
Bagi pihak pelaksana, spesifikasi lampu sangat penting
Pemilihan jenis sumber cahaya dan armatur lampu
bagi proses pengadaan, proses instalasi, kebutuhan
tidak hanya untuk memenuhi kebutuhan estetika daya, dan berbagai kebutuhan teknis lainnya. Untuk
untuk tampilan fisiknya, namun berhubungan dengan
t56 Desain Pencahayaan Arsitektural Dokumentasi Teknik dan Tahap lnstalasi 157

itu, data lengkap mengenai spesifikasi lampu yang


dilampirkan oleh lighting designer akan sangat
membantu pihak pelaksana dalam tahap instalasi dan
konstrul<si. Spesifikasi teknis (cur sheets) biasanya f :-t:p
;. -I
telah disediakan secara mendetail oleh tiap-tiap pro-
dusen lampu sehingga hghting designer dapat me-
lampirkannya sebagai bagian dari dokumentasi teknis
yang akan disusun dan memberikan keterangan
arahan pada rencana titik lampu yang mengacu pada
spesifikasi teknis tersebut.

ft{}llkrxl ll Flqdliqhl !,ilr n?r{}lIr{ !kl( inr tuiig}trl ldr{q lr,rft

ffi-w
H
Gombor 5.3
Spesifikosi lompu
bollordlengkop dengon
folomelri, sumber
cohoyo, moteriol, don
dimensi

ffi
fornliood ll fl$dliqltt tr;rh *rr.ri;a rliler* hr:!l l.lal. lnDfr
(Sumber: lng.
Costoldi

ffire lluminozione
Generol Cotologue
r /2006)

5.1.3 Pembuoton Detoil

Gombor 5.2
Gambar-gambar detail merupakan dokumen yang
Spesifikosi lompu sangat penting bagi pihak pelaksana dalam melakukan
menuniukkon secoro proses instalasi atau konstrulai' Dokumen tersebut
lengkop folometri, akan memuat langkah-langkah yang harus dilakukan
sumber cohoyo, sudul
pada tahap instalasi, seperti material yang akan
rohoyo, doyo, inlensilos
cohoyo serlo moleriol, d.igunakan, letak, dimensi, sistem konstruksi, dan
don dimensi ormolur. pelaksanaannya. '
(Sumber: ERC0
Progrom 20061071.

ii
.]f9________ Desain pencahayaan Arsitektural Dokumentasi Teknik dan Tahap lnstalasi t59

pihak lighting designer terkait dengan konsep yang


telah dibuat dan harus disetujui oleh klien (owner)
sebagai pemilik proyek.

Dalam RAB, biaya pengadaan dan pelaksanaan men-


jadi bagian pokok, di samping anggaran bagi jasa pe-
rancang dan pelaksana. Data pengadaan meliputi harga
seluruh sumber cahaya, armatur, ballasC transformer,
kabel, aksesoris, dan perlengkapan lainnya, sedangkan
anggaran pelaksanaan terkait dengan berbagai material
yang digunakan pada tahap konstruksi.

1. Armatur dan Sumber Cahaya


Bagian ini menjelaskan spesifikasi armatur dan
sumber cahaya yang digunakan, merek, daya,
jumlah yang dibutuhkan, harga satuan, harga
keseluruhan, dan lokasi peletakannya.

2. B alI as t dan Tran sform er


Bagianini berisi penjelasan tipe ballast dan trans-
former yang digunakan, serta harga satuan dan
keseluruhan.
Gombor 5.4
(onloh detoil konstruksi
podo lompu colunndon
reccesed
rar*q -l
I 1r
# !.i l.;
.. ; \
i'i J'j J. Kabel dan Aksesoris
Bagian ini menjelaskan jenis kabel yang digunakan
(Sumber: lng. dan kebutuhan kabel (dalam meter), dan berbagai
Costoldi aksesoris yang digunakan (Iensa, filter warna, dan
!luminozione Generol
(olologue l12006l sebagainya) beserta dengan harga satuan dan
keseluruhan.

4. Biaya Konstruksi
5.1.4 Rencono Anggoron Bioyo
Bagian ini berisi perincian biaya yang dibutuhkan
Rencana anggaran biaya (RAB) merupakan dokumen pada tahap pelaksanaan atau konstruksi, termasuk
yang berisi anggaran biaya secara keseluruhan yang biaya materiai dan peralatan yang dibutuhkan.
dibutuhkan dalam perwujudan konsep desain yang
telah dibuat. Rencana anggaran biaya dibuat oleh
t60 Desain pencahayaan Arsitektural Dokumentasi Teknik dan Tahap lnstalasi t6t

s.2 PR0'r, tl\ltrlta,t instalasi dilakukan setelah konstruksi bangunan/


lanskap. Dengan kata lain, proses konstruksi yang
5.2.1 lohop Konrtrukri dilakukan secara terintegrasi akan memberikan hasil
Tahap pelaksanaan atau konstruksi (construction yang baik, dapat menekan biaya pelaksanaan, dan
phase) menjadi awal bagi terwujudnya gagasan waktu yang dibutuhkan.
yang
tertuang dalam konsep perancangan. Di Tahap
ini, Dalam hal ini, koordinasi di antara berbagai pihak
kontraktor atau pelaksana akan bertanggung jawab
akan menentukan hasil yang akan diperoleh. Kesa-
secara penuh untuk mewujudkan konsep
yang ter_ lahan yang diakibatkan oleh koordinasi yang buruk
tuang di dalam dokumentasi teknik. Namun, dalam
tentu akan memberikan hasil yang buruk, memakan
proses konstruksi, kontraktor harus tetap
melakukan biaya yang jauh lebih besar, dan menunda waktu
koordinasi dengan lighting designer, aisitek peren_
penyelesaian konstruksi.
cana, maupun arsitek lanskap agar tercapai hasil
yang
maksimal. Hal ini juga penting untuk menghindari
terjadinya kesalahan konstruksi akibat benfuran 5.2.2 Pangoluron Aroh Cohoyo
dengan fasilitas lainnya, seperti lanskap dan sistem Tahap terakhir dari proses instalasi pencahayaan ada-
drainase. lah pengaturan arah cahaya ata:u aiming. Tahap ini
dilakukan setelah seluruh proses instalasi dan kons-
Peletakan lampu pada posisi yang sesuai dengan
ren_ truksi selesai dilaksanakan. Pengaturan arah cahaya
cana peletalcan titik lampu menjadi hal yang
sangat atau sudut cahaya sangat berpengaruh pada efek
penting dalam proses pelaksanaan. Di samping itu,
cahaya, kualitas cahaya, dan bayangan yang dihasil-
sistem jaringan kabel (cabting/wiring) harus terrata
kan. Untuk itu, proses ini harus dilakukan di bawah
dengan baik dan terintegrasi dengan elemen lanskap
pengawasan dan arahan tim perancang.
lainnya, seperti pekerasan, taman, kolam, dan
sebagainya. Pengaturan arah cahaya ditujukan pada lampu dengan
arah cahaya tertentu, seperti spotlight, floodlight, atau
Pada tahap konstruksi, pemasangan lampu
yang me- wallwasher. Beberapa annatur (frrture) telah dileng-
nyatu dengan elemen fisik, seperti trotoar, tangga,
kapi dengan fasilitas rotator sefta keterangan sudut
$nding, dan langit-langit, harus mendaparka" f"._ rotasi yang akurat sehingga proses pengaturan sudut
hatian khusus. Pada tahap pelaksanaan, lampuJampu
cahaya dan pengunciannya dapat dilakukan dengan
yang menyatu dengan elemen fisik atau yang
dikenal cepat dan mudah. Proses ini akan memberikan hasil
dengan istilah reccesed tighting, harus dipasrng
ber_ yang optimal apabila dilakukan pada malam hari. Di
samaan dengan proses konstruksi bangun".,
atau lans_ dalam kegelapan, arah cahaya akan lebih mudah unftk
kap. Hal ini unruk menghindari te4adinya pembong_ diatur. Hal ini juga berlaku untuk efek cahaya yang
karan pada elemen-elemen tersebut upubil" proru,
dihasilkan. Dalam beberapa kasus, sudut cahaya yang
t67 Desain Pencahayaan Arsitektural Dokumentasi Teknik dan Tahap lnstalasi t63

ditetapkan di lapangan pada saat pengaturan dapat dilakukan secara menyeluruh pada berbagai elemen,
berbeda dengan perhitungan yang dilakukan pada yaitu
gambar kerja. Hal ini dapat diakibatkan oleh berbagai
faktor, di antaranya kondisi nyata yang berbeda 1. sumber cahaya
dengan data yang ada dan pengaruh sumber cahaya Sebagai penghasil cahaya, perawatan sumber caha-
lain, seperti pantulan benda langit (bulan, bintang, dan ya harus dilakukan secara rutin. Sumber cahaya
langit), maupun sumber cahaya di sekitarnya (bangun- yang tidak berfungsi harus segera diganti dengan
an, jalan, dan kendaraan bermotor). Namun, kondisi yang baru. Demikian halnya dengan sumber caha-
ini bukanlah sebuah masalah yang serius karena ya yang tertutup oleh debu dan kotoran yang
konsep dasar perancangan tetap menradi titik tolak harus segera dibersihkan agar cahaya yang
dari proses instalasi. dihasilkan dapat malsimal dan kualitas cahaya
dapat tetap dipertahankan.

2. armatur lampu
Sebagai rumah lampu bagi sumber cahaya serta
berfungsi untuk melindungi sumber cahaya dan
Gombor 5.5 menciptakan efek cahaya yang menarik, rumah
Tingkol okurosi sudul Iampu harus selalu dibersihkan. Berbagai kotoran,
cohoyo songot debu, dan bahkan binatang yang bersarang di
dipengoruhi oleh produk
dalamnya dapat mengurangi kualitas dan kuantitas
ormolur lompu
(Sumber: ERCO cahaya yang dihasilkan. Berbagai faktor tersebut
Progrom 2008/09) juga dapat menyebabkan usia lampu menjadi lebih
pendek.

5.2.3 Perowoton 3. ba II a s t dan trans fo rm er


Ballast dalr transformer sangat berpengaruh dalam
Setelah sebuah proses instalasi selesai, dan bangunan
proses operasional sumber-sumber cahaya, untuk
serta ruang luarnya telah siap untuk menampung
itu kedua elemen ini harus selalu mendapat per-
seluruh fungsi dan aktivitas yang ada, masih ada satu
hatian. Ballast atat transformer yar,g rusak harus
tahap yang harus dilakukan secara rutin agar pencaha-
segera diganti karena dapat mengganggu proses
yaan dapat memberikan kualitas visual yang baik.
operasional sumber cahaya serta dapat menimbul-
Tahap tersebut adalah perawatan atau maintenance.
kan suara yang mengganggu.
Perawatan tidak hanya dilakukan pada sumber cahaya
dan armatur lampu, namun juga pada berbagai elemen 4. sasaran cahaya \
lampu yang lainnya. Agar pencahayaan eksterior dapat Kualitas cahaya sesungguhnya tidak hanya ter-
memberikan hasil yang optimal, perawatan harus gantung pada sumber cahaya dan perlengkapan-
164 Desain pencahayaan Arsitektural

nya, tetapi juga dipengaruhi oleh kondisi sasaran.


Dinding yang kotor akibat debu dan kotoran akan Daftar Pustaka
mengurangi tingkat pantulan cahaya yang dihasil_
kan. Untuk itu, kotoran yang melekat harus segera
dibersihkan, sedangkan dinding yang pudar carnya
harus dicat kembali. Hal ini juga berlaku pada
objek arsitektural lainnya, seperti sculprure, air, Ashihara, Yoshinobu.197}. Exterior Design in Architecture. New York:
dan vegetasi. Scutprure dan air yang kotor akan Van Nostrand Reinhold Company.
mengurangi kualitas cahaya yang dihasilkan, se_
dangkan vegetasi yang tidak terawat, yang bentuk Chew, Michael. Y. L & Tan Phay Ping. 2003. Staining of Fagade.
dan dimensinya berubah, akan menyebabkan efek Singapore: World Scientific Publishing Co. Pte. Ltd.
cahaya menjadi berbeda dengan konsep awal yang
telah ditetapkan. Ching, D.K. 1979. Architecture: Form, Space & Order New York: Van
Nostrand Reinhold Company,

Cullen, Gordon.1975 . Townscape. New York: Van Nostrand Reinhold,

Egan,M. David. 7983. Concept in Architecrural Lighting. New York:


McGraw-Hill Book Company.

IES Lighting Handbook. 1987. Illuminating Engineering Society of North


America

Lam, William M.C, 7977. Perception and Lighting as Formgivers for


Architecture. New York: McGraw-HiII Book Company.

Lechner, Norbert. 2007. Heating, Cooling, Lighting: Metode Desain


untuk Arsitektur.lakafta: PT Raja Grafindo Persada.

Lumsden, W.K.1974. Outdoor Lighting Handboot Epping: Gower Press


Limited.

Lynch, Kevin. 7960. The Image Of The City.London: The MIT Press.

Mangunwijaya, Y.B. 2000. Pengantar Fisika Bangunan. Jakarta; Penerbit


Djambatan.
166
-----P-:'-Us=lzslrtr!:lr.!
Manurung, Parmonangan. 2002. "Faktor-Faktor penentu
Pencahayaan Fasade Bangunan Pada Kawasan". Laporan Tesis 52
Sistem
INDEKS
Magister Desain Kawasan Binaan UGM, yogyakarta.

Manurung, Parmonangan. 2007. "Persepsi Visual dalam Desain


Pencahayaan Arsitektural" dalam proceeding International
Conference. Universitas Islam Indonesia.
A D
Manurung, Parmonangan. 2008. "Kualitas pencahayaan pada Bangunan
Bersejarah". Jurnal Teknik Arsitekrur DIMENSI. Surabaya: air mancur, 78, 89, 99, 106, lO7, daytime,Sl
Universitas Kristen Petra. tt6, t48,149 detail, 1,5,6,9, 10, 11,24,26,
air terjun, 89, 106, 107, 148 33, 77, 94, 95, 96, 111, 113,
Moyer, L.M. 1992. The Landscape Lighting. New york: |ohn Wiley & arah cahaya, 10, 19, 20,25,26, 1 15, 1 17, t28, 129, 134, 146,

Sons, Inc. 69, 70, 72, 73, 75, 83, 90, 116, 151, 152,153, 154, 157
t21,129,135,161 diffiise 25, 26, 55, 75, 83, 121,
Phoenix, G. "Lighting in the Townscape". <www.building armatur lampu, M, 57, 62, 65, 122,r38,152,153
conseryation.com> 68, 69, 72, 73, 7 4, 7 6, 77, 79, direct lighting, 69
80, 81, 83, 89, 90,93, t26, direction, ll3
Rossi, Aldo. 1982. The Architecture of The Gry. New york: MIT press. t40,154, t62 distribusi cahaya, 24,36,55, 68,
69,76,90
Sanoff, Henry. 7991. Visual Research Methods in Design. New york: Van downlight, 25, 26, 27, 47, 60, 73,
Nostrand Reinhold. B 74, 83, 116, 121, 122, 152
bentuk, 129
.E
I

Satwiko, Prasasto. 2004. Fisika Bangunan 2.yogyakarta: penerbit Andi. I

bentuk kompak, 58, 59


-i bollard,65,88, 146
Smardon, R. 1986. Fondation for Visuat Project Analysis. New york: lohn
elemen air, 106, l07,116
Wiley and Sons. Inc.
elemen dekoratif, 94, 95, 96
C elemen garis, 58, 93,94,140,l4l
Simons, |ohn Ormsbee.1983. Landscape Architecture. New york:
McGraw-Hill Book Company. candela,45 elemen horizontal, 86, 118, 122
cascade,106,148 elemen struktur, 6, 140, 142
Steffy, Gary.2002, Archirccrural Lighting Design New york: lohn Wiley citra visual, 1, 9, 10, ll,12,17, elemen vertikal, 11 1, 1 18, 121,
and Sons. Inc. 20, 53, 84, 93,96, 110, 136, 122
t40,t42,I43 \
Walker, Theodore. D. 2002. Rancangan Tapak & pembuatan Detail color,28,65, ll4
Konstruksi. Jakarta: Penerbit Erlangga. compact fluorescent,59
computer calculation, 46, 47
t68 Desain Pencahayaan Arsitektural lndeks 169

F K material, 13, 35, 40,75,90, 91, R


94, 96, 97, 99, 100, 101, 102,
rencana anggaran biaya, 152,
fasad, 5, 19, 25, 61, 79, 93, 94, karakter kota,2,4,6 103, 107, 110, 113, 116, ll7,
95, 96,98, 111, 112, 113, 114, kolam, 37,78,89, 99, 106, 107, 158
120, 128, 129, 134, 135, 143,
r42 108,116, t44,760 rencana titik lampu, 152, 153,
146,154,157,159
floodlight, 33, 61, 65, 79, 80, 88, konsep arsitektural, 20, 1 10 63, 67,
154, 156
merkuri, 57, 59, 61, 62,
89, 143, 153, 161 kualitas pencahayaan, 10, 11, 17, ruang terbuka, 13, 38, 99, 105,
146
fluorescent lamp, 54, 57 18, 19, 21,3t,37,47 106, 111, 126, 130, I44, 145,
metal halida , 61, 62, 63,67 ,88
fountain, 106, 148 kuantitas pencahayaan, 17, 37, 146,147,148
fungsi,143 44,45,46
P
S
H penanda kota, 6
L setback,94,98
pencahayaan bangunan, 31, Il2,
High Intensiry Discharge, 54, 60 lampu bawah air, 89 sirkulasi, 19, 65, 82, 86, 91, 93,
113
High Pressure Sodium,6l, 63, lampu dinding,83 100, 101, 103, 104
pencahayaan eksterior, 21, 37,
67, t46 lampu gantung, 76, 85 spaciousness,24
38, 39, 40,43,50, 61, 62,65,
spesifikasi teknis, 154, 156
lampu pijar, 14, 54, 55, 57,59, 70, 72, 77, 90,91, 93, 1ll, 162
60,61,74 spotlight, 77, 79, 89, 141, 161
pencahayaan jalan, 3, 5,40,43,
I lampu sorot, 12, 55, 61, 77,79, 69,1r1,114,115
standar pencahayaan jalan, 40
iluminan, 40, 41, 42, 43, 45 91, 112, 153 standar pencahayaan jalur
pencahayaan langsung, 50, 69
iluminan horizontal, 45, 48 lampu tangga, 84 pejalan kaki, 42
pencahayaan taman, 37, 116
iluminan vertikal, 45, 48 lampu tiang, 85, 86, 88 standar pencahayaan temPat
pengaturan arah cahaya, 161
incandescent lamp,54 LED,54, 64,65,84,126 parkir, 43
persepsi visual, 21, 22, 23, 25, 26,
indirect lighting, 71 Iokasi pemasangan, I l6 step light,84
30,31,32,34,35
intensitas cahaya, 8, 9, 74, 17 , lumen,45,46 struktur, 11, 12, 94,95,120,129,
pola cahaya, 5, 20, 26, 27, 68, 7 4,
i8, 20, 24,25,27,36,38, 39, lumen method,46 77, 79,80, 84, 88, 89, 114,
140, L4l
luminan,45,48 sudut cahaya,69,77,79, 80, 90,
45, 46, 59, 64, 65, 69, 69, 70, 1 19, 123, 126,129, r55
74, 75, 84, 1r4, tt9, 123, t24, lux, 45,46 pola lampu, 116
9t, l4r,152,161
125, 728, 734, I44, 145, 155 sumber cahaya, 14, 15, 1'9,32,
pole lighting,85, 146
44, 45, 46, 47, 49, 53, 54, 56,
M pool,106
57, 6r, 62, 64, 68, 69, 70, 71,
preference,24,25
I massa,8, 18, 19, 172,123,127, 7 4, 75,84, 88, 89, 90, 91, 93,

124, 125, 126, 140, 145, 146,


jumlah cahaya, 45,ll7 t28,t29,130, 131, 132
152, 154, 155, 159, 162, 163
suspension, S5
t70 Desain Pencahayaan Arsitektural

T V Biografi Singkat
tahap instalasi, 29, I52, 156, 157 vegetasi, 13, 61, 78, 93, 104, 107,
tahap konstruksi, 30, 151, 159, 116, 120, t42,164
160 visual clarity,24
tekstur, 6, 12, 13, 26, 31, 96, 97,
99, 104, 112, 113, 117, 118, Parmonangan Manumng lahir di Palangkaraya pada
120, 128, 129, 138
w tanggal 23 Januari 1975. Menyelesaikan program sarjana
template, M, 48,49,50 wall light,83 di |urusan Teknik Arsitektur Universitas Kristen Duta
'Wacana Yogyakarta, kemudian melanjutkan studi di
tingkat penerangan, 64, II5 wallwasher, 65, 80, 81, 83, 152,
153, 161 program pascasarjana furusan Teknik Arsitektur
wanla cahaya, 13, 14, 20,25,27, Universitas Gadjah Mada pada tahun 2001 dan meraih
U 56, 65, 119, 123, 125, 129, gelar Master Teknik pada tahun 2002, dengan tesis
underwater, S9 132,143,149,155 mengenai pencahayaan kawasan.
uplight, 12, 25, 26, 27, 72, 73, 7 4,
Saat ini menjadi pengajar tetap ]urusan Teknik Arsitektur Universitas
83, 116, r27, 122, 131, 152,
Kristen Duta 'Wacana Yogyakarta dan mengampu mata kuliah Desain
153
Pencahayaan Arsitektural.

Pada tahun 2005 mengikuti Master Class di Berlage Institute Rotterdam


dan memiliki kesempatan untuk mengamati berbagai karya arsitektur di
Eropa yang memiliki pendekatan desain pencahayaan yang baik.

Ketertarikan terhadap desain pencahayaan dan arsitekfur kerap dituang-


kan ke dalam tulisan yang dimuat di beberapa media massa nasional, baik
koran, tabloid, maupun majalah arsitektur. Selain itu, beberapa tulisan
ilmiah dan hasil penelitian tentang desain pencahayaan (alami dan
artifisial), baik secara kuantitas maupun kualitas telah diterbitkan dalam
jurnal ilmiah dan Iaporan seminar.

Berbekal pengalaman ruang dan rrisual di beberapa kota di Eropa dan Asia,
serta beberapa hasil penelitian dan pengalaman praksis, penulis berupaya
menulis brku Desain Pencahayaan Arsitekrural yang diharapkan mampu
memberikan pemalgman mengenai desain pencahayaan bagi siapa pun
yang membutuhkannya.