Anda di halaman 1dari 11

LAPORAN PRAKTIKUM

KARTOGRAFI DASAR (GKP 0101)

PEMBELAJARAN PRAKTIKUM :

SKALA PETA DAN SISTEM KOORDINAT

Disusun oleh :

Nama : Mohammad Farhan Arfiansyah

NIM : 13/346668/GE/7490/Z

Program Studi : Kartografi dan Pengindraan Jauh

Hari, tanggal : Senin, 30 September 2013

Waktu : 15.00-17.00 WIB

Asisten : 1. Inna Iffah K.

Asisten : 2. Novita Ardana R.

LABORATORIUM DESAIN KONSTRUKSI DAN ANALISA PETA

JURUSAN SAINS INFORMASI GEOGRAFI DAN PENGEMBANGAN


WILAYAH

FAKULTAS GEOGRAFI

UNIVERSITAS GADJAH MADA

YOGYAKARTA

2013
SKALA PETA DAN SISTEM KOORDINAT

I. TUJUAN PEMBELAJARAN
1. Dapat mendefinisikan skala peta;
2. Dapat menentukan skala suatu peta;
3. Dapat menyajikan skala peta dalam berbagai versi;
4. Melakukan perubahan skala peta;
5. Memahami tentang istilah dan ukuran terkait bumi;
6. Dapat lebih memahami tentang sistem koordinat

II. MEDIA PEMBELAJARAN


1. Peta Provinsi Maluku yang belum diketahui skalanya
2. Peta Provinsi Maluku yang sudah diketahui skalanya
3. Peta yang akan diubah skalanya. Dalam hal ini praktikan menggunakan peta
Provinsi Kalimantan Timur buatan Tim Asisten Katografi Dasar 2013
4. Kertas HVS
5. Pena gambar
6. Alat tulis (pena dan pensil)
7. Penggaris

III. TEORI SINGKAT


Skala Peta
Skala peta adalah angka perbandingan antara jarak dua titik di atas peta
dengan jarak tersebut di muka bumi (PP no. 10 tahun 2000). Skala membantu
kartograf untuk memperkecil permukaan bumi yang akan dipetakan. Skala
dapat menentukan jarak antara satu tempat dengan tempat yang lainnya,
karena skala merupakan bentuk perbandingan, sehingga jarak antara 1
tempat dengan tempat lain di permukaan bumi tetap nyata. Skala terbentuk
dari hasil perbandingan antara jarak pada peta dengan jarak di lapangan,
sehingga semakin dekat jarak di lapangan yang akan dipetakan, maka
cakupan wilayah yang dipetakan semakin sempit namun dengan informasi
wilayah yang lebih detail. Begitu pula sebaliknya, bila semakin jauh jarak di
lapangan yang akan dipetakan, maka cakupan wilayah yang dipetakan
semakin luas namun dengan informasi wilayah yang lebih terbatas atau telah
mengalami generalisasi.

Penyajian Skala Peta


Secara umum skala peta dapat disajikan dengan angka, kata, dan grafis
(Dent, Torguson, & Hodler, 2009) (Kimerling, Buckley, Muehrcke, & Muehrcke,
2012) (Tyner, 2010). Skala angka merupakan skala yang paling umum
digunakan. Skala angka biasanya disajikan dengan angka pecahan, baik
pecahan tradisional (1/25.000) maupun pecahan yang menggunakan tanda
bagi (1:25.000), dengan unit pengukuran angka pembilang dan penyebut
yang sama. Skala ini tidak terikat pada unit pengukuran tertentu, namun
biasanya disajikan dalam bentuk unit sentimeter (cm). Penyajian skala dalam
bentuk angka ini lazim terdapat pada perangkat lunak pemetaan. Kemudian
skala verbal (kata) adalah skala yang dinyatakan dalam bentuk kalimat
(deskripsi). Penyajian skala verbal dapat dengan cara angka pembilang
disebut lebih dahulu atau angka penyebut disajikan lebih dahulu. Contohnya
skala 1:24.000 dapat dinyatakan dalam 1 inch to 2.000 feet atau skala angka
1:250.000 dapat dinyatakan dalam 4 miles to 1 inch. Angka yang disajikan
dalam bentuk kalimat biasanya merupakan angka bulat, sehingga kurang
konsisten dan penyajiannya kurang presisi. Skala grafis adalah skala yang
disajikan dalam bentuk grafis yang dibagi panjangnya untuk menentukan
satuan panjang di lapangan, sehingga jarak pada peta lebih mudah dipahami
dan ketika mengalami perubahan skala maka ukuran garis akan
menyesuaikan.

Penentuan Skala Peta


Ada beberapa metode yang dapat dilakukan untuk mengetahui skala peta
yang tidak tercantum (Kimerling, Buckley, Muehrcke, & Muehrcke, 2012),
yaitu dengan membandingkan jarak pada peta dengan kenampakan di
lapangan yang diketahui jaraknya, membandingkan dengan data referensi
lain pada cakupan wilayah yang sama, dan dengan menghitung jarak antar
garis meridian dan antar garis paralel.

Pengubahan Skala Peta


Beberapa cara dapat digunakan untuk membantu proses perubahan skala
(Robinson, Morrison, Muehrcke, Kimerling, & Guptill, 1995), yaitu dengan
metode proyeksi optis dengan menggunakan mesin proyektor, merk Map
OGraph dan Artograph. Kemudian dengan metode fotografi dengan
menggunakan film. Lalu dengan metode fotokopi, metode pantograf, dan
metode manual. Pembuatan secara manual dapat menggunakan metode grid
bujur sangkar maupun dengan grid segitiga (Union Jack grid). Proses
pengecilan peta perlu memperhatikan aspek generalisasi peta, sedangkan
jika ingin melakukan pembesaran skala peta, maka sumber data yang
digunakan harus ditambah agar kedetailan informasi juga ditambah.

Sistem Koordinat
Secara umum sistem koordinat dalam geografi dapat dibagi menjadi dua
yaitu sistem koordinat geografis dan koordinat planar. Koordinat geografi
menggunakan latitude dan longitude. Sistem ini pertama kali dikembangkan
oleh Hipparchus dan Rhodes. Sedangkan sistem koordinat planar digunakan
untuk meletakkan posisi pada bidang datar representasi peta dari permukaan
bumi yang lengkung. Koordinat yang terkenal pada sistem ini yaitu koordinat
kartesius dan rektangular. Kedua pasang absis dan ordinat pada sistem
kartesius membentu referensi grid. Nilai X mencerminkan easting, dan nilai Y
disebut sebagai northing. Pada referensi grid ini tidak ada nilai negatif.
IV. LANGKAH KERJA

Review tentang
skala, sistem
Mulai Pre-tes
koordinat dan
istilah kebumian

Mengubah skala
peta dengan 4 Menentukan
Selesai
metode skala peta
(kelompok)

Pembelajaran praktikum skala peta dan sistem koordinat dimulai dengan


sebuah pre-tes tentang skala peta. Pre-tes ini menanyakan tentang perlunya
skala dalam pemetaan. Setelah pre-tes selesai praktikan diberikan review dalam
bentuk pertanyaan lisan (komunikasi dua arah) tentang skala, sistem koordinat
serta istilah-istilah kebumian. Kemudian praktikan diberi 2 peta Provinsi Maluku
dengan ukuran yang berbeda, dimana salah satu petanya tidak mempunyai
skala. Tugas praktikan adalah menentukan skala peta dari peta Provinsi Maluku
yang tidak diketahui skalanya tersebut. Setelah menyelesaikan tugas tersebut,
asisten membagi kelas menjadi beberapa kelompok kecil, dimana dalam satu
kelompok terdiri dari 4 orang. Kemudian praktikan diberikan peta Provinsi
Kalimantan Timur. Praktikan diberi tugas kelompok untuk mengubah skala peta
tersebut menggunakan 4 metode, dimana satu orang menggunakan 1 metode
untuk kemudian hasilnya dibagikan dalam satu kelompok dalam bentuk fotokopi.
Praktikan menggunakan metode Union Jack grid atau metode segitiga dalam
mengerjakan tugas kelompok tersebut. Kemudian acara praktikum selesai dan
masing-masing praktikan diminta membuat laporan tentang acara praktikum ini,
untuk kemudian dikumpulkan pada pembelajaran praktikum selanjutnya.

V. HASIL PEMBELAJARAN
Pada pembelajaran praktikum ini, diperoleh hasil pembelajaran tentang
penyajian skala peta melalui 3 metode beserta konversinya, penghitungan skala
peta pada peta yang belum diketahui skalanya, pengubahan skala peta dengan 4
metode, keterangan jaring-jaring bumi, dan perbedaan karakteristik koordinat
geografis dengan grid.

Penyajian skala peta


Secara umum skala peta dapat disajikan dengan angka, kata, dan grafis
(Dent, Torguson, & Hodler, 2009) (Kimerling, Buckley, Muehrcke, & Muehrcke,
2012) (Tyner, 2010). Masing-masing skala tersebut memiliki perbedaan
penyajian, karena adanya perbedaan satuan yang ditampilkan. Perbedaan
tersebut mengharuskan adanya konversi bila akan mengubah penyajian skala
dari satu bentuk ke bentuk yang lain. Konversi tersebut hanya mengubah satuan
pengukuran dalam penyajiannya, sehingga tidak mengubah nilai panjang antara
2 skala sebelum dan sesudah dikonversi. Biasanya teknik konversi penyajian peta
menggunakan perbandingan. Sebagai contoh, skala peta menunjukkan angka
1:200.000, bila ingin dirubah ke dalam cm to 1 km, maka skala tersebut menjadi
1 cm x 100.000 cm
= , sehingga
x= =0,5 cm . Penyajian skala
200.000 cm 1 km 200.000 cm

verbalnya adalah 0,5 cm to 1 km.

Berikut ini adalah tabel jenis-jenis skala menurut penyajiannya

Skala Skala
No. Skala Grafis
Angka Verbal

1:1.250 2 cm to 25
1.
(cm) m

Two inches
1:158.400
2. to five
(inch)
miles

1:143.425 7 cm to 10
3.
(cm) km

1:71.428,6 7 cm to 5
4.
(cm) km

1:190.080 3 miles to 1
5.
(inch) inch

1:316.800 4 miles to
6.
(inch) 0,8 inches

Penghitungan skala peta pada peta yang belum diketahui skalanya


Ada beberapa metode yang dapat dilakukan untuk mengetahui skala peta
yang tidak tercantum skalanya (Kimerling, Buckley, Muehrcke, & Muehrcke,
2012). Salah satunya adalah dengan membandingkan peta yang belum diketahui
skalanya dengan peta referensi lain yang skalanya tercantum pada wilayah yang
sama. Penghitungan ini menggunakan metode perbandingan sebagai berikut:
skala peta I jarak pada peta I
= . Pada praktikum ini, praktikan menggunakan 2
skala peta II jarak pad a peta II

peta Provinsi Maluku, dimana salah satu peta tersebut tercantum skalanya
(selanjutnya disebut peta A), dan peta yang lain tidak tercantum skalanya
(selanjutnya disebut peta B). Kemudian praktikan mengukur jarak antara Adaut
dan Saumlaki pada kedua peta tersebut dengan penggaris. Setelah diukur, jarak
antara Adaut dan Saumlaki pada peta A adalah 0,8 cm, sedangkan pada peta B
1 :3.750 .000 0,8 cm
0,7 cm. Dari hasil pengukuran tersebut diperoleh data:
=
x 0,7 cm

sehingga diperoleh hasil x=1: 4.285 .714,3 . Jadi, skala pada peta B adalah

1:4.285.714,3 (Peta A dan Peta B terlampir di bagian lampiran).

Pengubahan skala peta


Pengubahan skala peta dapat menggunakan berbagai metode (Robinson,
Morrison, Muehrcke, Kimerling, & Guptill, 1995). Pada praktikum ini praktikan
menggunakan 4 metode pengubahan skala peta, yaitu secara manual dengan
metode grid bujur sangkar (square method) dan metode segitiga (triangle/union
jack method), serta menggunakan alat mekanis dengan menggunakan alat
pantograf dan alat proyektor Map OGraph. Praktikan menggunakan peta Provinsi
Kalimantan Timur buatan Tim Asisten Kartografi Dasar 2013 sebagai peta
referensi. Praktikan membuat pengubahan skala peta dengan metode segitiga,
dengan cara membuat segitiga-segitiga sama kaki dengan panjang alas 2 cm
pada peta referensi, kemudian membuat lagi segitiga-segitiga sama kaki dengan
panjang 1 cm pada kertas HVS, lalu menyalin peta referensi ke HVS sesuai
dengan posisi plot-plot segitiga yang sudah digambar pada kedua peta (Peta
referensi, salinan peta metode bujursangkar, segitiga, pantograf dan Map
OGraph terlampir pada bagian lampiran).

Keterangan jaring-jaring bumi


Pada dasarnya, bumi berbentuk bulat pepat pada kutub-kutubnya. Namun
agar lebih mudah, maka bumi ini dianggap seperti bola, yang mempunyai 360
dalam satu putarannya. Untuk memudahkan pembagian bumi maka
dibentuklah garis-garis khayal yang membujur dan melintang. Garis khayal yang
membujur dan menghubungkan kutub utara dan kutub selatan disebut garis
bujur, sedangkan garis khayal yang melingkari Bumi secara horizontal disebut
garis lintang. Berikut ini adalah ilustrasi dan keterangan lengkap mengenai
jaring-jaring bumi:
Hur
Nama Keterangan
uf
Lingkaran garis khayal lintang yang terletak pada 66
Lingkar kutub 1
A
utara 3 LU

Titik paling utara di bumi, satu-satunya titik yang


B Kutub utara
dilalui oleh garis khayal 90 LU
Titik paling selatan di bumi, satu-satunya titik yang
C Kutub selatan
dilalui oleh garis khayal 90 LS
Suatu garis khayal di permukaan bumi yang berfungsi
Garis batas
untuk menandai batas kalender internasional, yang
D tanggal
internasional terletak pada bujur 180
Suatu garis khayal di permukaan bumi yang berfungsi
untuk menjadi tolak ukur patokan waktu, yang terletak
E Meridian utama
pada bujur 0
F Garis balik utara 1
Garis lintang yang terletak pada 23
LU,
2

merupakan garis khayal tempat titik tertinggi Matahari


di belahan Bumi utara dan mengakibatkan musim
panas di belahan Bumi utara
Garis khayal lintang 0 dan membagi Bumi menjadi
dua bagian yaitu belahan Bumi utara dan belahan
Bumi selatan. Garis-garis lintang di belahan Bumi
G Khatulistiwa
utara dinamakan Lintang Utara (disingkat LU) dan
garis-garis di belahan Bumi selatan dinamakan Lintang
Selatan (disingkat LS)
1
Garis lintang yang terletak pada 23
LS,
2
Garis balik
H merupakan garis khayal tempat titik tertinggi Matahari
selatan
di belahan Bumi selatan dan mengakibatkan musim
panas di belahan Bumi selatan
Lingkaran garis khayal lintang yang terletak pada 66
Lingkar kutub 1
I
selatan 3 LS

J Garis lintang Garis khayal yang melingkari Bumi secara horizontal


Garis khayal yang membujur dan menghubungkan
K Garis bujur
kutub utara dan kutub selatan

Perbedaan koordinat geografis dengan grid

Parameter Koordinat Geografis Koordinat Grid (UTM)


Pembagian zona (Terlampir) (Terlampir)
Ditulis dalam derajat menit detik (
degrees
Contoh penyajian minutesseconds / DMS). C 48 M 0817750 mT,
lokasi ontoh: UTM 9070450 mU
110 30 37,80
Datum yang
Datum global Datum regional/lokal
digunakan
Semimajor axis
6.378.137 m 6.378.137 m
(a)
Semimajor axis
6.356.752.3142 m 6.356.752,3142 m
(b)
Nilai
1/298.257223563 (
pemampatan 1/298.257223563 ( 3.35 )
3.35 )
bumi

Evaluasi Pembelajaran
Skala terbentuk dari hasil perbandingan antara jarak pada peta dengan jarak
di lapangan, sehingga semakin kecil jarak di lapangan yang akan dipetakan,
maka cakupan wilayah yang dipetakan semakin sempit namun dengan informasi
wilayah yang lebih detail. Begitu pula sebaliknya, bila semakin besar jarak di
lapangan yang akan dipetakan, maka cakupan wilayah yang dipetakan semakin
luas namun dengan informasi wilayah yang lebih terbatas, maka harus dilakukan
generalisasi untuk menjelaskan informasi kenampakan-kenampakan wilayah
tersebut.
Adapun istilah istilah yang sudah dipahami praktikan adalah:
Lintang : Garis khayal yang melingkari Bumi secara horizontal.
Bujur : Garis khayal yang membujur dan menghubungkan kutub utara dan
kutub selatan.
Latitude : Besarnya busur pada meridian tempat itu, yang diukur dalam
derajat antara tempat itu dengan ekuator.
Longitude : Besarnya busur paralel tempat itu yang diukur dalam derajat
antara tempat itu dengan meridian utama.
Meridian : Garis lengkung lurus yang menghubungkan antara titik kutub utara
dengan titik kutub selatan.
Paralel : Garis imajiner yang melingkari Bumi sejajar dengan khatulistiwa,
digunakan untuk menunjukkan lintang. Contoh, paralel ke 38
memiliki lintang 38 LU atau 38 LS.
Datum : Sistem model matematika yang membagi bumi dalam beberapa
zona dengan satuan nilai meter.
Sedangkan kelebihan dari sistem koordinat geografis adalah nilai derajat
suatu intang dan bujur digunakan untuk menempatkan atau meletakkan suatu
posisi secara tepat pada suatu permukaan bumi (globe). Namun kelemahannya
adalah tidak dapat digunakan untuk mengukur suatu jarak secara akurat. Hal ini
dikarenakan sistem referensi ini mengukur sudut dari pusat bumi, bukan jarak di
permukaan bumi. Selain itu, nilai derajat dalam jarak tidaklah seragam pada
suatu permukaan bumi yang datar, kecuali pada sepanjang garis equator,
dimana jarak yang direpresentasikan oleh satu derajat bujur sama dengan satu
derajat lintang. Kelebihan sistem UTM adalah tingkat ketelitian pengukuran lebih
tinggi dibandingkan sistem koordinat geografis. Pengukuran-pengukuran panjang,
sudut, maupun luasan relatif lebih konstan dan kesalahan yang disalahkan pun
menjadi lebih kecil. Namun kelemahan sistem koordinat ini terletak pada sistem
pembagian zona. Seringkali terjadi, suatu daerah terletak pada lebih dari satu
zona dalam sistem koordinat UTM. Hal semacam ini ustru menyebabkan
kesalahan pengukuran yang cukup besar.

VI. TUGAS
Proyeksi peta
Proyeksi peta adalah suatu sistem yang memberikan hubungan antara
posisi titik-titik di bumi dan di peta. Karena permukaan bumi secara fisik tidak
teratur, sehingga sulit untuk melakukan penghitungan-penghitungan dari
hasil pengukuran. Untuk itu dipilihlah suatu bidang yang teratur yang
mendekati bidang fisis bumi yaitu Elipsoida dengan besaran-besaran
tertentu.

Klasifikasi proyeksi peta adalah sebagai berikut:


1. Menurut metode proyeksinya
a. Proyeksi langsung: dari elipsoida ke bidang proyeksi
b. Proyeksi ganda: transformasi dari bidang elipsoida ke bidang bola
kemudian ke bidang proyeksi
2. Menurut sifat asli yang dipertahankan
a. Proyeksi equivalent: Luas di atas peta sama dengan luas di atas
muka bumi setelah dikalikan skala
b. Proyeksi konform: Sudut-sudut dipertahankan sama
c. Proyeksi equidistant: Jarak di atas peta sama dengan jarak di atas
bumi setelah dikalikan skala
3. Menurut macam bidang proyeksi
a. Proyeksi azimuthal: bidang proyeksi pada bidang datar
b. Proyeksi kerucut: bidang proyeksi pada kerucut
c. Proyeksi silinder: bidang proyeksi pada silinder
4. Menurut kedudukan sumbu simetri
a. Proyeksi normal: sumbu simetri berimpit dengan sumbu bumi
b. Proyeksi miring: sumbu simetri membentuk sudut dengan sudut
bumi
c. Proyeksi transversal: Sumbu simetri tegak lurus sumbu bumi atau
terletak pada bidang equator.

Proyeksi peta sangat penting untuk kartografi, sebab dapat menjawab


permasalahan tentang penyajian bidang lengkung ke bidang datar. Bidang
lengkung jika dibentangkan menjadi bidang datar tentu akan mengalami
kesalahan (distorsi), padahal suatu peta dinyatakan ideal jika luas, bentuk,
arah, dan jaraknya benar. Untuk itulah diperlukan pemroyeksian peta agar
kesalahan dalam penyajian ke bidang datar dapat diminimalisir sekecil
mungkin. (Sukwarjono, Mas Sukoco. 1993)

VII. DAFTAR PUSTAKA

Angin, Ignasius Suban. Menggunakan Peta, Atlas, dan Globe untuk


Mendapatkan Data dan Informasi Spasial (Geospasial). Diakses pada
tanggal 14 Oktober 2013 dari http://pjjpgsd.dikti.go.id
Anonim. Sistem Koordinat. Diakses pada tanggal 10 Oktober 2013 dari
http://ns.akakom.ac.id
Anonim. The Earth. Diakses pada tanggal 14 Oktober 2013 dari
http://professortaboo.files.wordpress.com
Ariyanto, Dwi Priyo. (2010). Penginderajaan Jauh di Bidang Pertanian.
Diambil dari http://ariyanto.staff.uns.ac.id
Cahyono, Ari. (2013). Pembelajaran Praktikum II: Skala Peta dan Sistem
Koordinat. Yogyakarta : Universitas Gadjah Mada, Jurusan Sains Informasi
Geografi dan Pengembangan Wilayah
Ekadinata, A., Dewi, S., Hadi, D.P., Nugroho, D.K., & Johana, F. (2008).
Sistem Informasi Geografis untuk Pengelolaan Bentang Lahan Berbasis
Sumber Daya Alam. Bogor: World Agroforestry Centre.
Encyclopedia Britannica. Parallel. Diakses pada tanggal 14 Oktober 2013
dari http://global.britannica.com
PP no. 10 tahun 2000. Diakses pada tanggal 10 Oktober 2013 dari
http://www.penataanruang.net
Rahma, Fina Alvia. (2011). Garis Astronomis. Diambil dari
http://studyhardisthebest.blogspot.com
Sukoco, M., Sukwardjono. (1993). Pengetahuan Peta. Yogyakarta:
Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Universitas Gadjah Mada Fakultas
Geografi.
Tim Jaringan Kerja Pemetaan Partisipatif (JKPP). (2005). Geografi dan
Koordinat Peta. Bandung : Garis Pergerakan
Wikipedia, Sistem Koordinat Geografi. Diakses pada tanggal 10 Oktober
2013 dari http://id.wikipedia.org
VIII. LAMPIRAN

Koordinat Geografis

Koordinat Grid (UTM)