Anda di halaman 1dari 7

Nama : Asep Wahyudi

NIM :2284142370
Jurusan: Pendidikan Teknik Mesin
Mata Kuliah : Pendidikan Teknik dan Kejuruan
UJIAN AKHIR SEMESTER
Soal Easy
1. Analisis yang tepat terkait dengan komponen-komponen berbasais sekolah dan
industri untuk SMK dihubungkan dengan tingkat kompetensi industri, data dapat
memperjelas argument dan kondidi real secara umum
2. Berilah pendapat yang akurat ( data deskriptif, kuantitatif) terkait dengan struktur
pembelajaran di SMK (Pembelajaran berbasis sekolah dan pembelajaran berbasis
industri)
3. Guru merupakan komponen utama dalam proses pembelajaran. Sehingga dalam
menjalankan Profensiya guru harus memiliki kualifikasi dan kompetensi yang sesuai.
Berdasarkan peraturan mentri pendidikan nasional republik indonesia omor 16 Tahun
2007 tetang Standar Kualifikasi Akademik dan Kompetensi Guru di kembangkan
secara untuh dalam empat kompetensi meliputi kompetensi pedagogik, kompetensi
kepribadian, sosial, profesional yang di peroleh memlalui pendidikan profesi. Jelaskan
keempat kompetensi tersebut, apa variable dari kompetensi dan sebutkan indikator-
indikatornya.
4. Hasil lulusan yang handal dan mampu berdaya saing pada sekolah menengah
kejuruan SMK harus memiliki kemampuan Hard skill dan Soft skill. Bagaimana
model sekolah dalam mengembangkan kemampuan tersebut, buktikan argumenmu
dengan hasil penelitian atau pendapat yang di benarkan dari orang lain.
5. Bagaimana tentang MEA terhadap kondisi sekolah menengah Kejuruan saat dan
penyikapan Theory Prosscr? Lakuka Analisis tersebut dengan analisis SWOT
6. Di katakan guru standarisasi kejuruan dalam konteks global, asean dan internasional
seperti indikator, pengembangan dan implementasinya.
Jawaban
1. Manajemen berbasis sekolah ( MBS ) merupakan terjemahan dari school-based
management. MBS merupakan paradigma baru pendidikan, yang memberikan
otonomi luas pada tingkat sekolah ( pelibatan masyarakat ) dalam kerangka kebijakan
pendidikan nasional. Menurut Edmond yang dikutip Suryosubroto merupakan
alternatif baru dalam pengelolaan pendidikan yang lebih menekankan kepada
kemandirian dan kreatifitas sekolah.
Setiap satuan pendidikan perlu memperhatikan komponen-komponen
Manajemen Sekolah. Dalam penerapan Manajemen Berbasis Sekolah beberapa
komponen sekolah yang perlu dikelola yaitu kurikulum dan program pengajaran,
tenaga kependidikan, kemuridan, sarana dan prasarana pendidikan, dan pengelolaan
hubungan sekolah dan orang tua/wali murid (Mulyasa, 2002:40).
Pelajaran Kejuruan Berbasis Sekolah Bertujuan untuk membentuk kompetensi
inti melalui teori dan praktek yang terstruktur. Bisa dilihat dari gambar soal nomor 1.
Bahwa kira-kira dalam 1 tahun ada 24-28 Minggu, 14 Minggu itu 1 Catur Wulan
(Cawu), 1 Tahun itu 3 Cawu 42 Minggu + (1-2) Minggu Ujian, 1 Minggunya
Ulangan Umum untuk kelas 1 dan 2, dan 2 Minggunya Ujian Akhir untuk kelas 3.
Setiap pendidikan, khususnya pendidikan kejuruan, perlu diberikan beberapa
keluesan sehingga untuk seseorang yang telah memilih suatu jelnis pendidikan, tidak
tertutup kemungkian untuk berpindah ke jalur yang lain.
Pegembangan standari dibutuhkan penddekatan yang luwes, dalam pihak
industri -diusulkan beberapa kombinasi antara on dan off the job training sesuai
kebutuhan masing-masing industri. Semua program di mulai dengan belajar tentang
dasar-dasar kejuruan di tahun pertama. Selanjutnya siswa akan menempuh program
kombiasi antara work based learning dan school based learning, bisa sejak tahun
pertama. Program-prgram pendidikan yang mempunyai komponen kerja inustri akan
memberikan kepada anak didik pengalaman kerja yang lebih intnsif dan sebagai
konsekuensinya tingkat kompetensi dan pengalaman yang dimiliki akan jauh lebih
baik. Oleh karena itu menaikkan jumlah kesempatan kerja praktek untuk jenis
pendidikan ini harus di usahakan terus-enerus. Kurangya tempat kerja praktek yang
tersedia akan merupakan kendala bagi perluasan sisten ini. Perlu di lakukan konsultasi
degan idustri masing-masing provinsi untuk merancang program praktek industri. Hal
ini penting bagi SMK, karena mereka diharapkan dapat melakuka praktek dan
penglaman kerja minimal 3 bulan selama 3 tahun di SMK sehingga dapat
meninggkatka tingkat kompetensinya. Pengembangan pelatihan modular akan
membantu memberikan keluwesan dalam menyesuaikan dengan kesempatan kerja
yang ada dan kebutuhan para siswa, disamping memberikan kemudahan dalam
penjadwalan kegiatan sekolah. Perhedaan waktu praktek kerja akan memberikan
tingkat Kompetensi yang herbeda.
2. Tujuan Pelajaran Berbasis Kerja di Industri
a. Untuk meningkatkan pengalaman dan sikap kerja
b. Untuk meningkatkan integrasi fungsional antara pengetahuan dan
keterampilan guna mencinptakan kompetensi terapan dalam bidang kejuruan
tertentu
c. Untuk meningkatkan kompetensi sosial
d. Untuk menambah profensionalisme elaui akumulasi praktek kerja nyata
e. Pada akhirnya mencapai standari-standar kompetensi industri yang ditetapkan
Tujuan Pelajaran Berbasis Sekolah
Untuk membentuk kompetensi inti melalui teori dan praktek yag terstruktur
Sumber : Keterampilan menjelang 2020
Pelatihan untuk pekerja di industri harus singkat dan langsung mengenai
keterampilan-keterampilan khusus. Penerapan sistern modular yang telah di-
kembangkan akan membantu program di atas. Program modular juga dapat disusun
sedemikian rupa sehingga pelatihan-pelatihan jangka pendek dapat disatukan menjadi
suatu program yang mengarah pada kompetensi-kompetensi yang lebih luas yang
dapat memenuhi kebutuhan pelatihan individu maupun perusahaan-perusahaan
tertentu. Para pekerja akan mendapatkan manfaat dari pelatihan sistem modular
karena dapat merupakan bagian dari program yang lebih besar.

3. Jelaskan Kompetensi Guru


a. Kompetensi Pedagogik
Kompetensi pedagogik yaitu kemampuan yang harus dimiliki guru ber-kenaan
dengan karakteristik siswa dilihat dari berbagai aspek seperti moral, emosional,
dan intelektual
pemahaman guru terhadap peserta didik, perancangan dan pelaksanaan
pembelajaran, evaluasi hasil belajar, dan pengembangan peserta didik untuk
mengaktualisasi berbagai potensi yang dimilikinya.
Indikator Kompetensi Pedagogik
1) Memahami peserta didik secara mendalam memiliki indicator: Memahami
peserta didik dengan memanfaatkan prinsip-prinsip perkembangan kognitif.
Memahami peserta didik dengan memanfaatkan prinsip-prinsip kepribadian,
dan mengidentifikasi bekal-ajar awal peserta didik.
2) Merancang pembelajaran, temasuk memahami landasan pendidikan untuk
kepentingan pembelajaran memiliki indikator: Memahami landasan
kependidikan; menerapkan teori belajar dan pembelajaran; menentukan
strategi pembelajaran berdasarkan karakteristik peserta didik, kompetensi yang
ingin dicapai, dan materi ajar; serta menyusun rancangan pembelajaran
berdasarkan strategi yang dipilih. Melaksanakan pembelajaran memiliki
indikator: menata latar (setting) pembelajaran; dan melaksanakan
pembelajaran yang kondusif.
3) Merancang dan melaksanakan evaluasi pembelajaran memiliki indikator:
merancang dan melaksanakan evaluasi (assessment) proses dan hasil belajar
secara berkesinambungan dengan berbagai metode; menganalisis hasil
evaluasi proses dan hasil belajar untuk menentukan tingkat ketuntasan belajar
(mastery learning); dan memanfaatkan hasil penelitian pembelajaran untuk
perbaikan kualitas program pembelajaran secara umum.
4) Mengembangkan peserta didik untuk mengaktualisasikan berbagai potensinya
memiliki indikator: memfasilitasi peserta didik untuk mengembangkan
berbagai potensi non-akademik.

b. Kompetensi Kepribadian
Kompetensi kepribadian adalah kemampuan personal yang mencerminkan
kepribadian yang mantap, stabil, dewasa, arif, dan berwibawa.
Indikator Kompetensi Kepribadian
1) Kepribadian yang mantab dan stabil memiliki indikator; bertindak sesuai
dengan norma hokum; bertindak sesuai dengan norma social; bangga sebagai
guru; dan memiliki konsistensi dalam bertindak sesuai dengan norma.
2) Kepribadian yang dewasa memiliki indikator: menampilkan kemandirian
dalam bertindak sebagai pendidik dan memiliki etos kerja sebagai guru.
3) Kepribadian yang arif memiliki indikator: menampilkan tindakan yang
didasarkan pada kemanfaatan peserta didik, sekolah, dan masyarakat serta
menunjukkan keterbukaan dalam berfikir dan bertindak.
4) Kepribadian yang berwibawa memiliki indikator: memiliki perilaku yang
berpengaruh positif terhadap peserta didik dan memiliki perilaku yang
disegani.
5) Akhlak mulia dan dapat menjadi teladan memiliki indikator: bertindak sesuai
dengan norma religius (iman dan taqwa, jujur, ikhlas, suka menolong), dan
memiliki perilaku yang diteladani peserta didik.
c. Kompetensi Sosial
Kompetensi sosial merupakan kemampuan guru untuk berkomunikasi dan bergaul
secara efektif dengan peserta didik, sesama pendidik, tenaga kependidikan,
orangtua atau wali peserta didik, dan masyarakat sekitar.
Indikator Kompetensi Sosial
1) Mampu berkomunikasi dan bergaul secara efektif dengan peserta didik
memiliki indikator: berkomunikasi secara efektif dengan peserta didik.
2) Mampu berkomunikasi dan bergaul secara efektif dengan sesama pendidik dan
tenaga kependidikan.
3) Mampu berkomunikasi dan bergaul secara efektif dengan orang tua atau wali
peserta didik dan masyarakat sekitar.

d. Kompetensi Profesional
Kompetensi Profesional merupakan penguasaan materi pembelajaran secara luas
dan mendalam yang mencakup penguasaan materi kurikulum mata pelajaran dari
sekolah dan substansi keilmuan yang menaungi materinya. Serta penguasaan
terhadap struktur dan metodelogi keilmuannya.
Indikator Kompetensi Profesional
1) Menguasai substansi keilmuan yang terkait dengan bidang studi memiliki
indicator: memahami materi agar yang ada dalam kurikulum sekolah; dengan
materi ajar;memahami hubungan konsep antar mata pelajaran terkait; dan
menerapkan konsep-konsep keilmuan dalam kehidupan sehari-hari.
2) Menguasai struktur dan metode keilmuan memiliki indikator: menguasai
langkah-langkah penelitian-penelitian kajian kritis untuk memperdalam
pengetahuan atau materi bidang studi.
Sumber : kompetensi.info
4. Hasil dari penelitian yang di bahas dalam artikel yang saya peroleh dari penelitian
LPPMUNY bahwa hasil needs assessment ke Dunia Usaha dan Dunia Industri
(DUDI) bidang Pemesinan di wilayah Yogyakarta diperoleh hasil seperti tampak
pada gambar berikut:

Gambar 1. Aspek soft skills tuntutan dunia kerja


Dari hasil needs assessment di atas tampak bahwa aspek-aspek soft skills
(disiplin, jujur, komitmen, dan tanggung jawab) menduduki ranking atas sebagai
persyaratan yang diperlukan dunia kerja.
Model untuk mengembangkan kemampuan tersebut, maka SMK dapat
menerapkan model pendidikan sesuai denga program studinya dan karakteristik
siswanya.
Simanjutak dalam Heru Subroto (2004) mengemukakan tiga model pendidikan
kejuruan untuk menyiapkan tenaga kerja yang terampil, yaitu: (1) Sekolah Kejuruan,
(2) Sistem Kerja Sama, dan (3) Kombinasi Pendidikan dan Latihan. Yang dimaksud
model pendidikan Sekolah Kejuruan adalah pendidikan yang tempat
penyelenggaraannya di sekolah dan bersifat formal. Model ini banyak diterapkan di
berbagai negara. Di Indonesia, pada jenjang pendidikan menengah diberi nama
Sekolah Menengah Kejuruan (SMK). Secara garis besar, materi pembelajaran di
SMK dibagi menjadi dua bagian, yaitu: teori yang disampaikan di dalam kelas, dan
praktik yang dilaksanakan di laboratorium/bengkel. Seluruh kegiatan pembelajaran
teori dan praktik dilaksanakan di sekolah, dengan menitik beratkan pada bentuk-
bentuk pembelajaran keterampilan dasar.
Model pendidikan Sistem Kerja Sama adalah pola penyelenggaraan
pendidikan kerja sama antara sekolah dengan dunia kerja atau DUDI.
Impelementasinya, sebagian penyelenggaraan pendidikan dilaksanakan di sekolah,
dan sebagian dilaksanakan di DUDI. Kegiatan pendidikan teori dan praktik dasar
diselenggarakan di sekolah, sedangkan praktik lanjut dilaksanakan di DUDI dengan
real job.
Model Kombinasi Pendidikan dan Latihan, merupakan model
penyelenggaraan pendidikan yang memadukan sekolah dan latihan kerja. Meskipun
model ini belum banyak diterapkan di Indonesia, beberapa sekolah telah merintisnya
dalam bentuk Unit Produksi. Sekolah produksi diklasifikasikan dalam tiga
golongan, yaitu: (1) Sekolah produksi sederhana, (2) Sekolah produksi yang
berkembang, dan (3) Sekolah produksi yang berkembang dalam bentuk pabrik
sebagai tempat belajar.
5. Analisis SWOT Kondisi MEA dalam Sekolah Kejuruan dalam menyikapi teori Prossr
Strengths : MEA akan menjadi suatu keuntungan yang sangat besar bagi negara yang
masyarakatnya memiliki kualitas Sumber Daya Manusia yang tinggi, keterampilan
dan daya saing tinggi terutama di kancah internasional.
Pendidikan kejuruan mengemban tugas dan fungsi yang sangat penting dalam
membangun SDM yang kompetitif dan mampu bersaing dengan negara lain. Oleh
karena itu untuk menyambut MEA 2015, pendidikan kejuruan harus mampu
mempersiapkan SDM yang memiliki keterampilan, keahlian, sikap yang peka dan
kritis dalam menghadapi tantangan maupun perubahan-perubahan di dunia kerja
Weaknesses : apabila masyarakat yang tidak/kurang memiliki jiwa kompetitif dan
keterampilan, mereka akan merasa MEA akan menyulitkan. Terlebih mereka akan
bersaing dengan kompetitor dari negara lain. Sehingga bagi mereka yang tidak
memiliki keterampilan atau skill, mereka akan semakin tersingkir dari persaingan
dunia kerja yang semakin ketat dan merasa terkucilkan di negeri sendiri.
Opportunities : Departemen Pendidikan Nasional (Depdiknas) telah memproyeksikan
Rencana Pembangunan Jangka Panjang (RPJP) Pendidikan Nasional 2005-2025
membuat suatu rencana dimana pemerintah ingin memproyeksikan target peningkatan
jumlah siswa SMK sehingga mencapai perbandingan 70% untuk SMK dan 30% untuk
SMA. Artinya ke depan pemerintah lebih memfokuskan pada pendidikan yang
bersifat kejuruan (vokasi), oleh karena itu diperlukan suatu tindak nyata yaitu dengan
pendirian SMK yang baru dan diiringi dengan upaya mendorong program pendidikan
kejuruan yang sesuai dengan kebutuhan potensi daerah dan masyarakat yang terus
berubah.
Threats: Untuk mendukung dan merealisasikan RPJP tersebut diperlukan tindak nyata
yaitu dengan cara mendirikan SMK baru pada suatu daerah. Tapi pelaksanaan RPJP
tersebut tidak semudah yang dibayangkan banyak kendala-kendala yang ditemui di
lapangan
6. Standarisasi Kompetesi Guru Kejuruan
"Lulusan Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) harus memiliki sertifikasi kelayakan
berstandar internasional agar dapat bersaing dengan negara lain. Sekurang-kurangnya,
sertifikasi kompetensi yang diakui MEA," kata Dirjen Pendidikan Dasar dan
Menengah Hamid Muhammad
a. Lulusannya dapat mengisi peluang kerja di industri dan dunia usaha karena
terkait dengan satu sertifikasi yang dimiliki oleh lulusannya melalui uji
kemampuan kompetensinya
b. Lulusan pendidikan kejuruan dapat melanjutkan ke jenjang pendidikan yang
lebih tinggi apabila lulusannya memenuhi persyaratan.
Untuk meningkatkan kuantitas sarana dan prasarana Sekolah Menengah Kejuruan
(SMK) di seluruh Indonesia. Selain itu, bersama pemerintah daerah, Kemendikbud
akan menambah jumlah guru SMK yang masih berjumlah sekitar 270 ribu orang.
"Dengan peningkatan kuantitas SMK diharapkan proses pengajaran di sekolah
kejuruan mengikuti tren dan teknologi terbaru, serta tersedianya sarana dan prasarana
praktikum yang terbaik," kata Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud)
Anies Baswedan.
Kemendikbud juga melakukan upaya peningkatan kualitas peserta didik dan lulusan
sekolah kejuruan, salah satunya mempersiapkan 1.650 sekolah untuk menjadi
Lembaga Sertifikasi Profesi (LSP), sehingga lulusan SMK lebih siap dan kompeten
memasuki dunia kerja, khususnya era persaingan terbuka Masyarakat Ekonomi
ASEAN (MEA).

Gambar 2. Tahapan Pengembangan SMK Rujukan


Sumber :Kompasiana
Upaya peningkatan kompetensi guru SMK dapat di lakukan melalui diklat.
1. Pendidikan dan Pelatihan
a. Inhouse training (IHT).
Pelatihan dalam bentuk IHT adalah pelatihan yang dilaksanakan secara
internal di KKG/MGMP, sekolah atau tempat lain yang ditetapkan untuk
menyelenggarakan pelatihan.
b. Program magang.
Program magang adalah pelatihan yang dilaksanakan di
institusi/industri yang relevan, program magang dipilih sebagai alternatif
pembinaan dengan alasan bahwa keterampilan tertentu khususnya bagi guru-
guru sekolah kejuruan memerlukan pengalaman nyata ketika harus
memberikan gambaran tentang dunia industry pada anak didik.
c. Kemitraan sekolah
Pelatihan melalui kemitraan sekolah dapat dilaksanakan bekerjasama
dengan institusi pemerintah atau swasta dalam keahlian tertentu.
Pelaksanaannya dapat dilakukan di sekolah atau di tempat mitra sekolah.
Pembinaan melalui mitra sekolah diperlukan dengan alasan bahwa beberapa
keunikan atau kelebihan yang dimiliki mitra dapat dimanfaatkan oleh guru
yang mengikuti pelatihan untuk meningkatkan kompetensi profesionalnya,
contoh dengan DISNAKERTRANS dan DISPERINDAG
d. Belajar jarak jauh
Pelatihan melalui belajar jarak jauh dapat dilaksanakan tanpa
menghadirkan instruktur dan peserta pelatihan dalam satu tempat tertentu,
melainkan dengan sistem pelatihan melalui internet dan sejenisnya.
e. Pelatihan berjenjang dan pelatihan khusus.
Pelatihan jenis ini dilaksanakan di P4TK dan atau LPMP dan lembaga
lain yang diberi wewenang, di mana program pelatihan disusun secara
berjenjang mulai dari jenjang dasar, menengah, lanjut dan tinggi. Contoh,
jurusan tata busana di P4TK Bispar Bogor, teknologi di Malang, Seni di P4TK
Yogjakarta.