Anda di halaman 1dari 15

LAPORAN PRAKTIKUM HISTOLOGI DAN

EMBRIOLOGI HEWAN

PREPARAT SAYATAN ORGAN TUMBUHAN

Disusun Oleh :

Yulia
F05109031

Prodi Pendidikan Biologi


Jurusan P. MIPA
Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendiidkan
Universitas Tanjungpura
Pontianak
2012
BAB I
PENDAHULUAN

A. Tujuan

Tujuan dari praktikum ini adalah :


1. Membuat sediaan organ tumbuhan dengan menggunakan paraffin.

B. Dasar Teori

Menurut Kurniawan, 2010, Mikroteknik adalah ilmu yang


mempelajari tentang pembuatan preparat. Menurut Gunarso, (1989; 1),
Mikroteknik atau teknik histologi merupakan ilmu atau seni mempersiapkan organ,
jaringan atau bagian jaringan untuk dapat diamati dan ditelaah. Penelaahan umumnya
dilakukan dengan bantuan mikroskop, karena struktur jaringan secara terperinci pada
galibnya terlalu kecil untuk dapat dilihat dengan mata telanjang. Ruang lingkup yang
mencakup materi mikroteknik dapat diperoleh dari sejumlah definisi dan peristilahan
yang bisa dipakai, hanya saja sebaiknya kita mencamkan dalam pikiran kita bahwa
suatu spesimen mikroteknik dapat merupakan sebagian atau seluruhan dari struktur
yang ditetapkan. Selain dilekapkan dengan kaca preparat, spesimen tadi umumnya
dilindungi dengan kaca penutup, yaitu sepotong kaca yang sangat tipis ataupun plastik
yang tembus pandang yang direkatkan diatas spesimen tersebut (Gunarso, 1989; 1).
Organ adalah susunan dari bagian organisme, yang tujuannya melakukan
fungsi tertentu ataupun kesatuan yang erat kaitannya. Dengan demikian pembuluh
darah adalah organ yang fungsinya membawa atau mengalirkan darah. Hati adalah
organ yang mempunyai banyak fungsi, akan tetapi sebagai kesatuan fungsi maka hati
ini erat kaitannya dengan pencernaan dan asimilasi makanan (Gunarso, 1989; 2).
Jaringan adalah kumpulan sel yang mempunyai fungsi tertentu yang khas bagi
perkembangannya. Sebagai conth jaringan epitelia dapat terdiri dari satu atau beberap
lapisan sel yang telah berkembang dan membantuk lapisan penutup, jenis jaringan
lainnya, jaringan otot terdiri dari sel-sel yang reka membentuk otot (Gunarso, 1989;
2).
Sel adalah bagian yang merupakan penyusun dasar suatu jaringan, dan pada
kenyataannnya merupakan bagian dari semua makhluk hidup. Suatu sel dapat
merupakan organisme yang lengkap, ataupun sejumlah sel dapat bergabung
membentuk suatu jaringan, kombinasi penyusunnya membentuk orga-organ. Bentu-
bentuk kehidupan berderajat tinggi sekalipun dimulai dari satu sel. Bila suatu
organisme hanya teridiri dari satu sel, maka dinamakan Organisme Uniseluler.
Sedangkan yang terbentuk oleh kumpulan sel-sel yang berbeda fungsinya dinamakan
Organisme Multiseluler (Gunarso, 1989; 2).
Setiap organisme hidup ataupun hasil pertumbuhannya merupakan suatu
sumber yang penting sebagai bahan mikoteknik. Bakteri serta berbagai jenis
organisme uniseluler lainnya dapat termasuk di dalamnya, karena mereka sangat
sering dijumpai erat hubungannya baik dengan jenis jaringan yang masih hidup
maupun yang telah mati.
Untuk klasifikasi praktis, bahan yang berasal dari hewan atau tumbuh-
tumbuhan dapat dibedakan sebagai bahan yang lunak dan keras, normal atau yang
bersifat patologis. Suau spesimen mungkin saja berisi campuran jaringan lunak dan
keras, sedang bagian darinpadanya dapat normal dan bagian lain justru patologis
sifatnya seperti halnya tumor pada tulang. Pada umumnya suatu jaringan lunak dapat
diproses untuk pembuatan sayatan tanpa perlakuan khusus guna mengeluarkan atau
melunakkan bagian-bagian yang keras. Dari sekian banyak jaringan hewan, maka
kelanjar, tulang rawan yang tidak berkalsium, kulit, otot, saraf dan saluran darah
adalah contoh-contoh jaringan lunak. Sedangkan tulang gigi, tulang rawan
berkalsium, kitin dan berbagai struktur pada kulit seperti sisik, tangkai bulu dan
lempengan kapur termasuk jaringan keras. (Gunarso, 1989; 3).
Jaringan tumbuhan berbeda dengan jaringan hewan dalam satu hal penting,
yaitu bahwa setiap sel tumbuhan terbungkus dalam membran yang cukup tangguh
yang terutama terdiri dari selulosa. Membran tersebut berasal dari sel, sedang
membran sitoplasma yag asli, yang sesuai dengan membran luar pada sel hewan,
berada sedikit di sebelah dalamnya (Gunarso, 1989; 3).
Spesimen berasal dari hewan maupun tumbuhan besar biasanya dipotong
dalam ukuran yag sesuai untuk dipakai pada penyayatan selanjutnya. Untuk keperluan
tertentu seringkali diperlukan spesimen berukuran dalam centimeter, namun spesimen
dalam ukuran kecil akan memberikan hasil yang lebih baik.
Pada waktu membedah dan memisahkan spesimen dari jaringan.organ dan
organisme,hendaknya dilakukan dengan hati-hati untuk menghindarkan terjadinya
luka,kerusakan maupun sobekan.pemotongan sebaiknya menggunakan pisau silet
bermata satu.jika skalpel yang dipakai,gunakanlah skalpel yang tajam.bila
menggunakan gunting untuk memotong, maka tempat pemotongan biasanya terjadi
kerusakan yang memerlukan trimming (perautan) sedikit demi sedikit dengan silet
(Gunarso, 1989; 4).
Spesimen tumbuhan yang sedang tumbuh maupun yang sedang dalam proses
perkembangannya dapat diperoleh langsung dari rumah kaca,kebun maupun ladang.
Botol berisi larutan fiksasi harus dipersiapkan pada waktu pengambilan atau
pengumpulan spesimen. Dapat pula tumbuhan atau bahan daripadanya secepatnya
disimpan dalam air sebelum dilakukan proses fiksasi. Banyak jenis tumbuhan yang
langsung layu begitu dipotong. Untuk hal ini sebaiknya selalu disiapkan cairan fiksatif
pada waktu pengumpulan bahan spesimen tersebut (Gunarso, 1989; 5).
Penyakit akan menyebabkan terjadinya kelainan pada jaringan.kelainan yang
terjado tersebut merupakan hal yang penting pada penelaahan patologis. Baik
spesimen hewan maupun tumbuhan umumnya memerlukan penelaahan secara
mikroskopis untuk dapat mengidentifikasikan jenis penyakit yang menyebabkan
kelainan patologis tadi. tumor dan infeksi merupakan penyebab utama terjadinya
kelainan pada jaringan. Tumor pada manusia,hewan maupun tumbuhan umumnya
tidak menular pada manusia. Sehingga tidak berbahaya dalam menanganinya. Bagian
utama atau tertua sesuatu tumor biasanya merupakan jaringan yang sudah mati atau
dalam proses kematian,sehingga bagian tersebut bukan merupakan bagian yang baik
untuk menelaah perbedaan pertumbuhan normal dan tidak normal.
Dari embrio hewan dimungkinkan untuk mandapat hasil mikroteknik yang
baik. Melalui sayatan melintang embrio tersebut dapat dilakukan penelaahan berbagai
jenis jaringan (otot,saraf,epitelia,penghubung) sebagaimana cara yang terdapat pada
hewan dewasa. Embrio berukuran kecil dapat difiksasi secara utuh. Embrio mamalia
umumnya dikeluarkan dari rahim dan selaput pembungkusnya untuk kemudahan
dimasukkan ke dalam cairan fiksatif. Embrio jenis hewan piaraan (babi,kambing dan
lain-lain) pada tahap akhir (tahap fetal),akan selalu besar untuk difiksasi secara utuh
sehingga memerlukan pemilihan dan penyayatan bagian jaringan yang dikehendaki.
embrio tikus dan mencit memungkinkan untuk difiksasi secara utuh baik pada tahap
fetal maupun yang baru lahir (Gunarso, 1989, 5-6).
Metode parafin termasuk metode irisan yang merupakan metode rutin atau
standar. Pengamatan secara mikroskopis dari suatu jaringan normal sifatnya maupun
yang mengidap suatu penyakit (patologis) akan lebih baik hasilnya dilakukan dari
preparat jaringan yang telah dipersiapkan dengan baik, telah dillakukan penyayatan
cukup tipis serta diberi pewarnaan yang sesuai, sehingga berbagai elemen yang diteliti
lebih mudah untuk diamati (Gunarso, 1989; 17).
Metode parafin merupakan cara pembuatan preparat permanen yang
menggunakan parafin sebagai media embedding dengan tebal irisan kurang lebih
mencapai 6 mikron-8 mikron. Metode ini memiliki irisan yang lebih tipis daripada
menggunakan metode beku atau metode seloidin yang tebal irisannya kurang lebih
mencapai 10 mikron. Langkah-langkah penting dalam metode ini antara lain fiksasi,
pencucian, dehidrasi, penjernihan, embedding, penyayatan (section), penempelan,
pewarnaan, dan penutupan (Wararindi, 2011).

Sampling
Merupakan proses awal dalam metode parafin. Pada sampling ini diambil beberapa
organ sesuai keperluan. Jika organ terlalu besar maka dipotong-potong terlebih
dahulu.

Fiksasi (fixation)
Tujuan utama fiksas adalah memberikan perlakuan tertentu terhadap elemen-lemen
jaringan, terutama inti sel atau nukleinya, sehingga dapat diwetkan dalam kondisis
yang sedikit banyak mendekati keadaan aslinya. Selain itu, fiksasi juga mencegah
terjadinya kerusakan jaringan yang disebabakan oleh mikroorganisme maupun
perusakan oleh enzim yang terkandung dalam jaringan itu sendiri, yang dikenal
dengan autolisis. Dengan kata lain fiksasi bertujuan :
- Mematikan (menghentikan proses-proses metabolisme) jaringan dengan cepat
sehingga keadaannya sedikit banyak mendekati keadaan aslinya.
- Mencegah autolisis.
- Menaikkan daya pewarnaan karena adanya bahan-bahan keras yang merupakan
komponen cairan fiksatif.
Pada garis besarnya berdasarkan komposisi bahannya suatu fiksatif dapat
dikelompokkan menjadi :
- Fiksatif tunggal
Hanya menggunakan satu bahan kimia umum dalam bentuk larutan.
Contoh : formalin, alkohol, asam asetat dan asam pikrat.
Umumnya kurang memenuhi persyaratan sebagai fiksatif yang baik, terutama bagi
tujuan mikroteknik. Masih umum digunakan untuk tujuan anatomi maupun
histopatologi terutama fiksatif formalin.
- Fiksatif majemuk
Umumnya berupa campuran dari beberapa fiksatif tunggal. Disusun dengan
formula agar dapat diperoleh sesuai keinginan dan tujuan.biasanya fiksatif
campuran ini dituliskan sesuai dengan nama penemu formulanya. Banyak sekali
fiksatif campuran yang ada, contoh : larutan Bouin,larutan FAA, larutan glison,
dan lain sebagainya.

Dehidrasi (dehydration)
Dehidrasi adalah proses mengeluarkan air dari dalam jaringan tisu dengan
menggunakan bahan-bahan kimia tertentu. Dehidrasi merupaka langkah penting
yang memerlukan perlakuan yang prosesnya tidak terputus-putus. Kesalahan yang
terjadi akan mengakibatkan terhalangnya proses penamanan dalam parafin yang
merupakan proses lanjutan setelah proses dehidrasi tersebut. Sehubungan dengan
hal itu maka dehidran yang kita gunakan hedaklah memenuhi beberapa
persyaratan sebagai berikut :
- Harus mampu menarik air dari tisu menggantikan kedudukan air tersebut.
- Dehidran itu sendiri dapat digantikan kedudukannya oleh meduium penjernih.
- Tidak merusak dan mengganggu tisu yang telah difiksasi sebelumnya sehingga
misalnya tisu akan menjadi terlalu lunakkembali ataupun malah memperkeras tisu
tersebut menjadi rapuh.
- Dehidran yang paling umum dalam mikroteknik bagi metode parafin adalah
alkohol. Dalam penggunaannya dipakai serangkaian alkohol dengan konsentrasi
berbeda, dimulai dengan alkohol 35% - 50% - 70% - 80% - 95% - 100%. Alkohol
70% umum dikenal sebagai Stopping point dengan pengertian tisu dapat disimpan
agak lama (biasanya dibiarkan bermalam untuk dilanjutkan pada keesokan harinya
maupun hari-hari berikutnya).

Penjernihan (clearing)
Tujuan utama proses penjernihan adalah menggatiakn tempat alkohol dalam tisu
yang telah mengalami proses dehidrasi dengan suatu solven atau medium
penjernih menjelang proses penanaman sebelum dilakukan proses penyayatan.
Setelah kita menggunakan xylol atau benzene pada proses penjernihan ini, pada
umumnya tisu akan menjadi transparan : hal ini yang menjadi alasan bahwa hal ini
dikenal sebagai proses penjernihan. Lama tisu dalam medium penjernih
bergantung pada :
- Ketebalan serta tingkat kepadatan tisu.
- Jenis reagen yang dipakai.
- Untuk jenis tisu yang melalui proses dehidrasi dengan sempurna, maka proses
penjernihan (xylol, benzene) berlangsung selama setengah hingga tiga jam. Bila
tisu dibiarkan cukup lama dalam medium penjernih ini, maka besar kemungkinan
tisu akan menjadi keras dan rapuh yang tentu menyukarkan dalam penyayatan.

Infiltrasi (infiltration)
Yang dimaksud dengan infiltrasi yaitu usaha menyususpkan media penanaman
kedalam tisu dengan jalan menggantikan kedudukan dehidran dan bahan
penjernih. Media penamanam/embedding yang umum dipakai adalah parafin.
Parafin dibedakan berdasarkan titik didihnya, jadi ada yang bertitik didih 48C,
54C, 56C dan 58C. Utuk jenis tisu hewan yang biasanya digunakan parafin
bertitik didih 58C. Sebelum jaringan masuk kedalam parafin murni maka tisu
terlebih dahulu berada dalam xylol : arafin dengan perbandingan 1:3, 1:1, 1:3 da
selanjutnya masuk kedalam parafin murni.

Penanaman (embedding)
Penanama merupaka proses memasukkan atau menanam tisu kedalam blok-blok
parafin (cetakan) sehingga memudahkan pada proses penyayatan dengan bantuan
mikrotom. Beberapa teknik percetakan tersebut menggunakan :
a. Cetakan terbuat dari timah atau logam berat lainnya yang berbentuk L dialas
kaca dengan cara ini satu persatu tisu akan dapat dicetak.
b. Cetakan terbuat dari kertas. Sebaiknya disiapkan dari bahan kertas karton atau
manila.
c. Cetakan berbentuk bak yang terbuat dari aluminium, dengan cara ini tisu dapat
ditanamkan sekaligus.

Pemotongan (section)
Proses penyayatan mencakup berbagai cara akan menghasilkan sayatan tipis tisu
baik yang telah mengalami proses penanaman maupun tidak. Dalam mikroteknik,
cara lazim digunakan adalah penyayatan dengan menggunakan mikrotom dengan
berbagai peralatan pembantu seperti pisau mikrotom, kuas bulu, spatula, gunting
serta pensil penoreh. Mikrotom, alat khusus yang diracang untuk menyayat
material atau tisu-tisu dengan sayatan-sayatan yang cukup tipis untuk penelaahan
dengan mikroskop. Untuk memperoleh hasil sayatan yang baik dibutuhkan
beberapa persayaratan sebagai berikut :
1. Tisu yang telah dipersiapkan dengan sempurna.
2. Pisau yang cukup tajam.
3. Pemilihan jenis mikrotom yang tepat.
4. Operator yang cukup terampil dan terlatih
Dari beberapa jenis mikrotom yang ada, jenis-jenis mikrotom yang umum
dikenal dan digunakan dalam mikroteknik :
a. Mikrotom putar
Umum dipakai untuk mikroteknik metode parafin. Posisis kedudukan
pisau tetap. Sedang tisulah yang dilekat pada tisu holder yang bergerak
turun naik sehingga diperoleh sayatan umumnya berbentuk pita.
b. Mikrotom sorong
Sering pula digunakan dalam metode parafin, walau umumnya digunakan
untuk penyayatan tisu yang ditanam dalam celloidin. Dalam penggunaanya
kedudukan tisu ditetapkan atau diam, sedangkan pisaunya yang bergerak
maju mundur.
c. Mikrotom beku
Mikrotom beku digunakan untuk penyayatan tisu yang tidak ditanam
dalam parafin maupun dalam celloidin. Jadi tisu yang disayat adalah tisu
yang tidak ditanam, walau umumnya telah difiksasi dalam formalin dan
dibekukan dengan karbondioksida ataupun freon.

Afiksasi (afixing)
Afiksasi atau proses perlekatan adalah proses perlekatan atau penetapan sayatan
tisu yang pada kaca preparat dengan bantuan media prekat tertentu. Pada proses
ini diperlukan berbagai persiapan antara lain :
a. Kaca preparat bersih.
b. Media prekat.
c. Akuades.
d. Meja pemanas/hot plate.
e. Peralata berupa pinset, skapel, gunting, kuas dan lain sebagainya.
Dari beberapa jenis formula media prekat yang umum digunakan dalam kerja
rutin adalah media merekat albumin. Mula-mula putih telur dan gliserin
dikock hingga rata, busa yang terjadi dibuang dan bila perlu dilakukan
penyaringan, kemudian dibubuhkan kristal-kristal thymol yang berfungsi
sebagai pencegah berkembangnya jamur dan bakteri serta beberapa tetes
akuades sebagai pengencer.
Deparafinisasi
Deparafinisasi adalah proses penghilangan parafin menggunakan xylol. Adapun
langkah-langkah deparafinisasi adalah :
- Jaringan dimasukkan kedalam xylol (xylol 1 dan xylol 2) masing-masing selama
30 menit.
- Redehidrasi dengan alkohol dari tinggi ke rendah (100%, 96%, 80%, 70%, 50%
dan 30%) kemudian cuci dengan air mengalir setelah itu celupkan ke dalam
akuades.

Pewarnaan (staining)
Pewarnaan bertujuan agar dapat mempertajam atau memperjelas berbagai elemen
tisu, terutama sel-selnya, sehingga dapat dibedakan dan ditelaah dengan
mikroskop. Motoda pewarnaan yang sering dilakukan dalam pembuata preparat
metode parafin adalah metoda pewarnaan Hematoxilin-eosin.
Seperti merupakan peraturan, hamatoxillin digunakan terlebih dahulu dan setelah
melalui proses diferensiasi, maka barulah eosin digunakan. Pertukaran tempat
keduanya tampaknya akan menimbulkan kesukaran, karena pewarna hematoxilin
akan mewarnai lebih cepat dari pada pewarna paduannya yang umumnya berperan
sebagai counterstain yang intensitas pewarnaanya dapat diatur tanpa
mempengaruhi pewarnaan hematoxilin. Adapun langkah-langkah pewarnaan
adalah :
a. Dilakukan dengan pewarnaan hematoxilin selama 13 detik.
b. Cuci dengan air mengalir.
c. Bilas dengan akuades.
d. Masukkan kedalam alkohol 30%, 40%, 50%, 60% da 70%.
e. Bilas dengan akuades.
f. Warnai dengan eosin selama 1-2 menit.
g. Celupkan kedalam xyloll (xylol 1 dan xylol 2) masing-masing selama 20
menit.

Mounting
Merupakan proses akhir dari pembuatan preparat metoda parafin. Sebelum ditutup
secara permanen maka sebaiknya jaringan dilihat pada mikroskop apakah jaringan
tersebut sudah dapat diamati dengan baik atau tidak. Pada mounting tutup dengan
canada balsem dan gelas penutup. Hindari terbentuk gelembung udara kemudian
beri label dan diamati kembali diwabah mikroskop (Pahwadi, 2011).
BAB II
METODOLOGI

A. Alat dan Bahan

Alat :
- Alat untuk pemotongan/pengambilan organ (seperangkat alat bedah).
- Alat untuk infiltrasi paraffin (oven, beaker glass dan pinset).
- Alat untuk embedding (pinset, kotak kotak kecil 1,5 x 1,5 cm).
- Alat untuk sectioning (mikrotom dan kuas).
- Alat untuk affixing (objek glass, pipet tetes dan hot plate).
- Alat untuk staining/pewarnaan (staining jar, kertas label dan tissue).
- Alat untuk mounting (cover glass).
- Alat untuk pengamatan (mikroskop).

Bahan :
- Batang, akar, dan daun tumbuhan.
- Alcohol 70%, 80%, 90%, 96%, dan 100%.
- Fiksatif FAA dalam alcohol 95% (jika bahan lunak) atau FAA dalam alcohol 70%
(jika bahan keras).
- Safranin 1% dalam alcohol 70%.
- Alcohol : Xylol (3:1), (1:1), dan (1:3).
- Aquades.
- Xylol.
- Paraffin.
- Canada Balsam.
B. Cara Kerja
Metode : Parafin
1. Pengambilan Sampel : Bahan dipotong dengan silet tajam agar bahan tidak
tertekan.
- Daun dipotong dengan ukuran 5x5 mm dan dilakukan memanjang ibu
pertulangan atau anak pertulangan daun.
- Batang, akar, tangkai daun, dan organ lainnya yang berbentuk silinder
dipotong dengan ukuran 5x5 mm. Jika berkutin atau bersuberin, sebaiknya
diambil sepanjang 2mm.
2. Fiksasi : orgn direndam dalam fiksatif FAA selama 24 jam (untuk bahan tebal
atau besar minimal 48 jam).
3. Dehidrasi :
- Alcohol 96% selama 30 menit (mulai dari alcohol 70% jika alcohol yang
digunakan dalam FAA adalah alcohol 70%).
- Alcohol 80% selama 30 menit.
- Alcohol 70% selama 30 menit.
- Staining : Safranin 1% selama 24 jam (over night).
- Alkohol 70% selama 30 menit.
- Alkohol 80% selama 30 menit.
- Alkohol 96% selama 30 menit.
- Alcohol 100% selama 30 menit.
4. Dealkoholisasi/Clearing :
- Alkohol ; Xylol = 3:1
- Alkohol : Xylol = 1:1
- Alkohol : Xylol = 1:3
- Xylol selama 2x30 menit.
5. Infiltrasi Parafin : Dalam oven suhu 58-60C.
- Parafin ; xylol = 9:1 selama 24 jam.
- Parafin murni I selama 24 jam.
- Parafin murni II selama 1 jam.
6. Embedding : Cetak blok paraffin dalam kotak-kotak dan atur letak/posisi organ
sesuai dengan arah pemotongan, biarkan 24 jam dalam refrigerator.
7. Sectioning
8. Affixing
9. Staining :
- Xylol I
- Xylol II
- Alkohol : Xylol = 1:3
- Alkohol : Xylol = 1:1
- Alkohol : Xylol = 3:1
- Alcohol 100%
- Alkohol 100% Masing-masing 3 menit
- Alkohol 96%
- Alcohol 80%
- Alcohol 70%
- Safranin 1% selama 15 menit (cek di bawah mikroskop).
- Alcohol 70% selama 2x3 menit.
- Alcohol 80%
- Alcohol 96%
- Alcohol 100%
- Alcohol 100%
- Alkohol : xylol = 1:3
- Alkohol ; xylol = 1:1 Masing-masing 3 menit
- Alkohol : xylol = 3:1
- Xylol I
- Xylol II
10. Mounting
11. Labeling
12. Pemeriksaan : Di bawah mikroskop.

BAB III
HASIL DAN PEMBAHASAN

A. Hasil

Tabel 1. Hasil Pembuatan Preparat Sayatan Organ Tumbuhan.


No Nama Perbesaran
. Preparat 4x10 10x10
1.
Akar
Tumbuhan
Bayam

Keterangan Preparat akar tersebut terlihat Setelah diperbesar, terlihat


sedikit rusak pada bagian jaringan akar dengan beberapa
tepinya. Preparat tersebut bagiannya, seperti bagian
kurang melihatkan bagian- epidermis dan berkas
bagian dari akar. pengangkut.

B. Pembahasan

Mikroteknik dengan metode paraffin baik digunakan untuk pengamatan


mikroskopis pada jaringan normal maupun jaringan yang mengidap penyakit
(patologis). Bila penyayatan yang tipis dan pewarnaan yang baik, maka berbagai
elemen jaringan yang diteliti lebih mudah diamati. Sehingga, member kemudahan
dalam membedakan berbagai perubahan yang terjadi pada sel-sel jaringan yang
diteliti.
Untuk membuat praparat sayatan tumbuhan ini digunakan beberapa jenis
tumbuhan, diantaranya adalah tumbuhan bayam. Organ tumbuhan yang dipakai
adalah akar, batang dan daun. Pembuatan preparat sayatan organ tumbuhan yang
dapat dibuat hanyalah organ akar tumbuhan bayam. Hal ini dikarenakan terjadi
kerusakan pada organ saat dalam proses pembuatan preparat dan kesalahan saat
sectioning.
Beberapa organ tumbuhan mengalami kerusakan saat proses clearing, dimana
xylol merusak botol film yang dipakai sehingga organ tumbuhan yang berhasil
diselamatkan hanya sedikit. Beberapa organ tumbuhan tersebut samapai pada tahap
diembedding. Terjadi pengurangan stok organ karena kesalahan saat sectioning,
seperti adanya organ yang terlepas dari blok paraffin saat disayat. Beberapa organ
yang berhasil disayat juga mengalami kerusakan saat staining, dimana saat proses
dehidrasi terlalu lama sehingga organ tumbuhan tersebut mengalami pengerutan. Hal
ini dapat terjadi diduga karena kegagalan dalam infiltrasi, dicurigai bahwa paraffin
yang digunakan tidak menyusup ke dalam jaringan tumbuhan tersebut, sehingga
jaringan mengkerut saat didehidrasi.
Preparat akar bayam yang telah dibuat sudah cukup baik. Tetapi terjadi sedikit
kerisakan pada sayatan, sehingga sayatan tidak bulat. Pewarnaan sudah cukup baik,
sehingga masih terlihat bagian epidermis dan berkas pembuluh pada jaringan akar
tersebut.
BAB IV
KESIMPULAN

Kesimpulan yang didapat dari praktikum ini adalah :


1. Proses pembuatan preparat dengan metode parafin harus memalui beberapa
tahapan dan harus dilakukan dengan baik. Tahapan tersebut adalah fiksasi,
dehidrasi, clearing, infiltrasi, embedding, sectioning, affixing, staining, mounting,
labeling dan pengecekan.
DAFTAR PUSTAKA

Gunarso, Wisnu. 1989. Bahan Pengajaran Mikroteknik. Bogor : DEPDIKBUD Institiut


Pertanian Bogor.
Kurniawan, wahyu. 2010. LAPORAN PRAKTIKUM TEKNIK
LABORATORIUMPEMBUATAN SEDIAAN IRISAN JARINGAN HEWAN
DENGANMETODE PARAFIN. http://www.scribd.com/doc/32533831/4-Metode-
Parafin-Hewan. diakses; Selasa, 24 April 2012.

Pahwadi, Rahman. 2011. Praktikum Mikroteknik..


http://achumanbiotan08.blogspot.com/2011_06_01_archive.html. diakses; Senin, 21
mei 2012.

Wararindi. 2011. Membuat Preparat Organ.


http://wararindi.wordpress.com/2011/06/07/membuat-preparat-organ/. Diakses;
Selasa 24 April 2012.