Anda di halaman 1dari 25

PENERBITAN SEKURITAS EKUITAS

( SAHAM,RIGHTS, WARANT) KEWAJIBAN


JANGKA PANJANG

TUGAS MATA KULIAH


PASAR MODAL DAN MANAJEMEN KEUANGAN

Disusun Oleh:

Achmad Zaki M F (1616102015)


Imam Dzulfiqar (1616102021)
Meida Noor Riskiana (1616102022)
Lilis Setiatin (1616102023)

PROGRAM STUDI MAGISTER AKUNTANSI


UNIVERSITAS WIDYATAMA
BANDUNG
2017

1
BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Sejalan dengan perkembangan perekonomian, banyak perusahaan dalam rangka
mengembangkan usahanya melakukan berbagai cara untuk memenuhi kebutuhan
modal, diantaranya adalah dengan cara utang atau menambah jumlah kepemilikan
saham dengan menerbitkan saham baru. Untuk menambah jumlah kepemilikan saham
perusahaan dapat dilakukan dengan menjual kepada pemegang saham yang sudah ada,
menambah saham yang tidak dapat dibagi, menjual langsung kepada pemilik tunggal
atau dengan melakukan penawaran saham kepada masyarakat umum.
Proses penawaran sebagian saham kepada masyarakat melalui bursa efek disebut
dengan istilah go public. Istilah go public yaitu proses sebuah perusahaan menjadi
perusahaan terbuka (sahamnya bisa dimiliki oleh publik) beserta produk derivatifnya.
Selain itu akan dibahas juga mengenai kewajiban (utang) jangka panjang.Sebuah
perusahaan yang akan go public dimana perusahaan tersebut melakukan initial public
offering (IPO) sahamnya melalui perusahaan sekuritas yang menjadi penjamin emisi
dan melalui agen-agen penjual yang ditunjuk. Investor bisa melakukan pembelian
dengan memesan melalui penjamin emisi ataupun agen penjual. Perusahaan tersebut
akan menerbitkan hanya saham-saham pertama, namun bisa juga menawarkan saham
kedua.
Biasanya perusahaan tersebut akan merekrut seorang bankir investasi untuk
menjamin penawaran tersebut dan seorang pengacara korporat untuk membantu menulis
prospektus. Pada umumnya jumlah saham yang didapatkan biasanya cenderung lebih
sedikit dari pesanan. Hal ini karena minat investor untuk membeli saham saat IPO
biasanya sangat besar sehingga dilakukan penjatahan. Pada saat IPO, perusahaan bisa
juga memberikan pemanis untuk lebih menarik minat investor dengan menambahkan
produk derivatif yaitu warrant. Serta pilihan-pilihan lain para investor untuk melakukan
invetasi melalui penerbitan kewajiban jangka panjang biasanya terkait dengan
protective covenant, sinking fund, call provision, dan bond refunding.

2
B. Tujuan
Tujuan dari pembuatan makalah ini adalah untuk mengetahui penerbitan sekuritas
ekuitas (saham, right, warrant) khususnya terkait dengan Initial Public Offering (IPO),
Secondary Public Offering (SPO), right, dan warrant serta kewajiban jangka panjang
yang terkait dengan positive covenants, sinking fund, call provision, dan bond
refunding.

3
BAB II
PEMBAHASAN

A. Penerbitan Sekuritas Ekuitas (Saham, Right, Warrant)


1. Initial Public Offering (IPO)
a. Pengertian Initial Public Offering
Initial public offering (IPO) adalah penjualan pertama saham umum sebuah
perusahaan kepada investor umum. Menurut UU No.8 Tahun 1995, penawaran
umum (emisi/go public/initial public offering) adalah kegiatan penawaran efek
yang dilakukan oleh emiten untuk menjual efek kepada masyarakat berdasarkan
tatacara yang diatur dalam undang-undang Pasar Modal dan peraturan
pelaksanaannya. Perusahaan tersebut akan menerbitkan hanya saham-saham
pertama, namun bisa juga menawarkan saham kedua. Biasanya perusahaan
tersebut akan merekrut seorang bankir investasi untuk menjamin penawaran
tersebut dan seorang pengacara korporat untuk membantu menulis
prospektus.Penjualan saham diatur oleh pihak berwajib dalam pengaturan
finansial dan jika relevan, sebuah bursa saham. Biasanya menjadi sebuah
persyaratan untuk mengungkapkan kondisi keuangan dan prospek sebuah
perusahaan kepada para investor.
b. Manfaat Penawaran Umum
Dengan menjadi perusahaan publik, banyak sekali manfaat yang dapat diperoleh
perusahaan, di antaranya :
Memperoleh Sumber Pendanaan Baru
Dana untuk pengembangan, baik untuk penarnbahan modal kerja rnaupun
untuk ekspansi usaha, adalah faktor yang sering menjadi kendala banyak
perusahaan. Dengan menjadi perusahaan publik kendala pendanaan tersebut
akan lebih mudah diselesaikan melalui hasil penjualan saham kepada publik.
Dengan cara ini, perusahaan dapat memperoleh dana dalam jumlah yang
besar dan diterima sekaligus dengan costoffund yang relatif lebih kecil
dibandingkan perolehan dana melalui perbankan. Selain itu di masa
mendatang, dengan telah menjadi perusahaan publik, perusahaan juga dapat
melakukan secondary offering tanpa batas.
Memberikan Competitive Advantage untuk Pengembangan Usaha

4
Dengan menjadi perusahaan publik, perusahaan akan memperoleh banyak
competitive advantages untuk pengembangan usaha di masa yang akan
datang melalui penjualan saham kepada publik perusahaan berkesernpatan
untuk mengajak para partner kerjanya seperti pemasok (supplier) dan
pernbeli (buyer) untuk turut rnenjadi pemegang saham perusahaan. Dengan
demikian, hubungan yang akan terjadi tidak hanya sebatas hubungan bisnis
tetapi berkembang menjadi hubungan yang lebih tinggi tingkat kualitas dan
loyalitasnya. Hal tersebut disebabkan karena mereka sebagai salah satu
pemegang saham akan memberikan komitmen yang lebih tinggi untuk turut
serta membantu pengembangan perusahaan di masa depan.
Melakukan merger atau akuisisi perusahaan lain
Pengembangan usaha melalui merger atau akuisisi merupakan salah satu cara
yang cukup banyak diminati untuk mempercepat pengernbangan skala usaha
perusahaan. Saham perusahaan publik yang diperdagangkan di bursa
rnemiliki nilai pasar tertentu. Dengan demikian, bagi perusahaan publik yang
saharnnya diperdagangkan di bursa, pembiayaan untuk merger atau akuisisi
dapat lebih rnudah dilakukan yaitu melalui penerbitan saham baru sebagai
alat pembiayaan merger atau akuisisi tersbut.
Peningkatan Kemarnpuan Going Concern
Kemampuan going concern bagi perusahaan adalah kernampuan untuk tetap
dapat bertahan dalam kondisi apapun terrnasuk dalam kondisi yang dapat
mengakibatkan bangkrutnya perusahaan, seperti terjadinya kegagalan
pembayaran hutang kepada pihak ketiga, perpecahan di antara para
pernegang saham pendiri, atau bahkan karena adanya perubahan dinamika
pasar yang dapat rnempengaruhi kemampuan perusahaan untuk tetap dapat
bertahan di bidang usahanya. Dengan menjadi perusahaan publik,
kemampuan perusahaan untuk dapat mempertahankan kelangsungan
hidupnya akan jauh lebih baik dibandingkan dengan perusahaan tertutup.
Meningkatkan Citra Perusahaan
Dengan go public suatu perusahaan akan selalu mendapat perhatian media
dan komunitas keuangan. Hal ini berarti bahwa perusahaan tersebut
mendapat publikasi secara cuma-cuma, sehingga dapat meningkatkan
citranya. Peningkatan citra tersebut tentunya akan memberikan dampak
positif bagi pengembangan usaha di masa depan. Hal ini sangat dirasakan

5
oleh banyak perusahaan yang berskala kecil menengah karena dengan
menjadi perusahaan publik yang sahamnya diperdagangkan di Bursa, citra
mereka menjadi setara dengan banyak perusahaan besar yang telah memiliki
skala bisnis yang besar dan pengalaman historis yang lama.
Meningkatkan Nilai Perusahaan
Dengan menjadi perusahaan publik yang sahamnya diperdagangkan di
Bursa, setiap saat dapat diperoleh evaluasi terhadap nilai perusahaan. Setiap
peningkatan kinerja operasional dan kinerja keuangan umumnya akan
mempunyai dampak terhadap harga saham di Bursa, yang pada akhirnya
akan meningkatkan nilai perusahaan secara keseluruhan.
c. Tujuan Penawaran Umum
Tujuan dari Penawaran Umum yang dilakukan oleh perusahaan adalah :
Perluasan usaha
Memperbaiki atau mengoptimalkan struktur keuangan dan permodalan
Menimbulkan rasa kepemilikan (sense of belonging) dari stakeholder
Menjaga kelangsungan usaha dari kemungkinan perpecahan antar founders
Meningkatkan produktivitas karyawan
Meningkatkan profesionalisme manajemen
Meningkatkan company image dan company value
d. Konsekuensi Penawaran Umum
Perusahaan yang memutuskan untuk menjual sahamnya ke masyarakat memiliki
beberapa konsekuensi yang harus ditanggung oleh perusahaan di samping
manfaat yang diperoleh. Dengan melakukan penawaran umum berarti
perusahaan dituntut untuk lebih terbuka dan harus mengikuti peraturan-peraturan
pasar modal mengenai kewajiban pelaporan. Segala sesuatu yang berhubungan
dengan keuangan baik pemasukan maupun pengeluaran harus tercatat secara
terperinci dan dapat dipertanggungjawabkan.

6
Berbagi Kepemilikan
Hal ini dapat diartikan bahwa prosentase kepemilikan akan berkurang.
Banyak perusahaan yang hendak go public/merasa enggan karena khawatir
akan kehilangan kontrol/kendali perusahaan. Sebenarnya hal ini tidak perlu
dikhawatirkan karena jumlah minimum saham yang dipersyaratkan untuk
dijual kepada publik rnelalui proses Penawaran Umum (Initia Public
Offering/IPO) tidak akan mengurangi kemampuan pemegang saham pendiri
untuk tetap dapat mempertahankan kendali perusahaan.
Mematuhi Peraturan Pasar Modal yang Berlaku
Pasar modal memang menerbitkan berbagai peraturan, namun semua
ketentuan tersebut pada dasarnya justru akan mernbantu perusahaan untuk
dapat berkembang dengan cara yang baik di masa mendatang. Para
pemegang saham, pendiri dan manajemen perusahaan tidak perlu khawatir
dengan berbagai pemenuhan peraturan tersebut karena cukup banyak pihak
profesional yang dapat dimanfaatkan jasanya untuk membantu.

e. Proses Penawaran Umum

Pasar saham bisa dibedakan menjadi Pasar Perdana dan Pasar Sekunder. Pada
saat IPO yang terjadi adalah Pasar Perdana seperti terlihat pada skema dibawah
ini.

efek PENJAMIN EMISI efek

EMITEN INVESTOR
dana AGEN PENJUAL dana

Pasar Perdana

Tahap sebelum emisi

7
Yang harus dilakukan oleh internal perusahaan :

Tahap advisory, pada tahap ini manajemen perusahaan meminta


persetujuan kepada pemegang saham dalam RUPS atau pemilik untuk go
public

Tahap untuk menentukan profesi penunjang seperti akuntan publik,


penasehat hukum, perusahaan penilai, notaris, petugas registrasi dan
printer. Tim yang terbentuk kemudian berkomunikasi dengan BAPEPAM
untuk persiapan pernyataan pendaftaran

Mempersiapkan kelengkapan dokumen emisi untuk menyiapkan


pendaftaran ke BAPEPAM

Memilih dan menentukan penjamin emisi efek dan agen penjualan

Tahap pengalihan kepemilikan aktiva. Semua aktiva yang masih atas


nama pemilik dialihnamakan menjadi atas nama perusahaan

Tahap restrukturisasi permodalan

Kontrak pendahuluan dengan bursa efek untuk pencatatan saham

Penandatanganan perjanjian-perjanjian dengan pihak-pihak terkait

Publik Expose dan Road Show

Tahapan di BAPEPAM :

Emiten bersama penjamin emisi (underwriter) menyampaikan pernyataan


pendaftaran kepada BAPEPAM

Expose terbatas di BAPEPAM

8
BAPEPAM memberi tanggapan atas kelengkapan dokumen, kecukupan
dan kejelasan informasi, serta keterbukaan aspek hukum, akuntansi,
keuangan dan manajemen

Komentar tertulis dari BAPEPAM dalam jangka waktu 45 hari

Pernyataan pendaftaran dinyatakan efektif

Tahapan Saat Emisi

Tahapan emisi di Pasar Perdana :

Penawaran umum minimal dilaksanakan dalam 3 hari kerja dan harus


selesai selama 60 hari kerja sejak pernyataan efektif

Penjatahan kepada pemodal oleh penjamin emisi dan emiten jika terjadi
kelebihan permintaan dan maksimal selesai dalam jangka waktu 3 hari
kerja setelah masa penawaran berakhir

Terhadap pemesan yang terkena penjatahan, maka akan ada proses


pengembalian uang pesanan (refund) yang dilaksanakan maksimal 2 hari
kerja setelah tanggal penjatahan

Bukti kepemilikan efek harus tersedia kepada pembeli efek dalam


penawaran umum, diserahkan maksimal 2 hari kerja setelah tanggal
penjatahan dan untuk efek yang tidak dicatatkan maksimal 5 hari kerja

Tahapan emisi di Pasar Sekunder :

Emiten mencatatkan efek di Bursa, dilakukan maksimal 5 hari kerja


setelah tanggal penjatahan

Perdagangan efek di Bursa

Tahapan setelah emisi

9
Menyerahkan laporan hasil Penawaran Umum ke BAPEPAM maksimal
5hari kerja setelah tanggal penjatahan Jangka waktu
efektifnyapernyataan pendaftaran sampai dengan disampaikannya
laporan hasil Penawaran Umum kepada BAPEPAM maksimal 15 hari
kerja

Menyampaikan laporan berkala, misalnya laporan tahunan dan laporan


tengah tahunan

Menyampaikan laporan kejadian penting dan relevan, misalnya akuisisi


dan pergantian direksi.

2. Secondary Public Offering (SPO)


Secondary Public Offering (SPO) adalah pasar sekunder dimana harga berfluktuasi
sesuai kekuatan pasar, dibebankan komisi untuk pembelian maupun penjualan,
pemesanan dilakukan melalui Anggota Burs, dan jangka waktu tidak terbatas. Tahap
secondary market merupakan tahap masa pencatatan saham di bursa Efek dan sekaligus
saham tersebut di perdagangkan. Pada masa ini para pemilik saham yang telah membeli
saham di pasar perdana dapat memperjualbelikan sahamnya dengan mekanisme
perdagangan yang berlaku di Bursa Efek. Pemilik saham atau pemodal dapat melakukan
jual ataupun beli atas saham yang dimilikinya melalui perusahaan efek yang bergerak
sebagai perantara pedagang efek atau pialang saham. Proses tersebut dapat digambarkan
sebagai berikut :

Saham perusahaan yang dijual oleh emiten tersebut akan diuji apakah saham ini
memiliki prospek atau kinerja bagus atau tidak. Suatu saham yang memiliki kinerja
baik, maka harga sahamnya akan memiliki kecenderungan naik karena diminati oleh
pemodal. Sebaliknya, saham kurang baikakan memiliki kecenderungan harga menurun.
3. Right

10
Right dapat didefinisikan sebagai efek yang memberikan hak kepada pemegang
saham lama untuk membeli saham baru yang akan dikeluarkan oleh emiten pada
proporsi dan harga tertentu. Hak dalam right sering disebut sebagai preemptive right,
yaitu suatu hak untuk menjaga proporsi kepemilikan saham bagi pemegang saham lama
di suatu perusahaan sehubungan dengan pengeluaran saham baru.Biasanya right muncul
ketika emiten melakukan penawaran saham kedua (second issue).Dampak jika
pemegang saham tidak menggunakan preemptive right adalah :
a. Dilusi (berkurangnya proporsi kepemilikan pemegang saham yang tidak
menggunakan haknya).
b. Mengurangi ROI (Return on Investment) dengan bertambahnya saham beredar.
c. Mengecilnya DPS (Dividend Per Share) karena harus dibagikan kepada
pemegang saham.
Harga saham yang ditentukan dalam right untuk membeli saham baru dengan
proporsi sesuai ketentuan, harganya ditentukan sama dengan atau diatas nilai nominal
saham tapi nilai nominal saham tetap dibawah harga pasar. Harga penebusan saham
baru ini disebut dengan exercise price atau subscription price.Dalam kaitannya dengan
right, ada istilah right issue, yang didefinisikan sebagai kegiatan penawaran umum
terbatas kepada pemegang saham lama dalam rangka penerbitan hak memesan efek
terlebih dahulu.Untuk penerbitan hak memesan efek terlebih dahulu dibutuhkan
persetujuan dari pemegang saham mayoritas. Right issue ini pun harus mendapatkan
persetujuan efektif dari Bapepam.
Rumus untuk menghitung harga teoritis rights :
Pr PsPe
Pr = harga teoritis right
Ps = harga teoritis saham ex right
Pe = harga saham baru (harga tebus right)
Dengan adanya right issue akan terjadi penambahan saham baru yang akan
menyebabkan adanya dilusi kepemilikan saham. Untuk menghitung harga teoritis saham
sesudah right issue digunakan rumus berikut :
RR . Pc+ PE
Ps=
RR+1
Ps = harga teoritis saham ex right
Pc = harga penutupan saham pada cum-right

11
RR = rasio rights issue
PE = exercise price (harga penebusan rights)
Periode perdagangan right tidak selamanya, melainkan hanya sementara saja.
Biasanya antara 5 hingga 10 hari bursa. Dengan sifatnya yang berupa hak ada beberapa
keistimewaan dan keuntungan yang bisa diperoleh investor dengan right. Investor yang
menjadi pemegang saham lama memiliki hak istimewa untuk membeli saham baru pada
harga yang telah ditetapkan dengan menukarkan right yang dimilikinya. Hak istimewa
tersebut memungkinkan investor untuk memperoleh keuntungan dengan membeli
saham baru dengan harga yang lebih murah.
Contoh :
Emiten ABC melakukan right issue dengan harga Rp. 1.500 per lembar. Right dari
saham itu dijual pada harga Rp. 200. Itu artinya bagi pemegang saham lama untuk
dapat membeli saham baru emiten senilai Rp. 1.500, dia harus menebus right (yang
menjadi hak untuk membeli saham) senilai Rp. 200 per saham. Dengan demikian
modal yang dikeluarkan investor untuk membeli saham baru emiten itu adalah Rp.
1.700 per saham. Kalau pada saat pelaksanaan harga saham di pasar naik menjadi
Rp. 2.000 per saham, berarti pemegang saham sudah menikmati keuntungan sebesar
Rp. 300 per saham.
Di samping memiliki keuntungan, right juga memiliki risiko. Salah satu contoh
risiko yang sering terjadi adalah apabila harga saham pada periode pelaksanaan atau
yang biasa disebut dengan exercise date lebih rendah. Dalam kondisi ini dengan
sendirinya investor tidak akan mengkonversikan right tersebut, sementara itu investor
akan mengalami kerugian atas harga beli right. Misalkan seorang investor membeli
right di pasar sekunder pada harga Rp. 200 dengan harga pelaksanaan Rp. 1.500.
Kemudian pada periode pelaksanaan, harga saham turun menjadi Rp. 1.200 per saham.
Investor tersebut tentunya tidak akan menukarkan right yang dimilikinya, karena jika
dia melakukannya, maka dia harus membayar Rp. 1.700 (Rp. 1.500 harga pelaksanaan +
Rp. 200 harga right). Sebagai konsekuensi tidak dilakukannya penukaran saham
tersebut akan terjadi dilusi pada kepemilikan saham investor. Dilusi atau berkurangnya
kepemilikan saham investor itu akan terjadi secara proporsional. Misalnya emiten yang
melakukan right issue itu sebelumnya memiliki saham sebanyak 200 juta. Ketika
emiten itu mengeluarkan right issue dengan perbandingan (rasio) 1:1 artinya setelah

12
right issue saham emiten itu akan bertambah jumlahnya menjadi 400 juta lembar saham.
Dengan kata lain tiap satu pemegang saham lama akan diberi hak untuk membeli 1
saham baru. Kalau kemudian right tidak ditebus oleh pemegang saham lama (yang
mendapatkan hak untuk membeli terlebih dulu), dengan sendirinya jumlah kepemilikan
sahamnya akan terpangkas (dilusi) sebesar 50 persen. Artinya jika sebelum right issue
seorang investor memiliki 1 juta saham, maka setelah right issue jumlah sahamnya
tinggal 500 ribu lembar saja.
4. Warrant
Waran adalah hak untuk membeli sebuah saham pada harga yang telah ditetapkan
pada waktu yang telah ditetapkan pula. Waran biasanya melekat sebagai daya tarik
(swetener) pada penawaran umum saham perdana (IPO) ataupun obligasi. Biasanya
harga pelaksanaan lebih rendah dari pada harga pasar saham. Setelah saham ataupun
obligasi tersebut tercatat di bursa, waran dapat diperdagangkan secara terpisah. Periode
perdagangan waran sekitar 3 - 5 tahun. Waran merupakan suatu pilihan (option), di
mana pemilik waran mepunyai pilihan untuk menukarkan atau tidak warannya pada saat
jatuh tempo. Pemilik waran dapat menukarkan waran yang dimilikinya 6 bulan setelah
waran tersebut diterbitkan oleh emiten. Harga waran itu sendiri berfluktuasi selama
periode perdagangan di pasar sekunder. Untuk menghitung harga suatu waran
digunakan rumus berikut :
Pw=PsPe
Pw = harga/nilai fundamental suatu waran
Ps = harga pasar yang berlaku pada saham biasa yang terkait dengan waran.
Pe = exersice price waran untuk penebusan saham.
Yang menjadi keistimewaan waran ini antara lain :
a. Pemilik waran memiliki hak untuk membeli saham baru perusahaan dengan
harga yang lebih rendah dari harga saham tersebut di pasar sekunder dengan cara
menukarkan waran yang dimilikinya ketika harga saham perusahaan tersebut
melebihi harga pelaksanaan.Misalnya seorang investor membeli waran pada
harga Rp. 200,- per lembar dengan harga pelaksanaan Rp. 1.500,-. Kalau pada
saat tanggal pelaksanaan (penukaran waran menjadi saham), harga saham
perusahaan meningkat menjadi Rp. 1.800,- per saham, maka investor dapat
dikatakan hanya membeli saham perusahaan tersebut dengan harga hanya Rp.

13
1.700 (Rp. 1.500,- + Rp. 200,-). Jelas hal itu sangat menguntungkan membeli
saham secara langsung di pasar sekunder yang harganya Rp. 1.800,- per saham.
b. Karena sifatnya yang bisa diperdagangkan itu waran ini juga memberikan
keuntungan berupa capital gain. Karakteristik yang demikian itu sekaligus juga
menjadi faktor yang merugikan bagi investor apabila harga waran jatuh dari
harga belinya. Begitu pula apabila harga saham pada periode pelaksanaan jatuh
dan menjadi lebih rendah dari harga pelaksanaan, maka investor akan
mengalami kerugian atas harga beli waran.
Misalnya investor membeli waran seharga Rp. 200,- dengan harga pelaksanaan
Rp. 1.500,-. Kemudian pada periode pelaksanaan, harga saham turun menjadi
Rp. 1.200,- per saham. Investor tersebut tentunya tidak akan menukarkan waran
yang dimilikinya, karena jika ia melakukannya, maka ia harus membayar Rp.
1.700,- (Rp. 1.500,- harga pelaksanaan + Rp. 200,- harga waran). Oleh karena
itu investor akan mengalami kerugian sebesar harga pembelian waran Rp. 200,-.
Sesuai dengan peraturan Bapepam, jumlah waran yang diterbitkan dan waran yang
telah beredar tidak melebihi 15% dari modal disetor pada saat waran diterbitkan.
Proses penebusan waran akan mengakibatkan peningkatan jumlah saham yang
diterbitkan, sehingga akan terjadi dilusi persentase kepemilikan saham. Harga teoritis
saham setelah redemption waran dapat dihitung sebagai berikut :
Ss . Pc+ WR . PE
Ps=
S +WR
Ps = harga teoritis saham yang baru sesudah redemption waran
Ss = jumlah saham sebelum terjadinya redemption waran
Pc = harga penutupan yang tersedia pada saat terjadinya redemptionwaran
PE = exercise price waran
WR = banyaknya saham biasa yang ditebus dengan waran

14
B. Kewajiban Jangka Panjang
Salah satu sumber modal jangka panjang adalah obligasi. Obligasi diterbitkan oleh
perusahaan, disebarluaskan, ditawarkan kepada publik dan dibeli oleh beragam investor.
Dengan membeli obligasi artinya antara perusahaan dan investor yang membeli obligasi
terdapatperjanjian bahwa perusahaan akan melakukan pembayaran atas pokok pinjaman
beserta bunganya (bisa berbentuk fixed rate atau floated rate), pada tanggal tertentu
kepada pemegang obligasi. Perjanjian inilah yang disebut indenture, yang didalamnya
memuat hak dan kewajiban baik pemegang saham atau perusahaan. Tebal indenture bisa
beratus halaman, memuat berbagai hal seperti mengatur kemungkinan pelunasan
obligasi sebelum jatuh tempo, tingkat rasio kemampuan perusahaan dalam membayar
bunga dalam tiap tahunnya (Times Interest Earned/TIE ratio) yang harus dipertahankan
jika perusahaan menjual obligasi tambahan, dan pembatasan pembayaran deviden jika
laba tidak mencapai jumlah tertentu.
Terdapat banyak dimensi lain dari kewajiban (utang) jangka panjang, termasuk hal-
hal seperti jaminan, karakteristik penebusan kembali (call), dana pelunasan (sinking
fund), peringkat, dan perjanjian perlindungan (protective covenant). Karakterisik-
karakterisitik tersebut dirinci di dalam perjanjian obligasi (indenture).
Biasanya, suatu pengawas keuangan (trustee) misalnya sebuah bank, ditunjuk oleh
perusahaan untuk mewakili para pemegang obligasi. Perusahaan pengawas harus :
a. Memastikan ketentuan-ketentuan dalam perjanjian telah dipatuhi.
b. Mengelola dana pelunasan
c. Mewakili pemegang obligasi dalam kegagalan pembayaran yakni jika
perusahaan gagal bayar.
Indenture obligasi adalah dokumen legal yang biasanya memuat persyaratan-
persyaratan berikut :
a. Persyaratan dasar obligasi
b. Jumlah total emisi obligasi
c. Uraian tentang harta yang digunakan sebagai jaminan
d. Kesepakatan pelunasan
e. Rincian perjanjian perlindungan

15
1. Protective Covenant (Akad-akad obligasi)
Protective covenant adalah bagian dari indenture atau perjanjian pinjaman yang
membatasi tindakan-tindakan tertentu yang mungkin akan diambil oleh perusahaan
selama jangka waktu pinjaman. Protective covenant dibagi menjadi 2 jenis yaitu :
a. Positif covenant
Positif covenant adalah jenis janji Anda dilarang. Janji ini membatasi atau
melarang tindakan-tindakan yang mungkin diambil oleh perusahaan. Berikut
adalah contoh umum di antaranya :
Perusahaan harus membatasi jumlah dividen yang dibayarkan menurut suatu
rumus tertentu.
Perusahaan tidak dapat menjaminkan asetnya kepada pemberi pinjaman lain.
Perusahaan tidak dapat bergabung dengan perusahaan lain.
Perusahaan tidak dapat menjual atau menyewakan semua asset utama tanpa
persetujuan dari pemberi pinjaman.
Perusahaan tidak dapat menerbitkan utang jangka panjang tambahan.
b. Negatif covenant
Negatif covenant adalah jenis perjanjian Anda harus. Janji ini menyebutkan
satu tindakan yang oleh perusahaan disetujui untuk diambil atau suatu
persyaratan yang harus dipatuhi oleh perusahaan. Berikut beberapa contohnya :
Perusahaan harus menjaga modal kerjanya pada atau diatas suatu tingkat
minimum yang telah ditentukan.
Perusahaan harus memberikan laporan keuangan yang telah diaudit kepada
pemberi pinjaman secara berkala.
Perusahaan harus menjaga semua agunan atau jaminan dalam kondisi yang
baik.
Beberapa contoh diatas hanya sebagian daftar covenant. Suatu indenture tertentu
mungkin memiliki banyak janji yang berbeda.
2. Sinking Fund (Dana Pelunasan)
Secara umum metode pembayaran hutang yang dikenal saat ini adalah metode
sinking fund, yaitu pembayaran hutang yang dilakukan secara berkala dengan jumlah
tertentu ke dalam suatu dana yang disebut dana pelunasan sinking fund.Metode sinking
fund pada dasarnya sama saja dengan metode amortisasi, bedanya adalah pembayaran
oleh debitur kepada kreditur dilakukan satu kali, pada ujung periode berlakunya hutang.
Dengan metode ini, kreditur tidak membuatkan angsuran cicilan kepada debitur

16
melainkan menerima dana pengembalian sesuai dengan suku bunga yang disepakati,
sehingga dalam banyak kasus, debitur akan membuat suatu alokasi dana pribadi yang
dapat dicicilnya setiap interval waktu tertentu dengan harapan pada ujung periode
hutangnya, dana pelunasan telah tersedia.
Pasar Modal kita umumnya menawarkan obligasi dengan tingkat bunga tertentu
yang nilainya sedikit lebih besar dari tingkat bunga yang ditetapkan Bank Indonesia
atau yang berlaku umum tergantung perjanjian perwaliamanatan. Adanya
kecenderungan gagal bayar pada saat jatuh tempo oleh Emiten penerbit obligasi kepada
pemegang obligasi, umumnya terjadi karena belum adanya ketentuan yang mewajibkan
pembentukan dana cadangan dalam rangka memenuhi kewajiban pokok pinjaman dan
pembayaran bunga yang dikelola tersendiri dalam akun khusus pada sisi aktiva.
Pembentukan dana cadangan dalam upaya menanggulangi kesulitan likuiditas
perusahaan saat jatuh tempo obligasi kita kenal sebagai sinking fund. Pencadangan dana
tersebut dapat digunakan pada saat pelunasan pokok pinjaman dan bunga pada saat
jatuh tempo obligasi maupun pada saat penarikan kembali obligasi yang beredar dengan
cara membeli kembali obligasi yang beredar di Bursa. Sinking fund umumnya diawasi
pengelolaannya oleh Wali Amanat.
Sinking fund digunakan untuk menentukan jumlah uang yang harus ditabung setiap
periode untuk mencapai sejumlah uang yang diinginkan pada nilai periode yang akan
datang. Jumlah uang pada nilai periode ini merupakan akumulasi pembayaran tetap
setiap periode selama waktu yang diinginkan, misalnya 5 tahun atau 10 tahun.Dengan
demikian kita dapat mengetahui jumlah uang yang ditabung di bank setiap tahunnya
dengan tingkat bunga tertentu untuk mencapai jumlah yang diinginkan pada akhir tahun
ke-5.
Boardman dan McEnally (1981) dalam Foster (1986) membuat model penelitian
untuk menguji faktor penentu harga dan return obligasi pada tiap kategori rating secara
time series. Ia menggunakan salah satu variabel independen yaitu ada tidaknya sinking
fund pada penerbitan obligasi. Hasilnya menyatakan bahwa obligasi berkualitas rendah
(tidak menyediakan sinking fund) harga dan return-nya kurang homogen dibanding
yang berkualitas tinggi. Dalam hal ini bila terdapat sinking fund maka peringkat obligasi
akan semakin tinggi. Obligasi yang memberikan penyisihan dana atau memberi
ketetapan sinking fund pada saat mengemisi dipandang relatif lebih aman dibanding
obligasi tanpa adanya sinking fund.

17
Terdapat berbagai jenis kesepakatan dana pelunasan di mana rinciannya akan diuraikan
di dalam indenture. Contohnya :
a. Beberapa dana pelunasan dimulai sekitar 10 tahun setelah penerbitan awal.
b. Beberapa dana pelunasan akan meminta pembayaran dengan jumlah yang sama
sepanjang umur obligasi.
c. Beberapa emisi obligasi berkualitas tinggi memiliki pembayaran kepada dana
pelunasan yang tidak mencukupi untuk menebus keseluruhan emisi. Sebagai
konsekuensinya, ada kemungkinan terdapat pembayaran yang besar saat jatuh
tempo.
3. Call Provision (Opsi Tarik)
Salah satu hal yang termuat dalam perjanjian obligasi tersebut adalah ada tidaknya
ketentuan penarikan (call provision/call feature), yaitu hak perusahaan sebagai penerbit
untuk menebus obligasinya sebelum waktu jatuh temponya. Ketentuan penarikan
tersebut biasanya menetapkan bahwa penerbit harus membayar kepada
investor/pemegang obligasi suatu jumlah yang lebi besar dari pada nilai pari (nominal)
obligasi jika obligasi tersebut ditarik. Jumlah tambahan tersebut disebut sebagai premi
penarikan/call premium.
Ketentuan penarikan sering kali tidak dioperasikan selama paruh pertama umur
suatu obligasi. Hal ini membuat para pemegang obligasi tidak perlu mengkhawatirkan
ketentuan penebusan dalam tahun-tahun pertama obligasi. Contohnya, sebuah
perusahaan mungkin melarang obligasinya ditebus selama 10 tahun pertama. Ini disebut
ketentuan penebusan yang ditangguhkan (deffered call provision). Selama periode
pelarangan ini, obligasi tersebut dikatakan diproteksi dari penebusan (call
protected).Dalam beberapa tahun terakhir, ada satu jenis ketentuan penebusan baru yang
disebut penebusan make-whole, dengan karakteristik penebusan ini pemegang
obligasi akan menerima kurang lebih nilai obligasi jika obligasi tersebut ditebus. Karena
pemegang obligasi tidak mengalami kerugian jika terjadi penebusan maka dikatakan
sebagai made whole atau impas.

18
Contoh soal:
PT Hijau Rindang mengeluarkan obligasi 20 tahun yang memiliki nilai pari sebesar
$100.000 bunga 10%. Obligasi tersebut dijual dengan harga 95%. Empat tahun
setelah obligasi dikeluarkan, perusahaan menarik obligasi tersebut dengan call price
sebesar $102.000maka call premium obligasi tersebut adalah:
Call price = $102.000
Nilai pari = $100.000
Call premium = $ 2.000

Dengan kata lain, dalam kasus tersebut, call premium obligasi sebesar 2% (dari
102% - 100%) dari nilai nominal obligasi (2% x $100.000 = $2.000), dan call price =
nilai pari + call premium.
4. Bond Refunding (Mengganti Obligasi Lama dengan Obligasi Baru)
Jika manajemen memprediksi bahwa tingkat suku bunga di pasar modal (market
rate) obligasi sejenis di masa mendatang akan turun, maka perusahaan akan
mempertimbangkan untuk membeli kembali obligasi (buy back) yang tingkat bunganya
tinggi, dan menerbitkan obligasi dengan tingkat suku bunga yang lebih rendah. Dalam
hal ini disebut bahwa obligasi didanai ulang (refunded). Jadi, kapan perusahaan perlu
melakukan pendanaan ulang obligasinya tergantung dari ekspektasi tingkat suku bunga
di masa mendatang.
Keputusan pendanaan ulang menyangkut dua pertanyaan yang berbeda, yaitu
apakah menguntungkan untuk menarik obligasi yang sedang beredar pada periode
berjalan dan menggantinya dengan obligasi baru? dan jika bond refunding saat ini
menguntungkan, apakah tidak lebih baik/menguntungkan lagi jika pendanaan ulang
ditangguhkan dulu untuk sementara? Untuk menjawab pertanyaan tersebut pada
prinsipnya perusahaan menganalisis sama halnya pada saat mengkaji tentang
penganggaran barang modal (capital budgeting). Dengan melakukan bond refunding
artinya terdapat arus kas keluar. Biaya atas pendanaan ulang (sama halnya dengan
pengeluaran investasi, karena perusahaan mengeluarkan dana untuk membeli kembali
obligasi) terdiri atas:
a. Premi penarikan (call premium) yang dibayarkan pada pemegang obligasi yang
ditarik
b. Biaya penjualan obligasi baru

19
c. Bunga (coupon rate) yang harus dibayar ketika kedua obligasi sedang sama-
sama beredar (disebut sebagai overlap interest). Ada kalanya obligasi baru dijual
lebih dahulu sebelum dilakukan penarikan obligasi lama, ini untuk memastikan
ada/tersedia dana bagi membayar pokok pinjaman dari obligasi lama
Seluruh pengeluaran kas tersebut dibandingkan dengan arus kas masuk, yang dalam
hal ini berupa penghematan biaya atas ditariknya obligasi lama. Penghematan dapat
terjadi karena ada selisih beban bunga antara obligasi lama dan obligasi baru, serta
amortisasi atas biaya-biaya terkait dengan kedua obligasi tersebut. Penghematan biaya
diperhitungkan setelah pajak. Penghematan biaya yang terjadi setiap tahun (karena
biaya bunga dibayarkan tiap tahun) kemudian dipresent value-kan dengan menggunakan
tingkat bunga obligasi baru sebagai discount factor. Perusahaan lebih baik melakukan
pendanaan ulang obligasi jika nilai sekarang (present value) dari penghematan melebihi
biaya pendanaan ulang.
Contoh Soal :
PT Artha Finance, Tbk pada tahun 2000 mengeluarkan 1.000 lembar obligasi
berumur 20 tahun dengan coupon rate 15% per tahun, nilai nominal Rp.
200.000/lembar dan laku dijual pada tingkat 98%. Pada saat emisi, perusahaan
mengeluarkan biaya emisi Rp. 10.000.000dan akan diamortisasi dengan dasar garis
lurus selama umur obligasi. Pada tahun 2005, perusahaan mempertimbangkan untuk
menarik obligasi tersebut karena dalam beberapa tahun mendatang diprediksikan
obligasi sejenis memiliki market rate yang lebih rendah dibandingkan obligasi yang
dikeluarkan PT Artha Finance, Tbk.
Obligasi lama ditarik dengan call premium 10% (atau sebesar 10% x Rp. 200.000=
Rp. 20.000) per lembar obligasi. Untuk mengganti obligasi lama, perusahaan akan
mengeluarkan obligasi baru dengan nilai pari dan jumlah lembar yang dikeluarkan
sama dengan obligasi lama. Akan tetapi, tingkat bunga (coupon rate) obligasi baru
adalah 10% dengan umur 15 tahun (sisa umur obligasi lama). Biaya emisi atas
penerbitan obligasi baru sebesar Rp. 12.000.000.
Manajemen memperhitungkan proses penarikan obligasi lama membutuhkan waktu
3 bulan, sehingga akan terjadi overlap interest selama 3 bulan. Tingkat pajak
perusahaan adalah 30%. Dengan informasi tersebut di atas, Anda diminta untuk

20
menganalisa apakah keputusan bond refunding menguntungkan bagi perusahaan
atau tidak.
Jawab :
Obligasi lama dijual pada kurs 98%, jadi diskon yang ditanggung perusahaan adalah
2% atau sebesar 2% x Rp. 200.000x 1.000 lbr = Rp. 4.000.000. Biaya diskon ini
harus diamortisasi atau disusutkan selama umur obligasi supaya dapat diakui
sebagai biaya pada setiap tahunnya. Jadi pengakuan biaya diskon setiap tahun
adalah Rp. 4.000.000/20 th = Rp. 200.000/th.
Dengan cara yang sama, biaya emisi obligasi lama juga harus diamortisasi agar
setiap tahunnya dapat diperhitungkan besarnya biaya emisi yang dibebankan pada
tahun tersebut.
Untuk obligasi baru:
Amortisasi biaya emisi adalah = Rp. 12.000.000/15 thn = Rp. 800.000/thn. Artinya
setiap tahun (selama 15 tahun) perusahaan mengakui sebesar Rp. 800.000sebagai
biaya emisi. Dengan cara yang sama biaya diskon juga diamortisasi = diskon Rp.
250 per lembar x 1.000 lbr = Rp. 250.000, sehingga amortisasi per tahun adalah Rp
250.000/15 thn = Rp. 16.666.67. Jadi biaya diskon per tahun yang dibebankan setiap
tahun adalah Rp. 16.666,67.
Berikut tahap perhitungan kelayakan bond refunding.
a. Hitung arus kas keluar (Initial cash outlay)
Biaya penarikan obligasi lama
Nominal obligasi lama Rp. 200.000 x 1.000 lbr = Rp. 200.000.000
Call premium 10% x Rp. 200.000.000 = Rp. 20.000.000
Call price = Rp. 220.000.000
Biaya penerbitan obligasi baru = Rp. 12.000.000
Interest Overlap
3/12 x 15% x Rp. 200.000 x 1.000 lbr = Rp.7.500.000
Arus kas keluar = Rp. 239.500.000
b. Hitung arus kas masuk/penghematan (Initial cash inflow)
Penjualan obligasi baru
(Rp. 200.000,00 - Rp. 250) x 1.000 lbr = Rp. 199.750.000
Penghematan pajak dari biaya-biaya:

21
Call premium 10% x Rp. 200.000.000 = Rp. 20.000.000
Amortisasi diskon (obligasi lama) = Rp. 3.000.000
15/20 x 2% x Rp. 200.000 x 1.000 lbr
Amortisasi biaya emisi (obligasi lama) = Rp. 7.500.000
15/20 x 2% x Rp. 10.000.000
Interest overlap (obligasi lama) = Rp. 7.500.000
3/12 x 15% x Rp 200.000 x 1.000 lbr -
Total penghematan pajak = Rp. 38.000.000
Dikalikan tingkat pajak 30% x 0,3
Penghematan pajak = Rp. 11.400.000
Arus kas masuk = Rp. 211.150.000

c. Hitung arus kas keluar bersih (Net Initial Cash Outlay)


Arus kas keluar = Rp. 239.500.000
Arus kas masuk = Rp. 211.150.000
Arus kas keluar bersih = Rp. 28.350.000
d. Hitung penghematan biaya per tahun
Obligasi lama :
Biaya bunga 15% x Rp. 200.000 x 1.000 lbr = Rp. 30.000.000
Dikurangi :
Biaya bunga = Rp. 30.000.000
Amortisasi diskon = Rp. 200.000
(2% x Rp. 200.000 x 1.000 lbr)/20th
Amortisasi biaya emisi = Rp. 500.000
Rp. 10.000.000/20th -
= Rp. 30.700.000
Dikalikan tingkat pajak 30%x 0,3
Penghematan pajak = Rp. 9.210.000
Penghematan (karena ada biaya) setelah pajak per tahun adalah Rp. 20.790.000
Obligasi baru :
Biaya bunga 10% x Rp. 200.000 x 1.000 lbr = Rp. 20.000.000
Dikurangi :
Biaya bunga = Rp. 20.000.000

22
Amortisasi diskon = Rp. 16.667
(Rp. 250 x 1.000 lbr)/15 th
Amortisasi biaya emisi = Rp. 800.000
Rp. 12.000.000/15 th -
= Rp. 20.816.667
Dikalikan tingkat pajak 30%x 0,3
Penghematan pajak = Rp. 6.245.000
Penghematan (karena ada biaya) setelah pajak per tahun adalah Rp. 13.755.000
Penghematan biaya setelah pajak/tahun (dengan penarikan obligasi lama) :
Obligasi lama = Rp. 20.790.000
Obligasi baru = Rp. 13.755.000
Penghematan dengan obligasi baru = Rp. 7.035.000
e. Perhitungan NPV
Cost of debt setelah pajak = 10% (1-0,3) = 7%. Inilah yang digunakan sebagai
discount factor untuk menghitung present value penghematan biaya dengan
obligasi baru.
NPV = PV penghematan biaya (dengan obligasi baru) arus kas keluar
setelah pajak
= Rp. 7.035.000 x PVIFA 7%, 5th Rp. 28.350.000
= Rp. 64.074.175,03 Rp. 28.350.000
= Rp. 35.724.175,03
Jadi bond refunding dapat dilaksanakan karena nilai NPV penghematan biaya
setelah pajak dengan penggunakan obligasi baru bernilai positif.

23
BAB III
KESIMPULAN

Perusahaan memiliki berbagai alternatif sumber pendanaan, baik yang berasal dari
dalam maupun dari luar perusahaan. Alternatif pendanaan dari dalam perusahaan,
umumnya dengan menggunakan laba yang ditahan perusahaan. Sedangkan alternatif
pendanaan dari luar perusahaan dapat berasal dari kreditur berupa hutang, pembiayaan
bentuk lain atau dengan penerbitan surat-surat utang, maupun pendanaan yang bersifat
penyertaan dalam bentuk saham (equity).
Pendanaan melalui mekanisme penyertaan umumnya dilakukan dengan menjual
saham perusahaan kepada masyarakat atau sering dikenal dengan go publik.Sebuah
perusahaan yang akan go public dimana perusahaan tersebut melakukan initial public
offering (IPO) sahamnya melalui perusahaan sekuritas yang menjadi penjamin emisi
dan melalui agen-agen penjual yang ditunjuk.
Pada saat IPO, perusahaan bisa juga memberikan pemanis untuk lebih menarik
minat investor dengan menambahkan produk derivatif yaitu warrant. Setelah
perusahaan menjadi perusahaan terbuka, tidak jarang pula perusahaan melakukan
penjualan saham lagi melalui mekanisme Second Public Offering atau dengan Right
Issue.Investor bisa melakukan pembelian dengan memesan melalui penjamin emisi
ataupun agen penjual.Perusahaan tersebut akan menerbitkan hanya saham-saham
pertama, namun bisa juga menawarkan saham kedua.
Serta pilihan-pilihan lain para investor untuk melakukan opsi investasi-invetasi
melalui penerbitan Kewajiban jangka panjang biasanya berbentuk obligasi atau bond.
Obligasi atau bond menjadi salah satu alternatif pembiayaan jangka panjang selain
menjual saham ke publik (IPO, SPO atau Right Issue). Terdapat banyak dimensi lain
dari kewajiban (utang) jangka panjang, termasuk hal-hal seperti jaminan, karakteristik
penebusan kembali (call), dana pelunasan (sinking fund), peringkat, dan perjanjian
perlindungan (protective covenant). Karakterisik-karakterisitik tersebut dirinci di dalam
perjanjian obligasi (indenture).

24
DAFTAR PUSTAKA

Anoraga, Pandji dan Pakarti, Piji. 2006. Pengantar Pasar Modal. Jakarta : PT. Rineka
Cipta.
Nuzula, Nila Firdausi. Pendanaan Ulang Obligasi (Bond Refunding). Bahan ajar :
Manajemen keuangan Bisnis II.
Ross, Stephen A.; Westerfield, Randolph W.; Jordan, Bradford D. Alih bahasa : Ali
Akbar Yulianto, Rafika Yuniasih, dan Christine. 2009. Pengantar Keuangan
Perusahaan. Buku 1. Edisi 8. Jakarta : Salemba Empat.
www.google.com
http://id.scribd.com/doc/183006461/Penerbitan-Sekuritas-Ekuitas-dan-Kewajiban-
Jangka-Panjang-doc
http://kelas-be2012.blogspot.com/2013/04/materi-pasar-modal-dan-manajemen.html
http://darkzone7.blogspot.com/2013/01/go-public-organisasi-yang-berkembang.html
http://nadyarahmini.blogspot.com/2012/12/tugas-soal-pasar-modal.html

25