Anda di halaman 1dari 37

11

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

A. Gambaran Umum Karsinoma Mamae

1. Anatomi Fisiologi

Payudara adalah pelengkap organ reproduksi pada wanita

dan mengeluarkan air susu. Buah dada terletak dalam fasia

superfisialis di daerah antara sternum dan aksila, melebar dari iga

kedua sampai ketujuh. Bagian tengah terdapat puting susu yang

dikelilingi oleh areola mamae yang berwarna coklat. Dekat dasar

puting terdapat kelenjar montgomeri yang mengeluarkan zat lemak

supaya puting tetap lemas. Puting mempunyai lobang kurang lebih

15-20 untuk tempat saluran kelenjar susu (Syaifuddin, 2011).

Buah dada terdiri dari bahan-bahan kelenjar susu (jaringan

alveolar) tersusun atas lobus-lobus yang saling terpisah oleh

jaringan ikat dan jaringan lemak, setiap lobus bermuara ke dalam

duktus laktiferus (saluran air susu). Saluran limfe sebagai pleksus

halus dalam ruang interlobular jaringan kelenjar bergabung

membentuk saluran lebih besar (Syaifuddin, 2011).


12

Gambar 2.1 Anatomi Payudara (www.lusa.web.id)

Laktasi (pengeluaran air susu) terbagi dalam tahap:

a. Sekresi air susu

Pada kehamilan minggu ke-16 mulai terjadi sekresi cairan

bening dalam saluran kelnjar buah dada, yang disebut

kolostrum yang kaya protein. Setelah bayi lahir,

pengeluaran kolostrum air susu dirangsang oleh hormone

prolaktin.

b. Pengeluaran air susu

Air susu mendapat rangsangan dari bayi supaya keluar

secara nomal bergantung pada isapan bayi, mekanisme

dalam buah dada berkontraksi memeras air susu keluar dari

alveoli masuk dalam saluran air susu.

Menurut Syaifuddin (2011) pada wanita kelenjar

mamae mulai berkembang pada permulaan masa pubertas

(adolesens) pada umur 11-12 tahun. Kelenjar mamae

tumbuh menjadi besar setelah lateral linea axilaris


13

anterior/media sebelah kranial ruang interkostalis III dan

sebelah kaudal ruang interkostalis VII-VIII. Kelenjar

mamae terdapat di atas bagian luar fasia torakalis

superfisialis di daerah jaringan lemak subkutis ke arah

lateral sampai ke linea axilaris media. Medial melewati

linea media mencapai kelenjar mamae dari sisi yang lain, ke

arah bawah mencapai daerah axila (lipatan ketiak) .

Kelenjar mamae menyebar disekitar areola mamae

dan mempunyai luas antara 15-24. Tiap lobus berbentuk

piramid dengan puncak mengarah ke areola mamae.

Masing-masing lobus dibatasi oleh septum yang terdiri dari

jaringan fibrosa yang padat, serta jaringan ikat fibrosa yang

terbentang dari kulit ke fasia pektoralis yang menyebar di

antara jaringan kelenjar. Tiap lobus kelenjar mamae

mempunyai saluran keluar yang disebut duktus laktiverus

yang bermuara ke papilla mamae, pada daerah areola

mamae duktus laktiverus melebar disebut sinus laktiverus

(Syaifuddin, 2011).

Di daerah terminalis lumen sinus ini mengecil dan

bercabang-cabang ke alveoli. Diantara jaringan kelenjar dan

jaringan fibrosa ruangannya diisi oleh jaringan lemak yang

berbentuk postur dari mamae sehingga permukaan mamae

terlihat rata. Bagian dalam kelenjar mamae dapat


14

dipisahkan dengan mudah dari fasia dan kedudukan mamae

mudah bergeser (Syaifuddin, 2011)

2. Pengertian

Menurut Doenges (2012) Karsinoma adalah istilah umum

yang digunakan untuk menggambarkan gangguan pertumbuhan

seluler dan merupakan kelompok penyakit dan bukan hanya

penyakt tunggal. Menurut Irianto (2015) Karsinoma Mamae adalah

keganasan pada sel-sel yang terdapat pada jaringan payudara, bisa

berasal dari komponen kelenjarnya (epitel saluran maupun

lobulusnya) maupun komponen selain kelenjar seperti jaringan

lemak, pembuluh darah dan persarafan jaringan payudara.

Karsinoma Mamae adalah tumor ganas yang berasal dari parenkim,

stoma, areola dan papilla mamae (Nugroho, 2011). Menurut

Smeltzer (2014) Karsinoma Mamae adalah entitas patologi yang

dimulai dengan perubahan genetik pada sel tunggal dan mungkin

memerlukan waktu beberapa tahun untuk dapat terpalpasi.


15

3. Klasifikasi

Menurut Nugroho (2011) stadium klinis Karsinoma Mamae, yaitu

sebagai berikut:

a. I : Terbatas pada payudara dengan diameter kurang

dari atau sama dengan dua cm

b. II : Terbatas pada payudara dengan diameter dua

sampai dengan lima cm, atau tumor yang lebih

kecil dan dapat digerakkan.

c. IIIA : Tumor dengan diameter lima cm dengan

pembesaran kelenjar limfe axilla melekat satu

dengan yang lain atau pada jaringan yang

berdekatan.

d. IIIB : Melibatkan kulit: edema, ulcerasi, nodula satelit:

melekat pada dinding dada, metastasis keluar limfe

spraklariculas/intra klafikula, edema lengan kanker

mengalami inflamasi.

e. IV : Metastase jauh.

Menurut Irianto (2015) Karsinoma Mamae digolongkan

menjadi beberapa jenis kanker payudara, di antaranya yakni:

a. Duktal Karsinoma In Situ (DCIS)

Jenis ini merupakan tipe kanker payudara non invasif

paling umum. DCIS berarti sel-sel kanker berada di dalam

duktus dan belum menyebar keluar dinding duktus ke


16

jarinigan payudara di sekitarnya. Sekitar satu sampai

dengan lima kasus baru kanker payudara adalah DCIS.

Hampir semua wanita dengan kanker tahap ini dapat

disembuhkan. Mamografi merupakan cara terbaik untuk

mendeteksi kanker payudara.

b. Lobural Karsinoma In Situ (LCIS)

Sebenarnya LCIS bukan kanker, tetapi LCIS terkadang

digolongkan sebagai tipe kanker payudara non invasif.

Bermula dari kelenjar yang memproduksi air susu, tetapi

tidak berkembang melewati dinding lobulus. Kebanyakan

ahli kanker berpendapat bahwa LCIS sering tidak menjadi

kanker invasif, tetapi wanita dengan kondisi ini memiliki

resiko lebih tinggi untuk menderita kanker payudara

invasif pada payudara yang sama atau berbeda. Untuk itu,

mamografi rutin sangat disarankan.

c. Invasif atau Infiltrating Duktal Karsinoma (IDC)

IDC merupakan jenis kanker payudara yang paling umum

dijumpai. Timbulnya sel kanker payudara bermula dari

dutus, menerobos dinding duktus dan berkembang ke

dalam jaringan lemak payudara. Kanker akan menyebar

(bermetastasis) ke organ tubuh lainnya melalui system

getah bening dan aliran darah. Sekitar delapan sampai

sepuluh kasus kanker payudara invasif merupakan jenis ini.


17

d. Invasif atau Infiltrating Lobular Karsinoma (ILC)

Kanker jenis ini dimulai dari lobulus. Seperti IDC, ILC

dapat menyebar atau bermetastasis ke bagian lain di dalam

tubuh.

e. Karsinoma Mamae Terinflamasi (IBC)

IBC merupakan jenis kanker payudara invasif yang jarang

terjadi. Hanya sekitar satu sampai tiga persen dari semua

kasus kanker payudara adalah jenis IBC. Kasus IBC

biasanya tidak terjadi benjolan tunggal atau tumor pada

payudara. Sebaliknya kanker payudara ini membuat kulit

payudara terlihat memerah dan terasa hangat. Kulit

payudara juga tampak tebal dan mengerut seperti kulit

jeruk. Biasanya dokter baru mengetahui terjadinya

perubahan ini karena sel-sel kanker telah menghambat

pembuluh getah bening di kulit. Bukan karena adanya

inflamasi, peradangan atau infeksi. Payudara yang terinvasi

biasanya berukuran lebih besar, payudara terasa lebih

kenyal, terkadang adapula yang lembek dan menimbulkan

gatal di sekitar kulit payudaara yang terinvasi. Jenis kanker

payudara ini cenderung menyebar dan memilik prognosis

yang buruk dibandingkan dengan kanker payudara tipe IBC

dan ILC.
18

4. Etiologi

Menurut DiGiulio, Jackson, dan Keogh (2007) meski

sudah ada riset dan kemajuan dalam kedokteran, penyebab

Karsinoma Mamae tidak dikenal. Sedangkan Smeltzer (2014)

mengemukakan beberapa faktor resiko, sebagai berikut:

a. Gender (wanita) dan Usia Lanjut

b. Kanker Payudara Sebelumnya

Resiko terjadinya kanker di payudara yang sama atau yang

lain meningkat derastis

c. Riwayat Keluarga

Memiliki kerabat derajat satu yang menderita kanker

payudara (ibu, saudara perempuan, anak perempuan)

meningkatkan resiko hingga dua kali lipat; memiliki dua

kerabat derajat satu yang menderita kanker payudara

meningkatkan resiko lima kali lipat.

d. Mutasi Genetik (BRCA1 atau BRCA2)

Menyebabkan sebagian besar kanker payudara yang

diturunkan.

e. Faktor Hormonal

Manarke dini (sebelum usia 12 tahun), nuliparitas, pertama

kali melahirkan dalam usia 30 tahun atau lebih, menopause

lambat (setelah usia 55 tahun), dan terapi hormon

(sebelumnya disebut sebagai terapi sulih hormon).


19

f. Faktor lain

Faktor lain dapat mencakup pajanan terhadap radiasi

ionisasi selama masa remaja dan obesitas di masa dewasa

awal, asupan alcohol, diit tinggi lemak dan lain-lain

5. Patofisiologi

Menurut Smelter (2014) sel abnormal membentuk sebuah

kelompok dan mulai berproliferasi secara abnormal, mengabaikan

sinyal pengatur pertumbuhan dilingkungan sekitar sel. Sel

mendapatkan karakteristik invasif, dan terjadi perubahan dijaringan

sekitar. Sel menginfiltrasi jaringan ini dan memperoleh akses ke

limfe dan pemuluh darah, yang membawa sel ke area tubuh yang

lain. Fenomena ini disebut metastasis (kanker menyebar kebagian

tubuh yang lain).

Sel-sel kanker dideskripsikan sebagai neoplasma

ganas/maligna dan diklasifikasikan serta diberi nama berdasarkan

jaringan tempat asal tumbuh sel kanker tersebut. Kegagalan sistem

imun untuk menghancurkan sel abnormal secara cepat dan tepat

memungkinkan sel-sel ini tumbuh terlalu besar untuk dapat

ditakani oleh mekanisme imun yang normal. Kategori agens atau

faktor tertentu yang berperan dalam karsinogenesis (transformasi

maligna) mencakup virus dan bakteri, agens fisik, agens kimia,


20

faktor genetik atau familia, faktor diet, dan agens hormonal

(Smelter, 2014).

Kanker adalah penyebab kematian kedua terbanyak di

Amerika Serikat, dengan kanker paling banyak terjadi pada pria

dan lansia yang berusia lebih dari 65 tahun. Insidensi kanker juga

lebih tinggi dinegara-negara dan sektor-sektor industri. (Smelter,

2014).
21
22

6. Manifestasi Klinik

Manifestasi klinis yang timbul bergantung pada lokasi dan

jenis tumor. Biasanya pasien datang dengan:

a. Benjolan di payudara yang tidak nyeri (sebanyak 60%).

b. Nyeri lokal di salah satu payudara.

c. Retraksi kulit atau puting.

d. Keluarnya cairan dari puting, radang, atau ulserasi.

e. Benjolan ketiak serta edema. Benjolan superfisial biasanya

dapat terpalpasi, namun tidak jika lokasi cukup dalam.

f. Retraksi kulit akibat infiltrasi kanker pada otot pektoralis .

akan bertambah jelas saat otot dikontraksikan.

g. Limfangitis karsinoma tampak sebagai inflamasi infeksius

(Tanto, et al 2014)

Adapun tanda-tanda dan gejala yang muncul menurut

DiGiulio, Jackson, dan Keogh (2007), yaitu sebagai berikut:

a. Massa pada payudara, biasanya tanpa rasa sakit.

b. Puting membalik, pengeringan.

c. Rasa sakit pada tulang karena metastasis.

d. Batuk karena metastasis paru-paru.


23

7. Komplikasi

Metastase ke jaringan sekitar melalui saluran limfe

(limfogen) ke paru, pleura, tulang dan hati.

Selain itu komplikasi Karsinoma Mamae yaitu:

a. Metastase ke jaringan sekitar melalui saluran limfe dan

pembuluh darah kapiler (penyebaran limfogen dan

hematogen, penyebaran hematogen dan limfogen dapat

mengenai hati, paru, tulang, sum-sum tulang, otak, syaraf).

b. Gangguan neuro vaskuler

c. Fibrosis payudara

d. Kematian

8. Pemeriksaan Penunjang

Untuk deteksi Karsinoma Mamae, digunakan mamografi

dan ultra sonografi. Sementara untuk melihat adanya metastasis

digunakan Rontgen toraks, USG abdomen (hepar), dan bone

scenning

a. Mamografi

Merupakan metode pilihan untuk skrining dan deteksi dini,

terutama pada kasus kecurigaan keganasan atau kasus

payudara kecil yang tidak terpalpasi pada perempuan

berusia di atas 40 tahun. Dengan indikasi, kecurigaan klinis

keganasan, tindak lanjut pasca mastektomi, pasca-breast


24

conserving therapy (BCT), adanya adenokarsinoma

metastatik dengan tumor primer yang belum diketahui, dan

sebagai program skrining.

b. Ultrasonografi (USG)

Kegunaan USG adalah utuk membedakan lesi solid/kistik,

ukuran, terapi dan adanya klasifikasi dan vaskularisasi Intra

lesi. Penggunaan USG bersama mamografi dapat

meningkatkan sensitivitas mamografi. Akan tetapi, USG

sendri bukan alat skrining keganasan kanker payudara

c. Magnetic Resonance imaging (MRI)

MRI dilakukan apabila USG atau mamografi belum

memberikan informasi yang cukup jelas.

d. Imunohistokimia

Pemeriksaan ini digunakan untuk melihat jenis kanker dan

sensitivitasnya terhadap terapi hormonal Reseptor Estrogen

(ER), Reseptor Progesteron (PR), dan c-erbB-2 (HER-2

neu)

e. Biopsi

Diagnosis pasti keganasan ditegakkan dengan pemeriksaan

histopatologi melalui biopsi.

1) Biopsi Aspirasi Jarum Halus (BAJAH)

Pada BAJAH , sampel yang didapat berupa sel dan

prosedur ini paling mudah dilakukan. Meskipun


25

kadang tidak memberikan diagnosis yang jelas

karena jumlah spesimen sedikit.

2) Core Biopsy

Jarum yang digunakan cukup besar. Hasilnya berupa

jaringan sehingga lebih bermakna dibandingkan

BAJAH. Pemeriksaan ini dapat membedakan tumor

non-invasif atau invasif serta grade tumor.

3) Biopsi Terbuka

Dilakukan jika hasil anamesis pemeriksaan fisik dan

pemeriksaan penunjang lainnya tidak cocok atau

memberikan keraguan. Biopsi eksisional

mengangkat seluruh massa tumor, sementara biopsi

insisional hanya mengambil sebagian massa.

(Tanto, et al 2014)

9. Penatalaksanaan

Smelter (2014) mengatakan bahwa berbagai pilihan

penatalaksanaan tersedia, yaitu:

a. Mastektomi radikal yang dimodifikasi mencakup

pengangkatan seluruh jaringan payudara, termasuk

kompleks puting-areola dan bagian nodus limfe aksila.

b. Mastektomi total mencakup pengangkatan payudara dan

kompleks puting-areola tetapi tidak mencakup diseksi


26

nodus limfe aksila (axilalary lymph node dissection,

ALND)

c. Pembedahan penyelamatan payudara: lumpektomi,

mastektomi eksisi luas, parsial atau segmental,

kuadrantektomi dilanjutkan oleh pengangkatan nodus limfe

untuk kanker payudara invasif.

d. Biopsi nodus limfe sentinel: dianggap sebagai standar

asuhan untuk terapi kanker payudara stadim dini.

e. Terapi radiasi sinar eksternal: biasanya radiasi dilakukan

pada seluruh payudara, tetapi radiasi payudara parsial

(radiasi ke tempat lumpektomi saja) kini sedang dievaluasi

di beberapa institusi pada pasien tertentu secara cermat.

f. Kemoterapi untuk menghilangkan penyebaran

mikrometastatik penyakit: siklofosfamid (Cytoxan),

metotreksat, fluorourasil, regimen berbasis antrasiklin.

g. Terapi hormonal berdasarkan indeks reseptor estrogen dan

progesterone: tamoksifen (Soltamox) adalah agen

hormonal; prier yang digunakan untuk menekan tumor yang

bergantung hormonal lainnya adalah inhibitor anastrazol

(Arimidex), letrozol (Femara), dan eksemestan (aromasin)

h. Terapi target: trastuzumab (Herceptin), bevacizumab

(Avastin)

i. Rekronstruksi payudara.
27

B. Asuhan Keperawatan Pre dan Post Biopsi

1. Pengkajian

Hal-hal yang perlu dikaji dalam melaksanakan asuhan

keperawatan menurut Doengoes (2012) diambil dari pengkajian

umum intervensi yang berhubungan dengan karsinoma adalah :

a. Aktivitas/ istirahat

Gejala : Kelemahan/ keletihan


Perubahan pada pola istirahat dan jam

kebiasaan tidur pada malam hari; adanya

foktor-faktor yang mempengaruhi misalnya,

nyeri, ansietas, berkeringat malam.


Pekerjaan atau profesi dengan pemanjanan
karsinogen lingkungan, tingkat stres tinggi.

b. Sirkulasi

Gejala : Palpasi, nyeri dada pada pengerahan kerja.

Kebiasaan : Perubahan pada tekanan darah

c. Integritas ego

Gejala : Faktor stress (keuangan, pekerjaan,

perubahan peran) dan cara mengatasi stres

(misal, merokok, minum alcohol, menunda

mencari pengobatan, keyakinan

religious/spiritual).
28

Masalah tentang perubahan dalam

penampilan, misalnya, alopesia, lesi cacat,

pembedahan.

Menyangkal diagnosis, perasaan tidak

berdaya, putus asa, tidak mampu, tidak

bermakna, rasa bersalah, kehilangan kontrol,

depresi

Tanda : Menyangkal, menarik diri, marah.

d. Eliminasi

Gejala : Perubahan pada pola defekasi, misalnya

darah pada feses, nyeri pada defekasi


Perubahan eliminasi urinarius misal, nyeri

atau rasa terbakar pada saat berkemih,

hematuria, sering berkemih.


Tanda : Perubahan pada bising usus, distensi

abdomen

e. Makanan/ Cairan

Gejala : Kebiasaan diit buruk (misal, rendah serat,

tinggi lemak, aditif, bahan pengawet)

Anorexia, mual/muntah.

Intoleransi makanan

Perubahan pada berat badan; penurunan berat

badan hebat, kakeksia, berkurangnya massa

otot.
29

Tanda : Perubahan pada kelembaban/ turgor kulit;

edema.

f. Nyeri/ ketidaknyamanan

Gejala : Tidak ada nyeri, atau derajat bervariasi misal,

ketidaknyamanan ringan sampai nyeri berat

(dihubungkan dengan proses penyakit)

g. Keamanan

Gejala : Pemajanan pada kimia toksis, karsinogen.

Pemajanan sinar matahari lama/berlebihan.

Tanda : Demam.

Raum kulit, ulserasi.

h. Seksualitas

Gejala : Masalah seksual misal, dampak pada

hubungan, perubahan pada tingkat kepuasan.


Nuligravida (belum pernah hamil) lebih besar

dari usia 30 tahun.


Multigravida, pasangan seks multipel,

aktivitas seksual dini. Herpes genital

i. Interaksi sosial

Gejala : Ketidakadekuatan / kelemahan sistem

pendukung.

Riwayat perkawinan (berkenaan dengan

kepuasan di rumah, dukungan atau bantuan).


30

Masalah tentang fungsi/tanggung jawab

peran.

j. Penyuluhan/pembelajaran

Gejala : Riwayat kanker pada keluarga

Sisi primer: penyakit primer.

Penyakit metastatik

Riwat pengobatan

2. Diagnosa Keperawatan

Diagnosa keperawatan yang muncul pada pasien dengan

kanker (Doengoes, 2012) antara lain:

a. Ansietas berhubungan dengan situasi krisis (kanker).

b. Gangguan harga diri berhubungan dengan biofisikal.

c. Nyeri akut berhubungan dengan proses penyakit.

d. Keletihan berhubungan dengan perubahan kimia tubuh:

efek samping obat-obatan, kemoterapi.

e. Resiko tinggi terhadap infeksi berhubungan dengan

prosedur invasif.

f. Resiko tinggi terhadap kerusakan integritas kulit/jaringan

berhubungan dengan efek radiasi dan kemoterapi.

g. Resiko tinggi terhadap perubahan pola seksualitas

berhubungan dengan Ketakutan dan ansietas


31

h. Kurang pengetahuan (kebutuhan belajar) mengenai penyakit

prognosis, dan kebutuhan pengobatan berhubungan dengan

tidak mengenal sumber informasi.

3. Intervensi Keperawatan

Tindakan atau intervensi pada pasien kanker (Doengoes,

2012) antar lain:

a. Ansietas berhubungan dengan situasi krisis (kanker).

Setelah dilakukan tindakan diharapkan pasien memenuhi

kriteria hasil/hasil yang diharapkan :

1) Menunjukkan rentang yang tepat dari perasaan dan

berkurangnya rasa takut.

2) Tampak rileks dan melaporkan ansietas berkurang.

3) Mendemonstrasikan penggunaan mekanisme koping

efektif.

Intervensi :

a) Tinjau ulang pengalaman pasien/oang terdekat

sebelumnya dengan kanker


32

Rasional : membantu dalam identifikasi rasa takut

dan kesalahan konsep berdasarkan pada pengalaman

dengan kanker.

b) Darong pasien untuk mengungkapkan pikiran dan

perasaan.

Rasional : memberikan kesempatan untuk

memeriksa rasa takut, realistis serta kesalahan

konsep tentang diagnosis.

c) Berikan lingkungan terbuka dimana pasien merasa

aman untuk mendiskusikan perasaan atau menolak

untuk bicara.

Rasional : membantu pasien untuk merasa diterima

apadanya

d) Pertahankan kontak sering dengan pasien.

Rasional : memberikan keyakinan bahwa pasien

tidak sendiri atau ditolak

e) Sadari efek-efek isolasi pada pasien

Rasional : penyimpangan sensori dapat terjadi dan

dapt memperberat perasaan ansietas/takut.

f) Bantu pasien/orang terdekat dalam mengenali dan

mengklarifikasi rasa takut.

Rasional : keterampilan koping sering rusak setelah

diagnosis dan selama fase pengobatan yang berbeda.


33

g) Berikan informasi akurat, konsisten mengenai

prognosis

Rasional : dapat menurunkan ansietas dan

memungkinkan pasien membuat keputusan/pilihan

berdasarkan realita.

b. Gangguan harga diri berhubungan dengan biofisikal.

Setelah dilakukan tindakan diharapkan pasien memenuhi

kriteria hasil/hasil yang diharapkan :

1) Mengungkapkan pemahaman tentang perubahan

tubuh.

2) Mulai mengembangkan mekanisme koping untuk

menghadapi masalah.

3) Mendemostrasikan adaptasi terhadap perubahan.

Intervensi :

a) Diskusikan dengan pasien/orang terdekat bagaimana

diagnosis dan pengobatan yang mempengaruhi

kehidupan pribadi pasien

Rasional : membantu dalam memastikan masalah

untuk memulai proses pemecahan masalah.

b) Dorong diskusi tentang/pemecahan masalah tentang

efek kanker/pengobatan.
34

Rasional : dapat membantu menurunkan masalah

yang mempengaruhi penerimaan pengobatan atau

merangsang kemajuan penyakit.

c) Akui kesulitan pasien yang mungkin dialami.

Rasional : memvalidasi realita perasaan dan

memberikan izin untuk tindakan apapun agar

mengatasi apa yang terjadi

d) Evaluasi struktur pendukung yang ada dan

digunakan oleh pasien.

Rasional : membantu merencanakan perawatan saat

di rumah sakit serta setelah pulang.

e) Berikan dukungan emosi untuk pasien selama tes

diagnostic dan fase pengobatan.

Rasional : banyak memerlukan dukungan tambahan

selama periode ini.

f) Gunakan sentuhan selama interaksi.

Rasional : pemastian individulitas dan penerimaan

penting dalam menurunkan perasaan pasien tentang

ketidaknyamanan dan keraguan diri.

g) Rujuk pasien pada program kelomok pendukung

(bila ada).

Rasional : kelompok pendukung biasanya sangat

menguntungkan untuk pasien.


35

h) Rujuk pada konseling professional bila diinginkan.

Rasional : mungkin perlu untuk memulai dan

mempertahankan struktur psikososialpositif.

c. Nyeri akut berhubungan dengan proses penyakit.

Setelah dilakukan tindakan diharapkan pasien memenuhi

kriteria hasil/hasil yang diharapkan :

1) Melaporkan penghilangan nyeri maksimal/control

dengan pengaruh minimal.

2) Mengikuti aturan farmakologis yang ditentukan

3) Mendemonstrasikan penggunaan keterampilan

ralaksasi dan aktivitas hiburan sesuai indikasi.

Intervensi :

a) Tentukan riwayat nyeri.

Rasional : informasi memberikan data dasar untuk

mengevaluasi kebutuhan/keefektifan intervensi.

b) Berikan tindakan Kenyamanan dasar.

Rasional : meningkatkan relaksasi dan membantu

memfokuskan kembali perhatian.

c) Dorong penggunaan keterampilan manajemen nyeri.


36

Rasional : memungkinkan pasien untuk

berpartisipasi secara aktif dan meningkatkan rasa

kontrol.

d) Evaluasi pengalihan nyeri/kontrol.

Rasional : tujuannya adalah kontrol nyeri maksimum

dengan pengaruh minimum pada AKS

e) Berikan analgesic sesuai indikasi.

Rasional : nyeri adalah komplikasi sering dari

kanker, meskipun respon individual berbeda.

d. Keletihan berhubungan dengan perubahan kimia tubuh:

efek samping obat-obatan, kemoterapi.

Setelah dilakukan tindakan diharapkan pasien memenuhi

kriteria hasil/hasil yang diharapkan :

1) Mengungkapkan secaara verbal tentang peningkatan

eneregi.

2) Menunjukkan perbaikkan kemampuan untuk

berpartisipasi dalam melakukan aktivitas.

Intervensi

a) Rencanakan perawatan untuk memungkinkan

periode istirahat.

Rasional : periode istirahat sering diperlukan untuk

memperbaiki/menghemat energi.
37

b) Buat tujuan aktivitas realistis dengan pasien.

Rasional : memberikan rasa kontrol dan perasaan

mampu menyelesaikan.

c) Dorong pasien untuk melakukan apa saja bila

mungkin.

Rasional : meningkatkan kekuatan/stamina dan

memampukan pasien menjadi lebih aktif tanpa

kelelahan yang berate.

d) Pantau respons fisiologi terhadap aktivitas.

Rasional : toleransi sangat bervariasi tergantung

pada tahap proses penyakit, status nutrisi,

keseimbangan cairan, dan reaksi terhadap aturan

teraputik.

e) Dorong masukan nutrisi.

Rasional : masukan/penggunaan nutrisi adekuat

perlu untuk memenuhi kebutuhan energi aktivitas.

f) Berikan O2 suplemen sesuai indikasi.

Rasional : adanya anemia/hipoksemia menurunkan

ketersediaan O2.

g) Rujuk pada terapi fisik/okupasi


38

Rasional : latihan yang terprogram setiap hari dan

aktivitas membantu pasien mempertahankan /

meningkatkan kekuatan dan tonus otot,

meningkatkan rasa sejahtera.

e. Resiko tinggi terhadap infeksi berhubungan dengan

prosedur invasif.

Setelah dilakukan tindakan diharapkan pasien memenuhi

kriteria hasil/hasil yang diharapkan :

1) Tidak ada tanda terjadinya infeksi

2) Tanda-tanda vital dalam batas normal

Intervensi :

a) Tingkatkan prosedur mencuci tangan yang baik

dengan staf dan pengunjung.

Rasional : lindungi pasien dari sumber-sumber

infeksi.

b) Tekankan higiene personal.

Rasional : membantu potensial sumber infeksi

dan/atau pertumbuhan sekunder.

c) Pantau suhu.

Rasional : peningkatan suhu terjadi karena berbagai

faktor misalnya, kemoterai, proses penyakit atau

infeksi.
39

d) Kaji semua system (misal kulit, pernapasan)

terhadap tanda/gejala infeksi secara kontinu.

Rasional : pengenalan dini dan intervensi segera

dapat mencegah progresi pada situasi/sepsis yang

lebih baik.

e) Tingkatkan istirahat adekuat/periode latihan.

Rasional : membatasi keletihan, mendorong gerakan

yang cukup untuk mencegah komplikasi stasis.

f) Tekankan pentingnya higiene oral yang baik/

Rasional : terjadinya stomatitis meningkatkan resiko

terhadap infeksi/pertumbuhan sekunder.

g) Hindari/batasi prosedur invasif, taati teknik aseptik.

Rasional : menurunkan resiko kontaminasi,

membatasi entri portal terhadap agen infeksi.

h) Berikan antibiotik sesuai indikasi.

Rasional : mungkin digunakan untuk

mengidentifikasi infeksi atau diberikan secara

profilaktif pada pasien imunosupresi.


40

f. Resiko tinggi terhadap kerusakan integritas kulit/jaringan

berhubungan dengan efek radiasi dan kemoterapi.

Setelah dilakukan tindakan diharapkan pasien memenuhi

kriteria hasil/hasil yang diharapkan :

1) Mempertahankan kelembaban kulit/jaringan.

2) Mampu mengidentifikasi tindakan untuk

memberikan perlindungan pada kulit/jaringan

Intervensi :

a) Kaji kulit dengan sering terhadap efek samping

terapi kanker.

Rasionanal : efek kemerahan dan/atau kulit samak

(reaksi radiasi) dapat terjadi dalam area radiasi.

b) Mandikan dengan air hangat dan sabun ringan.

Rasional : mempertahankan kebersihan tanpa

mengiritasi kulit.

c) Dorong pasien untuk menghindari menggaruk dan

menepuk kulit yang kering.

Rasionanl : membantu mencegah friksi/trauma kulit.

d) Balikkan/ubah posisi dengan sering.

Rasional : meningkatkan sirkulasi dan mencegah

tekanan pada kulit/jaringan yang tidak perlu.

e) Anjurkan menggunakan pakaian yang lembut dan

longgar.
41

Rasional : kulit sangat sensitif selama pengobatan

dan setelahnya.

f) Cuci kulit dengan segera menggunakan sabun dan

air bila agen antineoplastik tercecer pada kulit yang

tidak terlindungi.

Rasional : mengencerkan obat untuk menurunkan

resiko iritasi kulit/luka bakar kimia.

g) Berikan kompres es/kompres hangat per protocol.

Rasional : intaervensi kontroversial tergantung pada

tipe agen yang digunkan.

g. Resiko tinggi terhadap perubahan pola seksualitas

berhubungan dengan ketakutan dan ansietas

Setelah dilakukan tindakan diharapkan pasien memenuhi

kriteria hasil/hasil yang diharapkan :

1) Memgungkapkan pemahaman atas perubahan yang

terjadi

2) Menerapkan adaptasi dalam perubahan keadaan.

Intervensi :

a) Diskusikan dengan pasien/orang terdekat sifat

seksualitas dan reaksi bila ini berubah atau terancam

Rasional : pengakuan legitimasi tentang masalh.


42

b) Anjurkan pasien tentang efek samping dari

pengobatan kanker yang diresepkan diketahui

mempengaruhi seksualitas.

Rasional : Pedoman antisipasi dapat membantu

pasien dan orang terdekat.

c) Berikan waktu tersendiri untuk pasien yang dirawat.

Rasional : kebutuhan seksualitas tidak berakhir

karena pasien dirawat.

h. Kurang pengetahuan (kebutuhan belajar) mengenai penyakit

prognosis, dan kebutuhan pengobatan berhubungan dengan

tidak mengenal sumber informasi.

Setelah dilakukan tindakan diharapkan pasien memenuhi

kriteria hasil/hasil yang diharapkan :

1) Pasien mengatakan mengerti tentang proses

penyakit dan penyebarannya.

2) Mengidentifikasi hubungan antara tanda dan gejala

pada proses penyakit

3) Memulai perubahan pola hidup.

Intervensi :

a) Tentukan persepsi pasien tentang kanker dan

pengobatan kanker.
43

Rasional : membatu identifikasi ide, sikap, rasa

takut, kesalahan konsepsi, dan kesenjangan

pengetahuan tentang kanker.

b) Berikan informasi yang jelas dan akurat dalam cara

yang nyata tetapi sensitif.

Rasional : membantu penilaian diagnose kanker,

memberikan informasi yang diperlukan selama

waktu menyerapnya.

c) Tinjau ulang aturan pengobatan khusus dan

penggunaan obat yang dijual bebas.

Rasional : meningkatkan kemampuan untuk

mengatur perawatan diri dan menghindari potensial

komplikasi, reaksi/interaksi obat.

d) Beri tahu kebutuhan perawatan khusus di rumah.

Rasional : memberi informasi mengenai perubahan

yang diperlukan dalam rencana memenuhi

kebutuhan teraputik.

e) Lakukan evaluasi sebelum pulang ke rumah.

Rasional : membantu dalam transisi ke lingkungan

rumah dengan memberikan informasi tentang

kebutuhan perubahan pada situasi fisik, penyediaan

bahan yang diperlukan.


44

f) Tinjau tanda dan gejala, kebutuhan evaluasi medis

misal, infeksi, pelambatan penyembuhan, reaksi

obat, peningkatan nyeri.

Rasional : identifikasi dini dan pengobatan dapat

membatasi beratnya komplikasi.

4. Implementasi keperawatan

Implementasi merupakan pelaksanaan dari rencana

intervensi untuk mencapai tujuan yang spesifik (Nursalam, 2013).

Pelaksanaan adalah realisasi rencana tindakan untuk mencapai

tujuan yang telah ditetakan. Kegiatan dalam pelaksanaan juga

meliputi pengumpulan data berkelanjutan, mengobservasi respon

pasien selama dan sesudah pelaksanaan tindakan, dan menilai data

baru. Tindakan keperawatan mecakup tindakan mandiri

(independent), dan tindakan kolaborasi (Nikmatur. 2009).


45

5. Evaluasi keperawatan

Evaluasi merupakan tindakan intelektual untuk

melengkapi proses keperawatan yang menandakan keberhasilan

dari diagnosis keperawatan, rencana intervensi dan

implementasinya. sudah tercapai (Nursalam, 2013).

Dalam evaluasi terdapat beberapa kemungkinan yang muncul,

seperti :

a. Tujuan tercapai

b. Tujuan tercapai sebagian

c. Tujuan tidak tercapai

d. Timbul masalah baru

Menurut Nikmatur (2009) ada dua macam evaluasi, yaitu :

a. Evaluasi proses

Adalah evaluasi yang dilakukan setiap selesai tindakan,

berorientasi pada etiologi, dilakukan secara terus-menerus

sampai tujuan yang telah ditentukan tercapai.

b. Evaluasi hasil

Adalah evaluasi yang dilakukan setelah akhir tindakan

keperawatan secara paripurna, berorientasi pada masalah

keperawatan. Menjelaskan keberhasilan/ketidakberhasilan.


46

C. Dokumentasi Keperawatan

Dokumentasi adalah sebagai penanggung jawaban keperawatan, adapun

komponen dari dokuemntasi adalah :

1. Komunikasi,

2. Proses keperawatan

3. Standart keperawatan. (Nursalam, 2013)

Menurut Nikmatur (2009) Untuk memudahkan perawat

mengevaluasi atau memantau perkembangan pasien digunakan

komponen SOAP/SOAPIE/SOAPIER. Penggunaannya tergantung

dari kebijakan rumah sakit setempat. Yang dimaksud dengan

SOAPIER adalah :

S : Data Subyektif

Perawat menuliskan keluhan pasien yang masih dirasakan

setelah dilakukan tindakan keperawatan.

O : Data Obyektif

Yaitu data berdasarkan hasil pengukuran atau observasi

perawat secara langsung kepada pasien, dan yang dirasakan

pasien setelah dilakukan tindakan keperawatan.

A : Analisis

Merupakan suatu masalah atau diagnosis keperawatan yang

masih terjadi akibat perubahan status kesehatan pasien.


47

P : Planning

Perencanaan keperawatan yang akan dilanjutkan, dihentikan,

dimodifikasi, atau ditambahkan dari rencana tindakan

keperawatan yang telah ditentukan sebelumnya.

I : Implementasi

Adalah tindakan keperawatan yang dilakukan sesuai dengan

instruksi yang telah disusun dalam komponen P (perencanaan)

E : Evaluasi

Adalah respon pasien setelah tindakan keperawatan

R : Reassesment

Adalah pengkajian ulang yang dilakukan terhadap perencanaan

setelah diketahui hasil evaluasi, apakah dari rencana tindakan

perlu dilanjutkan dimodifikasi, atau dihentikan.