Anda di halaman 1dari 17

BAB I

PENDAHULUAN

Untuk menyelenggarakan perubahan perlu disadari permasalahan yang


dihadapi pendidikan nasional saat ini. Di samping itu dalam menilai dan
mengemukakan gagasan perlu mengendalikan diri bahwa upaya meningkatkan
kualitas telah selalu diusahakan oleh para pengelola dan penanngungjawab
pendidikan sebelumnya. Inilah yang kami sebut sebagai maksud baik atau
“political will” dari penanggungjawab pendidikan. Tetapi dipusat kekuasaan
dimana rencana pembangunan dikonsep dan anggaran dialokasikan, pendidikan
dianggap penting sebagai “human investmen” untuk mengembangkan potensi
sumber daya manusia yang mampu melindungi segenap bangsa Indonesia,
memajukan kesejahteraan rakyat, mencerdaskan bangsa dan ikut  melaksanakan
ketertiban manusia. Namun sampai ini ide besar tersebut belum menjadi program
prioritas.

Dalam rangka mendukung pelaksanaan prioritas pembangunan nasional


dalam bidang pendidikan di Indonesia menghadapi tiga tantangan
besar. Tantangan pertama, sebagai akibat dari krisis ekonomi, dunia pendidikan
dituntut untuk dapat mempertahankan hasil-hasil pembangunan pendidikan yang
telah dicapai. Kedua,untuk mengantisipasi era global, dunia pendidikan ditutuntut
untuk mempersiapkan sumber daya manusia yang kompoten agar mampu
bersaing dalam pasar kerja global. Ketiga, sejalan dengan dilakukannya otonomi
daerah, perlu dilakukan perubahan dan penyesesuaian sistem pendidikan nasional
sehingga dapat mewujudkan proses pendidikan yang lebih demokratis,
memperhatikan keberagaman kebutuhan/keadaan daerah peserta didik, sedang
mendorong peningkatan partisipasi masyarakat.

Disamping itu, persoalan lain yang menonjol dalam pendidikan nasional


kita meliputi; masih rendahnya kesempatan memperoleh pendidikan, masih
rendahnya kualitas dan relevensi pendidikan, dan masih lemahnya managemen

1
pendidikan, disamping itu masih belum terwujudnya kemandirian dan keunggulan
ilmu pengetahuan dan teknologi di kalangan akademis. Ketimpangan pemerataan
pendidikan juga terjadi  antar wilayah geografis, yaitu antara perkotaan dan
pedesaan, serta antara kawasan timur Indonesia dan kawasan barat Indonesia, dan
antar tingkat pendapatan penduduk ataupun antar gender.

Reformasi pendidikan yang sedang dijalankan di Indonesia menurut


Bukhori, sebenarnya mengacu pada keinginan untuk melakukan perubahan-
perubahan yang dapat menimbulkan kawasan professional, semangat patriotisme
kepada sistem pendidikan, membuat sistem pendidikan memahami proses sosio-
kultural yang terjadi dalam masyarakat, dan menyehatkan sistem pendidikan dari
kungkungan dan kepentingan birokrasi. Benih-benih reformasi yang muncul atas
dukungan masyarakat banyak, antara lain mengikuti keinginan agar “biaya
sekolah digratiskan”. harus diadakan perubahan kurikulum pendidikan secara total
supaya menghasilkan lulusan yang berkualitas dan marketable, dan persoalan
evaluasi yang hanya berorientasi pada pengukuran intelektual semata.

Dari benih-benih reformasi yang muncul dari keinginan masyarakat ini


lanjut Buchori, mengisyaratkan bahwa kebijakan-kebijakan pemerintah tentang
pendidikan selama ini tidak berorientasi pada kebutuhan pasar dan kemauan
zaman. Itulah sebabnya, jika sistem pendidikan kita mau maju, maka perlu adanya
perubahan-perubahan yang memihak pada kepentingan masyarakat banyak dan
mengacu pada reformasi yang mampu mengembalikan otonomi pedadogis kepada
sekolah dan guru.

Dalam persepsi pakar pendidikan yang lain, Soedijarto menyoroti tentang


rendahnya kualitas manusia Indonesia dari berbagai segi; segi kemampuan teknis,
keampuan professional, kemampuan intelektual (termasuk penguasaan iptek), etos
kerja, disiplin, moral, dan kepribadian sebagai manusia modern yang demokratis
pada abad 21 masih jauh dari memadai. Hal ini dapat terjadi karena
penyelenggaraan pendidikan nasional, baik dari segi manajemen, pembiayaan,
proses pembiyaan, sistem evaluasi, seleksi dan promosi, maupun dari segi materi

2
pendidikan yang merupakan ciri esensial suatu sistem pendidikan  yang relevan
dengan konstitusional  belum terwujud.

3
BAB II
PEMBAHASAN

A. Definisi Kebijakan

Kebijakan adalah rangkaian konsep dan asas yang menjadi pedoman dan
dasar rencana dalam pelaksanaan suatu pekerjaan, kepemimpinan, dan cara
bertindak. Istilah ini dapat diterapkan pada pemerintahan, organisasi dan
kelompok sektor swasta, serta individu. Kebijakan berbeda dengan peraturan dan
hukum. Jika hukum dapat memaksakan atau melarang suatu perilaku (misalnya
suatu hukum yang mengharuskan pembayaran pajak penghasilan), kebijakan
hanya menjadi pedoman tindakan yang paling mungkin memperoleh hasil yang
diinginkan.

Kebijakan atau kajian kebijakan dapat pula merujuk pada proses


pembuatan keputusan-keputusan penting organisasi, termasuk identifikasi
berbagai alternatif seperti prioritas program atau pengeluaran, dan pemilihannya
berdasarkan dampaknya. Kebijakan juga dapat diartikan sebagai mekanisme
politis, manajemen, finansial, atau administratif untuk mencapai suatu tujuan
eksplisit.

Berdasarkan berbagai definisi para ahli kebijakan publik, kebijakan publik


adalah kebijakan-kebijakan yang dibuat oleh pemerintah sebagai pembuat
kebijakan untuk mencapai tujuan-tujuan tertentu di masyarakat di mana dalam
penyusunannya melalui berbagai tahapan.

Tahap-tahap pembuatan kebijakan publik

Tahap-tahap kebijakan publik menurut William Dunn. Adalah sebagai berikut:

1. Penyusunan Agenda

4
Agenda setting adalah sebuah fase dan proses yang sangat strategis dalam
realitas kebijakan publik. Dalam proses inilah memiliki ruang untuk memaknai
apa yang disebut sebagai masalah publik dan prioritas dalam agenda publik
dipertarungkan. Jika sebuah isu berhasil mendapatkan status sebagai masalah
publik, dan mendapatkan prioritas dalam agenda publik, maka isu tersebut berhak
mendapatkan alokasi sumber daya publik yang lebih daripada isu lain.

Dalam agenda setting juga sangat penting untuk menentukan suatu isu
publik yang akan diangkat dalam suatu agenda pemerintah. Issue kebijakan
(policy issues) sering disebut juga sebagai masalah kebijakan (policy problem).
Policy issues biasanya muncul karena telah terjadi silang pendapat di antara para
aktor mengenai arah tindakan yang telah atau akan ditempuh, atau pertentangan
pandangan mengenai karakter permasalahan tersebut. Menurut William Dunn
(1990), isu kebijakan merupakan produk atau fungsi dari adanya perdebatan baik
tentang rumusan, rincian, penjelasan maupun penilaian atas suatu masalah
tertentu. Namun tidak semua isu bisa masuk menjadi suatu agenda kebijakan.

Ada beberapa Kriteria isu yang bisa dijadikan agenda kebijakan publik
(Kimber, 1974; Salesbury 1976; Sandbach, 1980; Hogwood dan Gunn, 1986) [2]
diantaranya:

a. telah mencapai titik kritis tertentu à jika diabaikan, akan menjadi ancaman
yang serius;
b. telah mencapai tingkat partikularitas tertentu à berdampak dramatis;
c. menyangkut emosi tertentu dari sudut kepent. orang banyak (umat
manusia) dan mendapat dukungan media massa;
d. menjangkau dampak yang amat luas ;
e. mempermasalahkan kekuasaan dan keabsahan dalam masyarakat ;
f. menyangkut suatu persoalan yang fasionable (sulit dijelaskan, tetapi
mudah dirasakan kehadirannya)

5
Karakteristik : Para pejabat yang dipilih dan diangkat menempatkan
masalah pada agenda publik. Banyak masalah tidak disentuh sama sekali,
sementara lainnya ditunda untuk waktu lama.

Ilustrasi : Legislator negara dan kosponsornya menyiapkan rancangan


undang-undang mengirimkan ke Komisi Kesehatan dan Kesejahteraan untuk
dipelajari dan disetujui. Rancangan berhenti di komite dan tidak terpilih.

Penyusunan agenda kebijakan seyogianya dilakukan berdasarkan tingkat


urgensi dan esensi kebijakan, juga keterlibatan stakeholder. Sebuah kebijakan
tidak boleh mengaburkan tingkat urgensi, esensi, dan keterlibatan stakeholder.

2. Formulasi kebijakan

Masalah yang sudah masuk dalam agenda kebijakan kemudian dibahas


oleh para pembuat kebijakan. Masalah-masalah tadi didefinisikan untuk kemudian
dicari pemecahan masalah yang terbaik. Pemecahan masalah tersebut berasal dari
berbagai alternatif atau pilihan kebijakan yang ada. Sama halnya dengan
perjuangan suatu masalah untuk masuk dalam agenda kebijakan, dalam tahap
perumusan kebijakan masing-masing slternatif bersaing untuk dapat dipilih
sebagai kebijakan yang diambil untuk memecahkan masalah.

3. Adopsi/ Legitimasi Kebijakan

Tujuan legitimasi adalah untuk memberikan otorisasi pada proses dasar


pemerintahan.[4] Jika tindakan legitimasi dalam suatu masyarakat diatur oleh
kedaulatan rakyat, warga negara akan mengikuti arahan pemerintah.[5]Namun
warga negara harus percaya bahwa tindakan pemerintah yang sah.Mendukung.
Dukungan untuk rezim cenderung berdifusi - cadangan dari sikap baik dan niat
baik terhadap tindakan pemerintah yang membantu anggota mentolerir

6
pemerintahan disonansi.Legitimasi dapat dikelola melalui manipulasi simbol-
simbol tertentu. Di mana melalui proses ini orang belajar untuk mendukung
pemerintah.

4. Penilaian/ Evaluasi Kebijakan

Secara umum evaluasi kebijakan dapat dikatakan sebagai kegiatan yang


menyangkut estimasi atau penilaian kebijakan yang mencakup substansi,
implementasi dan dampak.[7] Dalam hal ini , evaluasi dipandang sebagai suatu
kegiatan fungsional. Artinya, evaluasi kebijakan tidak hanya dilakukan pada tahap
akhir saja, melainkan dilakukan dalam seluruh proses kebijakan. Dengan
demikian, evaluasi kebijakan bisa meliputi tahap perumusan masalh-masalah
kebijakan, program-program yang diusulkan untuk menyelesaikan masalah
kebijakan, implementasi, maupun tahap dampak kebijakan.

B. Alasan Membuat Kebijakan BSM

Jika dicermati semua persoalan yang muncul dalam bidang pendidikan di


negara Indonesia, dapat dibatasi pada dua persolan pokok; yakni masalah
pemerataan pendidikan (equty), dan kualitas pendidikan (quality). Pemerataan
pendidkan berarti menyangkut persoalan tingkat partisipasi masyarakat untuk
mengikuti pendidikan mulai dari tingkat dasar sampai perguruan tinggi. 
Sedangkan kualitas pendidikan berarti mengacu pada bagaimana semua aspek
pendidikan ini dapat berfungsi dengan sebaik-baiknya, mulai dari pelayanan
pendidikan, tenaga pengajarnya (guru), kurikulum, fasilitas pendukung, (sarana-
prasarananya), sampai pada penerimaan pasar terhadap sumber daya manusia
sebagai produk pendidikan (out-pout).

7
Menurut hemat penulis, karena Indonesia adalah negara dimana
kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa dan keadilan sosial seperti
yang disebutkan pada pembukaan UUD’45, sebagai tujuan pembangunan
nasional, maka langkah awal yang harus dipikirkan oleh pemerintah adalah
bagaimana tingkat partisipasi masyarakat dalam bidang pendidikan ini, terutama
pendidikan dasar, dapat ditingkatkan dengan cara memberikan kebijakan gratis
bagi seluruh warga bangsa. Kebijakan sekolah gratis ini dituangkan dalam bentuk
undang-undang dan benar-benar dapat dijalankan di lapangan dengan dukungan
semua pihak. Meskipun selama ini program sekolah gratis ini sudah dijalankan di
berbagai daerah, seperti di DKI Jakarta dan Kepulauan Riau, namun demikian
belum ada laporan yang menyatakan bahwa pendidikan gratis ini sudah ditangani
secara sungguh-sungguh dan merata di seluruh Indonesia. Oleh sebab itu, Aoer
mengatakan bahwa “ide pendidikan dasar 9 tahun (6 tahun SD dan 3 tahun SMP)
hanya indah diatas kertas, apalagi hanya berisi “slogan janji untuk pendidikan
gratis” pada saat kita kesulitan dana pembangunan, walaupun sudah meminjam
dana dari negara asing. Dan banyak orang yang mengklaim bahwa pelaksanaan
Wajib Belajar 9 tahun telah mengalami kegagalan, karena tidak ada political will
pemerintah yang betul-betul mendukung program ini, terutama dari segi
pendanaannya.

Di sisi lain perlu penulis luruskan bahwa sesungguhnya tidak ada


pendidikan gratis, yang terjadi adalah biaya pendidikan ditanggung oleh
pemerintah atau pihak lain. Sebab, dampak mencuatnya issue pendidikan gratis
telah menciptakan apatisme masyarakat untuk memjukan dunia pendidikan.
Masyarakat semakin apatis, cuek, kurang peduli, dan sebagainya. Issue
pendidikan gratis dikembangkan pemerintah pada awal 2005 untuk mendukung
kenaikan harga BBM. Asumsinya adalah harga BBM di Indonesia sangat rendah
karena negara memberikan subsidi sangat besar (mencapai Rp 89 triliun/tahun).
Bila harga BBM naik, maka subsidi yang besar itu dapat dialihkan untuk
membiayai bidang pendiddikan dan kesehatan sehingga keduanya bisa gratis.
Asumsi tersebut mudah diterima, terutama bila dasarnya hanya ekonomi semata.

8
Artinya, termasuk kitapun dengan mudah menghitung pengeluaran dari yang
semula untuk subsidi BBM kemudian dialihkan untuk subsidi pendidikan dan
kesehatan dengan jumlah yang sama sehingga pendidikan dan kesehatan bisa
gratis. Jadi, jelaslah bahwa pendidikan gratis berarti mengalihkan biaya
pendidikan, khususnya biaya investasi dan operasional pendidikan ditanggung
pemerintah melalui dana subsidi BBM.

Pidato kenegaraan yang dibacakan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono


pada siding paripurna DPR/MPR RI 16 Agustus lalu kembali memberikan angin
segar kepada pendidik. Dalam pidatonya, presiden kembali memberikan pehatian
yang serius dalam peningkatan kualitas pendidikan di negeri ini. Alokasi anggaran
pendidikan 20 % yang selama ini diperjuangkan oleh aktivis pendidikan maupun
para guru akhirnya akan dituangkan dalam Rancangan Anggaran Pendapatan dan
Belanja Negara (RAPBN) tahun 2009 setelah pada sidang uji Undang-Undang
APBN Konstitusi pada 13 Agustus 2008, pemerintah diputuskan telah melanggar
konstitusi karena hanya mengalokasikan 15,6 persen anggaran APBN 2008 untuk
pendidikan.

Padahal dalam UU Sisdiknas No. 20 Tahun 2003, pasal 49 ayat (1)


disebutkan bahwa pemerintah wajib mengalokasikan 20 persen anggaran APBN
untuk sektor pendidikan. Oleh karena itu, dalam RAPBN 2009, pemerintah
mengalokasikan anggaran pendidikan sebesar 20 % dengan menambah anggaran
Rp 46,1 triliyun, ini berarti dari 1022,6 triliyun RAPBN 2009, sekitar Rp 224
triliyun akan dialokasikan untuk anggaran pendidikan. Dari alokasi Rp. 224
triliyun itu, Rp 23,56 triliyun akan dialokasikan untuk kesejahteraan
guru. Menurut kalangan pemerintah, bahwa kenaikan harga BBM pasti
berdampak pada pendidikan. Hal ini karena pembiayaan yang terbilang besar pada
pendidikan dasar selain buku ialah transportasi.

Penyediaan subsidi pendidikan bagi kaum miskin tidak hanya cukup


dengan komitmen. Undang;undang dasar 1945 maupun UU No. 20 tahun 2003
tentang sistem pendidikan nasional (sisdiknas) sudah sangat kuat menjamin

9
ketersediaan anggaran pendidikan bagi kalangan tidak mampu. Ini berangkat dari
itikad bahwa semua anak usia didik harus menikmati layanan pendidikan. Guna
menjamin keberlangsungan layanan pendidikan bagi semua lapisan sosial, negara
dan pemerintah perlu mengatur secara tegas subsidi pendidikan bagi kalangan
tidak  mampu. Karena terbatasnya anggaran negara, banyak yang menyarankan
agar model subsidi silang hendaklah tertuang dalam peraturan pemerintah (PP)
atau keputusan menteri. Hal ini berdasarkan fenomena makin mahalnya biaya
pendidikan yang sulit dijangkau oleh kalangan menengah ke bawah. Bahkan ada
yang mengusulkan agar draf PP dan UU sistem pendidikan nasional perlu
mengakomodir model subsidi silang ini.

Dari beberapa Peraturan Pemerintah yang telah dikeluarkan, di antaranya


ada dua peraturan yang sangat relevan dengan subsidi pendidikan, yaitu; PP
tentang pendidikan formal dan nonformal serta PP tentang pendanaan pendidikan.
PP tentang pendidikan formal dan nonformal berdimensi luas karena mencakup
semua jenis dan jenjang pendidikan. PP tentang pendanaan pendidikan juga tak
kalah relevannya karena pembahasannya lebih teknis soal biaya.

Pada intinya, PP tersebut sudah saatnya melahirkan mekanisme agar orang


yang berlebihan mensubsidi peserta didik dari kalangan tidak mampu. Dalam hal
ini, manajemen persekolahan harus mengidentifikasi secara akurat kondisi
ekonomi orang tua siswa-siswinya. Berdasarkan data kondisi ekonomi orang tua,
dibuatlah prakiraan anggaran subsidi untuk siswa dari kalangan miskin. Dengan
demikian, semangat pemberlakuan subsidi tersebut tidak sekedar komitmen lisan,
tetapi benar-benar menjadi bagian dari persyaratan administrasi dari pengelolaan
setiap sekolah.

Karena UU Sisdiknas merekomendasikan adanya Undang-Undang tentang


sistem Badan Hukum Pendidikan (BHP), maka urusan subsidi hendaknya
tercakup dalam UUD tersebut. Jadi usulan ini diungkapkan karena didasari
sejumlah pertimbangan. Di antaranya, dengan status BHP, sekolah atau lembaga
pendidikan formal harus diartikan sebagai institusi pelayanan publik. Di dalamnya

10
tercakup prinsip pengelolaan keuangan yang mengedepankan akuntabilitas,
efiensi, evektivitas, dan produktivitas. Sementara itu, ada beberapa kalangan lain
yang mempunyai pendapat mengenai kebijakan pemerintah untuk dijadikan
perlindungan hukum mengenai implementasi subsidi BBM. Misalnya, ada LSM
bahwa UU Sisdiknas sebetulnya terlalu makro untuk mengatur urusan subsidi.
Perlu ada paying yang lebih teknis dan mengatur urusan subsidi. Yang jelas,
apapun kebijakan yang akan diambil pemerintah, sudah saatnya sekarang ini
diambil keputusan untuk merelisasikan amanat amandemen pasal 31 ayat (2) dan
ayat (4) UUD 1945 pasal (4) dan pasal 34 ayat (1 s/d 3) UU nomor 20 tahun 2003
tentang sistem pendidikan Nasional.

Jika subsidi pendidikan tidak diatur maka jumlah orang-orang yang tidak
menikmati layanan pendidikan akan semakin banyak. Tidak menikmati layanan
pendidikan berarti orang-orang bersangkutan tidak mempunyai kesempatan
memperbaiki kualitas hidup dan strata sosialnya. Akibatnya, beban Negara yang
sekarang sudah berat akan semakin berat lagi. Disamping itu, jika masalah
pendidikan tidak terpenuhi maka biaya yang harus ditanggung negara dikemudian
hari bakal berlipat ganda dibanding sekarang. Deretan permasalahan sosial, seperti
kebodohan, pengangguran, kemiskinan dan kriminalitas, akan semakin panjang.

C. Implementasi Kebijakan BSM

Dengan melihat landasan hukum yang ada, baik itu UUD 1945 yang secara
langsung mengamanatkan kepada pemerintah untuk memberikan pelayanan
pendidikan tanpa memilahnya, ataupun dalam UU sisdiknas yang mengakui
adanya 3 jalur pendidikan maka, kebijakan pendidikan gratis seharusnya sudah
dapat dirasakan oleh seluruh rakyat Indonesia tanpa terkecuali.

Karena memang kajian program bantuan untuk siswa miskin sudah menjadi
agenda rutih pemerintah. Namun sampai saat ini penerapanya belum

11
bisadirasakan merata oleh seluruh warga Indonesia. Masih banyak anak yang
putus sekolah karena kendala biaya. Kejadian ini me,rupakan bukti nyata yang
terjadi di lapangan. Ada beberapa alasan yang mungkin menjadi penyebabnya.
Bisa karena terbatasnya dana anggaran yang dikucurkan oleh pemerintah atau ada
pihak lain yang secara sengaja menggunakan anggaran untuk pendidikan
digunakan untuk kepentingan pribadi.

Jadi penerapan mengenai kebijakan untuk siswa miskin yang telah menjadi
agenda pemerintahan Indonesia belum berhasil dilaksanakan. Ini harus menjadi
PR bagi petinggi Negara karena pendidikan me,rupakan hal yang sangat penting
untuk keberlangsungan Negeri ini.

D. Analisis Kebijakan BSM

setelah begitu banyak program bantuan untuk siswa miskin yang menjadi agenda
pemerintah Indonesia. Namun dalam pelaksanaannya belum berhasil terealisasi ini
menjadi bukti adanya kesalahan dari program ini atau bisa jadi adanya kecurangan
pihak lain yang lebih mementingkan kepentingan pribadi.

E. Pendapat Kelompok terhadap Kebijakan BSM

Orang tua siswa sebagai objek untuk dieksploitasi harus membayar mahal
biaya pendidikan di sekolah, sekalipun itu berstatus sekolah negeri. Bagi orang
tua siswa dengan tingkat ekonomi level menengah ke atas, biaya mahal bukan
menjadi masalah besar. Karena prinsip orang tua adalah biaya mahal itu adalah
investasi masa depan untuk anaknya.

Lalu, dimana posisi siswa yang orang tuanya miskin? Modal kecerdasan
intelektual tidak menjamin Si Miskin itu mencicipi pendidikan. Realitas tersebut
bertolak belakang dengan UU Sisdiknas No.20 tahun 2003. Pada pasal (4)

12
disebutkan bahwa Pendidikan diselenggarakan secara demokratis dan berkeadilan
serta tidak diskriminatif dengan menjunjung tinggi hak asasi manusia, nilai
keagamaan, nilai kultural, dan kemajemukan bangsa. Bahkan Pasal (5)
menyatakan “Setiap warga negara mempunyai hak yang sama untuk memperoleh
pendidikan yang bermutu”.

Orang tua siswa Si Miskin juga tidak luput dari objek eksploitasi. namun
bukan uangnya yang dieksploitasi, melainkan pemikirannya. Hampir di setiap
momen kampanye pemilihan bupati, walikota, gubernur, anggota DPR, hingga
presiden, pemikiran mereka dicekoki dengan iming-iming pendidikan gratis atau
paling tidak pendidikan murah. Jargon pendidikan seolah menjadi komoditi utama
yang laku untuk dijual pada saat kampanye politik. Namun setelah
Pilkada/Pemilu, Si Miskin tetap saja tidak sekolah, dan orang tua siswa masih
harus merogoh kocek untuk pendidikan anaknya.

Padahal siapapun yang terpilih di Pilkada/Pemilu, pendidikan memang


harus menjadi prioritas sesuai amanat konstitusi. Pasal 34 ayat (2) UU Sisdiknas
No.20 Tahun 2003 dengan tegas menyatakan “Pemerintah dan pemerintah daerah
menjamin terselenggaranya wajib belajar minimal pada jenjang pendidikan dasar
tanpa memungut biaya”. Pendidikan dasar yang dimaksud adalah pendidikan
Sekolah Dasar (SD) hingga Sekolah Menengah Pertama (SMP) dan sederajat.

Keterbatasan memperoleh akses pendidikan akan semakin menjerumuskan


Si Miskin ke dalam jurang kebodohan. Perjuangan untuk keluar dari lingkaran
setan kemiskinan hanya menjadi sesuatu yang utopis. Akhrinya Si Miskin akan
selamanya menjadi bodoh dan tidak mempunyai keterampilan. Karena tidak
mempunyai keterampilan mereka tidak mempunyai pekerjaan, apalagi
menciptakan lapangan pekerjaan. Jika menjadi pengangguran, mereka akan
menjadi beban bagi keluarga, masyarakat dan juga pemerintah.

Dengan demikian mereka selamanya tidak akan menjadi siapa-siapa dan


tidak memiliki apa-apa. Siklus ini akan terus berlanjut dari generasi ke generasi. 
Menurut Max-Neef (2003), kondisi tersebut disebut sebagai Kemiskinan Identitas.

13
Kemiskinan identitas adalah terbatasnya perbauran antar kelompok sosial dan
terfragmentasi (terpisah) dari komunitasnya. Sedangkan menurut Karl Marx,
kondisi tersebut disebut sebagai alienasi (keterasingan). Keterasingan Si Miskin
terhadap lingkungannya sendiri. terasing dari hak-haknya untuk memperoleh
pendidikan sebagai hak dasar setiap manusia yang diatur dalam konstitusi negara.
Dan Si Miskin selamanya akan menjadi “Tamu” di negerinya sendiri.

14
BAB III
PENUTUP

Pendidikan merupakan kebutuhan sosial yang wajib dipenuhi, karena


hanya dengan pendidikanlah anak bangsa akan mampu beradaptasi dengan
perubahan zaman yang akan semakin mengglobal, SDM yang berkualitas yang
menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi akan lahir jika pendidikan bangsa
dibenahi kearah yang benar dengan menggunakan paradigma pengelolaan
pendidikan modern. Sunami berupa krisis moneter dan krisis multidimensional
yang terjadi sekitar lima tahun yang lalu, telah membawa dampak serius dalam
bidang kehidupan, tidak terkecuali bidang pendidikan. Akibatnya, proses
pencerdasan kehidupan bangsa mengalami hambatan yang cukup serius,
khususnya upaya untuk mensukseskan wajib belajar 9 tahun yang bertujuan
mengentaskan kemiskinan, keterbelakangan, dan kebodohan. Oleh sebab itu,
amanat UU No. 20 tahun 2003 yang menyatakan bahwa setiap warga negara yang
berusia 7 sampai dengan 15 tahun wajib mengikuti pendidikan dasar, tidak boleh
ada dropout karena alasan biaya. Jika hal ini terjadi, pemerintah dinggap telah
mengingkari amanat UU dan mengingkari tugas bangsa.

Pengalokasian sebesar 20 % APBN untuk anggaran pendidikan diharapkan


dapat mengatasi berbagai problem krusial, antara lain; Pertama, memperluas
pemerataan partisipasi masyarakat dalam pendidikan, karena sampai saat ini
masih ada sekitar 1 juta anak usia SD belum mempunyai sekolah maupun guru
tetap, dan 2,7 juta anak usia SMP yang sama sekali tidak mempunyai sekolah
ataupun guru. Kedua, untuk meningkatkan kualitas pendidikan yang meliputi
penataan manajemen, sarana prasarana pendidikan, pelatihan guru, kesejahteraan
guru, buku, media pendidikan, dan sumber belajar lainnya yang terkait dengan
teknologi informasi dan pendidikan.

Sisi lain, alokasi 20 % anggaran pendidikan pada APBN tahun 2009 dapat
mempercepat realisasi pendidikan gratis. Selain itu, mata rantai birokrasi yang
panjang sering kali berkonsekuensi kost yang besar, demikian halnya birokrasi di

15
bidang pendidikan, sehingga demi efisiensi penggunaan dana pendidikan
dipandang perlu untuk diperpendek. Pemerintah kiranya dapat menyalurkan biaya
operasional pendidikan yang dapat diakses langsung oleh sekolah ke-bank-bank
yang ditunjuk sesuai dengan alokasi masing-masing sekolah/madrasah, dengan
demikian segala macam potongan yang selama ini menjadi hama anggaran
pendidikan dapat dihindari.

16
DAFTAR PUSTAKA

http://pairofking.blogspot.com/2010/02/analisis-kebijakan-sekolah-gratis-di.html

http://fai.uhamka.ac.id/post.php?idpost=250

http://www.wikifedia.com

17