Anda di halaman 1dari 6

Journal Mikrobiologi Industri Teknik Kimia Page 1

PENGARUH BAHAN BAKU, MEDIA PEMBUNGKUS, DAN JUMLAH RAGI


PADA PEMBUATAN TEMPE SECARA FERMENTASI

Afdillah Septian Djati, Muhammad Luthfi, Shanintya Dhivya Astrinia

Jurusan Teknik Kimia, Fakultas Teknik, Universitas Diponegoro,


Jl. Prof. Soedarto, SH, Kampus Undip Tembalang, Semarang, Indonesia 50275

Abstrak

[Pengaruh Bahan Baku, Media Pembungkus, dan Jumlah Ragi Pada Pembuatan Tempe] Tempe
adalah salah satu hasil pangan dari Indonesia, dimana dalam proses pembuatannya dengan cara
fermentasi dari kacang kedelai atau kacang-kacang yang lain yang dapat difermentasikan dengan
Rhizopus oligosporus serta mikroba tempe bersifat aerob artinya mikroba tersebut memerlukan oksigen
untuk kehidupan dan pertumbuhannya. Adapun tujuan percobaan ini adalah mengetahui proses
pembuatan tempe dan mengetahui pengaruh bahan baku, banyaknya ragi, serta pembungkus. Bahan yang
digunakan adalah kacang kedelai dan kacang merah, daun jati, daun pisang, alumunium foil, dan ragi
tempe. Sedangkan alat yang digunakan yaitu timbangan. Cara kerja yang pertama dengan melakukan
penyortiran bahan baku, perendaman, pengupasan kulit ari, pengukusan, peragian, pembungkusan, dan
terakhir adalah fermentasi. Dari hasil percobaan diperoleh hubungan antara banyak ragi, jenis penutup
dan waktu fermentasi adalah berbanding lurus. Bahan pembungkus yang baik adalah memiliki lubang
aerasi yang cukup dan merata. Bahan baku yang baik adalah yang tidak terlalu keras dan suasana pH
tidak boleh terlalu basa dan terlalu asam. Hasil skoring terbaik yang diperoleh pada praktikum ini ada
pada variabel 10, yang menggunakan kacang merah dengan pembungkus pl astik dan ragi 1,2%W. Saran
dalam percobaan ini sebaiknya saat pembuatan tempe, pastikan kulit ari tempe benar -benar hilang, agar
miselium bisa lebih mudah menembus bahan.

Kata kunci: tempe, kacang, ragi, fermentasi, pembungkus

Abstract

[Effect of Main Ingredients, Wrapping Media and Yeast Concentration in Tempe Production With
Fermentation]Tempe is one of Indonesian well known foods, which process of the making is using
fermentation process from soy bean or any other kinds of bean which can be fermented by Rhizopus
oligosporus or another microbes that are aerobic in characteristic, means that the mentioned microbes
need oxygen for living and growth. In which the intentions of this experiment a re to know the process of
making the Tempe and to know the influence of the main ingredients, the amount of the yeast and the
cover that is used. The ingredients in this experiment are soy bean, kidney bean, teak leaves, banana
leaves, aluminum foil and Rhizopus oligosporus. The utensil used in this experiment is analytical scale.
The steps of making Tempe are sorting raw materials, soaking, peeling, steaming, spreading the yeast,
wrapping, and finally fermenting. From the experiment results obtained the re lationship between many
yeast, type of cover and fermentation time is directly proportional. Good wrapping material is to have
enough aeration holes and evenly distributed. Good raw materials are not too hard and pH should not be
too alkaline or too acid. The best scoring in this experiment was found in variable 10, which is using
kidney ben, plastic cover, and 1,2%W yeast. Suggestion in this experiment preferably when making tempe,
make sure that the epidermis of the tempe is completely gone, so that the mycelium can more easily
penetrate the material.

Keywords: tempe, bean, yeast, fermentation, cover


Journal Mikrobiologi Industri Teknik Kimia Page 2

1. Pendahuluan Menurut Mayasari (2010), vitamin B yang terdapat


Tempe adalah salah satu hasil pangan dari pada kacang merah terdiri dari thiamin 0,88 mg/100g,
Indonesia, dimana dalam proses pembuatannya dengan riboflavin 0,14 mg/100g dan niasin 2,2 mg/100g.
cara fermentasi dari kacang kedelai atau kacang-kacang Kacang merah juga mempunyai susunan asam amino
yang lainnya yang dapat difermentasikan dengan esensial yang lengkap. Asam amino pembatas pada
Rhizopus oligosporus (Allan, 2010) serta mikroba tempe protein kacang merah adalah metionin dan sistein
bersifat aerob artinya mikroba tersebut memerlukan dengan kandungan relatif rendah yaitu 10,56 dan 8,46
oksigen untuk kehidupan dan pertumbuhannya mg/100g, namun protein kacang-kacangan biasanya
(Cahyanti, 2009). mengandung lisin yang banyak.
Tempe juga mengandung antioksidan yang
dapat menghambat oksidasi kolesterol LDL darah Kacang Kedelai
manusia. Dengan demikian bisa menghambat infiltrasi Kedelai dapat diandalkan untuk mengatasi
lemak atau LDL teroksidasi ke dalam jaringan pembuluh kekurangan protein dalam menu makanan rakyat
darah.Ini dapat mencegah terjadinya penyempitan Indonesia. Kedelai diproses menjadi bahan makanan
pembuluh darah yang memicu timbulnya penyakit yang dapat dilakukan dengan berbagai cara, diantaranya
jantung koroner (Harli, 2004). dengan penghancuran, perebusan, peragian, fermentasi
Pengolahan kedelai menjadi tempe dapat dan pengasaman, sehingga menghasilkan produk tahu,
memberikan nilai lebih. Selama proses fermentasi kembang tahu, susu, kecap dan produk lainnya.. Kedelai
kedelai menjadi tempe terjadi produksi enzim fitase oleh mendapat perhatian besar di seluruh dunia karena
Rhizopus oligosporus. Enzim fitase ini berfungsi berbagai keunggulan lain yang dimilikinya diantaranya
memecah fitat yang merugikan, yaitu mengikat beberapa memilki adaptibilitas agronomis yang tinggi, dapat
mineral sehingga tidak dapat dimanfaatkan secara hidup di daerah tropis dan subtropis, juga di daerah
Optimal dalam tubuh (Walter, 2010). dengan tanah dan iklim yang memungkinkan tanaman
Kedelai yang merupakan bahan dasar tempe pangan lainnya untuk tumbuhnya, serta memiliki
mengandung protein 35% bahkan pada varietas unggul kandungan gizi yang relatif tinggi dan lengkap
kadar proteinnya dapat mencapai 40-43%. (Suprapti, 2003).
Dibandingkan dengan beras, jagung, singkong,
kacang hijau, daging, ikan segar, dan telur, kedelai
punya kandungan protein yang lebih tinggi (Harli,
2004).

Kacang Merah

Gambar 2.3 Kacang Kedelai

Rhizopus oryzae
Menurut Pratiwi dkk. (2006), sifat-sifat jamur
Gambar 2.2 Kacang Merah
Rhizopus oryzae yaitu koloni berwarna putih berangsur-
Menurut Mayasari (2010), kedudukan kacang
angsur menjadi abu-abu; stolon halus atau sedikit kasar
merah dalam tata nama (sistematika) adalah sebagai
dan tidak berwarna hingga kuning kecoklatan;
berikut.
sporangiofora tumbuh dari stolon dan mengarah ke
Kingdom : Plant
udara, baik tunggal atau dalam kelompok (hingga 5
Divisi : Spermatophyta
sporangiofora), rhizoid tumbuh berlawanan dan terletak
Sub divisi : Angiosspermae
pada posisi yang sama dengan sporangiofora, sporangia
Kelas : Dicotyledonae
globus atau sub globus dengan dinding berspinulosa
Sub kelas : Calyciflorae
(duri-duri pendek), yang berwarna coklat gelap sampai
Ordo : Rosales (Leguminales)
hitam bila telah masak; kolumela oval hingga bulat,
Famili : Leguminosae (Papilionaceae)
dengan dinding halus atau sedikit kasar; spora bulat,
Sub famili : Papilionoideae
oval atau berbentuk elips atau silinder; suhu optimal
Genus : Phaseolus
untuk pertumbuhan 350 C, minimal 5-70 C dan
Spesies : Phaseolus vulgaris L.
maksimal 440 C. Berdasarkan asam laktat yang

------------------------------------------------------------------

*) Penulis Korespondensi. E-
mail : luthfi921@yahoo.ca
Journal Mikrobiologi Industri Teknik Kimia Page 3

dihasilkan Rhizopus oryzae termasuk mikroba 2.3. Cara Kerja


heterofermentatif (Pratiwi dkk., 2006). Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam proses
pembuatan tempe adalah kacang kedelai dan kacang
merah yang dipilih harus berkualitas baik. Pada
percobaan yang telah kami lakukan, kami menggunakan
bahan dasar kacang kedelai serta pembungkus yang
terdiri dari daun pisang dan plastik.
Semua bahan direndam, serta dikupas hingga
bersih, lalu direbus. Setelah ditiriskan, bahan-bahan pun
dikeringkan untuk mengurangi kadar air. Kemudian
tambahkan ragi 0,4%w dan 1,2%w. Dibungkus dengan
daun pisang atau plastik, lalu di inkubasi. Selanjutnya
timbang beratnya dan amati perubahan warna, tekstur
misellium, dan aromanya.

3. Hasil dan Pembahasan


3.1. Hasil Percobaan
Parameter yang diamati tiap harinya adalah berat tempe,
Gambar 2.4 Rhizopus oryzae warna, tekstur miselium dan aroma. Hasil percobaan
Klasifikasi Rhizopus oryzae sebagai tempe ini dapat dilihat pada tabel 1.
berikut:
Kingdom : Fungi Tabel 1. Hasil pengamatan berat, warna, tekstur
Divisio : Zygomycota miselium dan aroma pada percobaan pembuatan tempe
Class : Zygomycetes Hari Variabel Berat Warna Tekstur Aroma
(gr) miselium
Ordo : Mucorales
Familia : Mucoraceae Ke-0 1 51,44 1 1 1
Genus : Rhizopus 2 58,10 2 2 2
Species : Rhizopus oryzae 3 99,68 1 1 1
Jamur Rhizopus oryzae merupakan jamur yang 4 96,33 2 2 2
sering digunakan dalam pembuatan tempe. Jamur
5 97,57 1 1 1
Rhizopus oryzae aman dikonsumsi karena tidak
menghasilkan toksin dan mampu menghasilkan asam 6 99,92 1 1 1
laktat. Jamur Rhizopus oryzae mempunyai kemampuan 7 32.16 1 1 1
mengurai lemak kompleks menjadi trigliserida dan asam 8 33,96 2 2 2
amino. Selain itu jamur Rhizopus oryzae mampu 9 79,53 1 1 1
menghasilkan protease (Pratiwi dkk., 2006). 10 81,15 3 3 3
11 87,32 1 1 1
2. Metode Percobaan 12 74,81 1 1 1
2.1. Bahan dan Alat
Bahan yang digunakan dalam percobaan ini Ke-1 1 46,23 2 2 2
adalah kacang kedelai dan kacang merah sebagai bahan 2 50,46 5 5 5
utama, Rhizopus oligosporus, dan pembungkus (daun 3 92,64 2 2 2
pisang dan plastik). Alat yang digunakan dalam 4 85,47 2 2 2
percobaan ini adalah timbangan, beaker glass, serta
pengaduk. 5 92,10 3 3 3
6 93,30 3 3 3
2.2. Variabel Percobaan 7 31,94 2 2 2
Variabel dalam percobaan terdiri dari 8 variabel, 8 33,54 4 4 4
dengan variabel berubah berupa jenis pembungkus 9 78,71 1 1 1
(daun pisang, dan plastik), dan berat ragi (0,4%w dan 10 80,11 4 4 4
1,2%w). Sedangkan variabel tetapnya adalah berat 11 87,00 2 2 2
bahan baku yang digunakan, yaitu 80 gram, suhu 12 74,49 4 4 4
fermentasi yaitu suhu ruangan (250 C-300 C). Fermentasi
berlangsung dengan pemberian aerasi pada Ke-2 1 35,30 1 1 1
pembungkusnya. 2 41,11 2 2 2
Journal Mikrobiologi Industri Teknik Kimia Page 4

3 78,69 1 1 1 Skala 6 = bau busuk.


4 69,59 1 1 1
2. Variabel
5 79,23 1 1 1
1 : kacang kedelai dan kacang merah dengan
6 76,03 1 1 1 pembungkus daun jati dan ragi 0,4% W
7 31,21 3 3 3 2 : kacang kedelai dan kacang merah dengan
8 32,86 3 3 3 pembungkus daun jati dan ragi 1,2% W
9 76,95 3 3 3 3 : kacang merah dengan pembungkus daun jati
10 77,94 3 3 3 dan ragi 0,4% W
11 86,24 4 4 4 4 : kacang merah dengan pembungkus daun jati
12 73,39 3 3 3 dan ragi 1,2% W
5 : kacang kedelai dengan pembungkus daun jati
dan ragi 0,4% W
Tabel 2. Hasil Skoring Rata-rata 6 : kacang kedelai dengan pembungkus daun jati
dan ragi 1,2% W
Variabel Warna Tekstur Aroma 7 : kacang kedelai dan kacang merah dengan
miselium pembungkus plastik dan ragi 0,4% W
1 1,333 1,333 1,333
2 3 3,333 2,667 8 : kacang kedelai dan kacang merah dengan
pembungkus plastik dan ragi 1,2% W
3 1,333 1,333 1,333 9 : kacang merah dengan pembungkus plastik
4 1,667 1,667 1,667 dan ragi 0,4% W
5 1,667 2,333 1,667 10 : kacang merah dengan pembungkus plastik
dan ragi 1,2% W
6 1,667 1,667 1,667
11 : kacang kedelai dengan pembungkus plastik
7 2 1,333 1,667 dan ragi 0,4% W
8 3 3 3 12 : kacang kedelai dengan pembungkus plastik
9 1,667 1 1,333 dan ragi 1,2% W
10 3,333 3 3
11 2,333 2,333 1,667 3.2. Pengaruh Waktu Fermentasi terhadap Berat
12 2,667 2,667 2,333 Tempe
Keterangan : 1,3 Var 1
1. Skala Penilaian : Var 2
Warna 1,1 Var 3
Wn/

Skala 1 = sangat buruk atau hasil pengamatan Var 4


W0

0,9
mendekati bahan baku. Var 5
Skala 2 = buruk. 0,7 Var 6
Skala 3 = cukup. Var 7
0,5 Var 8
Skala 4 = baik.
Skala 5 = sangat baik atau hasil pengamatan 0,3 Var 9
mendekati tempe yang telah jadi. Var 10
0 1 2 3
Skala 6 = sudah melebihi tempe yang telah jadi. Var 11
Waktu (Hari) Var 12
Tekstur miselium
Skala 1 = tekstur kacang.
Skala 2 = sedikit seperti kacang. Gambar 1. Perbandingan antara waktu fermentasi
Skala 3 = sedikit seperti tempe. dengan % berat pada masing- masing variasi tempe
Skala 4 = hampir seperti tempe. Grafik diatas menunjukan hubungan antara
Skala 5 = tekstur tempe. lama waktu fermentasi dengan perbandingan selisih
Skala 6 = tekstur melebihi tempe yang telah berat tempe dengan berbagai variabel. Berat kacang
jadi. sebelum difermentasi yang digunakan sebagai basis
Aroma adalah 80 gram. Fermentasi dilakukan selama 3 hari,
Skala 1 = bau kacang. dan setiap harinya dilakukan pengamatan terhadap berat
Skala 2 = sedikit bau kacang. tempe tersebut dan didapat perbedaan pada, berat tempe,
Skala 3 = sedikit bau tempe. oleh karena itu harga W(n)/W0 (perbandingan berat
Skala 4 = hampir bau tempe. pada hari ke-n dengan berat tempe pada hari ke-0) juga
Skala 5 = bau tempe. selalu terjadi perubahan.
Journal Mikrobiologi Industri Teknik Kimia Page 5

Pada percobaan ini, berat tempe mengalami Pada Gambar dibawah ini terlihat tekstur tempe
penurunan. Hal ini terjadi karena terpakainya protein pada hari ke-2 dengan variabel bahan baku kacang
yang terkandung pada bahan baku yang digunakan oleh merah dan penambahan 1,4 gram ragi.
Rhizopus oryzae sebagai nutriennya. Menurut percobaan
yang dilakukan oleh Purawisastra dkk (1993), jumlah
protein mengalami penurunan 18% dari kandungan
awal. Oleh karena itu, berat daripada tempe mengalami
penurunan karena kandungan proteinnya juga
berkurang.

3.3. Pengaruh Bahan Baku Terhadap Kualitas Gambar 5.4 Penutup Plastik Gambar 5.5 Penutup Daun Jati
Tempe
Pada Gambar berikut ini terlihat tekstur tempe Terlihat pada pembungkus plastik memiliki
pada hari ke-2 dengan variabel pembungkus plastik dan kualitas tempe yang lebih baik karena pertumbuhan
penambahan 1,2 gram ragi. miseliumnya yang bagus berbanding terbalik dengan
pembungkus daun jati yang sudah mulai ditumbuhi
belatung.

Tabel 4. Hasil Skoring Tempe Terhadap Pengaruh Jenis


Pembungkus

Jenis Pembungkus Warna Tekstur Aroma


M iselium
Daun Jati 3 3.333 2.667
Gambar 5.1. T empe Kedelai Gambar 5.2. Tempe kacang merah Plastik 3.333 3 3

Dari hasil nilai skoring diatas jenis bahan


pembungkus plastik memiliki nilai skoring lebih besar
jika dibandigkan dengan daun jati. Nilai skoring ini
didapatkan dari hasil pengamatan panelis yaitu diri
sendiri, teman dan asisten praktikum mikrobiologi.

3.5. Pengaruh Jumlah Ragi Terhadap Kualitas


Gambar 5.3. T empe kedelai dan kacang merah Tempe
Pada gambar dibawah ini terlihat tekstur tempe
Terlihat pada bahan baku kacang merah serta pada hari ke-2 dengan variabel pembungkus plastik dan
kacang kedelai memiliki tekstur yang terbaik terlihat pembungkus plastik.
dari pertumbuhan miselium yang banyak dan merata.

Tabel 3. Hasil Skoring Tempe Terhadap Pengaruh


Bahan Baku
Jenis Bahan Warna Tekstur Aroma
M iselium
Kaca n g Kedela i 2.667 2.667 2.333
Kaca n g Merah 3.333 3 3
Kaca n g Merah dan 3 3 3 Gambar 5.6 Tempe dengan Gambar 5.7 Tempe dengan
Kaca n g Kedela i ragi 0,4 gram ragi 1,2 gram
Terlihat pada penambahan ragi 1,2 gram
Dari hasil nilai skoring diatas jenis bahan baku memiliki kualitas tempe yang lebih baik karena
kombinasi kacang merah dan kacang kedelai memiliki pertumbuhan miseliumnya yang bagus dibandingkan
nilai skoring tertinggi. Nilai skoring ini didapatkan dari penambahan ragi 0,4 gram.
hasil pengamatan panelis yaitu diri sendiri, teman dan
asisten praktikum mikrobiologi. Tabel 5. Hasil Skoring Tempe Pengaruh Penambahan
Ragi
3.4. Pengaruh Pembungkus Terhadap Kualitas
Tempe
Journal Mikrobiologi Industri Teknik Kimia Page 6

Jenis Pembungkus Warna Tekstur Aroma 2. Bahan baku yang harus digunakan dalam pembuatan
Miselium tempe harus kualitas baik, dan yang terpenting
Ragi 1,2%w 3.333 3 3 adalah mudah ditembus oleh miselium. Semakin
Ragi 0,4%w 2 1.333 1.667 bahan baku mudah ditembus miselium semakin baik.
3. Media pembungkus yang baik untuk tempe adalah
Dari hasil nilai skoring diatas penambahan ragi media yang tidak kedap dan memiliki lubang aerasi
sebanyak 1,2%w memiliki nilai skoring lebih besar jika yang merata. Semakin kedap pembungkus, maka ragi
dibandigkan dengan penambahan ragi 0,4%w. Nilai akan mati dan tidak terjadi fermentasi, sedangkan
skoring ini didapatkan dari hasil pengamatan panelis bila terlalu banyak lubang aerasi maka, tempe cepat
yaitu diri sendiri, teman dan asisten praktikum busuk. Untuk itu bahan harus memiliki lubang aerasi
mikrobiologi. yang sedang dan merata.
4. Semakin banyak ragi maka semakin cepat proses
3.6. Pengaruh Variabel Terhadap Tempe fermentasi. Sedangkan jika ragi sedikit, fermentasi
Dari grafik diatas, dapat dilihat bahwa semakin pun berjalan lebih lambat.
lama waktu fermentasi, maka berat tempe akan semakin
kecil. Pada gambar diatas adalah variabel 3 kacang
merah 80 gram dan ragi 0,4 gram dengan pembungkus 5. Ucapan Terima Kasih
daun jati. Namun setiap jenis pembungkus yan g Ucapan terima kasih kepada Laboratorium Mikrobiologi
digunakan memiliki penurunan yang berbeda-beda. Industri Teknik Kimia Universitas Diponegoro beserta
Penurunan berat pada tempe tersebut terjadi karena seluruh laboran yang telah membantu kelancaran
dalam proses fermentasi, Rhizopus oligosporus yang praktikum ini. Serta kepada teman-teman yang telah
terdapat pada ragi tempe melakukan proses pemecahan mendukung praktikum ini.
protein dalam bahan baku menjadi monomernya yaitu
asamasam asetat. Pembungkus daun jati dan plastic 6. Daftar Pustaka
memiliki pori-pori yang merata sehingga tempe yang Deliani. 2008. Pengaruh Lama Fermentasi Terhadap
dihasilkan cukup baik. Penurunan beratnya pun stabil. Kadar Protein,Lemak, Komposisi AsamLemak
Namun, pori yang ada pada daun jati lebih besar Dan Asam Fitat Pada Pembuatan Tempe. Meda:
daripada plastik, sehingga pertumbuhan spora terlalu Universitas Sumatra Utara.
banyak karena oksigen yang didapat juga banyak dan Dharma. 1992. Teknologi Pemanfaatan Limbah untuk
menyebabkan adanya bintik-bintik hitam. Pangan, Solid State Fermentation.
Berdasarkan hasil percobaan yang didapat, Harli, Muhammad. 2004. Intisari Kado Tempe Buat
berat ragi 0,5%W rata-rata memberikan hasil yang lebih Mama. PT. Gramedia: Jakarta.
baik dibandingkan 1,5%W dari segi warna, tekstur Hayati, Salma. 2009. Pengaruh Waktu Fermentasi
miselium, dan aroma. Sedangkan secara teori ragi Terhadap Kualitas Tempe dan Penentuan Kadar
optimum adalah 0,5%W atau sekitar 0,4 gram ragi untuk Zat Gizinya.
80 gram kacang kedelai (Hans, 2009). Hal ini Hans. 2009. Cara Pembuatan Tempe.
dikarenakan ragi yang ditambahkan kedalam kacang Jurnal LIPI. 2004. Faktor yang Mempengaruhi
kedelai maupun kacang merah tidak semuanya bekerja Kualitas Tempe.
secara optimal. Ragi yang tidak bekerja secara optimal Cahyanti, Nari. 2009. Aktivitas -Glukosidase pada
ini dikarenakan ada sebagian ragi yang menggumpal Pembuatan Tempe. Jurnal Penelitian.
pada saat proses fermentasi.Jadi pada ragi 1,5%W pun Jurnal Penelitian. 2010.Penetrationof Rhizopus
ragi yang bekerja kurang dari 0,5%W, sehingga tidak oligosporus into Soybean in Tempeh. (Allan
memenuhi berat optimum ragi 0,5%W. Sedangkan pada M. Janus & Walter J. Sulberg).
penambahan ragi 0,5%W masih ada kemungkinan ragi Kartik a , Unovia n a . 2014. Atasi Bakte ri Tuberk u losis
0,5%Wnya bekerja secara optimal. Jadi, semakin banyak dengan Cuka.
ragi maka semakin cepat proses fermentasi, sedangkan nationalgeographic.co.id/berita/2014/03/Atasi-
jika ragi sedikit, fermentasi pun akan berjalan lebih Bakteri-Tuberkulosis-dengan- Cuka. Diakses
lambat. tanggal 4 Oktober 2014.
Mujianto. 2013. Analisis Faktor Yang Mempengaruhi
Proses Produksi Tempe Produk UMKM.
4. Kesimpulan
1. Cara pembuatan tempe terdiri dari tahap
perendaman, pengelupasan kulit ari bahan baku,
pengukusan, pengeringan, pemberian ragi dan yang
terakhir adalah pembungkusan.