Anda di halaman 1dari 12

TUGAS SEDIAAN KOSMETIK

Krim dan Lotion Emolien

Di susun oleh :

Farida Fahmi 3311111002

Risma Primayarti 3311111004

Siti Saodah 3311111006

Ilham Akbar Junaidi Putra 3311111009

Anjani Juniartianti 3311111011

Heni Nurul Aini 3311111015

Susi Sunarty S 3311111029

FAKULTAS FARMASI

UNIVERSITAS JENDERAL ACHMAD YANI


BAB 1

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Kosmetik dikenal manusia sejak berabad-abad yang lalu. Pada abad ke-19, pemakaian
kosmetik mulai mendapat perhatian, yaitu selain untuk kecantikan juga untuk kesehatan.
Perkembangan ilmu kosmetik serta industrinya baru dimulai secara besar-besaran pada abad ke-
20. Kosmetik menjadi salah satu bagian dunia usaha. Bahkan sekarang teknologi kosmetik begitu
maju dan merupakan paduan antara kosmetik dan obat (pharmaceutical) atau yang disebut
kosmetik medik (cosmeceuticals) (Tranggono dan Latifah, 2007).
Kulit merupakan organ pertama yang terkena pengaruh yang tidak menguntungkan dari
lingkungan. Berbagai faktor baik dari luar tubuh maupun dari dalam tubuh dapat mempengaruhi
struktur dan fungsi kulit, misalnya: udara kering, kelembaban udara yang rendah, sinar matahari,
usia, berbagai penyakit kulit maupun penyakit dalam tubuh. Faktor-faktor tersebut dapat
menyebabkan penguapan yang berlebihan pada epidermis kulit sehingga kadar air dalam stratum
korneum berkurang dan menyebabkan kulit kering. Secara alamiah kulit berusaha untuk
melindungi diri dari kemungkinan tersebut, yaitu dengan adanya tabir lemak di atas kulit yang
diperoleh dari kelenjar lemak dan sedikit kelenjar keringat serta adanya lapisan kulit luar yang
berfungsi sebagai sawar kulit. Namun, dalam kondisi tertentu faktor perlindungan kulit alamiah
(natural moisturizing factor) tidak mencukupi sehingga diperlukan perlindungan tambahan non
alamiah (Wasitaatmadja, 1997).
Kondisi kulit yang kering dapat menyebabkan kulit menjadi kasar, sehingga diperlukan
sediaan kosmetik yang bersifat sebagai emolien (pelembut). Bentuk sediaan yang dapat
digunakan untuk membantu melembutkan kulit yaitu lotion dan krim.
Kosmetik emolient termasuk kosmetik perawatan yang bertujuan untuk mempertahankan
struktur dan fungsi kulit dari berbagai pengaruh seperti udara kering, sinar matahari terik, umur
lanjut, berbagai penyakit kulit maupun penyakit dalam tubuh yang mempercepat penguapan air
sehingga kulit menjadi lebih kering (Wasitaatmadja, 1997).

Minyak zaitun adalah salah satu contoh bahan alam yang dapat digunakan sebagai bahan
pelembut kulit. Minyak zaitun mengandung zat-zat minyak, berbagai vitamin, dan sejumlah kecil
mineral. Minyak zaitun merupakan pelembut yang baik untuk melembutkan kulit wajah dan
tubuh. Minyak ini kaya akan anti-oksidan alami yang membantu mencegah penuaan kulit dengan
memerangi semua tanda-tanda penuaan seperti keriput, bintik-bintik gelap, dan jerawat.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Definisi
Lotion adalah sediaan cair berupa suspensi atau dispersi, digunakan sebagai obat luar.
Dapat berbentuk suspensi zat padat dalam bentuk sebuk halus dengan bahan pensuspensi yang
cocok atau emulsi tipe minyak dalam air (o/w atau m/a) dengan surfaktan yang cocok (FI
III,1979)
Krim adalah bentuk sediaan setengah padat, berupa emulsi mengandung air tidak kurang
dari 60% dan dimaksudkan untuk pemakaian luar (FI III,1979). Krim umumnya berupa sediaan
semisolid kental, umumnya berupa emulsi m/a (krim berair) atau emulsi a/m (krim berminyak)
(The Pharmaceutical Codex,1994).
Emolien adalah bahan-bahan yang digunakan untuk mencegah atau mengurangi
kekeringan, sebagai perlindungan bagi kulit.
Lotion yang bersifat emolient adalah sediaan cair berupa suspensi atau dispersi yang
ditujukan penggunannya untuk mencegah atau mengurangi kekeringan pada kulit serta
perlindungan bagi kulit.
Krim emolien merupakan krim yang dibuat dengan tujuan untuk mempertahankan
struktur dan fungsi kulit dari berbagai pengaruh seperti udara kering, sinar matahari terik, usia
lanjut, berbagai penyakit kulit maupun penyakit dalam tubuh yang mempercepat penguapan air
sehingga kulit menjadi lebih kering.

2.2 Penggolongan Krim Emolien


Krim emolien digolongkan menjadi 3, yaitu:
Krim malam
Krim malam memiliki fungsi untuk memberi nutrisi pada kulit untuk memulihkannya dari
stress setiap hari.
Massage krim
Meningkatkan fungsi minyak sehingga kulit tetap bersih dan sejuk.

Krim dengan kandungan minyak yang tinggi


Krim ini dapat menyebabkan penyumbatan pada pori-pori, yang akan menyebabkan
mikroba berkembangbiak. Selain itu tersumbatnya pori akan menyebabkan kelenjar
minyak ikut tersumbat dan menimbulkan jerawat.

Semua krim tersebut dapat dikategorikan sebagai krim emolien dengan komposisi dan
karateristik basis yang digunakan berupa vanishing atau foundation cream.

2.3 Formula Krim Emolien


Berikut ini adalah bahan bahan penyusun sediaan krim:
a. Zat berkhasiat
Sifat fisika dan kimia dari bahan atau zat berkhasiat dapat menentukan cara pembuatan dan
tipe krim yang dapat dibuat, apakah krim tipe minyak dalam air atau tipe air dalam minyak.
b. Minyak
Salah satu fase cair yang bersifat nonpolar
c. Air.
Salah satu fase cair yang bersifat polar. Untuk pembuatan digunakan air yang telah
dididihkan dan segera digunakan setelah dingin.
d. Pengemulsi
Umumnya berupa surfaktan anion, kation atau nonion.pemilihan surfaktan didasarkan atas
jenis dan sifat krim yang dikehendaki. Untuk krim tipe minyak air digunakan zat pengemulsi
seperti trietanolaminil stearat dan golongan sorbitan, polisorbat, poliglikol, sabun. Untuk
membuat krim tipe air-minyak digunakan zat pengemulsi seperti lemak bulu domba, setil
alkohol, stearil alkohol, setaseum dan emulgida.
e. Bahan tambahan;
1. Zat untuk memperbaiki konsistensi
Konsistensi sediaan topical diatur untuk mendapatkan bioavabilitas yang
maksimal, selain itu juga dimaksudkan untuk mendapatkan formula yang estetis dan
acceptable. Konsistensi yang disukai umumnya adalah sediaan yang dioleskan, tidak
meninggalkan bekas, tidak terlalu melekat dan berlemak. Hal yang penting lain adalah
mudah dikeluarkan dari kemasan. Perbaikan konsistensi dapat dilakukan dengan
mengatur komponen sediaan emulsi diperhatikan ratio perbandingan fasa. Untuk krim
adalah jumlah konsentrat campuran zat pengemulsi.
2. Zat pengawet.
Pengawet yang dimaksudkan adalah zat yang ditambahkan dan dimaksudkan
untuk meningkatkan stabilitas sediaan dengan mencegah terjadinya kontaminasi
mikroorganisme. Karena pada sediaan krim mengandung fase air dan lemak maka pada
sediaan ini mudah ditumbuhi bakteri dan jamur. Oleh karena itu perlu penambahan zat
yang dapat mencegah pertumbuhan mikroorganisme tersebut Zat pengawet yang
digunakan umumnya metil paraben 0.12 % sampai 0,18 % atau propil paraben 0,02% -
0,05 %.
3. Pendapar
Pendapar di maksudkan untuk mempertahankan pH sediaan untuk menjaga
stabilitas sediaan. pH dipilih berdasarkan stabilitas bahan aktif. Pemilihan pendapar harus
diperhitungkan ketercampurannya dengan bahan lainnya yang terdapat dalam sediaan,
terutama pH efektif untuk pengawet. Perubahan pH sediaan dapat terjadi karena
perubahan kimia zat aktif atau zat tambahan dalam sediaan pada penyimpanan karena
mungkin pengaruh pembawa atau lingkungan. Kontaminasi logam pada proses produksi
atau wadah (tube) seringkali merupakan katalisator bagi pertumbuhan kimia dari bahan
sediaan.
4. Pelembab
Pelembab atau humectan ditambahkan dalam sediaan topical dimaksudkan untuk
meningkatkan hidrasi kulit. Hidrasi pada kulit menyebabkan jaringan menjadi lunak,
mengembang dan tidak berkeriput sehingga penetrasi zat akan lebih efektif. Contoh zat
tambahan ini adalah: gliserol, PEG, sorbitol.
5. Pengompleks (sequestering)
Pengompleks adalah zat yang ditambahkan dengan tujuan zat ini dapat
membentuk kompleks dengan logam yang mungkin terdapat dalam sediaan, pada proses
pembuatan atau pada penyimpanan karena wadah yang kurang baik. Contoh : Sitrat,
EDTA, dan lain-lain.
6. Anti Oksidan.
Antioksidan dimaksudkan untuk mencegah tejadinya ketengikan akibat oksidasi
oleh cahaya pada minyak tidak jenuh yang sifatnya autooksidasi. Antioksidan dapat
digolongkan manjadi, yaitu :
a. Anti oksidan sejati (anti oksigen)
Mekanisme kerja mencegah oksidasi dengan cara bereaksi dengan radikal bebas
dan mencegah reaksi cincin. Contoh: tokoferol, alkil gallat, BHA, BHT.
b. Anti oksidan sebagai agen produksi.
Zat-zat ini mempunyai potensial reduksi lebih tinggi sehingga lebih mudah
teroksidasi dibandingkan zat yang lain kadang kadang bekerja dengan cara bereaksi
dengan radikal bebas. Contoh; garam Na dan K dari asam sulfit.
c. Anti oksidan sinergis.
Yaitu senyawa yang bersifat membentuk kompleks dengan logam, karena adanya
sedikit logam dapat merupakan katalisator reaksi oksidasi. Contoh: sitrat, tartrat, EDTA.
7. Peningkat Penetrasi.
Zat tambahan ini dimaksudkan untuk meningkatkan jumlah zat yang terpenetrasi
agar dapat digunakan untuk tujuan pengobatan sistemik lewat dermal (kulit).Pada
umumnya senyawa peningkat penetrasi akan meningkatkan permeabilitas kulit dengan
mengurangi tahanan difusi stratum corneum dengan cara merusaknya secara reversible.
Contoh; dimetil sulfida (DMSO), zat ini bersifat dipolar, aprotik dan dapat bercampur
dengan air, pelarut organik pada umumnya.
BAB III
PEMBAHASAN
3.1 Formula Lotion Emolient
Nama bahan Kegunaan Kadar dalam formula Konsentrasi (HOPE)
Alfa-tokoferol / Vit E Antioksidan 0,5 % 0,15-2,0%
Asam askorbat Antioksidan 0,1 % 0,01-0,1%
Mineral oil Emolien 7% 1,0-20%
Gliserin Humektan 25 % < 30 %
Span 20 Emulgator 5%
Tween 20 Emulgator 5%
Propil paraben Pengawet 0,02 % 0,01% 0,6%
Metil paraben Pengawet 0,18 % 0,02 % - 0,3 %
Propylen glikol Pengawet 10 % 15-30 %
Cethyl alkohol Emolien 5% 2-5 %
Isoprofyl palmitate Parfume 0,2 % 0,2-0,8 %
Olive oil Pelembut 6%
Aquadest Pelarut Ad 100mL
3.2 Formula Krim Emolien
Nama bahan Kegunaan Kadar dalam formula Konsentrasi (HOPE)
Olive Oil Emolien 10 %
Asam stearat Emulgator 20 % 1-20%
BHT Antioksidan 0,001 % 0,0075-0,1%
Cetyl alcohol Emulgator 2% 2-5%
TEA Surfaktan 1,2 % 2-4%
NaOH Pembasa 0,01 %
Gliserin Emolien 8% <30%
Nipasol Pengawet 0,02 % 0,01% 0,6%
Nipagin Pengawet 0,02 % 0,02-0,3%
Parfum Pengaroma 3% -
Aquadest Pelarut Ad 100mL -
3.3 Formula Lotion Emolient Pasaran : Alba Very Emollient Lotion
Formula Fungsi
Pelarut
Aqua
Gliserin Pelembab
Pelindung kulit bertindak sebagai pelumas
Glyceryl Stearate
Skin conditioning agent, emolien.
Vitis Vinifera (Grape) Seed Oil
Pelembab, antioksidan, antibakteri, skin-conditioning
Sesamum Indicum (Sesame) Seed
agent
Oil
Skin conditioning agent, emollient
Butyrospermum Parkii (Shea Butter)
Skin conditioning agent
Persea Gratissima (Avocado) Oil
Pelembut, pelemban, meningkatkan elastisitas kulit
Simmondsia Chinensis (Jojoba)
wajah
Seed Oil
Emolien, Skin conditioning agent,
Cucumis Sativus (Cucumber) Fruit
Extract
Mengatasi penyakit kulit yang cukup parah, seperti
Echinacea Angustifolia Extract
eksim
Antiinflamasi
Lavandula Angustifolia (Lavender)
Extract
Pelembab
Aloe Barbadensis Leaf Juice
Antioksidan
Camellia Sinensis Leaf Extract
Anti inflamasi, untuk pengobatan eksema
Chamomilla Recutita (Matricaria)
Flower Extract
Pengobatan ulkus kulit, luka, luka bakar
Allantoin
Pelembab, emolient, lubrikan
Panthenol
Antioksidan
Tocopheryl Acetate
Emulgator
Polysorbat 60
Emulgator
Lecithin
Pengawet
Phenoxyethanol
Zat tambahan yang bersifat basa
Potassium Hydroxide
Pengawet
Xanthan Gum Alcohol
Pengawet
Benzoic Acid
Pengawet
3.4 Formula Krim Emolien Pasaran : Dermacare Emollient Cream

Formula Krim Emolient yang di Fungsi


pasaran
Almond Oil 5% w/w Emolien
Anhydrous Hypoallergenic Lanolin Pelembab dan emolien
1% w/w.
Setyl alkohol Pengemulsi
Vaseline album Basis
Cetomakrogol 1000 Emulgator dan zat peningkat kelarutan
Sorbitan sesquioleate Pelembab
Benzyl alkohol Emulgator
Sodium sitrat Zat pengompleks / antioksidan
Asam sitrat anhydrat Zat pengkhelat
Air murni Pelarut

Pembahasan Lotion

Berdasarkan perbandingan formula lotion emolien yang kami rancang dan formula lotion
emolien yang beredar dipasaran. Formula yang kami rancang mengandung komponen bahan
yang lebih sedikit dibandingkan formula yang beredar di pasaran. Namun dengan formula yang
sedikit tersebut sudah memenuhi kriteria formula standar dari lotion emolien. Di mana dalam
formula emolien umumnya harus mengandung basis minyak/lemak , basis air , emulgator ,
pengawet, antioksidan, emolien, pelarut, parfum (jika perlu). Namun formula yang beredar di
pasaran memiliki banyak komponen bahan aktif. Untuk penggunaanya tidak hanya bisa sebagai
emolien saja tetapi bisa juga sebagai anti inflamasi dan bisa untuk pengobatan penyakit eksema.
Dan dikarenakan bahan aktif yang berasal dari alam sehingga dibutuhkan lebih banyak
emulgator, pengawet dan bahan tambahan lainnya untuk membuat sediaan lebih stabil dan bisa
bertahan dalam waktu cukup lama.

Pembahasan Krim

Melihat dari perbandingan formula krim emolien yang kami rancang dan formula krim
yang ada di pasaran. Formula yang kami rancang mengandung komponen yang lebih efisien
berdasarkan fungsinya. Di dalam formula krim yang kami rancang, kami menggunakan olive oil
sebagai emolien tunggal. Olive oil selain memiliki sifat emolien, juga mengandung vitamin C
yang dapat memproduksi kolagen yang bermanfaat untuk kulit dan vitamin E dan K yang
berfungsi sebagai nutrisi untuk kulit. Sedangkan formulasi krim yang beredar di pasaran
menggunakkan 2 zat pengemolien yaitu almond oil dan anhydrous hypoallergenic lanolin.
Almond oil digunakan karena mengandung vitamin E yang dapat melembutkan kulit.

Selain itu pada formula krim kami, ditambahkan pula nipagin dan nipasol sebagai
pengawet. Sedangkan pada formula yang ada di pasaran tidak ditambahkan pengawet.
Seharusnya pada formula krim ditambahkan pula pengawet untuk mencegah pertumbuhan
mikroorganisme. Adanya pertumbuhan mikroba dapat menyebabkan kerusakan pada sediaan
sehingga menurunkan efektivitasnya dan menurunkan daya simpan.

KESIMPULAN

1. Berdasarkan formulasi formula krim dan lotion emolien yang kami rancang lebih efisien
daripada formula krim dan lotion emolien yang ada di pasaran.
2. Berdasarkan HOPE ( Handbook of Pharmaceutical Excipient )formulasi formula krim dan
lotion emolien yang kami rancang memenuhi persyaratan.
DAFTAR PUSTAKA

1. Wasitaatmadja.SM.1997. Penuntun Ilmu Kosmetik Medik. UI Press.Jakarta.

2. Tranggono, R.I., Latifah, F., 2007. Buku Pegangan Ilmu Pengetahuan Kosmetik, PT
Gramedia Pustaka Utama, Jakarta.

3. Anonim.1976. Farmakope Indonesia Edisi III.Departemen Kesehatan RI. Jakarta.

4. Allen, L. V., and Luner, P.E., 2006, Handbook of Pharmaceutical Excipients, 5th ed,
Pharmaceutical Press and American Assotiation, USA.

5. Lund, W. 1994, The Pharmaceutical Codex Principles and Practise of Phamacetices, 12th
ed, The Pharmaceutical Press, London.