Anda di halaman 1dari 67

Aturan inferensi dan

metode pembuktian

Khamida Siti Nur Atiqoh


90115001
Magister Pengajaran Matematika
SUB TOPIK:

1.6 Aturan Inferensi


1.7 Pengenalan Pembuktian
1.8 Metode dan Strategi Pembuktian
1.6 Aturan Inferensi

Argumen terdiri dari pernyataan-pernyataan yang


terdiri atas 2 kelompok yaitu kelompok
pernyataan premis (hipotesa) dan pernyataan
konklusi (kesimpulan)
Validitas Argumen artinya kesimpulan dari suatu
argumen berasal dari premis-premis yang bernilai
benar.
1.6.1 Argumen yang Valid dalam Logika Proposisi

Contoh Argumen:
Jika kamu mempunyai kata sandi maka kamu dapat
masuk ke jaringan.
Kamu mempunyai kata sandi
Oleh karena itu
Kamu dapat masuk ke jaringan
Definisi 1 :
Argumen dalam proposisi logis adalah urutan beberapa proposisi.
Semua proposisi kecuali proposisi yang terakhir disebut premis dan
proposisi yang terakhir disebut kesimpulan. Sebuah argument
dikatakan valid jika kebenaran dari semua premis mengakibatkan
kesimpulan yang benar.
Bentuk argumen dalam proposisi logis adalah urutan dari gabungan
proposisi yang melibatkan variabel proposisi. Bentuk argument
dikatakan valid tidak bergantung pada proposisi mana yg
disubsitusikan pada variable proposisi pada premisnya,
kesimpulannya benar jika semua premisnya bernilai benar.
Jadi dari definisi tersebut dapat disimpulkan bahwa bentuk
argument dengan premis p1, p2, pn dan kesimpulan q bernilai
valid, ketika (1 2 . . . ) adalah tautology.
1.6.2 Aturan Inferensi untuk Logika Proposisi

Tautologi dari adalah dasar dari aturan inferensi


disebut Modus Ponens atau law of detachment.

Contoh:
Tentukan apakah argument berikut valid dan tentukan apakah
kesimpulannya harus benar berdasarkan validitas dari argument.
3 2 3 2 3
Jika 2 > , maka ( 2) > . Kita tau bahwa 2 > 2 .
2 2

2 3 2 9
Jadi ( 2) = 2 > 2
= 4
.
Solusi:
3 2 3 2
Misal 2 > proposisi p dan ( 2) >
2 2
proposisi q.

Bentuk argument:

Bentuk argument tersebut valid karena menggunakan modus ponens.


3
Namun, salah satu premisnya yaitu 2 > 2 bernilai salah. Sehingga
tidak dapat disimpulkan bahwa kesimpulannya benar. Kesimpulan
9
dari argument ini juga salah karena 2 < 4.
1.6.3 Menggunakan Aturan Inferensi untuk
Membangun Argumen

Ketika terdapat banyak premis, beberapa aturan inferensi


diperlukan untuk menunjukkan bahwa sebuah argument valid.
Contoh:
Tunjukkan bahwa premis-premis Jika anda mengirim e-mail kepada
saya, maka saya akan menyelesaikan penulisan program, Jika
anda tidak mengirim e-mail kepada saya, maka saya akan tidur
lebih awal, dan Jika saya tidur lebih awal, maka saya akan
bangun dengan merasa segar menyebabkan kesimpulan Jika saya
tidak menyelesaikan penulisan program, maka saya akan bangun
dengan merasa segar.
Solusi:
Misalkan proposisi p = Anda mengirim e-mail kepada saya, q =
Saya akan menyelesaikan penulisan program, r = Saya akan tidur
lebih awal, dan s = Saya akan bangun dengan merasa segar.
Maka premis-premisnya adalah , , dan . Kesimpulan
yang diinginkan adalah .
Langkah: Alasan
1. Premis
2. Kontraposisi dari (1)
3. Premis
4. Silogisme (2) dan (3)
5. Premis
6. Silogisme (4) dan (5)
1.6.4 Resolusi

Pemrograman komputer telah dikembangkan untuk otomatisasi


penalaran dan pembuktian teorema. Banyak dari program ini
menggunakan aturan inferensi yang disebut sebagai resolusi. Aturan
inferensi ini berdasarkan tautologi: ( ) ( )
Disjungsi terakhir disebut resolvent. Ketika dimisalkan q = r
pada tautology ini, diperoleh . Selanjutnya,
ketika dimisalkan r = F, diperoleh ( ) (karena
) dimana hal ini berdasarkan silogisme disjungtif.
Untuk membangun pembuktian dalam proposisi logis menggunakan
resolusi sebagai satu-satunya aturan inferensi, hypothesis dan
kesimpulannya harus dinyatakan sebagai klausa.
Contoh:
p

Contoh:
Tunjukkan bahwa premis ( ) dan menghasilkan
kesimpulan
Solusi:
Premis ( ) dapat dituliskan kembali sebagai 2 klausa
dan q . Kemudian implikasi ekuivalen dengan klausa .
Berdasarkan resolusi ( ) ( )
Didapatkan kesimpulan
1.6.5 Kekeliruan

Proposisi bukan tautology karena akan


bernilai salah ketika p salah dan q benar. Jadi, bentuk argument
ini tidak valid. Tipe penalaran yang salah ini disebut kesalahan
dalam menegaskan kesimpulan.
Contoh:
Apakah argument berikut valid?
Jika anda mengerjakan setiap soal dalam buku ini, maka anda akan
belajar matematika diskrit. Anda belajar matematika diskrit.
Oleh karena itu, anda mengerjakan setiap soal dalam buku ini.
Solusi:
Misalkan proposisi p = Anda mengerjakan setiap soal dalam buku
ini, dan q = Anda belajar matematika diskrit.
Bentuk argument :
Hal ini termasuk penalaran yang salah yaitu kesalahan dalam
menegaskan kesimpulan.
Proposisi bukan tautology karena akan
bernilai salah ketika p salah dan q benar. Jadi, bentuk argument
ini tidak valid. Tipe penalaran yang salah ini disebut kesalahan
dalam menyangkal hipotesis.
Contoh:
Apakah argument berikut valid?
Jika anda mengerjakan setiap soal dalam buku ini, maka anda akan
belajar matematika diskrit. Anda tidak mengerjakan setiap soal
dalam buku ini.
Oleh karena itu, anda tidak belajar matematika diskrit.
Solusi:
Dengan permisalan yang sama dengan contoh sebelumnya, argument
ini berbentuk yang merupakan contoh
kesalahan dalam menyangkal hipotesis.
1.6.6 Aturan Inferensi untuk Pernyataan
Berkuantor
Contoh:
Tunjukkan bahwa premis-premis Setiap orang dalam kelas
matematika diskrit ini telah menyelesaikan pelatihan di bidang
ilmu komputer dan Maria adalah siswa pada kelas ini
menghasilkan kesimpulan Maria telah menyelesaikan pelatihan
di bidang ilmu computer.
Solusi:
Misal D(x) menunjukkan x ada dalam kelas matematika diskrit
ini, dan misal C(x) menunjukkan x telah menyelesaikan
pelatihan di bidang ilmu computer.
Langkah: Alasan
1. Premis
2. Universal Instantiation dari (1)
3. Premis
4. Modus Ponens dari (2) dan (3)
1.6.7 Menggabungkan Aturan Inferensi untuk
Proposisi dan Pernyataan Berkuantor
Modus Ponens Universal
Aturan ini menunjukkan bahwa jika benar dan jika
() benar untuk anggota domain dari kuantor universal, maka
() pasti benar. Dengan instansiasi universal, benar.
Kemudian, dengan modus Ponens, () juga benar. Dapat
dideskripsikan Modus Ponens Universal sebagai berikut:

(), dimana adalah anggota domain
()
Contoh:
Asumsikan bahwa Untuk setiap bilangan bulat positif n, jika n
lebih besar daripada 4, maka 2 lebih kecil daripada 2 bernilai
benar. Gunakan Modus Ponens Universal untuk menunjukkan
bahwa 1002 < 2100 .
Solusi:
Misal: () menunjukkan > 4
Q() menunjukkan 2 < 2
Untuk setiap bilangan bulat positif n, jika n lebih besar daripada
4, maka 2 lebih kecil daripada 2 dapat dinyatakan dalam
, dimana domainnya setiap bilangan bulat
positif. Diasumsikan bahwa bernilai benar.
100 benar karena 100 > 4. Dengan Modus Ponens Universal
diperoleh Q(100) benar. Jadi 1002 < 2100 .
Modus Tollens Universal
Penggabungan lain dari aturan inferensi dari proposisi logis dan
aturan inferensi untuk pernyataan berkuantor adalah Modus
Tollens Universal.

(), dimana adalah anggota domain
()
1.7 Pengenalan Pembuktian

1.7.1 Beberapa Istilah


Teorema adalah pernyataan yang dapat dibuktikan
kebenarannya.
Teorema yang sederhana disebut proposisi.
Kebenaran suatu teorema ditunjukkan dengan pembuktian
Pembuktian adalah argumentasi valid yang menetapkan
kebenaran suatu teorema.
Aksioma atau postulat termasuk pernyataan yang digunakan
dalam pembuktian, yang mana merupakan pernyataan yang
diasumsikan benar.
Teorema sederhana yang membantu pembuktian disebut
lemma. Pembuktian yang rumit biasanya lebih mudah dipahami
ketika dibuktikan dengan lemma.
Corollary (Teorema Akibat) adalah teorema yang dapat
ditentukan langsung dari suatu torema yang telah dibuktikan.
Dugaan adalah pernyataan yang diusulkan menjadi pernyataan
yang benar, biasanya dasar dari beberapa bukti parsial,
argument heuristis, atau intuisi seorang ahli.
1.7.2 Memahami Bagaimana Teorema
Dinyatakan

Jika > , dimana dan adalah bilangan real positif, maka


2 > 2.
Arti sebenarnya
Untuk setiap bilangan real positif dan , jika > , maka
2 > 2.
Selanjutnya, ketika teorema jenis ini terbukti, langkah pertama
dari pembuktian biasanya melibatkan pemilihan elemen yang
umum dari domain. Langkah berikutnya menunjukkan bahwa
elemen ini mempunyai sifat yang diinginkan. Akhirnya, generalisasi
universal menghasilkan bahwa teorema memenuhi untuk semua
anggota domain.
1.7.3 Metode dalam Pembuktian Teorema

Memahami metode adalah kunci untuk belajar


bagaimana membaca dan membentuk pembuktian
matematis. Setelah memilih sebuah metode
pembuktian, gunakan aksioma, definisi, selanjutnya
hasil terbukti, dan aturan inferensi untuk melengkapi
pembuktian.
1.7.4 Pembuktian Langsung

Pembuktian langsung dari pernyataan dibentuk ketika


langkah pertama adalah mengasumsikan bahwa p benar, langkah
berikutnya adalah menggunakan aturan inferensi, dengan langkah
terakhir menunjukkan bahwa q juga benar. Jadi pada pembuktian
langsung, kombinasi p benar dan q salah tidak pernah terjadi.
Definisi 1: Bilangan bulat n genap jika terdapat bilangan bulat k
sehingga n = 2k, dan n ganjil jika terdapat bilangan bulat k
sehingga n = 2k+1. (Perhatikan bahwa setiap bilangan bulat
adalah salah satu genap atau ganjil, dan tidak sekaligus genap
dan ganjil.) 2 bilangan bulat mempunyai same parity ketika
keduanya genap atau keduanya ganjil; mempunyai opposite
parity ketika salah satu genap dan yang lainnya ganjil.
Contoh:
Berikan pembuktian langsung dari teorema Jika adalah bilangan
ganjil, maka 2 adalah bilangan ganjil.
Solusi:
Teorema ini berbentuk
: adalah bilangan ganjil dan : 2 adalah bilangan ganjil.
Diasumsikan bahwa benar. Diasumsikan bahwa adalah
bilangan ganjil. Sehingga berdasarkan definisi, = 2 + 1 dimana
suatu bilangan bulat. Diperoleh bahwa
2 = (2 + 1)2 = 4 2 + 4 + 1 = 2 2 2 + 2 + 1
Berdasarkan definisi bilangan ganjil, dapat disimpulkan bahwa 2
ganjil. Jadi terbukti bahwa Jika adalah bilangan ganjil, maka
2 adalah bilangan ganjil.
1.7.5 Pembuktian dengan Kontraposisi

Pembuktian dengan kontraposisi termasuk pembuktian


tidak langsung. Pembuktian dengan kontraposisi
menggunakan fakta bahwa ekuivalen dengan
. Sehingga pernyataan dibuktikan
dengan membuktikan bahwa bernilai benar.
Contoh:
Buktikan bahwa jika adalah bilangan bulat dan 3 + 2 adalah bilangan
ganjil, maka adalah bilangan ganjil.
Solusi:
Pertama akan dicoba pembuktian langsung. Diasumsikan bahwa 3 + 2
bilangan bulat ganjil. Artinya 3 + 2 = 2 + 1 untuk suatu bilangan
bulat. Dapatkah fakta ini digunakan untuk menunjukkan bahwa ganjil?
Terlihat bahwa 3 + 1 = 2 , tidak ada cara langsung untuk
menyimpulkan bahwa ganjil.
Langkah pertama pembuktian dengan kontraposisi adalah dengan
mengasumsikan bahwa kesimpulan dari Jika 3 + 2 ganjil, maka ganjil
bernilai salah; asumsikan bahwa genap. Maka berdasarkan definisi
bilangan genap, = 2 untuk suatu bilangan bulat . Substitusikan 2 ke
. Diperoleh 3 + 2 = 3 2 + 2 = 6 + 2 = 2(3 + 1) . Didapatkan
bahwa 3 + 2 genap. Ini negasi dari premis 3 + 2 ganjil. Karena negasi
dari kesimpulan pernyataan condisional menghasilkan hipotesis yang
bernilai salah,sehingga pernyataan awal bernilai benar. Jadi terbukti
bahwa Jika 3 + 2 ganjil maka ganjil.
1.7.6 Pembuktian dengan Kontradiksi

Misal akan dibuktikan bahwa pernyataan p benar. Selanjutnya


misal diperoleh kontradiksi q sehingga bernilai benar.
Karena q salah tetapi bernilai benar, dapat disimpulkan
bahwa salah, yang berarti p benar. Bagaimana dapat diperoleh
kontradiksi q yang dapat membantu membuktikan bahwa p benar?
Karena pernyataan adalah kontradiksi ketika r adalah
proposisi, dapat dibuktikan p benar jika dapat ditunjukkan bahwa
( ) benar untuk suatu proposisi r. Tipe pembuktian ini
disebut pembuktian dengan kontradiksi.
Contoh:
Buktikan bahwa 2 bilangan irasional dengan pembuktian kontradiksi.
Solusi:
Misalkan proposisi p: 2 bilangan irasional. Diandaikan bahwa
benar. Proposisi : 2 bilangan rasional. Akan ditunjukkan bahwa
mengasumsikan benar akan mengarah kepada kontradiksi.
Jika 2 bilangan rasional, terdapat bilangan bulat dan dengan

2 = , dimana 0 dan dan tidak mempunyai factor


persekutuan (pecahan adalah bentuk paling sederhana.)

2
Karena 2 = , ketika kedua ruas dikuadratkan diperoleh 2 = 2 .

2 2
Diperoleh 2 = .
Berdasarkan definisi bilangan genap diperoleh 2 genap. Selanjutnya
jika 2 genap maka juga genap. Karena genap maka = 2 untuk
suatu bilangan bulat .
Diperoleh 22 = 4 2 , kedua ruas dibagi 2 diperoleh 2 = 2 2 .
Berdasarkan definisi bilangan genap, berarti bahwa 2 genap. Karena
2 genap maka juga genap.

Telah ditunjukkan bahwa asumsi mengarah ke persamaan 2 = ,

dimana dan tidak mempunyai factor persekutuan, tetapi dan
keduanya genap, yang mana dan keduanya habis dibagi 2. Karena
asumsi mengarah kepada kontradiksi antara dan keduanya
habis dibagi 2 dan dan tidak habis dibagi 2, maka bernilai
salah. Jadi pernyataan 2 bilangan irasional bernilai benar. Telah
dibuktikan bahwa 2 bilangan irasional.
Note!!
Pembuktian dengan kontraposisi dapat juga diarahkan ke pembuktian
dengan kontradiksi. Pada pembuktian dengan kontraposisi,
diasumsikan bahwa benar. Kemudian ditunjukkan bahwa juga
benar. Untuk mengarahkan pembuktian dengan kontraposisi
menjadi pembuktian dengan kontradiksi, diasumsikan bahwa dan
keduanya benar. Kemudian gunakan langkah pada pembuktian
untuk menunjukkan bahwa benar. Sehingga hal ini
mengarah kepada kontradiksi antara dan .
Contoh:
Berikan pembuktian dari teorema Jika 3 + 2 ganjil, maka ganjil
dengan kontradiksi.
Solusi:
Misalkan p: 3 + 2 ganjil dan q: n ganjil.
Untuk membangun pembuktian dengan kontradiksi, diasumsikan
bahwa dan keduanya benar. Jadi, diasumsikan benar bahwa
3 + 2 ganjil dan tidak ganjil. Karena tidak ganjil, maka genap,
sehingga terdapat bilangan bulat sehingga = 2.
3 + 2 = 3 2 + 2 = 6 + 2 = 2(3 + 1)
Karena 3 + 2 = 2 dimana t = 3 + 1, maka 3 + 2 genap ().
Karena dan keduanya benar, ini merupakan kontradiksi. Jadi
pengandaian bahwa genap bernilai salah. Kontradiksi ini
membuktikan bahwa jika 3 + 2 ganjil, maka ganjil.
1.7.7 Kesalahan dalam Pembuktian

Contoh:
Apakah kesalahan dari pembuktian 1=2 berikut ini?
Bukti: Misalkan dan bilangan bulat positif yang sama.
Langkah: Alasan:
1. = Diberikan
2. 2 = Kedua ruas dikalikan
3. 2 2 = 2 Kedua ruas dikurangi 2
4. + = ( ) Kedua ruas difaktorkan
5. + = Kedua ruas dibagi
6. 2 = Ganti dengan karena =
7. 2 = 1 Kedua ruas dibagi
Solusi:
Setiap langkah pada pembuktian diatas valid kecuali langkah 5,
kesalahannya adalah = 0; Pembagian kedua ruas pada
persamaan akan valid selama pembaginya bukan 0.
1.8 Metode dan Strategi Pembuktian
Pada subbab ini akan dipelajari beberapa aspek dari
ilmu dan seni dalam pembuktian dan akan disediakan
saran bagaimana menemukan pembuktian dari suatu
teorema. Akan dideskripsikan beberapa trik, termasuk
bagaimana pembuktian ditemukan dengan proses
mundur dan dengan mengadaptasi pembuktian yang
telah ada.
1.8.1 Pembuktian Lengkap dan Pembuktian
dengan Kasus
Suatu teorema bisa saja tidak dapat dibuktikan dengan argumentasi
tunggal yang mencakup semua kasus yang mungkin. Akan
diperkenalkan metode yang dapat digunakan untuk membuktikan
teorema dengan mempertimbangkan secara terpisah kasus-kasus
yang berbeda. Untuk membuktikan pernyataan berbentuk
(1 2 . . . )
tautologi dari
(1 2 . . . ) 1 2
Dapat digunakan sebagai aturan inferensi.
Pembuktian Lengkap: Beberapa teorema dapat dibuktikan
dengan memeriksa bilangan kecil yang relative dari contoh.
Pembuktian seperti ini disebut pembuktian lengkap atau
pembuktian dengan kelengkapan karena pembuktian ini diproses
dengan melengkapi semua kemungkinan.
Contoh:
3
Buktikan bahwa + 1 3 jika n adalah bilangan bulat positif
dengan 4.
Solusi:
Akan digunakan pembuktian lengkap. Hanya dibutuhkan
pemeriksaan pertidaksamaan + 1 3 3 ketika n = 1,2,3, dan 4.
3
Untuk = 1, diperoleh + 1 = 23 = 8 dan 3 = 31 = 3
3
Untuk = 2, diperoleh + 1 = 33 = 27 dan 3 = 32 = 9
3
Untuk = 3, diperoleh + 1 = 43 = 64 dan 3 = 33 = 27
3
Untuk = 4, diperoleh + 1 = 53 = 125 dan 3 = 34 = 81
Pada setiap 4 kasus ini, diperoleh + 1 3 3 . Jadi terbukti
bahwa + 1 3 3 jika n adalah bilangan bulat positif dengan
4 dengan metode pembuktian lengkap.
Pembuktian dengan Kasus: Pembuktian dengan kasus harus
mencakup semua kemungkinan kasus yang muncul pada suatu
teorema. Pembuktian dengan kasus diilustrasikan dengan
beberapa contoh. Pada setiap contoh, harus dipastikan bahwa
semua kemungkinan kasus tercakup.
Contoh:
Buktikan bahwa jika n bilangan bulat, maka 2 .
Solusi:
Dapat dibuktikan bahwa 2 untuk setiap bilangan bulat n
dengan mempertimbangkan 3 kasus:
Kasus (i): Ketika n = 0, karena 02 = 0, maka 02 0. Sehingga 2
benar untuk kasus ini.
Kasus (ii): Untuk n 1, ketika kedua ruas dikali dengan bilangan
bulat positif diperoleh n. n . 1. Menghasilkan 2 untuk n 1.
Kasus (iii): Pada kasus ini n 1 . Bagaimanapun, 2 0. Ini
menyebabkan 2 .
Karena pertidaksamaan 2 berlaku pada ketiga kasus, dapat
disimpulkan bahwa jika n bilangan bulat, maka 2 .
Contoh:
Tunjukkan bahwa tidak ada solusi bilangan bulat x dan y dari
2 + 3 2 = 8.
Solusi:
Pembuktian dapat direduksi menjadi memeriksa kasus sederhana
karena 2 > 8 ketika 3 dan 3 2 > 8 ketika 2. Sehingga
didapatkan kasus ketika = 2, 1,0,1, 2 dan = 1,0, 1.
Perhatikan bahwa kemungkinan nilai 2 adalah 0, 1, dan 4, dan
kemungkinan nilai 3 2 adalah 0 dan 3, dan kemungkinan jumlah
terbesar dari 2 dan 3 2 adalah 7. Sehingga tidak mungkin 2 +
3 2 = 8 dipenuhi ketika x dan y bilangan bulat.
Kesalahan yang umum pada pembuktian lengkap dan pembuktian
dengan kasus.
Contoh:
Apakah kesalahan dari pembuktian ini?
Teorema: Jika x bilangan real, maka 2 bilangan real positif.
Bukti: Misalkan 1 : x positif, 2 : x negative, dan : 2 positif. Untuk
menunjukkan bahwa 1 benar, perhatikan bahwa jika x positif
maka 2 positif karena produk perkalian 2 bilangan positif x dan x.
Untuk menunjukkan bahwa 2 benar, perhatikan bahwa jika x
negatif maka 2 positif karena produk perkalian 2 bilangan negatif x
dan x.
Solusi: Permasalahan dari pembuktian ini adalah tidak ada kasus =
0. Ketika = 0, 2 = 0 tidak positif. Jadi pembuktian teorema tersebut
menggunakan 3 kasus yaitu 1 : x positif, 2 : x negative, dan 3 : = 0.
Kemudian digunakan ekuivalensi 1 2 3 .
1.8.2 Existence Proofs

Pembuktian dari proposisi berbentuk disebut existence


proof. Terkadang pembuktian dari dapat diberikan dengan
menemukan sebuag elemen sehingga () benar. Tipe ini disebut
constructive, terdapat juga kemungkinan untuk memberikan
pembuktian nonconstructive.
Contoh:
A Constructive Existence Proof. Tunjukkan bahwa terdapat
bilangan bulat positif yang dapat ditulis sebagai jumlah dari
pangkat tiga bilangan bulat positif dalam 2 cara berbeda.
Solusi:
Setelah dilakukan perhitungan (contohnya pencarian dengan
computer) diperoleh
1729 = 103 + 93 = 123 + 13
Contoh:
A Nonconstructive Existence Proof. Tunjukkan bahwa terdapat
bilangan irasional x dan y sehingga x y rasional.
Solusi:
Pada contoh sebelumnya telah dibuktikan bahwa 2 irasional.
2
Perhatikan bilangan 2 .
2
Jika bilangan 2 rasional, dipunyai 2 bilangan irasional x dan y
y
dengan x rasional yaitu x = 2 dan y = 2.
2 2
Jika bilangan 2 irasional, maka dapat dimisalkan x = 2 dan y =
2
y 2 ( 2. 2) 2
2 sehingga x = ( 2 ) = 2 = 2 = 2.
Pembuktian ini termasuk contoh Nonconstructive Existence Proof,
karena tidak ditemukan bilangan irasional x dan y sehingga x y rasional.
Walapun kedua pasangan memiliki sifat yang diinginkan, tetapi tidak
diketahui pasangan mana yang benar.
1.8.3 Keunikan Pembuktian

Beberapa teorema menegaskan adanya elemen unik dengan sifat


tertentu. Dengan kata lain teorema ini menegaskan bahwa ada
tepat 1 elemen dengan sifat ini. Untuk membuktikan pernyataan
tipe ini, perlu ditunjukkan bahwa terdapat elemen dengan sifat ini
dan tidak ada elemen lain yang mempunyai sifat ini.
Existence: Tunjukkan bahwa ada elemen x dengan sifat yang
diinginkan.
Uniqueness: Tunjukkan bahwa jika , maka y tidak mempunyai
sifat yang diinginkan.
Hal ini sama dengan membuktikan pernyataan
.
Contoh:
Tunjukkan bahwa jika a dan b bilangan real dan a 0, maka
terdapat bilangan real unik r sehingga + = 0.
Solusi:

Perhatikan bahwa bilangan real = adalah solusi dari + =

0 karena + = + = 0. Jadi ada bilangan real r sehingga
+ = 0. Hal ini adalah bagian existence dari pembuktian.
Selanjutnya, misalkan s adalah bilangan real sehingga + = 0,

maka + = + dimana = . Kedua ruas dikurangi b
sehingga diperoleh = as. Kedua ruas dibagi dengan a yang tak
nol. Diperoleh = s. Artinya jika r , maka + 0.
Hal ini menunjukkan bagian uniqueness dari pembuktian.
1.8.4 Strategi Pembuktian

Penalaran Forward dan Backward


Metode apapun yang digunakan, diperlukan titik awal untuk
memulai pembuktian. Untuk memulai pembuktian langsung,
diawali dari premis. Bersama dengan aksioma dan teorema yang
telah diketahui, anda dapat membangun pembuktian
menggunakan urutan langkah yang mengarah kepada kesimpulan.
Penalaran jenis ini disebut penalaran forward. Namun penalaran
forward sering menemui kesulitan karena penalaran yang
diperlukan untuk meraih kesimpulan yang diinginkan dapat saja
jauh dari jelas. Dalam kasus seperti ini penalaran backward dapat
nembantu. Pada penalaran backward untuk membuktikan
pernyataan , temukan pernyataan sehingga dapat dibuktikan
dengan sifat .
Contoh:
Diberikan 2 bilangan real positif x dan y, definisi aritmatikanya adalah
+
dan definisi geometrinya adalah . Ketika membandingkan
2
definisi aritmatika dan geometri dari 2 bilangan real positif yang
berbeda, Didapatkan bahwa definisi aritmatika selalu lebih besar dari
definisi geometri. Dapatkah dibuktikan bahwa pertidaksamaan ini
selalu benar?
Solusi:
+
Untuk membuktikan bahwa > ketika x dan y bilangan real
2
positif yang berbeda, dapat digunakan penalaran backward.
+
>
2
( + )2
>
4
( + )2 > 4
2 + 2 + 2 > 4
2 2 + 2 > 0
( )2 > 0
Karena ( )2 > 0 untuk , maka ( )2 > 0 benar. Karena
+
semua pertidaksamaan di atas ekuivalen, maka > ketika
2
. Kemudian akan dibangun pembuktian menggunakan penalaran
forward.
Misalkan x dan y bilangan real positif yang berbeda, maka ( )2 >
0 karena kuadrat dari bilangan real tak nol selalu positif.
( )2 = 2 2 + 2 menghasilkan 2 2 + 2 > 0. Kedua ruas
ditambah 4x diperoleh 2 + 2 + 2 > 4. Karena 2 + 2 + 2 =
2 2 (+)2
( + ) , artinya ( + ) > 4. Kedua ruas dibagi 4 diperoleh >
4
+
. Jika kedua ruas ditarik akar kuadrat diperoleh > . Jadi
2
disimpulkan bahwa jika x dan y bilangan real positif yang berbeda,
+
maka definisi aritmatikanya lebih besar dari definisi geometrinya
2
.
Mengadaptasi pembuktian yang telah ada.
Cara yang unggul untuk mencari kemungkinan pendekatan yang dapat
digunakan membuktikan suatu pernyataan adalah menggunakan
pembuktian yang telah ada dengan hasil serupa. Sering, pembuktian
yang telah ada dapat diadaptasi untuk membuktikan fakta yang lain.
Meskipun kasusnya berbeda, beberapa ide yang digunakan pada pada
pembuktian yang sudah ada dapat membantu.
1.8.5 Mencari Counterexamples
Counterexamples atau contoh penyangkal digunakan untuk
menunjukkan bahwa pernyataan tertentu salah. Ketika dihadapkan
dengan dugaan, pertama dapat dicoba untuk membuktikan dugaan ini.
Jika tidak berhasil, dapat dicari contoh penyangkal, pertama dengan
mencari contoh paling kecil dan sederhana. Jika tidak dapat
menemukan contoh penyangkal, dapat dicoba lagi untuk membuktikan
pernyataan.
Contoh: Apakah pernyataan Setiap bilangan bulat positif adalah
jumlah dari 3 bilangan bulat kuadrat benar atau salah?
Solusi:
Untuk mencari contoh penyangkal tulis bilangan bulat positif berurutan
sebagai jumlah 3 bilangan kuadrat. 1 = 02 + 02 + 12 , 2 = 02 + 12 + 12 ,
3 = 12 + 12 + 12 , 4 = 02 + 02 + 22 , 5 = 02 + 1 2 + 2 2 , 6 = 12 + 12 + 22 ,
tetapi tidak dapat ditemukan 7 sebagai jumlah 3 bilangan kuadrat.
Perhatikan bahwa bilangan kuadrat yang mungkin digunakan adalah 0,
1, dan 4. Karena tidak ada bentuk 0, 1, dan 4 yang dapat dijumlahkan
menjadi 7, maka 7 adalah counterexamples atau contoh penyangkal.
1.8.6 Pengubinan

Pengubinan dari papan catur di atas dapat menghasilkan banyak hasil


yang berbeda dan membangun pembuktiannya menggunakan berbagai
macam metode pembuktian.
Contoh:
Dapatkah dilakukan pengubinan pada papan catur standar
menggunakan domino?
Solusi:
Dapat ditemukan banyak cara untuk melakukan pengubinan papan
catur standar menggunakan domino. Contohnya dapat ditempatkan 32
domino secara horizontal.
Adanya 1 jenis pengubinan ini telah
menunjukkan sebuah constructive
existence proof. Tentu masih ada
banyak cara lain untuk melakukan
pengubinan ini.
Contoh:
Dapatkah dilakukan pengubinan pada papan catur standar
menggunakan domino dengan menghilangkan 1 persegi pada pojok kiri
atas dan kanan bawah?
Solusi:
Diandaikan dapat digunakan domino untuk melakukan pengubinan
pada papan catur standar dengan pojok berlawanan dihilangkan.
Perhatikan bahwa papan memuat 64 2 = 62 persegi. Pengubinannya
akan menggunakan 62/2 = 31 domino. Perhatikan bahwa setiap domino
pada pengubinan ini menutup 1 persegi putih dan 1 persegi hitam.
Sehingga totalnya akan ditutup 31 persegi putih dan 31 persegi hitam.
Akan tetapi, ketika pojok berlawanan dihilangkan, persegi yang tersisa
adalah 32 putih dan 30 hitam atau 30 putih dan 32 hitam. Hal ini
merupakan kontradiksi terhadap asumsi bahwa dapat digunakan
domino untuk melakukan pengubinan pada papan catur standar dengan
pojok berlawanan dihilangkan.
1.8.7 Fungsi dari Masalah Terbuka

Teorema 1: Teorema Terakhir Fermat


Persamaan + = tidak punya penyelesaian untuk bilangan
bulat x, y, dan z dengan 0 bilamana n bilangan bulat dengan
> 2.
Remark: Persamaan 2 + 2 = 2 mempunyai banyak penyelesaian
untuk bilangan bulat x, y, dan z yang disebut Tripel Pythagoras dan
berkorespondensi dengan panjang sisi segitiga siku-siku dengan
panjang sisi bilangan bulat.
Contoh: Dugaan 3 + 1
Misal T sebagai transformasi yang mengubah bilangan bulat genap

menjadi 2 dan bilangan bulat ganjil menjadi 3 + 1. Sebuah
dugaan yang terkenal disebut dugaan 3 + 1, menyatakan bahwa
untuk semua bilangan bulat positif x, ketika transformasi T
diterapkan secara berulang akan menuju bilangan bulat 1.
Sebagai contoh, dimulai dari = 13, diperoleh
40 20
13 = 3.13 + 1 = 40, T 40 = = 20, 20 = = 10,
2 2
10
10 = = 5, 5 = 3.5 + 1 = 16, 16 = 8, 8 = 4,
2
4 = 2, 2 = 1.
Dugaan 3 + 1 telah diverifikasi menggunakan computer untuk
semua bilangan bulat x sampai 5,6 1013 .
SOAL LATIHAN

Exercise 1.6:
9b. If I eat spicy foods, then I have strange dreams. I have strange
dreams if there is thunder while I sleep. I did not have strange
dreams.
Solution:
Let be the proposition I eat spicy foods, the proposition I
have strange dreams, the proposition There is thunder. Then the
premises become , , dan .
Steps Reason
1. Premise
2. Premise
3. Modus tollens using (1) and (2)
4. Premise
5. Modus tollens using (4) and (2)
6. Conjuction using (3) and (5)
Conclusion: I did not eat spicy foods and it did not thunder
SOAL LATIHAN

9c. I am either clever or lucky. I am not lucky. If I am lucky,


then I will win the lottery.
Solution:
Let be the proposition I am clever, the proposition I am
lucky, the proposition Ill win the lottery. Then the premises
become , , dan .
Steps Reason
1. Premise
2. Commutative (1)
3. Premise
4. Disjunctive Syllogism (2) dan (3)
Conclusion: I am clever.
SOAL LATIHAN

9d. Every computer science major has a personal computer.


Ralph does not have a personal computer. Ann has a personal
computer.
Solution:
Let () be is CS Major. () be has a personal
computer. Then the premises are
SOAL LATIHAN
9e. What is good for corporations is good for the United States. What is
good for the United States is good for you. What is good for corporations
is for you to buy lots of stuff.
Solution:
Let be is good for corporations, be is good for The United
States, be is good for you, and be is for you to buy lots of stuff.
Then the premises are , , and
Steps Reason
1. Premise
2. Premise
3. Hypotetical Syllogism (1) dan (2)
4. Premise
5. Hypotetical Syllogism (3) dan (4)
6. Logical equivalence in conditional statement (3)
7. Logical equivalence in conditional statement (5)
8. ( ) ( ) Conjunction (6) and (7)
9. ( ) Distributive (8)
10. ( ) Logical equivalence in conditional statement (9)
Conclusion: That you buy lots of stuff is good for the U.S. and is good for you
SOAL LATIHAN
9f. All rodents gnaw their food. Mice are rodents. Rabbits do
not gnaw their food. Bats are not rodents.
Solution:
Let () be is rodent. () be gnows his food. Then
the premises are , (), , and

Steps Reason
1. Premise
2. Universal instantiation from (1)
3. () Premise
4. Modus ponens from (2) and (3)
5. Universal instantiation from (1)
6. Premise
7. Modus tollens from (5) and (6)
8. Conjunction (4) dan (7)
Conclusion: Mice gnaw their food and Rabbits are not rodents
SOAL LATIHAN
20a. Tentukan apakah argument berikut valid.
Jika adalah bilangan real positif, maka 2 adalah bilangan real
positif. Oleh karena itu, jika 2 adalah bilangan positif, dengan
adalah bilangan real, maka adalah bilangan real positif.
Solusi:
Let : adalah bilangan real positif, : 2 adalah bilangan real
positif.
Bentuk argument:


Argument tersebut tidak valid karena tidak mengikuti aturan
inferensi.
SOAL LATIHAN
20b. Tentukan apakah argument berikut valid.
Jika 2 0, dengan adalah bilangan real, maka 0. Misal
adalah bilangan real dengan 2 0, maka 0.
Solusi:
Let (): 2 0, dengan adalah bilangan real, : 0, dengan
adalah bilangan real.
Bentuk argument:
(), dimana adalah anggota domain
()
Argument tersebut valid karena tidak mengikuti aturan inferensi
Modus Ponens Universal.
SOAL LATIHAN
Exercise 1.7
17. Tunjukkan bahwa jika adalah bilangan bulat dan 3 + 5 adalah
bilangan ganjil maka adalah bilangan genap.
a. Pembuktian dengan kontraposisi
Misalkan: = 3 + 5 adalah bil ganjil dengan adalah bil bulat
= adalah bilangan genap
Dengan kontraposisi, asumsikan bahwa benar kemudian akan
ditunjukkan bahwa benar.
= adalah bilangan ganjil
Berdasarkan definisi bil ganjil, = 2 + 1 dengan suatu bil
bulat. Diperoleh
3 + 5 = (2 + 1)3 +5 = 8 3 + 12 2 + 6 + 6 = 2(4 3 + 6 2 + 3 + 3)
Karena bil bulat, maka 4 3 + 6 2 + 3 + 3 juga bil bulat.
Berdasarkan definisi bil genap, diperoleh 3 + 5 adalah bil genap.
Jadi benar. Terbukti bahwa jika adalah bilangan bulat dan 3 + 5
adalah bilangan ganjil maka adalah bilangan genap.
SOAL LATIHAN
b. Pembuktian dengan kontradiksi
Dengan kontradiksi, asumsikan bahwa benar.
= adalah bilangan ganjil
Berdasarkan definisi bil ganjil, dapat dinyatakan sebagai 2 + 1
dengan suatu bil bulat.
Akan ditunjukkan bahwa benar yaitu 3 + 5 adalah bil ganjil
dengan adalah bil bulat
Diperoleh
3 + 5 = (2 + 1)3 +5 = 8 3 + 12 2 + 6 + 6 = 2(4 3 + 6 2 + 3 + 3)
Karena bil bulat, maka 4 3 + 6 2 + 3 + 3 juga bil bulat.
Berdasarkan definisi bil genap, diperoleh 3 + 5 adalah bil genap.
Terjadi kontradiksi, sehingga pengandaian adalah bilangan ganjil
bernilai salah.
Terbukti bahwa jika adalah bilangan bulat dan 3 + 5 adalah bilangan
ganjil maka adalah bilangan genap.
SOAL LATIHAN
35. Apakah langkah-langkah menemukan solusi berikut benar?
1. +3=3 diberikan
2. + 3 = 2 6 + 9 kuadratkan kedua ruas pada (1)
3. 0 = 2 7 + 6 kedua ruas dikurangi + 3
4. 0 = 1 6 memfaktorkan ruas kanan
5. = 1 atau = 6 karena = 0 menghasilkan = 0 atau
=0
Solusi:
Terdapat langkah yang salah yaitu langkah 5:
Solusi yang tepat hanyalah = 1 karena syarat nilai adalah
+ 3 0 dan 3 0
3 dan 3
3 3
Oleh karena itu = 6 tidak memenuhi.
SOAL LATIHAN
Exercise 1.8
29. Buktikan bahwa tidak ada bilangan bulat positif sehingga 2 + 3 = 100.
Solusi:
Pertama kasus disederhanakan menjadi:
3 > 100 ketika > 4 dan 2 > 100 ketika > 10, sehingga syarat yang
membuat persamaan 2 + 3 = 100 tidak memenuhi adalah > 4.
Jadi kasus yang harus diperiksa adalah 4 yaitu = 1, 2, 3, 4 diperoleh:
= 1; 2 + 3 = 12 + 13 = 2
= 2; 2 + 3 = 22 + 23 = 12
= 3; 2 + 3 = 32 + 33 = 36
= 4; 2 + 3 = 42 + 43 = 80
Jadi terbukti bahwa tidak ada bilangan bulat positif sehingga 2 + 3 =
100.
SOAL LATIHAN
42. Anda dapat menggunakan domino untuk pengubinan sebuah papan catur
standar dengan ke-4 pojoknya dihilangkan.
Solusi:
Perhatikan bahwa papan memuat 64 4 = 60 persegi. Pengubinannya akan
60
menggunakan 2
= 30 domino. Perhatikan bahwa setiap domino pada
pengubinan menutup 1 persegi putih dan 1 persegi hitam, sehingga total akan
ditutup 30 persegi putih dan 30 persegi hitam.
Jika ke-4 pojok dihilangkan maka 2 persegi hitam dan 2 persegi putih hilang.
Oleh karena itu tersisa 30 persegi putih dan 30 persegi hitam.
Jadi dapat menggunakan domino untuk pengubinan sebuah papan catur
standar dengan ke-4 pojoknya dihilangkan.
TERIMA KASIH