Anda di halaman 1dari 9

LAPORAN PENDAHULUAN

DENGAN RETENSI URIN POST PARTUM DI RUANG FLAMBOYAN

RSUD PROF. MARGONO SOEKARJO

DISUSUN OLEH :

ANNISA INDAH ISLAMI

1611040006

PRORAM STUDI PENDIDIKAN NERS


FAKULTAS ILMU KESEHATAN
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH PURWOKERTO
2017
A. Pengertian
Retensio urine akut dapat didefinisikan sebagai rasa nyeri mendadak
yang timbul akibat tidak bisa berkemih selama 24 jam, membutuhkan
pertolongan kateter dengan reduksi urine keluar kurang 50% dari kapasitas
sistometer. Kandung kemih yang normal kosong secara sempurna, pada
retensio urine kronik terjadi kegagalan pengosongan kandung kemih.
Retensio urine adalah tidak bisa berkemih selama 24 jam yang
membutuhkan pertolongan kateter, karena tidak dapat mengeluarkan urine
lebih dari 50% kapasitas kandung kemih pada saat berkemih. Biasanya
berkemih spontan harus sudah terlaksana dalam 6 jam sesudah melahirkan.
Apabila setelah 6 jam pasien tidak dapat berkemih dinamakan retensio
urine post partum (Winkjosastro, 2007).
Retensi urine adalah ketidakmampuan untuk mengosongkan isi kandung
kemih sepenuhnya selama proses pengeluaran urine. (Brunner and
Suddarth, 2010).
Dapat disimpulkan bahwa Retensio urine adalah ketidakmampuan untuk
mengosongkan kandung kemih secara spontan. Gejala yang ada meliputi
tidak adanya kemampuan sensasi untuk mengosongkan kandung kemih
ketika buang air kecil, nyeri abdomen bawah atau tidak bisa berkemih
sama sekali. Retensio urine dapat terjadi secara akut maupun kronik.
B. Etiologi
Secara umum, retensio urine post partum dapat disebabkan oleh trauma
intra partum, reflek kejang sfingter uretra, hipotonia selama hamil dan nifas,
ibu dalam posisi tidur terlentang, peradangan, psikogenik dan umur yang tua
(Winkjosastro, 2007).

C. Tanda dan gejala


1. Diawali dengan urine mengalir lambat.
2. Kemudian terjadi poliuria yang makin lama menjadi parah karena
pengosongan kandung kemih tidak efisien.
3. Terjadi distensi abdomen akibat dilatasi kandung kemih.
4. Terasa ada tekanan, kadang terasa nyeri dan merasa ingin BAK.
5. Pada retensi berat bisa mencapai 2000 -3000 cc

D. Patofisioogi

Kegagalan pengosongan kandung kemih disebabkan oleh karena


menurunnya kontraktilitas kandung kemih, meningkatnya tahanan keluar,
atau keduanya. Kontraktilitas otot kandung kemih dihasilkan karena adanya
perubahan sementara atau permanen mekanisme neuomuskular yang
diperlukan untuk menimbulkan dan mempertahankan kontraksi detrusor
normal atau bisa karena mekanisme refleks sekunder terhadap rangsang nyeri
khususnya di area pelvis dan perineum. Penyebab non neurogenik termasuk
kerusakan fungsi otot kandung kemih yang bisa disebabkan karena
peregangan berlebih, infeksi atau fibrosis.

Pada keadaan post partum, kapasitas kandung kemih meningkat, tonus


menurun, kurang sensitif terhadap tekanan intra vesikal, serta cepatnya
pengisian kandung kemih karena penggunaan oksitosin yang anti diuretik,
menyebabkan peregangan kandung kemih secara berlebihan. Kapasitas
kandung kemih bertahan sekitar 200 cc.

Retensio urine post partum dapat terjadi akibat edema periurethra,


laserari obstetrik, atau desensitifitas vesika urinaria oleh anestesi epidural.
Pada persalinan dengan tindakan bedah obstetri sering di jumpai retensio
urine post partum. Luka pada daerah perineum yang luas, hematoma, trauma
saluran kemih bagian bawah, dan rasa sakit akan mengakibatkan retensio uri.
Rasa nyeri yang hebat pada perlukaan jalan lahir akan mengakibatkan otot
dasar panggul mengadakan kontraksi juga sfingter uretra eksterna sehingga
pasien tidak sadar menahan proses berkemih.

Edema uretra dan trigonum yang disertai ekstravasasi darah di sub


mukosa dinding kandung kemih menyebabkan retensio urine. Hal ini bisa
disebabkan karena penekanan kepala janin pada dasar panggul terutama
partus kala II yang terlalu lama. Lama persalinan lebih dari atau sama dengan
800 menit berhubungan dengan retensio urine post partum. Hal lain yang
menjadi penyebab edema uretra dan trigonom adalah trauma kateteritasi yang
berulang-ulang dan kasar, dan infeksi saluran kemih yang akan menimbulkan
kontraksi otot detrusor yang tidak adekuat. Pemakaian anastesi dan analgesik
pada persalinan seksio sesaria dapat menyebabkan terganggunya kontrol
persyarafan kandung kemih dan uretra.

E. Pathway

F. Penatalaksanaan

Terapi yang tepat untuk pasien dengan retensio urine akut tidak
hanya untuk mengurangi gejala tetapi juga untuk mencegah kerusakan lebih
lanjut pada fungsi vesika urinaria. Peregangan yang berlebihan pada vesika
urinaria dapat menyebabkan dilatasi dari traktus urogenitalia bagian atas
yang selanjutnya dapat mempengaruhi fungsi ginjal. Karena itu tujuan
utama kasus ini adalah membuat drainase vesika urinaria. Tindakan drainase
mungkin dapat diawali dengan pemasangan kateter transurethral. Kateter
harus ditinggalkan sampai pasien bisa buang air kecil spontan. Pada
beberapa pasien dengan retensio urine akut mungkin hanya membutuhkan
pemasangan kateter satu kali, tetapi pada pasien lain (khususnya post
operasi) membutuhkan pemasangan kateter dalam jangka waktu yang lama.

Untuk menghilangkan gejala overdistensi vesika urinaria biasanya kateter


dipasang dan ditinggal selama paling sedikit 24 jam untuk mengosongkan
vesika urinaria. Jika kateter sudah dilepas harus segera di nilai apakah
pasien sudah buang air kecil secara spontan. Bila pasien tidak bisa buang air
kecil secara spontan setelah 4 jam, kateter harus dipasang kembali dan
volume residu urin harus di ukur. Apabila volume residu urin > 200 cc atau
100 cc pada post operasi ginekologi, kateter harus di pasang kembali.

Pada retensio urine digunakan obat-obatan yang dapat meningkatkan


kontraksi kandung kemih dan yang menurunkan resistensi uretra.

1. Obat yang kerjanya di sistem saraf parasimpatis


Biasanya digunakan obat kolinergik, yaitu obat-obatan yang kerjanya
menyerupai asetilkolin. Asetilkolin sendiri tidak digunakan dalam klinik
mengingat efeknya difus/non spesifik dan sangat cepat di metabolisir
sehingga efeknya sangat pendek. Obat kolinergik bekerja di ganglion
atau di organ akhir (end organ) tetapi lebih banyak di sinaps organ akhir,
yaitu yang disebut dengan efek muskarinik. Obatobatan tersebut antara
lain : betenekhol, karbakhol, metakholin dan furtretonium.
2. Obat yang bekerja pada sistem saraf simpatis
Obat yang menghambat (antagonis) reseptor diperlukan untuk
menimbulkan kontraksi kandung kemih, sedangkan obat antagonis di
pergunakan untuk menimbulkan relaksasi uretra. Yang telah digunakan
secara klinis adalah antagonis , yaitu fenoksibemzamin. Penghambat
reseptor belum tersedia penggunaannya dalam klinik.
3. Obat yang bekerja langsung pada otot polos
Beberapa obat yang telah di coba adalah : barium klorida, histamin,
ergotamin dan polipeptida aktif, akan tetapi belum dapat digunakan
secara klinis karena efeknya tidak spesifik.

Prostagladin telah terbukti dapat mempengaruhi kerja otot-otot


detrusor. Desmond menyatakan bahwa pengaruh prostaglandin terhadap
kandung kemih adalah meningkatkan sensitifitas kandung kemih,
meningkatkan tonus dan kontraktilitas otot detrusor, dan juga dapat
dipergunakan untuk mengembalikan otot-otot ini jika terganggu
kemampuannya dalam menanggapi stimulusi berkemih normal.

Selama pemasanggan kateter menetap ini pasien disuruh minum


banyak kurang dari 3000 ml selama 24 jam, mobilisasi dan di periksa
urinalisis. Selanjutnya di lakukan kateter buka tutup tiap 4 jam kecuali
jika ada perasaan Pasien ingin berkemih kateter dibuka. Apabila tidak ada
rasa ingin berkemih selama 6 jam maka keteter di buka dan di ukur
volumenya. Proses buka tutup kateter ini dilakukan selama 24 jam dan
pasien tetap minum banyak berkisar 3000 ml/24 jam. Setelah itu kateter
di lepas dan pasien minum biasa 50-100 ml/jam. Diharapkan dalam
waktu 6 jam pasien dapat berkemih spontan. Bila tidak bisa pasien
dikateter intemitten untuk mengetahui volume urin sisa. Bila volume urin
sisa kurang dari 200 ml pasien boleh pulang. Tetapi apabila volume urin
sisa lebih dari 200 ml dan kurang dari 500 ml maka dilakukan katetrisasi
intermitten pasien disuruh minum biasa (50-100 ml/jam) (Winkjosastro,
2007)

G. Pemeriksaan penunjang
1. Pemeriksaan specimen urine.
2. Pengambilan: steril, random, midstream
3. Penagmbilan umum: pH, BJ, Kultur, Protein, Glukosa, Hb, Keton dan
Nitrit.
4. Sistoskopi ( pemeriksaan kandung kemih

H. Diagnosa keperawatan dan Intervensi


1. Retensi urin berhubungan dengan ketidakmampuan kandung kemih untuk
berkontraksi dengan adekuat.
Tujuan : Setelah dilakukan tindakan keperawatan 3 X 24 jam masalah
retensi urine dapat teratasi.
Kriteria hasil :
- Berkemih dengan jumlah yang cukup
- Tidak teraba distensi kandung kemih

Intervensi :

a.Dorong pasien utnuk berkemih tiap 2-4 jam dan bila tiba-tiba
dirasakan. R : Meminimalkan retensi urin dan distensi berlebihan pada
kandung kemih.
b. Awasi dan catat waktu dan jumlah tiap berkemih.R : Retensi urin
meningkatkan tekanan dalam saluran perkemihan atas.
c.Perkusi/palpasi area suprapubik.R: Distensi kandung kemih dapat
dirasakan diarea suprapubik.

2. Gangguan rasa nyaman nyeri berhubungan dengan distensi pada kandung


kemih.
Tujuan : Setelah dilakukan tindakan keperawatan 3 X 24 jam masalah nyeri
dapat teratasi.
Kriteria hasil :
- Menyatakan nyeri hilang / terkontrot
- Menunjukkan rileks, istirahat dan peningkatan aktivitas dengan tepat

Intervensi :

a. Kaji nyeri, perhatikan lokasi, intensitas nyeri.R : Memberikan


informasi untuk membantu dalam menetukan intervensi.
b. Plester selang drainase pada paha dan kateter pada
abdomen.R : Mencegah penarikan kandung kemih dan erosi
pertemuan penis-skrotal.
c. Pertahankan tirah baring bila diindikasikannyeri.R : Tirah baring
mungkin diperlukan pada awal selama fase retensi akut.
d. Berikan tindakan kenyamanan.R : Meningktakan relaksasi dan
mekanisme koping.
3. Intoleransi aktivitas berhubungan dengan tirah baring, nyeri, kelemahan
otot.
Tujuan : Setelah dilakukan tindakan keperawatan 3 X 24 jam masalah
intoleransi aktivitas dapat teratasi.
Kriteria Hasil : Menunjukkan peningkatan toleransi terhadap aktivitas
yang dapat diukur dengan tidak adanya dispnea, kelemahan, tanda vital
dalam rentang normal.
Intervensi :
a. Evaluasi respon klien terhadap aktivitas.R : Menetapkan
kemampuan/kebutuhan pasien dan memudahkan pilihan intervensi.
b. Berikan lingkungan tenang dan batasi pengunjung selama fase akut
sesuai indikasi. R : Menurunkan stres dan rangsangan berlebihan,
meningkatkan istirahat.
c. Jelaskan pentingnya istirahat dalam rencana pengobatan dan perlunya
keseimbangan aktivitas dan istirahat. Tirah baring dapat menurunkan
kebutuhan metabolik, menghemat energi untuk penyembuhan.
d. Bantu aktivitas perawatan diri yang diperlukan. R : Pembatasan
aktivitas ditentukan dengan respons individual pasien terhadap
aktivitas
Daftar Pustaka

Brunner and Suddarth. (2010). Text Book Of Medical Surgical Nursing 12th
Edition. China : LWW.

Doenges, Marilynn E. (2000). Rencana Asuhan Keperawatan. Jakarta: EGC.

Winkjosastro. (2007). Asuhan Keperawatan maternal. Semarang : UNNES

http://mayuputri.blogspot.co.id/2014/07/retensio-urine-askeb_3.html

http://ekofebriyanto27.blogspot.co.id/2014/01/laporan-pendahuluan-retensi-
urine.html