Anda di halaman 1dari 9

BAB I

PENDAHULUAN

A.I LATAR BELAKANG


Beberapa faktor yang mempengaruhi proses pembentukan Endapan bijih mangan
yaitu proses hidrotermal ( sirkulasi air panas) ,cebakan sedimenter (setiap konsentrasi lokal
mineral yang terbentuk oleh proses sedimentasi). Endapan mangan juga dapat terbentuk
dalam lingkungan batuan vulkanik (tuff) setempat dalam gamping (kapur).Endapan mangan
sedimenter merupakan endapan bijih Mn yang banyak dijumpai dan mempunyai nilai
ekonomis. Manganese Oolites dan Manganese Shales terbentuk dilingkungan laut.
Pirolusit merupakan salah satu anggota kelompok senyawa Mn,dapat pula terbentuk karena
proses pelapukan bijih sejenis yang kemudian membentuk endapan residu.
Mn adalah unsur kimia dengan nomor atom 25 dan massa atom 54,9380. Mangan ini
merupakan unsur logam berwarna abu-abu kehitaman dngan titik lebur 1.245 C dan titik
didih 2.097 C.Konfigurasi elektron mn dengan nomor atom 25 adalah
1s2 2s2 2p6 3s2 3p6 3d5 4s2.. Mangan mempunyai warna abu-abu kehitaman dengan kilap
metalik sampai submetalik, kekerasan 2 6, berat jenis 4,8, massa jenis 7.21 g/cm3,
berbentuk massif, reuniform, botryoidal, stalaktit, serta kadang-kadang berstruktur fibrous.

A.II TUJUAN
Tujuan pembuatan makalah mengenai unsur mangan ini selain untuk memenuhi tugas
mata kuliah Endapan Mineral juga untuk menambah pengetahuan pembaca mengenai siklus
unsur Mangan (Mn).
BAB II
PEMBAHASAN

II.A SEJARAH MANGAN


Mangan termasuk batuan beku. Bijih mangan utama berasal dari pirolusit (MnO 2) dan
psilomelan (Ba,H2O)2Mn5O10, yang mempunyai komposisi oksida dan terbentuk dalam
cebakan sedimenter dan residu.
Menurut park (1956), cebakan mangan dibagi dalam 5 tipe yaitu
;Cebakanhidrothermal, Cebakan sedimenter, baik bersama-sama maupun tanpa affiliasi atau
hubungan vulkanik, Cebakan yang berasosiasi dengan aliran lava bawah laut, Cebakan
metamorfosa (proses malihan), Cebakan laterit dan akumulasi residual
Mangan juga terdapat sebagai nodul, yaitu endapan mirip batuan dengn akomposisi
kira-kira 15-30 % Mn yang dalam bentuk oksidanya bersama-sama dengan oksida-oksida Fe,
Co, Cu, dan Ni. Nodul ini berupa butiran-butiran bola dengan diameter beberapa millimeter
sampai dengan 15 cm, dan terakumulasi dalam dasar lautan.
Mangan yang berkomposisi dengan oksida lainnya namun berperan bukan sebagai
mineral utama dalam cebakan bijih adalah bauxit, manganit, hausmannite, dan lithiophilite,
sedangkan yang berkomposisi karbonat adalah rhodokrosit, serta rhodonit yang berkomposisi
silika. Endapan bijih mangan dapat terbentuk dari beberapa cara yaitu proses hidrotermal
yang dapat dijumpai dalam bentuk (vein), metamorfik dan cebakan sedimenter dan
residual (Asril Riyanto., 1989). Bijih mangan utama
adalah pirolusit(MnO2) dan psilomelan [(BaH2O)2.Mn5O10] yang mempunyai komposisi
oksida dan terbentuk dalam cebakan sedimenter dan residu. Mangan mempunyai warna abu-
abu besi dengan kilap metalik sampai submetalik. Mangan berkomposisi oksida lainnya
namun berperan bukan sebagai mineral utama dalam cebakan bijih
adalah bauxit,manganit (Mn2O3.H2O), hausmanit (Mn3O4), dan lithiofori, sedangkan yang
berkomposisi karbonat adalah rhodokrosit (MnCO3), serta rhodonit yang berkomposisi silika.
Biji mangan (Mn) 95% dimanfaatkan untuk industri baja. Kegunaan mangan sangat
luas, baik untuk tujuan metalurgi maupun non-metalurgi. Untuk tujuan non-metalurgi,
mangan digunakan untuk produksi baterai, kimia, keramik dan gelas, glasir dan frit, pertanian,
proses produksi uranium, dan lainnya. Di Indonesia, industri hilir pemakai mangan adalah
industri baterai, keramik dan porselein, industri logam, dan industri korek api.
Potensi bijih mangan di Indonesia terdapat di Pulau Sumatera, Kepulauan Riau, Pulau
Jawa, Pulau Kalimantan, Pulau Sulawesi, Maluku. Papua, NTB dan NTT. Deposit bijih
mangan yang ada di NTT, sebagian besar terdapat di pulau Timor (kawasan lempeng
metalurgi) dan di pulau Flores khususnya di Kabupaten Manggarai.
II.B SIKLUS MANGAN
Mangan diserap dalam bentuk ion Mn++, seperti unsur hara lainnya, Mn dianggap
dapat diserap dalam bentuk kompleks khelat. Mn dalam tanaman tidak dapat bergerak atau
beralih tempat dari organ yang satu ke organ lain yang membutuhkan. Mangan terdapat dalam
tanah berbentuk senyawa oksida, karbonat dan silikat dengan nama pyrolusite (MnO2),
manganite (MnO(OH)), rhododhirosite (MnCO3) dan rhodoinite (MnSiO3) (Davidesau,
1980). Mn umumnya terdapat dalam batuan primer terutama dalam bahan ferro magnesium.
Mn dilepaskan dari batuan karena proses pelapukan batuan. Hasil pelapukan batuan. Hasil
pelapukan batuan adalah mineral sekunder, terutama pyrolusite (MnO2) dan mangannite
(MnO(OH)). Kadar Mn dalam tanah berkisar antara 300-2000 ppm. Bentuk Mn dapat berupa
kation Mn2+ atau mangan oksida, baik bervalensi dua maupun valensi empat.
Mangan ada di air tanah umumnya dalam frekuensi yang lebih kecil dan konsentrasi
yang lebih kecil (lebih dari 0.2 ppm) dari iron yang mirip sifatnya. Dijumpai sebagai mangan
bicarbonate yang terlarut yang berubah menjadi mangan hidroksida yang tidak larut jika
berkontak dengan oksigen. Kotoran yang disebabkan mangan lebih sulit dihilangkan daripada
iron. Slime yang dibuat oleh bakteri serupa dengan bakteri iron yang juga mengoksidasi
garam mangan menjadi bentuk tidak terlarut. Mangan terlarut dan iron dapat distabilkan
dengan penambahan sejumlah kecil sodium hexametaphosphate ke air tanah sebelum
berkontak dengan udara. Ini menunda presipitasi campuran iron dan mangan, waktu
penundaan bervariasi dengan kuantitas bahan kimia yang ditambahkan. Adapun bakteri
pengoksidasi mangan yang umum antara lain Leptothrix discophora.
Siklus mangan ini dapat kita lihat dalam suatu proses produksi fuel gas baru dari
sumber karbon padat. Pada siklus mangan ini terdapat empat tahap, antara lain :
1. Produk carbide yang berasal dari Mn (oksida) dan karbon padat

xMn + yC MnxCy atau, xMnOz + (y+zx)C MnxCy + xzCO


2. Produk fuel gas yang berasal dari hydrolysis carbide

MnxCy + H2O H2 + hydrocarbon + xMn(OH)2


1. Reaksi oksidasi yang spontan dari Mn(OH) 2 menjadi Mn2O3

2. Regenerasi karbit dari Mn2O3 dan sumber karbon baru.

Terdapat tiga siklus unsur mangan, yaitu :

1. SIKLUS UNSUR MANGAN (Mn) PADA TANAMAN


Pertumbuhan, perkembangan dan produksi suatu tanaman ditentukan oleh dua faktor utama
yaitu faktor genetik dan faktor lingkungan. Salah satu faktor lingkungan yang sangat
menentukan lajunya pertumbuhan, perkembangan da produksi suatu tanaman adalah
tersedianya unsur-unsur hara yang cukup di dalam tanah. Diantaranya 105 unsur yang ada di
atas permukaan bumi, ternyata baru 16 unsur yang mutlak diperlukan oleh suatu tanaman
untuk dapat menyelesaikan siklus hidupnya dengan sempurna. Ke 16 unsur tersebut terdiri
dari 9 unsur makro dan 7 unsur mikro. 9 unsur makro dan 7 unsur mikro inilah yang disebut
sebagai unsur -unsur esensial. ada tiga kriteria yang harus dipenuhi sehingga suatu unsur
dapat disebut sebagai unsur esensial:
a. Unsur tersebut diperlukan untuk menyelesaikan satu siklus hidup tanaman secara normal.
b. Unsur tersebut memegang peran yang penting dalam proses biokhemis tertentu dalam
tubuh tanaman dan peranannya tidak dapat digantikan atau disubtitusi secara keseluruhan oleh
unsur lain.
c. Peranan dari unsur tersebut dalam proses biokimia tanaman adalah secara langsung dan
bukan secara tidak langsung.
Tanah merupakan suatu sistem yang kompleks, berperan sebagai sumber kehidupan tanaman
yaitu air, udara dan unsur hara. Tembaga (Cu), seng (Zn), besi (Fe) dan mangan (Mn)
merupakan beberapa contoh unsur hara mikro yang esensial bagi tanaman karena walaupun
diperlukan dalam jumlah relatif sedikit tetapi sangat besar peranannya dalam metabolisme di
dalam tanaman (Cottenie, 1983, Harmsen, 1977).
Pemupukan yang tidak diikuti dengan peningkatan produksi karena hanya memenuhi
beberapa unsur hara makro saja, sementara unsur mikro yang lain tidak terpenuhi. Padahal
meskipun dibutuhkan dalam jumlah yang lebih sedikit, unsur mikro ini tidak kalah pentingnya
dengan unsur hara makro sebagai komponen struktural sel yang terlibat langsung dalam
metabolisme sel dan aktivitas enzim.
Ketersediaan unsur-unsur esensial didalam tanaman sangat ditentukan oleh pH. N pada pH
5.5 - 8.5, P pada pH 5.5 - 7.5 sedangkan K pada pH 5.5 - 10 sebaliknya unsur mikro relatif
tersedia pada pH rendah. Hal ini disebabkan karena pada pH tersebut semua unsur hara
esensial baik makro maupun mikro berbeda dalam keadaan yang siap untuk diserap oleh akar
tanaman sehingga dapat menjamin pertumbuhan dan produksi tanaman.
Tingkat ketersediaan unsur hara mikro bagi tanaman sangat tergantung pada pH tanah, proses
oksidasi reduksi, adanya unsur yang berlebihan dan bahan organik tanah.
Reaksi unsur hara mikro di dalam tanah pada setiap jenis tanah berbeda-beda. Pada tanah
yang ber-pH rendah atau bersifat masam, beberapa unsur mikro lebih banyak tersedia
terutama dalam bentuk kation diantaranya Fe, Mn, Zn dan Cu. Bila pH tanah naik maka
bentuk ion dari kation tersebut berubah menjadi hidroksida/oksida yang tidak tersedia bagi
tanaman. Hal yang perlu diperhatikan dalam hubungannya dengan tanaman adalah bahwa
setiap jenis tanaman berbeda-beda kebutuhannya akan unsur mikro sehingga kelebihan sedikit
saja akan bersifat racun bagi tanaman.
Pada umumnya proses oksidasi terjadi bila didukung oleh pH yang tinggi sedangkan pada pH
yang rendah/masam akan terjadi reduksi. Mn, Fe, dan Cu dalam kondisi teroksidasi umumnya
kurang larut pada pH yang biasa dijumpai dalam tanah dibandingkan keadaan tereduksi pada
tanah-tanah yang sangat masam (reduktif).
Mangan paling banyak diserap dalam bentuk ion mangan. Keberadaan unsur mangan
biasanya bersama-sama dengan unsur besi dan unsur besi biasanya terdapat di air tanah. Air
tanah umumnya mempunyai konsentrasi karbon dioksida yang tinggi hasil penguraian
kembali zat-zat organik dalam tanah oleh aktivitas mikroorganisme, serta mempunyai
konsentrasi oksigen terlarut yang relatif rendah, menyebabkan kondisi anaerobik. Kondisi ini
menyebabkan konsentrasi besi dan mangan bentuk mineral tidak larut (Fe3+ dan Mn4+)
tereduksi menjadi besi dan mangan yang larut dalam bentuk ion bervalensi dua (Fe2+ dan
Mn2+). Meskipun besi dan mangan pada umumnya terdapat dalam bentuk terlarut
bersenyawa dengan bikarbonat dan sulfat, juga ditemukan kedua unsur tersebut bersenyawa
dengan hidroden sulfida (H2S).
Berikut ini berbagai bakteri berperan dalam mengkatalis reaksi pengubahan bentuk-bentuk
Mn:
Corynebacterium sp. mengoksidasi kation Mn2+ menjadi Mn4+ (Mn2O3dan MnO2).Mn2+
+ O2 + H2O MnO2 + 2H+
Bacillus pycocyaneus mereduksi Mn4+
(Mn2O3 dan MnO2) menjadi kation Mn2+ yang mudah larut dan lebih mobil pada suasana
anaaerob.

2. SIKLUS UNSUR MANGAN (Mn) DI DALAM AIR TANAH


Selain itu besi dan mangan ditemukan pula pada air tanah yang mengandung asam yang
berasal dari humus yang mengalami penguraian dan dari tanaman atau tumbuhan yang
bereaksi dengan unsur besi untuk membentuk ikatan kompleks organik. konsentrasi mangan
pada umumnya kurang dan 1,0 mg/l.
Pada air permukaan yang belum diolah ditemukan konsentrasi mangan rata-rata lebih dari 1
mg/l, walaupun demikian dalam keadaan tertentu unsur mangan dapat timbul dalam
konsentrasi besar pada suatu reservoir/tandon atau sungai pada kedalaman dan saat tertentu.
Hal ini terjadi akibat adanya aktivitas mikroorganisme dalam menguraikan dan mereduksi
bahan organik dan mangan (IV) menjadi mangan (II) pada kondisi hypolimnion (kondisi
adanya cahaya matahari).
Mangan terdapat dalam bentuk kompleks dengan bikarbonat, mineral dan organik. Unsur
mangan pada air permukaan berupa ion bervalensi empat dalam bentuk organik kompleks.
3. SIKLUS UNSUR MANGAN (Mn) DI DALAM TANAH
Kadar Mn dalam kerak bumi sejkitar 900 ppm dan kadar dalam tanah bervariasi antara 20
ppm sampai 3.000 ppm dan nilai rata-rata yang relative tinggi sebesar 1.000 ppm.Mangan
terdapat dalam tanah berbentuk senyawa oksida, karbonat dan silikat dengan nama sebagai
berikut :
Nama Susunan ;
Pyrolucite
Manganite
Braunite
Hausmanite
rhodochrocit MnO2
MnOOH
(MnSi)2O3
Mn3O4
MnCO3
Mangan umumnya terdapat dalam batuan primer, terutama dalam bahan ferro
magnesium. Mn dilepaskan dari batuan karena proses pelapukan batuan. Hasil pelapukan
batuan adalah mineral sekunder terutama pyrolusit (MnO2) dan manganit (MnO(OH)). Kadar
Mn dalam tanah berkisar antara 20 sampai 3000 ppm. Bentuk Mn dapat berupa kation Mn++
atau mangan oksida, baik bervalensi dua maupun valensi empat. Penggenangan dan
pengeringan yang berarti reduksi dan oksidasi pada tanah berpengaruh terhadap valensi Mn.
Sumber- sumber mangan (Mn) :
a. Batuan mineral Pyroluste Mn O2
b. Batuan mineral Rhodonite Mn SiO3
c. Batuan mineral Rhodochrosit Mn CO3
d. Sisa-sisa tanaman
Kelarutan Mn dipengaruhi oleh potensial redoks dan pH tanah. Makin tinggi pH,
maka makin rendah tingkat kelarutannya. Dimulai pada pH 6,5 sampai reaksi netral dan
alkalis dapat terjadi kekahatan Mn dan sebaliknya bila pH tanah rendah kemungkinan yerjadi
keracunan Mn (Tanaka dan Yoshida,1970 .Pengapuran yang berlebihan menyebabkan
berkurangnya ketersediaan Mn. Pada pH netral sampai alkalis, pengendapan Mn terjadi
berupa MnCO3,oksida dan hidroksida Mn++ (Ponnamperuma, 1969).
Disamping dua faktor di atas,ketersediaan Mn tergantung pada macam bahan induk,
bahan organic tanah, garam, dan kelembapan tanah. Redoks potensial atau penggenangan
berpengaruh terhadap ketersediaan Mn. Dalam suasana tergenang, Mn3+(mangani) direduksi
menjadi Mn++(mangano). Dalam bentuk valensi 2 ini, ketersediaan Mn meningkat. Pupuk
yang mempunyai reaksi fisiologis asam, misalnya (NH4)2SO4, menyebabkan peningkatan
ketersediaan Mn (Cottenie dan Kiekens, 1974). Khelasi Mn, misalnya Mn-EDTA, mudah
diusir dengan Zn dan Cu, sehingga apabila digunakan pupuk Khelat Mn dapat berakibat Mn
dalam larutan tanah menjadi tinggi dan mudah tercuci.
Para ahli berpendapat bahwa mikrobia mampu melakukan oksidasi terhadap Mn
,misalnya dari genera Arthtrobacter,Bacillus, Klebsiella, Mettalogenium, Pedomicrobium,
Pseudomonas, dan dari fungi termasuk genera Cladosperium, Curvularia, Fusarium, dan
Chephasporium (Alexander,1977).
Manganit mempunyai struktur kristal monoklin, dengan kristal umumnya prismatik.
Manganit dikenal berwarna hitam atau abu-abu baja dengan cerat berwarna coklat tua.
Mineral ini mempunyai kekerasan 4 dan berat jenis 4,3. Mineral ini ditemukan berasosiasi
dengan oksida mangan yang lain
DAFTAR PUSTAKA

Hiroyasu Iwahara, Hiroyuki Uchida and Satochi Mizoguchi. 1985. Studies of Manganese
Cycle for Gasification of Solid Carbon Resource. I.Formation and Hydrolysis of Manganese
Cabrides and Their Repetition. Department of Environtmental Chemistry and Technology,
Faculty of Engineering, Tottori University, Koyama-cho. Japan.

1. Unsur Hara Mikro Esensial Mangan


(Mn).2009.http://girlsoilscientist.blogspot.com/2009/03/unsur-hara-mikro-esensial-mangan-
mn.htmlahan organik.
2. MANGAN ( Mn ).http://www.tanindo.com/abdi4/hal2701.htm
3. Mangan.http://id.wikipedia.org/wiki/Mangan
4. Daur Biogeokimia.http://gurungeblog.wordpress.com/2008/11/17/daur-biogeokimia/
5. Gusti.2010.Daur Mangan dan Besi.http://gusti0909.wordpress.com/2010/01/12/12/
6. Dhamadharma.2010.Siklus Fosfor di Alam
http://dhamadharma.wordpress.com/2010/02/11/siklus-fosfor-di-alam/
TUGAS MATAKULIAH ENDAPAN MINERAL
SIKLUS MANGAN (Mn)

DISUSUN OLEH :
RAMADHAN LUTHFI ( 072.14.129 )
FAJRIANSYAH HERAWAN P (072.14.042)

JURUSAN TEKNIK GEOLOGI


FAKULTAS TEKNOLOGI KEBUMIAN DAN ENERGI
UNIVERSITAS TRISAKTI
JAKARTA
2016