Anda di halaman 1dari 3

Pada percobaan ini dilakukan praktikum mengenai kesadahan suatu sampel air dengan

menggunakan reaksi pembentukkan ion kompleks dengan menggunakan garam EDTA


(Ethylene Diamene Tetraacetic Acid). Dalam menentukan kesadahan air, pemeriksaan yang
dilakukan yaitu menentukan kadar calcium (Ca), kesadahan total dan kadar magnesium
(Mg) dari sampel air yang dianalisis.

Titran yang digunakan untuk penentuan kadar kesadahan adalah larutan baku primer
namun karena larutan EDTA merupakan larutan baku sekunder, maka sebelum digunakan
sebagai titran dilakukan standarisasi larutan baku EDTA dengan larutan baku primer CaCO 3
0,01 M. Sebelum penambahan indikator, larutan CaCO3 0,01 M dan sampel yang digunakan
diencerkan dengan aquades terlebih dahulu, hal ini bertujuan untuk mencegah pengendapan
CaCO3. Apabila kadar Ca2+ terlalu tinggi maka endapan dapat muncul dalam waktu 5 menit,
hal tersebut harus dicegah karena akan mengurangi kadar kesadahan terlarut. Semakin
banyak ion Ca2+ yang terendapkan menyebabkan semakin sedikit ion Ca2+ yang berikatan
dengan EDTA, sehingga kadar kesadahan yang diperoleh menjadi lebih sedikit (tidak sesuai
kenyataan). Dari percobaan ini diperoleh konsentrasi larutan baku primer EDTA hasil
standarisasi yaitu 0,0138 M.
Pada standarisasi EDTA dan penentuan kesadahan total sampel air dilakukan
penambahan buffer pH 10 untuk menjaga keseimbangan pH (agar tidak terjadi perubahan
pH) sehingga dapat menghindari terjadinya pengendapan CaCO 3 pada pH rendah, sebab
logamlogam alkali tanah seperti kalsium dan magnesium membentuk kompleks yang tidak
stabil dengan EDTA pada pH rendah dan mudah mengendap. Dan indikator yang digunakan
pada penentuan standarisasi dan kesadahan total yaitu indikator EBT berbentuk serbuk sebab
indikator tersebut tidak stabil bila dalam bentuk larutan. Indikator EBT yang ditambahkan
pada sampel air, akan membentuk kompleks berwarna merah anggur dengan sejumlah kecil
ion Ca2+. Adapun reaksi yang terjadi pada proses ini yaitu : Ca2+(aq) + EBT (s) [Ca-EBT]
(aq).

Sebelum dilakukan proses titrasi lebih lanjut, sampel air dilakukan digesti dengan
HNO3 dan H2SO4 yang bertujuan untuk mendestruksi sampelMetode destruksi merupakan
suatu metode yang sangat penting didalam menganalisis suatu materi atau bahan. Metode ini
bertujuan untuk merubah sampel menjadi bahan yang dapat dikukur. Metode ini seakan
sangat sederhana, namun apabila kurang sempurna dalam melakukan teknik destruksi, maka
hasil analisis yang diharapkan tidak akurat. Oleh karena itu, pada percobaan ini kita
hendaknya sangat teliti.
Setelah dilakukan standarisasi dan digesti sampel kemudian dilanjutkan dengan
penentuan kesadahan total dan kesadahan kalsium. Pada percobaan ini sampel uji diencerkan
dengan akuades terlebih dahulu dikarenakan untuk mencegah pengendapan CaCO 3 agar tidak
mengganggu nilai kesadahan total dari sampel. Kemudian dilanjutkan dengan titrasi oleh
EDTA. Setelah jumlah molekul EDTA yang ditambahkan sama (ekuivalen) dengan jumlah
ion kesadahan dalam sampel, maka kompleks indikator-logam akan pecah, pada saat titik
akhir titrasi (ada sedikit kelebihan EDTA) sehingga menghasilkan warna biru keunguan
berdasarkan reaksi sebagai berikut: [Ca-EBT] + EDTA [Ca-EDTA] + EBT
Pada penentuan kesadahan kalsium, EDTA akan bereaksi terlebih dahulu dengan ion
Ca2+ lalu dengan ion Mg2+. Pengaturan sampel air menjadi pH 12-13 dengan penambahan
NaOH bertujuan untuk mengendapkan Mg2+ sebagai Mg(OH)2 sehingga konsentrasi ion Ca2+
pada sampel air dapat ditentukan secara terpisah dari konsentrasi ion Mg 2+. Pemilihan
indikator murexid untuk penentuan kesadahan kalsium sebab indikator tersebut hanya peka
terhadap ion Ca2+. Indikator murexid yang ditambahkan pada sampel air, akan membentuk
kompleks berwarna merah muda dengan sejumlah kecil ion Ca2+ pada pH 12-13.
Berdasarkan hasil penentuan kesadahan sampel air limbah di kawasan Mekar sari
diperoleh kadar kesadahan total 828 mg CaCO3/L, kadar kesadahan kalsium 328 mg Ca/L,
dan kadar kesadahan magnesium 1,3414 mg Mg/L. Menurut Peraturan Menteri Kesehatan
RI No. 416/MENKES/PER/IX/1990, persyaratan kesadahan total untuk air bersih adalah
500 mg CaCO3/L. Maka air kran di air limbah di kawasan Mekar sari tidak memenuhi
persyaratan kesadahan untuk air bersih.

Adanya kandungan Ca, Mg, CaCO3 yang melebihi standar kualitas tidak baik untuk
dikonsumsi oleh orang dengan fungsi ginjal yang kurang baik, karena akan menyebabkan
pembentukkan batu pada saluran kencing. Kebiasaan minum juga merupakan faktor penting
yang mempengaruhi pembentukan batu saluran kencing. Orang yang banyak mengkonsumsi
air dengan kandungan kapur tinggi akan menjadi predisposisi pembentukan batu saluran
kencing. Adapun dampak yang ditimbulkan kesadahan dapat berakibat :
1. Kesadahan air dapat menurunkan efisiensi dari deterjen dan sabun.
2. Kesadahan Air dapat menyebabkan noda pada bahan pecah belah dan bahan flat.
3. Kesadahan Air dapat menyebabkan bahan linen berubah pucat.
4. Mineral kesadahan air dapat menyumbat semburan pembilas dan saluran air.
5. Residu kesadahan air dapat melapisi elemen pemanas dan menurunkan efisiensi panas.
6. Kesadahan air dapat menciptakan buih logam pada kamar mandi shower dan bathtubs.