Anda di halaman 1dari 22

LAPORAN PRAKTIKUM ANALISA PANGAN 2017

ACARA VI

VITAMIN C

Disusun Oleh :

Nama : Dayanti Haryono

NIM : H1916005

Kelas :B

Kelompok :7

PROGRAM STUDI ILMU DAN TEKNOLOGI PANGAN

FAKULTAS PERTANIAN

UNIVERSITAS SEBELAS MARET

SURAKARTA

2017
ACARA VI

VITAMIN C

A. Tujuan
Pada praktikum analisa pangan acara VI tentang uji kadar vitamin C
pada bahan pangan mempunyai tujuan sebagai berikut:
1. Mengetahui prinsip uji vitamin C dengan metode titrasi iodometri
2. Mengetahui kadar vitamin C pada sampel
B. Tinjauan Pusktaka
Vitamin adalah zat essensial yang diperlukan untuk membantu
kelancaran penyerapan zat gizi dan proses metabolisme tubuh. Kekurangan
vitamin akan berakibat terganggunya kesehatan. Oleh karena itu, diperlukan
asupan harian dalam jumlah tertentu yang idealnya bisa diperoleh dari
makanan. Jumlah kecukupan asupan vitamin per hari untuk perawatan
kesehatan ditentuhkan oleh RDA (Recommended Daily Allowance) (Yulianti,
2009).
Vitamin diklasifikasikan berdasarkan kelarutannya, yaitu vitamin larut
dalam air dan vitamin yang larut dalam minyal. Vitamin yang larut dalam
minyak adalah A, D, E, dan K. Sedangkan vitamin yang larut dalam air yaitu
B dan C. Vitamin merupakan kelompok vitamin terbanyak (Rauf, 2015).
Vitamin C adalah vitamin yang tergolong larut dalam air dan mudah
mengalami oksidasi. Vitamin C dapat terbentuk sebagai asam L-askorbat dan
asam L-dehidroaskorbat, keduanya mempunyai keaktifan sebagai vitamin C.
Asam askorbat sangat mudah teroksidasi secara reversible menjadi asam
Ldehidroaskorbat. Asam L-dehidroaskorbat secara kimia sangat labil dan
mengalami perubahan lebih lanjut menjadi asam L-diketogulonat yang tidak
memiliki keaktifan vitamin C (Budiyati dan Kristinah, 2004). Vitamin C
hanya dapat dibentuk oleh tumbuhan dan terdapat pada sayuran serta buah-
buahan dalam jumlah yang besar. Hal ini disebabkan karena tumbuhan
memiliki enzim mikrosomal Lgulonolakton oksidase, sebagai komponen
dalam pembentukan asam askorbat (Nasoetion & Karyadi, 1987 dan
Padayatty et al., 2003 dalam Kurniawan, dkk, 2010).
Asam askorbat merupakan salah satu vitamin larut air yang penting.
Hal ini penting untuk biosintesis kolagen, karnitin, dan neurotransmitter.
Kebanyakan tanaman dan hewan mensintesis asam askorbat untuk kebutuhan
mereka sendiri. Namun, kera dan manusia tidak dapat mensintesis asam
askorbat karena kurangnya enzim gulanolactone oksidase. Oleh karena itu,
asam askorbat harus dilengkapi terutama melalui buah-buahan, sayuran, dan
tablet. Banyak manfaat bagi kesehatan yang telah dikaitkan dengan asam
askorbat, seperti antioksidan, antiatherogenik, antikarsinogenik,
imonumodulator, dan mencegah dingin. Asam askorbat adalah molekul labil,
yang dapat hilang selama pemasakan makanan atau meskipun dengan
melakukan penambahan bahan lain untuk mengurangi resiko kehilangan
kandungan vitamin C. Sintesis asam askorbat tersedia dalam berbagai macam
suplemen, tablet, kapsul, tablet kunyah, bubuk kristal, tablet berbusa, dan
bentuk cair (Matei et al, 2006).
Sifat-sifat vitamin C adalah vitamin yang mudah rusak, mudah
teroksidasi dan proses tersebut dipercepat oleh panas, sinar, alkali, enzim,
oksidator serta oleh tembaga dan besi. Berbagai faktor yang dapat
mempengaruhi kadar vitamin C dalam makanan antara lain bahan makanan
yang disimpan terlalu lama, bahan makanan yang dijemur dengan cahaya
matahari, pemanasan yang terlalu lama. Oksidasi akan terhambat bila vitamin
C dibiarkan dalam keadaan asam atau pada suhu rendah. Kebutuhan vitamin
C memang berbeda-beda bagi setiap orang tergantung pada kebiasaan hidup
masing-masing (Andarwulan, 1992).
Vitamin C termasuk melindungi lensa dari kerusakan oksidatif yang
ditimbulkan oleh radiasi. Status vitamin C seseorang sangat tergantung dari
usia, jenis kelamin, asupan vitamin C harian, kemampuan absorpsi dan
ekskresi, serta adanya penyakit tertentu (Schetman, 1989). Rendahnya asupan
serat dapat mempengaruhi asupan vitamin C karena bahan makanan sumber
serat dan buah-buahan juga merupakan sumber vitamin C (Karinda, 2013).
Vitamin C mudah rusak oleh pemanasan. Stabilitas vitamin C di
pengaruhi udara dan faktor-faktor lain seperti pemasakan. Penurunan kadar
vitamin C dimungkinkan karena akibat dari penambahan dengan air dan
pemanasan. Pengaruh cara memasak termasuk cara pemotongan dan volume
air yang digunakan serta suhu berpengaruh terhadap kerusakan vitamin C
(Mukaromah, 2010).
Buah-buahan umumnya merupakan sumber vitamin C dan provitamin
A, disamping B1 serta beberapa macam mineral seperti kalsium dan besi.
Sifat kimia sayur dan buah yang dapat diamati yaitu asam askorbat. 25 ml
filtrat dititrasi untuk pengukuran total asam tertitrasi dengan larutan iod 0,01
N. indikator kanji ditambahkan pada filtrat sebelum dilakukan titrasi. Titrasi
dilakukan sampai terjadi perubahan warna yang stabil (terbentuk warna biru
ungu). Asam askorbat (mg/100 g bahan): (ml iod 0,01 N x 0,88 x fp x 100)/
(gram berat contoh) (Muchtadi, dkk, 2010).
C. Metodologi Praktikum
1. Alat dan Bahan
a. Bahan
Aquades
Indikator amilum 1%
Jambu ABC
Jambu Buavita
Jeruk
Larutan iodin 0.01N
Leci ABC
Mangga
b. Alat
Buret
Corong
Erlenmeyer 100ml
Labu takar 100 ml
Pipet tetes
Pipet volume
Pro pipet
Statif

1 gram sampel
2. Cara Kerja

Pemasukan kedalam labu takar sebanyak 50 ml

Aquadest Penambahan aquadest hingga tanda tera

Pengambilan 25 ml larutan

Pemasukan kedalam erlenmeyer 100 ml

1 ml amilum 1% Penambahan 1 ml amilum 1%

Penitrasian dengan larutan iodin 0,01%


larutan iodin 0,01 N

Penghitungan kadar v itamin C dengan


menggunakan rumus :
Gambar 6.1 Cara Kerja Uji Kadar Vitamin C Metode Titrasi Iodometri
D. Hasil dan Pembahasan
Tabel 6.1 Kadar Vitamin C pada Sampel

Volume Iodium Kadar Vitamin C (%)


Berat
Kel Sampel sampel Ulangan Ulangan Rerata
(gr) Rerata
1 2 3 1 2 3

1,6,11 Jambu ABC 1,050 0,5 1,0 1,4 0,967 0,0841 0,168 0,235 0,162

2,7,12 Jambu Buavita 1,021 1,0 1,4 0,8 1,067 0,172 0,241 0,137 0,183

3,8,13 Jeruk 1,034 0,2 0,3 0,3 0,267 0,034 0,051 0,051 0,045

4,9,14 Leci ABC 1,028 0,7 0,6 0,6 0,633 0,119 0,102 0,102 0,108

5,10,15 Mangga 1,016 0,35 0,35 0,4 0,366 0,061 0,061 0,069 0,064

Sumber: Laporan Sementara


Keterangan Sampel:
A : Jambu ABC
B : Jambu Buavita
C : Jeruk
D : Leci ABC
E : Mangga

Vitamin C (juga disebut sebagai asam L-askorbat) adalah lakton 2,3


asamdienol-L glukonat. Vitamin C memiliki sifat fisis tidak berbau, padatan
berwarna putih dengan rumus kimia C6H8O6. Vitamin C terutama ditemukan
dalam buah-buahan dan sayur. Vitamin C sangat sensitif terhadap oksidasi
serta larut dalam air selama penyimpanan. Jeruk memiliki kandungan vitamin
C tinggi diikuti oleh grape fruit, lemon dan limau. Suhu mempengaruhi kadar
vitamin C pada buah. Daerah dengan malam yang dingin menghasilkan buah
jeruk dengan kadar vitamin C yang lebih tinggi. Daerah tropis yang panas
menghasilkan buah dengan kadar vitamin C yang lebih rendah. Faktor-faktor
yang mempengaruhi vitamin C dari buah jeruk termasuk faktor produksi dan
kondisi iklim, tahap kematangan buah (spesies dan varietas), penanganan dan
penyimpanan, serta jenis kontainer (Njoku, 2011).
Vitamin C atau asam askorbat mempunyai berat molekul 178 dengan
rumus molekul C6H8O6. Dalam bentuk kristal tidak berwarna, titik cair 190-
1920C. Bersifat larut dalam air sedikit larut dalam aseton atau alkohol yang
mempunyai berat molekul rendah. Vitamin C sukar larut dalam khloroform,
ether, dan benzen sedangkan dengan logam membentuk garam. Sifat asam
ditentukan oleh ionisasi enolgroup pada atom C nomor tiga. Pada pH rendah
vitamin C lebih stabil daripada pH tinggi. Vitamin C mudah teroksidasi, lebih-
lebih apabila terdapat katalisator Fe, Cu, enzim Askorbat oksidase, sinar,
temperatur yang tinggi. Larutan encer vitamin C pada pH kurang dari 7,5
masih stabil apabila tidak ada katalisator seperti diatas. Oksidasi vitamin C
akan terbentuk asam dihidroaskorbat (Sudarmaji, dkk, 1989).
Pada praktikum acara VI uji kadar vitamin C menggunakan metode
titrasi idometri. Metode iodometri adalah bagian dari analisis kuantitatif
secara volumetric yang dapat digunakan untuk mengetahui kadar suatu zat
dengan cara mengukur volume yang sudah diketahui konsentrasinyauntuk
ditambahkan kedalam larutan secara ekuivalen. Metode ini didasarkan pada
proses titrasi oksidasi reduksi anatara asam askorbat dan iodin. Salah satu
kelemahan titrani ini adalah pengerjaanya relative lama dan kurang teliti
(Safari, 2009).
Proses iodometri adalah proses titrasi terhadap iodium (I 2) bebas dalam
larutan. Apabila terdapat zat oksidator kuat (misal H2SO4) dalam larutannya
yang bersifat netral atau sedikit asam penambahan ion iodida berlebih akan
membuat zat oksidator tersebut tereduksi dan membebaskan I2 yang setara
jumlahnya dengan dengan banyaknya oksidator (Winarno, 2002 dalam
Shafira, 2012). Menurut Sudarmadji (1989) prinsip dari metode titrasi iodin
adalah iodin akan mengadisi ikatan rangkap pada C nomor tiga dari vitamin
C. Hal ini berdasarkan bahwa sifat vitamin C dapat bereaksi dengan iodin.
Sedangkan menurut Pratiwi (2013) dalam Rahman, dkk (2015) prinsip dari
titrasi iodimetri yaitu iodin mengadisi ikatan rangkap vitamin C pada atom
karbon C nomor 2 dan 3, ikatan rangkap yang diadisi oleh iodin akan terputus
menjadi ikatan tunggal. Jika seluruh vitamin C telah diadisi oleh iodin maka
iodin yang menetes selanjutnya saat titrasi akan bereaksi dengan larutan
indikator amilum membentuk iodamilum yang berwarna biru. Terbentuknya
warna biru menunjukan bahwa proses titrasi telah selesai, karena seluruh
vitamin C sudah diadisi oleh iodin sehingga volume iodin yang dibutuhkan
saat titrasi setara dengan jumlah vitamin C.
Cara kerja penetapan kadar vitamin C yaitu memipet 10 gram sampel
(filtrat), masukkan ke dalam erlenmeyer. Menambahkan 75 ml aquades.
Menambahkan 1 mL indikator Amilum. Menitrasi dengan menggunakan
larutan baku I2 0,01 N sampai terbentuk warna biru. PerhitunganKadar
vitamin C yaitu : ((V x N) x BE)/ berat sampel. Keterangan = V adalah
volume titrasi (ml), N adalah normalitas I 2(mEq/ml), BE adalah bobot
Ekuivalen vitamin C (mg/mEq) (Thuraidah, dkk, 2015).
Indikator yang digunakan pada praktikum uji kadar vitamin C adalah
larutan indikator amilum. Amilum adalah salah satu substansi yang paling
banyak terdapat di alam. Amilum dibentuk pada tanaman yang berwarna hijau
melalui proses fotosintesis. Sumber-sumber amilum banyak terdapat pada biji-
bijian dan umbi-umbian seperti amilum beras ketan (Oryza sativa
L.f.glutinosan Auct.) (Sumanti, dkk, 2009). Amilum dipilih sebagai indikator
karena amilum sangat peka terhadap iodium dan terbentuk kompleks amilum
berwarna biru cerah, saat ekivalen amilum terlepas kembali. Keunggulan
amilum yang utama adalah harganya yang murah dan ia memiliki kelemahan
bersifat tidak larut dalam air dingin dan ketidakstabilan suspensinya dalam air,
karena itu pada saat titrasi larutan kanji hendaknya tidak ditambahkan sampai
tepat sebelum titik akhir titrasi (Feladita dan Gusti, 2016). Proses pembuatan
larutan amilum yaitu timbang kanji seberat 1,00 gram, lalu didihkan aquadest
sebanyak 100 ml. Masukan kanji kedalam beaker glass, lalu tambahkan
aquadest mendidih 100 ml diamkan ad dingin (Siti, dkk, 2016).
Pada praktikum menggunakan indikator amilum 1% dan penitrasi
iodin 0.01%, masing-masing bahan tersebut mempunyai fungsi masing
masing. Pada titrasi iodometri menggunakan amilum sebagai indikator yang
berfungsi untuk menunjukan titik akhir titrasi yang ditandai dengan perubahan
warna dari biru menjadi tidak berwarna. Larutan indikator amilum
ditambahkan pada saat akan menjelang titik akhir dititrasi, karena jika
indikator amilum ditambahkan diawal akan membentuk iod-amilum memiliki
warna biru kompleks yang sulit dititrasi oleh natrium tiosulfat (Ulfa, 2015).
Iodium merupakan salah satu faktor nutrisi esensial yang memiliki
fungsi biokimia yang penting seperti halnya perkembangan mental, dan
metabolism dasar. Iodat atau iodide umumnya dipergunakan untuk proses
iodisasi. Prosedur titrasi iodometri digunakan untuk memantau jumlah
iodium, baik dalam bentuk iodida atau iodat yang ditambahkan dalam garam.
Metode ini melibatkan indikasi amilum sebagai indikasi titik akhir
(Mequanint et.al , 2012). Iodine berfungsi sebagai titer yang akan mendeteksi
adanya vitamin C pada sampel dengan cara mengoksidasi vitamin C (Wati,
dkk, 2016).
Faktor-faktor yang mempengaruhi vitamin C yaitu pemanasan,
perendaman, dan masa simpan. Pemanasan, yang menyebabkan rusak atau
berbahayanya struktur vitamin C. Karena adanya alkali atau suasana basa
selama pengolahan, dan membuka tempat berisi vitamin C, sebab oleh udara
akan terjadi oksidasi yang tidak reversible. Vitamin C mudah teroksidasi dan
proses tersebut dipercepat oleh panas, sinar atau enzim oksidasi. Oksidasi
akan terhambat bila vitamin C dibiarkan dalam keadaan asam atau suhu
rendah. Perendaman, semakin lama waktu mengekstrasi kandungan vitamin C
akan semakin berkurang. Di samping sangat mudah larut dalam air, vitamin C
mudah teroksidasi dan proses tersebut dipercepat oleh panas, sinar atau enzim
oksidasi. Oksidasi akan terhambat bila vitamin C dibiarkan dalam keadaan
asam atau suhu rendah. Masa penyimpanan, semakin lama suatu bahan
disimpan kadarnya akan semakin rendah. Pada proses penyimpanan yang
lama, penambahan, peradangan dan pengerutan akan menurunkan kandungan
vitamin C pada bahan makanan, terutama sayuran dan buah-buahan.
Kebutuhan vitamin Cpada tubuh setiap hari kurang lebih 60 mg ( Feladita dan
Gusti, 2016).
Pengujian kadar vitamin C selain metode titrasi iodometri adalah
titrasi 2,6D, spektrofotometri, dan kromatografi cairan kinerja tinggi (KCKT).
Titrasi 2,6 yaitu larutan 2,6-diklorofenol indofenol dalam suasana netral atau
basa akan berwarna biru sedangkan dalam suasana asam akan berwarna merah
muda. Apabila 2,6-diklorofenol indofenol direduksi oleh asam askorbat maka
akan menjadi tidak berwarna, dan bila semua asam askorbat sudah mereduksi
2,6- diklorofenol indofenol maka kelebihan larutan 2,6-diklorofenol indofenol
sedikit saja sudah akan terlihat terjadinya warna merah muda (Sudarmadji,
dkk, 1989). Prosedur uji kadar vitamin C metode 2,6D dapat dilakukan seperti
penelitian Hanyani, dkk (2004) rumput laut segar sebanyak 25 gram, diekstrak
dengan 100 ml akuades. Diambil 10 ml filtrat dan ditambah dengan 10 ml
reagen HPO3 asam asetat, kemudian digojog sampai larutan merata. Diambil 5
ml larutan dan dititrasi dengan 2,6 D yang telah distandardisasi. Membuat
larutan blanko (cairan sampel diganti dengan akuades), kemudian dititrasi
denngan 2,6 D yang telah distandardisasi. Titrasi sampel dan blanko masing-
masing dibuat 3 ulangan.
Metode spektrofotometri UV-Vis dapat digunakan untuk informasi
baik analisis kualitatif maupun analisis kuantitatif. Analisis kualitatif dapat
digunakan untuk mengidentifikasi kualitas obat atau metabolitnya. Data yang
dihasilkan oleh Spektrofotometri UV-Vis berupa panjang gelombang
maksimal, intensitas, efek pH dan pelarut, sedangkan dalam analisis
kuantitatif, suatu berkas radiasi dikenakan pada cuplikan (larutan sampel) dan
intensitas sinar radiasi yang diteruskan diukur besarnya (Putrid an Yunita,
2015). Kelebihan metode spektrofotometer UV-Vis yaitu mampu memberikan
hasil pengukuran kadar vitamin C yang hampir sama dengan nilai nutrisi yang
terdapat dalam kemasan atau sampel. Prosedur uji kadar vitamin C dengan
metode spektrofotometer UV-Vis yaitu 100 mg sampel yang dihaluskan,
kemudian ditambahkan dengan sedikit aquades bebas CO2 dan disaring. Filtrat
yang diperoleh dimasukkan ke dalam labu ukur 100 mL dan ditambah
aquades bebas CO2 hingga mencapai tanda batas. Pengukuran kadar vitamin C
dalam sampel mengunakan metode spektrofotometri UV-Vis dilakukan
dengan menggunakan akuades sebagai blanko dan larutan standar berupa
asam askorbat (Badriyah dan Algafari, 2015).
Metode analisisi vitamin C ketiga yaitu kromatografi cairan kinerja
tinggi (KCKT). Kromatografi Cair Kinerja Tinggi merupakan suatu teknis
analisis obat yang paling cepat berkembang. Cara ini ideal untuk analisis
beragam obat dalam sediaan dan cairan biologi, karena sederhana, dan
kepekaannya tinggi (Munson, 1991 dalam Jubahar, dkk, 2015). Kromatografi
cair kinerja tinggi sering digunakan untuk menetapkan kadar senyawa-
senyawa tertentu seperti asamasam amino, asam-asam nukleat, dan protein-
protein dalam cairan fisiologis, menentukan kadar senyawa-senyawa aktif
obat, produk hasil samping proses sintetis, atau produk-produk degradasi
dalam sediaan farmasi, memonitor sampel-sampel yang berasal dari
lingkungan, memurnikan senyawa dalam suatu campuran, memisahkan
polimer dan menentukan distribusi berat molekulnya dalam suatu campuran,
kontrol kualitas, dan mengikuti jalannya reaksi sintetis (Gandjar dan Rohman,
2007 dalam dalam Jubahar, dkk, 2015).
Pada praktikum uji kadar vitamin C metode iodometri menggunakan
sampel jambu abc, jambu buavita, jeruk, lecik abc, manga. Sampel buavita
dan abc berupa minuman sari buah. Menurut SNI 01-3719-1995, minuman
sari buah (fruit juice) adalah minuman ringan yang dibuat dari sari buah dan
air minum dengan atau tanpa penambahan gula dan bahan tambahan makanan
yang diizinkan. Keuntungan yang dapat diperoleh dari konsumsi minuman
sari buah atau jus yaitu kemudahan dalam menghabiskannya. Selain itu,
konsistensi yang cair dari jus memungkinkan zat-zat terlarutnya mudah
diserap oleh tubuh. Dengan dibuat jus, dinding sel selulosa dari buah akan
hancur dan larut sehingga lebih mudah untuk dicerna oleh lambung dan
saluran pencernaan. Buah mangga sangat kaya akan zat gizi, setiap 100 g
mengandung vitamin C 65mg, energi 113 kkal, protein 1g, lemak 0,2g,
karbohidrat 14,6g, kalsium 17mg, fosfor 23mg, dan besi 1mg. Mangga
merupakan sumber beta-karoten, kalium dan vitamin C yang baik. Zat
terkandung di dalam mangga mampu memberikan perlindungan terhadap
kanker karena dapat menetralkan radikal bebas. Jeruk manis mempunyai rasa
yang manis, kandungan air yang banyak dan memiliki kandungan vitamin C
yang tinggi (berkisar 27-49 mg/100 gram daging buah) (DKBM dalam
Wariyah, 2010).
Berdasarkan Tabel 6.1 sampel A (jambu ABC) hasil praktikum
menunjukkan hasil kadar vitamin C 0,162%, sedangkan pada kemasan
mengandung 100 % dalam 250 ml yaitu 0,4 % per gram. Sampel B (jambu
buahvita) hasil praktikum mengandung vitamin C sebanyak 0,183%,
sedangkan pada kemasan jambu buahvita mengandung kadar vitamin C 90%
dalam 250 ml, yaitu 0,36 % per gram. Sampel D (leci ABC) hasil praktikum
menunjukkan kadar vitamin C sebesar 100 % dalam 250 ml, yaitu 0,4 % per
gram. Sehingga untuk sampel ABC dan buahvita hasil praktikum tidak sesuai
dengan kadar vitamin C yang ada pada kemasan. Menurut DKBM dlam
Wariyah (2010), kadar vitamin C pada jeruk manis berkisar antara 27-49 mg
per 100 gram, sedangkan hasil praktikum yaitu 0,045%. Menurut DKBM
dlam Wariyah (2010), kadar vitamin C pada manga yaitu 65 mg per 100 gram,
sedangkan menurut hasil praktikum kandungan vitamin C pada manga yaitu
0,064%. Sehingga hasil praktikum manga dan jeruk sesuai dengan kadar
vitamin C pada DKBM. Metode yang digunakan di perusahaan merupakan
metode yang sudah canggih dan dilakukan oleh ahli, sedangkan pada saat
praktikum metode yang digunakan adalah metode titrasi iodometri dimana
kesalahan titrasi dapat terjadi bila titik akhir titrasi tidak tepat sama dengan
titik ekuivalen, penyebabnya diantaranya kelebihan titran, indikator bereaksi
dengan analit, atau indikator bereaksi dengan titran (Padmaningrum, 2008).
Menurut Perretta (2006:26) dalam Aina dan Dawam (2010), vitamin C rentan
terhadap udara, cahaya, panas, serta mudah rusak selama penyimpanan.
Rachmawati (2009:37) dalam Aina dan Dawam (2010), vitamin C pada suatu
bahan makanan akan menurun kadarnya bila suhunya ditingkatkan.
E. Kesimpulan
Pada acara VI praktikum analisis pangan tentang uji kadar vitamin C
dengan metode iodometri dapat disimpulkan sebagai berikut:
1. Prinsip dari titrasi iodimetri yaitu iodin mengadisi ikatan rangkap vitamin
C pada atom karbon C nomor 2 dan 3, ikatan rangkap yang diadisi oleh
iodin akan terputus menjadi ikatan tunggal.
2. Sampel yang diperoleh dalam praktikum yaitu sampel A sebesar 0,162 %,
sampel B 0,183 %, sampel C adalah 0,045%, pada sampel D sebesar 0,108
% dan pada sampel E adalah 0,064 %.
DAFTAR PUSTAKA

Aina, Mia dan Dawam Suprayogi. 2010. Uji Kualitatif Vitamin C pada Berbagai
Makanan dan Pengaruh Terhadap Pemanasan. Jurnal Kimia Vol.2 No.2

Andarwulan, Nuri. 1992. Kimia Vitamin. Institus Pertanian Bogor. Bogor

Badriyah, Lailatur dan Algafari B. Manggara. 2015. Penetapan Kadar Vitamin C pada
Cabai Merah Menggunakan Metode Spektofotometri UV-VIS. Jurnal Wiyata
Vol.2 No.1 Tahun 2015

Budiyati, Sri dan Kristinah Haryani. 2004. Pengaruh Suhu Terhadap Kadar Vitamin
C pada Pembuatan Tepung Tomat. Prosiding Seminar Nasional Rekayasa
dan Proses ISSN: 1411-4216

Feladita, Niken dan Gusti Ayu Rau Saputri. 2011. Perbandingan Kadar Vitamin C
Antara Buah Salak Pondoh dan Manisan Buah Salak Pondoh dengan Metode
Iodometri. Jurnal Analisis Farmasi Vol.1 No.1 Hal.121-127

Handaya, Tri., Sutarno dan Agmad Dwi Setyawan. 2004. Analisis Komposisi
Rumput Laut Sargassum crassifolium. Jurnal Biofarmasi 2 (2): 45-52

Jubahar, Junuarty., Yuliani Astuti, dan Netty Suharti. 2015. Penetapan Kadar Vitamin
C dari Buah Cabe Rawit dengan Metode Kromatografi Cairan Kinerja Tinggi
(KCKT). Jurnal Farmasi Vol.7 No.2, 2015

Karinda, Monalisa., Fatimawali, dan Gayatri Citraningtyas. 2013. Perbandingan Hasil


Penetapan Kadar Vitamin C Mangga dengan Menggunakan Metode
Spektofotometri UV-VIS dan Iodometri. Jurnal Ilmiah Farmasi Vol.2 No.1
ISSN.2302-24953
Kurniawan, Madha., Manifatul Izzati, dan Yulita Nurchayani. 2010. Kandungan
Klorofil, Karetonoid, dan Vitamin C pada Beberapa Spesies Tumbuhan
Akuatik. Buletin Anatomi dan Fisiologi Vol. XVIII No.1, Maret 2010

Maquanint, Tirowork., Ghirma Moges, Marid Tesma, dan Solomon Mehreth. 2012.
All Solid Sate Iodioe Selective Electrode for Iodometry of Iodied Salts and
Vitamin C. Oriental Journal of Chemistry Vo.28 No.4 Hal.1547-1555

Matei, Bringhila., Popescu, Dobrins, Joceano, Oprea, dan Magearu. 2006. Kinetics
Study of Vitamin C Degradation From Pharmaceutical Product. Roh.
Journ.Phys. Vol.53 No.1-2 Hal.343-352

Muchtadi, Tien., Sugiyono, dan Fitriyono Ayustaningwarno. 2010. Ilmu Pengetahuan


Bahan Pangan. Alfabeta. Bogor

Mukaromah, Ummu., Sri Hetty Setyorini, dan Siti Aminah. 2010. Kadar Vitamin C,
Mutu Fisik, pH dan Organoleptik Sirup Rosella Berdasarkan Cara Ekstraksi.
Jurnal Pangan dan Gizi Vol.01 No.01 Tahun 2010

Njoku, Ayu dan Okoye. 2011. Temperature Effect on Vitamin C Contein in Citrus
Fruit. Pakistan Journal of Nutrition 10(12):1168

Padmaningrum, Regina Tutik. 2008. Titrasi Iodometri. Jurdik Kimia UNY. PLPG
Gelombang 19, 11-20 Desember 2008

Putri, Mardiana Prasetyani dan Yunita Herwidiani Setiawati. 2015. Analisis Kadar
Vitamin C pada Buah Nanas Segar dan Nanas Kalengan dengan Metode
Spektofotometri UV-VIS. Jurnal Wiyata Vol.2 No.1 Tahun 2015

Rahman, Nurdin., Marieta Afika, dan Irwansaid. 2015. Analisis Kadar Vitamin C
Mangga Gadung dan Mangga Golek Berdasarkan Tingkat Kematangan
Berdasarkan Metode Iodometri. Jurnal Akademik Kimia Vol.4 No.1, 2015:
33-37

Rauf, Rusdin. 2015. Kimia Pangan. Andi. Yogyakarta

Safari, Royati. 2009. Penetapan Vitamin C dalam Manisan Nanas Secara


Spektometri dengan Pereaksi Metilrn Blue. Skripsi Universitas Islam Negeri
Sunan Kalijaga. Yogyakarta.

Shafira, Firna Apriliani. 2012. Praktikum Analisis Kadar Gula Reduksi, Gula Total
dan Pati. Universitas Padjajaran. Bamdung

Siti, Nurjanah., Anita Agustina, dan Rahmi Nurani. 2016. Penetapan Kadar Vitamin
C pada Jerami Nangka. Jurnal Farmasi Sains dan pRaktis Vol.2 No.1
September 2016

SNI 01-3719-1997. Minuman Sari Buah

Sudarmadji, Slamet., Bambang Haryono, dan Suhardi. 2010. Analisa Bahan


Makanan dan Pertanian. Liberty. Yogyakarta

Sumanti, Heni., Iskandar Sudirman, dan Indri Hapsari. 2009. Pengaruh Ketan Sebagai
Bahan Penghancur Terhadap Sifat Fisis Tablet Vitamin B6. Pharmacy Vo;.6
No.3, Desember 2009

Thuraidah, Anny., Haitami, dan Akhmad Dairobi. 2015. Pengaruh Kalsium Klorida
(CaCl2) dan Lama Penyimpanan Terhadap Kadar Vitamin C Anggur
. Medical Labotatory Technologi Journal 1(12), 2015: 61-71
Ulfa, Ade Maria. 2015. Penetapan Kadar Klorin (Cl2) Pada Beras Maenggunakan
Metode Iodometri. Jurnal Kesehatan Holistik Vol.9 No.4, 197-200

Wariyah, Chatarina. 2010. Vitamin C Retention and Acceptability of Orange Juice


During Storage in Refrigerator. Journal Agrisains Vol.1 No.1

Wati, Endah Sukma., Novi Febrianti, dan Ristanti Dhaniaputri. 2016. Kandungan
Asam Askorbat dan Fenol Tomat Merah dan Ungu Sebagai Sumber Belajar
Biologi SMA Kelas XI. Prosidig Symbion ISSN:2540-7520

Yulianti, Nurhenti. 2009. A To Z Food Supplement. Andi. Yogyakarta


LAMPIRAN PERHITUNGAN
LAMPIRAN GAMBAR

Gambar 6.2Sampel Jambu Gambar 6.3 Sampel Jambu Gambar 6.4 Sampel Leci
ABC (sampel A) Buavita (sampel B) ABC (sampel D)

Gambar 6.5 Larutan Gambar 6.6 Penetesan Gambar 6.7 Penitrasian


sampel C indikator amilum 1% larutan sampel

Gambar 6.8 Perubahan


warna menjadi biru