Anda di halaman 1dari 19

KA-AMDAL 2016

BAB 1
PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang

1.1.1. Justifikasi Dilaksanakanya Rencana Usaha dan/atau Kegiatan

Perusahan penambangan pasir adalah milik PT. Acil Basnah yang


bergerak dibidang penambangan pasir yang sudah terkenal sejak tahun 2004
berdasarkan izin operasi penambangan pasir pada tanggal 8 Mei 2000 No.
652.3/195A/IUPK-HUB/2003 dan izin perusahaan penambangan pasir tanggal 20
Desember 2000 No. 567.2/20/IMPK-HUB/2003. Setelah didapatkanya ijin maka
kegiatan penambangan pasir yang dimiliki PT. Acil Basnah mulai beroperasi maka
akan memberikan dampak lingkungan atau perubahan lingkungan secara langsung
maupun tidak langsung.
Pengertian tambang adalah kegiatan penggalian ke bawah permukaan
tanah dengan maksud pengambilan bahan galian yang mempunyai arti ekonomis.
Bahan galian itu dapat berupa bijih yang akan menghasilkan berbagai macam
logam, atau berbagai macam non-logam (belerang, garam, gips, fosfat, asbes dan
lain-lain) minyak dan gas bumi, batu bara, batu, pasir, kerikil dan tanah lempung.
Kabupaten Banjarbanar merupakah salah satu wilayah di Provinsi
Kalimantan Tenggara memiliki sumberdaya non hayati berupa pasir di wilayah
pesisir dan lautnya. Mengacu pada perundang-undangan dan peraturan-peraturan
tersebut, maka pihak manajemen PT. Acil Basnah yang merupakan perusahaan
swasta bergerak di bidang pertambangan umum merencanakan melakukan studi
AMDAL atas rencana kegiatan pada areal Izin Usaha Tambang Golongan Galian-
C di Kabupaten Banjarbanar, dengan luas 100 ha, yang izin eksplorasinya telah
dikeluarkan berdasarkan Surat Keputusan Gubenur Kalimantan Tenggara No.
124.33/0458/KUM/2001. Kegiatan pertambangan pasir yang dilakukan oleh PT.
Acil Basnah memerlukan kajian AMDAL terlebih dahulu, sehingga CV. Anugrah
Dusta (AD) ditunjuk sebagai pelaksana penyusun AMDAL.

I-1
KA-AMDAL 2016

1.1.2. Justifikasi Rencana Usaha dan/atau Kegiatan Wajib


Kegiatan penambangan pasir PT. Acil Basnah yang masih direncakan
akan menimbulkan dampak baik positif maupun negatif terhadap komponen hidup
geo-fisik-kimia, biologi social ekonomi budaya dan kesehatan masyrakat,
sehingga berdasarkan peraturan Mentri Negara Lingkungan Hidup Nomor 5
Tahun 2012 tentang jenis rencana usaha dana atau kegiatan yang wajib memiliki
dokumen AMDAL. Jenis usaha atau kegiatan yang direncanakan oleh PT. Acil
Basnah adalah hanya satu jenis usaha dan/atau kegiatan yang kewenangan
pembinaan dan/atau pengawasan berada di bawah satuan kerja pemerintah
kabupaten/kota, sehingga berdasarkan PP Nomor 27 tahun 2012 Pasal 8 ayat (2)
pendekatan studi yang akan dilakukan Dalam Studi AMDAL ini adalah
Pendekatan Studi Tunggal.
Kegiatan penambangan khususnya pasir dikenal sebagai kegiatan yang
dapat merubah permukaan bumi. Karena itu penambangan sering dikaitkan
dengan kerusakan lingkungan. walaupun pernyataan ini tidak selamnya benar,
patut diakui bahwa banyak sekali kegiatan penambangan yang dapat
menimbulkan kerusakan di tempat penambangannya. Akan tetapi perlu diingat
pula bahwa dilain pihak kualitas lingkungan di tempat penambangan meningkat
dengan tajam. Bukan saja menyangkut kualitas hidup manusia yang berada di
lingkungan tempat penambangan itu, namun juga alam sekitar menjadi tertata
lebih baik,dengan kelengkapan infrastrukturnya. Karena itu, kegiatan
penambangan dapat menjadi daya tarik, sehingga penduduk banyak yang
berpindah mendekati lokasi penambangan tersebut. Sering pula dikatakan bahwa
kegiatan penambangan telah menjadi lokomotif pembangunan didaerah tersebut.
Kebutuhan akan bahan bangunan seperti pasir dan batu dewasa ini
meningkat seiring dengan peningkatan teknologi dan kebutuhan pengembangan
wilayah. Kegunaan pasir digunakan untuk pengembangan perumahan, bahan
bangunan maupun industri. Pesatnya pembangunan di wilayah perkotaan sekitar
Banajarbanar, KotaJujur, Kotalawas dan sekitarnya menjadikan kebutuhan akan
bahan bangunan berupa pasir yang termasuk Bahan Galian Golongan C sangat
meningkat. Peraturan yang tertuang dalam regulasi dan ketentuan dari pemerintah
lebih detail tentang segala bentuk rencana kegiatan pembangunan yang diprediksi

I-2
KA-AMDAL 2016

akan memberikan dampak penting dan besar terhadap lingkungan, termasuk


kegiatan pertambangan mineral dengan segala bentuk kegiatan yang terkait
didalamnya adalah diterbitkannya Peraturan Pemerintah Republik Indonesia
Nomor 27 Tahun 2009 tentang Analisis Mengenai Dampak Lingkungan Hidup
dan selanjutnya Peraturan Menteri Negara Lingkungan Hidup Nomor 12 Tahun
2012 tentang Jenis Rencana Usaha dan/atau Kegiatan Yang Wajib Dilengkapi
Dengan Analisis Mengenai Dampak Lingkungan Hidup.
1.1.3. Justifikasi Kewenangan Penilaian Amdal
PT. Acil Basnah merencanakan melakukan kegiatan eksploitasi yang
diharapkan kegiatan tersebut menjadi penggerak ekonomi wilayah sekitar
khususnya, sumber penerimaan negara melalui devisa serta meningkatkan kualitas
sosial ekonomi dan budaya masyarakat melalui peningkatan pendapatan dan
kesempatan berusaha serta alih teknologi. Di samping dampak positif tersebut
tentunya akan timbul dampak negatif, baik langsung maupun tidak langsung pada
komponen lingkungan fisik kimia, biologi maupun sosial ekonomi budaya dan
kesehatan masyarakat, karena usaha penambangan tersebut mempunyai interaksi
yang kuat dengan lingkungan hidup.

1.2. Tujuan Rencana Kegiatan


1.2.1. Tujuan Secara Umum Maupun Rinci Dilaksanakan Rencana
Kegiatan
Rencana kegiatan penambangan yang akan dilakukan oleh PT. Acil Basnah
secara umum bertujuan untuk :
1. Mengelola potensi sumber daya alam berupa pasir yang terkandung
diwilayah Kabupaten Banjarbanar untuk kepentingan ekonomis.
2. Memenuhi permintaan pasokan pasir lokal wilayah secara khusus dan
nasional secara umum.
3. Meningkatkan pendapatan perusahaan dari kegiatan penambangan pasir
yang dilaksanakan di lokasi penambangan tersebut.
4. Meningkatkan penerimaan daerah dari sektor non migas melalui pajak
perusahaan.

1.2.2. Manfaat Rencana Kegiatan Kepada Masyrakat Sekitar Dan Terhadap


Pembangunan Nasional Dab Daerah

I-3
KA-AMDAL 2016

Adapun manfaat yang akan diperoleh dari kegiatan penambangan yang akan
dilakukan oleh PT. Acil Basnah adalah :
1. Bagi Perusahaan :
a. Keuntungan ekonomis bagi keberlanjutan usaha perusahaan
b. Memenuhi permintaan pasokan pasir dari industri-industri mitra yang
membutuhkan
c. Meningkatkan pendapatan perusahaan dari usaha pertambangan.
2. Bagi Pemerintah :
a. Penggerak percepatan pertumbuhan wilayah (growth development)
b. Penggerak dan pendorong pengembangan sektor inti dan sektor strategis daerah
(prime mover)
c. Meningkatkan pendapatan negara melalui pajak dan royalti
3. Bagi Masyarakat
a. Meningkatkan tingkat kesejahteraan ekonomi dan sosial melalui penciptaan
peluang kerja dan berusaha.
b. Penyerapan tenaga kerja produktif di daerah sekitar kegiatan.

1.2.3. Sasaran dan Tujuan


Kegiatan penambangan pasir PT. Acil Basnah akan memberikan keuntungan-
keuntungan baik di bidang ekonomi, sosial, budaya maupun alih teknologi.
Sasaran dan tujuan dari pelaksanaan rencana kegiatan ini adalah :
(1) Meningkatkan nilai tambah bahan tambang pasir di samping untuk
mencukupi kebutuhan akan bahan baku bangunan dari dalam negeri.
(2) Mendukung pembangunan perekonomian daerah dan nasional serta
meningkatkan dan menghemat devisa negara.
(3) Menambah pendapatan asli daerah dari nilai pajak.
(4) Memberikan kontribusi kepada peningkatan penggunaan pasir.
(5) Meningkatkan pendapatan masyarakat khususnya yang bertempat tinggal di
sekitar lokasi proyek, baik secara langsung sebagai tenaga kerja, maupun
secara tidak langsung melalui sektor informal seperti melayani kebutuhan
perusahaan.
(6) Merangsang pertumbuhan berbagai industri pembangunan.
(7) Menciptakan industri yang bermutu tinggi yang berjati diri, aman, tertib,
nyaman, dan sesuai dengan standar pengelolaan lingkungan.

I-4
KA-AMDAL 2016

(8) Mendukung pengembangan sarana dan prasarana umum khususnya di sekitar


lokasi proyek.
(9) Bagi pemrakarsa akan memperoleh keuntungan hasil usaha, berperan serta
dalam pembangunan daerah.

1.3. Peraturan
Peraturan perundang-undangan yang melandasi penyusunan dokumen AMDAL
Tambang Pasir PT. Acil Basnah ini adalah sebagai berikut:

Undang-Undang Republik Indonesia :


1. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 5 Tahun 1960 tentang Peraturan
Dasar Pokok-Pokok Agraria (kegiatan Tambang Pasir PT. Marin Coal
menggunakan lahan, karena itu salah satu kegiatan yang ditelaah dalam
studi AMDAL ini adalah pengadaan dan pembebasan lahan),
2. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 6 Tahun 1968 jo Nomor 12
Tahun 1970 tentang Penanaman Modal Dalam Negeri (PMDN) (proyek
Tambang Pasir ini merupakan penanaman modal),
3. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 1 Tahun 1970 tentang
Keselamatan Kerja (kegiatan ini akan menyerap tenaga kerja, keselamatan
tenaga kerja perlu dilindungi antara lain dengan mengacu pada undang-
undang ini),
4. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 5 Tahun 1990 tentang
Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya (kegiatan
Penambangan pasir ini melakukan perubahan penutupan lahan dari vegetasi
alamiah menjadi areal pelsus pasir , sehingga perlu mengacu kepada
undang-undang ini),
5. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 3 Tahun 1992 tentang Jaminan
Sosial Tenaga Kerja (JAMSOSTEK) (tenaga kerja perlu dilindungi antara
lain dengan mengacu kepada undang-undang ini),
6. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 5 Tahun 1992 tentang Benda
Cagar Budaya (undang-undang ini menjadi relevan untuk diacu jika di tapak
proyek dan sekitarnya terdapat terdapat peninggalan bersejarah yang perlu
dilindungi),
7. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 14 Tahun 1992 tentang Lalu
Lintas dan Angkutan Jalan (di dalam proyek ini terdapat kegiatan mobilisasi
peralatan dan material dan pengangkutan, sehingga undang-undang ini
relevan untuk diacu),
8. Undang Undang Republik Indonesia Nomor 21 Tahun 1992 tentang Pelayaran
(Karena berlokasi di kawasan pesisir / pantai, maka kegiatan pelsus terkait
dengan kegiatan pelayaran, sehingga undang-undang ini perlu untuk diacu),
9. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 23 Tahun 1992 tentang
Kesehatan (dalam proyek ini, aspek kesehatan perlu mendapat perhatian

I-5
KA-AMDAL 2016

selayaknya, tidak hanya kesehatan tenaga kerja juga kesehatan masyarakat


sekitar, sehingga undang-undang ini perlu pula diacu),
10. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 5 Tahun 1994 tentang
Pengesahan Konvensi Internasional Mengenai Keanekaragaman Hayati
(karena menggunakan sumberdaya lahan, tentu proyek ini berkaitan dengan
aspek keanekaragaman hayati, sehingga undang-undang ini perlu pula
diacu),
11. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 18 tahun 1997 tentang Pajak
Daerah dan Retribusi Daerah sebagaimana telah diubah dengan UU No. 34
tahun 2000 tentang Perubahan UU No. 18 tahun 1997 tentang Pajak Daerah
dan Retribusi Daerah (beroperasinya proyek ikut memberi kontribusi
terhadap pen dapatan daerah antara lain melalui pajak),
12. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 23 Tahun 1997 tentang
Pengelolaan Lingkungan Hidup (tentu undang-undang ini sangat relevan
dengan proyek),
13. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 41 Tahun 1999 tentang
Kehutanan jo. Undang-undang Nomor 19 Tahun 2004 tentang Penetapan
PERPU Nomor 1 Tahun 2004 tentang Perubahan Atas Undang-undang Nomor
41 Tahun 1999 tentang Kehutanan menjadi Undang-undang (undang-undang
ini menjadi relevan jika di dalam tapak proyek dan sekitarnya terdapat
kawasan hutan),
14. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 69 Tahun 2001 tentang
Kepelabuhanan (tentu undang-undang ini sangat relevan dengan proyek,
yang merupakan pelabuhan khusus),
15. Undang-undang Republik Indonesia Nomor 28 Tahun 2002 tentang Bangunan
Gedung (mengingat proyek ini berkaitan dengan pembangunan bangunan /
gedung, maka Undang-undang ini perlu dipakai sebagai acuan);
16. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 13 Tahun 2003 tentang
Ketenagakerjaan (kegiatan ini menyerap tenaga kerja, karena itu masalah
ketenagakerjaan perlu mengacu kepada undang-undang ini),
17. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 7 Tahun 2004 tentang Sumber
Daya Air (proyek ini dalam kegiatannya menggunakan sumber daya air,
sehingga sangat terkait dengan undang-undang ini),
18. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 31 Tahun 2004 tentang
Perikanan (undang-undang ini relevan karena di dalam tapak proyek dan
sekitarnya terdapat badan / sumber daya air / sumber daya perikanan),
19. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 32 Tahun 2004 tentang
Pemerintahan Daerah (di dalam pelaksanaan proyek, tentunya sangat
berkaitan dengan pemerintah daerah setempat, sehingga undang-undang ini
menjadi relevan untuk dijadikan sebagai salah satu acuan),
20. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 38 Tahun 2004 tentang Jalan (di
dalam proyek ini terdapat kegiatan mobilisasi peralatan dan material dan
pengangkutan pasir , sehingga undang-undang ini sangat relevan),

I-6
KA-AMDAL 2016

21. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 25 Tahun 2007 tentang


Penanaman Modal (proyek pelsus ini merupakan salah satu bentuk
penanaman modal),
22. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 26 Tahun 2007 tentang Penataan
Ruang (kegiatan proyek ini sangat terkait dengan aspek tata ruang),
23. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 40 tahun 2007 tentang Perseroan
Terbatas (badan usaha yang mengelola kegiatan proyek ini berbentuk
perseroan terbatas yang memiliki hak dan kewajiban sehingga UU ini relevan
dipakai sebagai acuan).

Peraturan Pemerintah Republik Indonesia :


1. Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 26 Tahun 1985 tentang
Jalan (di dalam proyek ini terdapat kegiatan mobilisasi peralatan dan
material dan pengangkutan pasir , sehingga peraturan ini sangat relevan),
2. Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 22 Tahun 1990 Penyerahan
Sebagian Urusan Pemerintahan dalam Bidang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan
kepada Dati I dan Dati II (di dalam proyek ini terdapat kegiatan mobilisasi
peralatan dan material dan pengangkutan pasir , sehingga peraturan ini
sangat relevan),
3. Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 35 Tahun 1991 tentang
Sungai (proyek ini dalam kegiatannya menggunakan sumber daya air
air/sungai, sehingga sangat terkait dengan peraturan ini),
4. Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 10 Tahun 1993 tentang
Pelaksanaan Undang-undang Nomor 5 Tahun 1992 tentang Benda Cagar
Budaya (PP menjadi relevan untuk diacu jika di sekitar tapak proyek terdapat
peninggalan bersejarah yang perlu dilindungi),
5. Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 41 tahun 1993 tentang Lalu
Lintas dan Angkutan Jalan (di dalam proyek ini terdapat kegiatan mobilisasi
peralatan dan material serta pengangkutan, sehingga peraturan ini sangat
relevan),
6. Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 43 Tahun 1993 tentang
Prasarana dan Lalu Lintas Jalan (di dalam proyek ini terdapat kegiatan
mobilisasi peralatan dan material dan pengangkutan pasir , sehingga
peraturan ini sangat relevan),
7. Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 13 tahun 1994 tentang
Perburuan Satwa Liar (dalam proyek ini terjadi perubahan penutupan lahan
dari vegetasi alamiah menjadi vegetasi budidaya yang sejenis yaitu pelsus
pasir , sehingga ikut mempengaruhi kehidupan satwa liar),
8. Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 69 Tahun 1996 tentang
Pelaksanaan Hak dan Kewajiban, serta Bentuk dan Tata Cara Peran Serta
Masyarakat dalam Penataan Ruang (kegiatan proyek ini sangat terkait dengan
aspek tata ruang, termasuk partisipasi masyarakat),

I-7
KA-AMDAL 2016

9. Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 24 Tahun 1997 tentang


Pendaftaran Tanah (tanah yang dikuasai oleh perusahaan harus diproses
sampai mendapatkan HGU),
10. Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 68 tahun 1998 tentang
Kawasan Suaka Alam dan Kawasan Pelestarian Alam (kegiatan proyek ini
sangat terkait dengan aspek tata ruang, termasuk mengenai kawasan
lindung),
11. Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 18 Tahun 1999 tentang
Limbah Bahan Berbahaya dan Beracun yang Disempurnakan dengan Nomor
85 tahun 1999 tentang Pengelolaan Bahan Berbahaya dan Beracun (peraturan
ini menjadi relevan dengan jika dalam proyek ini dipergunakan B3),
12. Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 19 Tahun 1999 tentang
Pengendalian Pencemaran dan/atau Perusakan Laut (mengingat tapak proyek
dan aktivitas pelsus terletak di kawasan pesisir, maka PP ini relevan untuk
diacu),
13. Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 27 Tahun 1999 tentang
Analisis Mengenai Dampak Lingkungan (jelas peraturan ini sangat relevan
dengan proyek ini yang memang tergolong wajib AMDAL),
14. Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 41 Tahun 1999 tentang
Pengendalian Pencemaran Udara (dalam proyek ini terdapat potensi dampak
penurunan kualitas udara, antara lain dari kegiatan mobilisasi peralatan dan
material, pengangkutan pasir , juga dari kegiatan di pelsus, sehingga
peraturan ini menjadi relevan untuk diacu),
15. Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 25 Tahun 2000 tentang
Kewenangan Pemerintah dan Kewenangan Provinsi sebagai Daerah Otonom
(di dalam pelaksanaan proyek ini, tentu sangat berkaitan dengan pemerintah
daerah / provinsi setempat sebagai daerah otonom, sehingga peraturan ini
perlu diacu),
16. Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 4 Tahun 2001 tentang
Pengendalian Kerusakan dan atau Pencemaran Lingkungan Hidup yang
Berkaitan dengan Kebakaran Hutan dan atau Lahan (di dalam pelaksanaan
proyek terdapat kegiatan pembukaan lahan, sehingga peraturan ini dapat
diacu),
17. Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 69 Tahun 2001 tentang
Pelabuhan (tentu saja PP ini sangat relevan untuk dijadikan sebagai acuan
dalam proyek pelsus ini),
18. Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 74 Tahun 2001 tentang
Pengelolaan Limbah Bahan Berbahaya dan Beracun (PP ini menjadi relevan
dengan jika dalam proyek ini dipergunakan B3),
19. Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 82 Tahun 2001 tentang
Pengelolaan Kualitas Air dan Pengendalian Pencemaran Air (salah satu
potensi dampak dari proyek ini adalah penurunan kualitas air, sehingga
peraturan ini relevan untuk diacu),

I-8
KA-AMDAL 2016

20. Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 34 Tahun 2002 tentang Tata
Hutan dan Penyusunan Rencana Pengelolaan Hutan, Pemanfaatan Hutan dan
Penggunaan Kawasan Hutan (peraturan ini menjadi relevan jika di dalam
tapak proyek dan sekitarnya terdapat kawasan hutan),
21. Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 16 Tahun 2004 tentang
Penatagunaan Tanah (kegiatan proyek ini sangat terkait dengan aspek tata
ruang, termasuk mengenai penatagunaan tanah),
22. Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 36 Tahun 2005 tentang
Peraturan Pelaksanaan Undang-undang Nomor 28 Tahun 2002 tentang
Bangunan Gedung (Peraturan Pemerintah ini diacu karena merupakan
pelaksanaan Undang-undang Nomor 28 Tahun 2002 tentang Bangunan
Gedung);
23. Peraturan Pemerintah Republik Indonesia No. 34 tahun 2006 tentang Jalan
(dalam kegiatan terdapat mobilisasi angkutan material dan peralatan yang
memakai sarana jalan sehingga peraturan ini relevan dipakai sebagai
acuan),
24. Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 38 Tahun 2007 tentang
Pembagian Urusan Pemerintahann Antara Pemerintah, Pemerintahan Daerah
Provinsi, dan Pemerintahan Daerah kabupaten / Kota (PP ini perlu diacu
terkait dengan kewenangan dalam penyelenggaraan urusan bidang
lingkungan hidup),
25. Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 76 Tahun 2007 tentang
Kriteria dan Persyaratan Penyusunan Bidang Usaha yang Tertutup dan Bidang
Usaha yang Terbuka dengan Persyaratan di Bidang Penanaman Modal
(proyek ini merupakan salah satu bentuk penanaman modal),
26. Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 77 Tahun 2007 tentang
Daftar Bidang Usaha yang Tertutup dan Bidang Usaha yang Terbuka dengan
Persyaratan di Bidang Penanaman Modal (proyek ini merupakan salah satu
bentuk penanaman modal),

Keputusan Presiden Republik Indonesia :


1. Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 65 Tahun 1980 tentang
Pengesahan International Convention for The Safety of Life at The Sea
(mengingat tapak proyek dan aktivitas pelsus terletak di kawasan pesisir,
maka Keppres ini relevan untuk diacu),
2. Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 32 Tahun 1990 tentang
Pengelolaan Kawasan Lindung (kegiatan proyek ini sangat terkait dengan
aspek tata ruang, termasuk mengenai kawasan lindung),
3. Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 22 Tahun 1993 tentang
Penyakit yang Timbul Karena Hubungan Kerja (dalam proyek ini, aspek
kesehatan perlu mendapat perhatian selayaknya, terutama berkaitan
dengan penyakit yang timbul karena hubungan kerja, sehingga Keppres ini
perlu pula diacu),

I-9
KA-AMDAL 2016

4. Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 55 Tahun 1994 tentang Tata


Cara Pinjam pakai Kawasan Hutan (Keppres ini menjadi relevan jika di
dalam tapak proyek dan sekitarnya terdapat kawasan hutan),
5. Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 117 tahun 1999 tentang
Perubahan Kedua atas Keppres RI No. 97 tahun 1993 tentang Tatacara
Penanaman Modal (kegiatan Penambangan pasir ini merupakan salah satu
bentuk penanaman modal dalam negeri),
6. Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 29 Tahun 2004 tentang
Penyelenggaraan Penanaman Modal Melalui Sistem Pelayanan Satu Atap
(proyek ini merupakan salah satu bentuk penanaman modal),
7. Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 118 tahun 2000 tentang
Perubahan Kepres Nomor 96 tahun 2000 tentang Bidang Usaha yang
Tertutup dan Bidang Usaha yang terbuka dengan Persyaratan Tertentu Bagi
Penanaman Modal (kegiatan Penambangan pasir ini merupakan salah satu
bentuk penanaman modal dalam negeri),
8. Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 119 Tahun 2000 tentang
Perubahan Kedua Atas Keputusan Presiden Nomor 97 Tahun 1993 tentang
Tata Cara Penanaman Modal (kegiatan Penambangan pasir ini merupakan
salah satu bentuk penanaman modal dalam negeri),
9. Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 29 Tahun 2004 tentang
Penyelenggaraan Penanaman Modal Melalui Sistem Pelayanan Satu Atap
(kegiatan Penambangan pasir ini merupakan salah satu bentuk penanaman
modal dalam negeri),
10. Peraturan Presiden Republik Indonesia Nomor 111 tahun 2007 tentang
Perubahan atas Peraturan Pemerintah No. 77 tahun 2007 tentang Daftar
Bidang Usaha yang Tertutup dan Bidang Usaha yang Terbuka dengan
persyaratan di Bidang Penanaman Modal (kegiatan Penambangan pasir ini
merupakan salah satu bentuk penanaman modal dalam negeri).
Keputusan / Peraturan Menteri Negara Kependudukan dan Lingkungan Hidup
/ Menteri Negara Lingkungan Hidup :
1. Surat Edaran Menteri Negara Kependudukan dan Lingkungan Hidup Nomor
Kep-03/MENKLH/6/1987 tentang Prosedur Penanggulangan Kasus
Pencemaran dan Perusakan Lingkungan Hidup (berbagai kemungkinan
penurunan kualitas lingkungan akibat kegiatan proyek perlu diantisipasi
dan ditanggulangi, antara lain dengan mengacu kepada KepmenKLH ini).
2. Keputusan Menteri Negara Kependudukan dan Lingkungan Hidup Nomor
Kep-02/MENKLH/I/1988 tentang Pedoman Penetapan Baku Mutu
Lingkungan (baku mutu lingkungan diperlukan sebagai standard untuk
mengetahui apakah telah terjadi penurunan kualitas lingkungan atau tidak).
3. Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup Nomor Kep-
13/MENKLH/3/1995 tentang Baku Mutu Emisi Sumber Tidak Bergerak
(proyek ini berpotensi menimbulkan dampak penurunan kualitas udara,
sehingga KepmenLH ini menjadi relevan untuk diacu).

I-10
KA-AMDAL 2016

4. Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup Nomor Kep-


48/MENKLH/II/1996 tentang Baku Tingkat Kebisingan (proyek ini
berpotensi menimbulkan dampak peningkatan kebisingan, terutama dari
kegiatan mobilisasi peralatan dan material, pengangkutan pasir , juga dari
kegiatan Penambangan pasir di , sehingga KepmenLH ini menjadi relevan
untuk diacu sebagai baku mutu).
5. Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup Nomor 02 tahun 2000
tentang Panduan Penilaian Dokumen Analisis Mengenai Dampak
Lingkungan Hidup (KepmenLH ini diperlukan sebagai acuan dan bahan
untuk meningkatkan kualitas dokumen AMDAL yang sedang disusun).
6. Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup Nomor 37 Tahun 2003
tentang Metode Analisis Kualitas Air Permukaan dan Pengambilan Contoh
Air Permukaan (berkaitan dengan potensi dampak penurunan kualitas air
dari proyek ini, maka KepmenLH ini relevan untuk diacu terutama untuk
sampling dan analisis parameter kualitas air).
7. Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup Nomor 51 Tahun 2004
tentang Baku Mutu Air Laut (Salah satu titik sampling kualitas air adalah
air laut / pantai, sehingga KepmenLH ini relevan untuk diacu).
8. Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup Nomor 45 Tahun 2005
tentang Pedoman Penyusunan Pelaksanaan Rencana Pengelolaan
Lingkungan Hidup (RKL) dan Rencana Pemantauan Lingkungan Hidup
(RPL) (RKL dan RPL merupakan dokumen yang tak terpisahkan dari
dokumen AMDAL lainnya, yaitu KA-ANDAL, ANDAL dan Ringkasan
Eksekutif. Untuk memantau pelaksanaan RKL dan RPL maka KepmenLH
ini perlu diacu).
9. Peraturan Menteri Negara Lingkungan Hidup Nomor 08 Tahun 2006
tentang Pedoman Penyusunan Analisis Mengenai Dampak Lingkungan
(proses dan penyusunan dokumen AMDAL mengacu kepada KepmenLH
ini).
10. Peraturan Menteri Negara Lingkungan Hidup Nomor 11 Tahun 2006 tentang
Jenis Rencana Usaha dan/atau Kegiatan yang Wajib Dilengkapi Analisis
Mengenai Dampak Lingkungan (PermenLH ini diperlukan sebagai acuan
untuk menetapkan dan memastikan apakah proyek ini wajib AMDAL atau
tidak).

Keputusan Menteri Perhubungan:


1. Keputusan Menteri Perhubungan Nomor KM.60 Tahun 1993 tentang Marka
Jalan (di dalam proyek ini terdapat kegiatan penggunaan jalan /
transportasi yaitu mobilisasi peralatan dan material dan pengangkutan
pasir , sehingga Kepmen ini sangat relevan),
2. Keputusan Menteri Perhubungan Nomor KM.61 Tahun 1993 tentang
Rambu-rambu Lalu Lintas di Jalan (di dalam proyek ini terdapat kegiatan
penggunaan jalan / transportasi yaitu mobilisasi peralatan dan material
dan pengangkutan pasir , sehingga Kepmen ini sangat relevan).

I-11
KA-AMDAL 2016

3. Keputusan Menteri Perhubungan Nomor KM.62 Tahun 1993 tentang Alat


Pemberi Isyarat Lalu Lintas (di dalam proyek ini terdapat kegiatan
penggunaan jalan / transportasi yaitu mobilisasi peralatan dan material
dan pengangkutan pasir , sehingga Kepmen ini sangat relevan).
4. Keputusan Menteri Perhubungan Nomor 75 Tahun 1994 tentang Pedoman
Teknis Penyusunan Analisis Dampak Lingkungan Bidang Kepelabuhanan
(tentu saja Keputusan Menhub ini menjadi acuan yang penting dalam
penyusunan dokumen AMDAL ini),
5. Keputusan Menteri Perhubungan Nomor KM.53 Tahun 2002 tentang Tatanan
Pelabuhan Nasional (tentu saja Keputusan Menhub ini menjadi acuan yang
penting dalam penyusunan dokumen AMDAL ini),
6. Keputusan Menteri Perhubungan Nomor KM.55 Tahun 2002 tentang
Pengelolaan Pelsus (tentu saja Keputusan Menhub ini menjadi acuan yang
penting dalam penyusunan dokumen AMDAL ini).

Keputusan Menteri Tenaga Kerja :


1. Surat Edaran Menteri Tenaga Kerja Nomor SE-01/MEN/1997 tentang Nilai
Ambang Batas Faktor Kimia di Udara Lingkungan Kerja (SE Menaker ini
merupakan salah satu acuan dalam menilai kualitas udara di tapak proyek
pelsus PT. MARINE COAL sebagai lingkungan kerja),
2. Keputusan Menteri Tenaga Kerja Nomor KEP-51/MEN/1999 tentang Nilai
Ambang Batas Faktor Fisik di Tempat Kerja (Keputusan Menaker ini
merupakan salah satu acuan dalam menilai kualitas udara di tapak proyek
pelsus PT. MARINE COAL sebagai lingkungan kerja),
Keputusan Menteri Pertanian :
1. Keputusan Menteri Pertanian Nomor 66/Kpts/Um/1979 tentang Kriteria
Satwa yang Dilindungi Menurut Ordonansi Perlindungan Binatang Liar
yang Dilindungi (karena menggunakan sumberdaya lahan, tentu proyek ini
berkaitan dengan aspek keanekaragaman hayati, termasuk dampak
terhadap aspek satwa liar, sehingga Kepmen ini perlu pula diacu),
2. Keputusan Menteri Pertanian Nomor 837/Kpts/Um/11/1980 tentang Kriteria
dan Tata Cara Penetapan Hutan Lindung (kegiatan proyek ini sangat terkait
dengan aspek tata ruang, sehingga kriteria dan tata cara penetapan hutan
lindung juga perlu diacu),
3. Keputusan Menteri Pertanian Nomor 421/1970, 327/1972, 66/1973,
35/1975, 90/1977, 537/1977, 327/1978, 742/1978, 247/1979, 757/1979,
576/1980, 716/1980, 12/1987 tentang Jenis Satwa yang Dilindungi oleh
Undang Undang (karena menggunakan sumberdaya lahan, tentu proyek ini
berkaitan dengan aspek keanekaragaman hayati, termasuk dampak
terhadap aspek satwa liar, sehingga Kepmen-kepmen ini perlu pula diacu,
terutama sebagai kriteria untuk keperluan analisis dampak lingkungan
dalam studi ini).

I-12
KA-AMDAL 2016

Keputusan Menteri Kehutanan dan Perkebunan


1. Keputusan Menteri Kehutanan Nomor 54/Kpts/Um/2/1982 tentang Jenis-
jenis Pohon dalam Kawasan Hutan yang Dilindungi (Kepmen ini
merupakan acuan / kriteria jenis-jenis pohon yang dilindungi, terutama jika
di tapak proyek dan sekitarnya terdapat kawasan hutan),
2. Keputusan Menteri Kehutanan Nomor 261/Kpts-VI/1990 tentang
Penambahan Lampiran Keputusan Menteri Pertanian Nomor
54/Kpts/Um/2/1982 tentang Jenis-jenis Pohon Dalam Kawasan Hutan yang
Dilindungi (Kepmen ini merupakan acuan / kriteria jenis-jenis pohon yang
dilindungi di dalam kawasan hutan),
3. Keputusan Menteri Kehutanan Nomor 301/Kpts-II/1991 tentang
Inventarisasi Satwa yang Dilindungi Undang-Undang dan/atau Bagian-
bagiannya yang dipelihara oleh Perorangan (terkait dengan upaya
pelestarian satwa, Kepmenhut ini tentu sangat relevan),
4. Keputusan Menteri Kehutanan dan Perkebunan Nomor 58/Kpts-II/1996
tentang Perubahan SK Menteri Pertanian No. 54/Kpts-Um/2/1972 jo. SK
Menhut No. 261/Kpts-IV/1990 tentang Jenis-jenis Pohon yang Dilindungi di
dalam Kawasan Hutan yang Dilindungi (Kepmen ini merupakan acuan /
kriteria jenis-jenis pohon yang dilindungi di dalam kawasan hutan),
5. Keputusan Menteri Kehutanan Nomor 464/KPT.s-II/1995 tentang Hutan
Lindung (proyek ini sangat terkait dengan aspek tata ruang, termasuk
mengenai kawasan hutan lindung, sehingga Kepmen ini menjadi relevan
untuk diacu),
6. Keputusan Menteri Kehutanan Nomor 453/Kpts-II/1999 tentang Kawasan
Hutan dan Perairan di Provinsi Kalimantan Tenggara (Kepmen ini
merupakan salah satu acuan dalam penelaahan / analisis aspek tata ruang
dalam studi AMDAL ini, terutama jika di tapak proyek dan sekitarnya
terdapat kawasan hutan).

Peraturan dan Keputusan Menteri Pekerjaan Umum :


1. Peraturan Menteri Pekerjaan Umum Nomor 45 Tahun 1990 tentang
Pengendalian Mutu Air pada Sumber Air (PermenPU ini relevan karena di
tapak proyek terdapat sungai sebagai sumber air),
2. Peraturan Menteri Pekerjaan Umum Nomor 48 Tahun 1990 tentang
Pengelolaan Atas Air dan atau Sumber Air pada Wilayah Sungai
(PermenPU ini relevan karena di tapak proyek terdapat sungai sebagai
sumber air),
3. Keputusan Menteri Pekerjaan Umum Nomor 63/PRT/1993 tentang Garis
Sempadan Sungai, Daerah Manfaat Sungai dan Daerah Penguasaan Sungai
(proyek ini dalam kegiatannya menggunakan sumber daya air yang
terdapat di dalam tapak proyek dan sekitarnya, sehingga sangat terkait
dengan peraturan ini).

I-13
KA-AMDAL 2016

4. Keputusan Menteri Pekerjaan Umum Nomor 29/PRT/M/1998 tentang


Pedoman Persyaratan Teknis Bangunan Gedung (Keputusan ini sangat
relevan untuk dipedomani dalam rangka pembangunan gedung / bangunan
di lokasi proyek).

Keputusan Menteri Kesehatan :


1. Keputusan Menteri Kesehatan Nomor 718/MENKES/PER/XI/1987 tentang
Pengaruh Kebisingan Terhadap Tingkat Kesehatan (dampak aktivitas proyek
terhadap kesehatan perlu ditelaah, sehingga Pemenkes ini dapat dijadikan
sebagai salah satu acuan),
2. Keputusan Menteri Kesehatan Nomor 416/MENKES/PER/IX/1990 tentang
Syarat-syarat dan Pengawasan Kualitas Air (Kepmen ini merupakan salah
satu baku mutu dalam penelaahan / analisis kualitas air, khususnya untuk
air minum),
3. Keputusan Menteri Kesehatan nomor 472 tahun 1996 tentang Pengamanan
Bahan Berbahaya bagi Kesehatan (dalam proyek ini, aspek kesehatan perlu
mendapat perhatian selayaknya, tidak hanya kesehatan tenaga kerja juga
kesehatan masyarakat, sehingga Kepmen ini perlu pula diacu),
4. Keputusan Menteri Kesehatan nomor 261/MENKES/SK/II/1998 tentang
Persyaratan Kesehatan Lingkungan Kerja (Kepmen ini merupakan acuan /
kriteria dalam penelaahan / analisis kesehatan lingkungan kerja),
5. Keputusan Menteri Kesehatan Nomor 829 Tahun 1999 tentang Persyaratan
Kesehatan Perumahan (Kepmen ini merupakan acuan / kriteria dalam
penelaahan / analisis kesehatan lingkungan pemukiman tenaga kerja),
6. Keputusan Menteri Kesehatan Nomor 876/MMenkes/SK/VIII/2001 tentang
Pedoman Teknis Analisis Dampak Kesehatan Lingkungan (Kepmen ini
merupakan acuan dalam analisis kesehatan lingkungan).
7. Keputusan Menteri Kesehatan Nomor 907/MENKES/SK/VII/2002 tentang
Syarat-syarat dan Pengawasan Kualitas Air Minum (Kepmen ini merupakan
salah satu baku mutu dalam penelaahan / analisis kualitas air, khususnya
untuk air minum);

Keputusan Menteri Negara Penggerak Dana Investasi / Kepala BKPM :


1. Keputusan Kepala BKPM Nomor 57/SK/2004 jo no. 70/SK/2004 tentang
Pedoman dan Tata Cara Penanaman Modal Dalam Rangka PMA dan PMDN
(proyek pelsus ini merupakan salah satu bentuk penanaman modal);
2. Keputusan Kepala BKPM Nomor 61/SK/2004 jo no. 71/SK/2004 tentang
Pengendalian Pelaksanaan Penanaman Modal (proyek pelsus ini merupakan
salah satu bentuk penanaman modal);
3. Keputusan Kepala BKPM Nomor 174/SK/2005 tentang Perubahan Ketiga
Atas Keputusan Kepala BKPM Nomor 76/SK/2004 tentang Penerbitan Izin
Usaha / Izin Usaha Tetap bagi Perusahaan yang Didirikan dalam rangka

I-14
KA-AMDAL 2016

PMDN dan PMA yang Telah Beroperasi / Berproduksi (proyek pelsus ini
merupakan salah satu bentuk penanaman modal).

Peraturan Menteri Negara Agraria / Kepala BPN :


1. Peraturan Menteri Negara Agraria / Kepala Badan Pertanahan Nasional
Nomor 2 Tahun 1993 tentang Tata Cara Memperoleh Izin Lokasi dan Hak
Atas Tanah Bagi Perusahaan dalam rangka Penanaman Modal, jo Peraturan
Menteri Negara Agraria / Kepala Badan Pertanahan Nasional Nomor 2
Tahun 1999 tentang Izin Lokasi (kegiatan pelsus PT. Marine Coal
menggunakan lahan sebagai tapak proyek, salah satu kegiatan yang
ditelaah adalah pengadaan dan pembebasan lahan).

Keputusan Kepala Badan Pengendalian Dampak Lingkungan


1. Keputusan Kepala Badan Pengendalian Dampak Lingkungan Nomor 056
tahun 1994 tentang Pedoman Mengenai Ukuran Dampak Penting (Kepka
ini merupakan acuan / kriteria dalam penentuan dampak penting dalam
studi AMDAL ini).
2. Keputusan Kepala Bapedal Nomor 01/1995 tentang Tata cara Persyaratan
Penyimpanan sementara Limbah B3 (Kepka ini dapat menjadi acuan dalam
pengelolaan limbah B3 jika di dalam aktivitas proyek pelsus ini
dipergunakan B3),
3. Keputusan Kepala Bapedal Nomor KEP.205/BAPEDAL/07/1996 tentang
Pedoman Teknis Pengendalian Pencemaran Udara (Kepka ini merupakan
salah satu acuan / kriteria teknis dalam pengendalian pencemaran udara);
4. Keputusan Kepala Bapedal Nomor 255 tahun 1996 tentang Tata Cara dan
Persyaratan Penyimpanan dan Pengumpulan Minyak Pelumas Bekas (Kepka
ini merupakan salah satu acuan / kriteria dalam pengelolaan minyak
pelumas bekas).
5. Keputusan Kepala Badan Pengendalian Dampak Lingkungan Nomor KEP-
299/11/1996 tentang Pedoman Teknis Kajian Aspek Sosial dalam
Penyusunan Analisis Mengenai Dampak Lingkungan (Kepka ini merupakan
acuan / kriteria dalam analisis aspek sosial dalam studi AMDAL ini).
6. Surat Edaran Kepala Bapedal Nomor 8/SE/02/1997 tentang Penyerahan
Minyak Pelumas Bekas (Kepka ini merupakan salah satu acuan / kriteria
dalam pengelolaan minyak pelumas bekas).
7. Keputusan Kepala Badan Pengendalian Dampak Lingkungan Nomor KEP-
124/12/1997 tentang Panduan Kajian Aspek Kesehatan Masyarakat dan
Penyusunan Analisis Mengenai Dampak Lingkungan (Kepka ini merupakan
acuan / kriteria dalam analisis aspek kesehatan masyarakat dalam studi
AMDAL ini).
8. Keputusan Kepala Badan Pengendalian Dampak Lingkungan Nomor 08
tahun 2000 tentang Keterlibatan Masyarakat dan Keterbukaan Informasi

I-15
KA-AMDAL 2016

dalam Proses Analisis Mengenai Dampak Lingkungan Hidup (Kepka ini


merupakan acuan / kriteria dalam keterlibatan masyarakat dan
keterbukaan informasi dalam studi AMDAL ini).
Peraturan Daerah Provinsi Kalimantan Tenggara :
1. Peraturan Daerah Provinsi Kalimantan Tenggara Nomor 5 Tahun 1994
tentang Pengelolaan Lingkungan Hidup Daerah (sesudah UU No. 23/1997
tentang Pengelolaan Lingkungan Hidup, maka Perda ini perlu juga diacu
dalam pelaksanaan proyek ini).
2. Peraturan Daerah Propinsi Kalimantan Tenggara Nomor 9 Tahun 2000
tentang Rencana Tata Ruang Wilayah Provinsi Kalimantan Tenggara (Perda
ini merupakan salah satu acuan / kriteria dalam telaahan / analisis aspek
tata ruang).
3. Peraturan Daerah Propinsi Kalimantan Tenggara Nomor 10 tahun 2003
tentang Pengendalian Muatan Mobil Barang di Jalan (Perda ini relevan
untuk diacu, mengingat dalam kegiatan proyek juga terjadi aktivitas
pengangkutan / transportasi);
4. Peraturan Daerah Provinsi Kalimantan Tenggara Nomor 2 Tahun 2006
tentang Pengelolaan Kualitas Air dan Pengendalian Pencemaran Air (Perda
ini merupakan salah satu acuan / kriteria dalam telaahan / analisis aspek
kualitas air).
5. Peraturan Daerah Provinsi Kalimantan Tenggara Nomor 15 Tahun 2006
tentang Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah Provinsi
Kalimantan Tenggara Tahun 2006 2010 (Perda ini relevan untuk diacu
dalam pelaksanaan proyek pelsus ini),
6. Peraturan Daerah Provinsi Kalimantan Tenggara Nomor 3 Tahun 2008
tentang Pengaturan Penggunaan Jalan Umum dan Jalan Khusus untuk
Angkutan Tambang dan Hasil Perusahaan Perkebunan (Perda ini relevan
untuk diacu, mengingat dalam kegiatan proyek juga terjadi aktivitas
pengangkutan / transportasi).

Keputusan / Peraturan Gubernur Kalimantan Tenggara :


1. Peraturan Gubernur Kalimantan Tenggara Nomor 032 Tahun 2005 tentang
Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah Kalimantan Tenggara
2006 2010 (pelaksanaan proyek perlu mengacu Peraturan Gubernur ini).
2. Peraturan Gubernur Kalimantan Tenggara Nomor 04 Tahun 2007 tentang
Baku Mutu Limbah Cair (BMLC) Bagi Kegiatan Industri, Hotel, Restoran,
Rumah Sakit, Domestik dan Pertambangan (pelaksanaan proyek perlu
mengacu Peraturan Gubernur ini dalam pengelolaan limbah cair);
3. Peraturan Gubernur Kalimantan Tenggara Nomor 05 Tahun 2007 tentang
Peruntukan dan Baku Mutu Air Sungai (Peraturan Gubernur ini merupakan
salah satu acuan / kriteria dalam telaahan / analisis aspek kualitas air).

I-16
KA-AMDAL 2016

4. Peraturan Gubernur Kalimantan Tenggara Nomor 053 Tahun 2007 tentang


Baku Mutu Udara Ambien dan Baku Tingkat Kebisingan (Peraturan
Gubernur ini merupakan salah satu acuan / kriteria dalam telaahan /
analisis aspek kualitas udara dan kebisingan).

Peraturan Daerah Kabupaten Banajarbanar :


1. Peraturan Daerah Kabupaten Banajarbanar Nomor 13 Tahun 1993 tentang
Rencana Tata Ruang Wilayah Kabupaten Banajarbanar (Perda ini
merupakan salah satu acuan / kriteria dalam telaahan / analisis aspek tata
ruang),
2. Peraturan Daerah Kabupaten Banajarbanar Nomor 27 Tahun 2004 tentang
Rencana Strategis Kabupaten Banajarbanar (Perda ini merupakan salah
satu acuan dalam pelaksanaan proyek pelsus ini),
3. Peraturan Daerah Kabupaten Banajarbanar Nomor 19 Tahun 2005 tentang
Rencana Tata Ruang Wilayah Kabupaten Banajarbanar (Perda ini
merupakan salah satu acuan dalam pelaksanaan proyek pelsus ini),
4. Peraturan Daerah Kabupaten Banajarbanar Nomor 7 Tahun 2006 tentang
Rencana Tata Ruang Wilayah Kabupaten Banajarbanar (Perda ini
merupakan salah satu acuan dalam pelaksanaan proyek pelsus ini),
5. Peraturan Daerah Kabupaten Banajarbanar Nomor 9 Tahun 2006 tentang
Rencana Tata Ruang Wilayah Kabupaten Banajarbanar (Perda ini
merupakan salah satu acuan dalam pelaksanaan proyek pelsus ini).

1.4. Pelaksanaan Studi


1.4.1. Pemarkarsa Dan Penanggung Jawab Rencana Dan/Atau Kegiatan
Nama Perusahaan : PT. Acil Basnah
Kegiatan : Penambangan pasir
Kantor : Jl. Sukasuka No. 56 RT. 02 RW. 01 Kel. Padang
Janda Kec. Karau Kab. Tanah Laut Prov.
Kalimantan Tenggara

Penanggung Jawab Pelaksana Rencana Kegiatan :


Nama : Hj. Ceceng
Jabatan : Direktur Utama

1.4.2. Pelaksana Studi Amdal


Sesuai dengan ketentuan pasal 10 ayat (2b) peraturan pemerintah Nomor 27
tahun 2012 tentang ijin lingkungan, dalam hal penyusunan dokumen AMDAL ini

I-17
KA-AMDAL 2016

PT. Acil Basnah mengunakan lembaga penyedia jasa penyusunan (LPJP)


AMDAL.

1.4.2.1. Lembaga Penyedia Jasa Penyusunan AMDAL


Nama Perusahaan : CV. Anugrah Dusta
Nama Registrasi : 0022/LPJ/AMDAL-1/LRK/KLH
Alamat Kantor : Jl. A. Yani km 25 No. 8 RT. 01 RW 05 Kel.
Landasan Ulin Timur, Kec. Landasan Ulin
Banjarbaru Kalimanatan Selatan
Penanggung Jawab : H. Benzoet, S.kel. Msi
Jabatan : Direktur
Alamat Penanggung Jawab : Jl. Kebun Ganja Komp. Taobat Kumat Gg. Haning
Blok Z No.3 RT 17 RW 45 Kel Arjuna Barat Kec
Arjuna Kota Batu Akik Kalimantan Tenggara

1.4.2.2. Tim Penyusun


N
Jabatan Nama Bidang Kompentisi
o
Rusdiansyah Ridani, Ahli Lingkungan AMDAL A Kompetisi (KTPA)
1 Ketua Tim
S.kel M.si dan B Kompetensi AMDAL No.k.001.01.11.16.0
Ahli Ilmu Lingkungan,
Anggota Kompetisi (KTPA)
2 H. Budimansyah, S.si AMDAL A dan B
Tim No.k.002.02.22.16.0
Kompetensi AMDAL
Anggota Kholilul Rahman S.kel Ahli Teknik Sumberdaya Air, Kompetisi (KTPA)
3
Tim M.si AMDAL B No.k.003.03.33.16.0
Anggota Syarifah Aidha Nur .S. Kompetisi (KTPA)
4 Ahli Kimia Lingkungan
Tim S.kel M.si No.k.004.04.33.16.0
Anggota Kompetisi (KTPA)
5 Novi Yanti S. S.kel M.si Ahli Geologi AMDAL B
Tim No.k.005.05.33.16.0
Tabel 1.1. Tim Penyusun Studi Amdal PT. Acil Basnah

I-18
KA-AMDAL 2016

I-19