Anda di halaman 1dari 36

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Imunisasi diperkirakan dapat mencegah 2,5 juta kasus kematian anak per tahun
di seluruh dunia. Di Indonesia, imunisasi merupakan kebijakan nasional melalui
program imunisasi yang masih sangat diperlukan untuk melakukan pengendalian
Penyakit yang Dapat Dicegah Dengan Imunisasi (PD3I), seperti Tuberkulosis (TB),
dipteri, pertusis (penyakit pernapasan), campak, tetanus, polio dan hepatitis B.
Program imunisasi sangat penting agar tercapai kekebalan masyarakat (population
immunity). Program Imunisasi di Indonesia dimulai pada tahun 1956 dan pada tahun
1990, Indonesia telah mencapai status Universal Child Immunization (UCI), yang
merupakan suatu tahap dimana cakupan imunisasi di suatu tingkat administrasi telah
mencapai 90% atau lebih. Saat ini Indonesia masih memiliki tantangan mewujudkan
100% UCI Desa/Kelurahan (Hadinegoro, 2002).
Faktor terpenting yang harus dipertimbangkan dalam pembuatan vaksin
imunisasi adalah keseimbangan antara imunitas yang akan dicapai dengan reaksi
yang tidak diinginkan yang mungkin timbul. Untuk mencapai imunogenisitas yang
tinggi, vaksin harus berisi antigen yang efektif untuk merangsang respons imun
protektif resipien dengan nilai antibodi di atas ambang pencegahan untuk jangka
waktu yang cukup panjang. Sebaliknya antigen harus diupayakan mempunyai sifat
reaktogenisitas yang rendah sehingga tidak menimbulkan efek samping yang berat,
dan yang jauh lebih ringan apabila dibandingkan dengan komplikasi penyakit yang
bersangkutan secara alami. Pada kenyataannya, tidak ada satu jenis vaksin pun yang
sempurna. Namun dengan kemajuan di bidang bioteknologi saat ini telah dapat dibuat
vaksin yang relatif efektif dan aman (Gunawan,dkk,2000)
Seiring dengan cakupan imunisasi yang tinggi, maka penggunaan vaksin juga
meningkat sehingga reaksi vaksinasi yang tidak diinginkan juga meningkat. Hal yang
penting dalam menghadapi reaksi vaksinasi yang tidak diinginkan ialah: Apakah
kejadian tersebut berhubungan dengan vaksin yang diberikan? Ataukah bersamaan
dengan penyakit lain yang telah diderita sebelum pemberian vaksin (koinsidensi)?

1
Seringkali hal ini tidak dapat ditentukan dengan tepat sehingga oleh WHO
digolongkan dalam kelompok adverse events following immunisation (AEFI) atau
kejadian ikutan pasca imunisasi (KIPI). (Hadinegoro, 2002)
Kejadian Ikutan Pasca Imunisasi (KIPI) adalah semua kejadian sakit dan
kematian yang terjadi dalam masa 1 bulan setelah imunisasi. Untuk mengetahui
hubungan antara pemberian imunisasi dengan KIPI diperlukan pelaporan dan
pencatatan semua reaksi yang tidak diinginkan yang timbul setelah pemberian
imunisasi. Adanya kasus KIPI dapat mengancam kepercayaan masyarakat terhadap
program imunisasi. Surveilans KIPI sangat membantu program imunisasi, khususnya
untuk memperkuat keyakinan masyarakat akan pentingnya imunisasi sebagai upaya
pencegahan penyakit yang paling efektif. (Ranuh, dkk, 2011).

Di kecamatan Sukamakmur Provinsi Aceh, cakupan imunisasi pada tahun 2016


belum mencapai 90% dan ditemukan bahwa pada tahun 2013 sampai tahun 2016
terdapat laporan KIPI sebanyak 4 kasus. Berdasarkan latar belakang di atas, penulis
melakukan konseling kepada orang tua bayi yang mengalami KIPI dan memberikan
edukasi dan tatalaksana yang tepat guna meningkatkan kepercayaan pasien dan
masyarakat sekitar pasien terhadap program imunisasi.

1.2 Tujuan
Menggali pengetahuan pasien tentang KIPI dan tatalaksananya
Meningkatkan pengetahuan pasien tentang KIPI

1.3 Manfaat
1. Bagi Puskesmas Sukamakmur
Puskesmas dapat mengetahui adanya KIPI yang dilaporkan dan penanganan
KIPI oleh ibu dan diharapkan Puskesmas Sukamakmur dapat memberikan
promosi kesehatan pada ibu yang membawa bayinya untuk imunisasi

2
2. Bagi Peneliti
Peneliti dapat menerapkan teori penelitian secara langsung dan juga dapat
digunakan sebagai data dasar untuk penelitian selanjutnya
3. Bagi Istitusi pendidikan
Sebagai gambaran serta informasi bagi penelitian selanjutnya
4. Bagi ibu atau masyarakat
Ibu dapat mengetahui tentang kemungkinan adanya kejadian ikutan pasca
imunisasi

3
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Pengertian Imunisasi

Imunisasi adalah suatu cara untuk meningkatkan kekebalan seseorang

secara aktif terhadap suatu antigen, sehingga bila kelak ia terpajan pada

antigen yang serupa, tidak terjadi penyakit. Dilihat dari cara timbulnya maka

terdapat dua jenis kekebalan, yaitu kekebalan pasif dan kekebalan aktif.

Kekebalan pasif adalah kekebalan yang diperoleh dari luar tubuh, bukan

dibuat oleh indivindu itu sendiri. Contohnya adalah kekebalan pada jenis yang

diperoleh dari ibu, atau kekebalan yang diperoleh setelah pemberian suntikan

imunoglobulin, kekebalan pasif tidak berlangsung lama karena akan

dimetabolisme oleh tubuh. Kekebalan aktif adalah kekebalan yang dibuat oleh

tubuh sendiri akibat terpajan pada antigen seperti pada imunisasi, atau

terpajan secara alamiah, kekebalan aktif biasanya berlangsung lebih lama.

(Hadinegoro, 2002)

2.2 Tujuan Imunisasi

Tujuan imunisasi untuk mencegah terjadinya penyakit tertentu pada

seseorang dan menghilangkan penyakit tertentu pada sekelompok masyarakat

(populasi) atau bahkan menghilangkan penyakit tertentu dari dunia seperti

pada imunisasi Cacar Variola. Keadaan ini biasanya terjadi pada jenis

penyakit penularannya melalui manusia. (Ranuh, dkk., 2011).

4
2.3 Jadwal Imunisasi menurut IDAI

Tabel 1. Jadwal imunisasi menurut IDAI

Tabel 2. Jadwal Imunisasi

Jenis Jumlah Selang Sasaran Keterangan


vaksin Vaksin Waktu
Pemberian
Hepatitis 3 Kali -HB0 pada Bayi 0-12 Untuk melindungi resiko
bayi 0-7 bulan penularan penyakit Hepatitis
hari B yang dalam kurun waktu
-Hb1 bayi tertentu dapat menyebabkan
2 bulan, serosis dan hematoma.
Hb
BCG 1 Kali selanjut Bayi 011 Untuk mengurangi resiko
nya bulan tuberculosis berat (meningitis
dengan tuberculosis dan tuber culosis
selang miller)

5
waktu 1
minggu
DPT 3 Kali (DPT 4 minggu 211 bulan Anti toksin difteri berfungsi
1,2,3) bayi sebagai pengikat toxin difteri
yang beredar dalam darah
Pertusis toxin memproduksi
eksotoksin untuk mencegah
kerusakan saluran nafas intra
serebral dan menjaga gejala
klinis pada manusia. Anti
tetanus berfungsi sebagai
pencegahan terjadinya
produksi tetanospasmia yang
diakibatkan infeksi tetanus.

POLIO 3 Kali (DPT 4 minggu 2-11 bulan Vaksin yang digunakan


1,2,3) sebagai antibodi dalam darah
maupun pada epithelium usus
untuk mempertahankan
terhadap virus polio liar.
CAMPAK 1 Kali Bayi 9 Vaksin yang digunakan untuk
11 bulan memproteksi dari virus
campak

2.4 Tata Cara Pemberian Imunisasi

Sebelum melakukan imunisasi, dianjurkan mengikuti tata cara

sebagai berikut :

a. Memberitahukan secara rinci tentang risiko vaksinasi dan risiko apabila tidak

diimunisasi.

b. Periksa kembali persiapan untuk melakukan pelayanan secepatnya bila terjadi

reaksi ikutan yang tidak diharapkan.

c. Baca dengan teliti informasi tentang produk (vaksin) yang akan diberikan

jangan lupa mengenai persejutuan yang telah diberikan kepada orang tua.

d. Melakukan tanya jawab dengan orang tua atau pengasuhnya sebelum

melakukan imunisasi

e. Tinjau kembali apakah ada kontra indikasi terhadap vaksin yang akan

diberikan

6
f. Periksa identitas penerima vaksin dan berikan antipiretik bila diperlukan

g. Periksa jenis vaksin dan yakin bahwa vaksin tersebut telah disimpan dengan

baik

h. Periksa vaksin yang akan diberikan apakah tampak tanda-tanda perubahan,

periksa tanggal kadaluwarsa dan cacat hal-hal istimewa, misalnya perubahan warna

menunjukkan adanya kerusakan.

i. Yakin bahwa vaksin yang akan diberikan sesuai jadwal.

j. Berilah petunjuk (sebaiknya tertulis) kepada orang tua atau pengasuh apa

yang harus dikerjakan dalam kejadian reaksi yang biasa atau reaksi ikutan

yang lebih berat.

k. Catat imunisasi dalam rekam medis pribadi dan dalam catatan klinis

l. Catatan imunisasi secara rinci harus disampaikan kepada Dinas Kesehatan

bidang Pemberantasan Penyakit Menular (P2M)

m. Periksa status imunisasi anggota keluarga lainnya dan tawarkan vaksinasi

untuk mengejar ketinggalan, bila diperlukan

n. Dalam situasi yang dilaksanakan untuk kelompok besar, pengaturan secara

rinci bervariasi, namun rekomendasi tetap seperti di atas dan berpegang pada

prinsip-prinsip higienis, surat persejutuan yang valid, dan pemerikasaan

/penilaian sebelum imunisasi harus dikerjakan. (Ranuh, dkk., 2011).

2.5 Penyimpanan Vaksin

0 0
a. Semua vaksin disimpan pada suhu 2 C sampai dengan 8 C

b. Bagian bawah lemari es diletakkan cool pack sebagai penahan dingin dan

kestabilan suhu

7
c. Peletakan dus vaksin mempunyai jarak antara minimal 1-2 cm atau satu jari

tangan

d. Vaksin BCG, Campak, Polio diletakkan dekat dengan evaporator

e. Vaksin DPT, TT, DT, Hepatitis B, DPT diletakkan jauh dengan

evaporator

f. Vaksin dalam lemari es harus diletakkan dalam kotak vaksin (Probandari,

2013).

2.6 Kejadian Ikutan Pasca Imunisasi (KIPI)

2.6.1 Pengertian KIPI

Adalah semua kejadian sakit dan kematian yang terjadi dalam

masa 1 bulan setelah imunisasi (Probandari., 2013).

2.6.2 Faktor Penyebab

Kelompok Kerja (Pokja) KIPI Depkes RI membagi penyebab

KIPI menjadi 5 kelompok faktor etiologi yaitu:

a. Kesalahan program/teknik pelaksanaan (Programmic errors)

Sebagian kasus KIPI berhubungan dengan masalah program dan

teknik pelaksanaan imunisasi yang meliputi kesalahan program

penyimpanan, pengelolaan, dan tata laksana pemberian vaksin. Kesalahan

tersebut dapat terjadi pada berbagai tingkatan prosedur imunisasi,

misalnya:

1) Dosis antigen (terlalu banyak)

2) Lokasi dan cara menyuntik

3) Sterilisasi semprit dan jarum suntik

8
4) Jarum bekas pakai

9
5) Tindakan aseptik dan antiseptik

6) Kontaminasi vaksin dan perlatan suntik

7) Penyimpanan vaksin

8) Pemakaian sisa vaksin

9) Jenis dan jumlah pelarut vaksin

10) Tidak memperhatikan petunjuk produsen

b. Reaksi suntikan

Semua gejala klinis yang terjadi akibat trauma tusuk jarum suntik

baik langsung maupun tidak langsung harus dicatat sebagai reaksi KIPI.

Reaksi suntikan langsung misalnya rasa sakit, bengkak dan kemerahan

pada tempat suntikan, sedangkan reaksi suntikan tidak langsung misalnya

rasa takut, pusing, mual, sampai sinkope.

c. Induksi vaksin

Gejala KIPI yang disebabkan induksi vaksin umumnya sudah

dapat diprediksi terlebih dahulu karena merupakan reaksi simpang vaksin

dan secara klinis biasanya ringan. Walaupun demikian dapat saja terjadi

gejala klinis hebat seperti reaksi anafilaksis sistemik dengan resiko

kematian. Reaksi simpang ini sudah teridentifikasi dengan baik dan

tercantum dalam petunjuk pemakaian tertulis oleh produsen sebagai

indikasi kontra, indikasi khusus, perhatian khusus, atauberbagai tindakan

dan perhatian spesifik lainnya termasuk kemungkinan interaksi obat atau

10
vaksin lain. Petunjuk ini harus diperhatikan dan ditanggapi dengan baik

oleh pelaksana imunisasi.

d. Faktor kebetulan (Koinsiden)

Seperti telah disebutkan di atas maka kejadian yang timbul ini

terjadi secara kebetulan saja setelah diimunisasi. Indikator faktor kebetulan

ini ditandai dengan ditemukannya kejadian yang sama disaat bersamaan

pada kelompok populasi setempat dengan karakteristik serupa tetapi tidak

mendapatkan imunisasi.

e. Penyebab tidak diketahui

Bila kejadian atau masalah yang dilaporkan belum dapat

dikelompokkan kedalam salah satu penyebab maka untuk sementara

dimasukkan kedalam kelompok ini sambil menunggu informasi lebih

lanjut. Biasanya dengan kelengkapan informasi tersebut akan dapat

ditentukan kelompok penyebab KIPI (Ranuh, dkk., 2011).

2.6.3 Gejala Klinis KIPI

Gejala klinis KIPI dapat timbul secara cepat maupun lambat dan dapat

dibagi menjadi gejala lokal, sistemik, reaksi susunan saraf pusat, serta reaksi

lainnya. Pada umumnya makin cepat KIPI terjadi makin cepat gejalanya.

a. Reaksi KIPI lokal

1) Abses pada tempat suntikan

2) Limfadenitis

3) Reaksi lokal lain yang berat, misalnya selulitis, BCG-itis

b. Reaksi KIPI susunan syaraf pusat

1) Kelumpuhan akut

11
2) Ensefalopati

3) Ensefalitis

4) Meningitis

5) Kejang

c. Reaksi KIPI lainnya

1) Reaksi alergi: urtikaria, dermatitis, edema

2) Reaksi anafilaksis

3) Syok anafilaksis

4) Demam tinggi >38,5C

5) Episode hipotensif-hiporesponsif

6) Osteomielitis

7) Menangis menjerit yang terus menerus

Setelah pemberian setiap jenis imunisasi harus dilakukan observasi

selama 15 menit. untuk menghindarkan kerancuan maka gejala klinis yang

dianggap sebagai KIPI dibatasi dalam jangka waktu tertentu

Tabel 3. Gejala klinis KIPI

Jenis Vaksin Gejala Klinis KIPI Saat timbul


KIPI
Toksoid Tetanus Syok anafilaksis 4 jam
(DPT, DT, TT) Neuritis brakhial 2-18 hari
Komplikasi akut termasuk kecacatan dan tidak tercatat
kematian
Campak Syok anafilaksis 4 jam
Ensefalopati 5-15 hari
Komplikasi akut termasuk kecacatan dan tidak tercatat
kematian

Jenis Vaksin Gejala Klinis KIPI Saat timbul


KIPI
Trombositopenia 7-30 hari

12
Klinis campak pada resipien 6 bulan
imunokompromais tidak tercatat
Komplikasi akut termasuk kecacatan dan
kematian

Polio Polio paralisis 30 hari


Polio paralisis pada resipien 6 bulan
imunokompromais
Komplikasi akut termasuk kecacatan dan
kematian
Hepatitis B Syok anafilaksis 4 jam
Komplikasi akut termasuk kecacatan dan tidak tercatat
kematian
BCG BCG-it is 4-6 minggu

2.6.4 Survailans KIPI

Adalah kegiatan untuk mendeteksi dini, merespon kasus KIPI

dengan cepat dan tepat, mengurangi dampak negatif imunisasi untuk kesehatan

individu dan pada program imunisasi dan merupakan indikator kualitas

program.

Kegiatan survailans KIPI meliputi:

a. Mendeteksi, memperbaiki, dan mencegah kesalahan program

b. Mengidentifikasi peningkatan rasio KIPI yang tidak wajar pada petunjuk

vaksin atau merek vaksin tertentu

c. Memastikan bahwa suatu kejadian yang diduga KIPI merupakan

koinsiden (suatu kebetulan)

d. Memberikan kepercayaaan masyarakat pada program imunisasi dan

memberi respon yang tepat terhadap perhatian orang tua/masyarakat

tentang keamanan imunisasi di tengah kepedulian (masyarakat dan

professional) tentang adanya resiko imunisasi

e. Memperkirakan angka kejadian KIPI (rasio KIPI) pada suatu populasi

(Depkes RI, 2005).

13
2.6.5 Pelaporan KIPI

a. Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam pelaporan :

1) Identitas : nama anak, tanggal dan tahun lahir, jenis kelamin nama

orang tua dan alamat harus jelas

2) Jenis vaksin yang diberikan, dosis, siapa yang memberikan. Vaksin

sisa disimpan dan diperlakukan seperti vaksin yang masih utuh

3) Nama dokter yang bertanggung jawab

4) Riwayat KIPI pada imunisasi terdahulu

5) Gejala klinis yang timbul dan atau diagnosis, pengobatan yang

diberikan dan dan perjalanan penyakit, (sembuh, dirawat atau

meninggal, sertakan hasil laboratorium yang pernah dilakukan tulis

juga apabila terdapat penyakit yang menyertai

6) Waktu pemberian imunisasi (tanggal, jam)

7) Saat timbulnya gejala KIPI sehingga diketahui, berapa lama interval

waktu antara pemberian imunisasi dengan terjadinya KIPI, lama

gejala KIPI

8) Apakah terdapat gejala sisa, setelah dirawat dan sembuh

9) Bagaimana cara menyelesaikan masalah KIPI

10) Adakah tuntutan dari keluarga

11) Angka Kejadian KIPI

14
2.6.6 Tatalaksana KIPI

Tabel 5. Tatalaksana kasus KIPI

KIPI Gejala Tindakan Keterangan


Vaksin Nyeri, eritema, Kompres hangat Pengobatan
bengkak di Jika nyeri mengganggu dapat dilakukan oleh
daerah bekas diberikan parasentamol 10 guru UKS dan
suntikan < 1 cm, mg /kgBB/kali pemberian, < orang tua
Timbul < 48 6 bln : 60 mg/kali pemberian
jam setelah 6-12 bb 90 mg/kali
imunisasi pemberian 1-3 th : 120
mg/kali pemberian
Reaksi lokal Eritema /indurasi Kompres hangat Pengobatan
berat (jarang dan edema Parasetamol dilakukan oleh
terjadi) Nyeri, bengkak guru UKS dan
dan manifestasi orang tua
sistemik

Reaksi Arhus Nyeri, bengkak, Kompres hangat Pengobatan


indurasi dan Parasetamol dilakukan oleh
edema Dirujuk dan dirawat di RS guru UKS dan
Terjadi akibat orang tua
reimunisasi pada
pasien dengan
kadar antibodi
yang masih
tinggi
Timbul beberapa
jam dengan
puncaknya 12-36
jam setelah
imunisasi
Reaksi umum Demam, lesu, nyeri Berikan minum hangat dan Pengobatan
(sistemik) otot, nyeri kepala selimut dilakukan oleh
dan menggil Parasetamol guru UKS dan
orang tua

Kolaps / Episode Rangsang dengan wangian Pengobatan


Keadaan hipotonik- atau bauan yang merangsang dilakukan oleh
seperti syok hiporesponsif Bila belum dapat diatasi guru UKS dan
Anak tetap sadar dalam waktu 30 menit segera orang tua
tetapi tidak rujuk ke puskesmas terdekat
bereaksi
terhadap
rangsangan
Pada
pemeriksaan
frekuensi,
amplitudo nadi
serta tekanan
darah tetap
dalam batas normal

15
Reaksi lumpuh layu, Rujuk segera ke RS untuk Pengobatan
Khusus : simetris, perawatan dan pemeriksaan dilakukan oleh

Sindrom asendens lebih lanjut petugas dan perlu


Guillain (menjalar ke curiga lumpuh layu
Barre atas) biasanya
(jarang tungkai bawah
terjadi) Ataksia
Penurunan
refleksi tendon
Gangguan
menelan
Gangguan
Pernafasan
Parestesi

Meningismus
Tidak demam
Peningkatan
protein dalam
cairan
serebrospinal
tanpa pleositosis
Terjadi antara 5
hari sd 6 minggu
setelah imunisasi
Perjalanan
penyakit dari 1
s/d 3-4 hr
Prognosis
umumnya baik.
Neuritis Nyeri dalam Parasetamol Pengobatan
brakialis terus menerus Bila gejala menetap rujuk ke dilakukan oleh
(Neuropati pada daerah RS untuk fisioterapi petugas dan perlu
pleksus bahu dan lengan curiga lumpuh layu
brakialis) atas
Terjadi 7 jam sd
3 minggu setelah
imunisasi
Syok Terjadi Suntikan adrenalin 1:1.000, Pengobatan
anafilaktik mendadak dosis 0,1-0,3, sk/i, atau 0,01 dilakukan oleh
Gejala klasik : ml/kg BB x max dosis 0,05 petugas kesehatan
kemerahan ml/kali
merata, edem Jika pasien mambaik dan
Urtikaria, stabil dilanjutkan dengan
sembab pada suntikan delsametason
kelompok mata, (1ampul) secara
sesak, nafas intravena/intramuskular

16
berbunyi Segera pasang infus NaCI
Jantung berdebar 0,9%
kencang Rujuk ke RS terdekat
Tekanan darah
menurun
Anak pingsan /
tidak sadar
Dapat pula
terjadi langsung
berupa tekanan
darah menurun
dan pingsan
tanpa didahului
oleh gejala lain

Kipi kesalahan
program Gejala Penanganan Keterangan
Abses dingin Bengkak dan keras, nyeri Kompres Pengobatan
daerah bekas suntikan. hangat dilakukan oleh guru
Terjadi karena vaksin Parasetamol UKS dan orang tua
disuntikan masih dingin jika tidak ada
perubahan hubungi
puskesmas terdekat

Pembengkakan Bengkak disekitar suntikan Kompres Pengobatan


Terjadi karena hangat dilakukan oleh guru
penyuntikan kurang dalam UKS dan orang tua
jika tidak ada
perubahan hubungi
puskesmas terdekat

Sepsis

Tetanus

Kelumpuhan /
kelemahan otot

17
Bengkak disekitar bekas Kompres Pengobatan
suntikan hangat dilakukan orang tua
Demam Parasetamol
Terjadi karena jarum Rujuk ke RS
suntik tidak steril terdekat
Gejala timbul 1 minggu
atau lebih setelah
penyuntikan
Kejang, dapat disertai Rujuk ke RS Pengobatan
dengan demam, anak tetap terdekat dilakukan oleh guru

18
sadar UKS dan orang tua
Lengan sebelah (daerah Rujuk ke RS Pengobatan
yang disuntik ) tidak bisa terdekat untuk dilakukan oleh guru
digerakkan di fisioterapi UKS dan orang tua
Terjadi karena daerah
penyuntikan salah (bukan
pertengahan muskulus
deltoid)

19
Kipi Gejala Penanganan Keterangan

Faktor Penerima
/ Pejamu
Alergi Pembengkakan bibir dan Suntikan Pengobatan
tenggorokan, sesak nafas, dexametason 1 dilakukan oleh
eritema, papula, terasa ampul im/iv petugas kesehatan
gatal Jika berlanjut
Tekanan darah menurun pasanginfus
NACI 0,9%
Faktor Ketakutan Tenangkan Pengobatan
psikologis Berteriak penderita dilakukan oleh guru
Pingsan Beri minuman UKS dan orang tua

Kipi Gejala Penanganan Keterangan


air hangat
Beri
wewanginan /
alkohol
Setelah sadar
beri minuman
teh manis
hangat
Koinsiden
(faktor
kebetulan)
Gejala penyakit terjadi Tangani Pengobatan
secara kebetulan penderita dilakukan oleh guru
bersamaan dengan waktu sesuai gejala UKS dan orang tua
imunisasi
Gejala dapat berupa
salah satu gejala
KIPI tersebut di atas
atau bentuk lain

(Depkes RI, 2005).

2.7 Profil Puskesmas Sukamakmur


Visi Puskesmas Sukamakmur adalah Terwujudnya pelayanan dasar yang
optimal menuju masyarakat Sukamakmur sehat dan mandiri. Sedangkan misi
dari puskesmas ini adalah sebagai berikut :
Meningkatkan sumber daya tenaga kesehatan sehingga tercapai mutu
pelayanan dasar yang optimal.
Meningkatkan sarana dan prasarana puskesmas untuk mendukung
pelayanan dasar yang optimal.
Meningktakan peran serta masyarakat menuju pelayanan dasar yang
berbasis masyarakat.
Mendorong kemandirian masyarakat untuk berprilaku hidup bersih
dan sehat.

2.8 Data Geografis


Kecamatan Sukamakmur terdapat 1 unit Puskesmas Induk yaitu UPT
Puskesmas Sukamakmur dan 3 unit Puskesmas Pembantu (Pustu) milik
pemerintah dan 22 unit Polindes. Puskesmas Sukamakmur Kecamatan
Sukamakmur merupakan salah satu kecamatan dalam Kabupaten Aceh Besar yang
berada dalam wilayah Provinsi Aceh. Adapun batas-batas wilayah kerja
Puskesmas Sukamakmur, adalah :
1. Sebelah Timur dengan wilayah kerja Puskesmas Kuta Malaka dan
Puskesmas Montasik
2. Sebelah Barat dengan wilayah kerja Simpang Tiga
3. Sebelah Selatan dengan wilayah kerja Puskesmas Indrapuri dan
Puskesmas Leupung
4. Sebelah Utara dengan wilayah kerja Puskesmas Ingin Jaya
Luas Wilayah Kerja : 106,06 Km2
Jumlah Desa : 35 Desa
Jarak Puskesmas Sukamakmur
Ibukota Kabupaten : 33,5 Km
Ibukota Provinsi Aceh : 16,5 Km

2.9 Data Demografis


Secara umum, pertumbuhan penduduk Kecamatan Sukamakmur
Kabupaten Aceh Besar dalam tiga tahun terus bertambah, dimana tahun 2011
jumlah penduduknya 13390 jiwa, tahun 2012 menjadi 14224, pada tahun 2013
jumlahnya menjadi 14634, dan pada tahun 2014 jumlah penduduk bertambah
menjadi 15,109 jiwa. Dinamika penduduk Kecamatan Sukamakmur bila disusun
berdasarkan golongan umur termuda (bayi) hingga golongan tua (lansia) akan
terlihat bahwa komposisi penduduk terbanyak berada pada usia muda < 30 tahun
(65,5%).

Data demografik di wilayah kerja Puskesmas Sukamakmur adalah :


No Nama Desa Jlh KK Jlh Penduduk
1 Luthu Lamweu 101 493
2 Baet Mesjid 82 407
3 Baet Lampuot 49 229
4 Baet Meusago 61 260
5 Pantee Rawa 20 91
6 Sibreh Keumudee 179 948
7 Dilib Lamtengoh 51 255
8 Dilib Bukti 131 646
9 Reuhat Tuha 134 767
10 Seumeureung 130 598
11 Luthu Dayah Krueng 132 619
12 Lamtanjong 109 481
13 Lambirah 90 429
14 Kayee Adang 40 171
15 Tampok Blang 125 604
16 Lamgeu Baro 95 375
17 Lamgeu Tuha 51 185
18 Lamlheu 119 522
19 Lamteh Dayah 95 359
20 Tampok Jeurat Raya 66 329
21 Lampanah Ineu 56 272
22 Kling Manyang 117 563
23 Lampisang 68 332
24 Lambaro Sibreh 77 431
25 Weusiteh 99 512
26 Aneuk Galong Titi 131 636
27 Aneuk Galong Baro 113 675
28 Meunasah Bakthu 43 194
29 Blang Cut 56 283
30 Meunasah Tuha 50 242
31 Aneuk Batee 96 482
32 Niron 111 550
33 Bukloh 78 409
34 Lambarih Jurong Raya 64 320
35 Lambarih Bakmee 90 440
JUMLAH 3109 15109

Tabel 1. Data demografik Kecamatan Sukamakmur tahun 2014


2.10 Sumber Daya Kesehatan
Sumber kesehatan di wilayah kerja Puskesmas Sukamakmur adalah:
No Ketenagaan Jumlah
1. Dokter Umum 3
2. Dokter Gigi 2
3. Bidan 48
4. Perawat 14
5. Perawat gigi 4
6. Tenaga Teknis Kefarmasian 1
7. SKM 6
8. Kesehatan lingkungan 3
9. Nutrisionis/gizi 1
10. Fisioterapi 1
JUMLAH 84

Tabel 2. Sumber Daya Kesehatan Puskesmas Sukamakmur

2.11 Sarana Pelayanan Kesehatan


Sarana pelayanan kesehatan di wilayah kerja Puskesmas Sukamakmur
adalah:
Sarana Kesehatan
No Nama Desa Polindes Pustu Klinik
Swasta
1 Luthu Lamweu 1 - -
2 Baet Mesjid 1 - -
3 Baet Lampuot 1 - -
4 Baet Meusago 1 - -
5 Pantee Rawa - - -
6 Sibreh Keumudee 1 - -
7 Dilib Lamtengoh 1 - -
8 Dilib Bukti 1 - -
9 Reuhat Tuha - - -
10 Seumeureung 1 - -
11 Luthu Dayah Krueng 1 - -
12 Lamtanjong 1 - -
13 Lambirah 1 1 -
14 Kayee Adang 1 - -
15 Tampok Blang - - -
16 Lamgeu Baro 1 - -
17 Lamgeu Tuha 1 - -
18 Lamlheu 1 - -
19 Lamteh Dayah 1 - -
20 Tampok Jeurat Raya - - -
21 Lampanah Ineu - - -
22 Kling Manyang 1 - -
23 Lampisang - - -
24 Lambaro Sibreh 1 - 1
25 Weusiteh 1 - -
26 Aneuk Galong Titi - - 2
27 Aneuk Galong Baro - - -
28 Meunasah Bakthu 1 - -
29 Blang Cut 1 - -
30 Meunasah Tuha - - -
31 Aneuk Batee - 1 -
32 Niron - - -
33 Bukloh - 1 -
34 Lambarih Jurong Raya - - -
35 Lambarih Bakmee 1 - -
JUMLAH (KAB/KOTA) 21 3 3

Tabel 3. Sarana Pelayanan Kesehatan Sukamakmur

Adapun program pokok Puskesmas yang dilaksanakan guna menciptakan


masyarakat yang sehat terbagi 2 yaitu:

1. UKP ( Unit Kesehatan Puskesmas)


Wajib
- Poli Umum
- Poli Lansia
- MTBS
- Poli Gigi
- PONED ( Pelayanan Obstetri Neonatus Essensial Dasar)
- IGD
- Rawat Inap

Penunjang
- Laboratorium
- Apotek
- Fisioterapi
2. UKM (Unit Kesehatan Masyarakat)
Essensial
- KIA
- Gizi
- Kesling
- Promkes
- Imunisasi

Pengembangan
- Posbindu
- UKS
- Kesehatan Jiwa
- PTM
- PKPR ( Program Kesehatan Reproduksi Remaja)
- Batra ( Pengobatan Tradisional)
BAB III
METODE

3.1 Metode
Metode yang dilakukan pada mini project ini adalah pengambilan data KIPI
dan cakupan imunisasi pada periode waktu tertentu dan dari salah satu pasien
yang mengalami KIPI dilakukan konseling dan pemberian edukasi serta
tatalaksana kepada ibu bayi yang mengalami KIPI. Populasi pada mini project ini
adalah seluruh bayi yang mendapatkan imunisasi di Puskesmas Sukamakmur pada
periode Januari 2013 Februari 2017. Sampel pada mini project ini dipilih dengan
cara Accidental random sampling, yaitu sampel yang bertemu dengan peneliti
pada saat mengunjungi Poli MTBS Puskesmas Sukamakmur.
BAB IV
HASIL

4.1 Cakupan Imunisasi di Puskesmas Sukamakmur periode tahun 2012-2016

DPT/H DPT/H DP/H


Tahu Sasara Polio Polio Polio Polio Campa
HB0 BCG B Hib B B Hib
n n Bayi 1
1
2
Hib2
3
3
4 k
99,7 98,9 96,9
2012 305 100% 100% 100% 100% 100% 98,1% 99,7%
% % %
88,8 81,8 83,4 77,3 78,3 75,1 81,8
2013 313 78,7% 76% 74,4%
% % % % % % %
88,5 84,7 82,7 77,3 72,8 71,1 67,4
2014 313 78,9% 71,2% 74,8%
% % % % % % %
90,4 89,8 74,1 74,7 81,5
2015 324 91% 82,1% 96% 83,3% 83,0%
% % % % %
81,3 84,3 85,7 80,1 73,9 84,3
2016 364 81,8% 78,5% 79% 85,9%
% % % % % %

4.2 Temuan kasus KIPI


Nama bayi Imunisasi KIPI Tahun Alamat
Bengkak
M.Aqil BCG pada lokasi 2013 Lamgeu Tuha
penyuntikan
Bengkak
By. Rostina HB 0 pada lokasi 2014 Reuhat Tuha
penyuntikan
Lambarih
By. Mutiawati HB 0 Abses 2015
Bakmee
DPT/HB-Hib
Balqis Abses 2016 Tampok Blang
3

4.3 Salah satu kasus KIPI


Data pasien
Nama : Balqis
Jenis kelamin : Perempuan
Umur : 8 bulan
Alamat : Tampok Blang
Jenis vaksin : DPT/HB-Hib 3
Tanggal imunisasi : 21 Desember 2016

Anamnesis : Pasien dibawa ibunya datang dengan keluhan kaki kanannya


bengkak sejak 2 bulan yang lalu setelah imuninasi DPT-HB 3. Bengkak
disertai dengan nyeri dan demam. Bengkak muncul dihari yg sama saat
imunisasi dan semakin hari semakin membesar. Untuk mengurangi demam
ibu memberi paracetamol yang diberi petugas sebelumnya, namun demam
turun sesaat. Pasien mengalami kejang saat demam diminggu ke-3 pasca
imunisasi. Kejang 1 kali kaku kelonjotan seluruh tubuh. Setelah kejang pasien
sadar kembali tanpa diberi obat. Untuk mengobati bengkak yang dialami ibu
membawa ke dokter spesialis anak dan diberi obat trombhophob namun
bengkak tidak berkurang.

Tatalaksana : - Amoxicillin syr dan parasetamol syr


- Kompres hangat
- Insisi abses
- Konseling
Gambar 1. Abses pada paha kanan Gambar 2. Setelah
tindakan insisi abses

4.4 Konseling kepada ibu pasien


1. Perilaku profesional
- Menjaga rasa nyaman keluarga (izin, maaf)
2. Membina hubungan
- Memulai dengan salam senyum sapa
- Menggunakan bahasa tubuh
3. Katarsis
- Menggali pengetahuan tentang imunisasi dan kemungkinan adanya KIPI

Ibu pasien sadar dan tau akan pentingnya imunisasi sebagai upaya
untuk mencegah penyakit yang berbahaya bagi anaknya. Ibu pasien
mengetahui kemungkinan terjadinya KIPI namun pasien berpikir hanya
demam saja yang merupakan kejadian setelah imunisasi sedangkan
bengkak pada kaki dan kejang akibat demam yang ditimbulkan, pasien
tidak tahu.

- Menggali kemungkinan adanya perasaan yang tidak adekuat


(kekhawatiran, cemas)

Ketika ditanya ibu pasien sangat khawatir keadaan pasien dan takut
untuk imunisasi kembali

4. Edukasi
- Mengoreksi pengetahuan/ perasaan yang tidak adekuat
- Menambahkan pengetahuan yang kurang tentang imunisasi dan
kemungkinan terjadi KIPI
- Meminta ibu pasien mengulang dengan ringkas apa yang sudah
diketahui setelah diskusi

Setelah dilakukan edukasi, pasien menyadari efek yang ditimbulkan


imunisasi jauh lebih kecil dibandingkan besarnya manfaat setelah
imunisasi yaitu mencegah penyakit yang berbahaya.

5. Aksi
- Mengecek ulang perasaan, pengetahuan dan harapan ibu pasien tentang
masalah yang akan diselesaikan
Kecemasan ibu berkurang dan ketika ditanyakan lagi untuk imunisasi selanjutnya
ibu pasien tetap memandang positif program imunisasi sebagai upaya pencegahan
penyakit yang berbahaya bagi anaknya.

BAB V
PEMBAHASAN

Salah-satu indikator yang penting untuk mengetahui derajat kesehatan di


suatu negara adalah banyaknya bayi (umur 0 12 bulan) yang meninggal per
1000 kelahiran hidup yang disebut angka kematian bayi (AKB. Jika imunisasi
dilaksanakan dengan baik dan menyeluruh (paling sedikit 80 % balita imunisasi)
dengan keefektifan imunisasi mencapai 85 % - 90 %, lebih kurang 115.000
kematian balita dapat dicegah dengan hal ini tentu juga berpengaruh terhadap
AKB.
Pemerintah bertekad untuk mencapai Universal Child Immunization (UCI)
yaitu komitmen internasional dalam rangka Child Survival pada akhir tahun 1990.
Dengan penerapan strategi mobilisasi social dan pengembangan Pemantauan
Wilayah Setempat (PWS), UCI ditingkat nasional dapat dicapai pada akhir tahun
1990. Akhirnya lebih dari 80% bayi di Indonesia mendapat imunisasi lengkap
sebelum ulang tahunnya yang pertama. Sedangkan Definisi Operasional Desa
/kelurahan Universal Child Immunization (UCI) adalah Desa atau Kelurahan UCI
adalah desa/kelurahan dimana 90 % dari jumlah bayi yang ada di desa tersebut
sudah mendapat imunisasi dasar lengkap pada satu kurun waktu tertentu.
Dari data yang dipaparkan sebelumnya dapat terlihat cakupan imunisasi
bayi di puskesmas sukamakmur belum mencapai UCI. Hal ini diakibatkan faktor-
faktor yang dikemukakan pada beberapa penelitian yaitu : kurangnya informasi
tentang pentingnya imunisasi, lebih mempercayai metode alternatif seperti herbal,
meragukan kandungan vaksin, ketakutan berlebihan terhadap efek samping
imunisasi (KIPI).
Mengenai KIPI ini sendiri sebenarnya tidak ada satupun intervensi
kesehatan (baik medis-non medis) yang bebas efek samping. Begitu juga
imunisasi, pasti ada efek samping yang timbul. Namun efek samping tersebut
umumnya ringan ( demam, rasa nyeri, bengkak di bekas suntikan). Efek samping
yang bersifat berat sangatlah jarang. Semua resiko ini sudah diperhitungkan
sebelum program imunisasi diluncurkan. Program imunisasi dilaksanakan karena
efek samping (resiko) tersebut jauh lebih kecil dibandingkan manfaat (benefit)
yang didapatkan (risk-benefit analysis).

Dari tabel temuan kasus KIPI diatas terlihat hanya 4 kasus yang terjadi
dalam 5 tahun terakhir. Jumlah kasus KIPI diatas kemungkinan bukan data yang
sebenarnya. Menurut Committee of the Institute of Medicine (IOM) dari National
Childhood Vaccine Injury Amerika Serikat, kesulitan mendapatkan data KIPI,
terjadi karena (1) kurang difahaminya mekanisme biologis gejala KIPI, (2) data
kasus KIPI yang dilaporkan kurang rinci dan akurat, (3) surveilans KIPI belum
luas dan menyeluruh (4) surveilans KIPI belum dilakukan untuk jangka panjang,
(5) kurang publikasi KIPI dalam jumlah kasus yang besar. Mengingat hal-hal
tersebut di atas, maka sangat sulit menentukan jumlah kasus KIPI yang
sebenarnya.
Dari kasus KIPI yang tercatat di puskesmas sukamakmur sebagian besar
terjadi karena kesalahan pelaksanaan (program). Untuk itu yang paling penting
adalah bagaimana mengkontrol vaksin dan mengurangi programmatic errors,
termasuk cara penggunaan alat suntik dengan baik, alat sekali pakai atau alat
suntik auto-distruct, dan cara penyuntikan yang benar sehingga transmisi patogen
melalui darah dapat dihindarkan. Ditekankan pula bahwa untuk memperkecil
terjadinya KIPI, harus senantiasa diupayakan peningkatan ketelitian, pada
pemberian imunisasi selama program imunisasi dilaksanakan.
Adanya kasus KIPI mengancam kepercayaan masyarakat terhadap program
imunisasi. Fase ini sangat berbahaya oleh karena akan menurunkan cakupan
imunisasi. Apabila kasus KIPI dapat diselesaikan dengan baik, yaitu dengan
pelaporan dan pencatatan yang baik, penanganan kasus KIPI segera, dan
konseling yang baik, maka kepercayaan masyarakat akan program imunisasi
timbul kembali. Pada saat ini akan dicapai kembali cakupan imunisasi yang tinggi
dan penurunan insidens penyakit; walaupun kasus KIPI tetap ada bahkan akan
meningkat lagi.
Konseling yang dilakukan pada salah satu kasus KIPI meliputi tahapan-
tahapan dimana dari tahapan tersebut kita mulai dengan menggali pengetahuan
pasien tentang imunisasi dan efek sampingnya sehingga pengetahuan yang kurang
dan kecemasan yang ada dapat kita intervensi pada tahapan edukasi. Pasien diatas
terlihat belum mengetahui beberapa efek dari imunisasi sehingga muncul rasa
khawatir. Namun setelah dilakukan edukasi pasien menyadari akan pentingnya
manfaat imunisasi dan resiko yang terjadi jauh lebih kecil dibandingkan
manfaatnya.
BAB VI
KESIMPULAN DAN SARAN

6.1 Kesimpulan
Cakupan imunisasi bayi di puskesmas sukamakmur dari tahun 2013 sampai tahun
2016 belum mencapai UCI (Universal Child Immunization ).
Angka KIPI yang tercatat ada 4 kasus selama 5 tahun terakhir, namun angka ini
kemungkinan bukan angka sebenarnya.
Tidak ada satupun intervensi kesehatan (baik medis-non medis) yang
bebas efek samping. Begitu juga imunisasi, pasti ada efek samping yang
timbul. Namun efek samping tersebut umumnya ringan ( demam, rasa
nyeri, bengkak di bekas suntikan). Efek samping yang bersifat berat
sangatlah jarang. Semua resiko ini sudah diperhitungkan sebelum program
imunisasi diluncurkan. Program imunisasi dilaksanakan karena efek
samping (resiko) tersebut jauh lebih kecil dibandingkan manfaat (benefit)
yang didapatkan (risk-benefit analysis).
Adanya kasus KIPI mengancam kepercayaan masyarakat terhadap
program imunisasi. Fase ini sangat berbahaya oleh karena akan
menurunkan cakupan imunisasi. Apabila kasus KIPI dapat diselesaikan
dengan baik, yaitu dengan pelaporan dan pencatatan yang baik,
penanganan kasus KIPI segera, dan konseling yang baik, maka
kepercayaan masyarakat akan program imunisasi timbul kembali.

6.2 Saran
Dilakukan penyuluhan kepada ibu tentang kemungkinan KIPI pada bayi
yang akan diimunisasi
Pemberian penjelasan yang lengkap dan jelas untuk mengingatkan dan
meningkatkan ketelitian petugas imunisasi dalam melakukan penyuntikan
vaksin guna memperkecil kemungkinan terjadinya
Untuk menanggulangi dan meminimalisasi kejadian maupun dampak KIPI
penting dilakukan pemantauan KIPI oleh surveillance secara aktif

DAFTAR PUSTAKA
Depkes RI. 2005. Pedoman Pemantauan dan Penanggulangan Kejadian Ikutan
Pasca Imunisasi (KIPI). Depkes RI. Jakarta.

Depkes RI. 2005. Pedoman Penyelenggaraan Imunisasi. Depkes RI. Jakarta.

Gunawan, dkk. 2000. Kejadian Ikutan Pasca Imunisasi Antigen Vi Polisakarida


Kapsuler. Ilmu Kesehatan Anak. Salemba Medika. Jakarta.

Hadinegoro S.R.S. 2002. Kejadian Ikutan Pasca Imunisasi. Sari Pediatri Vol. 2,
No 1. Jakarta

Ikatan Dokter Anak Indonesia. Jadwal Imunisasi IDAI 2014 Available from
http://idai.or.id/public-articles/klinik/imunisasi/jadwal-imunisasi-idai-
2014.html

Probandari, A.N., Handayani, S., Laksono, N.J.D.N. 2013. Modul Field Lab
Keterampilan Imunisasi. Fakultas Kedokteran Universitas Sebelas Maret
Available from : http://fk.uns.ac.id/static/filebagian/Imunisasi.pdf .

Ranuh dkk. 2011. Buku Imunisasi di Indonesia. Satgas Imunisasi IDAI. Jakarta