Anda di halaman 1dari 14

HALAMAN PENGESAHAN

LAPORAN PRAKTIKUM KIMIA ORGANIK

Nama : RAHMAT HIDAYAT

NIM : 201022024

Kelompok : TIGA (3)

Percobaan ke : EMPAT (IV)

Judul Percobaan : SIFAT-SIFAT KARBOHIDRAT

Asisten Pembimbing : FATMAWATI

Mengetahui, Bontang, 20 Juli 2012

Pembimbing Praktikum Praktikan

Hera Hestyana Sari. Spd RAHMAT HIDAYAT


201022024

1
PERCOBAAN IV
SIFAT-SIFAT KARBOHIDRAT

A. TUJUAN PERCOBAAN
Mengenal beberapa sifat monosakarida dan disakarida

B. DASAR TEORI
Karbohidrat (hidrat dari karbon, hidrat arang) atau sakarida (dari bahasa
Yunani , skcharon, berarti "gula") adalah segolongan besarsenyawa
organik yang paling melimpah di bumi. Karbohidrat memiliki berbagai fungsi
dalam tubuh makhluk hidup, terutama sebagai bahan bakar (misalnya glukosa),
cadangan makanan (misalnya pati pada tumbuhan dan glikogen pada hewan),
dan materi pembangun (misalnya selulosa pada
tumbuhan, kitin pada hewan dan jamur). Pada proses fotosintesis, tumbuhan
hijau mengubah karbon dioksida menjadi karbohidrat.
Secara biokimia, karbohidrat adalah polihidroksil-aldehida atau
polihidroksil-keton, atau senyawa yang menghasilkan senyawa-senyawa ini
bila dihidrolisis. Karbohidrat mengandung gugus
fungsi karbonil (sebagai aldehida atau keton) dan banyak gugus hidroksil.
Pada awalnya, istilah karbohidrat digunakan untuk golongan senyawa yang
mempunyai rumus (CH2O)n, yaitu senyawa-senyawa yang n atom karbonnya
tampak terhidrasi oleh n molekul air. Namun demikian, terdapat pula
karbohidrat yang tidak memiliki rumus demikian dan ada pula yang
mengandungnitrogen, fosforus, atau sulfur.
Bentuk molekul karbohidrat paling sederhana terdiri dari satu
molekul gula sederhana yang disebut monosakarida, misalnya
glukosa, galaktosa, dan fruktosa. Banyak karbohidrat merupakan polimer yang
tersusun dari molekul gula yang terangkai menjadi rantai yang panjang serta
dapat pula bercabang-cabang, disebut polisakarida, misalnya pati, kitin, dan
selulosa. Selain monosakarida dan polisakarida, terdapat pula disakarida

2
(rangkaian dua monosakarida) dan oligosakarida (rangkaian beberapa
monosakarida).
Klasifikasi Karbohidrat
Berdasar kompleksitasnya, dapat dibagi menjadi 3 golongan, yaitu :
1. Monosakarida; karbohidrat tunggal
2. Oligosakarida; karbohidrat yg tersusun dr beberapa(6 - 8) monosakarida
3. Polisakarida; karbohidrat yang tersusun dari lebih dari 10 monosakarida

1. Monosakarida
Monosakarida merupakan jenis karbohidrat sederhana yang terdiri
dari 1 gugus cincin. Contoh dari monosakarida yang banyak terdapat di
dalam sel tubuh manusia adalah glukosa, fruktosa dan galaktosa. Glukosa
di dalam industri pangan lebih dikenal sebagai dekstrosa atau juga gula
anggur. Di alam glukosa banyak terkandung di dalam buah-
buahan, sayuran dan juga sirup jagung.
Fruktosa dikenal juga sebagai gula buah dan merupakan gula dengan
rasa yang paling manis. Di alam fruktosa banyak terkandung di dalam
madu (bersama dengan glukosa), dan juga terkandung diberbagai macam
buah-buahan.
Sedangkan galaktosa merupakan karbohidrat hasil proses pencernaan
laktosa sehingga tidak terdapat di alam secara bebas. Selain sebagai
molekul tunggal, monosakarida juga akan berfungsi sebagai molekul dasar
bagi pembentukan senyawa karbohidrat kompleks pati (starch) atau
selulosa.
2. Olisakarida
Olisakarida adalah KH yang jika dihidrolisis menghasilkan 2-8 gugus
monosakarida. Contoh: Maltotriose glukosa+glukosa+glukosa. Kelompok
oligosakarida ini diantaranya juga termasuk disakarida. Disakarida
merupakan jenis karbohidrat yang banyak dikonsumsi oleh manusia di
dalam kehidupan sehari-hari. Setiap molekul disakarida akan terbentuk
dari gabungan 2 molekul monosakarida.

3
Contoh disakarida yang umum digunakan dalam konsumsi sehari-hari
adalah sukrosa yang terbentuk dari gabungan 1 molekul glukosa dan
fruktosa dan juga laktosa yang terbentuk dari gabungan 1 moleku glukosa
& galaktosa. Di dalam produk pangan, sukrosa merupakan pembentuk
hampir 99% dari gula pasir atau gula meja (table sugar) yang biasa
digunakan dalam konsumsi sehari-hari sedangkan laktosa merupakan
karbohidrat yang banyak terdapat di dalam susu sapi dengan konsentrasi
6.8gr/100 ml.
3. Polysakarida
Polisakarida adalah KH yang jika dihidrolisis menghasilkan lebih dari
6 gugus monosakarida. Contohnya yaitu: Glikogen, Amilum, Selulosa dan
Dextrin. Berdasarkan fungsinya polisakarida dibagi menjadi polisakarida
sebagai bahan bakar (glikogen dan amilim) dan polisdakarida sebagai
struktural (dextran, kitin dan selulosa).

a. Glikogen
Glikogen merupakan salah satu bentuk simpanan energi di dalam
tubuh yang dapat dihasilkan melalui konsumsi karbohidrat dalam sehari-
hari dan merupakan salah satu sumber energi utama yang digunakan oleh
tubuh pada saat berolahraga. Di dalam tubuh glikogen akan tersimpan di
dalam hati dan otot. Kapasitas penyimpanan glikogen di dalam tubuh
sangat terbatas yaitu hanya sekitar 350-500 gram atau dapat menyediakan
energi sebesar 1.200-2.000 kkal. Namun kapasitas penyimpanannya ini
dapat ditingkatkan dengan cara memperbesar konsumsi karbohidrat dan
mengurangi konsumsi lemak atau dikenal dengan istilah carbohydrate
loading dan penting dilakukan bagi atlet terutama yang menekuni cabang
olahraga bersifat endurans (endurance) seperti maraton atau juga
sepakbola. Sekitar 67% dari simpanan glikogen yang terdapat di dalam
tubuh akan tersimpan di dalam otot dan sisanya akan tersimpan di dalam
hati. Di dalam otot, glikogen merupakan simpanan energi utama yang
mampu membentuk hampir 2% dari total massa otot. Amilum (pati) Pati

4
merupakan simpanan energi di dalam sel-sel tumbuhan berbentuk
butiran-butiran kecil mikroskopik dengan berdiameter berkisar antara 5-
50 nm.
Struktur pati terdiri dari - amilosa dan amilopektin. Amilosa
merupakan polimer glukosa rantai panjang yang tidak bercabang
sedangkan amilopektin merupakan polimer glukosa dengan susunan yang
bercabang-cabang. Komposisi kandungan amilosa dan amilopektin ini
akan bervariasi dalam produk pangan dimana produk pangan yang
memiliki kandungan amilopektin tinggi akan semakin mudah untuk
dicerna. Di alam, pati akan banyak terkandung dalam beras, gandum,
jagung, biji-bijian seperti kacang merah atau kacang hijau dan banyak
juga terkandung di dalam berbagai jenis umbi-umbian seperti singkong,
kentang atau ubi.
b. Kitin
Kitin merupakan polimer dari N-asetil D-glukosamin yang
digabungkan oleh ikatan . Kitin terdapat pada cangkang kulit luar
insekta.
c. Dextran
Dextran merupakan polimer dari glukosa, dimana masing-
masing residu glukosa dihibun gkan dengan ikatan 1-6. dextan juga
memilki rantai cabang yang dibentuk khusus dengan ikatan 1-2, 1-3
atau 1-4 tergantung pada spesies bakteri yang menggunakan dextran
sebagai sumber casdangan makanannya.
d. Selulosa
Selulosa merupakan suatu senyawa homopolisakarida yang
linier, berbentuk seperti rambut, dan tidak larit dalam air. Selain itu,
merupakan polosakarida ekstraseluler pada dinding sel tumbuhan tinggi,
mikroorganisme dan permukaan luar membran sel hewan. Unit
pembentuk selulosa adalah D- glukosa dengan ikatan 1-4.

5
Identifikasi Karbohidrat

Pemisahan dan identifikasi karbohidrat dapat dilakukan dengan teknik


kromatografi, akan tetapi terdapat sejumlah test-test kualitatif yang dapat
dilakukan diantaranya :

1. Uji Molish

Uji ini merupakan uji yang paling umum untuk pengetesan adanya
karbohidrat dan senyawa organik lainnya. Pada uji ini asam sulfat pekat
berfungsi untuk menghidrolisis ikatan glikosidik, menghasilkan
monosakarida yang akan didehidrasi menjadi furfural dan turunanya.
Furfural mengalami sulfonasi dengan alpha naftol yang akan menghasilkan
cincin warna ungu kompleks (merah-ungu), yang menunjukan adanya
karbohidrat.

2. Uji Benedict

Uji ini digunakan untuk pengetesan adanya gula pereduksi. Hasil tes
ini memberikan endapan warna hijau, kuning, atau merah jingga yang
memberikan perkiraaan semikualitatif adanya sejumlah gula yang
mereduksi.

3. Uji Barfoed

Uji ini digunakan untuk membedakan monosakarida, disakarida, dan


polisakarida. Barfoed merupakan pereaksi yang bersifat asam lemah dan
hanya direduksi oleh monosakarida. Disakarida akan dapat dihidrolisis
sehingga bereaksi positif dengan pemanasan yang lebih lama. Dengan kata
lain untuk membedakan monosakarida, disakarida, polisakarida tergantung
berapa lama pemanasan sampai terbentuk endapan tembaga oksida yang
berwarna merah bata.

6
4. Uji Bial

Uji ini digunakan untuk menguji adanya gula pentosa. Pemanasan


pentosa dengan HCL pekat akan menghasilkan furfural yang berkondensasi
dengan orcinol dan ion feri . Hasil pemanasan akan menghasilkan warna
biru-hijau yang menunjukan adanya gula pentosa.

5. Uji Selliwanof

Uji ini digunakan untuk menguji adanya gugus keton. Ketosa akan
didehidrasi lebih cepat dari aldosa. Furfural akan berkondensasi dengan
recorcinol (1,3- dihidroksi benzena) yang akan memberikan warna merah
kompleks (merah-cherry).

6. Uji Iodium

Uji ini digunakan untuk menguji adanya polisakarida. Pembentukan


warna biru menunjukan adanya pati, warna merah menunjukan adanya
glikogen atau eritrodekstrin.

7
C. ALAT DAN BAHAN

1. Alat
a. Pipet tetes
b. Pipet volume
c. Penjepit kayu
d. Pemanas
e. Gelas beker
2. Bahan
a. Larutan glukosa 10%
b. Larutan amilum
c. Larutan sukrosa 5%
d. Larutan H2SO4 encer
e. Larutan NaOH 10%
f. Larutan Iodine

Rangkaian Alat Praktikum

8
D. CARA KERJA
1. Reaksi terhadap monosakarida
a. Moore test
1) Ditambahkan 1 ml larutan NaOH 10% ke dalam tabung reaksi
yang telah berisi 5 ml larutan glukosa
2) Dipanaskan larutan hingga mendidih

2. Reaksi terhadap disakarida


b. Moore test
1) Ditambahkan 1 ml larutan NaOH 10% ke dalam tabung reaksi
yang telah berisi 5 ml larutan gula
2) Dipanaskan larutan hingga mendidih

c. Hidrolisa sukrosa
1) Dicampurkan 5 ml larutan sukrosa denganlarutan H2SO4 encer di
dalam tabung reaksi
2) Dipanaskan campuran larutan beberapa menit
3) Setelah dingi, larutan dinetralkan dengan larutan NaOH 10%
4) Dilakukan moore test terhadap larutan

3. Test iodine
1) Ditambahkan larutan iodine ke dalam 1 ml larutan glukosa, sukrosa
dan amilum
2) Diamati perubahan yang terjadi

9
E. DATA HASIL PERCOBAAN
1. Tabel Pengamatan

Percobaan Pengamatan

I. Reaksi terhadap monosakarida

Moore test

5 ml larutan glukosa + 1 ml larutan NaOH Larutan berwarna kuning

Larutan I dipanaskan Tidak terjadi perubahan warna

II. Reaksi terhadap disakarida

Moore test

5 ml larutan sukrosa + 1 ml larutan NaOH Larutan bening


10%

Larutan dipanaskan Tidak terjadi perubahan warna

Hidrolisis Sukrosa

5 ml larutan sukrosa + 2 ml larutan H2SO4 Larutan bening dan tidak terjadi


encer kemudian dipanaskan perubahan warna setelah pemanasan

Larutan I didingikan + 2 ml larutan NaOH Tidak terjadi perubahan warna


10% sampai PH netral

Moore test

Larutan dari hidrolisa sukrosa + larutan Larutan berwarna kuning


NaOH 10%

Larutan dipanaskan Larutan berwarna kuning

III. Test iodine

1 ml laruatn glukosa + larutan iodine Larutan berwarna kuning kecoklatan

1 ml laruatn sukrosa + larutan iodine Larutan berwarna kecoklat-coklatan

1 ml laruatn amilum + larutan iodine Larutan berwarna biru

10
F. REAKSI
a. Reaksi moore test pada monosakarida :

b. Reaksi hidrolisis pada disakarida

c. Reaksi moore test pada disakarida yang telah di hidrolisis

d. Reaksi iodine dengan amilum ( polisakarida )

CH2OH CH2OH
O H H O
H H + nI2
O OH H O OH H O

H OH H OH
n

CH2I CH2I
O H H O
H H + nHIO
O OH H O OH H O

H OH H OH
n

11
G. PEMBAHASAN
Pada uji Moore dengan sampel monosakarida, sampel gula merah
(glukosa) ditambahkan larutan NaOH 10%. Ketika pereaksi ditambahkan air
gula dan dididihkan akan terbentuk warna coklat kekuningan dan mengental
seperti caramel. Uji ini positif, terbukti bahwa dalam air gula terjadi proses
karamelisasi yang merupakan salah satu sifat karbohidrat. Selanjutnya pada
larutan sukrosa (sampel gula pasir) yang ditambahkan dengan NaOH kemudian
dipanaskan sehingga hasil yang didapat tidak terbentuk apa-apa.
Lalu disakarida tersebut di coba dihidrolisis ke bentuk monosakarida,
setelah terbentuk monosakarida sampel tersebut direaksikan kembali dengan
larutan NaOH dan dipanaskan, hasil yang didapatkan larutan menjadi kuning.
Dari uji di atas didapati bahwa pada sampel gula merah dan gula putih terdapat
aldehid/keton yang bebas. Pemanasa pada uji ini dilakukan bertujuan untuk
memecah rantai karbon sehingga rantai karbon lebih pendek dan lebih reaktif.
Pada uji Iodine, larutan gula merah dan gula putih dimasukkan
ke dalam masing-masing tabung kemudian ditambahkan larutan iodine. Dari
percobaan, dari keduanya tidak dihasilkan endapan ungu biru melainkan warna
coklat-kecoklatan yang berarti bahwa sampel tidak mengandung zat pati.Pada
percobaan dengan uji ini menunjukkan negatif, sedangkan pada saat sampel
amilum ditambahkan dengan larutan iodine dihasilkan warna biru tua yang
menandakan adanya zat pati pada sampel tersebut.

12
G. KESIMPULAN
Dari beberapa percobaan di atas dapat diketahui beberapa sifat
monosakarida dan disakarida. Berdasarkan data percobaan dapat disimpulkan
bahwa sifat dari monosakarida (larutan gula merah) mengandung karbohidrat,
mempunyai salah satu sifat karbohidrat, yaitu karamelisasi, memiliki gugus
keton (ketosa) dan tidak mengandung pati.
Berdasarkan data percobaan dapat disimpulkan bahwa sifat dari disakarida
(larutan gula pasir) merupakan karbohidrat, mengandung salah satu sifat
karbohidrat, yaitu karamelis, memiliki gugus aldehid dan tidak mengandung
pati. Sedangkan pada amilum mengandung zat pati.

13
DAFTAR PUSTAKA
Suhara, 2009. Dasar Dasar Biokomia. Prima Press : Bandung.

Pudjaatmaka AH. 2002. Kamus kimia. Jakarta: Balai Pustaka.

Sutresna N. 2007. cerdas belajar kimia. Bandung: Grafindo Media Pratama.

Makfoeld D, Marseno DW, Hastuti P, Anggrahini S, Raharjo S, Sastrosuwignyo


S, etc. 2006.Kamus istilah pangan dan nutrisi. Yogyakarta: Kanisius.

14

Anda mungkin juga menyukai