Anda di halaman 1dari 7

III.

PERANCANGAN KONDISI PROSES

III.1 Kondisi Proses


Yang diartikan dengan kondisi proses adalah kondisi operasi yang
diperlukan sehingga perancangan yang dilakukan itu dapat memenuhi design
itention, inherently safer. Cara menentukan kondisi proses, tidak semata
berdasarkan pada the safety of the equipment saja, tetapi juga didasarkan pada
tingkat achievable dari proses yang terjadi dalam vessel itu. Tingkat achievable
proses, dapat mengacu pada " the nature of the process " . Sebagai contoh
process yang mengalami kestimbangan phase, maka tingkat achievable dari
keseimbangan itu tidak mungkin akan sempurna, karena untuk sempurna waktu
yang dibutuhkan sangat lama -> inefficient!!!. Untuk menentukan kondisi proses
yang benar, designer harur familiar dulu dengan " free variable " ataupun dikenal
dengan "degree of free variables" dari proses / penomena yang ada dalam vessel
Free variable (Nf): merupakan jumlah variabel bebas (yang bebas dipilih oleh
designer untuk memesukaa harga variabel itu), perlu dihitung dulu
Nf =Nv-Nc
Dengan
Nv: jumlah keseluruhan variable yang terkait dengan alat / proses yang
dirancang
Jika berbicara variabel, boleh jadi variabel itu terbawa oleh system / arus
bahan, ataupun variabel dalam bentuk transferable dari sistem ke
lingkungan atau sebaliknya. Sebagai contoh transfer panas -> Q, transfer
energy poros -> Ws merupakan jenis variabel yg dapat ditranferkan
Variabel yang terbawa oleh sistem (flowing fluid) dapat digambarkan
sebagai variabel yang ada pada masing =- masing arus bahan kimia
Meliputi:
 jumlah bahan yg mengalir (m)
 suhu fluida mengalir (T)
 tekanan fluida yg mengalir (P)
 komposisi komponen yg ada di aliran fluida, jika komponen yg ada = c
komponen. maka variabel yg berasal dari komposisi = c-1

Universitas Gadjah Mada


Sehingga setiap ada aliran bahan kimia yang terdiri dari c komponen bahan kimia ,
maka variabel yg ada = c+2
Jika pada vessel yang dirancang itu ada aliran bahan kimia sebanyak 3 arus
bahan (2 input, 1 output bahan kimia ), maka jumiah variabel yang berasal dari
aliran bahan = 3 x (c+2)
-> jika pada vessel yang dirancang itu ada aliran variabel panas ( pendinginan /
pemanasan / panas bocor ) -> variabel Q ada
-> jika pada alat yang dirancang itu mencakup aliran energi poros, maka variabel
Ws ada -
-> ada kalanya designer harus meilih jenis alat yang afcan dirancang (jika ada
beberapa altematif jenis alat) -> ada variabel yg berasal dari alat (jumlahnya 1
pilihan} Sehingga Nv =3 x (C + 2) + 1 + 1 + 1 = 3C + 9 variabel

Q loss

C+2 C+2
Sistem
Sistem

C+2 -WS

Nc : secara matematika merupakan jumlah persamaan matematika yang


menghubung variabel - variabel yg ditengarai satu dengan yang lain. Untuk Nc ini
designer harus familiar dengan "chemical engineering tool" -> jumlah tool yg
diterpakan, yang relevan dengan the state of the proses.
Jika the state of the process , terjadi kesetimbangan (phase / chemical
equilibrium), maka harus ada variabel yang harganya sama pada phase - phase
yang equilibrium. Ini antara lain variabel suhu dan tekanan. Diartikan bahwa
selama equilibrium berlangsung, maka suhu caiaran sama dengan suhu uap yg
setinabang, demikian juga tekanannya.

Universitas Gadjah Mada


Jika dalam sistem terjadi kesetimbangan phasa, maka chemical engineering tool (
kesetimbangan phase) menyebutkan hams ada korelasi distribusi fcomponen yg
setimbang dalam phase cair dan uap -> c persamaan (-> dari Yc = K x Xc)

Nf =Nv-Nc
= { 3 x (c+2)+ 2+ 1 + 1 } {1+C+C}
= C+9

Dari contoh diatas Nf = c + 9, artinya bahwa designer diberikan kebebasan untuk


menetapkan sejumlah variabel sebanyak C+ 9 . Jadi designer harus meilih /
menspesiflkasikan variabel - variabel mana yang harganya akan ditetapkan
Sebagai contoh umpan masuk ke sistem ditetapkan -> c + 2 sudah ditetapkan
Suhu / tekanan ditetapkan (1), jenis alat (1), aliran panas diasumsi nol (1), rasio
uap/liquid ditetapkan (1) -> variabel yg lain ????
Jumlah variabel yang masih susah ditetapkan oleh designer, boleh jadi sebagai
design variabel ataupun dimungkinkan estimasi jumiah variabel yg over estimate
Jika alat yang dirancang itu merupakan gabungan dari unit - munit kecil yg
dihubungkan dengan arus bahan, maka jumiah Nc dihitung berdasarkanjumlah
variabel pada interstream yang ada

Universitas Gadjah Mada


III.3 Kondisi Puncak Menara

Kondisi puncak menara yang dilengkapi dengan kondesor total , ditandai oleh
kondisi embunan yang keiuar dari kondensor total ->pada suhu didihnya ( jenuh)
 kondisi puncak +++ -> suhu didih embunan keiuar
 suhu didih sangat tergantung pada komposisi embunan yg keluar , tekanan
uap keluar dari menara
 designer yang sudah pengalaman akan menetapkaa komposisi embuanan
sebagai " variabel fixed by designer" , sehingga kondisi atas tinggal dua free
variabel saja ( dimana satu yang haras ditetapkan oleh designer -> karena
terjadi kesetimabangan phasa)
 Mana yang dipilih tergantung pada cooling medium yang tersedia , ataupun
parameter harga menara ( tekanan yg tinggi -> tebal plat besar -> harga mahal)

Jika sebagai penetapan perancangan dibakukan dengan menggunakan cooling


water ( dari water pond ) , dipakai sebagai cooling medium untk kondensor total ,
maka designer menetapkan suhu puncak -> TTOP
Jika kasus ini , maka T cooling medium masuk = suhu lingkungan pabrik ( = 35 oC)
 TTOP = Tcooling med. + Tapprooach

Tapprooach = tergantung pada tingkat perancangan , yang optimal terkait dengan


konservasi panas , maka diambil 10 oC
 TTOP = Tcooling med. + 10
Setelah suhu ditetapkan oleh designer . maka tekanan operasioaal menara
dihitung didasarkan pada hukum termodinamika kesetimbangan phase

Universitas Gadjah Mada


Jika puncak menara dilengkapin dengan kondensor parsial :

Pada system ini hasil atas/ kondisi atas menara ditandai oleh kondisi hasil atas /
kondisi atas menara ditandai oleh kondisi hasil atas yang berupa uap jenuh,
sehingga kondisi nys ditandai pada suhu embun campuran uap hasil atas menara
( uap ini setimbang dengan embunan refluk -> suhu refluk = suhu uap hasil atas
menara

-> KONDISI PUNCAK = ( Suhu embun, tekanan menara)

Seperti pada kondensor total suhu embun sangat tergantung pada cooling
medium yg available untuk pabrik / menara, jika suhu ditetapkan, maka tekanan
menyesuaikan ( dihitung deagan kesetimbangan termodinamika). Atau sebaliknya
tekanan diteiapkan, suhu mengikuti.

Cooling medium available


Dipabrik ada berbagai cooling medium yang bisa dipakai: cooling water,
process fluid ataupun refrigerant ffuid. Medium mana yang dipilih sangat
tergantung pada kebijafcan perancangan pada tataran basic design atau final
design. Bisaanya pemilihan ini juga terkait dengan inherently safer design ->
attenuation process design Suhu tinggi -> tekanan tinggi -> more hazardous
condition

Universitas Gadjah Mada


Kondisi bagian bawah menara (Bottom condition)

Kondisi bagian bawah menara ditandai oleh kondisi operasi cairan hasil bawah
menara
-> pada suhu didihnya
-> KONDISI BAWAH = SUHU DIDffl CAMPURAN HASIL BAWAH MENARA
= ( SUHU, TEKANAN, KOMPOSISI HASIL BAWAH)
Sebagai seorang designer, komposisi hasil bawah tidak perlu ditetapkan, karena
merupakan computed variabel ( dari neraca massa), tekanan bagian bawah
menara diambil sama dengan tekanan bagian atas menara -> sehingga kondisi
bagian bawah sudah fixed by top condition
Tekanan = tekanan puncak menara
Komposisi hasil bawah -> dihitung dng neraca massa
Suhu bagian bwah = suhu didih pada tekanan bawah dan
komposisi terhitung.
Yang perta dicermati oleh designer adalah memilih heating medium yang dipakai
Heating medium yg paling murah adalah steam yang dihasilkan oleh steam boiler.
Penggunaan steam jenuh dibastasi oleh kemampuan pembangki steam yang
dipakai oleh industri -> boiler rating ???
Secara umum, boiler yang banyak dipakai di industri pada tekanan berkisar 400
psi ( menghasilkan uapjenuh berkisar = 200 oC. Jika keberadaan steam jenuh
tidak bisa dicukupi oleh boiler, maka heating medium pada umunya dipakai bahan

Universitas Gadjah Mada


bakar langsung, yaitu menggunakan fiirnace reboiler. Dengan furnace reboiler,
tidak ada batasan suhu bawah menara (lihat laporan kerja praktek di UP IV
Cilacap)

Universitas Gadjah Mada