Anda di halaman 1dari 4

Pakan Sumber Mineral

Sumber mineral adalah bahan baku pakan yang mengandung mineral.

Jenis mineral dapat digolongkan menjadi 2, mineral organik dan anorganik. Bahan

pakan yang termasuk kedalam golongan mineral alami (organik) salahsatunya

adalah kapur, garam, tepung kerang, dan tepung tulang (Rasyaf, 1993).

Mineral bekerja bersama vitamin membantu memperlancar hampir segala

proses dalam tubuh ayam. Sama dengan bahan unsur nutrisi lain, mineral juga

dapat berlebih dan dapat kurang dari total kebutuhan tubuh. Dan keadaan trs dapat

menyebabkan beberapa kelainan contohnya pada kerabang telur (Rasyaf, 1993).

Bahan pakan sumber mineral digunakan dalam jumlah yang sangat sediit

(1-4%). Hal ini disebabkan kebutuhan mineral lebih sedikit dibandingkan

kebutuhan zat-zat makanan lainnya. Harganya umumnya murah. Mineral yang

paling pentinf adalah kalsium (Ca) dan Fosfor (P) (Yaman, A. 2013). Berikut

adalah beberapa bahan pakan sumber mineral menurut Yaman, A. (2013) adalah

a. Tepung tulang (bone meal)

Tepung tulang sebagai sumber kalsium (Ca) dan fosfor (P) dalam pakan.

Umumnya, tepung tulang mengandung Ca 24%dan P 12%. Penggunaan dalam

pakan ayam broiler biasanya sekitar 1%.

b. Dicalcium phosphate (DCP)

DCP sebagai sumber Ca dan P dalam pakan. Kandungan kalsiumnya 23,3% dan

fosfornya 18%. DCP bisa diperoleh di toko bahan kimia atau poultry shop.

Harganya agak mahal. Penggunaan DCP dalam pakan ayam broiler biasanya tidak

lebih 1%.

c. Deflourined rock posphate


Sebagai sumber mineral P dan Ca dalam pakan. Kandungan P sebesar 18 % dan

Ca sebesar 15-18%. Penggunaan dalam pakan ayam biasanya tidak lebih 1%.

d. Tepung kulit kerang (oyster meal)

Tepung ini sebagai sumber Ca yang paling umum digunakan dalam pakan unggas.

Kandungan Ca sebesar 37-39%, P sebesar 0 %. Kulit kerang banyak dijumpai dan

harganya murah. Penggunaan dalam pakan ayam biasanya tidak lebih 1%.

TEPUNG IKAN

Tepung ikan merupakan bahan makanan ternak yang berkadar protein

tinggi, mudah dicerna dan kaya akan asam amino essensial terutama lisin dan

metionin sehingga dapat digunakan sebagai penutup kekurangan yang terdapat

pada bii-bijian. Disamping itu tepung ikan kaya akan vitamin B, mineral dan

kandungan lemak yang cukup juga merupakan sumbangan dalam memenuhi

kebutuhan ternak akan energi (metabolis) dan juga vitamin yang larut dalam

lemak yaitu vitamin A dan D (Sarwono, 1996).

Selain sebagai sumber protein, tepung ikan juga dapat digunakan

sebagai sumber kalsium. Kandungan protein atau asam amino tepung ikan

dipengaruhi oleh bahan ikan yang digunakan serta proses pembuatannya.

Pemanasan yang berlebihan akan menghasilkan tepung ikan yang berwarna

cokelat dan kadar protein atau asam aminonya cenderung menurun atau menjadi

rusak (Boniran, 1999).

Adapun penggunaan tepung ikan ini terdiri dari berbagai jenis yang

beredar di pasaran yang disebut sebagai tepung ikan pabrik (komersial) yang telah

mengalami pengolahan dan pencampuran dengan bahan lain. Namun ternyata


tepung ikan tidak hanya bisa didapat dari pabrik, tepung ikan juga dapat

diproduksi sendiri yang murni berasal dari limbah-limbah ikan (sempengan) yang

tidak dipergunakan oleh manusia lagi dan bahkan kandungan proteinnya sendiri

masih utuh dibanding tepung ikan produksi parbrik (Sunarya, 1998).

KONSENTRAT

Konsentrat adalah pakan yang memiliki nilai protein dan energi yang

tinggi dengan PK 18% Pada ternak yang digemukkan, semakin banyak konsentrat

dalam pakannya akan semakin baik asalkan konsumsi serat kasar tidak kurang

dari 15 % BK pakan (Siregar, 1994).

Pakan konsentrat merupakan sumber nutrien yang paling utama bagi

ternak. Komponen utama penyusun pakan adalah berupa biji-bijian seperti jagung.

Biji- bijian umumnya mengandung air, karbohidrat, protein termasuk enzim,

lemak, mineral, dan vitamin sehingga bahan pakan tersebut mudah tercemari j

amur. Bahan pakan lainnya yang biasa digunakan sebagai penyusun ransum

adalah bungkil kedelai, tepung tulang, dedak, polar putih, bungkil kelapa, garam,

vitamin, mineral,pemacu pertumbuhan, dan tepung ikan (Rismani, 2003). Jika

dilihat dari bentuk, maka pakan konsentrat dapat digolongkan menjadi beberapa

bentuk. Bentuk tersebut disesuaikan peruntukkannya dengan jenis, umur ternak,

dan berdasarkan kebutuhan atau tujuan tertentu yang berkaitan dengan efisiensi

usaha ternak. Berikut menurut Kartasudjana (2001) berbagai macam bentuk pakan

konsentrat yaitu:

a. Bentuk tepung (mash): biasanya untuk konsentrat ternak sapi, ayam

petelur (grower, layer), kambing dan domba, puyuh petelur (stater, layer);
bentuk pellet: biasanya untuk ternak ayam petelur (layer), a yam pedaging

(finisher).

b. Bentuk crumble (pecahan pellet): biasanya untuk ternak ayam pedaging

(stater), ayam petelur (stater, grower dan layer), puyuh (stater, remaja).

c. Bentuk kibble (campuran dari bentuk pellet, mash dan bijian yang

dipecah): bentuk ini sangat jarang digunakan, hanya pabrikan pakan

tertentu yang menggunakan bentuk ini. Biasanya untuk ayam petelur

(layer).

Siregar, S. 1994. Ransum Ternak Ruminansia. Penebar Swadaya. Jakarta.

Rismana, E. 2003. Serat kitosan mengikat lemak. Pusat pengkajian dan

pengembangan teknologi farmasi dan medika. Pusat Penelitian Terpadu,

Jakarta.

Kartasudjana R. 2001. Teknik Inseminasi Buatan Pada Ternak. Departemen

Pendidikan Nasional. Jakarta.

Boniran, S. 1999. Quality Control untuk Bahan Baku dan Produk Akhir Pakan

Ternak. Kumpulan Makalah Feed Quality Management Workshop,

American Soybean Asosiation dan Balai Penelitian Ternak.

Sunarya, M.I.G.M., 1998. Limbah Perikanan Bahan Baku Pakan Peternakan.

Dinas Peternakan Provinsi NTB, Mataram.

Yaman, A. 2013. Ayam Kampung Pedaging Unggul. Penebar Swadaya. Jakarta.

Rasyaf., M, 1993. Beternak Itik Komersial. Kanisius. Yogyakarta.

Sarwono, B., 1996. Beternak Ayam Kampung. Penebar Swadaya, Jakarta.