Anda di halaman 1dari 22

BAB I

LANDASAN TEORI

A. FRAKTUR FEMUR
1. Pengertian
Fraktur Femur atau patah tulang paha adalah rusaknya kontinuitas tulang
pangkal paha yang disaebabkan oleh trauma langsung, kelelahan otot, dan
kondisi tertentu, seperti degenerasi tulang atau osteoporosis (Arif
Muttaqin, 2008).
2. Epidemiologi
Fraktur subtrochanter femur banyak terjadi pada wanita tua dengan
usia lebih dari 60 tahun dimna tulang sudah mengalami osteoporosis,
trauma yang dialami oleh lansia biasanya ringan (karena terpeleset di
kamar mandi) sedangkan pada penderita muda ditemukan riwayat
mengalami kecelakaan. Sedangkan fraktur batang femur, femur
supracondyler, fraktur intercondyler , fraktur condyler femur banyak
terjadi pada penderita laki-laki dewasa karena kecelakaan ataupun jatuh
dri ketinggian. Sedangkan fraktur batang femur pada anak terjadi karena
jatuh waktu bermain.
3. Etiologi
Penyebab fraktur femur antara lain:
a. Fraktur femur terbuka
Disebabkan oleh trauma langsung pad paha
b. Fraktur femur tertutup
Disebabkan oleh trauma langsung atau kondisi tertentu, seperti
degenerasi tulang (osteoporosis) dan tumor atau keganasan tulang
paha yang menyebabkan fraktur patologis.
4. Patofisiologi

5. Tanda dan gejala


a. Nyeri
Terus menerus dan bertambah beratnya sampai fragmen tulang
dimobilisasi.Spasme otot yang menyertai fraktur merupakan bentuk
bidai alamiah yang dirncang untuk meminimalkan gerakan antar
fragmen tulang.
b. Gerakan luar biasa
Bagian bagian yang tidak dapat digunkan cendrung bergerak secara
tidak alamiah bukannya tetap rigid seperti normalnya.
c. Pemendekan tulang
Terjadi pada fraktur panjang. Karena kontraksi otot yang melekat di
atas dan dibawah tempat fraktur.
d. Krepitus tulang (derik tulang)
Akibat gerakan fragmen satu dengan yang lainnya.

2
e. Pembengkakan dan perubahan warna tulang
Akibat trauma dan perdarahan yang mengikuti fraktur. Tanda ini
terjadi setelah beberapa jam atau hari.
(Brunner Suddarth, 2001)
6. Klasifikasi
Dua tipe fraktur femur adalah sebagai berikut;
a. Fraktur interkapsuler femur yang terjadi di dalam tulang sendi,
panggul, dan melalui kepala femur (fraktur kapital).
b. Fraktur ekstrakapsular
1) Terjadi di luar sendi dan kapsul, melalui trokanter femur yang
lebih besar / lebih kecil/ pada daerah intertrokanter.
2) Terjadi di bagian distal menuju leher femur, tetapi tidak lebih dari
2 inci di bawah trokanter minor.
Klasifikasi fraktur femur:
a. Fraktur leher femur
Merupakan jenis fraktur yang sering ditemukan pada orang tua
terutama wanita usia 60 tahun ke atas disertai tulang yang
osteoporosis. Fraktur leher femur pada anak anak jarang ditemukan
fraktur ini lebih sering terjadi pada anak laki-laki daripada anak
perempuan dengan perbandingan 3:2. Insiden tersering pada usia 11-
12 tahun.
b. Fraktur subtrokanter
Dapat terjadi pada semua usia, biasanya disebabkan trauma yang
hebat. Pemeriksaan dpat menunjukkan fraktur yang terjadi dibawah
trokanter minor.
c. Fraktur intertrokanter femur
Pada beberapa keadaan, trauma yang mengenai daerah tulang femur.
Fraktur daerah troklear adalah semua fraktur yang terjadi antara
trokanter mayor dan minor. Frkatur ini bersifat ekstraartikular dan
sering terjadi pada klien yang jatuh dan mengalami trauma yang
bersifat memuntir. Keretakan tulang terjadi antara trokanter mayor

3
dan minor tempat fragmen proksimal cenderung bergeser secara
varus. Fraktur dapat bersifat kominutif terutama pada korteks bagian
posteomedial.
d. Fraktur diafisis femur
Dapat terjadi pada daerah femur pada setiap usia dan biasanya karena
trauma hebat, misalnya kecelakaan lalu lintas atau jatuh dari
ketinggian.
e. Fraktur suprakondilar femur
Daerah suprakondilar adalah daerah antar batas proksimal kondilus
femur dan batas metafisis dengan diafisis femur. Trauma yang
mengenai femur terjadi karena adanya tekanan varus dan vagus yang
disertai kekatan aksial dan putaran sehingga dapat menyebabkan
fraktur pada daerah ini. Pergeseran terjadi karena tarikan otot.
7. Pemeriksaan diagnostik
Pemeriksaan berdasar jenis fraktur femur:
a. Fraktur leher femur
Pemeriksaan radiologis dapat mengetahui jenis fraktur dan jenis
pengobatan yang dapat diberikan.
b. Fraktur subtrokanter
Pemeriksaan radiologis dapat menunjukkan fraktur yang terjadi di
bawah trokanter minor. Garis fraktur dapat bersifat transversal,
oblik atau spiral dan sering bersifat kominutif. Fragmen proksimal
dalam posisi fleksi, sedangkan fragmen distal dlam posisi adksi
bergeser ke proksimal.
c. Fraktur diafisis femur
Klien mengalami pembengkakan dan deformitas pada tungkai atas
berupa rotasi eksterna dan pemendekan tungkai. Klien mungkin
datang dengan keadaan syok.
d. Fraktur suprakondilar femur
Adanya pembengkakan dan deformitas terdapat krepitasi.

4
8. Penatalaksanaan
a. Fraktur Femur Terbuka
Faktur femur terbuka harus dinilai dengan cermt untuk mengetahui
ada tidaknya kehilangan kulit, kontaminasi luka, iskemia otot, cedera
pada pembuluh darah dan saraf. Intervensi tersebut meliputi:
1) Profilaksis antibiotik
2) Debridemen
3) Stabilisasi
1) Penundaan tertutup
2) Penundaan rehabilitasi
b. Fraktur Femur Tertutup
Pengkajian ini diperlukan oleh perawat sebagai peran kolaboratif
dalam melakukan asuhan keperawatan. Denagn mengenal tindakan
medis, perawat dapat mengenal impliksi pada setiap tindakan medis
yang dilakukan.
1) Fraktur trokanter dan sub trokanter femr, meliputi:
a) Pemasangan traksi tulang selama 6-7 minggu yang
dilanjutkan dengan gips pinggul selama 7 minggu merupakn
alternaltif pelaksanaan pada klien usia muda.
b) Reduksi terbuka dan fiksasi interna merupakan pengobatan
pilihan dengan memergunakan plate dan screw.
2) Fraktur diafisis femur, meliputi:
a) Terapi konserfativ
b) Traksi kulit merupakan pengobatan sementara sebelum
dilakukan terapi definitif untuk mengurangi spasme otot.
c) Traksi tu;lang berimbang denmgan bagian pearson pada
sendi lutut. Indikasi traksi utama adalah faraktur yang
bersifat kominutif dan segmental.
d) Menggunakan cast bracing yang dipasang setelah union
fraktur secara klinis

5
3) Terapi Operasi
a) Pemasangan plate dan screw pada fraktur proksimal diafisis
atau distal femur
b) Mempengaruhi k nail, AO nail, atau jenis lain, baik dengan
operasi tertutup maupun terbuka. Indikasi K nail, AO nail
terutama adalah farktur diafisis.
c) Fiksassi eksterna terutama pada fraktur segmental, fraktur
kominutif, infected pseudoarthrosis atau fraktur terbuka
dengan kerusakan jaringan lunak yang hebat.
4) Fraktur suprakondilar femur, meliputi:
a) Traksi berimbang dengan menggunakan bidai Thomas dan
penahan lutut Pearson, cast bracing, dan spika panggul.
b) Terapi operatif dilakukan pada fraktur yang tidak dapat
direduksi secara konservatif. Terapi dilakukan dengan
mempergunakan nail-phorc dare screw dengan berbagai
tipe yang tersedia.
9. Komplikasi
a. Fraktur leher femur
Komplikasi bergantung pada beberapa faktor. Komplikasi yang
bersifat umum adalah trombosis vena, emboli paru, pneumonias, dan
dekubitus. Nekrosis avaskular terjadi pada 30% klien fraktur femur
yang disertai pergeseran dan 10% fraktur tanpa pergeseran. Apabila
lokasi fraktur lrbih ke proksimal, kemungklinan terjadi nekrosis
avaskular lebih besar.
b. Fraktur diafisis femur
1) Komplikasi dini
Komplikasi dini harus segera ditangani dengan serius olh perawat
yang melaksanakan asuhan keperawatan pada klien fraktur
diafisis femur. Perawat dapat melakukan pengenalan dini dan
pengawasan yang optimal apabila telah mengenal konsep
anatomi, fisiologi, dan patofisioloigi patah tulang.

6
Komplikasi yang biasanya terjadi pada fraktur diafisis femur
adalah sebagai berikut:
a) Syok. Terjadi perdarahan sebanyak 1-2 liter walapun fraktur
bersift tertutup.
b) Emboli lemak. Sering didapatkan pada penderita muda
dengan fraktur femur. Klien perlu menjalani pemeriksaan gas
darah.
c) Trauma pembuluh darah besar. Ujung fragmen tulang
menembus jaringan lunak dan merusak arteri femoralis
sehingga menmyebakan kontusi dan oklusi atau terpotong
sama sekali.
d) Trauma saraf. Trauma pada pembuluh darah akibat tusukan
fragmen dapat disertai kerusakan saraf yang berfariasi dari
neuropraksia sampai ke aksonotemesis. Trauma saraf dapat
terjadi pada nervus iskiadikus atau pada cabangnya, yaitu
nervus tibialis dan nervus peroneus komunis.
e) Trombo emboli. Klien yag mengalami tirah baring lama,
misalnya distraksi di tempat tidur, dapat mengalami
komplikasi trombo-emboli.
f) Infeksi. Infeksi terjadi pada fraktur terbuka akibat luka yang
terkontaminasi. Infeklsi dapat pula terjadi setelah dilakukan
operasi.
2) Komplikasi lanjut
Komplikasi fraktur diafisis femur hampitr sama dengan komplikasi
bebrapa jenis fraktur lainnya. Oleh karena itu setiap perawat penrlu
memperhatikan dan mengetahui komplikasi yang biasa terjadi agar
komplikasi tersebut dapat dikurangi atau dihilangkan. Pada beberapa
situasi, perawat akan berhadapan dengan klien fraktur diafisis femur
yang menga;lami komplikasi lanjut. Perawat yang mempunyai
pengalaman dan pengetahuan yang baik dapat mengidenmtifikasi

7
kelainan yang timbul akibat komplikasi tahap lanjut dari fraktur
diafissi femur.
Komplikasi yang sering terjadi pada klien dengan fraktur diafisis
femur adalah sebagai berikut:
a) Delayed Union. Fraktur femur pada orang dewasa mengalami
union dalam empat bulan.
b) Non union. Apabila permukaan fraktur menjadi bulat dan
sklerotik, perawat perlu mencurigai adanya non union. Oleh
karena itu, diperlukan fiksasi internal dan bone graft.
c) Mal union. Bila terjadi pergeseran kembali kedua ujung
fragmen, diperlukan pengamatan terus menerus selama
perawatan. Angulasi lebih sering ditemukan. Mal union juga
mnyebabkan pemendekan tungkai sehingga dipelukan koreksi
berupa osteotomi.
d) Kaku sendi lutut. Setelah fraktur femur biasanya terjadi
kesulitan pergerakan pada sendi lutut. Hal ini dapat dihindari
apabila fisioterapi yang intensif dan sistematis dilakukan lebih
awal.
e) Refraktur. Terjadi pada mobilisasi dilakukan sebelum union
yang solid.
(Arif Muttaqin, 2008)

8
ASUHAN KEPERAWATAN TEORITIS

1. Pengkajian
a. Anamnesis
1) Identitas klien
Meliputi nama, jenis kelamin, usia, alamat, agama, bahsa yang
digunkan, status perkawinan, pendidikan, pekerjaan, asuransi,
golongan darah, nomor register, tanggal dan jam masuk rumah
sakit, dan diagnosis medis.
Pada umumnya, keluhan utama pada kasus fraktur femur adalah
rasa nyeri yang hebat. Untuk memperoleh pengkajian yang
lengkap mengenai rasa nyeri klien, perawat mengunakan
OPQRSTUV.
O (onset)
P (Provoking Incident): hal yang menjadi faktor presipitasi nyeri
adalah trauma bagian pada
Q (quality of pain): klien merasakan nyeri yang bersifat menusuk.
R (Region, Radiation, Relief): nyeri yang terjadi di bagian paha
yang mengalami patah tulang. Nyeri dapt reda dengan imobilisasi
atau istirahat.
S (Scale of pain): Secara subyektif, nyeri yang dirasakan klien
antara 2-4 pada skala pengukuran 0-4
T (Treatment)
U (Understanding)
V (Value)
2) Riwayat penyakit sekarang
Kaji kronologi terjadinya trauma yang menyebabkan patah tulang
paha, pertolongan apa yang telah didapatkan, dan apakah sudah
berobt ke dukun patah. Dengan mengetahui mekanisme
terjadinya kecelakaaan, perawat dapat mengetahui luka
kecelakaan yang lain.

9
3) Riwayat penyakit dahulu
Penyakit tertentu seperti kanker tulang dan penyakit paget
menybabkan fraktur patologis sehingga tulang sulit untuk
menyambung. Selain itu, klien diabetes dengan luka di kaki
sangat beresiko terjadi osteomielitis akut dan kronis dan penyaklit
diabetes melitus menghambat proses penyembuhan tulang.
4) Riwayat penyaklit keluarga
Penyakit keluarga yang berhubungan dengan patah tulang paha
adalah faktor predispossisi terjadinya fraktur, seperti osteoporosis
yang sering terjadi pada beberapa keturunan dan kanker tulang
yang cenderung diturunkan secara genetik.
5) Riwayat psikospiritual
Kaji respon emosis klien terhadap penyakit yang dideritanya,
peran klien dalam keluarga, masyarakat, serta respon atau
pengaruhnya dalam kehidupan sehari-hari, baik dalam keluarga
maupun masyarakat.
b. Pemeriksaan Fisik
Pemeriksaan fisik dibagi menjadi dua, yaitu pemeriksaan umum
(status gheneral) untuk mendapatkan gambaran umum dan
pemeriksaan setempat (lokal)
1) Keadaan umum
Keadaan baik dan buruknya klien. Tanda-tanda gejala yang
perlu dicatat adalah kesadaran diri pasien (apatis, sopor, koma,
gelisah, komposmetis yang bergantung pada keadaan klien),
kesakitan atau keadaaan penyakit (akut, kronis, berat, ringan,
sedang, dan pada kasus fraktur biasanya akut) tanda vital tidak
nmormal karena ada gangguan lokal baik fungsi maupun
bentuk.

10
2) B1 (Breathing)
Pada pemeriksaan sistem pernafasan, didapatkan bahwa klien
fraktur femur tidak mengalami kelainaan pernafasan. Pada
palpasi thorak, didapatkan taktil fremitus seimbang kanan dan
kiri. Pada auskultasi tidak terdapat suara tambahan.
3) B2 (Blood)
Inspeksi tidak ada iktus jantung, palpasi nadi meningkat iktus
tidak teraba, auskultasui suara S1 dan S2 tunggal, tidak ada
murmur.
4) B3 (Brain)
a) Tingkat kesadaran biasanya komposmentis.
Kepala: Tidak ada gangguan, yaitu normosefalik,
simetris., tidak ada penonjolan, tidak ada sakit kepala.
Leher: Tidak ada gangguan, simetris, tidak ada
penonjolan, reflek menelan ada.
Wajah : Wajah terlihat menahan sakit dan bagian wajah
yang lain tidak mengalami perubahan fungsi dan
bentuk. Wjah simetris, tidak ada lesi dan edema.
Mata: Tidak ada gangguan, konjungtiva tidak anemis
(pada klien dengan patah tulang tertutup tidak terjadi
perdarahan). Klien yang mengalami fraktur femur
terbuka biasanya mengfalami perdarahan sehingga
konjungtiva nya anemis.
Telinga : Tes bisik dan weber msih dalam keadaan
normal. Tidak ada lesi dan nyeri tekan.
Hidung: Tidak ada deformitas, tidak ada pernafasan
cuping hidung.
Mulut dan Faring: Tidak ada pembesaran tonsil, gusi
tidak terjadi perdarahan, mukosa mulut tidak pucat.

11
b) Pemeriksaan fungsi serebral
Status mental, observasi penampilan, dan tingkah laku
klien. Biasanya status mental tidak mengalami perubahan.
c) Pemeriksaan saraf kranial
Saraf I: fungsi pendiuman tidak ada gangguan.
Saraf II: ketajaman penglihatan normal
Saraf III, IV, VI: tidak ada gangguan mengangkat
kelopak mata, pupil isokor.
Saraf V: tidak mengal;ami paralisis pada otot wajah
dan reflek kornea tidak ada kelainan.
Saraf VII: persepsi pengecapan dalam batas normal
dan wajah simetris.
Saraf VIII: tidak ditemukan tuli konduktif dan tuli
persepsi.
Saraf IX dan X: kemampuan menelan baik
Saraf XI: tidak ada atrofi otot sternokleidomastoideus
dan trapezius.
Saraf XII: ;idah simeteris, tidak ada deviasi pada satu
sisi dan tidak ada faskulasi. Indra pengecapan normal.
d) Pemeriksaan refleks
Biasnya tidak ditemukan reflek patologis.
e) Pemeriksaan sensori
f) Daya raba klien fraktur femur berkurang terutama pada
bagian distal fraktur, sedangkan indra yang lain dan
kognitifnya tidak menga;lami gangguan. Selian itu, timbul
nyeri akibat fraktur.
5) B4 (Bladder)
Kaji urine yang meliputi wana, jumlah dan karakteristik
urine, termasuk berat jenis urine. Biasanya klien fraktur
femur tidak mengalami gangguan ini.

12
6) B5 (Bowel)
Inspeksi abdomen: bentuk datar, simetris, tidak ada hernia.
Palpasi: turgor baik, tidak ada defans muskular dan hepar
tidk teraba. Perkusi: suiara timpani, ada pantulan gelombang
cairan. Auskultasi peristaltik normal. Inguinal,genital: hernia
tidak teraba, tidak ada pembesaran limfe dan tidak ada
kesulitan BAB.
7) B6 (Bone)
Adanmya fraktur femur akan mengganggu secara lokal, baik
fungsi motorik, sensorik maupun peredaran darah.
8) LOOK
Pada sistem integumen terdapat eritema, suhu disekitar
daerah trauma meningkat, bengkak, edema dan nyeri tekan.
Perhatikan adanya pembengklakan yang tidak biasa
(abnormal) dan deformitas. Perhatikan adanya sindrom
kompartemen pada bagian distal fraktur femur. Apabila
terjadi fraktur terbuka, perawat dapat menemukan adanya
tanda-tanda trauma jaringan lunak sam[pai kerusakann
intergritas kulit. Fraktur obli, spiral atau bergeser
mengakibatkan pemendekan batang femur. Ada tanmda
cedera dan kemungkinan keterlibatan berkas neurovaskular
(saraf dan pembuluh darah) paha, sepertoi bengkak atau
edema. Ketidakmampuan menggerakkan tungkai.
9) FEEL
Kaji adnya nyeri tekan dan krpitasi pada daerah paha.
10) MOVE
Pemeriksaan dengan menggerakkan eksteremitas apakh
terdapat keluhan nyeri pada pergerakan. Dilakukan
pencatatan rentang gerak. Dilakukan pemeriksaan gerak aktif
dan pasif. Berdasar pemeriksaan didapat adanya gangguan /

13
keterbatasan gerak tungkai, ketidakmampuan menggerakkan
tungkai, penurunan kekuatan otot.
2. Diagnosa Keperawatan
a. Nyeri akut berhubungan dengan agen cedera fisik.
b. Hambatan mobilitas fisik berhubungan dengan gangguan
muskuloskeletal, kerusakan integritas struktur tulang, penurunan
kekuatan otot.
c. Defisit perawatan diri (mandi, eliminasi) berhubungan dengan
gangguan muskuloskeletal, hambatan mobilitas.
d. Kerusakan integritas kulit berhubungan dengan tonjolan tulang.
e. Resiko infeksi berhubungan dengan prosedur pemasangan fiksasi
interna.
f. Ansietas berhubungan dengan stres, krisis situasional.

14
3. Nursing Care Plan
No Diagnosa Keperawatan Rencana Perawatan
Nursing Out Come (NOC) Nursing Intervention Classification (NIC)
1 Nyeri akut berhubungan dengan agen Setelah dilakukan tindakan a. Kaji nyeri pasien dengan pengkajian
cedera fisik. keperawatan selama 3x24 jam nyeri OPQRSTUV
diharapkan nyeri hilang/ berkurang b. Kendalikan faktor lingkungan yang
dengan kriteria hasil: dapat mempengaruhi respon pasien
a. Melaporkan nyeri pada terhadap ketidaknyamanan (misal
skala 0-1 suhu ruangan, pencahayaan, dan
b. TTV dalam batas normal kegaduhan)
c. Ekspresi wajah tidak c. Berikan teknik relaksasi
menahan nyeri d. Ajarkan manajemen nyeri (misal
nafas dalam)
e. Kolaborasi dengan dokter untuk
pemberian analgetik.
2 Hambatan mobilitas fisik Setelah dilakukan tindakan a. Kaji mobilitas yang ada dan
berhubungan dengan gangguan keperawatan selama 3x24 jam observasi terhadap peningkatan
muskuloskeletal, kerusakan integritas diharapkan pasien mampu kerusakan
melakukan aktifitas fisik sesuai

15
struktur tulang, penurunan kekuatan dengan kemampuannya dengan b. Pantau kulit bagian distal setiap hari
otot. kriteria hasil: terhadap adanya iritasi, kemerahan.
a. Mampu melakukan c. Ubah posisi pasien yang imobilisasi
perpindahan minimal setiap 2 jam.
b. Meminta bantuan untuk d. Ajarkan klien untuk melakukan
aktifitas mobilisasi. gerak aktif pada ekstremitas yang
c. Tidak terjadi kontraktur tidak sakit.
e. Kolaborasi dengan ahli fisioterapi
untuk latihan fisik klien.
3 Defisit perawatan diri (mandi, Setelah dilakukan tindakan a. Kaji kemampuan penggunaa alat
eliminasi) berhubungan dengan keperawatan selama 3x24 jam bantu
gangguan muskuloskeletal, hambatan diharapkan pasien mengalami b. Kaji kondisi kulit saat mandi
mobilitas. peningkatan perilaku dalam c. Berikan bantuan sampai pasien
merawat diri dengan kriteria hasil: mampu secara mandiri untuk
a. Klien mampu melakukan melakuakn perawatan diri
aktifitas perawatan d. Letakkan sabun, handuk, peralatan
dirisesuai denmgan tingkat mandi, peralata BAB/BAK, didekat
kemampuan klien.

16
b. Mengungkapkan secara e. Ajarkan pasien atau keluarga untuk
verbal kepuasan tentang menggunakan metode alternaltif
kebersihantubuh, hygiene dalam mandi, hygiene mulut,
mulut. BAB/BAK.
f. Kolaborasi dengan dokter untuk
pemberian supositoria kalau terjadi
konstipasi
4 Kerusakan integritas kulit Setelah dilakukan tindakan a. Kaji adanya faktor resiko yang
berhubungan dengan tonjolan tulang. keperawatan selama 3x24 jam menyebabkan kerusakan integritas
diharapkan tidak terjadi kerusakan kulit
integritas kulit secara luas dengan b. Observasi kulit setiap hari dan catat
kriteria hasil: sirkulasi dan sensori serta perubahan
a. Nyeri lokal ekstremitas yang terjadi
tidak terjadi c. Berikan bantalan pada ujung dan
b. Menunjukkan rutinitas sambungan traksi
perawatan kulit yang efektif. d. Jika memungkinkan ubah posisi 1-2
jam secara rutin

17
e. Konsultasikan ka ahli gizi untuk
maknan tinggi protein untuk
membantu penmyembuhan luka

5 Ansietas berhubungan dengan stres, Setelah dilakukan tindakan a. Kaji dan dokumentasikan tingkat
krisis situasional. keperawatan selama 3x24 jam kecemasan klien
diharapkan tingkat kecemasan b. Kaji cara pasien untuk mengatasi
berkuranmg dengan kriteria hasil: kecemasan
a. Tidak menunjukkan c. Sediakan informasi yang aktual
perilaku agresif tentang diagnosa medis dan
b. Melaporkan tidak ada prognsis
manifestasi kecemasan d. Ajarkan ke pasien tentang
secara fisik. peggunaan teknik relaksasi

18
B. Spinal Anestesi
1. Definisi Spinal Anestesi
Spinal anestesi adalah pemberian obat anestetik lokal dengan cara
menyuntikkan sejumlah kecil obat anestesi secara langsung ke dalam
rongga Subarakhnoid/ Cairan Cerebro Spinal (CSS), tempat puncture
atau penusukan adalah diposisikan sesuai kebutuhan pasien dan buat
pasien membungkuk maksimal agar prosesus spinosus mudah teraba.
Perpotongan antara garis yang menghubungkan kedua krista iliaka
dengan tulang punggung dengan tempat tusukan (teknik midline atau
teknik paramedian) pada lumbalis 2-3, lumbalis 3-4 atau lumbalis 4-5
sedangkan tusukan pada lumbalis 1-2 atau diatasnya beresiko trauma
terhadap medula spinalis (Soenarjo, 2010; Morgan, 2013).
2. Indikasi Spinal Anestesi
Menurut Latief (2009), indikasi anestesi spinal dapat di golongkan
sebagai berikut:
a. Bedah ekstermitas bawah
b. Bedah daerah panggul
c. Tindakan sekitar rektum-perineum
d. Bedah abdomen bagian bawah
e. Bedah urologi
f. Bedah abdomen atas dan bedah pediatrik biasanya dikombinasikan
dengan anestesi umum ringan.
3. Kontra Indikasi Spinal Anestesi
Kontra indikasi spinal anestesi dibedakan menjadi dua, yaitu kontra
indikasi absolut dan kontra indikasi relatif. Kontra indikasi absolut
spinal anestesi antara lain:
a. Gangguan pembekuan darah, karena bila ujung jarum spinal
menusuk pembuluh darah, terjadi perdarahan hebat dan darah akan
menekan medulla spinalis.
b. Sepsis, karena akan menyebabkan meningitis.

19
c. Tekanan intrakranial yang meningkat, karena bisa menyebabkan
pergeseran otak bila terjadi kehilangan cairan serebrospinal.
d. Pasien menolak
e. Adanya dermatitis kronis atau infeksi kulit di daerah yang akan
ditusuk jarum spinal.
f. Penyakit sistemik dengan sequel neurologis misalnya anemia
pernisiosa, neurosyphilys, dan porphiria.
g. Hipotensi.
Sedangkan kontra indikasi relatif spinal anestesi antara lain:
1) Pasien dengan perdarahan.
2) Masalah pada tulang belakang.
3) Anak-anak.
4) Pasien tidak kooperatif, psikosis
4. Komplikasi Spinal Anestesi
Menurut Kresnoadi (2015), komplikasi spinal anestesi dibagi
menjadi dua bagian yaitu komplikasi yang terjadi segera dan komplikasi
lanjut.
a. Komplikasi Segera
1) Kardiovaskuler
a) Hipotensi, disebabkan oleh vasodilatasi pembuluh darah
perifer, penurunan tekanan darah sistolik dan penurunan
tekanan darah arteri rata-rata, penurunan laju jantung dan
penurunan isi sekuncup.
b) Bradikardi, disebabkan oleh karena blok saraf simpatis dan
menurunnya rangsangan terhadap stretch receptors yang ada
pada dinding atrium.
2) Respirasi , gangguan yang timbul adalah hipoventilasi, apneu,
batuk, gangguan ponasi.
3) Sistem saluran pencernaan, terjadi peningkatan kontraksi usus,
tekanan intralumen meningkat, spinkter akan terjadi relaksasi.

20
Mual muntah merupakan gejala yang sering timbul akibat
anestesi spinal, kejadiannya kurang lebih hampir 25%.
4) Perubahan Temperatur Tubuh
Manusia merupakan spesies homeotermi yang mempunyai
sistem pengaturan suhu tubuh yang bekerja untuk melawan suhu
lingkungan dengan tujuan menjaga suhu tubuh, sehingga
mengoptimalkan fungsi tubuh normal, suhu tubuh bagian dalam
lebih tinggi dibandingkan dengan suhu diluar tubuh. Suhu inti
tubuh terdapat dalam bagian tengah tubuh (organ-organ
abdomen, thoraks, susunan saraf pusat, dan otot-otot rangka
yang secara homeostatis dipertahankan dalam rentang 36-
37,5oC. Apabila manusia berada dilingkungan yang suhunya
lebih dingin dari tubuh mereka, mereka akan terus menerus
menghasilkan panas secara internal untuk mempertahankan suhu
tubuhnya (Ganong, 2008).
Suhu normal preoperasi pada pasien adalah 36,6-37,5oC
makin rendah suhu preoperasi (<36,6oC) maka makin
meningkatkan perubahan suhu tubuh selama spinal analgesi. Hal
ini terjadi karena inhibisi simpatis yang disebabkan peningkatan
suhu regional. Pada efek puncak 30-60 menit pertama
menyebabkan penurunan suhu tubuh 1-2oC tergantung dari
luasnya blok sensorik sedangkan pada suhu lebih 37,5oC akan
memicu terjadinya hipertermi maligna yang dapat mengganggu
pusat pengatur panas hipotalamus (Majid, 2011).

5) Anestesi spinal total, terjadi bila blok simpatis sampai thorakal


atau bahkan servikal, dapat terjadi hipotensi berat, bradikardi
dan gangguan respirasi.
6) Reaksi alergi, reaksi ini manifestasinya bermacam-macam, bisa
hanya berupa kemerahan pada kulit, urtikaria namun dapat pula
manifestasinya berupa reaksi syok anafilaktik.

21
b. Komplikasi Lanjut
1) Sakit kepala, kejadian nyeri kepala setelah anestesi spinal adalah
5-10%, banyak terjadi pada wanita, dan pada usia muda.
2) Nyeri punggung, terjadi karena kerusakan atau teregangnya
kapsula, otot, dan ligamen.
3) Retensi urin, terjadi pada operasi daerah perineum, urogenital
dan abdomen bagian bawah. Distensi kandung kemih akan
mengakibatkan perubahan hemodinamik seperti peningkatan
tekanan darah dan peningkatan laju jantung.
4) Infeksi, yang sering terjadi pada anestesi spinal adalah
meningitis dan abses epidural.
5) Komplikasi Neurologi
5. Persiapan Spinal Anestesi
Persiapan spinal anestesi meliputi alat, obat emergensi, cairan, alat
defibrillator, pasien, dan praktisi anestesi. Anestesi spinal perlu
memperhatikan darah sekitar tempat tusukan, apakah akan
menimbulkan kesulitan misalnya ada kelainan anatomis tulang
punggung atau pasien tidak teraba tonjolan prosesus spinosus. Selain
itu, perlu diperhatikan hal-hal sebagai berikut:
a. Informed Consent, petugas kesehatan tidak boleh memaksa pasien
untuk menyetujui dilakukannya spinal anestesi.
b. Pada saat pemeriksaan fisik, tidak dijumpai kelainan spesifik seperti
kelainan tulang punggung dan lain sebagainya.
c. Pemeriksaan laboratorium meliputi Hemoglobin (Hb), hematokrit
(HMT), Prothrombine time (PT) dan Partial Thromboplastine Time
(PTT).

22