Anda di halaman 1dari 20

BAB I

PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG
Pembentukan parut akibat ulserasi kornea adalah penyebab utama kebutaan dan
ganguan penglihatan di seluruh dunia. Kebanyakan gangguan penglihatan ini dapat
dicegah, namun hanya bila diagnosis penyebabnya ditetapkan secara dini dan diobati
secara memadai. Kornea berfungsi sebagai membran pelindung dan jendela yang
dilalui berkas cahaya menuju retina.

Ulcus kornea dapat terjadi akibat adanya trauma pada oleh benda asing,
dan dengan air mata atau penyakit yang menyebabkan masuknya bakteri atau jamur ke
dalam kornea sehingga menimbulkan infeksi atau peradangan. Ulcus kornea merupakan
luka terbuka pada kornea. Keadaan ini menimbulkan nyeri, menurunkan
kejernihan penglihatan dan kemungkinan erosi kornea.

Di Indonesia kekeruhan kornea masih merupakan masalah kesehatan mata sebab


kelainan ini menempati urutan kedua dalam penyebab utama kebutaan. Kekeruhan
kornea ini terutama disebabkan oleh infeksi mikroorganisme berupa bakteri, jamur, dan
virus dan bila terlambat didiagnosis atau diterapi secara tidak tepat akan mengakibatkan
kerusakan stroma dan meninggalkan jaringan parut yang luas. Insiden ulcus kornea
tahun 1993 adalah 5,3 juta per 100.000 penduduk di Indonesia, sedangkan predisposisi
terjadinya ulcus kornea antara lain terjadi karena trauma, pemakaian lensa kontak, dan
kadang-kadang tidak diketahui penyebabnya.

B. ANATOMI DAN FISIOLOGI KORNEA

Kornea adalah jaringan transparan, yang ukurannya sebanding dengan kristal


sebuah jam tangan kecil. Kornea ini disisipkan ke sklera di limbus, lengkung melingkar
pada persambungan ini disebut sulkus skelaris. Kornea dewasa rata-rata mempunyai
tebal 0,54 mm di tengah, sekitar 0,65 di tepi, dan diameternya sekitar 11,5 mm dari
anterior ke posterior, kornea mempunyai lima lapisan yang berbeda-beda: lapisan epitel
(yang bersambung dengan epitel konjungtiva bulbaris), lapisan Bowman, stroma,
membran Descement, dan lapisan endotel. Batas antara sclera dan kornea disebut

1
limbus kornea. Kornea merupakan lensa cembung dengan kekuatan refraksi sebesar + 43
dioptri.

Sumber nutrisi kornea adalah pembuluh-pembuluh darah limbus, humour aquous,


dan air mata. Kornea superfisial juga mendapat oksigen sebagian besar dari atmosfir.
Transparansi kornea dipertahankan oleh strukturnya seragam, avaskularitasnya dan
deturgensinya.

2
BAB II
KONSEP TEORITIS

A. KONSEP DASAR
1. Definisi
Keratitis ulseratif yang lebih dikenal sebagai ulserasi kornea yaitu terdapatnya
destruksi (kerusakan) pada bagian epitel kornea. (Darling,H Vera, 2000, hal 112).
Ulcus kornea adalah hilangnya sebagian permukaan kornea akibat kematian
jaringan kornea. (Arif mansjoer, DKK, 2001, hal 56).

2. Etiologi
Faktor penyebabnya antara lain:
a. Kelainan pada bulu mata (trikiasis) dan sistem air mata (insufisiensi air mata,
sumbatan saluran lakrimal), dan sebagainya
b. Faktor eksternal, yaitu : luka pada kornea (erosio kornea), karena trauma,
penggunaan lensa kontak, luka bakar pada daerah muka
c. Kelainan-kelainan kornea yang disebabkan oleh : oedema kornea kronik,
exposure-keratitis (pada lagophtalmus, bius umum, koma) ; keratitis karena
defisiensi vitamin A, keratitis neuroparalitik, keratitis superfisialis virus.
d. Kelainan-kelainan sistemik; malnutrisi, alkoholisme, sindrom Stevens-Jhonson,
sindrom defisiensi imun.
e. Obat-obatan yang menurunkan mekaniseme imun, misalnya : kortikosteroid,
IUD, anestetik lokal dan golongan imunosupresif.

Secara etiologik ulcus kornea dapat disebabkan oleh :

a. Bakteri : Kuman yang murni dapat menyebabkan ulcus kornea adalah


streptokok pneumoniae, sedangkan bakteri lain menimulkan ulcus kornea
melalui faktor-faktor pencetus diatas.
b. Virus : herpes simplek, zooster, vaksinia, variola
c. Jamur : golongan kandida, fusarium, aspergilus, sefalosporium

3
d. Reaksi hipersensifitas : Reaksi terhadap stapilokokus (ulcus marginal), TBC
(keratokonjungtivitis flikten), alergen tak diketahui (ulcus cincin). (Sidarta Ilyas,
1998, 57-60)

3. Tanda dan Gejala


Gejala klinis pada ulcus kornea secara umum dapat berupa :
a. Gejala Subjektif
- Eritema pada kelopak mata dan konjungtiva
- Sekret mukopurulen
- Merasa ada benda asing di mata
- Pandangan kabur
- Mata berair
- Bintik putih pada kornea, sesuai lokasi ulkus
- Silau
- Nyeri
b. Gejala Objektif
- Injeksi siliar
- Hilangnya sebagian jaringan kornea, dan adanya infiltrat
- Hipopion

Bakteri, jamur, Acanthamoeba, dan herpes simpleks

4. Patofisiologi
Merusak epithel kornea

Ulcus berimigrasi ke tengah kornea

Hipopion

Ulcus kornea

Nyeri Mata merah Kabur


4

Gangguan rasa nyaman


Potensial terjadi infeksi Gangguan persepsi sensory
5. Klasifikasi
Berdasarkan lokasi , dikenal ada 2 bentuk ulcus kornea , yaitu:
1. Ulcus kornea sentral meliputi:
a. Ulcus kornea bakterialis

Ulcus Streptokokus : Khas sebagai ulcus yang menjalar dari tepi ke arah
tengah kornea (serpinginous). Ulcus bewarna kuning keabu-abuan berbentuk
cakram dengan tepi ulcus yang menggaung. Ulcus cepat menjalar ke dalam
dan menyebabkan perforasi kornea, karena eksotoksin yang dihasilkan oleh
streptokok pneumonia.

Ulcus Stafilokokus : Pada awalnya berupa ulcus yang bewarna putik


kekuningan disertai infiltrat berbatas tegas tepat dibawah defek epitel.
Apabila tidak diobati secara adekuat, akan terjadi abses kornea yang disertai
edema stroma dan infiltrasi sel leukosit. Walaupun terdapat hipopion ulkus
seringkali indolen yaitu reaksi radangnya minimal.

Ulcus Pseudomonas : Lesi pada ulcus ini dimulai dari daerah sentral
kornea. Ulcus sentral ini dapat menyebar ke samping dan ke dalam kornea.
Penyerbukan ke dalam dapat mengakibatkan perforasi kornea dalam waktu
48 jam. Gambaran berupa ulcus yang berwarna abu-abu dengan kotoran
yang dikeluarkan berwarna kehijauan. Kadang-kadang bentuk ulcus ini
seperti cincin. Dalam bilik mata depan dapat terlihat hipopion yang banyak.

Ulcus Kornea Bakterialis Ulcus Kornea Pseudomonas

b. Ulcus kornea oleh virus


Ulcus Kornea Herpes Zoster : Biasanya diawali rasa sakit pada kulit
dengan perasaan lesu. Gejala ini timbul satu 1-3 hari sebelum timbulnya

5
gejala kulit. Pada mata ditemukan vesikel kulit dan edem palpebra,
konjungtiva hiperemis, kornea keruh akibat terdapatnya infiltrat subepitel
dan stroma. Infiltrat dapat berbentuk dendrit yang bentuknya berbeda
dengan dendrit herpes simplex. Dendrit herpes zoster berwarna abu-abu
kotor dengan fluoresin yang lemah. Kornea hipestesi tetapi dengan rasa sakit
keadaan yang berat pada kornea biasanya disertai dengan infeksi sekunder.

Ulcus Kornea Herpes simplex : Infeksi primer yang diberikan oleh virus
herpes simplex dapat terjadi tanpa gejala klinik. Biasanya gejala dini dimulai
dengan tanda injeksi siliar yang kuat disertai terdapatnya suatu dataran sel di
permukaan epitel kornea disusul dengan bentuk dendrit atau bintang
infiltrasi. terdapat hipertesi pada kornea secara lokal kemudian menyeluruh.
Terdapat pembesaran kelenjar preaurikel. Bentuk dendrit herpes simplex
kecil, ulceratif, jelas diwarnai dengan fluoresin dengan benjolan diujungnya.

Ulcus Kornea Dendritik Ulcus Kornea Herpetik

c. Ulcus Kornea Fungi


Mata dapat tidak memberikan gejala selama beberapa hari sampai beberapa
minggu sesudah trauma yang dapat menimbulkan infeksi jamur ini.
Pada permukaan lesi terlihat bercak putih dengan warna keabu-abuan yang
agak kering. Tepi lesi berbatas tegas irregular dan terlihat penyebaran seperti
bulu pada bagian epitel yang baik. Terlihat suatu daerah tempat asal
penyebaran di bagian sentral sehingga terdapat satelit-satelit
disekitarnya..Tukak kadang-kadang dalam, seperti tukak yang disebabkan
bakteri. Pada infeksi kandida bentuk tukak lonjong dengan permukaan naik.
Dapat terjadi neovaskularisasi akibat rangsangan radang. Terdapat injeksi
siliar disertai hipopion.

6
Ulcus Kornea Fungi

d. Ulcus Kornea Acanthamoeba


Awal dirasakan sakit yang tidak sebanding dengan temuan kliniknya,
kemerahan dan fotofobia. Tanda klinik khas adalah ulkus kornea indolen,
cincin stroma, dan infiltrat perineural.

Ulcus Kornea Acanthamoeba

2. Ulcus Kornea Perifer


a. Ulcus Marginal
Bentuk ulcus marginal dapat simpel atau cincin. Bentuk simpel berbentuk
ulkus superfisial yang berwarna abu-abu dan terdapat pada infeksi
stafilococcus, toksit atau alergi dan gangguan sistemik pada influenza
disentri basilar gonokok arteritis nodosa, dan lain-lain. Yang berbentuk
cincin atau multiple dan biasanya lateral. Ditemukan pada penderita
leukemia akut, sistemik lupus eritromatosis dan lain-lain.

Ulcus Marginal

b. Ulcus Mooren
Merupakan ulcus yang berjalan progresif dari perifer kornea kearah sentral.
ulkus mooren terutama terdapat pada usia lanjut. Penyebabnya sampai
sekarang belum diketahui. Banyak teori yang diajukan dan salah satu adalah
teori hipersensitivitas tuberculosis, virus, alergi dan autoimun. Biasanya
menyerang satu mata. Perasaan sakit sekali. Sering menyerang seluruh
permukaan kornea dan kadang meninggalkan satu pulau yang sehat pada
bagian yang sentral.

7
Mooren's Ulcer

c. Ring Ulcer
Terlihat injeksi perikorneal sekitar limbus. Di kornea terdapat ulkus yang
berbentuk melingkar dipinggir kornea, di dalam limbus, bisa dangkal atau
dalam, kadang-kadang timbul perforasi.Ulkus marginal yang banyak
kadang-kadang dapat menjadi satu menyerupai ring ulcer. Tetapi pada ring
ulcer yang sebetulnya tak ada hubungan dengan konjungtivitis kataral.
Perjalanan penyakitnya menahun.

6. Pemeriksaan Diagnostik
a. Kartu mata/ snellen telebinokuler (tes ketajaman penglihatan dan sentral
penglihatan ) , Visus: menurun
b. Lapang penglihatan
c. Pengukuran tonografi : mengkaji TIO, normal 12 - 25 mmHg
d. Pemeriksaan oftalmoskopi
e. Pemeriksaan Darah lengkap, LED
Hapusan langsung : untuk mengetahui jenis kuman dengan pengecatan gram.
Bias kuman : untuk identifikasi kuman, Untuk keperluan pemeriksaan
laboratorium bahan ini diambil dari tepi ulkus menggunakan kapas steril
f. Pemeriksaan EKG
g. Tes toleransi glukosa

7. Komplikas
Komplikasi yang paling sering timbul berupa
- Kebutaan parsial atau komplit dalam waktu sangat singkat
- Kornea perforasi dapat berlanjut menjadi endoptalmitis dan panopthalmitis
- Prolaps iris
- Sikatrik kornea
- Katarak
- Glaukoma sekunder

8. Penatalaksanaan
Pasien dengan ulcus kornea berat biasanya dirawat untuk pemberian berseri
(kadang sampai tiap 30 menit sekali), tetes antimikroba dan pemeriksaan berkala
oleh ahli opthalmologi. Cuci tangan secara seksama adalah wajib. Sarung tangan
harus dikenakan pada setiap intervensi keperawatan yang melibatkan mata.
Kelopak mata harus dijaga kebersihannya, dan perlu diberikan kompres dingin.
Pasien dipantau adanya peningkatan tanda TIO. Mungkin diperlukan asetaminofen

8
untuk mengontrol nyeri. Siklopegik dan midriatik mungkin perlu diresep untuk
mengurangi nyeri dan inflamasi. Tameng mata (patch) dan lensa kontak lunak tipe
balutan harus dilepas sampai infeksi telah terkontrol, karena justru dapat
memperkuat pertumbuhan mikroba. Namun kemudian diperlukan untuk
mempercepat penyembuhan defek epitel.

9. Pencegahan
Pencegahan terhadap ulcus dapat dilakukan dengan segera berkonsultasi kepada ahli
mata setiap ada keluhan pada mata. Sering kali luka yang tampak kecil pada kornea
dapat mengawali timbulnya ulkus dan mempunyai efek yang sangat buruk bagi mata.
- Lindungi mata dari segala benda yang mungkin bisa masuk kedalam mata
- Jika mata sering kering, atau pada keadaan kelopak mata tidak bisa menutup
sempurna, gunakan tetes mata agar mata selalu dalam keadaan basah
- Jika memakai lensa kontak harus sangat diperhatikan cara memakai dan merawat
lensa tersebut.

B. ASUHAN KEPERAWATAN TEORITIS


1. Pengkajian
Aktifitas / istirahat : perubahan aktifitas
Neurosensori : penglihatan kabur, silau
Nyeri : ketidaknyamanan, nyeri tiba-tiba/berat menetap/tekanan pada
& sekitar mata
Keamanan : takut, ansietas (Dongoes, 2000).

2. Diagnosa Keperawatan
1. Ketakutan atau ansietas berhubungan dengan kerusakan sensori dan kurangnya
pemahaman mengenai perawatan pasca operatif, pemberian obat
Intervensi Keperawatan :
- Kaji derajat dan durasi gangguan visual
- Orientasikan pasien pada lingkungan yang baru
- Jelaskan rutinitas perioperatif
- Dorong untuk menjalankan kebiasaan hidup sehari-hari bila mampu
- Dorong partisipasi keluarga atau orang yang berarti dalam perawatan pasien.
2. Risiko terhadap cedera yang berhubungan dengan kerusakan penglihatan
Intervensi Keperawatan :
- Bantu pasien ketika mampu melakukan ambulasi pasca operasi sampai stabil
- Orientasikan pasien pada ruangan
- Bahas perlunya penggunaan perisai metal atau kaca mata bila diperlukan
- Jangan memberikan tekanan pada mata yang terkena trauma
- Gunakan prosedur yang memadai ketika memberikan obat mata
3. Nyeri yang berhubungan dengan trauma, peningkatan TIO, inflamasi intervensi
bedah atau pemberian tetes mata dilator
Intervensi Keperawatan :
- Berikan obat untuk mengontrol nyeri dan TIO sesuai resep
- Berikan kompres dingin sesuai permintaan untuk trauma tumpul

9
- Kurangi tingkat pencahayaan
- Dorong penggunaan kaca mata hitam pada cahaya kuat
4. Potensial terhadap kurang perawatan diri yang berhubungan dengan kerusakan
penglihatan
Intervensi Keperawatan :
- Beri instruksi pada pasien atau orang terdekat mengenai tanda dan gejala,
komplikasi yang harus segera dilaporkan pada dokter
- Berikan instruksi lisan dan tertulis untuk pasien dan orang yang berarti
mengenai teknik yang benar dalam memberikan obat
- Evaluasi perlunya bantuan setelah pemulangan
- Ajari pasien dan keluarga teknik panduan penglihatan

BAB III
ASUHAN KEPERAWATAN KASUS ULCUS KORNEA

ASUHAN KEPERAWATAN PADA Ny. A


DENGAN ULKUS KORNIA KOMPLIKASI HIPOPION
DI RUANG YAKUT RSUD.H.DAMAN HURI BARABAI

A. PENGKAJIAN
I. Biodata
Identitas pasien
Nama : Ny. A.
Umur : 39 tahun
Jenis kelamin : Perempuan

10
Pendidikan : SD
Pekerjaan : Ikut Suami ( Pensinan PNS )
Agama : Islam
Alamat : Desa Sei Rangat Kec. Batang Alai Utara.
Tanggal MRS : 16 Pebruari 2006
Rujukan dari : Puskesmas Limpasu
Diagnosa Medis : Ulcus Kornea komp. Hipopion
Alasan Dirawat : Sakit yang tidak tertahan kan lagi meskipun sudah diupayan
pengobatan dirumah

II. Riwayat Penyakit


A. Keluhan Utama: Mata sebelah kanan sakit dan penglihatan kabur
B. Riwayat Penyakit sekarang
Kurang lebih 2 bulan yang telah lalu, ketika kein bekerja disawah, untuk memberi
pupuk pada tanamanya, matanya terkena percikan pupuk Urea, dan kemudian
pada saat itu langsung dicuci matanya dengan air di dekatnya ( air sawah ), dan
berselang 1 minggu kemudian klien merasasakan sakit kepala yang hebat disusul
dengan berkurangnya tajam penglihatan, mata merah dan sakit sekali dan
diupayakan pengobatan dirumah namun tidak tidak membuahkan kesembuhan
bahkan bertambah parah, kemudian dibawa ke Puskesmas Limpasu, oleh pihak
Puskesmas pada tanggal 16 Pebruari 2006, di rujuk ke RSUD H. Daman Huri
Barabai.
C. Riwayat Penyakit Dahulu
Sebelumnya klien tidak pernah mengalami penyakit seperti sekarang yang
memerlukan tindakan Perawatan di Rumah Sakit.

D. Riwayat Penyakit Keluarga


Menurut klien tidak ada dari pihak keluarganya yang mengalami penyakit seperti
yang klein derita saat ini maupun kencing manis.

III. Pemeriksaan Fisik


A. Keadaan umum :
Tampak sakit sedang, kesadarn composmentis, klien tampak cemas.
Tanda vital:
11
Tekanan darah : 140/70 mmHg
Denyut nadi : 88 x/mt
Suhu : 37 C
Respirasi : 24 x/mt
B. Kulit
Kebersihan kulit cukup, tidak ada ikterik, tidak terdapat lesi, turgor kulit cepat
kembali (2 detik)
C. Kepala
Keadaan kulit kepala dan rambut tampak cukup bersih, struktur simetris, tidak
mengeluh sakit kepala.
D. Mata
Mata kanan Mata kiri
Kebersihan Cukup Cukup
Konjungtiva Hiperemia (-) Hiperemia (-)
Sklera Bening Bening
Pupil Reflek (+) Reflek (+)
Visus 0,5/60 0,5/60
Lensa Keruh Keruh
Palpebra Odema (-) Odema(-)

E. Hidung
Kebersihan cukup, membedakan bau (+), tidak ada pembesaran massa hidung,
pengeluaran sekret abnormal (-).
F. Telinga
Tidak ada kelainan anatomi, fungsi mendengar baik, tidak ada peradangan dan
pengeluaran sekret abnormal.
G. Mulut
H. Kebersihan mulut cukup, fungsi menelan baik, gigi tidak lengkap. Terdapat caries
gigi, fungsi bicara baik.
I. Leher
Simetris, tidak ada pembesaran kelenjar getah bening dan kelenjar tyroid.
J. Dada
Bentuk simetris, frekuensi nafas 24 x/mt.
K. Abdomen
12
Struktur simetris, frekuensi bising usus : 10 x/mt, kembung tidak ada.
L. Sistem reproduksi
Klien sebagai seorang suami dan ayah 5 orang anak, klien mengatakan bahwa
penyakit DM yang dideritanya juga mempengaruhi fungsinya sebagai seorang
suami.
M. Ekstremitas atas dan bawah
Rentang gerak penuh, keseimbangan dan cara berjalan tegap tapi penuh hati-hati
dan sedikit dibantu karena fungsi melihat klien terganggu.

IV. Kebutuhan Fisik, Psikososial, Sosial dan Spiritual


A. Aktivitas dan istirahat
Di rumah : Klien dalam beraktivitas kadang-kadang dibantu oleh keluarganya,
istirahat siang 1-2 jam, tidur 7 jam.
Di rumah sakit : Istirahat 1 jam, tidur 6 jam, klien merasa segar setelah bangun
tidur.
B. Personal hygiene
Di rumah : Mandi 2 x sehari, gosok gigi 2 x sehari, kuku dipotong bila panjang.
Di rumah sakit : Mandi 2 x sehari.
C. Nutrisi
Di rumah : Makan 3 x sehari, tidak ada pantangan dalam makanan, minum 7 gelas
sehari.
Di rumah sakit : Makan 3 x sehari, diet NBTKTP, minum 6 gelas sehari, BB 56
kg.
D. Eliminasi
Di rumah : BAB 1 x sehari, BAK 4 x sehari, warna kuning muda, nyeri pada saat
BAK tidak ada.
Di rumah sakit : BAB (-), BAK 3 x sehari, nyeri saat BAK tidak ada.
E. Psikososial
Klien cepat menyesuaikan diri dengan perawat dan klien lain, komunikasi lancar,
selama dirawat tidak ada yang datang berkunjung, klien ditunggui oleh anaknya,
klien bertanya tentang operasi yang akan dilaksanakan.
F. Spiritual
Klien seorang yang beragama islam, selama dirawat tampak klien tidak
melaksanakan shalat 5 waktu.
13
V. Data Penunjang
Laboratorium
N Jenis pemeriksaan Kategori normal Hasil
o
1 Hb 13,5 17,5 gr % 15,0 gr %
2 Leukosit 4000 - 11.000 12,600
3 Waktu perdarahan 1 - 3 2'
4 Waktu pembekuan 4 - 9 5
5 Gula darah puasa 70 110 mg/dl 91 mg/dl

6 Gula darah 2 jam < 125 mg/dl 185 mg/dl

Therapy ;
Asam mefenamat 3 x 500 mg
Tetes mata optixitrol 3 x 1 tts OD
Tetes mata Colme Tiap Jam x 1 tts OD
Amoxicilin tablet 3 x 500 m

14
B. ANALISA DATA

NO DS / DO PENYEBAB MASALAH

1 DS : Klien mengatakan Gangguan penerimaan sensori akibat Ulcus kornea


- Penglihatannya kabur. Gangguan sensori persepsi ( Nyeri )
- Nyeri pada mata sebelah kanan
DO:
- Klien terlihat meringis saat bangun dari tempat tidur
- Skala nyeri : Skala 4
- Tanda- tanda Vital:
Tekanan darah : 140/70 mmHg
Denyut nadi : 88 x/mt
Suhu : 37 C
Respirasi : 24 x/mt
2 DS : Klien menanyakan tentang operasiyang akan dilakukan. Kurang pengetahuan tentang prosedur invasif yang akan
DO:- Klien tampak Gelisah. dilakukan (Ansietas)
- Bertanya tentang tindakan yang akan dilakukan pada matanya
- Tanda- tanda Vital :
Tekanan darah : 140/70 mmHg
Denyut nadi : 88 x/mt
Suhu : 37 C

15
Respirasi : 24 x/mt

C. DAFTAR MASALAH
NO DIAGNOSA KEPERAWATAN INTERVENSI KEPERAWATAN
1 Nyeri berhubungan dengan gangguan penerimaan - Kaji tipe, intensitas dan lokasi nyeri.
sensori akibat Ulkus kornea - Pertahankan istirahat di tempat tidur dalam ruangan yang tenang dan atau
yang ditandai dengan : dalam posisi yang nyaman.
DS : Klien mengatakan Nyeri pada kepala khususnya - Ajarkan metode distraksi selama nyeri akut.
pada mata sebelah kanan - Observasi vital sign
- Kolaborasi dalam pemberian analgetik
DO : Klien terlihat meringis saat bangun dari tempat
Tidur dan saat diajak berkomunikasi
2 Ansietas berhubungan dengan Kurang pengetahuan - Kaji tingkat ansietas
tentang prosedur invasif yang akan dilakukan. Yang - Beri penjelasan tentang prosedur tindakan yang akan dilaksanakan
ditandai dengan : - Beri dukungan moril dan motivasi untuk klien.
DS : Klien menanyakan tentang tindakan yang akan
dilakukan.
DO:- Klien tampak Gelisah dan menanyakan tentang
tindakan yang akan dilakukan pada matanya
D. CATATAN KEPERAWATAN

HARI / DIAGNOSA IMPLEMENTASI EVALUASI

16
TANGGAL
Nyeri berhubungan dengan - Mengkaji tipe, intensitas dan lokasi nyeri. S : Klien mengatakan nyerinya sudah
gangguan penerimaan Skala nyeri 4 (dari skala 0-5). berkurang. Skala nyeri 2 (dari skala 0-5).
sensori akibat Ulcus - Mempertahankan istirahat di tempat tidur
kornea dalam ruangan yang tenang dan dalam O : - Klien masih terlihat meringis saat
posisi yang nyaman. bangun dari tempat tidur dan jika
- Mengajarkan metode distraksi/relaksasi diajak berkomunikasi
selama nyeri akut dengan cara mengajak - Tanda- tanda Vital :
klien bercerita dan napas dalam. Tekanan darah : 130/70 mmHg
- Mengobservasi vital sign Denyut nadi : 82 x/mt
Tekanan darah : 140/70 mmHg Suhu : 36 C
Denyut nadi : 88 x/mt Respirasi : 22 x/mt
Suhu : 37 C
Respirasi : 24 x/mt A : Masalah teratasi sebagian
- Kolaborasi dalam pemberian analgetik P: Intervinsi dilanjutkan

Ansietas berhubungan - Mengkaji tingkat ansietas. S : Klien mengatakan masih merasa takut
dengan Kurang - Memberi penjelasan tentang proses tindakan dengan tindakan pengobatan yang akan
pengetahuan tentang yang akan dilaksanakan dilaksanakan padanya.
prosedur invasif yang akan - Memberi dukungan moril dan motivasi
dilakukan untuk klien. O :- Klien nampak masih terlihat bingung
dan selalu ditemani keluarganya

17
- Tanda- tanda Vital :
Tekanan darah : 130/70 mmHg
Denyut nadi : 82 x/mt
Suhu : 36 C
Respirasi : 22 x/mt

A : Masalah teratasi sebagian


P : Intervensi dilajutkan

Nyeri berhubungan dengan - Mengkaji tipe, intensitas dan lokasi nyeri. S : Klien mengatakan nyerinya sudah
gangguan penerimaan Skala nyeri 1 (dari skala 0-5). berkurang. Skala nyeri (dari skala 0-5).
sensori akibat Ulcus - Mempertahankan istirahat di tempat tidur
kornea dalam ruangan yang tenang dan dalam O : - Klien tidak terlihat meringis saat
posisi yang nyaman. bangun dari tempat tidur dan jika
- Mengajarkan metode distraksi/relaksasi diajak berkomonikasi
selama nyeri akut dengan cara mengajak - Tanda- tanda Vital :
klien bercerita dan napas dalam. Tekanan darah : 120/70 mmHg
- Mengobservasi vital sign Denyut nadi : 80 x/mt
Tekanan darah : 140/70 mmHg Suhu : 36 C
Denyut nadi : 88 x/mt Respirasi : 20 x/mt
Suhu : 37 C
Respirasi : 24 x/mt A : Masalah teratasi

18
- Kolaborasi dalam pemberian analgetik P: Intervinsi dihentikan.

Ansietas berhubungan - Mengkaji tingkat ansietas. S : Klien mengatakan Sudah mengerti


dengan Kurang - Memberi penjelasan tentang proses tindakan tindakan yang akan dilaksanakan
pengetahuan tentang yang akan dilaksanakan padanya.
prosedur invasif yang akan - Memberi dukungan moril dan motivasi
dilakukan untuk klien. O :- Klien nampak tenang dan selalu
ditemani keluarganya
- Tanda- tanda Vital :
Tekanan darah : 120/70 mmHg
Denyut nadi : 80 x/mt
Suhu : 36 C
Respirasi : 20 x/mt
A : Masalah teratasi
P : Pertahankan intervensi

19
BAB IV
PENUTUP

A. Kesimpulan
Ulcus kornea adalah hilangnya sebagian permukaan kornea akibat kematian
jaringan kornea. Ulcus kornea dapat terjadi akibat adanya trauma pada oleh benda asing,
dan dengan air mata atau penyakit yang menyebabkan masuknya bakteri atau jamur ke
dalam kornea sehingga menimbulkan infeksi atau peradangan. Ulcus kornea merupakan
luka terbuka pada kornea. Keadaan ini menimbulkan nyeri, menurunkan kejernihan
penglihatan dan kemungkinan erosi kornea.
Gejala subyektif pada ulcus kornea sama seperti gejala-gejala keratitis. Gejala
obyektif berupa injeksi silier, hilangnya sebagian jaringan kornea dan adanya infiltrat.
Pada kasus yang lebih berat dapat terjadi iritis disertai hipopion, Fotofobia dan rasa sakit
dan lakrimasi.
Pasien dengan ulcus kornea berat biasanya dirawat untuk pemberian berseri
(kadang sampai tiap 30 menit sekali), tetes antimikroba dan pemeriksaan berkala oleh
ahli opthalmologi.

B. Saran
1. Hendaknya kita selalu waspada dengan kebersihan mata kita
2. Hendaknya sebagai perawat kita perlu mewaspadai adanya infeksi berlanjut dari
ulcus kornea ini .

20

Anda mungkin juga menyukai