Anda di halaman 1dari 15

Portofolio

Nama Peserta : dr. Evi Nopita

Nama Wahana : IDG RSUD Noongan

Topik : Abortus Inkomplit

Tanggal (kasus) :04-04-2016 No. RM :

Tanggal presentasi : 27 - 06-2016 Nama Pendamping : dr. Lidya Komedien

Tempat Presentasi : RSUD Noongan

Obyektif presentasi :
PPenyegara
KKeilmuan KKeterampilan TTinjauan pustaka
n
DDiagnostik MManajemen MMasalah IIstimewa

NNeonatus BBayi AAnak RRemaja DDewasa LLansia BBumil

Deskripsi : perempuan 18 tahun, keluhan utama adanya perdarahan dari jalan lahir

Tujuan : Menegakkan diagnosis dan tata laksana pada pasien abortus inkomplit
Bahan TTinjauan
RRiset KKasus AAudit
bahasan : pustaka
Cara DDisku PPresentasi dan
EE-mail PPos
membahas si diskusi
Data pasien Nama : Sdi. P. W No. Registrasi :
Pekerjaan :
Nama klinik: RSUD Noongan Terdaftar sejak : 04-04-2016
pelajar
Data utama untuk bahan diskusi :
1. Diagnosis / gambaran klinis :
- Perempuan, 18 tahun keluhan utama adanya perdarahan dari jalan lahir sejak 1 hari yang lalu. Pasien mengaku awalnya perdarahan
hanya berupa flek-flek sejak 4 hari yang lalu, tetapi pasien tidak memeriksakan keluhannya tersebut kedokter. kemudian kemarin
pasien mengeluh nyeri pada daerah sekitar kemaluan dan keluar darah berwarna merah segar beserta gumpalan daging sebesar
kira-kira sekepalan tangan. Nyeri perut terasa semakin hebat sehingga pasien datang ke IGD RSUD Noongan. Pasien mengaku
terakhir kali mendapat menstruasi bulan februari 2016, teteapi dirinya belum pernah periksa ke dokter ataupun melakukan test pack
sejak terlambat datang bulan.

2. Riwayar menstruasi, mernarche umur 14 tahun, siklus teratur 1x/bulan, lamanya 4-5 hari tiap kali menstruasi, HPHT 8-2-2016.

3. Riwayat perkawinan : pasien belum menikah

4. Riwayat persalinan : -

5. Riwayat ante natal care : -

6. Riwayat KB : pasien mengaku belum pernah KB sebelumnya


7. Riwayat pengobatan : Pasien sebelumnya belum pernah berobat untuk mengatasi keluhan ini.

8. Riwayat penyakit dahulu : pasien belum pernah mengalami keluhan ini sebelumnya. Riwayat penyakit gula, hipertensi, penyakit
jantung, asma, alergi obat, dan riwayat trauma disangkal pasien.
9. Riwayat penyakit keluarga :pasien mengatakan bahwa tidak ada anggota keluarga yang mengalami penyakit yang sama, riwayat
hipertensi, penyakit gula, asma disangkal pasien.
10. Riwayat pribadi dan sosial ekonomi: pasien seorang pelajar, sehari-hari makan nasi dengan lauk secukupnya, makan 3 kali sehari
dengan porsi sedang. Pasien tidak merokok, tidak minum alkohol, dan tidak mengkonsumsi obat-obatan ertentu. Pasien tinggal
bersama ayah, ibu dan saudara perempuan dan adik laki-laki.
11. Lain-lain : (PEMERIKSAAN FISIK, PEMERIKSAAN LABORATORIUM, dan TAMBAHAN YANG ADA, sesuai dengan
FASILITAS WAHANA)

a. Pemeriksaan fisik
Keadaan umum : Tampak sakit sedang
Kesadaran : Kompos mentis
Tekanan darah : 100/70 mmhg
Nadi : 86 x/m
Respirasi : 20 x/m
Suhu badan : 36,7 0 C
Berat badan : 45 kg

Kepala : Nomochepali
Mata : konjungtiva anemis (-)
Sklera Ikterik (-)
Pupil isokor
Hidung : Bagian luar : Normal, tidak terdapat deformitas
Septum : Terletak ditengah dan simetris
Mukosa hidung : Tidak hiperemis
Cavum nasi : Tidak ada tanda perdarahan
Telinga : daun telinga : Normal
Liang telingan: Lapang
Membran timpani : Intake
Nyeri tekan mastoid : Tidak ada
Sekret : Tidak ada
Mulut dan tenggorokan : Bibir : Tidak pucat, tidak ada sianosis
Gigi geligi : Lengkap, ada karies
Lidah : Normoglosia
Tonsil : TI-TI tenang
Faring : Tidak hiperemis
Leher : JVP: (5+2) cm H2O
Kelenjar tiroid : Tidak teraba membesar
Trakea : Terletak ditengah
Thoraks : Cor : Inspeksi : Iktus cordis tidak tampak
Palpasi : Iktus cordis tidak teraba
Perkusi : Batas kanan : ICS III-IV Linea parasternalis dekstra
Batas kiri : ICS V Linea midclavicula sinistra
Auskultasi : S I-II normal, bising (-)
Pulmo: Inspeksi : Simetris kanan = kiri
Palpasi : Stem fremitus kanan = kiri
Perkusi : sonor kanan = kiri
Auskultasi : Rhonki -/-, Wheezing -/-
Abdomen : Inspeksi : Datar, bekas operasi (-), pelebaran vena (-)
Palpasi : Nyeri tekan (-), Hepar dan Lien tidak teraba.

Auskutasi : bising usus (+) normal


Ekstremitas : Akral hangat, Edema (-)

b. Laboratorium
--
Daftar pustaka :
1. Mansjoer, Arif. Kapita Selekta Kedokteran. Jilid 1. Edisi ke-3. Jakarta: Media Aesculapius. 2000
2. Prawiroharjo, Sarwono. Ilmu Kebidanan. Jakarta: Yayasan Bina Pustaka Sarwono Prawiharjo. 2005
3.Cunningham FG, Leveno KJ, Bloom SL (Editor). Abortion. In: Wiliams Obstetrics, 23rd
4. DeCherney AH, Nathan L., Goodwin TM,et al. Spontaneus Abortion. In: Current Diagnosis and Treatment in obstetrics, 23rd Edition.
New York: McGraw-Hill, 2003. (e-book)
5. Hanretty KP. Vaginal Bleeding in Pregnancy. In: Obstetrics Ilustrated, 6th Edition. London: Churchill-Livingstone, 2003. (e-book)
6. Mathai M, Sanghvi H, Guidotti RJ. Vaginal Bleeding in Early Pregnancy. In: Managing Complication in Pregnancy adn Childbirth: A
Guiude feor Midwives adn Doctor. Geneva: WHO, 2007.

Hasil pembelajaran :

Diagnosis abortus inkomplit

Tatalaksana abortus inkomplit

Edukasi untuk Penderita abortus abortus inkomplit

1. Subjektif
Keluhan Utama : adanya perdarahan dari jalan lahir sejak 4 hari yang lalu.
Riwayat penyakit sekarang :
- Pasien mengaku awalnya perdarahan hanya berupa flek-flek sejak 4 hari yang lalu, tetapi pasien tidak memeriksakan keluhannya tersebut kedokter. kemudian
kemarin pasien mengeluh nyeri pada daerah sekitar kemaluan dan keluar darah berwarna merah segar beserta gumpalan daging sebesar kira-kira sekepalan
tangan. Nyeri perut terasa semakin hebat sehingga pasien datang ke IGD RSUD Noongan. Pasien mengaku terakhir kali mendapat menstruasi bulan februari
2016, teteapi dirinya belum pernah periksa ke dokter ataupun melakukan test pack sejak terlambat datang bulan.
2. Objektif
Keadaan umum : Tampak sakit sedang
Kesadaran : Kompos mentis
Tekanan darah : 110/70 mmhg
Nadi : 86 x/m
Respirasi : 20 x/m
Suhu badan : 36,70 C
Berat badan : 45 kg

Status lokalis
Status obstetri
Abdomen
Leopod I :
Leopod II :
Leopod III :
Leopod IV :
TFU :
:
DJJ :
HIS :

Pemeriksaan dalam vagina (VT) : Tidak di lakukan


Pemeriksaan penunjang
DL
HbsAg
Hcg
Rvd

3. Assesment
Definisi
Abortus adalah ancaman atau pengeluaran hasil konsepsi sebelum janin dapat hidup diluar kandungan. Sebagai batasan ialah kehamilan kurang dari
20 minggu atau berat janin kurang dari 500 gram.
Klasifikasi
a. Abortus iminen
Abortus tingkat permulaaan dan merupakan ancaman terjadinya abortus, ditandai dengan perdarahan pervaginam pada umur kehamilan kurang dari
20 minggu, ostium uteri masih tertutup dan hadil konsepsi masih baik dalam kandungan.
b. Abortus insipiens
Abortus yang mengancam yang ditandai dengan serviks telah mendatar dan ostium uteri telah membuka, hasil konsepsi masih dalam kavum uteri dan
dalam proses pengeluaran
c. Abortus inkomplit
Sebagian hasil konsepsi telah keluar dai kavum uteri dan masih ada yang tertinggal, pada umur kehamilan kurang ari 20 minggu atau berat janin
kurang dari 500 gram. Pada pemeriksaan VT, kanalis servikalis masih terbuka dan teraba jaringan dalam kavum uteri atau menonjol pada ostium uteri
eksternum. Banyaknya perdarahan tergantung dengan jaringan yang tersisa.

d. Abortus komplit
Seluruh hasil konsepsi telah keluar dari kavum uteri pada kehamilan kurang dari 20 minggu atau berat janin kurang dari 500 gram, ostium telah
menutup, uterus sudah mengecil sehingga perdarahan sedikit.

e. Missed abortion
Abortus yang ditandai dengan embrio atau fetus telah meninggal dalam kandungansebekum kehamilan 20 minggu dan hasil konsepsi seluruhnya
masih tertahan dalam kandungan.
f. Abortus habitualis
Abortus sontan yang terjadi 3 kali atau lebih berturut-turut. Salah satu penyebab yang sering dijumpai ialahinkompetensia serviks yaitu keadaan
dimana servik uteri tidak dapat menerima beban untuk tetap bertahan menutup setelah kehamilan melewati trimester pertama, ostium serviks akan
membuka tanpa disertai rasa mules/ kontraksi rahim dan akhirnya terjadi pengeluaran janin.

Etiologi
Penyebab abortus terbanyak adalah :
Factor genetik
Kelainan congenital uterus
Autoimun
Defec fetal luteal
Infeksi: bakteri, virus, parasit
Hemtologic
lingkungan

Diagnosis Abortus
Manifestasi klinis
Terlambat haid atau amenore kurang dari 20 minggu.
Pada pemeriksaan fisik keadaan umum tampak lemah atau kesadaran menurun, tekanan darah normal atau menurun, denyut nadi normal atau cepat dan
kecil, suhu badan normal atau meningkat.
Perdarahan pervaginam, mungkin disertai keluarnya jaringan hasil konsepsi.
Rasa mulas atau kram perut di daerah atas sympisis, sering disertai nyeri pinggang akibat kontraksi uterus.
Pemeriksaan ginekologi
Inspeksi vulva : perdarahan pervaginam
ada/tidak jaringan hasil konsepsi, tercium/tidak bau busuk dari vulva.
Inspekulo : perdarahan dari kavum uteri, ostium uteri terbuka atau sudah tertutup, ada/tidak jaringan keluar dari ostium, ada/tidak cairan atau jaringan
berbau busuk dari ostium.
Pemeriksaan dalam : porsio masih terbuka atau sudah tertutup, teraba atau tidak jaringan dalam kavum uteri,
besar uterus sesuai atau lebih kecil dari usia kehamilan, tidak nyeri saat porsio digoyang, tidak nyeri pada perabaan adneksa, kavum douglas tidak
menonjol dan tidak nyeri.

Komplikasi yang berbahaya pada abortus menurut Sujiyati, dkk (2009 : 30) ialah :
Pendarahan
Pendarahan dapat diatasi dengan pengosongan uterus dari sisa-sisa hasil konsepsi dan jika perlu pemberian transfusi darah.
Perforasi
Perforasi uterus pada saat curretage dapat terjadi terutama pada uterus dalam posisi hiperretrofleksi. Perforasi uterus pada abortus yang dikerjakan oleh
sorang biasa menimbulkan persoalan gawat karena perlakuan uterus biasanya luas, mungkin pula terjadi perlukaan pada kandung kemih atau usus.
Infeksi
Infeksi dalam uterus dan adneksa dapat terjadi dalam setiap abortus tetapi biasanya didapatkan pada abortus inkomplet yang berkaitan erat dengan suatu
abortus yang tidak aman (Unsafe Abortion)
Syok
Syok pada abortus bisa terjadi karena pendarahan (syok hemoragik) dan karena infeksi berat (syok endoseptik).

Penatalaksanaan Abortus

a. Abortus iminens

Pada umumnya tidak memrlukan terapi medika mentosa, pasien sebaiknya tidak melakukan hubungan seksual untuk sementara. Bila perdarahan
berhenti pemantauan dilanjutkan saat perawatan antenatal guna menilai kembali jika terjadi perdarahan lagi. Bila perdarahan tidak berhenti nilai
kembali viabilitas fetal (tes kehamilan atau USG ). Perdarahan persisten dengan uterus lebih besar dari perkiraan usia kehamilan mengindikasikan
kehamilan kembar atau molahidatidosa. Tidak dianjurkan memberi terapi hormon (sepertiesterogen dan prostaglandin) atau agen tokolitik (salbutamol
atau indometasin) karena tidak dapat mencegah terjadinya keguguran.

b. Abortus insipiens

Bila usia kehamilan < 16 minggu, rencanakan untuk melakukan evakuasi isi uterus. Bila evakuasi tidak memungkinkan untuk segera dilalukan :

Berikan ergometrin 0,2 mg IM (dapat diulang setelah 15 menit bila perlu) atau misoprostol 400 ug oral (dapat diulang sekali setelah 4 jam bila
perlu)

Rencanakan evakuasi hasil konsepsi dari uterus sesegera mungkin


Bila usia kehamilan > 16 minggu,

Tunggu ekpulsi spontan dari hasil konsepsi, kemudian evakuasi isi uterus untuk membersihkan sisa-sisa konsepsi yang masih tertinggal.

Jika memungkinkan, infuse oksitosin 40 iu dalam 1 L cairan intravena (salin normal atau ringer laktate) dengankecepatan 40 tetes per menit guna
membantu terjadinya ekspulsi spontan hasil konsepsi.

Setelah itu, melakukan pemantauan ketat terhadap kondisi ibu pasca tindakan.

c. Abortus inkomplit

Bila perdarahan ringan dan kehamilan < 16 minggu, dapat dilakukan pengeluaran hasil konsepsi yang terjepit pada serviks dengan jari atau ring
(sponge) forcep.

Bila perdarahan sedang-berat dankehamilan < 16minggu, dilakukan evakuasi hasil konsepsi uterus dengan :

Aspirasi vakum manual merupakan metode yang lebih dianjurkan.

Indikasi aspirasi vakum manual pada kasus abortus: abortus insipiens danabortus inkomplit < 16 minggu. Menurut dari bebrapa hasil
penelitian, aspirasi vakum menunjukkan resiko komplikasi (perdarahan hebat, infeksi, trauma serviks dan perforasi) yanglebh rendah
dibandingkan kuret tajam. Disamping itu, prosedur ini tidak memerlukan anatesi umum dan memiliki efektifitas yang cukup baik (presentase
evakuasi komplit rata-rata >98%).

Metode kuretase tajam (dilatasi dan kuretase) hanya dilakukan bila aspirasi vakum manual tidak tersedia.
Bila evakuasi tidak memungkinkan untuk segera dilakukan, berikan ergometrin 0,2 mg IM (dapat diulang setelah 15 menit bila diperlukan)
atau miso prostol 400 ug oral (dapat diulang setelah4 jam bila diperlukan).

Bila kehamilan > 16 minggu :

Infus oksitosin 40 iu dalam 1 L cairan intravena (normal salin atau ringer lactate) denga kecepatan 40 tetes per menit sampai ekspusi hasil
konsepsi terjadi.

Bila perlu, dapat diberikan misoprostol 200 ug per vaginam tiap 4 jam hingga terjadi ekspulsi, dosis total tidak lebih dari 800 ug.

Mengevaluasi sisa hasil konsepsi yag tersisa dari uterus.

Prosedur surgical terapi definitif abortus inkomplit

Kuretase digital

Kuretase tajam (dilatasi dan kuretase)

Aspirasi vakum manual (Manual Vakum Aspiration atau AVM)

Setelah itu, melakukan pemantauan ketat kondisi ibu pasca tindakan

d. Abortus komplit

Evakuasi hasil konsepsi dari uterus umumnya tidak diperluakan. Lakukan pemantauan pada perdarahan yang berat.

e. Missed abortion

Bila kadar fibrinogen normal, segera keluarkan jaringan konsepsi dengancunam cavum lalu dengan kuret tajam

Bila kadar fibrinogen rendah, berikan fibrinogen kering atau sesaat sebelum atau ketika mengeluarkan konsepsi
Pada kehamilan < 12 minggu, lakukan pembukaan serviks dengan laminaria selama 12 jam lalu lakukan dilatasi serviks dengan dilatator hegar.
Kemudian hasil konsepsi diambil dengan cunam ovum lalu dengan kuret tajam.

Pada kehamilan > 12 minggu, berikan dietilbesterol 3x5 mg lalu infuse oksitosin 10 IU dalam dekstrose 5% sebanyak 500 ml mulai 20 tpm dan
naikkan dosis sampai ada kontraksi uterus. Oksitosin dapat diberikan sampai 100 IU dalam 8 jam. Bila tidak berhasil ulang infuse oksitosin setelah
pasien istirahat 1 hari.

Bila TFU sampai 2 jari bawah pusat, keluarkan hasil konsepsi dengan menyuntik larutan garam 20 % dalam kavum uteri melalui dinding p

4. Plan
Diagnosis : Abortus Inkomplit
Pengobatan :
Ivfd RL 30 gtt/i
Konsul obgyn

5. Edukasi :
Pasien disarankan untuk menunda kehhamilan selama kurang lebih 3 6 bulan, ini diperlukan untuk menyiapkan uterus kembali kedalam normal
untukmencegah terjadi abortus berikutnya.
Perbaiki nutrisi ibu dengan asupan makanan yang cukup dengan kandungan gizi yang seimbang.
Evaluasi penyebab, diperlukan untuk mengetahui penyebab terjadinya abortus pada pasien. Bila karena infeksi dapat tingani secara dini untuk emencegah
tejadinya abortus berikutnya.
Edukasi agar pasien lebih bisa menjaga diri dari dari lingkungan dan seks bebas.
Konseling psiokologis pasca abortus bila diperlukan.
HALAMAN PENGESAHAN

Diajukan Oleh:

dr. Evi Nopita

Telah dipresentasikan dan disetujui presentasi portofolio:

Abortus Inkomplit

Hari/Tanggal :
Tempat:

Disahkan Oleh:
Pembimbing,

dr. Lidya Komedien


BERITA ACARA PRESENTASI PORTOFOLIO

Pada hari ini tanggal ______________________ telah dipresentasikan portofolio oleh:

Nama Peserta : dr. Evi Nopita


Dengan Judul/Topik : Abortus Inkomplit
Nama Pendamping : dr. Lidya Komedien
Nama Wahana : Rsud noongan

No Nama Peserta Presentasi No Nama Peserta Presentasi


1 1
2 2
3 3
4 4
5 5
Berita acara ini ditulis sesuai dengan yang sesungguhnya.

Pendamping

dr. Lidya Komedien