Anda di halaman 1dari 51

MAKALAH

Demam Berdarah Dengue

Diajukan untuk memenuhi tugas besar mata kuliah Kesehatan Lingkungan pada
Program Studi Teknik Lingkungan Universitas Lambung Mangkurat

Oleh :

Dian Khatimah M. Renno Arief Nurul Huda


Damayanti Djominardjo

NIM : 1610815220006 NIM : 1610815210013 NIM : 1610815220023

Pembimbing I Pembimbing II

Prof. Dr. Qomariyatus Sholihah, Muhammad Firmansyah, ST.,


Amd,hyp., ST, M.Kes. MT

PROGRAM STUDI S-1 TEKNIK LINGKUNGAN

FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS LAMBUNG MANGKURAT
BANJARBARU

2017
MAKALAH
Demam Berdarah Dengue

Oleh :
Kelompok 1

Dosen Pengampu: 1. Prof. Dr. Qomariyatus Sholihah, Amd,hyp., ST, M.Kes.


2. Muhammad Firmansyah, ST., MT

PROGRAM STUDI S-1 TEKNIK LINGKUNGAN

FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS LAMBUNG MANGKURAT
BANJARBARU

2017
KATA PENGANTAR

Assalamualaikum Wr. Wb
Puji dan syukur penulis Panjatkan Kehadirat Allah SWT. Yang telah
melimpahkan rahmat dan hidayah-Nya kepada kita semua, sehingga [enulis apat
menyelesaikan makalah ini dengan baik.
Dalam penyusunan makalah yang berjudul Demam Berdarah Dengue ini, penulis
memperoleh dukungan dan bantuan dari bebragai pihak. Oleh karena itu, pada
kesempatan ini penulis mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada:
1. Kedua orang tua dan keluarga yang selalu mendoakan dan memberikan
dukungan baik moril maupun materiil.
2. Ibu Prof. Dr. Qomariyatus Sholihah, Amd,hyp., ST, M.Kes. selaku pembimbing I
3. Bapak Muhammad Firmansyah, ST., MT. selaku pembimbing II
Penulis menyadari bahwa makalah ini masih jauh dari kesempurnaan, untuk
itu kritik dan saran yang membangun akan penulis terima dengan senang hati agar
makalah ini nantinya dapat bermanfaat bagi penulis sendiri dan bagi para pembaca
yang membacanya.
Wassalamualaikum Wr. Wb.

Banjarbaru, April 2017

Penulis
TERIMA KASIH KEPADA:

Prof. Dr. H. Sutarto Hadi, M.Si, M.Sc


19660331 199102 1 001
Rektor Universitas Lambung Mangkurat
Dr. Ing Yulian Firmana Arifin, S.T., M,T
19750719 200003 1 001
Dekan Fakultas Teknik Universitas Lambung Mangkurat
Rony Riduan, S.T., M.T
19761017 199903 1 003
Ketua Program Studi Fakultas Teknik universitas Lambung Mangkurat
Prof. Dr. Qomariyatus Sholihah, Amd,hyp., ST, M.Kes.
19780420 200501 2 002
Dosen Pengajar Kesehatan Lingkungan di Universitas Lambung Mangkurat
Muhammad Firmansyah,S.T.,M.T
19890911 201504 1 002
Dosen Pengajar Kesehatan Lingkungan di Universitas Lambung Mangkurat
Dian Khatimah Damayanti
1610815220006
Banjarbaru, 01 Oktober 1998
Jalan Sukarelawan Gg. Nangka No. 14, Loktabat Utara, Banjarbaru Utara,
Kalimantan Selatan
dkdamayanti@gmail.com
There will always be a better tomorrow because giving up is not an option.
Muhammad Renno Arief Djominardjo
1610815210013
Banjarbaru, 13 Januari 1996
Komplek Wira Pratama 2, Banjarbaru
ariefrenno@gmail.com
Smile is simple way of enjoying life
Nurul Huda
1610815220023
Belanti, 21 Oktober 1997
Jalan Sukarelawan Gg. Al-Iman, Loktabat Utara, Banjarbaru Utara, Kalimantan
Selatan
nurulhudarachman@gmail.com
There is no limit of struggling
PERNYATAAN

Kami menyatakan dengan sesungguhnya bahwa makalah dengan tema/judul:

Demam Berdarah Dengue

yang dibuat untuk melaksanakan Tugas Kesehatan Lingkungan, sejauh yang kami
ketahui isi dari makalah yang bertema seperti disebutkan diatas adalah hasil karya
kami sendiri dan bukan merupakan hasil plagiat/menjiplak karya makalah orang lain.

Demikian surat pernyataan ini dibuat dengan sebenarnya.

Banjarbaru, April 2017

Yang membuat pernyataan Yang membuat


Yang
pernyataan
membuat pernyataan

Dian Khatimah Damayanti Nurul Huda


M.Renno Arief Djominardjo
NIM : 1610815220006 NIM : 1610815220023
NIM : 1610815220013

HALAMAN PENGESAHAN
MAKALAH
VEKTOR PENYAKIT
Oleh
Dian Khatimah Damayanti
NIM:
Muhammad Renno Arief Djominardjo
NIM:
Nurul Huda
NIM: 1610815220023

Dosen Pengampu I

Prof. Dr. Qomariyatus Sholihah, Amd.hyp.S,T.,M.Kes


NIP. 19780420 200501 2 002

Dosen Pengampu II

Muhammad Firmansyah,S.T.,M.T
NIP.19890911 201504 1 002 Banjarbaru, April 2017

Ketua Program Studi Dekan Fakultas Teknik


Teknik Lingkungan Universitas Lambung Mangkurat

Dr.Rony Riduan, S.T.,M.T Dr.Ing Yulian Firmana Arifin, S.T., M.T


NIP.19761017 199903 1 003 NIP.19750719 200003 1 001

DAFTAR ISI

Pernyataani
Abstrak.ii
Abstract / Summary...iii
Prakataiv
Daftar Isi...v
Daftar Tabel..viii
Daftar Rumus..ix
Daftar Gambar.x
Daftar Bagan Alir...xi
Daftar Grafik.xii
Daftar Diagramxiiv
Daftar Istilah..xv
I. PENDAHULUAN
I.1. Latar Belakang............1
I.2. Perumusan Masalah.......3
I.3. Tujuan Penelitian.................3
I.4. Manfaat Penelitian...4
I.5. Batasan Masalah.4
II. TINJAUAN PUSTAKA
2.1. Demam Berdarah Dengue...5
2.2. Umum7
2.3. Pertumbuhan Demam Berdarah Dengue17
III. METODE PENELITIAN
3.1. Kondisi Daerah Studi.19
3.1.1. Sejarah dan Perkembangan Demam Berdarah Dengue19
3.1.2. Upaya penganggulangan Demam Berdarah Dengue..20
IV. HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1. Pembahasan22
4.1.1. Epidemiologi DBD.22
4.1.2. Patogenesis DBD22
4.1.3. Faktor resiko penularan Demam Berdarah Dengue..23
4.1.4. Vektor Demam Berdarah Dengue25
V. KESIMPULAN DAN SARAN
5.1. Kesimpulan.27
5.2. Saran...27
I. PENDAHULUAN
BAB I

PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang

Negara Indonesia yang beriklim tropis sangatlah cocok untuk tempat


berkembangnya hewan dan tumbuhan, hal ini berpengaruh pula terhadap
perkembangbiakan penyakit terutama yang disebabkan oleh vektor.
Maraknya penyakit-penyakit yang terdapat di Indonesia ataupun pada
Negara lain tidak lain disebabkan oleh vektor penyakit. Vektor penyakit sendiri
merupakan serangga yang membawa penyakit atau dapat dikatakan serangga
yang dapat menularkan suatu penyakit. Mengapa serangga dapat menularkan
penyakit? Hal ini dikarenakan interaksi manusia dengan lingkungan yang tidak
memenuhi standar higienis. Suatu vektor penyakit juga dapat mengontaminasi
makanan yang dikonsumsi oleh manusia.
Demam berdarah Dengue adalah jenis penyakit demam akut yang
terdapat di daerah tropis dan disebabkan oleh virus dengue yang
penyebarannya melalui gigitan nyamuk Aedes Aegypti dan Aedes Albopictus
serta penyebaran geografisnya mirip dengan penyakit malaria. Sekitar 2,5
milyar penduduk memiliki resiko terinfeksi dengan virus dengue ini. Terdapat
lebih dari 100 negara beriklim tropis dan iklim subtropis penduduknya pernah
mengalami virus dengue. Sekitar 50.000 kasus setiap tahun dirawat serta ada
ribuan orang yang meninggal dunia. Nyamuk aedes aegypti ini dapat hidup
didalam rumah, di kloset, I tempat-tempat yang gelap serta di luar rumah.
Pertama kalinya di tahun 1968 di Surabaya, penyakit DBD ditemukan
dengan jumlah 58 kasus terjadi pada anak dan diantaranya terdapat 24 orang
anak yang meninggal dunia. Penyakit DBD cenderung menunjukkan
peningkatan jumlah kasus dan luas daerah yang terjangkit. Seluruh wilayah
yang terdapat di Indonesia memiliki resiko untuk terjangkitnya penyakit DBD,
kecuali daerah yang berada pada ketinggian lebih dari 1.000 meter dpl. Telah
tercatat jumlah kasus penyakit DBD yang terdapat di daerah Indonesia pada
tahun 2008 telah mencapai 137.469 kasus dengan jumlah kematian sebanyak
1.187 orang. Tahun 2009 kasus DBD mengalami peningkatan dan mencapai
158.912 kasus dengan jumlah kematian sebanyak 1.420 orang. Di tahun 2010,
kasus DBD mengalami penurunan menjadi 16.806 kasus dengan jumlah
kematian 1.358 orang.
Demam berdarah Dengue adalah demam Dengue yang disertai
pembesaran hati dan manifestasi pendarahan. Pada tingkat yang parah akan
menyebabkan kegagalan sirkulasi darah dan pasien mengalami syok
hipovolemik yang diakibatkan oleh kebocoran plasma. Penularan penyakit DBD
dari satu penderita ke penderita lainnya disebarkan oleh nyamuk Aedes
Aegypti. Oleh karena itu, salah satu langkah untuk memberantas nyamuk
Aedes Aegypti adalah dengan cara fogging sehingga siklus penyebarannya
dapat diberantas.
Beberapa upaya yang dilakukan untuk mengendalikan vektor penyakit
demam berdarah Degue telah dilaksanakan, diantara lain promosi kesehatan
mengenai cara pemberantasan sarang nyamuk, pencegahan dan
penanggulangan faktor resiko yang berupa kerja sama lintas program dan
lintas sektor terkait sampai dengan tingkat desa/kelurahan untuk
pemberantasan sarang nyamuk. Terdapat masalah utama dalam upaya
menekan angka penularan DBD yaitu belum optimalnya upaya pergerakan
peran serta masyarakat dalam pemberantasan secara berkala dan
berkesinambungan serta mengajak masyarakat untuk pemberantasan sarang
nyamuk.

1.2. Perumusan Masalah

Dari beberapa permasalahan yang terdapat pada latar belakang yang telah
dipaparkan, maka didapatkan rumusan masalahnya sebagai berikut:
1. Apakah penyakit demam berdarah Dengue itu?
2. Bagaimana cara penularan penyakit demam berdarah dan siklus hidup
vektor penularan penyakit DBD?
3. Seperti apa patogenesis DBD terhadap manusia?
4. Bagaimana cara pencegahan penyakit DBD?
5. Bagaimana cara memberantas penyakit agar tidak mewabah?
6. Apa saja cara pengobatan penyakit demam berdarah?

1.3. Tujuan Penelitian

Berdasarkan rumusan masalah, maka tujuan penelitian ini adalah:


1. Memberi pengetahuan mengenai penyakit demam berdarah Dengue dan
penyebabnya.
2. Memberi pengetahuan tentang cara penularan dan vektor penyakit demam
berdarah.
3. Memberi pengetahuan tentang patogenesis DBD.
4. Memberikan informasi tentang cara pemberantasan penyakit demam
berdarah.
5. Memberikan pengetahuan tentang cara pengobatan penyakit demam
berdarah.
6. Mengetahui gejala dan berbagai pencegahan untuk penyakit demam
berdarah tersebut.

1.4. Manfaat Penelitian

Dengan melakukan penelitian ini, diharapkan manfaat yang didapatkan yaitu:


1. Mengetahi gejala penyakit Demam Berdarah Dengue (DBD).
2. Mengetahui cara pengobatan yang praktis dan mudah didapat.
3. Mengetahui cara mencegah penyakit Demam Berdarah Dengue (DBD).
1.5. Batasan Masalah

Batasan masalah diperlukan agar tidak terjadi penyimpangan pembahasan,


pembatasan masalah pada makalah ini sebagai berikut:
1. Penyampaian informasi dan pengetahuan mengenai penakit DBD yang
masih perlu dilakukan terus menerus sebagai salah satu cara mencegah
penyebaran penyakit DBD di masyarakat.
2. Masyarakat sebagai salah satu pihak yang berperan penting dalam upaya
pemberantasan penyakit DBD masih perlu ikut andil dalam membantu
upaya pemerintah meningkatkan pengetahuan tentang DBD.
II. TINJAUAN PUSTAKA
BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Demam Berdarah Dengue

Penyakit demam berdarah Dengue atau yang biasa kita kenal dengan
singkatan DBD merupakan penyakit yang infeksinya disebabkan oleh virus
dengue melalui gigitan nyamuk Aedes Aegypti atau nyamuk Aedes Albopictus,
penyakit demam berdarah dengue ini banyak sekali ditemukan di sebagian
wilayah yang memiliki iklim tropis dan subtropis seperti di Asia Tenggara,
Amerika Tengah, Amerika dan Karibia (Kurene, 2007).
Demam Dengue (DD) dan demam berdarah Dengue ditandai dengan
demam tinggi secara terus menerus selama 2 sampai 7 hari, kemudia demam
akan turun menuju suhu normal atau lebih rendah (Suhendro, 2006). Pada
tahun 1968, DBD merupakan penyakit yang timbul sebagai wabah untuk
pertama kalinya di Surabaya (Chahaya, 2003). Demam berdarah dengue telah
menyebar luas keseluruh wilayah provinsi dan angka persebarannya semakin
meningkat untuk wilayah kabupaten/kota. Penyakit demam berdarah dengue
menyebabkan angka kesakitan dan kematian yang relatif tinggi (Ishartadiati,
2010). Kasus Luar Biasa (KLB) demam berdarah terjadi di jakarta pada tahun
1998 dengan angka penderita 15.452 orang dan angka kematian sebanyak 134
orang penderita (Sinar Harapan, 2003). Angka kasus penyakit DBD secara
nasional sangat tidak pasti dengan siklus puncak 4 sampai 5 tahun. Incidence
rate meningkat dari 10,17 per 100.000 penduduk pada tahun 1999 menjadi
15,99 per 100.000 penduduk pada tahun 2000 dan meningkat lagi menjadi
21,75 per 100.000 penduduk pada tahun 2001, kemudian menurun menjadi
19,24 per 100.000 penduduk pada tahun 2002. Penyakit DBD menempati
urutan ketiga yang menjadi penyakit terbanyak ditemukan pada penderita
yang rawat inap di Rumah Sakit Umum pada tahun 2002 (Ishartadianti, 2010)
Virus Dengue ini masuk ke dalam Arbovirus (Arthropod borne virus) grup
B, terdiri atas empat tipe yaitu virus Dengue 1, 2, 3 dan 4. Keempat tipe virus
tersebut secara serologis dapat dibedakan satu sama lain dan dapat
ditemukan di Indonesia. Virus Dengue masuk dalam genus Flavivirus dengan
diameter 40 nanometer dan dapat berkembang biak dengan baik pada kultur
jaringan yang berasal dari sel-sel mamalia misalnya BHK (Baby Hamster
Kidney) maupun sel-sel arthropoda misalnya sel Aedes albopictus (Chandra,
2007).
Salah satu vektor penular virus Dengue yang menularkan virus dari
penderita kepada orang lain melalui gigitannya adalah nyamuk Aedes aegypti
maupun Aedes albopictus. Nyamuk Aedes aegypti sering dijumpai di daerah
perkotaan (daerah urban) sedangkan di daerah pedesaan (daerah rural) kedua
spesies nyamuk Aedes tersebut berperan dalam penularan. Nyamuk Aedes
aeygypti berkembang biak pada genangan air bersih yang terdapat pada
bejana-bejana di dalam rumah maupun di luar rumah, di lubang-lubang pohon,
di dalam potongan bambu, di lipatan daun dan genangan air bersih lainnya
(Djakaria, 2000).
Penyakit demam berdarah Dengue (DBD) yang dibawa oleh Aedes
aegypti ini telah dikenal di Indonesia sebagai penyakit yang endemis dan
sering diderita anak-anak. Di Indonesia, kasus ini termasuk terbesar di dunia
setelah Thailand (Sinar Harapan, 2003).
Nyamuk Aedes Aegypti memiliki ciri-ciri yang dapat diamati yaitu warna
dasarnya hitam serta terdapat bintik-bintik putih sedangkan larvanya memiliki
pelana yang terbuka juga memiliki gigi sisir yang berduri lateral (Djakaria,
2000).
Penderita demam berdarah Dengue mengalami kerusakan pada sistem
vaskuler yang mengakibatkan peningkatan permeabilitas dinding pembuluh
darah terhadap protein plasma. Komplemen c3a dan c5a anafiatoksin juga
diduga sebagai penyebab kerusakan dinding kapiler yang dapat menimbulkan
peningkatan permeabilitas pembuluh darah. Penelitian menunjukkan bahwa
kadar dalam darah dari komplemen Clq, C4, C5-8 dan C3 proaktivator
mengalami penurunan sedangkan tingkat katabolik dari komplemen C3 terjadi
peningkatan (Kurene, 2007).
Kurangnya fibrinogen atau yang dikenal dengan nama hipofibrigenemia
juga berpengaruh terhadap derajat beratnya penyakit DBD. Renjatan ini
disebabkan karena terjadinya penipisan volume cairan ekstraseluler atau
hypovolemia yang diakibatkan oleh hilangnya plasma melalui endotel yang
dapat mencapai lebih dari 20%. Renjatan ini berakibatkan timbulnya anoksia
jaringan, asidosis metabolik dan yang lebih parahnya adalah kematian dari
penderita DBD (Suhendro, 2006).

2.2. Umum

Vektor penyakit memiliki pengertian sebagai serangga yang dapat


menyebabkan suatu penyakit atau arthopoda yang dapat menularkan atau
memindahkan agen penyakit dari sumber infeksi kepada host yang rentan
terhadap penularannya sedangkan menurut Peraturan Pemerintah No. 374
Tahun 2010 menyatakan bahwa vektor merupakan arthropoda yang dapat
menularkan, memindahkan atau menjadi sumber penularan penyakit pada
manusia (Slamet, 1994).
Vektor penyakit dapat dikelompokkan menjadi beberapa jenis
diantaranya adalah arthropoda, crustacea (berkaki 10, contohnya udang),
myriapoda (contohnya kaki seribu), arachinodea (berkaki 8, contohnya
tungau), dan hexapoda (berkaki 6, contohnya nyamuk) (Chandra, 2007).
Filum Arthropoda dibagi menjadi beberapa kelas seperti kelas Insekta
yang terdiri atas nyamuk, lalat dan pinjal. Kelas Arachnida yang terdiri dari
sengkenit dan tungau. Adapula kelas Crustacea seperti cyclop (Slamet, 1994).
Terdapat empat faktor yang mempengaruhi terjadinya suatu penyakit,
yaitu:
1. Cuaca
Faktor utama yang mempengaruhi terjadinya penyakit infeksi yaitu
iklim dan musim. Agen penyakit tertentu membutuhkan reservoir dan
vektor untuk hidup hal tersebut tergantung pada kondisi geografis suatu
tempat. Iklim dan musim sangatlah mempengaruhi kehidupan dari agen
penyakit, reservoir dan vektor. Selain itu, perilaku manusia dapat
menyebabkan kerentanan terhadap suatu penyakit infeksi.
Hewan-hewan yang menyebabkan suatu penyakit atau hewan
yang mengandung kuman patogen dimana hewan tersebut tidak ikut
tertular oleh kuman patogen disebut reservoir. Arthropoda borne
disease merupakan reservoir, karena hewan-hewan yang mengandung
kuman patogen dapat hidup bersama. Di beberapa kasus, kuman
patogen dapat mengalami multifikasi didalam vektor atau reservoir
tanpa merusak intermediate host.
2. Geografis
Geografis sangat berpengaruh terhadap suatu penularan penyakit,
penyakit yang ditularkan oleh arthropoda berhubungan langsung dengan
kondisi geografis suatu daerah dimana reservoir dan vektor berada.
Agen penyakit hidup bergantung pada iklim dan hewan lokal pada
daerah tertentu. seperti Rocky Mountains spotted fever adalah penyakit
bakteri yang penyebarannya secara geografis. Penyakit ini ditularkan
oleh gigtan tungau yang sudah terinfeksi oleh rickettsia (Chandra, 2007)
3. Perilaku Manusia
Penularan penyakit arthropode borne disease disebabkan oleh
interaksi antar manusia, kebiasaan manusia membuang sampah
sembarangan, kebersihan setiap individu dan lingkungan. Sedangkan
menurut Djojosumarto, ada beberapa faktor yang menyebabkan
terjadinya suatu penyakit yaitu lingkungan yang ada di sekitar manusia,
adat istiadat, kebiasaan, benda mati dan makhluk hidup. Akan tetapi,
pada saat itu terbatasnya ilmu pengetahuan yang dimiliki oleh manusia.
Setiap kejadian luar biasa dalam kehidupan selalu diasosiasikan dengan
hal yang memiliki sifat mistik (Djojosumarto, 2008).
Seperti wabah penyakit sampar yang berjangkit disuatu tempat
dianggap masyarakan sebagai kutukan dan kemarahan oleh dewa. Hal
tersebut dapat di jadikan sebagai contoh bahwa hal luar biasa dalam
kehidupan selalu diasosiasikan oleh manusia memiliki sifat mistik. Pada
tahun 1832, John Show melakukan penelitian epidemologi terhadap
wabah kolera yang menyerang Inggris tepatnya di Boad Street dan
banyak menimbulkan korban jiwa. Penelitian tersebut membuktikan
bahwa penyakit kolera yang sedang mewabah di Inggris pada saat itu
disebabkan oleh pencemaran Vibrio cholera yang terdapat pada sumber
air bersih yang dikonsumsi oleh masyarakat. Sejak saat, konsep
pemikiran tentang faktor lingkungan hidup memiliki pengaruh baik
secara langsung maupun tidak langsung. Sehingga, masalah kesehatan
terus- menerus dipelajari sehingga berkembang menjadi sebuah disiplin
ilmu kesehatan lingkungan (Djojosumarto, 2008).
Di dalam buku yang berbeda, ada beberapa faktor majemuk yang
dapat menyebabkan suatu penyakit dan faktor itu saling berkaitan serta
dapat membentuk jaringan sebab-akibat yang cukup rumit (Rajab, 2009).
Dilihat dari gambar diatas dapat ditarik sebuah simpulan bahwa
suatu penyakit tidak bergantung pada suatu sebab melainkan akibat dari
sebuah proses yang dinamakan proses sebab-akibat. Sehingga,
tumbuhnya penyakit dapat dicegah dengan memotong rantai serangga
penyebab penyakt. Model seperti itu sangatla cocok untuk mencari
pnyakit yang disebabkan oleh perilaku dan gaya hidup manusia
(Djakaria, 2000).
Masa inkubasi merupaka proses masuknya agen penyakit ke dalam
tubuh manusia sehingga menyebabkan timbulnya gejala penyakit. Ada
dua periode masa inkubasi khusus untuk arthropode borne disease,
yaitu:
a. Periode Inkubasi Ekstrinsik dan Intrinsik
Parasit yang terapat dalam tubuh nyamuk Anopheles
mempunyai masa inkubasi ekstrinsik antara 10 sampai 14 hari
tergantung pada suhu yang terdapat di suatu lingkungan dan masa
inkubasi intrinsik yang terjadi di dalam tubuh manusia terjadi selama
12 sampai 30 hari tergantung pada jenis plasmodium malaria.
Sehingga, waktu sangatlah diperlukan untuk perkebangbiakan suatu
agen penyakit dalam tubuh vektor atau mansia (Suhedro, 2006).
b. Pejamu Definitif dan Pejamu Intermediate
Pejamu definitif atau intermediate sangatlah tergantung pada
perkembangan siklus seksual ataupun siklus aseksual pada tubuh
vektor. Jika siklus seksual ataupun siklus aseksual terjadi maka disebut
dengan pejamu definitif. Sebagai contoh yang dapat diambil, parasit
pada malaria mengalami siklus seksual dalam tubuh nyamuk sehingga
nyamuk Anopheles merupakan pejamu definitif dan manusia
merupakan pejamu intermediate (Suhendro, 2006).
Secara umum, transmisi artrhopode borne disease pada manusia dapat dibagi
menjadi tiga cara yaitu melalui:
a. Transmisi secara langsung
Transmisi secara langsung jika Arthropoda secara langsung
memindahkan penyakit atau investasi dari satu orang ke orang lain
melalui kontak langsung. Contoh: scabies, pedikulus.
b. Transmisi secara mekanik
Penularan penyakit diare, tifoid, keracunan makanan dan trakoma
yang di tularkan oleh lalat merupakan agen penyakit yang ditularkan
secara mekanik oleh arthropoda. Klas arthropoda merupakan vektor
mekanik yang membawa agen dari manusia melalui tinja, darah, ulkus
superficial, atau eksudat. Kontaminasi tidak hanya dari permukaan tubuh
arthropoda akan tetapi bisa dari sesuatu yang telah dicerna dan
kemudian dikeluarkan oleh manusia.
Bakteri enterik merupakan agen penyakit yang paling banyak
ditularkan melalui arthropoda yang ditularkan melalui lalat rumah.
Salmonella typhosa, spesies salmonella yang lain, E. coli, dan Shigella
dysentriae merupakan bakeri yang sering ditemui. Agen penyakit
tuberkulosis , antraks, tularemia, dan bruselosis merupakan agen
penyakit yang ditularkan oleh lalat rumah.
c. Transmisi secara biologi
Transmisi secara biologi merupakan agen penyakit yang telah
mengalami perubahan dan perkembangan tanpa adanya multiplikasi di
dalam tubuh arthropoda. Sehingga, ada tiga cara transmisi yaitu
(Soemirat, 1994):
1. Propagatif
Propagatif terjadi apabila agen penyakit tidak mengalami
perubahan siklus, akan tetapi bermultipikasi di dalam tubuh
vektor. Contoh: plague bacilli pada kutu tikus.

2. Cyclo-propagatif
Cyclo-propagatif terjadi apabila agen penyakit mengalami
perubahan siklus dan multiplikasi di dalam tubuh arthropoda.
Contoh: parasit malaria pada nyamuk anopheles.
3. Cyclo-developmental
Cyclo-developmental terjadi apabila agen penyakit
mengalami perubahan siklus, akan tetapi tidak mengalami
multiplikasi dalam tubuh arthropoda. Contoh: parasite filarial pada
nyamuk culex, dan cacing pita pada Cyclops (Soemirat, 1994).

Pengendalian vektor penyakit sangat diperlukan bagi beberapa macam


penyakit karena berbagai alasan seperti:
1. Penyakit tersebut belum ada obat ataupun vaksinnya, seperti hampir
semua penyakit yang disebabkan oleh virus.
2. Bila penyakit tersebut ada obat ataupun vaksinnya, akan tetapi kerja
obat tersebut belum efektif, terutama untuk penyakit parasit.
3. Berbagai penyakit terdapat pada banyak hewan selain manusia, sehingga
sulit untuk dikendalikan.
4. Menimbulkan cacat, seperti filariasis dan malaria.
5. Penyakit cepat menular, karena vektornya dapat bergerak cepat, seperti
insekta yang bersayap (Cahaya, 2003).
Ada beberapa cara pengendalian vektor yaitu sebagai berikut:
1. Pengendalian vektor terpadu
Pengamatan mengenai dasar ekologi vektor di butuhkan strategi
sehingga dapat mengetahui berbagai karakteristik vektor seperti habitat,
usia hidup, probabilitas terjadinya infeksi pada vektor dan manusia,
kepekaan vektor terhadap penyakit. Sehingga atas dasar ini maka dapat
dibuat sebuah strategi pengendalian yang menyeluruh. Bersamaan
dengan itu juga meningkatkan partisipasi masyarakat serta kerjasama
sektoral (Cahaya, 2003).
2. Pengendalian kimiawi
Pengendalian secara kimiawi dilakukan sebagai bentuk
pengendalian vektor, selama 30 sampai 40 tahun manusia telah
menggunakan pestisida sebagai bentuk dari pengendalian kimiawi. Hasil
yang di dapatkan dari penggunaan pestisida juga cukup memadai, akan
tetapi karena pemberantasan tersebut terputus-putus akibat masalah
politis sehingga terjadinya resistensi vektor terhadap insektisida. Selain
itu, insektisida yang digunakan untuk pemberantasan vektor bersifat
persisten (DDT) sehingga menyebabkan pencemaran pada lingkungan.
Oleh karena itu, diperlukan insektisida baru yang tidak merusak
lingkungan dan mudah diuraikan. Banyaknya daerah kumuh,
persawahan, persampahan serta drainase yang semakin banyak
sekarang ini dapat menyebabkan banyaknya vektor penyakit baru
(Cahaya, 2003).
Bahan kimia yang digunakan untuk membunuh serangga di sebut
insektisida sedangkan untuk mengusir atau menolak serangga disebut
repellent. Insektisida dapat dibagi menjadi beberapa golongan besar
yaitu insektisida yang jika disemprotkan ke dinding akan meninggalkan
residu yang efektifitasnya tahan untuk berbulan-bulan, misalnya
misalnya DDT dan Dieldrin sedangkan insektisida yang bekerja sesaat
dan cepat akan mengalami degradasi sehingga lebih aman untuk
digunakan, misalnya Raid, Baygon dan Fumakila (Cahaya, 2003).
3. Pengendalian rekayasa
Pada hakikatnya pengendalian rekayasa ditujukan untuk
mengurangi sarang insekta dengan cara melakukan pengolahan terdap
lingkungan, yaitu melakukan manipulasi dan modifikasi terhadap
lingkungan. Manipulasi merupakan suatu tindakan sementara yang
menyebabkan keadaan tidak menunjang kehidupan vektor sedangkan
modifikasi merupakan suatu tindakan yang ditujukan untuk
memperbaiki kualitas dari lingkungan secara permanen.
Pengendalian secara rekayasa ini bersifat lebih permanen atau
berjangka waktu yang panjang dibandingkan dengan cara kimiawi akan
tetapi, memerlukan modal yang cukup besar sehingga Negara
berkembang dalam hal ini masih belum mampu menerapkan
pengendalian rekayasa tersebut (Cahaya, 2003).
4. Pengendalian biologis
Pengendalian secara biologis dapat dilakukan dengan dua cara, yaitu:
a. Memelihara musuh alaminya
Insekta memiliki musuh alami bisa berupa pemangsanya
ataupun mikroba penyebab penyakit. Oleh karena itu, perlu adanya
penelitian lebih lanjut mengenai pemangsa dan penyebab penyakit
sehingga dapat dilakukan penanganan yang lebih efisien serta efektif
untuk mengurangi populasi dari insekta. Selain itu, perlu juga dicari
cara bagaimana melakukan pengendalian terhadap pertumbuhan
pemangsa dan penyebab penyakit apabila populasi vektor sudah
tekendali jumlahnya.
b. Mengurangi fertilitas insekta
Mengurangi fertilitas insekta merupakan cara yang digunakan
untuk mengatasi vektor. Melakukan radiasi terhadap insekta jantan
sehingga steril dan menyebarkannya diantara insekta betina. Dengan
demikian, telur yang akan dibuahi tidak akan menetas. Akan tetapi,
cara ini dianggap terlalu mahal dan efisiensi nya masih perlu dipelajari
lebih lanjut (Cahaya, 2003).
Sedangkan menurut Djaenudin Natadisastra & Ridad Agoes (2009),
pengendalian vektor dapat dibagi menjadi dua golongan, yaitu pengendalian
alami (natural control) dan pengendalian secara buatan (artificial=applied
control).

1. Pengendalian alami (natural control)


Populasi vektor yang berkurang dapat disebabkan oleh pengaruh
dari faktor-fakto ekologis bukan atas usaha manusia. Sebagai contoh
adanya gunung dan lautan yang dapat mencegah masuknya suatu vektor
penyakit ke suatu daerah. Perubahan iklim dan juga temperature yang
ekstrem dapat menyebabkan pertumbuhan dan perpendekan usia
serangga, selain itu karena adanya musuh alami serangga vektor. Faktor-
faktor tersebut sangatlah mempengaruhi tersedianya makanan serta
tempat perkembangbiakan dan secara ilmiah akan membatasi jumlah
telur yang ditetaskan dan usia serangga dewasa.
2. Pengendalian secara buatan (artificial/applied control)
Pengendaian secara buatan merupakan salah satu teknik
pengendalian yang dilakukan untuk menekan populasi serangga. Cara ini
tidak pasif hanya mengandalkan kondisi lingkungan akan tetapi
dilakukan dengan usaha manusia. Bentuk pengendalian ini dapat
berupa:
a. Pengendalian lingkungan (environmental control).
Pengendalian lingkungan dapat dilakukan dengan dua cara,
yaitu melakukan modifikasi lingkungan ataupu melakukan sebuah
usaha perbaikan melalui manipulasi lingkungan. Modifikasi
lingkungan yaitu merubah sarana fisik tempat dari perindukan
vektor, misalnya:
1) Tanaman air seperti eceng gondok, ganggang dan lumut yang
terdapat di danau dibersihkan dengan tujuan untuk
mencegahnya perkembangbiakan nyamuk Anopheles
sundaicus.
2) Salinitas atau mengatur kadar garam yang ada di air payau
dengan menambahkan dan mengalirkan air sungai sebagai
pencampur sehingga air rawa berkurang. Usaha ini bertujuan
untuk megurangi perkembangbiakannya nyamuk Anopheles
subpictus dan Anopheles sundaicus yang hanya dapat berbiak
pada genangan air asin dengan kadar garam tertentu saja.
3) Tanaman air seperti eceng gondok dan tanaman air lainnya
dicabut agar sinar matahari dapat langsung masuk kedalam
kolam atau air. Hal ini bertujua untuk mencegah agar jentik
Mansonia sp. tidak mendapatkan keteduhan.
4) Membersihkan got atau selokan yang tersumbat agar aliran
air lacar, hal ini ditujukan untuk mecegahnya
perkembangbiakan jentik Culex sp.
b. Sistem irigasi memiliki pengaruh terhadap air yang dialirkan
dengan lancar sehingga tidak ada air yang menggenang dan tidak
menyebabkan perkembangbiakan nyamuk.
a. Untuk menghindari tergenangnya air di dalam botol bekas makanan
atau minuman, maka sampah botol atau kaleng bekas ditimbun.
Sehingga tempat perindukan dari nyamuk terutama jentik Aedes sp.
dapat dikurangi.

2.3. Pertumbuhan Demam Berdarah Dengue


Terdapat masa laten yang berlangsung selama 4 sampai 5 hari yaitu
masa inkubasi setelah nyamuk menggigit penderita dan memasukkan virus
Dengue. Penderita akan merasakan demam, sakit kepala dan malaise malaise
(Soemirat, 1994).
Terjadinya demam secara mendadak yang berlangsung selama 2 sampai
7 hari yang kemudian demam turun hingga suhu normal atau bahkan turun ke
suhu yang lebih rendah. Selama berlangsungnya demam, gejala klinik lainnya
seperti nyeri pada punggung, anorkesia, serta nyeri pada tulang dan
persendian dan sakit kepala (Chandra, 2007).
Pada hari kedua biasanya terjadi perdarahan dan pada umumnya terjadi
pada kulit dapat berupa uji turniket positif setelah terjadi perdarahan pada
vena, patekia dan pupura. Selain itu perdarahan yang dapat dijumpai yaitu
epitaksis dan perdarahan pada gusi, hematemesis dan malena (Slamet, 1994).
Pada hari ketiga biasanya terjadi renjatan syok pada penderita. Tanda-
tanda dimulai dengan gagalnya sirkulasi yaitu kulit dan sekitar mulut. Apabila
syok terjadi pada masa demam maka akan menunjukkan prognosis yang
buruk. Detak nadi menjadi lebih cepat, kecil bahkan tidak teraba serta tekanan
darah menurun hingga dibawah angka 80 mmHg (Kurane, 2007).
Nyeri epigastrium, muntah-muntah, diare ataupun obstpasi serta kejang-
kejang merupakan gejala klinis lainnya. Keluhan nyeri pada perut biasanya
menunjukkan akan terjadinya perdarahan gastrotestinal dan renjatan syok
pada penderita (Soemirat, 1994).
WHO mengklasifikasikan derajat beratnya demam berdarah Dengue dapa
dibagi menjadi empat tingkatan yaitu:
1. Derajat I
Kategori ringan, apabila demam mendadak selama 2 sampai 7 hari dan
disertai gejala klinik lain dan manifestasi perdarahan paling ringan yaitu tes
turniket yang positif.
2. Derajat II
Kategori sedang, apabila gejala lebih berat daripada derajat I, dan disertai
manifestasi perdarahan pada kulit, epistaksis, perdarahan gusi,
hematemesis atau melena. Gangguan sirkulasi darah perifer yang ringan
berupa kulit dingin dan lembab, serta ujung jari dan hidung dingin.
3. Derajat III
Kategor berat, apabila gejala syok mengikuti gejala-gejala yang telah
disebutkan diatas.
4. Derajat IV
Kategori berat sekali, apabila penderita mengalami syok berat, serta
tekanan darah tidak terukur dan nadi tidak teraba (Slamet, 1994).
III. METODE PENELITIAN

BAB III

METODE PENELITIAN

3.1. Kondisi Daerah Studi

3.1.1. Sejarah dan Perkembangan Demam Berdarah Dengue

Penyakit demam berdarah Dengue pertama kali masuk ke Indonesia


yaitu pada tahun 1968 tepatnya di Jakarta dan Surabaya. Sejak saat itu
penyakit DBD terus meningkat hingga sekarang dan seolah-olah tidak dapat
dikendalikan. Meskipun beragam cara telah dilakukan seperti penanganan
penderita, gerakan Pemberantas-an Sarang Nyamuk (PSN), dan fogging
(pengasapan). Banyak pertanyaan yang muncul dari masalah ini, mengapa
demikian, apakah virus telah mengalami mutasi, apakah perilaku hidup
nyamuk telah berubah, apakah sebagai dampak dari pemanasan global dan
atau ada penyebab lainnya (Hadi, 2012).
Penyakit demam berdarah Dengue atau DBD merupakan suatu penyakit
infeksi yang disebakan oleh virus Dengue yang mana virus tersebut ditularkan
melalui gigitan nyamuk Aedes Aegypti dan Aedes Albopictus yang telah
tersebar luas dirumah rumah dan temapt umum di seluruh wilayah
Indoenesia, kecuali wilayah yang memiliki ketinggian lebih dari 1.000 mter dpl
(Akhmadi, 2012).
Kalimantan Selatan merupakan salah satu provinsi yang menjadi
penyebaran penyakit DBD, penyebaran penyakit BD di Kalimantan Selatan
telah terjadi di 13 kabupaten/kota. Tahun 2005 terdapat kasus demam
berdarah Dengue Incidence Rate (IR)= 9,3/100.000 penduduk dan Case Fatality
Rate (CFR) 2,6%. Tahun 2006 kasus demam berdarah Dengue meningkat
dengan angka IR= 12,45/100.000 penduduk dan CFR 1,31%. Pada tahun 2007
angka IR di Kalimantan Selatan sebesar 35,59/100.000 penduduk dengan CFR
1,21%, dan tahun 2008 sebesar sebesar 14,44/100.000 penduduk dengan CFR
1,70% serta untuk periode Januari sampai September di tahun 2009 angka IR
sebesar 11,26/100.000 dengan CFR 1,91%. Kasus DBD tertinggi terjadi di
daerah Kota Banjarmasin, Banjarbaru dan Kabupaten Banjar dengan kasus
terbesar terjadi pada tahun 2009. Jumlah penderita yang tercatat di
Puskesmas Banjarbaru Utara sebanyak 36 orang menderita DBD dan kasus
terendah terjadi di wilayah Puskesmas Lianganggang sebnyak 5 orang
penderita. Dari tahun 2001 sampai dengan tahun 2007 Kota Banjarbaru
tercata sebagai daerah endemis dan hampir setiap tahunnya ada yang
meninggal dunia akibat menderita penyakit DBD (Yustansyah, 2009).
Faktor yang turut mempengaruhi peningkatan kasus demam berdarah
Dengue adalah tingkat pengetahuan masyarakat dan perilaku serta peran
masyarakat terhadap penanggulangan DBD. Survei terhadap penyakit demam
berdarah Dengue telah dilakukan di 9 wilayah perkotaan yang ada di Indonesia
pada tahun 1987 dan didapat kesimpulan bahwa masyarakat masih memiliki
pengetahuan yang kurang mengenai penyakit DBD (Akhmadi, 2012).

3.1.2. Upaya Penanggulangan Demam Berdarah Dengue


Dinas Kesehatan Kota Banjarbaru telah melakukan upaya
penanggulangan penyakit demam berdarah Dengue dengan melakukan
promosi mengenai penyakit DBD, kewaspadaan dini DBD dan pembentukan
kader PSN (Pemberantasan Sarang Nyamuk) demam berdarah Dengue yang
telah dibekali dengan pelatihan kader dan peranannya pun dirasa masih
kurang. Hal tersebut dapat dilihat dari hasil PJB atau Pemantauan Jentik
Berkala dari tahun 2002 hingga tahun 2008 yang mana rata-rata ABJ (Angka
Bebas Jentik) masih dibawah 95% dan angka insiden DBD masih mengalami
naik turun setiap tahunnya (Akhmadi, 2012).
Berbagai upaya telah dilakukan untuk meminimalisir wabah demam
berdarah Dengue di wilayah Kalimantan Selatan seperti fogging,
pendistribusian bubuk temephos serta sosialisasi 3M plus. Daerah endemis di
provinsi Kalimantan Selatan seperti Banjarmasin, Banjarbaru Hulu Sungai
Utara dan Tanah Laut menjadi sasaran fogging. Program fogging ini
melibatkan seluruh anggota masyarakat, pondok pesantren serta ketua RT dan
RW setempat (Akhmadi, 2012).
Upaya penanggulangan penyakit demam berdarah Dengue lebih
ditunjukkan pada upaya untuk memberantas vekor penyakit DBD yaitu
nyamuk Aedes Aegypti dan Aedes Albopictus. Vektor dapat diberantas dengan
atau tanpa penggunakan bahan insektisida yang ditunjukkan baik terhadap
nyamuk dewasa ataupun larva nyamuk sebaiknya menggunakan organofosfat
untuk menghindari pencemaran terhadap lingkungan. Larva nyamuk dapat
dibasmi dengan memberia obat Abate-SG dengan dosis 1 ppm pada tempat-
tempat penyimpanan air, bak-bak air di kamar mandi serta bejana yang berisi
air.
Pemberantasan vektor dapat dilakukan dengan atau tanpa
menggunakan insektisida yang ditujukan baik terhadap nyamuk dewasa
maupun larva nyamuk sebaiknya menggunakan organofosfat untuk
menghidari pencemaran lingkungan. Untuk larva nyamuk dilakukan obatisasi
yaitu pemberian Abate SG (temephos) dengan dosis 1 ppm pada tempat-
tempat penyimpanan air, bak-bak air di kamar mandi dan bejana yang berisi
air lainnya. Pemberantasan nyamuk tanpa menggunakan insektisida
merupakan suatu langkah menjaga lingkungan agar tidak tercemar serta
menciptakan kebersihan lingkungan (Slamet, 1994).
IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

BAB IV

HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1. Pembahasan

4.1.1. Epidemiologi DBD


Demam berdarah Dengue atau DBD merupakan penyakit infeksi
yang disebakan oleh virus Dengue yang dapat mengakibatkan spekrum
manifestasi klinis yang bervariasi, dari yang palin ringan, demam Dengue
(DD), demam berdarah Dengue (DBD), dan demam berdarah Dengue
yang disertai oleh renjatan atau Dengue shock syndrome (DSS) yang
ditularkan oleh nyamuk Aedes Aegypti dan nyamuk Aedes Albopictus
(Kurane, 2007).
Kasus demam berdarah Dengue meningkat 30 kali lipat ke
ekspansigeografis Negara-negara baru dalam 50 tahun terakhir ini.
Sedangkan dalam decade ini, peningkatan kasus DBD terdapat dari kota
ke pedesaan. Penderita penyakit DBD banyak ditemukan di daerah tropis
dan subtropis, terutama dikawasan Asia Tenggara, Amerika Tengah,
Amerika dan Karibia. Virus Dengue tercata telah menjangkiti atau
menyebar lebih dari 10 negara terutama didaerah perkotaan yang padat
penduduk (Kurane, 2007).
Kasus demam berdarah Dengue tidak pernah mengalami
penurunan terkhususnya di daerah tropik dan subtropik bahkan kasus
demam berdarah Dengue cenderung terus mengalami peningkatan dan
banyak menyebabkan kematian pada anak. Penyakit DBD 90%
diantaranya meyerang anak-anak dibawah umur 15 tahun. Setiap
tahunnya, Indonesia selalu terjadi KLB dibeberapa provinsi yang ada.
Pada tahun 1998 dan tahun 2004 terjadi KLB terbesar dengan jumlah
penderita sebanyak 79.480 orang dengan angka kematian sebanyak
kurang lebih 800 orang. Pada tahun-tahun berikutnya jumlah kasus DBD
terus mengalami peningkatan akan tetapi jumlah kematian mulai
menurun. Misal jumlah kasus DBD di tahun 2008 sebanyak 137.469
orang dengan angka kematian mencapai 1.187 orang atau case fatality
rate (CFR) 0,86%, akan tetapi di tahun 2009 telah menurun angka
kematian (Candra, 2010).
Virus Dengue dapat menular melalui gigitan nyamuk Aedes Aegypti
dan Aedes Albopictus yang termasuk dalam subgenus Stegomnya.
Terjadinya penularan transsexual dari nyamuk jantan ke nyamuk betina
melalui perkawinan dan penularan transovarial dari induk nyamuk ke
keturunannya. Virus Dengue juga dapat ditularkan melalui transfuse
darah yang berasal dari penderita asimptomatik. Dari beberapa cara
penularan virus Dengue, penularan melalui gigitan nyamuk Aedes
Aegypti yang paling tinggi menyebabkan penyakit DBD. Karena masa
inkubasi ekstrinsik atau inkubasi yang terjadi di dalam tubuh nyamuk
Aedes Aegypti hanya berlangsung sekitar 8 sampi 10 hari saja sedangkan
masa inkubasi intrinsik atau inkubasi yang terjadi di dalam tubuh
manusia berlangsung sekitar 4 sampai 6 hari dengen diikuti oleh respon
imun (Candra, 2010).

4.1.2. Patogenesis DBD


Nyamuk yang telah terinfeksi virus Dengue, akan tetap terinfeksi
sepanjang hidupnya dan akan terus menularkan virus Dengue kepada
host yang rentan. Setelah virus Dengue masuk ke dalam tubuh manusia,
virus Dengue akan menuju organ sasarannya yaitu sel kuffer hepar,
endotel pembuluh darah, nodus limpaticus, sumsum tulang serta paru-
paru. Sel monosit dan makrofag, menurut penelitian memiliki peran
terhadap infeksi virus Dengue (Koraka, 2001).
Antibody terhadap virus Dengue secara invitro memiliki 4 fungsi
biologis diantaranya netralisasi virus, sitolisis komplemen, antibody
dependent cell-mediated cytotoxity (ADCC) dan ADE. Berdasarkan
perannya, antibody netralisasi dapat mencegah inveksi virus dan
antibody non netralising serotype yang memiliki peran reaktif silang dan
dapat meningkatkan infeksi yang berperan dalam pathogenesis DBD
(Candra, 2010).
Viremia sangat cepat terjadi pada infeksi virus Dengue dan hanya
dalam beberapa hari telah menyebabkan infeksi di beberapa tempat
akan tetapi kerusakan jaringan (tissue destruction) yang ditimbulkan
tidak menyebakan kematian. Kematian yang terjadi lebih disebabkan
oleh gangguan metabolik (Candra, 2010).

4.1.3. Faktor Resiko Penularan Demam Berdarah Dengue


Pertumbuhan penduduk di perkotaan yang relatif cepat
merupakan salah satu faktor resiko penularan penyakit demam berdarah
Dengue, membaiknya sarana dan prasarana transportasi dan terganggu
atau melemahnya pengendalian populasi hingga memungkinkan
terjadinya KLB merupakan faktor dari mobilisasi penduduk. Faktor resiko
lainnya merupakn kemiskinan yang mengakibatkan orang atau
masyarakat tidak memiliki kemampuan untuk membangun rumah yang
sesuai standard an sehat, pesediaan air minum dan pembuangan
sampah yang benar. Akan tetapi penyakit demam berdarah Dengue juga
dapat menginfeksi masyarakat yang lebih makmur. Faktor lain yang
berperan dalam penularan penyakit DBD yaitu pendidikan dan pekerjaan
masyarakat, jarak antara rumah, adanya tempat penampungan air,
adanyanya tanaman hias dan pekarangan rumah (Silva-Nunes, 2008).
Berdasarkan hasil penelitian, jenis kelamin laki-laki, kemiskinan dan
migrasi menjadi faktor resiko penyebab munculnya antibodi IgM Dengue,
sedangkan jenis kelamin laki-laki, riwayat terinfeksi virus Dengue pada periode
sebelumnya merupakan faktor resiko penyebab infeksi sekunder (Silva-Nunes,
2008).

4.1.4. Vektor Demam Berdarah Dengue


Vektor utama dalam penularan penykit demam berdarah Dengue
adalah nyamuk Aedes Aegypti dan Aedes Albopictus. Di Indonesia, kedua
jenis nyamuk ini ditemukan pada ketinggi 1000 sampai dengan 1500
meter dpl. Adapun di India, terjadi kasus penemuan keberadaan nyamuk
Aedes Aegypti dan Aedes Albopictus pada ketinggian 2.121 meter dpl
serta di Kolombia pada ketinggi 2.200 meter dpl (Lestari, 2007).
Dilihat dari bentuk tubuhnya, kedua spesies ini sangatlah mirip
hanya saja dapat dibedakan dari garis putih yang terdapat pada bagian
skutumnya. Kedua nyamuk ini berasal dari Genus Aedes dan Famili
Culicidae. Nyamuk Aedes Aegypti memiliki skutum berwarna hitam
dengan dua strip putih yang tersusun sejajar, pada bagian dorsal diapit
oleh dua garis lengkung yang memiliki warna putih. Sedangkan nyamuk
Aedes Albopictus memiliki skutum yang berwarna hitam dan hanya
memiliki satu garis putih tepal dibagian dorsalnya (Candra, 2010).
Nyamuk Ae. aegypti terbagi menjadi dua subspecies yaitu Ae.
Aegypti queenslandensis dan Ae. aegypti formosus. Ae. Aegypti
queenslandensis subspecies yang ini hidup bebas di Afrika dan Ae.
aegypti formosus merupakan subspecies yang hidup di daerah tropis.
Oleh karena itu, nyamuk Ae. aegypti formosus merupakan subspecies
yang paling berbahaya (Candra, 2010).
V. KESIMPULAN DAN SARAN

BAB V

KESIMPULAN DAN SARAN

5.1. Kesimpulan

Dari pembahasan yang ada pada makalah ini dapat ditarik kesimpulan, yaitu:
1. Demam berdarah Dengue adalah penyakit demam akut yang disebabkan
oleh virus Dengue yang masuk ke peredaran darah manusia yang masuk
melalui gigitan nyamuk Aedes aegypti dan nyamuk Aedes albopictus.
2. Demam Dengue (DD) dan DBD ditandai dengan demam tinggi terus menerus
selama 2-7 hari kemudian turun menuju suhu normal atau lebih rendah.
3. Pengendalian vektor penyakit dapat dilakukan dengan beberapa cara, yaitu
pengendalian vektor terpadu, pengendalian kimiawi, pengendalian
rekayasa, dan pengendalian biologis.

5.2. Saran

Jaga kebersihan lingkungan sekitar agar kita dapat terhindar dari virus
Demam Berdarah Dengue, kita juga dapat mencegah perkembangbiakan
nyamuk Aedes aegypti dengan cara menutup bak mandi ataupun bejana-bejana
dan benda-benda lain di dalam dan luar rumah yang biasanya menjadi tempat
nyamuk itu bertelur, dan menguras tempat air yang terbuka secara rutin agar
tidak ada jentik-jentik yang berkembang.

DAFTAR PUSTAKA

Akhmadi, dkk. 2012. Hubungan pengetahuan, sikap, dan perilaku masyarakat


terhadap demam berdarah Dengue di Kota Banjarbaru, Kalimantan Selatan.
Jurnal Epidemiologi dan Penyakit Bersumber Binatang. Vol:4, No(1). Hal 7-13.

Cahaya, I. 2003. Pemberantasan Vektor Demam Berdarah di Indonesia. USU digital


library.
Chandra, B. 2007. Pengantar Kesehatan Lingkungan. ECG, Jakarta.

Candra Aryu. 2010. Epidemiologi, Patogenesis, dan Faktor Risiko Penularan. Jurnal
Demam Berdarah Dengue. Vol(2), No(2):110-119.

Djakaria. 2000. Vektor Penyakit Virus, Riketsia, Spiroketa dan Bakteri. Dalam: Srisasi,
G. Herry, D, I. Wita, P. Parasitologi Kedokteran. Edisi Ketiga. Balai Penerbit
FKUI, Jakarta. 235-237

Hadi, Upik Kesumawati. Dkk. 2012. Aktivitas nokturnal vektor demam berdarah
Dengue di beberapa daerah di Indonesia. Junal Entomologi Indonesia. Vol (9),
No 1:1-6.

Koraka P, Suharti C, Setiati CE, Mairuhu AT, Van Gorp E, Hack CE, et al. 2001. Kinetics
of Dengue Virus-specific Immunoglobulin Classes and Subclasses Correlate
with Clinical Outcome of Infection. J Clin Microbio.Vol. 39 4332-8.

Kurane, I. 2007. Dengue Hemorrhagic Fever with Special Emphasis on


Immunopathogenesis. Comparative Immunologi, Microbiologi and Infectious
Disease. Vol.30: 329-40

Lestari K. 2007. Epidemiologi Dan Pencegahan Demam Berdarah Dengue (DBD) Di


Indonesia. Farmaka. Vol. 5 No. 3: hal . 12-29.

Silva-Nunes MD, Souza V, Pannuti CS, Sperana MA, Terzian ACB, Nogueira ML. Risk.
2008. Factors for Dengue Virus Infection in Rural Amazonia: Population-based
Cross-sectional Surveys. Am J Trop Med Hyg. Vol 79 (4): p. 48594.

Slamet, J. S, 1994. Kesehatan Lingkungan. Yogyakarta, Gajah Mada University Press.

Soemirat, J. 1994. Kesehatan Lingkungan. Gadjah Mada University Press, Jakarta.


Suhendro, Nainggolan. L, Chen, K. Pohan, H, T,. 2006. Demam Berdarah Dengue.
Dalam: Buku Ajar Ilmu Penyakit
dalam. Jilid III. Edisi IV. Departemen
Ilmu Penyakit Dalam FKUI, Jakarta:
1731-1732

Wilder-Smith, A. Gubler, D. 2008.


Geographic Expansion of Dengue
the Impact of International Travel.
Med Clin Nam. Vol (92): 1377-90

Yustansyah, S. 2009. Data Kasus Demam


Berdarah Dengue (DBD) Per
Kabupaten/Kota Provinsi Kalimantan
Selatan. Banjarmasin, Dinas Kesehatan Provinsi Kalimantan Selatan.

RIWAYAT PENULIS
Penulis yang bernama Dian Khatimah
Damayanti dilahirkan di Banjarbaru, 1
Oktober 1998, merupakan anak
pertama dari tiga bersaudara. Penulis
telah menempuh pendidikan formal yaitu di TK Shahibul Anshar Banjarbaru, SDN
Loktabat 6 Banjarbaru, SMPN 1 Banjarbaru dan SMAN 1 Banjarbaru. Setelah lulus
dari SMAN 1 Banjarbaru tahun 2016 penulis mengikuti SBMPTN dan diterima di
Program Studi Teknik Lingkungan, Fakultas Teknik, Universitas Lambung Mangkurat
pada tahun 2016 dan terdaftar dengan NIM 1610815220006.

RIWAYAT PENULIS
Penulis yang bernama Muhammad
Renno Arief Djominardjo dilahirkan
di Banjarbaru, 13 Januari 1996, merupakan anak kedua dari dua bersaudara. Penulis
telah menempuh pendidikan formal yaitu di TK Pembina Banjarbaru, SDN Guntung
Payung 1 Banjarbaru, SMPN 2 Banjarbaru dan SMAN 3 Banjarbaru. Setelah lulus dari
SMAN 3 Banjarbaru tahun 2015 penulis mengikuti SBMPTN dan diterima di Program
Studi Teknik Lingkungan, Fakultas Teknik, Universitas Lambung Mangkurat pada
tahun 2016 dan terdaftar dengan NIM 1610815210013.

RIWAYAT PENULIS
Penulis yang bernama Nurul Huda dilahirkan di Belanti, 21 Oktober 1997,
merupakan anak pertama dari dua bersaudara. Penulis telah menempuh pendidikan
formal yaitu di TK Al-Amin Banjarbaru, SDN Loktabat 2 Banjarbaru, SMPN 5
Banjarbaru dan SMAN 2 Banjarbaru. Setelah lulus dari SMAN 2 Banjarbaru tahun
2015 penulis mengikuti SBMPTN dan diterima di Program Studi Teknik Lingkungan,
Fakultas Teknik, Universitas Lambung Mangkurat pada tahun 2016 dan terdaftar
dengan NIM 1610815220023.