Anda di halaman 1dari 43

TUGAS MAKALAH

Sanitasi Tempat-Tempat Umum

OLEH:
KELOMPOK 2
1. GUSTI MELLY AGUSTINA (1610815120008)
2. MUHAMMAD FAZRIANSYAH (1610815210014)
3. NASIHA ANINDYTA NOVIKASARI (1610815220020)

Dosen Pengampu I Dosen Pengampu II


Prof. Dr. Qomariyatus Sholihah, Muhammad Firmansyah, S. T., M. T.
Amd. Hyp., S. T., M. Kes.

PROGRAM STUDI S-1 TEKNIK LINGUNGAN


FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS LAMBUNG MANGKURAT
2017
TUGAS MAKALAH
Sanitasi Tempat-Tempat Umum

OLEH:
KELOMPOK 2

Dosen Pengampu : 1. Prof. Dr. Qomariyatus Sholihah, Amd. Hyp., S. T.,


M. Kes.
2. Muhammad Firmansyah, S. T., M. T.

PROGRAM STUDI S-1 TEKNIK LINGUNGAN


FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS LAMBUNG MANGKURAT
2017
KATA PENGANTAR

Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh


Pertama-tama kami panjatkan puji dan syukur kepada Allah SWT. karena
anugerah-Nya jualah kami dapat menyelesaikan Makalah Kesehatan Lingkungan
Sanitasi Tempat-Tempat Umum ini dengan baik. Kami haturkan pula shalawat
dan salam kepada Nabi Muhammad SAW. beserta kerabat, sahabat, dan para
pengikut beliau dari dulu, sekarang, hingga akhir zaman.
Kami juga ingin berterima kasih kepada dosen pengampu mata kuliah
Kesehatan Lingkungan yang senantiasa membimbing kami dalam pembuatan
makalah ini agar menjadi makalah yang baik dan benar. Kemudian kepada
teman-teman di kelas mata kuliah ini, kami mengucapkan terima kasih untuk
kerja sama dan kekompakannya.
Demikian yang dapat kami sampaikan. Semoga makalah ini dapat
bermanfaat bagi pembaca secara terus-menerus. Kami harapkan kritik dan saran
yang membangun agar makalah ini dapat menjadi lebih baik lagi.
Wassalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh

Banjarbaru, April 2017

Penulis

i
TERIMA KASIH KEPADA:

REKTOR
UNIVERSITAS LAMBUNG MANGKURAT

Prof. Dr. H. Sutarto Hadi, M. Si., M. Sc.


NIP. 19660331 199102 1 001

ii
DEKAN FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS LAMBUNG MANGKURAT

Dr. Ing. Yulian Firmana Arifin, S. T., M. T.


NIP. 19750719 200003 1 001

iii
KEPALA PROGRAM STUDI TEKNIK LINGKUNGAN
UNIVERSITAS LAMBUNG MANGKURAT

Dr. Rony Riduan, S. T., M. T.


NIP. 19761017 199903 1 003

iv
DOSEN PENGAMPU MATA KULIAH

Prof. Dr. Qomariyatus Sholihah, Amd. Hyp., S. T., M. Kes.


NIP. 19780420 200501 2 002

v
DOSEN PENGAMPU MATA KULIAH

Muhammad Firmansyah, S. T., M. T.


NIP. 19890911 201504 1 002

vi
PENULIS

Nama: Gusti Melly Agustina


NIM: 1610815120008
Tempat, Tanggal Lahir: Martapura, 28 Agustus 1998
Alamat: Jalan Sekumpul Komplek Pondok Permata No. 61 RT.001/RW.001
Kelurahan Sekumpul, Kecamatan Martapura, Kabupaten Banjar, Kalimantan
Selatan
E-mail: gtmellyagustina@gmail.com
Motto Hidup: Jangan Sia Siakan Suatu Kesempatan, Karena Kesempatan Itu
Belum Tentu Datang Dua Kali Dalam Hidupmu

vii
PENULIS

Nama: Muhammad Fazriansyah


NIM: 1610815210014
Tempat, Tanggal Lahir: Kuala Pembuang, 13 Agustus 1998
Alamat: Jalan Piere Tendean No. 22, Kuala Pembuang, Kabupaten Seruyan,
Kalimantan Tengah
E-mail: fazri0204@gmail.com
Motto Hidup: Youll Never Walk Alone

viii
PENULIS

Nama: Nasiha Anindyta Novikasari


NIM: 1610815220020
Tempat, Tanggal Lahir: Banjarmasin, 21 November 1997
Alamat: Jalan Tatawana No. 58 Komplek Kehutanan CRE, Banjarbaru,
Kalimantan Selatan
E-mail: anindyta21@gmail.com
Motto Hidup: 3S+: Syukur Sabar Semangat + Senyum

ix
PERNYATAAN

Dengan ini kami menyatakan bahwa:


1. Karya tulis ini adalah asli dan belum pernah diajukan untuk mendapatkan
gelar akademik apapun.
2. Karya tulis ini merupakan gagasan, dan rumusan yang diberi arahan oleh
Dosen Pengampu.
3. Dalam karya ini secara tertulis dengan jelas dicantumkan sebagai acuan
naskah dengan disebutkan nama penulis dan dicantumkan dalam daftar
pustaka.
4. Pernyataan ini kami buat dengan sesungguhnya, dan apabila dikemudian
hari terdapat penyimpangan dan ketidakberatan dalam pernyataan ini,
maka kami bersedia menerima sanksi sesuai dengan norma yang berlaku di
perguruan tinggi.

Banjarbaru, April 2017

Yang membuat pernyataan, Yang membuat pernyataan,

Gusti Melly Agustina Muhammad Fazriansyah


1610815120008 1610815210014

Yang membuat pernyataan,

Nasiha Anindyta Novikasari


1610815220020

x
HALAMAN PENGESAHAN
MAKALAH
SANITASI TEMPAT-TEMPAT UMUM

OLEH:

KELOMPOK 2
1. GUSTI MELLY AGUSTINA (1610815120008)
2. MUHAMMAD FAZRIANSYAH (1610815210014)
3. NASIHA ANINDYTA NOVIKASARI (1610815220020)

Dosen Pengampu I

Prof. Dr. Qomariyatus Sholihah, Amd. Hyp., S. T., M. Kes.


NIP. 19780420 200501 2 002

Dosen Pengampu II

Muhammad Firmansyah, S. T., M. T.


NIP. 19890911 201504 1 002

Banjarbaru, April 2017

Ketua Program Studi Dekan Fakultas Teknik


Teknik Lingkungan Universitas Lambung Mangkurat

Dr. Rony Riduan, S. T., M. T. Dr. Ing Yulian Firmana Arifin, S. T., M. T.
NIP. 19761017 199903 1 003 NIP. 19750719 200003 1 001

xi
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ............................................................................................ i


UCAPAN TERIMA KASIH ................................................................................... ii
BIODATA PENULIS ............................................................................................ vii
PERNYATAAN.................................................................................................... x
HALAMAN PENGESAHAN ................................................................................. xi
DAFTAR ISI ........................................................................................................ xii
BAB I. PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang ............................................................................................ 1
1.2 Rumusan Masalah ...................................................................................... 1
1.3 Tujuan ......................................................................................................... 1
BAB II. ISI
2.1 Pengertian Sanitasi Tempat-Tempat Umum.............................................. 2
2.2 Kriteria Sanitasi Tempat-Tempat Umum ................................................... 3
2.3 Persyaratan Penyelenggaraan Sanitasi Tempat-Tempat Umum ............... 3
2.4 Aspek Penyelenggaraan Sanitasi Tempat-Tempat Umum......................... 3
2.5 Hambatan Sanitasi Tempat-Tempat Umum .............................................. 4
2.6 Langkah-Langkah Implementasi Sanitasi Tempat-Tempat Umum ............ 4
2.7 Sanitasi Hotel ............................................................................................. 5
2.8 Sanitasi Tempat Ibadah .............................................................................. 13
2.9 Sanitasi Pusat Perbelanjaan ....................................................................... 17
2.10 Sanitasi Tempat Rekreasi ......................................................................... 20
2.11 Sanitasi Terminal ...................................................................................... 22
BAB III. PENUTUP
3.1 Kesimpulan ................................................................................................. 26
3.2 Saran........................................................................................................... 26
DAFTAR PUSTAKA
RIWAYAT PENULIS

xii
I. PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Tempat-tempat umum adalah suatu tempat dimana orang banyak
berkumpul untuk melakukan kegiatan baik secara tertentu maupun secara
terus menerus. Berkumpulnya orang-orang dalam suatu tempat untuk
melakukan kegiatan kemungkinan meningkatkan terjadinya penularan
penyakit baik secara langsung maupun melalui perantara. Pencegahan
penularan penyakit di tempat-tempat umum perlu dilakukan pengawasan
terhadap pelaksana kegiatan (manusia), alat dan bahan yang digunakan,
serta tempat/lingkungan kegiatan dilakukan.
Tempat-tempat umum memiliki potensi sebagai tempat terjadinya
penularan penyakit, pencemaran lingkungan, ataupun gangguan kesehatan
lainnya. Pengawasan atau pemeriksaan sanitasi terhadap tempat-tempat
umum dilakukan untuk mewujudkan lingkungan tempat-tempat umum
yang bersih guna melindungi kesehatan masyarakat dari kemungkinan
penularan penyakit dan gangguan kesehatan lainnya.
Adanya pengawasan sanitasi tempat-tempat umum sebagai suatu
usaha untuk mengawasi kegiatan yang berlangsung di tempat-tempat
umum terutama yang berhubungan dengan penularan suatu penyakit,
sehingga kerugian yang ditimbulkan oleh kegiatan tersebut dapat dicegah.
Kegiatan sanitasi tempat-tempat umum ditinjau oleh beberapa aspek, yaitu
aspek teknik, aspek sosial, dan aspek manajemen.

1.2 Rumusan Masalah


1. Bagaimana sanitasi tempat-tempat umum itu?
2. Mengapa sanitasi tempat-tempat umum perlu dilakukan?
3. Apa saja langkah-langkah yang dilakukan pada upaya sanitasi tempat-
tempat umum?

1.3 Tujuan
1. Mengetahui sanitasi tempat-tempat umum.
2. Mengetahui manfaat dilakukannya sanitasi tempet-tempat umum.
3. Mengetahui langkah-langkah yang dilakukan pada sanitasi tempat-
tempat umum.

1
II. ISI
2.1 Pengertian Sanitasi Tempat-Tempat Umum
Menurut WHO, sanitasi adalah usaha untuk mengendalikan semua
faktor lingkungan fisik manusia, yang dapat menimbulkan dampak negatif,
bagi perkembangan fisik, kesehatan, dan daya tahan hidup manusia.
Tempat-tempat umum adalah suatu tempat dimana orang banyak
berkumpul untuk melakukan kegiatan baik secara tertentu maupun secara
terus menerus. Jadi, sanitasi tempat-tempat umum adadalah usaha
pencegahan atau pengawasan pada tempat-tempat umum terutama yang
berhubungan dengan kesehatan lingkungan hidup manusia (Simanjuntak,
2013).
Pengawasan sanitasi tempat-tempat umum menurut Suparlan (2012)
adalah suatu usaha untuk mengawasi dan mencegah kerugian akibat dari
tidak terawatnya tempat-tempat umum yang mengakibatkan timbul dan
menularnya berbagai jenis penyakit (Deviyanti, 2015). Menurut Undang-
undang Kesehatan Nomor 23 Tahun 1992, ruang lingkup kegiatan sanitasi
meliputi beberapa aspek, yaitu penyediaan air bersih/air minum (water
supply); pengolahan sampah (refuse disposal); pengolahan makanan dan
minuman (food sanitation); pengawasan/pengendalian serangga dan
binatang pengerat (insect and rodent control); dan kesehatan dan
keselamatan kerja.
Tempat umum merupakan tempat bertemunya segala macam
masyarakat dengan segala penyakit yang dipunyai oleh masyarakat.
Tempat umum menyebabkan menyebarnya segala penyakit terutama
penyakit yang medianya makanan, minuman, udara dan air. Dengan
demikian sanitasi tempat-tempat umum harus memenuhi persyaratan
kesehatan dalam arti melindungi, memelihara, dan meningkatkan derajat
kesehatan masyarakat (Mukono, 2006). Sasaran khusus yang harus
diberikan dalam pengawasan tempat-tempat umum meliputi manusia
sebagai pelaksana kegiatan (kebersihan secara umum maupun personal
higiene), alat-alat kebersihan, dan tempat kegiatan (Sholihah, 2014).
Di bawah ini ada beberapa alasan mengapa sanitasi di tempat-
tempat umum sangat diperlukan, yaitu (Sholihah, 2014):
1. Adanya kumpulan manusia yang berhubungan langsung dengan
lingkungan.
2. Kurangnya pengertian dari masyarakat mengenai masalah kesehatan.
3. Kurangnya fasilitas sanitasi yang baik.
4. Adanya kemungkinan besar terjadinya penularan penyakit.
5. Adanya kemungkinan terjadinya kecelakaan.
6. Adanya tuntutan physical dan mental comfort.

2
Menurut Suparlan, ada beberapa macam-macam tempat umum
sebagai berikut: 1) Tempat-tempat umum berhubungan dengan sarana
transportasi, seperti terminal, stasiun, pelabuhan dan bandar udara. 2)
Tempat- tempat umum berhubungan dengan sarana perdagangan, seperti
pasar, supermarket, dan pertokoan. 3) Tempat-tempat umum
berhubungan dengan sarana pariwisata, seperti pantai, hotel, dan taman
rekreasi. 4) Tempat-tempat umum berhubungan dengan sarana
peribadatan, seperti masjid, gereja, dan pura. 5) Tempat-tempat umum
berhubungan dengan pelayanan jasa, seperti salon dan panti pijat. 6)
Tempat-tempat umum berhubungan dengan sarana sosial, seperti rumah
sakit dan puskesmas (Utomo, 2015).

2.2 Kriteria Sanitasi Tempat-Tempat Umum


Sanitai tempat-tempat umum harus memiliki kriteria seperti dibawah
ini, yaitu (Budiman, 2007):
1. Bisa digunakan oleh seluruh orang, artinya siapa pun boleh keluar
masuk ruangan tempat umum dengan membayar atau tanpa
membayar.
2. Memiliki wilayah/tempat sarana, artinya harus ada tempat tertentu
untuk melakukan aktivitas.
3. Memiliki aktivitas dari pengguna sarana, artinya pengelolaan dan
aktivitas dari pengunjung tempat-tempat umum tersebut.
4. Mempunyai fasilitas penunjang, artinya mempunyai fasilitas tertentu
yang sesuai dengan sarananya dengan ketentuan yang berlaku di
tempat-tempat umum.

2.3 Persyaratan Penyelenggaraan Sanitasi Tempat-Tempat Umum


Tempat atau sarana layanan umum yang wajib menyelenggarakan
sanitasi lingkungan antara lain, tempat umum atau sarana umum yang
dikelola secara komersial, tempat yang memfasilitasi terjadinya penularan
penyakit, atau tempat layanan umum yang intensitas jumlah dan waktu
kunjungannya tinggi. Tempat umum semacam itu meliputi hotel, terminal
angkutan umum, pasar tradisional atau swalayan pertokoan, bioskop, salon
kecantikan atau tempat pangkas rambut, panti pijat, taman hiburan,
gedung pertemuan, pondok pesantren, tempat ibadah, objek wisata, dan
lain-lain (Chandra, 2007).

2.4 Aspek Penyelenggaraan Sanitasi Tempat-Tempat Umum


Penyelenggaraan sanitasi tempat-tempat umum harus memiliki
aspek sebagai berikut (Sholihah, 2014).

3
1. Aspek teknis/hukum, melingkupi persyaratan, peraturan, dan
perundang-undangan sanitasi.
2. Aspek sosial, melingkupi pengetahuan tentang kebiasaan hidup, adat
istiadat, kebudayaan, keadaan ekonomi, kepercayaan, komunikasi,
dan lain-lain.
3. Aspek administrasi dan manajemen, menglingkupi penguasaan
pengetahuan tentang cara pengelolaan sanitasi tempat-tempat
umum (Man, Money, Method, Material, dan Machine).

2.5 Hambatan Sanitasi Tempat-Tempat Umum


Hambatan yang sering dijumpai dibagi menjadi dua, yaitu (Sholihah,
2014):
a. Hambatan Perusahan
1. Para pengusaha belum mengerti perihal peraturan undang-
undang tentang usaha sanitasi tempat-tempat umum dan
kaitannya dengan usaha kesehatan masyarakat.
2. Tidak ada kesadaran mengenai pentingnya usaha sanitasi tempat-
tempat umum untuk menghindari terjadinya kerugian.
3. Pengusaha tidak mau mengeluarkan biaya lebih untuk memenuhi
persyaratan-persyaratan sanitasi.
4. Masyarakat masih bersifat acuh terhadap peraturan/persyaratan
dari sanitasi tempat-tempat umum.
b. Hambatan Pemerintah
1. Tidak semua kabupaten/kota dan kecamatan memiliki peralatan
untuk tenaga pengawas.
2. Pengetahuan petugas yang masih terbatas dalam melakukan
pengawasan.
3. Dana untuk pengawasan sanitasi tempat-tempat umum masih
belum maksimal digunakan.
4. Sarana transportasi untuk kegiatan pengawasan masih belum
dimiliki oleh semua kabupaten/kota dan kecamatan.

2.6 Langkah-Langkah Implementasi Sanitasi Tempat-Tempat Umum


Langkah-langkah dalam implementasi usaha sanitasi tempat-tempat
umum sebagai berikut (Sholihah, 2014).
1. Identifikasi masalah (problem identification).
2. Pemeriksaan Higiene dan Sanitasi Tempat-Tempat Umum (sanitary
inspection).
3. Follow Up.
4. Evaluasi.

4
5. Pencatatan dan pelaporan.

2.7 Sanitasi Hotel


Pengertian hotel sesuai SK Menteri Perhubungan
No.PM.10/Pw.301/Phb.77 dalam Arief (2005), adalah suatu bentuk
akomodasi yang dikelola secara komersial, disediakan bagi setiap orang
untuk memperoleh pelayanan dan penginapan berikut makan dan minum.
Jadi pengertian hotel secara umum dapat dikatanan sebagi suatu bentuk
akomodasi yang dikelola secara komersial yang disediakan bagi setiap
orang untuk memperoleh pelayanan berikut makan dan minumya dengan
membayar sejumlah uang tertentu (Yuliastri & Yulianto, 2013).

2.7.1 Peranan Hotel


Hotel yang saniter akan sangat menunjang dalam memberikan
kepuasan kepada para pengunjung. Dalam hal ini sanitasi dapat
mempunyai peranan Fisik dan Psikologi (Sholihah, 2014).
a. Peranan Fisik
Sanitasi diharapkan dapat memberikan jaminan kebersihan umum di
luar atau di dalam bangunan hotel.
b. Peranan Psikologis
Peranan sanitasi hotel disini adalah dapat menjamin rasa kepuasan
dari para tamu/pengunjung hotel tersebut maupun para
karyawan/pengelolaan hotel.

2.7.2 Manfaat Sanitasi


Hotel Sanitasi hotel mempunyai manfaat yaitu (Sholihah, 2014):
Manfaat dari segi kesehatan
1. Menjamin lingkungan kerja yang saniter.
2. Melindungi tamu maupun karyawan hotel dari gangguan faktor
lingkungan yang merugikan kesehatan fisik maupun mental.
3. Mencegah terjadinya penularan penyakit dan penyakit akibat
kerja.
4. Mencegah terjadinya kecelakaan.
Manfaat dari segi Business Operational Hotel
1. Keadaan hotel yang saniter sangat berguna untuk Sales Promotion
yang secara tidak langsung dapat meningkatkan jumlah tamu.
2. Meningkatkan nilai peringkat dari hotel tersebut.

5
2.7.3 Sasaran Sanitasi di Wilayah Luar Rangunan Hotel
Keberadaan lokasi dan lingkungan, taman, tempat parkir, bangunan,
kamar tamu, lobby, telepon umum, toilet umum, ruangan yang disewakan,
front office, kantor pengelolaan Hotel, ruang lena, ruang binatu, ruang
oprasional, gedung dan fasilitas karyawan) dan Oprasional/Menejemen
(organisasi, tenaga kerja, front office, house keeping, binatu, ruang
karyawan, keamanan, kebersihan, kesehatan, pelayanan umum perlu
mendapat pengawasan. Oleh karena itu penerapan Permenkes RI
No.80/Menkes/Per/II/1990 tentang Persyaratan Kesehatan Hotel yang
meliputi sanitasi lodging hotel sangat diperlukan untuk mencegah dan
menanggulangi terjadinya penularan penyakit atau pencegahan
pencemaran lingkungan hotel itu sendiri maupun lingkungan sekitar hotel
(Santi, 2013).
Adapun tempat-tempat diluar bangunan hotel yang perlu
diperhatikan dalam penerepan higiene dan sanitasi hotel, antara lain :
a) Tempat Parkir
1. Cukup luas untuk menampung kendaraan tamu hotel sebagai
patokan untuk setiap 5 kamar perlu disediakan 1 tempat parkir.
2. Lantai parkir harus keras, sebaiknya diaspal atau dibeton, sehingga
tidak becek pada waktu hujan dan tidak berdebu musim kemarau.
3. Diberikan lampu penerangan sesuai luas tempat parkir.
4. Perlu dipasang rambu rambu lalu lintas untuk mencegah
terjadinya masalah lalu lintas.
5. Perlu disediakan gardu parkir lengkap dengan wc dan urinoir.
b) Pertamanan dan pertanaman
Yang dimaksud adalah sebidang tanah yang ditanami oleh berbagai
macam tanaman dengar maksud untuk memperindah pemandangan,
mencegah terjadinya erosi dan menjaga kesegaran udara.

2.7.4 Sasaran sanitasi di Wilayah Dalam Bangunan Hotel


Sasaran sanitasi di wilayah dalam bangunan hotel meliputi sanitasi
umum, sanitasi kamar dan lain-lain (Sholihah, 2014).
1) Sanitasi umum
Sasaran sanitasi umum ini meliputi bangunan/gedung hotel. Harus
kuat/kokoh, tidak memungkinkan sebagai tempat
berkembangbiaknya serangga dan tikus, penggunaan ruangan
dipergunakan sesuai dengan fungsinya konstruksi lantal bersih dan
tidak licin, bagian yang selalu kontak dengan air dibuat miring ke arah
saluran pembuangan air agar tidak membentuk genangan air, dinding
bersih permukaan yang selalu berkontak dengan air harus kedap air.

6
a) Atap harus kuat dan tidak bocor serta tidak memungkinkan
terjadinya genangan air.
b) Langit-langit memiliki tinggi dari lantai minimal 2,5 meter.
c) Pintu dapat dibuka dan ditutup serta dikunci dengan baik serta
dapat mencegah masuknya binatang pengganggu.
Adapun syarat pencahayaan di dalam ruangan hotel sebagai berikut:
a) Ruang untuk kegiatan dengan resiko kecelakaan tinggi > 300 lux
b) Lampu tamu > 60 lux
c) Lampu tidur > 5 lux
d) Lampu baca > 100 lux
e) Lampu relax > 30 lux
2) Sanitasi Kamar
Kamar merupakan suatu bagian dari hotel yang sangat penting agar
para tamu bebas dapat beristirahat dan melakukan apa saja tanpa
terganggu.
Syarat sanitasi kamar hotel meliputi :
a) Kebersihan umum
Kebersihan dan persyaratan fasilitas yang tersedia dalam kamar.
1. Kebersihan umum
Kamar harus selalu dibersihkan karena kamar dapat dikotori
oleh debu, zat kimia bahkan lumut, jamur atau kuman.
Pengotoran oleh debu dapat dihilangkan dengan jalan
menyapu dan membersihkan ruangan termasuk perabotan
kamar yang ada secara rutin. Pengotoran oleh zat kimia
misalnya noda-noda pada lantai, dinding, taplak meja dan lain-
lain dibersihkan dengan memakai zat kimia tertentu yang dapat
dipakai untuk menghilangkan noda-noda tersebut. Sedangan
pengotoran oleh lumut atau cendawan dapat terjadi apabila
dalam keadaan lembab, ini dapat dicegah dengan mencari
sumber terhadinya kelembaban tersebut kemudian diperbaiki.
2. Kebersihan dan persyaratan fasilitas dan peralatan kamar
Fasilitas-fasilitas yang perla diperhatikan dalam kamar antara
lain :
a) WC/ Urinoir
Pada umumnya, disuatu hotel terutama yang bertaraf
internasional WC biasanya tidak berdiri sendiri tetapi
bersama-sama dengan urinoir dan kamar mandi berada
dalam satu unit ruangan tersendin yang disebut toilet room
dan biasanya berada dalam kamar.
Persyaratan untuk WC/urinoer :

7
1. Bersih dan tidak berbau
2. Tipenya harus water seal (closet) dan dilengkapi tempat
cuci tangan.
3. Pada holel yang bertaraf internasional perlu dilengkapi
kertas toilet.
4. Harus di disinfeksi baik di lantai maupun bagian luar dari
toiletnya tiap kali tamu keluar.
b) Kamar mandi
Persyaratan untuk kamar mandi :
1. Bersih dan tidak berbau
2. Lantai tidak boleh licin
3. Dibuat dari bahan yang mudah dibersihkan dan tidak
merembeskan air
4. Dinding kanar mandi harus dari bahan kedap air
5. Bila memakai bath tub perlu di lengkapi dengan shower,
kran air dingin dan panas serta tirai.
c) Tempat tidur dan Penerangan
Secara umum, persyaratan untuk kamar tidur sebagai berikut :
1. Kondisi ruangan tidak pengap dan berbau
2. Bebas dari kuman-kuman patogen
3. Bersih dan tertata rapi
4. Suhunya sekitar 13-28 C
5. Kelembaban sekitar 40-70 %
6. Dinding, pintu, jendela yang tembus pandang atau cahaya
dilengkapi dengan tirai.
Persyaratan untuk penerangan kamar antara lain :
a. Harus dapat memberikan suasana tenang.
b. Tidak menyilaukan.
c. Untuk beberapa jenis lampu tetentu perlu dipasang kop
lampu agar sinarnya tidak langsung menyinari tempat tidur.
Intensitas cahaya yang diperlukan adalah sebagai berikut :
a. Lampu untuk pintu masuk : 25-40 watt
b. Lampu langit-langit kamar : 100 watt
c. Lampu untuk tirai : 40 watt
d. Lampu meja kamar : 40-60 watt
e. Lampu baca : 40 watt
f. Lampu tidur pojok : 25 watt
3) Sanitasi Dapur
Makanan yang diolah di dapur hotel sangat banyak jenis dan
jumlahnya. Pada hotel atau restoran yang lebih besar tentunya akan

8
mengolah makanan yang lebih banyak pula jenis dan jumlahnya,
sehingga lebih banyak pula karyawan atau juru masak yang
diperlukan. Juru masak tersebut perlu dikelompokkan meniadi
beberapa bagian dengan tugas dan tanggung jawab yang jelas, dan
hal ini dapat dilihat pada struktur organisasi dapur.
Ciri-ciri dapur yaitu :
a) Terpisah dari ruang yang lain dan tidak berhubungan dengan alam
bebas
b) Lantai dapur dibuat dari bahan yang kedap air dan tidak licin
c) Tembok dapur dilapisi dengan bahan yang kedap air
d) Plafon dapur dibuat dengan warna yang cerah.
4) Penyediaan Air
Penyediaan air untuk hotel perlu mendapat perhatian dan harus
memenuhi persyaratan standart sesuai peraturan yang berlaku.
Berdasarkan Permenkes No. 416/Menkes/PU/IX/1990, penyediaan
air untuk hotel dapat diperoleh dari air ledeng (PAM), air tanah
(sumur bor).
a. Kombinasi air ledeng dan air tanah
Di hotel besar yang bertaraf internasional, diutamakan
mendapatkan air ledeng yang telah melalui pengolahan yang baik
dan air tanah yang umumnya diperoleh dengan mengebor tanah
di halaman sekitar hotel hanya digunakan bila sangat diperlukan
yaitu :
1) sebagai make up water (penambahan air pada waktu-waktu air
ledeng macet). Sebagai penambah air apabila ledeng tidak
mampu. Seharusnya setiap hotel mempunyai reservoir sebagai
tempat untuk menyimpan air, baik air yang berasal dari dinding
maupun sumur bor. Yang perlu diperhatikan adalah air yang
berasal dari sumur bor yang kualitasnya harus selalu dipantau
sehingga memenuhi standar persyaratan.
2) Mengingat penyediaan air untuk hotel terutama hotel
Internasional dibutuhkan air yang benar-benar berkualitas
tinggi dan diperlukan adanya air panas disemua kran-kran di
kamar mandi maka diadakan langkah-langkah sebagai berikut :
a) Semua jenis air yang diperoleh dari berbagai macam sumber
air (air ledeng, air sumur bor) diadakan pengolahan kembali
yang dimaksud adalah:
1. Pengendapan (Sedimentation)
Agar segala jenis kotoran yang mungkin ada di dalam air
mengendap. Untuk membantu proses pengendapan ini

9
dapat digunakan zat koagulasi untuk mengumpulkan
partikel-partikel kotoran sehingga mudah diendapkan.
2. Penyaringan
Kotoran-kotoran yang tidak dapat diendapkan dan masih
melayang-layang dalam air dapat ditangkap oleh filter
(saringan). Disinfeksi bila air telah melalui saringan dan secar
fisik telah bersih, misal periu dilakukan disinfeksi untuk
membunuh kuman-kuman yang kemungkinan masih ada
dalam air tersebut. Zat disinfektan biasanya yang digunakan
adalah zat chlor, ada juga dengan mengunakan ozon (O 3)
dengan menggunakan alat tertentu.
5) Pembuangan Sampah
Secara umum cara cara penanganan sampuh meliputi 4 kegiatan
yaitu :
a. Penampungan sampah
b. Pengumpulan sampah
c. Pengangkutan sampah
d. Pemusnahan sampah

2.7.5 Higiene dan Sanitasi Catering


Diantara banyak aspek, dalam dunia perhotelan pariwisata, sanitasi
dan higiene merupakan aspek mutlak yang harus dikuasai karena berbagai
alasan. Higiene makanan adalah suatu usaha pencegahan penyakit yang
menitik beratkan kegiatannya kepada usaha kebersihan/kesehatan dan
keutuhan makanan itu sendiri (whole some enness of the job). Sedangkan
sanitasi makanan adalah suatu usaha pencegahan untuk membebaskan
makanan dan minuman dari segala bahaya yang dapat mengganggu
kesehatan, mulai dari makanan itu sebelum diproduksi, selama dalam
proses pengolahan, pengangkutan, penyimpanan, sampai kepada
penyajian/pendistribusian sehingga makanan dan minuman tersebut siap
dikonsumsi kepada konsumen (Sihite, 2000).
Sasaran higiene yang harus benar-benar tercapai sebagai berikut
(Sihite, 2000) :
1. Higiene personal
Yang penting adalah agar pelaksanaan menyiapkan diri sebaik
mungkin agar higienis, baik badan maupun pakaian kerjanya.
Misalnya:
a) Kuku jari potong pendek sehingga bersih dan tidak hitam
b) Rambut dipotong rapi, tidak gondrong dan tidak jatuh kemakanan
c) Memakai topi pelindung agar rambut tidak jatuh

10
d) Memakai scarf untuk keringat di leher
e) Memakai baju rangkap dan apron untuk keselamatan kerja
f) Memakai safety shoes untuk kaki
g) Kebersihan pribadi sangat penting bagi setiap food handle sebab
kebanggaan dalam penampilan dari seseorang akan meningkatkan
standar kebersihan dan kesehatan fisik seseorang. Orang yang
sakit-sakitan atau tidak bias bersih seharusnya tidak menjadi food
handler
h) Mandi setiap hari setidaknya dua kali sehari. Bakteri dipindahkan
dari pakaian terus ke makanan
2. Peralatan
Menyangkut peralatan kitchen baik itu preparation, processing,
holding, maupun serving, serta kereta-kereta milik kicthen
3. Higiene Ruangan, menyangkut ruangan dimana di dalamnya terdapat
berbagai benda:
a) Floor, lantai yang harus licin serta kering dan bersih
b) Plafond, yang bersih sehingga tidak menyebabkan penyakit karena
debu.
c) Dinding porselen yang bersih dan sering dicuci
d) Tempat sampah dalam jumlah yang memadai antara sampah yang
basah dan kering harus dipisahkan.
e) Insatalasi listrik, air,gas, dan alat-alat yang selalu dirawat
kebersihannya.
f) Sirkulasi udara yang cukup sehingga ruangan tidak panas
g) Langi-langit (ceiling) pada langit-langit biasanya terdapat cerobong
asap yang berfungsi sebagai penghisap asap dan udara kotor dari
dapur
4. Higiene Makanan
Berkaitan dengan system pembuatan dan penyimpanan sehingga
makanan bersih dan sehat. Berbagai tindakan dapat diambil seperti:
a) Menyingkirkan makanan yang basi
b) Menyimpan makanan dengan stainless container bertutup
c) Menyimpan secara terpisah makanan tersebut agar tidak
dikontaminasi oleh bahan lain
d) Menyimpan pada suhu yang tepat sesuai prosedur penyimpanan
e) Memasak makanan secara tepat dan tidak terlalu lama jaraknya
dengan saat disantap oleh tamu
f) Penyortiran bahan pada waktu preparation, penyiangan, dan mise
en place

11
g) Tidak membiarkan makanan diluar tempat penyimpanannya
sehingga dapat dicemari bakteri atau mikroorganisme lain atau
hewan-hewan berpenyakit.
Syarat-syarat sanitasi makanan adalah:
1. Bahan makanan bersih, segar dan sehat
2. Proses pembuatan yang benar dan baik
3. Bahan dan campuran bahan yang sesuai dan benar
4. Pembuatan hidangan makanan yang sesuai dengan standar
processing
5. Dapur yang bersih dan terawatt
6. Peralatan yang bersih dan sanitair
7. Tenaga penjamah yang bersih
Prinsip sanitasi makanan (the principle of food sanitation)
1. Kebersihan bahan makanan/bahan baku
2. Cara penyimpanan peralatan dan perlengkapan
3. Cara pengolahan makanan
4. Cara pengangkutan makanan
5. Cara penyimpanan makanan (Sihite, 2000).
Kualitas makanan adalah sesuatu yang ada hubungan secara
langsung dengan nilai-nilai mutu makanan antara lain:
1. Tidak busuk
2. Tidak beracun
3. Tidak berbau
4. Mempunyai nilai gizi
5. Tidak mengandung kuman penyakit
6. Tidak membahayakan kesehatan (Sihite, 2000)
Dalam menunjang kegiatan perhotelan dibutuhkan standar higiene
dan sanitasi yang baik untuk pemilihan bahan dan pengolahan makanan.
Seperti dikemukanan Bartono (2000), persyaratan bahan makanan dan
makanan jadi adalah sebagai berikut :
1. Bahan Makanan
a) Bahan makanan dalam kondisi baik, tidak rusak dan tidak
membusuk
b) Bahan makanan berasal dari sumber resmi yang terawasi
c) Bahan makanan kemasan, bahan tambahan makanan dan bahan
penolong memenuhi persyaratan peraturan perundang-undangan
yang berlaku
2. Makanan Jadi

12
a) Makanan jadi dalam kondisi baik, tidak rusak dan tidak busuk,
makanan dalam kaleng harus tidak boleh menunjukkan adanya
pengembungan, cekung dan kebocoran
b) Jumlah kandungan logam berat dan residu persitisida dan
pencemaran lainnya tidak boleh melebihi ambang batas yang
diperkenankan menurut peraturan perundang-undangan yang
berlaku
c) Buah-buahan dicuci bersih dengan air yang memenuhi
persyaratan. Khusus untuk sayuran yang dimakan mentah dicuci
dengan air yang mengandung larutan kalium permanganate 0,02%
atau dimasukkan dalam air mendidih untuk beberapa detik

2.8 Sanitasi Tempat Ibadah


2.8.1 Sanitasi Umum Masjid
Masjid merupakan salah satu dari tempat-tempat umum yang harus
memenuhi ketentuan sanitasi tempat-tempat umum. Karena tempat
umum merupakan tempat bertemunya segala macam mayarakat dengan
segala penyakit yang dipunyai oleh masyarakat tersebut. Dengan demikian
maka sanitasi tempat-tempat umum harus memenuhi syarat-syarat
kesehatan dalam arti melindungi, memelihara dan mempertinggi derajat
kesehatan masyarakat (Subagyo, 2013).
Adapun persyaratan sanitasi yang berkaitan dengan tempat ibadah
antara lain :
1. Letak sesuai dengan rencana tata kota
2. Kontruksi kuat sesuai dengan petunjuk dinas pekerjaan umum
3. Persyaratan, seperti:
a. Bagian luar:
1. Halaman bersih, tidak terdapat sampah berserakan dan
genangan air.
2. Tersedia tempat sampah sertutup rapat, kedap air dan mudah
dibersihkan, mudal diangkut. Jumlah kapasitasnya sesuai
dengan kebutuhan.
3. Pembuangan air kotor lancar (tidak tersumbat), saluran
tersambung dengan saluran pembuangan air kotor umum yang
kedap air.
4. Persedian air selalu ada dan memenuhi persyaratan air minum.
5. Tersedia jamban atau perturasan minimal satu yang dilengkapi
dengan kran pembersih.
6. Ruang tempat mengambil air wudhu harus terpisah dari jamban
dan ruangan masjid.

13
b. Bagian dalam
1. Ruang sembahyang harus bersih.
2. Alas sembahyang harus bersih dan bebas dari kutu busuk dan
serangga. Sepanjang bagian depan siap dipasang kain putih
yang bersih dengan lebar 30 cm sebagai tempat sujud.
3. Lantai mudah dibersihkan dan tidak lembab.
4. Ventilasi harus terdapat lubang penghawaan dengan luas
minimal 10% dari luas lantai.
5. Pencahayaan minimal 10 fc dan tidak menyilaukan.
6. Tersedia Tempat sandal dan sepatu yang khusus.
Persyaratan Kesehatan Tempat ibadah adalah :
1. Letak
a. Letaknya sesuai dengan rencana tata kota
b. Tidak berada pada arah angin dari sumber pencemaran (debu,
asap, bau dan cemaran lainnya)
c. Tidak berada pada jarak < 100 meter dari sumber pencemaran
debu, asap, bau & cemaran
1. Bangunan
a. Kuat, kokoh dan permanen
b. Rapat serangga dan tikus
2. Lantai
Kuat, tidak terbuat dari tanah, bersih, rapat air, tidak licin dan
mudah dibersihkan
3. Dinding
Dinding bersih, berwarna terang, kedap air dan mudah
dibersihkan
5. Atap
Menutup bangunan, kuat, bersih, cukup landai dan tidak bocor
6. Penerangan/Pencahayaan
Pencahayaan terang, tersebar merata dan tidak menyilau (min. 10
fc)
7. Ventilasi
Minimal 10% dari luas bangunan, sejuk dan nyaman (tidak pengap
dan tidak panas)
8. Pintu
Rapat serangga dan tikus, menutup dengan baik dan membuka ke
arah luar. Terbuat dari bahan yang kuat dan mudah dibersihkan.
9. Langit-langit
a. Tinggi minimal 2,4 m dari lantai
b. Kuat, tidak terdapat lubang-lubang.

14
c. Berwarna lerang dan mudah dibersihkan
10. Pagar
Kuat, aman dan dapat mencegah binatang pengganggu masuk
11. Halaman
Bersih, tidak berdehu dan becek, tidak terdapat genangan air dan
terdapat tempat sampai yang cukup.
12. Jaringan instalasi
Aman (bebas cross conection) dan terlindung
13. Saluran air limbah
Tertutup dan mengalir dengan lancar
Fasilitas Sanitasi di tempat peribadatan (masjid) yaitu :
1. Air Bersih
a. Jumlah mencukupi selalu tersedia setiap saat
b. Tidak berbau, tidak berasa dan tidak berwarna
c. Angka kuman tidak melebihi angka ambang batas
d. Kadar bahan kimia tidak melebihi angka ambang batas
2. Pembuangan Air Kotor
a. Terdapat penampungan air limbah yang rapat serangga
b. Air limbah mengalir dengan lancar
c. Saluran kedap air
d. Saluran tertutup
3. Toilet/ WC
a. Bersih
b. Letaknya tidak berhubungan langsung dengan bangunan utama
c. Tersedia air yang cukup
d. Tersedia sabun & alat pengering
e. Toilet pria & wanita terpisah
f. Jumlahnya mencukupi untuk pengunjung terbanyak
g. Saluran pembuangan air limbah dilengkapi penahan bau (water
seal)
h. Lubang penghawaan harus berhubungan langsung dengan
udara luar
4. Peturasan
a. Bersih
b. Dilengkapi dengan kran pembersih
c. Jumlahnya mencukupi
5. Tempat Sampah
a. Tempat sampah kuat, kedap air, tahan karat, dan dilengkapi
dengan penutup
b. Jumlah tempat sampah mencukupi

15
c. Sampah diangkut setiap 24 jam ke TPA
d. Kapasitas tempat sampah terangkat oleh 1 orang
6. Tempat wudhu
a. Bersih
b. Terpisah dari toilet, peturasan, dan ruang mesjid
c. Air wudhu keluar melalui kran-kran khusus dan jumlahnya
mencukupi
d. Kolam air wudhu tertutup (rapat serangga)
e. Tidak terdapat jentik nyamuk pada kolam air wudhu
f. Limbah air wudhu mengalir lancar
g. Tempat wudhu pria dan wanita sebaiknya terpisah
7. Tempat sembahyang
a. Bersih, tidak berbau yang tidak enak
b. Bebas kutu busuk dan serangga lainnya
c. Sepanjang bagian depan tiap shap dipasang kain putih yang
bersih dengan lebar 30 cm
8. Tempat sandal dan sepatu
a. Tersedia tempat sandal dan sepatu yang khusus
b. Bersih dan kuat

2.8.2 Sanitasi Alas Sholat


Fasilitas masjid salah satunya adalah alas sholat/karpet, dimana
karpet tersebut digunakan dengan diinjak-injak dan juga untuk sujud
secara bergantian oleh para pengunjung masjid. Hal ini memungkinkan
adanya mikroba pada alas sholat tersebut. Mikroba pada alas sholat dapat
berasal dari debu yang terbawa dalam udara, mengingat masjid bukan
tempat yang tertutup rapat. Jumlah dan tipe mikroba yang mencemari
udara ditentukan oleh sumber pencemaran di dalam lingkungan, misalnya
dari saluran pernapasan manusia dikeluarkan melalui batuk dan bersin
serta partikel-partikel debu dari permukaan bumi yang selanjutnya
diedarkan oleh aliran udara (McKinney, 1992).
Menjaga kebersihan alas sholat dari mikroba/debu dengan cara
menyedot debu secara teratur minimal satu pekan sekali serta memberi
pendingin ruangan (AC) yang diberi filter mikro. Tujuan pokok kegiatan
pembersihan kotoran adalah menghilangkan kotoran yang ada, dimana
pada dasarnya pembersihan adalah suatu proses mekanis: kotoran
dilarutkan oleh air, diencerkan sampai kotoran tersebut tidak tampak lagi
dan dibilas. Pembersihan kotoran juga menghilangkan tempat
berkembangbiaknya bakteri dan jamur. Sebagian besar bakteri nonspora
dan virus dapat bertahan hanya jika terlindung oleh kotoran atau zat

16
organik. Bakteri non spora kemungkinan tidak dapat hidup pada
permukaan yang bersih (Jawetz, et. al., 1996).

2.9 Sanitasi Pusat Perbelanjaan


Pusat perbelanjaan merupakan salah satu tempat umum yang santai
dan kebersihannya harus diperhatikan. Pusat perbelanjaan merupakan
suatu tempat yang banyak orang atau masyarakat umum datang untuk
berbelanja, dengan suatu bentuk kegiatan pasar yang dikelola secara besar
seperti departemen store atau supermarket (Sholihah, 2014).

2.9.1 Sanitasi Pertokoan


Berikut beberapa persyaratan yang harus dipenuhi oleh pihak pusat
perbelanjaan.
1. Persyaratan air bersih
a) Harus memiliki persediaan air bersih yang memenuhi syarat dan
mencukupi kebutuhan
b) Sumber air harus dijaga dari pencemaran
c) Paling sedikit setiap 6(enam) bulan diambil sampel untuk
pemeriksaan di laboratorium.
2. Persyaratan pembuangan sampah
a) Disetiap toko harus tersedia tempat atau wadah penampungan
sampah sementara yang tertutup, kedap air dan dengan jumlah
yarg cukup
b) Disetiap blok harus tersedia tempat pengumpulan sampah yang
tertutup, kedap air dan mudah diangkut
c) Pengambilan atau pembuangan sampah harus dilakukan setiap
hari agar sampah tidak menumpuk.
3. Persyaratan pembuangan kotoran manusia
a) Harus tersedia jamban yang memenuhi syarat (1 jamban tipe leher
angsa untuk 60 orang pria)
b) Harus tersedia peturusan yang memenuhi syarat (1 peturusan
untuk 60 pengunjung pria)
c) Harus dipasang tanda yang jelas untuk membedakan antara
jamban pria dan jamban wanita.
4. Persyaratan pembuangan air limbah
a) Pembuangan air limbah harus melalui saluran yang tertutup
b) Pembuangan akhir harus ke septic tank atau ke saluran
pembuangan air kotor perkotaan
5. Persyaratan higiene atau sanitasi makanan dan minuan yang terdapat
di kantin dan restoran

17
a) Makanan dan minuman yang diual harus selalu dalam kondisi
bersih dan segar
b) Tersedia tempat penampungan sampah sementara yang tertutup
dan jumlahnya mencukupi setiap saat
c) Kebersihan disekitar tempat berjualan harus dijaga setiap hari
d) Air yang digunakan harus memenuhi syarat baik mutu maupun
jumlahnya
6. Lain-lain
a) Pencahayaan pada setiap jalan atau setiap arus lalu lintas antar
gang dan blok harus memenui persyaratan (10 fc)
b) Lantai harus selalu dalam keadaan bersih
c) Harus tersedia alat perlengkapan P3K
d) Harus tersedia alat pemadam kebakaran

2.9.2 Sanitasi Pasar


Pasar merupakan tempat bertemunya penjual dan pembeli untuk
melakukan transaksi jual beli secara langsung dan ada proses tawar
menawar. Bangunan pasar biasanya terdiri atas kios-kios atau gerai, los dan
dasaran terbuka yang disediakan oleh penjual maupun suatu pengelola
pasar (Malono, 2011). Syarat-syarat sanitasi pasar menurut Kepmenkes No.
519 Tahun 2008 yakni sebagai berikut:
1. Air bersih
a. Air bersih selalu tersedia dalam jumlah yang cukup (minimal 40
liter per pedagang),
b. Kualitas air bersih memenuhi syarat kesehatan,
c. Jarak sumber air bersih dengan septick tank minimal 10 meter,
d. Pengujian kualitas air bersih dilakukan 6 bulan sekali.
2. Kamar mandi dan toilet
a. Harus tersedia toilet yang terpisah antara laki-laki dan perempuan,
b. Tersedia bak dan air bersih dengan jumlah cukup dan bebas jentik,
c. Toilet dengan leher angsa, dan peturasan,
d. Tersedia tempat cuci tangan dan sabun,
e. Tersedia tempat sampah yang tertutup,
f. Tersedia septic tank dengan lubang peresapan yang memenuhi
syarat kesehatan,
g. Letak toilet minimal 10 meter dari tempat penjualan makanan dan
bahan pangan,
h. Ventilasi minimal 20% dari luas lantai,
i. Lantai kedap air, tidak licin, mudah dibersihkan, dengan
kemiringan cukup.

18
3. Pengolahan sampah
a. Setiap kios/lorong/los tersedia tempat sampah basah dan kering,
b. Tempat sampah terbuat dari bahan yang kedap air, tidak mudah
berkarat, kuat tertutup dan mudah dibersihkan,
c. Tersedia alat pengangkut sampah yang kuat dan mudah
dibersihkan,
d. Tersedia tempat pembuangan sampah sementara (TPS) yang kuat,
kedap air, mudah dibersihkan dan mudah dijangkau,
e. TPS tidak menjadi tempat perindukan binatang penular penyakit,
f. TPS tidak berada di jalur utama pasar dan berjarak minimal 10
meter dari bangunan pasar
g. Sampah diangkut minimal 1 x 24 jam
h. Ketetapan besaran timbulan sampah untuk pasar yakni 2,5 3,0 L
per pedagang atau petugas / hari ditiap los dan kiosnya.
4. Drainase
a. Tertutup dengan kisi-kisi, terbuat dari logam dan mudah
dibersihkan,
b. Limbah cair mengalir lancar,
c. Limbah cair harus memenuhi baku mutu,
d. Tidak ada bangunan di atas saluran,
e. Pengujian kualitas limbah cair berkala setiap 6 bulan sekali.
5. Tempat cuci tangan
a. Lokasi mudah dijangkau,
b. Dilengkapi sabun,
c. Tersedia air mengalir,
d. Limbahnya dialirkan ke saluran pembuangan yang tertutup.
6. Vektor penyakit
a. Los makanan siap saji dan bahan pangan harus bebas dari lalat,
kecoa, dan tikus,
b. Angka kepadatan tikus nol,
c. Angka kepadatan kecoa maksimal 2 ekor per plate di titik
pengukuran,
d. Angka kepadatan lalat maksimal 30 per gril net di tempat sampah
dan drainase,
e. Container Indeks (CI) jentik nyamuk Aedes aegypti tidak melebihi
5%.
7. Kualitas makanan dan bahan pangan
a. Tidak basi,
b. Tidak mengandung bahan berbahaya,
c. Tidak mengandung residu pestisida di atas ambang batas,

19
d. Kualitas makanan siap saji sesuai dengan peraturan,
e. Makanan dalam kemasan tertutup disimpan dalam suhu 4 - 10 C,
f. Ikan, daging, dan olahannya disimpan dalam suhu 0 - 4 C,
g. Sayur dan buah disimpan dalam suhu 10 C, telor, susu dan
olahannya disimpan dalam suhu 5 - 7 C,
h. Penyimpanan bahan makanan dengan jarak 15 cm dari lantai, 5
cm dari dinding, dan 60 cm dari langit-langit,
i. Kebersihan peralatan makanan maksimal 100 kuman per cm 2
permukaan dan E-coli nol.
8. Desinfeksi Pasar
a. Dilakukan secara menyeluruh 1 hari dalam sebulan,
b. Bahan desinfeksi tidak mencemari lingkungan.

2.10 Sanitasi Tempat Rekreasi


Pada umumnya tempat rekreasi untuk umum dikunjungi masyarakat
antara lain:
1. Pantai
Ada 2 faktor yang perlu diperhatikan, antara lain: kebersihan
lingkungan dan fasilitas keamanan. Kebersihan lingkungan di tempat
rekreasi pantai yang perlu diperhatikan antara lain: (a) WC Umum, (b)
Tempat sampah, c) Restoran/tempat makan yang layak, dalam arti
memenuhi syarat higiene dan sanitasi, dan (d) Fasilitas P3K, bila
mungkin dilengkapi dengan Poliklinik dan ambulan untuk mengirim
penderita yang memerlukan pertulongan yang mendesak (kritis) ke
Unit Pertolongan Intensif (Intensive Care Unit/ICU).
Fasilitas keamanan ditempat rekreasi pantai, menitik beratkan pada
pengawasan keamanan dari pengunjung yang berenang di laut,
sehingga diperlukan safety quard untuk mengawasi dan menolong
pengunjung yang mengalami kecelakaan sewaktu berenang.
2. Camping Ground
Saat ini tempat camping asih relatif sedikit didapatkan di negara kita,
tetapi untuk masa mendatang tempat camping akan meningkat
jumlahnya. Memang berkembangnya tempat rekreasi jenis ini sangat
dipengaruhi oleh faktor sosial-ekonomi dari masyarakat.
Fasilitas yang perlu ada di tempat rekreasi antara lain: WC umum,
tempat sampah, Camping area, fasilitas lain (listrik, air). Pada
prinsipnya yang perlu ada di tempat rekrasi camping ground adalah
berhubungan dengan (a) higiene dan sanitasi lingkurgan, (b)
kenyamanan, (c) keamanan

20
3. Taman-taman umum/Taman hiburan
Kehidupan kota yang makin kompleks membuat kehidupan
masyarakat kota besar (Urban Community) mempunyai
kecenderungan untuk pergi rekreasi ke luar kota. Kecenderungan ini
meningkat seiring dengan meningkatnya pencemaran di kota besar
dan makin langkanya taman-taman kota.
Taman hiburan adalah tempat umum yang mempunyai letak dan
bangunan menetap yang menyediakan fasilitas hiburan bagi
masyarakat umum. Persyaratan sanitasi yang harus dipenuhi
berkaitan dengan taman hiburan antara lain:
1) Perizinan
Harus memiliki izin dari pemerintah daerah atau terdaftar pada
Dinas Kesehatan setempat.
2) Letak
a. Fasilitasnya disesuaikan dengan perencanaan pemerintah
daerah setempat
b. Harus jauh dari sumber pencemaran dan tidak mudah
tergenang air
c. Mudah dicapai dengan kendaraan
d. Keamanan terjamin.
3) Bagian luar
b. Tersedia tempat parkir yang baik, aman dan dilengkapi dengan
penerangan yang cukup pada waktu malam. Pemandangan
bersih tidak terdapat sampah berserakan, genangan air dan
lain-lain yang membahayakan kesehatan.
c. Tersedia bak-bak penampungan sampah yang dilengkapi
dengan tutup dan mudah diangkut
d. Tempat penjualan karcis harus memiliki sumber penerangan
yang cukup dan jendela karcis tersekat dengan kaca.
4) Ruang
a. pintu masuk tidak jauh dengan tempat parkir dan tersedia bak
sampah
b. Tersedia bak-bak sampah yang tertutup, kedap air dan mudah
diangkut, terutama di tempat rekreasi
c. Tersedia minimal satu jamban untuk setiap 40 pengunjung
wanita dan satu jamban serta satu urinary closet untuk setiap
40 pengunjung pria terpisah dan memenuhi syarat kesehatan
d. Tersedia urinoir satu buah untuk setiap 40 pengunjung
e. Terdapat sistem pembuangan air hujan dan air kotor baik yang
juga bersambungan yang dengan saluran umum. Saluran

21
terbuat dari bahan kedap air sehingga tidak terjadi gangguang
pada aliran air dan pencemaran lingkungan lain
f. Persediaan air untuk kepentingan umum harus memenuhi
syarat kesehatan
g. Tempat penjualan mukanan dan minuman serta tempat umum
lain yang ada dalam taman hiburan harus memenuhi
persyaratan sanitasi lingkungan.
5) Karyawan
a. Karyawan yang bekerja harus sehat dan memiliki sertifikat
kesehatan dan tidak mengindap penyakit menular dan
penyakit kulit
b. Karayawan taman hihuran harus menjaga kebersihan badan
dan pakaian
6) Peralatan dan lain-lain
a. Tersedia minimal satu kotak P3K dan minimal satu petugas
yang dapat mempergunakannya
b. Tersedianya alat pemadam kebakaran yang masih dapat
dipakai dan minimal satu orang petugas yang dapal
mempergunakannya.

2.11 Sanitasi Terminal


Terminal penumpang dapat dikelompokan atas dasar tingkat
penggunaan terminal kedalam tiga tipe sebagai berikut (Menteri Pekerjaan
Umum, 2010) :
1. Terminal penumpang tipe A berfungsi melayani kendaraan umum
untuk angkutan antar kota antar propinsi dan/atau angkutan lintas
batas negara, angkutan antar kota dalam propinsi, angkutan kota dan
angkutan pedesaan.
2. Terminal penumpang tipe B berfungsi melayani kendaraan umum
untuk angkutan antar kota dalam propinsi, angkutan kota dan/atau
angkutan pedesaan.
3. Terminal penumpang tipe C berfungsi melayani kendaraan umum
untuk angkutan pedesaan.

2.11.1 Sanitasi Umum Terminal


Sanitasi terminal yaitu pengawasan pada beberapa faktor lingkungan
fisik yang berpengaruh terhadap kesehatan manusia yang ada di terminal
(Suparlan, 1988). Adapun persyaratan sanitasi dan kebersihan terminal
yang harus dipenuhi, antara lain:
1. Bagian luar

22
a. Tempat parkir
Terdapat tempat parkir kendaraan umum yang bersih.
Tidak terdapat sampah berserakan, genangan air, dan lain-lain.
b. Pembuangan sampah
Tersedianya tempat pengumpulan sampah sementara sebelum
dibuang.
Tempat pengumpulan sampah harus tertutup dan kedap air.
c. Penerangan
Di tempat parkir, pintu masuk dan pintu keluar terminal perlu
diberi penerangan yang cukup dan tidak menyilaukan.
2. Bagian dalam
a. Ruang tunggu
Ruangan bersih.
Tempat duduk bersih dan bebas dari kutu busuk.
Penerangan minimal 10 fc.
Tersedia bak sampah dan terbuat dari benda yang kedap air.
Lantai terbuat dari bahan kedap air, tidak licin, dan mudah
dibersihkan.
b. Jamban dan urinoir
Digunakan jamban tipe leher angsa.
Jamban untuk pria harus terpisah dengan jamban untuk wanita.
Jumlah jamban 1 buah untuk setiap 1-250 pengunjung pada
suatu saat, dengan jumlah minimal 2 huah.
Urinoir bersih, tidak berbau, dan memiliki air pembersih yang
memadai.
Terminal dengan kapasitas minimal 250 pengunjung harus
memiliki l urinoir.
Jika pengunjung meningkat menjadi 500 orang. urinoir
ditambah 1.
c. Tempat cuci tangan
Tersedia minimal 1 buah tempat cuci tangan untuk umum yang di
lengkapi dengan sabun dan serbet.
d. Pembuangan air hujan dan air kotar
Memiliki sistem pembuangan yang baik, terhubung dengan
saluran umum atau dengan septic tank sendiri (untuk
pembuangan air kotor).
e. Pemadam kebakaran
Tersedia alat pemadam kebakaran yang dapat dilihat dan dicapai
dengan mudah oleh umum. Pada alat ini harus terdapat cara
penggunaannya.
f. Kotak P3K

23
Tersedia kotak P3K minimal 1 buah yang berisi obat-obatan
lengkap untuk P3K.
g. Sirkulasi udara
Sirkulasi dalam stasiun kereta api harus baik dan tidak terdapat
sudut-sudut ruangan yang mengakibatkan udara berhenti.

2.11.2 Sanitasi Kereta Api


Kereta api adalah alat transportasi yang berjalan di atas rel yang
mampu mengangkut banyak penumpang dan dapat menghindari
kemacetan. Kereta api sebagai transportasi massal, perlu diperhatikan
sanitasinya. Menurut Departemen RI tahun 1983 yang harus dipenuhi
persyaratan sanitas dalam kereta api, yaitu (Deviyanti, 2015):
1. Lantai gerbong kereta api
a. Terbuat dari bahan yang kuat,
b. Konstruksi rata tetapi tidak licin,
c. Bebas dari lubang-lubang yang membahayakan,
d. Mudah dibersihkan.
2. Dinding kereta api
a. Terbuat dari bahan yang kuat dan rapat air,
b. Rata dan mudah dibersihkan,
c. Lapisan luar dibuat dari logam sedangkan pada lapisan dalam
dibuat dari bahan penahan panas,
d. Lapisan luar dan lapisan dalam dinding dan langit-langit harus
mempunyai jarak minimal 2,5 cm.
3. Pintu kereta api
a. Terbuat dari bahan yang kuat dan tidak mudah rusak,
b. Tinggi minimal 180 cm, lebarnya minimal 70 cm,
c. Mempunyai kunci dan pegangan untuk membuka dan menutup
baik dari luar maupun dari dalam, sebaiknya terdiri dari dua pintu.
4. Jendela kereta api
a. Terbuat dari kaca yang tebal dengan maksud agar selama
perjalanan kereta api mendapat cahaya alam untuk penerangan
ruangan dalam kereta api tersebut,
b. Luas jendela seluruhnya minimal 10% dari luas lantai,
c. Harus dapat dibuka dan ditutup,
d. Letak jendela memanjang sesuai dengan bentuk kereta.
5. Langit-langit gerbong kereta api
a. harus dalam keadaan bersih dan mudah dibersihkan,
b. kurang lebih tinggi 2,5 m dari lantai.
6. Tempat duduk

24
a. terbuat dari bahan yang kuat,
b. panjangnya sekitar 1 m untuk 2 orang,
c. mempunyai tempat bersandar yang panjangnya sesuai dengan
panjang tempat duduk dengan tinggi 65 cm.
7. Persambungan kereta api
a. Sambungan harus kuat dan tidak bisa dilepas oleh orang yang
tidak bertanggung jawab dan memakai alat yang khusus,
b. pada bagian atas dan samping sambungan harus tertutup dengan
kain yang disebut kain harmonium,
c. pada bagian lantai sambungan harus tertutup dengan lembaran
lipat yang terbuat dari baja untuk menghindari kecelakaan,
d. pada sambungan harus ada pintu yang menghubungkan satu
kereta dengan kereta lainnya.
8. Tempat sampah
a. konstruksinya kuat dan tidak mudah bocor sehingga sampah-
sampah tersebut tidak berserakan,
b. mempunyai tutup yang dibuat sedemikian rupa agar mudah
dibuka dan ditutup tanpa harus mengotorkan tangan,
c. mudah dibersihkan,
d. mempunyai ukuran yang sesuai sehingga mudah diangkat,
e. tempat sampah basah dan kering harus dipisahkan untuk
memudahkan dalam proses pengolahan,
f. menyediakan plastik didalamnya,
g. tempat sampah dibersihkan secara rutin agar kuman-kuman
penyakit tidak tertinggal,
h. letakkan tempat sampah di tempat yang strategis atau ramai yang
sering dilalui,
i. tapi tidak menghalangi jalan dan jangan di dekat penyimpanan
makanan atau minuman,
j. mengkosongkan tempat sampah secara rutin (Surayasa, 2008).
9. Toilet/ WC
a. dibuat dengan kostruksi yang baik,
b. praktis dan mudah untuk dibersihkan sehingga selalu dalam
keadaan bersih,
c. disediakan air dalam jumlah yang cukup (jika kran dibuka air
mengalir terus),
d. hanya boleh digunakan apabila kereta sedang berjalan.

25
3. PENUTUP

3.1 Kesimpulan
Sanitasi tempat-tempat umum merupakan usaha untuk mengawasi
kegiatan yang berlangsung di tempat-tempat umum terutama yang erat
hubungannya dengan timbulnya suatu penyakit, sehingga kerugian yang
ditimbulkan kegiatan tersebut dapat dicegah. Sanitasi tempat-tempat
umum menurut WHO merupakan problem kesehatan masyarakat yang
cukup mendesak. Karena tempat umum merupakan tempat bertemunya
segala macam masyarakat dengan segala penyakit yang dipunyai oleh
masyarakat. Oleh karenanya tempat umum merupakan tempat
menyebarnya segala penyakit terutama penyakit yang medianya makanan,
minuman, udara, dan air. Adapun langkah-langkah dalam melakukan
sanitasi di tempat umum, yaitu :
1. Identifikasimasalah (problem identification).
2. Pemeriksaan Higiene dan Sanitasi Tempat-Tempat Umum (sanitary
inspection).
3. Follow Up.
4. Evaluasi.
Pencatatan dan pelaporan.

3.2 Saran
Untuk lebih memahami semua tentang sanitasi tempet-tempat
umum, disarankan para pembaca dapat mencari refrensi lain yang
berkaitan dengan materi pada makalah ini. Selain itu, diharapkan para
pembaca setelah membaca makalah ini mampu mengaplikasikannya dalam
kehidupan sehari-hari dalam menjaga dan merawat tempat-tempat umum.

26
DAFTAR PUSTAKA

Adriyani, Retno. 2005. Manajemen Sanitasi Pelabuhan Domestik Di Gresik. Jurnal


Kesehatan Lingkungan. 1(2): 130-141.
Anonymous. 1990. Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia
No.80/MENKES/PER/II/1990 Tentang Persyaratan kesehatan Hotel.
Jakarta: Kementrian Kesehatan Republik Indonesia.
Arief, A. Rachmad. 2005. Pengantar Ilmu Perhotelan dan Restoran. Yogyakarta:
Graha Ilmu.
Bartono. 2000. Pengantar Pengolahan Makanan. Jakarta: PT. Pertja.
Budiman, Chandra. 2007. Pengantar Kesehatan Lingkungan. Hal 187, 189.
Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran EGC. ISBN 979-448-796-1.
https://books.google.co.id/books?id=dOrH3zuDYdgC&lpg=PP1&hl=id&p
g=PP1#v=onepage&q&f=true (diakses 20 Maret 2017)
Depkes, RI. 1983. Pedoman Sanitasi Tempat Umum.
Deviyanti, Eta & Corie Indria Prasasti. 2015. Sanitasi Kereta Api Ekonomi
Pasundan Dan Keluhan Kesehatan Penumpang. Perspektif Jurnal
Kesehatan Lingkungan. 1(1): 1324.
Jawetz, Melnick & Adelberg. 1996. Mikrobiologi Kedokteran: Terjemahan edisi
20. Jakarta: Penerbit EGC.
Kementerian Pekerjaan Umum. 2010. Pedoman Pengelolaan Terminal Di
Kabupaten/Kota. Jakarta: Direktorat Jenderal Cipta Karya.
Malono, Herman. 2011. Selamatkan Pasar Tradisional: Potret Ekonomi Rakyat
Kecil. Jakarta: PT. Gramedia Pustaka Utama
McKinney, R.E. 1962. Microbiology for Sanitary Engineers. New York: McGraw-
Hill Company Inc.
Mukono, H. J. 2006. Prinsip Dasar Kesehatan Lingkungan. Surabaya: Airlangga
University Press.
Santi, Fitri Ros. 2013. Keadaan Sanitasi Hotel Melati Singaraja Indah Dan Griyo
Mulyo Surabaya. 5(1): 39-45. ISSN 1697-3761.
Sholihah, Qomariyatus. 2014. Pengantar K3LH (Kesehatan dan Keselamatan
Kerja Lingkungan). Akademia Press.
Sihite, Richard. 2000. Sanitation and Hygiene (Sanitasi dan Hygiene). Surabaya:
SIC.
Simanjuntak, Lisnawaty. 2013. Sanitasi, Hygiene, dan Keselamatan Kerja. Jakarta:
Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.
Subagyo, Agus. 2015. Kondisi Sanitasi pada Alas Sholat (Karpet) di Masjid. LINK.
11(3): 1061-1066. ISSN 1829-5754.

27
Suparlan. 1988. Pedoman Pengawasan Sanitasi Tempat-tempat Umum.
Surabaya: Merdeka Print.
Suparlan. 2012. Pedoman Sanitasi Tempat-tempat Umum. Surabaya: Percetakan
Duatujuh.
Utomo, Bobby Tri. 2015. Identifikasi Kondisi Sanitasi Terminal Tawang Alun
Kabupaten Jember. Skripsi. Fakultas Kesehatan Kerja, Kesehataan
Lingkungan dan Kesehatan Keselamatan Kerja, Universitas Jember.
Yuliastri, Yuni & Atun Yulianto. 2013. Peranan Hygiene dan Sanitasi untuk
Menjaga Kualitas Makanan dan Kepuasan Tamu Di Hotel Inna Garuda
Yogyakarta. Jurnal Khasanah Ilmu. 4(2): 1-17.

28
RIWAYAT PENULIS

1. Gusti Melly Agustina


Penulis pertama bernama lengkap Gusti Melly Agustina
dan biasanya dipanggil Melly. Ia dilahirkan di Martapura
pada 28 Agustus 1998 sebagai anak satu-satunya atau anak
tunggal. Riwayat pendidikannya dimulai dari TK Lontar
Martapura, lalu SDN Jawa 2 Martapura, kemudian SMP
Negeri 1 Martapura, dan SMA Negeri 1 Martapura. Saat ini
ia sedang menempuh pendidikan di salah satu perguruan
tinggi negeri di Kalimantan Selatan yaitu Universitas
Lambung Mangkurat Banjarbaru, Fakultas Teknik, pada program studi Teknik
Lingkungan angkatan 2016 dengan Nomor Induk Mahasiswa 1610815120008. Ia
diterima melalui jalur SNMPTN atau biasa orang-orang menyebutnya jalur
undangan.

2. Muhammad Fazriansyah
Penulis kedua yaitu Muhammad Fazriansyah, satu-satunya
laki-laki di kelompok kami yang biasa dipanggil Fazri. Anak
terakhir dari tiga bersaudara ini dilahirkan di Kuala
Pembuang pada 13 Agustus 1998. Pendidikan yang ia
tempuh dimulai dari bersekolah di SDN 3 Kuala Pembuang
1, kemudian SMP Negeri 1 Kuala Pembuang, dan SMA
Negeri 1 Kuala Pembuang. Pendidikannya dilanjutkan pada
program studi Teknik Lingkungan angkatan 2016, Fakultas
Teknik, Universitas Lambung Mangkurat Banjarbaru dimana ia diterima melalui
jalur SBMPTN atau jalur tes dengan Nomor Induk Mahasiswa 1610815210014.

3. Nasiha Anindyta Novikasari


Penulis ketiga adalah Nasiha Anindyta Novikasari. Ia biasa
dipanggil Nasiha atau Seha, dilahirkan di Banjarmasin pada
21 November 1997. Nasiha adalah anak pertama dari dua
bersaudara. Pendidikannya diawali di TK Ar-Raudah
Banjarbaru, selanjutnya SDN Sungai Besar 8 Banjarbaru,
lalu SMP Negeri 2 Banjarbaru, dan SMA Negeri 1
Banjarbaru. Sama dengan kedua penulis di atas, ia saat ini
juga sedang melanjutkan pendidikan di Universitas
Lambung Mangkurat Banjarbaru, tepatnya pada program studi Teknik
Lingkungan angkatan 2016, Fakultas Teknik. Ia diterima dengan Nomor Induk
Mahasiswa 1610815220020 melalui jalur SBMPTN atau jalur tes.

29