Anda di halaman 1dari 19

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Komunitas sebagai partner

Kegiatan promosi kesehatan adalah konsep pemberdayaan (empowerment) dan


kemitraan (partnership). Konsep pemberdayaan dapat dimaknai secara sederhana sebagai
proses pemberian kekuatan dan dorongan sehingga membentuk interaksi transformatif
kepada masyarakat, antara lain adanya dukungan, pemberdayaan, kekuatan ide baru, dan
kekuatan mandiri untuk membentuk pengetahuan baru. Sedangkan, kemitraan memiliki
definisi hubungan atau kerjasama antara dua pihak atau lebih, berdasarkan kesetaraan,
keterbukaan dan saling menguntungkan atau memberikan manfaat (Depkes RI, 2005).

Partisipasi klien (masyarakat) dikonseptualisasikan sebagai peningkatan inisiatif diri


terhadap segala kegiatan yang memiliki kontribusi pada peningkatan kesehatan dan
kesejahteraan ( Mangapa dan Mangapa, 2004). Pemberdayaan kemitraan dan partisipasi
memiliki interelasi yang kuat dan mendasar. Perawat komunitas ketika menjalin suatu
kemitraan dengan masyarakat maka ia juga harus memberikan dorongan kepada
masyarakat. Kemitraan yang dijalin memiliki prinsip bekerja sama dengan masyarakat
bukan bekerja untuk masyarakat. Oleh karena itu perawat komunitas perlu memberikan
dorongan atau pemberdayaan kepada masyarakat agar muncul partisipasi aktif masyarakat
( Yoo dkk, 2004).

Dalam hal ini masyarakat atau komunitas merupakan partner kerja perawat dalam
mencegah, mengatasi dan mengevaluasi masalah kesehatan dalam masyarakat. Tujuan
dari model pengembangan masyarakat adalah agar individu dan kelompok- kelompok di
masyarakat dapat berperan secara aktif dalam setiap tahapan proses keperawatan dan
terjadi perubahan perilaku (pengetahuan, sikap, tindakan) serta timbulnya kemandirian
masyarakat yang dibutuhkan dalam upaya peningkatan, perlindungan dan pemulihan status
kesehatan di masa mendatang.

Menurut Mapanga dan Mapanga (2004) tujuan dari keperawatan komunitas adalah
meningkatkan kemampuan dan kemandirian fungsional klien ( komunitas) melalui
pengembangan kognisi dan kemampuan merawat dirinya sendiri. Pengembangan kognisi
dan kemampuan masyarakat di fokuskan pada daya guna aktivitas kehidupan, pencapaian
tujuan, perawatan mandiri dan adaptasi masyarakat terhadap permasalahan kesehatan
sehingga akan berdampak pada peningkatan partisipasi aktif masyarakat. Perawat
komunitas perlu membangun dukungan, kolaborasi, dan koalisi sebagai suatu mekanisme
meningkatkan peran serta aktif masyarakat dalam perencanaan, pelaksanaan, pengawasan
dan evaluasi implementasi upaya kesehatan masyarakat. Anderson and McFarlane (2000)
dalam hal ini mengembangkan model keperawatan komunitas yang memandang
masyarakat sebagai mitra (community as partner)

Terdapat dua komponen utama dalam model keperawatan sebagai mitra yaitu roda
pengkajian komunitas dan proses keperawatan. Roda pengkajian komunitas terdiri(1) inti
komunitas (the community core), (2) subsistem komunitas (the community subsystems).
Model ini lebih berfokus pada perawatan kesehatan masyarakat yang merupakan praktek,
keilmuan, dan metodenya melibatkan masyarakat untuk berpartisipasi penuh dalam
meningkatkan kesehatannya.

Data Inti

1. Demografi Variabel yang dapat dikaji adalah jumlah penduduk baik laki-laki maupun
perempuan. Data diperoleh melalui. Puskesmas atau kelurahan berupa laporan
tahunan atau rekapitulasi jumlah kunjungan pasien yang berobat.
2. Data statistik vital yang dapat dikaji adalah jumlah angka kesakitan dan angka
kematian. Angka kesakitan dan kematian tersebut diperoleh dari penelusuran data
sekunder baik dari Puskesmas atau Kelurahan.
3. Karakteristik penduduk
Variabel karakteristik penduduk meliputi :
- Fisik : jenis keluhan yang dialami oleh warga. Perawat mengobservasi ketika ada
program posyandu.
- Psikologis : efek psikologis terhadap anak maupun orang tua yaitu berupa
kesedihan karena anaknya berisiko tidak bisa bermain dengan anak-anak sebaya
lainnya dan pertumbuhan anak pun akan terhambat atau sulit untuk berkembang.
-Sosial : sikap masyarakat terhadap adanya kasus penyakit masih acuh dan tidak
memberikan tanggapan berupa bantuan untuk mendapatkan pelayanan kesehatan,
namun orang tua membawa anak ke posyandu rutin untuk ditimbang.
- Perilaku : seperti pola makan yang kurang baik mungkin mempengaruhi penyebab
anak mengalami gizi kurang, diare dan penyakit lainnya, terlebih banyak orang tua
yang kurang mampu dalam hal ekonomi.
Sub sistem
a) Lingkungan fisik Lingkungan fisik yang kurang bersih akan menambah dampak buruk
terhadap penurunan daya tahan tubuh sehingga rentan terkena penyakit, selain faktor
untuk menjamin mendapatkan makanan yang sehat akan sulit didapat, selain itu kerentanan
terhadap vektor penyakit menjadi salah satu tingginya risiko peningkatan kejadian sakit
diwilayah tersebut.
b)Sistem kesehatan
Jarak antara desa dengan puskesmas jauh yaitu >2 km, desa tersebut memiliki 1 posyandu
dalam 1 dusun dan aktif melaksanakan program kerja yang dilaksanakan 1 bulan sekali,.
c)Ekonomi Pekerjaan yang dominan diwilayah tersebut yaitu petani, Wiraswasta dan lainnya
yang berpenghasilan bervariasi untuk setiap keluarga.
d)Keamanan dan transportasi Wilayah tersebut tidak memiliki mobil yang disediakan untuk
dimaanfaatkan oleh masyarakat dalam hal memfasilitasi masyarakat untuk mempermudah
akses mendapatkan layanan kesehatan. Variabel keamanan meliputi jenis dan tipe
pelayanan keamanan yang ada, tingkat kenyamanan dan keamanan penduduk serta jenis
dan tipe gangguan keamanan yang ada.
e)Kebijakan dan pemerintahan Jenis kebijakan yang sedang diberlakukan, kegiatan promosi
kesehatan yang sudah dilakukan, kebijakan terhadap kemudahan mendapatkan pelayanan
kesehatan, serta adanya partisipasi masyarakat dalam
f)Komunikasi Komunikasi meliputi jenis dan tipe komunikasi yang digunakan penduduk,
khususnya komunikasi formal dan informal yang digunakan dalam keluarga. Jenis bahasa
yang digunakan terutama dalam penyampaian informasi kesehatan gizi, PHBS.
g)Pendidikan Pendidikan sebagai sub sistem meliputi tingkat pengetahuan penduduk
tentang pengertian tentang penyakit balita yang dihadapi, bahaya dan dampaknya, cara
mengatasi, bagaimana cara perawatan ,serta cara mencegahnya. Mayoritas penduduk
berpendidikan rendah yaitu SD bahkan tidak sekolah.
h)Rekreasi Yang perlu dikaji adalah jenis dan tipe sarana rekreasi yang ada, tingkat
partisipasi atau kemanfaatan dari sarana rekreasi serta jaminan keamanan dari sarana
rekreasi yang ada.

2.2 Definisi PHBS (Perilaku Hidup Bersih dan Sehat)


Perilaku Hidup Sehat dan Sehat (PHBS) adalah sekumpulan perilaku yang
dipraktekkan atas dasar kesadaran sebagai hasil pembelajaran, yang menjadikan
seseorang, keluarga, kelompok atau masyarakat mampu menolong dirinya sendiri (mandiri)
dibidang kesehatan dan berperan aktif dalam mewujudkan kesehatan masyarakat. dengan
demikian PHBS mencakup beratus-ratus bahkan beribu-ribu perilaku yang harus
dipraktekkan dalam rangka mencapai derajat kesehatan masyarakat yang setinggi-
tingginya. Dibidang pencegahan dan penanggulangan penyakit serta penyehatan
lingkungan harus dipraktekkan perilaku mencuci tangan dengan sabun, pengelolahan air
minum dan makanan yang memenuhi syarat, menggukan air bersih, menggunakan jamban
sehat, pengelolahan limbah cair yang memenuhi syarat, memberantas jentik nyamuk, tidak
merokok di dalam ruangan dan lain-lain. Dibidang kesehatan ibu dan anak serta keluarga
berencana harus dipraktekkan perilaku meminta pertolongan meminta pertolongan
persalinan oleh tenaga kesehatan, menimbang balita setiap bulan, mengimunisasi lengkap
bayi, menjadi aseptor keluarga berencana dan lain lain. Dibidang gizi dan farmasi harus
dipraktekkan perilaku makan dengan giji seimbang, minum tablet tambah darah selama
hamil, memberi bayi ASI esklusif, mengkonsumsi garam beryodium dan lain-lain.
Sedangkan dibidang pemeliharaan kesehatan harus dipraktekkan perilaku ikut serta
dalam jaminan pemeliharaan kesehatan, aktif mengurus dan atau memanfaatkan upaya
kesehatan bersumber daya masyarakat atau (UKBM), memanfaatkan Puskesmas dan
fasilitas pelayan kesehatan lain dan lain-lain. (Depkes, 2011)

2.3 Manfaat PHBS (Perilaku Hidup Bersih dan Sehat)


Keluarga yang melaksanakan PHBS maka setiap rumah tangga akan meningkat
kesehatannya dan tidak mudah sakit. Rumah tannga tangga sehat dapat meningkatkan
produktivitas kerja anggota keluarga. Dengan meningkatnya kesehatan anggota rumah
tangga maka biaya yang tadinya dialokasikan untuk kesehatan dapat dialihkan untuk
biaya investasi seperti biaya pendidikan dan usaha lain yang dapat meningkatkan
kesejahteraan anggota rumah tangga. Salah satu indikator menilai keberhasilan
Pemerintah Daerah Kabupaten/Kota di bidang kesehatan adalah pelaksanaan PHBS.
PHBS juga bermanfaat untuk meningkatkan citra pemerintah daerah dalam bidang
kesehatan, sehingga dapat menjadi percontohan rumah tangga sehat bagi daerah lain.

2.4 PHBS (Perilaku Hidup Bersih dan Sehat) di Rumah Tangga


PHBS di rumah tangga adalah upaya untuk memeberdayakan anggota rumah
tangga agar tahu, mau dan mampu mempraktikkan perilaku hidup bersih dan sehat serta
berperan aktif dalam gerakan kesehatan di masyarakat. PHBS di Rumah Tangga
dilakukan untuk mencapai Rumah Tangga ber PHBS. Rumah tangga yang ber-PHBS
adalah rumah tangga yang melakukan10 PHBS di rumah tangga yaitu:
1. Persalinan ditolong oleh tenaga kesehatan
2. Memberi ASI ekslusif
3. Menimbang balita setiap bulan
4. Menggunakan air bersih
5. Mencuci tangan dengan air bersih dan sabun
6. Menggunakan jamban sehat
7. Memberantas jentik di rumah sekali seminggu
8. Makan buah dan sayur setiap hari
9. Melakukan aktivitas fisik setiap hari.
10. Tidak merokok di dalam rumah.
Sasaran PHBS di Rumah Tangga adalah seluruh anggota keluarga yaitu
1. Pasangan Usia Subur
2. Ibu Hamil dan Menyusui
3. Anak dan Remaja
4. Usia lanjut
5. Pengasuh Anak
Perilaku hidup bersih dan sehat sangat bermanfaat bagi keberlangsungan hidup
suatu rumah tangga. Manfaat rumah tangga ber-PHBS adalah:
1.Bagi Rumah Tangga
a.Setiap anggota keluarga menjadi sehat dan tidak mudah sakit
b. Anak tumbuh sehat dan cerdas
c.Anggota keluarga giat bekerja
d. Pengeluaran rumah tangga dapat ditujukan untuk memenuhi gizi keluarga,
pendidikan dan modal usaha untuk menambah pendapatan keluarga.
2. Bagi Masyarakat
a.Masyarakat mampu mengupayakan lingkungan sehat
b.Masyarakat mampu mencegah dan menanggulangi masalah-masalah kesehatan
c.Masyarakat memanfaatkan pelayanan kesehatan yang ada.
d.Masyarakat mampu mengembangkan Upaya Kesehatan Bersumber Masyarakat
(UKBM) seperti posyandu, tabungan ibu bersalin, arisan jamban, ambulans desa dan
lain-lain.

2.5 Indikator PHBS Tatanan Rumah Tangga


2.5.1 Mencuci Tangan dengan Air Bersih dan Sabun
a. Fungsi Mencuci Tangan
Kedua tangan kita sangat penting untuk membantu menyelesaikan berbagai
pekerjaan. Makan dan minum sangat membutuhkan kerja dari tangan. Jika tangan
kotor akan maka tubuh sangat berisiko terhadap masuknya mikroorganisme. Cuci
tangan dapat berfungsi menghilang/mengurangi mikroorganisme yang menempel di
tangan. Cuci tangan harus dilakukan dengan menggunakan air bersih dan sabun. Air
yang tidak bersih banyak mengandung kuman dan bakteri penyebab penyakit. Bila
digunakan, kuman berpindah ke tangan. Pada saat makan, kuman dengan cepat
masuk ke dalam tubuh, yang bias menimbulkan penyakit. Sabun dapat
membersihkan kotoran dan membunuh kuman, karena tanpa sabun, maka kotoran
dan kuman masih tertinggal di tangan.
Waktu yang tepat untuk mencuci tangan adalah:
1. Setiap kali tangan kita kotor
2. Setelah buang air besar
3. Setelah menceboki bayi atau anak
4. Sebelum makan dan menyuapi anak
5. Sebelum memegang makanan
6. Sebelum menyusui bayi
7. Sebelum menyuapi anak
8. Setelah bersin, batuk, membuang ingus, setelah pulang dari berpergian
9. Sehabis bermain/member makan/memegang hewan peliharaan
b. Manfaat Mencuci Tangan
Cuci tangan sangat berguna untuk membunuh kuman penyakit yang ada
ditangan. Yang bersih akan mencegah penularan penyakit seperti diare, disentri,
tyipus, kecacingan, penyakit kulit, infeksi saluran pernafasan akut, flu burung,
dengan tangan, maka tangan mmenjadi bersih dan bebas dari kuman.
c. Cara Mencuci Tangan yang Benar
Cara yang tepat untuk mencuci tangan adalah sebagai berikut:
1. Cuci tangan dengan air yang mengalir dan gunakann sabun. Tidak perlu harus
sabun khusus antibakteri, namun lebih disarankan sabun yang berbentuk cairan.
2. Gosok tangan setidaknya selama 10-20 menit
3. Bersihkan bagian pergelangan tangan, punggung tangan, sela-sela jari dan kuku.
4. Basuh tangan sampai bersih dengan air yang mengalir.
5. Keringkan dengan handuk bersih atau alat pengering lain
6. Gunakan tisu/handuk sebagai penghalang ketika mematikan keran air.

2.5.2 Gizi Seimbang


a. Manfaat Makanan
Semua sayur bagus dimakan, terutama sayuran yang berwarna (hijau tua,
kuning dan orange) seperi bayam, kangkung, daun katuk, wortel, selada hjau, atau
daun singkong. Semua buah bagus untuk dimakan, terutama yang bewarna (merah,
kuning), seperti mangga, papaya, jeruk, jambu biji, atau apel lebih banyak
kandungan vitamin dan mineral serta seratnya. Pilihan buah dan suyur yang bebas
pestisida dan zat berbahaya lainnya. Biasanya ciri-ciri sayur dan buah yang baik ada
sedikit lubang bekas dimakan ulat dan tetap segar. Pengolahan sayur dan buah yang
tepat tidak merusak atau mengurangi gizinya. Konsumsi buah dan suyur yang tidak
merusak kandungan gizinya adalah dengan memakannya dalam keadaan mentah
atau dikukus. Direbus dengan air akan melarutkan beberapa vitamin dan mineral
yang terkandung dalam sayur dan buah tersebut. Pemanasan tinggi akan
menguraikan beberapa vitamin seperti vitamin C.
Setiap anggota rumah tangga sebaiknya mengkonsumsi minimal 3 porsi buah
dan 2 porsi sayuran. Makan sayur dan buah setiap hari sangat penting, karena
mengandung vitamin dan mineral. Manfaat vitamin yang ada di dalam sayur dan
buah yaitu
1. vitamin A untuk pemeliharaan kesehatan mata
2. vitamin D untuk kesehatan tulang
3. vitamin E untuk kesuburan dan awet muda
4. vitamin K untuk pembekuan darah
5. vitamin C meningkatkan daya tahan tubuh terhadap infeksi
6. vitamin B mencegah penyakit beri-beri
7. vitamin B12 meningkatkan nafsu makan
b. Serat
Serat adalah makan yang berasal dari tumbuh-tumbuhan yang sangat
bermanfaat untuk memelihara usus. Serat tidak dapat dicerna oleh pencernaan
sehingga serat tidak menghasilkan tenaga dan dibuang melalui tinja. Manfaat
berserat yaitu:
1. mencegah diabetes
2. melancarkan buang air besar
3. menurunkan berat badan
4. membantu proses pembersihan racun
5. membuat awet muda
6. mencegah kanker
7. memperindah kulit
8. membantu mengatasi Amenia
9. membantu perkembangan baketri yang baik dalam usus
c. Makan Buah dan Sayur
Sayur dan buah-buahan merupakan sumber makanan yang mengandung gizi
lengkap dan sehat. Sayur berwarna hijau merupakan sumber kaya karoten.
Semakain tua warna hijaunya maka semakin banyak kandungan karotennya.
Kandungan beta karoten pada sayuran. Sayuran membatu memperlambat proses
penuaan dini mencegah resiko penyakit kanker, meningkatkan fungsi paru-paru dan
menurunkan komplikasi yang berkaitan dengan diabetes. Sayuran bewarna hijau tua
antaranya adalah kangkung, daun singkong, daun papaya, genjer dan kelor. Di
dalam sayuran dan buah juga terdapat vitamin yang bekerja sebagai antioksidan.
Antioksidan di dalam buah dan sayur bekerja dengan cara mengikat lalu
menghancurkan radikal bebas dan mampu melindungi tubuh dari reaksi yang
menghasilkan racun.
Manfaat buah dan sayur sangat penting untuk tubuh manusia. Buah dan
sayuran banyak mengandung vitamin serta mineral yang sangat baik untuk
membantu menjaga kondisi tubuh agar tetap sehat. Sudah bannyak sekali penelitian
yang menunjukkan kalau manfaat buah dan sayur penting bagi tubuh dan dapat
membantu melindungi badan dari serangan berbagai macam penyakit. Vitamin dan
mineral dalam buah-buahan serta sayuran banyak sekali mengandung vitamin dan
mineral dan sangat baik untuk lesehatan manusia. Seperti misalnya: vitamin A, C. E,
zat magnesium, seng, fosfor, dan asam folat. Dalam sembuh penelitian menunjukkan
kalau asam folat yang terdapat dalam buah dan sayuran dapat mengurangi tingkat
darah homocysteine, yaitu suatu zat yang dapat menjadi faktor resiko penyakit
jantung koroner.
d. Manfaat Buah dan Sayur Bagi Kesehatan
Pada jenis buah-buahan dan sayuran yang memiliki kandungan rendah lemak,
garam dan gula dam mampu menyediakan sumber yang baik berupa serat makanan.
Jika seorang tengah menjalankan diet, sangat baik sekali mengkonsumsi buah dan
sayur. Melindungi terhadap penyakit : pada sayuran dan buah banyak mengandung
fitokimia. Pada sebuah penelitian ilmiah menunjukkan apabila dengan teratur sering
mengkonsumsi buah dan sayuran, akan mengurangi resiko terhadap serangan
penyakit seperti diabetes, stroke, kanker, hingga tekana darah tinggi. Sayuran harus
dimakan 2 porsi setiap hari, dengan ukuran satu porsi sama dengan satu mangkuk
sayuran segar atau setengah mangkuk sayuran matang. sebaiknya sayuran dimakan
segar atau dikukus, karena jikadirebus cenderung melarutkan vitamin dan mineral,
buah-buahan harus dimakan 2-3 kali sehari. Makanlah berbagai macam buah karena
akan memperkaya variasi zat gizi yang terkandung dalam buah.

2.5.3 Pemilihan Sampah Rumah Tangga


1. Pengertian Sampah
Sampah merupakan bahan buangan dari kegiatan rumah tangga, komersial,
industriatau aktivitas-aktivitas yang dilakukan oleh manusia lainnya. Sampah juga
merupakan hasil sampingan dari aktivitas manusia yang sudah tidak terpakai
(Purwendro & Nurhidayat,2006). Menurut Soemirat Slamet (2004), sampah adalah
segala sesuatu yang tidak lagi dikehendaki oleh yang punya dan bersifat padat.
Sampah ada yang mudah membusuk dan ada pula yang tidak mudah membusuk.
Sampah yang mudah membusuk terdiri dari zat-zat organik seperti sayuran, sisa
daging, daun dan lain sebagainya, sedangkan yang tidak mudah membusuk berupa
plastik, kertas, karet, logam, abu sisa pembakaran dan lain sebagainya
2. Timbulan Sampah
Timbulan sampah adalah volume sampah atau berat sampah yang dihasilkan dari
jenis sumber sampah diwilayah tertentu persatuan waktu m3/h (Departemen PU,
2004). Timbulan sampah adalah sampah yang dihasilkan dari sumber sampah (SNI,
1995). Timbulan sampah sangat diperlukan untuk menentukan dan mendesain
peralatan yang digunakan dalam transportasi sampah, fasilitas recovery material,
dan fasilitas Lokasi Pembuangan Akhir (LPA) sampah.menurut SNI 19-3964-1995,
bila pengamatan lapangan belum tersedia, maka untuk menghitung besaran sistem,
dapat digunakan angka timbulan sampah sebagai berikut:
a. Satuan timbulan sampah kota sedang 2,75-3,25 L/orang/hari atau 0,070-
0,080 kg/orang/hari.
b. Satuan Timbulan sampah kota kecil = 2,5-2,75 L/orang/hari atau 0,625-0,70
kg/orang/hari
Keterangan : Untuk kota sedang jumlah penduduknya 100.000<p<500.000. Untuk
kota kecil jumlah penduduknya < 100.000. Prakiraan timbulan sampah baik untuk
saat sekarang maupun dimasa mendatang merupakan dasar dari perencanaan,
perancangan dan pengkajian sistem pengelolaan persampahan. Prakiraan timbulan
sampah merupakan langkah awal yang biasa dilakukan dalam pengelolaan
persampahan. Satuan timbulan sampah biasanya dinyatakan sebagai satuan skala
kuantitas perorang atau perunit bangunan dan sebagainya. Rata-rata timbulan
sampah tidak akan sama antara satu daerah dengan daerah lainnya, atau suatu
negara dengan negara lainnya. Hal ini disebabkan oleh beberapa faktor, antara lain
(Damanhuri dan Padmi, 2004):
a. Jumlah penduduk dan tingkat pertumbuhannya.
b. Tingkat hidup.
c. Perbedaan musim.
d. Cara hidup dan mobilitas penduduk.
e. Iklim.
f. Cara penanganan makanannya
g. rumah tangga.
3. Komposisi sampah dipengaruhi oleh faktor-faktor sebagai berikut (Tchobanoglous,
1993):
a. Frekuensi pengumpulan. Semakin sering sampah dikumpulkan, semakin tinggi
tumpukan sampah terbentuk. Sampah kertas dan sampah kering lainnya akan
tetap bertambah, tetapi sampah organik akan berkurang karena terdekomposisi.
b. Musim. Jenis sampah akan ditentukan oleh musim buah-buahan yang
sedang berlangsung.
c. Kondisi Ekonomi. Kondisi ekonomi yang berbeda menghasilkan sampah
dengan komponen yang berbeda pula. Semakin tinggi tingkat ekonomi suatu
masyarakat, produksi sampah kering seperti kertas, plastik, dan kaleng
cenderung tinggi, sedangkan sampah makanannya lebih rendah. Hal ini
disebabkan oleh pola hidup masyarakat ekonomi tinggi yang lebih praktis dan
bersih.
d. Cuaca. Di daerah yang kandungan airnya cukup tinggi, kelembaban
sampahnya juga akan cukup tinggi.
e. Kemasan produk. Kemasan produk bahan kebutuhan sehari-hari juga akan
mempengaruhi komposisi sampah. Negara maju seperti Amerika banyak
menggunakan kertas sebagai pengemas, sedangkan negara berkembang
seperti Indonesia banyak menggunakan plastik sebagai pengemas.
4. Sumber Sampah
a. sampah buangan rumah tangga, termasuk sisa bahan makanan, sisa
pembungkus makanan dan pembungkus perabotan rumah tangga sampai
sisa tumbuhan kebun dan sebagainya.
b. sampah buangan pasar dan tempat tempat umum (warung, toko, dan
sebagainya) termasuk sisa makanan, sampah pembungkus makanan,dan
pembungkus lainnya, sisa bangunan, sampah tanaman dan sebagainya
c. sampah buangan jalanan termasuk diantaranya sampah berupa debu jalan,
sampah sisa tumbuhan taman, sampah pembungkus bahan makanan dan
bahan lainnya, sampah sisa makanan, sampah berupa kotoran serta bangkai
hewan.
d. sampah industri termaksud diantaranya air limbah industri, debu industri. Sisa
bahan baku dan bahan jadi dan sebagainya (Dainur,1995)
e. Sampah yang berasal dari perkantoran. Sampah ini dari perkantoran, baik
perkantoran pendidikan, perdagangan, departemen, perusahaan dan
sebagainya. Sampah ini berupa kertas-kertas, plastik, karbon, klip, dan
sebagainya.Umumnya sampah ini bersifat kering dan mudah terbakar
(rabbish).
f. Sampah yang berasal dari pertanian atau perkebunan. Sampah ini sebagai
hasil dari perkebunan atau pertanian misalnya jerami, sisa sayur-mayur,
batang padi, batang jagung, ranting kayu yang patah, dan sebagainya.
g. Sampah yang berasal dari pertambangan. Sampah ini berasal dari daerah
pertambangan dan jenisnya tergantung dari jenis usaha pertambangan itu
sendiri misalnya batu-batuan, tanah / cadas, pasir, sisa-sisa pembakaran
(arang), dan sebagainya.
h. Sampah yang berasal dari peternakan dan perikanan. Sampah yang berasal
dari peternakan dan perikanan ini berupa kotoran-kotoran ternak, sisa-sisa
makanan, bangkai binatang, dan sebagainya.
5. Menurut Sifat Fisiknya
a. Sampah kering yaitu sampah yang dapat dimusnakan dengan dibakar
diantaranya kertas, sisa tanamn yang dapat di keringkan
b. Sampah basah yaitu sampah yang karena sifat fisiknya sukar dikeringkan
untuk dibakar (Dainur, 1995)
6. Jenis Sampah
Menurut Soemirat Slamet (2009:153) sampah dibedakan atas sifat biologisnya
sehingga memperoleh pengelolaan yakni, sampah yang dapat menbusuk, seperti
(sisa makan, daun, sampah kebun, pertanian, dan lainnya), sampah yang berupa
debu, sampah yang berbahaya terhadap kesehatan, seperti sampah-sampah
yang berasal dari industri yang mengandung zat-zat kimia maupun zat fisik
berbahaya. Sedangkan menurut Amos Noelaka (2008:67) sampah dibagi
menjadi 3 bagian yakni:
a. Sampah Organik,
Sampah Organik merupakan barang yang dianggap sudah tidak terpakai dan
dibuang oleh pemilik/pemakai sebelumnya, tetapi masih bisa dipakai, dikelola
dan dimanfaatkan dengan prosedur yang benar. Sampah ini dengan mudah
dapat diuraikan melalui proses alami. Sampah organik merupakan sampah
yang mudah membusuk seperti, sisa daging, sisa sayuran, daun-daun,
sampah kebun dan lainnya
b. Sampah Nonorganik
Sampah nonorganik adalah sampah yang dihasilkan dari bahan-bahan
nonhayati, baik berupa produk sintetik maupun hasil proses teknologi
pengolahan bahan tambang. Sampah ini merupakan sampah yang tidak
mudah menbusuk seperti, kertas, plastik, logam, karet, abu gelas, bahan
bangunan bekas dan lainnya. Menurut Gelbert (1996) Sampah jenis ini pada
tingkat rumah tangga misalnya botol plastik, botol gelas, tas plastik, dan
kaleng,
c. Sampah B3 (Bahan berbahaya beracun)
Pada sampah berbahaya atau bahan beracun (B3), sampah ini terjadi dari zat
kimia organik dan nonorganik serta logam-logam berat, yang umunnya
berasal dari buangan industri. Pengelolaan sampah B3 tidak dapat
dicampurkan dengan sampah organik dan nonorganik. Biasanya ada badan
khusus yang dibentuk untuk mengelola sampah B3 sesuai peraturan berlaku.
7. Karakteristik Sampah
Karakteristik sampah terbagi atas beberapa aspek yakni sebagai berikut :
a. Sampah Basah (Garbage) adalah jenis sampah yang terdiri dari sisa sisa
potongan hewan atau sayur-sayuran hasil dari pengolahan, pembuatan dan
penyediaan makanan yang sebagian besar terdiri dari zat-zat yang mudah
menbusuk.
b. Sampah Kering (Rubbish) adalah sampah yang dapat terbakar dan tidak
dapat terbakar yang berasal dari rumah-rumah, pusat-pusat perdangangan,
kantor-kantor.
c. Abu (Ashes) adalah sampah yang berasal dari sisa pembakaran dari zat yang
mudah terbakar seperti rumah, kantor maupun dipabrik-pabrik industri.
d. Sampah Jalanan (Street Sweping) adalah sampah yang berasal dari
pembersihan jalan dan trotoar baik dengan tenaga manusia maupun dengan
tenaga mesin yang terdiri dari kertas kertas, dedaun daunan dan lain lain.
e. Bangkai binatang (Dead animal) adalah jenis sampah berupa sampah-
sampah biologis yang berasal dari bangkai binatang yang mati karena alam,
penyakit atau kecelakaan.
f. Sampah rumah tangga (Household refuse) merupakan sampah campuran
yang terdiri dari rubbish, garbage, ashes yang berasal dari daerah
perumahan.
g. Bangki kenderaan (Abandonded vehicles) adalah sampah yang berasal dari
bangkai-bangkai mobil, truk, kereta api.
h. Sampah industri merupakan sampah padat yang berasal dari industri-industri
pengolahan hasil bumi/tumbuh-tubuhan dan industri lain
i. Sampah pembangunan (Demolotion waste) yaitu sampah dari proses
pembangunan gedung, rumah dan sebagainya, yang berupa puing-puing,
potongan-potongan kayu, besi beton, bambu dan sebagainya (Notoatmodjo,
2003)
j. Sampah khusus adalah jenis sampah yang memerlukan penanganan khusus
misalnya kaleng cat, flim bekas, zat radioaktif dan lain-lain (Mukono, 2006)
8. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Sampah Sampah, baik kuantitas maupun
kualitasnya sangat dipengaruhi oleh berbagai kegiatan dan taraf hidup
masyarakat. Beberapa faktor penting yang mempengaruhi sampah antara lain:
a. Jumlah penduduk. Dapat dipahami dengan mudah bahwa semakin banyak
penduduk, semakin banyak pula sampahnya.
b. Keadaan sosial ekonomi. Semakin tinggi keadaan sosial ekonomi
masyarakat, semakin banyak pula jumlah per kapita sampah yang dibuang
tiap harinya.
c. Kemajuan teknologi. Kemajuan teknologi akan menambah jumlah maupun
kualitas sampah, karena pemakaian bahan baku yang semakin beragam,
cara pengepakan dan produk manufaktur yang semakin beragam dapat
mempengaruhi jumlah dan jenis sampahnya.
9. Tempat Pembuangan Akhir (TPA)
Tempat pembuangan akhir atau TPA adalah suatu areal yang menampung
sampah dari hasil pengankutan dari TPS maupun lansung dari sumbernya (bak /
tong sampah) dengan tujuan akan mengurangi permasalah kapsitas / timbunan
sampah yang ada dimasyarakat (Suryono dan Budiman, 2010). Di TPA, sampah
masih mengalami proses penguraian secara alamiah dengan jangka waktu
panjang. Adapun persyaratan umum lokasi,metode pengelolaan sampah di TPA
dan kriteria pemilihan lokasi, menurut SKSNI T-11-1991-03 adalah sebagai
berikut:
a. Sudah tercakup dalam perencanaan tata ruang kota dan daerah.
b. Jenis tanah kedap air.
c. Daerah yang tidak produktif untuk pertanian.
d. Dapat dipakai minimal untuk 5 10 tahun.
e. Tidak membahayakan/mencemarkan sumber air.
f. Jarak dari daerah pusat pelayanan maksimal 10 km.
g. Daerah yang bebas banjir.
10. Metode pembuangan sampah terbagi atas beberapa kategori yakni sebagai
berikut :
a. Open Dumping
Open dumping atau pembuangan terbuka merupakan cara pembuangan
sederhana dimana sampah hanya dihamparkan pada suatu lokasi, dibiarkan
terbuka tampa pengamanan dan ditinggalkan setelah lokasi tersebut penuh.
Masih ada Pemda yang menerapkan cara ini karena alasan keterbatasan
sumber daya (manusia, dana, dll). Cara ini tidak direkomendasikan lagi
mengingat banyaknya potensi pencemaran lingkungan yang dapat
ditimbulkannya seperti:
Perkembangan vektor penyakit seperti lalat, tikus, dll
Polusi udara oleh bau dan gas yang dihasilkan
Polusi air akibat banyaknya lindi (cairan sampah) yang timbul
Estetika lingkungan yang buruk karena pemandangan yang kotor
b. Control Landfill
Metode ini merupakan peningkatan dari open dumping dimana secara
periodik sampah yang telah tertimbun ditutup dengan lapisan tanah untuk
mengurangi potensi gangguan lingkungan yang ditimbulkan. Dalam
operasionalnya juga dilakukan perataan dan pemadatan sampah untuk
meningkatkan efisiensi pemanfaatan lahan dan kestabilan permukaan TPA.
c. Metode Control landfill dianjurkan untuk diterapkan dikota sedang dan kecil.
Untuk dapat melaksanakan metode ini diperlukan penyediaan beberapa
fasilitas diantaranya:
Saluran drainase untuk mengendalikan aliran air hujan.
Saluran pengumpul lindi dan kolam penampungan.
Pos pengendalian operasional.
Fasilitas pengendalian gas metan.
Alat berat
d. Sanitary Landfill
Sanitary Landfill adalah suatu sistem pengolahan sampah dengan
mengandalkan areal tanah yang terbuka dan luas dengan membuat lubang
bertempat sampah dimasukkan kelubang tersebut kemudian ditimbun,
dipadatkan, diatas timbunan sampah tersebut ditempatkan sampah lagi
kemudian ditimbun kembali sampai beberapa lapisan yang terakhir di tutup
tanah setebal 60 cm atau lebih (Suryono dan Budiman, 2010). Metode ini
merupakan metode standar yang dipakai secara Internasional dimana
penutupan sampah dilakukan setiap hari sehingga potensi gangguan yang
timbul dapat diminimalkan. Namun demikian diperlukan penyediaan
prasarana dan sarana yang cukup mahal bagi penerapan metode ini
sehingga sampai saat ini baru dianjurkan untuk kota besar dan metropolitan.
11. Metode Pengelolaan Sampah
Ada beberapa metode dalam pengelolaan sampah yang dikenal dengan 3RC
yaitu:
a. Reduce (mengurangi sampah)
Reduce (mengurangi sampah) berarti mengurangi segala sesuatu yang
mengakibatkan sampah. Reduksi atau disebut juga mengurangi sampah
merupakan langkah pertama untuk mencegah penimbulan sampah di TPA.
Menghancurkan sampah menjadi jumlah yang lebih kecil dan hasilnya diolah,
hanya saja biayanya sangat mahal tidak sebanding dengan hasilnya
(Azwar,2002) Menurut Suryono dan Budiman (2010) Reduksi (mengurangi
sampah) dapat dilakukan beberapa proses yaitu:
Reduksi volume sampah secara mekanik. Dilakukan pemadatan pada dump
truck yang dilengkapi alat pemadat sehingga volume sampah jauh berkurang
dan volume yang diangkut menjadi lebih banyak.
Reduksi volume sampah secara pembakaran. Proses ini dapat dilakukan
oleh sekelompok masyarakat dengan catatan memilki ruang atau area
terbuka cukup luas. Pembakaran dilakukan dengan menggunakan suatu unit
instalasi incinerator sederhana. Syaratnya sampah harus dipisah antara yang
dapat terbakar dan tidak dapat dibakar serta plastik. Plastik jangan ikut dalam
proses pembakaran karena zat yang dihasilkan akan membahayakan
kesehatan.
Reduksi sampah secara kimiawi. Cara ini disebut pyrolysis yaitu pemanasan
tanpa oksigen pada suatu reaktor. Umunya zat organik tidak tahan terhadap
panas sehingga dengan pemanasan tanpa oksigen ini akan memecah
struktur zat organik tersebut (kondensasi) menjadi gas, cair dan padat.
b. Reuse (menggunakan kembali)
Reuse (mengunakan kembali) yaitu pemanfaatan kembali sampah secara
lansung tampa melalui proses daur ulang (Suryono dan Budiman, 2010).
Contohnya seperti kertas-kertas berwarna-warni dari majalah bekas dapat
dimanfaatkan untuk bungkus kado yang menarik, pemanfaatan botol bekas
untuk dijadikan wadah cairan misalnya spritus, minyak cat. Menggunakan
kembali barang bekas adalah wujud cinta lingkungan, bukan berarti
menghina. Syarat reuse adalah barang yang digunakan kembali bukan
barang yang disposable (Sekali pakai, buang), barang yang dipergunakan
kembali merupakan barang yang lebih tahan lama, hal ini dapat
memperpanjang waktu pemakaian barang sebelum menjadi sampah dan
sampah plastik yang digunakan bukan berupa kemasan makanan, tidak
direkomendasikan untuk dipergunakan kembali karena risiko zat plastik yang
berdifusi kedalam makanan.(Kuncoro Sejati, 2008). Sebelum sampah
digunakan kembali, dilakukan proses pembersihan dan pengelompokkan
sampah menurut jenis. Sampah yang digunakan sampah nonorganik seperti
kertas, plastik, korang dll.Pengelolaan sampah dengan cara reuse dapat
dilakukan dengan beberapa peoses yaitu :
Pilihlah wadah, kantong atau benda yang dapat digunakan beberapa
kali atau berulang-ulang
Gunakan kembali wadah atau kemasan yang telah kosong untuk
fungsi yang sama atau fungsi lainnya.
Sampah yang dipilih dikelompokan menurut jenisnya. Lakukan
pebersihan sampah.
Sampah yang telah dipilih dan dibersihkan kemudian dimanfaatkan
kembali baik untuk fungsi yang sama atau fungsi yang berbeda.
c. Recycling (mendaur ulang)
Recycling (mendaur ulang) adalah pemanfaatan bahan buangan untuk di
proses kembali menjadi barang yang sama atau menjadi bentuk lain
(Suryono dan Budiman, 2010). Mendaur ulang diartikan mengubah sampah
menjadi produk baru, khususnya untuk barang-barang yang tidak dapat
digunakan dalam waktu yang cukup lama. Menurut Purwendro dan
Nurhidayat (2008) .Material yang dapat didaur ulang diantaranya:
Botol bekas wadah kecap, saos, sirup, krim kopi baik yang putih
bening maupun yang berwarna terutama gelas atau kaca yang tebal.
Kertas, terutama kertas bekas kantor, koran, majalah, dan kardus.
Logam bekas wadah minuman ringan, bekas kemasan kue, rangka
meja, besi rangka beton.
Plastik bekas wadah sampo, air mineral, jeringen, ember.
Pengelolaan sampah secara daur ulang merupakan salah satu cara yang
efektif, dengan syarat sampah yang digunakan adalah sampah yang dapat
didaur ulang, memiliki nilai ekonomi yang tinggi, tidak mengunakan jenis
kertas berlapis minyak atau plastik, untuk sampah nonorganik dilakukan
proses pembersihan terlebih dahulu sebelum didaur ulang, dan pemilihan /
pengelompokkan sampah menurut jenis sampah (Purwendro dan Nurhidayat,
2006).
d. Composting
Composting adalah suatu cara pengelolaan sampah secara alamiah menjadi
bahan yang sangat berguna bagi petanaman / pertanian dengan
memanfaatkan kembali sampah organik dari sampah tersebut dengan hasil
akhir berupa pupuk kompos yang tidak menbahayakan penggunaanya
(Suryono dan Budiman, 2010) Pengomposan dilakukan untuk sampah
organik, kegiatan ini dilakukan secra terbuka (aerob) mapun tertutup
(anaerop) (Purwendro dan Nurhidayat, 2008).Material yang dapat yang dapat
dijadikan kompos yaitu bahan-bahan organik padat misalnya limbah organik
rumah tangga, sampah-sampah organik pasar / kota,kotoran/limbah
peternakan, limbah-limbah pertanian, limbah-limbah agroindustri.Bahan
organik yang sulit dan tidak diikutkan dalam proses composting karena tidak
mudah menbusuk atau mengandung bahan kimiawi yang menggangu proses
dekomposisi sebagi berikut:
a. Plastik, kaca, logam, kayu keras atau kayu yang mengandung bahan
kimia.
b. Daging, tulang, duri ikan, kulit kerang, kulit telur, dll.
c. Produk-produk yang berasal dari susu.
d. Sisa makanan berlemak.
e. Rumput liar atau sayuran yang mengandung biji bakal tumbuh, bila tetap
akan dipakai maka biji-bijian ini harus dimatikan dulu dengan
membungkus dengan plastik hitam/kresek dan dijemur diterik mata hari
selama 2-3 hari sampai yakin biji-bijian itu sudah mati.
f. Kotoran hewan peliharaan yaitu anjing dan kucing.
g. Kulit keras buah kenari, buah kemiri, batok kelapa, kulit durian.
h. Arang, abu, abu rokok.
i. Tembakau dan puntung rokok

2.5.4 Tidak Merokok dalam Rumah


1. Perokok Aktif dan Pasif
Setiap annggota keluarga tidak boleh merokok. Rokok ibarat pabrik bahan kimia.
Dalam satu batang rokok yang dihisap akan di keluarkan sekitar 4.000 bahan kimia
berbahaya, diantarnya adalah nikotin, tar. Nikotin menyebabkan ketagihan dan
merusak jantung dan aliran darah. Tar menyebabkan kerusakan sel paru-paru dan
kanker. Perokok aktif adalah orang yang mengkonsumsi rokok secara rutin dengan
sekecil apapun walaupun itu cuma 1 batang dalam sehari. Atau orang yang
menghisap rokok walau hanya sekedar coba-coba dan cara menghisap rokok cuma
sekedar menghembuskan asap walau tidak diisap masuk kedalam paru-paru.
Perokok pasif adalah orang yang bukan perokok tapi menghirup asap rokok orang
lain. Rumah merupakan tempat berlindung termasuk dari asap rokok. Perokok pasif
harus berani menyuarakan haknya tidak menghirup asap rokok. Perilaku hidup
bersih dan sehat, yang menjadi kebutuhan dasar derajad keeshatan masyarakat
,salah satu aspeknya adalah tidak ada anggota keluarga yang merokok.
Sedangkan PHBS harus menjadi kewajiban dan para kader kesehatan untuk
mensosialisasikan. Setiap kali menghirup asap rokok, baik sengaja maupun tidak,
berarti juga mengisap lebih dari 4.000 macam racun. Karena itulah, merokok sama
dengan memasukkan racun-racun tadi ke dalam rongga mulut dan tentunya paru-
paru. Merokok mengganggu kesehatan, kenyataan ini tidak dapat kita pungkiri.
Banyak penyakit telah terbukti menjadi akibat buruk merokok, baik cara langsung
maupun tidak langsung. Kebiasaan merokok bukan saja merugikan si perokok, tetapi
juga bagi orang yang disekitarnya. Saat ini jumlah perokok, terutama jumlah perokok
remaja terus bertambah. Keadaan ini merupakan tantangan berat bagi upaya
peningkatan derajad kesehatan masyarakat.
2. Bahaya Perokok Aktif dan Perokok Pasif
Bahaya merokok terhadap kesehatan tubuh telah diteliti dan dibuktiikan oleh banyak
orang. Efek-efek yang merugikan akibat merokok pun sudah diketahui dengan jelas.
Banyak penelitian yang telah membuktikan bahwa kebiasaan merokok
mengakibatkan resiko timbulnya berbagai penyakit. Seperti penyakit jantung, paru-
paru, kanker rongga mulut, kanker laring, tekanan darah tinggi, impotensi, gangguan
kehamilan serta cacat pada janin. Penelitian terbaru juga menunjukkan adanya
bahaya dari secondhand-smoke, itu asap rokok yang terhirup oleh orang-orang
bukan perokok. Merokok secara aktif maupun secara pasif membahayakan tubuh,
seperti:
Menyebabkan kerontokan rambut
Gangguan pada mata seperti katarak
Kehilangan pendengaran lebih awal dibandingbukan perokok
Menyebabkan paru-paru kronis
Merusak gigi dan bau mulut
Menyebabkan stroke dan serangan jantung
Tulang lebih mudah patah
Menyebabkan kanker kulit
Menyebabkan kemandulan dan impotensi
Menyebabkan kanker rahim dan keguguran.
Daftar Pustaka
Amalia, I.2009. Hubungan Antara Pendidikan, Pendapatan, dan Perilaku Hidup Bersih dan
Sehat (PHBS) Pada Pedagang HIK Di Pasar Kliwon dan Jebres Kota Surakarta.
Skripsi Program Studi Kesehatan Masyarakat Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas
Surakarta
Ariawan, Iwan. 1998. Besar dan Metode Sampel Pada Penelitian Kesehatan, Depok :
Jurusan Biostatistik dan Kependudukan FKM UI.
Budioro, B. 2007.Pendidikan (Penyuluhan) Kesehatan Masyarakat. Semarang: Badan
Penerbit Universitas Diponegoro.
Dinkes RI.2006. Perilaku Hidup Bersih dan Sehat di Rumah Tangga. Jakarta: Depkes RI
Departemen Kesehatan RI. Perilaku Hidup Bersih dan Sehat di Indonesia Tahun 2004
Jakarta, Tahun2006
Erfandi. 2009 Pengetahuan dan Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi,
http:wwww.forbetterhealth.wordpress.com
Fitriani, S. (2011). Promosi Kesehatan. Yogyakarta : Graha Ilmu.Gunarsih, D.Singgih. Prof
dan Ny. Gunarsih, D, Singgih
Yulia Dra.1991. Psikologi Praktis Anak, Remaja dan Keluarga Jakarta : PT BPK Gunung
Mulia.
Harwinta. 2008. Faktor Faktor Yang Mempengaruhi Tingkat Perilaku Hidup Bersih dan
Sehat (PHBS) Tatanan Rumah Tangga Dilokasi Proyek Kesehatan Keluarga dan Gizi
(KKG) Kabupaten Tapanuli Selatan 2004.
Tesis Program Studi Magister Administrasi dan Kebijakan Kesehatan Universitas Sumatra
Utara
Kusumawati, Y,. Astuti, D., Ambarwati. 2008. Hubungan antara Pendidikan dan
Pengetahuan Kepala Keluarga tentang Kesehatan Lingkungan dengan Perilaku
Hidup Bersih dan Sehat(PHBS. Jurnal Kesehatan Masyarakat. Vol. 1,
No.1.Juni.2008