Anda di halaman 1dari 14

MIKOLOGI MEDIK

KRIPTOKOKOSIS
(Cryptococcus neoformans)

ANDI ZSAZSA R M
153112620120043

JURUSAN S1 BIOLOGI MEDIK


FAKULTAS BIOLOGI
UNIVERSITAS NASIONAL JAKARTA
2017
PENDAHULUAN

Penyakit infeksi jamur selama ini masih merupakan penyakit yang relatif jarang
dibicarakan. Akan tetapi akhir-akhir ini perhatian terhadap penyakit ini semakin meningkat
dan kejadian infeksi jamur paru yang semakin sering dilaporkan. Mikosis sistemik diyakini
yang paling berbahaya dari semua infeksi jamur. Hal ini terutama karena mereka menyerang
organ internal dengan langsung masuk melalui paru-paru, saluran pencernaan atau infus. Ini
dapat disebabkan oleh dua kelompok jamur, jamur patogen primer atau jamur oportunistik.
Contoh penyakit jamur milik kelompok pertama meliputi blastomycosis, histoplasmosis,
paracoccidioidomycosis dan coccidiomycosis. Jamur oportunistik umumnya mempengaruhi
orang-orang dengan sistem kekebalan yang lemah atau dengan beberapa cacat metabolisme
yang serius. Salah satu penyakit yang termasuk dalam kategori ini adalah kriptokokosis.

Kriptokokosis adalah mikosis sistemik yang disebabkan oleh Cryptococcus neoformans.


Diketahui bahwa hormon estrogen dapat menghambat pertumbuhan jamur ini secara in vitro,
bersifat kosmopolit yang ditemukan pula di Indonesia. Cryptococcus neoformans merupakan
salah satu jamur yang dapat menginfeksi manusia. Cryptococcus neoformans adalah jamur
tak berkapsul yang bersifat patogen. Didapatkan secara meluas di alam dan sebagian besar
pada tinja burung merpati yang kering. Penyakit yang ditimbulkan biasanya terkait dengan
fungsi imun yang tertekan. Infeksi berupa infeksi subklinik. Cryptococcus neoformans
mampu tumbuh dengan optimal pada suhu 370C berbeda dangan spesies cryptococcus yang
non patogen. Pengobatan yang dapat dilakukan dengan terapi kombinasi amfoterisin B
dengan fluositosin.
TINJAUAN PUSTAKA

A. KRIPTOKOKOSIS

Kriptokokosis merupakan penyakit oportunis sistemik yang disebabkan oleh jamur


Cryptococcus neoformans. Infeksi ini secara luas ditemukan di dunia dan umumnya dialami
oleh penderita dengan sistem imun yang rendah, seperti penderita human immunodeficiency
virus/acquired immunodeficiency syndrome (HIV/AIDS), pasien dengan pengobatan
kortikosteroid jangka panjang, transplantasi organ, dan keganasan limforetikuler. Infeksi oleh
Cryptococcus neoformans terutama menyebabkan meningitis dan meningoensefalitis pada
orang yang terinfeksi HIV/AIDS didiagnosis sebagai kriptokokal meningitis.

B. SEJARAH

Cryptococcus pertama kali ditemukan pada tahun 1894 oleh Busse dan Buschke yang
melaporkan satu kasus pada seorang perempuan usia 31 tahun yang mempunyai ulkus
berukuran besar pada tibianya dan ditemukan pembesaran kelenjar getah bening. Busse
mengobservasi bentuk seperti jamur pada pemeriksaan lesi secara histologi dan kemudian
mengkultur jamur tersebut yang awalnya disebut sebagai Saccharomyces. Isolasi pertama
Cryptococcus dari lingkungan dilaporkan pada tahun 1894 sewaktu Sanfelice mengisolasi
jamur dari buah persik dan dinamakan Saccharomyces neoformans. Pada tahun 1901
Vuillemin mengganti nama jamur itu menjadi Cryptococcus hominis untuk membedakannya
dari bentuk Saccharomyces spp. Pada tahun 1976, Kwon-Chung menemukan dan
menggolongkan sebagai basidiomycete dan dinamakan Filobasidiella neoformans. Akhirnya
pada tahun 2003 seluruh genom C. neoformans dapat ditentukan.
Kasus kriptokokal meningitis pertama yang dipublikasi adalah pada seorang perempuan
usia 29 tahun yang didiagnosis dengan gejala keterlibatan leptomeningen seperti digambarkan
oleh Verse pada tahun 1914. Dua kasus meningitis dilaporkan pada tahun 1916 oleh Stoddard
dan Cutler; pada pemeriksaan patologi jaringan sistem saraf pusat postmortem didapatkan
bentuk jamur dengan daerah terang disekelilingnya.

C. PENYEBAB

Spora dari jamur yang menyebabkan kriptokokosis dihasilkan di permukaan tanah (soil)
dan terbawa dan tersebar kemana-mana oleh angin, lalu terhirup manusia dan menimbulkan
infeksi. Cryptococcus neoformans suka hidup di lingkungan yang tercemar kotoran burung
atau kelelawar. Kriptokokosis atau penyakit yang disebut infeksi jamur Cryptococcus
neoformans terjadi bila seseorang termakan buah-buahan atau terminum susu yang telah
tercemari atau terkontaminasi dengan kotoran burung yang mengandung jamur tersebut.
Mastitis pada lembu bisa pula akibat infeksi jamur Cryptococcus neoformans sehingga
terminum susu lembu yang mengidap mastitis bisa pula mengundang infeksi jamur tersebut.

Gambar : Lingkungan yang tercemar kotoran burung merpati (Columba livia),


merupakan habitat yang cocok untuk khamir Cryptococcus neoformans dan merupakan
sumber infeksi karena jamur mudah terhirup ke dalam saluran napas.

Klasifikasi
Kingdom : Fungi
Phylum : Basidiomycota
Subphylum : Basidiomycotina
Class : Urediniomycetes
Order : Sporidiales
Family : Sporidiobolaceae
Genus : Filobasidiella(Cryptococcus)
Species : Cryptococcus neoformans
Scientific name : Cryptococcus neoformans
Synonym : Filobasidiella neoformans
Other names : Filobaxidiella neoformans

D. MORFOLOGI C. neoformans
Cryptococcus neoformans adalah organisme dimorfik, merupakan basidiomisetes yang
bersifat saprofit, ditemukan di seluruh dunia karena habitatnya adalah pada kotoran burung
dan tanah yang terkontaminasi kotoran burung. Basidiospora berukuran kecil yaitu 1,8 m
sampai 3,0 m, dapat dalam bentuk sel ragi pada suhu 37C atau membentuk hifa dikariotik
pada suhu 24C.
Secara mikroskopis Cryptococcus neoformans di dalam jaringan atau cairan spinal
berbentuk sferis sampai oval dengan diameter 3 m- 10 m, sering bertunas (budding) dan
dikelilingi oleh kapsul yang tebal. Pada agar Sabouraud dengan suhu kamar, koloni yang
terbentuk berwarna kecoklatan, mengkilat, dan mukoid.12 Cryptococcus neoformans
diklasifikasikan kedalam lima serotipe (A, B, C, D, dan AD) dan tiga varietas yaitu C.
neoformans var. neoformans (serotipe D), C. neoformans var. grubii (serotipe A), dan C.
neoformans var. gattii (serotipe B dan C). Pembagian serotipe berdasarkan perbedaan epitop
pada kapsulnya dan perbedaan reaksi aglutinasi pada kapsul sesuai dengan polisakaridanya.
Perbedaan varietas ini berdasarkan pada kemampuan varietas gattii dalam menggunakan
glisin atau prolin sebagai sumber nitrogen satu-satunya sedangkan varietas neoformans/grubii
tidak. Varietas gattii juga resisten terhadap canavanine sedangkan varietas neoformans/grubii
biasanya sensitif. Kesanggupan dalam menggunakan glisin dan ketahanan terhadap
canavanine digunakan dalam membedakan varietas gattii dengan varietas neoformans/grubii.
E. PATOGENESIS DAN PATOFISIOLOGI

Infeksi berawal dari inhalasi sel ragi kecil atau basidiospora yang memicu terjadinya
kolonisasi pada saluran nafas dan kemudian diikuti oleh infeksi. Makrofag pada paru-paru
sangat penting dalam sistem kontrol terhadap inokulasi jamur. Makrofag dan sel dendritik
berperan penting dalam respons terhadap infeksi Cryptococcus. Sel ini berperan dalam
pengenalan terhadap jamur, dalam fagositosis, presentasi antigen, dan aktivasi respons pada
pejamu, serta meningkatkan efektivitas opsonisasi fagositosis terhadap jamur. Pada sel
dendritik reseptor mannose berperan penting untuk pengenalan jamur dan presentasi antigen
terhadap sel T, sel ini bereaksi dengan C. neoformans dan mengekspresikannya ke limfosit
kemudian bermigrasi ke jaringan limfoid. Makrofag memberikan respons terhadap C.
neoformans dengan melepaskan sitokin proinflamasi yaitu IL-1. Sekresi IL-1 mengatur
proliferasi dan aktivasi limfosit T yang penting dalam memediasi pembersihan paru.8,16
Imunitas yang dimediasi oleh sel memiliki peranan penting dalam pertahanan terhadap
Cryptococcus. Pada banyak kasus penyebaran kriptokokosis terjadi pada keadaan defisiensi
sel T CD4+ (HIV/AIDS), imunitas dihubungkan dengan respons sel Th1 yang aktif
menghancurkan C. neoformans. Sel CD4+ dan CD8+ berperan pada jaringan yang terinfeksi.
Limfosit T CD4+ dan CD8+ secara langsung menghambat pertumbuhan jamur melalui
perlekatan terhadap permukaan sel Cryptococcus. Kurangnya atau tidak adanya respons imun
yang baik untuk menginaktifkan dan menghancurkan organisme yang masuk menyebabkan
perluasan dan peningkatan kerusakan sel/jaringan akibat infeksi.

Patogenesis Meningoensefalitis oleh C. neoformans

Mekanisme masuknya organisme ini ke dalam sistem saraf pusat yang menyebabkan
meningoensefalitis tidak diketahui secara jelas. Beberapa hipotesis yang mendukung
dalam menjelaskan mekanismenya adalah bahwa jamur melewati sawar darah otak. Jamur
masuk melalui endotel sawar darah otak yang tersusun atas sel endotel mikrovaskular otak.

Penelitian oleh Ibrahim et al., pada tahun 1995 menunjukkan bahwa C. neoformans
mempunyai kemampuan untuk melekat ke sel endotel dan kemudian mengalami
internalisasi pada sel endotel, selanjutnya menyebabkan kerusakan sel endotel. Tiga
mekanisme yang memungkinkan Cryptococcus melewati sawar darah otak dan memasuki
sistem saraf pusat yaitu: (1) melewati mekanisme transselular langsung, cryptococci
diinternalisasi oleh sel endotel dan keluar melalui permukaan abluminal sel; (2)
mekanisme Trojan Horse, menerangkan bahwa cryptococci diliputi oleh sel fagositik pada
awal infeksi dan kemudian dilewatkan oleh sel pejamu ke sistem saraf pusat; dan (3)
transfer langsung dari fagosit yang terinfeksi ke dalam sel endotel dan kemudian diikuti
oleh pengeluarannya melalui permukaan abluminal sel. Adanya infeksi oleh virus HIV
akan memfasilitasi Cryptococcus melewati sawar darah otak dan akan mengganggu
integritas sawar darah otak dan/atau oleh aktivitasnya yang berperan sebagai suatu trans-
predilection factor.

F. EPIDIEMOLOGY

Cryptococcus neoformans didistribusikan di seluruh dunia. Sebagian besar kasus


melibatkan kriptokokosis serotipe A dan D. serotipe B dan C dibatasi ke daerah-daerah tropis
dan subtropis dan terisolasi dari spesies tertentu pohon kayu putih dan udara di bawah
mereka. Cryptococcus neoformans var neoformans, yang pulih dari kotoran burung merpati
usia, sarang burung, dan guano, adalah selalu serotipe A atau D. Meskipun serotipe A dan D
yang ada dalam konsentrasi tinggi dalam tinja merpati, jamur tidak menginfeksi unggas.
Dalam lembab atau kotoran burung dara kering, neoformans C dapat bertahan hidup selama 2
tahun atau lebih. Dalam lingkungan saprobik, C.neoformans tumbuh unencapsulated, namun,
strain unencapsulated virulensi kembali mereka setelah diperoleh kembali kapsul polisakarida
mereka. Cryptococcus neoformans var gattii biasanya menyebabkan penyakit pada pasien
dengan imunitas diperantarai sel utuh.
Kriptokokosis alami terjadi pada hewan dan manusia, tetapi tidak penularan hewan ke
manusia atau penularan dari orang ke orang melalui rute paru belum didokumentasikan.
Transmisi melalui transplantasi organ telah dilaporkan ketika organ donor yang terinfeksi
digunakan. C. neoformans var neoformans menyebabkan sebagian besar infeksi kriptokokus
pada host imunosupresi, termasuk pasien dengan AIDS, sedangkan C. neoformans var gattii
penyebab 70-80% infeksi kriptokokus diantara host imunokompeten.
Meskipun C. neoformans var neoformans ditemukan di seluruh dunia, C. neoformans var
gattii biasanya diidentifikasi di daerah subtropis seperti Australia, Amerika Selatan, Asia
Tenggara, dan Tengah dan sub-Sahara Afrika. Di Amerika Serikat, C neoformans var gattii
ditemukan di Southern California.
Seperti disebutkan di atas, Cryptococcus neoformans var gattii dapat ditemukan dalam
hubungan dengan pohon-pohon yang berbeda, seperti pohon-pohon karet sungai merah (E
camaldulensis) dan pohon hutan karet merah (E tereticornis). Infeksi diperoleh dengan
menghirup udara ditanggung propagul yang menginfeksi paru-paru dan mungkin memperluas
melalui fungemia untuk melibatkan SSP.
Pada tahun 1999, Cryptococcus neoformans var gattii muncul di Pulau Vancouver, British
Columbia, Kanada. Infeksi telah dilaporkan antara penduduk dan pengunjung ke pulau, serta
antara hewan peliharaan dan liar. Penyakit telah paling sering diidentifikasi pada kucing,
anjing dan musang. mamalia laut juga telah diidentifikasi untuk membawa infeksi. Vektor
dapat membubarkan spora dari daerah endemik ke daerah yang sebelumnya tidak
terpengaruh. Ini mungkin telah menjadi rute penyebaran dalam kasus Pulau Vancouver. Sejak
tahun 2003, penyakit kriptokokus telah menjadi infeksi di tingkat propinsi dilaporkan di
British Columbia. Isolat telah diidentifikasi di cemara Douglas pesisir dan zona hemlock
pesisir barat biogeoclimatic.
Kejadian infeksi yang berhubungan dengan usia, ras, atau pekerjaan tidak secara signifikan
berbeda. orang Sehat dengan riwayat kontak dengan merpati atau kotoran burung dan pekerja
laboratorium terpapar ke aerosol organisme memiliki tingkat yang lebih tinggi reaksi kulit
positif tertunda untuk antigen kriptokokus atau cryptococci. Kadang-kadang, laboratorium
kecelakaan mengakibatkan transmisi neoformans C, tetapi penyakit paru dan disebarluaskan
jarang dalam pengaturan ini. Terkadang inokulasi kulit dengan neoformans C menyebabkan
penyakit kulit yang terlokalisasi.

G. GEJALA KLINIS

Gejala klinis pada kucing berupa infeksi pada rongga hidung, bersin, mucopurulent, serous
(bunyi sengau), hemorrhagi, edema subcutan, juga luka pada kulit yang berupa papula atau
bongkol-bongkol kecil. Luka yang lebih besar cenderung menjadi bisul yang berupa serous
eksudat pada permukaan kulit. Infeksi ini juga dikaitkan dengan penyakit saraf karena
berhubungan dengan perubahan CNS, bahkan bisa mengakibatkan kebutaan. Berbeda dengan
kucing, pada anjing tampak gejala klinis yang berkaitan dengan kerusakan CNS dan
kebutaan.
Gejala klinis lain adalah meningoencephalitis, radang urat saraf yang berhubungan dengan
mata, dan granulomatous chorioretinitis. Kadang juga ditemukan luka di dalam rongga
hidung. Sekitar 50% anjing ditemukan infeksi pada paru-paru, ginjal, kelenjar getah bening,
limpa, hati, gondok, pankreas, tulang, otot, myocardium, glandula prostata, klep hati/jantung,
dan amandel.
Luka yang ditimbulkan berupa massa seperti agar-agar, mengandung banyak
mikroorganisme yang menyebabkan radang di fase granuloma. Luka pada umumnya terdiri
atas kumpulan organisme tanpa capsula di dalam suatu jaringan. Terlihat berupa macrophages
dan sel raksasa dengan beberapa sel plasma dan lymphocytes. Epithelioid sel raksasa dan area
necrosis lebih jarang ditemukan dibandingkan dengan infeksi sistemik mycosis yang lain.

H. PEMERIKSAAN LABORATORIUM

Pemeriksaan C. neoformans yang akan dibahas pada tinjauan ini adalah pemeriksaan
mikroskopis langsung menggunakan tinta India, deteksi antigen, metode enzyme
immunoassay, kultur, dan metode molekular.

Praanalitik Pemeriksaan

Syarat pengumpulan sampel untuk pemeriksaan laboratorium, pemeriksaan mikroskopis


langsung, pemeriksaan kultur, dan serologi adalah sebagai berikut:

sampel diambil secara aseptis sebelum pemberian antifungal, dikumpulkan pada wadah
yang steril dan segera dibawa ke laboratorium

sampel diambil sesegera mungkin setelah timbulnya gejala yang mendukung ke arah
diagnosis

jumlah sampel yang dianjurkan untuk cairan serebrospinal (CSS) adalah >2 mL. Sampel
darah 10-20 mL untuk dewasa dan 4-10 mL untuk anak-anak

1. Pemeriksaan Mikroskopis Langsung

Metode yang digunakan untuk pemeriksaan mikroskopis langsung adalah pewarnaan


dengan tinta India dan dibaca dengan mikroskop cahaya, merupakan pemeriksaan yang
dilakukan untuk mendeteksi kapsul sel jamur C. neoformans.
2. Deteksi Antigen C. neoformans dengan Aglutinasi Lateks

Prinsip Pemeriksaan

Partikel lateks yang dilapisi dengan anti- cryptococcal globulin reagent (ACGR) akan
bereaksi dengan antigen cryptococcus dalam serum atau cairan serebrospinal pasien. Apabila
terdapat antigen cryptococcus dalam sampel yang diperiksa maka akan terbentuk/terlihat
aglutinasi.19

3. Pemeriksaan Berdasarkan Metode Enzyme Immunoassay

Penelitian klinis menunjukkan bahwa enzyme immunoassay digunakan sebagai metode


pendukung untuk pengukuran antibodi IgG pada kriptokokosis. Literatur menyatakan metode
untuk mendeteksi antibodi Cryptococcus yang ada sekarang kurang spesifik dan kurang
sensitif. Tes aglutinasi tabung mendeteksi hanya 30% pasien dengan Cryptococcus,
immunofluorescence assay (IFA) mendeteksi kira-kira 38% kasus dengan Cryptococcus.
Gabungan kedua pemeriksaan tersebut direkomendasikan dengan kemampuan mendeteksi
kira-kira 50% kasus kriptokokosis.

4. Kultur Cryptococcus

Diagnosis kriptokokosis dikonfirmasi dengan melakukan kultur organisme yang


merupakan baku emas dalam diagnosis laboratorium. Media yang paling umum digunakan
untuk kultur jamur adalah Sabourauds Dextrose Agar (SDA). Sabourauds Dextrose Agar
digunakan untuk isolasi dan penanaman jamur.

a. Kultur pada Sabourauds Dextrose Agar

Prinsip Pemeriksaan: Sabourauds Dextrose Agar merupakan media yang mengandung


pepton, glukosa, dan dengan pH rendah yang optimal bagi jamur. Pepton merupakan
sumber nitrogen sedangkan glukosa merupakan sumber energi untuk pertumbuhan jamur.
Glukosa dalam konsentrasi tinggi memberikan suatu keuntungan dalam pertumbuhan
jamur.19

b. Kultur pada Birdseed (NIGER) Agar

Birdseed agar merupakan media selektif, media diferensial yang digunakan untuk isolasi
dan identifikasi C. neoformans dari jamur lainnya termasuk dari spesies cryptococcus yang
lain.
Prinsip pemeriksaan: Cryptococcus neoformans mempunyai aktivitas phenoloksidase,
terdapat di dalam dinding sel yang mampu memetabolisme asam caffeic. Guizotia
abysinics seeds berfungsi sebagai substrat phenoloksidase. C. neoformans menghasilkan
enzim dalam substrat yang akan dikonversi menjadi melanin atau pigmen seperti melanin
menghasilkan warna coklat gelap, sedangkan jamur lain menghasilkan sangat sedikit atau
bahkan tidak menghasilkan enzim sehingga tidak terjadi perubahan warna.

5. Metode Secara Molekular

Pendekatan diagnostik secara molekular yaitu deteksi DNA dengan amplifikasi secara
Polymerase chain reaction (PCR) dan amplifikasi hasil PCR dideteksi secara elektroforesis.

I. PENGOBATAN DAN PENCEGAHAN

MENINGITIS diobati dengan obat antijamur. Beberapa dokter memakai flukonazol. Obat
ini tersedia dengan bentuk pil atau suntikan dalam pembuluh darah (intravena/IV).
Flukonazol lumayan efektif, dan biasanya mudah ditahan (lihat Lembaran Informasi (LI)
534). Itrakonazol kadang kala dipakai untuk orang yang tidak tahan dengan flukonazol.
Dokter lain memilih kombinasi amfoterisin B dan kapsul flusitosin.

amfoterisin B adalah obat yang sangat manjur. Obat ini disuntikkan atau diinfus secara
perlahan, dan dapat mengakibatkan efek samping yang parah. Efek samping ini dapat
dikurangi dengan memakai obat semacam ibuprofen setengah jam sebelum amfoterisin B
dipakai. Ada versi amfoterisin B yang baru, dengan obat dilapisi selaput lemak menjadi
gelembang kecil yang disebut liposom. Versi ini mungkin menyebabkan lebih sedikit efek
samping.

Meningitis kriptokokus kambuh setelah kejadian pertama pada kurang lebih separo orang.
Kemungkinan kambuh dapat dikurangi dengan terus memakai obat antijamur.

Untuk beberapa orang, cairan sumsum tulang belakang harus disedot setiap hari untuk
beberapa lama untuk mengurangi tekanan pada otak. Walau jarang, meningitis kriptokokus
dapat tampaknya kambuh atau menjadi lebih berat bila terapi antiretroviral (ART) dimulai
dengan jumlah CD4 yang rendah, terutama setelah pengobatan sebelumnya. Gejala mungkin
tidak umum. Hal ini disebabkan oleh pemulihan sistem kekebalan tubuh lihat LI 473

Jika kita meningitis, kita diobati dengan obat antijamur seperti amfoterisin B, flukonazol dan
flusitosin. amfoterisin B adalah yang paling manjur, tetapi obat ini dapat merusak ginjal. Obat
lain mengakibatkan efek samping yang lebih ringan, tetapi kurang efektif memberantas
kriptokokus.

Jika meningitis didiagnosis cukup dini, penyakit ini dapat diobati tanpa memakai
amfoterisin B. Namun, pengobatan umum adalah amfoterisin B untuk dua minggu diikuti
dengan flukonazol oral (pil). Flukonazol harus dipakai terus untuk seumur hidup. Tanpa ini,
meningitis kemungkinan akan kambuh.

Memakai flukonazol waktu jumlah CD4 di bawah 50 dapat membantu mencegah


meningitis kriptokokus. Tetapi ada beberapa alasan sebagian besar dokter tidak
meresepkannya:

Sebagian besar infeksi jamur mudah diobati


Flukonazol adalah obat yang sangat mahal
Memakai flukonazol jangka panjang dapat menyebabkan infeksi jamur ragi (seperti
kandidiasis mulut (thrush), vaginitis, atau infeksi kandida parah pada tenggorokan)
yang kebal (resistan) terhadap flukonazol. Infeksi resistan ini hanya dapat diobati
dengan amfoterisin B

Garis Dasar

Meningitis kriptokokus terjadi paling sering pada orang dengan jumlah CD4 di bawah 100.
Walaupun obat antijamur dapat mencegah meningitis kriptokokus, obat ini biasanya tidak
dipakai karena mahal dan risiko mengembangkan infeksi ragi yang resistan terhadap obat
tersebut.

Jika kita meningitis, diagnosis dini mungkin membolehkan pengobatan dengan obat yang
kurang beracun. Kita sebaiknya menghubungi dokter jika kita mengalami sakit kepala, leher
pegal, masalah penglihatan, kebingungan, mual, atau muntah.

Jika kita pernah meningitis, kita harus memakai obat antijamur terus-menerus untuk
mencegah kambuhnya. Namun profilaksis ini dapat dihentikan bila CD4 kita tetap di atas 200
selama enam bulan akibat penggunaan ART.
KESIMPULAN

Cryptococcus neofarmans adalah jamur seperti ragi (yeast like fungus) yang ada dimana-
mana di seluruh dunia. Jamur ini menyebabkan penyakit jamur sistemik yang disebut
cryptococcosis. Jamur ini paling dikenal sebagai penyebab utama meningitis jamur dan
merupakan penyebab terbanyak morbiditas dan mortalitas pasien dengan gangguan imunitas.
Cryptococcus neofarmans dapat ditemukan pada kotoran burung (terutama merpati), tanah,
binatang juga pada kelompok manusia (colonized human). Gejalanya seperti meningitis
klasik yang melibatkan meningitis secara difusi.
DAFTAR PUSTAKA

http://www.academia.edu/8912820/Kriptokokosis_Epidemiologi_Manifestasi_Klinis_dan_Di
agnosis. diakses 5 juni 2017
https://www.scribd.com/document/147108384/MAKALAH-KRIPTOKOKUS. diakses 5 juni
2017
http://ekspresiman.blogspot.co.id/2012/02/penyakit-kriptokokosis.html. diakses 6 juni 2017
https://mikrobia.files.wordpress.com/2008/05/cryptococcus-neoformans-from-the-blank3.pdf.
diakses 5 juni 2017

journal.ui.ac.id/index.php/eJKI/article/view/4018. diakses 6 juni 2017

urnal.fk.unand.ac.id/index.php/jka/article/download/7/5. diakses 6 juni 2017