Anda di halaman 1dari 12

Diagnostik dan Penatalaksanaan pada Otitis Eksterna Maligna

Pendahuluan

Telinga terdiri dari 3 bagian yaitu telinga luar, telinga tengah, dan telinga dalam. Masing-
masing bagian memiliki fungsi yang berbeda namun akan saling berhubungan untuk satu
mekanisme yaitu sebagai alat pendengaran. Otitis eksterna adalah radang liang telinga akut
maupun kronis yang disebabkan infeksi bakteri, jamur dan virus. Faktor yang mempermudah
radang telinga luar adalah perubahan pH di liang telinga yang biasanya normal atau asam. Bila pH
menjadi basa, proteksi terhadap infeksi menurun. Pada keadaan udara yang hangat dan lembab,
kuman dan jamur mudah tumbuh. Predisposisi otitis eksterna yang lain adalah trauma ringan ketika
mengorek telinga. Otitis eksterna dibagi menjadi otitis eksterna akut, kronis, dan maligna. Otitis
eksterna maligna merupakan infeksi yang disertai dengan gangguan di jaringan sekitarnya yaitu
lapisan subkutis, tulang, dan tulang rawan.

Anamnesis

Pada setiap pemeriksaan harus diawali dengan anamnesis atau tanya jawab dengan pasien,
agar dapat mengetahui keluhan apa yang sedang dirasakan oleh pasien. Hal ini sangat membantu
untuk mengetahui penyakit pasien selain dari hasil pemeriksaan fisik dan pemeriksaan penunjang.
Anamnesis yang terarah diperlukan untuk menggali lebih dalam dan lebih luas keluhan utama
pasien. Keluhan utama telinga dapat berupa:1

1. Gangguan pendengaran/pekak (tuli),


2. Suara berdenging/berdengung (tinnitus),
3. Rasa pusing yang berputar (vertigo),
4. Rasa nyeri di dalam telinga (otalgia), dan
5. Keluar cairan dari telinga (otore).

Bila ada keluhan gangguan pendengaran, perlu ditanyakan apakah keluhan tersebut pada satu
atau kedua telinga , timbul tiba-tiba atau bertambah berat secara bertahap dan sudah berapa lama
diderita. Adakah riwayat trauma kepala, telinga tertampar, trauma akustik, terpajan bising,
pemakaian obat ototoksik sebelumnya atau pernah menderita penyakit infeksi virus seperti

1
parotitis , influensa berat dan meningitis. Apakah gangguan pendengaran ini diderita sejak bayi
sehingga terdapat juga gangguan bicara dan komunikasi. Pada orang dewasa tua perlu ditanyakan
apakah gangguan ini lebih terasa ditempat yang bising atau ditempat yang tenang.1
Keluhan telinga berbunyi (Tinitus) dapat berupa suara berdengung atau berdenging , yang
dirasakan di kepala atau telinga , pada satu sisi atau kedua telinga. Apakah tinitus ini disertai
gangguan pendengaran dan keluhan pusing berputar.1
Keluhan rasa pusing berputar(Vertigo) merupakan gangguan keseimbangan dan rasa ingin
jatuh yang disertai rasa mual, muntah , rasa penuh di telinga , telinga berdenging yang mungkin
kelainannya terdapat di labirin. Bila vertigo disertai keluhan neurologis seperti disartri, gangguan
penglihatan kemungkinan letak kelainannya di sentral. Apakah keluhan ini timbul pada posisi
kepala tertentu dan berkurang bila pasien berbaring dan akan timbul lagi bila bangun dengan
gerakan yang cepat. Kadang-kadang keluhan vertigo akan timbul bila ada kekakuan otot-otot leher
. Penyakit diabetes melitus, hipertensi, arteriosklerosis, penyakit jantung, anemia, kanker, sifilis
dapat juga menimbulkan keluhan vertigo dan tinitus.1
Bila ada keluhan nyeri di dalam telinga (Otalgia) perlu ditanyakan apakah pada telinga kiri
atau kanan dan sudah berapa lama . Nyeri alih ke telinga (reffered pain) dapat berasal dari rasa
nyeri di gigi molar atas , sendi lutut, dasar mulut, tonsil atau tulang servikal karena telinga
dipersarafi oleh saraf sensoris yang berasal dari organ-organ tersebut.1
Sekret yang keluar dari liang telinga di sebut otore . Apakah sekret ini keluar dari satu atau dua
telinga, disertai rasa nyeri atau tidak dan sudah berapa lama. Sekret yang sedikit biasanya berasal
dari infeksi telinga luar dan sekret yang banyak dan bersifat mukoid umumnya berasal dari telinga
tengah. Bila berbau busuk menandakan adanya kolesteastom . Bila bercampur darah harus
dicurigai adanya infeksi akut yang berat atau tumor. Bila cairan yang keluar seperti air jernih,
harus waspada adanya cairan likuor serebrospinal.1

Pemeriksaan Fisik

Untuk pemeriksaan telinga, alat yang diperlukan adalah lampu kepala, corong telinga, otoskop,
pelilit kapas, pengait serumen, pinset telinga, dan garputala. Pada pemeriksaan ini pasien diminta
untuk duduk dengan posisi badan condong sedikit ke depan dan kepala lebih tinggi sedikit dari
kepala pemeriksa untuk memudahkan melihat liang telinga dan membran timpani.2

2
1. Pemeriksaan daun telinga dan bagian-bagiannya:
a. Lakukan inspeksi pada setiap daun telinga (kanan dan kiri) dan bagian-bagiannya, apakah
terdapat deformitas, benjolan, atau lesi kulit. Deformitas dapat ditemukan apabila terdapat
trauma. Benjolan yang dijumpai pada saat inspeksi dapat berupa keloid, kista, basal cell
carcinoma, tophi.
b. Lihat kesimetrisan kedua daun telinga.
c. Lihat apakah ada Battles sign pada bagian belakang telinga, yaitu suatu kondisi dimana
terdapat echymosis pada tulang mastoid dan merupakan indikator adanya fraktur pada basis
cranii.
d. Apabila terdapat nyeri pada telinga, adanya discharge atau proses inflamasi maka lakukan
pemeriksaan dengan cara menggerakan daun telinga secara lembut ke atas dan ke bawah
(tug test) serta berikan tekanan lembut pada bagian belakang telinga dari atas ke bawah. Saat
dilakukan tug test akan dijumpai adanya rasa nyeri pada kondisi Otitis Eksterna Akut
(inflamasi pada kanal auditorius) namun tidak pada kondisi Otitis Media.3
2. Pemeriksaan kanal auditorius dan membran timpani:
a. Lakukan pemeriksaan dengan menggunakan otoskop. Pada kondisi otitis eksterna akut dapat
dijumpai tanda inflamasi pada kanal auditorius berupa adanya pembengkakan, penyempitan,
lembab, dan tampak pucat atau bahkan kemerahan. Pada otitis eksterna kronis permukaan
kulit pada kanal auditorius tampak menebal, merah, dan terasa gatal.
b. Periksa ada tidaknya serumen (warna, konsistensinya), benda asing, discharge, kemerahan,
dan atau edema.
c. Inspeksi membran timpani, perhatikan dan catat warna dan konturnya (ada tidaknya
perforasi, sklerosis). Warna normal pada membran timpani adalah merah muda keabu-
abuan. Pada otitis media akut purulenta dapat dijumpai warna merah membesar pada
membran timpani yang disertai adanya pengeluaran cairan. Pada kondisi sklerosis maka akan
dijumpai area pada membran timpani yang berwarna keputihan dengan batas tidak rata.3
Perhatikan gambar 1.

3
Gambar 1. Membran Timpani Normal Telinga Kanan (sumber:
http://otitismedia.hawkelibrary.com/normal/tm_2)

Tes pendengaran sederhana/klasik (tes alorji, tes berbisik, tes garpu tala): Berfungsi untuk
menentukan derajat ketulian secara kasar. Lakukan pemeriksaan dalam kondisi ruangan yang
betul-betul tenang. Pemeriksaan dilakukan dari jarak 1-2 feet = 30,5-61 cm = 0,3-0,6 .

Pada tes berbisik: Semi kuantitatif.


Lakukan pemeriksaan dari samping. Tutup telinga lain yang belum diperiksa dengan jari dan
pastikan pasien tidak membaca gerakan bibir pemeriksa.
Gunakan angka atau kata yang tediri dari 2 suku kata yang beraksen sama tiga-lima, bola-bata,
dan seterusnya. Minta pasien untuk mengulangi kata atau angka yang telah disebutkan.3

Tes garputala: Semi kualitatif.


Menggunakan garpu tala yang memiliki frekuensi 512 Hz, diletakkan pada tulang mastoid telinga
yang diperiksa selama 2-3 detik, kemudian dipindahkan ke depan liang telinga selama 2-3 detik.
Pasien menentukan mana yang terdengar lebih keras. Jika bunyi terdengar lebih keras bila
garputala diletakkan di depan liang telinga berarti telinga yang diperiksa normal atau menderita
tuli sensorineural (rinne +). Bila bunyi yang terdengar lebih keras di tulang mastoid, maka telinga
yang diperiksa menderita tuli konduktif (rinne-).3
Tes rinne, membandingkan hantaran tulang (BC) dengan hantaran udara (AC) pada telinga yang
diperiksa. Perhatikan gambar 2.

4
Gambar 2. Tes Rinne (sumber:
http://ners.unair.ac.id/materikuliah/MP_PEMERIKSAAN%20FISIK%20TELINGA_NEW.pdf)

Tes weber, membandingkan hantaran tulang telinga kiri dengan telinga kanan. Ditanyakan pada
telinga mana yang terdengar lebih keras. Pada keadaan normal pasien mendengar suara di tengah
atau tidak dapat membedakan telinga mana yang terdengar lebih keras. Bila pasien mendengar
lebih keras pada telinga sehat (lateralisasi ke telinga sehat) berarti telinga yang sakit mengalami
tuli sensorineural. Bila pasien mendengar lebih keras pada telinga yang sakit (lateralisasi ke telinga
yang sakit) berarti telinga yang sakit mengalami tuli konduktif. Perhatikan gambar 3.3

Gambar 3. Tes Weber (sumber:


http://ners.unair.ac.id/materikuliah/MP_PEMERIKSAAN%20FISIK%20TELINGA_NEW.pdf)

Tes schwabach, membandingkan hantaran tulang telinga orang yang diperiksa dengan pemeriksa
yang pendengarannya normal.3

Pemeriksaan Penunjang

1. Laboratorium
Pada pemeriksaan laboratorium, dapat ditemukan adanya peningkatan jumlah leukosit, laju
endap darah dan gula darah sewaktu. Pemeriksaan kultur yang diperoleh dari sekret liang

5
telinga sangat diperlukan untuk sensitivitas antibiotik. Penyebab utamanya adalah P.
aeruginosa. Organisme ini merupakan bakteri aerob, dan gram negatif. Pseudomonas sp
mempunyai lapisan yang bersifat mukoid yang digunakan pada saat fagositosis. Eksotoksin
dapat menyebabkan jaringan mengalami nekrosis dan beberapa golongan lainnya menghasilkan
neurotoksin yang dapat menimbulkan neuropati.
Kadang kadang juga ditemukan Aspergillus dan Proteus species, Staphylococcus
aureus, dan Staphylococcus epidermidi.4
2. Radiologi
CT scan dapat menunjukkan adanya dekstruksi tulang di sekitar dasar tulang tengkorak dan
meluas ke intrakranial. Pemeriksaan dengan teknik nuklir baik digunakan pada stadium awal.
Scan Technetium (99Tc) methylene diphosphonate menunjukkan area yang mengalami
osteogenesis dan osteolisis. Sedangkan Gallium (67Ga) menunjukkan jaringan lunak yang
mengalami inflamasi.4
3. Histopatologi

Mekanisme invasi liang telinga berhubungan dengan nekrosis tulang. Proses infeksi meluas ke
submukosa dan terdapat destruksi tulang. Pada gambaran histology juga dapat terlihat rusaknya
jaringan menunjukkan luasnya nekrosis pada lapisan epidermis dan dermis disertai infiltrate
PMN. Kartilago dikelilingi oleh jaringan inflamasi dan tampak destruksi. Pada dinding
pembuluh darah menunjukkan hialinisasi. Tulang mastoid menunjukkan adanya sel sel
inflamasi akut.4

Diagnosis Kerja

Otitis eksterna maligna merupakan tipe dari infeksi akut yang difus yang biasanya terjadi
pada penderita penyakit diabetes mellitus. Radang dapat meluas secara progresif ke lapisan
subkutis dan organ sekitarnya sehingga dapat menimbulkan kelainan berupa kondritis, oeteitis,
dan osteomielitis yang mengakibatkan kehancuran tulang temporal. Gejalanya rasa gatal yang
diikuti nyeri yang hebat dan sekret yang banyak serta pembengkakkan liang telinga.5
Saraf fasial dapat terkena sehingga dapat menimbulkan paresis atau paralysis facial.
Pengobatan tidak boleh ditunda-tunda yaitu dengan pemberian antibiotic dosis tinggi yang
dikombinasi dengan amino glikosid. Disamping obat-obatan, juga diperlukan tindakan
debrideman. Otitis eksterna maligna (otitis eksterna pada pasien diabetes usia lanjut) dimulai pada

6
otitis eksterna Pseudomonas Aeruginosa yang biasa, tetapi terutama mengenai pasien berusia
lanjut, yang tidak berespon dengan terapi yang biasa, serta bila tidak diterapi atau diterapi dengan
cara yang tidak sesuai akan menyebabkan kematian pasien. Rata-rata mulai timbulnya otitis
eksterna maligna pada sekelompok besar pasien usia tua. Walaupun biasanya penyakit ini terjadi
pada penderita diabetes , kadang-kadang terjadi pada pasien leukemia. Pasien dengan otitis
eksternal mengeluh otalgi dan peka terhadap pergerakan telinga. Otore dapat timbul dan
berkurangnya pendengaran karena tertutupnya liang telinga oleh edema dan sekresi. Pada
pengobatan otitis eksterna pasien lanjut usia, perlu diingat akan kemungkinan otitis eksterna
maligna yaitu suatu infeksi berat pada tulang temporal dan jaringan lunak telinga. Pada beberapa
kasus, pasien datang dengan disfungsi saraf kranial ketujuh dan pemeriksaan telinga yang normal.
Pencitraan diagnostik yang menyeluruh termasuk CT scan, scan tulang, dan scan gallium dapat
membantu menentukan adanya penyakit ini. Scan tulang rutin saja tidak cukup untuk membedakan
otitis eksterna yang berat dengan otitis eksterna nekrotikans.5

Diagnosis Banding

Otitis Eksterna Difusa


Otitis eksterna difusa (OED) dikenal juga sebagai telinga cuaca panas ( hot weather ear), telinga
perenang ( swimmer ear). OED merupakan kasus umum dibagian THT di daerah-daerah tropis
dan subtropis pada musim panas. OED biasanya mengenai kulit liang telinga duapertiga dalam.
Tampak kulit liang telinga hiperemis dan udem yang tidak jelas batasnya. Kuman penyebab
biasanya golongan pseudomonas atau kuman lain Staphylococcus albus, escherichia coli.
Gejalanya adalah nyeri tekan tragus, liang telinga sangat sempit, kadang kelenjar getah bening
regional membesar dan nyeri tekan, terdapat sekret berwarna kehijauan yang berbau, sekret ini
tidak mengandung lendir (musin) seperti sekret yang keluar dari kavum timpani pada otitis media.
Dengan semakin berkembangnya penyakit, pasien merasa sakit bila daun telinga disentuh dan bila
mengunyah. Bila peradangan tidak ditanggulangi secara adekuat, maka rasa sakit, gatal serta sekret
yang berbau akan menetap. Meskipun banyak faktor penyebab OED, beberapa diantaranya dikenal
sebagai faktor penunjang yang penting untuk terjadinya OED akut pada seseorang. Maserasi kulit
liang telinga yang terpapar lama oleh kelembaban menimbulkan rasa gatal yang mendorong
penderita mengorek telinga sehingga akan terjadi trauma pada kulit dan mengakibatkan infeksi.

7
Peningkatan kasus OED terjadi apabila suhu meningkat pada lingkungan yang kelembabannya
relatif tinggi.5

Otitis eksterna sirkumskripta

Oleh karena kulit di sepertiga luar telinga mengandung adneksa kulit. Seperti folikel rambut,
kelenjar sebasea dan serumen, maka ditempat itu dapat terjadi infeksi pilosebaseus, sehingga
membentuk furunkel. Kuman penyebab biasanya staphylococcus aureus atau staphylococcus
albus. Gejalanya adalah rasa nyeri yang hebat tidak sesuai dengan besar bisul, hal ini disebabkan
karena kulit liang telinga tidak mengandung jaringan longgar dibawahnya, sehingga rasa nyeri
timbul pada penekanan perikondrium. Rasa nyeri dapat juga timbul spontan pada saat membuka
mulut (sendi temporomandibularis). Selain itu juga dapat gangguan pendengaran bila furunkel
besar dan menyumbat liang telinga. Terapi tergantung pada keadaan furunkel. Bila sudah menjadi
abses, diaspirasi secara steril untuk mengeluarkan nanahnya. Local diberikan antibiotika dalam
bentuk salep seperti polymixin b atau bacitrasin atau antiseptic ( asam asetat 2-5% dalam alcohol).
Kalau dinding furunkel tebal dilakukan insisi kemudian dipasang drain untuk mengeluarkan
nanahnya. Biasanya tidak diperlukan pemberian antibiotika secara sistemik, hanya diberi obat
analgetik dan obat penenang.5

Herpes zoster otikus

adalah penyakit yang disebabkan oleh infeksi virus varicella zoster. Virus ini menyerang satu atau
lebih dermatom saraf kranial. Dapat mengenai saraf trigeminus, ganglion genikulatum, dan radiks
servikalis bagian atas. Keadaan ini disebut juga sindroma Ramsay Hunt. Tampak lesi kulit
vesikuler pada kulit di daerah muka sekitar liang telinga, otalgia, dan terkadang disertai paralisis
otot wajah. Pada keadaan berat ditemukan gangguan pendengaran berupa tuli sensorineural.
Pengobatan sesuai dengan tatalaksana Herpes zoster yaitu antiviral acyclovir cream maupun oral.5

Penatalaksanaan

Ada tiga aspek dalam pengobatan otitis eksterna nekrotikans. Yang paling penting adalah
mengontrol gula darah pada pasien diabetes mellitus. Mastoidektomi atau reseksi parsial pada
dasar tengkorak mungkin diperlukan jika ada gangguan saraf fasial. Antibiotik sebaiknya
diberikan sejak awal, dalam dosis yang adekuat dan dalam waktu yang lama.6

8
Pengobatan harus cepat diberikan sesuai dengan hasil kultur dan resistensinya. Karena
kuman penyebab tersering adalah Pseudomonas aeruginosa, maka diberikan antibiotik dosis
tinggi yang sesuai dengan Pseudomonas aeruginosa. Sementara menunggu hasil kultur dan
resistensi, diberikan golongan fluoroquinolone (ciprofloxasin) dosis tinggi per oral. Pada keadaan
yang lebih berat diberikan antibiotika parenteral kombinasi dengan antibiotika golongan
aminoglikosida yang diberikan selama 6 8 minggu. Pemberian antibiotik sistemik kini
merupakan bentuk utama terapi. Pemberian antibiotik digunakan untuk mencegah komplikasi dan
morbiditas. Antibiotika yang sering digunakan adalah ciprofloxasin, ticarcilin-clavulanat,
piperacilin (dikombinasi dengan aminoglikosida), ceftriaxone, ceftacidin, cefepime (maxipime),
tobramicin (kombinasi dengan aminoglikosida), gentamicin (kombinasi dengan golongan
penisilin). Konsultasi telinga, hidung, dan tenggorok (THT) harus dilakukan sesegera mungkin
setelah diagnosis dicurigai.6

Di samping pemberian obat obatan sering kali diperlukan tindakan debridement secara
radikal. Tindakan debridement yang kurang bersih dapat menyebabkan semakin cepatnya
penyebaran penyakit. Pembedahan sebaiknya dibatasi pada pengangkatan sekuestra, drainase
abses dan debridement lokal jaringan granulasi. Tanda awal adanya respon terapi terhadap
penyakit adalah berkurangnya rasa nyeri. Diabetes yang terkontrol juga merupakan tanda awal
adanya perbaikan. Pengobatan otitis eksterna nekrotikans sebaiknya harus berkelanjutan sampai
infeksi betul betul hilang. Ini membutuhkan waktu perawatan yang lama di rumah sakit dan
penggunaan antibiotik sampai enam minggu.6

Etiologi

Otitis eksterna maligna merupakan infeksi yang menyerang liang telinga luar dan tulang temporal.
Organisme penyebab umumnya oleh Pseudomonas aeroginosa, meskipun sangat jarang dapat
juga dijumpai S. aureus, Proteus dan Aspergillus. Umumnya menyerang pasien dengan diabetes
yang berusia tua, serta pasien dengan disfungsi imun selular. Infeksi dimulai dengan otitis eksterna
yang progresif menjadi osteomielitis pada tulang temporal. Penyebaran penyakit keluar dari liang
telinga luar melalui fissura santorini dan hubungan antara tulang dan tulang rawan.5

Kecenderungan Otitis eksterna maligna umumnya ditemukan pada kondisi berikut:

9
1. Diabetes (90 % ) merupakan faktor resiko utama berkembangnya otitis eksterna maligna.
Vaskulopati pembuluh darah kecil dan disfungsi imun yang berhubungan dengan diabetes
merupakan penyebab utama predisposisi ini. Serumen pada pasien diabetes mempunyai pH
yang lebih tinggi dan menurunnya konsentrasi lizosim mempengaruhi aktifitas antibakteri
lokal. Akibat adanya faktor immunocompromize dan mikroangiopati, otitis eksterna berubah
menjadi otitis eksterna maligna. Tidak ada perbedaan antara DM tipe I dan II.
2. Immunodefisiensi seperti gangguan proliferasi limfosit atau adanya immunosupresi karena
penggunaan obat.
3. AIDS
4. Irigasi telinga, dilaporkan sebanyak 50% kasus otitis eksterna maligna karena trauma irigasi
telinga pada pasien diabetes.5

Epidemiologi

Di Amerika Serikat, Otitis eksterna maligna lebih banyak timbul di tempat dengan iklim lembab
dan basah daripada iklim lain, lebih banyak pada laki-laki dibandingkan dengan perempuan, dan
dilaporkan menyerang semua kelompok umur, tetapi lebih banyak pada pasien yang lebih tua.7

Prognosis

Otitis eksterna maligna membutuhkan waktu pengobatan yang cukup lama, apabila lama
pengobatan tidak sesuai maka manifestasinya berupa sakit kepala dan otalgia. Angka rekurensi
dari penyakit ini adalah 9-27% dari kasus yang ada, biasanya terjadi karena lama pengobatan yang
kurang. Angka kematian mencapai 50% tanpa pengobatan, dan berkurang sampai 20% dengan
ditemukannya antibiotik yang cocok. Untuk sekarang ini angka kematian menurun hingga 10%,
tetapi kematian tetap tinggi pada pasien dengan neuropati atau adanya komplikasi intrakranial.5,7

Komplikasi

Komplikasi otitis eksterna maligna yang dapat terjadi meliputi lower cranial
neuropathies,paresis atau paralisis nervus fasial, meningitis, abses otak dan kematian.

10
Pada otitis eksterna maligna peradangan meluas secara progresif ke lapisan subkutis, tulang rawan,
dan ke tulang disekitarnya, sehingga timbul kondritis, osteitis, osteomielitis, yang menghancurkan
tulang temporal.6

Pencegahan

Pencegahan dapat dilakukan dengan berbagai cara seperti :


1. Mengubah kebiasaan buruk seperti suka mengorek telinga dengan dalam.
2. Jangan gunakan cotton bud karena kotoran justru akan terdorong ke dalam.
3. Jangan gunakan anting-anting yang berat.
4. Cegah masuknya air ketika mandi atau berenang, karena kulit yang basah dan lembut
mudah terinfeksi oleh bakteri dan jamur.
5. Cegah masuknya air/bahan iritan (hair spray, cat rambut).8

Kesimpulan

Otitis eksterna maligna merupakan peradangan difus yang terjadi pada telinga luar dan struktur
lain disekitarnya. Banyak terjadi pada orang tua dengan riwayat penyakit diabetes melitus, dan
gangguan imunitas. Kuman penyebab tersering adalah Pseudomonas aeruginosa. Manifestasi
klinisnya dapat berupa rasa gatal di liang telinga yang dengan cepat diikuti oleh nyeri , secret yang
banyak serta pembengkakan liang telinga. Kemudian rasa nyeri tersebut akan semakin hebat, liang
telinga tertutup oleh jaringan granulasi yang cepat tumbuhnya. Saraf fasial dapat terkena, sehingga
menimbulkan paresis atau paralisis fasial. Perlu pengobatan segera dan adekuat dengan antibiotik
yang sesuai dengan kuman penyebab, dan membutuhkan waktu yang cukup lama. Untuk kasus
berat dengan adanya neuropati dan komplikasi intrakranial dapat menyebabkan kematian.

Daftar Pustaka

1. Soepardi EA. Pemeriksaan telinga, hidung, tenggorok kepala dan leber. Dalam: Soepardi EA,
Iskandar N, Bashiruddin J, Restuti RD. Buku ajara ilmu kesehatan telinga hidung tenggorok
kepala dan leher. Edisi ke-6. Jakarta: Badan Penerbit FKUI, 2011.h. 1-3.
2. Delp, Manning. Major diagnosis fisik. Jakarta: EGC;2006.h.127-42.

11
3. Widyawati IY. Manual prosedur pemeriksaan fisik pada telinga. Edisi, 10 Januari 2012.
http://ners.unair.ac.id/materikuliah/MP_PEMERIKSAAN%20FISIK%20TELINGA_NEW.p
df, 21 Maret 2015.
4. Schapowal A. Otitis externa: a clinical overview. Ear Nose Throat J. 2002;81(8 suppl 1): 21-
2.
5. Soepardi EA. Pemeriksaan telinga, hidung, tenggorok kepala dan leber. Dalam: Soepardi EA,
Iskandar N, Bashiruddin J, Restuti RD. Buku ajara ilmu kesehatan telinga hidung tenggorok
kepala dan leher. Edisi ke-6. Jakarta: Badan Penerbit FKUI, 2011.h. 52-6.
6. Broek P., F. Debruyne, L. Feenstra, H.A.M. Marres. Buku Saku Ilmu Kesehatan Tenggorok,
Hidung, dan Telinga Edisi 12. Jakarta: Penerbit Buku EGC. 2009.
7. Bhandary S, Karki P, Sinha BK. Malignant otitis externa: a review. Edition, 2002.
Downloaded from http://www.pacifichealthdialog.org.fj/Volume%209/No.%201%20-
%20Emergency%20Health%20In%20The%20Pacific/Review%20Papers/Malignant%20Otit
is%20Externa%20a%20review.pdf, 20th March 2015.
8. Thaller,Seth . Diagram diagnostik penyakit telinga hidung dan tenggorokan,
Jakarta:EGC;2005.h.1-5.

12