Anda di halaman 1dari 34

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 LATAR BELAKANG

Untuk mempelajari adanya kehidupan yang ada di masa lampau, kita


dapat meneliti hasil dari gejala-gejala geologi yang sudah atau yang sedang
terjadi di masa sekarang. The present is the key to the past. Sedimentologi
adalah ilmu yang mempelajari batuan sedimen, meliputi pembentukan batuan
sedimen dan proses sedimentasinya. Mempelajari, mengenali dan menafsirkan
struktur sedimen, macam model species, dan lingkungan pengendapannya.

Batuan sedimen merupakan salah satu batuan penyusun kerak bumi,


mempunyai penyebaran yang sangat luas di bandingkan batuan beku dan
metamorf. Pembentukan batuan sedimen dapat melalui berbagai proses dan
media sehingga batuan ini dapat terbentuk di permukaan bumi (daratan) maupun
di lautan. Proses pembentukan batuan sedimen diawali oleh pengangkatan
batuan yang sudah ada. Selanjutnya batuan akan mengalami proses pelapukan,
erosi dan pengendapan pada cekungan-cekungan di permukaan bumi. Endapan
sedimen tersebut kemudian mengalami pembebanan dari endapan yang
berikutnya sehinga mengalami diagenesis. Apabila batuan sedimen yang
terbentuk mengalami pengangkatan kembali maka batuan tersebut akan muncul
lagi ke permukaan bumi. Selanjutnya proses pembentukan sedimen terulang
kembali. Proses tersebut disebut siklus sedimentasi.

Dalam mempelajari batuan sedimen, tidak cukup hanya dengan


mempelajari teori-teori yang didapat pada perkuliah saja, tetapi juga harus dapat
melihat keadaan sebenarnya di lapangan, karena keadaan di lapangan jauh
berbeda dengan teori-teori yang diberikan di perkuliahan. Namun pada dasarnya
terdapat keterkaitan yang erat antara teori dan keadaan lapangan. Oleh sebab itu
penelitian ini akan mengkaji lebih jauh tentang pembentukan batuan sedimen,
proses/siklus sedimentasi, struktur dan jenis-jenis, serta lingkungan
pengendapannya.
1.2 RUMUSAN MASALAH

Adapun yang menjadi rumusan masalah dalam penulisan laporan ini


antara lain sebgai berikut:

1. Bagaimana pembentukan batuan sedimen dan proses sedimentasinya?


2. Bagaimana struktur perlapisan pada batuan sedimen?
3. Apa saja jenis-jenis batuan sedimen?
4. Dimanakah lingkungan pengendapan batuan sedimen?

1.3 MAKSUD DAN TUJUAN


a. Maksud
Adapun maksud diadakannya praktikum ini adalah sebagai media
untuk mahasiswa agar lebih memahami secara mendetail proses sedimentasi
pada batuan serta pengaruh-pengaruh apa saja yang terlibat dalam rangkaian
proses transportasi.
b. Tujuan
Adapun yang menjadi tujuan dalam penulisan laporan ini antara lain
sebagai berikut:
1. Mahasiswa dapat mengetahui segala proses pengendapan batuan dan
proses sedimentasinya!
2. Mahaiswa mampu membedakan struktur perlapisan batuan sedimen!
3. Mahasiswa dapat mengetahui jenis-jenis batuan sedimen!
4. Mahasiswa dapat mengetahui lingkungan pengendapan batuan sedimen!

1.4 ALAT DAN BAHAN


Alat dan bahan yang digunakan dalam praktikum sedimentologi pada
pengambilan sampel sedimen adalah sebagai berikut:
1. Palu geologi
2. Gps
3. Kompas
4. Mistar
5. Kantong sampel
6. Polpen dan buku
7. Sepidol permanen dan
8. kamera.

1.5 WAKTU DAN TEMPAT

Praktikum lapangan sedimentologi ini dilakukan pada hari Minggu 6 Mei


2012, dimulai tepat 07:00 bertempat di sungai Bone Kabupaten Bone Bolango.
Pengambilan sampel sedimen dilakukan di 6 (enam) titik/stasiun, diantaranya
yaitu: stasiun 1 (pada sebuah singkapan), stasiun 2 (pada kontak batuan), stasiun
3 (pada endapan sungai), stasiun 4 (pada perlapisan endapan), stasiun 5 (pada
sungai mati) dan stasiun 6 (pada point bar) yang ada di daerah sungai.

1.6 GAMBARAN UMUM LOKASI

Sungai Bone Kabupaten Bone Bolango Provinsi Gorontalo, tepatnya di


daerah talumolo. Perjalanan dari pusat kota membutuhkan waktu 15 menit untuk
mencapai daerah tersebut. Daerah ini merupakan salah satu lintasan sungai Bone
yang bermuara di teluk Tomini. Sungai Bone merupakan salah satu sumber
penghidupan bagi masyarakat Bone Bolango dan gorontalo, karena sungai ini
sumber air minum bagi masyarakat. Di daerah ini juga terdapat sebuah
pertambang rakyat, yang mana limbah dari pertambangan tersebut
dialihkan/dibuang langsung di sungai Bone. Akibat aktifitas pertambangan yang
ada serta adanya pemukiman penduduk di sekitar, sungai menjadi tercemari.

Geomorfologi daerah ini di dominasi oleh pegunungan dan perbukitan


yang terjal. Tidak terlepas dari gejala geologinya di sini juga terdapat sebuah
singkapan batuan, kontak batuan beku berformasi dengan batuan sedimen,
bahkan pataha dan sesar pun ada.

Pohon kelapa terbentang luas disekitar daerah sungai, yang menandakan


adanya kegiatan pertanian di daerah ini. Warga sekitar mempunyai mata
pencaharian yang heterogen, jadi ada yang sebagai penambang ada juga sebagai
petani dll.
BAB II
GEOLOGI REGIONAL

2.1 FISIOGRAFI GORONTALO

Secara geografis provinsi gorontalo berada pada bagian paling barat dari
Provinsi induk kira-kira antara 00 2010 3 LU dan 1210 101230 2 BT.
Wilayah ini umumnya merupakan pegunungan dan menyisakan hanya sedikit
dataran yaitu: terutama dibagian tengah antara paguyaman dan sekitar danau
limboto dan di pesisir Selatan pohuwato. Pada musim kemarau atau di sebut
sebagai musim barat. Suhu bisa mencapai 330 C , tetapi bisa turun hingga 200 C
pada musim timur dengan curah hujan tinggi .

Secara fisiografis, yaitu pembagian zona bentang alam yang merupakan


representasi batuan dan struktur geologinya, Gorontalo dapat dibedakan ke
dalam empat zona fisiografis utama, yaitu:
1. Zona Pegunungan Utara Tilongkabila-Boliohuto
2. Zona Dataran Interior Paguyaman-Limboto
3. Zona Pegunungan Selatan Bone-Tilamuta-Modello dan
4. Zona Dataran Pantai Pohuwato.

Zona Pegunungan Utara Tilongkabila-Boliohuto umumnya terdiri dari


formasi-formasi batuan gunungapi yang berumur Miosen-Pliosen (kira-kira 23
juta hingga 2 juta tahun yang lalu). Umumnya terdiri dari batuan beku
intermedier hingga asam, yaitu batuan-batuan intrusif berupa diorit, granodiorit,
dan beberapa granit. Batuan lainnya merupakan batuan sedimenter bersumber
dari gunung api terdiri dari lava, tuf, breksi, atau konglomerat. Asosiasi batuan-
batuan tersebut membawa pada kandungan mineral logam yang berharga,
khususnya emas. Tambang-tambang emas rakyat tersebar di zona ini, seperti di
Dutula Nantu, sungai yang berasal dari Pegunungan Boliohuto (+ 2065 m).
Namun, hampir seluruh zona ini merupakan bagian dari Taman Nasional Bogani
Nani Wartabone atau Suaka Marga Satwa Nantu, sehingga eksplorasi yang lebih
besar terhadap kandungan emas sulit untuk dilaksanakan. Namun justru dengan
demikian, hal itu merupakan cadangan dan pusaka Gorontalo yang dapat
diwariskan kelak di masa yang akan datang jika terjadi masa-masa yang paling
sulit.

Zona kedua merupakan cekungan di tengah-tengah Provinsi Gorontalo,


yaitu Dataran Interior Paguyaman-Limboto. Dataran yang cukup luas yang
terbentang dari Lombongo sebelah timur Kota Gorontalo, menerus ke Gorontalo,
Danau Limboto, hingga Paguyaman, dan Botulantio di sebelah barat, merupakan
pembagi yang jelas antara pegunungan utara dan selatan. Dataran ini merupakan
cekungan yang diduga dikontrol oleh struktur patahan normal seperti dapat
diamati di sebelah utara Pohuwato di Pegunungan Dapi-Utilemba, atau di utara
Taludaa di Gunung Ali, Bone.

Di Dataran Paguyaman hingga Danau Limboto, menurut Peta Geologi


Lembar Tilamuta (Bachri, dkk. 1993), pada Kala Pleistosen (sejak 2 juta tahun
yang lalu), pernah merupakan danau yang sangat luas. Bahkan, pada waktu yang
sedikit lebih tua, yaitu pada Plio-Pleistosen, perbukitan sekeliling Danau
Limboto adalah laut dangkal dengan terumbu karang, seperti Taman Wisata Laut
Olele, tetapi pada waktu 2 juta tahun yang lalu. Sejak itu, proses-proses tektonik
telah mengangkat laut ini menjadi lebih dangkal yang akhirnya surut. Setelah
menjadi dataran, cekungan ini menjadi danau yang luas. Tetapi kembali terjadi
proses pendangkalan hingga sekarang dan hanya menyisakan Danau Limboto
kira-kira seluas 56 km dengan kedalaman 2,5 m yang merupakan kedalaman
terdangkal dari seluruh danau di Indonesia (Lehmusluoto dan Machbub, 1997).
Proses-proses tektonik pengangkatan daratan yang memang aktif di Indonesia
Timur menyebabkan drainase menjadi lebih baik. Air danaupun berproses
menyurut dan sekarang ditambah dengan proses sedimentasi dari perbukitan di
sekilingnya yang mempercepat proses pendangkalan Danau Limboto.
Zona Pegunungan Selatan Bone-Tilamuta-Modello umumnya terdiri dari
formasi-formasi batuan sedimenter gunung api berumur sangat tua di Gorontalo,
yaitu Eosen-Oligosen (kira-kira 50 juta hingga 30 juta tahun yang lalu) dan
intrusi-intrusi diorit, granodiorit, dan granit berumur Pliosen. Batuan gunung api
tua umumnya terdiri dari lava basalt, lava andesit, breksi, batu pasir dan batu
lanau, beberapa mengandung batu gamping yang termetamorfosis. Seperti
halnya di utara, asosiasi batuan-batuan tersebut juga membawa pada kandungan
mineral logam emas yang ditambang secara manual oleh rakyat, seperti di Bone
Pantai, Tilamuta, dan Gunung Pani, Marisa.
Zona terakhir adalah zona yang relatif terbatas di Dataran Pantai
Pohuwato. Dataran yang terbentang dari Marisa di timur hingga Torosiaje dan
perbatasan dengan Provinsi Sulawesi Tengah di barat, merupakan aluvial pantai
yang sebagian besar tadinya merupakan daerah rawa dan zona pasang-surut.
Hingga sekarang, di bagian selatan, masih didapati rawa-rawa bakau (mangrove)
yang luas, yang sebenarnya merupakan rumah bagi burung endemis Wallacea,
burung maleo.
Dari zona fisiografis di atas, dapat dikatakan bahwa morfologi Gorontalo
umumnya merupakan daerah pegunungan yang berrelief terjal, kecuali di
Dataran Interior dan Dataran Aluvial Pantai. Batas-batas pegunungan terbentang
hingga pantai. Pantai-pantai yang ada, baik di utara ke Laut Sulawesi, maupun di
selatan ke Teluk Tomini, hanyalah pantai-pantai sempit atau berbatu-batu. Relief
yang terjal memang sangat rawan terhadap longsor ataupun jatuhan batu. Erosi
pun akan menjadi sangat peka jika lingkungan hutan pada lereng terjal berubah.
Tetapi kondisi alam tersebut, dengan masih kecilnya pengaruh kerusakan
lingkungan, menciptakan pemandangan yang mempesona, seperti contohnya
sebuah teluk yang masih asri di sepanjang perjalanan dari Kwandang ke
Atinggola di Kabupaten Gorontalo Utara.
BAB III
TINJAUAN PUSTAKA

3.1 BATUAN SEDIMEN (SEDIMENTARY ROCK)

Kata sedimen berasal dari bahasa latin sedimentum, yang berarti


penenggelaman atau secara sederhana dapat diartikan dengan endapan,
yang digunakan untuk material padat yang diendapkan oleh fluida. Batuan
sedimen adalah batuan yang terbentuk sebagai hasil dari rombakan batuan
lainnya (batuan beku, batuan metamorf, atau batuan sedimen itu sendiri) melalui
proses pelapukan (weathering), erosi, pengangkutan (transport), dan
pengendapan, yang pada akhirnya mengalami proses litifikasi atau pembatuan.
Mekanisme lain yang dapat membentuk batuan sedimen adalah proses
penguapan (evaporasi), longsoran, serta erupsi gunungapi.

Batuan sedimen hanya menyusun sekitar 5% dari total volume kerak


bumi. Tetapi karena batuan sedimen terbentuk pada permukaan bumi, maka
meskipun jumlahnya relatif sedikit akan tetapi dalam hal penyebaran batuan
sedimen hampir menutupi batuan beku dan metamorf. Batuan sedimen menutupi
sekitar 75% dari permukaan bumi.

Proses pembentukan batuan sedimen

Pelapukan

Pelapukan (weathering) merupakan perusakan batuan pada kulit


bumi karena pengaruh cuaca (suhu, curah hujan, kelembaban, atau angin).
Karena itu pelapukan adalah penghancuran batuan dari bentuk gumpalan
menjadi butiran yang lebih kecil bahkan menjadi hancur atau larut dalam
air. Pelapukan dapat dibagi menjadi 3, yaitu:

1. Pelapukan fisika, adalah proses dimana batuan hancur menjadi bentuk


yang lebih kecil oleh berbagai sebab, tetapi tanpa adanya perubahan
komposisi kimia dan kandungan mineral batuan tersebut yang
signifikan. Yang termasuk proses pelapukan fisika antara lain yaitu:
o Frost wedging, disebsbkan oleh pembekuan air di dalam rekahan
batuan. Proses ini merupakan proses pelapukan terpenting pada
daerah yang iklimnya memungkinkan adanya proses pencairan dan
pembekuan batuan yang berulang-ulang. Volume air akan
meningkat sekitar 9% apabila mengalami pembekuan. Peningkatan
volume ini memungkinkan untuk menjadikan rekahan batuan
menjadi lebih besar.
o Pengembangan dan penyusutan, proses ini sering terjadi pada
daerah yang perbedaan temperatur antara siang dan malam relatif
besar. Pada siang hari, karena panas, batuan akan mengembang,
sedang pada malam hari temperatur turun dan batuan mengalami
penyusutan. Proses pengembangan dan penyusutan yang terjadi
berulang kali menyebabkan batuan akan pecah.

o Pelepasan beban, proses ini terjadi karena adanya pengikisan


lapisan penutup batuan (overburden). Pelepasan beban ini
menyebabkan terjadi rekahan pada batuan yang sejajar dengan
topografi. Proses ini akan membentuk rekahan batuan seperti
perlapisan, sehingga sering disebut sheeting, proses ini sering
terjadi pada batuan yang homogen seperti granit.

2. Pelapukan kimia, adalah proses dimana adanya perubahan komposisi


kimia dan mineral dari batuan. Beberapa proses pelapukan kimia yaitu:
o Hidrolisis, merupakan reaksi kimia yang penting antara mineral
silikat dengan air yang menyebabkan terlepasnya kation logam dan
silikat. Mineral yang mengandung aluminium akan menghasilkan
mineral lempung selain ion logam dan silikat. Mineral ortoklas
akan menghasilkankolonit, sedang albit akan menghasilkan mineral
kaolinit atau montmorilonit.
o Hidrasi, adalah proses penambahan molekul air pada mineral untuk
membentuk mineral baru. Concohnya adalah penambahan molekul
air pada hematit yang membentuk gutit, atau pada anhidrit yang
membentuk gipsum.
o Oksidasi, terutama terjadi pada mineral silikat yang mengandung
besi seperti biotit dan piroksin. Proses ini akan membentuk mineral
oksida besi.
o Pelarutan, proses ini terutama terjadi pada mineral yang mudah
larut oleh air yang mengandung CO2 seperti kalsit, dolomit, dan
gipsum.
o Pertukaran ion, proses pelapukan ini sangat penting pada
perubahan jenis mineral lempung menjadi jenis mineral lempung
yang berbeda. Proses ini merupakan pertukaran antara ion-ion
didalam mineral. Contohnya adalah pertukaran antara ion Na dan
Ca yang terdapat dalam mineral.
o Chelation, merupakan penggabungan ion logam dengan molekul
organik yang mempunyai srtuktur cincin.
Kecepata pelapukan kimia sngat tergantung pada iklim dan
komposisi mineral serta ukuran batuan. Proses pelapukan lebih cepat
terjadi pada daerah yang beriklim panas dan basah daripada daerah
yang beriklim dingin dan kering.

3. Pelapukan biologi, penyebabnya adalah proses organisme yaitu


binatang, tumbuhan dan manusia. Binatang yang dapat melakukan
pelapukan antara lain cacing tanah dan serangga.

Erosi
Erosi adalah suatu pengikisan dan perubahan bentuk batuan, tanah
atau lumpur yang disebabkan oleh kekuatan air, angin, es, pengaruh gaya
berat dan organisme hidup. Erosi tidak sama dengan pelapukan, yang mana
merupakan proses kimiawi maupun fisik, atau gabungan keduanya.

Transportasi

Transportasi adalah pengangkutan suatu material (partikel) dari suatu


tempat ke tempat lain oleh suatu gerakan media (aliran arus) hingga media
dan material terhenti (terendapkan). Media transportasi (fluida) antara lain
gravitasi, air, es, dan udara.

Gerakan fluida dapat terbagi ke dalam dua cara yang berbeda.


1. Aliran laminar, semua molekul-molekul di dalam fluida bergerak
saling sejajar terhadap yang lain dalam arah transportasi. Dalam fluida
yang heterogen hampir tidak ada terjadinya pencampuran selama aliran
laminar.
2. Aliran turbulen, molekul-molekul di dalam fluida bergerak pada semua
arah tapi dengan jaring pergerakan dalam arah transportasi. Fluida
heterogen sepenuhnya tercampur dalam aliran turbulen.

Gambar 1 Aliran Laminar dan aliran turbulen


Partikel semua ukuran digerakkan di dalam fluida oleh salah satu
dari tiga mekanisme.
1. Menggelinding (rolling), di dasar aliran udara atau air tanpa kehilangan
kontak dengan permukaan dasar.
2. Saltasi (saltation), bergerak dalam serangkaian lompatan, secara
periode meninggalkan permukaan dasar dan terbawa dengan jarak yang
pendek di dalam tubuh fluida sebelum kembali ke dasar lagi.
3. Suspensi (suspension), turbulensi di dalam aliran dapat menghasilkan
gerakan yang cukup untuk menjaga partikel bergerak terus di dalam
fluida.

Gambar 2 Perilaku partikel dalam pergerakan fluida

Sedimentasi
Sedimentasi adalah proses pengendapan sedimen oleh media air,
angin, atau es pada suatu cekungan pengendapan pada kondisi P dan T
tertentu. Pettijohn (1975) mendefinisikan sedimentasi sebagai proses
pembentukan sedimen atau batuan sedimen yang diakibatkan oleh
pengendapan dari material pembentuk atau asalnya pada suatu tempat yang
disebut dengan lingkungan pengendapan berupa sungai, muara, danau,
delta, estuaria, laut dangkal sampai laut dalam.

Sedimentasi dari angkutan sedimen secara menggelinding atau


rolling akan membentuk struktur sedimen cross bed, ripple mark, imbrikasi
kerakal, sesuai dengan arah aliran fluidanya. Sedimen tersuspensi yang
diendapkan akan membentuk struktur laminasi. Pengendapan sedimen oleh
air, mempunyai ukuran butir sangat bervariasi, mulai dari lempung sampai
berangkal atau bahkan bolder. Sedang yang diendapkankan oleh angin
mempunyai ukuran butir mulai dari lempung sampai pasir. Pada gravitasi,
pengendapan terjadi bersamaan dengan hilangnya kecepatan aliran.
Endapan yang terbentuk tidak mengalami pemilihan dan pembundaran,
kecuali oleh endapan arus turbid.

Litifikasi

Proses perubahan sedimen lepas menjadi batuan disebut litifikasi.


Salah satu proses litifikasi adalah kompaksi atau pemadatan. Pada waktu
material sedimen diendapkan terus -menerus pada suatu cekungan. Berat
endapan yang berada di atas akan membebani endapan yang ada di
bawahnya. Akibatnya, butiran sedimen akan semakin rapat dan rongga
antara butiran akan semakin kecil. Proses lain yang merubah sedimen lepas
menjadi batuan sedimen adalah sementasi. Material yang menjadi semen
diangkut sebagai larutan oleh air yang meresap melalui rongga antar butiran,
kemudian larutan tersebut akan mengalami presipitasi di dalam rongga antar
butir dan mengikat butiran- butiran sedimen. Material yang umum menjadi
semen adalah kalsit, silika dan oksida besi.

3.2 KLASIFIKASI BATUAN SEDIMEN

Berdasarkan material penyusunnya, batuan sedimen di bedakan menjadi


tiga yaitu: material Ekstrabasinal, material Intrabasinal dan material Karbonan
(carbonaceous).
1. Material Ekstrabasinal; yaitu sumber materialnya berasal dari luar
cekungan pengendapan. Contohnya material piroklastik (butiran mineral/
fragmen dari aktivitas gunungapi) dan material penyusun lainnya
(mineral lempung dan oksida besi/mineral sekunder) keduanya disebut
sebagai material terigen (material asal daratan) oleh proses pelapukan.
2. Material Intrabasina; yaitu mineralnya terbentuk pada cekungan
pengendapan oleh proses biokimia, bisa berupa mineral silikat maupun
nonsilikat.
3. Material Karbonan (carbonaceous); banyak mengandung material
organik yang barasal dari sisa-sisa tumbuhan yang mengalami
dekomposisi dan diendapkan pada lingkungan darat. Kandungan
organisme berasal dari rombakan baik tumbuhan maupun binatang yang
berasal dari daratan dan lautan.

Berdasarkan proses terjadinya, maka batuan sedimen terbagi menjadi


empat kategori, yaitu:
1. Terrigeneous Clastics
Terbentuk dari hasil rombakan batuan lainnya melalui proses
pelapukan, erosi, transportasi, sedimentasi dan pembatuan (litifikasi).
Pelapukan yang berperan disini adalah pelapukan yang bersifat fisika.
Contoh: breksi, konglomerat, batupasir, batulempung.
2. Biochemical-Biogenic-Organic Deposits
Batuan sedimen ini terbentuk dari akumulasi bahan-bahan organik
(baik flora maupun fauna) dan proses pelapukan yang terjadi pada umumnya
bersifat kimia. Contoh: batugamping, batubara, rijang, dll.
3. Chemical Precipitates-Evaporates
Batuan sedimen jenis ini terbentuk dari akumulasi kristal-kristal dan
larutan kimia yang diendapkan setelah medianya mengalami penguapan.
Contoh: gipsum, batugaram, dll.
4. Volcaniclastics (Pyroclastic)
Batuan sedimen jenis ini dihasilkan dari akumulasi material-material
gunungapi. Contoh: agglomerat, tuf, breksi, dll.

Material Sedimen Silisiklastik

Hasil dari proses pelapukan dan aktivitas gunungapi akan


mengalami proses pengikisan dari tempat yang tinggi, kemudian mengalami
pengangkutan/transportasi, dan selanjutnya mengalami proses pengendapan
di cekungan-cekungan permukaan bumi. Proses pengangkutan material
sedimen dilakukan baik oleh udara/angin, air, es atau proses-proses yang
disebabkan oleh gravitasi yang biasanya menyertakan air.
Transport sedimen oleh aliran fluida dapat dibedakan menjadi dua
tahap. Pertama adalah proses erosi dan pengangkatan sedimen dari dasar
saluran.

1. Pengangkatan sedimen dari dasar saluran (Particle Entrainment),


Proses pengangkatan sedimen pada dasar saluran kedalam aliran terjadi
apabila kecepatan dan gaya gesek fluida meningkat. Akibat peningkatan
ini sedimen pada dasar saluran akan mulai naik dan berada di dalam
aliran. Mula-mula butiranya yang kecil dan ringan terangkat,
selanjutnya dengan meningkatnya gaya gesek fluida meningkat butiran
yang lebih besar mulai terangkat

2. Setting velocity, kecepatan pengendapan material sedimen tergantung


pada viskositas fluida, ukuran, bentuk, dan densitas dari partikel
sedimen.

3. Sedimen loads and transport; bedload transport, pengangkutan


sedimen yang selalu dekat atau pada dasar saluran. Material yang
diangkut pada umumnya yang berbutir kasar.

Material Sedimen Nonsilisiklastik

Proses pelapukan kimia menghasilkan material terlarut. Material


terlarut akan mengalami pengangkutan, baik oleh air permukaan maupun
oleh aier tanah langsung menuju ke laut. Sebagian material terlarut tersebut
dapat terendapkan di danau dan membentuk batuan sedimen non marine
seperti betu gamping air tawar, chert, dan evaporit. Sebagian besar lainnya
mengalami pengangkutan ke laut, dimana material terlarut akan tetap berada
dalam air laut untuk jangka waktu yang lama, dari ratusan hingga jutaan
tahun. Waktu yang dibutuhkan suatu unsur kimia tetap berada dalam larutan
sebelum mengalami kristalisasi disebut residence time.

Pengangkutan Unsur-Unsur Kimia


Sebagian besar unsur-unsur terlarut di dalam air sungai akan
langsung diangkat ke laut tetap sebagai larutan. Beberapa ion seperti Ca,
Mg, dan Na diserap oleh mineral lempung dan diangkut bersama dengan
mineral lempung tersebut. Sedang ion Fe dan ion logam lainnya dapat
diangkut bersama dengan organisme yang menyerap ion-ion tersebut.

Beberapa unsur kimia ada juga yang terangkut sebagai koloid.


Material ini biasanya mempunyai ukuran sangat halus sekitar 10-3 -10-6
mm;dan biasanya bermuatan listrik. Unsur-unsur yang terangkut sebagai
koloid antara lain silika (negtif), Fe hidroksida (positif), karbonat
(positif), dan material organik (negatif).

Pengendapan Unsur-Unsur Telarut

Proses pengendapan unsur-unsur telarut atau pembentukan batuan


sedimen nonsilisiklastik dikontrol oleh kondisi kimia dan biokimia
lingkungan pengendapannya.
Kontrol Kimia
Faktor pengontrol kimia yang sangat penting ialah Eh dan pH.
PH adalah sifat keasaman atau kebasaan dari larutan. Harga pH berkisar
antara 0-14. PH 7 merupakan larutan yang netral, jika lebih besar dari 7
larutan bersifat basa, sedang bila kurang dari 7 larutannya bersifat asam.
Sedangkan Eh adalah potensial oksidasi dan reduksi. Harga Eh berkisar
dari -1 sampai +1.
Kontrol Biokimia
o Penyerapan kalsium karbonat oleh organisme dilaut seperti algae,
koral, dan moluska, untuk membangun cangkang dan rangkanya.
o Penyerapan silika oleh radiolaria dan diatomea untuk membangun
cangkangnya.
o Penyerapan CO2 oleh tumbuhan dilaut seperti algae biru-hijau,
untuk fotosintesis.
o Bakteri dapat juga membantu proses sedimentasi material kimia,
meskipun prosesnya belum diketahui benar.
Proses Pengendapan Batuan Sedimen Nonsilisiklastik

Ada beberapa batuan sedimen nirsilisiklastik utama, yaitu:


o Batuan Kalsium Karbonat
Batu Gamping
- Pengendapan Kalsium Karbonat
- Presipitasi inorganik Kalsium Karbonat
- Presipitasi biogenik kontrol kedalaman

Dolomit
Dolomit adalah batuan karbonat yang disusun oleh
mineral dolomit [Ca Mg(CO3) 2] lebih dari 50%. Batuan ini
tersebar cukup luas pada batuan yang berumur Prakambrium
hingga holosen, meskipun kebanyakan batuan ini berumur
Paleosoik atau lebih tua.dolomit terbentuk berasosiasi dengan
batugamping dan Evaporit. Pembentukanya oleh reaksi kimia.

o Endapan Evaporit (batu garam)


o Endapan Silika (Rijang)
o Sedimen kaya besi
o Sedimen fosforit

3.3 TEKSTUR SEDIMEN

Bentuk Butir (particle shape)


Merupakan morfologi dari suatu partikel sedimen,yang
mencangkup hubungan antara ketiga aspek yang berbeda pada butiran
sedimen. Ketiga aspek tersebut adalah bentuk keseluruhan (form),
kebundaran (roundness) dan tekstur permukaan. Bentuk umum merupakan
gambaran keseluruhan dari butiran, dan menggambarkan kenampakan tiga
dimensi dari butiran sedimen. Kebundaran umumnya menggambarkan
ketajaman bentuk tepi-tepi butiran sedimen, dan umumnya
menggambarkan kenampakan dua dimensi. Sedangkan tekstur permukaan
merupakan kenampakan pada relief permukaan butiran sedimen seperti
goresan dan atau lubang pada permukaan butiran.
Ditentukan dengan bantuan chart dan gunakan istilah:
o Sangat menyudut (very angular)
o Menyudut (angular)
o Menyudut tanggung (subangular)
o Membundar tanggung (subrounded)
o Membundar (rounded)
o Sangat membundar (very Rounded)

Gambar Bentuk butir

Ukuran Butir (grain size)


Klasifikasi Wentworth (1922) ini merupakan skala geometrik dan
merupakan kelipatan dua atau setengah dari ukuran butir sebelumnya.
Klasifikasi ini mempunyai rentang ukuran butir dari <1/256 mm (0,0039
mm) sampai > 256 mm dan dibagi menjadi 4 kategori ukuran utama, yaitu
lempung, lanau, pasir, dan grafel (Tabel 1).
Modifikasi ukuran butir juga dilakukan dengan menggunakan
satuan (phi) yang sering digunakan dalam ploting grafik dan kalkulasi
statistik. Harga satuan merupakan harga negatif dari logaritma ukuran
butir dalam milimeter dengan bilangan pokok 2.
Tabel 1. Klasifikasi Skala Wentworth

3.4 STRUKTUR SEDIMEN


Secara garis besar struktur sedimen terbagi menjadi dua katagori, yaitu:
1. Struktur sedimen primer (depositional structures), struktur sedimen yang
terbentuk bersamaan dengan terbentuknya suatu batuan, contohnya adalah:
graded bedding, parallel lamination, ripple mark, dune and sand wave,
cross stratification, shrinkage crack (mud crack), flacer, lenticular, dll.
2. Struktur sedimen sekunder (post-deposition structures), struktur sedimen
yang terbentuk setelah proses litifikasi. Struktur sedimen sekunder meliputi:
Struktur erosional, terbentuk karena erosi, contohnya: flute cast,
groove cast, tool marks, scour marks, channel, dll.
Struktur deformasi, terbentuk oleh adanya gaya, contohnya: slump,
convolute, sand dyke, dish, load cast, nodule, dll.
Struktur biogenik, terbentuk oleh adanya aktivitas makhluk hidup,
contohnya: bioturbation, trace fossils, rootlet bed, dll.
BAB IV
PEMBAHASAN

4.1 SINGKAPAN
Singkapan dalam bahasa Inggris disebut out-crop atau crop-out,
dapat diartikan sebagai sesuatu yang terselubung yang kemudian mengalami
suatu proses atau peristiwa, sehingga menyebabkannya tampak atau kelihatan.
Akan tetapi dalam ilmu geologi dan ilmu yang berkaitan dengannya, singkapan
mempunyai arti yang lebih luas, tidak terbatas pada penelenjangan sesuatu benda
atas lapisan penutupnya sehingga kelihatan, melainkan termasuk juga yang
langsung terbentuk dipermukaan bumi yang dapat diamati. Singkapan geologi
dapat berupa materi penyusun bumi dalam bentuk batuan, susunan dan struktur
geologi, bentuk-bentuk bentang alam (geomorf) serta gejala-gejala lainnya yang
dapat diamati atau memberikan kesan yang dapat menunjukkan adanya suatu
singkapan.
Segala sesuatu yang termasuk bentuk-bentuk arsi tektonik lapisan bumi
serta aspek-aspek lain terbentuk selama terjadinya struktur geologi. Singkapan
struktur geologi dapat dalam wujud lipatan, kekar dan sesar ataupun berupa
gejala-gejala yang dapat menunjukkan adanya struktur geologi di suatu daerah.

STASIUN 1
Kondisi cuaca : cerah
Waktu : 07:00
Tanggal : 6 Mei 2012
Koordinat : N 00o 31 42, 0 E 123o 04 32, 3
Arah : N 186o

Pada lokasi ini dapat dilihat adanya singkapan, yang berupa sedimen
karbonat. Sedimen karbonat banyak mengandung material organik yang barasal
dari sisa-sisa tumbuhan yang mengalami dekomposisi dan diendapkan pada
lingkungan darat. Kandungan organisme berasal dari rombakan baik tumbuhan
maupun binatang yang berasal dari daratan dan lautan.
Batuan di lokasi ini merupakan batuan yang berasal dari batu karang
yang kemudian terangkat (mengalami pengangkatan) akibat adanya aktivitas
tektonik (tenaga endogen) sebagai agen yang bersifat sekunder. Batuan ini
terbentuk oleh organisme, karena banyak mengandung material organik.
Material organik tersebut berasal dari sisa-sisa tumbuhan yang mengalami
dekomposisi. Sedimen karbonat ini mempunyai dua warna, yaitu:
1. Warna hitam; mencerminkan warna yang sudah lapuk dan
2. Coklat muda; sebagai warna asli batuan.

Perbedaan warna tersebut selain dapat membedakan antara warna batuan


yang sudah lapuk dan batuan yang masih segar, juga dapat membedakan dimana
batuan tersebut terbentuk serta materi penyusunnya.
4.2 KONTAK BATUAN
STASIUN 2

Kondisi cuaca : panas


Waktu : 07:30
Tanggal : 6 Mei 2012
Koordinat : N 00o 31 33, 1 E 123o 04 33, 5
Arah : N 121o
Pada stasiun 2 terdapat adanya kontak batuan, antara batuan beku di
sebelah kiri dan batuan sedimen karbonat sebelah kanan. Keduanya memiliki
warna yang berbeda sehingga dapat di diidentifikasi perbedaan batuannya.
Batuan beku yang berwarna coklat-kemerahan/merah-kekaratan karena kaya
akan kandungan besi (Fe). Batuan ini mudah lapuk karena kandungan Fe-nya
mudah beroksidasi dengan udara. Sedangkan batuan sedimen karbonat berwarna
coklat muda.

4.3 PENGARUH ISOLASI BOLAK-BALIK (ENDAPAN SUNGAI)

Sungai dan cabang-cabang sungai ternyata tidak hanya mengangkut air,


tetapi juga sedimen. Air yang mengalir di saluran disepanjang saluran sungai,
mampu memobilisasi sedimen dan mengangkutnya kebagian-bagian hilir, baik
yang berbentuk partikel berukura kasar (bed load), partikel berukuran halus
(suspended load) atau partikel yang larut dalam air (dissolved load). Kecepatan
pengangkutan sedimen sangat tergantung ketersediaan sedimen yang ada serta
material sedimen yang masuk kedalam sungai.
STASIUN 3
Kondisi cuaca : panas

Waktu : 08:30

Tanggal : 6 Mei 2012

Koordinat : N 00o 31 54, 8 E 123o 04 48, 8

Arah : N 99o

Pada stasiun ini terdapat endapan sedimen sungai yang di pengaruhi oleh
arus isolasi bolak-balik sehingga terbentuk endapan yang seperti ombak.
Endapan tersebut mengandung besi dengan warna hitam, namun tidak
terlihat/nampak pada gambar karena ukurannya yang sangat halus dan juga
mengandung lempung yang berwarna coklat muda. Endapan yang mengandung
besi tersebut berasal dari batuan yang telah mengalami pelapukan dengan
kandungan yang sama, kemudian tertransportasi dan akhirnya terendapkan.
4.4 STRUKTUR SEDIMEN SUNGAI (PERLAPISAN) KUARTER
STASIUN 4
Kondisi cuaca : panas

Waktu : 09:00

Tanggal : 6 Mei 2012

Koordinat : N 00o 31 52, 5 E 123o 04 58, 7

Arus : 265o

Diatas permukaan Bumi, air akan mengalir melalui jaringan pola aliran
sungai menuju bagian-bagian yang rendah. Setiap pola aliran mempunyai daerah
pengumpulan air yang dikenal sebagai daerah aliran sungai atau disingkat
sebagai DAS atau drainage basin. Dalam perjalanannya melalui cabang-
cabangnya menuju ke sungai utama dan kemudian bermuara di laut, air yang
mengalir dipermukaan melakukan kegiatan-kegiatan mengikis, mengangkut dan
mengendapkan bahan-bahan yang dibawanya.

Terdapat proses pengendapan yang dihasilkan oleh aliran sungai. Dengan


berbagai macam materi yang terangkut/terbawa oleh air dapat membentuk
struktur sedimen/bidang perlapisan pada daerah aliran ini. Lapisan-lapisan yang
terbentuk tersebut dapat berupa: lapisan halus, lapisan krikil, lapisan lempung
dan lapisan kasar. Lapisan kasar, terbentuk oleh aktifitas arus yang deras karena
arus tersebut dapat membawa material kasar. Hal ini biasanya terjadi pada saat
musim hujan/banjir. Sedangkan lapisan halus terbentuk oleh aktifitas arus yang
tenang, karena arus ini tidak mampu/tidak dapat membawa material kasar hanya
membawa material yang halus dan biasanya terjadi pada musim kemarau.

Lapisan-lapisan sedimen sungai yang terbentuk dari lapisan yang paling


bawah/rendah, serta ketebalan lapisannya, yaitu:

o Pasir halus, dengan ketebalan 35 cm


o Lempung, dengan ketebalan 6 cm
o Keriki,l dengan ketebalan 5 cm
o Pasir sedang, dengan ketebalan 6 cm
o Kerikil, dengan ketebalan 5 cm
o Kerikil-lempung, dengan ketebalan 3 cm
o Lempung, dengan ketebalan 7 cm
o Pasir halus, dengan ketebalan 16 cm dan
o Lempung, dengan ketebalan 27 cm

Masing-masing lapisan diatas mempunyai ketebalan yang berbeda-beda,


ini karena adanya pengaruhi baik dari, material-material lapisan, waktu/periode
pengendapannya dan yang terpenting yaitu arus/aliran air itu sendiri.

4.5 SUNGAI MATI


STASIUN 5
Kondisi cuaca : panas

Waktu : 11:00

Tangga : 6 Mei 2012

Koordinat : N 00o 31 55, 7 E 123o 05 24, 8

Arus :

Pada stasiun ini dulunya merupakan salah satu daerah aliran air (sungai)
namun sekarang telah kering atau tidak lagi terdapat air yang mengalir ataupun
menggenang pada lokasi ini, oleh karena itu disebut sungai mati. Walaupun
sudah bukan termasuk daerah aliran sungai, daerah ini masih merupakan daerah
dataran banjir karena lokasinya yang berdekatan dengan sungai yang satu serta
kemungkinan terjadi pengendapan di daerah ini.

Sama halnya daerah aliran yang lain, pengendapan mungkin saja terjadi
pada lokasi ini. Pengambilan sampel dilakukan dengan menggalih lubang pada
kedalaman 20 cm, yang tujuannya agar sampel yang diambil benar-benar hasil
pengendapan sedimen. Endapannya berupa pasir halus dengan warna coklat
muda.
4.6 POINT BAR (ENDAPAN PINGGIR SUNGAI)
STASIUN 6

Kondisi cuaca : panas

Waktu : 01:00

Tanggal : 6 Mei 2012

Koordinat : N 00o 32 00, 0 E 123o 05 55, 5

Arah : N 134o

Pada stasiun ini, terdapat endapan point bar atau biasa disebut endapan
pinggir sungai, cara pengambilan sampelnya sama seperti stasiun 5, yakni pada
kedalaman 20 cm. Pengendapan pada stasiun ini terdiri dari: pasir, kerikil, dan
batu-batu ukuran kecil.
BAB V
PENUTUP

5.1 KESIMPULAN

Berdasarkan uraian di atas dapat dapat diambil kesimpulan antara lain


yaitu, sebagai berikut:

Sedimentologi adalah ilmu yang mempelajari batuan sedimen, meliputi


pembentukan batuan sedimen dan proses sedimentasinya. Mempelajari,
mengenali dan menafsirkan struktur sedimen, macam model species, dan
lingkungan pengendapannya.
Batuan sedimen adalah batuan yang terbentuk sebagai hasil dari rombakan
batuan lainnya (batuan beku, batuan metamorf, atau batuan sedimen itu
sendiri) melalui proses pelapukan (weathering), erosi, pengangkutan
(transport), dan pengendapan, yang pada akhirnya mengalami proses
litifikasi atau pembatuan.
Aliran arus air dapat menentukan ukuran butir batuan, bila aliran arusnya
tenang maka butirannya halus, begitu juga sebaliknya.
Lingkungan pengendapan yang terdapat di stasiun 1-6 di dominasi oleh
lingkungan sungai, yakni melalui media air.
LAMPIRAN 1

PETA PENGAMBILAN SAMPEL


LAMPIRAN
LAMPIRAN

PROFIL

NAMA : ULFIYANTI

NIM : 471 410 001

JURUSAN/PRODI : PEND. FISIKA/GEOLOGI

SEMESTER/ANGKATAN : 4 (EMPAT)/2010
DAFTAR PUSTAKA

Bachri, S. Sukido, dan N. Ratman (1993), Peta Geologi Lembar Tilamuta, Sulawesi,
skala 1:250.000, Bandung , Puslitbang Geologi.

Lobeck, A.K., 1939, Geomorphology: an Introduction to the study of Landscape,


New York and London: Mc Graw-Hill Book Company. Inc.

Rice, R.J., 1980, Fundamentals of Geomorphology, Second Edition, W H Freeman


and Company.