Anda di halaman 1dari 36

LAPORAN PRAKTIKUM SEDIMENTOLOGY

Daerah aliran
Desa Kulowoka, kec. Sumalata Timur, kab. Gorut, Prov. Gorontalo.

Disusun Oleh
Tober Mardain
471413005

Dosen pengampu:
Muh kasim, S.T., M.T

PRODI TEKNIK GEOLOGI


JURUSAN ILMU DAN TEKNOLOGI KEBUMIAN
FAKULTAS MATEMATIKA DAN IPA
UNIVERSITAS NEGERI GORONTALO

2015
KATA PENGANTAR

Puji syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT, yang telah melimpahkan
rahmat dan hidayah-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan Laporan Praktikum Mata
Kuliah Sedimentologi ini. Kemudian sholawat dan salam atas Nabi Muhammad SAW yang
diutusan Allah untuk menuntun semua hamba (manusia), dan keluarga serta sahabat yang
mengikuti petunjuk-Nya.
Dalam penulisan Laporan praktikum ini tidak sedikit hambatan dan kesulitan yang
penulis hadapi. Penulis menyadari bahwa Laporan Praktikum ini tidak akan terselesaikan
dengan baik tanpa dukungan, motivasi, nasehat dan bantuan dari berbagai pihak. Oleh karena
itu dalam kesempatan ini penulis mengucapkan terima kasih kepada, Bapak Kasim selaku
dosen mata kuliah sedimentologi dan teman-teman yang telah banyak membantu. Semoga
bantuan dan petunjuk yang telah diberikan memperoleh imbalan, rahmat dan hidayah dari
Allah SWT. Aamiin.
Penulis menyadari bahwa masih banyak terdapat kekeliruan, baik dari segi sistematika
maupun konsepsi keilmiahannya. Sehingganya penulis sangat berharap kepada para pembaca
yang budiman agar kiranya dapat memberikan kritikan maupun saran yang sifatnya
membangun demi kesempurnaan penyusunan makalah pada masa-masa mendatang. Semoga
bermanfaat bagi semua pihak. Terima kasih.

Gorontalo, Juni 2015

Penulis

1
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR...................................................................................................................i
DAFTAR ISI................................................................................................................................ii
BAB 1 PENDAHULUAN...........................................................................................................1
1.2 Maksud dan Tujuan............................................................................................................1
1.3 Alat dan Bahan...................................................................................................................2
1.4 Sistematika Penulisan........................................................................................................2
1.5 Lokasi dan Waktu...............................................................................................................3
1.6 Peneliti Terdahulu..............................................................................................................3
BAB 2 GEOLOGI REGIONAL.................................................................................................5
2.1 Geomorfologi.....................................................................................................................5
2.2 Stratigrafi...........................................................................................................................6
2.3 Struktur Geologi dan Tektonik...........................................................................................8
BAB III TINJAUAN PUSTAKA...............................................................................................9
3.1 Fisiografi Daerah Penelitian...............................................................................................9
3.2 Pengertian Sedimen..........................................................................................................12
3.2.1 Proses Sedimentasi....................................................................................................12
3.2.2 Tekstur Batuan Sedimen............................................................................................19
3.2.3 Struktur Batuan Sedimen...........................................................................................20
BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN..................................................................................22
4.1 Hasil Penelitian................................................................................................................22
4.1.1 Stastiun 1...................................................................................................................22
4.1.2 Stasiun 2....................................................................................................................22
4.1.3 Stasiun 3....................................................................................................................24
4.1.4 Stasiun 4....................................................................................................................24
4.1.5 Stasiun 5....................................................................................................................25
4.1.6 Stasiun 6...................................................................................................................25
4.1.7 stasiun 7.....................................................................................................................26
4.2 Geologi Dan Pengendapan Batuan Sedimen Disungai Kulowoka..................................27
BAB V KESIMPULAN............................................................................................................29
DAFTAR PUSTAKA.................................................................................................................30

2
3
BAB 1
PENDAHULUAN

Batuan sedimen merupakan salah satu batuan penyusun kerak bumi, mempunyai
penyebaran yang sangat luas di bandingkan batuan beku dan metamorf. Pembentukan batuan
sedimen dapat melalui berbagai proses dan media sehingga batuan ini dapat terbentuk di
permukaan bumi (daratan) maupun di lautan. Proses pembentukan batuan sedimen diawali
oleh pengangkatan batuan yang sudah ada. Selanjutnya batuan akan mengalami proses
pelapukan, erosi dan pengendapan pada cekungan-cekungan di permukaan bumi. Endapan
sedimen tersebut kemudian mengalami pembebanan dari endapan yang berikutnya sehinga
mengalami diagenesis. Apabila batuan sedimen yang terbentuk mengalami pengangkatan
kembali maka batuan tersebut akan muncul lagi ke permukaan bumi. Selanjutnya proses
pembentukan sedimen terulang kembali. Proses tersebut disebut siklus sedimentasi.

Sehingganya perlu dilakukan penelitian mengenai karakteristik serta proses setiap


pembentukan batuan didaerah aliran sungai tersebut. Dalam mempelajari batuan sedimen,
tidak cukup hanya dengan mempelajari teori-teori yang didapat pada perkuliah saja, tetapi
juga harus dapat melihat keadaan sebenarnya di lapangan, karena keadaan di lapangan jauh
berbeda dengan teori-teori yang diberikan di perkuliahan. Namun pada dasarnya terdapat
keterkaitan yang erat antara teori dan keadaan lapangan. Oleh sebab itu penelitian ini akan
mengkaji lebih jauh tentang pembentukan batuan sedimen, proses/siklus sedimentasi, struktur
dan jenis-jenis, serta lingkungan pengendapannya.

1.2 Maksud dan Tujuan


Adapun maksud diadakannya praktikum ini adalah sebaagai media untuk mahasiswa
agar lebih memahami proses sedimentasi pada batuan serta pengaruh-pengaruh yang teribat
dalam rangkaian proses transportasi seta memahami litologi daerah praktikum khususnya
didaerah sungai Kulowoka.

Adapun tujuan dalam penulisan laporan ini antaranya dapat mengetahui pengendapan
batuan sedimen, struktur perlapisan serta proses sedimentasi.

1
1.3 Alat dan Bahan
Adapun alat yang digunakan pada praktikum ini adalah

- Kompas
- Palu
- GPS
- Alat tulis menulis
- Rool meter
- Kamera

Adapun bahan yang digunakan dalam praktikum ini adalah

- Peta
- Buku catatan
- Kantong sampel
- Table klasifikasi
- Komparator
- HCL

1.4 Sistematika Penulisan

Untuk mendapatkan gambaran yang ringkas dan jelas dari praktikum sedimentologi
yang berjudul Karakteristik bentuk dan ukuran material sedimen di DAS Kulowoka, maka
laporan ini terbagi menjadi 6 bab, dan tiap-tiap bab dibagi dalam beberapa sub bab. Adapun
sistematika penulisan adalah sebagai berikut:

Bab I Pendahuluan, dalam bab ini memuat gambaran umum yang memberikan informasi
secara menyeluruh tentang pokok-pokok bahasan dalam tulisan ini. Bab ini meliputi Latar
Belakang Masalah, Pokok Permasalahan, Tujuan Penulisan, Metodologi Penelitian Secara
Umum dan Sistematika Penulisan.

Bab II Tinjauan Pustaka, menguraikan dasar teori mengenai fenomena sedimentasi yang
telah dipublikasikan serta hal itu dapat mendukung pemecahan masalah yang telah dimuat
dalam penelitian ini.

Bab III Tinjauan Geologi Regional, dalam bab ini dijelaskan tinjauan kepustakaan
mengenai geologi regional daerah penelitian berdasarkan data-data yang telah dipublikasikan.
Bab ini meliputi uraian Fisiografi dan Morfologi Regional, Stratigrafi Regional, Struktur
Geologi Regional dan Tektonika.

2
Bab IV Metode dan Tahapan Penelitian, menguraikan konsep dasar dan alur kerja dari
berbagai metode yang digunakan dalam penelitian ini meliputi observasi geologi di lapangan
dan analisis laboratorium untuk ukuran serta bentuk butir material sedimen DAS Kulowoka.

Bab V Hasil dan Pembahasan, memuat hasil pengolahan data dan menguraikan analisis
dari berbagai metode yang digunakan dalam identifikasi karakteristik ukuran dan bentuk butir
material sedimen DAS Kulowoka

Bab VI Kesimpulan, memuat kesimpulan yang didapat dari hasil penelitian mengenai
karakteristik material sedimen yang dilakukan di DAS Kulowoka.

1.5 Lokasi dan Waktu


Secara administrative daerah pelaksanaan praktikum sedimentology berada didaerah
desa kulowoka, kec. Sumalata Timur, kab. Gorut, prov. Gorontalo. Paraktikum ini
dilaksanakan pada hari sabtu 30 mei 2015. Lokasi ini tidak berada jauh dari tempat tinggal
didesa kulowoka, sedangkan perjalanan dari pusat kota ke desa Kulowoka menempuh jarak
sekitar 3 jam. Tiba dilokasi kami melakukan persiapan untuk besoknya dengan dibekali
pengkajian daerah tersebut dilihat dari aspek peta regional lembar Tilamuta 1:250.000.
Praktikum ini dimulai pukul 08.00 pada besoknya sampai dengan pukul 16.30 WITA. Lokasi
pengamatan dibagi menjadi 7 stasiun yang berada disepanjang sungai Kulowoka sehingga
akan didapati litologi yang berbeda dari setiap stasiun.

1.6 Peneliti Terdahulu


Stratigrafi daerah penelitian ini terdapat formasi batuan Wobudu dan Dolokapa. Sejauh
pengetahuan penulis, dari berbagai literatur yang penulis baca terdapat berbagai makalah
penelitian dan jurnal yang membahas tentang batuan sedimen. Untuk mendukung penelitian
tersebut maka penulis kemukakan literatur sebagai kajian pustaka diantaranya :
Penelitian pada formasi Wobudu pertama kali dilakukan oleh Molengraaf (1902), dalam
Marks, 1957), dengan lokasi tipe di S. Wobudu, Sumalata, Kab. Gorontalo, Sulawesi Utara.
Penelitian pada formasi Dolokapa pertama kali dilakukan oleh Molengraaf (1902), dalam
Marks, 1957) dengan lokasi tipe di sebelah utara Gunung Boliohuto, daerah Sumalata,
Sulawesi Utara.

3
4
BAB 2
GEOLOGI REGIONAL

2.1 Geomorfologi
Wilayah Gorontalo yang ditempati oleh Cekungan Air Tanah Limboto berada pada
bagian lengan utara Sulawesi, dimana sebagian besar daerah ini ditempati oleh satuan
batuan Gunung Api Tersier. Di wilayah bagian tengah daerah ini dijumpai dataran rendah
berbentuk memanjang yang terbentang dari arah barat-barat laut ke timur-tenggara yang
diduga semula merupakan danau dengan pusatnya berada di Danau Limboto. Wilayah
Cekungan Limboto dapat dikelompokkan menjadi 3 (tiga) satuan morfologi, yaitu: satuan
morfologi satuan pegunungan berlereng terjal, satuan morfologi perbukitan bergelombang
dan satuan morfologi dataran rendah. Satuan morfologi pegunungan berlereng terjal,
terutama menempati wilayah bagian tengah dan utara wilayah Gorontalo, yang menjadi
pembatas sebelah timur dan sebelah utara dafi Cekungan Air Tanah Limboto yaitu di
dengan beberapa puncaknya berada di Pegunungan Tilongkabila, antara lain : G. Gambut
(1954 m), G. Tihengo (1310 m), G. Pombolu (520 m) dan G. Alumolingo (377 m), satuan
morfologi ini terutama dibentuk oleh satuan batuan Gunungapi tersier dan batuan
Plutonik. Satuan morfologi perbukitan bergelombang, terutama dijumpai di daerah bagian
selatan dan bagian barat dan menjadi batas cekungan di sebelah selatan dan sebelah utara.
Satuan morfologi ini umumnya menunjukkan bentuk puncak membulat dengan lereng
relatif landai dan berjulang kurang dari 200 meter yang terutama ditempati oleh satuan
batuan Gunungapi dan batuan sedimen berumur Tersier hingga Kuarter. Satuan morfologi
dataran, merupakan daerah dataran rendah yang berada di bagian tengah wilayah Cekungan
Limboto yaitu di sekitar Danau Limboto. Pada umumnya daerah ini ditempati oleh satuan
aluvium dan endapan danau. Aliran sungai di wilayah ini umumnya mempunyai pola 'sub
dendritic dan 'sub parallel".

5
2.2 Stratigrafi
Berdasarkan peta geologi lembar Tilamuta (S. Bachri, dkk, 1993). Stratigrafi
Regional daerah penelitian disusun oleh beberapa formasi/ satuan batuan jika diurutkan dari
umur muda sampai tua yaitu sebagai berikut :

- Breksi wobudu
Formasi ini terdiri dari breksi gunning api, aglomerat, tuf, tuf lapilli, lava
andesitan dan basalan. Breksi gunungapi berwarna abu-abu yang tersusun oleh
kepingan batuan andesitan dan basalt yang berukuran kerikil sampai bongkah,
menyudut tanggung, mempunyai susunan batuan kenampakan fisik yang sama dengan
breksi gunungapi.
Tuf dan tuf lapilli berwarna kuning dan kuning kecoklatan, berbutir halus dan
hingga berukuran kerikil, membulat tanggung dan kemas terbuka, terkekarkan
umumnnya lunak dan berlapis. Sedangkan lava umunya berwarna abu-abu hingga abu-
abu tua, massif, bertekstur porfiro-afanitik dan basalt.
Berdasarkan posisi stratigrafinya yang menindih tak selaras formasi dolokapa
yang berumur miosen tengah sampai awal miosen akhir, maka diperkirakan umur
breksi wobudu adalah pliosen awal.
- Diorite Boliohuto
Satuan ini terdiri dari batuan diorite sampai granodiorit yang mengandung
kuarsa sampai 20%, dengan kandungan feldspar dan biotit yang menonjol. Dibeberapa
tempat dijumpai xenolith bersusuna basa, yang memungkinkan batuan diorite
berasosiasi (menerobos) batuan basa jauh dibawah permukaan, batuan ini menerobos
formasi dolokapa.
Satuan ini diperkirakan berumur miosen tengah hingga miosen akhir. Dan
diduga sebagai sumber dari endapan emas.
- Formasi Dolokapa
Formasi ini terdidri dari batu pasir wake, batu lanau, batu lumpur, konglomerat,
tuf, tuf lapilli, aglomerat, breksi gunung api, dan lava bersusunan andesitan sampai
basal. Mengenai formasi ini masih memiliki pendapat yang berbeda. Marks (1957)
membandingkan umur formasi tinombo yang dikiranya berumur berumur kapur hingga
eosin. Seddangkan menurut Trail (1974) dalam formasi ini berumur miosen awal.
Berdasarkan hasil analisis paleontology dan kedudukan stratigrafinya yang menindih

6
tak selaras formasi tinombo yang berumur eosin, maka formasi dolokapa diperkirakaan
miosen tengah hingga awal miosen akhir.
Formasi Dolokapa sendiri mempunyai pelamparan yang cukup luas yang
terdapat dibagian utara dan utara daerah telitian, yaitu daerah Palele hingga sekitar
daerah Kwandang.

7
2.3 Struktur Geologi dan Tektonik
Struktur geologi yang utama di daerah telitian adalah sesar, berupa sesar normal dan
sesar jurus mendatar. Sesar normal yang terdapat di G. Boliohuto menunjukkan pola
memancar, sedang sesar jurus mendatar umumnya bersifat menganan tetapi adapula yang
mengiri. Struktur lipatann ahnya terdapat pada formasi Dolokapa dan formasi Lokodidi,
dengan sumbu lipatan secarah umum bearah Barat-Timur. Kelurusan banyak terdapat didaerah
ini dengan arah yang sangat beragam, kelurusan ini terlihat baik pada citra radar dan potret
udara.

Kegiatan tektonik didaerah ini diduga telah berlangsung sejak Eosen sampai Oligosen,
yang diawali dengan kegiatan magnetic yang menghasilkan satuan gabro dan terjadi
pemekaran dasar samudra yang berlangsung hingga miosen awal dan ini menghasilkan lava
bantal yang cukup luas. Kegiatan tersebut diikuti oleh terjadinya retas-retas yang umumnya
bersusunan basa, dan banyak menerobos Formasi Tinombo.

8
BAB III
TINJAUAN PUSTAKA

3.1 Fisiografi Daerah Penelitian


Secara fisiografis, yaitu pembagian zona bentang alam yang merupakan representasi
batuan dan struktur geologinya, Gorontalo dapat dibedakan ke dalam empat zona fisiografis
utama, yaitu Zona Pegunungan Utara Telongkabila-Boliohuto, Zona Dataran Interior
Paguyaman-Limboto, Zona Pegunungan Selatan Bone-Tilamuta-Modello, dan Zona Dataran
Pantai Pohuwato.

Dalam sejarah hidup sungai terlewati perioda-perioda muda (Youth), dewasa (Mature),
dan Tua (Old). Dalam perioda muda terdapat kegiatan erosi yang kuat, khususnya erosi
kebawah. Terdapat air terjun, kaskade; penampang longitudinal tak teratur; longsorang banyak
terjadi pada tebing-tebingnya. Pada periode dewasa terjadi kesetimbangan.
Penampangnya graded hanya cukup untuk membawa beban (load) ; terdapat variasi antara
erosi dan sedimentasi.

Sungai juga dipelajari menurut jenis genetiknya : konsekuen, subsekuen, resekuen, dan
insekuen juga anteseden dan superpose. Berbagai pola aliran sungai antara lain: dendritik,
trellis, radial, anular, rectangular yang sangat dipengaruhi oleh struktur batuan.

Suatu daerah melalui perkembangan jentera geomorfik, dan sungai-sungai menunjukkan


perubahan-perubahan dari periode muda, dewasa, dan tua.

- Sungai Muda dicirikan dengan kemampuannya mengikis alurnya. Hal ini terjadi jika
gradient cukup terjal sehingga mampu membawa beban yang terbawa oleh
cabangcabang sungai. Sungai muda biasanya sempit, dengan tebing terjal dan terdiri
dari batuan dasar. Pelapukan tak sempat terjadi karena selalu terkikis. Sungainya
menutupi seluruh dasar lembah, tanpa dataran banjir, sering menunjukkan air terjun
atau percepatan (rapids) karena melewati masa batuan uang keras dan tak teratur.
Gradiennya tak teratur karena adanya variasi struktur batuan. Dapat ditemui danau
karena adanya depresi asal (initial depression). Aliran sungainya cepat, airnya
umumnya jernih. Potholoes dan Rock Channels sering dijumpai pada dasar sungai

9
- Sungai Dewasa telah mengalami pengurangan gradient sungai sehingga kecepatan
alirannya berkurang. Daya erosi ke dalam berkurang dan terjadi pengendapan. Sungai
demikian disebudgraded dengan penampang yang setimbang dan hamper tanpa
keteraturan. Tanpa percepatan dan air terjun. Proses pelapukan lebih intensif dan
dinding
lambat. Lebih landai. Singkapan batuan segar menjadi lebih jarang. Dasar sungai
melebar
oleh pergeseran lateral sungai, dan terbentuk dataran banjir. Jika sungai utama
mengalamigraded tercapai kedewasaan awal. Jika cabang sungai jugagraded,
kedewasaan lebih lanjut; dan jika alur sungai juga telah graded maka telah mencapai
periode tua.

Jentera erosi sering juga disebut jentera geografi atau jentera geomorfik (geographical
or geomorphic cycle) yang sebenarnya menyangkut tahapan yang dlalui oleh masa lahan demi
waktu ke waktu sejak pengangkatan hingga menjadi peneplain.

- Tahapan muda (youth stage) suatu daerah setelah pengangkatan yang cepat
dicirikan dengan pengikisan sungai yang tajam dan dalam, jarak antara satu sungai
dengan lainnya dapat berjauhan. Makin lama punggungan antara sungai menjadi
menyempit dan menjadi punggungan yang tajam. Saat ini tahapan berubah menjadi
dewasa. Penampang melintang lembah selama tahapan dewasa menjadi convex ke atas.
- Tahapan Dewasa tahapan dewasa berjalan makin lanjut dan tebing sungai menjadi
makin melandai. Puncak puncak tajam dari punggungan merendah lebih cepat dari
pada kikisan dasar sungai, relief menjadi berkurang. Punggungan menjadi membulat
dan penampang melintang sungai menjadi konkav keatas. pada pengangkatan lambat
dan melanjut yang panjang, maka pelebaran lembah relief berjalan cepat dibanding
dengan pengikisan kebawah dari sungai. Tahapan muda hampir-hampir tidak terdapat
dan tahapan dewasa datang lebih cepat (menurut penck).
Davis juga menyebutkan kemungkinan tersebut dan menjelaskan bahwa lembah
dengan penampang terbuka, tanpa dataran banjir, cenderung disebabkan pengangkatan
lambat sedangkan kehadiran dataran banjir pada dasar lembah yang lebar dengna
tebing terjal cenderung terbentuk pengangkatan dengan cepat.

10
Pada daerah praktikum aliran sungai Kulowoka menurut jentera geomorfiknya adalah
golongan sungai Dewasa, karena telah mengalami pengurangan gradient sungai sehingga
kecepatan alirannya berkurang, daya erosi berkurang dan terjadi pengendapan. Proses
pelapukan lebih intensif dan dinding lambat, lebih laandai. Daya erosi kedalam berkurang dan
terjadi pengendapan. Singkapan batuan segar menjadi lebih jarang.

Berdasarkan hasil interpretasi peta Topografi pada aliran sungai Kulowoka yaitu
rectangular dan parallel. Pada kedua aliran ini mengindikasikan bahwa daerah aliran sungai
kulowoka dikontrol oleh struktur geologi berupa kekar dan sesar meendatar serta kelurusan
yang berarah utara-timur. Data pengukuran dilapangan menjelaskan bahwa genetic sungai
searah dengan jurus perlapisan batuan. Serta litologi daerah aliran sungai Kulowoka pada
umunya berupa batuan vulkanik berfragmen andesit-basalt yang berukuran kerikil- bongkah
dan berwanah abu-abu. Litologi berupa endapan alluvial yang materialnya sangat bervariasi
mulai dari batuan beku, sedimen hingga dijumpai pula batuan meta sedimen.

11
3.2 Pengertian Sedimen
Kata sedimen berasal dari bahasa latin sedimentum, yang berarti penenggelaman
atau secara sederhana dapat diartikan dengan endapan, yang digunakan untuk material padat
yang diendapkan oleh fluida. Batuan sedimen adalah batuan yang terbentuk sebagai hasil dari
rombakan batuan lainnya (batuan beku, batuan metamorf, atau batuan sedimen itu sendiri)
melalui proses pelapukan (weathering), erosi, pengangkutan (transport), dan pengendapan,
yang pada akhirnya mengalami proses litifikasi atau pembatuan. Mekanisme lain yang dapat
membentuk batuan sedimen adalah proses penguapan (evaporasi), longsoran, erupsi
gunungapi.

Batuan sedimen hanya menyusun sekitar 5% dari total volume kerak bumi. Tetapi
karena batuan sedimen terbentuk pada permukaan bumi, maka meskipun jumlahnya relatif
sedikit akan tetapi dalam hal penyebaran batuan sedimen hampir menutupi batuan beku dan
metamorf. Batuan sedimen menutupi sekitar 75% dari permukaan bumi.

3.2.1 Proses Sedimentasi


a. Pelapukan
Pelapukan (weathering) merupakan perusakan batuan pada kulit bumi karena
pengaruh cuaca (suhu, curah hujan, kelembaban, atau angin). Karena itu pelapukan
adalah penghancuran batuan dari bentuk gumpalan menjadi butiran yang lebih kecil
bahkan menjadi hancur atau larut dalam air. Pelapukan dapat dibagi menjadi 3, yaitu:
1. Pelapukan fisika
Adalah proses dimana batuan hancur menjadi bentuk yang lebih kecil oleh
berbagai sebab, tetapi tanpa adanya perubahan komposisi kimia dan kandungan
mineral batuan tersebut yang signifikan. Yang termasuk proses pelapukan fisika
antara lain yaitu:
- Frost wedging, disebabkan oleh pembekuan air di dalam rekahan batuan.
Proses ini merupakan proses pelapukan terpenting pada daerah yang
iklimnya memungkinkan adanya proses pencairan dan pembekuan batuan
yang berulang-ulang. Volume air akan meningkat sekitar 9% apabila
mengalami pembekuan. Peningkatan volume ini memungkinkan untuk
menjadikan rekahan batuan menjadi lebih besar.
- Pengembangan dan penyusutan, proses ini sering terjadi pada daerah yang
perbedaan temperatur antara siang dan malam relatif besar. Pada siang hari,

12
karena panas, batuan akan mengembang, sedang pada malam hari temperatur
turun dan batuan mengalami penyusutan. Proses pengembangan dan
penyusutan yang terjadi berulang kali menyebabkan batuan akan pecah.
- Pelepasan beban, proses ini terjadi karena adanya pengikisan lapisan
penutup batuan (overburden). Pelepasan beban ini menyebabkan terjadi
rekahan pada batuan yang sejajar dengan topografi. Proses ini akan
membentuk rekahan batuan seperti perlapisan, sehingga sering disebut
sheeting, proses ini sering terjadi pada batuan yang homogen seperti granit.
2. Pelapukan kimia
Adalah proses dimana adanya perubahan komposisi kimia dan mineral dari
batuan. Beberapa proses pelapukan kimia yaitu:
o Hidrolisis, merupakan reaksi kimia yang penting antara mineral silikat
dengan air yang menyebabkan terlepasnya kation logam dan silikat. Mineral
yang mengandung aluminium akan menghasilkan mineral lempung selain
ion logam dan silikat. Mineral ortoklas akan menghasilkan kolonit, sedang
albit akan menghasilkan mineral kaolinit atau montmorilonit.
o Hidrasi, adalah proses penambahan molekul air pada mineral untuk
membentuk mineral baru. Concohnya adalah penambahan molekul air pada
hematit yang membentuk gutit, atau pada anhidrit yang membentuk gipsum.
o Oksidasi, terutama terjadi pada mineral silikat yang mengandung besi seperti
biotit dan piroksin. Proses ini akan membentuk mineral oksida besi.
o Pelarutan, proses ini terutama terjadi pada mineral yang mudah larut oleh
air yang mengandung CO2 seperti kalsit, dolomit, dan gipsum.
o Pertukaran ion, proses pelapukan ini sangat penting pada perubahan jenis
mineral lempung menjadi jenis mineral lempung yang berbeda. Proses ini
merupakan pertukaran antara ion-ion didalam mineral. Contohnya adalah
pertukaran antara ion Na dan Ca yang terdapat dalam mineral.
o Chelation, merupakan penggabungan ion logam dengan molekul organik
yang mempunyai srtuktur cincin.

Kecepatan pelapukan kimia sangat tergantung pada iklim dan komposisi


mineral serta ukuran batuan. Proses pelapukan lebih cepat terjadi pada daerah
yang beriklim panas dan basah daripada daerah yang beriklim dingin dan kering.
3. Pelapukan biologi

13
Penyebabnya adalah proses organisme yaitu binatang, tumbuhan dan
manusia. Binatang yang dapat melakukan pelapukan antara lain cacing tanah dan
serangga.
b. Transportasi
Transportasi adalah pengangkutan suatu material (partikel) dari suatu tempat
ke tempat lain oleh suatu gerakan media (aliran arus) hingga media dan material
terhenti (terendapkan). Media transportasi (fluida) antara lain gravitasi, air, es, dan
udara.
Gerakan fluida dapat terbagi ke dalam dua cara yang berbeda.
1. Aliran laminar, semua molekul-molekul di dalam fluida bergerak saling
sejajar terhadap yang lain dalam arah transportasi. Dalam fluida yang
heterogen hampir tidak ada terjadinya pencampuran selama aliran laminar.
2. Aliran turbulen, molekul-molekul di dalam fluida bergerak pada semua arah
tapi dengan jaring pergerakan dalam arah transportasi. Fluida heterogen
sepenuhnya tercampur dalam aliran turbulen.

Gambar, aliran Laminar dan aliran turbulen


Partikel semua ukuran digerakkan di dalam fluida oleh salah satu dari tiga
mekanisme, yaitu :
1. Menggelinding (rolling), di dasar aliran udara atau air tanpa kehilangan kontak
dengan permukaan dasar.
2. Saltasi (saltation), bergerak dalam serangkaian lompatan, secara periode
meninggalkan permukaan dasar dan terbawa dengan jarak yang pendek di dalam
tubuh fluida sebelum kembali ke dasar lagi.

14
3. Suspensi (suspension), turbulensi di dalam aliran dapat menghasilkan gerakan
yang cukup untuk menjaga partikel bergerak terus di dalam fluida.

c. Pengendapan
Sedimentasi adalah proses pengendapan sedimen oleh media air, angin, atau
es pada suatu cekungan pengendapan pada kondisi P dan T tertentu. Pettijohn (1975)
mendefinisikan sedimentasi sebagai proses pembentukan sedimen atau batuan
sedimen yang diakibatkan oleh pengendapan dari material pembentuk atau asalnya
pada suatu tempat yang disebut dengan lingkungan pengendapan berupa sungai,
muara, danau, delta, estuaria, laut dangkal sampai laut dalam.
Sedimentasi dari angkutan sedimen secara menggelinding atau rolling akan
membentuk struktur sedimen cross bed, ripple mark, imbrikasi kerakal, sesuai
dengan arah aliran fluidanya. Sedimen tersuspensi yang diendapkan akan membentuk
struktur laminasi. Pengendapan sedimen oleh air, mempunyai ukuran butir sangat
bervariasi, mulai dari lempung sampai berangkal atau bahkan bolder. Sedang yang
diendapkankan oleh angin mempunyai ukuran butir mulai dari lempung sampai pasir.
Pada gravitasi, pengendapan terjadi bersamaan dengan hilangnya kecepatan aliran.
Endapan yang terbentuk tidak mengalami pemilihan dan pembundaran, kecuali oleh
endapan arus turbid.
d. Sementasi dan Litifikasi
Proses perubahan sedimen lepas menjadi batuan disebut litifikasi. Salah satu
proses litifikasi adalah kompaksi atau pemadatan. Pada waktu material sedimen

15
diendapkan terus-menerus pada suatu cekungan. Berat endapan yang berada di atas
akan membebani endapan yang ada di bawahnya. Akibatnya, butiran sedimen akan
semakin rapat dan rongga antara butiran akan semakin kecil.
Proses lain yang merubah sedimen lepas menjadi batuan sedimen adalah
sementasi. Material yang menjadi semen diangkut sebagai larutan oleh air yang
meresap melalui rongga antar butiran, kemudian larutan tersebut akan mengalami
presipitasi di dalam rongga antar butir dan mengikat butiran-butiran sedimen.
Material yang umum menjadi semen adalah kalsit, silika dan oksida besi.
e. Diagenesis
Diagenesis adalah proses yang bekerja pada sedimen, berupa proses fisika,
kimia dan biologi yang secara umum mengubah sedimen menjadi batuan sedimen.
Ada beberapa macam proses diagenesis yang terjadi antara lain yaitu:
1. Kompaksi
Merupakan proses fisika yang terjadi setelah material sedimen mengalami
penimbunan dan berlanjut terus sampai ke tempat yang lebih dalam. Proses ini
menyebabkan volume sedimen berkurang. Ini dihasilkan oleh tekanan penutup
(overburden), yang diakibatkan oleh berat dari sedimen dan batuan di atasnya.
Tekanan ini mengakibatkan penyusunan kembali butiran dan pengeluaran fluida,
hal ini menghasilkan pengurangan porositas batuan sedimen.
Kemungkinan tingkat kompaksi merupakan fungsi dari ukuran butir,
bentuk butir, pemilahan, porositas awal dan jumlah fluida yang terdapat dalam
sedimen. Sedimen dengan pemilahan yang baik, membundar akan kurang
kompak bila dibandingkan dengan sedimen yang terpilah buruk dan menyudut.
Pada sedimen yang terpilah buruk ukuran butir yang kecil akan mengisi rongga
antar butiran yang besar dan pada sedimen yang menyudut, ikatan antar butirnya
akan sangat kuat karena bersifat saling mengunci. Pada pasir porositas awalnya
sekitar 25%-50%, pada sedimen karbonat kemungkinan cukup tinggi yaitu
sekitar 50%-75% dan pada lumpur lempung lebih dari 85%. Pada batuan
sedimen porositas kecil yaitu 0%-2% hal ini dikarenakan kompaksi dan proses
diagnesis lain terutama sementasi.
2. Rekristalisasi
Rekristalisasi adalah proses di mana kondisi fisika dan kimia menyebabkan
perubahan ukuran dan bentuk kristal mineral tanpa perubahan yang berarti pada
komposisi kimianya. Oleh sebab itu akibat proses rekristalisasi, tekstur dan

16
struktur awal mineral mengalami perubahan total. Proses rekristalisasi dapat
terjadi pada semua batuan sedimen, tetapi proses ini sangat umum pada batuan
nonsilisiklastik, terutama batuan karbonat. Contohnya perubahan dari lumpur
karbonat menjadi batugamping kristalin kasar. Oolin menjadi mosaik kristal yang
kasar.
Rekristalisasi bekerja melalui pelarutan dan presipitasi dari fase mineral
yang terdapat pada batuan. Ketika fluida melewati batuan atau sedimen,
komponen pada sedimen yang tidak stabil karena tekanan, pH, temperature akan
mengalami pelarutan. Kemudian material yang terlarut itu akan mengalami
transportasi dan akan terpresipitasi pada pori-pori sedimen yang memiliki kondisi
yang berbeda. Hal yang penting yaitu tekanan pelarutan, yaitu suatu proses di
mana tekanan terkonsentrasi pada satu titik antara dua butir yang menyebabkan
pelarutan dan migrasi ion atau molekul yang menjauhi titik itu. Lewat proses ini
massa tertransportasi dari titik kontak menuju tempat dengan tekanan yang lebih
rendah yang memungkinkan presipitasi dari larutan itu. Tentunya rekristalisasi ini
akan menyebabkan pengurangan porositas sedimen dan memfasilitasi
rekristalisasi tekstur.
3. Pelarutan
Proses pelarutan merupakan proses diagenesis yang penting yang
menyebabkan meningkatnya porositas dan penipisan perlapisan batuan sedimen,
terutama pada batuan yang mudah larut seperti batuan karbonat dan evaporit.
Proses ini di kontrol oleh pH, Eh, temperatur, tekanan, tekanan parsial CO2 ,
komposisi kimia dan ionik stregh. Proses pelarutan juga di kontrol oleh porositas
dan permeabilitas awal, mineralogi dan ukuran butir sedimen.
Material yang mudah larut dalam batupasir adalah semen klastik,
sehingga efek utama dalam proses pelarutan adalah penghilangan semen. Proses
ini di sebut desementasi. Mineral metastabil pada batupasir seperti felspar,
fragmen batuan dan mineral berat, dapat juga mengalami proses pelarutan.
Proses ini disebut proses intrastratal solution
4. Sementasi
Sementasi adalah proses di mana terjadi presipitasi kimia pada
pembentukan kristal baru, terbentuk didalam pori-pori sedimen atau batuan yang
mengikat satu butir dengan butir lainnya. Semen yang umum yaitu kuarsa, kalsit

17
dan hematite, tetapi jenis semen secara luas di antaranya aragonite, Mg kalsit,
dolomite, gypsum celesite, goethite, dan todorit. Tekanan pelarutan secara local
dapat menghasilkan semen, tetapi banyak semen merupakan material baru
(allochemical material) yang masuk melalui larutan. Jelas bahwa proses
sementasi akan mengakibatkan berkurangnya porositas dan menghasilkan tekstur
baru seperti spherulitic, comb texture, dan poikilotopic texture.
5. Autigenisasi
Autigenesis (neocrystalitation) adalah proses yang mana fase mineral
baru mengalami kristalisasi didalam sedimen atau batuan selama proses
diagenesis ataupun setelahnya. Mineral baru mungkin terbentuk melalui reaksi di
dalam fase yang terdapat dalam sedimen atau batuan, mungkin juga muncul
karena presipitasi dari material yang masuk melalui fase fluida, atau dihasilkan
dari kombinasi sedimen primer dan material yang masuk. Autigenesis operlap
dengan pelapukan, sementasi dan biasanya rekristalisasi, dan kemungkinan
menghasilkan replacement. Jenis dari fasa autigenesis jauh lebih beragam
dibandingkan dengan mineral semen. Fase autigenesis termasuk silikat seperti
kuarsa, K-feldspar, lempung, dan zeolite; carbonat seperti kalsit, dolomite dan
carbonat besi; evaporate mineral seperti halit, sylvite, gypsum dan anhidrit;
oksida seperti hematite, goetit, todorokit; dan mineral samping lainnya termasuk
sulfat, sulfide dan fosfat.

3.2.2 Tekstur Batuan Sedimen


1. Bentuk Butir (particle shape)
Merupakan morfologi dari suatu partikel sedimen,yang mencangkup hubungan
antara ketiga aspek yang berbeda pada butiran sedimen. Ketiga aspek tersebut adalah
bentuk keseluruhan (form), kebundaran (roundness) dan tekstur permukaan. Bentuk
umum merupakan gambaran keseluruhan dari butiran, dan menggambarkan
kenampakan tiga dimensi dari butiran sedimen. Kebundaran umumnya
menggambarkan ketajaman bentuk tepi-tepi butiran sedimen, dan umumnya
menggambarkan kenampakan dua dimensi. Sedangkan tekstur permukaan merupakan
kenampakan pada relief permukaan butiran sedimen seperti goresan dan atau lubang
pada permukaan butiran.
Ditentukan dengan bantuan chart dan gunakan istilah:

18
o Sangat menyudut (very angular)
o Menyudut (angular)
o Menyudut tanggung (subangular)
o Membundar tanggung (subrounded)
o Membundar (rounded)
o Sangat membundar (very Rounded)

Gambar Bentuk butir

2. Ukuran Butir (grain size)


Klasifikasi Wentworth (1922) ini merupakan skala geometrik dan merupakan
kelipatan dua atau setengah dari ukuran butir sebelumnya. Klasifikasi ini mempunyai
rentang ukuran butir dari <1/256 mm (0,0039 mm) sampai > 256 mm dan dibagi
menjadi 4 kategori ukuran utama, yaitu lempung, lanau, pasir, dan grafel (Tabel 1).

19
Tabel 1. Klasifikasi Skala Wentworth

3.2.3 Struktur Batuan Sedimen


1. Perlapisan/Bedding
Bidang perlapisan terbentuk jika terdapat suatu periode singkat di mana proses
deposisi (pengendapan) menjadi sedikit sekali. Kata kuncinya di sini singkat, karena
kalau terlalu lama, apalagi sampai terbentuk bidang erosi, ini sudah menjadi
ketidakselarasan atau unconformity.
2. Laminasi

20
Laminasi adalah perlapisan yang tipis, dari beberapa mili sampai 1 cm. Biasanya
terbentuk kalau suplai sedimennya sangat sedikit. Contoh: endapan silika di dasar laut.

3. Convolute lamination:

Laminasi yang tampak terlipat (pernah keluar di OSN 2008). Struktur convolute
lamination ini muncul bukan karena perlipatan akibat gaya endogen, melainkan akibat
pengaruh arus yang mengalir di sekitarnya atau akibat proses dewatering/liquefaksi
(sedimen kehilangan kandungan air secara tiba-tiba akibat terkena gangguan).
Kehilangan air yang tiba-tiba ini membuat sedimen kehilangan kekuatannya yang berupa
stress (tekanan) yang disebabkan oleh berbagai macam hal, salah satunya yang sering
terjadi ialah oleh gempa bumi.
21
22
BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1 Hasil Penelitian

4.1.1 Stastiun 1
Geomorfologi pada daerah sekitar adalah perbukitan terjal, dengan vegetasi sedang,
terdiri dari semak belukar, rerumputan dan pepohonan. Daerah ini berada disebelah selatan
jembatan yang menghubungkan desa kulowoka dan desa Deme 1 dengan koordinat N 00 0 56
37,6, E 1220 36 4,7 dengan elevasi 5 mdpl. Daerah ini merupakan endapan alluvial yang
mempunyai penyebaran luas pada daerah penelitian. Endapan ini dapat dijumpai pada bagian
uatara dan selatan di sepanjang DAS Kulowoka, umumnya matrial ini yang tersusun atas
endapan sungai berupa batuan beku, batuan sedimen dan meta sedimen yang bersifat exitu dan
diperkirakan akhir plistosen hingga sekarang.

Gambar stasiun 1

4.1.2 Stasiun 2
Stasiun ini berada pada percabangan sungai DAS Kulowoka dengan koordinat N 00 o
56 33,8 E 122o 36 6,7. Ciri-ciri batuan ini berwarna abu-abu. Dari kenampakan dilapangan
batuan ini merupakan batuan sedimen klastik dengan struktur perlapissan,, berfragmen
polimik andesit dan basal ukuran butir berangkal, matriks pasar kasar halus, tersemenkan oleh
oksida besi. Berdasarkan bentuk fragmen batuan ini yaitu konglomerat karena membundar dan

23
kompak setiap antar butir. Hal ini mengindikasikan bahwwa batuan ini telah mengalami
transformasi yang sudah jauh dari sumbernya.

Gambar singkapan pada stasiun 2

24
4.1.3 Stasiun 3
Pada stasiun ini, geomorfologi sekitar adalah perbukitan terjal - sedang. vegetasi
sedang, terdiri dari rerumputan dan semak belukar, disingkapan ini terdapat batupasir dan
konglomerat dengan strukutur laminasi serta perulangan lapisan, setiap lapisan pada singkapan
ini mempunyai tekstur dan struktur yang berbeda dari karakteristik tersebut dapat menjelaskan
lingkungan pengendapan setiap lapisan. Daerah ini di dominasi oleh batuan konglomerat yang
mempunyai ciri khas seperti pada stasiun 2, ini diduga merupakan formai Dolokapa yang di
perkirakan berumur Miosen tengah hingga awal miosen akhir. Adapun lingkungan
pengendapannya adalah "inner sublitora" dan kedudukan stratigrafinya menindih tak selaras
formasi Tinombo yang berumur Eosen.

Gambar batu pasir dan konglomerat

4.1.4 Stasiun 4
Stasiun ini nampak morfologi berupa perbukitan terjal - sedang, Vegetasi sedang terdiri
dari rerumputan dan semak belukar, litologi pada stasiun ini berupa breksi vulkanik dan batuan
ini dapat dijumpai dibagian timur, DAS kulowoko, ciri - ciri batuan berwarna abu - abu,
berfragmen polimik Granodiorit dan diorit , ukuran butir bongkah - berangkal, matriks pasir
kasar - pasir halusterpilah buruk, menyudut tanggung, dan kompak serta tersemenkan oleh
oksida besi. Batuan ini di duga merupakan formasi Boliohuto dan breksi ini diperkirakan
berumur miosen tengah hingga awal awal miosen akhir.

25
Gambar bongkahan batuan vulkanik

4.1.5 Stasiun 5
Stasiun ini berada pada percabangan anak sungai ke 2, pada stastiun ini di dominasi
oleh produk vulkanik secara megaskopis tersusun dari material halus - kasar warna abu - abu
kecoklatan dan tidak berfragmen tetapi terdapat xenolith pada batuan tuf berupa basal sortasi
buruk, kemas tertutup - porositas sedang. Kompak semen oksida besi perbandingan tuf dengan
basalt 80% : 20%, dengan semikian batuan tersebut di interpretasikan sebagai batuan
piroklastik berukuran Tuf kasar.

4.1.6 Stasiun 6
Pada stasiun ini masih memiliki kenampakan morfologi yang sama dengan
sebelumnya, yakni perbukitan terjal, vegetasi lebat, terdiri dari rerumputan. Sedangkan litologi
yang ada pada stasiun ini yaitu basalt yang merupakan batuan beku basa, berwarna hitam,
warna lapuknya coklat, serta bertekstur afanitik yang tersusun atas gelas dan mempunyai
ukuran butir yang searagma, terlihat juga batuan ini dilapangan masif tetapi stasiun 6
merupakan zona lemah yang mengakibatkan batuan basalt terbresiasi / menjadi batuan
silisiklastik yang di pengaruhioleh struktur geologi yang ada di daerah penelitian, diduga
batuan ini merupakan formasi Dolokapa yang berumur miosen tengah hingga awal miosen
akhir.

26
4.1.7 stasiun 7
Stasiun 7 merupakan lokasi pengamatan terakhir yang ada di DAS kulowoka,
geomorfologi sekitar adalah perbukitan terjal, terdiri dari rerumputan dan semak belukar.
Sedangkan litologi yang ada di daerah ini yaitu perselingan antar batulempung dan pasir tetapi
lebih dominan oleh batulanau yang mempunyai warna representatif abu - abu kecoklatan,
struktur yang terlihat berupa perlapisan / bedding dengan kedudukan umum N 65 E / 76 SE.
Terpilah buruk, membundar, kemas tertutup dan kompak, matriks lempung, tersemenkan oleh
oksida besi. Berdasarkan peta geologi regional lembar Tilamuta, batuan ini merupakan formasi
Dolokapa kemudian diterobos oleh formasi Boliohuto, diperkirakan umur batuan dari miosen
tengah hingga awal miosen akhir.

76o

Gambar arah/ jurus perlapisan sedimen

27
4.2 Geologi Dan Pengendapan Batuan Sedimen Disungai Kulowoka
Berdasarkan interpretasi peta Topografi pola aliran sungai di daerah aliran sungai
Kulowoka yaitu Rectangular dan paralel. Pola aliran ini mengindikasikan bahwa daerah aliran
sunai Kulowoka di kontrol oleh struktur geologi berupa kekar dan sesar mendatar serta
kelurusan yang berarah relatif utara - timur. Dari pengukuran di lapangan didapatkan bahwa
tipe genetik sungai yaitu searah dengan jurus perlapisan batuan sedimen.
Litologi daerah aliran sungai Kulowoka pada umumnya berupa batuan batuan sedimen
berfragmen andesit - basalt berukuran kerikil - bongkah, warna abu - abu. Kemudian terdapat
bongkahan batuan berupa endapan alluvial yang materialnya sangat bervariasi hingga di
jumpai juga bongkahan batuan meta sedimen.
Proses pengendapan batuan sedimen terjadi di masa lampau dengan memakan waktu
ribuan sampai jutaan tahun sehingga menjadi batuan seperti sesuai kenampakan saat ini. Dari
sudut pandang geologi khususnya sedimentologi dapat di jelaskan urutan proses pengendapan
batuan sedimen tersebut, yaitu di awali dari pelapukan batuan induk baik proses fisika maupun
kimia hingga menjadi fragmen-fragmen yang lebih kecil (disintegrasi), kemudian hasil
pelapukan tersebut mengalami tranportasi. Proses tranportasi dalam pembentukan batuan
sedimen dilapangan umumnya melalui media aliran air sungai yang memiliki arus yang cukup
kuat. Pembentukan batuan sedimen ini dapat terbentuk di beberapa lingkungan seperti
sungai, laut dangkal, laut dalam, dan glacial(es). Setelah tertranportasi, material sedimen
kasar tersebut mengalami pengendapan dan mengalami kompaksi/pemadatan dan akhirnya
mengalami litifikasi/pembatuan dan setelah itu terbentuklah batuan sedimen.
Batuan sedimen ini dari hasil transportasi dan deposisi material sedimen yang diangkut
oleh arus sungai yang ada pada lokasi penelitian dengan energy sedang - kuat. Bila dilihat dari
bentuk butirnya yang membulat maka diperkirakan batuan sudah mengalami transportasi
relative jauh.
Jika dihubungkan dengan kondisi geologi di lapangan, sebagian besar fragmen batuan
sedimen berasal batuan beku basalt yang telah mengalami pelapukan dan tererosi kemudian
mengalami breksiasi pada batuan itu sendiri tanpa mengalami transportasi yang cukup jauh
karena disamping itu dipengaruhi oleh aktivitas tektonik berupa sesar yang sedang
berlangsung pada kondisi geologi di lapangan. Hal ini dapat memicu proses pelapukan dan
erosi serta mengakibatkan keadaan di permukaan pada tubuh batuan asal yang tersingkap akan
hancur. Batuan sedimen tersusun dari bahan-bahan dengan ukuran berbeda dan bentuk

28
membulat - menyudut yang direkat menjadi batuan padat. Bentuk fragmen yang membulat
akibat adanya aktivitas air, umumnya terdiri atas mineral atau batuan yang mempunyai
ketahanan dan relative jauh dari sumbernya. Di antara fragmen- fragmen batuan sedimen,
diisi oleh sedimen-sedimen halus sebagai perekat yang umumnya terdiri atas Oksida Besi
karena dipengaruhi oleh batuan asal (basalt) yang mempunyai kandungan banyak besi.
Fragmen-fragmen bersifat polimik/batuan atau beraneka macam campuran. Seperti halnya
konglomerat dan breksi di DAS Kulowoka dan umumnya diendapkan pada air dangkal.

29
BAB V
KESIMPULAN
Sedimentologi adalah ilmu yang mempelajari sedimen atau endapan (Wadell, 1932).
Sedimen atau endapan pada umumnya diartikan sebagai hasil dari proses pelapukan terhadap
suatu tubuh batuan,yang kemudian mengalami erosi, tertansportasi oleh air, angin, dll, dan
pada akhirnya terendapkan atau tersedimentasikan.

Secara mekanik : Terbentuk dari akumulasi mineral-mineral dan fragmen-fragmen


batuan

1. Sumber material batuan sedimen

2. Lingkungan pengendapan

3. Pengangkutan (transportasi)

4. Pengendapan

5. Kompaksi

6. Lithifikasi dan Sementasi

7. Replacement dan Rekristalisasi

8. Diagenesis

Litologi daerah aliran sungai Kulowoka pada umunya berupa batuan vulkanik
berfragmen andesit-basalt yang berukuran kerikil- bongkah dan berwanah abu-abu. Litologi
berupa endapan alluvial yang materialnya sangat bervariasi mulai dari batuan beku, sedimen
hingga dijumpai pula batuan meta sedimen.

30
DAFTAR PUSTAKA

Katili, J. A. 1963. Geologi. Jakarta: Departemen Urusan Research Nasional.

S. Bachri, Sukido & N. Ratman, 1994. Geologi Lembar Tilamuta, Sulawesi, Pusat Penelitian
Dan Pengembangan Geologi, Indonesia.

Sompotan A.F, 2012. Struktur Geologi Sulawesi, Perpustakaan Sains Kebumian, Bandung.

Brahmantyo, 2009. Gorontalo, Totonu Yio?. Ekspedisi Geografi Indonesia Gorontalo 2009.
Pusat Survey Sumber Daya Alam Darat. Bakosurtanal.

Noor, Djauhari. 2010. Geomorfologi. Bogor: Universitas Pakuan.

31