Anda di halaman 1dari 23

BAB I

PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang

Sedimentologi adalah ilmu yang mempelajari tentang batuan sedimen dan


proses pembentukannya, seperti klasifikasinya, originnya, dan interpretasinya.
Sedimen merupakan material lepas hasil rombakan batuan penyusun kerak bumi
yang mengalami pengangkutan,selanjutnya terkonsentrasi pada atau dekat permukan
bumi serta banyak mineral atau batuan yang bersifat ekonomis berasosiai dengan
batuan sedimen.

Material sedimen memiliki ukuran yang berbeda - beda, mulai dari bongkah
sampai lempung ukuran materail ini dapat menjelaskan proses, tempat terbentuknya
dan tempat terdapatnya material ini. Pembentukan batuan sedimen melalui berbagai
proses yang membutuhkan waktu yang lama, dimulai dari proses pelapukan,
mengalami erosi, tertransportasi hingga terendapkandan akhirnya mengalami
litifikasi membentuk batuan sedimen.

Berangkat dari hal tersebut, maka dianggap perlu mengetahui strukturm


tekstur, dan kedudukannya akibat proses sedimentasi. Oleh karena itu, perlu
dilakukan penelitian mengenai karakteristik serta proses pembentukan setiap batuan
di daearh aliran sungai Kulowoka khususnya pengendapan batuan didaerah tersebut.

1.2. Maksud dan Tujuan

Maksud dari praktikum ini adalah untuk melakukan pengamatan litologi


khususnya batuan sedimen di daerah aliran sungai Kulowoka.

Adapun tujuan praktikum ini adalah untuk melakukan deskripsi batuan yang
ada serta membuat kolom / penampang stratigrafi berdasarkan pengukuran dan
kondisi setiap lapisan batuan sedimen yang ada di daerah aliran sungai Kulowoka.
1.3. Alat dan Bahan

Adapun alat yang digunakan yaitu:

1. Kompas
2. Palu
3. Penggaris
4. Rol meter
5. ATK
6. Kamera
Adapun bahan yang digunakan yaitu:
1. Peta
2. Buku catatan lapangan
3. Kantong sampel
4. Komparator
5. Tabel Klasifikasi
6. Kertas
7. Larutan

1.4. Lokasi dan Waktu


Secara administratif daerah pelaksaan praktikum sedimentologi berada pada
daerah Kulowoka, Kec. Sumalata Timur, Kab. Gorut, Prov. Gorontalo. Praktikum ini
dilaksanakan pada hari sabtu 30 mei 2015, dimulai pukul 08.00 sampai dengan pukul
16.30 WITA. Lokasi praktikum tersebut tidak berada jauh dari pusat kota sehingga
dapat di tempuh 3 jam. Lokasi pengamatan yang dilakukan dibagi menjadi 7
stasiun di sepanjang daerah aliran sungai Kulowoka sehingga dapat menemukan
litologi yang berbeda - beda.

BAB II
GEOLOGI REGIONAL

3.1 Fisiografi dan Morfologi

Secara fisiografis, yaitu pembagian zona bentang alam yang merupakan


representasi batuan dan struktur geologinya, Gorontalo dapat dibedakan ke dalam
empat zona fisiografis utama (Gambar 1), yaitu Zona Pegunungan Utara
Telongkabila-Boliohuto, Zona Dataran Interior Paguyaman-Limboto, Zona
Pegunungan Selatan Bone-Tilamuta-Modello, Zona Perbukitan Bergelombang
Tolotio dan Zona Dataran Pantai Pohuwato (Bachri, dkk 1989; Brahmantyo, 2009).

Zona Pegunungan Utara Telongkabila-Boliohuto umumnya terdiri dari formasi-


formasi batuan gunung api Tersier dan batuan plutonik. Zona ini dicirikan dengan
pegunungan berlereng terjal dengan beberapa puncaknya antara lain Gunung
Tentolomatinan (2207 m), Gunung Bondalo (918 m), Gunung Pentolo (2051 m),
Gunung Bian (1620 m), Gunung Pomonto (1490 m), Gunung Lemuli (1920 m),
Gunung Boliohuto (2065 m), serta Gunung Dolokapa (1770 m).

Zona kedua merupakan cekungan di tengah-tengah Provinsi Gorontalo, yaitu


Dataran Interior Paguyaman-Limboto. Dataran yang cukup luas yang terbentang dari
Lombongo sebelah timur Kota Gorontalo, menerus ke Gorontalo, Danau Limboto,
hingga Paguyaman, dan Botulantio di sebelah barat, merupakan pembagi yang jelas
antara pegunungan utara dan selatan. Dataran ini merupakan cekungan yang diduga
dikontrol oleh struktur patahan normal seperti dapat diamati di sebelah utara
Pohuwato di Pegunungan Dapi-Utilemba, atau di utara Taludaa di Gunung Ali, Bone
Bolango.

Zona Pegunungan Selatan Bone-Tilamuta-Modello umumnya terdiri dari


formasi-formasi batuan sedimenter gunung api berumur sangat tua di Gorontalo,
yaitu Eosen Oligosen (kira-kira 50 juta hingga 30 juta tahun yang lalu) dan intrusi-
intrusi diorit, granodiorit, dan granit berumur Pliosen. Zona ini terbentang dari Bone
Bolango, Bone Pantai, Tilamuta, dan Gunung Pani.
Gambar 1. Peta Relief 3D Propinsi Gorontalo dan Pembagian Zona Fisiografinya.
(SRTM V.3, USGS, 2014)

Zona Perbukitan Bergelombang terutama dijumpai di daerah selatan dan di


sekitar Tolotio. Satuan ini umumnya menunjukan bentuk puncak membulat dengan
lereng relative landau dan berjulang kurang dari 200 m. Zona ini ditempati oleh
batuan gunungapi dan batuan sedimen berumur Tersier hingga Kuarter.

Zona terakhir adalah zona yang relatif terbatas di Dataran Pantai Pohuwato.
Dataran yang terbentang dari Marisa di timur hingga Torosiaje dan perbatasan
dengan Provinsi Sulawesi Tengah di barat, merupakan aluvial pantai yang sebagain
besar tadinya merupakan daerah rawa dan zona pasang-surut.

Satuan perbukitan menggelombang terutama dijumpai didaerah selatan dan


di sekitar Tolotio. Satuan ini umumnya menunujukan bentuk puncak membulat
dengan lereng relatif landai dan berjulang kurang dari 200 m. Satuan morfologi
perbukitan menggelombang, terutama ditempati oleh battuan gunungapi dan batuan
sedimen berumur Tersier hingga Kuarter.
Satuan daerah rendah dijumpai didaerah selatan lembar, disepanjang pesisir
selatan. Di lembah Paguyaman dan disekitar danau Limboto umumnya di tempati
oleh aluvium dan endapan danau. Pola aliran sungai secara umum di daerah ini
adalah subdendritik dan subparalel.

2.2. Stratigrafi
Berdasarkan S. Bachri, Sukido dan N.Ratman (1989), stratigrafi regional
daerah penelitian biurutkan dari muda ketua yaitu, Breksi wobudu, Diorit Boliohuto,
dan Formasi Dolokapa.
a. Breksi Wobudu
Breksi gunungapi berwarna abu - abu, tersusun oleh kepingan batuan
andesit dan basal yang berukuran kerikil sampai bongkah, menyudut tanggung
hingga membulat tanggung, mempunyai susunan batuan dan kenampakkan fisik
yang sama dengan breksi gunungapi.
Tuf dan tuf lapili berwarna kuning dan kuning kecoklatan, berbutir halus
hingga berukuran kerikil, membulat tanggung, kemas terbuka, terkekarkan,
umumnya lunak dan berlapis. Sedangkan lava umumnya berwarna abu - abu
hingga abu - abu tua, masif, bertekstur porfiri-afanitik dan bersusunan andesit
hingga basal.
Berdarkan posisi stratigrafinya, yang menindidih tak selaras formasi
Dolokapa yang berumur Miosen Tengah sampai awal Miosen akhir, maka umur
breksi wobudu di perkiran pliosen awal. Satuan ini tersingkap dibagian utara
daerah telitian, mulai dari pegununungan Paleleh sampai diseblah barat Teluk
Kuandang. Ketebalannya di perkiran 1.000 - 1.500 m.
b. Diorit Boliohuto
Satuan ini terdiri dari batuan diorit sampai granodiorit yang mengandung
kuarsa sampai 20 % dengan kandungan Feldspar dan biotit cukup menonjol. Di
beberapa tempat dijumpai senolit bersusun basa, menunjukkan kemungkinan
batuan dioritan tersebut berasosiasi (menerobos) batuan basa jauh dibawah
permukan. Batuan ini menerobos formasi Dolokapa.
Singkapan baik satuan ini dijumpai di G. Boliohuto membentuk
pegunungan terjadi dengan ketinggian mencapai 1.800 mdpl. Di lembah
Paguyaman, satuan ini di perkiran berumur Miosen tengah hingga miosen akhir
dan ditutup oleh endapan danau dan alluvium.
c. Formasi Dolokapa
Formasi ini terdiri dari batupasir wake, batulanau, batulumpur,
konglomerat, tuf, tuf lapili, aglomerat, breksi gunungapi, dan lava tersusun andesit
- basal.
Batupasir wake berwarna abu, setempat gampingan berlapis baik, sangat kompak,
dan di jumapi struktur konvolut laminasi. Konglomerat berwarna abu - abu,
terpilah buruk dengan kemas tertutup, kompak, dijumpai srtruktur perlapisan
bersusun, dan setempat berlapis buruk. Sedang aglomerat berwarna abu - abu,
tersusun oleh tuf ; terpilah buruk dengan ukuran kepingan sekitar 2 sampai 5 cm
yang membulat tanggung samppai bersudut tanggung ; terpilah buruk dengan
kemas tertutup, dan umumnya kompak. Sedangkan lava umumnya berwarna abu -
abu sampai abu - abu tua, bersifat andesitan hingga basalan, bertekstur afanitik,
masif, dan kompak.
Berdasarkan hasil analisis paleontologi dan kedudukan stratigrafinya yang
menindih tak selaras formasi tinombo yang berumur Eosen, maka umur dormasi
Dolokapa diperikirakan Miosen tengah hingga awal Miosen akhir.
Adapun lingkungan pengendapannya adalah "Inner Sublitoral". Tebal
formasi secara keseluruhan diperkirakan Miosen tengah hinga awal miosen akhir,
dan ketebalannya sekitar 2.000 m. Terdapat di bagian tengah dan utara daerah
telitian, yaitu di daerah Paleleh hingga sekitar daerah Kuandang.

2.3. Struktur Geologi dan Tektonik Lengan Utara Sulawesi

Pulau Sulawesi dan sekitarnya, khususnya Sulawesi bagian utara merupakan


salah satu margin aktif yang paling rumit dalam jangka waktu geologi, struktur dan
juga tektonik. Wilayah ini merupakan pusat pertemuan tiga lempeng konvergen,
karena interaksi tiga kerak bumi utama (lempeng) di masa Neogen (Simandjuntak,
1992). Konvergensi ini menimbulkan pengembangan semua jenis struktur di semua
skala, termasuk subduksi dan zona tumbukan, sesar dan thrust. Saat ini sebagian
besar struktur Neogen dan beberapa struktur pra-Neogen masih tetap aktif atau aktif
kembali. Struktur utama termasuk Subduksi Sulawesi Utara (North Sulawesi Trench /
Minahasa Trench), Sesar Gorontalo, Sulu Thrust, dan tumbukan ganda laut Maluku
(Molluca sea collition) seperti ditampilkan dalam gambar 2.
Gambar 2 Peta Tektonik Pulau Sulawesi (Hall, dkk, 2000)

Subduksi Sulawesi Utara (North Sulawesi Trench) diinterpretasikan merupakan


zona subduksi konvergen antara Laut Sulawesi dan Lengan Utara Sulawesi. Zona
subduksi Sulawesi Utara termasuk kedalam sistim penunjaman yang relatif tua
(dying subduction) yang robekannya berkembang ke arah timur sepanjang tepian
utara Sulawesi. Penunjaman Sulawesi Utara menyusup dengan sudut kemiringan
sekitar 140 dan benioff zone menunjam sampai kedalaman 170-180 km, dengan sudut
kemiringan sekitar 450. Magnitudo maksimum (Mmax) gempa bumi di zona
Subduksi Sulawesi Utara mencapai 8,0 dengan periode ulang gempa bumi sekitar
234 tahun (Kertapati, 2006).

Pada bagian utara Pulau Sulawesi, secara morfologi akan terlihat kenampakan
empat segmen sesar (Hall, dkk, 2000). Bagian tengah dari utara Pulau Sulawesi
terbagi kedalam tiga block yang kecil. Pada bagian timur dari lengan utara Pulau
Sulawesi diberi nama Block Manado, yang bebas dari pengaruh North Sula Block.
Sehingga secara geologi jelas terlihat pemisahan yang diakibatkan adanya Sesar
Gorontalo.

Bachri, S., (1989) menerangkan bahwa sesar Gorontalo yang memanjang dari
arah barat laut ke tenggara yaitu mulai dari Laut Sulawesi melewati Gorontalo
hingga perairan Teluk Tomoni. Sesar normal yang terdapat di Gunung Boliohuto
menunjukan pola memancar, sedang sesar jurus mendatar umumnya bersifat
menganan (right lateral slip fault). Sesar tersebut memotong batuan berumur tua
(Formasi Tinombo) hingga batuan yang berumur muda (Satuan Batugamping
Klastik).

Struktur lipatan hanya terdapat setempat, terutama pada Formasi Dolokapa dan
Formasi Lokodidi, dengan sumbu lipatan secara umum berarah Barat-Timur.
Kelurusan banyak terdapat di daerah ini dengan arah yang sangat beragam.

BAB III
TINJAUAN PUSTAKA

3.1. Fisiografi dan Morfologi DAS Kulowoko


Morofologi berupa daerah sungai dengan lembah berbentuk "V menuju U"
kelerengan tebing timur sekitar 50 sampai 60 dan tebing barat sekitar 50 - 70.
Arah aliran sungai pada umumnya dari selatan ke utar, dan erosinya secara vertikal
dan horizontal. Hal ini menunjukkan bahwa terjadi keseimbangan anatara proses
pengikisan dan proses pengendapan. Dimensi sungai lebar 4 - 6 m, dan tinggi tebing
antara 5 - 7 m.
Secara morfologi segmen alur sungai dibagi menjadi tiga bagian, yaitu bagian
hulu (up stream), tengah (middle stream) dan hilir (Down stream).
1. Bagian Hulu
Dasar sungai yang tertutup oleh banyak endapan alluvial dengan dinding
cembung rendah menunjukkan telah tercapainya gradasi sungai. Jika volume air
berkurang dan kecepatan aliran sungai kecil maka endapan alluvial tersebut akan
membentuk channel bar dibagian tengah sungai.
2. Bagian Tengah
Bagian ini merupakan daerah keseimbangan antara proses degradasi dan
agradasi yang lebih dikenal dengan proses bed alteration. Akibat dari itu semua
alur sungai membentuk belokan - belokan yang cukup tajam, sehingga kecepatan
alirannya juga relatif juga.
3. Bagian Hilir
Pada bagian ini merupakan lokasi yang telah mengalami pengurangan
kemiringan lereng (side slope) dan kemiringan sungai yang landai sehingga
kecepatan alirannya relatif kecil bila dibandingkan dengan bagian hulu. Daya erosi
ke dalam berkurang dan terjadi pengendapan banyak material berukuran kerikil -
bongkah channel bar serta proses pelapukan lebih relatif intensif mengakibatkan
dinding lebih landai karena menemui batuan lunak. Singkapan batuan segar
menjadi lebih jarang, dasar sungai melebar oleh pergeseran lateral sungai dan
terbentuk dataran banjir.
3.2. Batuan Sedimen

Batuan sedimen adalah batuan hasil pengendapan baik yang berasal dari hasil
sedimentasi mekanis (hasil rombakan batuan asal), sedimentasi kimiawi (hasil
penguapan larutan) maupun sedimentasi organik (hasil akumulasi organik). Batuan
sedimen hasil sedimentasi mekanis terbentuk dalam suatu siklus sedimentasi yang
meliputi pelapukan, erosi, transportasi, sedimentasi dan diagenesa. Proses pelapukan
yang terjadi dapat berupa pelapukan fisik maupun kimia. Proses erosi dan
transportasi terutama dilakukan oleh media air, angin atau es.
- Batuan Sedimen Klastik
Batuan sedimen klastik terbentuk oleh proses sedimentasi mekanis.
Komponen pembentuk batuan sedimen klastik (Gambar 14) :
Butiran (grain) : butiran klastik yang tertransport yang berupa mineral, fosil
atau fragmen batuan (litik).
Masa dasar (matrix) : berukuran lebih halus dari butiran (< 1/16 mm) dan
diendapkan bersama-sama dengan butiran.
Semen (cement) : material berukuran halus yang mengikat butiran dan matrik,
diendapkan setelah fragmen dan matrik, contoh : semen karbonat, silika, oksida
besi, lempung, dll.

Gambar 3. Komponen pembentuk batuan sedimen klastik : butiran (clasts), masa


dasar (matrix), dan semen (semen oksida besi berwarna coklat kemerahan)
- Tekstur Batuan Sedimen Klastik
Tekstur batuan sedimen adalah segala kenampakan yang menyangkut butir
sedimen seperti besar butir, kebundaran, pemilahan dan kemas. Tekstur batuan
sedimen mempunyai arti penting karena mencerminkan proses yang telah dialami
batuan tersebut (terutama proses transportasi dan pengendapanannya) dan dapat
digunakan untuk menginterpretasikan lingkungan pengendapan batuan sedimen.

- Besar Butir (Grain Size)


Besar Butir adalah ukuran/diameter butiran, yang merupakan unsur utama dari
batuan sedimen klastik, yang berhubungan dengan tingkat energi pada saat
transportasi dan pengendapan. Klasifikasi besar butir menggunakan skala Wentworth
(Tabel 9)
Besar butir ditentukan oleh :
Jenis pelapukan : - pelapukan kimiawi (butiran halus)
- pelapukan mekanis (butiran kasar)
Jenis transportasi
Waktu/jarak transportasi
Resistensi
Tabel 1. Besar butir batuan sedimen

- Pemilahan (sorting)
Pemilahan (sorting) adalah derajat keseragaman besar butir. Istilah yang
dipakai dalam pemilahan adalah terpilah sangat baik, terpilah baik, terpilah sedang,
terpilah buruk dan terpilah sangat buruk (Gambar 15).

Gambar 4. Pemilahan dan tingkat penamaan keseragaman butir.


- Kebundaran (Roundness)
Kebundaran (roundness) adalah tingkat kebundaran atau ketajaman sudut butir,
yang mencerminkan tingkat abrasi selama transportasi. Kebundaran dipengaruhi oleh
komposisi butir, besar butir, jenis transportasi, jarak transportasi dan resistensi butir.
Istilah yang dipakai dalam kebundaran adalah very angular (sangat menyudut),
angular (menyudut), sub angular (menyudut tanggung), sub rounded (membundar
tanggung), rounded (membundar) dan well rounded (sangat membundar) (Gambar
16).

Gambar 5. Tingkat kebundaran butir.

Kemas (fabric)
Kemas (fabric) adalah sifat hubungan antar butir di dalam suatu masa dasar
atau diantara semennya, sebagai fungsi orientasi butir dan packing. Kemas secara
umum dapat memberikan gambaran tentang arah aliran dalam sedimentasi serta
keadaan porositas dan permeabilitas batuan. Istilah yang dipakai adalah kemas
terbuka (bila butiran tidak saling bersentuhan) dan kemas tertutup (bila butiran saling
bersentuhan).
Jenis-jenis kontak antar butir (Gambar 17) :
Gambar 6. Jenis-jenis kontak antar butir

- Porositas
Porositas adalah perbandingan antara volume rongga dengan volume total
batuan (dinyatakan dalam persen). Porositas dapat diuji dengan meneteskan cairan
(air) ke dalam batuan. Istilah yang dipakai adalah porositas baik (batuan menyerap
air), porositas sedang (di antara baik-buruk), dan porositas buruk (batuan tidak
menyerap air). Jenis-jenis porositas : intergranular, microporosity, dissolution dan
fracture (Gambar 18).

Gambar 7. Jenis-jenis porositas


BAB III
HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1. Hasil dan Pembahasan


4.1.1. Statiun 1
Foto 5.1. Endapan alluvial di DAS Kulowoka

Geomorfologi sekitar adalah perbukitan terjal - sedang vegetasi sedang,


terdiri dari rerumputan dan semak belukar. Daerah ini berada di sebelah selatan
jembatan yang menghubungan desa Kulowoka dan desa Deme dengan koordinat N
0056'37.6", E 12236'4.7" serta elevasi 5 mdpl. Daearh ini merupakan endapan
alluvial yang memounyai penyebaran luas pada daerah penelitian, endapan ini dapat
dijumpai dibagian utara dan selatan sepanjang daerah aliran sungai Kulowoka.
Umumnya material ini tersusun atas endapan sungai berupa batuan beku, batuan
sedimen, dan metasedimen yang bersifat exsitu, dan di perkiran akhir plistosen
hingga sekarang.

4.1.2. Stasiun 2
Foto 5.2. Singkapan konglomerat pada statiun 2

Stasiun ini berada pada percabangan sungai di DAS kulowoka dengan


koordinat N 0056'37.8", E 12236'6.7". Ciri - ciri batuan ini berwarna abu - abu,
dari kenampakkan lapangan batuan ini merupakan batuan sedimen klastik dengan
struktur perlapisan, berfragmen polimik andesit dan basalt, ukuran butir berangkal,
matriks pasir kasar - halus, tersemenkan oleh oksida besi. Berdasarkan bentuk
fragmen batuan ini yaitu konglomerat karena membundar dan kompak setiap antar
butir. hal ini mengindikasikan bahwa batuan ini telah mengalami transportasi yang
sudah jauh dari sumbernya.

4.1.3. Stasiun 3
Foto 5.3. Singkapan batupasir kasar pada statiun 3

Pada stasiun ini, geomorfologi sekitar adalah perbukitan terjal - sedang.


vegetasi sedang, terdiri dari rerumputan dan semak belukar, disingkapan ini terdapat
batupasir dan konglomerat dengan strukutur laminasi serta perulangan lapisan, setiap
lapisan pada singkapan ini mempunyai tekstur dan struktur yang berbeda dari
karakteristik tersebut dapat menjelaskan lingkungan pengendapan setiap lapisan.
Daerah ini di dominasi oleh batuan konglomerat yang mempunyai ciri khas seperti
pada stasiun 2, ini diduga merupakan formai dolokapa yang di perkirakan berumur
Miosen tengah hingga awal miosen akhir. Adapun lingkungan pengendapannya
adalah "inner sublitora" dan kedudukan stratigrafinya menindih tak selaras formasi
Tinombo yang berumur Eosen.

4.1.4. Stasiun 4
Foto 5.3. Singkapan breksi pada statiun 4.

Stasiun ini nampak morfologi berupa perbukitan terjal - sedang, Vegetasi


sedangm terdiri dari rerumputan dan semak berlukar, litologi pada stasiun ini berupa
breksi vulkanik dan batuan ini dapat dijumpai dibagian timur, DAS kulowoko, ciri -
ciri batuan berwarna abu - abu, berfragmen polimik Granodiorit dan diorit , ukuran
butir bongkah - berangkal, matriks pasir kasar - pasir halusterpilah buruk, menyudut
tanggung, dan kompak serta tersemenkan oleh oksida besi. Batuan ini di duga
merupakan formasiBoliohuto dan breksi ini diperkirakan berumur miosen tengah
hingga awal awal miosen akhir.

4.1.5. Stasiun 5

Foto 5.3. Singkapan tuff yang tertanam basalt pada statiun 5.


Stasiun ini berada pada percabangan anak sungai ke 2, pada stastiun ini di
dominasi oleh produk vulkanik secara megaskopis tersusun dari material halus -
kasar warna abu - abu kecoklatan dan tidak berfragmen tetapi terdapat xenolith pada
batuan tuf berupa basal sortasi buruk, kemas tertutup - porositas sedang. Kompak
semen oksida besi perbandingan tuf dengan basalt 80% : 20%, dengan semikian
batuan tersebut di interpretasikan sebagai batuan piroklastik berukuran Tuf kasar.

4.1.6. Stasiun 6

Foto 5.3. Singkapan basalt pada statiun 6.

Pada stasiun ini masih nampak morfologi yang sama dengan sebelumnya,
yakni perbukitan terjal, vegetasi lebat, terdiri dari rerumputan. Sedangkan litologi
yang ada pada stasiun ini yaitu basalt yang merupakan batuan beku basa, berwarna
hitam, warna lapuknya coklat, serta bertekstur afanitik yang tersusun atas gelas dan
mempunyai ukuran butir yang searagma, terlihat juga batuan ini dilapangan masif
tetapi stasiun 6 merupakan zona lemah yang mengakibatkan batuan basalt
terbresiasi / menjadi batuan silisiklastik yang di pengaruhioleh struktur geologi yang
ada di daerah penelitian, diduga batuan ini merupakan formasi Dolokapa yang
berumur miosen tengah hingga awal miosen akhir.

4.1.7. Stasiun 7
Foto 5.3. Singkapan batulempung pada statiun 7.

Stasiun 7 merupakan lokasi pengamatan terakhir yang ada di DAS kulowoka,


geomorfologi sekitar adalah perbukitan terjal, terdiri dari rerumputan dan semak
belukar. Sedangkan litologi yang ada di daerah ini yaitu perselingan antar
batulempung dan pasir tetapi lebih dominan oleh batulempung yang mempunyai
warna representatif abu - abu kecoklatan, struktur yang terlihat berupa perlapisan /
bedding dengan kedudukan umum N 65 E / 76 SE. Terpilah buruk, membundar,
kemas tertutup dan kompak, matriks lempung, tersemenkan oleh oksida besi.
Berdasarkan peta geologi regional lembar Tilamuta, batuan ini merupakan formasi
Dolokapa kemudian diterobos oleh formasi Boliohuto, diperkirakan umur batuan dari
miosen tengah hingga awal miosen akhir.

4.2. Geologi dan Pengendapan Batuan Sedimen di DAS Kulowoka


Berdasarkan interpretasi peta Topografi pola aliran sungai di daerah aliran
sungai Kulowoka yaitu Rectangular dan paralel. Pola aliran ini mengindikasikan
bahwa daerah aliran sunai Kulowoka di kontrol oleh struktur geologi berupa kekar
dan sesar mendatar serta kelurusan yang berarah relatif utara - timur. Dari
pengukuran di lapangan didapatkan bahwa tipe genetik sungai yaitu searah dengan
jurus perlapisan batuan sedimen.
Litologi daerah aliran sungai Kulowoka pada umumnya berupa batuan batuan
sedimen berfragmen andesit - basalt berukuran kerikil - bongkah, warna abu - abu.
Kemudian terdapat bongkahan batuan berupa endapan alluvial yang materialnya
sangat bervariasi hingga di jumpai juga bongkahan batuan meta sedimen.
Proses pengendapan batuan sedimen terjadi di masa lampau dengan memakan
waktu ribuan sampai jutaan tahun sehingga menjadi batuan seperti sesuai
kenampakan saat ini. Dari sudut pandang geologi khususnya sedimentologi dapat di
jelaskan urutan proses pengendapan batuan sedimen tersebut, yaitu di awali dari
pelapukan batuan induk baik proses fisika maupun kimia hingga menjadi fragmen-
fragmen yang lebih kecil (disintegrasi), kemudian hasil pelapukan tersebut
mengalami tranportasi. Proses tranportasi dalam pembentukan batuan sedimen
dilapangan umumnya melalui media aliran air sungai yang memiliki arus yang cukup
kuat. Pembentukan batuan sedimen ini dapat terbentuk di beberapa lingkungan
seperti sungai, laut dangkal, laut dalam, dan glacial(es). Setelah tertranportasi,
material sedimen kasar tersebut mengalami pengendapan dan mengalami
kompaksi/pemadatan dan akhirnya mengalami litifikasi/pembatuan dan setelah itu
terbentuklah batuan sedimen.
Batuan sedimen ini dari hasil transportasi dan deposisi material sedimen yang
diangkut oleh arus sungai yang ada pada lokasi penelitian dengan energy sedang -
kuat. Bila dilihat dari bentuk butirnya yang membulat maka diperkirakan batuan
sudah mengalami transportasi relative jauh.
Jika dihubungkan dengan kondisi geologi di lapangan, sebagian besar fragmen
batuan sedimen berasal batuan beku basalt yang telah mengalami pelapukan dan
tererosi kemudian mengalami breksiasi pada batuan itu sendiri tanpa mengalami
transportasi yang cukup jauh karena disamping itu dipengaruhi oleh aktivitas
tektonik berupa sesar yang sedang berlangsung pada kondisi geologi di lapangan. Hal
ini dapat memicu proses pelapukan dan erosi serta mengakibatkan keadaan di
permukaan pada tubuh batuan asal yang tersingkap akan hancur. Batuan sedimen
tersusun dari bahan-bahan dengan ukuran berbeda dan bentuk membulat - menyudut
yang direkat menjadi batuan padat. Bentuk fragmen yang membulat akibat adanya
aktivitas air, umumnya terdiri atas mineral atau batuan yang mempunyai ketahanan
dan relative jauh dari sumbernya. Di antara fragmen- fragmen batuan sedimen, diisi
oleh sedimen-sedimen halus sebagai perekat yang umumnya terdiri atas Oksida Besi
karena dipengaruhi oleh batuan asal (basalt) yang mempunyai kandungan banyak
besi. Fragmen-fragmen bersifat polimik/batuan atau beraneka macam campuran.
Seperti halnya konglomerat dan breksi di DAS Kulowoka dan umumnya diendapkan
pada air dangkal.

BAB V
KESIMPULAN

5.1. Kesimpulan

Sedimentologi merupakan ilmu yang mempelajari mengenai sedimen, yaitu


pembentukan lapisan tanah karena pengendapan tanah yang berpindah dari tempat
lain. Proses pembentukannya berasal dari berbagai sumber diantaranya dari
pelapukan material batuan didaratan, sisa kehidupan organisme serta proses fisika,
biologi, dan kimia lainnya.
Litologi daerah aliran sungai Kulowoka pada umumnya berupa batuan sedimen
berfragmen polimik berukuran kerikil - bongkah, warna abu - abu. Kemudian
terdapat bongkahan batuan berupa endapan alluvial yang materialnya sangat
bervariasi hingga di jumpai juga bongkahan batuan meta sedimen di tambah dengan
bongkahan-bongkahan batuan beku mulai dari basalt sampai batuan andesit.
Proses pengendapan batuan sedimen terjadi di masa lampau dengan memakan
waktu ribuan sampai jutaan tahun sehingga menjadi batuan seperti sesuai
kenampakan saat ini.

DAFTAR PUSTAKA

Bachri. S, Dkk. 1989. Geologi Lembar Tilamuta, Sulawesi. Pusat Penelitian


Pengembangan Geologi Indonesia.

Brahmantyo, 2009. Gorontalo, Totonu Yio?. Ekspedisi Geografi Indonesia


Gorontalo 2009. Pusat Survey Sumber Daya Alam Darat. Bakosurtanal.

Hall R,Wilson M. 2000. Neogene sutures in Eastern Indonesia. Journal of Asian


Earth Sciences. 18 (2000): 781-808.

Handoyo, Agus Harsolumakso. 2001. Buku Pedoman Geologi Lapangan. Bandung :


Departemen Teknik Geologi ITB.

Husein. S. 2008. Latihan Pengolahan Data dan Analisa Geologi Struktur.


Yogyakarta : Universitas Gadjah Mada
Kertapati, E. K. 2006. Aktivitas Gempabumi di Indonesia. Departeman Energi dan
Sumberdaya Mineral, Badan Geologi, Pusat Survei Geologi, Bandung.

Lab. Geomorfologi dan Penginderaan Jauh. 2001. Panduan Analisis Peta Topografi
dan Analisis Foto Udara untuk Pemetaan Geologi. Vol 1, Jurusan Geologi
FMIPA UNPAD.

Noor.D. 2010. Geomorfologi. Pakuan : Universitas Pakuan

Sudarno.I. 2008. Panduan Praktikum Geologi Struktur. Yogyakarta : Universitas


Gadjah Mada.

Susanto. A. 2012. Modul Praktikum Petrologi. Bandung : Laboratorium Petrologi


dan Endapan Mineral ITB