Anda di halaman 1dari 62

KARYA TULIS ILMIAH

ASUHAN KEPERAWATAN GERONTIK PADA PM. S DENGAN


ARTHRITIS RHEUMATOID
DI UNIT PELAYANAN SOSIAL
PURBO YUWONO BREBES

Karya Tulis Ilmiah ini diajukan sebagai salah satu syarat guna

memperoleh gelar ahli madya keperawatan

Oleh
Farikh Maris Lutfi
NIM: 13.1658.P

PRODI D III KEPERAWATAN


STIKES MUHAMMADIYAH PEKAJANGAN
PEKALONGAN
TAHUN 2016
HALAMAN PERNYATAAN ORISINALITAS

Karya Tulis Ilmiah ini adalah hasil karya saya sendiri,


dan semua sumber baik yang dikutip maupun dirujuk
telah saya nyatakan dengan benar

Pekalongan, Juni 2016

Yang Membuat Pernyataan

Farikh Maris Lutfi

NIM 13.1658.P
HALAMAN PERSETUJUAN

Karya Tulis Ilmiah berjudul Asuhan Keperawatan Gerontik Pada PM. S Dengan
Gangguan Rematik Di Unit Pelayanan Sosial Purbo Yuwono Brebes yang
disusun oleh Farikh Maris Lutfi telah disetujui untuk dipertahankan dihadapan
penguji sebagai salah satu syarat yang diperlukan untuk memperoleh gelar Ahli
Madya Keperawatan pada Program Studi D III Keperawatan STIKES
Muhammadiyah Pekajangan Pekalongan

Pekalongan, Juni 18 2016

Pembimbing

SiskaYuliana, S.Kep.,Ns.Kep.,M.Kes.Epid

NIK: 10.001.076
LEMBAR PENGESAHAN

Karya Tulis Ilmiah berjudul Asuhan Keperawatan Gerontik Pada PM. S Dengan
Gangguan Rematik Di Unit Pelayanan Sosial Purbo Yuwono Brebes yang
disusun oleh Farikh Maris Lutfi telah disetujui untuk dipertahankan dihadapan
penguji sebagai salah satu syarat yang diperlukan untuk memperoleh gelar Ahli
Madya Keperawatan pada Program Studi D III Keperawatan STIKES
Muhammadiyah Pekajangan Pekalongan

Pekalongan, Juni 2016

Dewan Penguji
Penguji I Penguji II

Herni Rejeki, M.kep., Ns. Kep.Kom SiskaYuliana, S.Kep.,Ns.Kep.,M.Kes.Epid


NIK: 96.001.016 NIK: 10.001.076

Mengetahui
Ka. Prodi DIII Keperawatan
Stikes Muhammadiyah Pekajangan Pekalongan

Herni Rejeki, M.kep., Ns. Kep.Kom


NIK: 96.001.016
KATA PENGANTAR

Allhamdulilah penulis panjatkan syukur atas nikmat dan karunia yang


diberikan Allah SWT, sehingga penulis dapat menyelesaikan Karya Tulis Ilmiah
yang berjudul Asuhan Keperawatan Gerontik Pada PM. S Dengan Gangguan
Rematik Di Unit Pelayanan Sosial Purbo Yuwono Brebes Penyusunan Karya
Tulis Ilmiah ini dapat terselesaikan tidak lepas dari bantuan dan bimbingan dari
berbagai pihak. Oleh karena itu, penulis mengucapkan terimakasih kepada yang
terhormat :
1. Kepala Unit pelayanan Sosial Purboyuwono Brebes.
2. Muhammad Arifin, S.Kp., M.Kep., selaku Ketua Sekolah Tinggi Ilmu
Kesehatan Muhammadiyah Pekajangan Pekalongan.
3. Herni Rejeki, M.kep., Ns. Kep.Kom., selaku Kepala Program Diploma III
Keperawatan Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Muhammadiyah Pekajangan
Pekalongan dan Penguji I Karya Tulis Ilmiah.
4. Siska Yuliana, S.Kep.,Ns.Kep.,M.Kes.Epid selaku penguji II Karya Tulis
Ilmiah dan pembimbing dalam penyusunan Karya Tulis Ilmiah.
5. Kedua orang tua yang telah memberikan dukungan moril dan materiil dalam
menyelesaikan Karya Tulis Ilmiah.
6. Rekan-rekan almameter yang telah memberikan dukungan dan masukan
kepada penulis.

Penulis menyadari bahwa dalam penyusunan Karya Tulis Ilmiah ini masih
jauh dari sempurna. Oleh karena itu penulis mengharapkan kritik dan saran
yang bersifat membangun dari semua pihak, sehingga hasil dari penyusunan
Karya Tulis Ilmiah ini dapat bermanfaat untuk menambah pengetahuan bagi
penulis dan profesi.

Pekalongan, Juni 2016


Farikh Maris Lutfi
13.1658.P

DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL........................................................................................ i

HALAMAN ORISINILITAS........................................................................... ii

HALAMAN PERSETUJUAN........................................................................ iii

HALAMAN PENGESAHAN.......................................................................... iv
KATA PENGANTAR....................................................................................... v

DAFTAR ISI..................................................................................................... vii

BAB I PENDAHULUAN......................................................................... 1

A. Latar Belakang.......................................................................... 1

B. Tujuan Penulis.......................................................................... 5

C. Manfaat..................................................................................... 5

BAB II KONSEP DASAR LANSIA ......................................................... 7

A. Teori Proses Menua.................................................................. 8

B. Perubahan Fisiologis Pada Lanjut Usia.................................... 12

C. Pengertian rematik .................................................................. 18

D. Etiologi..................................................................................... 19

E. Patofisiologi.............................................................................. 20

F. Manifiestasi Klinik .................................................................. 20

G. Pemeriksaan Penunjang............................................................ 21

H. Penatalaksanaan Medik............................................................ 21

I. Pengkajian Keperawatan ......................................................... 22

J. Diagnosa Keperawatan............................................................ 25

K. Fokus Intervensi........................................................................ 26

BAB III RESUME KASUS............................................................................. 31


A. Pengkajian ................................................................................ 31
B. Analisa Data dan Diagnosa Keperawatan................................. 33
C. Rencana Intervensi.................................................................... 33
D. Implementasi............................................................................. 34
E. Evaluasi..................................................................................... 36

BAB IV PEMBAHASAN............................................................................... 39

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN......................................................... 45


A. Kesimpulan .............................................................................. 45
B. Saran ........................................................................................ 46

DAFTAR PUSTAKA

LAMPIRAN-LAMPIRAN

Lampiran I : Pathways rematik

Lampiran II : Daftar singkatan

Lampiran III : Laporan Asuhan Keperawatan Gerontik Pada PM. S Dengan


Gangguan Rematik Di Unit Pelayanan Sosial Purbo Yuwono
Brebes
BAB I

PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG

Menurut Un-Population Division, Department of Economic and Sosial


Affairs (1999) jumlah lanjut usia (lansia) 60 tahun memperkirakan hampir
mencapai 600 juta orang dan diproyeksikan menjadi 2 milyar pada tahun 2050.
Saat ini lansia akan melebihi jumlah populasi anak (0-14 tahun), pertama kali
dalam sejarah umat manusia ( Darmojo dan Martono, 2009, h. 35)

Berdasarkan data World Healt Organization (WHO) dalam Depkes RI


(2013) di kawasan Asia Tenggara populasi lansia sebesar (8%) atau sekitar 14,2
juta jiwa. pada tahun 2000 jumlah lansia sekitar 15,3, sedangkan pada tahun 2005-
2010 jumlah lansia akan sama dengan jumlah anak balita, yaitu sekitar 19,3 (9%)
juta jiwa dari total populasi. Dan pada tahun 2020 diperkirakan jumlah lansia
mencapai 28,8 juta jiwa (11,34%) dari total populasi. Di Indonesia akan
menduduki peringkat Negara dengan struktur dan jumlah penduduk lanjut usia
setelah RRC, India dan Amerika serikat dengan harapan hidup di atas 70 tahun
(Nugroho, 2008, bab 1 pdf, diperoleh 18 Juni 2016)

Pertambahan jumlah lansia dibeberapa Negara, salah satunya Indonesia


telah mengubah profil kependudukan baik nasional maupun dunia. Hasil sensus
penduduk tahun 2010 menunjukan bahwa jumlah penduduk lansia di Indonesia
berjumlah 18,57 juta jiwa, meningkat sekitar 7,93% dari tahun 2000 yang
sebanyak 14,44 juta jiwa. Diperkirakan jumlah penduduk lansia di Indonesia akan
terus bertambah sekitar 450.000 jiwa pertahun. Dengan demikian, pada tahun
2025 jumlah penduduk lansia di Indonesia akan sekitar 34,22 juta jiwa. (Badan
Pusat Statistik 2010, http://respiratory D3 PER 1004575 Chpter1.pdf, diperoleh 18
Juni 2016)
Perubahan-perubahan akan terjadi pada tubuh manusia sejalan dengan
makin meningkatnya usia. Perubahan tubuh terjadi sejak awal kehidupan hingga
usia lanjut pada semua organ dan jaringan tubuh. Keadaan demikian itu tampak
pula pada semua sistem muskuloskeletal dan jaringan lain yang ada kaitannya
dengan kemungkinana timbulnya beberapa Reumatik. Salah satu golongan
penyakit Reumatik yang sering menyertai usia lanjut yang menimbulkan
gangguan musculoskeletal terutama adalah osteoarthritis. Kejadian penyakit
tersebut akan semakin meningkat sejalan dengan meningkatnya uisa manusia.
Reumatik dapat mengakibatkan perubahan perubahan otot, hingga fungsinya
dapat menurun bila otot pada bagian yang menderita tidak dilatih guna
mengaktifkan fungsi otot. Dengan meningkatnya usia menjadi tua (menua) fungsi
otot dapat dilatih dengan baik. Namun usia lanjut tidak selalu mengalami atau
menderita Reumatik. Bagaimana timbulnya kejadian Reumatik ini, sampai
sekarang belum sepenuhnya dapat dimengerti ( Darmojo dan Martono, 2009, h.
432)

Pada lansia mengalami proses degenerasi yang disertai oleh berbagai


penderitaan akibat bemacam penyakit yang menyertai proses menua. Salah satu
penyakit yang sering di derita pada lansia adalah Rematik. Rematik atau artritis
reumatoid adalah penyakit inflamasi kronis dan sistemik yang simetris, yang
terutama menyerang sendi perifer dan otot, tendon, ligamen, dan pembuluh darah
disekitarnya. Remisi spontan dan eksaserbasi yang tidak dapat diperkirakan
menandai jalannya penyakit yang mengakibatkan kecacatan ini (Jaime L
Stocklager, 2007, h. 46)

Rematik dapat menyerang semua sendi, tetapi yang paling sering diserang
adalah sendi dipergelangan tangan , kuku-kuku jari, lutut dan engkel kaki. Sendi-
sendi yang lain mungkin diserang termasuk sendi ditulang belakang, pinggul,
leher, bahu, dan bahkan sampai ke sambungan antara tulang kecil dibagian telinga
dalam. Reumatik juga mempengaruhi organ tubuh bagian dalam seperti jantung,
pembuluh darah, kulit, dan paru-paru. Serangan Reumatik biasanya simetris yaitu
menyerang sendi yang sama di kedua sisi tubuh (Haryono,dan Sulis, 2013, h. 08)
Menurut penelitian terakhir WHO mencatat angka kejadian Rematik di
Dunia mencapai 20% dari penduduk dunia yang telah terserang penyakit Rematik,
dimana 5-10% adalah mereka yang berusia 5-20 tahun dan 20% adalah mereka
yang berusia 55 tahun (Wiyono, 2010, angka kejadian Rematik, http;//www.jtpp
unimus.no/Its-pdf/pdf, diperoleh 18 Juni 2016)

Hasil riset kesahatan dasar (Rikesda) Indonesia tahun 2013 prevalensi


penyakit sendi adalah 11,9% dan kecenderungan prevalensi penyakit
sendi/Rematik 24,7%. Prevalensi berdasarkan diagnosis nakes tertinggi adalah di
Bali 19,3%, diikuti di Aceh 18,3%, Jawa barat 17,5% dan Papua 15,4%.
Sedangkan prevalensi sendi berdasarkan diagnosis nakesatau gejala tertinggi di
Nusa Tenggara Timur 33,1%, diikuti Jawa Barat 32,1%, Bali 30%. Tertinggi pada
umur 75tahun 33% dan 54,8%. Prevalensi yang didiagnosa nakes lebih tinggi
pada perempuan 13,4% di bandingkan dengan laki-laki 10,3% demikian juga
yang didiagnosa pada nakes atau gejala pada perempuan 27,5% lebih tinggi dari
laki-laki 21,8% (http: eprints.ung.ac.id/12184/2/2/2015-bab1.pdf, diperoleh 18
Juni 2016).

Hasil survey di Unit Pelayanan Sosial Lanjut Usia Purbo Yuwono Brebes
tahun 2016 terdapat 90 lansia. Peringkat lansia dengan diagnosa Rematik
menepati urutan yang ke-2 dengan rincian sebagai berikut : Dari 90 lansia
diagnose medis sebagian besar adalah Hipertensi dengan 28,6% lansia, kemudian
26,4% penderita Rematik, 19,8% penderita Asam Urat, 13,2 pendrita Diabetes
Mellitus, 12% penderita Stroke ( Arsip Unit Pelayanan Sosial Lanjut Usia Purbo
Yuwono Brebes, 2016)

Berdasarkan hasil studi pendahuluan yang dilakukan pada bulan April


2016 oleh penulis didapatkan hasil observasi dengan 3 lansia penderita Rematik di
Unit Pelayanan Sosial Purbo Yuwono Brebes mengeluh nyeri pada kaki, kekuan
pada sendi, nyeri yang di rasakan seperti ditusuk-tusuk, bertambah nyeri saat
beraktivitas, tiga orang lansia tersebut merasa kelelahan setelah beraktivitas
meskipun hanya beraktivitas ringan. Mereka semua mengatakan tidak
mengkonsumsi obat secara rutin untuk menghilangkan rasa nyerinya karena
keterbatasan obat. Jika meraka merasakan sakit hanya meminta obat kepada
petugas Unit Pelayanan Sosial Purbo Yuwono Brebes. Mereka hanya mengolesi
balsam pada sendi yang sakit dan itu pun tidak dilakukan setiap hari

Penyakit Rematik dipengaruhi oleh beberapa faktor seperti, gaya hidup


kurang sehat, kurang gerak dan olahraga, serta pengetahuan mengenai pencegahan
Rematik yang kurang. Self care lansia yang menderita Rematik di identifikasikan
sebagai tindakan yang berkaitan dengan upaya atau kegiatan lansia untuk
memberbaiki dan meningkatkan kesehatannya , seperti perbaikan nutrisi dan
olahraga teratur, istirahat cukup, obat-obatan untuk meningkatkan dan
memulihkan penyakitnya. Dalam pemulihan penyakit Rematik diperlukan
tindakan keperawatan mandiri. Untuk mencapai itu di perlukan peran perawat
gerontik yaitu memberikan Asuhan Keperawatan secara langsung kepada lansia
dan dengan pemberian nasehat, dengan memberikan bantuan terhadap PM

Berdasarkan data diatas, serta masih banyaknya angka angka kejadian


Arthitis Reumatoid maka penulis tertarik untuk mengelola pasien dengan Rematik
sebagai asuhan keperawatan yang berjudul Asuhan Keperawatan Gerontik
Rematik (Athritis Reumatoid) pada Ny. S di Unit Pelayanan Sosial Purbo Yuwono
Brebes
B. TUJUAN

1. Tujuan Umum

Penulis mampu memberikan asuhan keperawatan usia lanjut dengan benar dengan
pendekatan keperawatan

2. Tujuan Khusus

a. mampu melakukan pengkajian pada lansia dengan benar dengan masalah


Rematik

b. mampu merumuskan diagnosa keperawatan dengan benar sesuai dengan


penyakit Rematik

c. mampu menetukan rencana keperawatan pada lansia dengan benar sesuai


dengan masalah Rematik

d. mampu melaksanakan tindakan keperawatan dengan benar pada lansia dengan


masalah Rematik

e. mampu melakukan evaluasi hasil dari tindakan keperawatan yang sudah di

laukan pada lansia dengan masalah Rematik

C. MANFAAT

1. bagi ilmu pengetahuan

Di harapkan sebagai bahan bacaan dan menambah pengetahuan tentang asuhan


keperawatan gerontik pada lansia dengan penyakit Rematik

2. bagi institusi

a. sebagai bahan bacaan untuk mahasiswa khususnya tentang keperawatan


gerontik
b. untuk mengevaluasi sejauh mana penulis menguasai tentang asuhan
keperawatan gerontik

3. bagi penulis

a. Mampu melakukan pengkajian yang tepat pada lansia dengan masalah Rematik

b. Mampu merumuskan masalah keperawatan gerontik yang tepat pada lansia


dengan masalah Rematik

c. mampu menentukan rencana keperawatan gerontik yang tepat pada lansia


dengan masslah Rematik
BAB II

KONSEP DASAR

A. KONSEP LANSIA

1. Pengertian Menua

Menua (menjadi tua) adalah suatu proses menghilangnya secara


perlahan-lahan kemampuan jaringan untuk memperbaiki diri/mengganti
dan memepertahankan fungsi normalnya sehingga tidak dapat bertahan
terhadap infeksi dan memperbaiki kerusakan yang diderita (Aspiani, 2014,
h. 30).
Proses menua merupakan proses terus menerus atau berkelanjutan
secara alamiah. Dimulai sejak lahir dan umumnya dialami pada semua
makhluk hidup. Proses menua setiap individu pada organ tubuh juga tidak
sama cepatnya. Adakalanya orang belum tergolong lanjut usia atau masih
muda tapi kekurangan-kekurangannya menonjol (Aspiani, 2014, h. 30).
Menua bukanlah suatu penyakit tetapi merupakan daya tahan tubuh
dalam mengahadapi rangsangan dari dalam mapun dari luar tubuh
walaupun demikan harus diakui bahwa dihadapi berbagai penyakit yang
sering menghinggapi berbagai penyakit. Proses menua sudah mulai
berlangsung sejak seseorang mencapai ussia deaasa (Aspiani, 2014, h. 30).

Berdasarkan definisi diatas menua adalah suatu keadaan yang terjadi


di dalam kehidupan manusia. Menjadi tua adalah proses alamiah, yang
berarti seseorang telah melalui tiga tahap kehidupannya, yaitu anak,
dewasa, dan tua. Tiga tahap ini berbeda, baik secara biologis maupun
psikologis. Memasuki usia tua berarti mengalami kemunduran, misalnya
kemunduran fisik yang ditandai dengan kulit yang mengendur, rambut
memutih, gigi mulai ompong, pendengaran mulai kurang jelas, penglihatan
mulai memburuk, gerakan lambat, dan figur tubuh yang tidak proporsional.
2. Teori-teori Proses Menua

Proses menua sudah mulai berlangsung sejak seseorang mencapai usia


dewasa misalnya dengan terjadinya kehilangan jaringan pada otot,
susunan saraf, dan jaringan lain sehingga tubuh mati sedikit demi sedikit.
Teroi proses menua ada 3 jenis yaitu:

a. Teori Biologi

1) Teori Genetik Clock

Teori ini menyatakan bahwa proses menua terjadi akibat adanya


program jam genetic didalam nuklei. Jam ini akan berputar dalam
jangka waktu tertentu dan jika jam ini sudah habis putarannya
maka akan menyebabkan berhentinya proses mitosis. Hal ini
ditunjukan oleh hasil penelitian haiflick (1980), dari teori itu
dinyatakan adanya hubungan antara kemampuan membelah sel
dalam kultur dengan umur spesies mutasi somatic. Hal penting
lainnya yang perlu diperhatikan dalam menganlisis factor
penyebab terjadinya proses menua adalah faktor lingkungan yang
menyebabkan terjadinya mutasi somatic. Radiasi dan zat kimia
dapat memperpendek umur menurut teori ini terjadi mutasi
progresif pada DNA sel somatic akan menyebabkan terjadinya
penurunan kemampuan fungsional sel tersebut.

2) Teori Error

Menurut teori ini proses menua diakibatkan oleh menumpuknya


berbagai macam kesalahan sepanjang kehidupan manusia akibat
kesalahan tersebut akan berakibat kesalahan metabolism yang
dapat mengakibatkan kerusakan sel dan fungsi sel secara perlahan.
Sejalan dengan umur sel tubuh, maka terjadi beberapa perubahan
alami pada sel pada DNA dan RNA, yang merupakan substansi
pembangun atau pembentuk sel baru. Peningkatan usia
mempengaruhi perubahan sel dimana sel-sel nucleus menjadi lebih
besar tetapi tidak diikuti dengan peningkatan jumlah substansi
DNA.

3) Teori Autoimun

Pada teori ini, penuaan dianggap disebabkan oleh adanya


penurunan fungsi system immune. Perubahan itu lebih tampak
secara nyata pada Limposit,T disamping perubahan juga terjadi
pada Limposit,B. perubahan yang terjadi meliputi penurunan
system immun humoral, yang dapat menjadi factor presdisposisi
pada orang tua untuk: (a). menurunkan resistensi melawan
pertumbuhan tumor dan perkembangan kanker (b). menurunkan
kemampuan untuk mengadakan inisiasi proses dan secara agresif
memobilisasi pertahanan tubuh terhadap pathogen (c).
meningkatkan produksi autoantigen, yang berdampak pada
semakin meningkatnya risiko terjadinya penyakit yang
berhubungan dengan autoimun.

4) Teori Free Radical

Teori radical bebas mengasumsikan bahwa proses menua menjadi


akibat kurang efektifnya fungsi kerja tubuh. Yang disebut radikal
bebas disini adalah molekul yang memiliki tingkat afinitas yang
tinggi, merupakan molekul, fragmen molekul atau atom dengan
electron yang bebas tidak berpasangan. Radikal bebas merupkan
zat yang terbentuk dalam tubuh manusia sebagai salah satu hasil
kerja metabolism tubuh. Walaupun secara normal terbentuk dari
proses metabolism tubuh, tetapi ia dapat terbentuk akibat;(1) proses
oksignisasi lingkungan seperti pengaruh polutan, ozon dan
pestisida. (2) Reaksi akibat paparan dengan radiasi (3) sebagai
reaksi berantai dengan molekul bebas lainnya. Penuaan dapat
terjadi akibat interaksi dari komponen radikal bebas dalam tubuh
manusia. Radikal bebas dapat berupa: superoksida (02), radikal
hidroksil, dan H2O2. Radikal bebas sangat merusak karena sangat
reaktif, sehingga dapat bereaksi dengan DNA, protein, dan asam
lemak tak jenuh.

5) Teori kolagen

Kelebihan usaha dan stress dapat menyebabkan kerusakan sel


tubuh.

6) Teori biologi

Peningkatan jumlah kolegen dalam jaringan menyebabkan


kecepatan kerusakan jaringan dan melambatnya proses perbaikan
sel jaringan.

b. Teori psikososial

1) Teori Aktivitas (Activity Theory)

teori ini menyatakan bahwa seorang individual harus mampu eksis


dan aktif dalam kehidupan social untuk mencapai kesuksesan
dalam kehidupan di hari tua. Aktivitas dalam teori ini dipandang
sebagai sesuatu yang vital untuk mempertahankan rasa kepuasan
pribadi dan kosie diri yang positif. Teori ini berdasarkan pada
asumsi bahwa: (1) aktif lebih baik dari pada pasif (2) gembira lebih
baik dari pada tidak gembira (3) orang tua merupakan orang yang
baik untuk mencapai kesuksesan dan memilih alternative pilihan
aktif dan bergembira. Penuaan menurunkan jumlah kegiatan secara
langsung.

2) Teori Kontinuitas (Theory Continuitas)

teori ini memandang kondisi tua merupakan kondisi yang selalu


terjadi dan secara berkesinambungan yang harus dihadapi oleh
orang lanjut usia. Adanya suatu kepribadian berlanjutan yang
menyebabkan adanya suatu pola perilaku yang meningkatkan
stress.

3) Disanggement Theory

putusnya dengan dunia luar seperti dengan masyarakat, hubungan


dengan individu lain.

4) Teori Stratifikasi Usia

karena orang yang digolongkan dalam usia tua akan mempercepat


proses penuaan.

5) Teori Kebutuhan Manusia

orang yang bisa mencapai aktualisasi menurut penelitian 5% dan


tidak semua orang mencapai kebutuhan yang sempurna.

6) Jung Theory

Terdapat tingkatan hidup yang mempunyai tugas dalam


perkembngan kehidupan manusia.

7) Course of Human Life Theory

Seseorang dalam hubungan dengan lingkungan ada tingkat


maksimumnya.

8) Devlopment task Theory

tiap tingkat kehidupan mempunyaib tugas perkembangan sesuai


dengan usahanya

c. Environmental theory (Teori Lingkungan)

1) Teori Radiasi (Radiation Theory)


Setiap hari manusia terpapar dengan radiasi baik Karena asinar
matahari maupun dalam bentuk gelombang-gelombang mikro yang
telah menumbuk tubuh tanpa terasa yang dapat mengakibatkan
perubahan susunan DNA dalam sel hidup atau bahkan sel mati.

2) Teori Stress (Stress Theory)

Stress fisik maupun psikologi dapat mengakibatkan pengeluaran


neurotransmitter tertentu yang dapat mengakibatkan perfusi
jaringan menurun sehingga jaringan mengalami kekurangan
oksigen dan mengalami gangguan metabolisme sel sehingga terjadi
penurunan jumlah cairan dalam sel dan penurunan eksisitas
membrane sel.

3) Teori Populasi (Pollution Theory)

Tercemarnya lingkungan dapat mengakibatkan tubuh mengalami


gangguan pada system psikoneuroimunologi yang seterusnya
mempercepat terjadinya proses penuaan dengan perjalanan yang
masih rumit untuk dipelajari.

4) Teori Pemaparan (Exposure Theory)

Terpaparnya sinar matahari yang mempunyai kemampuan mirip


dengan sinar ultra yang lain mampu mempengaruhi susunan DNA
sehingga proses penuaan atau kematian sel bisa terjadi.

3. Perubahan fisiologis pada lanjut usia

a. Sel

1) Lebih sedikit jumlanya.

2) Lebih besar ukurannya.

3) Berkurangnya cairan tubuh dan berkurangnya cairan intraseluler.


4) Meurunya proporsi protein di otak, otot, ginjal, darah dan hati.

5) Jumlah sel otak meurun

6) Tergangungya mekanisme perbaikan sel.

7) Otak menjadi atrofi beratnya berkurang 5-20%

(Aspiani, 2014, h. 35)

b. Sistem Cardiovaskuler

1) Elastisitas dinding aorta menurun.

2) Katup jantung menebal dan menjadi kaku.

3) Kemampuan jantung memompa darah menurun 1% setiap tahunya


sesudah berumur 20 tahun, hal ini menyebabkan menurunya
kontraksi dan volumenya.

4) Kehilangan elastisitas pembuluh darah, kurangnya efektivitas


pembuluh darah perifer untuk oksigenasi

5) Tekanan darah meninggi akibat meningkatnya resistensi dari


pembuluh darah perifer: sistolis normal 170 mmHg, distolis
normal 90 mmHg (Aspiani, 2014, h. 36)

c. Sitem Pernafasan

1) Otot-otot pernafasan kehilangan kekuatan dan menjadi kaku.

2) Menurunya aktivitas dari silia.

3) Paru-paru kehilangan elastisitas.

4) Alveoli ukurannya melebar dari biasa dan jumlahnya berkurang.

5) Oksigen pada arteri menurun menjadi 75 mmHg.

6) Karbondioksida pada arteri tidak berganti.


7) Kemampuan utuk batuk berkurang.

8) Kemampuan pegas, dinding , dada, dan kekuatan otot pernafasan


akan menurun seiring dengan bertambahnya usia (Aspiani,2014, h.
36)

d. Sistem Persarafan

1) Berat otak menurun 10-20% (setiap orang berkurang sel saraf


otaknya dalam setiap harinya).

2) Cepat menurunya hubungan persarafan.

3) Lambat dalam respon dan waktu untuk bereaksi, khususnya dengan


stress.

4) Mengecilnya saraf panca indra: berkurangnya penglihatan,


berkurangnya pendengaran, mengecilnya saraf penciuman dan
perasa, lebih sensitive terhadap perubhan suhu dengan rendahnya
ketahanan terhadap dingin.

5) Berkurangnya sensitivue terhadap sentuhan (Aspiani, 2014, h. 36-


37)

e. Sistem Gastrointsetinal

1) Kehilangan gigi: penyebab utuama adanya periodontal Disease


yang bisa terjadi setelah umur 30 tuahun, penyebab lain meliputi
kesehatan gigi yang buruk dan gizi yanuug buruk.

2) Indra pengecap menurun: adanya iritasi yang kronis dan selaput


lendir, atropi indra pengecauup (80%), hilangnya sensifitas dari
indra pengecap di lidah teruutama rasa manis bdan asin, hilangnya
sensifitas dari saraf pengecap tentang rasa asin, asam, pahit.

3) Esofagus melebar.
4) Lambung: rasa lapar menurun (sensivitas lapar menurun), asam
lambung lambung meunurun, waktu mengosongkan menurun.

5) Peristaltic lemah dan biasanya timbul konstipasi.

6) Fungsi absorbsi melemah (daya absorbsi terganggu)

7) Liver: makin mengecil dan menurunya tempat penyimpanan,


berkurangnya aliran darah (Aspiani, 2014, h. 37)

f. Sistem Genitourinaria

1) Ginjal, merupakan alat untuk mengeluarkan sisa metabolisme


tubuh melalui urin darah yang masuk ke ginjal disaring oleh satuan
(unit) terkecildari ginjal yang disebut nefron. Kemudian mengecil
dan nefron menjadi atrofi, aliran darah ke ginjal menurun sampai
50%, fungsi tubulus berkurang akibatnya kurangnya kemampuan
mengkonsentrasi urin, berat jenis urin menurun proteinuria
(biasanya +1) BUN (Blood Urea Nitrogen) meningkat sampai 21
mg%, nilai ambang ginjal terhadap glukosa meningtkat.

2) Vesika Urinaria, otot- otot menjadi lemah, kapasitasnya menurun


sampai 200 ml atau menyebabkan frekuensi buang air seni
meningkat, vesika urinaria susah di kosongkan pada pria lanjut usia
sehingga mengakibatkan meningkatnya retensi urin .

3) Pembesaran prostat 75% dialami oeloh pria usia diatas 65 tahun


(Aspiani, 2014, h. 37)

g. Sistem Endokrin

1) Produksi dari semua hormone menurun.

2) Fungsi parathyroid dan sekresinya tidak berubah.


3) Pituitary; pertumbuhan hormone ada tetapi lebih rendah dan hanya
didalam pembuluh darah, berkurangnya produksi dari ACTH
(Adrenocortikotropic Hormone)

4) Menurunya aktivitas tiroid, menurunya BMR (Basal Metabolic


Rate), dan menurunya daya pertukaran zat.

5) Menurunya produksi aldosteron.

6) Menurunya seksresi hormone kelamin, misalnya: progesterone,


estrogen, dan testosteron (Aspiani, 2014, h. 38)

h. Sistem indera

1) Sistem pendengaran

a) Presbiakusis (gangguan pendengaran). Hilangnya kemampuan atau


daya pendengaran pada telinga dalam, terutama terhadap bunyi
suara atau nada-nada yang tinggi, suara yang tidak jelas, sulit
mengerti kata-kata, 50% terjadi pada usia di atas umur 65 tahun.

b) Membrane timpani menjadi atropi menyebabkan otosklerosis.

c) Terjadinya pengumpulan cerumen dapat mengeraskarena


meningkatnya keratin.

d) Pendengaran menurun pada lanjut usia yang mengalami


ketenggangan jiwa atau stress

2) Sistem Penglihatan

a) Spingter pupil timbul sklerosis dan hilangya respon terhadap sinar.

b) Lensa lebih suram (kekeruhan pada lensa) menjadi katarak, jelas


menyebabkan gangguan penglihatan.

c) Meningkatkan ambang, pengamatan sinar, daya adaptasi terhadap


kegelapan, lebih lambat dan susah melihat dalam cahaya gelap.
d) Hilangnya daya akomodasi.

e) Menurunya lapang panndang

f) Menurunnya daya membedakan warna biru/hijau pada skala.

3) Sistem Peraba

Indra peraba memberikan pesan yang paling inti dan yang paling
mudah untuk menterjemahkan. Biola indra lain hilang, rabaan dapt
mengurangi perasaan sejahtera. Meskipun reseptor lain akan
menumpul dengan bertambahnya usia, namun tidak pernah hilang

4) Sistem Pengecap

Empat rasa dasar yaitu manis, asam. Asin, pahit. Diantara


semuanya, rasa manis yang paling tumpul pada lansia. Maka jelas
bagi kita mengapa mereka senang membubuhkan gula secara
berlebihan. Rasa yang tumupul menyebabkan kesukaan terhadap
makanan yang asin dan banyak berbumbu (Aspini, 2014, h. 38)

i. Sitem integumen

1) Kulit mengkerut dan keriput akbita hilangnya jaringan lemak.

2) Permukaan kulit kasar dan bersisik.

3) Menurunnya respon terhadap trauma.

4) Mekanisme proteksi kulit menurun.

5) Kulit kepala dan rambut menipis berwarna kelabu.

6) Rambut dalam hidung dan telinga menebal.

7) Berkurangnya elastisitas akibat dari menurunnya cairan dan


vaskularisasi.

8) Pertumbuhan kuku lebih lambat.


9) Kuku jari menjadi keras dan rapuh.

10) Kuku kaki tumbuh secara berlebihan.

11) Kelenjar keringat berkurang jumlahnya.

12) Kuku menjadi pudar dan kurang bercayaha (Aspini, 2014, h. 39)

j. Sistem Muskuloskeletal

1) Tulang kehilangan density (cairan) dan makin rapuh dan


osteoporosis

2) Kifosis

3) Pinggang, lutut, dan jari-jari pergelangan terbatas.

4) Discus intervertebalis menipis dan menjadi pendek (tingginya


berkurang)

5) Tendon mengkerut dan mengalami sklerosis.

6) Persendian membesar dan menjadi kaku

7) Serabut otot mengecil.

8) Otot-otot polos tidak begitu berpengaruh (Aspini, 2014, h. 40)

k. Sistem reproduksi dan seksualitas

1) Vagina

Seseorang yang makin menua sexual intercourse masih


membutuhkannya, tidak ada batasan umur tertentu. Fungsi seksual
berhenti, frekuensi sexual intercourse cenderung menurun secara
bertahap setiap tahun tetapi kapasitas untuk melakukan dan
menikmatiterus berjalan sampai tua.

2) Mengecilnya ovary dan uterus.


3) Atrofi payudara .

4) Pada laki-laki testis masih menghasilkan spermatozoa, meskipun


adanya penurunan secara berangsur.

5) Dorongan seksualitas menetap sampai usia di atsa 70 tahun (asal


kondisi kesehatan baik)

6) Produksi estrogen pada progesterone oleh ovarium menurun saat


menopause. Perubahan yang terjadi pada sistem reproduksi wanita
meliputi penipisan dinding vagina, mengakibatkan kekeringan,
gatal, dan menurunya keasaman vagina. Pada pria lansia penis dan
tetis menurun ukurannya dan kadar androgen berkurang (Aspiani,
2014, h. 40-41)

B. Konsep Rematik

1. Pengertian
Rematik atau Arthritis Rheumatoid adalah peradangan sendi
kronis yang disebabkan oleh gangguan autoimun. Gangguan autoimun
terjadi ketika sistem kekebalan tubuh yang berfungsi sebagai pertahanan
terhadap penyusup seperti, bakteri , virus dan jamur, keliru menyerang sel
dan jaringan tubuh sendiri. Pada penyakit Rematik, sistem imun gagal
membedakan jaringan sendiri dengan benda asing, sehingga menyerang
jaringan tubuh sendiri, khususnya jaringan sinovium yaitu selaput tipis
yang melapisi sendi. Hasilnya dapat mengakibatkan sendi bengkak, rusak,
nyeri, meradang, kehilangan fungsi bahkan cacat (Haryono,
Setiyaningsih, 2013, h . 7-8)
Rematik atau Arthritis Rheumatoid adalah suatu penyakit
inflamasi kronis yang menyebabkan degenerasi jaringan penyambung.
Jaringan penyambung yang biasanya mengalami kerusakan pertama kali
adalah membrane synovial, yang melapisi sendi. Pada arthritis
rheumatoid, inflamasi tidak berkurang dan menyebar ke struktur sendi di
sekitarnya, kartilago artikular dan kapsul sendi fibrosa. Akhirnya,
ligament dan tendon mengalami inflamasi. Inflamasi ditandai dengan
akumulasi sel darah putih, aktivitas komplemen, fagositosis ekstensif dan
pembentukan jaringan parut. Pada inflamasi kronis, mebran sinovil
mengalami hipertrofi dan menebal sehinnga menyumbat aliran darah dan
lebih lanjut menstimulasi nekrosis sel dan respon inflamasi. Sinovium
yang menebal ditutup oleh jaringan granula inflamasiyang disebut panus.
Panus dapat menyebar ke seluruh sendi sehinnga menyebabkan inflamasi
dan pembentukan jaringan parut lebih lanjut. Proses ini secara lambat
merusak tulang dan menimbulkan nyeri hebat serta deformitas (Elizabeth
J. Corwin , 2009, h. 347)
Dari definisi diatas maka dapat di simpulkan penyakit Rematik
adalah penyakit auto imun dengan peradangan yang tersebar diseluruh
tubuh, mencakup keterlibatan sendi dan berbagai berbagai organ di luar
persendian. Peradangan kronis di persendian mengakibatkan kerusakan
struktur sendi yang terkena. Peradangan sendi biasanya mengenai
beberapa persendian sekaligus. Peradangan sendi terjadi akibat sinovitis
(radang selaput sendi) serta pembentukan panus yang mengakibatkan
kerusakan pada sendi dan tulang disekitarnya.

2. Etilogi Rematik

Menurut Khalid Mujahidullah (2012) Rematik merupakan sindrom yang


hingga saat ini terdapat lebih dari 100 macam penyakit yangdi
klasifiikasikan dalam golongan Rematik. Sebagian besar belum dapat
dijelaskan penyebabnya. Pada usia lanjut sebab-sebab gangguan Rematik
atau pada system musculoskeletal dapat di kelompokan sebagiai berikut:
a. Mekanik :

1) penyakit sendi degeneratife (osteoarthritis)

2) Sterosis spinal.

b. Metabolic: Osteoporosis,myxedema, penyakit paget.

c. Berkaitan dengan penyakit keganasan: artropati kasino matosa


atau neurimiopati dan dermatomyosistis, osteoatropati
hipertropika.

d. Pengaruh obat :

1) Diuretika dapt menimbulkan GOUT.

2) Lupus eritronatosis sistemik.

e. Radang : polymyalgia Reumatika, temporal (giant cell), atritis


gout. Adapun beberapa faktor yang resiko yang diketahui
adalah:

1). Usia lebih dari 40 tahun

2). Jenis kelamin, wanita yang lebih sering

3). Kegemukan dan penyakit metabolik


4). Cedera sendi, pekerjaan dan olahraga

5). Kelainan pertumbuhan


6). Kepadatan tulang dan lain-lain

3. Patofisiologi

Inflamasi mula-mula terjadi pada sendi-sendi synovial seperti


edema, kongesti vaskuler, eksudat fibrin dan infiltrasi selular. Peradangan
yang berkelanjutan, synovial menjadi menbal, terutama pada sendi artiluar
kartilago dari sendi. Pada persendian ini granulasi membentuk panus atau
penut yang menutupi kartilago. Panus masuk ke tulang subchondria.
Jaringan granulasi menguat karena radang menimbulkan gangguan pada
nutrisi kartilago artikuler. Kartilago menjadi nekrosis, tingkat erosi dari
kartilago menetukan tingkat ketidak mampuan sendi. Bila kerusakan
kartilago sangat luas maka menjadi adhesi di antara permukaan sendi,
karena jaringan fibrosa atau tulang bersatu (ankilosis). Kerusakan kartilago
dan tulang menyebabkan tendon dan ligament menjadi lemah dan bisa
menimbulkan subluksasi atau dislokasi dari persendiaan. Invasi dari tulang
subchondrial bisa menyebabkan osteoporosis setempat.
Lamanya athrtitis rheumatoid berbeda dari tiap orang. Di tandai
dengan masa adanya serangan dan tidak adanya serangan. Sementara ada
orang yang sembuh dari serangan pertama dan selanjutnya tidak terserang
lagi. Dan ada juga klien terutama yang mempunyai faktor rheumatoid
(seropositif gangguan rheumatoid) gangguan akan menjadi kronis yang
progresif (Mujahidullah, 2012, h. 81-82)

4. Tanda gejala

Pada setiap orang gejala Rematik yang dirasakan berbeda-beda, berikut


adalah beberpa tanda dan gejala umum yang dirasakan dari penyakit
Rematik:
a. Kekauan pada dan seputar sendi yang berlangsung sekitar 30-60 menit
di pagi hari.

b. Bengkak pada beberapa sendi pada saat yang bersamaan.

c. Bengkak dari nyeri pada umunya terjadi pada sendi-sendi tangan.

d. Bengkak dan nyeri umunya terjadi dengan pola yang simetris (nyeri
pada sendi yang sama di kedua sisi tubuh) dan umumya menyerang
sendi pergelangan tangan.

e. Sakit atau radang dan terkadang bengkak dibagian persendiaan


pergelangan jari, tangan, kaki, bahu, lutut, pinggang, punggung dan
sekitar leher.

f. Sakit Rematik dapat berpindah-pindah tempat dan bergantian bahkan


sekaligus diberbagai persendian.

g. Sakit Rematik kambuh biasanya pada saat cuaca mendung saat mau
hujan setelah mengkonsumsi makanan pantangan seperti; sayur
bayam, kangkung, kelapa, santan, dan lain-lain (Haryono dan
Setianingsih, 2013, h. 10)

5. Pemeriksaan penunjang

a. Tes seroligi

1.) BSE positif

2.) Darah, bisa terjadi anemia dan leukositis

3.) Rheumatoid faktor terjadi 50-90% penderita

b. Pemeriksaan radiologi

1.) Periarticular osteoporosis, permulaan sendi-sendi erosis


2.) Kelanjutan penyakit: ruang sendi menyempit, subluksasi dan
ankilosis

c. Aspirasi sendi

1.) Cairan synovial menunjukan adanya proses radang aseptic,


cairan dari sendi di kultur dan bisa diperiksa secara makrosop
(Mujahidullah ,2012, h. 83)

6. Penatalaksanaa medik

a. Medikamentosa

Tidak ada pengobatan medikamentosa yang spesifik, hanya bersifat


simtomatik. Obat anti inflamasi nonsteroid (OAINS) bekerja hanya
sebagai analgentik dan mengurangi peradangtan, tidak mampu
menghentikan proses patologis.

1) Analgetik yang daapt dipakai adalah asetaminofen dosis2,6-4 g/hr atau


propeksifen HCL. Asam salisilat juga cukup efektif namun perhatikan
efek samping pada saluran cerna dan ginjal.

2) Jika tidak berpengaruh atau jika terdapat tanda peradangan, maka


OAINS seprti fenoprofin, piroksikam, ibuprofen, dan sebagianya dapt
digunakan. Dosis untuk osteoarthritis biasanya -1/3 dosis penuh untuk
arthritis rheumatoid. Oleh karena itu pemakaian biasanya untuk jangka
panjang, efek samping utama adalah ganguan mukosa lambung dan
gangguan faal ginjal

b. Perlindungan sendi dengan koreksi postur tubuh yang buruk,


penyangga utuk lordosis lumbal, menghindari aktivitas yang
berlebihan pada sendi yang sakit, dan pemakaian alat-alat untuk
meringankan kerja sendi.

c. Diet untuk menurunkan berat badan dapat mengurangi timbulnya


keluhan.
d. Dukungan psikososial.

e. Persoalan seksual, terutama pada pasien dengan osteartritis di tulang


belakang.

f. Fisioterapi dengan pemakaian panas dan dingin, serta program


latihan yang tepat.

g. Operasi dipertimbangkan pada pasien dengan kerusakan sendi yang


nyata, dengan nyeri yang menetap, dan kelemahan fungsi
(Mujahidullah, 2012, h. 83-84)

7. Pengkajian Keperawatan

a. Identitas

Nama, umur, jenis kelamin, status, alamat, pekerjaan, penanggung


jawab.Data dasar pengkajian penerima manfaat tergantung pada
keparahan dan keterlibatan organ-organ lainnya (misalnya mata,
jantung, paru-paru, ginjal), tahapan misalnya eksaserbasi akut atau
remisi dan keberadaaan bersama bentuk-bentuk arthritis lainnya.

b. Keluhan utama

Keluhan utama yang sering ditemukan pada klien dengan penyakit


Rematik adalah klien mengeluh nyeri

c. Riwayat penyakit sekarang

Berupa uraian pada mengenal penyakit yang diderita oleh klien


dadri mulai timbulnya keluhan yang dirasakan.

d. Riwayat penyakit dahulu

Riwayat penyakit kesehatan yang dulu sperti riwayat penyakit


musculoskeletal sebelumnya
e. Riwayat penyakit keluarga

Yang perlu dikaji apakah dalam keluarga ada yang menderita


penyakit yang sama.

f. Pemeriksaan fisik

1.) Keadaan umum

Keadaan umum klien lansia yang mengalami gangguan


musculoskeletal biasanya lemah

2.) Kesadaran

Kesadaran klien biasanya composmentis dan apatis


3.) Tanda- tanda vital

a) Suhu

b) Nadi

c) Pernafasan

d) Tekanan darah

4) Pemeriksaan Review Of System

a) System pernafasan (B1 : Breathing)

Dapat ditemukan peningkatan frekuensi nafas atau masih


dalam batas normal.

b) System sirkulasi (B2 : Bleeding)

Kaji adanya penyakit jantung, frekuensi nadi apika;, sirkulasi


perifer, warna dan kehangatan.

c) System persarafan (B3 : Brain)


Kaji adanya hilangnya gerakan/ sensai, spasme otot, terlihat
kelemahan/hilang fungsi. Pergerakan mata/kejelasan melihat,
dilatasi pupil.

d) System perkemihan(B4 : Bleder)

Perubahan pola perkemihan, seperti disuria, distensi kandung


kemih, warna dan bau urin.

e) Sitem pencernaan (B5 : Bowel)

Konstipasi, konsistensi feses, frekuensi eliminasi, auskultasi


bising usus, anoreksia, adanya distensi abdomen, nyeri tekan
abdomen.

f) System musculoskeletal (B6 : Bone)

kaji adanya nyeri berat tiba-tiba/mungkin, terlokasi pada area


jaringan, dapat berkurang pada imobilisasi, kekuatan, otot,
kontraktur, atrofi oto, laserasi kulit dan perubahan warna.

5) Pola fungsi kesehatan

a) Pola persepsi dan tata laksana pola hidup sehat

b) Pola nutrisi

Mengambarkan masukan nutrisi, balance cairan, nafsu makan,


pola makan, diet, kesulitan menelan, mual/muntah dan
makanan kesukaan.

c) Pola eliminasi

Menggambarkan pola fungsi ekskresi, kandung kemih,


defekasi, ada tidaknya masalah defekasi, masalah nutrisi.

d) pola istirahat tidur


menggambarkan pola tidur, istirahat dan persepsi terhadap
energy, jumlah tidur malam dan siang, masalah tidur

e) Pola hubungan dan peran

Mnggambarkan dan mengetahui hubungfan peran klien


terhadap anggota keluarga dan masyarakat tempat tinggal,
pekerjaan, tidak punya rumah, masalah keuangan. Pengkajian
APGAR keluarga.

f) Pola sensori kognitif

Menjelaskan persepsi sensori dan kognitif. Pola sensori


meliputi pengkajian pengelihatan, pendengaran, perasaan,
pembau. Pengkajian ststus mental menggunakan Tabel Short
Portable Mental Status Quesionare (SPMSQ).

g) Pola persepsi dan konsep diri

Menggambarkan sikap tentang diri sendiri dan persepsi


terhadap kemampuan konsep diri. Konsep diri
menggambarkan gambaran diri, harga diri, peran, identitas
diri. Manusia sebagai system terbuka dan mahkluk bio-psiko
sosio-kultural-spiritual, kecemasan, ketakutan, dan dampak
terhadap sakit. Pengkajian tingkat Depresi menggunakan
Tabel Inventaris Depresi Back

h) Pola seksual dan reproduksi

Menggambarkan kepuasan masalah terhadap seksualitas

i) Pola mekanisme koping

Menggambarkan kemampuan untuk menangani strees


j) Pola tata nilai dan kepercayaan

Menggambarkan dan menjelaskan pola nilai keyakinan


termasuk spiritual (Aspiani, 2014, h. 261-264)

g. Diagnosa keperawatan
a. Nyeri akut/kronis berhubungkan dengan agen pencedera distensi
jaringan oleh akumulasi cairan/ proses inflamasi, destruksi sendi.
b. Kerusakan Mobilitas Fisik berhubungan dengan: Deformitas skeletal.
Nyeri, ketidaknyamanan, Intoleransi aktivitas, penurunan kekuatan otot.
c. Gangguan citra tubuh/perubahan penampilan peran berhubungan
dengan perseptual kognitif, psikisosial, perubahan kemampuan untuk
melaksanakan tugas-tugas umum, peningkatan penggunaan energi,
ketidakseimbangan mobilitas.
d. Kurang perawatan diri berhubungan dengan kerusakan muskuloskeletal;
penurunan kekuatan, daya tahan, nyeri pada waktu bergerak, depresi
(Kushariyadi, 2010, h.131-141)

h. Intervensi keperawatan
a. Nyeri akut/kronis berhubungkan dengan : agen pencedera; distensi
jaringan oleh akumulasi cairan/ proses inflamasi, destruksi sendi.

Kriteria Hasil:
1) Menunjukkan nyeri hilang/ terkontrol.
2) Terlihat rileks, dapat tidur/beristirahat dan berpartisipasi dalam
aktivitas sesuai kemampuan.
3) Mengikuti program farmakologis yang diresepkan.
4) Menggabungkan keterampilan relaksasi dan aktivitas hiburan ke
dalam program kontrol nyeri.

Intervensi Keperawatan :

1. Kaji nyeri, catat lokasi dan intensitas (skala 0-10). Catat faktor-
faktor yangmempercepat dan tanda-tanda rasa sakit non verbal
2. Berikan matras/kasur keras, bantal kecil, tinggikan linen tempat tidur
sesuai kebutuhan

3. Tempatkan/panatau penggunaan bantal, karung pasir, gulungan trokhanter,


bebat, brace

4. Dorong untuk sering mengubah posisi, Bantu untuk bergerak di


tempat tidur, sokong sendi yang sakit di atas dan bawah, hindari
gerakan yang menyentak

5. Anjurkan pasien untuk mandi air hangat atau mandi pancuran pada
waktu bangun tidur. Sediakan waslap hangat untuk mengompres
sendi-sendi yang sakit beberapa kali sehari. Pantau suhu air kompres,
air mandi, dan sebagainya.

Rasional :

1. Membantu dalam menetukan dalam menentukan kebutuhan menejemen


nyeri dan keefektifan program

2. Matras yang lembut/ empuk, bantal yang besar akan memelihara


kesejajaran tubuh yang tepat, menempatkan stress pada sendi yang sakit.
Peninggian linen tempat tidur menurunkan tekanan pada sendi yang nyeri

3. Mengistirahatkan sendi-sendi yang sakit dan mempertahankan posisi


netral. Penggunaan brace dapat menurunkan nyeri dan dapat
mengurangi kerusakan pada sendi

4. Mencegah terjadinya kelelahan umum dan kekakuan sendi,


menstabilkan sendi, mengurangi gerakan/ rasa sakit pada sendi

5. Panas meningkatkan relaksasi otot, dan mobilitas, menurunkan rasa


sakit dan melepaskan kekakuan di pagi hari. Sensitivitas pada panas
dapat dihilangkan dan luka dermal dapat disembuhkan

b. Kerusakan Mobilitas Fisik berhubungan dengan: Deformitas skeletal


Nyeri, ketidaknyamanan, Intoleransi aktivitas, penurunan kekuatan otot.

Kriteria Hasil :
1) Mempertahankan fungsi posisi dengan tidak hadirnya/ pembatasan
kontraktur.
2) Mempertahankan ataupun meningkatkan kekuatan dan fungsi dari
dan/ atau konpensasi bagian tubuh.
3) Mendemonstrasikan tehnik/ perilaku yang memungkinkan
melakukan aktivitas.
Intervensi Keperawatan :

1) Evaluasi/ lanjutkan pemantauan tingkat inflamasi/ rasa sakit pada


sendi

2) Pertahankan istirahat tirah baring/ duduk jika diperlukan jadwal


aktivitas untuk memberikan periode istirahat yang terus menerus
dan tidur malam hari yang tidak terganggu

3) Bantu dengan rentang gerak aktif/pasif, demikian juga latihan


resistif dan isometris jika memungkinkan

4) Ubah posisi dengan sering dengan jumlah personel cukup.


Demonstrasikan/ bantu tehnik pemindahan dan penggunaan bantuan
mobilitas

5) Posisikan dengan bantal, kantung pasir, gulungan trokanter, bebat,


brace

Rasional :

1) Tingkat aktivitas/ latihan tergantung dari perkembangan/ resolusi


dari peoses inflamasi

2) Istirahat sistemik dianjurkan selama eksaserbasi akut dan seluruh


fase penyakit yang penting untuk mencegah kelelahan
mempertahankan kekuatan
3) Mempertahankan/ meningkatkan fungsi sendi, kekuatan otot dan
stamina umum. Catatan : latihan tidak adekuat menimbulkan
kekakuan sendi, karenanya aktivitas yang berlebihan dapat merusak
sendi

4) Menghilangkan tekanan pada jaringan dan meningkatkan siirkulasi


Memepermudah perawatan diri dan kemandirian pasien. Tehnik
pemindahan yang tepat dapat mencegah robekan abrasi kulit

5) Meningkatkan stabilitas (mengurangi resiko cidera) dan


memerptahankan posisi sendi yang diperlukan dan kesejajaran
tubuh, mengurangi kontraktor.

c. Gangguan citra tubuh./perubahan penampilan peran berhubungan


dengan perubahan kemampuan untuk melaksanakan tugas-tugas umum,
peningkatan penggunaan energi, ketidakseimbangan mobilitas.

Kriteria Hasil :
1) Mengungkapkan peningkatan rasa percaya diri dalam kemampuan
untuk menghadapi penyakit, perubahan pada gaya hidup, dan
kemungkinan keterbatasan.

2) Menyusun rencana realistis untuk masa depan.

Intervensi keperawatan :

1) Dorong pengungkapan mengenai masalah tentang proses penyakit,


harapan masa depan

2) Diskusikan arti dari kehilangan/ perubahan pada pasien/orang terdekat.


Memastikan bagaimana pandangaqn pribadi pasien dalam
memfungsikan gaya hidup sehari-hari, termasuk aspek-aspek seksual

3) Diskusikan persepsi pasienmengenai bagaimana orang terdekat


menerima keterbatasan.
4) Akui dan terima perasaan berduka, bermusuhan, ketergantungan

5) Perhatikan perilaku menarik diri, penggunaan menyangkal atau terlalu


memperhatikan perubahan

6) Susun batasan pada perilaku mal adaptif. Bantu pasien untuk


mengidentifikasi perilaku positif yang dapat membantu koping.

Rasional :

1) Berikan kesempatan untuk mengidentifikasi rasa takut/ kesalahan


konsep dan menghadapinya secara langsung

2) Mengidentifikasi bagaimana penyakit mempengaruhi persepsi diri dan


interaksi dengan orang lain akan menentukan kebutuhan terhadap
intervensi/ konseling lebih lanjut

3) Isyarat verbal/non verbal orang terdekat dapat mempunyai pengaruh


mayor pada bagaimana pasien memandang dirinya sendiri

4) Dapat menunjukkan emosional ataupun metode koping maladaptive,


membutuhkan intervensi lebih lanjut

5) Membantu pasien untuk mempertahankan kontrol diri, yang dapat


meningkatkan perasaan harga diri

d. Kurang perawatan diri berhubungan dengan kerusakan


muskuloskeletal; penurunan kekuatan, daya tahan, nyeri pada waktu
bergerak, depresi.

Kriteria Hasil :
1) Melaksanakan aktivitas perawatan diri pada tingkat yang konsisten
dengan kemampuan individual.
2) Mendemonstrasikan perubahan teknik/ gaya hidup untuk memenuhi
kebutuhan perawatan diri.
3) Mengidentifikasi sumber-sumber pribadi/ komunitas yang dapat
memenuhi kebutuhan perawatan diri

Intervensi keperawatan :

1) Diskusikan tingkat fungsi umum (0-4) sebelum timbul awitan/


eksaserbasi penyakit dan potensial perubahan yang sekarang diantisipasi

2) Pertahankan mobilitas, kontrol terhadap nyeri dan program latihan

3) Kaji hambatan terhadap partisipasi dalam perawatan diri. Identifikasi


/rencana untuk modifikasi lingkungan

4) Kolaborasi: Konsul dengan ahli terapi okupasi.

5) Kolaborasi: Atur evaluasi kesehatan di rumah sebelum pemulangan


dengan evaluasi setelahnya.

Rasional :

1) Mungkin dapat melanjutkan aktivitas umum dengan melakukan adaptasi


yang diperlukan pada keterbatasan saat ini

2) Mendukung kemandirian fisik/emosional

3) Menyiapkan untuk meningkatkan kemandirian, yang akan meningkatkan


harga diri

4) Berguna untuk menentukan alat bantu untuk memenuhi kebutuhan


individual. Mis; memasang kancing, menggunakan alat bantu memakai
sepatu, menggantungkan pegangan untuk mandi pancuran

5) Mengidentifikasi masalah-masalah yang mungkin dihadapi karena


tingkat kemampuan aktual (kushariyadi, 2010, h. 131-141)
BABIII

RESUME KASUS

A. Pengkajian

Pengkajian yang ditemukan selama asuhan keperawatan gerontik yang


di mulai pada tanggal 19 April 25 Mei 2016 yaitu; Nama PM. S umur 71
tahun, alamat Cilegon, Banten , Jenis kelamin perempuan, agama islam, status
perkawinan janda, pendidikan tidak tamat SD, pekerjan sekarang tidak
bekerja, pekerjaan dahulunya sebagai Juru masak. Riwayat pengkajian
keluarga didapatkan data sebagai berikut: PM mempunyai suami yaitu Tn. N,
suami PM sudah meninggal dunia 20 tahun yang lalu, penyebab kematian
suami PM adalah sakit. Alasan masuk ke di Unit Pelayanan Sosial Lanjut Usia
Purbo Yuwono Brebes PM sudah tidak punya rumah dan juga tidak punya
anak dan suami sudah meninggal, PM terlantar di jalan, kemudian PM S
dibawa ke Balai Persinggahan Sosial Margo Widodo, dan PM di rujuk ke Unit
Pelayanan Sosial Lanjut Usia Purbo Yuwono Brebes

Pengkajian riwayat lingkungan hidup PM sudah 1 tahun tinggal di Unit


Pelayanan Sosial Lanjut Usia Purbo Yuwono Brebes, dan PM selama di Purbo
Yuwono Brebes merasa lebih senang karena banyak temannya, tapi PM
kadang merasa sepi karena tidak ada teman ngobrol, temannya di Purbo
Yuwono Brebes jarang mengajak ngobrol, namun PM terkadang mengajak
ngobrol terlebih dahulu dengan temannya. PM. S di Unit Pelayanan
Purboyowono Brebes tinggal diruang Isolasi, dan diruangan Isolasi temannya
ada 17 Orang, kondisi ruangan kotor meskipun sering dibersihkan setiap pagi,
terdapat ventilasi dan jendela, kamar mandi dan wc bersih tertutup serta ada
tempat pembuangan sampah, PM. S hidup bersama sama saling tolong
menolong

Pengkajian riwayat status kesehatan saat ini PM mengkonsumsi dan


Neoreumacil 2x1 (Ibuprofen 200mg), PM selama di Purbo Yuwono Brebes
setiap harinya selalu dihidangkan makanan, PM hampir menyukai semua
makanan yang dihidangkan setiap harinya. PM tidak mengetahui makanan
yang diperbolehkan dan yang tidak diperbolehkan untuk dimakan. PM makan
tanpa bantuan orang lain.

Saat dilakukan pengkajian tanggal 19 April 2016 pukul 10.00 WIB


didapatkan data subjektif yang ditemukan yaitu PM. S mengeluh nyeri di
kedua lutut, P: saat aktivitas berkurang saat istirahat, Q: ditusuk-tusuk, R:
kedua lutut, S: skala 5, T: hilang timbul. Data objektif yang di dapatkan PM
tampak meringis menahan nyeri, kedua lutut PM tampak bengkak. DS: PM
mengatakan sulit beraktivitas/berjalan. DO: PM tampak menggunakan alat
bantu saat berjalan, DS: PM mengatakan pernah jatuh tiga kali.

Sedangkan dari hasil pengkajian persistem pada PM didapatkan


keadaan umum: TD:130/90mmHg, Nadi: 98x/menit, rr; 22x/menit, PM
mengalami kelelahan, perubahan berat badan dalam satu tahun, dapat
melakukan ADL secara mandiri tetapi terhambat oleh keterbatasan gerak
karena sering mengalami nyeri persendian terutama di lutut kaki, lutut
bengkak, nyeri persendian, kelemahan otot, perubahan warna rambut,
perubahan pigmentasi, kesulitan berkonsentrasi, susah dalam mengambil
keputusan.

Untuk pengkajian status fungsional yang dikaji menggunakan Indeks


Kats. Nilai indeks kats pada PM adalah S karena tingkat kemandirian dalam
aktifitas sehari-hari seperti dalam hal makan, kontinen, berpindah, ke kamar
kecil, berpakaian dan mandi dilakukan secara mandiri. Dari hasil pengkajian
status kognitif dan afektif menggunakan format Short Portable Mental
Questionare (SPMSQ), PM termasuk mengalami kerusakan fungsi intelektual
ringan karena, dari 10 pertanyaan yang diajukan kepada PM, PM hanya
menjawab dengan benar 7 pertanyaan dan 3 pertanyaan tidak bisa dijawab
dengan benar. Dari hasil pengkajian Skala Depresi Geriatrik Yesavage
didapatkan Nilai Skala Depresi 13 yaitu Skala Depresi sedang.

B. Diagnosa keperawatan

Dari hasil pengkajian tanggal 19 April 2016 pukul 10:00 WIB di


dapatkan diagnosa sebagai berikut :

1. Nyeri kronis berhubungan dengan ketunadayaan fisik, ditandai dengan


data subjektif : PM nyeri di kedua lutut, P: saat aktivitas, berkurang saat
istirahat, Q: ditusuk-tusuk, R: kedua lutut, S: skala 5, T: hilang timbul,
Data objektif : PM tampak menahan nyeri saat beraktivitas,
TD:130/90mmHg, Nadi: 98x/menit, rr: 22x/menit

2. Hambatan mobilitas fisik berhubungan dengan nyeri, ditandai dengan


DS: PM mengatakan sulit beraktivitas, DO: PM tampak beraktivitas
mengunakan alat bantu

3. Resiko cedera berhubungan dengan hilangnya kekuatan otot, di tandai


dengan DS: PM mengatakan pernah jatuh tiga kali, DO: PM tampak
kesulitan berjalan dan mengunakan alat bantu jalan.

C. Intervensi

Berdasarkan masalah yang ditemukan pada saat pengkajian tanggal 19


April 2016 penulis menyusun rencana keperawatan sebagai berikut :
Nyeri berhubungan dengan agen . Tujuan: setelah dilakukan tindakan
keperawatan selama 6 x 10 jam diharapkan rasa nyeri berkurang, dengan
kriteria hasil: PM mengatakan nyeri berkurang, PM mampu mengontrol
nyeri. Intervensi : observasi nyeri secara kompehenrensif dengan rasional :
untuk mengetahui skala nyeri. Kompres air hangat di daerah nyeri dengan
rasional : untuk mengurangi rasa nyeri. ajarkan teknik relaksasi dengan
rasional : untuk mengurangi rasa nyeri. Berikan ramuan tradisional seperti
jahe dengan rasional untuk mengurangi nyeri dan pembengkakan

Hambatan mobilitas fisik berhubungan dengan nyeri. Tujuan: setelah


dilakukan tindakan keperawatan selama 6 x 10 jam diharapkan PM
menunjukan peningkatan mobilitas fisik dengan kriteria hasil: PM
menunjukan pergerakan sendi , PM dapat melakukan aktivitas secara mandiri.
Intervensi : observasi pengunaan alat bantu dengan rasional agar PM tidak
salah dalam pengunaan alat bantu. Bantu PM berpindah tempat sesuai
kebutuhan dengan rasional: agar kebutuhan PM terpenuhi. Ajarkan
penggunaan alat bantu jalan dengan rasional: PM tidak salah dalam
penggunaan alat bantu jalan. Kaji kemampuan aktivitas PM dengan rasional:
mengetahui tingkat aktivitas PM

Resiko cedera berhubungan dengan hilangnya kekuatan otot. Tujuan:


setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 6 x 10 jam diharapkan tidak
ada tanda-tanda cedera pada PM dengan kriteria hasil: PM dapat
menempatkan penompang untuk mencegah jatuh, PM dapat mengunakan alat
bantu jalan dengan benar. Intervensi: observasi perilaku dan faktor yang
berpengaruh terhadap resiko jatuh dengan rasional: meminimalkan resiko
jatuh. Ciptakan lingkungan yang aman dengan rasional: meminimalkan resiko
jatuh. Anjurkan PM untuk mengunakan alat bantu jalan dengan rasional :
meminimalkan resiko jatuh. Pantau gaya berjalan, keseimbangan dan tingkat
kelelahan dengan rasional : sikap tidak hati-hati dapat memicu tingkat cedera
D. Implementasi

Setelah menyusun rencana keperawatan maka penulis


mengimplementasikan kepada PM. S pada tanggal 20 April pukul 08.00
WIB penulis mengkaji keluhan PM. DS : PM mengeluh nyeri pada kedua
lutut, P: saat beraktivitas, Q: sperti ditusuk-tusuk, R: kedua lutut, S: skala
5, T: hilang timbul, DO: PM tampak menahan nyeri saat beraktivitas.
Pukul 09.00 WIB mengkaji kebutuhan PM . DS: PM mengatakan
berpindah tempat, mengambil makanan ke dapur , DO: PM kooperatif.
Pukul 11.00 WIB membantu dalam menyiapkan makanan, DS: PM
mengatakan mau makan, DO: PM tampak makan. Pukul 15.00 WIB
mengajarkan PM teknik relaksasi nafas dalam, DS: PM mengatakan
bersedia, DO: PM tampak menirukan relaksasi nafas dalam. Pada
tanggal 21 April 2016 pukul 08.00 WIB membersihkan tempat tidur dan
membantu PM berpindah tempat ke halaman, DS: PM mengatakan
terimakasih, DO: PM berpindah tempat ke halaman. Pukul 09.00 WIB
mengobservasi nyeri, DS: PM mengatakan nyeri, P: saat beraktivitas, Q:
seperti ditusuku-tusuk, R: kedua lutut, S: skala 5, T: hilang timbul. Pukul
09.30 WIB mengukur tanda-tanda vital, DS: PM mengatakan bersedia,
DO: TD:130/90, Nadi: 98x/menit, rr: 22x/menit, Pukul 10.00 WIB
mengajarkan PM berjalan dengan benar menggunakan alat bantu jalan,
DS: PM bersedia, DO: PM tampak menirukan. Pukul 11.00 WIB
membantu PM menyiapkan makanan, DS: PM mengatakan mau makan,
DO: PM tampak makan. Pukul 12.00 WIB memberikan PM obat
Neuremaclyn, DS: PM mengatakan bersedia meminumya, DO: PM
tampak minum obat. Pukul 13.00 WIB membantu PM beraktivitas
berpindah tempat, DS: PM mengatakan terimakasih, DO: PM berpindah
tempat tidur ke toilet.

Pada tanggal 22 April 2016 pukul 08.00 WIB membersihkan tempat


tidur dan membantu PM berpindah tempat,DS: PM mengatakan
terimakasih, DO: PM tampak berpindah tempat ke ruang melati. Pukul
09.00 WIB memberikan obat tradisional parutan jahe dan bawang merah,
DS: PM mengatakan lebih enakan. Pukul 09.30 WIB memberikan
informasi penyebab nyeri, DS: PM mengatakan paham. DO: PM
mendengarkan. Pukul 11.00 WIB membantu PM menyiapakan makanan,
DS: PM mengatakan mau makan, DO: PM tampak makan. Pukul 13.00
WIB memantau PM dalam pengunaan alat bantu, DS: PM mengatakan
sudah bisa mengunakan pengunaan alat bantu dengan benar, DO: PM
menggunakan alat bantu dengan benar. Pukul 14.00 WIB menjauhkan
benda-benda yang dapat memicu resiko jatuh, DS: PM mengatakan
terimakasih.

Pada tanggal 23 April 2016 pukul 08.00 WIB membersihkan kamar


PM dan membantu PM berpindah tempat, DS: PM mengatakan
terimakasih, DO: PM berpindah tempat ke halaman. Pukul 09.00 WIB
mengkaji keluhan PM, DS: PM mengatakan masih nyeri, P: saat
beraktivitas, Q: seperti di tusuk-tusuk, R: kedua lutut, S: skala 5, DO: PM
tampak menahan nyeri saat beraktivitas. Pukul 10.30 WIB memberikan
obat tradisional parutan jahe dan bawang merah, DS: PM mengatakan
lebih terasa enak. Pukul 11.00 WIB membantu PM menyiapkan makanan,
DS: PM mengatakan mau makan , DO: PM tampak makan. Pukul 14.00
WIB membantu PM berpindah tempat, DS: PM mengatakan terimakasih,
DO: PM berpindah tempat dari halam ke ruang melati. Pukul 15.00 WIB
menganjurkan PM mengompres air hangat didaerah nyeri dan melaburkan
parutan jahe kalau nyeri itu muncul, DS: PM mengatakan bersedia.

Pada tanggal 25 April 2016 pukul 16.00 WIB mengkaji nyeri PM, DS:
PM mengatakan masih nyeri, P: saat beraktivitas, Q: seperti ditusuk-tusuk,
R: kedua lutut, S: skala 4, T: hilang timbul. Pukul 16.30 WIB membantu
PM berpindah tempat ke kamar mandi, DS: Pm mengatkan mau mandi.
Pukul 17.00 WIB membantu menyiapakan makanan, DS: PM mengatakan
mau makan, DO: PM tampak makan. Pukul 20.00 WIB membantu PM
berjalan ke toilet, DS : PM mengatakan terimakasih. Pukul 21.00 WIB
melihat keadaan PM, DO: PM tampak tidur di kamarnya. Pukul 06.00
WIB membantu PM berjalan ke toilet dan memberishkan tempat tidur, DS:
PM mengatakan terimakasi

E. Evaluasi

Setelah dilakukan asuhan keperawatan selama 6 hari dari tanggal 20-


25 April 2016 penulis melakukan evaluasi pada tanggal 25 April 2016
dengan hasil sebagai berikut :

1. Nyeri kronis berhubungan dengan ketunadayaan fisik. Catatan


perkembangan : S: PM mengatakan nyeri berkurang, P: saat
berktivitas, Q: seperti di tusuk-tusuk R: kedua lutut, S : skala 4, T:
hilang timbul. O : PM tampak menahan nyeri saat berkativitas, A:
masalah belum teratasi, P: lanjutkan intervensi : observasi nyeri,
berikan kompres air, berikan pengobatan tradisional, anjurkan teknik
relaksasi, kolaborasi pemberian obat

2. Hambatan mobilitas fisik berhubungan nyeri dengan. Catatan


perkembangan : S: PM mengatakan sulit beraktivitas, O: PM
mengunakan alat bantu jalan dalam beraktivitas, lutut PM tampak
bengkak, A: masalah belum teratasi, P: lanjutkan intervensi : bantu
PM dalam beraktivitas, pantau pengunaan alat bantu, kaji tingkat
kamampuan aktivitas PM

3. Resiko cedera berhubungan dengan hilangnya kekuatan otot. S: PM


mengatakan pernah jatuh tiga kali, O: PM PM tampak sulit berjalan
dan mengunakan alat bantu jalan, A: masalah belum teratasi, P:
lanjutkan intervensi : observasi perilaku dan faktor yang berpengaruh
terhadap resiko jatuh, Ciptakan lingkungan yang aman. Anjurkan PM
untuk menggunakan alat bantu jalan. Pantau gaya berjalan,
keseimbangan dan tingkat kelelahan.
BAB IV

PEMBAHASAN
Penulis melakukan pembahasan pada bab ini tentang masalah-masalah
yang muncul pada kasus yang ditemukan selama asuhan keperawatan dimulai
tanggal 19 April - 25 April 2016. Kesenjangan tersebut dilihat dengan
memperlihatkan aspek-aspek tahapan keperawatan dimulai dari tahap pengkajian,
perencanaan, pelaksanaan sampai tahap evaluasi keperawatan pada Asuhan
Keperawatan Gerontik pada PM. S dengan Rematik di Unit Pelayanan Sosial
Lanjut Usia Purbo Yuwono Brebes.

1. Nyeri kronis berhubungan dengan ketunadayaan fisik .

Nyeri adalah pengalaman sensori dan emosi yang tidak menyenangkan,


akibat kerusakan jaringan actual atau potensial atau digambarkan dengan
istilah kerusakan (International Association for thr Study of Pain); awitan
yang tiba-tiba atau perlahan dengan intensitas ringan sampai berat dengan
akhir yang dapat diantisipasi atau dapat diramalkan dan durasinya lebih dari
enam bulan (Wilkinson & Ahern 2012, h. 537).

Batasan karakteristik dari nyeri adalah menungkapkan secara verbal atau


dengan isyarat atau menunjukan bukti sebagai berikut, subyektif ; depresi,
keletihan, takut kembali cedera. Obyektif: perubahan kemampuan untuk
meneruskan aktivitas, anoreksia, atrofi kelompok otot yang terlibat, perubahan
pola tidur, wajah topeng, perilaku melindungi, iritabilitas, perilaku proteksi
yang dapat diamati, penurunan interaksi dengan orang lain (Wilkinson &
Ahern 2012, h. 537).

Data yang diperoleh dari hasil pengkajian pada PM. S tanggal 19 April
2016 didapatkan data subjektif : PM. S: mengatakan kedua lutut nyeri,P: saat
aktivitas berkurang saat istirahat, Q: ditusuk-tusuk, R: kedua lutut, S: skala 5,
T: Nyeri hilang timbul. Data objektif : PM tampak menahan nyeri saat
beraktivitas

Nyeri menjadi diagnosa prioritas pertama karena melihat pada saat


pengkajian nyeri berskala 5 dan jika tidak segera ditangani akan
menyebabkan terganggunya aktivitas PM karena nyeri akan berlangsung terus
menerus dan ditandai spasme yang mengakibatkan otot-otot sekitar tegang,
mengganggu kemampuan seseorang untuk beristirahat, konsentrasi dan
kegiatan-kegiatan atau aktivitas yang biasa dilakukan serta dapat
menyebabkan perasaan tak berdaya atau depresi. Dilihat dari kebutuhan dasar
manusia menurut Hierakhi Maslow bahwa Nyeri masuk kedalam masalah
fisiologis yaitu rasa ketidaknyamanan yang merupakan masalah tertinggi
yang harus segera ditangani.

Rencana keperawatan untuk mengatasi masalah nyeri yang sesuai dengan


kebutuhan PM dengan kriteria hasil. Setelah dilakukan tindakan keperawatan
selama 6 x 10 Jam dalam 1 minggu diharapkan, masalah nyeri dapat teratasi
dengan kriteria hasil : Nyeri berkurang dari skala 5 menjadi 2, setelah dilatih
dan melakukan teknik relaksasi nafas dalam, dan relaksasi progresif, PM
mampu melakukan aktivitasnya tanpa adanya nyeri.
Intervensi menurut Kushariyadi 2010 (h. 132-133) pada diagnosa
keperawatan nyeri akut yaitu:

1. Kaji nyeri, catat lokasi dan intensitas (skala 0-10). Catat faktor-faktor
yangmempercepat dan tanda-tanda rasa sakit non verbal

2. Berikan matras/kasur keras, bantal kecil, tinggikan linen tempat tidur sesuai
kebutuhan

3. Tempatkan/panatau penggunaan bantal, karung pasir, gulungan trokhanter, bebat,


brace

4. Dorong untuk sering mengubah posisi, Bantu untuk bergerak di tempat


tidur, sokong sendi yang sakit di atas dan bawah, hindari gerakan yang
menyentak.

5. Anjurkan pasien untuk mandi air hangat atau mandi pancuran pada waktu
bangun tidur. Sediakan waslap hangat untuk mengompres sendi-sendi
yang sakit beberapa kali sehari. Pantau suhu air kompres, air mandi, dan
sebagainya.

Tindakan keperawatan yang diberikan pada PM. M untuk mengatasi


masalah nyeri yaitu :

Mengkaji secara komprehensif tentang nyeri PM

Mengobservasi TTV PM

1. Memberikan kompres air hangat di daerah sekitar nyeri

2. Menganjurkan dan mengajarkan teknik relaksasi nafas dalam dan


relaksasi progresif memungkinkan penunurunan intensitas nyeri karena
terjadi relaksasi fikiran dan tubuh PM

3. Memberikan obat analgesik dan obat komplementer memungkinkan


penunurunan intensitas nyeri

Kekuatan dari tindakan keperawatan yang telah diberikan adalah :


dengan bahasa penyampaian yang sederhana dan tindakan keperawatan yang
menyesuaikan kondisi PM sehingga tindakan keperawatan bisa dipahami dan
dimengerti PM. PM bersedia mengikuti instruksi dari perawat. Kelemahan :
dilihat dari kondisi PM yang lanjut usia sulit untuk memahami tindakan
keperawatan yang diberikan oleh mahasiswa, agar dilakukan secara mandiri
karena membutuhkan pengawasan dan bantuan dari tenaga kesehatan.

Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 6 hari, hasil evaluasi


pada tanggal 25 April 2016 pukul 15:00 WIB kondisi PM menunjukkan ada
sedikit perubahan dengan adanya data subyektif PM mengatakan nyeri di
kedua lututu berkurang, dengan sekala nyeri 4. Data objektif PM masih
menahan nyeri bsaat beraktivitas. Dari data tersebut dapat disimpulkan bahwa
masalah nyeri PM. M belum teratasi.

2. Hambatan mobilitas fisik berhubungan dengan nyeri


Hambatan mobilitas fisik adalah keterbatasan pada pergerakan fisik tubuh
satu atau lebih ekstremitas secara mandiri dan terarah (Hermand, 2012, h. 304)

Data yang diperoleh dari hasil pengkajian pada PM. M tanggal 19 April
2016 didapatkan Data subjektif : PM mengatakan mengatakan kedua lututnya
bengka sehingga sulit untuk berjalan, berjalan menggunakan alat bantu jalan.
Data objektif : PM tampak sulit untuk berjalan, PM berjalan dibantu oleh alat
bantu jalan,

Hambatan mobilitas fisik menjadi prioritas kedua karena hambatan


mobilitas fisik adalah keterbatasan pada pergerakan fisik, sehingga tidak
mengancam nyawa dan dapat di atasi setelah masalah yang lebih di
prioritaskan dalam kasus ini. Tetapi apabila masalah ini tidak diatasi dapat
menurunkan kekuatan otot, dan dapat menimbulkan permasalahan yang baru
pada kesehatan PM

Rencana keperawatan untuk mengatasi masalah intoleransi aktivitas


sesuai dengan kebutuhan PM dengan kriteria hasil setelah dilakukan tindakan
keperawatan selama 6 x 10 jam diharapakan PM menunjukan peningkatan
mobilitas fisik dengan Kriteria hasil PM menunjukan pergerakan sendi, PM
dapat melakukan aktivitas secara mandiri

Intervensi menurut kushariyadi, 2010,( h. 135-136) adalah

1. Evaluasi/ lanjutkan pemantauan tingkat inflamasi/ rasa sakit pada


sendi

2. Pertahankan istirahat tirah baring/ duduk jika diperlukan jadwal


aktivitas untuk memberikan periode istirahat yang terus menerus dan
tidur malam hari yang tidak terganggu

3. Bantu dengan rentang gerak aktif/pasif, demikian juga latihan resistif


dan isometris jika memungkinkan
4. Ubah posisi dengan sering dengan jumlah personel cukup.
Demonstrasikan/ bantu tehnik pemindahan dan penggunaan bantuan
mobilitas

4. Posisikan dengan bantal, kantung pasir, gulungan trokanter, bebat,


brace

Tindakan keperawatan yang diberikan kepada PM S untuk mengatasi


intoleransi aktivitas adalah

1. Observasi kebutuhan dan pelayanan PM

2. Bantu PM untuk berpindah tempat/berjalan

3. Ajarkan dan pantau dalam penggunaan alat bantu

4. Kaji kemampuan aktivitas PM

5. Ajarkan PM latihan ROM aktif dan pasif

Kekuatan dari tindakan keperawatan yang telah diberikan adalah penulis


bisa mengetahui kebutuhan PM sehingga dapat memberikan pelayanan
yang maximal, kooperatif sehingga kebutuhan PM dapat tepenuhi, dapat
mengetahui keefektifan intervensi yang telah diberikan, kelemahanya
adalah PM masih kesulitan bergerak, dilihat dari kondisi PM yang lanjut
usia sulit untuk memahami tindakan keperawatan yang diberikan oleh
penulis.

Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 6 hari, hasil evaluasi pada


tanggal 25 April 2016 pukul 15:00 WIB DS: PM mengatakan masih sulit
berpindah tempat, PM mengatakan dalam berpindah tempat mengunakan alat

bantu jalan, DO: PM tampak kesulitan beraktivitas, PM mengunakan alat


bantu jalan.
3. Resiko cidera/jatuh berhubungan dengan kelemahan otot

Beresiko mengalami cidera sebagai akibat dari kondisi lingkungan yang


berinteraksi dengan sumber-sumber adaptif dan pertahanan individu
(Wilkinson & Ahern, 2012, h. 428).

Batasan karakteristik, adanya lingkungan sekitar yang asing, gangguan


penglihatan, gangguan pendengaran, penurunan sensitifitas kesentuhan
(penurunan kekuatan otot, adanya nyeri dalam pergerakan, imobilitas sendi,
faktor lingkungan yang memebahayakan) (Wahit iqbal, 2008, h. 201).

Data yang diperoleh dari hasil pengkajian pada PM. S tanggal 16 April
2016 didapatkan Data subjektif : PM mengatakan mengatakan kakinya sakit
sehingga sulit untuk berjalan, berjalan menggunakan alat bantu jalan. Data
objektif : PM tampak sulit untuk berjalan, PM berjalan dibantu oleh alat
bantu jalan, lingkungan tampak cukup bersih, penerangan cukup, lantai kamar
mandi licin, tidak terdapat pegangan/penompang dikamar mandi.

Resiko cedera menjadi prioritas masalah keperawatan kedua karena


menurut konsep Maslow dilihat dari kebutuhan keselamatan dan rasa aman
yang dimaksud adalah aman dari berbagai aspek baik fisiologis maupun
psikologis, hal ini resiko cidera belum terjadi, data yang mendukung karena
lingkungan disekitar ruangan beresiko terjadi cidera.

Rencana keperawatan untuk mengatasi masalah resiko cidera yang sesuai


dengan kebutuhan PM dengan kriteria hasil. Setelah dilakukan tindakan
keperawatan selama 6 x 10 jam dalam 1 minggu diharapkan, masalah resiko
cedera dapat teratasi dengan kriteria hasil : PM dapat menempatkan
penompang untuk mencegah jatuh.

Intervensi menurut Aspiani, 2014, h. 272 sebagai berikut :

1. identifikasi kebutuhan keamanan PM berdasarkan tingkat fungsi fisik,


kognitif dan riwayat perilaku sebelumnya
2. identifikasi perilaku yang dan factor yang berpengaruh terhadap resiko
jatuh

3. identifikasi karakteristik lingkungan yang mungkin meningkatkan


potensial untuk jatuh

4. anjurkan pada PM untuk mengunakan alat bantu untuk untuk


beraktivitas

tindakan keperawatan untuk mengatasi masalah resiko jatuh sebagai berikut :

1. anjurkan PM untuk mengunakan alat bantu saat beraktivitas

2. ciptakan lingkungan yang aman; mengepel lantai yang licin,


menjauhkan benda-benda yang dapat membahayakan

3. pantau gaya, keseimbangan PM saat berjalan

4. membantu PM berjalan saat membutuhkan bantuan; membantu PM


berjalan kekamar mandi/ toilet

Kekuaatan dari tindakan yang telah diberikan adalah PM merasa aman


dan dapat meminimalkan resiko jatuh, kelemahanya adalah PM masih
kesulitan menggunakan alat bantu, PM terkadang tidak mengetahui faktor
yang memicu jatuh, PM masih merasa nyeri saat berjalan.

Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 6 hari, hasil evaluasi pada


tanggal 25 April 2016 pukul 15:00 WIB DS: PM mengatakan masih sulit
berjalan, DO: PM berjalan mengunakan alat bantu jalan, PM berjalan tertatih.

BAB V
PENUTUP

Dalam pelaksanaan Asuhan Keperawatan Gerontik Pada PM. S Dengan


Masalah Rematik Di Unit Pelayanan Sosial Lanjut Usia Purbo Yuwono Brebes
tanggal 19 April 25 Mei 2016, penulis dapat menyimpulkan sebagai berikut.

A. Kesimpulan

Dari uraian penulis tentang pelaksanaan Asuhan Keperawatan Gerontik


pada PM. S dengan masalah Rematik dapat ditarik kesimpulan sebagai
berikut:
1. Setelah dilakukan pengkajian pada PM dengan masalah Rematik, memiliki
ciri khas tersendiri berupa PM megeluh nyeri, dan Mengalami
keterbatasan pergerakan karena terjadinya penurunan fungsi fisiologis
tubuh pada lansia
2. Diagnosa keperawatan yang muncul pada kasus nyata berdasarkan kondisi
dan respon PM. Adapun diagnosa keperawatan yang muncul pada PM S
sebagai berikut: Nyeri kronis berhubungan dengan ketunadayaan fisik,
hambatan mobilitas fisik berhubungan dengan nyeri, resiko cedera
berhungan dengan kelemahan otot, sedangkan diagnosa yang tidak adalah
defisit perawatan diri : karena PM mampu merawat dan membersihkan
dirinya sendiri, seperti mandi, memakai baju.
3. Pelaksanaan pada pengelolaan kasus Rematik pada lansia harus selalu
disesuaikan dengan kondisi dan keluhan PM, dan lingkungan, serta
kemampuan PM, dengan melibatkan peran perawat sehingga tujuan dapat
tercapai dengan baik.
4. Evaluasi pada PM dengan masalah Rematik harus dilakukan setiap hari
pada akhir tindakan keperawatan, digunakan sebagai hasil tindakan
keperawatan dan digunakan sebagai tindak lanjut rencana keperawatan.
5. Dokumentasi keperawatan dilakukan dengan mengdokumentasikan semua
kegiatan dan hasilnya, mulai dari pengkajian sampai dengan kedalam
catatan perawat yang ada dalam status PM sebagai bukti tanggung jawab
dan tanggung gugat dikemudian hari.

B. Saran

1. Bagi Lahan Praktik Unit Pelayanan Sosial Lanjut Usia Purbo Yuwono
Brebes.
Sebaiknya kerjasama antar perawat dan PM lebih ditingkatkan dan
meningkatkan kinerja petugas kesehatan dalam memberikan pelayanan
kesehatan kepada penerima manfaat yang membutuhkan informasi
masalah kesehatan yang dialami, serta dalam pemberian pelayanan
kepada PM disiapkan fasilitas-fasilitas yang memadai untuk menunjang
pemeriksaan atau tindakan keperawatan terutama Rematik pada lansia
2. Bagi penulis
Penulis supaya terus mengembangkan pengetahuan yang telah didapat
tentang Rematik pada lansia serta menginformasikan kepada orang lain
(Lansia) sehingga tindakan pencegahan dan pengobatan Rematik dapat
dilakukan secara optimal. Sebaiknya penulis juga harus lebih
mempersiapkan peralatan dan mengatur waktu dalam melaksanakan
tindakan keperawatan.
3. Bagi Institusi
Institusi akademik diharapkan agar terus mengembangkan dan
menambahkan referensi buku untuk para mahasiswanya tentang Rematik
pada lansia, untuk mempermudah bagi penulis atau peneliti selanjutnya
untuk mendapat sumber-sumber referensi buku dan mengembangkan ilmu
pengetahuan.

PATWAYS

nyeri Reaksi peradangan


Sinovial menebal

Pannus

Infiltrasi ke os. Subchondria

Gangguan pada kartilago artikular

Kerusakan kartilago

dan tulang Kartilago nekrosis

tendon dan Adhesi permukaan sendi

ligament melemah

Ankilosis fibrosa ankilosis tulang

Subkulasi dan luksasi

Kekakuan sendi

Hilangnya kekuatan otot

Terbatasnya gerakan sendi

Resiko cedera

Hambatan mobilitas
fisik

(Mujahidullah, 2012, h. 81-82)

DAFTAR PUSTAKA

Aspiani, Reny Yuli, 2014, Buku Ajar Asuhan Keperawatan Gerontik aplikasi
NANDA, NIC dan NOC jilid 1. Jakarta : CV. Trans Info Media.
Badan Pusat Statistik 2010, http://respiratory D3 PER 1004575 Chpter1.pdf,

Corwin, Elizabeth J, 2009, Buku Saku PATOFISIOLOGI edisi revisi 3. Jakarta :


EGC.

Haryono,Rudi & Sulis Setianingsih, 2013, Musuh-musuh Anda Setelah 40 Tahun.


Yogyakarta : Gosyen Publishing.

Hermand, T Heather, 2012, NANADA International DIAGNOSA


KEPERAWATAN definisi dan klasifikasi 2012-2014. Jakarta: Buku
Kedokteran EGC.

Kushariyadi, 2010, Asuhan Keperawatan pada Klien Lanjut Usia. Jakarta :


Salemba Medika.

Martono, H Hadi & Pranarka, 2011, Buku Ajar Boedhi-Darmojo GERIATRI (Ilmu
Kesehatan Usia Lanjut). Jakarta : Balai Penerbit FKUI.

Mujahidullah, Khalid, 2012, KEPERAWATAN GERIATRIK. Yogyakarta : Pustaka


Pelajar.

Nurarif, Amin Huda & Kusuma Hardi, 2013, APLIKASI Asuhan Keperawatan
berdasarkan Diagnosa Medis & NANDA NIC-NOC. Yogyakarta :
Mediaction Publishing.

Nugroho, 2008, http://bab-23072015102807.pdf.

http: eprints.ung.ac.id/12184/2/2/2015-bab1.pdf.

Prodi DIII Keperawatan, 2016, Buku Pedoman Penulisan KTI. Pekalongan :


STIKES Muhammadiyah Pekajangan Pekalongan.

Strockslager, Jaime L, 2008, Buku Saku Asuhan Keperawatan Geriatrik


(Handbook of Geriatric Nurshing Care). Jakarta : Buku EGC
Kedokteran.