Anda di halaman 1dari 20

LAPORAN PRAKTIKUM TEKNIK JALAN RAYA

MODUL 11
CAMPURAN ASPAL DENGAN ALAT MARSHAL L

KELOMPOK UBA 04

Alfathur Hadiwiantono 1142004018


Bangun Pamungkas 1142004001
Imam Hanafi Hisbullah 1142004013
Rd M Fathurrahman Imanullah 1142004012

Tanggal Praktikum : 7 Mei 2017


Asisten Praktikum : Alfisyahrin
Tanggal Disetujui :
Nilai :
Paraf Asistensi:

LABORATORIUM STRUKTUR DAN MATERIAL


DEPARTEMEN TEKNIK SIPIL
FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS INDONESIA
DEPOK 2017
J-11 CAMPURAN ASPAL DENGAN ALAT MARSHALL
(PA 0305 76)
(AASHTO T 44 81)
(ASTM D 1559 76)

1. MAKSUD
Pemeriksaan ini dimaksudkan untuk menentukan ketahanan (stabilitas) terhadap
kelelehan plastis (flow) dari campuran aspal. Ketahanan (stabilitas) ialah kemampuan
suatu campuran aspal untuk menerima beban sampai terjadi kelelehan plastis yang
dinyatakan dalam Kg atau Pund. Kelelehan plastis ialah keadaan perubahan bentuk suatu
campuran aspal yang terjadi akibat suatu beban sampai batas runtuh yang dinyatakan
dalam millimeter atau 0,001 inci.

2. PERALATAN
a. 9 buah cetakan benda uji yang berdiameter 10 cm (4) dan tinggi 7,5 cm (3) lengkap
dengan pelat alas dan leher sambungan
b. Alat pengeluar benda uji. Untuk mengeluarkan benda uji yang sadah dipadatkan dari
dalam cetakan benda uji dipakai sebagai ejector.
c. Penumbuk yang mempunyai permukaan tumbuk rata berbentuk silinder, dengan berat
4,536 kg ( 10 pound), dan tinggi jatuh lebih besar 45,7 cm (18)
d. Landasan pemadat terdiri dari balok kayu (jati atau sejenis) berukuran kira-kira
20x20x45 cm (8x8x18) yang dilapisi dengan pelat baja berukuran 30 x 30x 2,5 cm
(12x12x 1) dan dikaitkan pada lantai beton dengan 4 bagian siku.
e. Silinder cetakan benda uji.
f. Mesin tekan lengkap dengan
Kepala penekan berbentuk lengkung (breaking head)
Cincin penguji yang berkapasitas 2500 kg ( 5000 pound) dengan ketelitian 12,5
kg (25 pound) dilengkapi arloji tekan dengan ketelitian 0,0025 cm (0,0001)
Arloji kelelehan dengan ketelitian 0,25 mm (0,01) dengan perlengkapannya
g. Oven, yang dilengkapi dengan pengatur suhu untuk memanasi sampai (2003)C
h. Bak perendam ( waterbath) dilengkapi dengan pengatur suhu minimum 20C
i. Perlengkapan lain :
Panci-panci untuk memanaskan agregat aspal dan aspal campuran
Pengukur suhu dari logam (metal thermometer) berkapasitas 250C dan 100C
dengan ketelitian 0,5 atau 1% dari kapsitas
Timbangan yang dilengkapi penggantung benda uji berkapsitas 5kg ketelitian 1gr.
Kompor
Sarung asbes dan karet
Sendok pengaduk dan perlengkapan lain

3. BENDA UJI
a. Persiapan benda uji
Keringkan agregat,sampai beratnya tetap pada suhu (1055)C. Pisah-pisahkan
agregat dengan cara penyaringan kering kedalam fraksi-fraksi yang dikehendaki atau
seperti berikut ini:
1sampai
sampai 3/8
3/8 sampai No. 4 (4,76 mm)
No. 4 (4,76 mm) sampai No.8 (2,38 mm)
Lewat saringan No.8 (2,38mm)
b. Penentuan Suhu pencampuran dan pemadatan
Suhu pencampuran dan pemadatan harus ditentukan sehingga bahan pengikat
yang dipakai menghasilkan viscositas table 5
Campuran Pemadatan
Bahan Pengikat Kinematik Saybolt Furol Engler Kinematik Saybolt Furol Engler
C.St Det.S.F. C.St Det S.F
Aspal panas 17020 85 10 280 30 140 15
Aspal Dingin 17020 85 10 280 30 140 15
Tar 253 405
Tabel 5. Viskositas Penentu Suhu
c. Persiapan campuran
Untuk tiap benda uji diperlukan campuran agregat dan aspal sebanyak 1200
gram sehingga menghasilkan tinggi benda uji kira-kira 6,25 cm 0,125 ( 2,5
0,05). Panaskan panic pencampuran beserta agregat kira-kira 28 C diatas suhu
pencampuran untuk aspal panas dan tar dan asuk sampai merata, untuk aspal dingin
pemanasan sampai 14C diatas suhu percampuran.
Sementara itu panaskan aspal sampai suhu pencampuran. Tuangkan aspal
sebanyak yang dibutuhkan kedalam agregat yang sudah dipanaskan tersebut
kemudian aduklah dengan cepat pada suhu sesuai table 5 sampai agregat terlapis
merata.
d. Pemadatan benda uji
Bersihkan perlengkapan cetakan benda uji bagian muka penumbuk dengan
seksama dan panaskan sampai antara 93,3 C dan 148,9C. Letakan selembar kertas
saring atau kertas penghisap yang sudah digunting menurut ukuran cetakan kedalam
dasar cetakan, kemudian masukan seluruh campuran kedalam cetakan dan tusuk-
tusuk campuran keras-keras dengan spatula yang dipanaskan atau aduklah dengan
sendok semen 15 kali keliling pinggirannya dan 10 kali bagian dalam.
Lepaskan lehernya dan ratakanlah permukaan campuran degan mempergunakan
sendok semen menjadi bentuk yang sedikit cembung. Waktu akan dipadatkan suhu
campuran harus dalam batas-batas suhu pemadatan seperti yang disebut pada table 5.
Letakan cetakan diatas landasan pemadat, dalam pemegang cetakan. Lakukan
pemadatan dengan alat penumbuk sebanyak 50,50 atau 35 kali sesuai kebutuhan
dengan tinggi jatuh 45 cm (18), Selama pemadatan tahanlah agar sumbu palu
pemadat selalu tegak harus pada cetakan.
Lepaskan capping alas dan leher balikan alat cetak berisi benda uji dan pasang
kembali lehernya dibalik ini tumbuklah dengan tumbukan yang sama, Sesudah
pemadatan, benda uji didiamkan sampai suhu ruang, kemudian lapaskan capping alas
dan pasanglah alat pengeluar benda uji pada permukaan ujung ini. Dengan hati-hati
keluarkan dan letakan benda uji diatas permukaan rata yang halus, biarkan selama
kira-kira 24 jam pada suhu ruang.
4. DASAR TEORI
Peralatan marshall adalah merupakan alat penguji campuran beraspal panas (hot
mix) yang umum dilakukan untuk mengetahui untuk kekuatan campuran beraspal panas
(hot mix) yang digunakan dalam perkerasan lentur jalan raya. Parameter kekuatan
campuran beraspal panas (hot mix) yang di uji dengan alat marshall harus memenuhi
spesifikasi seperti : penyerapan aspal, rongga dalam aspal (VIM), rongga dalam agregat
(VMA),rongga terisi aspal (VFB), stabilitas marshall (MS), pelelehan (FLOW), marshall
quotient,stabilitas marshall sisa setelah perendaman selama 24 jam, rongga dalam
campuran pada kepadatan membal (refusal). Rencana pekerasan lebih mengenal
parameter stabilitas marshal (MS) dan parameter lain harus memenuhi spesifikasi, karena
parameter MS tersebut berkaitan langsung dengan koefisien kekuatan relative (layer
coefficient) yang digunakan untuk menghitung tebal perkerasan.
Stabilitas, yaitu kemampuan lapisan perkerasaan menerima beban lalu lintas,
tanpa terjadi perubahan untuk tetap seperti gelombang, alur tumpuan bleeding. Stabilitas
terjadi dari hasil geseran antar butir, penguncian antar partikel dan daya ikat yang baik
dari lapisan aspal

5. PROSEDUR
a. Bersihkan benda uji dari kotoran-kotoran yang menempel
b. Berilah tanda pengenal pada masing-masing benda uji
c. Ukur tebal benda uji dengan ketelitian 0,1 mm
d. Timbang benda uji
e. Rendam kira-kira 24 jam pada suhu ruang
f. Timbang dalam air untuk mendapatkan isi
g. Timbang benda uji kondisi kering permukaan jenuh
h. Rendamlah benda uji dalam kondisi aspal panas atau ter dalam bak perndam selama
30 sampai 40 menit atau dipanaskan didalam oven selama 2 jam dengan suhu tetap
(601)C untuk benda uji aspal panas dan (381)C untuk benda uji tar. Untuk benda
uji aspal dingin masukan benda uji ke dalam oven selama minimum 2 jam dengan
suhu tetap (251)C.
Sebelum melakukan penguujian bersihkan batang penuntun ( guide rod) dan
permukaan dalam dari kepala penekan (test head). Lumasi batang penuntun sehingga
kepala penekan yang atas dapat meluncur bebas, bila dikehendaki kepala penekan
direndam bersama-sama benda uji pada suhu antara 21 sampai 38 C. Keluarkan
benda uji dari bak perendam atau dari oven pemanas udara dan letakan kedalam
segmen bawah kepala penekan.
Pasang segmen atas diatas benda uji,dan letakan keseluruhannya dalam mesin
penguji. Pasang arloji kelelehan (flowmeter) pada kedudukannya diatas angka nol,
sementara selubung tangkai arloji (sleeve) dipegang teguh terhadap segmen atas
kepala penekan (breaking head). Tekan selubung tangkai arloji kelelehan tersebut
pada segmen atas dari kepala penekan selama berlangsung
i. Sebelum pembebanan diberikan, kepala penekan beserta benda ujinya dinaikan
hingga menyentuh alas cincin penguji. Atur kedudukan jarum arloji tekan pada angka
nol. Berikan pembebanan kepada benda uji dengan kecepatan tetap sebesar 50 mm
per menit sampai pembebanan maksimum tercapai atau pembebanan menurut seperti
yang ditunjukan oleh jarum arloji tekan dan catat pembebanan maksimum yang
dicapai Lepaskan selubung tangkai arloji kelelehan (sleeve) pada saat pembebanan
mencapai maksimum dan catat nilai kelelehan yang ditunjukan oleh jarum arloji.
Waktu yang diperlukan dan saat diangkatnya benda uji dari rendaman air sampai
tercapainya beban maksimum tidak boleh melebihi 30 detik.

6. PENGOLAHAN DATA
a. Data Percobaan
Benda Diameter Tinggi W kering udara W dalam air W jenuh
Uji
6% (cm) (cm) (gr) (gr) (gr)
I 6.6 1176.5 659 1186.5
6.50%
I 66.75 1171 655 1181.5
Tabel 6.1 Data Dimensi dan Berat sampel

N Kadar Kadar Berat Berat Total Agregat (%) Berat Agregat (gram)
o aspal Agregat Aspal Agregat Kasar Medium Halus Filer Kasar Medium Halus Filer
(%) (%) (gram) (gr)
1 6 94 72 1128 18 29 48 5 203 327.12 541 56.4
2 6.5 93.5 78 1122 202 325.38 539 56.1
Tabel 6.2 Kadar Agregat dalam 1 sampel

Kadar Agregat = 100% - Kadar aspal


Berat Aspal = Kadar Aspal* Berat Campuran
Berat Total Agregat = Berat Campuran Berat Aspal
Berat Agregat = Berat Total Agregat * % Agregat

Arloji Arloji
Kadar Sampe
Aspal l Keleleha
Stabiltas
n
6% I 45 3
6.50% I 39 3.7
Tabel 6.3 Data Marshall Test (Stabilitas dan Kelelehan)

b. Pengolahan Data
Dalam praktikum ini praktikan membuat 2 sampel dengan kadar aspal 6%,6.5%
dengan masing-masing 1 sampel untuk kadar aspal yang berbeda. Proporsi campuran
sampel adalah 1200 gram. Hal pertama yang dilakukan adalah menentukan persentase
untuk setiap agregat dalam campuran perkerasaan jalan dengan membuat grafik
pembagian butir, yaitu penyesuaian antara grafik dan berat agregat yang lolos dari
saringan yang telah ditetapkan dalam spesifikasi saringan, dalam hal ini didapatkan
PERHITUNGAN MARSHALL
Agregat Agregat
Saringan Agregat Halus Filler
Kasar Medium Total Spesifikasi
No
100% 18% 100% 29.00% 100% 48.00% 100% 5%
1" 100 18 100 29 100 48 100 5 100 100
3/4" 89 16 100 29 100 48 100 5 98.02 80-100
1/2" 35 6.3 99 28.71 100 48 100 5 88.01 -
3/8" 13 2.34 74 21.46 100 48 100 5 76.8 60-80
4 1 0.18 2 0.58 86.5 41.52 100 5 47.28 48-65
8 1 0.29 61.2 29.376 100 5 34.666 35-50
30.729
30 0 100 5 35.7296 19-30
0 64.02 6
50 19.38 9.3024 100 5 14.3024 13-23
100 11.38 5.4624 100 5 10.4624 7-15
200 5.54 2.6592 100 5 7.6592 1-8
Tabel 6.1 Analisa Campuran Agregat (Blending)

Mencari niai gram agregat dari aspal 6%,6.5% dari total berat aspal
agregat 1200 gram
Contoh perhitungan :
1. Aspal 6%
Berat aspal : 6% x 1200 gr
: 72 gr
Berat Agregat
Agregat Kasar : 18% x 1128 gr
: 203.04 gr
Agregat Medium : 29% x 1128
:327.12 gr
Agregat Halus : 48% x 1128
: 541.44 gr
Filer :5% x 1128
:56.4 gr

Perhitungan Menentukan Berat Jenis Agregat

Berat Jenis Agregat Bulk :


100

( Bjaggregat kasar
Bulk aggregat kasar ) +(
aggregat medium
Bj Bulk aggregat medium ) +(
aggregat halus
Bj Bulk aggregat halus ) +(
Filler
Bj Bulk Filler )
100
18 29 48
( 2,668 )+( 2,667 )+( 2,45 )+( 3.15 )
= 2.576
Berat Jenis Agregat App :
100

( Bjaggregat kasar
Bulk aggregat kasar ) +(
aggregat medium
Bj Bulk aggregat medium ) +(
aggregat halus
Bj Bulk aggregat halus ) +(
Filler
Bj Bulk Filler )
100
18 29 48
( 2,741 )+( 2,739 )+( 2.86 )+( 3.15 )
= 2.813

Berat Jenis Agregat :


Bj . Aggregat App+ Bj . Aggregat Bulk
Berat jenis aggregat =
2
= 2.695

Perhitungan Menentukan Berat Jenis Aspal Teoritis


100
Bj Teoritis=
( BjAggregat aspal
. Aggregat ) ( Bj Aspal )
+

Contoh perhitungan menentukan Bj teoritis aspal 6% :

100
Bj Teoritis=
94 6
( 2.695 )+( 1.037 )
=2.459

Persen Aspal 6% 6.50%


Berat Jenis Aspal
Teoritis 2.459 2.441
Tabel 6.3 Berat Jenis Teoritis

Menghitung Berat Isi Benda Uji


berat kering
berat isi bendauji=
berat jenuhberat dalam air
W dalam W
Benda W kering udara
air jenuh
Uji
(gr) (gr) (gr)
6% 1176.5 659 1186.5
6.50% 1171 655 1181.5
Tabel 6.1 Data Berat isi Benda Uji

Aspal 6% 6.50%
Benda
2.230332 2.224122
Uji
Tabel 6.2 Berat Isi Benda Uji

Mengitung % rongga terhadap agregat


%rongga terhadap agregat

( 100 aspal terhadap campuran ) x berat isi benda uji


rongga terhadapaggregat =100
Berat jenis aggregat
Contoh Perhitungan :
Aspal 6%
( 1006 ) x 2.230332
rongga terhadapaggregat =100
2.695

% rongga terhadap agregat = 22.207

Sampel Ronga terhadap agregat


6% 22.207
6.50% 22.837
Tabel 6.1 Rongga terhadap agregat

Mengitung % rongga terhadap campuran


100 x berat isi bendauji
rongga terhadap campuran=100
berat jenis teoritis
Sampel % Rongga terhadap
campuran
6% 9.299
6.5% 8.885
Tabel 6.1 % rongga terhadap campuran

Menghitung Nilai Stabilitas x Korelasi Tinggi


Benda Uji Tinggi Angka Korelasi
6% 66 0.89
6.5 % 66.75 0.89
Tabel 6.1 Angka korelasi

Stabilitas = Pembacaan arloji x kalibrasi alat x korelasi tinggi


Aspal 6% 6.5%
Stabilitas x korelasi 904.94577 784.286334
Tabel 6.2 Nilai stabilitas x korelasi tinggi

*Kalibrasi alat = 22.5954 (kgf/div)

Menghitung Nilai stabilitas/kelelehan


Aspal 6% 6.5%
Kelelehan 3 3.7
Tabel 6.1 Nilai Kelelehan

Aspal 6% 6.5%
Stabilitas/Kelelehan 301.64859 211.96927
Tabel 6.2 Nilai Stabilitas / Kelelehan

Tabel Data minimum dan maksimum untuk menentukan komposisi aspal yang paling ideal
untuk campuran perkerasan jalan :

PARAMETER NILAI MINIMUM DAN MAKSIMUM


% Rongga terhadap aggregate Minimum 16%
% Rongga terhadap campuran 3%- 5%
Stabilitas x korelasi tinggi Minimum 550
Kelelehan 2 mm 4 mm
Stabilitas / kelelehan 200 - 350

7. ANALISIS
a. Analisis Percobaan
Praktikum marshall bertujuan untuk menentukan nilai ketahanan (stabilitas)
terhadap kelelehan plastis dari campuran aspal. Pada praktikum ini kami
menggunakan 2 jenis sampel dengan mengacu pada perbandingan persentase aspal
yang sudah ditentukan, yaitu 6%,dan 6.5%. dengan berat masing-masing campuran
sampel adalah 1200 gram.
Langkah pertama yang dilakukan adalah menghitung perbandingan agregat
kasar,medium,halus,dan filler yang nanti akan digunakan untuk campuran aspal.
Penentuan perbandingan ini berdasarkan data percobaan analisis saringan agregat
yang telah dilakukan sebelumnya. Untuk menentukan persentase agregat praktikan
menggunakan grafik pembagian butir agregat sehingga didapatkan persentase agregat
kasar,medium,halus,dan filler. Berdasarkan pada grafik persentase tersebut paraktikan
dapat menentukan analisa campuran agregat. Setelah itu praktikan menyiapkan
agregat kasar,medium,halus,dan filer sebesar 18%,29%,48%,dan 5%. Dengan
mengacu pada berat awal sebesar 1200 gr. Setelah agregat siap praktikan menyiap
kan aspal dengan kadar sampel yang berbeda sebesar 6% dan 6.5%.
Selanjutnya mencari berat agregat berdasarkan persentase awal, lalu memasukan
semua sampel kedalam kantong plastic untuk 2 jenis sampel yang berbeda. Pada
keesokan harinya adalah mengeluarkan agregat dari kantong plastic dan dipanaskan
didalam kuali. Pemanasan ini bertujuan agar menghilangkan kadar air didalam
agregat agar penyerapan aspal terhadap agregat menjadi homogen ,bersamaan dengan
itu lakukan pemanasan aspal yang sebelumnya telah ditentukan hingga mencair.
setelah suhu agregat mencapai 150C masukan aspal yang telah siap kedalam kuali
lalu mengaduknya hingga merata hal ini disebut dengan aspal (hot mix).
Setelah campuran aspal teraduk merata masukan campuran aspal
kedalam wadah cetakan yang telah diberi oli,dan diberi kertas pada lapisan atas dan
bawahnya. Selanjutnya masukan campuran aspal tersebut kedalam alat pemadat dan
dilakukan pemadatan sebanyak 75 kali, sampel dibalik lalu dilakukan pemadatan
kembali sebanyak 75 kali. Suhu pemadatan berkisar 110-120C.
Setelah pemadatan selesai, sampel dikeluarkan dari dari wadah. Lalu tunggu
selama 24jam lamanya dalam suhu ruangan, kemudian timbang berat sampel serta
dimensinya Selanjutnya rendam sampel sampai 24jam lamanya hingga mencapai
surface dry (kering permukaan) kemudian menimbang beratnya untuk mendapatkan
berat jenuh,dan menimbangnya dalam timbangan air.
Selanjutnya masukan sampel tersebut kedalam waterbath yang airnya bersuhu
sekitar 60C selama 30 menit,keluarkan sampel dan letakan diatas alat marshal test
yang telat diberi pembebanan, kemudian baca nilai o (stabilitas) dan nilai r
(kelelehan). Setelah mendapatkan nilai o dan r,maka dapat ditentukan kadar aspal
optimal. Maksud kadar optimal adalah persentase aspal pada campuran yang
memberikan nilai (variable marshall) terbaik dari campuran aspal + agregat.

b. Analisis Hasil
Dari percobaan marshall ini didapat lima macam nilai, yaitu % rongga terhadap
agregat, % rongga terhadap campuran, kelelehan dan stabilitas aspal, serta nilai
marshall itu sendiri. Berikut ini disajikan table hasil yang diperoleh dari percobaan
campuran aspal dengan menggunakan alat marshall test :
Kadar I n q r s
sampel
aspal (%) (%) (kg) (mm) (kg/mm)
6 1 22.207 9.299 904.9458 3 301.6486
6.5 1 22.837 8.885 784.2863 3.7 211.9693

Keterangan : l : % rongga terhadap aggregat


n : % rongga terhadap campuran
q : stabilitas
r : kelelehan
s : nilai marshall
PARAMETER NILAI MINIMUM DAN MAKSIMUM HASIL PERCOBAAN
% Rongga terhadap aggregat Minimum 16% 22.207-22.837
% Rongga terhadap campuran 3%- 5% 8.885-9.299
Stabilitas x korelasi tingga Minimum 550 784.2863-904.9458
Kelelehan 2 mm 4 mm 3-3,7
Stabilitas / kelelehan 200 - 350 211.9693-301.6486

Berdasarkan perbandingan dari hasil percobaan diatas dengan parameter, terdapat nilai
yang tidak sesuai,yaitu pada % rongga terhadap campuran yaitu melebihi dari parameter
sebesar 5%,

c. Analisis Kesalahan
Grafik % Rongga terhadap agregat

% Rongga terhadap agregat


% Rongga terhadap agregat Mini mum
45
40
35
30
25
20
15
10
5
0
Minumum maks i mum

Berdasarkan grafik diatas terlihat % rongga terhadap


aggregate telah melebihi batas minimum dari parameter yang telah
ditentukan sebesar minimum 16%. Hal ini membuktikan rongga terhadap
aggregate telah memenuhi parameter yang ditentukan.

Grafik % rongga terhadap campuran


% Rongga terhadap campuran
Mi nimum ma ks i mum
%Rongga terhada p campuran
10
9
8
7
6
5
4
3
2
1
0
1 2

Berikut ini adalah perbandingan hasil percobaan dengan parameter


data minimum dan maksimum. Dari hasil praktikum diatas praktikan
mengalami kesalahan dimana sampel yang digunakan melebihi dari
parameter yang telah ditentukan.

Grafik stabilitas kadar aspal

Stabilitas kadar aspal


Mini mum Stabi l i tas kadar a s pal
1000
900
800
700
600
500
400
300
200
100
0
1 2

Berikut ini adalah grafik dari kadar aspal,terlihat bahwa kadar


aspal 1(6.5%) dan 2(6%) telah memenuhi parameter yang diharuskan
miminum yaitu 550.hal ini membuktikan bahwa kadar aspal telah
mengikat secara benar.
Grafik kelelehan aspal

Kelelehan aspal
Kelel ehan as pa l Mini mum
Maks i mum
5
4
3
2
1
0
1 2

Dari grafik diatas dapat diketahui bahwa titik leleh aspal telah
memenuhi dari parameter yaitu maksimum 4 dan minimum 2.

Grafik nilai Marshall

Nilai Marshall
Ni l ai as pa l Mi ni mum Maks i mum
400
350
300
250
200
150
100
50
0
1 2

Dari grafik diatas membuktikan bahwa nilai marshal telah


memenuhi parameter.
Pada Percobaan marshall ini diketahui bahwa hanya nilai %rongga terhadap
agregat yang tidak memenuhi parameter yang dianjurkan, dan untuk percobaan lain nya
sudah sesuai dengan parameter yang ada. Beberapa kesalahan yang mungkin terjadi
tersebut diantaranya meliputi :
1) Saat dilakukan penumbukan sebanyak 75 kali sempat terjadi kegagalan
pada alat penumbuk,sehingga terdapat sedikit rongga antara campuran
aspal
2) Adanya rongga antara aspal dan agregat yang tidak terisi oleh aspal yang
mungkin disebabkan oleh tinggi batang penumbuk tidak mencapai 45 cm
3) Pada saat penimbangan campuran agregat terdapat kesalahan pembacaan,
sehingga %agregat terhadap campuran tidak sesuai dengan parameter yang
telah ditetapkan
4) Pada saat pemanasan agregat terdapat agregat yang jatuh sehingga
menyebabkan kadar agregat berkurang.
5) saat pencampuran agregat dengan aspal terdapat campuran aspal yang
tertinggal pada alat pengaduk sehingga mengurangi berat agregat.
d. Analisis K3
Dalam melakukan praktikum Campuran Aspal dengan alat Marshall perlu
diperhatikan aspek kesehatan dan keselamatan kerja. Oleh karena itu,saat melakukan
praktikum dihimbau untuk menggunakan alat-alat keselamatan seperti jas
laboratorium,sepatu,masker,serta sarung tangan. Jas laboratorium digunakan untuk
antisipasi adanya material panas yang mengenai kulit praktikan dan menyebabkan
luka,sepatu tertutup digunakan untuk melindung dari beban yang terjatuh dari
ketinggian,masker digunakan agar praktikan tidak menghirup zat kimia aspal saat
dipanaskan,dan sarung tangan digunakan untuk melindungi tangan praktikan saat
memindahkan sampel dalam keadaan panas.

8. APLIKASI
Agregat merupakan salah satu material penyusun dari aspal,sedangkan aspal
adalah material emulisi yang berguna merekatkan agregat dalam campuran aspal panas
(hotmix),Campuran aspal yang digunakan ini biasanya berupa agregat local untuk
perkerasan jalan sehingga perlu dicari angka stabilitas antara jenis aspal dan jenis agregat
yang digunakan.
Pemeriksaan ini dimaksudkan untuk menentukan ketahanan (stabilitas) aspal
terhadap kelelehan plastisitas,yang biasanya terjadi ketika ada kendaraan berat yang
melewatinya. Untuk itu tujuan dari praktikum marshall ini ialah mengetahui komposisi
agregat dengan aspal yang optimum yang artinya agregat dan aspal tidak dicampurkan
berlebihan sehingga praktikan mengetahui perbandingan yang baik,selain itu dengan
mencari campuran optimum dapat menghemat cost saat merancang sebuah jalan.

9. KESIMPULAN
Dari percobaan marshall ini dapat diambil kesimpulan sebagai berikut :
a. Kadar aspal 6% memiliki nilai marshall sebesar 301.6486 kg, untuk kadar aspal
6.5% memiliki nilai marshall sebesar 211.9693 kg, yang artinya nilai tersebut
merupakan kemampuan aspal menerima beban.
b. Kelelehan campuran untuk kadar aspal 6% adalah 3mm,dan kadar aspal 6.5%
adalah 3.7 mm
c. Kadar aspal yang paling mendekati kondisi terbaik (optimum) yaitu sesuai dengan
table parameter adalah kadar aspal 6.5%
PARAMETER NILAI MINIMUM DAN MAKSIMUM Kadar aspal 6.5%
% Rongga terhadap aggregat Minimum 16% 22.837
% Rongga terhadap campuran 3%- 5% 8.885
Stabilitas x korelasi tingga Minimum 550 784.2863
Kelelehan 2 mm 4 mm 3,7
Stabilitas / kelelehan 200 - 350 211.9693
d. Pada percobaan %rongga terhadap campuran pada kadar aspal 6% adalah 9.299%
dan kadar aspal 6.5% adalah 8.885%. nilai tersebut tidak sesuai dengan parameter
yang ada kemungkinan karena adanya kesalahan praktikan ketika memadapkan
aspal dengan agregat.
e. Kelelehan plastis adalah keadaan perubahan bentuk campuran aspal yang terjadi
akibat beben sampai pada titik runtuh yang dinyatakan dalam mm atau 0,01 inch
f. Ketahanan (stabilitas) aspal dipengaruhi oleh persentase perbandingan aspal dengan
agregat,

10. REFERENSI
Christady Hary Hardiyanto, 2015 , PERANCANGAN PERKERASAN JALAN &
PENYELIDIKAN TANAH,UGM, Yogyakarta, Indonesia

11. LAMPIRAN