Anda di halaman 1dari 38

TUGAS MAKALAH

SEJARAH KESEHATAN LINGKUNGAN

Oleh :
Aulia Hidayati
NIM : 1610815220003
Novia Astri Hasdita
NIM : 1610815120016

Dosen Pengampu I Dosen Pengampu II


Prof. Dr. Qomariyatus Sholihah, Muhammad Firmansyah, S.T., M.T
Amd.hyp. S.T., M.Kes

PROGRAM STUDI S-1 TEKNIK LINGKUNGAN


FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS LAMBUNG MANGKURAT
BANJARBARU

2017
TUGAS MAKALAH
SEJARAH KESEHATAN LINGKUNGAN

Oleh :
Kelompok 10

Dosen Pengampu : 1. Prof. Dr. Qomariyatus Sholihah, Amd.hyp. S.T., M.Kes


2. Muhammad Firmansyah, S.T., M.T

PROGRAM STUDI S-1 TEKNIK LINGKUNGAN


FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS LAMBUNG MANGKURAT
BANJARBARU

2017
KATA PENGANTAR

Puji dan syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT. sehingga penulis
dapat menyusun makalah ini yang diberi judul Sejarah Kesehatan Lingkungan,
yang merupakan salah satu tugas mata kuliah Kesehatan Lingkungan di
Universitas Lambung Mangkurat.
Penulis mengucapkan terimakasih kepada pihak-pihak yang mendukung
penulisan makalah ini:
1. Rektor Universitas Lambung Mangkurat, Prof. Dr. H. Sutarto Hadi, M.Si.,
M.Sc.
2. Dekan Fakutas Teknik Universitas Lambung Mangkurat, Dr. Ing. Yulian
Firmana Arifin, S.T., M.T.
3. Ketua Program Studi Teknik Lingkungan, Dr. Rony Riduan, S.T, M.T.
4. Dosen Mata Kuliah Kesehatan Lingkungan, Prof. Dr. Qomariyatus Sholihah,
Amd, S.T., M. Kes. dan Muhammad Firmansyah, S.T, M.T.
Penulis menyadari, bahwa didalam penulisan makalah ini tidak terlepas
dari adanya kekurangan ataupun kekeliruan yang belum dapat dikatakan
sempurna sebagaimana yang diharapkan, hal ini disebabkan karena keterbatasan
kemampuan yang penulis miliki, namun demikian penulis berusaha semaksimal
mungkin dan berusaha untuk dapat memenuhi sasaran yang diinginkan sesuai
dengan judul diatas.
Akhir kata penulis hanya mampu berharap semoga penulisan makalah ini
bermanfaat bagi siapa saja yang memerlukannya. Amin.

Banjarbaru, April 2017

Penulis
TERIMAKASIH KEPADA :

Prof. Dr. H Sutarto Hadi, M.Si, M.Sc


19660331 199102 1 001
Rektor Universitas Lambung Mangkurat
Dr. Ing Yulian Firmana Arifin,S.T., M.T
19750719 200003 1 001
Dekan Fakultas Teknik Universitas Lambung Mangkurat
Rony Riduan, S.T., M.T
19761017 199903 1 003
Ketua Program Studi Teknik Lingkungan di Universitas Lambung
Mangkurat
Prof. Dr. Qomariyatus Sholihah,Amd.hyp. S.T., M.Kes
19780420 200501 2 002
Dosen Pengajar Kesehatan Lingkungan di Universitas Lambung Mangkurat
Muhammad Firmansyah,S.T., M.T
19890911 201504 1 002
Dosen Pengajar Kesehatan Lingkungan di Universitas Lambung Mangkurat
Aulia Hidayati
1610815220003
Amuntai, 12 Juni 1998
Jl Nelayan PCPI 1 RT.9 RW.5 Blok F No.6 Desa Kota Raja, Amuntai Selatan,
Hulu Sungai Utara, Kalimantan Selatan
alyyalia44@gmail.com
When you feel like giving up, remember why you started
Novia Astri Hasdita
1610815120016
Kotabaru, 23 November 1998

Desa Sangking Baru RT 07 RW 04 Kecamatan Kelumpang Selatan, Kabupaten


Kotabaru, Kalimantan Selatan
astrihasdita@gmail.com
Just believe you can do it
HALAMAN PENGESAHAN
MAKALAH
SEJARAH KESEHATAN LINGKUNGAN

Oleh :
Aulia Hidayati
NIM : 1610815220003
Novia Astri Hasdita
NIM : 1610815120016

Dosen Pengampu I

Prof. Dr. Qomariyatus Sholihah,Amd.hyp. S.T., M.Kes


NIP. 19780420 200501 2 002

Dosen Pengampu II

Muhammad Firmansyah, S.T., M.T


NIP. 19890911 201504 1 002
Banjarbaru, April 2017
Ketua Program Studi Dekan Fakultas Teknik
Teknik Lingkungan Universitas Lambung Mangkurat

Dr. Rony Riduan, S.T., M.T Dr. Ing Yulian Firmana Arifin, S.T.,
M.T
NIP. 19761017 199903 1 003 NIP. 19750719 200003 1 00
DAFTAR ISI

Kata Pengantar ................................................ Error! Bookmark not defined.


Halaman Pengesahan ................................... Error! Bookmark not defined.i
Daftar Isi ........................................................ Error! Bookmark not defined.v
I. PENDAHULUAN ........................................... Error! Bookmark not defined.
1.1 Latar Belakang ........................................ Error! Bookmark not defined.
1.2 Rumusan Masalah ................................................................................... 1
II. TINJAUAN PUSTAKA.................................................................................... 2
2.1 Kesehatan Lingkungan ............................................................................. 2
2.1.1 Pencemaran Udara ............................................................................... 5
2.1.2 Debu...................................................................................................... 6
III. PEMBAHASAN ........................................... Error! Bookmark not defined.
3.1 Pengertian Lingkungan.......................................................................... 9
3.2 Pengertian Kesehatan Lingkungan ........................................................ 9
3.3 Sejarah Kesehatan Lingkungan ............................................................ 10
3.4 Hubungan Ilmu Lingkungan dengan Kesehatan Lingkungan .......... Error!
Bookmark not defined.
3.5 Ilmu Kesehatan Lingkungan ................. Error! Bookmark not defined.
3.6 Pencemaran Lingkungan ....................... Error! Bookmark not defined.
3.7 Konsep Sehat ........................................ Error! Bookmark not defined.
3.8 Klasifikasi Agens Penyakit ..................... Error! Bookmark not defined.
3.9 Faktor Manusia Terhadap Penyakit ...... Error! Bookmark not defined.
3.10 Lingkungan ......................................... Error! Bookmark not defined.
3.11 Model Sehat Sakit ............................................................................ 20
3.11.1 Penyakit .................................................................................... 20
3.12 Data dan Pola Penyakit .................................................................... 22
IV. PENUTUP ................................................................................................. 24
4.1 Kesimpulan ............................................................................................ 24
Daftar Pustaka ..................................................................................................... v
Riwayat Penulis ........................................................................................... vi
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar belakang
Kesehatan lingkungan merupakan suatu faktor yang sangat penting
bagi kehidupan manusia. Bahkan kesehatan lingkungan merupakan sesuatu
yang dominan terhadap kehidupan makhluk hidup di bumi. Lingkungan
yang sehat sangat penting dan sangat dibutuhkan untuk meningkatkan
suatu kualitas kehidupan yang berada di ruang lingkup lingkungan tersebut.
Dari hasil penelitian didapat bahwa angka kematian yang tinggi pada bayi
di suatu daerah disebabkan oleh faktor perilaku masyarakat itu sendiri
seperti perawatan pada saat hamil dan perilaku saat menjaga pola hidup
yang sehat serta faktor dari lingkungan itu sendiri.
Pada masa mendatang pemerintah akan fokus terhadap
pembangunan Negara dan pengembangan wilayah-wilayah di daerah
tertentu. Kita sebagai masyarakat harus dapat bersikap professional seiring
dengan berjalannya waktu. Penggunaan IPTEK yang lebih maju untuk
lingkungan juga memerlukan sikap yang professional dalam
penggunaannya yang didukung oleh pendidikan yang memadai. Disamping
itu dalam proses kemajuan pembangunan dimasa mendatang harus ada
diciptakan teknologi yang memfokuskan pada dampak kesehatan
lingkungan dari pencemaran yang ditimbulkan oleh adanya pembangunan
tersebut. Indikator yang digunakan dalam teknologi ini juga harus mudah
dan murah untuk mengukur serta sensitive terhadap perubahan kualitas
lingkungan.
1.2 Rumusan masalah
1. Pengertian kesehatan lingkungan
2. Hubungan ilmu kesehatan lingkungan dengan kesehatan lingkungan
3. Pengertian pencemaran air, udara dan tanah
4. Apa itu agens host dan penyakit
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Kesehatan lingkungan
Menurut pendapat Mulia Ricky M tahun 2005, Kesehatan lingkunan
adalah dasar-dasar dari kesehatan pada kehidupan manusia modern yang
meliputi semua aspek kehidupan dan hubungan manusia terhadap
lingkungannya. Kesehatan lingkungan memiliki tujuan untuk meningkatkan
dan mempertahankan nilai-nilai kesehatan manusia pada tingkat yang
setingi-tingginya dengan cara memodifikasi atau memperbaiki faktor sosial
dan faktor lingkungan fisik. Dan juga memodifikasi semua sifat-sifat dan
kelakuan-kelakuan terhadap dilingkungan sehingga dapat membawa
pengaruh terhadap ketenangan yang ada serta kesehatan dan keselamatan
makhluk hidup baik itu manusia, hewan serta tumbuhan.
Menurut World Health Organization (WHO), suatu keseimbangan
ekologi yang harus ada antara manusia dan lingkungan agar dapat
menjamin keadaan sehat dari manusia adalah apa yang dimaksud dengan
kesehatan lingkungan.
Adapun menurut Himpunan Ahli Kesehatan Lingkungan Indonesia
(HAKLI) Suatu kondisi lingkungan yang mampu menopang keseimbangan
ekologi yang dinamis antara manusia dan lingkungannya untuk mendukung
tercapainya kualitas hidup manusia yang sehat dan bahagia merupakan apa
yang dimaksud dengan kesehatan lingkungan.
Adapun 17 ruang lingkup kesehatan menurut WHO, yaitu :
1) Penyediaan Air Minum
2) Pengelolaan air Buangan dan pengendalian pencemaran
3) Pembuangan Sampah Padat
4) Pengendalian Vektor
5) Pencegahan/pengendalian pencemaran tanah oleh ekskreta manusia
6) Higiene makanan, termasuk higiene susu
7) Pengendalian pencemaran udara
8) Pengendalian radiasi
9) Kesehatan kerja
10) Pengendalian kebisingan
11) Perumahan dan pemukiman
12) Aspek kesling dan transportasi udara
13) Perencanaan daerah dan perkotaan
14) Pencegahan kecelakaan
15) Rekreasi umum dan pariwisata
16) Tindakan-tindakan sanitasi yang berhubungan dengan keadaan
epidemi/wabah, bencana alam dan perpindahan penduduk.
17) Tindakan pencegahan yang diperlukan untuk menjamin lingkungan.
(Ricky M, 2005)
Manusia memiliki kemampuan untuk dapat mengendalikan dan
meminimalisir dampak kesehatan limgkungan serta menciptakan
sumberdaya untuk dibudidayakan yang berasal dari alam. Usaha
penambangan merupakan usaha melakukan kegiatan eksplorasi,
eksploitasi, produksi, dan penjualan. Penggolongan bahan-bahan galian
adalah sebagai berikut :
1. Golongan a, merupakan bahan galian strategis, yaitu strategis untuk
perekonomian Negara serta pertahanan dan keamanan Negara.
2. Golongan b, merupakan bahan galian vital, yaitu dapat menjamin hajat
hidup orang banyak, Contohnya besi, tembaga, emas, perak dan lain-
lain.
3. Golongan c, bukan merupakan bahan galian strategis ataupun vital,
karena sifatnya tidak langsung memerlukan pasaran yang bersifat
internasional. Contohnya marmer, batu kapur, tanah liat, pasir, yang
sepanjang tidak mengandung unsur mineral.
Menurut Undang-Undang Nomor 11 tahun 1967 tentang Ketentuan-
ketentuan Pokok Penambangan menyebutkan bahwa penambangan rakyat
adalah suatu usaha penambangan bahan-bahan galian dari semua
golongan a, b dan c yang dilakukan oleh rakyat setempat secara kecil-
kecilan atau gotong royong dengan alat-alat sederhana untuk pencairan
sendiri. Penambanganrakyat dilakukan oleh rakyat, artinya dilakukan oleh
masyarakat itu sendiri yang berada di sekitar penambangan baik secara
individu maupun bergotong royong secara besar-besaran. Tujuannya
adalah untuk meningkatkan kehidupan masyarakat sehari-hari. Masyarakat
menggunakan alat yang sederhana tidak seperti perusahaan-perusahaan
yang memakai teknologi canggih. Dari uraian di atas, dapat dikemukakan
unsur-unsur penambangan rakyat, yaitu:
1. Usaha penambangan
2. Bahan galian meliputi bahan galian strategis, vital dan galian c
3. Dilakukan oleh rakyat
4. Domisili di area tambang rakyat
5. Untuk penghidupan sehari-hari
6. Diusahakan dengan cara sederhana.
Frida, Rahim, Ambo (2009) berpendapat bahwa sebagian besar
bahan galian tambang ditemukan di daerah-daerah terpencil yang memiliki
hutan lebat, masih berada didaerah perbukitan, pergunungan serta
lingkungan atau alamnya yang belum tercampur oleh ulah manusia.
Biasanya masyarakat disana juga belum terkontaminasi oleh kemajuan
teknologi yang sedang berkembang. Awal interaksi antara masyarakat dan
komponen-komponen lingkungan berada di atas keseimbangan
lingkungan. Jika seperti itu, maka keseimbangan akan terganggu serta
menimbulkan dampak perubahan yang mendasar pada lingkungan.
Interaksi antara komponen-komponen lingkungan secara logika
yang ada di daerah tersebut seharusnya berada dalam keadaan yang
seimbang baik pengelola, pemerintah maupun warga yang berada disana.
Namun kenyataan yang ada berkata sebaliknya keseimbangan alam
tersebut sudah sangat terganggu dan menimbulkan perubahan yang sangat
berdampak. Contoh dampak yang sangat berpengaruh adalah penghubung
jalan antar desa. akses jalan tersebut rusakkarena setiap harinya di lalui
oleh kendaraan yang bobotnya jauh melebihi kapasitas jalan.Setiap harinya
truk mengangkut hasil tambang kuarng lebih 50-200 kali pengangkutan
yang melewati jalan tersebut.Sehingga dapat mempercepat kerusakan
jalan. Dalam rangka penyelamatan lingkungan hidup agar tetap lestari dan
terjaga dan dapat lebih banyak memberikan mafaat bagi manusia, maka
perlu dilakukan langkah-langkah sebagai berikut:
1. penyuluhan secara intensif tentang pentingnya penyelamatan
lingkungan, yang bisa memberikan manfaat besar bagi manusia
2. penambangan harus diatur dengan peraturan daerah atau peraturan
bupati, untukmelindungi alam dan jiwa penambang
3. perlu dilakukan pengkajian amdal untuk mengkaji kemanfaatan atau
untung rugi bagi penambang, pemerintah daerah, dan lingkungan.

2.1.1 Pencemaran Udara


Ricki M. Mulia (2005) berpendapat bahwa udara merupakan suatu
komponen yang sangat penting bagi manusia yaitu untuk keperluan
bernafas. Maka dari itu kualitas udara haruslah layak agar dapat tercipta
suatu lingkungan yang sehat dan manusia sehat.
Dalam uraian H.J Mukono (2003) bahwa menurut Chambers
(1976:13-14) dan Masrers (1991:270) bertambahnya bahan atau substrat
fisik atau kimia ke dalam lingkungan udara normal yang mencapai jumlah
tertentu, sehinggga dapat dideteksi oleh manusia (atau yang dapat
dihitung dan diukur) serta dapat memberikan efek pada manusia, binatang,
vegetasi, dan material adalah yang dimaksud dengan pencemaran udara.
Selain itu pencemaran udara dapat pula dikatakan sebagai perubahan
atmosfer karena masuknya bahan kontaminan alami atau buatan ke dalam
atmosfer tersebut.
Ricki M. Mulia (2005) mengatakan bahwa pencemaran udara dapat
menyebabkan dampak pada kesehatan dan kerusakan lingkungan. Dampak
pada kesehatan biasanya terjadi pada pernapasan dan juga organ
penglihatan.
Perubahan kualitas udara disebabkan masuknya polutan ke udara.
Namun polutan yang masuk tersebut tidak selalu dapat menyebabkan
pencemaran udara. Menurut definisi dalam UU Lingkungan Hidup,
pencemaran udara baru terjadi jika polutan yang masuk menyebabkan
mutu udara turun sampai ke tingkatan yang menyebabkan fungsi udara
terhambat. Contohnya seperti kesehatan manusia yang tergangggu dan
fungsi lingkungan yang tidak sesuai. Suatu pencemaran udara
dikategorikan berat atau tidaknya berdasarkan pada iklim lokal, topografi,
kepadatan penduduk, banyaknya industri yang berlokasi di daerah
tersebut, penggunaan bahan bakar dalam industri, suhu udara panas di
lokasi, dan kesibukan transportasi. Jika suatu daerah berada didataran
tinggi atau pegunungan maka curah hujan cenderung tinggi dan itu sangat
membantu untuk mengurangi dampak pencemaran udara dan
membersihkan udara yang ada. Angin yang kencang juga dapat membawa
polutan ke tempat atau daerah yang lebih jauh.
Secara umum penyebab pencemaran udara ada dua macam, yaitu:
1. Karena faktor internal (secara alamiah), contoh :
Debu yang beterbangan akibat tiupan angin.
Abu (debu) yang dikeluarkan dari letusan gunung berapi berikut
gavulkanik.
Proses pembusukan sampah organik, dll.
2. Karena faktor eksternal (karena ulah manusia), contoh:
Hasil pembakaran bahan bakar fosil.
Debu/serbuk dari kegiatan industri.
Pemakaian zat-zat kimia yang disemprotkan ke udara.
(Ricky M, 2005)
2.1.2 Debu
Debu adalah suatu partikel padat yang berasal dari manusia maupun
dari alam dan merupakan hasil proses dari pemecahan suatu bahan. Semua
debu jika berlebihan untuk jangka waktu yang lama, dapat menyebabkan
kerusakan patologis pada manusia. Debu-debu dengan komposisi yang
berbeda mempunyai efek yang berbeda. Sifat-sifat debu adalah :
1. Sifat pengendapan
Debu yang cenderung selalu mengendap karena gaya gravitasi
bumi. Namun karena ukurannya yang kecil debu relatif tetap berada di
udara. Debu yang mengendap dapat mengandung proporsi partikel yang
lebih dari pada yang ada di udara.
2. Sifat permukaan basah
Debu akan cenderung selalu basah, oleh karena dilapisi dengan
lapisan air yang sangat tipis. Sifat ini penting dalam pengendalian debu
dalam tempat kerja.
3. Sifat penggumpalan
Oleh karena permukaan debu selalu basah, sehingga dapat
menggumpal dan menempel satu sama lain. Kelembaban terhadap
penggumpalan debu di bawah saturasi adalah kecil pengaruhnya. Akan
tetapi bila tingkat humiditas di atas titik saturasi penggumpalan akan
mudah terjadi.
4. Sifat listrik statik
Debu mempunyai sifat listrik statis yang dapat menarik partikel
lain yang berlawanan. Dengan demikian, partikel dalam larutan debu
mempercepat terjadinya proses penggumpalan.
5. Sifat opsis
Debu atau partikel basah/lembab lainnya dapat memancarkan
sinar yang dapat terlihat dalam kamar gelap. Debu tambang
didefinisikan sebagai zat padat yang terbagi halus. Adapun partikel-
partikel zat padat atau cairan yang berukuran sangat kecil di dalam
medium gas atau udara disebut aerosol misalnya asap, kabut dan debu
dalam udara.
(Budiman, 2007)
BAB III
PEMBAHASAN
3.1 Pengertian Lingkungan
1. Menurut encyclopaedia of science & technology (1960) yaitu,
Lingkungan adalah sejumlah kondisi di luar dan mempengaruhi
kehidupan dan perkembangan organisme.
2. Menurut encyclopaedia Americana (1974) yaitu, Lingkungan adalah
pengaruh yang ada diatas/sekeliling organisme.
3. Menurut A.L. Slamet Riyadi (1976) yaitu, Lingkungan adalah tempat
pemukiman dengan segala sesuatunya dimana organismenya hidup
beserta segala keadaan dan kondisi yang secara langsung maupun
tidak dapat diduga ikut mempengaruhi tingkat kehidupan maupun
kesehatan dari mikroorganisme itu.
(Budiman, 2007)

3.2 Pengertian Kesehatan Lingkungan


1. Menurut HAKLI (Himpunan Kesehatan Lingkungan Indonesia) yaitu
Kesehatan lingkungan adalah suatu kondisi lingkungan yang mampu
menopang keseimbangan ekologi yang dinamis antara manusia dan
lingkungannya untuk mendukung tercapainya kualitas hidup manusia
yang sehat dan bahagia.
2. Menurut WHO (World Health Organization) yaitu Kesehatan
lingkungan adalah suatu keseimbangan ekologi yang harus ada antara
manusia dan lingkungan agar dapat menjamin keadaan sehat dari
manusia.
3. Menurut kalimat yang merupakan gabungan (sintesa dari Azrul Azwar,
Slamet Riyadi, WHO dan Sumengen) yaitu Kesehatan lingkungan
adalah upaya perlindungan, pengelolaan, dan modifikasi lingkungan
yang diarahkan menuju keseimbangan ekologi pada tingkat
kesejahteraan manusia yang semakin meningkat.
(Budiman, 2007)
Apabila digabungkan antara hubungan ilmu lingkungan dan
kesehatan lingkungan maka yaitu suatu kondisi dimana lingkungan mampu
menopang keseimbangan ekologi yang dinamis antara manusia dan
lingkungannya sehingga mampu mendukung tercapainya kualitas hidup
manusia yang sehat dan bahagia.

3.3 Sejarah Kesehatan Lingkungan


Pada abad ke-19 revolusi industry telah terjadi di inggris. Era
industrialisasi tersebut menimbulkan masalah baru pada masyarakat
inggris berupa munculnya daerah pemukiman kumuh, akumulasi buangan
dan kotoran manusia, masalah sosial dan kesehatan, terutama hal ini
terjadi di kota-kota besar.
Pada tahun 1832, wabah penyakit kolera yang dahsyat terjadi di
inggris dan menimbulkan korban jiwa. John Snow (1854) melakukan
penelitian epidemiologi terhadap wabah kolera yang terjadi di broad
street, London, dan membuktikan bahwa penyakit tersebut disebabkan
oleh pencemaran bakteri vibrio cholera pada sumber air yang dikonsumsi
oleh masyarakat. Sejak saat itu konsep pemikiran eksternal yang memiliki
pengaruh dipelajari dan dikembangkan sehingga menjadi suatu ilmu yang
disebut ilmu kesehatan lingkungan atau environmental health.
Usaha untuk memperbaiki dan mencegah terjadinya gangguan
kesehatan yang disebabkan oleh faktor-faktor eksternal tersebut disebut
dengan sanitasi lingkungan atau disebut juga environmental sanitation.
(Budiman, 2007)

3.4 Hubungan Ilmu Lingkungan dengan Kesehatan Lingkungan


1. Ilmu Lingkungan
Ilmu lingkungan adalah penerapan berbagai prinsip dan ketentuan
ekologi dalam kehidupan manusia. Menurut Budiman (2007), Penerapan
prinsip dan ketentuan ekologi dalam kehidupan manusia dapat dibagi
menjadi beberapa pendekatan, yaitu:
a. Pendekatan holistic
Pendekatan holistic yaitu pendekatan seutuhnya berupa analitik
dan reduksionistik yang berarti diperhitungkan secara keseluruhan
saling bergantung satu sama lain untuk kepentingan semua.
b. Pendekatan evolusioner
Pendekatan yang mengkaji tentang evolusi yang terjadi pada
makhluk hidup di dalam lingkungan baik itu secara individu, populasi
maupun komunitas.
c. Pendekatan interaktif
Menurut kajian Price, dkk ( 1983), suatu kehidupan harus dilihat
dari hubungan-hubungan interaktif antar komponen penyusun dan
merupakan suatu pendekatan bottom-up untuk mengenai ekosistem
atau lingkungan hidup dengan lebih baik.
d. Pendekatan situasional
Pendekatan situasional adalah pendekatan yang dilakukan dengan
cara memperhatikan perubahan situasi sekitar pada saat suatu
permasalahan timbul.
e. Pendekatan sosiosistem dan ekosistem
Pendekatan ini berupaya memisahkan lingkungan hidup ke dalam
system sosial dan system alami serta mempelajari berdasarkan aliran
materi, energy, dan informasi. Diantara keduanya akan menghasilkan
proses seleksi dan adaptasi.
f. Pendekatan peranan dan perilaku manusia
Pendekatan ini memiliki tujuan untuk mempelajari peranan
manusia dalam program MAB (man and biosphere) atau pndekatan
pemanfaatan oleh manusia.
g. Pendekatan kontekstualisasi progresif
Pendekatan ini bersifat interdispliner dan dapat ditelusuri secara
progresif sehingga setiap permasalahan dapat dimengerti dan dipahami
dengan baik.
h. Pendekatan kualitas lingkungan
Pendekatan ini merupakan kelanjutan pendekatan
kontekstualisasi progresif yang kemudian dikembangkan dengan
penyusunan analisis dampak lingkungan (AMDAL).
(Budiman, 2007)

3.5 Ilmu Kesehatan Lingkungan


Menurut Budiman (2007) dalam bukunya yaitu, Ilmu kesehatan
lingkungan adalah ilmu multidisipliner yang mempelajari dinamika
hubungan interaktif antara sekelompok manusia atau masyarakat dengan
berbagai perubahan komponen lingkungan hidup manusia yang diduga
dapat menimbulkan gangguan kesehatan pada masyarakat dan
mempelajari upaya untuk penanggulangan dan pencegahannya.

3.6 Pencemaran lingkungan


Budiman (2007) berpendapat bahwa, Pencemaran lingkungan
adalah masuk atau dimasukkannya suatu makhluk hidup, zat, energi atau
komponen lain kedalam lingkungan atau berubahnya suatu tatanan
lingkungan akibat kegiatan manusia atau akibat prose salami sehingga
kualitas lingkungan menurun sampai menyebabkan lingkungan menjadi
kurang kefungsiannya.
3.6.1 Pencemaran Udara
Pencemaran udara disebabkan oleh zat-zat seperti COx, NOx, SOx,
SPM (suspended particulate matter),Ox dan berbagai logam
berat.Pencemaran udara memiliki dampak negatif dampak negatif yang
berbahaya terhadap lingkungan, baik bagi manusia, tumbuh-tumbuhan,
hewan dan rusaknya benda-benda (material) serta berpengaruh pada
kualitas air hujan (hujan asam), yang berakibat pada mata rantai berikutnya
yaitu pada ekosistem flora dan fauna.Ada tiga cara masuknya bahan
pencemar udara kedalam tubuh manusia, yaitu melalui inhalasi, ingestasi,
dan penetrasi kulit. Inhalasi adalah masuknya bahan pencemar udara ke
tubuh manusia melalui sistem pernafasan.Bahan pencemar ini dapat
mengakibatkan gangguan pada paru-paru dan saluran pernafasan.Ingestasi
adalah masuknya bahan pencemar udara kedalam saluran
pencernaan.Penetrasi kulit adalah bahan pencemar udara yang masuk
melalui kulit dan menyebar melalui peredaran darah sehingga
menyebabkan penyakit kulit (Budiyono, 2001).

3.6.2 Pencemaran Tanah


Pencemaran tanah disebabkan oleh bakteri atau zat yang masuk atau
berada ditanah sehingga merusak komponen tanah tersebut. Tanah yang
tercemar akan mempengaruhi air tanah dan tumbuhan yang tumbuh di
tanah tersebut. Jika air tanah tercemar dan makhluk hidup lainnya
mengkonsumsi air tanah tersebut maka akan menyebabkan penyakit
(Harmayani,2007).

3.6.3 Pencemaran Air


Pencemaran adalah suatu penyimpangan dari keadaan normalnya.
Jadi pencemaran air tanah adalah suatu keadaan air tersebut telah
mengalami penyimpangan dari keadaan normalnya. Keadaan normal air
masih tergantung pada faktor penentu, yaitu kegunaan air itu sendiri dan
asal sumber air (Wardhana, 1995).
Harmayani dalam penelitiannya (2007), Pencemaran air disebabkan
oleh masuknya zat atau komponen lain yang menyebabkan air tercemar.
Ada tiga pengamatan untuk mengetahui indikator jika air telah tercemar
yaitu:
a. Pengamatan secara fisis, yaitu pengamatan yang dilakukan berdasarkan
kejernihan atau kekeruhan air, perubahan suhu, perubahan warna serta
baud an rasa.
b. Pengamatan secara kimiawi, yaitu pengamatan yang berdasarkan zat
kimia terlarut dan perubahan pH.
c. Pengamatan secara biologis, yaitu pengamatan berdasarkan adanya
mikroorganisme yang ada didalam air, terutama bakteri pathogen.

3.7 Konsep sehat


Sehat yaitu keadaan atau kondisi normal seseorang yang merupakan
hak hidupnya. Sehat berhubungan dengan hukum alam yang mengatur
tubuh, jiwa dan lingkungan berupa udara segar, sinar matahari, diet
seimbang, bekerja, istirahat, tidur, santai, kebersihan serta pikiran,
kebiasaan dan gaya hidup yang baik.
World Health Organization (WHO) membuat definisi universal yang
menyatakan bahwa sehat adalah suatu keadaan kondisi fisik, mental dan
kesejahteraan sosial yang merupakan satu kesatuan dan bukan hanya
bebas dari penyakit atau kecacatan.
Definisi sehat (WHO) yaitu Health is a state of complete physical,
mental and sosial well-being and not merely the absence of diseases or
infirmity. Menurut WHO, ada tiga komponen penting yang merupakan
satu kesatuan dalam definisi sehat yaitu:
1. Sehat Jasmani
Sehat jasmani merupakan komponen penting dalam arti sehat
seutuhnya, berupa sosok manusia yang berpenampilan kulit bersih,
mata bersinar, rambut tersisir rapi, berpakaian rapi, berotot, tidak
gemuk, nafas tidak bau, selera makan baik, tidur nyenyak, gesit dan
seluruh fungsi fisiogis tubuh berjalan normal.
2. Sehat Mental
Sehat mental dan sehat jasmani selalu dihubungkan satu sama lain
dalam pepatah kuno jiwa yang sehat terdapat di dalam tubuh yang
sehat (Men sana in corpore sano).
3. Sehat Spiritual
Setiap individu perlu mendapat pendidikan formal maupun
informal, kesempatan untuk berlibur, mendengar alunan lagu dan
music, siraman rohani, seperti ceramah agama dan lainnya agar terjadi
keseimbangan jiwa yang dinamis dan tidak monoton.
(Budiman, 2007)
Menurut Budiman (2007) pada bukunya, atribut seorang insan yang
memiliki mental yang sehat adalah sebagai berikut:
a. Selalu merasa puas dengan apa yang ada pada dirinya, tidak pernah
menyesal dan kasihan terhadap dirinya, selalu gembira, santai dan
menyenangkan serta tidak ada tanda-tanda konflik kejiwaan.
b. Dapat bergaul dengan baik dan dapat menerima kritik serta tidak mudah
tersinggung dan marah, selalu pengertian dan toleransi terhadap
kebutuhan emosi orang lain.
c. Dapat mengontrol diri dan tidak mudah emosi serta tidak mudah takut,
cemburu, benci serta menghadapi dan dapat menyelesaikan masalah
secara cerdik dan bijaksana.
Budiman dalam bukunya (2007) berpendapat bahwa, agens penyakit,
manusia dan lingkungan ditinjau dari sudut ekologis. Kemudian ada tiga
faktor yang dapat menimbulkan suatu kesakitan, kecacatan,
ketidakmampuan dan kematian pada manusia yang disebut sebagai Trias
Ekologi (Ecological Triad) atau Trias Epidemiologi (Epidemiological Triad)
yaitu agen penyakit, manusia dan lingkungan. Suatu keseimbangan yang
dinamis antara ketiga komponen ini akan terjadi dalam keadaan normal
atau dengan kata lain disebut sehat. Pada suatu keadaan terjadi gangguan
pada keseimbangan dinamis ini, misalnya akibat dari menurunnya kualitas
lingkungan hidup sampai pada tingkat tertentu maka akan memudahkan
agen penyakit masuk ke dalam tubuh manusia dan pada keadaan tersebut
manusia dapat dikatakan sakit. Agen penyakit dapat berupa benda hidup
atau mati dan faktor mekanis, namun kadang-kadang pula untuk penyakit
tertentu, penyebabnya tidak diketahui seperti pada penyakit ulkus
peptikum, penyakit jantung coroner dan lain-lain.

3.8 Klasifikasi Agens Penyakit


Agen penyakit dapat diklafisikasikan menjadi lima kelompok
(Budiman, 2007), yaitu:
1. Agen biologis
Agen biologis terdiri dari mikroorganisme yang mampu
mempengaruhi kondisi kesehatan manusia dalam berbagai cara, dari reaksi
alergi yang umumnya ringan hingga pada kondisi medis yang serius bahkan
kematian. Contoh: virus, bakteri, fungsi, ricketsiae, protozoa, dan metazoa.
2. Agen nutrisi
Yaitu berupa zat-zat gizi dan zat lain yang berhubungan dengan
kesehatan dan penyakit termasuk proses-proses nutrisi tersebut masuk ke
dalam tubuh manusia. Contoh: protein, lemak, karbohidrat, vitamin,
mineral, dan air.
3. Agen fisik
Yaitu agen yang dapat menyebabkan cedera atau penyakit karena
pengaruh fisik. Contoh: panas, radiasi, dingin, kelembapan, tekanan,
cahaya, dan kebisingan.
4. Agen kimiawi
Yaitu agen yang berkenaan dengan kimia, seperti contoh: bersifat
endogenous (asidosis, diabetes hipglikemia, dan uremia) atau bersifat
exogenous (zat kimia, allergen, gas, debu dan lain-lain).
5. Agen mekanis
Dapat berupa gesekan, benturan, atau pukulan yang dapat
menimbulkan kerusakan jaringan tubuh pejamu (host).
3.9 Faktor manusia terhadap penyakit
Faktor manusia sangat kompleks dalam proses terjadinya penyakit.
Menurut Budiman (2007), faktor tersebut bergantung pada karakteristik
yang dimiliki masing-masing individu antara lain:
1. Usia
Faktor pembeda penyakit pada manusia salah satunya adalah usia.
Umumnya penyakit pada usia lanjut lebih serius atau lebih parah. Tetapi
tidak sedikit pula pada usia muda telah memiliki penyakit yang
mematikan.
2. Jenis kelamin (seks)
Laki-laki lebih tinggi frekuensi penyakitnya daripada frekuensi
penyakit perempuan. Sementara itu, penyakit tertentu, seperti risiko
kehamilan dan persalinan hanya dijumpai pada perempuan. Sedangkan
hipertrofi hanya dijumpai pada laki-laki.
3. Ras
Perkembangan adat istiadat pada suatu daerah mempengaruhi
penyakit yang ada contohnya pada ras negro memliki penyakit yang
khas yaitu anemia sickle cell.
4. Genetik
Penyakit tertentu dapat diturunkan secara genetik atau herditer
contohnya seperti penyakit mongolisme, feniketonuria, buta warna,
hemolifia, dan lain-lain.
5. Status pekerjaan
Status pekerjaan mempunyai hubungan erat dengan penyakit
akibat pekerjaan, seperti keracunan, kecelakaan kerja, silicosis,
asbestosis, dan lain-lain.
6. Nutrisi
Gizi buruk mempermudah seseorang menderita penyakit infeksi,
seperti TBC dan kelainan gizi sepert obesitas, kolestrol tinggi, dan lain-
lain.
7. Status kekebalan
Reaksi tubuh terhadap penyakit bergantung pada status kekebalan
yang dimiliki sebelumnya seperti kekebalan terhadap penyakit virus
yang tahan lama dan seumur hidup.
8. Adat
Ada beberapa adat istiadat yang dapat menimbulkan
penyakitt.Contoh, kebiasaan makan ikan mentah dapat menyebabkan
cacing hati.
9. Gaya hidup
Kebiasaan minum alcohol, narkoba, dan merokok dapat
menimbulkan gangguan pada kesehatan.
10. Psikis
Faktor kejiwaan seperti stress dapat menyebabkan terjadinya
penyakit hipertensi, ulkus pepkum, depresi insomnia, dan lain-lain.

3.10 Lingkungan
Lingkungan terdiri dari dua bagian yaitu bagian internal dan bagian
eksternal. Lingkungan hidup internal adalah proses antara fisiologis dan
biokimia yang terdapat di dalam tubuh manusia serta kemampuan
menyesuaikan diri dengan perubahan dan keadaan yang terjadi di luar
tubuhnya atau lingkungan untuk kelangsungan hidupnya disebut
Hemostasis, misalnya perubahan temperatur dari panas ke dingin.
Sedangkan lingkungan hidup eksternal merupakan lingkungan segala
sesuatu berupa benda hidup atau mati, ruang energi, keadaan sosial
ekonomi dan budaya yang dapat membawa pengaruh di kehidupan
manusia, komponen lingkungan hidup eksternal terdiri dari atas tiga
komponen, antara lain:
a) Lingkungan fisik
Lingkungan fisik bersifat abiotik atau benda mati seperti air, udara,
tanah, cuaca, makanan, rumah, panas, sinar, radiasi dan lain-lain.
Lingkungan fisik ini berinteraksi secara terus menerus dengan manusia
sepanjang waktu dan masa, serta memegang peran penting dalam
proses terjadinya penyakit pada masyarakat, seperti kekurangan
persediaan air bersih terutama pada musim kemarau dapat
menimbulkan penyakit diare di mana-mana.
b) Lingkungan biologis
Lingkungan biologis bersifat biotik atau benda hidup seperti
tumbuh-tumbuhan, hewan, virus, bakteri, jamur, parasite, serangga,
dan lain-lain yang dapat berfungsi sebagai agen penyakit, reservoir
infeksi, vector penyakit atau pejamu (bost) intermediate.
Hubungan manusia dengan lingkungan biologisnya bersifat dinamis dan
bila terjadi ketidakseimbangan antara hubungan manusia dengan
lingkungan biologisnya maka manusia akan menjadi sakit.
c) Lingkungan sosial
Lingkngan sosial berupa adat kultur, adat istiadat, kebiasaan,
kepercayaan, agama, sikap, standar, dan gaya hidup, pekerjaan,
kehidupan kemasyarakatan, organisasi sosial dan politik. Manusia
dipengaruhi oleh lingkungan sosial melalui berbagai media seperti radio,
TV, pers, seni, literature, cerita, lagu dan sebagainya.
Bila manusia tidak dapat menyesuaikan dirinya dengan lingkungan
sosial, maka akan terjadi konflik kejiwaan dan menimbulkan gejala
psikosomatik seperti stress, insomnia, depresi, dan lainnya.

3.11 Model sehat sakit


Interaksi agens penyakit, manusia, dan lingkungan
3.11.1 Penyakit
Sejarah penyakit sering disebut juga sebagai natural history of any
diseases yaitu riwayat alamiah perjalanan penyakit pada manusia yang
terdiri dari:
1. Fase pra-patogenesis
Pada fase ini mulai terjadi gangguan keseimbangan antara agen
penyakit, manusia dan lingkungan, yaitu terbentuknya kondisi
lingkungan yang lebih menguntungkan agen penyakit dan merugikan
manusia.
Contohnya, polusi udara akibat pembakaran hutan oleh peladang
atau petani pada musim kemarau akan menimbulkan kabut asap tebal
atau smog yang menguntungkan agen penyakit dan merugikan manusia.
2. Fase pathogenesis
Bila keadaan lingkungan yang menguntungkan agen penyakit
berlangsung terus menerus dalam waktu yang cukup lama, maka mulai
timbul gejala dna tanda klinis. Manusia menjadi sakit, selanjutnya dapat
menjadi sembuh atau pentakit terus berlangsung sehingga
menyebabkan ketidakmampuan, cacat kronis atau kematian.
Proses perjalanan suatu penyakit bermula dengan adanya
gangguan keseimbangan antara agen penyakit, pejamu dan lingkungan
sampai terjadinya suatu kesakitan seperti terlihat pada gambar.
3. Pencegahan yang dapat dilakukan
Simpul 1: sumber penyakit
Sumber penyakit adalah titik mengeluarkan agent penyakit. Agent
penyakit adalah komponen lingkungan yang dapat menimbulkan
gangguan penyakit melalui kontak secara langsung atau melalui media
perantara yang termasuk dalam lingkungan.
Simpul 2: media transmisi penyakit
Ada lima komponen lingkungan yang dikenal sebagai media
transmisi penyakit, yaitu air, udara, tanah/pangan, binatang/serangga,
manusia/langsung. Media transmisi tidak akan memiliki potensi
penyakit jika didalamnya tidak mengandung bibit penyakit atau agent
penyakit.
Simpul 3: perilaku pemajanan(behavioral exposure)
Agent penyakit dengan atau tanpa menumpang komponen
lingkungan lain, masuk kedalam tubuh melalui satu proses yang kita
kenal dengan hubungan interaktif. Hubungan interaktif antara
komponen lingkungan dengan penduduk berikut perilakunya, dapat
diukur dengan konsep yang disebut sebagai perilaku pemajanan atau
behavioral exposure.Perilaku pemajanan adalah jumlah kontak antara
manusia dengan komponen lingkungan yang mengandung potensi
bahaya penyakit (agent penyakit).Masing-masing agent penyaki yang
masuk kedalam tubuh dengan cara-cara yang khas. Ada tiga jalan masuk
kedalam tub uh manusia yaitu system pernapasan, system pencernaan
dan masuk melalui permukaan kulit.
Simpul 4: kejadian penyakit
Kejadian penyakit merupakan outcome hubungan interaktif
penduduk dengan lingkungan yang memiliki potensi bahaya gangguan
kesehatan.Seseorang dikatakan sakit kalau salah satu maupun bersama
mengaami kelainan dibandingkan dengan rata-rata penduduk lainnya.
Simpul 5: variable suprasistem
Kejadian penyakit masih dipengaruhi oleh kelompok variabel
simpul 5, yakni variabel iklim, topografi, temporal, dan suprasistem
lainnya, yakni keputusan politk berupa kebijakan makro yang bias
mempengaruhi semua simpul.

3.12 Data dan pola penyakit


Data adalah fakta atau kenyataan. Data kesehatan adalah data yang
menyangkut semua aspek kesehatan seperti distribusi usia dan kepadatan
penduduk. Keadaan sosial ekonomi masyarakat, kualitas perumahan,
keadaan kebersihan dan sanitasi, angka kesakitan, kematian,
kelahiran.Sarana serta prasarana yang tersedia disuatu daerah.Kualitas dan
kuantitas personalia kesehatan, serta dan yang tersedia bagi kegiatan
kesehatan masyarakat.
Data menyangkut aspek-aspek kesehatan biasanya diolah
menggunakan data statistik vital untuk keperluan sebagai berikut:
1) Penentuan taraf kesehatan suatu daerah
2) Penentuan dampak suatu kegiatan atau proyek terhadap kesehatan
masyarakat
3) Justifikasi suatu kegiatan
4) Penentuan cara pendekatan masyarakat
5) Penentuan kebutuhan akan penelitian
6) Penentuan pola penyakit
7) Penetuan usaha kesehatan yang diperlukan
8) Penentuan sarana dan prasarana
Negara/masyarakat miskin atau berstatus sosial ekonomi rendah,
keadaan gizinya rendah, pengetahuan tentang kesehatannya renda,
sehingga keadaan kesehatan lingkungannya pun buruk dan status
kesehatannya buruk. Didalam masyarakat sedemikian akan mudah terjadi
penularan penyakit, terutama anak-anak yang merupakan golongan yang
peka terhadap penyait menular. Sebagai akibatnya, banyak terjadi
kematian anak, sehingga usia harapan-harapan hidup pendek. Keadaan ini
juga mendukung tingginya angka kelahiran, sehingga terdapat populasi
yang muda. Sehingga memiliki resiko tinggi terhadap penyakit menular,
sehingga penyakit menular menjadi lengkap. sebaliknya, penyakit tidak
menular banyak terdapat pada masyarakat dengan status sosial ekonomi
tinggi sehingga berstatus gizi tinggi, keadaan kesehatan lingkungan baik,
penyakit menular rendah, angka kematian bayi rendah, usia harapan hidup
tinggi, demikianlah siklus penyakit yang tidak menular menjadi lengkap.
BAB IV
PENUTUP

4.1 Kesimpulan
Kesehatan Lingkungan merupakan suatu keadaan lingkungan yang
ekologinya seimbang agar hubungan antara manusia dengan
lingkungannya terjalin dengan dinamis dan dapat menjamin kualitas hidup
manusia yang sehat dan bahagia. Sedangkan lingkungan yang tidak
seimbang dapat dikatakan lingkungan tersebut tercemar dan terjadi
berbagai gangguan kesehatan dan timbulnya penyakit.
Agen penyakit dapat berupa benda hidup ataupun mati dan terdapat
factor mekanis. Agen penyakit diklasifikasikan menjadi lima kelompok,
yaitu agen biologis, nutrient, fisik, kimia dan agen mekanis. Adapun faktor
karakteristik individu, yaitu usia, jenis kelamin, ras, genetik, status,
pekerjaan, nutrisi, status, kekebalan, adat, gaya hidup dan kondisi psikis.
Sedangkan lingkungan terdiri atas tiga komponen, antara lain: lingkungan
fisik, biologis, dan social. Interaksi agen, manusia, dan lingkungan saling
mempengaruhi satu sama lain karena jika tidak seimbang akan terjadi
suatu penyakit
Riwayat alamiah terdiri pula atas fase prefatogenesis dan fase
patogenis, yakni: sampul 1: sumber penyakit, simpul 2: media transmisi
penyakit, simpul 3: perilaku pemajanan (behavioural exposure), simpul 4:
kejadian penyakit, simpul 5: variable suprasistem.
DAFTAR PUSTAKA

Budiarto, E. dan Anggraeni, D. 2002. Pengantar Epidermiologi. EGC: Jakarta. ISBN


979-448-595-0

Budiman, C. 2009. Ilmu Kedokteran pencegahan & komunitas. EGC: Jakarta. ISBN
978-979-044-021-0

Budiman, C. 2007. Pengantar KesehatanLingkungan. EGC:Jakarta. ISBN 979-448-


796-1.

Budiyono, A. 2001. Pencemaran Udara: Dampak Pencemaran Udara pada


Lingkungan. Berita Dirgantara2(1) : 21-27.

Frida Rissamasu, Rahim Darma Dan Ambo Tuwo, Pengelolaan Penambangan


Bahan Galian Golongan C di Kabupaten Merauke

Harmayani, D. K., Konsukartha, I. G. M. 2007. Pencemaran Air Tanah Akibat


Pembuangan Limbah Domestik di Lingkungan Kumuh. Jurnal Pemukiman
Natah5(2) : 62-108.

Melianus, S. 2012. Pengembangan Sistem Kewaspadaan Dari Malaria Berbasis


Sistem Informasi Lingkungan (EIS-EWSM) Bagi Pengambilan Kebijakan di
Daerah Endemis Pedesaan Pulau Ambon. Media Medika Indonesia 46(3) :
209-216.

Mukono, H.J. 2003. Epidemiologi Lingkungan. Airlangga University Press. ISBN


979-8990-69-2.

Mulia, Ricky.M. 2005. Pengantar Kesehatan Lingkungan. Edisi pertama,


Yogyakarta: Penerbit Graha Ilmu.

Potter danPeny. 2005. Fundamental Keperawatan edisi4. Jakarta : EGC. ISBN


187-589-767-4

Suryanto, D.A. 2012. Analisis Tingkat Polusi Udara Terhadap Pengaruh


Pertumbuhan Kendaraan. UG Jurnal 6(12) : 01-03.

Tumanggor, R. 2010. Masalah-masalah Sosial Budaya dalam Pembangunan


Kesehatan diIndonesia. Jurnal Masyarakat & Budaya 12(2):231-245.

Waluya, J. dan Nugratama, S. 2010. Lingkungan dan Transportasi. Region II(2) :


115.
RIWAYAT PENULIS

Aulia Hidayati dilahirkan di Amuntai, 12 Juni 1998,


merupakan anak ke-3 dari empat bersaudara. Penulis telah
menempuh pendidikan formal di TK. Nurul Hidayah
Amuntai, SDN Kota Raja Amuntai, MTs Muhammadiyah 3 Al
Furqan Banjarmasin dan SMA Negeri 1 Amuntai. Setelah
lulus dari pendidikan SMA pada tahun 2016, penulis
mengikuti jalur SBMPTN dan diterima di Program Studi
Teknik Lingkungan, Fakultas Teknik, Universitas Lambung
Mangkurat Banjarbaru tahun 2016 dan terdaftar dengan
NIM 1610815220003.

Novia Astri Hasdita dilahirkan di Kotabaru, 23


November 1889, merupakan anak ke-2 dari dua
bersaudara. Penulis telah menempuh pendidikan formal di
TK. Melati, SDN Sangking Baru, SMPN 2 Kelumpang Selatan,
dan SMAN 1 Kelumpang Selatan. Setelah lulus dari SMAN 1
Kelumpang Selatan tahun 2016, penulis mengikuti jalur
SNMPTN dan diterima di Program Studi Teknik Lingkungan,
Fakultas Teknik, Universitas Lambung Mangkurat
Banjarbaru pada tahun 2016 dan terdaftar dengan NIM
1610815120016.

Anda mungkin juga menyukai