Anda di halaman 1dari 21

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 LATAR BELAKANG


Problematika manusia semakin komplek, himpitan kehidupan telah
menghujam setiap anak manusia di dunia ini, bukan hanya orang tua tetapi remaja
bahkan anak-anak baik laki-laki dan perempuan, kesemuanya mengalami sebuah
problem yang komunal. Berbagai responpun muncul dan kini sudah menjadi
kebiasaan pada Life Style di masyarakat, kertika menghadapi suatu masalah dan
mengalami stress, mereka cenderung untuk lari pada penggunan obat-obatan.
Kesehatan jiwa adalah perasaan sehat dan bahagia serta mampu mengatasi
tantangan hidup, dapat menerima orang lain sebagaimana adanya, serta
mempunyai sikap positif terhadap diri sendiri dan orang lain.
Masalah zat psikoaktif diawali dari mulainya manusia mengenal tanaman
atau bahan lain yang bila digunakan dapat menimbulkan perubahan pada perilaku,
kesadaran, pikiran, dan perasaan seseorang. Bahan atau zat tersebut dinamakan
bahan atau zat psikoaktif. Sejak itu manusia mulai menggunakan bahan-bahan
psikoaktif tersebut untuk tujuan menikmati karena dapat menimbulkan rasa
nyaman, rasa sejahtera, euforia dan mengakrabkan komunikasi dengan orang lain.
Sebagai contoh, orang menikmati kopi dan (yang mengandung kafein), minuman
beralkohol dan merokok tembakau (yang mengandung nikotin). Selain untuk
dinikmati manusia juga menggunakan zat atau bahan psikoaktif untuk
berkomunikasi transdental dalam upacara kepercayaan.

1
BAB II
PEMBAHASAN

2.1 PENGERTIAN GANGGUAN MENTAL


Gangguan mental adalah kesulitan yang harus dihadapi oleh seseorang
karena hubungannya dengan orang lain, kesulitan karena persepsinya tentang
kehidupan dan sikapnya terhadap dirinya sendiri-sendiri. Gangguan mental adalah
gangguan dalam cara berpikir (cognitive), kemauan (volition),emosi (affective),
tindakan (psychomotor). Gangguan mental menurut Depkes RI (2000) adalah
suatu perubahan pada fungsi jiwa yang menyebabkan adanya gangguan pada
fungsi jiwa, yang menimbulkan penderitaan pada individu dan atau hambatan
dalam melaksanakan peran sosial.
2.2 PENYEBAB GANGGUAN MENTAL
Penyebab gangguan jiwa itu bermacam-macam ada yang bersumber dari
berhubungan dengan orang lain yang tidak memuaskan seperti diperlakukan tidak
adil, diperlakukan semena-mena, cinta tidak terbatas, kehilangan seseorang yang
dicintai, kehilangan pekerjaan, dan lain-lain. Selain itu ada juga gangguan jiwa
yang disebabkan faktor organik, kelainan saraf dan gangguan pada otak.Gangguan
jiwa terjadi karena tidak dapat dimainkan tuntutan id (dorongan instinctive yang
sifatnya seksual) dengan tuntutan super ego (tuntutan normal social). Orang ingin
berbuat sesuatu yang dapat memberikan kepuasan diri, tetapi perbuatan tersebut
akan mendapat celaan masyarakat. Konflik yang tidak terselesaikan antara
keinginan diri dan tuntutan masyarakat ini akhirnya akan mengantarkan orang
pada gangguan jiwa
Sumber penyebab gangguan mental dipengaruhi oleh faktor-faktor pada
ketiga unsur itu yang terus menerus saling mempengaruhi, yaitu :
1. Faktor-faktor somatik (somatogenik)
Neuroanatomi
Neurofisiologi
Neurokimia

2
Tingkat kematangan dan perkembangan organik
Faktor-faktor pre dan peri - natal
2. Faktor-faktor psikologik ( psikogenik)
Interaksi ibu anak : normal (rasa percaya dan rasa aman) atau
abnormal berdasarkan kekurangan, distorsi dan keadaan yang terputus
(perasaan tak percaya dan kebimbangan)
Peranan ayah
Persaingan antara saudara kandung
Inteligensi
Hubungan dalam keluarga, pekerjaan, permainan dan masyarakat
Kehilangan yang mengakibatkan kecemasan, depresi, rasa malu atau
rasa salah
Konsep diri : pengertian identitas diri sendiri versus peran yang tidak
menentu
Keterampilan, bakat dan kreativitas
Pola adaptasi dan pembelaan sebagai reaksi terhadap bahaya
Tingkat perkembangan emosi
3. Faktor-faktor sosio-budaya (sosiogenik)
Kestabilan keluarga
Pola mengasuh anak
Tingkat ekonomi
Perumahan : perkotaan lawan pedesaan
Masalah kelompok minoritas yang meliputi prasangka dan fasilitas
kesehatan, pendidikan dan kesejahteraan yang tidak memadai
Pengaruh rasial dan keagamaan
Nilai-nilai
2.3 KLASIFIKASI GANGGUAN MENTAL
Pedoman Penggolongan Diagnosis Gangguan Jiwa (PPDGJ) menyusun
klasifikasi gangguan kejiwaan sebagai berikut: Urutan hierarki blok diagnosis

3
(berdasarkan luasnya tanda dan gejala, dimana urutan hierarki lebih tinggi
memiliki tanda dan gejala yang semakin luas):
1. F00-09 dan F10-19
2. F20-29
3. F30-39
4. F40-49
5. F50-59
6. F60-69
7. F70-79
8. F80-89
9. F90-98
10. Kondisi lain yang menjadi focus perhatian klinis (kode Z)
F0 Gangguan Mental Organik, termasuk Gangguan Mental Simtomatik
Gangguan mental organic = gangguan mental yang berkaitan dengan
penyakit/gangguan sistemik atau otak. Gangguan mental simtomatik = pengaruh
terhadap otak merupakan akibat sekunder penyakit/gangguuan sistemik di luar
otak.
Gambaran utama:
Gangguan fungsi kongnitif Gangguan sensorium kesadaran, perhatian
,Sindrom dengan manifestasi yang menonjol dalam bidang persepsi (halusinasi),
isi pikir (waham), mood dan emosi
Fl Gangguan Mental dan Perilaku Akibat Penggunaan Alkohol dan Zat
Psikoaktif Lainnya
F2 Skizofrenia, Gangguan Skizotipal dan Gangguan Waham
Skizofrenia ditandai dengan penyimpangan fundamental dan karakteristik
dari pikiran dan persepsi, serta oleh afek yang tidak wajar atau tumpul. Kesadaran
jernih dan kemampuan intelektual tetap, walaupun kemunduran kognitif dapat
berkembang kemudian
F3 Gangguan Suasana Perasaan (Mood [Afektif])
Kelainan fundamental perubahan suasana perasaan (mood) atau afek,
biasanya kearah depresi (dengan atau tanpa anxietas), atau kearah elasi (suasana

4
perasaan yang meningkat). Perubahan afek biasanya disertai perubahan
keseluruhan tingkat aktivitas dan kebanyakan gejala lain adalah sekunder terhadap
perubahan itu
F4 Gangguan Neurotik, Gangguan Somatoform dan Gangguan Terkait Stres
F5 Sindrom Perilaku yang Berhubungan dengan Gangguan Fisiologis dan
Faktor Fisik
F6 Gangguan Kepribadian dan Perilaku Masa dewasa
Kondisi klinis bermakna dan pola perilaku cenderung menetap, dan
merupakan ekspresi pola hidup yang khas dari seseorang dan cara berhubungan
dengan diri sendiri maupun orang lain. Beberapa kondisi dan pola perilaku
tersebut berkembang sejak dini dari masa pertumbuhan dan perkembangan dirinya
sebagai hasil interaksi faktor-faktor konstitusi dan pengalaman hidup, sedangkan
lainnya didapat pada masa kehidupan selanjutnya.
F7 Retardasi Mental
Keadaan perkembangan jiwa yang terhenti atau tidak lengkap, yang
terutama ditandai oleh terjadinya hendaya ketrampilan selama masa
perkembangan, sehingga berpengaruh pada tingkat kecerdasan secara menyeluruh.
Dapat terjadi dengan atau tanpa gangguan jiwa atau gangguan fisik lain. Hendaya
perilaku adaptif selalu ada.
F8 Gangguan Perkembangan Psikologis
Gambaran umum
Onset bervariasi selama masa bayi atau kanak-kanak. Adanya hendaya
atau keterlambatan perkembangan fungsi-fungsi yang berhubungan erat dengan
kematangan biologis susunan saraf pusat Berlangsung terus-menerus tanpa remisi
dan kekambuhan yang khas bagi banyak gangguan jiwa
Pada sebagian besar kasus, fungsi yang dipengaruji termasuk bahasa,
ketrampilan visuo-spasial, koordinasi motorik. Yang khas adalah hendayanya
berkurang secara progresif dengan bertambahnya usia
F9 Gangguan Perilaku dan Emosional dengan Onset Biasanya Pada Masa
Kanak dan Remaja

5
Anak dengan gangguan perilaku menunjukkan perilaku yang tidak sesuai
dengan permintaan, kebiasaan atau norma-norma masyarakat. Anak dengan
gangguan perilaku dapat menimbulkan kesukaran dalam asuhan dan pendidikan.
Gangguan perilaku mungkin berasal dari anak atau mungkin dari lingkungannya,
akan tetapi akhirnya kedua faktor ini saling mempengaruhi. Diketahui bahwa ciri
dan bentuk anggota tubuh serta sifat kepribadian yang umum dapat diturunkan
dari orang tua kepada anaknya. Pada gangguan otak seperti trauma kepala,
ensepalitis, neoplasma dapat mengakibatkan perubahan kepribadian. Faktor
lingkungan juga dapat mempengaruhi perilaku anak, dan sering lebih menentukan
oleh karena lingkungan itu dapat diubah, maka dengan demikian gangguan
perilaku itu dapat dipengaruhi atau dicegah

2.4 DEFINISI GANGGUAN PENGGUNAAN ZAT


Gangguan penggunaan zat adalah suatu gangguan jiwa berupa
penyimpangan perilaku yang berhubungan dengan pemakaian zat, yang dapat
mempengaruhi susunan saraf pusat secara kurang lebih teratur sehingga
menimbulkan gangguan fungsi sosial.
2.5 KLASIFIKASI GANGGUAN PENGGUNAAN ZAT
2.5.1 Penyalahgunaan Zat
Merupakan suatu pola penggunaan zat yang bersifat patologik, paling sedikit
satu bulan lamanya, sehingga menimbulkan gangguan fungsi sosial atau
okupasional. Pola penggunaan zat yang bersifat patologik dapat berupa intoksikasi
sepanjang hari, terus menggunakan zat tersebut walaupun penderita mengetahui
bahwa dirinya sedang menderita sakit fisik berat akibat zat tersebut, atau adanya
kenyataan bahwa ia tidak dapat berfungsi dengan baik tanpa menggunakan zat
tersebut. Gangguan yang dapat terjadi adalah gangguan fungsi sosial yang berupa
ketidakmampuan memenuhi kewajiban terhadap keluarga kawan-kawannya
karena perilakunya yang tidak wajar, impulsif, atau karena ekspresi perasaan
agresif yang tidak wajar.

6
2.5.2 Ketergantungan Zat
Merupakan suatu bentuk gangguan penggunaan zat yang pada umumnya
lebih berat. Terdapat ketergantungan fisik yang ditandai dengan adanya toleransi
atau sindroma putus zat.
Zat-zat yang sering dipakai yang dapat menyebabkan gangguan penggunaan
zat dapat digolongkan sebagai berikut:
1. Opioida misalnya, morfin, heroin, oetidin, kodein dan candu
2. Ganja atau kanabis atau mariyuana
3. Kokain dan daun koka
4. Alkohol (Etilkohol) yang terdapat dalam minuman keras
5. Amfetamin
6. Halusinogen, misalnya LSD, meskalin, psilosin, psilosibin
7. Sedativa dan hipnotika
8. Solven dan Inhalansia
9. Nikotin yang terdapat dalam tembakau
10. Kafein yang terdapat dalam kopi, teh dan minuman cola
Semua zat yang disebutkan di atas mempunyai pengaruh pada susunan
saraf pusat sehingga disebut zat psikotropika psikoaktif. Tidak semua zat
psikotropik dapat menimbulkan gangguan penggunaan zat. Zat psikotropik yang
disebutkan di atas dapat menimbulkan adiksi, oleh karena itu disebut zat adiktif.
Obat antipsikosis dan antidepresi hampir tidak pernah menimbulkan gangguan
penggunaan zat.
Dalam buku-buku ilmu kedokteran khususnya psikiatri istilah adiksi
dipakai untuk melukiskan kecanduan. Tetapi dalam buku-buku baru istilah
adiksi tidak dipakai lagi sebagai gantinya dipakai istilah ketergantungan obat.
Ketergantungan obat dibedakan atas ketergantungan fisik dan ketergantungan
psikis. Sementara itu arti adiksi dipersempit menjadi ketergantungan fisik,
sedangkan ketergantungan psikis disebut habituasi. Beberapa ahli memberi arti
adiksi sebagai bentuk ketergantungan yang berat pada hard drug (heroin, morfin),
sedangkan habituasi sebagai bentuk ketergantungan yang ringan yaitu pada soft
drug (ganja, sedativa, dan hipnotika).

7
Untuk memperoleh khasiat seperti semula dari zat yang dipakai berulang
kali, diperlukan jumlah yang makin lama makin banyak, keadaan yang demikian
itu disebut Toleransi. Toleransi silang merupakan toleransi yang terjadi diantara
zat-zat yang khasiat farmakologiknya mirip, misalnya orang yang toleran terhadap
alkohol juga toleran terhadap sedativa dan hipnotika. Gejala putus zat (gejala
lepas zat, withdrwal syndrome) merupakan gejala yang timbul bila seseorang yang
ketergantungan pada suatu zat, pada suatu saat pemakaiannya dihentikan atau
dikurangi jumlahnya. Intoksifikasi merupakan suatu gangguan mental organik
yang ditandai dengan perubahan psikologis dan perilaku sebagai akibat pemakaian
zat.
Pada umumnya obat ini biasa digunakan untuk terapi gangguan psikiatri,
sedangkan obat narkotika adalah obat yang bekerja secara selektif pada susunan
saraf pusat dan mempunyai efek utama terhadap penurunan dan perubahan
kesadaran, hilangnya rasa, mengurangi sampai menghilangkan rasa nyeri. Yang
mana obat ini biasa digunakan untuk analgesic (anti rasa sakit), antitusif
(mengurangi batuk), antipasmodik (mengurangi rasa mulas dan mual), dan
premedikasi anestesi dalam praktik kedokteran. Obat psikotropika adalah obat
yang bekerja secara selektif pada susunan saraf pusat dan mempunyai efek utama
terhadap aktivitas mental dan perilaku. Obat ini biasa digunakan untuk terapi
gangguan psikiatrik.
Mengenai pengaruh zat psikoaktif , dibagi kedalam beberapa bagian sesuai
dengan buku PPDGJ-III diantaranya:
Gangguan mental dan perilaku akibat penggunaan alkohol (F10)
Gangguan mental dan perilaku akibat penggunaan opioida (F11)
Gangguan mental dan perilaku akibat penggunaan kanabionida (F12)
Gangguan mental dan perilaku akibat penggunaan sedativa dan hipnotika
(F13)
Gangguan mental dan perilaku akibat penggunaan kokain (F14)
Gangguan mental dan perilaku akibat penggunaan stimulansia lain
termasuk kafein (F15)
Gangguan mental dan perilaku akibat penggunaan halusinogenatika (F16)

8
Gangguan mental dan perilaku akibat penggunaan tembakau (F17)
Gangguan mental dan perilaku akibat penggunaan pelarut yang mudah
menguap (F18)
Gangguan mental dan perilaku akibat penggunaan zat multipel dan
penggunaan zat psikoaktif lainnya (F19)
2.6 ETIOLOGI
Penyebab penyalahgunaan NAPZA sangat kompleks akibat interaksi
antara faktor yang terkait dengan individu, faktor lingkungan dan faktor
tersedianya zat (NAPZA). Tidak terdapat adanya penyebab tunggal (single cause)
Faktor-faktor yang mempengaruhi terjadinya penyalagunaan NAPZA adalah
sebagian berikut
1. Faktor individu :
Kebanyakan penyalahgunaan NAPZA dimulai atau terdapat pada masa
remaja, sebab remaja yang sedang mengalami perubahan biologik, psikologik
maupun sosial yang pesat merupakan individu yang rentan untuk
menyalahgunakan NAPZA. Anak atau remaja dengan ciri-ciri tertentu mempunyai
risiko lebih besar untuk menjadi penyalahguna NAPZA. Ciri-ciri tersebut antara
lain :
a) Cenderung membrontak dan menolak otoritas
b) Cenderung memiliki gangguan jiwa lain (komorbiditas) seperti
Depresi,Ccemas, Psikotik, keperibadian dissosial
c) Perilaku menyimpang dari aturan atau norma yang berlaku
d) Rasa kurang percaya diri (low selw-confidence), rendah diri dan memiliki citra
diri negatif (low self-esteem)
e) Sifat mudah kecewa, cenderung agresif dan destruktif
f) Mudah murung,pemalu, pendiam
g) Mudah mertsa bosan dan jenuh
h) Keingintahuan yang besar untuk mencoba atau penasaran
i) Keinginan untuk bersenang-senang (just for fun)
j) Keinginan untuk mengikuti mode,karena dianggap sebagai lambang
keperkasaan dan kehidupan modern.

9
k) Keinginan untuk diterima dalam pergaulan.
l) Identitas diri yang kabur, sehingga merasa diri kurang jantan
m) Tidak siap mental untuk menghadapi tekanan pergaulan sehingga sulit
mengambil keputusan untuk menolak tawaran NAPZA dengan tegas
n) Kemampuan komunikasi rendah
o) Melarikan diri sesuatu (kebosanan, kegagalan, kekecewaan, ketidak mampuan,
kesepianan kegetiran hidup, malu dan lain-lain)
p) Putus sekolah
q) Kurang menghayati iman kepercayaannya
2. Faktor Lingkungan :
Faktor lingkungan meliputi faktor keluarga dan lingkungan pergaulan baik
disekitar rumah, sekolah, teman sebaya maupun masyarakat. Faktor
keluarga,terutama faktor orang tua yang ikut menjadi penyebab seorang anak atau
remaja menjadi penyalahguna NAPZA antara lain adalah :
a. Lingkungan Keluarga
a) Komunikasi orang tua-anak kurang baik/efektif
b) Hubungan dalam keluarga kurang harmonis/disfungsi dalam keluarga
c) Orang tua bercerai,berselingkuh atau kawin lagi
d) Orang tua terlalu sibuk atau tidak acuh
e) Orang tua otoriter atau serba melarang
f) Orang tua yang serba membolehkan (permisif)
g) Kurangnya orang yang dapat dijadikan model atau teladan
h) Orang tua kurang peduli dan tidak tahu dengan masalah NAPZA
i) Tata tertib atau disiplin keluarga yang selalu berubah (kurang konsisten)
j)Kurangnya kehidupan beragama atau menjalankan ibadah dalam keluarga
k) Orang tua atau anggota keluarga yang menjadi penyalahguna NAPZA
b. Lingkungan Sekolah
a) Sekolah yang kurang disiplin
b) Sekolah yang terletak dekat tempat hiburan dan penjual NAPZA
c) Sekolah yang kurang memberi kesempatan pada siswa untuk mengembangkan
diri secara kreatif dan positif

10
d) Adanya murid pengguna NAPZA
c. Lingkungan Teman Sebaya
a) Berteman dengan penyalahguna
b) Tekanan atau ancaman teman kelompok atau pengedar
d. Lingkungan masyarakat/sosial
a) Lemahnya penegakan hukum
b) Situasi politik, sosial dan ekonomi yang kurang mendukung
3. Faktor Napza
a) Mudahnya NAPZA didapat dimana-mana dengan harga terjangkau
b) Banyaknya iklan minuman beralkohol dan rokok yang menarik untuk dicoba
c) Khasiat farakologik NAPZA yang menenangkan, menghilangkan nyeri,
menidur-kan, membuat euforia/ fly/stone/high/teler dan lain-lain.

2.7 DETEKSI DINI PENYALAHGUNAAN NAPZA


Deteksi dini penyalahgunaan NAPZA bukanlah hal yang mudah,tapi
sangat penting artinya untuk mencegah berlanjutnya masalah tersebut. Beberapa
keadaan yang patut dikenali atau diwaspadai adalah :
2.7.1 Kelompok Risiko Tinggi
Kelompok Risiko Tinggi adalah orang yang belum menjadi pemakai atau
terlibat dalam penggunaan NAPZA tetapi mempunyai risiko untuk terlibat hal
tersebut, mereka disebut juga Potential User (calon pemakai, golongan rentan).
Sekalipun tidak mudah untuk mengenalinya, namun seseorang dengan ciri
tertentu (kelompok risiko tinggi) mempunyai potensi lebih besar untuk menjadi
penyalahguna NAPZA dibandingkan dengan yang tidak mempunyai ciri
kelompok risiko tinggi. Mereka mempunyai karakteristik sebagai berikut :
1) ANAK :
Ciri-ciri pada anak yang mempunyai risiko tinggi menyalahgunakan NAPZA
antara lain :
a)Anak yang sulit memusatkan perhatian pada suatu kegiatan (tidak tekun).
b) Anak yang sering sakit
c) Anak yang mudah kecewa

11
d) Anak yang mudah murung
e) Anak yang sudah merokok sejak Sekolah Dasar
e) Anak yang agresif dan destruktif
f) Anak yang sering berbohong, mencari atau melawan tata tertib
g) Anak denga IQ taraf perbatasan (IQ 70-90)

2. REMAJA :
Ciri-ciri remaja yang mempunyai risiko tinggi menyalahgunakan NAPZA :
a) Remaja yang mempunyai rasa rendah diri, kurang percaya diri dan mempunyai
citra diri negatif.
b) Remaja yang mempunyai sifat sangat tidak sabar
c) Remaja yang diliputi rasa sedih (depresi) atau cemas (ansietas)
d) Remaja yang cenderung melakukan sesuatu yang mengandung risiko
tinggi/bahaya
e) Remaja yang cenderung memberontak
f) Remaja yang tidak mau mengikutu peraturan/tata nilai yang berlaku
g) Remaja yang kurang taat beragama
h) Remaja yang berkawan dengan penyalahguna NAPZA
i) Remaja dengan motivasi belajar rendah
j) Remaja yang tidak suka kegiatan ekstrakurikuler
k)Remaja dengan hambatan atau penyimpangan dalam perkembangan
psikoseksual (pemalu,sulit bergaul, sering masturbasi, suka menyendiri, kurang
bergaul dengan lawan jenis).
l) Remaja yang mudah menjadi bosan, jenuh, murung.
m) Remaja yang cenderung merusak diri sendiri
3. KELUARGA
Ciri-ciri keluarga yang mempunyai risiko tinggi, antara lain:
a) Orang tua kurang komunikatif dengan anak
b) Orang tua yang terlalu mengatur anak
c) Orang tua yang terlalu menuntut anaknya secara berlebihan agar berprestasi
diluar kemampuannya.

12
d) Orang tua yang kurang memberi perhatian pada anak karena terlalu sibuk
e) Orang tua yang kurang harmonis,sering bertengkar,orang tua berselingkuh atau
ayah menikah lagi
f) Orang tua yang tidak memiliki standar norma baik-buruk atau benar salah yang
jelas.
g) Orang tua yang tidak dapat menjadikan dirinya teladan
h) Orang tua menjadi penyalahgunaan NAPZA

2.8 JENIS NAPZA YANG DISALAH GUNAKAN


2.8.1 Narkotika
adalah zat atau obat yang berasal dari tanaman atau bukan tanaman baik
sintetis maupun semisintetis yang dapat menyebabkan penurunan atau perubahan
kesadaran, hilangnya rasa, mengurangi sampai menghilangkan rasa nyeri, dan
dapat menimbulkan ketergantungan (menurut Undang-Undang RI Nomor 22
tahun 1997 tentang Narkotika). NARKOTIKA dibedakan kedalam golongan-
golongan :
a) Narkotika Golongan I :
Narkotika yang hanya dapat digunakan untuk tujuan ilmu pengetahuan,
dan tidak ditujukan untuk terapi serta mempunyai potensi sangat tinggi
menimbulkan ketergantungan, (Contoh : heroin/putauw, kokain, ganja).
b) Narkotika Golongan II :
Narkotika yang berkhasiat pengobatan digunakan sebagai pilihan terakhir
dan dapat digunakan dalam terapi atau tujuan pengembangan ilmu
pengetahuan serta mempunyai potensi tinggi mengakibatkan
ketergantungan (Contoh : morfin,petidin)
c) Narkotika Golongan III :
Narkotika yang berkhasiat pengobatan dan banyak digunakan dalam terapi
atau tujuan pengembangan ilmu pengetahuan serta mempunyai potensi
ringan mengakibatkan ketergantungan (Contoh: kodein)
Narkotika yang sering disalahgunakan adalah Narkotika Golongan
I : (1) Opiat : morfin, herion (putauw), petidin, candu, dan lain-lain (2)

13
Ganja atau kanabis, marihuana, hashis (3) Kokain, yaitu serbuk kokain,
pasta kokain, daun koka.
2.8.2 Psikotropika
Menurut Undang-undang RI No.5 tahun 1997 tentang Psikotropik. Yang
dimaksud dengan PSIKOTROPIKA adalah zat atau obat, baik alamiah maupun
sintetis bukan Narkotika, yang berkhasiat psikoaktif melalui pengaruh selektif
pada susunan saraf pusat yang menyebabkan perubahan khas pada aktivitas
mental dan perilaku.
2.8.3 Zat Adiktif Lain
Yang dimaksud disini adalah bahan/zat yang berpengaruh psikoaktif diluar
Narkotika dan Psikotropika, meliputi :
a) Minuman berakohol, Mengandung etanol etil alkohol, yang berpengaruh
menekan susunan syaraf pusat,dan sering menjadi bagian dari kehidupan
manusia sehari-hari dalam kebudayaan tertentu. Jika digunakan sebagai
campuran dengan narkotika atau psikotropika, memperkuat pengaruh
obat/zat itu dalam tubuh manusia.
Ada 3 golongan minuman berakohol, yaitu :
- Golongan A : kadar etanol 1-5%, (Bir)
-Golongan B: kadar etanol 5-20%, (Berbagai jenis minuman
anggur)
- Golongan C : kadar etanol 20-45 %, (Whiskey, Vodca, TKW,
Manson House,Johny Walker, Kamput.)
b) Inhalansia (gas yang dihirup) dan solven (zat pelarut) mudah menguap
berupa senyawa organik, yang terdapat pada berbagai barang keperluan
rumah tangga, kantor dan sebagai pelumas mesin. Yang sering disalah
gunakan, antara lain : Lem, thinner, penghapus cat kuku, bensin.
c) Tembakau : Pemakaian tembakau yang mengandung nikotin sangat luas
di masyarakat. Pada upaya penanggulangan NAPZA di masyarakat,
pemakaian rokok dan alkohol terutama pada remaja, harus menjadi bagian
dari upaya pencegahan, karena rokok dan alkohol sering menjadi pintu
masuk penyalahgunaan NAPZA lain yang lebih berbahaya.

14
Bahan/ obat/zat yang disalahgunakan dapat juga diklasifikasikan sebagai
berikut :
- Sama sekali dilarang : Narkotoka golongan I dan Psikotropika
GolonganI.
- Penggunaan dengan resep dokter : amfetamin, sedatif hipnotika.
- Diperjual belikan secara bebas : lem, thinner dan lain-lain.
- Ada batas umur dalam penggunannya : alkohol, rokok.
Berdasarkan efeknya terhadap perilaku yang ditimbulkan NAPZA dapat
digolongkan menjadi tiga golongan :
1. Golongan Depresan (Downer)
Adalah jenis NAPZA yang berfungsi mengurangi aktifitas fungsional
tubuh. Jenis ini membuat pemakaiannya merasa tenang, pendiam dan bahkan
membuatnya tertidur dan tidak sadarkan diri. Golongan ini termasuk Opioida
(morfin, heroin/putauw, kodein), Sedatif (penenang), hipnotik (otot tidur), dan
tranquilizer (anti cemas) dan lain-lain.
2. Golongan Stimulan (Upper)
Adalah jenis NAPZA yang dapat merangsang fungsi tubuh dan
meningkatkan kegairahan kerja. Jenis ini membuat pemakainya menjadi aktif,
segar dan bersemangat. Zat yang termasuk golongan ini adalah : Amfetamin
(shabu,esktasi), Kafein, Kokain
3. Golongan Halusinogen
Adalah jenis NAPZA yang dapat menimbulkan efek halusinasi yang
bersifat merubah perasaan dan pikiran dan seringkali menciptakan daya pandang
yang berbeda sehingga seluruh perasaan dapat terganggu. Golongan ini tidak
digunakan dalam terapi medis. Golongan ini termasuk : Kanabis (ganja), LSD,
Mescalin. Macam-macam bahan Narkotika dan Psikotropika yang terdapat di
masyarakat serta akibat pemakaiannya :
a) OPIOIDA
Opioida dibagi dalam tiga golongan besar yaitu :
- Opioida alamiah (opiat): morfin, cpium, kodein
- Opioida semi sintetik : heroin/putauw, hidromorfin

15
- Opioida sintetik : meperidin, propoksipen, metadon
Nama lainnya adalah putauw, putaw, black heroin, brown sugar
b) KOKAIN
Kokain mempunyai dua bentuk yaitu : kokain hidroklorid dan free
base. Kokain berupa kristal pitih. Rasa sedikit pahit dan lebih mudah larut
dari free base. Free base tidak berwarna/putih, tidak berbau dan rasanya
pahit. Nama jalanan dari kokain adalah koka, coke, happy dust, charlie,
srepet, snow salju, putih. Biasanya dalam bentuk bubuk putih. Cara
pemakaiannya : dengan membagi setumpuk kokain menjadi beberapa
bagian berbaris lurus diatas permukaan kaca atau benda-benda yang
mempunyai permukaan datar kemudian dihirup dengan menggunakan
penyedot deperti sedotan. Atau dengan cara dibakar bersama tembakau
yang sering disebut cocopuff. Ada juga yang melalui suatu proses menjadi
bentuk padat untuk dihirup asapnya yang populer disebut freebasing.
Penggunaan dengan cara dihirup akan berisiko kering dan luka pada
sekitar lubang hidung bagian dalam. Efek rasa dari pemakaian kokain ini
membuat pemakai merasa segar, kehilangan nafsu makan, menambah rasa
percaya diri, juga dapat menghilangkan rasa sakit dan lelah.
c). KANABIS
Nama jalanan yang sering digunakan ialah : grass cimeng, ganja
dan gelek, hasish, marijuana, bhang. Ganja berasal dari tanaman kanabis
sativa dan kanabis indica. Pada tanaman ganja terkandung tiga zat utama
yaitu tetrehidro kanabinol, kanabinol dan kanabidio. Cara penggunaannya
adalah dihisap dengan cara dipadatkan mempunyai rokok atau dengan
menggunakan pipa rokok. Efek rasa dari kanabis tergolong cepat,
sipemakai : cenderung merasa lebih santai, rasa gembira berlebih (euforia),
sering berfantasi. Aktif berkomonikasi, selera makan tinggi, sensitif,
kering pada mulut dan tenggorokan
d). AMPHETAMINES
Nama generik amfetamin adalah D-pseudo epinefrin berhasil
disintesa tahun 1887, dan dipasarkan tahun 1932 sebagai obat. Nama

16
jalannya : seed, meth, crystal, uppers, whizz dan sulphate. Bentuknya ada
yang berbentuk bubuk warna putih dan keabuan, digunakan dengan cara
dihirup. Sedangkan yang berbentuk tablet biasanya diminum dengan air.
Ada dua jenis amfetamin :
- MDMA (methylene dioxy methamphetamin), mulai dikenal sekitar
tahun 1980 dengan nama Ekstasi atau Ecstacy. Nama lain : xtc, fantacy
pils, inex, cece, cein. Terdiri dari berbagai macam jenis antara lain :
white doft, pink heart, snow white, petir yang dikemas dalam bentuk pil
atau kapsul
- Methamfetamin ice, dikenal sebagai SHABU. Nama lainnya shabu-
shabu.SS, ice, crystal, crank. Cara penggunaan : dibakar dengan
menggunakan kertas alumunium foil dan asapnya dihisap, atau dibakar
dengan menggunakan botol kaca yang dirancang khusus (bong).
e). LSD (Lysergic acid)
Termasuk dalam golongan halusinogen,dengan nama jalanan : acid,
trips, tabs, kertas. Bentuk yang bisa didapatkan seperti kertas berukuran
kotak kecil sebesar seperempat perangko dalam banyak warna dan gambar,
ada juga yang berbentuk pil, kapsul. Cara menggunakannya dengan
meletakkan LSD pada permukaan lidah dan bereaksi setelah 30-60 menit
sejak pemakaian dan hilang setelah 8-12 jam. Efek rasa ini bisa disebut
tripping. Yang bisa digambarkan seperti halusinasi terhadap tempat.
Warna dan waktu. Biasanya halusinasi ini digabung menjadi satu. Hingga
timbul obsesi terhadap halusinasi yang ia rasakan dan keinginan untuk
hanyut didalamnya, menjadi sangat indah atau bahkan menyeramkan dan
lama-lama membuat paranoid.
f). SEDATIF-HIPNOTIK (BENZODIAZEPIN)
Digolongkan zat sedatif (obat penenang) dan hipnotika (obat tidur)
Nama jalanan dari Benzodiazepin : BK, Dum, Lexo, MG, Rohyp.
Pemakaian benzodiazepin dapat melalui : oral, intra vena dan rectal.
Penggunaan dibidang medis untuk pengobatan kecemasan dan stres serta
sebagai hipnotik (obat tidur).

17
g). SOLVENT / INHALANSIA
Adalah uap gas yang digunakan dengan cara dihirup.Contohnya :
Aerosol, aica aibon, isi korek api gas, cairan untuk dry cleaning, tiner,uap
bensin. Biasanya digunakan secara coba-coba oleh anak dibawah umur
golongan kurang mampu/ anak jalanan. Efek yang ditimbulkan : pusing,
kepala terasa berputar, halusinasi ringan, mual, muntah, gangguan fungsi
paru, liver dan jantung.
h). ALKOHOL
Merupakan salah satu zat psikoaktif yang sering digunakan
manusia. Diperoleh dari proses fermentasi madu, gula, sari buah dan umbi-
umbian. Dari proses fermentasi diperoleh alkohol dengan kadar tidak lebih
dari 15%, dengan proses penyulingan di pabrik dapat dihasilkan kadar
alkohol yang lebih tinggi bahkan mencapai 100%. Nama jalanan alkohol :
booze, drink. Konsentrasi maksimum alkohol dicapai 30-90 menit setelah
tegukan terakhir. Sekali diabsorbsi, etanol didistribusikan keseluruh
jaringan tubuh dan cairan tubuh. Sering dengan peningkatan kadar alkohol
dalam darah maka orang akan menjadi euforia, namun sering dengan
penurunannya pula orang menjadi depresi.
2.9 PENATALKSANAAN
Tujuan Terapi dan Rehabilitasi
a. Abstinensia atau menghentikan sama sekali penggunaan NAPZA.
b. Pengurungan frekuensi dan keparahan relaps (kekambuhan). Sasaran
utamanya adalah pencegahan kekambuhan. Pelatihan relapse prevention
programme, program terapi kognitif, opiate antaginist maintenance
therapy dengan naltrexon merupakan beberapa alternatif untuk
mencegah kekambuhan.
c. Memperbaiki fungsi psikologi dan fungsi adaptasi sosial .
Dalam kelompok ini, abstinesia bukan merupakan sasaran utama. Terapi
rumatan (maintenance) metadon merupakan pilihan untuk mencapai
sasaran terapi golongan ini.

18
Penanganan gawat darurat :
Pada kondisi overdosis sedativa, stimulansia, opiat atau halusinogen
biasanya akan dibawa keruang gawat darurat. Remaja yang dibawa keruang gawat
darurat dalam keadaan perilaku kacau, Psikosis akut, koma, kolaps saluran
pernafasan atau peredaran darah, biasanya karena overdosis obat-obatan . Keadaan
ini dapat menjadi fatal bila salah diagnosis atau mendapat penanganan yang tidak
tepat. Oleh karena itu tenaga medis dan paramedis yang bekerja diruang gawat
darurat haruslah mempunyai pengetahuan tentang obat-obatan yang sering dipakai
oleh penyalahguna NAPZA dan mampu mengatasi intoksikasi yang disebabkan
oleh berbagai macam zat tersebut. Contoh : Naloxone, antagonis opiat, diberikan
pada intoksikasi opiat akut, dengan dosis 0,1 mg/kg i.m. atau i.v. setiap 2-4 jam
selama masih dibutuhkan.
Terapi dan Referal
Program terapi untuk pasien rawatinap dan rawat-jalan bagi remaja
dengan penyalahgunaan NAPZA cukup banyak macamnya. Programyang
komprehentif sangat diperlukan untuk remaja dengan ketergantungan zat.
Kebanyakan program ini memberikan konseling atau psikoterapi, disertai dengan
teknik farmakoterapi, misalnya dengan menggunakan methadone, namun ada juga
yang memakai pendekatan bebas-obat (drugfreeapproach).
Keberhasilan berbagai metode pendekatan juga sangat tergantung pada
kondisi remaja itu sendiri, akut kronis, lamanya pemakaian NAPZA, jenis
NAPZA yang dipakai, juga kondisi keluarga.
Untuk pencegahan terjadinya penyalahgunaan NAPZA sebaiknya
diberikan penyuluhan kepada masyarakat luas tentang NAPZA dan berbagai
persoalan yang ditimbulkannya. Usaha ini juga dapat dipakai sebagai deteksi dini
penyalah gunaan NAPZA oleh anggota keluarga dan masyarakat.

19
BAB III
PENUUTUP
3.1 KESIMPULAN

Gangguan mental adalah kesulitan yang harus dihadapi oleh seseorang


karena hubungannya dengan orang lain, kesulitan karena persepsinya tentang
kehidupan dan sikapnya terhadap dirinya sendiri-sendiri. Sumber penyebab
gangguan mental dipengaruhi oleh faktor-faktor pada ketiga unsur itu yang terus
menerus saling mempengaruhi, yaitu :
1. Faktor-faktor somatik (somatogenik)
2. Faktor-faktor psikologik ( psikogenik)
3. Faktor-faktor sosio-budaya (sosiogenik)
Pengaruh NAPZA sangatlah buruk, baik dari segi kesehatan pribadinya,
maupun dampak sosial yang ditimbulkannya. Masalah pencegahan
penyalahgunaan NAPZA bukanlah menjadi tugas dari sekelompok orang saja,
melainkan menjadi tugas kita bersama. Upaya pencegahan penyalahgunaan
NAPZA yang dilakukan sejak dini sangatlah baik, tentunya dengan pengetahuan
yang cukup tentang penanggulangan tersebut. Peran orang tua dalam keluarga dan
juga peran pendidik di sekolah sangatlah besar bagi pencegahan penaggulangan
terhadap NAPZA. Narkoba memang memiliki banyak jenis, bahkan ada ratusan
jenis Narkoba yang belakangan sudah diracik dengan sesama jenis narkoba atau
obat lain sehingga dampaknya lebih buruk. Sehingga, dampak yang bisa langsung
terlihat adalah user (pengguna)akan kehilangan kesadarannya. Reaksi tubuh pada
zat psikotropika ini sulit terlihat langsung karena berdampak jangka panjang pada
mental dan perilaku. Selain itu, masih ada zat adiktif lainnya seperti alkohol,
nikotin, bensin, dan thinner. Obat psikotropik adalah bahan atau zat (substansi)
yang dapat mempengaruhi fungsi berfikir, perasaan dan tingkah laku pada orang
yang memakainya.

20
DAFTAR PUSTAKA

1. Departemen Kesehatan. Direktorat Jenderal Pelayanan Medik. Pedoman


penggolongan dan diagnosis gangguan jiwa di Indonesia III. Jakarta:
Departemen Kesehatan; 1993.
2. Maslim R. Diagnosis gangguan jiwa, rujukan ringkas PPDGJ-III. Jakarta:
PT Nuh Jaya; 2001.Declerg. L. 1994. Tingkah Laku Abnormal, Sudut
Pandang Perkembangan. Jakarta: Grasindo.
3. Soekadji, S. 1990. Pengantar Psikologi.Jakarta
4 Sulistyaningsih. 2002. Psikologi Abnormal dan Psikopatologi. Malang:
STIT Malang

21

Anda mungkin juga menyukai